Takwa Ekonomi Manusia

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS 3 : 130)

Bertakwa di bidang ekonomi menjamin kita beruntung. Beruntung secara pribadi dan sosial. Masyarakat yang bertakwa saling menolong untuk mengembangkan ekonomi dan kebaikan. Dan tidak bekerja sama dalam keburukan. Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Keberuntungan orang yang bertakwa adalah berlimpah rejeki dari jalan yang tak disangka, selalu mendapat jalan keluar dengan cara yang kreatif. Pertumbuhan yang matang jasmani dan ruhani.

Wakaf untuk Kebangkitan Ekonomi Rakyat | Tarbawia

1. Ragam Bidang Takwa
2. Takwa Virtual sampai Aktual
3. Kerja Menciptakan Lapangan Kerja
4. Takwa Pendidikan
5. Takwa Kesehatan
6. Prinsip Takwa Ekonomi
6.1 Manusia Bekerja
6.2 Pilihan Kewajiban
6.3 Semua Sama
6.4 Perbedaan
6.5 Manusia Kosmos

Memang, ekonomi orang yang bertakwa lebih kreatif dengan adanya beberapa batasan. Berbeda dengan ekonomi liberal, misalnya, mereka boleh usaha dalam bidang apa saja asalkan legal. Ekonomi liberal bisa saja usaha di bidang judi, minuman keras, riba, atau lainnya. Sementara, ekonomi takwa tidak akan melakukan bisnis haram seperti itu. Bahkan makanan haram pun tidak boleh dikembangkan, misal jualan babi panggang, bipang. Meskipun, dalam situasi darurat, masih dibolehkan, misal untuk keperluan vaksin atau obat.

Batasan ekonomi takwa, yang tidak liberal, seperti menyulitkan pada tahap awal. Sejatinya, batasan itu justru menguntungkan dalam jangka panjang. Misalnya larangan bisnis judi. Awalnya seperti menyusahkan. Dalam jangka panjang judi merusak masyarakat. Bagi yang menang judi, mereka, berpesta-pora, melampaui batas, dan akhirnya kalah taruhan juga. Bagi yang kalah, hampir 100% penjudi adalah kalah, maka mereka bangkrut. Mereka frustasi. Mengambil jalan pintas penuh ilusi. Masyarakat menjadi lebih sehat tanpa bisnis judi. Batasan ekonomi takwa, benar-benar, untuk kebaikan bersama.

Pembatasan ekonomi takwa adalah anugerah kebaikan bagi kita semua. Membatasi diri dalam kegiatan ekonomi adalah ungkapan syukur manusia. Kegiatan ekonomi perlu terbatas, tetapi, rasa syukur dalam bidang ekonomi adalah tanpa batas. Rasa syukur adalah berlimpah. Demikian halnya dengan puasa. Puasa adalah pembatasan konsumsi pribadi. Awalnya, pembatasan oleh puasa tampak membebani. Akhirnya, puasa memberi kesehatan kepada manusia. Sehat jasmani, ruhani, dan sehat ekonomi. Kita bersyukur atas anugerah puasa. Kita bersyukur mampu berpuasa. Berpuasa adalah ungkapan syukur kita atas semua anugerah yang ada.

1. Ragam Bidang Takwa

Luasnya cakupan takwa tanpa batas. Sehingga setiap orang tidak pernah menganggur. Selalu ada pekerjaan untuk memperbaiki diri dan lingkungan. “Maka ketika selesai dengan satu pekerjaan bersegeralah ke pekerjaan berikutnya.”

Takwa merupakan tanggung jawab setiap pribadi untuk meraih prestasi dan memberi kontribusi. Sedangkan medan kerja takwa bisa bersifat pribadi dan sosial. Membaca buku adalah tanggung jawab pribadi sedangkan menaati aturan lalulintas merupakan contoh tanggung jawab sosial. Karena itu, diperlukan suatu aturan hukum dan lembaga agar proses takwa dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

2. Takwa Virtual sampai Aktual

Kita bisa mengelompokkan takwa dalam kelompok virtual dan aktual. Di era digital ini, kita sudah akrab dengan istilah virtual. Benar saja kita bisa bertakwa di dunia virtual. Bahkan ide-ide kita, inovasi-inovasi yang masih berada dalam pikiran kita, untuk membangun negeri bisa kita masukkan sebagai takwa virtual. Sedangkan takwa aktual seperti bisa kita lihat sehari-hari, misalnya, membantu fakir miskin, berzakat, dan berjamaah.

3. Kerja Menciptakan Lapangan Kerja

Bekerja, barangkali, adalah tindakan takwa paling penting. Setiap orang harus bekerja. Setiap orang harus berpartisipasi positif untuk kemajuan alam semesta ini. Dan bekerja adalah bentuk partisipasi setiap warga.

Bisa kita bayangkan betapa besar nilai takwa bagi orang-orang yang menciptakan lapangan kerja. Maka para pengusaha yang takwa, benar-benar, meraih nilai keutamaan yang berlimpah.

4. Takwa Pendidikan

Untuk bisa bertakwa, kita memerlukan ilmu. Maka program pendidikan yang berkualitas dan bisa dijangkau oleh seluruh rakyat menjadi suatu keharusan. Inovasi pendidikan, pendidikan digital, tersedianya beasiswa secara luas, perlu terus dikembangkan.

Pendidikan dasar paling penting adalah matematika dan bahasa. Keduanya, matematika dan bahasa, bagaikan dua sayap yang mengantarkan putra-putri kita terbang tinggi. Sebaliknya, lemah dalam dua bidang ini, menjadikan generasi muda kalah bersaing. Gagal melamar kerja, mau pun, gagal berkarya. Tanpa sayap, mereka tidak bisa terbang.

Secara nasional, kita perlu merancang program pendidikan yang mendorong, dan menjamin setiap anak, menguasai matematika dan bahasa dengan kompetensi tinggi. Sehingga, generasi muda kita bisa ber-inovasi di bidang sains-teknologi serta cakap berkomunikasi dalam beragam bahasa. Saya mencoba merancang program belajar matematika yang mudah dan menyenangkan dengan metode APIQ, bisa diakses kapan saja, oleh siapa saja, melalui canel youtube.com/pamanapiq. Saya yakin, dengan komitmen tinggi menteri pendidikan dan presiden, maka pendidikan Indonesia akan segera melejit.

Kemampuan terpenting kedua, setelah matematika dan bahasa, adalah kecerdasan emosi. Kita perlu membekali anak-anak kita, melalui pendidikan, kemampuan mengelola emosi secara personal dan interpersonal. Anak-anak kita perlu mahir mengenali kapan mereka bosan, bagaimana cara mengubah bosan menjadi santai, bagaimana meningkatkan motivasi untuk meraih prestasi konsisten dan beragam jenis emosi pribadi lainnya. Sedangkan secara interpersonal, anak-anak perlu mahir bagaimana cara kerja sama dalam tim, cara negoisasi, dan cara sehat berkompetisi. Kecakapan emosi ini tidak perlu diteorikan secara rumit. Kecakapan emosi diajarkan melalui teladan dan sedikit arahan. Saya membahas tema kecerdasan emosi ini dalam buku saya Quantum Quotient: Kecerdasan Quantum.

Ketiga, kecakapan terpenting untuk anak kita, adalah kecerdasan spiritual. Anak kita mampu memaknai seluruh perjalanan hidup – dan matinya. Anak-anak kita berkomitmen untuk dinamis bergerak maju di jalur takwa. Lagi-lagi, kecerdasan spiritual, juga, tidak perlu diteorikan secara rumit. Kita hanya perlu mendidik anak-anak kita melalui teladan dan sedikit arahan.

5. Takwa Kesehatan

Kesehatan adalah dasar bagi setiap manusia agar bisa bertakwa dengan optimal. Maka menjaga kesehatan menjadi jalan takwa yang penuh makna. Riset dan inovasi di dunia kedokteran, teknologi medis, farmasi, dan lain-lain benar-benar bernilai penting.

6. Prinsip Takwa Ekonomi

Kita perlu merumuskan beberapa prinsip takwa ekonomi. Karena prinsip ekonomi yang umum, memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya sekecil-kecilnya, tidak berlaku lagi. Atau, setidaknya, prinsip seperti itu tidak bisa lagi menjadi yang utama. Kita perlu prinsip alternatif untuk takwa ekonomi. Berikut ini adalah beberapa prinsip terpenting.

6.1 Manusia Bekerja

Prinsip pertama adalah setiap manusia wajib bekerja. Ikan tercipta untuk berenang. Apa artinya ikan jika tidak boleh berenang? Burung tercipta untuk terbang. Apa artinya jadi burung bila tidak boleh terbang? Manusia tercipta untuk bekerja. Apa artinya manusia tanpa kerja?

Tentu saja, manusia bekerja secara manusiawi. Manusia menghasilkan nilai ekonomi melalui kerja yang sah, legal, dan bermartabat. Menghasilkan uang tanpa kerja perlu diselidiki. Memenangkan uang 100 M dari undian lotere atau judi, bukan dari kerja bermartabat, perlu diwaspadai. Meski uang besar dapat membeli banyak hal, 100 M itu, justru bisa merusak kemanusiaan. Ketagihan judi, tidak mau kerja keras, angan-angan kosong bisa meruntuhkan tatanan ekonomi.

Perlu tetap waspa jika uang 100 M itu Anda peroleh dari warisan, apalagi, dari korupsi. Lobi sana-sini demi korupsi, mencuri uang negara, bagaimana pun, bukanlah kerja yang bermartabat. Hal seperti itu akan merusak ekonomi serta kemanusiaan.

Setiap orang butuh kerja, produktif dan bermartabat, untuk menjadikan hidupnya bermakna – dan matinya. Bekerja bukan hanya untuk menghasilkan uang. Tetapi, bekerja adalah untuk menghasilkan manusia yang bertakwa.

6.2 Pilihan Kewajiban

Prinsip kedua, kita adalah manusia merdeka. Kita bebas memilih. Meski kita punya kewajiban bekerja, di saat yang sama, kita punya kebebasan untuk memilih jenis kerja produktif bermartabat. Beberapa orang bisa memilih menjadi pegawai negeri atau swasta, menjadi tentara, wirausaha, atlit, seniman, atau lainnya.

Setiap orang wajib memilih jenis kewajiban untuk berpartisipasi dalam tatanan ekonomi. Tentu saja, partisipasi ekonomi bisa bersifat langsung atau tidak langsung. Bisnis kuliner, misalnya, adalah kegiatan yang berpartisipasi ekonomi secara langsung. Sementara, menulis puisi adalah kegiatan yang berpartisipasi ekonomi secara tidak langsung. Pendidikan, umumnya, berpartisipasi ekonomi secara tidak langsung. Bagaimana pun keduanya, langsung dan tidak langsung, sama-sama merupakan kewajiban yang wajib dijalankan oleh anggota masyarakat.

6.3 Semua Sama

Prinsip ketiga, semua orang adalah sama. Setiap warga punya kedudukan yang sama untuk berpartisipasi, berkontribusi, secara ekonomi. Konstitusi menjamin hak setiap warga untuk meraih prestasi.

Orang miskin atau orang kaya, sama-sama, memiliki kedudukan yang terhormat dari sisi ekonomi. Mereka, orang miskin atau kaya, berhak untuk bekerja memajukan kehidupan ekonomi masyarakat. Konstitusi mengatur tatacara agar setiap anggota masyarakat bisa bekerja. Sementara, setiap anggota masyarakat wajib meningkatkan kemampuan dirinya sedemikian hingga mampu berkontribusi secara ekonomi dalam segala situasi.

6.4 Perbedaan

Prinsip keempat, mengakui perbedaan. Setiap orang memiliki minat dan bakat yang unik. Sehingga, wajar saja bila terjadi perbedaan di mana-mana. Perbedaan perlu diakui dan diterima sejauh itu memenuhi dua kriteria.

Pertama, perbedaan, bisa diterima jika, merupakan konsekuensi wajar dari penerapan kebebasan memilih. Seorang yang memilih bisnis kuliner tentu saja akan berbeda dengan orang lain yang bekerja di pertanian.

Kedua, perbedaan bisa diterima jika memberi dampak yang lebih baik kepada pihak yang lemah. Saat ini terjadi perbedaan. Kemudian, perbedaan ini akan berubah ke bentuk perbedaan baru. Maka perbedaan baru ini bisa diterima, jika, memberikan dampak yang lebih baik kepada pihak yang lemah.

Sebagai ilustrasi, terjadi inovasi pada perusahaan. Hasil inovasi ini berdampak naiknya kekayaan Bos bertambah 8 Trilyun rupiah. Pada saat yang sama, hasil inovasi ini, berdampak menurunnya penghasilan karyawan 1 juta rupiah, masing-masing, dari 1 juta karyawan yang ada. Perubahan perbedaan seperti itu tidak bisa diterima – meski sah secara legal.

Alternatifnya, barangkali, biarkan kekayaan Bos meningkat 6 T. Di saat yang sama, pendapatan karyawan juga meningkat 1 juta rupiah, masing-masing, dari seluruh 1 juta karyawan. Dalam kasus terakhir ini, perbedaan bisa diterima. Meski peningkatan kekayaan Bos jauh lebih tinggi, 6 Trilyun, tetapi pendapatan karyawan juga meningkat walau hanya 1 juta.

6.5 Manusia Kosmos

Prinsip kelima, adalah manusia kosmos atau anthrocosmos. Manusia, kita, adalah warga dari kosmos, alam raya. Di saat yang sama, kosmos alam raya adalah diri kita sendiri.

“Barang siapa berbuat baik maka untuk dirinya sendiri.”

Makrokosmos adalah pandangan yang menyatakan dunia luar, misal kegiatan ekonomi di restoran, adalah realitas di luar diri kita. Sehingga, kegiatan ekonomi yang baik pada restoran itu berdampak baik pada dunia luar. Tidak secara langsung berdampak pada alam dalam diri saya.

Mikrokosmos, justru, menyatakan dalam diri kita ada alam raya yang lengkap seperti alam raya di luar itu. Sehingga, kita perlu berbuat baik ke dalam diri kita sendiri. Kita perlu mengenal diri kita sendiri lebih mendalam.

Anthrocosmos, atau manusia kosmos, mengakui kedua realitas di atas. Di dunia luar memang ada kegiatan ekonomi di restoran, di saat yang sama, kegiatan ekonomi di restoran itu sejatinya adalah ada dalam diri kita sendiri. Sehingga semua kegiatan ekonomi yang baik, sejatinya, adalah kebaikan kepada diri kita sendiri. Sebaliknya, perilaku buruk terhadap dunia luar, sejatinya, memperburuk diri sendiri.

Sebagai manusia kosmos, kita terus berjuang memberikan yang terbaik kepada sistem ekonomi masyarakat. Sekali waktu, kita berbuat salah adalah wajar. Kemudian, kita memperbaiki kesalahan dan menebus setiap kesalahan. Semua kebaikan ekonomi itu ada dalam diri kita.

Dengan lima prinsip ekonomi takwa di atas, maka prinsip mencari keuntungan sebesar-besarnya bukanlah yang paling utama. Barangkali, prinsip “mencari keuntungan terbesar” hanya bisa menjadi prinsip keenam atau lebih bawah lagi. Kita perlu mengembangkan takwa di bidang ekonomi. Dan, mengembangkan ekonomi sebagai manifestasi dari takwa.

Dan masih banyak medan takwa yang bisa kita ulas pada tulisan-tulisan selanjutnya.

Bagaimana menurut Anda?

Candu Agama Dogmatis

“Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak dan Yakub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS 12 : 38)

Wajar saja, kita mengikuti agama orang tua kita. Dan itu realitas yang sering kita jumpai. Ayah dan ibu adalah orang yang mencintai dan meyayangi kita. Maka secara naluriah, kita juga menyayangi ayah dan ibu kita. Salah satu bentuknya berupa mengikuti ajaran dan agama ayah ibu kita. Nabi Yusuf adalah contoh sempurna, bagi manusia, yang mengikuti ajaran nenek moyang dengan baik. Dan Nabi Yusuf mengambil sikap penuh tanggung jawab menjaga ajaran agama yang lurus.

Misteri Struktur Kuno Miniatur Alam Semesta

Meski demikian, ada hal-hal yang tidak pantas kita lakukan. Misalnya, melanggar ajaran agama. Itu merupakan pelanggaran individu. Maka orang tersebut harus bertanggung jawab terhadap sikap yang dia pilih. Dia tidak sah bila berdalih, “Kami mengikuti ajaran bapak-bapak kami.”

1. Rujukan Masa Lalu
2. Paling Benar
3. Jaminan Masa Depan
4. Solusi
5. Dinamika Agama

Dalih-dalih itu, secara bertahap, berubah menjadi candu. Dalih yang menimbulkan kecanduan. Marx, tampaknya, menyerang cara berpikir agama seperti itu. Agama adalah candu, kata Marx. Barangkali, Nietzsche, yang paling keras menyerang agama, “Tuhan telah mati.” Apakah serangan-serangan semacam itu tepat sasaran?

1. Rujukan Masa Lalu

Saya mendefinisikan cara berpikir yang hanya mengikuti masa lalu, tanpa mengambil tanggung jawab, adalah cara berpikir dogmatis. Pemikiran semacam ini bisa terjadi di bidang ekonomi, politik, budaya, dan termasuk agama. Sehingga pengertian ini bergantung kepada perilaku pemikiran orang per orang bukan harus merupakan ajaran suatu madzab tertentu.

Marx mengkritik agama sebagai candu dengan alasan pemeluk agama, waktu itu, tidak bertanggung jawab terhadap api revolusi. Mereka hanya mengikuti ajaran nenek moyang. Seharusnya, menurut Marx, mereka sadar dan bangkit untuk berjuang. Yang terjadi, mereka justru sudah nikmat dengan candu-candu itu.

Kita, di Indonesia, perlu membangkitkan semangat agama yang dinamis.

Baru-baru ini, Gus Miftah menjadi sorotan lantaran mendapat tuduhan sebagai kafir. Saya lihat, Gus Miftah berhasil menunjukkan sikap dinamis dalam beragama. Dia menunjukkan bahwa banyak tokoh agama di masa lalu, dan masa sekarang, yang juga berkunjung ke gereja. Dan Gus Miftah mengambil tanggung jawab atas tindakannya bahwa itu untuk membangun kesatuan hidup berbangsa.

Sementara, pihak yang mengkritisi juga bisa mengambil sikap yang dinamis. Mereka menunjukkan bahwa para tokoh agama terdahulu melarang kita, muslim, untuk masuk gereja. Maka mereka menyimpulkan bahwa tindakan Gus Miftah adalah salah.

Dua pandangan beragama di atas, Gus Miftah dan pengkritik, sama-sama dinamis. Maka bisa terjadi dialog yang juga dinamis. Hasil dialog itu bisa saja sepakat untuk tetap berbeda atau bisa juga ada titik temu. Tidak ada masalah dengan hasil akhir. Yang penting justru proses dialog yang berlangsung dengan damai dan saling respek.

Yang bisa menjadi masalah adalah klaim berdasar masa lalu, itu adalah candu.

Misal pihak pengkritik bisa menyatakan, “Nabi melarang muslim masuk gereja. Bukan saya yang melarang. Tapi Nabi yang melarang. Jelas-jelas itu larangan Nabi. Saya, dan kita semua, harus mematuhi Nabi.”

Klaim bahwa Nabi melarang muslim masuk gereja bisa jadi benar adanya – dalam konteks yang tepat. Tetapi klaim bahwa Nabi menyatakan Gus Miftah bersalah tentu sulit dibuktikan. Di sini, kita perlu mengambil sikap dinamis sehingga secara sosial kita bisa tumbuh hidup bersama. Bermasyarakat dengan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

2. Paling Benar

Lanjutan dari cara berpikir dogmatis adalah sikap merasa paling benar. Sebuah konsekuensi yang wajar karena mereka mendasarkan pikiran kepada kebenaran masa lalu, puluhan bahkan ribuan tahun yang lalu. Ajaran nenek moyang yang dianggap sudah benar 100% – tanpa harus mengkaji konteks.

Sikap merasa paling benar, sejatinya, sah-sah saja. Bahkan itu sikap yang diperlukan. Yang menjadi masalah adalah efeknya: menganggap yang lain salah. Karena ajaran saya yang paling benar maka ajaran orang lain adalah salah. Sikap ini bahaya dalam bermasyarakat. Lebih bahaya lagi ketika membalik logika berpikirnya. Karena orang lain salah maka saya adalah benar. Akibatnya, anggota masyarakat terpancing untuk mencari-cari kesalahan pihak lain agar diri mereka merasa benar. Kita perlu mencegah perilaku semacam itu.

3. Jaminan Masa Depan

Kekuatan berpikir dogmatis berikutnya adalah adanya jaminan masa depan yang indah. Jika masa depan indah itu tidak terjadi di alam dunia ini maka akan terjadi di alam akhirat nanti.

Kita memang harus mencari masa depan yang lebih baik. Kita investasi di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan untuk mempersiapkan masa depan yang cerah. Kita perlu semacam jaminan agar berhasil meraih masa depan yang lebih baik. Karena “Dan sungguh akhirat itu lebih baik bagimu dari dunia.”

Masalah baru timbul, ketika jaminan masa depan ini menyebabkan kita melupakan tanggung jawab masa kini. Biarlah orang kafir menguasai ekonomi tapi mereka nanti akan masuk neraka, sedangkan kita akan masuk surga. Biarlah orang kafir menguasai teknologi, politik, budaya, dan semuanya. Mereka akan masuk neraka. Hanya kita yang masuk surga. Pandangan semacam ini benar-benar jadi masalah yang nyata.

Kehidupan ekonomi, politik, budaya, dan lainnya adalah tanggung jawab kita. Inilah tugas kita, berpartisipasi memperbaiki situasi untuk menjadikannya lebih baik. Memang sulit tetapi, bersama-sama, kita bisa.

4. Solusi

Di bagian ini, kita melihat ada masalah dengan cara berpikir dogmatis. Sebelumnya, kita juga mengenal resiko cara berpikir sekular. Selanjutnya, kita perlu merumuskan solusinya yaitu: takwaisasi.

Kita perlu memaknai ulang takwa sebagai proses meraih prestasi, memberi kontribusi, di jalan ilahi; dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Meraih prestasi adalah tanggung jawab kita. Baik sebagai seorang pribadi ataupun secara bersama-sama secara sosial. Dalam prosesnya, kita perlu mengembangkan sikap saling membantu dalam kebaikan, saling mencegah dalam keburukan, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

5. Dinamika Agama

Apa yang harus kita lakukan?

Kita perlu mengubah candu agama menjadi dinamika. Agama kembali menjadi spirit perjuangan umat manusia. Agama menerangi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Agama adalah pencerah umat manusia.

Bagaimana caranya?

Salah satu yang paling penting adalah menolak candu agama kemudian menggantinya dengan tanggung jawab dinamis.

A. Bunga bank adalah haram karena dilarang oleh agama. Bagaimana kamu tahu itu haram? Karena kitab suci menyatakan bahwa bunga bank adalah haram. Cara pandang sepert ini adalah candu. Maka kita perlu mengganti dengan cara pandang dinamis.

B. Bunga bank adalah haram karena termasuk riba. Dan riba dilarang oleh kitab suci. Bagaimana kamu tahu bahwa bunga bank termasuk riba sesuai maksud kitab suci? Saya mengkaji beragam sifat bunga bank dan itu memenuhi sebagai sifat-sifat riba. Saya menyimpulkan bahwa bunga bank termasuk riba sehingga haram. Cara pandang seperti ini adalah dinamis. Berani mengambil tanggung jawab masa kini. Kita bisa mendiskusikannya lebih detil, dengan saling hormat, apakah bunga bank benar-benar termasuk riba.

C. Bunga bank adalah halal karena tidak termasuk riba. Bagaimana kamu tahu? Saya mengkaji sifat-sifat bunga bank, dan, itu berbeda dengan riba. Maka, kesimpulan saya, bunga bank tidak haram. Cara pandang seperti ini juga dinamis, bukan candu. Kita bisa, dengan saling hormat, mengkajinya lebih jauh. Kesimpulan akhir bisa saja dissensus atau berbeda pendapat, meski diharapkan ada konsensus.

D. Investasi di perumahan Madina Alami adalah keuntungan dunia dan akhirat. Bagaimana kamu tahu? Karena, kata ustadz saya, perumahan Madina Alami adalah perumahan syariah. Apakah kamu tidak khawatir terjadi penipuan investasi? Tidak mungkin. Perumahan Madina Alami tidak akan melakukan penipuan. Cara pandang seperti ini adalah candu. Bisa berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Kita perlu menghindarinya. Kita perlu mengubahnya.

E. Investasi di perumahan Madina Alami adalah keuntungan dunia dan akhirat. Bagaimana kamu tahu? Saya sudah mengkajinya dan melakukan survey. Prosepknya bagus serta lengkap perijinannya termasuk ijin dari OJK. Apakah kamu tidak khawatir terjadi penipuan investasi? Bisa jadi. Tetapi dengan proses bisnis yang layak seperti itu, termasuk semua perijinan, saya kira, peluang penipuan kecil sekali. Jadi saya menyimpulkan investasi perumahan Madina Alami adalah menguntungkan dunia dan akhirat. Cara pandang seperti ini adalah dinamis, perlu kita kembangkan terus.

Agama candu menolak tanggung jawab. Melemparkan tanggung jawab kepada masa lalu, atau masa depan, atau kepada pihak lain yang dianggap otoritatif. Padahal, itu semua bisa saja tipuan semata. Kita perlu meninggalkan candu.

Agama yang dinamis, berani, mengambil tanggung jawab. Kita mempelajari pengalaman masa lalu, prospek masa depan, dan situasi masa kini. Mempertimbangkan pendapat dari sumber-sumber yang otoritatif. Untuk kemudian, kita mengambil sikap penuh tanggung jawab demi kebaikan pribadi, keluarga, dan masyarakat luas.

Bagaimana menurut Anda?

Petaka Sekularisasi

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2 : 216)

Hal unik dalam diri kita adalah kemampuan menciptakan makna. Manusia mampu berimajinasi. Kita mampu menjadikan kejadian biasa, terasa, lebih bermakna. Lebih membahagiakan. Kedipan mata seorang kekasih terasa lebih membahagiakan dari bumi seisinya.

1. Manusia Hermeneutik
2. Melampaui Batas
3. Taruhan Peradaban
4. Gelap Masa Depan dan Masa Lalu
5. Evolusi
6. Masa Depan Cemerlang

Interpretasi bisa berjalan dua arah: positif atau negatif. Pandemi boleh jadi membuat orang makin menderita, kehilangan pekerjaan, sampai kehilangan anggota keluarganya. Di saat yang sama, pandemi bisa menjadi medan inovasi. Berlomba-lomba melahirkan inovasi bidang kesehatan, bisnis, dan edukasi.

Bilangan posotf (+) dan negatif (-) | Samudra Kehidupan

Sekularisasi, tentu saja, bermakna positif dan negatif. Makna positif sekularisasi adalah keberhasilannya mendorong peradaban Barat makin maju. Makna negatif sekularisasi, di antaranya, menjadikan manusia lepas kendali. Pada tulisan ini, saya akan mencoba membahas beberapa sisi negatif dari sekularisasi. Sementara bagi yang tertarik diskusi sisi positif sekularisasi silakan merujuk ke tulisan-tulisan saya lainnya.

1. Manusia Hermeneutik

Filsafat kontemporer, awal abad 21 ini, sebagian besar membahas hermeneutik. Filsafat tentang seni menafsirkan. Segala pengetahuan manusia berkaitan, bahkan berdasarkan, interpretasi. Pengetahuan subyektif, misal Anda suka rasa pedas, tentu merupakan interpretasi. Bahkan pengetahuan obyektif, misal 12 + 1 = 13, juga berdasarkan suatu interpretasi. Dengan demikian, filsafat mengajak kita untuk lebih terbuka dengan beragam interpretasi dan saling menghormati.

Barangkali ada yang bertanya, bagaimana pengetahuan obyektif, misal 12 + 1 = 13, adalah interpretasi. Pernyataan 12 + 1 = 13 bernilai benar bila kita interpretasikan linear seperti bilangan asli pada umumnya. Tetapi bila kita menginterpretasikan sistem bilangan pada jam dinding maka tidak ada angka 13. Sehingga, pada interpretasi jam dinding, yang benar adalah 12 + 1 = 1. Dalam disiplin matematika, aljabar abstrak, kita mengenal teori seperti di atas adalah sebagai sistem aksiomatik.

Vattimo menyarankan kita lebih terbuka dengan pandangan banyak pihak. Kita hanya bisa menafsirkan sesuatu secara lemah belaka, “weak thought.” Penafsiran kita pun erat kaitannya dengan pengalaman kita sebagai individu. Maka orang lain juga menafsirkan berdasarkan pengalaman mereka. Sehingga nilai kebenaran terkait dengan cakrawala pikiran masing-masing subyek. Meski demikian, kita tetap harus bertanggung jawab terhadap semua penafsiran kita. Bertanggung jawab adalah hak setiap manusia – dan kewajiban pula.

Kitab suci, sejak ribuan tahun yang lalu, mengingatkan kita agar lebih hati-hati. Boleh jadi apa yang kita sangka buruk, sejatinya, adalah baik. Dan mungkin saja yang kita sangka baik, sejatinya, adalah buruk. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Manusia sekedar mengintrepretasikan belaka. Bisa benar, bisa salah. Sekularisasi adalah sebentuk penafsiran manusia.

2. Melampaui Batas

Kelemahan sekularisasi adalah tidak ada batas yang jelas. Batas-batas hanya hasil pikiran, tepatnya hasil interpretasi, mereka belaka. Padahal melampaui batas adalah sumber petaka kemanusiaan: petaka sekularisasi.

Berapa batas konsumsi makan seseorang tiap hari? Paham sekular tidak bisa menetapkan batas yang pasti. Sebagai akibatnya banyak orang sekular bisa kelebihan berat badan. Kesehatan memburuk. Penyakit darah tinggi, jantung, kanker, dan lain-lain bisa mengancam. Di belahan dunia lain, banyak orang kelaparan. Tidak cukup tersedia makanan untuk sehari-hari.

Hubungan cinta antar anak manusia, paham sekular juga tidak bisa menentukan batas dengan jelas. Asal mereka suka sama suka, silakan saja. Pandangan semacam itu tampak sulit dibantah. Sampai, akhirnya, ada lonjakan penyakit kelamin berbahaya. Apalagi HIV AIDS pernah melanda. Semua itu sekedar teguran bagi umat manusia.

Waktu kerja pun tanpa batas. Ketika seseorang terpesona dalam berkarya maka ia bisa bekerja tanpa henti 24 jam, 48 jam, dan seterusnya. Baru sadar ketika kesehatan menegurnya. Sudah terlambat untuk memperbaikinya.

“Berlebih-lebihan membuat kalian jadi lalai. Sampai kalian masuk ke liang kubur.”

3. Taruhan Peradaban

Paham sekular juga tidak bisa memastikan masa depan peradaban manusia. Jangankan masa depan dalam jangka panjang, manusia juga tidak mampu memastikan apa yang akan terjadi 1 hari besok.

Taruhan dan judi adalah hal yang biasa dalam pandangan sekular.

Pertumbuhan ekonomi sekular di berbagai tempat, salah satunya, ditopang oleh bisnis judi semisal kasino. Sejauh bisnis tersebut adalah legal maka sah-sah saja dijalankan. Padahal, judi bisa memorak-porandakan generasi masa depan. Dalam jangka pendek, bisnis judi bagai katalisator pertumbuhan ekonomi. Dalam jangka panjang, tidak ada kepastian. Lebih banyak keraguan.

Bagi kebanyakan masyarakat, judi berbahaya, misal togel. Masyarakat hanya berangan-angan menang judi, yang tidak pernah terjadi, secara statistik kecil sekali kemungkinannya. Malas kerja, apalagi berkarya. Mereka frustasi. Kembali tenggelam dalam jurang judi.

Bagi bandar, yang mengambil keuntungan dari judi, adalah prospek bisnis. Bandar sadar betul, judi adalah “zero sum game”. Kemenangan segelintir orang dalam judi menyebabkan kerugian lebih banyak pada pihak lain. Totalnya adalah nol, tidak ada penambahan nilai. Bila kita memperhitungkan biaya operasional judi maka totalnya justru negatif.

Dunia sekular berjalan dalam taruhan besar – yang sudah terbukti lebih banyak kalah.

“Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS 5 : 91)

4. Gelap Masa Depan dan Masa Lalu

Kita, manusia, tidak tahu masa lalu dan masa depan. Kita tidak tahu apa yang terjadi sejuta tahun yang lalu. Pun kita tidak tahu apa yang terjadi sejuta tahun ke depan. Bahkan pengetahuan kita tentang obyek di depan kita adalah sekedar interpretasi, dari sudut pandang hermeneutik.

Istri cantik yang ada di depan mata kita “hanyalah” interpretasi. Pertama, cantik itu persepsi subyektif. Bagi kita cantik. Bagi orang lain bisa beda. Bagi anak-anak saya, misalnya, istri saya itu bukan cantik tapi super cantik, karena ibu mereka.

Kedua, apa yang saya lihat dari istri saya adalah interpretasi dari kombinasi jutaan cahaya yang menimpa mata saya, lalu dikirim ke sistem syaraf. Dari itu semua, saya mempersepsi ada istri saya di depan saya. Meski, secara obyektif, ada istri saya di depan mata, tetapi pengetahuan saya terdiri dari beragam interpretasi.

Bila kita meluaskan prespektif mengarah pada kejadian sejuta tahun yang lalu maka gelap. Gelap gulita. Kita memang bisa menyusun pengetahuan spekulatif tentang masa lalu itu. Jelas, pengetahuan itu akan tersusun interpretasi di atas interpretasi, tanpa batas yang pasti. Padahal sejuta tahun lalu “pasti” ada sesuatu secara obyektif, konsekuensi logika.

Pengetahuan kita tentang masa depan lebih tidak pasti lagi, karena berupa prediksi. Suatu prediksi yang didasarkan atas interpretasi, makin tidak pasti. Sehingga pengetahuan kita tentang kejadian sejuta tahun di masa depan adalah gelap. Pengetahuan yang merupakan campuran interpretasi dan prediksi, pasti tidak pasti.

Orang-orang sekular benar-benar berada dalam kegelapan masa lalu dan masa depan.

5. Evolusi

Perubahan adalah karakter sejati alam semesta. Juga karakter manusia. Kita perlu terus evolusi. Sekularisasi juga perlu evolusi.

Maka saya mengusulkan program takwa sebagai alternatif membangun peradaban manusia.

Program takwa atau takwaisasi adalah memaknai takwa sebagai proses meraih prestasi, memberi kontribusi, di jalan ilahi; dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Lebih lengkap konsep takwaisasi silakan merujuk ke tulisan-tulisan dan video-video saya.

6. Masa Depan Cemerlang

Program takwaisasi adalah program masa depan cemerlang, masa lalu benderang, dan masa kini gemilang. Bagaimana takwaisasi bisa sehebat itu?

Bisa. Karena manusia memang hebat punya akal yang mampu menangkap simbol-simbol menghasilkan idea-idea yang melebihi semua konsep atau pun imajinasi.

Manusia membaca kitab suci – tertulis atau pun alami. Kitab suci adalah simbol-simbol yang memancarkan cahaya menerangi masa depan, masa lalu, dan masa kini. Dengan sinergi harmonis akal, imajinasi, dan pemahaman, manusia menebarkan getaran rasa cinta ke seluruh semesta.

Bagaimana menurut Anda?

Gelombang Sekularisasi

“Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada orang yang kikir, dan barangsiapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini).” (QS 47 : 38)

Tegas sekali: tugas kita adalah berinfak, menolong orang-orang yang kesulitan. Dan, nyatanya, tidak sedikit orang yang kikir. Termasuk yang manakah diri kita?

Menjelang idul fitri kita pasti berbagi kekayaan dengan membayar zakat fitrah. Ditambah lagi dengan berbagi zakat harta dan infak sedekah lainnya. Bahkan, kadang, kita membaca berita ada orang kaya yang berbagi sedekah dengan mengumpulkan ribuan orang miskin datang ke rumah orang kaya itu. Saya sendiri mengusulkan agar orang kaya itu yang datang ke rumah orang miskin untuk membagikan sedekahnya. Atau orang kaya itu bisa membentuk panitia atau membayar orang untuk membagikan sedekahnya. Bukan mengumpulkan calon penerima sedekah.

1. Amal Sekular
2. Lonjakan Sekularisasi
3. Masyarakat Takwa
4. Gelombang Takwa

Mendatangi rumah orang miskin banyak manfaatnya. Kita jadi tahu potret realitas kehidupan orang miskin sebenarnya. Kita bisa lebih mudah memahami kesulitan orang miskin. Dan, di masa pandemi ini, kita mencegah terjadinya kerumunan.

1. Amal Sekular

Untuk menjadi dermawan tidak ada syarat orang tersebut beragama atau sekular atau atheis. Setiap orang bisa jadi dermawan. Setiap orang bisa berinfak untuk menolong orang miskin. “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”

Biden, presiden USA, negara sekular terbesar di dunia, menetapkan tambahan pajak bagi orang kaya. Orang USA yang berpenghasilan di atas 1 juta dollar kena pajak tambahan, dampak pandemi. Trilyunan dolar yang terkumpul dari pajak ini digunakan untuk membantu orang “miskin” di USA. Barangkali trilyunan dolar ini termasuk “infak” terbesar di dunia.

Sebaik-baiknya amal Biden, dia kan hidup sekular di negara sekular. Maka amalnya tidak akan diterima, beberapa orang bisa berpandangan begitu. Meski pemimpin dari negara sekular, Biden sendiri adalah orang yang beragama. Maka dia yakin, beriman, terhadap kehidupan yang transenden nan suci. Dengan demikian kita tidak bisa menghakimi Biden dengan sudut pandang yang salah. Sebaliknya, kita bisa melihat seberapa baik kebijakan Biden bagi rakyat “miskin” yang tengah kena dampak pandemi. Apalagi, bila dilihat dari kacamata sekular, pembelaan Biden kepada orang “miskin” adalah baik.

Dalam catatan sejarah, kita punya banyak contoh-contoh pemimpin yang luar biasa. Misalnya, Umar bin Abdul Azis adalah raja yang adil. Dia, Umar, malam itu sedang menganalisis laporan keuangan kerajaan. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk dari luar oleh anaknya. Umar mematikan lampu lalu membuka pintu.

“Mengapa ayah mematikan lampunya?” tanya anaknya.
“Kamu akan berbicara dengan ayah tentang urusan apa?” jawab Umar.
“Apa hubungannya dengan lampu?”
“Lampu ini dibiayai oleh uang negara. Jika kamu berbicara urusan keluarga kita maka tidak berhak menggunakan fasilitas negara.”

Umar, tercatat dalam sejarah, sebagai raja atau khalifah terbaik. Umar berhasil membawa kemakmuran bagi seluruh rakyat. Umar membela hak-hak orang-orang miskin. Umar berhasil menyatukan umat yang sebelumnya banyak silang pendapat. Umar menjabat sebagai raja bukan karena warisan dari ayahnya. Umar dipilih oleh mayoritas wakil rakyat waktu itu. Dan Umar berpesan agar jabatan raja berikutnya jangan diwariskan ke anaknya. Benar saja, raja berikutnya bukanlah anak Umar. Padahal, waktu itu, sistem monarki turun-temurun banyak terjadi.

Di era kontemporer, kita punya contoh M Yunus dengan program Grameen Bank. Yunus berhasil meraih Nobel perdamaian atas prestasinya mengentaskan kemiskinan di Bangladesh. Terbukti membela orang-orang miskin, bahkan yang paling miskin.

Amal kebaikan, apalagi yang berdampak sosial, menjadi medan kompetisi bagi kemanusiaan. Siapa pun berhak beramal demi kemanusiaan yang adil beradab. Orang beragama boleh beramal. Orang ateis juga boleh. Tentu saja, orang sekular juga boleh beramal.

2. Lonjakan Sekularisasi

Membaca sejarah sekularisasi tentu banyak versi. Comte meyakini bahwa masyarakat sekular yang mendasarkan keyakinan kepada sains adalah bentuk masyarakat paling matang. Sehingga masyarakat akan bergerak menuju masyarakat sekular di seluruh belahan dunia.

Sementara Marx, tokoh sosialis yang dekat dengan ateis, menyatakan bahwa masyarakat akan menuju ke masyarakat kapitalis. Kemudian, kapitalis ini, secara alami, membangkitkan kesadaran proletar untuk menuntut revolusi. Pada akhirnya, masyarakat akan matang sebagai masyarakat komunis.

Tampaknya, gelombang sekularisasi ini tak bisa dibendung lagi. Masyarakat akan bergerak menjadi masyarakat sekular di seluruh dunia. Benarkah demikian?

Taylor mencatat fenomena yang berbeda dalam bukunya “A Secular Age” yang terbit pada tahun 2007 lalu. Meski terjadi penambahan sekularisasi di berbagai wilayah, di saat yang sama, terjadi re-konversi besar-besaran di tempat berbeda. Banyak orang, atau masyarakat, yang kembali menjadi pemeluk agama yang taat. Yang dulu tidak beragama menjadi beragama. Yang dulu tidak rajin ibadah menjadi taat ibadah. Dari pandangan Taylor ini, kita justru bisa optimis bahwa masyarakat kontemporer, bisa jadi, makin religius.

Membaca sejarah masa lalu saja kita bisa banyak versi yang berbeda. Maka, wajar saja, bila memprediksi masa depan akan memberikan hasil lebih beragam. Apalagi kita hendak memprediksi sesuatu yang erat kaitannya dengan perilaku manusia, makin sulit diprediksi. Sejauh ini, kita tidak bisa mengkonfirmasi kebenaran determinisme sejarah. Ada banyak kemungkinan berkembangnya arah sejarah.

3. Masyarakat Takwa

Saya mengusulkan revisi makna konsep takwa. Yang pada gilirannya, dengan makna baru takwa ini, kita berjuang membentuk masyarakat takwa.

Takwa bermakna sebagai proses meraih prestasi dan memberi kontribusi di jalan ilahi; dengan cara menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya.

Pengendalian diri, melalui puasa misalnya, adalah salah satu cara untuk menjadi takwa. Buah takwa paling sederhana adalah berbagi untuk sesama. Dimulai dengan takwa pribadi berlanjut menjadi takwa secara sosial bersama-sama.

4. Gelombang Takwa

Sejarah umat manusia bergelombang, kadang naik, kadang turun. Sekularisasi, yang dianggap banyak orang, sedang naik, nyatanya banyak penurunan di berbagai tempat. Masyarakat takwa, juga, bergelombang. Kadang naik, kadang turun. Saatnya, kita kembali mendorong menjadi masyarakat takwa.

Bagaimana menurutu Anda?

Prospek Sekularisasi

“Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang, (sambil berkata), “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun.” Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?” (QS 56 : 63 – 68)

Manusia mudah terkecoh, mudah tertipu, oleh ilusi yang diciptakan sendiri. Ketika kita menanam benih, lalu tumbuh. Kita terbiasa berpikir bahwa diri kita yang menanam yang membuat benih itu tumbuh. Benarkah kita yang membuat tumbuh? Bukan. Benih itu sendiri yang punya kekuatan untuk tumbuh. Tuhan yang telah menciptakan benih itu lengkap dengan hukum alamnya.

Siapa Menanam Kejujuran Ia akan Menuai Kepercayaan - Semua Halaman -  Intisari

1. Sukses Sekularisasi
2. Definisi Sekularisasi
3. Sekularisasi Vs Agama
4. Program Takwa

Ketika sepasang kekasih menikah, bisakah mereka membuat anak? Tidak. Meski pun banyak orang yang mengatakan bisa membuat anak. Yang mereka lakukan hanya itu-itu saja. Tuhan yang menciptakan sel telur, menciptakan sel sperma, dan mempertemukan mereka. Lalu Tuhan pula yang menciptakan janin sampai menjadi bayi dan dewasa.

Manusia, benar-benar mudah, menipu diri sendiri.

Sepatutnyalah kita lebih banyak memuji keagungan Tuhan.

1. Sukses Sekularisasi

Negara-negara Barat berhasil meraih kemajuan besar dengan program sekularisasi, memisahkan urusan agama dengan urusan negara. Sebelum ada program sekularisasi, di Barat, sering terjadi pertikaian atas nama agama. Karena masing-masing pihak mengaku punya pembenaran berdasar agamanya maka pertikaian ini sering memakan korban. Penderitaan besar menimpa masyarakat Barat dalam rentang ratusan tahun.

Benarkah sekularisasi menyebabkan negara-negara menjadi lebih maju?

Beberapa negara Islam mencoba menerapkan program sekularisasi. Tampaknya, mereka tidak berhasil maju. Kita bisa mencoba mengkaji kasus negara Mesir dan Turki. Masa lalu Mesir dan Turki lebih gemilang dibanding dengan masa sekularisasi.

Dengan demikian tidak ada jaminan bahwa sekularisasi akan berbuah sukses. Khusus di negara dengan penduduk mayoritas muslim, beragama Islam, sekularisasi mengalami banyak kesulitan. Barangkali karena Islam tidak mengenal pemisahan kehidupan dunia dan akhirat, fisikal dan spiritual. Islam memandang kehidupan dunia demikian penting sebagai medan beramal yang bernilai spiritual dan ukhrawi.

2. Definisi Sekularisasi

Para ahli berbeda pendapat tentang definisi sekularisasi. Charles Taylor mencoba mendefinisikan sekularisasi dengan beberapa pendekatan. Pertama, sekularisasi adalah pemisahan agama dari urusan negara. Semua kepentingan umum, terbebas dari simbol-simbol dan klaim agama apapun. Urusan negara, urusan umum, adalah urusan manusia dengan manusia.

Kedua, sekularisasi adalah pembatasan ritual-ritual agama. Apalagi di tempat umum, dilarang pelaksanaan ritual agama apapun. Tentu saja simbol-simbol agama juga disembunyikan dari ruang publik.

Ketiga, sekularisasi adalah alternatif keyakinan dari beragam keyakinan. Sekularisasi adalah pilihan hidup di antara beragam pilihan hidup lainnya. Orang sekular meyakini kehidupan ini bersifat imanen, hanya ada alam ini saja. Sementara orang yang tidak sekular, orang beragama, meyakini kehidupan imanen dan transenden. Ada alam lain, yang bersifat transenden, bukan hanya alam materi kasat mata ini.

Dengan ragam pemahaman sekularisasi seperti di atas, memang, ada konsekuensi wajar bahwa manusia bertanggung jawab penuh atas hidupnya. Sehingga masyarakat berpikir cerdas untuk menemukan solusi terbaik memajukan kehidupan sosial. Masyarakat menyelesaikan berbagai macam masalah dengan prosedur demokrasi. Tidak ada orang yang berhak mengklaim paling benar. Semua ide diuji oleh akal sehat dan hukum positif. Konsekuensi sekularisasi ini, secara logis, mendorong kemajuan kemanusiaan.

3. Sekular vs Agama

Paham sekular dalam bentuk paling kuat barangkali berupa ateis, tidak mengakui adanya Tuhan. Tetapi, secara umum, sekularisasi tidak bertentangan dengan agama. Contoh nyata bisa kita lihat di berbagai tempat. Di mana, di negara-negara sekular, terdapat banyak penduduk yang beragama. Di USA banyak orang beragama. Bahkan di Prancis, yang begitu kuat sekularisasinya, berlimpah orang beragama. Dan di negara komunis, yang sering bersifat ateis, misal di Rusia dan Cina, pemeluk agama makin berkembang terus.

Tentu saja banyak perbedaan antara pemeluk agama dan penganut sekularisme. Bahkan sering terjadi benturan wacana.

Kaum sekular dengan mudah menuduh kaum beragama sebagai kekanak-kanakan. Tidak berani mengahadapi realitas dunia. Bersembunyi di balik nama Tuhan. Sedangkan kaum sekular adalah manusia dewasa matang yang berani menghadapi dunia atas nama dirinya sendiri.

Sebaliknya, kaum beragama bisa menuduh kaum sekular adalah kaum yang tersesat. Mereka, kaum sekular, tidak memahami kebenaran sejati. Mereka terperosok di pojok dunia. Rugi di dunia, juga rugi di akhirat.

Di era digital, yang makin mudah berkomunikasi, tiba saatnya untuk menjalin dialog yang lebih produktif bagi kedua pihak. Bagaimana pun, apapun posisi kita, kita sama-sama hidup di bumi yang sama. Yang perlu kita jaga bersama-sama.

4. Program Takwa

Solusi terbaik, menurut saya, adalah program takwa. Dalam makna, yang sering saya tuliskan. Takwa adalah proses memberi kontribusi, meraih prestasi, di jalur ilahi dengan cara melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan Tuhan.

Indonesia bukan negara sekular, pun bukan negara agama. Indonesia adalah negara Pancasila, negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Program sekularisasi Indonesia, bila hendak dijalankan, akan terlalu mahal ongkos sosialnya. Cak Nur pernah mengkaji pengalaman ini pada tahun 1970an. Sedangkan program negara agama, bila hendak dijalankan, juga akan menuntut ongkos sosial yang tidak kalah mahal. Berbagai komponen masyarakat akan terus berjuang untuk mengembalikan Indonesia menjadi negara Pancasila.

Program takwa menjadi pilihan terbaik dan bersesuaian dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bagaimana menurut Anda?

Struktur Takwa

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang-siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS 64 : 16)

Derajat takwa adalah derajat yang sangat mulia. Orang yang bertakwa adalah orang yang mendapat petunjuk setiap membaca AlQuran. Orang islam sejati bertujuan mencapai husnul khatimah, akhir yang baik, dengan cara melaksanakan takwa dengan sebenar-benarnya takwa. Orang beriman mendapat perintah wajib melaksanakan puasa dengan tujuan akhir agar menjadi orang-orang yang bertakwa.

5 Tingkatan Struktur dan Ruang Lingkup dalam Alam Semesta

Kata takwa, atau taqwa, kaya akan makna. Maka sudah benar kita menyerap langsung istilah takwa tersebut sehingga tetap menyimpan kekayaan akan makna sejatinya itu. Makin kita mengkaji makna takwa maka makin takjublah kita dengan keluasan dan kedalamannya.

1. Pasangan Tawakkal
2. Tataran Takwa
3. Karya Nyata
4. Tantangan Sekular

Dalam tulisan ini, saya akan membahas lagi makna takwa dengan cara menyandingkan dengan makna tawakkal. Pendekatan ini tetap selaras dengan makna takwa secara umum: taat kepada Allah, takut kepada Allah, menjaga diri, tobat, ikhlas, menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan Allah, dan lain-lain.

1. Pasangan Tawakkal

Takwa bermakna manusia menerima amanah dari Allah untuk menjadi wakil, khalifah, di bumi guna mengelola alam semesta sesuai perintah dan menjauhi laranganNya. Dalam makna ini, takwa berkonsekuensi agar manusia mengukir prestasi nyata di alam semesta. Sementara tawakkal bermakna berserah diri, mewakilkan, mempercayakan sepenuhnya urusan segala sesuatu kepada Allah semata. Proses tawakkal berupa pengabdian tulus ikhlas hanya untuk mendapat ridha Allah. Apapun keputusan Allah adalah yang terbaik bagi seluruh alam semesta.

Sepanjang sejarah, para pemikir besar berusaha merumuskan hubungan manusia, alam, dan Tuhan. Dengan mempertimbangkan makna takwa maka kita dapat menjelaskan hubungan segitiga ini.

Tuhan, berhubungan dengan alam, sebagai rabb – pencipta, pengelola, dan pemelihara. Sementara itu, Tuhan berhubungan dengan manusia, dengan menunjuk manusia sebagai wakilNya guna mengelola alam semesta. Manusia menerima penunjukkan ini dengan jalan takwa dalam mengelola alam semesta. Nyatanya, manusia itu lemah dan bodoh. Maka manusia perlu mendapat bimbingan dan pertolongan Allah untuk menjalankan semua tugas di bumi. Manusia mengaku di hadapan Tuhan, dirinya banyalah seorang abdi. Manusia mempercayakan kembali segala urusan hanya milik Allah semata. Manusia berserah diri, tawakkal.

Dalam struktur ini, kita melihat konsep takwa dan tawakkal berbeda tataran. Meski dua hal itu bertemu dalam diri manusia menjadi satu. Sehingga manusia adalah satu kesatuan utuh: dalam diri manusia ada takwa sekaligus ada tawakkal. Setiap kata takwa mengandung makna tawakkal dan setiap kata tawakkal mengandung makna takwa. Meski demikian, manusia juga harus mampu membedakan tataran takwa dan tawakkal itu.

2. Tataran Takwa

Takwa berada dalam tataran hubungan manusia dengan alam semesta, termasuk dengan manusia lainnya. Sementara, tawakkal berada dalam tataran hubungan manusia, seorang diri, di hadapan Tuhan. Meski demikian, manusia perlu bimbingan guru, dan Nabi, untuk menghadap Tuhan.

Di mana manusia bisa menemui Tuhan? Mudah saja. Manusia bisa menemui Tuhan dengan cara memberi makan kepada orang miskin, memberi ilmu kepada orang yang tidak mengerti, memberi obat kepada orang yang sakit. Ini adalah jalan menemui Tuhan melalui jalur takwa. Manusia berperan sebagai wakil Tuhan mengabulkan doa orang yang lapar, orang yang kurang ilmu, dan orang yang sedang sakit.

Dengan demikian, untuk menjalankan tugas bertakwa, manusia membutuhkan sains dan teknologi – termasuk manajemen dan bisinis dalam arti luas. Kita perlu mengkaji bagaimana cara mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan, dan menjaga kesehatan seluruh masyarakat. Bagaimana jika tugas sebesar itu kita serahkan kembali kepada Allah? Bukankah Allah Maha Kuasa? Tentu bisa saja begitu. Tetapi dengan cara itu kita sudah gagal menjalani proses takwa, sebagai wakil Tuhan, dan mengambil jalan pintas menempuh proses tawakkal.

Di sinilah, sering terjadi rancu berpikirnya manusia. Yang seharusnya bertakwa malah bertawakkal. Mari tetap semangat menjalani proses takwa. Tuhan menjamin memberi jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa. Bahkan menjanjikan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Untuk mengatasi kemiskinan kita perlu mengembangkan sains ekonomi termasuk teknologi bisnis yang inovatif. Kita menyaksikan perkembangan teknologi digital sudah membuka banyak lapangan kerja. Kita perlu mengarahkan kekuatan digital ini untuk mengentaskan kemiskinan dan mengatasi ketimpangan ekonomi.

Tentu saja kita perlu menciptakan struktur ekonomi yang adil bagi seluruh rakyat. Perlindungan anti monopoli, sistem pajak progresif dinamis, dan perlindungan konsumen. Tampak jelas untuk menjalankan itu semua kita perlu pemerintahan yang kuat, efektif, dan adil. Makin jelas pentingnya sistem demokrasi agar masyarakat dapat berpartisipasi dengan baik.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan maka kita perlu mengembangkan ilmu pendidikan dalam arti luas. Teknologi digital bisa kita optimalkan untuk menyebarkan konten edukasi secara cepat dan luas. Untuk menjaga kesehatan masyarakat kita perlu mengembangkan ilmu kedokteran dalam arti luas. Benar-benar banyak tugas manusia sebagai wakil Tuhan untuk memakmurkan alam semesta. Tentu saja. Kita tidak sendiri. Kita hidup bermasyarakat. Maka kita perlu membangun sistem sosial sedemikian hingga masing-masing dari kita mampu melaksanakan takwa, peran sebagai wakil Tuhan, dengan sebaik-baiknya.

Setelah kita melakukan proses takwa dengan sungguh-sungguh maka pantaslah kita bertawakkal. Atau ketika kita menjalani proses takwa dengan sungguh-sungguh, bersamaan itu, di dalam hati terdalam, kita bertawakkal kepada Allah.

3. Karya Nyata

Takwa adalah karya nyata. Bukan sekedar klaim bahwa saya sudah menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya. Hasil takwa bisa kita verifikasi dengan beragam cara. Misal ketika kita bertakwa dalam bentuk memperbaiki ekonomi umat maka kita bisa mengukur bagaimana kenaikan pendapatan orang-orang miskin. Kita bisa memanfaatkan beragam metode statistik untuk mengukurnya. Bila berhasil maka bisa kita lanjutkan. Bila, ternyata, gagal maka kita perlu melakukan koreksi untuk perbaikan ke depan. Gagal atau berhasil tetap merupakan suatu proses menjalankan program takwa.

Diskusi rasional antara banyak pihak bisa dilakukan. Baik pihak-pihak tersebut beragama sama atau beda agama. Bahkan mungkin saja diskusi, dalam memperbaiki ekonomi, dengan orang sekular. Ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Kita berlomba-lomba dalam kebaikan.

4. Tantangan Sekular

Masyarakat sekular berkembang akhir-akhir ini. Mereka meng-klaim bahwa kemajuan peradaban manusia adalah hasil dari sekularisasi. Beberapa orang sekular, memang, tetap beragama. Sementara, ada bentuk sekular ekstrem sampai ke bentuk atheis yang tidak mengakui Tuhan.

Dalam analisis kita, sekular bisa kita pandang sebagai program menjalankan takwa tanpa bertanggung jawab kepada Tuhan. Sehingga makna takwa menjadi tidak tepat lagi bagi aktivitas orang-orang sekular dalam mengelola alam. Barangkali istilah yang lebih cocok adalah eksplorasi alam, atau yang lebih keras, eksploitasi alam.

Dalam eskplorasi alam, orang sekular tidak mengklaim sedang menjalankan tugas ketuhanan. Maka paling banter mereka bisa mengklaim sedang menjalankan tugas kemanusiaan – demi kemakmuran bersama. Sehingga tanggung jawab mereka adalah tanggung jawab kemanusiaan.

Tantangan sekularisasi ini akan kita bahas di bagian selanjutnya.

Bagaimana menurut Anda?

Kebaikan Berlimpah

“Tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS 97 : 2-3)

Allah yang maha baik melimpahkan kebaikan untuk seluruh alam semesta. Siapa pun Anda selalu mendapat curahan kasih sayang dari Allah. Apakah Anda menyadari atau tidak, Allah tetap menjaga Anda, melindungi Anda, dan menolong Anda.

Malam 1000 bulan, malam qadar, lailatul qadar, adalah malam spesial yang kebaikannya lebih baik dari seribu bulan. Kebaikan yang Anda lakukan di saat itu, nilainya, dilipatgandakan lebih dari seribu bulan.

1. Wakil Tuhan
2. Kembali ke Diri
3. Samudera Digital
4. Amal Jariyah

Asal-usul Terjadinya Lailatul Qadar, Malam Seribu Bulan

Kebaikan 1000 bulan itu lebih besar dari sepanjang hayat orang pada umumnya. Seribu bulan setara dengan 83 tahun. Sementara, harapan hidup manusia umumnya di bawah 83 tahun. Apalagi bila dipotong masa kanak-kanak dan remaja yang kira-kira 20 tahun sendiri, main-main belaka. Barangkali, kita menjalani hidup secara serius hanya 40an tahun. Namun, dari 40 tahun itu kita banyak tidur dan bersenda-gurau. Sehingga, paling banter, kita hanya memanfaatkan waktu selama hidup efektif 20an tahun. Lebih baik, mari kita kejar malam qadar yang kebaikannya lebih dari 83 tahun!

1. Wakil Tuhan

Malam kemuliaan itu mengetuk diri kita, dari pintu yang paling dalam. Memeluk kembali jiwa kita. Menghidupkan kembali jiwa kita. Kita adalah wakil Tuhan di semesta ini. Kapan pun kita bertindak, kekuatannya dilipatkan oleh Tuhan seribu bulan. Kebaikan yang berlimpah dari Sang Maha Baik. Maukah kamu?

Kita, manusia, sudah menerima amanah dari Tuhan untuk menjalankan takwa, sebagai wakil Tuhan. Tapi manusia, sejatinya, adalah makluk yang lemah dan bodoh.

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh. ” (QS 33 : 72)

Maka mari kita sambut lagi uluran Tuhan di malam lailatul qadar ini.

2. Kembali Ke Diri

Meski kita lemah, Tuhan selalu mencurahkan kebaikan kepada kita. Allah memastikan bahwa orang-orang yang bertakwa selalu mendapat jalan keluar dari arah yang tak disangka. Sedangkan orang yang bertawakkal selalu memperoleh kecukupan.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS 62 : 2-3)

Takwa dan tawakkal berawal dan kembali kepada diri kita. Takwa adalah diri kita yang menerima amanah Tuhan, menjadi wakil Tuhan, untuk memakmurkan semesta, dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan. Dalam menghadapi alam semesta, termasuk interaksi sosial, kita menemui beragam masalah. Maka kita perlu memanfaatkan segala daya yang kita miliki, yang merupakan anugerah Tuhan. Kita perlu mencurahkan seluruh pikiran, semangat, dan kekuatan fisik untuk mentransformasikan alam semesta menjadi lebih baik.

Saat ini, kita sedang dalam pandemi. Betapa sulitnya kita menangani pandemi covid. Sebenarnya, kita sudah mengenal cara kerja covid. Seharusnya kita sudah bisa mengatasi pandemi covid dengan segala riset dan teknologi. Secara teori sudah ada solusi. Tetapi perilaku manusia tidak mudah dicegah. Covid terus mewabah. Gara-gara manusia yang terus-menerus tumpah-ruah. Berkumpul di sudut sawah sampai gedung-gedung mewah. Memang parah.

Memang sesama manusia, kita harus saling menghormati. Kita sama-sama wakil Tuhan di bumi. Kita perlu musyawarah dan diskusi. Semua aturan perlu ditaati. Semua kembali ke diri sendiri.

3. Samudera Digital

Era digital bisa menggambarkan malam lailatul qadar dengan lebih jelas. Satu kebaikan yang Anda lakukan, misal membuat konten edukasi yang bermanfaat, bisa disebarkan, ditonton 1000 orang. Bahkan bisa ditonton oleh masing-masing orang 1000 kali. Dan konten ini abadi, 1000 hari, sampai benar-benar 1000 bulan.

Wow, sehebat itukah media digital? Bisa jadi sarana meraih malam lailatul qadar? Tentu saja bisa. Sejauh kita bisa memanfaatkan media digital sebagai media takwa dan tawakkal. Sebaliknya bisa terjadi. Media digital berubah menjadi samudera digital. Menenggelamkan semua kapal. Umat manusia terjungkal. Barangkali iblis tertawa terpingkal-pingkal.

Kita perlu kembali menyelami diri. Temukan ruh ilahi. Yang ada dalam nurani. Pancarkan ke seluruh bumi. Dengan berbagi manfaat duniawi dan ukhrawi. Anggap media digital sebagai teknologi. Yang menjembatani ribuan hati. Untuk kembali ke hadirat ilahi. Seberapa jauh kita menggerakkan jari? Melangkahkan kaki? Dengan tujuan untuk mengabdi?

“Dan tidak Aku ciptakan jin manusia kecuali untuk mengabdi (ke Ilahi).”

4. Amal Jariyah

Pahala kebaikan terus mengalir kepada orang yang beramal jariyah. Yaitu amal yang bermanfaat dalam jangka panjang. Meskipun kita sudah meninggal dunia, pahala tetap mengalir untuk kita.

Misalnya, perhatikan kitab tafisr karya Ibnu Katsir. Meski beliau sudah wafat ratusan tahun yang lalu, kitab tafsirnya tetap kita pelajari sampai sekarang. Terus menebarkan manfaat. Pahala kebaikan terus mengalir sampai ratusan tahun kepada beliau. Dan akan terus mengalir sampai bertahun-tahun di masa depan. Bagaimana dengan karya Anda? Manfaatkan malam lailatul qadar, detik ini, dengan memberi prestasi bagi penduduk bumi.

“Barangsiapa beramal kebaikan maka untuk dirinya. Dan barang siapa berbuat buruk, demikian pula terhadapnya.”

Beberapa orang takut dengan dosa jariyah. Yaitu dosa yang siksanya tetap mengalir meski pun pelakunya sudah meninggal. Jika pandangan ini mencegah seseorang dari berbuat dosa maka boleh juga diyakini. Meski pun, saya sendiri tidak menemukan dalil adanya dosa jariyah. Allah Maha Baik, melipatgandakan kebaikan. Tidak melipatgandakan keburukan. Pelaku dosa hanya memperoleh keadilan, yang tentunya sangat pedih, tak terbayangkan. KasihNya mendahuli murkaNya.

Kombinasi amal jariyah, lailatul qadar, dan teknologi digital benar-benar menjadi kesempatan manusia menebus semua kesalahan, menggantinya dengan amal-amal kebaikan.

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan.”

Bagaimana menurut Anda?

Framing Ayat Suci

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).” (QS 25 : 1)

Keunggulan manusia adalah bisa memaknai berbagai macam fenomena dengan bebas. Dulu, orang mengira bahwa gerhana bulan adalah sedang terjadi proses penghancuran bulan oleh raksasa. Maka mereka memainkan beragam musik agar raksasa membatalkan menghancurkan bulan tersebut. Kemudian, sains mengungkap bahwa gerhana bulan adalah fenomena khusus di mana bayangan bumi sedang menutupi bulan.

Perbedaan Gerhana Bulan dan Matahari

1. Pembeda
2. Dunia Digital
3. Hakekat Teknologi
4. Manusia Teknologi

Seorang ilmuwan memaknai gerhana bulan sebagai bukti kebenaran hukum gerak gravitasi alam semesta. Seorang seniman memaknai gerhana bulan sebagai peristiwa menyentuh hati, mengingatkan nostalgia dengan kekasih yang telah lama pergi. Seorang agamawan memaknai bulan sebagai peristiwa yang mengingatkan hamba untuk lebih mendekat kepada tuhan. Berbagai macam makna, dari satu obyek yang sama, bisa saja sama-sama sah.

Dalam beberapa situasi, bisa jadi makna tidak sah. Makna bisa dibelokkan oleh orang-orang tertentu demi kepentingan mereka. Di era digital, pembelokan makna bisa kita anggap sebagai framing. Proses ini kian mudah karena makin canggihnya teknologi digital, murah, dan bisa diakses di mana-mana. Informasi hoax mudah berkembang biak.

1. Pembeda

AlQuran adalah kitab suci yang membedakan berbagai macam hal yang benar dengan hal yang salah. Maka AlQuran disebut juga sebagai AlFurqan, Sang Pembeda. Dengan mengkaji AlQuran kita akan mendapat petunjuk yang jelas tentang jalan lurus yang harus diikuti, dan jalan salah yang harus dihindari.

Ayat AlQuran yang jumlahnya lebih dari 6 ribu ayat cukup besar sebagai penuntun hidup umat manusia. Beberapa ulama mengelompokkan ayat-ayat AlQuran agar lebih jelas perbedaan-perbedaanya. Menurut al-Bantani, bilangan ayat Al-Qur’an itu 6666 ayat, yaitu 1000 ayat di dalamnya tentang perintah, 1000 ayat tentang larangan, 1000 ayat tentang janji, 1000 tentang ancaman, 1000 ayat tentang kisah-kisah dan kabar-kabar, 1000 ayat tentang ‘ibrah dan tamsil, 500 ayat tentang halal dan haram, 100 tentang nasikh dan mansukh, dan 66 ayat tentang du’a, istighfar dan dzikir. Sedangkan bila kita memperhatikan beberapa (himpunan) irisan ayat AlQuran maka kita akan memperoleh angka 6236 – salah satu versi.

Di bagian awal surat AlBaqoroh ditegaskan bahwa “(AlQuran) ini adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk untuk orang-orang yang bertakwa.”

Keunggulan AlQuran juga terletak dalam bahasa Arab yang dipilih Allah agar kalian memikirkannya. Bahasa Arab diakui oleh para ahli memiliki keunikan, struktur bahasa yang jelas, pembentukan istilah yang dinamis, dan kaya dengan makna. Berbeda dengan bahasa Indonesia, misalnya, yang tampak lebih sederhana. Misal dalam bahasa Arab dikenal istilah fiil mudhorik yaitu kata kerja yang menunjukkan sedang terjadi dan akan terjadi.

Ketika Tuhan menghendaki sesuatu maka berfirman, “Kun fa yakun.” Artinya, “Jadilah maka terjadilah.”

Dalam bahasa Indonesia ungkapan “terjadi” tidak menunjukkan waktu sama sekali. Sehingga, dalam bahasa Indonesia, makna “terjadi” seakan-akan terjadi dengan spontan, seketika. Sedangkan dalam bahasa Arab, ungkapan “yakun” berbentuk fiil mudhorik yang bermakna sedang terjadi dan akan terus terjadi. Sehingga bahasa Arab menunjukkan proses yang lebih dinamis dalam contoh di atas.

Meski AlQuran demikian hebatnya, tetap saja manusia punya pilihan bebasnya. Salah satu pilihan manusia adalah membuat framing tentang ayat-ayat suci. Dari jaman awal-awal pun sudah ada orang yang membuat framing bahwa ayat-ayat suci adalah sihir belaka. Bahkan ada yang menyerang Nabi sebagai orang gila. Di jaman sekarang, tentu saja framing kepada ayat suci makin banyak variasi.

Di jaman para sahabat pun pernah terjadi framing untuk memecah belah umat. Mereka menggunakan dalil ayat untuk menyatakan pihak lain sebagai sesat. Kemudian menyerang pihak lain dengan memicu perang.

2. Dunia Digital

Tidak bisa menghindar. Kita berada di era digital yang dipenuhi oleh framing. Apa pun informasi yang kita terima dipastikan itu adalah informasi yang sudah dalam framing. Tidak ada informasi yang benar-benar murni. Dengan demikian, ayat-ayat suci yang kita baca di media tentu juga berada dalam suatu framing. Maka kita perlu lebih hati-hati. Untungnya, Tuhan sudah menganugerahi kita hati nurani. Cahaya dalam setiap diri.

Pertama, kita harus berusaha menjadi orang-orang yang bertakwa. Dengan cara ini, framing yang mengurung setiap informasi kita kaji, lalu kita letakkan kembali dengan framing takwa. Kita ingat kembali bahwa perintah puasa adalah bertujuan untuk menjadikan kita sebagai orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang berprestasi di jalan ilahi, sebagai wakil Tuhan.

AlQuran sendiri adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa. Sementara orang yang tidak bertakwa tidak terjamin akan bisa memperoleh petunjuk. Maka strategi kita adalah menjadikan diri sebagai orang yang bertakwa itu. Yaitu orang yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat, berinfak dengan hartanya, beriman kepada wahyu Nabi dan yang sebelumnya, dan yakin kepada hari akhirat.

Kedua, kita mempelajari lebih dalam tentang dunia digital. Yang perlu kita cermati: bagaimana cara kita verifikasi suatu informasi? Yang paling dasar adalah kita perlu membedakan antara fakta dan opini. Misal cerita tentang babi ngepet. Jelas itu cerita tentang fakta babi dan opini tentang ngepet.

Fakta tentang babi bisa diverifikasi dengan melihat langsung ke lokasi. Benar saja, ditemukan adanya babi di sana sebagai fakta. Tetapi jangan buru-buru itu dianggap sebagai bukti ngepet. Masih perlu verifikasi apakah itu benar-benar ngepet. Kriteria dasar dari babi ngepet adalah babi tersebut sebenarnya berasal dari manusia, yang berubah jadi babi. Penyelidikan polisi menunjukkan tidak adanya perubahan dari manusia menjadi babi. Yang ada hanya babi didatangkan dari kota lain, yang benar-benar babi saja.

Terbukti cerita babi ngepet adalah hoax belaka.

Ketiga, gunakan hati nurani untuk mengambil kesimpulan. Hati adalah tempat bersinarnya cahaya Tuhan. Setelah kita berusaha dengan segala kemampuan kita untuk memperoleh kebenaran, diiringi doa mohon bimbingan dari Allah, maka selanjutnya giliran diri kita mengambil tanggung jawab. Semua keputusan kita, pilihan kita, adalah tanggung jawab kita. Semoga kita selalu dalam bimbingan Allah, Tuhan semesta alam.

3. Hakekat Teknologi

Heidegger menyatakan bahwa hakekat teknologi adalah enframing, framing itu sendiri dengan kemampuan kendali yang makin besar. Sementara Deleuze mengakui bahwa karakter sains memang reduktif dengan mengubah realita yang bersifat chaos menjadi fungtif yang lebih terkendali berdasar berbagai fungsi sains.

Tantangan manusia makin berat. Kita membutuhkan sains dan teknologi. Sedangkan hakikat teknologi dan sains itu memang framing dan reduktif. Lebih dari itu, sifat enframing dari teknologi cenderung untuk mengendalikan kehidupan manusia. Manusia, dipaksa oleh teknologi, agar menjadi robot-robot hidup saja. Teknologi tidak bekerja sendirian untuk itu. Teknologi bekerja sama dengan orang-orang yang mencoba mengeksploitasi alam semesta. Kerja sama ini menghasilkan kekuatan super dahsyat. Siapa yang mampu menghadapinya?

Secara sosial, umat manusia perlu menyusun suatu aturan untuk membatasi teknologi agar tidak disalah-gunakan untuk membahayakan kehidupan manusia dan alam semesta. Tentu saja ini tugas yang sulit. Karena semua pihak bisa menyusun framing agar terkesan menyelamatkan umat manusia, padahal menghancurkan alam semesta.

Secara personal, kita perlu memperkuat diri kita dengan karakter takwa. Sebuah karakter, yang konsisten mendengarkan suara nurani, untuk mengukir prestasi sebagai wakil Tuhan di bumi.

4. Manusia Teknologi

Manusia dengan teknologi kian menyatu. Hanya saja, teknologi digital lebih kompleks dibanding teknologi sebelumnya. Dulu, manusia yang me-framing teknologi, manusia yang mengendalikan teknologi. Era digital, bisa terbalik, teknologi yang me-framing manusia, teknologi mengendalikan manusia.

Banyak hal yang menyebabkan teknologi digital mampu me-framing manusia. Pertama, makin murah. Sehingga, emak-emak dan anak-anak, juga bapak-bapak, bisa mengakses media digital dengan mudah. Akibatnya, mereka ketagihan. Mereka justru ketagihan di-framing oleh media sosial. Kalau tidak kena framing, tidak seru kata mereka.

Kedua, media sosial adalah obat pusing kepala. Tugas mendidik anak adalah tugas berat yang memusingkan kepala. Tugas berinteraksi dengan anak, yang kadang rewel, menuntut kesabaran tinggi. Beri mereka media digital, hp dan game lainnya, maka anak-anak beres. Anak-anak sibuk dengan hp-nya. Tidak perlu perhatian orang tua lagi. Sementara, orang tuanya bisa bebas main medsos pula.

Ketiga, makin canggihnya teknologi digital sehingga bisa memberikan semua yang dibutuhkan oleh pengguna. AI, artificial intelligent, tahu dengan pasti apa yang dibutuhkan pengguna, untuk kemudian AI mengendalikan manusia. Orang yang suka olah raga, akan diberi konten olah raga oleh AI. Orang yang gemar politik, akan diberi konten politik. Bahkan kontennya, benar-benar, sesuai selera.

Dan masih banyak lagi, faktor yang menguatkan teknologi digital mampu me-framing manusia. Apakah Anda tenang-tenang saja jika di-framing oleh media sosial? Tidak inginkah Anda, kembali, me-framing media digital? Mampukah manusia bangkit dari jebakan teknologi yang dibuatnya sendiri?

Untungnya, kita masih punya hati nurani. Ditambah bimbingan kitab suci. Serta, adanya sahabat-sahabat meniti jalan ilahi. Sudah siapkah, Anda hari ini?

Bagaimana menurut Anda?

Pernikahan Langit

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya (sakinah), dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS 30 : 21)

Pernikahan adalah prinsip dasar alam semesta. Manusia bertumbuh kembang melalui pernikahan. Penciptaan alam semesta paling awal adalah pena (qolam) yang, kemudian, menikah dengan lembaran (lauhul mahfudz) dan melahirkan seluruh alam raya. Atom hidrogen menikah dengan atom oksigen melahirkan senyawa air (H2O).

1. Realitas Semesta
2. Perjanjian Langit
3. Perbedaan Hakiki
4. Sakinah Mawaddah Rahmah
5. Krisis Populasi Dunia

Hampir Samai Tingkat Pernikahan di Jepang yang Rendah, Masyarakat Korea  Selatan Makin Ogah Nikah, Kenapa? - Semua Halaman - Hype

1. Realitas Semesta

Hakikat alam semesta adalah selalu bergerak menuju kesempurnaan. Sadra merumuskannya sebagai gerak substansial. Hegel terkenal dengan gerak dialektika. Sedangkan Deleuze lebih menekankan gerak abadi sebagai repetisi dari differensial. Dan, barangkali yang paling terkenal, gerak sistem dinamis kalkulus dari Newton dan Leibniz.

Gerak bisa terjadi karena adanya pasangan dari suatu perbedaan. Listrik mengalir dari positif ke negatif karena adanya pasangan perbedaan potensial. Air mengalir dari dataran tinggi ke yang lebih rendah karena adanya pasangan beda tinggi atau beda energi potensial. Laki-laki mendekati wanita karena adanya pasangan yang berbeda jenis, saling merindukan antara keduanya.

Realitas alam semesta, jelas, menunjukkan adanya pasangan-pasangan perbedaan. Maka mengakui perbedaan adalah prinsip paling dasar. Kemudian mengelola perbedaan untuk pertumbuhan yang lebih baik, menciptakan dinamika sosial, dan dinamika alam raya.

Barangkali, semua yang ada di alam berpasangan secara alamiah. Benang sari membuahi putik pada bunga sehingga terjadi pembuahan, menghasilkan biji, dan melahirkan tumbuhan baru. Kucing jantan mengejar-ngejar kucing betina, perkelahian di sana-sini, terjadi perkawinan, menghasilkan generasi penerus spesies kucing. Tidak demikian sederhana dengan manusia.

Jikalau kucing berkelahi saling mencakar ketika hendak kawin, itu adalah alamiah untuk menghasilkan generasi penerus terbaik. Sementara, jika manusia harus berkelahi sebelum perkawinan maka itu akan menjadi petaka. Manusia berkelahi tidak hanya menyerang dengan cakar. Manusia punya pisau, panah, senapan, sampai bom nuklir. Peradaban manusia bisa hancur karenanya. Bukan perkelahian yang dibutuhkan umat manusia. Tetapi manusia membutuhkan kematangan, kedewasaan, dan pengertian dari setiap warganya.

2. Perjanjian Langit

Ketika sepasang kekasih, dua manusia yang saling jatuh cinta, mengikatkan diri dalam pernikahan suci, itu adalah perjanjian yang dicatat di langit. Memang benar pernikahan itu dicatatkan di catatan sipil secara legal. Masing-masing suami dan istri terikat dalam hak dan kewajiban. Tetapi lebih dari itu, sejatinya, catatan yang lebih kuat ada pada singgasana Tuhan yang Maha Agung. Catatan pernikahan di langit adalah perjanjian agung manusia untuk melanjutkan tugasnya sebagai wakil Tuhan di bumi dari generasi ke generasi.

Saking agungnya perjanjian pernikahan ini sampai-sampai ada yang mengharamkan perceraian. Secara umum, Islam memandang perceraian masih dibolehkan pada kondisi khusus. Sehingga perceraian sering disebut sebagai perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah. Perceraian begitu mengerikan sampai menggoncang arsy, singgasana langit.

Jika pernikahan adalah perjanjian yang agung dan perceraian adalah paling dibenci Allah, lalu, mengapa banyak ustadz yang cerai?

Tidak mudah menjawab itu.

Tugas kita adalah menjaga perjanjian yang agung itu. Mendidik generasi penerus yang kuat. Generasi yang membanggakan sebagai wakil Tuhan di muka bumi ini.

3. Perbedaan Hakiki

Kunci membangun rumah tangga bahagia adalah menghormati perbedaan: perbedaan antara suami istri dan perbedaan dengan masing-masing anggota keluarga. Sepasang kekasih, ketika dimabuk cinta, melihat setiap perbedaan begitu indah. Dan, secara hakiki, perbedaan itu memang indah.

Di awal-awal pernikahan, suami yang suka makanan pedas, sedang istri tidak suka makanan pedas terasa saling melengkapi. Begitulah cinta. Mengapa setelah menikah sepuluh tahun atau tiga puluh tahun menjadi berubah? Masakan pedas yang disukai suami menjadi merepotkan istri. Masakan tidak pedas yang dihidangkan istri menjadi membosankan bagi suami. Perbedaan kecil yang dulu menumbuhkan rasa cinta mengapa berubah menjadi sumber pertengkaran?

Di situlah perlunya sepasang suami istri terus-menerus merawat cinta kasih dalam setiap perbedaan.

4. Sakinah Mawaddah Rahmah

Tiga kata paling umum kita kenal dalam doa pernikahan: sakinah, mawaddah, dan rahmah. Kata yang penuh bobot bersumber langsung dari AlQuran. Pasangan suami istri yang berpegang kepada tiga konsep ini, insya Allah, pernikahannya bahagia dunia dan akhirat.

Sakinah adalah konsep paling dasar dalam kebahagiaan rumah tangga. Sakinah sering dimaknai sebagai tenteram, damai, suka, cenderung, ingin, rukun, dan sebagainya. Redaksi asli sakinah adalah kata kerja litaskunuu – agar kalian bertindak sakinah. Bukan kata benda atau kata sifat.

Sehingga kita bisa memaknai sakinah adalah perintah Tuhan kepada pasangan suami istri agar menciptakan kedamaian dalam rumah tangga. Sakinah ini bisa tercipta dengan menghidupkan rasa cinta setiap saat bagi suami istri. Memandang perbedaan sebagai sumber cinta. Memandang kekompakan sebagai penyatuan cinta. Segalanya adalah cinta yang memenuhi seluruh sudut rumah tangga.

Ketika pasangan suami istri bertindak sakinah, kemudian, Allah menganugerahi mereka mawaddah dan rahmah.

Mawaddah bisa kita maknai sebagai “cinta yang nyata” atau “kasih sayang nyata” dan sebagainya. Meski mawaddah pada intinya adalah cinta, tapi, penekanannya adalah bersifat nyata.

Rahmah bisa kita maknai sebagai “cinta yang tulus” atau “kasih sayang yang tulus” dan sebagainya. Rahmah juga bermakna cinta dan kasih dengan penekanan pada sifatnya yang tulus.

Mawaddah adalah cinta nyata yang terungkap. Suami mengucapkan cinta kepada istri tiap pagi dan malam. Suami mengungkapkan cinta dengan memberi nafkah. Suami mengungkapkan cinta dengan mendengarkan curhatan isteri. Begitu juga istri mengungkapkan ucapan cinta tiap pagi dan malam. Isteri mengungkapkan cinta dengan menghidangkan masakan paling lezat. Isteri mengungkapkan cinta dengan setia mendampingi suami.

Rahmah adalah cinta dan kasih sayang yang tulus. Suami tetap mencintai istri meski istrinya cerewet. Suami makin cinta kepada istri meski istri makin tua. Suami makin sayang kepada istri meski istrinya, lama-lama, menjadi nenek-nenek. Istri tetap mencintai suami meski suami dalam kesulitan finansial. Istri tetap mencintai suami meski suami makin lemah. Istri tetap mencintai suami meski suaminya, lama-lama, menjadi kakek-kakek.

Lengkap sudah cara membangun keluarga bahagia dunia akhirat. Sakinah: sepasang suami istri terus-menerus merawat cinta kasih dalam setiap perbedaan. Kemudian Allah menganugerahkan mawaddah dan rahmah yang perlu terus-menerus dirawat. Mawaddah: suami istri mengungkapkan rasa cinta dalam wujud yang nyata. Rahmah: suami istri makin cinta walau kondisi apa pun yang terjadi.

Semoga kebahagian selalu tercurah untuk kita semua.

5. Krisis Populasi Dunia

Konsekuensi pernikahan adalah terjaganya populasi masyarakat dunia. Hari ini, di tahun 2021, beberapa negara mengalami ancaman krisis populasi. Di mana, ada cukup banyak pasangan usia produktif tidak mau menikah. Atau, ketika mereka menikah, mereka tidak mau punya anak. Akibatnya, populasi suatu negara makin berkurang. Atau, setidaknya berpotensi menjadi berkurang dalam waktu dekat. Penurunan populasi bisa berdampak buruk bagi semua.

Berbeda masalah dengan, ketika, pasca perang dunia. Saat itu, pertumbuhan populasi dunia justru terlampau tinggi. Barangkali, masyarakat merasa aman dan banyak pejuang yang gugur di peperangan maka mereka berniat untuk punya anak banyak. Pertumbuhan populasi dunia sempat di atas 2% per tahun. Akibatnya, diprediksi, bumi akan terlalu sesak dipenuhi manusia pada abad 21 ini.

Program pembatasan jumlah anak dengan KB, keluarga berencana, gencar di penjuru dunia. Indonesia ikut serta dengan program dua anak cukup. Selama masa orde baru, program KB didorong dengan anggaran yang tidak rendah. Hasilnya, tidak buruk namun juga tidak membanggakan. Dari pertumbuhan di atas 2%, bisa ditahan mendekati atau di bawah 2% menjelang tahun 2000.

Setelah tahun 2000, situasi terbalik. Tidak perlu program pembatasan jumlah anak, pasangan muda di Indonesia, dan belahan dunia lain, dengan suka rela membatasi jumlah anak. Mereka berpikir bahwa anak adalah beban ekonomi. Maka, tidak punya momongan adalah lebih menguntungkan. Atau, cukup punya 1 anak saja. Akibatnya, pertumbuhan populasi di Indonesia turun menjadi sekitar 1%. Di Jerman, Itali, dan beberapa negara maju pertumbuhan populasi sempat negatif.

Tahun 2021 ini, Cina mendorong pasangan agar punya anak lebih dari 1 orang guna menaikkan pertumbuhang populasi yang rendah (0,3%). Respon masyarakat Cina? Mereka tidak mau menambah jumlah anak. Beban ekonomi terasa begitu berat menurut mereka.

Tampak jelas dari paparan di atas, fenomena pernikahan yang sepertinya hanya masalah sepasang kekasih, nyatanya, itu adalah masalah kemanusiaan di seluruh dunia. Sehingga, kita perlu mempertimbangkannya dengan lebih luas – serta lebih dalam dan lebih tinggi.

Bagaimana menurut Anda?

Bakti Anak Ibu Bapak

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat- malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS 66 : 6).

1. Pintu Surga
2. Pendidikan
3. Perjanjian Agung
4. Kompleks Oedipus
5. Pasangan Karir

Tidak setiap orang punya anak. Tetapi setiap dari kita pasti punya ibu dan bapak. Kita jauh lebih membutuhkan ibu dan bapak, dibanding kebutuhan mereka kepada kita. Kita berhutang budi, berhutang kebaikan, dan berhutang eksistensi kepada ibu dan bapak. Sebuah hutang yang tak pernah bisa kita lunasi. Pun kebaikan mereka selalu menyinari hati.

Puisi Ibu Dan Ayah - Jagad.id

1. Pintu Surga

Tidak perlu repot-repot di mana menemukan pintu surga. Berbakti kepada ibu dan bapak adalah jalan pasti menuju surga, pintu surga yang terbuka lebar bagi setiap orang. Anda yang masih punya orang tua, yang masih hidup, manfaatkan baik-baik kesempatan untuk berbakti kepadanya, birrul walidain. Sedangkan bagi Anda yang orang tuanya sudah meninggal bisa senantiasa mendoakan mereka. Mengamalkan semua ilmu, nasehat baik, dari kedua orang tua. Melanjutkan berbagai macam amal baik orang tua.

“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS 17 : 23)

Ibu merawat kita penuh cinta. Ketika kita nangis, waktu bayi, ibu memeluk dan mencurahkan kasih sayangnya. Semua yang kita butuhkan, ibu dan bapak memberikan sepenuh jiwa. Tiba gilirannya, kita merawat orang tua yang sudah usia senja. Berikan semua cinta kita, yang dianugerahkan oleh Allah melalui orang tua kita juga.

Jangan pernah mengeluh, sekalipun hanya ucapan “ah”. Jangan pula membentaknya. Kita hadir di dunia ini atas cinta dari kedua orang tua. Kita kembali ke akhirat, menuju surga, pun atas ridha kedua orang tua. Kita membutuhkan orang tua untuk hadir ke dunia dan kembali ke akhirat. Ucapkanlah perkataan, hanya, yang baik-baik saja. Hanya cinta yang ada.

2. Pendidikan

Pendidikan paling dasar, yang kita peroleh, adalah melalui orang tua. Pendidikan yang berupa contoh atau pun bahasa – yang penuh makna. Pada gilirannya, kita dewasa, sebagai orang tua, perlu mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya.

  1. Teladan. Anak-anak mudah belajar dari kita melalui contoh-contoh nyata. Anak-anak merekam dan menirukan semua yang dilakukan orang tuanya. Maka mari kita memberikan contoh hanya akhlak-akhlak yang mulia.
  2. Ibu dan Bapak sudah pasti adalah pendidik bagi anak-anaknya. Tentu saja bisa berupa pendidikan non-formal: belajar mendengar, mengamati, memahami, dan lain-lain. Dan yang paling penting adalah pendidikan agama. Orang tua mengenalkan kita tentang Maha Baik nya Tuhan. Orang tua mengajak kita beribadah bersama-sama. Sungguh pendidikan yang luar biasa.
  3. Kehendak bebas memilih. Salah satu pelajaran penting adalah kita perlu mendidik anak-anak untuk memilih kebaikan relatif terhadap pilihan lainnya. Dan anak-anak bertanggung jawab atas semua pilihan itu.

3. Perjanjian Agung

“Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS 4 : 21)

Suami-istri membangun rumah tangga dalam ikatan suci: perjanjian agung. Islam memandang ikatan keluarga sebagai sendi dasar membangun kehidupan sosial yang adil dan beradab. Sepanjang sejarah, umat manusia juga menyepakati peran penting keluarga dalam membina generasi penerus. Rumahku adalah surgaku.

4. Kompleks Oedipus

Tentu timbul beberapa anomali di sana-sini. Sigmund Freud adalah seorang ahli psikologi yang berhasil merumuskan sumber utama dari masalah manusia adalah kompleks Oedipus, di mana terjadi kecemburuan antara anak, ibu, dan bapak dalam suatu keluarga. Kompleks ini merasuk ke pikiran tak sadar manusia.

Deleuze dan Guattari mengoreksi pemikiran Freud dengan merumuskan Anti Oedipus. Deleuze menunjukkan bahwa yang lebih banyak jadi sumber masalah bagi manusia bukan seperti dirumuskan Freud, tetapi skizofrenia. Yaitu kompleks kehidupan sosial yang lebih luas. Deleuze memunculkan istilah hasrat-produksi yang merupakan titik temu Freud dan Marx.

Dari analisis di atas, kita bisa lebih yakin bahwa keluarga adalah benteng untuk melindungi krisis sosial. Di saat yang sama, keluarga adalah sumber dari kekuatan sosial itu sendiri. Keluarga yang harmonis adalah tumpuan kehidupan sosial yang sejahtera.

5. Pasangan Karir

Alam semesta itu berdiri tegak dengan berpasang-pasangan. Kita perlu menjaga keseimbangan alam dalam segala bidang.

Karir dan keluarga adalah pasangan yang seimbang bagi umat manusia. Manusia tidak bisa meraih salah satunya dengan cara mengorbankan yang lain. Kita perlu meniti karir maksimal dan, di saat yang sama, menjalani kehidupan keluarga yang bahagia. Begitulah, sejatinya, kehidupan manusia.

Guru ngaji saya sering mengingatkan, “Jangan sampai salah memanjat pohon.” Sudah puluhan tahun mengejar karir, sukses luar biasa, menyesal ketika pensiun tiba. Anak dan istri hidup berantakan, broken home. Tidak ada kebahagiaan yang tersisa.

Pilih dulu pohonnya. Lihat ujung akhirnya. Harmonis dalam karir dan keluarga. Jalani kehidupan detik demi detik diri Anda.

Bagaimana menurut Anda?