Covid Indonesia (Tidak) Membaik

Ketika kasus dunia melonjak kemarin, 600 ribu kasus baru di dunia dalam 1 hari, covid di Indonesia justru tampak membaik. Penambahan kasus harian di Indonesia cenderung kecil dibanding pekan-pekan lalu. Hitungan R juga berhasil di bahwa 1 sekitar 0,95 yang menunjukkan pandemi mulai mereda di Indonesia. Apakah bisa dipercaya?

Beberapa orang berhak mempertanyakan dan meragukan data covid di Indonesia.

Angka kematian harian dunia juga memuncak di 8 717 orang satu hari kemarin. Tertinggi sepanjang masa pandemi korona ini.

Di sisi lain, menkes Indonesia diundang WHO untuk berbagi pengalaman sukses menangani pandemi. Kita, sekali lagi, patut bersyukur. Semoga jadi berkah untuk kita semua.

Analisis saya sederhana saja. Jika Indonesia bisa bertahan R di bawah 1 dalam 2 pekan atau lebih maka itu benar-benar membaik. Kita perlu konsisten untuk bersama-sama menjaganya.

Tetapi pengalaman sejauh ini, sering terjadi lonjakan lagi. Apakah akan ada lonjakan dalam beberapa hari ke depan? Semoga tidak.

Bagaimana menurut Anda?

Krisis Islam vs Macron

Presiden Prancis Macron melangkah begitu jauh dengan menyatakan Islam adalah agama dalam kiris di seluruh dunia. “Islam is a religion that is in crisis all over the world today, we are not just seeing this in our country,” Mr.  Macron said.

Pernyataan Macron dapat respon keras dari berbagai kalangan. Salah satunya seruan boikot produk Prancis. Tentu saja bahaya bagi Prancis.

Saya melihat pernyataan Macron di atas, Islam dalam krisis di seluruh dunia, tidak bisa dibuktikan validitasnya. Tetapi justru mudah dibuktikan kesalahan pernyataan Macron itu.

Ini Pernyataan Kontroversi Emmanuel Macron, Presiden Prancis Hina Agama  Islam dan Nabi Muhammad SAW - Warta Kota

Tetapi editorial The Print memuat analisis yang lembut berbahaya menyesatkan pikiran.

Berjudul, “5 Alasan yang menunjukkan crisis di Islam Global.” Paragraf awal sudah menguatkan pendapat Macron bahwa Islam dalam krisis di dunia.

Menyesatkan Pikiran

Editorial The Print tidak salah tapi menyesatkan. Mari kita perhatikan tiga pernyataan berbeda berikut.

A. Islam dalam krisis di seluruh dunia (Pernyatan Macron)
B. Ada 5 alasan menunjukkan krisis di Islam (Judul The Print)
C. Islam TIDAK dalam krisis di sebagian dunia

Sesuai judulnya, The Print, menguraikan 5 alasan yang mereka maksud, dengan lembut. Pertama, Islam adalah agama yang paling dipolitisir. Kedua, adanya ketegangan antara nasionalisme dan pan-nasionalisme di negara-negara berpenduduk muslim. Ketiga, ironi munculnya teroris pan-islami semisal Al Qaeda dan ISIS. Keempat, ada kontradiksi parah di mana negara muslim kaya tidak mau berbagi dengan negara muslim miskin. Kelima, terjadi defisit demokrasi.

5 alasan di atas tampak masuk akal dan, sementara, asumsikan benar. Maka terbukti pernyataan B, judul editorial, adalah benar: Ada 5 alasan menunjukkan krisis di Islam.

Dan secara halus, pembaca menyimpulkan bahwa pernyataan Macron juga benar. Tentu saja tidak sah. Cara berpikir yang sesat itu. Pernyataan Macron beda dengan judul editorial. (Pernyataan A beda dengan B).

Pernyataan Macron, pernyataan A, tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Kita tidak mungkin bisa, sulit sekali bisa, menunjukkan bahwa semua dunia Islam sedang dalam krisis. Bagaimana kita bisa menguji keadaan dunia islam satu demi satu?

Tetapi pernyataan Macron ini justru lebih mudah diuji dengan falsifikasi gaya Karl Popper. Misalnya dalam bentuk pernyataan C: Islam TIDAK dalam krisis di sebagian dunia.

Ambil contoh negara Brunei tidak dalam keadaan krisis. Maka pernyataan C benar, ada wilayah Islam yang tidak krisis. Dengan demikian pernyataan Macron salah.

Meski dengan asumsi judul editorial benar, kita tetap bisa menunjukkan bahwa pernyataan Macron salah.

Apakah media sengaja membangun cara berpikir yang menyesatkan? Tampaknya The Print yang harus menjawabnya.

Bagaimana menurut Anda?

Presiden Prancis Macron: Sudah Mati Makna

Orang sedang ramai membicarakan presiden Prancis Macron. Benar saja dia sudah mati begitu selesai berucap. Pembaca bebas menafsirkan semua kata-kata Macron.

Jauh hari sebelumnya, posmodernis Prancis, semisal Derrida dan Lyotard, sudah mengatakan kita masuk pada era matinya makna. Pembicara, semisal Macron, langsung mati begitu selesai bicara. Pendengar, pembaca, langsung hidup bebas berimajinasi sesuai masing-masing individu. Yang ada hanya mikrologi, kata Lyotard. Imajinasi-imajinasi kecil.

Presiden Prancis Emmanuel Macron: Hari-Hari Lebih Baik Akan Datang

Dari pidato Macron, teks, yang panjang itu banyak tafsir bisa dikembangkan.

  1. Macron ingin menangani kekerasan di Prancis
  2. Macron ingin mencegah kericuhan
  3. Macron membedakan Islam radikal dengan lainnya
  4. Macron membiarkan karikatur itu
  5. Macron menghina Nabi
  6. Macron menyakiti 1,5 milyard umat muslim
  7. Macron punya agenda tersembunyi

Meski Macron, barangkali, bermaksud fokus menangani dan mencegah kekerasan di Prancis tapi pembaca punya fokus yang berbeda. Bisa jadi pembaca lebih fokus ke tafsir 4, 5, 6, dan 7 di atas.

Apalagi dalam wawancara selanjutnya, Macron menegaskan tetap membela kebebasan ber-ekspresi di Prancis. Hal ini dapat menguatkan mikrologi: Macron menghina Nabi. Mikrologi bisa salah. Tapi bisa saja benar. Yang jelas mikrologi itu nyata.

Derrida, pelopor posmo Prancis, yakin tidak mungkin ada konsensus. Justru yang muncul dissensus. Dan paralogi. Logika-logika yang berbeda dari yang diharapkan pembicara, Macron itu sendiri.

Selanjutnya, kita tahu, simulacra menyebarkan mikrologi-mikrologi melalui beragam media sosial. Baudrillard, posmo Prancis juga, sudah mengantisipasi peran simulacra yang hebat ini.

Benar-benar semua harus jadi pelajaran bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Rate Card Tik Tok Youtube

APIQ membuka kesempatan kerja sama untuk saling memajukan. Khususnya melalui canel youtube paman APIQ (hampir 500 ribu subscriber), youtube edujiwa (lebih dari 200 ribu subscriber), tik tok paman APIQ (hampir 115 ribu follower), dan media sosial lain.

Rate card berkisar Rp 100 – 1000 cost per view

Rate card termurah, Rp 100 per view adalah dengan menampilkan logo Anda di 10 detik pertama video multimedia APIQ.

Rate card maksimal, RP 1000 per view adalah menampilkan logo Anda selama 120 detik di video multimedia APIQ.

Bentuk kerja sama khusus dapat kita kembangkan dengan diskusi lebih detil melalui WA APIQ 0818 22 0898.

Sukses selalu untuk kita semua.

Philosophy of Love & Beauty

Sudah banyak pandangan negatif. Saatnya kita membahas dari sisi positif, berguna, dan jelas. Masalah-masalah filsafat akan kita tinjau dengan fokus ke cinta, kecantikan, dan tentu saja materi. Tidak ada cara sederhana untuk membahasnya. Kita berusaha untuk memilih cara-cara paling sederhana.

Masalah paling dasar manusia adalah pengetahuan tentang materi alam sekitar. Pembahasan ini bisa menarik tapi bisa terlalu teknis. Maka saya akan mengambil contoh fenomena kecantikan yang tentunya lebih hidup. Meski lebih kompleks dari materi, kecantikan, tetap punya daya tarik. Kemudian kita melangkah lebih jauh ke tema cinta. Banyak orang yang menilai cinta sebagai subyektif, tapi kita akan melihat peran besar cinta dalam membimbing manusia menuju hakikat kebenaran.

Secara garis besar tulisan ini mengadaptasi karya Bertrand Russel, The Problems of Philosophy. Kita akan menemukan bagian yang diringkas. Namun banyak bagian yang diperluas karena kemajuan jaman. Dan tentu saja karena cinta dan kecantikan itu sendiri.

Kemajuan sains dengan mekanika quantum, relativitas Einstein, dan masyarakat digital tentu akan mengubah banyak hal yang kita hadapi. Kebenaran filosofis, yang dulu berhadapan dengan fenomena nyata, kini harus menghadapi fenomena maya belantara tanpa lentera.

Bagaimana menurut Anda?

Prolog: Filosofi Cinta
Bagian 1: Epistemologi Cinta

A. Wacana Eksistensi
1. Cantik Penampakan dan Cinta Sejati
2. Eksistensi Cinta
3. Cantik Alami
4. Idealisme

Bagian 2: Ontologi Cinta dan Cantik

D. Wacana Ontologi
14. Batas-Batas
15. Manfaat Filsafat Cinta
16. Materialisasi Cinta dan Kecantikan

Bagian 3: Dinamika Cinta

E. Wacana Aksiologi
17. Ekonomi Cinta
18. Politisasi Cinta
19. Agama Cinta

Epilog: Wacana Cinta

Iman Dulu atau Ilmu

Jokowi adalah presiden terbaik Indonesia? Donald Trump adalah presiden yang baik?

Coba kita fokus ke Trump apakah presiden yang baik atau buruk. Data dari media tersebar luas di seluruh dunia. Bahkan saat ini Trump sedang bertarung lawan Biden untuk kursi presiden baru. Inilah kesimpulan dari banyak data itu,

Trump adalah presiden yang buruk.

Jokowi Undang Donald Trump ke Indonesia

Analisis nytimes, washingtonpos, nbc, dan lain-lain menunjukkan Trump adalah presiden yang buruk. Tapi tidak selalu begitu!

Bagi pendukung Trump, justru Trump adalah presiden yang baik. Mereka juga membaca nytimes, washingtpos, nbc, dan lain-lain itu. Kesimpulannya jelas: Trump adalah presiden yang baik.

Survey baru-baru ini dilakukan setelah Trump debat melawan Biden dalam kampanye calon presiden Amerika. Siapa pemenang debat itu?

Pemenangnya adalah Trump, menurut pendukung Trump. Pemenangnya adalah Biden, menurut pendukung Biden. Mereka jelas-jelas menonton debat capres yang sama. Data sama tapi kesimpulan berbeda. Kejadian yang mirip adalah ketika debat capres Jokowi lawan Prabowo. Pemenangnya adalah sesuai masing-masing pendukung.

Kesimpulan lebih besar dipengaruhi oleh keyakinan dari pengetahuan.

Jadi, iman lebih menentukan dari ilmu.

Meski kita perlu kedua-duanya, iman dan ilmu, pengalaman menguatkan hipotesis bahwa iman lebih besar pengaruhnya. Keyakinan lebih besar pengaruhnya dari pengetahuan.

Kita bisa menganalisis lebih jauh bahwa setiap data, atau pengetahuan, membutuhkan data pendukung. Pada gilirannya data pendukung akan membutuhkan pendukung yang lebih awal lagi. Yang pada akhirnya, kita akan berhenti pada data tertentu. Data paling dasar tersebut tidak lagi didukung oleh data pendukung. Data paling dasar tersebut hanya didukung oleh keyakinan saja.

Dengan asumsi tidak ada bias setiap menganalisis data, kita pasti sampai kepada data dasar terakhir yang tanpa didukung data lagi. Bila ditambah ada kemungkinan bias dalam menganalisis dan memilih data maka makin sulit lagi mempertahankan keabsahan suatu kesimpulan.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah Jokowi presiden terbaik Indonesia?

Maka keyakinan kita akan lebih banyak menentukan jawaban di atas dibanding data-data yang ada.

Apakah ini bermakna segala sesuatu adalah relatif? Seperti yang terus didengung-dengungkan para posmodernis? Dari Derrida, Lyotard, Baudrillard, dan lain-lainnya yang sudah mengumandangkan kematian makna?

Saya kira bukan relatif. Tetapi ada keterbatasan kita untuk mengetahui sesuatu secara hakiki. Kita hanya mengetahui beberapa persen. Dan seharusnya kita yakin tidak sampai seratus persen. Masih menyediakan ruang kemungkinan untuk pengetahuan yang berbeda.

Saya lebih setuju menggunakan istilah ketidakpastian. Pengetahuan kita tidak 100% pasti. Sesuai konsep ketidakpastian Heisenberg dan gelombang Schrodinger. Meskipun, Einstein yakin bahwa Tuhan tidak sedang bermain dadu tapi kita tidak tahu pasti apa yang sedang dimainkan.

Kita wajib terus belajar. Menambah ilmu. Agar makin dekat dengan kepastian – yang selalu terselip ketidakpastian. Dan iman akan menguatkan ilmu dan saat yang sama ilmu menerangi iman.

Bagaimana menurut Anda?

Evolusi Tiada Henti: Manusia vs Kera

Teori evolusi Darwin langsung mendapat sambutan hangat, bahkan panas. Manusia modern, jaman sekarang, berasal dari kera, kera yang mirip manusia. Thomas Huxley memberi banyak argumen membela teori evolusi Darwin yang seperti itu. Tentu saja banyak yang menolak. Terutama umat beragama meyakini bahwa manusia pertama adalah Adam. Maka tidak mungkin manusia punya nenek moyang berupa kera.

What is Evolutionary Creation? - Common-questions - BioLogos

Sebagian orang mengambil jalan tengah. Mereka menganggap teori evolusi tidak bisa menyimpulkan bahwa nenek moyang manusia adalah kera. Itu kesimpulan yang salah. Teori evolusi hanya bisa menyimpulkan bahwa manusia dan kera memiliki nenek moyang yang sama. Jadi, nenek moyang manusia adalah manusia. Sedangkan nenek moyang kera adalah kera juga. Tapi berbentuk apakah nenek moyang yang sama, yang sama-sama nenek moyang manusia dan kera?

Pada tulisan ini saya akan membahas teori evolusi dari berbagai macam sudut pandang. Yang paling dominan, saat ini, adalah sudut pandang ilmiah yang reduksionis. Memandang segala sesuatu, cenderung, terbatas fenomena materialistis. Kita akan melangkah lebih jauh, dalam pembahasan ini, tidak hanya materialistis tetapi mempertimbangkan dengan baik argumen rasional, agama, dan lain-lain.

Bohong Besar vs Jujur Sedikit

“Kebohongan terbesar di negeri ini adalah kemenangan Jokowi di pilpres. Kecurangan terjadi di mana-mana. Hasil pemilu presiden harus dibatalkan.”

Begitulah cuitan yang beredar di media sosial, sebelum dan sesudah, KPU menetapkan hasil pilpres. Kita tahu keputusan KPU pun harus bergerak ke MK. Secara sah diputuskan hasil KPU benar!

Jokowi, Prabowo, dan 'Kacamata' Media Internasional - Kabar24 Bisnis.com
Prabowo dan Jokowi

Meski demikian, masih banyak orang yang tidak percaya pada keputusan KPU pada tahun 2014. Mereka masih menganggap banyak pihak yang bohong. Yang benar, menurut mereka, yang menang jadi Presiden 2014 seharusnya adalah Prabowo.

Pemilu presiden 2019 berulang lagi. Keputusan KPU harus maju ke sidang MK. Hasil pilpres 2019 dianggap banyak bohongnya juga. Tetapi hasil pilpres 2019 bernasib baik. Prabowo masuk kabinet Jokowi. Sehingga tidak ada yang bisa mengatakan, “Seharusnya yang jadi presiden adalah Prabowo.” Maka hasil pilpres 2019 tidak bohong.

Bohong besar akan menjadi benar. Begitu keyakinan sebagian orator. Bila Anda bohong satu kali maka Anda adalah pembohong. Tetapi bila Anda bohong seribu kali maka Anda adalah visioner.

Saat ini tersedia disiplin ilmu baru: semiotika yaitu ilmu tentang dusta. Ditambah lagi dengan kekuatan simulacra memproduksi pencitraan penuh dusta maka makin sempurna. Masyarakat tinggal copas dari copas… dari copas.

Bertrand Russel mencermati proses ingatan manusia. Dari sini lah kita bisa mengamati mengapa bohong besar itu akan menang dari bohong kecil. Bohong besar juga menindas kejujuran kecil. Bohong besar hanya bisa dilawan dengan kebenaran besar. Meski, bisa saja bohong besar yang menang.

Misal kita eksperimen dengan diri kita masing-masing. Setiap pagi kita mengatakan, “UU Ciptaker adalah merugikan.”

Pada hari kesatu, pikiran kita akan mencari bukti. Apakah UU Ciptaker benar-benar merugikan? Mana mungkin presiden dan DPR merugikan rakyat? Tetapi mahasiswa demo. Demo mahasiswa adalah murni karena UU Ciptaker merugikan rakyat. Para buruh dan berbagai komponen masyarakat juga demo menolak UU Ciptaker.

Maka pada hari kesatu ini kita masih ragu-ragu, UU Ciptaker adalah merugikan. Anggap saja keyakinan kita 50%.

Pada hari kedua kita mengulangi ucapan yang sama. Keyakinan kita masih sama 50%. Tetapi kita yakin 100% bahwa kemarin kita mengatakan, “UU Ciptaker adalah merugikan.”

Total keyakinan kita mulai goyah, tidak lagi 50%. Campuran antara 50% dan 100%, barangkali naik jadi 60% atau 75%.

Pada hari ketiga, keyakinan kita makin naik. Dan begitu seterusnya.

Pada hari kesepuluh, kita yakin 100% bahwa kemarin mengucapkan, “UU Ciptaker adalah merugikan.” Dan yakin 100% terjadi pada hari sebelumnya. Dan sudah mulai “melupakan” keyakinan yang 50% pada hari pertama. Jadinya, kita yakin 100% bahwa UU Ciptaker adalah merugikan.

Bila kita merenung sejenak, kita tahu bahwa keyakinan kita bisa salah. Tetapi kebohongan besar yang kita ciptakan selama 10 hari sudah berhasil membuat diri kita terkelabui. Apalagi bila banyak orang lain yang meyakini seperti diri kita. Maka kita makin yakin. Dan sayangnya keyakinan ini sering tidak berhubungan dengan kebenaran.

Mari kita merenung semoga senantiasa memperoleh kebenaran sejati.

Bagaimana menurut Anda?

Percaya Jokowi atau Matahari

Pertanyaan sederhana bagaimana jawaban Anda: lebih percaya janji Jokowi atau matahari akan bersinar esok hari?

Orang-orang tampaknya dengan mudah yakin bahwa besok matahari akan bersinar lagi. Tetapi terhadap janji Jokowi, barangkali, berbeda-beda keyakinan. Kedua hal di atas sama-sama belum terjadi. Sehingga bisa saja benar terjadi pada waktunya. Tapi bisa saja tidak terjadi. Namun, secara intuitif, kita lebih yakin salah satunya.

Russel& Children

Saya yakin Russell adalah seorang filosof yang berhasil menjelaskan peran berpikir induktif dalam ilmu pengetahuan. Kita melihat masa lalu Jokowi dan matahari lalu berusaha menyimpulkan apa yang akan terjadi besok. Apakah Jokowi akan menepati janji atau apakah matahari akan bersinar lagi. Itu salah satu contoh berpikir induktif.

Berpikir induktif yang tepat akan menghasilkan kesimpulan yang tepat pula, derajat keyakinan tinggi. Cara berpikir ini dipegang oleh para filsuf analytic yang dipelopori Bertrand Russel di atas. Sayangnya, para filsuf continental, yang lebih dikenal sebagai filsuf pormodern, terlalu longgar menerapkan berpikir induktif.

Kita perlu, kembali ke contoh, melangkah lebih dalam apa yang menyebabkan matahari masih bersinar esok hari. Ilmu pengetahuan memberi banyak informasi. Bahwa umur matahari diperkirakan masih bersinar sampai 5 milyard tahun ke depan. Hukum gravitasi memastikan matahari dan bumi tetap pada posisi dinamis yang stabil. Dengan kondisi seperti itu maka dipastikan matahari akan bersinar esok hari, mendekati 100 persen.

Tentu saja matahari bisa gagal bersinar esok hari bila terjadi hal-hal di luar kebiasaan. Misal terjadi ledakan besar-besaran sehingga matahari hancur. Atau bumi bertabrakan dengan mars sehingga tata surya bubar. Berdasar hukum gravitasi dan teori ledakan inti di matahari, kejadian luar biasa seperti di atas tidak akan terjadi. Maka masih valid bila kita yakin besok matahari masih bersinar.

Untuk janji Jokowi, kita juga bisa menganalisis sistem sebab akibat yang terjadi di belakangnya. Jokowi adalah presiden RI yang dipilih secara demokratis. Didukung kekuatan politis, kabinet, DPR, dan lain-lain secara demokratis. Ketika presiden berjanji dalam situasi demokratis maka janji-janjinya akan dipenuhi. Maka kita bisa percaya bahwa Jokowi akan menepati janji.

Pasti, keyakinan kita kepada Jokowi bisa salah. Bila, ternyata, sistem demokrasi tidak jalan. Terjadi korupsi di legislatif. Korupsi di yudikatif. Maka janji politikus tidak akan ditepati. Tetapi kondisi demokrasi yang baik akan memastikan presiden bisa memenuhi janji.

Berikutnya kita akan melihat contoh berpikir induktif yang tidak sah. Misal seorang petani tiap pagi memberi rumput, sebagai makanan, untuk kambing ternaknya. Pagi ini memberi rumput, kemarin juga, dan sudah terjadi ratusan kali. Bisakah, kambing menyimpulkan bahwa besok pagi petani akan memberi rumput lagi?

Karena sudah terjadi ratusan kali, maka wajar kita berharap hal itu terjadi lagi besok pagi. Ternyata besok pagi, petani menyembelih kambingnya untuk dijual dagingnya. Contoh berpikir induktif yang tidak sah.

Kita analisis sedikit lebih mendalam apa yang menyebabkan petani memberi rumput adalah pilihan sikap petani itu sendiri. Petani bebas besok pagi akan memberi rumput atau menyembelih kambingnya. Dengan kondisi seperti itu maka kita tidak bisa menerapkan logika berpikir induktif.

Sistem demokrasi yang baik memastikan presiden menepati janji. Hukum gravitasi memastikan tata surya tetap rapi. Teori ledakan inti menjamin matahari bersinar lagi.

Bagaimana menurut Anda?

Konsep Omnibus Law

Apa konsep utama omnibus law? Memudahkan usaha di Indonesia. Sehingga wirausaha berkembang, menyerap 4,5 juta tenaga kerja baru tiap tahunnya. Dan masih banyak lagi.

Tetapi analisis ahli ekonomi menyatakan bahwa jumlah investasi di Indonesia sudah cukup besar dan bagus. Bahkan lebih bagus dari negara-negara tetangga. Masalahnya adalah biaya ekonomi di Indonesia lebih mahal. Maksudnya untuk memproduksi sepatu di negara tetangga misal 1 dolar maka di Indonesia bisa hampir 2 dolar.

Jadi UU Ciptaker itu salah konsep, dari sudut pandang itu. Harusnya memangkas biaya ekonomi yang mahal bukan memudahkan investasi. Toh, meski pun hasil survei terbaru menyatakan bahwa di Indonesia paling sulit berinvestasi, tetap saja banyak yang investasi.

Gilles Deleuze.jpg
Deleuze

Dari sudut pandang posmo, pemerintah sudah mengambil langkah bagus: menciptakan konsep baru dengan UU Ciptaker. Deleuze, tokoh posmo, mengatakan bahwa tugas filsafat adalah menemukan, merajut, dan menciptakan konsep.

Konsep baru, iklim usaha baru, perilaku konsumen baru, tentu makin menggairahkan dunia usaha Indonesia.

Pertanyaan masih mengganjal, “Apakah, secara konseptual, UU Ciptaker akan menyejahterakan rakyat Indonesia?”

Sang filsuf yang penuh pertimbangan sekelas Bertrand Russell pun tidak akan bisa menjawab dengan pasti. Terlalu banyak yang harus dianalisis dari UU Ciptaker itu. Maka di satu sisi kita boleh optimis bahwa UU Ciptaker akan membawa kebaikan. Di sisi lain kita bisa pesimis, jangan-jangan ada potensi merusah negeri ini.

Maka dialog terbuka demokratis perlu terus dikembangkan untuk memastikan UU Ciptaker berdampak positif – termasuk prospek ditangguhkannya.

Bagaimana menurut Anda?