Membangunkan Manusia

Sejarah panjang manusia menunjukkan aneka ragam sukses dan kehancuran. Saat ini manusia sedang dalam puncak sukses materi tapi dalam ancaman degradasi kemanusiaan. Orang stress tak terhitung jumlahnya padahal kaya. Orang bunuh diri di penjuru dunia padahal artis ternama. Orang muak pesta pora padahal ada kelaparan di tetangga.

Kita perlu bangun kembali. Kita perlu terjaga. Sesaat bersama kesadaran.

Manusia terperosok dalam skizofrenia massal. Berputar-putar di dunia maya. Pusing dengan status. Ditambah debat-debat tanpa akhir di grup. Atau kepo tiada batas. Tak ada beda yang asli atau palsu. Semangat tetap ada untuk copas dari copas. Share dari grup sebelah.

Pagi datang. Fajar segera bersinar. Sudah siapkah kembali sadar?

Saya mengusulkan proyek bersama: polisakral. Di mana kita bersama-sama, di berbagai bidang, membangunkan kembali jiwa suci. Baik Anda yang bos besar, pegawai kecil, petani, buruh, militer, sipil, pengusaha, guru, siswa, dan lain-lain bisa berperan membangunkan kembali jiwa suci: polisakralisasi – polysacralization.

Seyyed Hossein Nasr - Wikipedia
Nasr

Nasr mempromosikan proyek sakralisasi sejak akhir abad 20 sampai sekarang. Proyek ambisius ini sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tetapi dunia yang sedang didominasi oleh kapitalisme tidak mudah menerima itu semua. Belum lagi banyak manusia yang masih terlelap tidur dalam simulacra media sosial. Ide sakralisasi ini saya dukung untuk lebih menyebar ke polisakralisasi.

Pencerahan

Renaisans atau pencerahan di Eropa merupakan sejarah besar manusia yang benar-benar mencerahkan. Kita bisa banyak belajar dari pencerahan untuk mendapatkan pencerahan. Perlu kita sadari bahwa puncak keemasan peradaban manusia juga pernah terjadi di masa-masa sebelumnya. Peradaban Mesir kuno, Cina, India, Yunani, Romawi, Arab, dan disusul pencerahan Eropa yang luar biasa itu.

Mari kita coba sedikit fokus ke Descartes, pemikir pecerahan. Konsep paling penting adalah cogito, “Aku berpikir maka ada.” Sangat jelas eksistensi manusia ditentukan oleh kemampuan berpikir. Manusia yang tidak berpikir, yang tidak rasional, diragukan eksistensinya. Tentu saja ini konsep revolusioner.

Umat manusia tidak lagi terkungkung oleh takhayul. Manusia bebas berpikir. Dan sejarah mencatat, sukses Descartes disusul dengan suksesnya fisika Newton, mesin uap James Watt, listrik Edison, dan lain-lain. Manusia berkembang pesat dengan menguasai sains teknologi. Dan kapitalisme menguasai dunia – lengkap dengan plus minusnya.

Teknologi digital melesat di paruh akhir abad 20. Bill Gates menjadi orang terkaya dengan mendominasi industri software – yang semula gratis menjadi berbayar. Steve Jobs konsisten dengan produk-produk Apple yang berkualitas super untuk orang punya uang. Google mendorong internet menjadi lebih cerdas di seluruh jagat raya. Zukerberg memastikan industri media sosial melingkupi seluruh bidang kehidupan manusia.

Dan kita tahu, seperti kita sebut di awal, sukses umat manusia itu berujung menjadi jebakan bagi umat manusia itu sendiri.

Dualisme: Pisau Tajam Peradaban

Konsep berpikir rasional Descartes itu berhasil membuktikan adanya dunia material, badan manusia, alam sekitar, dan lain sebagainya. Cara berpikir yang sama juga berhasil membuktikan eksistensi jiwa manusia, ruh, dan Tuhan. Tetapi Descartes gagal mencari hubungan antara jiwa dan badan manusia. Berbagai macam cara rasional untuk menemukan hubungan itu selalu menemukan jalan buntu. Maka berpikir Descartes ini berujung pada konsep dualisme: jiwa lawan badan.

Gagalnya Descartes menyatukan jiwa dan badan itu justru jadi berkah peradaban manusia menurut Jhon Searle, pemikir asal Amerika aliran analytic. Karena tidak bisa disatukan maka dua bidang itu diatur oleh aturan yang berbeda. Badan, dan materi, diselidiki dan diatur oleh sains, matematika, dan teknologi. Sementara, jiwa dan ruh, diatur dan dipelajari oleh agama dan metafisika.

Dengan demikian umat manusia jadi bebas berpikir di bidang sains tanpa takut berbenturan dengan doktrin agama. Sebelum masa pencerahan, beberapa ilmuwan divonis bersalah karena penemuan sains nya dianggap melanggar agama. Sains sulit berkembang. Tetapi sejak jaman Descartes, ilmuwan bebas berkreasi. Sains dan teknologi membubung tinggi.

Bisa kita duga kisah selanjutnya. Sains dan teknologi mengabdi kepada kepentingan manusia. Hanya segelintir manasuia tepatnya. Mereka yang menguasai sains teknologi berkuasa. Bebas melakukan apa saja. Mengeruk kekayaan di seluruh penjuru dunia. Mendominasi segala yang ada. Kerusakan alam jadi dampaknya. Tetapi mereka tetap punya sains dan teknologi yang digdaya. Terus berkembang bertambah kuasa.

Di sisi lain, lebih banyak orang menderita. Miskin harta bahkan jiwa. Kekayaan alam mengalir ke kota, baik di negara yang sama atau manca. Pendidikan yang diharapkan menjadi pembela. Masih jauh dari sempurna.

Nyatanya yang kaya atau papa sama-sama menderita. Yang papa memang kurang sarana. Yang kaya kehilangan makna. Semua ini adalah masalah bersama, kita semua umat manusia. Perlu menemukan satu dan lain cara. Kembali membangun budaya bersama. Menuju bahagia jiwa raga.

Saya mencatat kekuatan sains teknologi ini, yang didasarkan dualisme raga terpisah dari jiwa, benar-benar bagai pisau bermata dua. Di satu sisi memajukan umat manusia. Di sisi lain menciptakan kesenjangan menganga. Sudah tiba saatnya kita menemukan solusi yang lebih tinggi: polisakralisasi.

Dominasi Narasi Teknologi

Jebakan manusia adalah terkungkung dalam cara pandangnya sendiri. Ketika sains teknologi membubung tinggi maka yang lainnya boleh pergi. Semua yang sesuai sains adalah ilmiah. Semua yang sesuai teknologi terkini adalah kemajuan. Yang berbeda dengan sains boleh dicurigai. Bisa penipuan atau ilusi. Minimal psudo sains atau ilmu palsu. Yang tidak pakai teknologi adalah kuno ketinggalan jaman.

Itu adalah narasi. Bahkan metanarasi.

###

Immanuel Kant, pemikir besar Jerman berikutnya, berhasil menyusun teori yang komprehensif mengenai fisika, sains, dan etika. Sedangkan untuk bidang metafisika (dan agama), Kant berhasil membuktikan adanya paradox untuk sintesa a priori. Konsekuensinya akan ada perbedaan-perbedaan keyakinan berkaitan agama dan metafisika. Di masa postmodern, tema ini diolah dengan penuh semangat oleh Lyotard menjadi dissensus.

Cantik Alami

Gadis desa cantik alami jadi idaman setiap pria. Cantiknya asli. Kepribadiannya murni. Gaya hidup bersahaja. Simbol hidup bahagia.

Di bagian ini kita akan membahas apa itu cantik alami, hakikat cinta, dan hakikat materi itu sendiri. Kembali kita akan menganalisis Rara, gadis cantik yang setia menemani diskusi kita. Kita akan mulai mencermati apa hakikat materi penyusun pipi Rara.

1. Hakikat Materi
2. Atom Filosofis
3. Materi Filosofis
4. Cantik Alami
5. Hakikat Cinta
6. Diskusi
6.1 Teori Quantum String
6.2 Teori Relativitas Gravitasi
6.3 Theory of Everything

Di bagian sebelumnya, kita sudah menerima, untuk sementara, materi penyususun pipi Rara adalah atom-atom dan partikel lebih fundamental. Tugas sains fisika tuntas sampai di situ. Dan bisa dilanjutkan lebih detil. Tetapi tugas filsafat justru mempertanyakan hasil akhir dari sains fisika itu. Bukan untuk menjatuhkan fisika. Justru untuk membuka jalan baru menemukan kebenaran-kebenaran tersembunyi.

1. Hakikat Materi

Sains fisika adalah yang paling berhak menentukan apa hakikat dari suatu materi. Tentu itu dari sudut ilmiah. Dari sudut filsafat, kita bisa melihat lebih luas. Keunggulan sains adalah setiap teori, preposisi, bisa diuji secara obyektif dengan eksperimen berulang-ulang.

Jhon Dalton (1766 – 1844) adalah ilmuwan yang berhasil membuktikan bahwa setiap materi tersusun oleh partikel-partikel terkecil yaitu atom, yang hanya bisa diamati dengan mikroskop dan rumus ilmiah. Maka terbentuklah teori atom Dalton. Ilmuwan lain dapat menguji kebenaran teori atom ini. Sesuai teori ini maka kita dapat mengatakan bahwa pipi Rara tersusun oleh partikel-partikel atom. Memang atom penyusun pipi Rara berbeda dengan atom penyusun meja sehingga pipi Rara lebih lembut dari meja. Ada beragam atom di alam semesta.

Sifat obyektif teori atom membuka peluang bagi ilmuwan lain melakukan penelitian lanjutan. Benar saja, teori atom Dalton direvisi berkali-kali. Tetapi kita tetap bisa menyatakan prinsip yang mirip dengan teori atom Dalton bahwa hakikat alam semesta adalah tersusun dari partikel-partikel terkecil.

Sekilas, kita perhatikan, perkembangan teori atom direvisi oleh Rutherford (1871 – 1937) yang menyatakan bahwa atom terdiri dari inti dan elektron yang mengelilingi inti atom tersebut – jadi atom bukanlah materi terkecil. Tetapi elektron yang mengelilingi inti akan segera kehabisan energi lalu menempel ke inti, akibat gaya tarik muatan listrik mereka. Bohr (1885 – 1962) menyempurnakan dengan teori bahwa elektron mengelilingi inti dengan lintasan tertentu sehingga tidak kehabisan energi dan berhasil mempertahankan struktur atom. Dan seterusnya, teori atom ini berkembang sampai ke mekanika quantum.

Di jaman sekarang ini, seperti saya nyatakan di awal, teori sains fisika ini adalah yang paling dipercaya oleh umat manusia.

2. Atom Filosifis

Jauh hari, dua ribu tahun, sebelum Dalton menyusun teori atom ilmiah, Demokritus sudah menyusun teori atom filosofis. Demokritus menyatakan bahwa alam semesta ini tersusun oleh atom. Yaitu partikel terkecil materi yang tidak bisa dibagi lagi. Maka atom Demokritus ini berbeda dengan atom Dalton. Meskipun Dalton, pada awalnya, mengira bahwa atom yang dia temukan adalah atom yang dimaksud oleh Demokritus. Nyatanya bukan.

Persoalan muncul dengan atom filosofis tersebut bentuk geometrinya seperti apa. Aristoteles termasuk yang awal-awal menyadari kesulitan tersebut. Sekilas atom akan lebih mudah berbentuk bulat seperti bola kecil. Tetapi bila atom bulat maka di antara ribuan atom akan banyak ruang kosong. Kita bayangkan di antara ribuan bola bertumpuk pasti banyak rongga kosongnya. Maka para filosof memikirkan bentuk atom haruslah sedemikian hingga dapat mengisi ruangan dengan rapat. Salah satunya adalah bentuk kubus atau bentuk semacam batu bata. Dan masih banyak bentuk lainnya yang mungkin.

Kesulitan filosofis tetap muncul mengenai atom ini. Mengapa atom tidak bisa dibagi lagi? Sehingga menjadi partikel terkecil. Bukankah bila kita membayangkan bentuk atom seperti bola atau kubus maka kita tetap bisa membaginya menjadi dua bagian? Tampaknya sains fisika masa kini, mekanika quantum, mendukung teori atom yang tidak terbagi lagi tersebut. Ada partikel elementer, misal elektron, yang tidak bisa dibagi lagi. Meski pun partikel elementernya bisa beragam, sesuai penemuan ilmiah, tetapi sifat tidak bisa dibagi lagi memang benar adanya, terbukti secara ilmiah, sejauh ini.

Bukan hanya materi, yang tersusun oleh partikel terkecil, yang tidak bisa dibagi lagi. Awal abad 20, Einstein menyatakan bahwa energi pun tersusun oleh paket-paket energi terkecil yang tidak bisa dibagi lagi. Paket terkecil ini dikenal sebagai quanta – kelak menjadi istilah quantum. Energi yang semula dipandang seperti lembut mengalir ternyata juga terbentuk oleh paket-paket kecil. Tentu saja, banyak ilmuwan yang menolak pandangan Einstein. Termasuk Planck, yang teorinya dipakai oleh Einstein, justru menolaknya. Seiring berjalannya waktu, teori paket-paket energi terkecil ini terbukti benar.

Sampai di sini, kita bisa melihat bahwa benda-benda yang paling haluspun sejatinya tersusun oleh partikel-partikel yang tidak solid satu sama lain. Misal, pipi Rara yang lembut itu, sejatinya tersusun oleh partikel-partikel, fragmented, berdempetan.

3. Materi Filosofis

Filsafat masih berhak bertanya apakah benar bahwa alam semesta ini tersusun oleh atom-atom? Apakah benar kita bisa mengetahui atom-atom tersebut, seandainya ada?

Sains menjawab dengan yakin bahwa materi tersusun oleh partikel-partikel elementer. Kita bisa mengetahuinya dengan berbagai macam eksperimen dan rumusan ilmiah. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang konsisten sepanjang sejarah. Jadi, benar adanya bahwa materi tersusun dari partikel elementer.

Tetapi jawaban sains ini mudah diragukan. Bagaimana sains bisa tahu itu semua? Sains hanya bisa mengamati fenomena alam semesta. Sains hanya mengungkap penampakan dari materi. Bukan materi dalam dirinya sendiri. Hakikat materi tetap tersembunyi. Jadi, yang diungkapkan sains dengan teori atom, lengkap dengan mekanika quantum, adalah sekedar penampakan dari materi. Dan sains tetap dipersilakan terus maju mengembangkan teori-teori lanjutan. Namun untuk mengungkap hakikat materi, hakikat alam semesta, ijinkan filsafat kembali mengambil peran.

Atom filosofis. Pandangan filsafat ini, seperti telah diungkapkan di atas, dinyatakan oleh Demokritus. Pandangan atom filosofis sejalan dengan pandangan sains fisika yang terus-menerus mengalami revisi.

Atom nonmateri. Filsafat memiliki cakupan lebih luas dari sains. Salah satunya, filsafat bisa mengkaji sesuatu yang nonmateri. Ghazali, filsuf abad 12, mengusulkan pandangan teori atom nonmateri. Yaitu alam materi tersusun oleh atom-atom yang substansinya bukan materi, nonmateri. Ketika atom nonmateri ini berkumpul dalam jumlah besar, dalam jumlah tertentu, maka terbentuklah materi dari yang paling elementer.

Atom nonmateri ini menyelesaikan beberapa persoalan. Atom nonmateri bersifat lentur sehingga bebas mengambil bentuk geometri apa pun. Atom nonmateri ini pun menjawab mengapa dia tidak bisa dibagi lagi karena atom memang nonmateri. Sedangkan materi elementer, semisal elektron, tetap masih bisa dibagi – setidaknya dalam pikiran. Untuk kemudian elektron bisa dianalisis tersusun oleh substansi nonmateri.

Atom nonmateri ini juga memberi jalan hubungan antara dunia materi dengan dunia nonmateri. Misal jiwa manusia, bersifat nonmateri, bisa menggerakkan atom-atom nonmateri tersebut untuk kemudian menggerakkan badan manusia sesuai perintah kehendak jiwa manusia. Lebih jauh, pembahasan tentang ketuhanan juga terbuka dengan atom nonmateri.

Modus Wujud. Sadra, filsuf besar abad 17, menyatakan bahwa materi adalah modus wujud. Materi adalah manifestasi dari wujud. Masih ada modus wujud lainnya misal jiwa dan akal manusia. Materi sendiri merupakan modus wujud paling lemah. Sehingga, bila kita menganalisa materi dengan lebih mendalam maka akan mengantar ke modus wujud yang lebih tinggi. Misal mekanika quantum mengantarkan manusia kepada fenomena elektron yang indeterministik – lebih mendekati ke sifat jiwa. Padahal, materi dalam skala makrokospik bersifat deterministik sesuai mekanika klasik Newton.

Substansi. Spinoza, filsuf abad 17, menyatakan bahwa hakikat seluruh alam semesta adalah substansi Tuhan. Materi alam eksternal yang kita lihat semisal meja, kursi, pohon, dan lainnya adalah bayang-bayang dari substansi Tuhan. Mereka hanya dipinjami substansi oleh Tuhan. Pandangan Spinoza, yang menganggap segala sesuatu hakikatnya adalah substansi Tuhan, dikenal sebagai pandangan monisme.

Pikiran. Berkeley, filsuf abad 17 – 18, menyatakan hakikat alam semesta adalah pikiran. Misalnya mengapa ada pohon di depan rumah, itu karena kita memikirkan pohon itu. Orang lain memikirkan pohon itu. Tetapi ketika tidak ada orang memikirkan pohon mengapa masih ada pohon? Karena Tuhan memikirkan pohon tersebut. Jadi, alam semesta adalah pikiran Tuhan. Dan semakin nyata karena makin banyak manusia ikut berpartisipasi memikirkannya.

Kehendak. Schopenhauer, filsuf abad 19, menyatakan hakikat alam semesta adalah kehendak, will. Tentu saja manusia punya kehendak, dan kehendak itulah hakikat jati diri manusia. Sedangkan alam luar, misal batu, juga punya kehendak meski kehendaknya tidak sekuat kehendak manusia.

Radikal Empiris. William James, filsuf abad 20, meyakini bahwa meteri dan pikiran manusia saling menguatkan. Alam eksternal, misal meja, memang ada. Lalu pikiran manusia memikirkan meja itu maka meja akan, sedikit, berubah sesuai pikiran manusia. Meja yang baru mempengaruhi pikiran manusia lagi, mengubah pikiran manusia. Selanjutnya pikiran manusia mempengaruhi meja dan seterusnya. Sehingga realitas alam semesta saling mempengaruhi dengan pikiran manusia.

Gelombang. Schrodinger, ilmuwan abad 20, merumuskan gelombang quantum untuk menjelaskan fenomena quantum. Tetapi gelombang quantum ini membuka cakrawala baru sehingga orang bisa berpikir bahwa alam semesta hakikatnya adalah susunan-susunan gelombang. Nyatanya, partikel elementer elektron terbukti bisa dipandang sebagai gelombang. Sehingga alam makrokospis, sejatinya, terdiri dari tumpukan banyak gelombang.

Equa. Gelombang Schrodinger memunculkan banyak kemungkinan teori baru. Saya menggagas equa. Hakikat alam materi adalah equa, yaitu realitas alam yang bisa didekati, salah satunya, dengan persamaan gelombang quantum. Tetapi equa bukan persamaan itu sendiri melainkan hakikat realitas. Sehingga materi, alam eksternal, adalah manifestasi dari equa. Di satu sisi equa bersifat material dan di sisi lain bersifat nonmaterial.

Cahaya. Suhrawardi, pemikir abad 11, menyatakan realitas paling fundamental dalah cahaya, tepatnya, cahaya ontologis. Cahaya adalah realitas paling jelas dengan dirinya sendiri. Kita tidak bisa menjelaskan cahaya karena setiap penjelasan, justru, membutuhkan cahaya agar jelas. Hanya cahaya yang bisa menjelaskan realitas lain menjadi lebih jelas. Cahaya ini tunggal, di saat yang sama, bergradasi sesuai intensitas dan bentuknya, sehingga, cahaya beragam.

Barzakh. Suhrawardi dan Ibn Arabi menggunakan istilah barzakh untuk menjelaskan beragam fenomena alam. Barzakh, atau barza, adalah ruang temu antara cahaya dan gelap. Karena, realitas sejati hanya cahaya saja, dan gelap adalah tidak ada cahaya, atau hampa cahaya, maka barza adalah pertemuan antara cahaya dan kehampaan. Akibatnya, barza, sejatinya adalah cahaya itu sendiri. Bagaimana pun, barza tampak seperti pertemuan antara dua realitas yaitu cahaya dan gelap.

Ringkasan. Dari berbagai macam pandangan tentang materi tampaknya cara pandang sains adalah yang paling banyak diterima. Yaitu materi alam semesta terdiri dari atom-atom (dan partikel elementer) sesuai dengan hasil penelitian terbaru. Tetapi pandangan materialis seperti ini membatasi cara pandang hanya sebatas materi. Fenomena yang lebih beragam tidak mendapat panggung utama. Maka kita perlu meluaskan cakrawala dengan mempertimbangkan ragam alternatif seperti kita baca di atas.

4. Cantik Alami

Kita kembali membahas cantik alaminya Rara, setelah panjang lebar mendiskusikan hakikat penyusun pipi Rara dari atom sampai pikiran. Hakikat cantiknya Rara adalah cantik alami itu sendiri.

Seperti kita pernah bahas sebelumnya, hakikat cantik adalah struktur, susunan, hubungan, yang harmonis dari berbagai unsur penyusunnya. Struktur cantik itu sendiri tidak bersifat material melainkan bersifat universal yang hakikatnya ada di alam idea. Ini adalah sintesa pandangan Aristoteles dan Plato.

Sementara Ibnu Arabi menyatakan bahwa cantiknya Rara itu adalah manifestasi dari sifat Tuhan yang Maha Indah, Maha Baik, Maha Kreatif, dan lain-lain.

Kant menyatakan ada dua macam cantik. Pertama adalah cantik bebas. Yaitu cantik dan indah meski sepertinya tidak ada aturan pasti. Misal karya seni abstrak, coretan-coretan bebas yang tampaknya seperti tidak punya aturan. Bisa juga menatap awan senja yang begitu cantik dengan tatanan warni-warni.

Kedua, cantik bertujuan. Yaitu cantik yang punya tujuan tertentu. Misal cantiknya Rara punya tujuan mendukung kehidupan Rara. Mata Rara untuk melihat, alis melindungi mata dari tetesan air, bulu mata melindungi dari debu dan lainnya. Rumus matematika juga cantik dengan tujuan memecahkan suatu masalah tertentu.

Apa hakikat dari cantik alami itu?

Kita akan membahas pada bab-bab berikutnya. Kita masih perlu membahas bab universalia sebagai pendahuluan. Di bagian ini, kita hanya bisa kembali menyatakan bahwa cantik alami itu bersifat universal berada dalam alam idea.

5. Hakikat Cinta

Hakikat cinta akan tetap menjadi tanda tanya sampai akhir buku ini. Cinta bertanya ke arah mana sumber cinta. Cinta bertanya kepada siapa mencurahkan cinta. Cinta ada di mana-mana.

Filsafat tentu saja gagal mendefinisikan cinta. Definisi adalah membatasi. Cinta itu tak terbatas dan tidak bisa dibatasi. Hakikat cinta tetap tersembunyi. Bukan karena kecil, cinta bisa tersembunyi. Justru karena besar, ada di mana-mana, mata tak sanggup menatapnya. Bagai matahari, begitu terangnya, mata tak sanggup menatapnya. Cukup kiranya berkas-berkas sinar matahari menerangi.

Meski hakikat cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, kita bisa merasakan ada, sekedar percikan cinta. Cinta saya kepada Rara adalah nyata, cinta seorang ayah kepada anaknya. Cinta seorang anak kepada ibunya juga nyata. Cinta istri kepada suami dan cinta suami kepada istri nyata bahkan menjaga kelangsungan sejarah umat manusia. Cinta adalah hakikat manusia. Cinta adalah subyek saya sebagai saya. Cinta adalah saya sebagai kulo.

6. Diskusi

Pertanyaan tentang hakikat segala sesuatu memang sudah menyusahkan para pemikir sepanjang jaman. Filsafat menjawab dengan beragam sudut pandang. Bahkan yang paling meyakikan, secara filosofis, kita hanya bisa mengetahui penampakan segala sesuatu bukan segala sesuatu itu sendiri.

Tetapi sains berhasil melangkah dengan pasti, dilengkapi dengan ilmu pasti yang obyektif. Mengungkap hakikat materi adalah tersusun oleh atom-atom dan partikel elementer sesuai teori quantum. Bila kita coba cermati lebih hati-hati, pendekatan sains ini membatasi diri hanya kepada fenomena materi. Pembatasan seperti ini bisa kita sebut sebagai bald-naturalism atau naturalisme gundul. Hal itu bagus-bagus saja. Sejatinya kita, manusia, bukan sekedar materi. Sehingga, paradigma sains tidak memadai untuk mewakili keseluruhan realitas manusia, alam sekitar, serta Tuhan.

Kita bisa meringkas hakekat realitas adalam materi dan non-materi.

Di bagian diskusi ini, kita akan membahas beberapa teori sains paling maju.

6.1 Teori Quantum String

Teori String adalah salah satu kandidat teori sains paling canggih saat ini, abad 21. Teori String adalah perluasan dari teori quantum dengan beberapa penyempurnaan. Teori quantum terbukti sukses untuk menjelaskan fenomena ukuran sub-atomik semisal elektron, proton, quark, dan lain-lain. Tetapi, quantum tidak berhasil menjelaskan fenomena alam raya dalam ukuran besar, misal, pergerakan bulan dan matahari. Teori string, diharapkan, mampu menjelaskan semua fenomena di alam raya.

String adalah substitusi point-like. String mirip dengan titik, tetapi bukan partikel, bukan pula cahaya. String adalah penyusun partikel dan cahaya itu sendiri. Sebuah string tidak akan bisa dideteksi eksistensinya. Karena terlalu lembut. String lebih kecil dari semua detektor, lebih kecil dari semua alat ukur. Ketika string berkumpul dalam jumlah besar maka bisa dideteksi dalam bentuk partikel elektron atau sebagai cahaya foton. Dengan demikian, string konsisten terhadap teori quantum.

Dalam ukuran alam raya, pergerakan matahari dan bulan, kita dapat menganalisis mereka sebagai tersusun oleh jutaan string-string. Hasilnya, dengan teori string, kita bisa menganalisis seluruh fenomena.

Bila kita perhatikan sesakma, string ini mirip dengan atom filosofis Ghazali. Sebuah string dan sebuah atom-filosofis, sama-sama, tidak bisa dideteksi secara materialis, baik sebagai partikel atau gelombang. Sementara, ketika mereka berkumpul dalam jumlah besar, string atau atom-filosofis ini bisa kita ukur secara materialis.

Apakah, dengan demikian, teori string adalah teori yang sempurna untuk menjelaskan seluruh realitas? Tidak juga. Sampai saat ini, teori string belum didukung oleh data empiris yang memadai. Sementara, secara matematis, teori string masih menunjukkan beragam kesulitan yang tak terpecahkan. Lebih rumit lagi, teori string, sejak awal, mengasumsikan sudah berada “di dalam” ruang dan waktu. Bagaimana pun, teori string menjadi kandidat teori sains yang paling canggih.

6.2 Teori Relativitas Gravitasi

Einstein (1879 – 1955) adalah ilmuwan terbesar abad 20. Awal abad 20, Einstein merumuskan teori fotolistrik yang mengantarkannya meraih Nobel. Teori fotolistrik menjadi salah satu dasar teori quantum. Kemudian, Einstein maju ke arah yang berbeda dari teori quantum. Bahkan, Einstein menjadi kritikus paling tajam terhadap teori quantum.

Einstein makin sukses dengan mengembangkan teori relativitas. Relativitas-khusus mengantarkan perkembangan teknologi nuklir berkembang pesat. Tahun 1945, bom nuklir meledak di Hirosima dan Nagasaki mengakhiri perang dunia II. Dengan jatuh korban dalam jumlah ribuan jiwa akibat bom nuklir, dikabarkan, Einstein menyesali penemuannya: teori relativitas-khusus.

Sementara, teori relativitas-umum berkembang makin membesar dengan banyak benturan ide-ide filosofis. Einstein, memang ilmuwan sekaligus filsuf. Pada usia belasan tahun, Einstein telah melahap trilogi kritik dari Immanuel Kant. Berlanjut dengan melahap Schopenhauer. Dengan latar filosofi yang kuat, Einstein menyusun teori sains fundamental: relativitas-umum.

Banyak orang memandang bahwa relativitas umum adalah kelanjutan dari teori gravitasi Newton. Meski pun, Einstein memandang teorinya sebagai kelanjutan teori elektromagnetik dari Maxwell. Bagaimana pun, relativitas-umum memang mengoreksi teori gravitasi Newton.

Massa jenis yang sangat besar mampu membelokkan ruang dan waktu serta menjebak cahaya. Akibatnya, berdasar relativitas-umum, ada peluang gerak waktu berputar ke masa lalu. Dilengkapi dengan lubang-cacing, maka, manusia bisa mundur ke masa lalu. Teori lubang-hitam mengantarkan banyak fisikawan, periode berikutnya, meraih Nobel misal Penrose.

Meski relativitas-umum berhasil dalam fenomena alam raya skala makro, tetapi, tidak bisa menjelaskan fenomena sub-atomik seperti quantum. Sehingga, sampai saat ini, sains fisika terbagi menjadi dua wilayah yang saling mandiri. Relativitas umum valid untuk fenomena alam raya makro. Sedangkan, quantum valid untuk fenomena mikro sub-atomik.

Teori relativitas-gravitasi, misal loop-quantum-gravity, hendak menyatukan sains fisika dengan titik berangkat relativitas umum. Teori relativitas, terbukti, mampu menjelaskan fenomena skala makro alam raya. Tetapi, relativitas mengasumsikan fenomena fisika sebagai kontinyu, bukan diskrit, berbeda dengan quantum. Sehingga, ketika relativitas akan diterapkan ke fenomena mikro menemui banyak kesulitan. Ide dasar relativitas-gravitasi adalah mengubah asumsi fenomena kontinyu menjadi diskrit melalui quantifikasi. Jika berhasil, relativitas-gravitasi akan mampu menjelaskan seluruh fenomena alam raya.

Apakah teori relativitas-gravitasi berhasil?

Sejauh ini, pengamatan empiris belum cukup untuk mendukung relativitas-gravitasi. Secara matematis, juga belum tersedia formulasi yang koheren. Bagaimana pun, banyak pengamat menilai teori relativitas-gravitasi lebih prospek dari teori string.

6.3 Theory of Everything

Toe atau theory -of-everything hadir sebagai implikasi wajar dari perkembangan sains fisika yang maju pesat, khususnya teori quantum dan relativitas. Toe, memang, bermaksud akan menjelaskan segala sesuatu. Lengkap!

Andalan sains fisika, yang dulu, berupa eksperimen mulai digeser oleh formulasi matematika. Para ilmuwan mengembangkan teori matematis untuk kemudian menguji dengan eksperimen. Andalan terhadap matematika ini, terbukti, efisien dan efektif. Menurut Hawking, sepantasnya, toe pasti dalam bentuk formula matematika.

Kabar baik, atau kabar buruk, terjadi pada awal tahun 1930an. Seorang pemuda bernama Godel berhasil menyusun teorema “ketidak-lengkapan” dan “ketidak-konsistenan.” Kelak, kita mengenalnya sebagai teorema Godel, yang menyatakan, setiap sistem formal pasti tidak lengkap atau tidak konsisten.

Tentu saja, teorema Godel menjadi pukulan keras bagi toe. Karena, seandainya, kita mampu menemukan formula toe dengan baik, maka, toe pasti tidak lengkap atau tidak konsisten.

Benar saja, sejak terbukti validitas teorema Godel, nama toe mulai memudar. Tampaknya, ilmuwan sepakat bahwa toe memang hanya utopia. Alternatifnya adalah mengembangkan teori dengan nama spesifik semisal teori string atau teori gravitasi.

Di bagian selanjutnya, kita akan membahas lebih banyak, melampaui sains fisika materialis, dengan lebih detil di antaranya pengetahuan universalia, pengetahuan apriori, berpikir induksi, dan sebagainya. Sebelum melangkah ke sana kita akan membahas isu penting dalam filsafat, meski sering diabaikan orang awam, yaitu idealisme.

Lanjut ke Idealisme
Kembali ke Philosophy of Love

Sekularisasi Negara Islam

Tuhan sudah mati kata Nietzsche, pemikir paling fenomenal sepanjang sejarah. Tugas manusia untuk menanggung beban derita. Manusia terlempar ke dunia penuh nestapa. Hanya manusia yang kuat dialah manusia sebenarnya. Manusia perlu bangkit menaklukkan semesta.

Tapi akhir abad 20, Foucault bilang manusia pun menuju kematian. Manusia, sebagai subyek, akan segera mati dalam waktu dekat. Manusia tidak bisa lagi menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Tidak bisa segala sesuatu diukur berdasar nilai kemanusiaan.

Michel Foucault - Wikipedia
Foucault

Manusia telantar. Harus bangkit mengatasi derita. Mencari peruntungan membangun sekitarnya. Berharap bisa ikut serta memakmurkan alam semesta. Apa bisa?

Negara adalah salah satu lembaga yang dibentuk manusia untuk mencapai cita-cita mulia bersama-sama. Kita melihat beragam model negara dari jaman ke jaman. Negara sekular salah satu ide yang di jaman akhir-akhir ini menguasai dunia. Tetapi negara agama juga pernah jaya di masanya.

Negara Agama

Barangkali bentuk paling ideal adalah negara agama. Urusan dunia tertata. Dan masuk surga pada waktunya. Meski bentuk negara agama sering dikritik habis-habisan sebagai ketinggalan jaman tetapi kita bisa melihat beberapa negara agama yang sukses sampai sekarang.

Brunei, sebagai contoh negara agama, dengan ukuran pada umumnya, termasuk negara yang maju. Semboyan Brunei, “Sentiasa membuat kebajikan dengan petunjuk Allah.” Begitu islami. Indeks pembangunan manusia tertinggi kedua di Asia. Produk domestik bruto per kapita terbesar kelima di dunia. Dan jadi negara terkaya kelima di dunia.

Dengan demikian kita punya contoh nyata bahwa negara agama bisa menjadi negara maju.

Di sisi lain, negara agama yang tidak maju juga ada. Bahkan terjadi resiko perang tiada henti-henti atas pembenaran paham agama mereka. Bisa terjadi juga negara korup bersembunyi di balik dalil-dalil agama. Negara bisa menghukum warga karena dianggap menyalahi aturan agama.

Partai politik tampak lebih mudah menggerakkan massa dengan membakar isu agama. Pejabat bisa korupsi kemudian beramal dengan dalih agama. Sesama warga bisa saling menuduh, menyesatkan, memusuhi dengan dalih agama pula.

Bagaimana dengan negara Indonesia? Indonesia bukan negara agama tapi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai sila pertama.

Sekularisasi

Negara Barat, umumnya, mengambil langkah sekular yaitu memisahkan urusan negara dengan urusan agama. Mereka berhasil menjadi negara maju. Lepas dari bayang-bayang negara agama di jaman kegelapan.

Di Indonesia pernah muncul ide sekularisasi dari Cak Nur yang berbeda dengan negara sekular atau sekularisme.

Cak Nur mengusulkan, untuk memajukan Indonesia melalui pemikiran, pembaharuan, pembagunan, dengan membedakan urusan dunia dengan urusan suci. Itulah sekularisasi: membedakan bukan memisahkan.

Dalam urusan dunia, manusia bertanggung jawab penuh terhadap logika dunia. Menjalankan negara adalah urusan dunia maka harus ditegakkan dengan hukum-hukum dunia yang ketat. Partai politik perlu saling memamerkan program-program memajukan negara. Tidak perlu pamer klaim menjadi partai politik yang paling direstui Tuhan. Pun mengkritik pihak lain juga berdasar hukum logika dunia – bukan klaim agama.

Sementara dalam urusan bidang suci, bidang agama, bidang ibadah maka tugas agama untuk mendorong pemeluknya beribadah sepenuh hati.

Dengan pembedaan, bukan pemisahan, maka warga bebas melakukan inovasi-inovasi baru membangun negeri. Tidak perlu takut melanggar aturan agama. Tidak perlu takut dengan ancaman penistaan. Warga bebas berinovasi pada bidang yang memang berbeda. Inovasi pada bidang yang memajukan negara.

Tentu saja, ide Cak Nur banyak ditentang sejak dahulu tahun 1970-an. Apakah di jaman sekarang perlu dicoba di Indonesia?

Sakralisasi

Dari sudut yang berlawanan, dilaporkan bahwa banyak warga negara sekular hidup tidak bahagia. Meski mereka kaya, misalnya, tetap hidupnya penuh derita. Mereka merasa hidup ini hampa. Nihilisme memang inti ajaran Nietzsche – semua tiada makna.

Maka ide sakralisasi dari Nasr menjadi menarik untuk kita bahas. Hidup di dunia ini, manusia punya misi suci, misi yang sakral. Ketika kita makan siang karena perut lapar, itu ada misi suci di sana. Anda punya tugas sakral untuk menjaga kesehatan diri. Anda juga sedang menjalankan tugas dengan membeli makanan dari warung. Mendorong ekonomi umat adalah tugas sakral.

Hidup bernegara, sekolah, bekerja, dan lainnya adalah tugas sakral manusia di dunia. Semua kehidupan manusia penuh makna. Hubungan badan Anda dengan pasangan adalah tugas suci, yang tentunya harus sambil dinikmati.

Manusia menatap seluruh semesta penuh makna, terpancar rasa bahagia bertabur cinta.

Sakralisasi terbalik 180 derajat dari nihilis. Ketika nihilis memandang dunia hampa, sakralis memandang dunia berlimpah makna.

Sakralisasi bisa bersanding dengan sekularisasi. Partai politik, misalnya, adalah bidang sekular. Kita berjuang melalui partai dengan logika dunia alam semesta tanpa klaim agama. Di saat yang sama perjuangan di partai dijiwai oleh misi sakral membangun negeri.

Bagaimana menurut Anda?

Utamakan Dissensus dari Konsensus

Utamakan beda pendapat dari pada mufakat. Salah satu ajaran utama posmodern, khususnya Lyotard, menyatakan dissensus lebih penting dari konsensus.

Tentu saja banyak yang tidak sepakat dengan dissensus. Tapi itu contoh dissensus itu sendiri kan? Jika Anda tidak sepakat dengan saya maka itu contoh dissensus. Jika Anda sepakat dengan saya maka itu contoh konsensus. Menurut saya sulit sekali bisa memahami bahwa kita harus mengutamakan dissensus. Maka Habermas, tokoh posmo madzhab Frankfurt, menolak dissensus. Habermas mengusulkan konsensus dengan proses komunikasi aktif.

Habermas

Pentingnya Dissensus Posmodern

Saya kira Lyotard adalah tokoh posmo paling penting mengusulkan dissensus. Ide ini selaras dengan paralogi yaitu bertumbuhnya banyak ide-ide yang saling berbeda. Tidak hanya ada satu ide saja. Juga selaras dengan mikrologi yaitu narasi-narasi kecil yang menolak metanarasi.

Lyotard menilai konsensus sering dipakai untuk mendominasi pihak-pihak kecil. Misal orang-orang kaya, berdasarkan konsensus, mengeruk keuntungan besar dengan menyisihkan orang-orang miskin. Penguasa, berdasarkan konsensus, bisa memaksakan suatu keputusan kepada yang tidak punya kuasa. Produsen sepatu memaksakan model sepatu yang seragam untuk seluruh konsumen.

Konsensus adalah ajaran modernitas yang perlu di-dekonstruksi. Dihancurkan menjadi dissensus. Sehingga orang-orang kecil berhak meraih haknya. Orang-orang miskin bisa berjuang menjadi sejahtera. Konsumen bisa memilih produk sesuai keunikan selera masing-masing.

Konsensus Komunikasi Aktif

Mudah kita bayangkan betapa kacaunya tatanan dunia tanpa konsensus. Masing-masing orang bebas berselisih. Setiap orang bebas bertindak berbeda. Mereka boleh melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Tabrakan di mana-mana. Perselisihan tidak pernah reda. Pertengkaran muncul setiap saat.

Habermas mengusulkan tetap melanjutkan konsensus dengan melengkapi proses komunikasi aktif. Semua rakyat, semua pihak, berhak berpartisipasi dengan bebas untuk mengusulkan ide. Proses dialog yang terbuka, adil, mengantar terbentuknya konsensus terbaik yang menguntungkan seluruh pihak.

Modernitas, bagi Habermas, adalah proyek yang belum tuntas. Modernitas berhasil mengantarkan umat manusia meraih kemajuan. Tetapi ada cacat di beberapa tempat yang perlu terus diperbaiki dengan komunikasi aktif dan emansipasi semua pihak. Modernitas tidak perlu dihancurkan. Hanya perlu disempurnakan.

Lyotard, tentu saja, tidak setuju dengan Habermas. Sebaliknya juga, Habermas tidak setuju dengan Lyotard. Maka tidak ada konsensus di antara mereka. Yang ada adalah dissensus. Dalam hal ini posmo terbukti.

Lyotard menyatakan bahwa konsensus tidak mungkin terjadi dengan adil. Pihak-pihak yang kuat selalu punya cara untuk memenangkan konsensus. Misal kita sering mendengar kasus suap di pengadilan, politik uang, diskon besar-besaran dan lain sebagainya.

Habermas mengembangkan model komunikasi aktif yang memungkinkan semua orang bisa berpartisipasi membentuk konsensus terbaik.

Solusi Prosensus

Beberapa ahli mencoba mencari jalan tengah dissensus dan konsensus. Salah satunya, John Rawls mengusulkan “overlapping consensus”. Di mana berbagai pihak yang ber-dissensus bersepakat menyusun konsensus dalam beberapa hal yang saling tumpang tindih, yang saling bertemu.

Saya rasa ide overlapping consensus ini bisa dijalankan dengan cara penuh respek terhadap semua perbedaan dissensus-dissensus yang beragam. Di saat yang sama menjalankan komunikasi aktif sesuai saran Habermas. Sehingga terbentuk konsensus terbatas hanya pada wilayah yang overlapping.

Saya sendiri mengusulkan solusi “progressive consensus” atau disingkat prosensus. Yaitu konsensus yang bersifat progresif, terus berkembang, terus disempurnakan. Menambah yang diperlukan. Dan yang lebih penting membuang yang tidak diperlukan. Dan tentu saja dalam prosesnya tetap mengikuti saran Habermas: komunikasi aktif.

Prosensus terbatas dalam cakupan, waktu, wilayah, dan lain-lain.

Terbatas dalam cakupan bermaksud membatasi konsensus hanya pada bidang-bidang yang terpaksa harus ada kesepakatan. Tanpa kesepakatan, misalnya, berpotensi konflik tak kendali. Jika, misalnya, tanpa konsensus ada konflik tapi masih bisa ditanggung maka sebaiknya tetap dipilih dissensus bukan konsensus.

Pembatasan cakupan ini bermaksud menjamin agar tetap tumbuh subur dissensus positif yang mendukung kreativitas dan keadilan.

Terbatas dalam waktu. Sebentar saja. Prosensus hanya berlaku untuk waktu terbatas dan segera digantikan oleh dissensus lagi. Mudah kita lihat, konsensus yang awalnya bersifat progresif, dengan berjalan waktu menjadi represif. Kita perlu menjamin agar segera kembali ke dissensus yang penuh kreativitas.

Terbatas dalam wilayah. Di mana wilayah yang tidak memerlukan konsensus tetap dijamin untuk menyuburkan dissensus.

Prosensus menjamin tatanan sosial yang diharapkan Habermas. Di saat yang sama menjamin kreativitas tumbuh subur seperti diangankan oleh Lyotard.

Bagaimana menurut Anda?

Eksistensi Cinta

Apakah gadis cantik Rara itu benar-benar ada di hadapan kita?

Kita sudah menjawab positif bahwa Rara, obyek eksternal alam, ada di hadapan kita. Ada pohon, ada rumah, meja, kursi, dan berbagai obyek alam lainnya. Obyek-obyek alam ini ada secara obyektif. Dalam arti, misal meja, tetap ada baik kita sedang memikirkannya atau tidak memikirkannya.

Tetapi orang masih bisa meragukan bahwa Rara, anak gadis saya yang kita lihat itu, atau meja yang kita lihat itu, tidak benar-benar ada. Jangan-jangan Rara itu hanya imajinasi kita. Meja itu hanya pikiran kita. Seluruh alam semesta hanya ide kita.

1. Keraguan Descartes
1.1 Cogito
1.2 Dasein
1.3 Cahaya
2. Eksistensi Materi
3. Eksistensi Cantik
4. Eksistensi Cinta
5. Diskusi
5.1 Ringkasan
5.2 Eksistensi Bunda
5.3 Realitas Subyektif

Menurut Bertrand Russell, mungkin saja seseorang berpandangan bahwa seluruh alam semesta hanyalah ide saja. Yang ada hanya dirinya sendiri, sensasi-sensasi pribadi dan ide-ide pribadi. Tidak ada absurditas dalam hal ini. Bahkan kita tidak bisa membantah pandangan seperti itu. Karena setiap bantahan kita, termasuk diri kita, masuk sebagai bagian dari ide-ide mereka juga.

Filsafat harus mampu menjawab keraguan seperti di atas dengan meyakinkan. Dan terbukti filsafat mampu menjawabnya dengan baik. Dalam bab ini, kita akan mencoba membahasnya dengan tuntas. Kita akan mulai dengan menjawab eksistensi materi dengan mengambil contoh eksistensi pipi Rara. Lalu melangkah kepada eksistensi cantik dan cinta.

Tampaknya, eksistensi cantik dan cinta lebih mudah kita tangani dalam kasus ini. Karena, misalnya cinta, mengandung kualitas subyektif. Sehingga orang mudah menerima bahwa cinta itu adalah perasaan subyektif. Tetapi, kita tidak akan berhenti sampai di situ. Kita akan melangkah membahas kekuatan cinta yang jauh lebih besar dari istilah subyektif itu.

1. Keraguan Descartes

Saya setuju dengan Russell yang mengambil contoh Descartes untuk membahas eksistensi materi. Descartes adalah Bapak Filsuf terbesar jaman modern. Yang berhasil membangun sistem filsafat kokoh dan jelas. Di sisi lain, Descartes juga ahli matematika dan sains. Misalnya, sampai sekarang kita mengenal diagram Descartes atau diagram Cartesius itu. Meski pun ahli matematika lain, Fermat, juga menemukan diagram yang mirip dan lebih awal dari Descartes.

1.1 Cogito

Landasan filsafat Descartes adalah “cogito ergo sum” yaitu “aku berpikir maka ada” dan lebih dikenal sebagai cogito.

Dalam perjalanan mencari kebenaran yang hakiki, Descartes meragukan segala sesuatu. Descartes menolak filsuf-filsuf yang sudah ada sebelumnya. Ia menolak Socrates, Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Bacon, dan semuanya. Dia menolak, atau meragukan, semua pengetahuan dari inderanya. Semua pengetahuan bisa salah. Patut dicurigai.

Tapi ada satu hal yang tidak dapat diragukan, “Aku sedang berpikir.”

Aku yakin aku sedang berpikir. Bahkan, keraguanku sendiri adalah bentuk dari aku sedang berpikir. Meski, aku bisa saja berpikir dengan benar dan bisa juga aku berpikir dengan salah. Apa yang aku pikirkan bisa saja salah. Tetapi, bisa dipastikan bahwa aku berpikir. Sehingga, “Aku berpikir maka aku ada.”

Orang lain bisa saja ragu dengan keberadaanku. Tapi Descartes yakin bahwa dia ada karena dia berpikir. Descartes tidak bisa meragukan pikirannya sendiri. Maka dia yakin 100%, “Aku berpikir maka aku ada.”

Dari landasan itu, Descartes bergerak dari keraguan menuju keyakinan. Descartes, kemudian, berhasil menyusun sistem filsafat yang kokoh dan rasional. Dia berhasil membuktikan adanya alam semesta secara obyektif dan eksistensi jiwa yang mandiri dari alam fisik. Descartes pun mengkaji ulang pemikiran-pemikiran filsuf-filsuf jaman sebelumnya. Tidak diterima begitu saja sebagai doktrin. Sebagian disetujui dan sebagian lainnya ia tolak. Dan terbentuklah sistem filsafat Descartes.

Keberhasilan filsafat rasional Descartes ini, disusul dengan filsafat alam Newton yang lengkap dengan perhitungan matematika. Mengungkap fenomena alam semesta raya dan hukum gerak benda bola, peluru, kereta, sampai partikel terkecil. Manusia berhasil menguasai alam semesta dengan menggunakan rasionya. Catatan sejarah menunjukkan kemajuan luar biasa di bidang sains dan teknologi sejak itu.

1.2 Dasein

Heidegger (1889 – 1976) adalah pemikir eksistensialis terbesar dari Jerman. Meski pada masa dewasa, Heidegger menjaga jarak dengan gerakan eksistensialisme, tetapi konsep eksistensialisme Heidegger tetap menjadi fondasi dari beragam pemikiran. Heidegger meng-kritik filsafat Barat sebagai sudah melupakan “being” atau eksistensi. Padahal, tugas filsafat adalah mengkaji being sebagai mana being sejati. Heidegger bertekad untuk kembali mengkaji being dengan serius.

Dari beragam being yang ada di alam raya, mereka semua adalah sama yaitu sama-sama being. Kita perlu memilih dari mana untuk mulai mengkaji being. Human-being atau manusia adalah being paling unik, yaitu, being yang senantiasa peduli dengan eksistensi dirinya sendiri. Berbeda dengan batu, misalnya. Batu tidak pernah bertanya bagaimana nasibnya tahun depan atau bagaimana sejarahnya dia bisa menjadi batu seperti sekarang ini. Di sisi lain, manusia selalu bertanya bagaimana nasibnya di masa depan dan bagaimana sejarah masa lalu sampai menjadikan dirinya seperti ini. Karakter peduli dan penuh tanya ini yang menjadikan manusia sebagai istimewa.

Manusia sejati adalah dasein atau being-there. Heidegger memilih memulai kajian dari dasein. Tetapi, bukan dasein dalam arti konsep abstrak. Sebaliknya, dasein adalah being-there atau manusia apa adanya atau manusia ontologis – berbeda dengan manusia ontic. Pada bagian lebih akhir, kita akan membahas perbedaan ontologis dengan ontic ini.

Dasein selalu ada dalam dunia. Manusia selalu ada di dunia ini. Manusia tidak bisa membebaskan diri dari dunia ini, misal, manusia tidak bisa hanya hidup dengan dirinya sendiri. Dasein adalah being-in-the-world. Dengan anugerah diri dan seluruh alam raya maka tugas manusia adalah memaknai semua yang ada, memaknai being. Apa makna jadi dasein?

Pertama, manusia sadar bahwa dirinya hidup bersama ibu. Sejak lahir, kita mendapat curahan kasih sayang ibu. Kita berutang budi kepada ibu. Selanjutnya, kita melihat alam sekitar. Kita hidup berlindung dari panas dan dingin dengan memakai baju dan tinggal di rumah. Kita perlu makan setiap hari. Kita berinteraksi dengan lebih banyak orang lagi. Apa makna itu semua? Ketika kita peduli, dengan bertanya apa makna itu semua, maka kita sedang menjadi manusia otentik, manusia sejati. Kita menjadi bermakna dengan cara memaknai segala yang ada.

Kita bisa kembali bertanya, “Apakah gadis cantik, anak saya, bernama Rara itu benar-benar ada?” “Apakah meja, di depan saya ini, benar-benar ada?” “Apakah pohon, di samping rumah kita, benar-benar ada?”

Ketika kita bertanya itu semua, kita sedang berperan sebagai dasein otentik. Orang yang tidak pernah bertanya dengan serius tentang itu semua, mereka, justru, sedang tenggelam dalam ilusi diri. Kita perlu bertanya. Bahkan berlanjut dengan, “Apa makna semua anugerah itu?” Dan, semua anugerah itu sudah hadir begitu saja untuk kita. Tugas kita adalah memaknai semua. Dari proses “memaknai” ini, lahir berbagai macam ilmu pengetahuan baru dan “tersingkapnya” wujud dengan proses dinamis.

Eksistensialis, semisal Heidegger, menempuh jalur berbeda dengan rasionalis, misal Descartes. Eksistensialis menerima bahwa alam raya ini sudah ada seperti ini – sebagai facticity atau situasi. Tugas kita adalah untuk memaknainya, kemudian, mengubahnya menjadi lebih baik. Eksistensialis tidak perlu meragukan akan eksistensi meja, pohon, Rara, dan apa saja di dunia luar. Sehingga, eksistensialis tidak perlu membuktikan bahwa alam raya ada atau tidak. Alam raya sudah benar-benar ada.

Dasein adalah being-there atau realitas wujud apa adanya. Dan, yang penting, apa makna semua anugerah itu? Apa makna-ada?

1.3 Cahaya

Suhrawardi (1154 – 1191) mendefinisikan cahaya adalah sebagai realitas paling fundamental dan paling jelas. Cahaya, tidak perlu dijelaskan, sudah jelas dengan dirinya sendiri. Bahkan realitas yang lain, justru, memerlukan cahaya agar menjadi jelas. Tentu saja, maksud cahaya di sini adalah cahaya sejati.

Pengetahuan kita adalah cahaya. Dunia luar adalah cahaya. Diri kita sendiri adalah cahaya. Selain cahaya adalah tidak ada yaitu gelap-void.

Dalam realitasnya, cahaya bertemu dengan gelap. Mereka, cahaya dan gelap, itu bercampur. Tetapi, campuran itu adalah campuran cahaya-being dengan gelap-void. Bagaimana pun, gelap-void adalah tidak ada. Sehingga, campuran itu sejatinya hanya campuran cahaya.

Ketika kita hendak membuktikan eksistensi dunia luar, sama artinya dengan, cahaya diri kita berhadapan dengan cahaya luar. Di antara mereka tercipta suatu relasi, di mana, relasi itu sendiri juga berupa cahaya. Sehingga tercipta satu kesatuan cahaya: cahaya-diri, cahaya-relasi, cahaya-alam. Terbukti bahwa alam raya memang ada. Pada analisis akhir, satu kesatuan cahaya yang baru itu, sejatinya, adalah cahaya-diri yang lebih sempurna. Cahaya-diri yang baru ini akan menatap cahaya lain, sehingga, terjadi proses penyempurnaan cahaya-diri secara terus-menerus.

Tetapi, tetap ada resiko. Karena alam raya adalah campuran cahaya dengan void, maka, bisa saja seseorang justru terjebak dalam gelapnya void. Karena itu, kita perlu hati-hati dengan membersihkan diri sehingga bisa melihat cahaya apa adanya. Dan, kita berpartisipasi dalam gerak dinamis cahaya meraih sempurnanya Cahaya Segala Cahaya.

Berikutnya, kita akan membahas lebih detil eksistensi materi, cantik, dan cinta. Kita akan menjadi lebih mudah memahami bila dalam pikiran kita terbayang bahwa materi adalah cahaya, cantik adalah cahaya, dan cinta adalah cahaya.

2. Eksistensi Materi

Mari kembali memandang wajah Rara yang cantik. Fokus kepada pipi Rara. Kita bisa ragu apakah kita benar-benar tahu bahwa di depan kita itu adalah Rara. Tapi saya yakin bahwa saya sedang berpikir. Saya sedang berpikir tentang pipi Rara. Tidak ada keraguan sedikit pun tentang pikiran itu.

Di sini, saya berhasil membuktikan bahwa saya ada karena sedang berpikir. Sementara pikiran saya tentang pipi Rara masih perlu penjelasan lebih jauh apakah itu benar atau salah. Seperti pada bab sebelumnya, saya bisa menguji pikiran saya dengan berbagai macam cara.

Saya bisa saja mengundang sepuluh teman saya untuk bersama-sama menatap pipi Rara. Mereka, semua, melihat pipi Rara. Mereka semua berpikir tentang Rara. Di antara sebelas orang itu, termasuk saya, bisa saja bergantian meninggalkan ruangan. Yang meninggalkan ruangan tidak lagi berpikir tentang pipi Rara. Tetapi pipi Rara tetap ada, secara obyektif. Jadi saya yakin tentang pikiran saya bahwa ada pipi Rara.

Selanjutnya, penyelidikan tentang pipi Rara menunjukkan tersusun dari daging, kulit, dan sebagainya. Penelitian lebih lanjut memberi tahu kita bahwa pipi manusia tersusun oleh sel-sel tubuh manusia, tersusun oleh senyawa bio-kimia. Di antaranya terdiri dari hidrokarbon. Gabungan atom hidrogen dan atom karbon.

Lebih detil, kita fokus ke atom hidrogen – penyusun pipi Rara. Terdiri dari satu inti atom, proton bermuatan listrik positif, dan satu elektron bermuatan listrik negatif. Elektron ini mengelilingi inti yang berjarak tertentu dengan kecepatan tinggi. Elektron, sejauh ini, dianggap partikel paling sederhana. Artinya elektron tersusun oleh dirinya sendiri, tidak tersusun oleh bahan lain. Inti atom, proton misalnya, dianggap sebagai partikel sederhana awalnya. Tetapi sains, kemudian, menemukan penyusun inti atom berupa quark, lepton, dan sebagainya.

Jadi, pipi Rara tersusun oleh beragam atom. Masing-masing atom ada muatan listrik positif, negatif, atau nol. Dan, muatan negatif, yang berupa elektron, senantiasa bergerak dengan kecepatan tinggi mengelilingi inti atom.

Sampai di sini, kita menyimpulkan diri kita ada. Rara juga ada secara obyektif di depan kita yang pipinya tersusun oleh atom-atom. Obyek eksternal alam lainnya, misal meja, kursi, pohon, dan lainnya dapat kita analisis dengan cara yang sama. Maka obyek eksternal tersusun oleh atom-atom. Termasuk badan kita, otak kita, dan mata kita juga tersusun dari atom-atom.

Kesimpulan di atas kita peroleh dengan analisis filsafat dibantu sain fisika. Alternatif analisis lainnya akan kita diskusikan di bawah.

3. Eksistensi Cantik

Jika pipi Rara tersusun oleh atom-atom bermuatan listrik maka apakah cantiknya Rara juga tersusun oleh atom yang sama?

Tentu tidak.

Cantik tidak berhubungan dengan atom-atom bermuatan listrik, sejauh pengalaman sehari-hari yang kita perhatikan. Cantiknya Rara itu karena ada struktur yang seimbang, ada susunan yang indah dari mata dan alis. Ada proporsi wajah yang tepat. Demikianlah kira-kira rumusan cantik dari sang filsuf Aristoteles.

Sementara, Plato, menyatakan bahwa Rara cantik karena terhubung dengan cantik universal yang berada di alam idea. Begitu juga obyek-obyek cantik yang lain – bunga, burung, taman, lukisan, rumus, program – juga terhubung dengan cantik universal yang sama.

Kedua rumusan cantik, Aristoteles dan Plato, dapat kita gabungkan untuk analisis cantiknya Rara.

Cantiknya Rara yang karena ada perpaduan pipi, di atasnya ada mata bening, di atasnya lagi ada alis, lalu rambut hitam lebat menunjukkan adanya simetri yang indah – cantik versi Aristoteles. Sedangkan relasi pipi dengan mata yang tepat itu tidak hanya ada di alam materi. Relasi yang sempurna itu sejatinya ada di alam idea yang universal – cantik versi Plato.

Jadi, cantiknya Rara benar-benar ada. Bahkan tidak relatif seperti dugaan orang-orang selama ini. Bahkan cantik ini lebih kuat dari materi daging, kulit, dan rambut Rara karena cantik berada di alam idea yang universal. Eksistensi cantiknya Rara benar adanya.

Bagaimana bila ada orang yang tidak cantik? Apakah tidak cantik itu juga universal? Atau relatif?

Bila mengacu definisi cantik adalah adanya komposisi simetri yang indah maka, barangkali, tidak cantik adalah tidak adanya komposisi itu. Dengan demikian tidak ada juga di alam universalia. Di bagian berikutnya kita akan membahas lebih detil tentang dunia universalia dan hakikat keburukan, kejahatan, penderitaan, dan lain-lain. Untuk saat ini, kita masih fokus menunjukkan bahwa eksistensi cantik itu benar adanya.

Mengacu kepada Ibnu Arabi, cantik adalah manifestasi dari sifat-sifat Tuhan yang cantik: indah, lembut, pengasih, pemurah, bersinar, dan lain-lain.

4. Eksistensi Cinta

Cinta, barangkali, dianggap oleh banyak orang sebagai tidak ilmiah. Hanya fenomena subyektif. Anggapan ini akan kita balik total. Cinta adalah segalanya.

Cinta untuk Rara, gadis cantik itu benar-benar ada, nyata. Saya, sebagai ayahnya Rara, memberikan cinta yang tulus untuk Rara. Saya mencintai Rara apa adanya. Saya berikan semua yang terbaik untuk Rara. Saya rela berkorban apa pun demi kebahagiaan Rara. Bagi saya, cinta kepada Rara adalah yang paling berharga. Melampaui segalanya.

Rara cantik tentu saya cinta. Seandainya Rara dalam kondisi yang berbeda maka saya tetap cinta. Cinta saya kepada Rara melebihi daging dan kulit yang membentuk pipi Rara itu.

Terbentuk dari apakah cinta itu? Di mana “letak” cinta itu? Apa hakikat cinta?

Kita akan menjawab pertanyaan penting tentang cinta itu di bagian lebih akhir. Kita masih perlu merumuskan berbagai pendahuluan untuk membahas cinta ini. Memang benar cinta bersifat subyektif, dalam arti tergantung subyek. Cinta saya kepada Rara bergantung kepada saya. Jika saya pergi dari ruangan ini meninggalkan Rara maka di dalam ruangan ini tidak ada lagi cinta saya kepada Rara. Tetapi cinta saya kepada Rara tetap ada dalam diri saya, dalam jiwa saya. Ke mana pun saya pergi selalu ada cinta untuk Rara.

Meski saya pergi meninggalkan ruangan tetap ada cinta di sana. Yaitu cinta Rara kepada saya. Cinta seorang anak kepada ayahnya. Dunia tidak pernah hampa dari cinta. Bahkan dunia selalu dipenuhi oleh cinta. Sampai meluber. Cinta melampaui dunia dan semesta.

Rumi, sang sufi penyair, menjalani hidup penuh cinta. Hidup adalah cinta itu sendiri. Agama adalah cinta. Eksistensi adalah cinta.

5. Diskusi

Sampai di sini, kita berhasil membuktikan eksistensi cinta, cantik, dan materi. Di mana, materi adalah realitas obyektif, terbebas dari subyek pengamat. Sedangkan cantik adalah realitas obyektif universal – tidak relatif seperti perkiraan banyak orang. Sementara, cinta merupakan realitas subyektif tetapi justru lebih kuat dari materi penyusun badan manusia.

5.1 Ringkasan

Kita bisa mempertimbangkan beragam argumen untuk membuktikan eksistensi alam eksternal. Argumen paling sederhana adalah argumen Russell, yaitu, dengan cara kita mengamati obyek tertentu bergantian dengan orang lain. Karena, beberapa orang itu berhasil mengamati obyek yang sama secara konsisten, maka, obyek tersebut, yakni dunia eksternal, benar-benar eksis secara obyektif.

Argumen-argumen yang lebih canggih, di antaranya, cogito dari Descartes, dasein dari Heidegger, dan cahaya realitas dari Suhrawardi.

5.2 Eksistensi Bunda

Eksistensi-bunda adalah argumen yang kuat membuktikan bahwa dunia eksternal adalah eksis secara obyektif. Kita sadar bahwa kita lahir dari seorang bunda. Setiap orang lahir dari ibunya. Karena itu, bunda benar-benar ada. Ibu eksis secara obyektif di alam eksternal. Terbukti, alam eksternal memang eksis.

Selanjutnya, ibu sendiri lahir dari ibunya, yaitu nenek. Sementara, nenek lahir dari buyut dan seterusnya. Jadi, alam eksternal eksis sambung-menyambung sampai ke masa lalu. Secara ruang, untuk hidup, ibu memerlukan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Sehingga, benda-benda tersebut juga eksis secara obyektif di dunia eksternal. Ringkasnya, eksistensi-bunda membuktikan bahwa beragam dunia eksternal adalah eksis secara obyektif.

Orang bisa saja berargumen bahwa, di masa depan, seorang bayi bisa lahir tanpa perlu ibu. Misal, kemajuan teknologi kedokteran memungkinkan terjadinya pembuahan sel telur oleh sel sperma bukan di rahim ibu, melainkan di tabung. Kemudian, janin hasil pembuahan dibesarkan di tabung-hebat. Lebih jauh lagi, sel telur dan sel sperma di atas merupakan hasil rekayasa. Dengan demikian, akan lahir seorang bayi tanpa ibu dan tanpa bapak. Argumen ini justru menunjukkan adanya eksistensi dunia luar yaitu: para dokter, ahli teknologi medis, dan peralatan medis itu sendiri.

Eksistensi-bunda, lebih jauh, membuktikan eksistensi cantik dan cinta. Bunda, karena seorang wanita, pasti cantik. Dan, bunda pasti cinta kepada anaknya. Lengkap sudah, eksistensi-bunda membuktikan eksistensi dunia luar, cantik, dan cinta.

5.3 Realitas Subyektif

Realitas subyektif cinta memunculkan tanda tanya apakah pengetahuan kita tentang materi, misal pipi Rara, juga subyektif? Meski pun realitas pipi Rara adalah obyektif. Karena sejauh ini, kita belum bisa mengetahui, secara meyakinkan, apa hakikat materi itu. Sementara, untuk saat ini, kita menerima hasil penyelidikan sains fisika yang menyatakan materi tersusun oleh atom-atom dan partikel quantum. Pada bagian berikutnya kita akan menyelidiki hakikat materi ini lebih detil dan mempertimbangkan berbagai macam alternatif berbeda. Dan, berusaha menjawab subyektivitas dan obyektivitas pengetahuan manusia.

Lanjut ke Cantik Alami
Kembali ke Philosophy of Love

Cantik Penampakan dan Cinta Sejati

Apakah ada pengetahuan sejati? Yang dengan pengetahuan itu, kita jadi yakin 100% benar? Maka, jika ada, kita bisa menilai segala sesuatu berdasar pengetahuan itu dengan keyakinan tinggi.

Pertanyaan mudah di atas, ternyata, jawabnya susah. Apa, yang semula, kita kira yakin 100%, bila diselidiki lebih mendalam maka tidak meyakinkan. Misal, ketika kita hendak minum air di gelas di depan kita. Apakah Anda yakin 100% bahwa air tersebut tidak beracun? Tidak membahayakan diri Anda? Tidak kotor?

Nike Ardila only kosmetik - Posts | Facebook

1. Eksistensi – Keberadaan Gadis Rara
2. Kecantikan – Rara Gadis Cantik
3. Cinta Untuk Rara
4. Ringkasan
5. Diskusi
5.1 Empirisme
5.2 Sintesa
5.3 Eksistensialisme

Barangkali kita mencoba menyelidiki asal-usul air di gelas itu. Air berasal dari botol air mineral. Diproduksi oleh produsen luar kota. Kabarnya, sumber air itu dari pegunungan di Jawa Barat. Proses air sampai ke depan kita, dalam gelas, begitu panjang. Apakah kita yakin, air tersebut tidak beracun dari tiap tahap prosesnya?

Tetapi kenyataannya kita sering percaya begitu saja, bahwa air di gelas itu aman. Kita minum air itu dengan santai. Tanpa menyelidiki apakah beracun. Akibatnya, kita sehat sampai hari ini. Kesimpulan pertama yang bisa kita ambil adalah: hidup kita bisa menerima hal-hal meskipun tidak 100% meyakinkan. Dalam istilah keren, sains atau teknologi, manusia itu fault tolerant. Manusia itu bisa toleransi terhadap kesalahan.

Berbeda dengan mesin atau komputer. Mereka tidak toleran terhadap kesalahan. Jika kita salah memasukkan data ke komputer maka komputer akan mem-proses data dan memberikan hasil yang salah. Manusia tidak demikian. Meski ada data salah, tidak lengkap, atau tidak akurat, manusia masih bisa melakukan proses berpikir dan lain-lain untuk menghasilkan kesimpulan tepat guna. Komputer masa kini ingin meniru kehebatan manusia yang fault tolerant itu.

Berikutnya, mari kita ambil contoh yang lebih menantang. Misalnya di hadapan saya, atau di hadapan Anda, ada seorang gadis remaja usia mendekati 20 tahun. Wajahnya bersih. Matanya bening. Berambut hitam. Nama gadis itu adalah Rara. Rara adalah seorang gadis yang cantik, yang membuat banyak pria jatuh cinta padanya. Rara adalah anak saya.

Kita akan menyelidiki, pertama, apakah cinta untuk Rara benar-benar ada? Atau hanya imajinasi saja? Kedua, apakah cantiknya Rara itu benar-benar ada? Bukankah cantik itu relatif? Dan ketiga, apakah Rara benar-benar ada atau hanya ilusi belaka?

1. Eksistensi – Keberadaan Gadis Rara

Kita akan menjawab pertanyaan pertama. Ketika Rara ada di hadapan kita, apakah benar-benar ada Rara di depan kita?

Rara adalah anak perempuan saya. Rara lahir pada awal peralihan milenium baru ini. Sehingga Rara termasuk anak milenial. Rara, sekarang, menginjak masa remaja menuju dewasa.

Coba kita fokus ke wajah Rara. Perhatikan pipinya yang putih, lembut. Dihiasi warna tipis kemerah-merahan. Di atas pipi ada mata yang bening dengan bulu mata lentik. Di samping pipi ada hidung dan bibir. Benarkah itu semua ada? Atau hanya rekaan pikiran kita sendiri.

Jawabnya: Rara benar-benar ada.

Kita bisa eksperimen memejamkan mata. Rara benar-benar ada di hadapan kita. Bahkan kita bisa saja pingsan, hilang kesadaran, Rara benar-benar ada. Bukan hanya ilusi pikiran kita.

Eksperimen bisa juga menggunakan kamera. Kita pergi meninggalkan Rara. Kita cek kamera, dari jarak jauh misalnya, tetap ada Rara. Jadi Rara benar-benar ada secara obyektif tidak tergantung pikiran kita. Bandingkan dengan realitas subyektif misalnya kita bisa membayangkan ada gadis pakai topi warna merah. Gadis bertopi merah itu ada dalam pikiran kita. Kemudian bayangkan, pikirkan, ada gajah berkaki tiga. Apa yang terjadi?

Ketika kita memikirkan “gajah berkaki tiga” maka gadis bertopi merah hilang dari pikiran kita. Hal itu menunjukkan bahwa keberadaan gadis bertopi merah tergantung kepada pikiran subyektif kita. Gadis bertopi merah tidak obyektif. Hanya ada bila dipikirkan.

Berbeda dengan Rara yang benar-benar ada. Baik ketika kita memikirkan Rara atau tidak.

Tetapi, apakah kita benar-benar mengetahui hakikat Rara?

Nah, itu pertanyaan yang berbeda. Pertama kita bisa menyimpulkan bahwa Rara benar-benar ada. Jadi, kita berhasil meng-konfirmasi eksistensi Rara dengan positif. Kedua, kita perlu menyelidiki apakah kita bisa mengetahui hakikat Rara. Untuk menjawab pertanyaan kedua kita dapat meminjam teori dari sains terbaru.

Fisika memberi tahu kita bahwa kita bisa melihat Rara karena ada cahaya yang bersinar dari Rara mengenai indera mata kita. Bila ruangan benar-benar gelap maka kita tidak bisa melihat Rara meski Rara ada di hadapan kita. Karena tidak ada cahaya yang masuk ke mata kita.

Mari fokus bagaimana kita bisa melihat pipinya Rara. Ada cahaya yang menimpa pipi Rara dengan susunan tertentu. Pipi Rara memantulkan beragam cahaya itu, yang sebagiannya, menimpa ke mata kita. Mata kita memproses, sebagai indera penglihatan, cahaya yang diterima lalu mengirim ke otak untuk diolah lebih lanjut. Sebagai hasilnya kita tahu ada pipi di sana. Dan selengkapnya kita tahu ada Rara seutuhnya.

Di sini, kita perlu melakukan beberapa pembedaan penting. Cahaya yang diterima oleh mata bisa kita sebut sebagai data-indera. Data-indera ini bersesuaian dengan pipi Rara. Tapi jelas data-indera bukanlah pipi Rara itu sendiri. Data-indera ini kemudian diolah oleh sistem indera kita menghasikan “citra” dari pipi Rara yang kita pahami. Citra ini bisa kita sebut sebagai sensasi-indera, yang berbeda dengan data-indera, dan berbeda dengan pipi Rara. (Sensasi-indera bisa kita sebut juga sebagai sense-indera atau impresi-indera sesuai konteks).

Dengan adanya pembedaan di atas maka kita lebih mudah memahami beberapa kemungkinan kesalahan yang terjadi. Kesalahan pertama yang bisa terjadi adalah data-indera tidak bersesuaian dengan pipi Rara. Misal, di antara mata kita dan pipi Rara yang berjarak sekitar 2 meter dipasang kaca tembus pandang melengkung. Maka, data-indera berupa gelombang cahaya yang dibiaskan oleh kaca berbeda dengan gelombang cahaya yang dipancarkan oleh pipi Rara. Sebagai akibatnya, kita akan melihat pipi Rara yang melengkung. Padahal, aslinya, pipi Rara lurus. Fenomena semacam ini terjadi juga pada fatamorgana atau pensil yang dimasukkan ke air tampak seperti patah.

Kesalahan kedua bisa terjadi pada sensasi-indera. Misalkan data-indera yang diterima sudah bersesuaian dengan pipi Rara. Tetapi mata yang melihat dalam kondisi minus dua (-2) tanpa memakai kaca mata. Maka, mata minus tersebut menghasilkan sensasi-indera yang buram tentang pipi Rara. Padahal, pipi Rara cerah mempesona. Kesalahan serupa bisa terjadi kepada orang yang menderita vertigo. Dia melihat pipi Rara berputar-putar padahal, aslinya, pipi Rara tetap di depan kita.

Sampai di sini, kita tidak berhasil mengetahui hakikat Rara dengan meyakinkan. Pengetahuan kita tentang Rara, melalui indera, mungkin saja salah. Meski demikian, kita tetap bisa yakin bahwa Rara benar-benar ada secara obyektif. Bukan sekedar ilusi. Rara benar-benar ada di depan kita.

Pada bagian selanjutnya, bab-bab selanjutnya, kita akan mendiskusikan lebih detil bagaimana sensasi-indera, pemahaman, kesadaran, dan lain-lain bisa muncul dalam diri kita. Melalui indera, kita berhasil memahami penampakan luar Rara – atau fenomena – tetapi masih gagal mengenali hakikat Rara – noumena.

2. KecantikanRara Gadis Cantik

Mari bergeser lebih fokus kepada kecantikan Rara. Kita telah berhasil membuktikan bahwa Rara ada di depan kita tapi apakah Rara benar-benar cantik? Atau cantik itu subyektif, relatif?

Ketika saya menatap Rara, saya yakin Rara adalah cantik. Benar-benar kualitas cantik itu ada pada Rara. Matanya yang bening, lentik bulu matanya, rambutnya hitam lebat memastikan Rara cantik. Saya yakin orang lain setuju bahwa Rara memang cantik. Tapi mungkin saja ada orang tertentu yang mengatakan bahwa Rara tidak cantik. Sehingga, cantiknya Rara ini subyektif tergantung siapa yang menilainya.

Bahkan ketika saya mengatakan bahwa Rara cantik, bisa saja Eko mengatakan bahwa Rara bukan cantik tetapi Rara adalah cantik sekali. Sehingga cantik itu relatif – dan subyektif.

Tidak demikian pandangan para filsuf tingkat dunia. Ketika orang awam menilai bahwa cantik itu relatif dan subyektif, sebaliknya, para filsuf justru menyatakan bahwa cantik itu nyata, obyektif, dan jelas. Baik dari Plato, Aristoteles, Ibnu Arabi, dan lain-lain.

Aristoteles mengatakan bahwa cantik itu ada pada obyeknya (pada diri Rara). Di mana, obyek cantik bernilai artistik menunjukkan karakter simetri, harmoni, tertata, seimbang, dan sebagainya. Sebagaimana kita bisa menemukan itu semua dengan menatap langsung wajah Rara.

Plato, gurunya Aristoteles, melangkah lebih jauh dengan mendefinisikan cantik itu bersifat universal – meminjam istilah Bertrand Russell. Cantik adalah “idea” atau “form” yang menyebabkan sesuatu jadi cantik. Cantik berada dalam domain obyek intelligible.

Ibnu Arabi, filsuf sufi Timur, mendefinisikan cantik dengan membandingkan dengan sifat perkasa. Cantik, sejatinya, adalah sifat Tuhan yaitu jamal yang saling melengkapi dengan sifat Tuhan yang Perkasa yaitu Jalal. Cantik itu sendiri manifestasi dari nama-nama Tuhan yang Maha Kasih, Maha Sayang, Maha Baik, dan lain-lain.

Kiranya cukup, untuk sementara ini, kita katakan bahwa cantiknya Rara itu bernilai penting – tidak hanya sesuatu yang relatif. Bahkan, cantiknya Rara ini bisa lebih kuat dari pipinya Rara itu sendiri. Kita akan mendiskusikan lebih jauh tentang cantik ini dari bab demi bab pada bagian selanjutnya.

3. Cinta untuk Rara

Tiba waktunya kita membahas cinta Rara. Saya jelas cinta kepada Rara. Cinta yang suci dari seorang ayah kepada putrinya. Cinta yang tulus. Hanya memberi tak pernah mengharap kembali.

Beda dengan Joko, yang juga mencintai Rara dengan tulus. Joko adalah calon suami Rara. Hidup Joko menjadi begitu berbunga-bunga sejak jatuh cinta kepada Rara. Bahkan Rara juga mencintai Joko. Mereka hidup bahagia penuh cinta.

Mari kita eksperimen pikiran. Waktu berlalu, maju sepuluh tahun ke depan. Wawan, bocah umur 5 tahun, juga cinta kepada Rara sebagai ibunya. Cinta sejati.

Teman-teman Rara juga cinta ke Rara sebagai sahabat. Dan masih banyak cinta lagi untuk Rara.

Sampai di sini kita merasakan besarnya peran cinta. Meski awalnya, kita menduga cinta itu hanya subyektif, relatif, dan tidak ilmiah, ternyata, kita tidak bisa mengecilkan arti penting cinta. Bahkan cinta itu bisa lebih penting dari segalanya. Kita bisa mempertimbangkan pandangan Rumi yang menyatakan segala yang ada adalah manifestasi cinta.

Sartre, filsuf continental eksistensialis, mengatakan bahwa cinta itu adalah prestasi tertinggi dari subyek yang sadar. Adorno, pendiri “critical theory”, menegaskan pentingnya karya seni tinggi yang merupakan ekspresi dari cinta itu sendiri.

Lagi, kita akan menunda sementara, membahas cinta lebih detil pada bab-bab selanjutnya.

4. Ringkasan

Pada bagian ini kita berhasil meyakinkan bahwa obyek eksternal, semisal Rara yang cantik, memang ada secara obyektif. Namun kita hanya mampu mengenali penampakan Rara. Apa hakikat sejati dari Rara belum kita ketahui. Jadi, cantik itu hanya penampakan – sejauh ini. Tetapi, cinta adalah asli, cinta sejati. Pada bab selanjutnya, kita akan mencoba memahami hakikat Rara. Termasuk, hakikat cinta.

Masih pada bagian ini, kita juga berhasil menunjukkan posisi penting dari cantik dan cinta. Bukan sekedar sesuatu yang relatif dan tidak ilmiah, tetapi cantik dan cinta, adalah tema penting dalam filsafat yang perlu kita bahas tuntas di seluruh sisa tulisan ini.

5. Diskusi

Sambil melanjutkan pembahasan lebih mendalam, di bagian ini, saya sertakan secara ringkas bahan diskusi, “Bagaimana pengetahuan tentang dunia luar, misal bola atau wajah Rara, bisa muncul dalam pikiran manusia?”

5.1 Empirisme

Ada bola di depan kita. Bagaimana kita bisa melihat bola itu? Atau, bagaimana gambar bola itu bisa muncul dalam pikiran, atau persepsi, manusia? Atau, bagaimana kita bisa merasakan, menyadari, ada bola di depan kita?

Sains fisika empiris memberi jawaban dengan jelas. Bola itu bisa kita lihat karena bola itu memancarkan cahaya ke mata kita, misal pantulan cahaya dari lampu atau matahari. Tentu saja, tanpa cahaya, kita tidak bisa melihat bola di depan kita. Cahaya ini menjalar dari bola mengenai mata kita. Cahaya ini kita sebut sebagai data-indera.

Kemudian, mata kita mengolah data-indera dan berkomunikasi dengan sistem syaraf di otak dan tubuh kita. Hasil olahan oleh mata dan sistem syaraf kita sebut sebagai sinyal-indera. Lebih lanjut, kita fokus kepada proses yang terjadi pada sel-sel otak, misal neuron-neuron, memproses sinyal-indera. Dengan proses yang melibatkan teori quantum dan lain-lain, sistem biologi fisik menghasil impresi-indera yang berupa “gambar bola”. Sampai di sini, sudah lengkap, proses memunculkan gambar bola dalam pikiran.

Semua proses di atas, dapat dijelaskan secara fisika kecuali munculnya impresi-indera yang berupa “gambar bola” di pikiran kita. Sampai saat ini, para peneliti dan filosof sains masih terus mengkaji bagaimana impresi gambar bola itu bisa muncul dalam pikiran manusia.

Pandangan empiris seperti di atas mendapat banyak dukungan dari kalangan saintis masa lampau sampai sekarang. Bertrand Russell (1872 – 1970) dan David Chalmers (lahir 1966) adalah beberapa filosof pendukung pandangan empiris seperti di atas.

Tentu saja, banyak pemikir yang menolak pandangan empiris di atas. Kant (1720 – 1804) menilai bahwa pandangan sains empiris tidak mencukupi untuk menghadirkan impresi-indera atau pengetahuan manusia. Zizek (lahir 1949) menolak pandangan empirisme sains karena hakikat dari kesadaran manusia adalah “void” atau kehampaan. Sehingga, sains tidak akan pernah berhasil mengamati void karena, memang, void tidak ada.

5.2 Sintesa

Kant (1720 – 1804) melengkapi dengan teori sintesa. Pengetahuan manusia, misal melihat bola di depan kita, adalah hasil sintesa antara data empiris dan kekuatan transendental yang bersifat apriori.

Pandangan sintesa menerima pandangan empiris seperti di atas untuk kemudian diolah oleh kekuatan apriori untuk proses “deduksi transendental.” Kekuatan apriori manusia ini dimiliki oleh setiap orang yang sehat berupa sistem skemata.

Proses sintesa: data-indera dan sinyal-indera diterima kemudian diproses oleh skemata. Skemata ini menentukan kualitas, kuantitas, modalitas, dinamika, dan lain-lain dari data yang diterima. Hasil olahan sintesa ini adalah kita memahahi ada “bola” di depan kita. Atau, muncul impresi-data yang berupa “gambar bola” dalam pikiran manusia. Jadi, impresi “gambar bola” merupakan sintesa data empiris dengan skemata transendental.

Perlu kita catat bahwa skemata apriori ini bersifat transendental pada diri manusia. Di mana, sains empiris tidak akan bisa menemukan skemata apriori tetapi analisis rasional berhasil membuktikan kebenaran skemata apriori. Tanpa skemata maka data-indera adalah sekedar data-indera yang berserakan tak bermakna. Hanya dengan skemata, data-indera itu menjadi bermakna, bisa dipahami pikiran manusia, misal sebagai gambar bola.

Banyak yang setuju dengan solusi sintesa dari Kant. Tetapi lebih banyak lagi filosof berikutnya yang mempertanyakan bagaimana skemata apriori itu bisa terbentuk? Hegel, Schopenhauer, Husserl, Heidegger, dan lain-lain mencoba menjawab pertanyaan penting itu.

5.3 Eksistensialisme

Pandangan eksistensialisme selaras dengan pandangan sintesa. Sehingga, mereka menerima peran penting dari sains empiris, untuk kemudian, dikembangkan lebih lanjut. Eksistensialisme juga terbuka bila pandangan sains berubah seiring ditemukannya hasil penelitian empiris yang baru. Karena, kajian empiris ini adalah syarat perlu terbentuknya pengetahuan, tetapi, bukan syarat yang mencukupi.

Eksistensialis menambahkan satu tugas penting yaitu memaknai being, memaknai eksistensi, memaknai wujud. Alam raya ini merupakan suatu anugerah yang, faktanya, sudah seperti ini adanya. Sehingga, tugas kita sebagai manusia adalah memaknai semua yang ada, menyingkap misteri being sebagai being. Dan, salah satu cara memaknai wujud adalah dengan berpartisipasi aktif dalam dinamika wujud. “Apa makna wujud?” “Apa makna ada?”

Kembali kepada contoh bagaimana “gambar bola” bisa muncul dalam pikiran kita?

Bola adalah mode-wujud. Otak manusia juga mode-wujud. Demikian juga, pikiran adalah mode-wujud. Ketika cahaya dari bola memancar ke mata maka terbentuk data-indera, ini adalah mode-wujud-fisik. Di saat bersamaan, ada mode-wujud-jiwa yang selaras dengan pancaran cahaya dari bola ke mata. Dan seterusnya, sampai terbentuk sinyal-indera.

Tugas penting berikutnya, “Bagaimana muncul impresi gambar bola pada pikiran?”

Pada tataran mode-wujud-jiwa, setelah sinyal-indera diolah maka jiwa memproduksi impresi-indera yang berupa “gambar bola.” Dan, impresi gambar bola ini terjadi pada mode-wujud-jiwa bukan pada mode-wujud-fisik. Bagaimana pun, tetap ada keselarasan antara fisik dan jiwa. Maksudnya, impresi gambar bola ini terbentuk dengan adanya realitas fisik bola, mata, dan otak yang sehat. Meski, impresi tersebut tidak bersifat fisik.

Tentu saja, jiwa bisa memproduksi impresi gambar bola tanpa melihat bola di depannya. Tetapi, itu kasus yang berbeda karena berupa imajinasi fiksi. Sementara, kasus yang kita bahas adalah melihat bola fisik di depan kita. Dengan demikian, eksistensialisme berhasil menjelaskan munculnya impresi gambar bola pada pikiran manusia sebagai produk kreasi oleh jiwa pada mode-wujud-jiwa.

Pandangan eksistensialisme ini berkembang baik di Timur mau pun di Barat. Tentu saja, dengan variasi yang beragam. Kita mengenal beberapa tokoh diantaranya Ibnu Arabi, Sadra, Thabathabai, Heidegger, Sartre, dan lain-lain. Untuk kasus impresi ini, saya memasukkan Suhrawardi juga sejalan dengan eksistensialisme.

Pilihan Solusi

Jadi, mana yang lebih meyakinkan antara pandangan empirisme, sintesa, atau eksistensialisme? Anda boleh menentukan pilihan jawaban saat ini. Boleh juga menentukan pilihan setelah selesai membaca tulisan-tulisan lanjutannya di bagian berikutnya.

Kembali ke pengantar dan daftar isi.
Lanjut ke Eksistensi Cinta

Covid Indonesia (Tidak) Membaik

Ketika kasus dunia melonjak kemarin, 600 ribu kasus baru di dunia dalam 1 hari, covid di Indonesia justru tampak membaik. Penambahan kasus harian di Indonesia cenderung kecil dibanding pekan-pekan lalu. Hitungan R juga berhasil di bahwa 1 sekitar 0,95 yang menunjukkan pandemi mulai mereda di Indonesia. Apakah bisa dipercaya?

Beberapa orang berhak mempertanyakan dan meragukan data covid di Indonesia.

Angka kematian harian dunia juga memuncak di 8 717 orang satu hari kemarin. Tertinggi sepanjang masa pandemi korona ini.

Di sisi lain, menkes Indonesia diundang WHO untuk berbagi pengalaman sukses menangani pandemi. Kita, sekali lagi, patut bersyukur. Semoga jadi berkah untuk kita semua.

Analisis saya sederhana saja. Jika Indonesia bisa bertahan R di bawah 1 dalam 2 pekan atau lebih maka itu benar-benar membaik. Kita perlu konsisten untuk bersama-sama menjaganya.

Tetapi pengalaman sejauh ini, sering terjadi lonjakan lagi. Apakah akan ada lonjakan dalam beberapa hari ke depan? Semoga tidak.

Bagaimana menurut Anda?

Krisis Islam vs Macron

Presiden Prancis Macron melangkah begitu jauh dengan menyatakan Islam adalah agama dalam kiris di seluruh dunia. “Islam is a religion that is in crisis all over the world today, we are not just seeing this in our country,” Mr.  Macron said.

Pernyataan Macron dapat respon keras dari berbagai kalangan. Salah satunya seruan boikot produk Prancis. Tentu saja bahaya bagi Prancis.

Saya melihat pernyataan Macron di atas, Islam dalam krisis di seluruh dunia, tidak bisa dibuktikan validitasnya. Tetapi justru mudah dibuktikan kesalahan pernyataan Macron itu.

Ini Pernyataan Kontroversi Emmanuel Macron, Presiden Prancis Hina Agama  Islam dan Nabi Muhammad SAW - Warta Kota

Tetapi editorial The Print memuat analisis yang lembut berbahaya menyesatkan pikiran.

Berjudul, “5 Alasan yang menunjukkan crisis di Islam Global.” Paragraf awal sudah menguatkan pendapat Macron bahwa Islam dalam krisis di dunia.

Menyesatkan Pikiran

Editorial The Print tidak salah tapi menyesatkan. Mari kita perhatikan tiga pernyataan berbeda berikut.

A. Islam dalam krisis di seluruh dunia (Pernyatan Macron)
B. Ada 5 alasan menunjukkan krisis di Islam (Judul The Print)
C. Islam TIDAK dalam krisis di sebagian dunia

Sesuai judulnya, The Print, menguraikan 5 alasan yang mereka maksud, dengan lembut. Pertama, Islam adalah agama yang paling dipolitisir. Kedua, adanya ketegangan antara nasionalisme dan pan-nasionalisme di negara-negara berpenduduk muslim. Ketiga, ironi munculnya teroris pan-islami semisal Al Qaeda dan ISIS. Keempat, ada kontradiksi parah di mana negara muslim kaya tidak mau berbagi dengan negara muslim miskin. Kelima, terjadi defisit demokrasi.

5 alasan di atas tampak masuk akal dan, sementara, asumsikan benar. Maka terbukti pernyataan B, judul editorial, adalah benar: Ada 5 alasan menunjukkan krisis di Islam.

Dan secara halus, pembaca menyimpulkan bahwa pernyataan Macron juga benar. Tentu saja tidak sah. Cara berpikir yang sesat itu. Pernyataan Macron beda dengan judul editorial. (Pernyataan A beda dengan B).

Pernyataan Macron, pernyataan A, tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Kita tidak mungkin bisa, sulit sekali bisa, menunjukkan bahwa semua dunia Islam sedang dalam krisis. Bagaimana kita bisa menguji keadaan dunia islam satu demi satu?

Tetapi pernyataan Macron ini justru lebih mudah diuji dengan falsifikasi gaya Karl Popper. Misalnya dalam bentuk pernyataan C: Islam TIDAK dalam krisis di sebagian dunia.

Ambil contoh negara Brunei tidak dalam keadaan krisis. Maka pernyataan C benar, ada wilayah Islam yang tidak krisis. Dengan demikian pernyataan Macron salah.

Meski dengan asumsi judul editorial benar, kita tetap bisa menunjukkan bahwa pernyataan Macron salah.

Apakah media sengaja membangun cara berpikir yang menyesatkan? Tampaknya The Print yang harus menjawabnya.

Bagaimana menurut Anda?

Presiden Prancis Macron: Sudah Mati Makna

Orang sedang ramai membicarakan presiden Prancis Macron. Benar saja dia sudah mati begitu selesai berucap. Pembaca bebas menafsirkan semua kata-kata Macron.

Jauh hari sebelumnya, posmodernis Prancis, semisal Derrida dan Lyotard, sudah mengatakan kita masuk pada era matinya makna. Pembicara, semisal Macron, langsung mati begitu selesai bicara. Pendengar, pembaca, langsung hidup bebas berimajinasi sesuai masing-masing individu. Yang ada hanya mikrologi, kata Lyotard. Imajinasi-imajinasi kecil.

Presiden Prancis Emmanuel Macron: Hari-Hari Lebih Baik Akan Datang

Dari pidato Macron, teks, yang panjang itu banyak tafsir bisa dikembangkan.

  1. Macron ingin menangani kekerasan di Prancis
  2. Macron ingin mencegah kericuhan
  3. Macron membedakan Islam radikal dengan lainnya
  4. Macron membiarkan karikatur itu
  5. Macron menghina Nabi
  6. Macron menyakiti 1,5 milyard umat muslim
  7. Macron punya agenda tersembunyi

Meski Macron, barangkali, bermaksud fokus menangani dan mencegah kekerasan di Prancis tapi pembaca punya fokus yang berbeda. Bisa jadi pembaca lebih fokus ke tafsir 4, 5, 6, dan 7 di atas.

Apalagi dalam wawancara selanjutnya, Macron menegaskan tetap membela kebebasan ber-ekspresi di Prancis. Hal ini dapat menguatkan mikrologi: Macron menghina Nabi. Mikrologi bisa salah. Tapi bisa saja benar. Yang jelas mikrologi itu nyata.

Derrida, pelopor posmo Prancis, yakin tidak mungkin ada konsensus. Justru yang muncul dissensus. Dan paralogi. Logika-logika yang berbeda dari yang diharapkan pembicara, Macron itu sendiri.

Selanjutnya, kita tahu, simulacra menyebarkan mikrologi-mikrologi melalui beragam media sosial. Baudrillard, posmo Prancis juga, sudah mengantisipasi peran simulacra yang hebat ini.

Benar-benar semua harus jadi pelajaran bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Rate Card Tik Tok Youtube

APIQ membuka kesempatan kerja sama untuk saling memajukan. Khususnya melalui canel youtube paman APIQ (hampir 500 ribu subscriber), youtube edujiwa (lebih dari 200 ribu subscriber), tik tok paman APIQ (hampir 115 ribu follower), dan media sosial lain.

Rate card berkisar Rp 100 – 1000 cost per view

Rate card termurah, Rp 100 per view adalah dengan menampilkan logo Anda di 10 detik pertama video multimedia APIQ.

Rate card maksimal, RP 1000 per view adalah menampilkan logo Anda selama 120 detik di video multimedia APIQ.

Bentuk kerja sama khusus dapat kita kembangkan dengan diskusi lebih detil melalui WA APIQ 0818 22 0898.

Sukses selalu untuk kita semua.