Miskin Karena Covid: Klasifikasi Ketimpangan Paman

Pandemi covid telah meluluh-lantakkan optimisme umat manusia. Pertumbuhan ekonomi tidak lagi terjadi. Hanya kontraksi ekonomi di berbagai penjuru negeri. Kondisi ekonomi, makin terpuruk, lebih ngeri.

Yang miskin makin miskin, tapi seperti pepatah, yang kaya makin kaya.

Orang-orang super kaya makin super kaya. Terutama mereka yang berkuasa di bidang digital, kekayaan mereka makin melonjak, dengan melonjaknya corona.

Ketimpangan Yang Tepat

Pandemi ini menjadi momentum paling tepat untuk mengatasi kesenjangan ekonomi. Negara miskin sulit untuk mendapatkan vaksin. Meski negara kaya sepenuhnya bisa vaksinasi, sewaktu-waktu, pandemi bisa datang lagi ke negara kaya.

Ketimpangan sosial dan ekonomi perlu kita atasi. Salah-satu instrumen penting, untuk mengatasi kesenjangan, adalah ukuran kesenjangan itu sendiri. Dengan ukuran kesenjangan yang tepat, kita bisa mencermati situasi setiap saat. Kita juga bisa mencoba beragam solusi untuk kemudian memilih yang paling efektif.

Klasifikasi Paman

Saya mengembangkan ukuran kesenjangan berupa nilai ketimpangan n – sudah saya uraikan dalam tulisan sebelumnya. Kali ini kita akan membuat klasifikasi ketimpangan berdasar nilai ketimpangan n. Saya membagi populasi menjadi 5 kelas seperti pada gambar di atas.

Masing-masing kelas kita bedakan berdasar porsi 25% populasi termiskin dibanding dengan mean. Kelas 25% termiskin bisa kita hitung berdasar nilai ketimpangan n. Sementara, nilai mean kita peroleh dari data resmi income per capita.

Misal untuk Indonesia: nilai ketimpangan n = 2,25 dan income per capita = 4 750 000 rupiah per bulan. Untuk US nilai ketimpangan n = 2,85 dan income per capita = 77 juta rupiah per bulan.

Kelas Sangat Buruk

Kelas sangat buruk terjadi ketika nilai ketimpangan n di atas 3 (atau G di atas 0,5). Konsekuensinya: orang termiskin mempunyai penghasilan kurang dari 6,2% terhadap rata-rata, income per kapita.

Indonesia dan US tidak berada dalam kelas sangat buruk.

Seandainya Indonesia berada dalam kelas sangat buruk maka 25% penduduk (65 juta orang) mempunyai penghasilan kurang dari 6,2% x 4 750 000 rupiah per bulan = 294 500 per bulan.

Jika US dalam kelas sangat buruk maka 25% penduduk (82 juta orang) mempunyai penghasilan kurang dari 6,2% x 77 juta rupiah per bulan = 4,8 juta rupiah per bulan.

Kelas Buruk

Terdapat 25% penduduk dengan penghasilan kurang dari 19% terhadap rata-rata income per capita. Terjadi ketika nilai ketimpangan n lebih dari 2,2 (setara G = 0,375).

Indonesia ada dalam kelas buruk ini. Begitu juga US ada dalam kelas buruk ini.

Indonesia n = 2,25 maka terdapat 25% penduduk dengan penghasilan kurang 840 000 rupiah per bulan. Atau ada 65 juta orang, penduduk Indonesia, dengan penghasilan kurang dari 28 ribu per hari.

US, Amerika, n = 2,85 maka terdapat 25% penduduk dengan penghasilan kurang dari 6 juta rupiah per bulan atau kurang dari 200 ribu rupiah per hari. Tetapi harga barang dan jasa di US lebih mahal 3 kali lipat dari Indonesia. Sehingga penghasilan 6 juta rupiah per bulan itu setara dengan 2 juta rupiah per bulan di Indonesia.

Penghasilan 2 juta per bulan tampak kecil. Karena dihitung per jiwa bukan per keluarga. Bila kita anggap setiap keluarga punya 2 anak maka ada 4 anggota keluarga. Sehingga penghasilan keluarga tersebut adalah 8 juta rupiah (nilai rupiah Indonesia). Masih di atas UMR tertinggi di negeri ini.

Kelas Sedang

Kelas “sedang” nilai ketimpangan n = 1,8 (setara G = 0,3). Terdapat 25% penduduk dengan penghasilan kurang dari 33% pendapatan rata-rata income per capita.

Bila Indonesia bisa masuk ke kelas “sedang” maka itu adalah kabar baik. Terdapat 65 juta orang Indonesia dengan penghasilan 33% x 4 750 000 rupiah per bulan = 1 500 000 atau 1,5 juta per bulan.

1,5 juta tampak kecil karena kita hitung per jiwa. Jika satu keluarga terdiri dari 4 orang maka 4 x 1,5 juta = 6 juta rupiah per bulan. Tidak terlalu besar untuk ukuran Indonesia. Tidak terlalu kecil juga. Memang sedang-sedang saja.

Kelas Baik

Kelas “baik” ketika nilai ketimpangan n = 1,5 sehingga 25% penduduk penghasilan kurang dari 50% dari rata-rata income per kapita.

Jika Indonesia masuk kelas “baik” maka benar-benar kabar baik di Indonesia. Terdapat 65 juta penduduk Indonesia termiskin dengan penghasilan 50% x 4 750 000 rupiah per bulan = 2 400 000 per bulan (dibulatkan ke atas).

Penghasilan menjadi tampak besar bila kita hitung per keluarga terdiri dari 4 orang maka 4 x 2,4 juta = 9,6 juta rupiah per bulan. Orang-orang termiskin di Indonesia berpenghasilan hampir 10 juta rupiah tiap bulan. Membayangkan saja sudah bisa bikin bahagia. Apalagi menjadi kenyataan.

Perhitungan di atas tidak mengubah kondisi ekonomi Indonesia. Hanya mengubah kesenjangan, mengubah nilai ketimpangan, maka Indonesia bisa menjadi lebih baik. Tentu saja meningkatkan income per capita juga baik.

Dengan penghasilan keluarga termiskin di Indonesia mendekati 10 juta rupiah per bulan maka apa dampaknya dengan penghasilan 10% orang terkaya?

Orang terkaya berpenghasilan sekitar 7 juta rupiah per bulan. Bila satu keluarga terdiri 4 orang maka penghasilan keluarga kaya sekitar 28 juta rupiah per bulan. Mestinya angka ini tidak terlalu besar, pun tidak terlalu kecil. Karena income di sini bisa ditambah dengan pertumbuhan aset dan investasi.

Mari kita ringkas lagi bila Indonesia masuk kelas “baik” dengan kondisi ekonomi yang sama, income per capita yang sama.

25% penduduk (65 juta orang) termiskin berpenghasilan 10 juta rupiah per bulan per keluarga.

10% penduduk (27 juta orang) terkaya berpenghasilan 28 juta rupiah per bulan per keluarga.

Sebuah cita-cita yang bisa kita raih.

Kelas Sangat Baik

Nilai ketimpangan n di bawah 1,5 maka mengantarkan masyarakat masuk ke kelas “sangat baik.”

Dengan cara yang sama, kita bisa menganalisa kondisi kelas “sangat baik.” Tentu saja, hasilnya lebih baik dari kelas “baik.”

Pertumbuhan Ekonomi

Berapakah nilai ketimpangan n terbaik untuk menjamin pertumbuhan ekonomi suatu negara? Tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan ini. Beberapa kajian menunjukkan nilai ketimpangan n di dalam kelas “sedang” dan “baik” adalah yang paling efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sedangkan untuk kelas “sangat baik,” kita tidak bisa mengkaji secara empiris. Karena sampai saat ini tidak ada negara yang masuk kelas “sangat baik.” Hanya komunitas kecil, lebih kecil dari negara, yang bisa mencapai nilai ketimpangan di bawah n = 1,5 (setara G = 0,20).

Ada beberapa dalih yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya: ketimpangan adalah keniscayaan dari pertumbuhan ekonomi. Yang bisa kita buktikan justru sebaliknya. Kita bisa menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang baik justru memperbaiki nilai ketimpangan. Kita bisa membuktikan secara teoritis dan empiris.

Pandemi covid juga menguatkan kesimpulan kita dari arah berbeda. Kegagalan pertumbuhan ekonomi menyebabkan ketimpangan yang memburuk.

Selama pandemi terjadi kontraksi ekonomi, pertumbuhan ekonomi negatif.

Pendapatan orang kaya turun 10%.

Pendapatan orang menengah turun 15%.

Pendapatan orang miskin turun 25%.

Maka jelas nilai ketimpangan makin buruk. Cara menghitung memburuknya nilai ketimpangan ini sudah saya bahas pada tulisan yang lain.

Terbuka dua jalan untuk memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat kita. Pertama, dengan meningkatkan produktivitas sehingga meningkatkan income per capita. Kedua, dengan memperbaiki nilai ketimpangan sehingga kekuatan produksi terdistribusi dengan adil. Semua jalan solusi di atas membutuhkan kualitas pendidikan yang baik dan merata terbuka untuk seluruh warga.

Bagaimana menurut Anda?

Mengurangi Kesenjangan: Lorenz, Gini, Palma, dan Paman

Tujuan paling penting ke-10 di seluruh dunia adalah: mengurangi kesenjangan. SDG, sustainable development goals, ke-10 adalah reduced inequality – mengurangi ketimpangan. Meski secara urutan menempati posisi 10, mengurangi kesenjangan, adalah prioritas pertama. Seluruh kemajuan peradaban manusia menjadi berarti bila dibarengi dengan pengurangan ketimpangan.

Sekilas, bisa kita lihat pada peta di atas bahwa warna merah mendominasi dunia lalu disusul warna kuning. Dunia berada dalam masalah besar “major challenges” menghadapi ketimpangan. Kita perlu solusi efektif untuk mengatasi ketimpangan ini.

Pada tulisan ini, saya akan membahas ukuran ketimpangan. Di mana, dengan ukuran yang tepat, kita bisa lebih fokus untuk mengimplementasikan strategi besar mengurangi kesenjangan.

Kita akan mulai dari kurva Lorentz – yang dengan baik menampilkan grafik kurva kumulatif sebaran pendapatan atau kekayaan dari suatu populasi. Dari kurva Lorenz kita bisa melihat gambaran ketimpangan di suatu masyarakat. Kemudian rasio Gini melengkapi kurva Lorentz dengan suatu angka unik – summary – yang mencerminkan nilai kesenjangan. Dan Palma melangkah lebih jauh dengan fokus membandingan pendapatan kelas terkaya dengan kelas termiskin di masyarakat. Saya sendiri, Paman APIQ, mengenalkan “nilai ketimpangan” yang merupakan “summary” dari Lorenz, Gini, dan Palma serta memberikan informasi ketimpangan secara intuitif.

Kurva Lorenz

Max Lorenz, pada 1905, menyusun kurva distribusi kekayaan yang kemudian kita kenal sebagai kurva Lorenz.

Kurva Lorenz ini menjadi informasi yang sangat berguna menggambarkan ketimpangan. Pertama kita perlu menyusun data kekayaan, atau pendapatan, dari terkecil sampai terbesar. Selanjutnya kita menyusun kurva kumulatif. Agar lebih mudah dibaca maka kita normalisasi sehingga angka-angka pada kurva Lorenz hanya pada rentang 0 sampai dengan 100%.

Rasio Gini

Pada tahun 1912, Corrdano Gini mengusulkan suatu angka yang merupakan summary dari kurva Lorenz, kelak kita kenal sebagai rasio Gini, atau koefisien, atau indeks Gini. Rasio Gini menunjukkan derajat ketimpangan pendapatan, atau kekayaan, dari suatu populasi.

Nilai rasio Gini dalam rentang 0 – 100%. Nilai 0 menyatakan tidak ada ketimpangan sama sekali, kekayaan setiap orang sama besar. Sedangkan 100% atau 1 menunjukkan ketimpangan ekstrem di mana kekayaan terkumpul hanya kepada 1 orang saja.

Misal, sebagai contoh, rasio Gini Indonesia adalah G = 0,385.

Mengacu kurva Lorenz di atas, rasio Gini kita hitung sebagai perbandingan,

G = A/(A + B) = 2A

Keunggulan Gini adalah kita bisa dengan mudah membandingkan Gini suatu negara dengan negara lain. Misal US lebih timpang dari Indonesia karena di US nilai G = 0,480. Bahkan, kita bisa menghitung nilai Gini tanpa harus menggambar kurva Lorenz. Cukup dengan rumus matematika saja.

Sebagai summary, Gini kehilangan makna kurva Lorenz. Dua jenis kurva yang berbeda bisa menghasilkan satu rasio Gini yang sama. Sehingga, ketika kita punya G = 0,385 di Indonesia maka kita tidak bisa menggambarkan kurva Lorenz sebaran pendapatan rakyat Indonesia. (Nilai ketimpangan yang saya kembangkan dapat mengatasi kelemahan ini.)

Rasio Palma

Jose Palma, tahun 2013, mengembangkan rasio 10% orang terkaya terhadap 40% orang termiskin. Kelak, kita kenal sebagai rasio Palma. Pertimbangan Palma adalah 50% kelas menengah cenderung tidak timpang. Sehingga kita perlu fokus kepada sisanya: 10% orang terkaya dan 40% orang termiskin.

Rasio Palma di bawah 1 dianggap sebagai ketimpangan yang baik. Angka ini menunjukkan bahwa pendapatan 10% orang terkaya adalah 4 kali lipat dari pendapatan orang termiskin – mean dari 40% orang termiskin. Berpenghasilan 4 kali lipat tampak, memang, tidak terlalu timpang.

Keunggulan Palma adalah memberi informasi ketimpangan intuitif kepada kita dan fokus kepada kelas terkaya-termiskin. Kesulitannya adalah data kelas terkaya tidak selalu mudah tersedia – orang kaya bisa menyembunyikan kekayaan. Dan Palma tidak memberikan informasi umum untuk seluruh populasi. (Kelemahan ini akan kita atasi dengan formula nilai ketimpangan.)

Nilai Ketimpangan Paman

Saya, Paman APIQ, pada tahun 2020, merumuskan nilai ketimpangan sebagai summary dari Lorenz, Gini, dan Palma serta menampilkan nilai ketimpangan yang intuitif.

Nilai ketimpangan n bernilai lebih besar dari 1. Nilai n ini merupakan estimasi dari pangkat n pada kurva Lorenz. Nilai n = 1 maka kurva linear di mana, bermakna, tidak ada ketimpangan sama sekali. Nilai n = 2 maka terjadi ketimpangan kuadrat di mana kurva Lorenz mengikuti kurva kuadrat. Nilai n = 3 maka terjadi ketimpangan kubik. Secara teori, nilai n bisa besar tak terbatas. Secara praktis, nilai n = 20 adalah sangat timpang sekali – yang sulit terjadi untuk kasus pendapatan atau pengeluaran.

Cara Menghitung Nilai Ketimpangan

Pertama, kita estimasi luas daerah di bawah kurva Lorenz, bisa menggunakan jumlah deret Riemann. Kemudian, luas ini kita bandingkan dengan hasil integral polinom pangkat n. Maka kita peroleh nilai ketimpangan n.

Misal untuk Indonesia, nilai ketimpangan,

n = 2,25

Di mana, ketimpangan di Indonesia lebih timpang dari ketimpangan kuadrat.

Error untuk nilai ketimpangan bisa kita hitung dengan mengestimasi error jumlah Riemann. Secara umum berbanding terbalik dengan banyak data dan berbanding lurus polinomial dengan kecilnya kelas.

Nilai Ketimpangan dan Gini

Bagi Anda yang sudah akrab dengan Gini maka dengan mudah bisa mengkonversi Gini G ke nilai ketimpangan n.

n = (1 + G)/(1 – G)

Dengan demikian, bisa kita katakan, n adalah summary dari G – dan summary dari Lorenz.

Misal untuk US dengan G = 0,48 kita peroleh,

n = (1 + 0,48)/(1 – 0,48) = 2,85

Nilai Ketimpangan dan Palma

10% orang terkaya = K = 10^n – 9^n

40% orang termiskin = M = 4^n

Maka rasio Palma P kita dapatkan dengan menyelesaikan persamaan,

P = K/M

Untuk contoh US dengan n = 2,85 maka kita peroleh,

P = 3,5

Nilai P di atas 1 menunjukkan adanya ketimpangan di US.

Saling Terhubung

Nilai ketimpangan n meyakinkan kita bahwa Lorenz, Gini, dan Palma adalah saling terhubung. Ketika kita memiliki salah satu data dari data-data tersebut maka kita bisa menghitung data lainnya secara tepat.

Saling keterhubungan ini bisa kita manfaatkan untuk menguji konsistensi beragam metode statistik untuk membaca, dan mengurangi, ketimpangan di dunia. SDG Report memanfaatkan Gini dan Palma, yang sejatinya, merupakan satu kesatuan. Hal ini sah-sah saja, menunjukkan SDG Report memberi bobot besar terhadap ukuran ketimpangan ini. Bahkan SDG Report juga bisa menambahkan nilai ketimpangan n sebagai indikator.

Kita berharap kesenjangan di dunia lebih mudah kita baca dengan ukuran yang mudah dan tepat. Untuk kemudian kita bersama-sama mengurangi kesenjangan dunia ini.

Bagaimana menurut Anda?

Kampanye MBDK Basmi Covid

Saat ini kita menghadapi, lagi, lonjakan pandemi. Hari kemarin, penambahan kasus baru melebihi 13 000 orang sakit. Menjadi yang tertinggi sejak Februari 2021 ini.

Apa solusinya?

Kampanye MBDK untuk membasmi pandemi covid.

MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras

Nilai Reproduksi R

Saya meneliti nilai R, reproduksi, covid-19. Nilai R tidak pernah konsisten di bawah 1. Artinya, virus corona masih terus menyebar dan melonjak. Bahkan nilai R sejak awal Juni sampai akhir Juni 2021 ini terus menanjak. Mencapai R = 1,25 yang sangat tinggi. Waspada.

Nilai magnitude M = 260 hari menunjukkan bahwa kita perlu waktu 260 hari untuk meredakan pandemi – dengan catatan konsisten mereda. Hampir 9 bulan waktu yang kita butuhkan. Waktu yang terlalu lama untuk bisa konsisten. Maka saya menduga pandemi ini sulit mereda dalam waktu 1 atau 2 tahun ke depan. Kita perlu beradaptasi. MBDK bisa kita kampanyekan – ditambah prokes tentunya.

Vaksinasi terus berjalan. Saat ini kisaran 12 juta orang yang telah divaksin. Dengan kecepatan seperti sekarang ini, barangkali perlu waktu 5 tahun untuk meyelesaikan vaksin di Indonesia. Perlu inovasi serius. Sementara, penularan virus disertasi mutasi terus melaju.

Mengapa MBDK?

Kampanye MBDK menjadi andalan kita. Tugas sederhana tapi tidak mudah – MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

Seperti saya tulis pada tulisan saya sebelumnya bahwa makan bersama melanggar semua prokes. Di saat yang sama, makan bersama, sangat bahaya terjadi penularan virus corona. Droplet virus corona bertebaran di mana-mana.

Pertama, makan bersama pasti tidak pakai masker. Melanggar prokes untuk pakai masker.

Kedua, makan bersama tidak menjaga jarak. Mereka berdekatan akrab. Melanggar prokes jaga jarak.

Ketiga, makan bersama tidak cuci tangan berulang kali. Sebelum makan bisa saja cuci tangan. Tetapi ketika makan satu sendok bisa saja droplet berhamburan. Sendokan kedua dan seterusnya tidak cuci tangan. Maka melanggar prokes cuci tangan.

Singkatnya, makan bersama harus dihindari. Makan bersama adalah kejadian “tipping point” yang membuka lonjakan kasus di mana-mana.

Beberapa hari lalu saya baca berita. Di jatim, Madiun, ada hajatan nikahan yang menerapkan prokes. Harus pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, bahkan semua dicek dengan termo gun – cek suhu badan. Tetapi apa artinya bila ada makan bersama di hajatan nikahan itu?

Dari 240 orang yang hadir di hajatan itu 60 orang di antaranya dinyatakan positif covid-19. Beberapa hari kemudian, yang positif masih bisa bertambah lagi.

Mari kampanyekan MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras!

Bagaimana menurut Anda?

Ketimpangan Ekonomi: Gini Sampai Palma

Masalah ketimpangan ekonomi dan ketimpangan sosial terjadi di berbagai belahan dunia – termasuk di Indonesia. Solusinya sudah jelas: peningkatan kualitas pendidikan dan pemerataan pendidikan yang terbuka, gratis, untuk seluruh warga. Meski solusi ini tampak jelas, nyatanya, banyak negara gagal menyelesaikan ketimpangan ekonomi – dan sosial.

Laporan SDR di atas menunjukkan bahwa peta dunia didominasi warna merah – terdapat masalah besar. Disusul warna kuning dan jingga – terdapat masalah nyata. Dan hanya sedikit yang berwarna hijau – berhasil menekan ketimpangan.

Indeks Rasio Gini

Ketimpangan ekonomi sering kita nyatakan dalam rasio Gini = G. Di mana makin besar G menunjukkan ketimpangan makin besar. Nilai G berkisar dari 0 sampai 100%. Untuk Indonesia indeks G = 50,48 – sesuai SDR di atas. Sementara BPS, statistik resmi dalam negeri Indonesia, menyatakan G = 38,5.

Perbedaan di atas karena SDR menerapkan koreksi untuk 10% orang terkaya. Akibatnya, indek G Indonesia melonjak setelah dilakukan koreksi.

Saya sendiri mengembangkan nilai ketimpangan = n untuk mengukur ketimpangan. Nilai n bisa kita hitung langsung dari data mentah misal kurva Lorentz. Kita bisa juga langsung menghitung dengan konversi dari indeks G.

G = 38,5 setara n = 2,25
G = 50,48 setara n = 3,04

Makna nilai n = 2,25 di Indonesia adalah grafik kurva pendapatan rakyat Indonesia mirip dengan grafik polinom pangkat n = 2,25 (kurva Lorentz). Maka kurva ini bermakna bahwa ketimpangan di Indonesia lebih buruk dari ketimpangan kuadrat. Lebih buruk dari kuadrat – pangkat n = 2.

Sementara bila kita mempertimbangkan koreksi dari SDR maka n = 3,04. Hal ini menunjukkan bahwa ketimpangan ekonomi di Indonesia lebih buruk dari ketimpangan kubik. Lebih buruk dari ketimpangan pangkat 3.

Benar-benar tugas besar yang harus kita temukan solusi terbaiknya. Menjadi tugas lebih besar lagi bila kita mempertimbangkan jumlah orang miskin di Indonesia sekitar 20 % (pendapatan di bawah 15 000 rupiah per hari).

Rasio Palma

Palma membandingkan pendapatan 10% orang terkaya dengan 40% orang termiskin. Makin kecil rasio Palma maka makin bagus. Kita bisa mengatakan bila rasio Palma P di bawah 1 maka cukup baik. Sementara SDR menetapkan P = 0,9 sebagai target warna hijau.

Kita bisa menghitung Palma langsung dengan nilai ketimpangan n yang kita peroleh di atas.

Dengan P = 1,6 tentu saja itu ketimpangan yang buruk. Bila kita mempertimbangkan koreksi SDR maka memberikan hasil lebih buruk dengan P = 4,4. Makin memprihatinkan.

Nilai n memudahkan kita untuk menghitung rasio Palma 1% terkaya dibanding dengan 4% termiskin. Kita sebut P(1/4). Bisa juga 0,1% terkaya dibanding dengan 0,4% termiskin P(0,1/0,4).

P(1/4) kita peroleh:

Nilai P = 534,779 yang, jauh di atas 1 ini, sulit kita lukiskan maknanya dengna kata-kata. Lebih ekstrem lagi, nilai P(0,1/0,4) berikut ini.

Untuk menghibur diri, kita bisa menghitung Palma perbandingan 20% orang terkaya dengan 80% orang termiskin. P(20/80) memberi hasil di bawah 1 meski masih di atas 0,9 standar SDR.

Kita bisa membacanya sebagai kelas menengah Indonesia ternyata tidak terlalu kaya. Yang benar-benar kaya adalah kelas super kaya saja.

Tugas Siapa

Sesulit apa pun masalah ketimpangan ekonomi ini maka tugas kita untuk menemukan solusinya sebagai manusia beradab. Tugas pemimpin untuk mengarahkan rakyat meraih keadilan sosial. Tugas rakyat untuk taat kepada pemimpin demi maslahat. Tugas cendekiawan untuk menerawang masa depan di masa sekarang.

Bagaimana menurut Anda?

Kampanye MBDK Lagi

Lonjakan pandemi covid kembali mengancam Indonesia. Beberapa hari terakhir peningkatan kasus positif baru sangat tinggi. Mendekati 10 ribu kasus baru dalam sehari.

Saya mengusulkan lagi “Kampanye MBDK” untuk meredakan pandemi. MBDK adalah Makan Bersama Dilarang Keras.

Melanggar MBDK adalah melanggar semua protokol kesehatan. Dampaknya, resiko penyebaran corona menjadi menggila. Mari kampanyekan MBDK, prokes, dan meningkatkan imunitas.

Kita perlu mempertimbangkan resiko yang bisa terjadi seperti di India misalnya. Satu hari, waktu itu, penambahan kasus baru bisa melebihi 400 ribu orang. Tentu rumah sakit tidak cukup. Dokter tidak memadai. Layanan kesehatan gagal jalan. Korban meninggal ribuan nyawa melayang. Kita tidak ingin pandemi yang ngeri terjadi.

Perhatikan juga negara tetangga kita, Malaysia. Saat ini, mereka terpaksa lock down total. Pandemi mengamuk tak terkendali. Malaysia benar-benar bersebelahan dengan kita, Indonesia.

Ayo lindungi diri, lindungi keluarga, dan lindungi negara dari pandemi. Ayo kampanyekan MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

Solusi Pandemi

Solusi pandemi ada 3 fokus – seperti pernah saya tulis setahun yang lalu. Solusi ini tampak mudah saja tapi, nyatanya, tidak semudah yang dikira.

A. Manajemen Perilaku

Solusi manajemen perilaku adalah solusi terbaik. Semua orang bisa melakukan manajemen perilaku bagi dirinya sendiri dan membantu orang terdekatnya. Pemerintah sudah meng-kampanyekan 3M: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun. Atau lebih lengkap kita perlu taat sesuai prosedur kesehatan – prokes.

Kampanye MBDK adalah kampanye prokes sesuai anjuran pemerintah dan para pakar. Melanggar MBDK berdampak melanggar prokes dengan resiko tertular corona sangat besar.

Orang yang makan bersama, tentu, melanggar prokes maka harus dilarang keras.

Pertama, tidak memakai masker. Orang yang makan bersama melepas maskernya ketika makan.

Kedua, tidak menjaga jarak. Orang yang makan bersama ingin akrab dengan berdekat-dekatan.

Ketiga, tidak mencuci tangan secara berulang. Sebelum makan, mereka bisa cuci tangan. Tapi ketika makan bersama, droplet bertebaran ke mana-mana. Mereka tidak cuci tangan. Berulang-ulang suapan, mereka tidak cuci tangan.

Patuhi MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

B Inovasi Percepatan Kesembuhan

Para ahli kesehatan – dan terapis – bisa mengembangkan inovasi untuk mempercepat kesembuhan para pasien yang terinfeksi covid. Berbagai jenis obat, terapi, dan vaksin terus dikembangkan.

Vaksin mempunyai peran ganda. Di satu sisi menguatkan perilaku masyarakat untuk tidak mudah tertular covid. Di sisi lain, diharapkan, bisa menyembuhkan orang yang sakit. Setidaknya, meringankan gejala bagi mereka yang terinfeksi.

C Kepemimpinan Efektif

Pandemi bukan sekedar urusan pribadi. Pandemi adalah tanggung jawab sosial. Maka kita perlu pemimpin yang efektif. Di saat yang sama, kita perlu rakyat yang bersikap patuh kepada pemimpin. Kita perlu kepemimpinan yang efektif.

Pandemi tidak bisa diselesaikan oleh seorang diri. Bahkan superman tidak akan mampu menyelesaikan pandemi. Meski pun dibantu batman, ironman, sampai spiderman tidak akan bisa menyelesaikan pandemi. Kita perlu bergerak selangkah seirama dalam kepemimpinan yang efektif untuk membasmi pandemi.

Dan solusi sederhana bagi kita: mari kampanyekan MBDK lagi!

Bagaimana menurut Anda?

Solusi Kemiskinan dengan Cepat Kaya

Kemiskinan adalah masalah utama di dunia ini. Di Indonesia kemiskinan makin memburuk. Di seluruh belahan dunia juga, kemiskinan, tampak memburuk. Barangkali keterpurukan rakyat miskin ini merupakan dampak dari pandemi covid yang berkepanjangan.

Di sisi lain, banyak orang-orang kaya yang melonjak menjadi super kaya. Apakah bisa, cara melipatgandakan kekayaan orang-orang kaya itu, diterapkan untuk mengentaskan kemiskinan dunia?

“Hanya” dengan merger, bergabung, Gojek dan Tokopedia kekayaan Nadiem berlipat sampai 321 kali lebih besar menjadi 4 Trilyun rupiah lebih. Sedangkan kekayaan William berlipat 500 kali lipat lebih besar menjadi mendekati 5 Trilyun rupiah. Sepertinya, tidak sulit meningkatkan kekayaan orang kaya menjadi super kaya seperti kisah di atas. Pertanyaan masih di depan kita, apakah ada cara yang mirip untuk mengentaskan kemiskinan sedikit membaik menjadi kelompok orang menengah?

Kemiskinan Dunia

Sebelum pandemi, kita optimis akan mampu mengatasi kemiskinan. Data global, dunia, menunjukkan jumlah orang miskin makin mengecil.

Mungkin gambar teks yang menyatakan 'The estimated number of poor spiked globally due to the pandemic Historical data and projections of the number of people living in poverty from 2015 to 2021, in millions. Historical Pre-pandemic projection 741 740 Pandemic projection More severe projection 700 752 660 689 731 620 645 580 2015 '16 '17 '18 588 '19 '20 Source: World Bank 2021 Note: Extreme poverty is measured as the number of people living on less than $1.90 per day. 2017 is the last year with official global poverty estimates. NICK MOURTOUPALAS/THE WASHINGTON POST'

Tahun 2015 jumlah orang miskin 741 juta jiwa, turun menjadi 689 juta jiwa, dan akan turun terus tinggal 645 juta jiwa, proyeksi 2019. Kabar baik ini terhempas dengan pandemi covid-19. Proyeksi optimis bahwa 2021 turun menjadi 588 juta jiwa tidak bisa menjadi nyata. Justru, estimasi 2021 kemiskinan melonjak menjadi 731 juta jiwa. Bahkan bisa melonjak menjadi 751 juta jiwa, yang lebih buruk dari tahun 2015 itu.

Kemiskinan di Indonesia

Kondisi kemiskinan di Indonesia tampaknya tidak jauh beda dengan kondisi global. Sebelum pandemi kita optimis akan berhasil menangani kemiskinan. Ketika pandemi datang, harapan melayang.

Mungkin gambar satu orang atau lebih dan teks yang menyatakan 'PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2020 Berita Resmi Statistik No. 16/02/Th. XXIV, 15 Februari 2021 Jumlah (Juta Orang) dan Persentase Penduduk Miskin 28,17 28,60 28,28 28,59 27,73 28,51 28,01 27,76 27,77 11,36% 11,46% 26,58 25,95 25,67 11,25% 10.96% 11.22% 25,14 27.55 26,42 24,79 11,13% 10.86% 10.70% 10.64% 10.12% 9.82% 9,66% 0.19% 9,78% 9.41% 9.22% Maret 2013 Sept 2013 Maret 2014 Sept Maret 2014 2015 Sept 2015 Maret 2016 Sept 2016 Maret 2017 Sept 2017 Maret 2018 Sept 2018 Maret 2019 Sept 2019 Maret 2020 Sept 2020'

Pada tahun 2020 ada lebih dari 27 juta jiwa penduduk Indonesia di bawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan Indonesia di kisaran 550 ribu rupiah. Atau ada lebih dari 27 juta orang di Indonesia yang penghasilannya kurang dari 550 ribu rupiah per bulan. Setara dengan penghasilan kurang dari 20 ribu rupiah per hari. Berapa biaya kamar kost di kota kecil, kota kabupaten? Di kisaran 550 ribu juga per bulan. Penghasilan mereka hanya cukup untuk sewa kost 1 kamar.

Analisis internasional memberikan hasil yang berbeda. Dengan batas kemiskinan 1,9 dolar maka hanya ada 2,42% penduduk Indonesia yang miskin. Tetapi batas ini terlalu ekstrem miskinnya. Kita bisa mempertimbangkan batas kemiskinan di 3,20 dolar per hari. Maka ada hampir 20% penduduk Indonesia yang miskin. Lebih dari 50 juta jiwa di Indonesia adalah miskin.

Mari kita cermati makna 3,2 dolar per hari.

Asumsikan 1 dolar setara 14 000 rupiah. Daya beli dolar di Indonesia (PPP) sekitar 3 kali lipat dari US.

Maka 3,2 dolar bermakna bagi orang Indonesia sebagai:

3,2 x 14 000 x (1/3) = 14 933 rupiah = 15 000 rupiah

Makna 15 000 rupiah ini tidak jauh beda dengan analisis dalam negeri yang sekitar 18 000 rupiah. Namun hasil akhir jumlah orang miskin beda dengan signifikan. Analisis dalam negeri menunjukkan ada 10% orang miskin (setara 27 juta jiwa). Sedangkan analisis internasional menunjukkan hampir 20% penduduk miskin (setara sekitar 50 juta jiwa). Barangkali perlu kajian lebih mendalam untuk mengungkap perbedaan di atas. Bisa saja ada asumsi yang beda.

Solusi Kemiskinan

Mari fokus kepada solusi kemiskinan. Cara cepat kaya yang berhasil mengantar Nadiem dan William melonjak kekayaannya sampai 500 kali lipat seperti di atas, tampaknya, sulit sebagai solusi mengentaskan kemiskinan. Karena kekayaan orang super kaya itu bisa melonjak lantaran disumbang oleh orang-orang miskin – dan menengah. Jutaan orang pengguna Gojek dan Tokopedia adalah yang menyumbang valuasi saham jadi melonjak.

Chomsky, pemikir US usia 92 tahun, menyebut fenomena semacam itu sebagai “transfer” kekayaan dari orang miskin ke orang kaya – secara legal formal tentunya. Kadang Chomsky menyebutnya sebagai “perampokan” kepada orang miskin oleh orang kaya. Barangkali istilah “transfer” lebih lembut.

Maka kita perlu merumuskan beragam cara mengentaskan kemiskinan. Berikut ini beberapa ide dari saya.

  1. Kualitas pendidikan yang merata. Apalagi Mas Nadiem saat ini sebagai mendikbudristek. Maka Nadiem punya kesempatan besar untuk mengentaskan kemiskinan dengan memperbaiki kualitas dan kuantitas pendidikan. Saya sendiri lebih fokus kepada inovasi pendidikan matematika.
  2. Pemerataan kekayaan dan pekerjaan. Ketimpangan ekonomi di Indonesia makin menjadi-jadi dengan rasio Gini = 0,385 – yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Saya sendiri mengembangkan cara menghitung nilai ketimpangan n = 2,25 yang menggambarkan ketimpangan penghasilan orang Indonesia mengikuti kurva pangkat n = 2,25. Lebih buruk dari ketimpangan kuadrat. Sementara ketimpangan kekayaan sampai n = 10. Program pemerataan bisa dengan sistem pajak yang fokus substansi, koherensi, dan transparansi. Termasuk inovasi program amal.
  3. Revolusi digital. Kita baru memasuki era digital maka perlu memanfaatkan revolusi digital untuk mengentaskan kemiskinan – bukan menambah kemiskinan. Peluang besar terbuka luas di hadapan kita. Secara personal, kita, dan generasi muda, perlu belajar banyak untuk mencontoh sukses pengalaman Mas Nadiem, William Tanujaya, Ahmad Zaky, dan para enterpreneur digital lainnya. Secara sistem, kita perlu menjamin bahwa revolusi digital meningkatkan keadilan bagi seluruh rakyat. Majulah Indonesia.

    Bagaimana menurut Anda?

Kampanye MBDK

Kita memerlukan kampanye MBDK untuk mengatasi pandemi covid. Semoga kita segera mampu mengendalikan pandemi. Covid-19 mereda di negeri ini dan seluruh dunia. Harapan yang tidak mudah menjadi kenyataan.

MBDK : Makan Bersama Dilarang Keras

Kita sudah tahu dengan pasti solusi pandemi adalah pembatasan mikro dengan menerapkan 3M: Memakai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan pakai sabun. Vaksin memberi kekuatan tambahan untuk menghadapi pandemi.

Gagal MBDK

Kegagalan MBDK menyebabkan lonjakan kasus covid di berbagai tempat, diduga kuat. Kantor-kantor di DKI yang sudah menerapkan prokes tetap menjadi kluster penularan covid. Tenaga medis yang lebih ketat dalam prokes tetap tertular corona. Guru-guru ke sekolah tanpa ada siswa tetap sakit corona. Pejabat yang sudah divaksin pun bisa terinfeksi covid.

Melanggar MBDK berarti melanggar semua 3M dengan bahaya tingkat tinggi. Makan bersama harus dilarang keras!

3M - Masyarakat Umum | Covid19.go.id
  1. Makan bersama pasti melepas masker. Melanggar aturan pertama yang seharusnya pakai masker.
  2. Makan bersama tidak menjaga jarak. Umumnya, makin dekat makin akrab. Apalagi sambil bincang-bincang dan tertawa gembira. Melanggar aturan menjaga jarak.
  3. Makan bersama tidak mencuci tangan berulang kali. Barangkali sebelum makan, bisa saja, mencuci tangan pakai sabun. Ketika makan sambil ngobrol maka droplet ada di mana-mana. Mereka tidak mencuci tangan lagi, berulang-ulang. Melanggar aturan mencuci tangan.

Kampanye MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras kita mulai dari lingkungan terdekat kita. Meluas ke berbagai lokasi. Dan tentu saja peran pemimpin sangat kita nantikan dalam kampanye MBDK. Kita butuh pemimpin yang benar untuk menghadapi pandemi. Kita perlu mematuhi pemimpin yang benar.

Tentu saja makan bersama diijinkan untuk sesama anggota keluarga di rumah.

Bagaimana menurut Anda?

Indonesia Berkelanjutan: Bisa?

Tentu bisa. Bagaimana kita bisa yakin bahwa Indonesia bisa berkelanjutan? Pasti. Karena keberkelanjutannya Indonesia ada di tangan kita. Rakyat yang berkomitmen untuk merawat persatuan, kemajuan, dan keadilan menjamin Indonesia akan terus berkelanjutan sampai masa depan. Semoga.

Lima Kriteria Untuk Barang/Kemasan Berkelanjutan – Rahyang Nusantara

Orang-orang bisa saja ragu dengan masa depan Indonesia. Pandemi covid telah meruntuhkan pertumbuhan ekonomi negeri ini. Pun juga mengancam kesehatan dan nyawa banyak jiwa. Jumlah orang miskin melonjak. Ketimpangan makin nyata. Ditambah lagi kasus korupsi negeri ini makin ngeri. Sementara KPK, lembaga anti korupsi, sibuk dengan kasus TWK yang kontroversial itu.

Belum lagi dunia pendidikan. Sekolah kita sudah libur lebih dari satu tahun. Betapa besar kerugian kita?

Bagaimana pun kita tetap bisa optimis. Kita akan berhasil melewati pandemi dengan baik. Kita akan mengatasi beragam kesulitan dalam negeri dengan seluruh kemampuan yang kita punya.

Solusi ada di Tangan Kita

Memang benar solusi ada di tangan kita, ada di tangan manusia. Terasa begitu mudah bila solusi ada di tangan kita. Nyatanya tidak semudah itu. Karena ada banyak tangan di Indonesia. Ada jutaan kepala di Indonesia. Ada tumpang tindih kepentingan dari banyak pihak.

Kita memerlukan suatu gambaran besar solusi yang utuh dan representatif. Kemudian masing-masing dari kita fokus kepada masing-masing peran untuk memberi kontribusi. Berikut ini, kita akan mendiskusi 6 transformasi yang bisa kita pertimbangkan untuk membangun Indonesia yang berkelanjutan.

Kesetaraan Pendidikan dan Gender

Transformasi pendidikan menjadi yang berkualitas dan bisa diakses oleh seluruh penduduk, merata, di seluruh penjuru. Menjamin kesetaraan semua umat manusia baik yang berbeda jender, suku, agama, ekonomi, atau apa pun.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan saya mengembangkan metode belajar matematika yang asyik dan terbukti berhasil meningkatkan kualitas pendidikan matematika. Baik untuk siswa mau pun guru dapat memanfaatkan metode matematika apiq yang kreatif ini. Barangkali Mas Nadiem berminat menerapkan metode dan sistem pendidikan APIQ secara nasional, silakan saja, saya siap mendukung.

Sedangkan untuk menjangkau pendidikan berkualitas sampai pelosok saya menyiapkan tool dan sistem yang bisa diterapkan sampai pelosok negeri. Tentu perlu proses, waktu dan energi, untuk menerapkannya. Dan tetap terbuka dengan ide-ide improvement.

Makin banyak orang yang berjuang memajukan pendidikan dan kesetaraan di negeri ini maka makin besar peluang kita untuk membangun Indonesia berkelanjutan.

Kesehatan dan Demografi

Kita beruntung mendapat bonus demografi sampai beberapa puluh tahun ke depan. Jumlah usia produktif jauh lebih besar dari usia tidak produktif. Dua kali lebih besar atau lebih. Sehingga, ketika usia produktif ini benar-benar memproduksi jasa dan barang yang bernilai maka Indonesia segera maju dengan pesat.

Sayangnya, bonus demografi ini belum sempat kita optimalkan, kita sudah berhadapan dengan pandemi. Sehingga pengangguran melonjak. Orang-orang yang bekerja kehilangan pekerjaan. Anak-anak muda yang mencari pekerjaan makin sulit mendapatkan kerja. Pengangguran, dan kemiskinan, yang melonjak membahayakan bagi keberlanjutan Indonesia.

Maka kita perlu strategi khusus untuk benar-benar memanfaatkan bonus demografi ini. Saya sendiri berusaha menciptakan lapangan kerja dengan menciptakan instruktur profesional dalam bidang matematika kreatif. Dan saya membimbing banyak orang untuk menjadi youtuber edukasi, youtuber dengan konten positif. Dan tentu saja, kita perlu strategi yang lebih besar dengan hasil yang lebih besar. Bonus demografi semoga benar-benar menjadi bonus kemanusiaan.

Kesehatan benar-benar penting. Lebih-lebih di masa pandemi ini. Kita mengalami defisit anggaran menembus angaka 1000 trilyun di masa pandemi ini. Bukankah itu ngeri? Kita benar-benar perlu solusi. Seandainya pandemi covid-19 bisa diatasi, apakah kita sudah bersiap-siap potensi munculnya covid-21 atau covid-25?

Energi Tanpa Karbon dan Industri

Polusi udara oleh pabrik dan kendaraan bermotor mengancam alam Indonesia. Ditambah lagi kebakaran hutan. Membalik fungsi hutan sebagai paru-paru bumi menjadi perusak sistem pernafasan bumi. Bukan alam yang salah. Tetapi perilaku manusia yang menyebabkan kerusakan alam. Karbon dioksida yang ramah lingkungan, karena terlalu banyak, malah merusak lingkungan.

Mobil listrik saat ini sedang keren. Ditambah mobil listrik tidak mengeluarkan karbon dioksida. Maka banyak yang menganggap mobil listrik ramah lingkungan, benarkah? Tidak juga. Mobil listrik hanya memindahkan karbon dioksida. Yang semula menyembur dari knalpot, pada mobil bahan bakar biasa, menjadi menyembur di pembangkit listrik. Digunakan untuk mengisi batere mobil listrik.

Alternatifnya, kita perlu mengembangkan sumber energi yang ramah lingkungan misal energi matahari dan angin. Barangkali membajak sawah bisa memanfaatkan tenaga sapi seperti masa kakek-kakek kita? Saat ini banyak petani memanfaatkan mesin diesel yang tentu menambah karbon dioksida. Namun lebih banyak lagi karbon dioksida dari industri dan kendaraan di pusat kota. Kita memerlukan solusi komprehensif mengembangkan sumber energi yang terbebas dari karbon.

Makanan, Air, dan Laut Berkelanjutan

60% produk makanan (dan minuman) kemasan yang beredar di Indonesia adalah tidak sehat. Demikian berita tentang pabrik makanan yang berkelas internasional.

Indonesia memiliki tanah yang subur super luas. Maka kita punya potensi besar untuk kembali memproduksi makanan dan minuman sehat dari bumi ini. Kita punya IPB, Institut Pertanian Bogor, sebuah universitas yang fokus mengembangkan pertanian. Tiba saatnya, sekarang ini, penduduk Indonesia untuk meninggalkan makanan kemasan yang tidak sehat dan kembali ke makanan sehat asli negeri ini.

Belum lagi bila kita ingat sampah plastik dari kemasan makanan dan minuman begitu mengerikan. Beberapa tahun lalu, Bu Menteri Susi pernah menunjukkan bergunung-gunung sampah sedotan plastik di pantai dekat Jakarta. Sudah tidak sehat, makanan kemasan itu, juga merusak lingkungan. Ekosistem air dan tanah, juga laut, menjadi tercemar.

Beda dengan makanan sehat asli hasil bumi. Makanan hasil bumi menjadikan tubuh sehat. Dan sampahnya adalah sampah organik yang menjadi pupuk bagi bumi. Di saat yang sama, pohon, yang menghasilkan makanan sehat, juga menjaga air dalam tanah tetap seimbang.

Kita butuh program besar-besaran, strategi dan perencanaan matang, untuk kembali hidup sehat dengan produksi dan konsumi makanan sehat. Serta menjaga bumi, air, dan laut kita. Kita perlu menjaga Indonesia yang berkelanjutan.

Kota, Komunitas, dan Politik

Setiap wilayah tampak ber-evolusi menuju kota. Desa, lambat laun, berubah menjadi kota. Penduduk desa berbondong-bondong urbanisasi pindah ke kota. Dinamika kota merupakan dinamika yang wajar. Bahkan bisa jadi dinamika itu menunjukkan tanda kemajuan peradaban.

Masalah muncul ketika keseimbangan kota tidak lagi terjaga.

Kehidupan perlu berkembang lebih beradab dengan menjadi kota. Di saat yag sama perlu mempertahankan kehidupan yang arif nan bijak warisan leluhur kita dari desa. Hidup bersama membentuk komunitas saling memberi dan menerima. Konsekuensinya, pentingnya berkembang sistem politik yang bermartabat.

Sistem politik, yang awalnya adalah sarana bagi manusia hidup bersama selangkah seirama, dibelokkan demi kepentingan politik segelintir oknum. Politik menjadi alat untuk menindas manusia, untuk menumpuk kekayaan, dan untuk beragam keburukan besar. Kita perlu membangun kembali sistem politik yang sehat demi Indonesia yang berkelanjutan.

Revolusi Digital

Bertransformasi dengan memanfaatkan revolusi digital adalah kepastian di jaman milenial. Pandemi menyadarkan kita dengan terang-benderang. Sekolah tutup. Bisnis bangkrut. Dunia digital justru melejit sukses dengan adanya pandemi covid-19. Muncul milyuner-milyuner baru dari dunia digital.

Kita tahu bahwa revolusi digital membawa kebaikan dan keburukan. Maka kita perlu menjaga agar revolusi digital membawa manfaat besar bagi kemanusiaan berkelanjutan. Sementara, resiko revolusi digital bisa kita cegah atau, setidaknya, bisa kita minimalkan. Strategi dan perencanaan yang matang kita butuhkan sepenuhnya.

Tujuan Berkelanjutan

Para pemimpin di belahan dunia, tentu saja, telah menyadari pentingnya peradaban kemanusiaan yang berkelanjutan. Mereka telah meyusun 17 goal yang dikenal dengan SDG: Sustainable Development Goals. Kita terbantu mendapat panduan arah yang jelas dengan SDG ini. Bahkan SDG sudah melengkapi dengan beragam indikator. Sehingga kita bisa mengukur pencapaian SDG negara kita. Lalu membandingkan kemajuan tahun demi tahun. Dan kita juga bisa belajar dari keberhasilan negara-negara lain.

SDG paling utama, ke-1, adalah menghapus kemiskinan atau no poverty. Sampai SDG ke-17 adalah kemitraan, partnership, untuk mencapai beragam goal.

Indonesia berada pada urutan ke 101 dari 166 negara di dunia. Dari 17 SDG tidak satu pun berwarna hijau. Artinya tidak ada satu pun SDG yang berhasil dicapai oleh Indonesia. Perlu perjuangan lebih serius.

3 Kuning : masih ada tantangan (pendidikan, produksi konsumsi, iklim)
7 Jingga : masih ada tantangan penting (kemiskinan, jender, ekonomi, kota komunitas, bawah air, keadilan)
7 Merah : masih ada tantangan besar (kelaparan, kesehatan, air sanitasi, industri inovasi, ketimpangan, bumi, partnership)

Potret Indonesia seperti di atas tentu menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh warga Indonesia. Lebih-lebih, masalah ini menjadi tugas berat bagi para pemimpin Indonesia yang peduli dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagaimana menurut Anda?

Palestina Israel: Solusi Sementara Permanen

Sungguh memilukan. Palestina menjalani ibadah Ramadhan dalam situasi mencekam. Bahkan sampai lebaran telah ratusan atau ribuan jiwa, warga Palestina, menjadi korban perang 2021. Di sisi Israel, juga sama memilukannya. Saat warga Israel merayakan hari kepahlawanan nasional, mereka dihujani roket bom. Puluhan jiwa meninggal dan sampai ratusan luka-luka. Kabar baiknya, saat ini sudah berhenti. Gencatan senjata terjadi dengan peran Mesir sebagai penengah. Kita perlu solusi. Untuk dengan pasti, mengakhiri.

MAP_PALESTINE_WEST_BANK

Saya mencoba menuliskan beberapa ide solusi jangka pendek dan solusi jangka panjang di bagian bawah ini. Tidak ada solusi mudah. Pun tidak ada solusi yang bersifat pasti. Karena konflik ini melibatkan perilaku manusia secara luas maka perlu komitmen yang kuat dari semua pihak. Termasuk masyarakat internasional juga perlu mendukung perdamaian secara aktif.

Beberapa konsep berpikir yang perlu kita kembangkan, untuk solusi konflik Palestina Israel, adalah “matinya sejarah,” penolakan metanarasi tunggal, dan dinamika manusia.

Solusi Jangka Pendek

Menjaga perdamaian kawasan adalah solusi jangka pendek. Sambil menemukan akar masalah sebenarnya untuk kemudian diselesaikan dengan baik. Beberapa ahli mengidentifikasi beberapa akar masalahnya adalah: pendudukan, pengusiran, dan ketimpangan.

Baik Palestina mau pun Israel sama-sama menjadi bagian dari masalah ini. Sehingga mereka perlu sama-sama terbuka untuk mendengar suara-suara dari jagat raya.

Menjaga perdamaian adalah mutlak diperlukan. Kemanusiaan bisa berkembang dalam masyarakat yang damai. Tidak ada arti pembangunan bila perang meletus sewaktu-waktu. Berpikir sebaliknya juga perlu dipertimbangkan, “tidak ada perdamaian tanpa keadilan.” Masalah muncul, keadilan seperti apa yang dimaksud? Keadilan versi siapa? Keadilan berdasar aturan apa?

Maka solusi jangka pendek, kita perlukan: menjaga perdamaian. Sambil mencari solusi yang adil, dari beragam sudut pandang, kita konsisten menjaga perdamaian. Bila perlu, melibatkan pasukan perdamaian dari PBB.

Bagi pemimpin politik masing-masing kubu, barangkali perdamaian tidak jadi masalah. Karena ketika pecah perang, korbannya adalah rakyat atau serdadu garis depan. Sehingga perang atau damai tidak secara langsung berdampak ke pemimpin politik – Palestina mau pun Israel. Sebaliknya, perdamaian benar-benar dibutuhkan bagi rakyat pada umumnya.

Pendudukan, dengan dibangunnya pemukiman Yahudi, bisa dilihat jelas dari beragam sudut pandang. Dari sudut pandang Israel, pembangunan pemukiman Yahudi adalah sah dan adil. Daerah pemukiman tersebut adalah wilayah sah dari negara Israel. Sementara, dari sudut pandang Palestina, pembangunan tersebut tidak sah karena di atas wilayah milik warga Palestina yang sudah berlangsung ratusan tahun.

Pengusiran warga Palestina dari rumahnya adalah menjadi dampak dari beberapa pendudukan. Misalnya, yang terbaru, adalah rencana eksekusi perumahan di Syaikh Jarrah, Jerussalem. Mahkamah Agung Israel sudah memutuskan bahwa Syaikh Jarrah adalah milik Israel sehingga warga Palestina yang tinggal di Syaikh Jarrah harus pergi. Tentu saja rencana eksekusi ini ditentang keras oleh warga Palestina. Warga Palestina telah tinggal di Syaikh Jarrah ratusan tahun secara sah, bahkan sebelum ada negara Israel itu sendiri.

Ketimpangan hak juga menjadi dampak – dan sebab konflik. Warga Palestina yang hendak beribadah di kawasan AlAqsa perlu lolos penggeledahan oleh polisi Israel. Sementara, warga Israel yang hendak beribadah di kawasan AlAqsa tidak perlu digeledah oleh polisi Palestina. Hak politik juga timpang. Untuk melaksanakan pemilu, warga Palestina perlu mendapat ijin dari penguasa Israel. Sementara, warga Israel, untuk menyelenggarakan pemilu tidak perlu ijin dari penguasa Palestina. Sekali lagi, kondisi timpang seperti ini tetap ada pembenaran dari beragam sudut pandang. Kita perlu respek, bagaimana pun, terhadap argumen-argumen tersebut.

Saya mengajukan solusi untuk akar masalah di atas adalah konsep berpikir “matinya sejarah,” menolak metanarasi tunggal, dan dinamika manusia.

Matinya sejarah menyatakan tidak adanya sejarah tunggal yang paling benar. Sejarah selalu bisa dibaca ulang dengan sudut pandang yang beragam. Bahkan sejarah selalu berubah lantaran diri kita, dan masyarakat, selalu berubah ketika membaca sejarah – seiring perubahan waktu. Sehingga kita perlu mengembangkan sikap saling hormat kepada pihak lain yang, barangkali, mempunyai sejarah berbeda dengan sejarah kita.

Konsep matinya sejarah bisa kita terapkan untuk Palestina Israel. Semua klaim sejarah yang menyatakan bahwa Israel adalah orang pendosa bisa diragukan. Klaim seperti itu bisa kita pandang dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga kita bisa, dan harus, lebih respek kepada Israel. Demikian juga klaim sejarah terhadap Palestina, yang menyatakan bahwa Palestina adalah orang yang tidak punya hak secara de jure dan de facto, bisa kita ragukan. Dari sudut pandang yang lain, Palestina benar-benar punya hak. Maka kita perlu, dan harus, lebih respek ke Palestina. Denga respek kepada kedua belah pihak maka kita kuatkan perdamaian – sambil menuju keadilan.

Metanarasi tunggal perlu kita singkirkan. Kita perlu membuka lebih banyak narasi yang bisa kita sebut sebagai mikrologi-mikrologi dalam kasus Palestina Israel.

Sekularisasi Agama

Agama begitu kuat mempengaruhi hidup manusia. Di jaman kontemporer, sekularisasi menciptakan gelombang baru gairah kehidupan manusia. Kedua-duanya, sekularisasi dan agama, sama-sama membentuk arah hidup manusia.

Bagaimana agama dan kepercayaan membentuk gerakan peduli lingkungan hidup  di Indonesia

Agama hadir menjadi penerang jalan hidup manusia di dunia ini – dan dunia yang akan datang. Sementara sekularisasi hadir untuk mencerahkan hidup manusia. Membebaskan manusia dari belenggu dogma yang dipandang tidak perlu. Sekularisasi bisa berbenturan dengan agama. Bisa juga mereka, agama dan sekularisasi, berjalan seiring seirama.

Saya akan membahas tema sekularisasi agama, dalam tulisan ini, dari beragam perspektif. Kita perlu mengakui peran positif agama dan sekularisasi. Kemudian, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap resiko penyelewengan dari masing-masing ajarannya – baik agama mau pun sekularisasi. Dan terakhir kita perlu menatap masa depan, yang tidak menentu, dengan berbekal kajian sekularisasi agama.

  1. Peran Agama
  2. Peran Sekularisasi
  3. Peradaban Digital
  4. Solusi Sekularisasi Agama
  5. Konsep dan Praktek Takwaisasi

Peran Agama

Survey terbaru menunjukkan bahwa 84% penduduk dunia adalah beragama. Kita bisa mengatakan bahwa dari 6 orang yang kita temui, 5 orang di antaranya adalah beragama. Sehingga peran agama terhadap kehidupan ini benar-benar besar dan nyata.

Lebih dari sekedar kuantitas, pengaruh agama kepada manusia bersifat sangat intens. Agama menjadi dasar paling pokok bagi manusia. Agama juga memberi arah tujuan masa depan terjauh yang akan dicapai oleh umat manusia. Beda dengan ekonomi, misalnya, hanya mempengaruhi manusia dalam sebagian kehidupan sehari-hari. Politik juga hanya mempengaruhi kehidupan manusia yang berhubungan dengan kekuasaan. Sementara, agama mempengaruhi segala bidang dari masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Ketika kita hendak membangun peradaban maka sepantasnya kita mengkaji dengan teliti pengaruh agama kepada kemanusiaan. Telah banyak ahli yang menkaji agama dari masa lalu. Meski demikian kita tetap perlu mengkaji ulang agama. Lantaran perilaku manusia begitu dinamis sehingga konsep agama pun juga dinamis. Atau timbal balik antara manusia dan agama membentuk sistem dinamis.

Catatan sejarah menunjukkan peran agama mendorong kemajuan peradaban. Yunani Kuno menjadi maju atas peran agama – yang berupa mitologi dewa dan pemikiran filosofis. Selanjutnya kekaisaran Roma begitu kuat dengan mendeklarasikan agama Kristen sebagai agama resmi. Sejak abad 7 M, agama Islam mendorong peradaban Arab menjadi pemimpin dunia. Selanjutnya di era pencerahan, agama Kristen kembali mendorong peradaban Barat memimpin dunia.

Di belahan dunia lainnya, agama juga mendorong kemajuan peradaban. Persia, Mesir, India, Cina, Jepang, dan lainnya menjadi lebih maju dengan ajaran agama yang berkembang di wilayah masing-masing.

Secara pribadi, manusia menemukan hidup lebih bermakna dengan menjalani ajaran agama. Manusia lebih tabah dalam kesulitan, dan lebih bahagia dalam keberlimpahan. Manusia lebih peduli dengan kehidupan sesama, saling membantu, dan saling berbagi. Refleksi diri, menyelami kehidupan pribadi, tiada pernah ada henti. Semua bersumber dari ajaran agama.

Peran Sekularisasi

Sekularisasi sukses mengantarkan peradaban Barat menuju dominasi dunia. Meski konsep sekularisasi bisa kita temukan sejak ribuan tahun yang lalu tetapi bentuk matang sekularisasi hanya bisa kita temukan di era kontemporer ini. Inti dari sekularisasi adalah memisahkan urusan publik – sosial dan kenegaraan – dengan otoritas agama.

Semua urusan publik adalah urusan manusia untuk mengelolanya dengan baik dan manusia bertanggung jawab terhadap konsekuensinya. Dengan cara pandang sekularisasi ini maka manusia menjadi lebih semangat mengembangkan ekonomi, sains, teknologi, dan bidang lainnya. Benar saja, sekularisasi ini mendorong dunia Barat lebih maju dan mencegah peperangan atas nama agama. Sedangkan di dunia Timur, sekularisasi tampaknya tidak sesukses seperti di Barat.

Kita bisa memandang sekularisasi merupakan solusi dari problem agama. Awalnya, agama adalah pedoman hidup bagi manusia untuk mencapai bahagia, seiring waktu, berubah menjadi sistem aturan yang kaku, yang dimanfaatkan oleh penguasa untuk kepentingan mereka sendiri. Sekularisasi bermaksud mendobrak praktek-praktek keagamaan yang mengekang kemanusiaan. Manusia bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Sukses sekularisasi bisa saja bertentangan dengan ajaran agama. Dalam kasus seperti ini paham sekular lebih dekat ke paham agnostik, atau bahkan atheist. Dalam kasus yang berbeda, sekularisasi bisa saja sejalan dengan beragam ajaran agama. Di negara-negara sekular, para pemeluk agama tetap bisa menjalankan ajaran agama dengan bebas dan aman.

Bagaimana pun, manusia bisa tersesat sewaktu-waktu. Bahkan manusia memang mudah tergelincir. Sekularisasi yang awalnya untuk memajukan peradaban kemanusiaan bisa berubah menjadi penjara bagi manusia itu sendiri. Orang yang tidak kenal agama bisa cemas berlebihan ketika menghadapi masalah. Terjerumus dalam kesedihan tanpa seorang pun bisa jadi penolong baginya. Frustasi menutup jalan hidupnya. Bahkan ketika sukses, orang yang tidak kenal agama, bisa juga melampaui batas. Hidup foya-foya tetap hampa. Semua kehilangan makna. Manusia terperangkap dalam lubang yang mereka ciptakan sendiri.

Peradaban Digital

Umat manusia baru saja masuk ke peradaban digital. Banyak prospek baru terbuka. Kemajuan demokrasi dan ekonomi menjadi lebih mudah dengan bantuan media digital.

Benar saja, teknologi digital berhasil melahirkan jutawan-jutawan baru kelas dunia. Di saat yang sama, ketimpangan peradaban digital makin tampak menganga. Negara-negara kaya menikmati kemajuan digital, makin jauh di depan. Sementara, negara miskin makin tertinggal jauh di belakang.

Peradaban digital adalah solusi peradaban yang sekaligus problem peradaban itu sendiri. Dan, tentu saja, agama dan sekularisasi menghadapi beragam problem baru di era digital. Kita akan membahas tema peradaban digital secara khusus.

Solusi Sekularisasi Agama

Agama adalah solusi. Sekularisasi adalah solusi. Tetapi keduanya bisa menjadi problem itu sendiri. Di bagian ini, kita akan mencoba merumuskan beragam solusi sekularisasi agama dengan mempertimbangkan konteks peradaban digital yang mulai mendominasi.

Konsep dan Praktek Takwaisasi

Bagian ini akan fokus ke solusi takwaisasi. Kita akan mencoba membuat formula konsep lebih detil dan beberapa sketsa praktek takwaisasi. Sebagaimana kita pahami, konsep dan praktek ini pun berupa mikrologi. Di mana konsep ini bisa berlaku di satu ruang dan waktu, bersifat mikro, dan perlu ada modifikasi untuk ruang dan waktu yang lain.

Daftar Isi

  1. Peran Agama
    1.1 Agama di Jaman Kuno
    1.2 Agama dan Negara
    1.3 Agama di Jaman Modern
    1.4 Agama di Jaman Digital
  2. Peran Sekularisasi
    2.1 Etika Protestan Max Weber
    2.2 Jiwa Bebas Katolik Taylor
    2.3 Peran Sains dan Teknologi
    2.4 Sekularisasi dan Etika Islam
    2.5 Sekularisasi di Era Digital
  3. Peradaban Digital
    3.1 Esensi Teknologi sebagai Enframing
    3.2 Kekuatan Enframing Digital
    3.3 Agama dalam Enframing Digital
    3.4 Sekularisasi dalam Enframing Digital
    3.5 Manusia dalam Enframing Digital
  4. Solusi Sekularisasi Agama
    4.1 Solusi Agama
    4.2 Solusi Sekularisasi
    4.3 Solusi Takwaisasi
  5. Konsep dan Praktek Takwaisasi
    5.1 Asumsi-Asumsi Solusi
    5.2 Dinamika Realitas
    5.3 Rekomendasi