Gelap Semua

“Sungguh, benar-benar, telah kami ciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk.” (QS 95:4)

Kita, manusia, adalah yang terbaik di alam semesta. Kita adalah ciptaan Allah yang paling sempurna. Allah meniupkan ruh kepada manusia. Manusia adalah wakil Allah untuk mengelola alam semesta. Manusia adalah wakil alam untuk menghadap kepada Allah.

Menjadi Manusia Sempurna (Perspektif Sufi) – ARTIKULA.ID

1. Wakil Tuhan dan Alam
2. Gelap dan Cahaya
3. Gelap Semua
4. Diskusi
5. Penutup

Tetapi, manusia juga makhluk yang lemah, yang mudah berkeluh kesah. Pun manusia mudah tersesat. Terjerat pada nafsu serakah. Teperangkap dalam gelap. Hidup dari satu dosa ke dosa lainnya, terlelap.

1. Wakil Tuhan dan Alam

“Sungguh Aku akan menjadikan khalifah di bumi…” Tuhan memilih manusia menjadi wakilNya di bumi. Tuhan melengkapi manusia dengan sifat-sifat mulia. Manusia bisa berpikir cerdas, menciptakan teknologi segala rupa, dan membangun peradaban. Tuhan menundukkan jagat raya, alam semesta, untuk manusia.

Di bumi, manusia bertugas memakmurkan bumi dan isinya. Tetapi, malaikat pernah meragukan manusia. Ada kecenderungan manusia untuk saling menumpahkan darah, saling bermusuhan dan saling fitnah. Keraguan itu pernah terjadi dalam sejarah. Manusia saling berperang. Padahal, kita seharusnya saling mengenal dan saling mengasihi.

Umat manusia bisa bertobat. Memperbaiki kesalahan masa lalu. Untuk kemudian bersama-sama, bersatu, memajukan alam semesta ini. Semoga Allah menerima taubat kita.

“Dan tidak Aku ciptakan jin manusia kecuali untuk beribadah kepada Ku.” Manusia perlu ingat, sesibuk apa pun kita di alam ini, tugas utama kita adalah beribadah kepada Allah. Bahkan ketika kita berkarya, bekerja, sejatinya, adalah untuk beribadah kepada Allah. Di satu sisi, usaha kita memperoleh pahala, di sisi lain bermanfaat bagi umat manusia.

Sebagai abdi Tuhan, kita mengajak seluruh alam untuk bersama-sama kembali kepada Allah. Mari kita kembali ke jalan yang lurus, jalan yang diridhaiNya.

2. Gelap dan Cahaya

Malam itu, Udin kegelapan dalam kamar yang lampunya tiba-tiba mati. Tanpa sengaja kunci kamar di atas meja terlempar ke dalam gelap. Untung saja, di luar kamar suasana terang-benderang. Lalu Udin pergi ke luar. Dia mondar-mandir mencari kuncinya yang hilang. Tidak ia temukan.

Melihat Udin yang mondar-mandir terus, tetangga bertanya,

“Sedang apa kamu, Udin?”
“Aku sedang mencari kunci kamar yang terjatuh.”
“Di mana jatuhnya?”
“Di dalam kamar.”
“Lalu, mengapa kamu mencarinya di luar kamar?”
“Karena di dalam kamar gelap sekali.”

Tentu saja, kita tahu, Udin tidak akan pernah menemukan kunci itu.

Kita, manusia, sering salah tempat mencari kunci, kunci kebahagian. Manusia mencari kunci kebahagiaan dengan mengumpulkan harta kekayaan. Manusia mengira bahwa ia akan hidup bahagia dengan bergelimang harta. Ternyata tidak. Makin banyak harta makin besar gelisahnya. Makin besar rasa tidak puasnya. Seandainya manusia memiliki segunung emas maka ia akan menginginkan gunung emas kedua. Bila punya dua gunung emas maka ingin tiga. Begitu seterusnya tidak pernah puas. Tidak pernah bahagia.

Harta kekayaan bukan tempat yang tepat untuk mencari kebahagiaan.

Harta kekayaan adalah kegelapan. Maka butuh cahaya untuk menjadikannya terang. Dengan cahaya Tuhan maka harta menjadi bermakna. “Allah adalah cahaya langit dan bumi.”

Harta yang kita persembahkan untuk Allah menjadi jalan kunci bahagia. Harta untuk menyantuni fakir-miskin, yatim-piatu, pendidikan, dan orang-orang yang membutuhkan, menjadi cahaya umat manusia. Cahaya di dunia dan akhirat kelak.

Perlu kita ingat, harta bukan tujuan. Tujuannya adalah beribadah kepada Allah. Bila Anda punya harta maka beribadahlah dengan harta Anda. Tetapi Anda punya akal, pasti, maka beribadahlah dengan akal Anda. Kita punya jiwa maka mari beribadah sepenuh jiwa. Dengan harta atau tanpa harta kita tetap bisa beribadah kepadaNya.

Kita punya harta yang paling berharga: cahaya Tuhan dalam diri kita. Mari kita ikuti bimbingan cahayaNya.

3. Gelap Bersama

Sebagai manusia, jelas, kita tidak hidup menyendiri. Kita hidup secara sosial. Maka kita perlu membangun kehidupan sosial yang penuh cahaya.

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya,” (Q 8:25)

Allah mengingatkan bahwa siksaan tidak hanya terjadi kepada pendosa saja. Bahkan orang yang tidak berdosa bisa terkena dampaknya. Gempa bumi tidak pilih-pilih meruntuhkan hanya rumah maksiat saja. Bahkan rumah ibadah bisa juga kena.

Pandemi covid yang tengah melanda dunia tidak hanya menyerang orang-orang yang memangsa kelelawar di alam liar. Covid juga menyerang petugas kesehatan yang mengabdi kepada masyarakat. Pun menyerang juru dakwah yang mengajak ke arah kebaikan.

Korupsi dana sosial tidak hanya merugikan anggaran negara. Korupsi menyengsarakan rakyat yang sudah sulit kerja, sulit makan, makin sulit terjepit pejabat yang tamak mencuri dana rakyat.

Kegelapan malam menyelimuti seluruh penjuru negeri.

Membangun tatanan sosial yang adil sejahtera adalah tanggung jawab kita bersama. Kita bertanggung jawab sesuai kapasitas masing-masing. Presiden bertugas memimpin seluruh negara lolos dari pandemi dan krisis ekonomi. Menteri bertugas menjalankan program-program pemerintah dengan memberikan hasil nyata. Seniman bertugas “membakar” kesadaran masyarakat. Ilmuwan bertugas “mencerahkan” cakrawala warga. Rakyat bertugas bekerja sesuai bidangnya.

Tidak ada yang menganggur di tatanan sosial kita. Pun tidak diperlukan orang-orang yang nyinyir satu sama lain. Benar saja, kita perlu saling memberi nasehat. “…dan saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.”

Tiap tahun kita memperoleh karunia bulan suci penuh rahmat kasih sayang. Mari buka mata untuk melihat cahaya. Mari buka mata hati untuk menerima cahaya sejati.

4. Diskusi

Mengapa ada kegelapan? Makna-gelap memang beragam. Penyebab gelap adalah tekonologi modern yang mengandalkan angka-angka. Sejatinya, teknologi justru bisa menghasilkan terang cahaya. Tetapi, beberapa manusia mengubah terang teknologi ini menjadi gelap yang menyelimuti.

Teknologi lampu jelas menghasilkan terang cahaya. Kemudian, lampu itu dihitung angka keuntungannya; angka konsumsi; angka produksi; sampai angka kerusakan alam. Pada gilirannya, lampu yang terang itu berdampak pada kerusakan alam yang makin gersang. Teknologi lampu menjadikan alam gelap gulita. Bukannya itu terbalik?

Teknologi AI (akal imitasi – artificial intelligence) menghabiskan energi sangat boros. Energi listrik dari negara miskin dihisap habis-habisan oleh negara kaya melalui AI. Pada gilirannya, negara miskin mau pun kaya sama-sama gelap semua.

Angka-angka telah menyulap manusia menjadi gelap mata. Apa solusi yang tersedia?

5. Penutup

Gelap dan terang adalah niscaya bagi umat manusia. Habis gelap terbitlah terang. Mahasiswa demo “Indonesia Gelap.” Kita menyongsong Indonesia Emas dengan menapaki jalan gelap dan percik cahaya. Bagaimana menurut Anda?

Puasa Agar Berprestasi

“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian semua berpuasa, sebagaimana diwajibkannya atas orang-orang sebelum kamu, agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS 2: 183)

Tujuan berpuasa adalah menjadi orang yang bertakwa. Apa itu takwa? Takwa adalah berprestasi. Tidak sebarang prestasi. Tapi prestasi yang diraih dengan cara menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya.

Takwa Lahir dan Takwa Batin - Sriwijaya Post

1. Takwa dan Tawakal
2. Iman dan Islam
3. Masa Lalu Menuju Masa Depan
4. Diskusi
5. Penutup

Tampak kontradiksi, berkebalikan. Bagaimana orang yang puasa, lemah dan lapar, harus mengejar prestasi? Justru ini adalah rahasia yang perlu kita bahas. Kita akan mencoba menyandingkan makna takwa dengan tawakkal, berserah diri.

  1. Takwa dan Tawakkal

Berprestasi adalah usaha manusia, dalam bertakwa, untuk memenuhi tanggung jawabnya memakmurkan alam semesta. Bersesuaian dengan ayat yang mengisahkan bahwa Allah hendak menciptakan khalifah, wakil, di muka bumi ini yaitu Nabi Adam – dan anak cucunya. Manusia bertugas memerankan peran leadership dan manajerial untuk mengelola alam semesta ini.

Ketika manusia berpuasa, ia dituntut untuk bertakwa, meraih prestasi. Tentu saja prestasi ini perlu kita seimbangkan dengan kondisi fisik yang tidak makan dan tidak minum sepanjang hari. Sehingga, prestasi ini lebih banyak menuntut strategi dan pemikiran tingkat tinggi.

Sementara orang-orang dengan tugas yang berat, yang menuntut kekuatan fisik prima, diijinkan untuk tidak berpuasa. Dan dapat mengganti puasa itu di lain hari. Petani yang bekerja di sawah, di bawah terik matahari, barangkali terlalu berat bila harus berpuasa. Petani seperti itu boleh tidak puasa. Maka kita perlu memikirkan sistem pertanian baru, yang lebih mengandalkan strategi pikiran, sehingga para petani tetap dapat menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan – dan makin berprestasi di bidang pertanian.

Allah menjanjikan bagi orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah juga memberikan kedudukan paling mulia kepada orang-orang yang bertakwa di antara kalian.

Tawakkal adalah pasangan dari bertakwa. Tawakkal adalah berserah diri atau mewakilkan urusan kepada yang Maha Baik yaitu Allah semata. “Dan bertawakkal lah kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai wakil.”

Terhadap perkara yang kita tidak mampu mempengaruhi maka bertawakkal adalah jalan terbaik. Percaya bahwa Allah selalu mengurus segala sesuatu dengan paling baik. Anda lahir dari pasangan ibu dan bapak Anda. Anda tidak bisa memilih agar lahir dari orang lain. Maka bertawakkal terhadap kelahiran Anda, adalah yang terbaik. Berprasangka bahwa Allah telah memilihkan untuk Anda orang tua yang paling tepat. Bersyukur atas pilihan Allah. Dan memang Allah selalu memilihkan yang terbaik.

Kita hidup di bumi ini, tidak bisa memilih untuk hidup di bulan atau Mars, ketika dilahirkan waktu dulu. Kita perlu menyikapi dengan tawakkal: tinggal di bumi adalah pilihan dari Allah yang terbaik untuk umat manusia. Hidup menjadi begitu indah, nyaman, dan tenteram ketika semua orang mampu bertawakkal, berserah diri.

Kondisi lapar, haus, dan lemah ketika menjalani puasa mendorong kita untuk lebih mudah bertawakkal, berserah diri, kepada Allah. Itu dorongan alamiah manusiawi. Tetapi Allah mengingatkan bahwa tujuan puasa adalah agar kalian menjadi orang yang bertakwa, orang-orang yang meraih prestasi. Maka puasa Romadhon adalah proses manusia menuju keseimbangan takwa dan tawakkal, yang utuh.

2. Iman dan Islam

Puasa hanya diwajibkan kepada orang-orang yang beriman. Maka bolehkah orang islam tidak berpuasa? Mungkin saja karena dia hanya islam tapi belum beriman?

Proses berpikirnya bisa dibalik: berpuasalah agar kamu termasuk orang yang beriman. Karena, bagaimana seseorang bisa yakin dirinya sudah termasuk sebagai orang yang beriman dengan benar? Maka puasa adalah sebagai tanda, dan usaha, agar kita termasuk orang-orang yang beriman.

Dalam suatu ayat dikisahkan ada seorang kampung yang mengaku sudah beriman. Tetapi pengakuan itu tidak begitu saja valid. Orang kampung itu bisa jadi sudah islam, dengan membaca syahadat, tetapi untuk menjadi beriman masih perlu jalan panjang dalam taat kepada Allah dan Rasul.

Di Indonesia, kita bisa mengaku sebagai orang islam dengan mudah. Tunjukkan ktp Anda yang bertuliskan sebagai beragama islam maka Anda terbukti sebagai islam. Sedangkan apa bukti Anda sebagai orang yang beriman? Puasa Ramadhan adalah salah satu bukti kita sebagai orang beriman, bertakwa, dan bertawakkal. Semoga Allah menerima amal kita dan mengampuni semua dosa.

3. Masa Lalu ke Masa Depan

Perintah puasa juga telah diwajibkan kepada orang-orang generasi masa lalu. Dan tetap wajib pula bagi generasi masa depan. Puasa adalah ibadah yang berdimensi lintas waktu – masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Barangkali kita sudah akrab dengan istilah kepompong Ramadhan. Ulat yang begitu buas memangsa daun dan buah. Menggunduli pohon sampai gersang. Bisa berubah menjadi kepompong. Tidak makan dan minum berhari-hari. Menahan diri dari banyak hal. Ulat berpuasa. Pada akhirnya ulat berubah menjadi kupu-kupu yang begitu indah, bisa terbang. Membantu penyerbukan, pembuahan.

Puasa Ramadhan menuntut manusia untuk jadi kepompong. Membatasi diri dalam konsumsi pribadi. Memperbanyak sedekah membantu orang lain, memudahkan orang lain menjalani hidup ini, meringankan beban.

Penurunan konsumsi – dengan mengurangi makan, minum, dan konsumsi energi – yang tampak baik bagi seseorang bisa berefek buruk bagi sistem ekonomi. Terutama bagi pendukung teori ekonomi Keynesian berasumsi bahwa pertumbuhan ekonomi diukur dari pertumbuhan konsumsi. Jadi penurunan konsumsi di bulan Ramadhan berdampak menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Solusi sederhana adalah turunkan konsumsi pribadi Anda dan salurkan konsumsi itu untuk kebutuhan sosial. Maka secara agregat, total konsumsi, akan tetap naik. Di saat yang sama, kita membantu mewujudkan pemerataan ekonomi. Menurunkan ketimpangan konsumsi. Dan berhemat untuk generasi masa depan.

Kita bisa melihat dari sisi futuristik; dari masa depan terbaik yang kita impikan maka perilaku takwa apa yang tepat untuk masa kini? Setelah melihat masa depan, kemudian, kita komitmen dengan masa kini yang sesuai.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda? Banyak hal yang bisa kita diskusikan lebih lanjut.

Takwa Tanpa Harta

Takwa terbebas dari harta. Takwa tidak harus menggunakan harta. Demikian juga, harta tidak menghalangi takwa. Kita menempatkan harta atau kuasa “sekadar” sebagai teman untuk takwa. Kita tidak mengangkat harta sebagai sarana untuk takwa dan kita tidak meremehkan harta sebagai perusak takwa.

Bersama harta, kita bisa bertakwa; tanpa harta kita juga bisa bertakwa. Makna harta bisa kita perluas sebagai seluruh semesta. Dengan pemahaman ini, setiap manusia selalu bisa bertakwa. Di saat yang sama, kita menghormati alam semesta sebagai teman bagi kita.

5. Penutup

Semoga kita semua menjadi orang-orang yang bertakwa: berprestasi di jalan ilahi dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Mudik Normal Gak Normal

Mudik dilarang di tahun 2021 ini, dari 6 April sampai 17 April, kabarnya.

Teman-teman pekerja dan pengusaha di bidang transportasi bis, angkutan umum, pesawat, dan lain-lain harus berpikir keras menyiasati larangan mudik, yang tentu sulit. Sementara yang BUMN semisal Kereta Api atau Garuda, juga sulit, tapi bisa berharap ada bantuan dari pemerintah, barangkali.

Saya sendiri memandang situasi pandemi saat ini adalah normal gak normal. Kita perlu kembali beraktivitas normal dengan cara tidak normal.

Kasus Dunia Menanjak Lagi

Setelah sempat menurun di bulan Februari, kasus baru di dunia kembali menanjak. Di bulan April kembali ada 600 ribu kasus baru per hari. Mendekati puncak yang hampir 800 ribu per hari di bulan Januari 2021.

Beberapa negara penyumbang kenaikan kasus baru ini di antaranya Prancis, India, Iran, dan Jerman. Prancis di atas 50 ribu per hari.

Sementara Iran di atas 20 ribu kasus baru per hari.

Indonesia Baik

Kondisi pandemi di Indonesia tampak lebih baik relatif terhadap negara-negara yang sedang menanjak di atas.

Meski tampak membaik, standar prokes harus terus kita jalankan. Sedikit lengah kasus dapat melonjak sewaktu-waktu. Barangkali kita bisa belajar dari pengalaman negara tetangga, Malaysia.

Sepanjang Juni – Juli – Agustus 2020, tahun lalu, tampaknya Malaysia sudah berhasil menangani pandemi covid. Nyaris tidak ada kasus baru. Paling hanya 1 atau 2 orang terinfeksi untuk kemudian sembuh dalam beberapa hari. Bulan September ada sedikit lonjakan. Tampaknya tidak bisa dihentikan, lonjakan tersebut, sampai memuncak di Januari 2021 dengan 6 ribuan kasus baru per hari. Hingga April, saat ini, pandemi di Malaysia belum tampak ada tanda-tanda akan usai. Penambahan kasus harian hampir 2 ribu orang.

Larangan Mudik Tepat?

Tepat, dilarang mudik bila tujuannya mencegah penambahan kasus baru. Tidak tepat bila dilihat dari beberapa pihak yang terdampak negatif larangan mudik. Misal dari perusahaan otobis, bisa kesulitan secara keuangan dengan adanya larangan mudik ini. Tetapi barangkali akan ada solusi terbaik untuk itu semua.

Saya kira pemerintah sudah tepat dengan menerapkan “pembatasan mikro,” tidak lagi pembatasan berskala besar. Kita perlu melindungi masyarakat dengan tepat sasaran. Karena pandemi sudah berlangsung lebih dari setahun maka banyak pengalaman dari sisi masyarakat mau pun pemerintah. Masing-masing dari kita dapat beradaptasi sesuai standar prosedur kesehatan.

Larangan mudik apakah termasuk berskala mikro atau berskala besar?

Tampaknya sulit untuk mengatakan sebagai skala mikro. Larangan mudik berlaku di berbagai pulau di nusantara. Berlaku di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan lain sebagainya. Berbagai macam resiko perlu kita timbang ulang.

Solusinya adalah: normal tidak normal. Semua pihak beraktivitas secara normal dengan mematuhi prokes. Titik yang rawan perlu pengawasan lebih ketat atau dihentikan sementara secara mikro. Normal sih, tapi tetap tidak normal.

Bagaimana menurut Anda?

Masalah Indonesia: Tidak Ada

Masalah terbesar di Indonesia adalah tidak ada masalah. Semua baik-baik saja. Bahkan Indonesia lebih baik dari negara lain dalam banyak aspek.

Meski pun pandemi covid memorak-porandakan Indonesia tetapi kondisi pandemi di Indonesia lebih baik dari negara lain. Tidak ada masalah. Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia negatif di tahun 2020 ini tetapi Indonesia lebih baik dari negara lain. Tidak ada masalah. Meskipun kasus baru infeksi covid harian sekitar 5 ribuan tetapi Indonesia lebih baik dari negara lain. Tidak ada masalah.

Masalah Ekonomi

Sekitar 5 hari yang lalu, BI menyatakan bahwa Indonesia berada dalam lingkaran setan ekonomi. Dan sulit keluar dari jeratan lingkaran setan itu. Tingkat permintaan rendah maka investor tidak berani investasi. Karena investasi rendah maka serapan tenaga kerja rendah. Akibat dari serapan tenaga kerja rendah maka permintaan dan konsumsi jadi rendah. Begitu seterusnya membentuk lingkaran setan.

BI sendiri telah melakukan berbagai macam kebijakan moneter untuk memperbaiki situasi. Tetapi lingkaran setan begitu kuatnya. Saya kira, BI sudah benar dengan meluncurkan beragam kebijakan moneter yang tepat.

Menyusul BI, 3 hari lalu, Bu Menteri Sri Mulyani juga menyatakan bahwa Indonesia sulit lepas dari jebakan pendapatan menengah. Indonesia sulit menjadi negara maju. Terjebak dengan pendapatan menengah ke bawah. Bu Menkeu, tampak, sudah meluncurkan beragam kebijakan fiskal yang tepat sasaran untuk mengatasi jebakan tersebut.

Kita bisa membayangkan betapa rumitnya menghadapi kombinasi problem: lingkaran setan dan jebakan menengah. Pun yang menyatakan itu adalah pihak-pihak yang paling kompeten. BI adalah paling berhak menentukan kebijakan moneter sedangkan menkeu (dan presiden) adalah yang paling berhak menentukan kebijakan fiskal.

Lalu, apa yang bisa kita perbaiki?

Menemukan Masalah

Apakah kita benar-benar sudah menemukan masalah yang tepat? Untuk kemudian kita susun solusi untuk menyelesaikannya? Berapa waktu dan energi yang dibutuhkannya?

Lingkaran setan dan jebakan pendapatan adalah dua masalah yang sudah terungkap. Saya sendiri melihat ada beberapa prospek masalah dan solusi: politik, pendidikan, dan agama. Meski terjadi beberapa kasus korupsi di ranah politik, Indonesia termasuk negara yang demokratis. Kualitas pendidikan Indonesia tidak bagus dalam survey PISA dan TIMSS tetapi siswa Indonesia sering juara di kancah internasional. Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan teror ekstremis tetapi di Indonesia berkembang hidup keberagamaan yang toleran.

Dari semua masalah rumit itu, lingkaran setan dan jebakan, saya menduga masalah utamanya ada di kesenjangan ekonomi. Ukuran kesenjangan ekonomi kita makin memburuk, makin timpang. Di mana tahun 2021, indeks Gini melonjak timpang dari 0,381 menjadi 0,385. Saya sendiri mengembangkan ukuran nilai ketimpangan, nilai kesenjangan, yang juga makin timpang dari 2,22 melonjak ke 2,25. Angka 2,25 ini menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan rakyat Indonesia mengikuti kurva Lorentz berpangkat 2,25 – lebih parah dari timpang kuadrat.

Solusi Fokus

Beragam solusi perlu terus dikembangkan untuk memberikan hasil yang terbaik bagi Indonesia dan dunia. BI memberikan kebijakan moneter yang terbaik. Menkeu (dan presiden) memberikan kebijakan fiskal yang terbaik. Karena BI dan menteri adalah pihak-pihak yang penting bagi negara maka BI dan menteri perlu memastikan bahwa semua kebijakan memberikan hasil sesuai target. Sementara rakyat, kompak bersatu untuk mendukung program memajukan negeri ini.

Di antara banyak solusi itu, saya kira kita perlu fokus kepada salah satu solusi yang prospek: peningkatan kualitas pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia. Di sini peran mendikbud (dan presiden) menjadi penting. Mendikbud bisa menyusun program pendidikan beasiswa penuh dari tingkat SD, SMP, SMA, dan sarjana – negeri atau swasta. Apa yang bisa dibayangkan bila semua generasi muda Indonesia adalah sarjana?

Tentu saja, di saat yang sama, kualitas pendidikan terus kita tingkatkan. Saya sudah menuliskan beragam ide untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional – dengan anggaran murah. Semua generasi muda Indonesia, pada saatnya. berhasil jadi sarjana yang berkualitas. Luar biasa. Hanya membayangkan saja, saya sudah terimbas rasa bahagia.

Lingkaran setan dan jebakan pendapatan dapat diselesaikan dengan kondisi ini.

Generasi muda yang sarjana berhasil meningkatkan pendapatan, relatif terhadap orang tuanya yang tidak sekolah. Pendapatan yang naik mendorong permintaan naik, mendorong investasi naik, mendorong serapan tenaga kerja naik, mendorong pendapat naik. Lingkaran setan terputus. Bahkan berubah menjadi lingkaran malaikat.

Jebakan pendapatan menengah harus lebih hati-hati. Produk dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat perlu diarahkan kepada produk dan jasa yang positif. Para ahli ekonomi masa kini tampaknya lebih fokus kepada pertumbuhan ekonomi. Tanpa terlalu dalam mengkaji dalam bidang apa ekonomi itu tumbuh. Maka, kita perlu hati-hati, ada jebakan pertumbuhan yang berbahaya. Misalnya pertumbuhan di bidang judi, korupsi, minuman keras, obat terlarang, kecanduan digital, dan lain-lain.

Kita perlu mendorong kelas menengah untuk menyadari tanggung jawab internal dan eksternal. Tanggung jawab internal berupa memberikan kinerja terbaik sesuai tanggung jawabnya dan pekerjaan di kantor atau institusi. Menjamin industrinya tumbuh dan meraih profit.

Sedangkan tanggung jawab eksternal adalah setiap orang harus bertanggung jawab terhadap dampak pekerjaan atau lembaganya. Seseorang tidak hanya bertanggung jawab atas gaji, pendapatan, yang ia terima. Dia harus tanggung jawab terhadap dampak umum dari pekerjaannya. Bisnis judi, misalnya, barangkali memberi profit yang besar bagi karyawan dan industrinya. Tetapi merugikan masyarakat luas dalam jangka panjang. Sehingga bisnis judi perlu dihindari atau dibatasi dengan ketat.

Ringkasan Solusi

Mari kita ringkas solusi yang kita usulkan.

1. Mendikbud menjalankan program wajib belajar sampai sarjana dan menjamin program beasiswa, tidak ada pungutan sama sekali dari sekolah atau universitas, negeri atau swasta.

2. Semua, atau sebagian besar, generasi muda adalah sarjana. Mereka bekerja atau berwirausaha yang lebih baik dari generasi sebelumnya.

3. Kinerja generasi muda, yang berpendidikan ini, mendorong pertumbuhan ekonomi: permintaan naik, investasi naik, lapangan kerja naik, permintaan naik, dan seterusnya. Berhasil memotong lingkaran setan.

4. Tanggung jawab internal dan eksternal dari generasi muda terus berkembang. Mereka menjadi lebih sejahtera di saat yang sama menjaga kebaikan seluruh alam semesta. Jebakan pendapatan menengah teratasi dengan cara ini.

5. Generasi muda yang berkembang berasal dari semua kelas, baik kelas kaya mau pun kelas miskin. Perkembangan ini, sudah saya hitung, menurunkan angka ketimpangan ekonomi secara signifikan. Kesetaraan ekonomi meluas. Disusul kemudian kesetaraan politis dan lain-lain untuk menjamin kemajuan bersama.

Pertanyaannya: dari mana kemendikbud bisa membiayai program beasiswa bagi generasi muda sampai sarjana? Ada caranya. Kita punya mendikbud yang kreatif. Ditambah menkeu yang hebat. Pasti bisa.

Bagaimana menurut Anda?

Pancajati: Berani Perang Suci

Bagi beberapa orang tidak masuk akal. Mengapa seseorang berani mengorbankan hidupnya? Bahkan juga menyebabkan jatuh korban terhadap orang lain?

Sulit, bagi kebanyakan orang, untuk memahami. Tetapi kita bisa berusaha untuk memahami. Dan berharap bisa menemukan suatu solusi. Demi kebaikan seluruh penghuni bumi.

Pancajati

Saya merumuskan pancajati yang merupakan lima karakter dari kebenaran sejati. Kali ini, kita akan menerapkan analisis pancajati untuk memahami dan mengkritisi fenomena perang suci yang dikaitkan dengan ajaran agama tertentu. Sebagai pembanding, kita akan menganalisis fenomena lain yang lebih akrab bagi kita: kopi terasa nikmat, berat emas adalah 1 kg, dan rumus matematika 12 + 1 = 13.

Konsep dasar pancajati sudah saya uraikan pada tulisan saya terdahulu: Kebenaran Sejati. Dalam tulisan tersebut saya juga membahas beberapa contoh dinamika konsep eksak formula matematika.

Lima karakter kebenaran adalah, pertama, dinamis yaitu selalu bergerak atau berubah secara dinamis. Kedua, verifikasi yaitu kebenaran merupakan hasil dari proses verifikasi tertentu. Ketiga, cakrawala yaitu kebenaran berlaku pada cakrawala tertentu dan bisa tidak berlaku pada cakrawala berbeda. Keempat dan kelima, interpretasi dan pengalaman, yaitu kebenaran adalah terkait dengan suatu interpretasi dan pengalaman.

Dinamika Perang Suci

Kita bisa melihat dinamika perang dalam sejarah, masa lalu, dan masa kini. Barangkali juga akan menjadi tanda tanya untuk dinamika di masa depan.

A: Perang suci adalah perintah agama

Dengan asumsi bahwa perintah perang suci adalah valid ajaran suatu agama maka perintah tersebut bersifat dinamis. Barangkali perang diperintahkan di masa lalu. Dan saat ini, bisa jadi tidak perlu perang lagi. Atau bisa berubah dinamis sesuai situasi kondisi.

B: Kopi rasanya nikmat

Kopi nikmat bernilai benar saat ini, misal. Dua bulan ke depan, kopi yang sama, bisa saja sudah tidak nikmat, barangkali kadaluarsa atau busuk. Atau sebaliknya, kopi yang saat ini nikmat, dua bulan ke depan, justru makin nikmat karena makin matang. Kebenaran ini bersifat dinamis, bisa berubah.

C. Berat emas adalah 1 kg

Berat emas yang kita timbang saat ini adalah 1 kg bisa berubah dalam 2 tahun ke depan. Apalagi jika Anda menitipkan emas tersebut ke pegadaian maka berat emas tersebut akan berkurang – meski sedikit. Petugas gadai akan menggosok emas Anda sehingga beberapa butir terkelupas untuk diteliti oleh mereka. Kebenaran emas bersifat dinamis. (Untuk yang berminat lebih dalam bisa mempertimbangkan ketidakpastian Heisenberg dan kesetimbangan massa-energi.)

Verifikasi Perang Suci

Perintah perang suci dapat ditelusuri bersumber dari beberapa “kutipan” ajaran agama. Hasil verifikasi ini bisa sah berdasar sumber-sumber agama yang dipilih. Tetapi sumber agama yang sama, misal kitab suci, mengajarkan untuk hidup berdamai dengan sesama manusia. Hasil verifikasi ini menunjukkan justru perang suci itu tidak perlu di saat ini. Dengan meluaskan proses verifikasi dapat dikatakan bahwa perintah perang suci tidak meyakinkan.

Perbedaan verifikasi ini, yang menghasilkan dissensus, mendorong berkembangnya ragam mikrologi-mikrologi. Beberapa mikrologi menguatkan perintah perang suci sedangkan mikrologi lainnya melarang terjadinya perang suci itu. Maka dialog antar mikrologi menjadi penting di sini.

Untuk verifikasi “kopi nikmat rasanya” maka kita bisa langsung mencicipi kopi tersebut. Bisa kita tebak, makin banyak orang yang mencicipi makin beragam hasil verifikasinya. Ada yang setuju nikmat, ada yang menolak, dan ada yang biasa-biasa saja. Kebenaran memang terkait dengan proses dan hasil verifikasi.

“Emas beratnya 1 kg” bisa kita verifikasi dengan neraca digital. Hasil verifikasi menunjukkan hasil timbangan memang benar 1 kg. Tetapi jika proses penimbangan ini dilakukan di atas pesawat terbang, di angkasa, maka hasil pengukuran akan menunjukkan berat emas sekitar 0,999 kg bukan 1 kg lagi. Verifikasi ini berbeda proses dan berbeda hasil. Berat emas terkait dengan gravitasi bumi. Bahkan jika kita sempat menimbang emas yang sama di bulan maka beratnya hanya 0,16 kg. Sekali lagi, kebenaran terkait proses dan hasil verifikasi.

Cakrawala Perang Suci

Kebenaran perintah perang suci barangkali benar dengan satu sudut pandang, dengan satu jenis cakrawala tertentu. Kita bisa membandingkan dengan cakrawala “kemanusian”. Tentu saja tidak boleh memerangi orang lain hanya karena berbeda keyakinan agama. Dari cakrawala kemanusia, manusia dilarang berperang.

Bahkan, masih dalam ajaran agama yang sama, terdapat berbagai macam cakrawala. Misalnya cakrawala NU dan Muhammadiyah melarang terjadinya perang suci di saat ini.

Sedangkan cakrawala nikmatnya kopi bisa benar ketika yang mencicipi kopi adalah penggemar kopi. Sementara cakrawala anak-anak TK mengatakan bahwa kopi adalah pahit, tidak nikmat. Lebih tegas lagi, cakrawala harimau akan menolak minum kopi – tidak nikmat.

Berat emas yang 1 kg itu hanya benar bagi kita, orang-orang pada umumnya. Sedangkan cakrawala alien yang berasal dari luar angkasa mengukur berat emas dengan sistem dan acuan yang berbeda. Alien yang membawa emas ke luar angkasa, yang terbebas dari gravitasi, maka berat emas adalah 0 kg. Tanpa gravitasi maka tidak ada berat.

Kebenaran memiliki cakrawala masing-masing.

Meski demikian, kebenaran tidak bersifat relatif. Tidak ada relativisme di sini. Ketika kita memilih satu cakrawala, lengkap dengan sistem proses verifikasi, maka kebenaran dapat dipastikan – atau estimasi atau probabilitasnya. Dan tentu saja, kebenaran itu bersifat dinamis, seiring waktu.

Interpretasi dan Pengalaman Perang Suci

Perintah perang suci adalah interpretasi terkait dengan pengalaman tertentu – bukan pengalaman obyektif yang independent. Interpretasi dan pengalaman yang berbeda menyatakan bahwa umat manusia dilarang untuk berperang, termasuk dilarang melakukan perang suci. Umat manusia justru harus bersama-sama mewujudkan perdamaian dunia yang penuh dinamika.

Mari kita coba kaji lebih dalam bahwa ini semua adalah tergantung kepada interpretasi dan pengalaman sejak masa-masa awal ajaran agama. Misalkan seorang tokoh agama mendapat wahyu untuk melakukan perang suci, atau mendapat pencerahan, atau mendapat ide. Selanjutnya tokoh tersebut menyuruh muridnya untuk menuliskan perintah perang suci tersebut ke dalam kitab suci. Bukankah itu merupakan suatu interpretasi dari sebuah pengalaman sang tokoh?

Pertama, sang tokoh mengalami pengalaman menerima wahyu, atau pencerahan. Lalu pengalaman ini diinterpretasikan dalam bahasa tertentu. Atau pengalaman itu sudah langsung berupa suatu bahasa tertentu. Selanjutnya, para murid menginterpretasikan ungkapan bahasa dari sang tokoh. Murid mendengarkan, mencoba memahami, lalu mencatatnya. Ini adalah proses interpretasi dari murid pertama. Hasil interpretasi murid pertama ini barangkali berupa kitab atau lembaran-lembaran.

Pada masa selanjutnya, pengalaman dan interpretasi dari murid pertama itu akan sampai kepada murid generasi kedua, ketiga, dan seterusnya sampai generasi sekarang. Barangkali sudah berjarak seribu tahun atau dua ribu tahun yang lalu antara murid pertama dengan kita saat ini. Sudah terjadi banyak pengalaman dan interpretasi ulang dari setiap generasi. Meski inti dari ajaran agama adalah abadi dan asli, tetapi proses dan dinamika sampai ke jaman kita, diperkaya oleh pengalaman dan interpretasi setiap generasi.

Sekarang, kita sendiri, tentu berhadapan dengan tugas meng-interpretasi dan mengalami pengalaman. Ketika kita membaca suatu kitab suci maka kita akan melakukan interpretasi berdasarkan pengalaman – dalam arti luas mencakup pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, pengalaman bermasyarakat, kajian keilmuan, pengalaman ruhani, dan lain-lain. Atau jika kita, saat ini, mendengar langsung nasehat dari orang paling suci maka, tetap saja, kita harus mendengarnya dengan baik, lalu melakukan interpretasi dengan mempertimbangkan pengalaman kita secara luas.

Interpretasi dan pengalaman bukanlah merupakan cacat hidup kita. Justru interpretasi dan pengalaman adalah hakikat hidup setiap manusia. Manusia yang hidup senantiasa melakukan interpretasi dan mengalami pengalaman.

Sampai di sini, cukup jelas kiranya bahwa interpretasi dan pengalaman berperan besar dalam menentukan kebenaran. Kembali kepada ajaran perang suci maka itu terkait terhadap interpretasi dan pengalaman masing-masing orang. Pada gilirannya, interpretasi dan pengalaman ini terkait dengan cakrawala yang terkait langsung dengan budaya dan sejarah. Di mana, budaya dan sejarah pun, dipengaruhi oleh interpretasi dan pengalaman. Sekali lagi, penting bagi kita semua untuk konsisten meluaskan cakrawala.

Dalam cakrawala yang luas, sangat jelas, tugas umat manusia adalah menjaga perdamaian untuk seluruh umat manusia. Mencegah perang dalam bentuk apa pun. Berusaha mendamaikan antar sesama.

Diskusi Perang Suci

Ajaran perang suci, saat ini, tidak bisa dibenarkan. Meski demikian, kita tetap memerlukan solusi yang tepat. Menjaga keamanan oleh aparat didukung seluruh rakyat. Membuka dialog antar budaya, antar cakrawala, antar semesta. Menghormati beragam beda pendapat. Menjamin hidup bermartabat dan selamat.

Doktrin perang suci hanya bisa terjadi dalam cakrawala khusus yang sempit. Karena hakikat manusia selalu melakukan interpretasi, meskipun cakrawala tersebut sempit, maka tetap saja bisa dieksploitasi.

Cara hidup damai, saling menghormati dalam keragaman, tenggang rasa, perlu terus kita dorong menjadi budaya bersama. Kekerasan bukanlah jalan keluar. Kekerasan adalah jalan buntu. Hidup adil, saling mengasihi, adalah solusi sejati. Jalan lurus yang pantas kita kejar.

Bagaimana menurut Anda?

Kebenaran Sejati Ada di Sini

Kebenaran sejati dekat dengan diri ini. Tidak harus mencari ke luar negeri, atau luar bumi. Kebenaran sejati selalu menghampiri.

Tapi apa itu kebenaran sejati?

Tampaknya, itu menjadi pertanyaan abadi. Ribuan jawaban sudah ada dari para pemikir dunia. Tetap saja, pertanyaan tentang kebenaran sejati terus menggelora.

3 Langkah Memahami Kebenaran Sejati | Rahasia Hidup Sukses Bebas Hutang  Bahagia Kaya Sejahtera

Kebenaran sejati, atau truth, atau kita singkat sebagai benar, paling mudah kita pahami sebagai kebenaran korespondensi. Sejak era Aristoteles, kebenaran adalah kesesuaian korespondensi antara “pikiran” dan “realitas.” Ide korespondensi yang mantap itu mulai mendapat tantangan serius di era digital: relativisme dan post-truth. Goyangan beragam sudut pandang dan campur-aduknya dengan hoax tidak selalu mudah kita pahami. Segala sesuatu bisa benar dan sekaligus bisa salah. Alternatif dari korespondensi adalah koherensi.

Korespondensi

Ketika Anda berpikir bahwa 2 buah jeruk ditambah dengan 1 buah jeruk akan menjadi 3 buah jeruk dan kemudian di dunia nyata seperti itu adanya maka pikiran Anda benar, secara korespondensi. Apa yang Anda pikirkan bersesuaian dengan dunia nyata, berkorespondensi.

Masalah kebenaran sejati terus bergerak maju. Kebenaran korenspondensi hanyalah salah satu wajah dari kebenaran itu sendiri. Kita akan mencoba membahas lebih detil berikut ini.

Sementara, kebenaran koherensi adalah kebenaran yang koheren dengan kebenaran-kebenaran lain; konsisten dengan sistem-sistem yang diterima sebagai sistem kebenaran.

A. Kebenaran Dinamis
B. Kebenaran Verifikasi
C. Kebenaran Cakrawala
D. Kebenaran Interpretasi
E. Kebenaran Pengalaman

A. Kebenaran Dinamis

Segala sesuatu yang ada di alam ini bersifat dinamis. Kebenaran, sejauh ada di alam ini, maka bersifat dinamis. Kebenaran yang kita pahami saat ini adalah hasil dinamika kebenaran dari hari kemarin dan tahun-tahun yang lalu. Pertimbangkan aspek historal masa lalu dan masa depan.

Dengan memahami kebenaran yang bersifat dinamis maka kita berharap lebih bersikap terbuka terhadap beragam prespektif kebenaran. Kita juga perlu terus berjuang, dinamis, untuk mendapat kebenaran paling hakiki. Meskipun kebenaran hakiki itu, kebenaran sejati, juga bersifat dinamis.

Pemahaman kita terhadap rumus matematika 2 + 1 = 3 pun bersifat dinamis. Ketika kita masih kanak-kanak, memahami 2 +1 = 3 dengan cara penuh usaha keras. Saat kita dewasa, dengan mudah memahami kebenaran 2 + 1 = 3. Kebenaran memang dinamis.

Tetapi, bukankah 2 + 1 = 3 itu bersifat pasti, eksak, dan tanpa keraguan? Benar juga. Sejauh kita menjaganya secara ideal. Dalam dunia nyata, 2 kg beras ditambah dengan 1 kg beras maka tidak ada jaminan tepat menjadi 3 kg beras. Bisa jadi hasilnya adalah 3 kg beras lebih 1 butir atau 3 kg beras kurang 5 butir. Tidak ada masalah dengan selisih 1 atau 5 butir beras. Kita menganggap 3 kg beras itu statis, padahal dinamis. Ditambah lagi kita dapat mempertimbangan dinamika beras terhadap waktu. Alam semesta memang dinamis.

Mengapa dinamis?

Karena meta-teori, meta-perspektif, dan futuristik.

Kebenaran menjadi dinamis karena setiap kebenaran membutuhkan bukti atau argumen. Di mana, bukti yang kuat selalu membutuhkan teori. Pada gilirannya, teori itu sendiri membutuhkan dukungan teori lain lagi, misal disebut, meta-teori. Begitu seterusnya sehingga selalu dinamis.

Meta-teori bisa bergerak ke masa depan. Suatu teori akan menghasilkan proposisi. Kemudian, proposisi ini menghasilkan proposisi baru sehingga makin dinamis. Lebih kreatif lagi, ketika, proposisi baru menghasilkan paradoks. Teori lama tidak memadai untuk menyelesaikan paradoks tersebut dan kita perlu mengembangkan teori baru yang dinamis.

Dinamika juga terjadi dari perkembangan perspektif. Setiap kebenaran pasti, dilihat, dari satu perspektif tertentu. Dengan melihat dari perspektif yang berbeda, maka, akan dihasilkan kebenaran yang berbeda. Sehingga, kebenaran memang dinamis. Penambahan perspektif tidak akan pernah sempurna. Maksudnya, kita tidak bisa melihat kebenaran melalui perspektif utuh seperti perspektif mata-dewa, misalnya. Dinamika kebenaran akibat dinamika perspesktif, saya sebut, sebagai dinamika meta-perspektif.

Meta-perspektif bisa terjadi secara disrupsi – terpisah dari kebenaran lama. Bukan hanya melihat suatu obyek dari perspektif baru. Tetapi, melihat obyek lain, yang baru, yang berbeda sepenuhnya dari obyek lama. Sehingga, kebenaran-kebenaran akan bersaing secara dinamis. Barangkali, hanya satu jenis kebenaran yang bertahan, atau terjadi sinergi, atau lainnya.

Dan, paling jelas, kebenaran menjadi dinamis karena ada aspek temporal, aspek waktu. Karena waktu terus bergulir, maka, kebenaran terus dinamis. Umumnya, waktu dipandang sebagai living-now, yaitu, kejadian masa kini yang terus bergulir dari masa lalu, ke masa kini, dan menuju masa depan. Dengan perspektif ini, waktu adalah ukuran dari gerak aksidental dan gerak substansial.

Perspektif yang lain memandang waktu sebagai bentangan future-past-present dan memberi peran besar kepada aspek future, masa depan. Saya menyebutnya sebagai perspektif futuristik. Future, masa depan, selalu bergerak ke depan. Future membentangkan diri ke masa lalu. Kemudian, merangkul masa lalu menuju masa depan dengan menyusuri masa kini. Tetapi, ketika masa lalu (past) sudah sampai ke masa depan, saat itu juga, future sudah melangkah ke depan lagi. Begitu seterusnya, terjadi dinamika waktu yang membentang dari future ke past dan menyusuri present (masa kini). Karena waktu bersifat dinamis, maka, kebenaran juga bersifat dinamis.

Orang bijak mengatakan, “Janganlah kamu mencela waktu karena waktu adalah (kebenaran) Tuhan.”

Karena kebenaran bersifat dinamis, maka, apakah ada kebenaran absolut? Ada. Kebenaran absolut ada. Tetapi, tidak ada klaim kebenaran yang absolut. Setiap kebenaran, pada analisis akhir, perlu untuk mengacu kepada kebenaran absolut. Akibatnya, kebenaran selalu bersifat dinamis.

B. Kebenaran Verifikasi

Kebenaran adalah hasil dari proses verifikasi. Kebenaran bukan sesuatu yang mandiri, bukan independent, di alam ini.

Matematika 2 + 1 = 3 bernilai benar karena merupakan hasil verifikasi yang sah. Semua orang dengan mudah me-verifikasi bahwa 2 + 1 = 3 adalah benar. Tetapi 2 + 1 = 3 itu sendiri tidak mandiri. Misalnya dalam sistem bilangan jam 3an, di mana hanya ada angka 0, 1, dan 2, maka 2 + 1 = 0. Contoh yang lebih nyata adalah pada sistem jam dinding di mana 12 + 1 = 1 bukan 13. (Pada jam dinding tidak ada angka 13).

Bagaimana pun 2 + 1 = 3 bernilai eksak benar dalam konteks sistem verifikasi yang diterima secara umum. Dalam sistem bilangan real, 2 + 1 pasti benar bernilai sama dengan 3. Konsep kebenaran yang koheren disebut sebagai koherensi.

Tidak ada relativisme di sini. Selama kita konsisten dengan sistem verifikasi maka kita bisa menjamin nilai kebenaran – atau probabilitasnya.

C. Kebenaran Cakrawala

Sistem untuk verifikasi kebenaran tersebut adalah cakrawala. Maka benar saja ungkapan orang-orang bijak: perluaslah cakrawala pengetahuan. Dengan luasnya cakrawala pengetahuan maka kita akan lebih bijak dalam menyikapi suatu kebenaran, yang sejatinya, ada di sini, ada dalam diri.

Sebagai contoh kita dapat membandingkan cakrawala jam dinding, yang hanya ada angka 1 sampa 12, dengan cakrawala bilangan real yang seperti kita pahami dalam kehidupan sehari-hari.

2 + 1 = 3 adalah bernilai benar; baik dalam cakrawala jam dinding maupun cakrawala bilangan real sama-sama benar.

12 + 1 = 13 adalah bernilai benar dalam cakrawala bilangan bulat tetapi bernilai salah dalam cakrawala jam dinding. Yang benar, dalam cakrawala jam dinding, 12 + 1 = 1. Keduanya bersifat eksak. Tidak ada keraguan. Tidak ada relativisme. Pasti benar dalam cakrawala bilangan real. Dan pasti salah, 12 + 1 = 13, dalam cakrawala jam dinding.

Buah jeruk rasanya nikmat. Bernilai benar dalam cakrawala manusia. Bernilai salah dalam cakrawala harimau. Barangkali juga bernilai salah dalam cakrawala alien. Cakrawala yang berbeda akan menghasilkan verifikasi yang berbeda terhadap kebenaran.

D. Kebenaran Interpretasi

Semua klaim kebenaran adalah interpretasi. Cakrawala yang kita gunakan untuk menverifikasi kebenaran juga merupakan susunan-susunan interpretasi. Dan tentu saja setiap interpretasi besifat dinamis. Sebagaimana kebenaran juga bersifat dinamis.

“Buah jeruk rasanya nikmat,” adalah interpretasi yang bernilai benar dalam cakrawala manusia pada umumnya. Jelas kita lihat bahwa “rasa nikmat” adalah interpretasi kita terhadap rasa jeruk. Lebih jauh lagi, “buah jeruk” adalah interpretasi kita terhadap “sesuatu realitas.”

Dalam cakrawala harimau, rasa jeruk diinterpretasikan dengan “tidak nikmat”, beda dengan manusia. Nyatanya, harimau tidak mau makan jeruk tetapi mau makan daging, misalnya. Lagi-lagi, itu adalah interpretasi kita sebagai pengamat. Ketika seekor harimau memandang buah jeruk maka harimau itu akan membuat interpretasi, atau persepsi, yang berbeda dengan jeruk yang dipandang oleh manusia.

Kebenaran itu adalah interpretasi. Bukan karena kita mengetahui sesuatu melalui interpretasi, tetapi karena semua yang sampai kepada diri kita adalah memang suatu interpretasi. Dan interpretasi, dalam arti yang canggih, adalah keunggulan unik umat manusia.

Kita bisa saja mengambil contoh eksak, semisal rumus matematika 12 + 1 = 13, adalah interpretasi. Angka 12 dan angka-angka lain adalah interpretasi manusia. Operasi penjumlahan dan tanda sama dengan juga interpretasi dari manusia. Sehingga formula eksak pun penuh dengan interpretasi. Bukankah itu semua adalah simbol?

Sekali lagi tidak ada relativisme di sini. Sekali kita membuat interpretasi maka secara konsisten kita dapat menyusun cakrawala – yang dipengaruhi oleh budaya dan sejarah. Dengan cakrawala ini kita dapat melakukan verifikasi kebenaran. Dan tentu saja dinamis.

E. Kebenaran Pengalaman

Dengan interpretasi itu lah kita menjalani hidup sejati. Pengalaman dan interpretasi saling berkaitan erat. Manusia mengalami sesuatu karena meng-interpretasi. Manusia bisa meng-interpretasi karena ada pengalaman.

Apakah kopi pahit terasa nikmat?

Kopi pahit terasa tidak nikmat bagi kita, dulu, waktu masih kanak-kanak. Seiring pengalaman mencicipi kopi yang pahit, ketika dewasa, kopi pahit menjadi nikmat. Pengalaman dan interpretasi saling terkait.

Bagaimana dengan sambal pedas? Pengalaman kita juga mirip. Ketika kanak-kanak tidak suka sambal pedas. Begitu dewasa, kita doyan sambal pedas.

Bagaimana dengan pengalaman interpretasi formula eksak? Sedikit berbeda tetapi ada miripnya. Ketika kanak-kanak kita meng-interpretasikan kuantitas di alam semesta sebagai bilangan asli: bilangan bulat dan positif. Ada 2 jeruk, 5 jeruk, dan sebagainya. Menginjak remaja, seiring pengalaman, kita meng-interpretasikan kuantitas lebih beragam, ada bilangan pecahan, bilangan negatif, irasional, dan bahkan kompleks.

Pengalaman kita adalah interpretasi. Dan interpretasi adalah yang kita alami.

Vattimo, pemikir Itali usia 86 tahun, melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa segala realitas adalah interpretasi itu sendiri. Tugas manusia berpikir, berfilsafat dan lain-lain, adalah tugas ber-interpretasi.

Sekali lagi, dengan semua analisis kebenaran di atas, tidak ada relativisme di sini. Ketika kita mengambil suatu pengalaman dan interpretasi sebagai suatu acuan maka kita akan mengembangkan cakrawala; dalam cakrawala ini kita mengembangkan proses verifikasi yang absah untuk menghasilkan kebenaran sejati. Dan kita tahu, kebenaran adalah dinamis.

Ragam Cakrawala: Sains, Seni, Filsafat

Setiap manusia bersifat unik. Maka pengalaman dan interpretasi masing-masing manusia bisa beragam. Sehingga kita punya banyak cakrawala. Tentu, cakrawala sains adalah yang paling kita kenal dengan buahnya berupa teknologi digital lengkap dengan hoax yang menghiasi media sosial. Cakrawala sains menerapkan kriteria rasional dan empiris untuk verifikasi kebenaran.

Cakrawala seni terbentang luas dalam kehidupan umat manusia. Kriteria rasional meski ada dalam seni tetapi kriteria rasa tampak lebih dominan. Cakrawala filsafat mempertimbangkan “pemikiran” paling mendalam sampai ke pemikiran spekulatif yang mempertimbangkan segala sesuatunya. Dan masih banyak cakrawala-cakrawala lain.

Keragaman adalah realitas alam semesta. Maka sikap respek antar semua pihak menjadi penting untuk terus kita kembangkan. Konsep keragaman ini secara filosofis dapat kita telusuri ke konsep “difference” dari Heidegger yang kemudian dielaborasi lebih jauh oleh Derrida dan Lyotard dengan gaya postmodern.

Sedangkan dinamika kebenaran dapat kita lacak dari konsep dialektika Hegel, yang merujuk istilah yang sama dengan, Plato dan Sokrates. Sebelum itu, Sadra telah merumuskan gerak substansial yang sejalan dengan konsep “kembali naik” dari Ibnu Arabi.

Pada tulisan berikutnya saya akan mencoba menerapkan analisis “kebenaran” ini dalam beberapa kasus. Harapan saya akan terbentuk sikap saling respek antar semua pihak, mengurangi ekstremisme, dan membangun peradaban umat manusia.

Bagaimana menurut Anda?


Demokrasi Pecat Menteri

Memecat menteri tentu bukan hal kecil. Berdampak kepada kinerja pemerintah, stabilitas, juga politis. Di sisi lain, negara dan rakyat menuntut kinerja tinggi dari setiap kabinet.

Presiden Jokowi yang terpilih dua periode, secara demokratis, memegang tanggung jawab besar untuk memajukan Indonesia. Kita, sebagai rakyat Indonesia, perlu bersatu untuk mendukung suksesnya program-program pemerintah guna menciptakan Indonesia yang adil dak makmur.

“Memecat menteri adalah solusi demokratis.”

6 Wajah Menteri Baru di Kabinet Jokowi, Sandiaga Uno dan Risma Terpilih -  Grafis Tempo.co

Dan terpilihlah menteri baru yang diharapkan lebih besar membawa kebaikan bagi negara. Presiden Jokowi sudah pengalaman dalam mengganti kursi menteri. Barangkali kita bisa berharap proses ini lebih sering dilakukan – dengan harapan jalannya pemerintahan lebih efektif.

Presiden Demokratis

Rakyat tentu saja punya hak untuk mengkritik presiden, siapa pun presidennya, demi kebaikan negeri ini. Namun presiden Indonesia adalah hasil pilpres yang demokratis di Indonesia. Maka kritik kepada presiden harus diarahkan untuk tidak mengutak-atik posisinya sebagai presiden. Posisi presiden perlu dijaga aman dalam periode jabatan sesuai konsitusi.

Dengan demikian arah kritik adalah dalam ranah efektivitas pemerintahan, kebijakan, undang-undang dan sebagainya.

Pergantian Menteri Demokratis

Posisi menteri beda dengan presiden. Menteri bukan pilihan rakyat melalui pemilu. Presiden mempunyai hak prerogratif untuk mengangkat menteri – dan berbagai macam jabatan penting. Maka mengganti menteri dengan lebih sering, lebih cepat, tidak merusak sistem demokrasi. Pertimbangan ini lebih ke arah efektivitas pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan dan meraih cita-cita luhur negara.

Di sisi lain, pergantian menteri yang dinamis dapat memicu dinamika generasi muda. Orang-orang terbaik, yang berminat untuk menjadi menteri, bisa saja berjuang untuk menunjukkan kinerja terbaik, siapa tahu sewaktu-waktu akan ditunjuk oleh presiden untuk menjadi menteri yang baru.

Gubernur, Walikota, dan Bupati

Sama halnya dengan gubernur, walikota, dan bupati adalah pilihan demokratis dari rakyat. Maka jabatan seorang gubernur perlu dijaga aman selama periode masing-masing. Kritik terhadap gubernur adalah dalam ranah efektivitas pemerintahan dan kebijakan, dan lainnya. Sementara posisi kursi gubernur tetap aman.

Gubernur, walikota, dan bupati mempunyai kewenangan yang leluasa untuk mengganti pejabat di jajarannya demi efektivitas pemerintahan. Pergantian ini perlu lebih dinamis untuk memberikan hasil terbaik.

Demokratis Dinamis

Dengan ide bahwa kita bisa mengganti posisi pejabat secara dinamis maka diharapkan kita bisa meraih cita-cita negeri adil makmur. Sementara, di saat yang sama, kita tetap menjaga jabatan kepala negara dan kepala daerah aman sesuai periodenya. Hal ini menjaga suasana demokrasi tetap terjamin kondusif.

Bagaimana menurut Anda?

Tanpa Pemilu Lebih Tenang

Demokrasi, tanpa pemilu lebih tenang. Tentu saja hanya untuk sementara waktu. Saya merasa, saat ini, ada aura yang lebih kondusif berdemokrasi dengan tidak adanya pemilu selama 3 tahun berturut-turut. Pemilu terdekat adalah 2024. Rakyat tetap bisa beda pendapat. Tidak sampai saling menghujat. Kritik-kritik tetap bertaburan memberi petunjuk arah yang lebih tepat.

Sementara itu ada pemilu ikatan alumni sebuah kampus paling bergengsi di negeri ini. Tentu saja suasana seru sekali. Perdebatan berlanngsung hangat sampai panas. Karena perserta pemilu sebagian besar adalah para sarjana, bahkan doktor, maka suasana panas tetap bisa mendingin.

Kembali kepada kasus Indonesia yang tidak ada pemilu, pilkada, selama tiga berturut-turut kali ini, tampak debat di ruang publik terasa lebih asyik. Apakah pilkada sebaiknya dihapus saja?

Pilkada Langsung Dihapus

Pernah muncul ide untuk menghapus pilkada, beberapa tahun lalu. Tetapi ide ini kandas. Salah satu penentangnya adalah Kang Emil, yang saat ini jadi gubernur Jabar. Argumentasinya adalah dengan pilkada langsung bisa dihasilkan pemimpin-pemimpin baru secara adil. Contohnya, terpilihnya Kang Emil sebagai walikota Bandung, dan kemudian terpilih sebagai gubernur Jabar. Barangkali presiden Jokowi juga merupakan buah dari pilkada langsung.

Mengurangi Pilkada

Barangkali kita bisa mempertimbangkan untuk mengurangi pilkada. Saat ini, kita menyelenggarakan pilkada untuk provinsi dan kota/kabupaten. Sehingga jumlah pilkadanya banyak sekali. Lebih dari 100 pilkada tiap tahun perlu diselenggarakan. Sementara proses persiapan, kaderisasi, kampanye, dan pencoblosan, sampai pengesahan bisa lebih dari satu tahun. Akibatnya, seakan-akan, kita dalam situasi kompetisi pemilu sepanjang tahun, sepanjang masa.

Ide mengurangi pilkada adalah dengan memilih salah satu pilkada saja misal pilkada provinsi. Maka kita hanya perlu ada 30an pilkada. Tampak lebih sederhana. Atau memilih hanya pilkada kota/kabupaten saja. Jumlahnya memang masih banyak tetapi jangkauannya terbatas di masing-masing wilayah kota/kabupaten.

Pilkada Serentak Lebih Serentak

Ide alternatif lainnya adalah menyelenggarakan pilkada serentak yang lebih serentak. Maksudnya, seluruh pilkada di Indonesia diadakan dalam waktu serentak, lima tahun sekali. Misal dilaksanakan 2023, 2028, 2033, dan seterusnya. Dengan cara ini, rakyat hanya berkompetisi 5 tahun sekali pilkada, dan 5 tahun sekali pilpres. Sisa waktu lainnya bisa untuk lebih fokus membangun negeri, tidak dalam kompetisi politis.

Pilkada lebih serentak ini bisa juga dikombinasikan dengan pengurangan jumlah pilkada. Dengan cara ini diharapkan energi rakyat, dan pemerintahan, lebih hemat dalam berkompetisi. Dan kita bisa mengarahkan fokus kekuatan untuk membangun negeri.

Bagaimana menurut Anda?

Pendidikan Agama Sejati

Kita baru saja menyantap hidangan pendidikan agama sejati tingkat tinggi. Pertama, tidak adanya frasa “agama” dalam rumusan peta-jalan pendidikan 2035 dari Mas Menteri Nadiem. Kedua, pertemuan dua tokoh beda agama tingkat dunia yakni Ayatullah Al-Sistani dengan Paus Francis, di Najaf Irak.

Top Shiite cleric Sistani tells Pope Francis that Iraqi Christians should  live in 'peace'

Ketika saya jalan-jalan di Najaf Irak dan sekitarnya, tiga tahun lalu, terasa sekali aura penghormatan kepada Ayatullah Sistani yang begitu tinggi menunjunjung nilai-nilai universal kemanusiaan, terilhami oleh ajaran luhur agama Islam. Sementara di Itali, tempat tinggal Paus, sedang berkembang konsep filosofis weak thought, yang begitu antusias menekankan pentingnya saling respek terhadap perbedaan. Vattimo, pemikir Itali yang berusia 86 tahun, menyatakan bahwa weak thought adalah perkembangan filsafat mutahkir saat ini.

Dua tokoh besar agama ini, Ayatullah dan Paus, bersepakat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, saling hormat, kesetaraan, dan demokrasi. Bersepakat pula untuk mengakhiri segala kekerasan atas nama agama. Menghentikan terorisme dalam segala bentuknya. Menciptakan perdamaian di seluruh dunia. Dalam situasi perbedaan agama dan keyakinan.

Itulah sebentuk pendidikan agama sejati.

Hanya ada jalan lurus

Salah satu yang menarik dari Irak adalah hanya ada jalan lurus. Tidak ada jalan belok. Saya tertawa saja ketika pembimbing ziarah menceritakan bahwa bila kita bertanya ke orang Irak tentang tempat suatu lokasi maka mereka akan menunjukkan dengan cara lurus, lurus, lalu lurus lagi. Mereka sambil menggerakkan tangannya ke kanan atau ke kiri. Kita menjadi paham maksudnya karena sambil melihat gerak tangannya. Sementara ucapan mereka tetap saja, lurus, lurus, dan lurus – mustakim dalam bahasa mereka.

Benar saja, suatu ketika saya sama teman-teman berkunjunga ke suatu tempat tanpa pembimbing. Lalu saya bertanya arah kepada salah seorang pemuda Irak yang ada di situ. Dijawabnya, “mustakim, mustakim,,, mustakim.” “Syukron jadid.” Memang benar pemuda itu mejawab lurus, lurus, dan lurus. Saya berterima kasih dan tertawa dalam hati penuh kagum. Barangkali istilah jalan lurus ini menjadi penting sekali karena setiap hari dibaca berulang kali dalam bentuk doa, “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Sehingga mereka hanya mau menunjukkan jalan lurus kepada orang yang tersesat. Mereka tidak mau menunjukkan jalan belok, yang tidak lurus.

Pendidikan Agama Kementerian

Kembali ke pendidikan agama di Indonesia. Saya kira sikap Mas Nadiem sudah benar dengan menerima keberatan beberapa pihak tentang tidak adanya frasa “agama” dalam peta-jalan pendidikan 2035. Mas Nadiem akan melakukan koreksi yang diperlukan.

Tetapi adanya berita yang menyatakan bahwa pelajaran agama akan dihapus di Indonesia adalah berita yang tidak benar. Sejak awal, kementerian tidak berniat menghapus pelajaran agama. Kementerian berniat untuk melanjutkan pendidikan agama.

Saya sendiri, jauh hari, mengusulkan agar pendidikan agama masuk dalam kurikulum utama, yaitu kurikulum paling utama yang diajarkan dengan baik tanpa harus ada ujian formal. Yang diperlukan adalah asesmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri. Pendekatan ini berbeda dengan kurikulum inti, misal matematika, yang memang diperlukan ujian formal dengan sistem penilaian yang obyektif dan jelas.

Pendidikan Agama Dihapus

Apakah ada kemungkinan pendidikan agama dihapus? Mungkin saja. Karena sistem pendidikan bisa berubah setiap saat sesuai perkembangan umat manusia itu sendiri.

Apakah pendidikan agama dihapus akan menjadi lebih baik?

Saya kira menghapus pendidikan agama bukan ide yang baik. Tetapi, dengan pendidikan agama seperti sekarang ini, apakah bisa menurunkan angka korupsi? Korupsi tidak hanya urusan pendidikan agama. Melibatkan banyak hal termasuk sistem politik, ekonomi, hukum, dan lain-lain. Maka kita perlu melihat kasus korupsi dengan sudut pandang yang lebih luas.

Sementara penyelenggaran pendidikan agama itu sendiri barangkali perlu terus dikaji untuk menemukan proses terbaik. Pertama, seperti sekarang ini, pendidikan agama ditangani oleh kementerian pendidikan. Kita bisa melihat hasilnya seperti yang terjadi di Indonesia. Masih banyak hal yang bisa diperbaiki.

Kedua, pendidikan agama dihapus dari kementerian pendidikan lalu dipindahkan ke kementerian agama. Dipindahkan dari Mas Nadiem ke Gus Yaqut. Barangkali ide seperti itu ada bagusnya agar masing-masing fokus kepada kompetensi inti. Menteri pendidikan fokus kepada pendidikan dan menteri agama fokus kepada agama. Tentu saja perlu penyesuaian anggaran.

Ketiga, pendidikan agama dihapus dari seluruh kementerian lalu diserahkan kepada masyarakat. Selama ini masyarakat sudah banyak pengalaman dalam menyelenggarakan pendidikan agama secara mandiri. Barangkali ide ini bisa bagus dengan fokus menyederhanakan birokrasi. Banyak yayasan, pensantren, dan lain-lain yang terbukti lebih unggul dalam menyelenggarakan pendidikan agama. Dan, tentu saja, ada penyesuaian anggaran.

Berbagai ide pengembangan pendidikan agama perlu terus kita kaji untuk menemukan yang terbaik sesuai jaman dan tempat.

Bagaimana menurut Anda?

Normal Gak Normal

“Closing schools is more stressful for children and families than keeping them open.”

Sudah saatnya kita kembali membuka sekolah tatap muka. Siswa bergembira. Guru-guru bersuka ria. Orang tua ikut bahagia.

Pandemi segera sirna. Tapi tak pernah kembali seperti sedia kala. Kita kembali normal yang tidak normal. Kita berada pada situasi normal tak normal. Normal gak normal.

Kegiatan masyarakat kembali normal. Ditambah tetap dengan standar prosedur kesehatan yang konsisten. Longgar sedikit, kasus covid bisa melonjak lagi. Dengan disiplin prokes, secara bertahap covid akan terjepit.

Grafik Merah Stabil

Grafik merah mulai stabil agak turun. Grafik merah yang sedikit banyak bisa menggambarkan kondisi sulit dalam pandemi mulai melandai di dunia. Di Indonesia, kasus harian juga mulai turun. Meski demikian grafik hijau belum membaik. Sehingga dalam waktu satu tahun ini, kita belum terbebas dari pandemi. Barangkali memang tidak akan pernah terbebas dari pandemi. Namun kita, sebagai umat manusia, sudah bisa mulai kembali hidup normal, yaitu normal gak normal.

Bisnis vs Sekolah

Bisnis harus jalan, dan memang tetap jalan, meski dengan beragam kesulitan. Bisnis penting bagi kehidupan umat manusia dan sifatnya urgen, mendesak, sehingga tidak bisa ditunda. Berbeda dengan pendidikan, meski penting, bisa ditunda. Pendidikan, dalam bentuk sekolah tatap muka, sudah saatnya untuk kembali berjalan normal, yaitu normal gak normal.

Penutupan sekolah tentu saja tidak masalah untuk saat ini, karena memang bisa ditunda. Berapa kerugian pendidikan akibat penutupan sekolah? Berapa juta siswa Indonesia yang tidak bisa belajar karena tidak ada kelas tatap muka? Berapa mahasiswa yang tidak bisa penelitian karena kampus terbatas? Semua kerugian pendidikan tampak seperti tidak ada. Tapi siapa yang berani melakukan asesmen nasional dengan jujur terhadap kualitas pendidikan semasa pandemi? Kabarnya, rencana asesmen nasional diundur pelaksanaannya. Padahal asesmen itu penting sekali buat Indonesia.

Menteri Penting

Peran menteri pendidikan saat ini benar-benar penting. Tentu saja menteri bisa menginstruksikan agar sekolah tidak buka kelas tatap muka demi menjaga kesehatan. Bagi yang berminat buka kelas, sekolah tersebut bisa mengajukan izin. Kondisi seperti ini perlu didorong untuk lebih maju lagi: menteri memerintahkan seluruh sekolah (dan universitas) membuka kembali kelas tatap muka dengan standar prosedur kesehatan.

Bagi sekolah yang belum memenuhi syarat untuk membuka kelas tatap muka maka kementerian akan membantu agar sekolah tersebut mampu memenuhi persyaratan.

Semester Pendek

Barangkali waktu yang paling tepat untuk membuka kelas tatap muka adalah semester baru terdekat. Sekitar Juli atau Agustus 2021. Ada kesempatan menarik yaitu berbagai universitas dapat membuka kuliah tatap muka lebih awal dalam bentuk semester pendek.

Semester pendek ini sekaligus bisa kita jadikan sebagai model, percontohan, untuk sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Semester pendek, yang biasanya berlangsung 2 bulan, bisa dimulai habis lebaran. Sekitar akhir Mei atau awal Juni sudah bisa dimulai. Kita berharap semester pendek ini berjalan dengan lancar. Dengan demikian, semester baru sudah bisa dimulai dengan normal, yaitu normal gak normal, sesuai jadwal seperti biasanya.

Pandemi Indonesia

Kondisi pandemi di Indonesia memang belum sepenuhnya mereda. Analisis saya menunjukkan nilai Reproduksi R berkisar sedikit di bawah 1 dan kadang naik lagi sedikit di atas 1. Kondisi R yang naik turun di sekitar 1 ini menunjukkan bahwa pandemi di Indonesia mulai mencapai kondisi kesetimbangan dinamis. Situasi stabil dengan adanya penambahan kasus pada jumlah tertentu seimbang dengan jumlah orang yang sembuh.

Untuk mencapai pandemi selesai total perlu waktu sekitar 10 bulan ke depan dengan syarat nilai R stabil di 0,8. Syarat ini sulit dipenuhi bahkan dengan bantuan vaksin pun. Tetapi peran perilaku masyarakat sangat berperan besar untuk mencegah lonjakan kasus baru. Disiplin prokes adalah kuncinya. Target kita untuk sementara cukuplah kestabilan dinamis, normal gak normal. Dan sekolah bisa kembali dibuka dengan kelas tatap muka.

Bagaimana menurut Anda?