Pengetahuan A Priori

Sikap apriori sering dianggap negatif. Sikap yang keras kepala tidak mau berubah apa pun yang terjadi. Saya menilai setiap gadis yang bernama Rara pasti gadis cantik. Saya terpengaruh oleh anak saya yang bernama Rara dan cantik itu. Ketika saya mendengar orang menyebut nama Rara maka lansung terbayang cantiknya Rara.

Padahal ada 100 Rara yang lain di luar sana. Saya belum pernah bertemu dengan 100 gadis yang semua bernama Rara itu. Tapi saya yakin semua gadis itu cantik-cantik. Sikap keras kepala saya ini didasarkan pada sikap apriori bahwa setiap yang bernama Rara pasti cantik tanpa melihat bukti-bukti lebih dulu.

1. A Priori Vs A Posteriori
2. Proses Pengamatan
3. Pengetahuan Analitik Vs Sintetik
4. Matematika Sehari-Hari
5. Pengetahuan A Priori Kokoh
6. Ringkasan

Sikap apriori saya, tentu saja, bisa salah. Dan barangkali akan sering salah. Karena di antara 100 orang bernama Rara mungkin saja ada yang tidak cantik.

Pengetahuan a priori beda dengan sikap apriori. Pengetahuan a priori justru selalu benar bahkan tanpa melihat bukti-bukti dari pengamatan sekali pun. Namun keduanya, pengetahuan dan sikap, sama-sama apriori. Dalam arti sama-sama sudah mengambil keputusan dulu tanpa melihat bukti pengamatan.

Tampak hebat sekali pengetahuan a priori: selalu benar tanpa harus melakukan pengamatan. Bahkan kebenarannya berlaku umum, universal. Kita banyak berhutang budi kepada Immanuel Kant, pemikir besar abad 18, yang berhasil merumuskan pengetahuan a priori dan a posteriori.

1. A Priori vs A Posteriori

David Hume, filsuf abad 17, meyakini bahwa setiap pengetahuan memerlukan pengamatan atau pengalaman lebih dulu. Misalnya, pernyataan, buah mangga di depan rumah sudah matang. Kita perlu mengamati apakah mangga di depan rumah benar sudah matang. Setelah itu kita baru dapat menilai benar atau salahnya pernyataan buah mangga di depan rumah sudah matang.

Pernyataan di atas adalah contoh pengetahuan a posteriori, pengetahuan belakangan, pengetahuan yang didahului oleh pengamatan. David Hume dan rekan-rekannya meyakini bahwa semua pengetahuan bersifat a posteriori.

Immanuel Kant, di sisi lain, meyakini ada sebagian pengetahuan yang tidak a posteriori. Ada pengetahuan a priori. Yaitu pengetahuan yang mendahului, pengetahuan yang lebih dulu dari pengamatan. Contoh pengetahuan a priori adalah pengetahuan matematika misalnya, 2 + 1 = 3.

Kita tidak perlu melakukan pengamatan lebih dulu tapi bisa menyimpulkan bahwa pengetahuan a priori itu benar, bulan depan, 2 orang penduduk Bandung ditambah 1 orang penduduk Bandung lainnya maka jumlahnya adalah 3 orang penduduk Bandung. Tentu saja, saat ini, kita tidak bisa mengamati kejadian di bulan depan. Tetapi kita bisa mengantisipasi pengetahuan 2 + 1 = 3 adalah benar di bulan depan. Dan bisa kita lihat nilai kebenarannya pun berlaku umum. Berlaku di masa depan, di masa sekarang, dan di masa lalu. Berlaku di sini, di sana, atau di tempat mana pun.

Di abad 20, Bertrand Russell memutuskan bahwa yang benar adalah pandangan Immanuel Kant. Yakni ada sebagian dari pengetahuan kita bersifat a priori. Dan tentu saja tetap ada pengetahuan a posteriori.

2. Proses Pengamatan

Meski pengetahuan kita tentang persamaan matematika, 2 + 1 = 3, bersifat apriori tetapi untuk memahaminya kita perlu pengamatan. Maksudnya, ketika kita masih bayi belum paham perhitungan. Lalu usia kanak-kanak mulai belajar, mengamati beragam fenomena alam. Baru kemudian kita memahami bahwa 2 + 1 = 3.

Proses belajar berupa pengamatan ini penting. Pengalaman saya dalam mengajar anak bermatematika bahkan kita perlu mengenalkan konsep berhitung dengan media-media yang konkret. Misal saya membuat permainan yang berupa bola-bola kecil. Saya tunjukkan 2 bola, ditambah lagi 1 bola, total seluruhnya terkumpul 3 bola. Anak-anak sebagian langsung paham 2 + 1 = 3. Sementara siswa yang lain perlu mengulang-ulang proses itu baru paham. Minggu depannya, ada yang lupa 2 + 1 = 3. Perlu diulang lagi.

Setelah seorang anak memahami bahwa 2 + 1 = 3 maka anak tersebut tidak perlu pengamatan lagi. Dia bisa meyakini bahwa 2 + 1 = 3 benar, berlaku universal. Di mana saja dan kapan saja, berlaku 2 + 1 = 3. Sifatnya yang umum ini lah yang menyebabkan menjadi pengetahuan a priori. Kita tidak perlu melakukan pengamatan di bulan, misalnya, bahwa 2 bongkah batu di tambah 1 bongkah batu maka terkumpul 3 bongkah batu. Kita yakin, di bulan tetap berlaku benar.

Dalam bidang matematika banyak sekali pengetahuan a priori. “Setiap segiempat dapat dibagi menjadi 2 bagian masing-masing berupa segitiga mengikuti garis diagonal segiempat tersebut.” Awalnya, barangkali kita tidak memahami pernyataan itu. Kita bisa mengambil beberapa contoh agar lebih paham. Misal layar smartphone Anda berbentuk segiempat. Maka bisa dibagi mengikuti garis diagonal, miring, terbentuk dua buah segitiga. Kita juga bisa mengamati ubin di lantai. Lalu membayangkan beberapa ubin yang berbentuk segiempat. Dan selalu bisa membagi ubin segiempat itu menjadi dua buah segitiga. Selanjutnya, pengetahuan kita tentang segiempat ini bersifat universal, pengetahuan a priori.

Proses memahami pengetahuan a priori, barangkali, perlu proses pengamatan. Namun sifat pengetahuan a priori berlaku umum melampaui dari sekedar pengamatan partikular itu sendiri.

Mari kita bandingkan lagi dengan pengetahuan a posteriori, misal, buah mangga di depan rumah sudah matang. Kita perlu mengamati apakah benar buah mangga sudah matang. Kesimpulannya misal salah, ternyata, buah mangga belum matang. Untuk besok, apakah buah mangga sudah matang? Kita akan perlu pengamatan di waktu yang seusai. Hasil pengamatan bisa memutuskan bahwa mangga benar sudah matang atau belum.

Sejatinya, tujuan sains adalah mendapatkan pengetahuan yang bersifat umum. Berlaku dalam segala situasi. Pengetahuan yang hanya berlaku khusus pada satu kejadian tidak banyak berguna. Hal ini bisa kita kembangkan dengan metode induksi, yang dibahas pada bagian sebelumnya, dilengkapi dengan penelitian yang memadai. Misal untuk kasus matangnya buah mangga di depan rumah diperoleh pengetahuan,

“Buah mangga akan matang setelah 30 hari.”

Dari pengetahuan itu kita tidak perlu tiap hari mengamati apakah buah mangga sudah matang. Kita hanya perlu mengetahui sudah berumur berapa hari buah mangga itu. Kemudian memperkirakan kapan berumur 30 hari. Dan setelah itu kita berharap buah mangga benar-benar matang.

Jika pengetahuan induksi itu diperoleh dengan metode yang memadai maka akan dijamin benar. Maksudnya mangga benar-benar sudah matang setelah 30 hari. Meski demikian, pengetahuan ini tetap bersifat a posteriori. Di mana kita perlu pengamatan untuk memastikan kebenarannya.

Sehingga jelas perbedaan pengetahuan a priori terhadap a posteriori. Pengetahuan 2 + 1 = 3 adalah pengetahuan a priori, pasti benar.

3. Pengetahuan Analytik vs Sintetik

Meski pengetahuan a priori berlaku universal namun bisa diragukan apakah ada gunanya? Misal, 2 + 1 = 3, memang selalu benar. Lalu buat apa? Bukankah memang selalu begitu?

Bandingkan dengan pengetahuan a posteriori, misal, buah mangga matang setelah 30 hari. Maka kita dapat merencanakan kapan waktu yang tepat untuk panen. Jadi pengetahuan a posteriori bermanfaat besar. Meski mungkin saja kadang-kadang pengetahuan ini bernilai salah. Justru karena bisa bernilai salah maka pengetahuan a posteriori yang bersifat benar menjadi berguna.

Selanjutnya, orang bisa saja meremehkan pengetahuan a priori hanya bersifat analitis belaka. Tidak ada pengetahuan baru di situ. Hanya pengetahuan yang sudah ada lalu dipahami.

“Segitiga memiliki 3 sudut.”

Pengetahuan di atas adalah a apriori, selalu benar, berlaku umum. Bersifat analitik. Yaitu ketika kita menyebut segitiga, sejatinya, di situ kita sudah tahu pasti memiliki 3 sudut. Sehingga pengetahuan di atas tidak menambah informasi apa pun, selain hanya menyatakan ulang yang sejatinya sudah diketahui.

Di sini kita perlu membedakan pengetahuan analitik dengan pengetahuan sintetik.

Pengetahuan sintetik diakui semua orang sebagai bermanfaat. Pengetahuan ini gabungan antara pengamatan, data dari alam luar, dengan pengetahuan a priori yang sudah ada dalam diri manusia. Misalnya pengetahuan sintetik bahwa mangga akan matang setelah 30 hari. Pertama kita mengamati buah mangga berhari-hari. Apakah sudah matang atau masih mentah. Kedua, secara serentak kita memanfaatkan pengetahuan a priori misal prinsip non-kontradiksi. Bahwa mangga yang matang berbeda dengan mangga yang tidak matang, sebut saja masih mentah. Ketiga, proses sintesa antara pengamatan dan prinsip apriori. Maka menghasilkan kesimpulan baru, pengetahuan baru yang bersifat sintetik.

Dalam contoh di atas kita melakukan sintesa antara pengetahuan a posteriori dengan pengetahuan a priori. Berikutnya kita akan menunjukkan bahwa memungkinkan dilakukan sintesa antara pengetahuan a priori dengan pengetahuan a priori lainnya.

Perhatikan pengetahuan a priori, 2 + 1 = 3, yang akan kita tunjukkan sebagai sintesa a apriori (dengan a priori). Dalam pengetahuan ini, awalnya, kita tidak tahu bilangan 3. Di mana kita tidak bisa secara analisis menemukan angka 3 dengan menganalisis angka 2. Pun kita tidak bisa menemukan angka 3 dengan menganalisis angka 1. Angka 3 kita peroleh dengan sintesa angka 2 dengan angka 1 sesuai hukum penjumlahan.

Kita bisa bereksperimen dengan merubah operasi penjumlahan menjadi pembagian, misalnya, 1 : 2 = 0,5. Makin jelas, hasil akhir 0,5 adalah sintesa dari 1 dan 2 dengan aturan pembagian. Bukan sekedar analisis belaka. Jadi sampai di sini kita menunjukkan adanya dua macam sintesa: sintesa a posteriori dengan a priori, dan yang kedua, sinstesa a priori dengan a priori. Sebelum masa Immanuel Kant, semua pengetahuan a priori dianggap sebagai analytic belaka.

Pengetahuan analytic tetap berguna meski tidak menambah informasi baru. Misal segitiga sama sisi adalah segitiga yang memiliki 3 sudut sama besar. Jelas bahwa “memiliki 3 sudut sama besar” sejatinya sudah tersedia ketika kita menyebut “segitiga sama sisi”. Namun demikian, pengetahuan analitik ini tetap berguna misalnya untuk pendidikan kepada pemula. Siswa yang baru mempelajari tentang segitiga barangkali tidak “mengetahui” tentang sudut yang sama besar. Siswa itu hanya tahu segitiga sama sisi memiliki sisi sama panjang. Dengan demikian ketika dia tahu bahwa sudutnya sama besar maka itu menjadi pengetahuan baru, a priori. Dan berguna baginya dalam banyak hal.

Abad 21 ini, bisa dianggap sebagai abad big data. Di mana para ilmuwan terkemuka menaruh hormat kepada istilah analytic. Dengan menggunungnya data yang berlimpah di mana-mana maka kemampuan analytic yang cepat, akurat, dan efisien sangat penting. Menggali data, menambang data, dan menganalisis data bisa lebih penting dari data itu sendiri. Dengan demikian pengetahuan analytic, di abad 21 ini, mendapat tempat yang paling terhormat.

Saya sendiri mengelola canel youtuber paman APIQ merasa sangat terbantu dengan disediakannya analytic oleh youtube. Saya memperoleh wawasan apa saja yang dibutuhkan oleh para penonton saya yang jumlahnya jutaan itu. Saya jadi tahu berapa menit rata-rata video saya yang ditonton ribuan kali itu. Saya juga paham dari kata kunci apa saja penonton bisa tiba ke canel paman APIQ. Semua saya peroleh dari analytic. Sekali lagi, pengetahuan analytic memegang peran amat penting di masa digital ini.

4. Matematika Sehari-hari

Matematika adalah gudangnya pengetahuan a priori. Sehingga kebenaran matematika bersifat universal. Namun banyak yang meragukan guna matematika dalam kehidupan sehari-hari. Memang untuk hitung dagang kita perlu matematika tapi hanya yang dasar. Itu pun sudah cukup dilakukan oleh kalkulator. Apa guna matematika untuk kehidupan sehari-hari?

Saya sudah sering membahas masalah ini tetapi saya ingin membahas dengan pengalaman kasus terbaru. Matematika benar-benar berguna dalam kehidupan sehari-hari. Rara, yang cantik itu, tentu gemar memanfaatkan matematika. Di jaman serba digital, Rara berpikir memanfaatkan matematika untuk belanja di pasar digital agar mendapatkan harga terbaik. Pengalaman Rara dan kawan-kawan mengagetkan saya.

Belanja digital, online, sudah terbiasa menawarkan diskon dengan syarat tertentu. Misal diskon 10 ribu untuk pembelian minimal 30 ribu. Berlaku lagi diskon 20 ribu untuk pembelian minimal 50 ribu. Tersedia pula vocer belanja mau pun vocer ongkos kirim.

Umumnya, orang akan belanja 60 ribu dapat diskon 20 ribu sehingga cukup membayar 40 ribu. Lumayan, cukup meringankan program diskon itu. Rara tidak puas dengan diskon seperti itu. Rara berpikir cepat, menggunakan matematika, untuk mencari diskon optimal.

Hasil perhitungan Rara, dalam hari tertentu, belanja 110 ribu cukup hanya bayar 5 ribu rupiah saja. Itu diskon optimal.

Jika Rara belanja 120 ribu diskon berubah ia harus membayar 50 ribu. Begitu juga jika Rara belanja 100 ribu ia harus membayar 45 ribu. Titik optimal adalah belanja 110 ribu cukup membayar 5 ribu rupiah saja.

Di hari yang lain, Rara menemukan bila belanja 80 ribu maka gratis. Belanjaan dikirim ke alamat. Bila belanja 70 ribu masih harus bayar 30 ribu. Dan bila belanja 90 ribu harus bayar 40 ribu. Maka Rara mengatur agar belanjaan seharga 80 ribu dan gratis. Hari itu, Rara belanja berkali-kali dengan harga masing-masing 80 ribuan yang berarti gratis. Kemudian tumpukan belanjaan itu dibagi-bagikan ke tetangga yang membutuhkan.

Siapa bilang matematika tidak berguna untuk kehidupan sehari-hari?

5. Pengetahuan A Priori Kokoh

Pengetahuan a priori berhak mengklaim berlaku universal, tanpa kecuali. Berbeda dengan pengetahuan dari induksi, dari pengamatan yang terbatas, meski berusaha mengklaim berlaku universal, tetapi tetap terbatas. Sewaktu-waktu dapat difalsifikasi, sesuai saran Popper.

Pengetahuan a priori, 2 + 1 = 3, berlaku universal. Dan secara logika matematika kita bisa membuktikan benar. Tanpa harus menguji kasus demi kasus yang jumlahnya tak hingga.

Sementara pengetahuan a posteriori, “Semua orang mati pada waktunya,” meski tampaknya berlaku universal tetapi tidak demikian. Bila masih ada satu orang saja yang tidak mati saat ini, maka pernyataan di atas masih bisa diragukan. Masih mungkin ada orang yang tidak mati, sejauh sampai saat ini. Meski semua orang yakin, tampaknya akan benar, setiap orang akan mati pada waktunya.

Bagaimana pengetahuan a priori bisa klaim berlaku universal, bahkan tanpa menguji kasus demi kasus, akan kita bahas pada bagian selanjutnya: dunia universalia.

6. Ringkasan

Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang bernilai benar bahkan tanpa pengamatan empiris – contoh pengetahuan matematika 2 + 1 = 3. Sedangkan pengetahuan posteriori adalah pengetahuan yang nilai kebenarannya ditentukan oleh hasil pengamatan – misal sains ilmu alam. Sehingga, pengetahuan posteriori ada peluang bernilai salah.

Proses pembentukan pengetahuan bisa melalui analitik yaitu dengan analisis terhadap obyek yang ada. Bisa juga sintetik dengan menggabungkan pengetahuan a priori dengan posteriori atau gabungan sama-sama a priori.

Meski pengetahuan a priori benar secara universal tanpa pengamatan, tetapi, pemahaman kita akan pengetahuan a priori memerlukan proses pengamatan. Setelah melakukan pengamatan dalam kadar yang memadai, kita baru memahami pengetahuan a priori. Demikian halnya dengan pengetahuan prinsip umum – identitas, non-kontradiksi, dan hukum antara – adalah termasuk pengetahuan a priori.

Tentu saja, masih tersisa pertanyaan, “Bagaimana pengamatan yang terbatas bisa menghasilkan pengetahuan a priori yang tidak terbatas?” Kita akan menjawabnya, di bagian selanjutnya, dengan mempertimbangkan dunia universal dan argumen transendental.

Lanjut ke Dunia Universalia
Kembali ke Philosphy of Love

Indonesia Urutan 106 vs US 173: Indeks Covid

Kita berharap pandemi segera berlalu. Umat manusia di seluruh dunia, semoga tetap sabar menghadapi dan mencari jalan keluar dari wabah covid-19.

Saya, bersama tim, mencoba merumuskan formula Indeks Covid dari negara-negara di dunia. Hasil perhitungan rumus ini saya tampilkan di bagian bawah, untuk beberapa negara terpilih.

Negara tetangga kita, Brunei, Singapura, dan Timor berhasil meraih nilai tertinggi dari Indeks Covid. Formula ini mempertimbangkan penambahan kasus harian, jumlah penduduk suatu negara, dan luas wilayah negara tersebut.

Sementara negara kita, Indonesia ada pada urutan 106. Tetapi jangan berkecil hati karena Amerika berada di urutan yang paling bawah yaitu 173.

Formula Indeks

Indeks Awal = Jumlah penduduk / (Kasus harian * Luas daratan)

Indek Akhir = 7 + log (Indeks Awal)

Interpretasi

Sesuai formula indeks di atas kita akan menghasilkan angka-angka dalam rentang sangat besar. Agar mudah kita memahaminya maka saya menghitung nilai logaritma dari indeks tersebut. Kemudian menambahkan angka 7 sebagai acuan agar mirip seperti PH larutan asam atau basa. Di mana nilai 7 disepakati sebagai nilai normal.

Berikut ini interpretasi masing-masing kelompok indeks.

IndeksMakna
9 – ke atasBagus sekali, pertahankan
7 – 9Bagus, tingkatkan
6 – 7Perlu aksi perbaikan khusus
6 – ke bawahPerlu ekstra aksi

Juara: Brunei, Singapura, Timor

Seperti pada tabel di atas, negara tetangga kita berhasil menduduki posisi juara dengan indeks di atas 9. Barangkali kita bisa berkilah mereka kan negara kecil. Meski kecil, Singapura memiliki kepadatan penduduk lebih dari 7 ribu orang per km persegi. Lebih besar 50 kali lipat dari Indonesia.

Vietnam, dengan indeks hampir 9, adalah negara besar berpenduduk sekitar 100 juta orang. Di mana dinamika penduduk sebesar itu tidak beda jauh dengan penduduk Indonesia.

Batas: Qatar, Ghana, Srilanka

Nila di perbatasan 7 diduduki oleh Qatar dan Srilanka seperti tabel berikut ini. Batas warna hijau berubah menjadi kuning.

Indonesia Urutan 106 Merah

Seperti sudah kita sebut di atas, Indonesia pada posisi ke 106, warna merah, dengan indeks = 5,47. Maka kita perlu kompak untuk memperbaiki situasi.

Amerika Paling Bawah Urutan 173

USA yang baru saja menyelenggarakan pemilu, menempati posisi paling akhir urutan 173 dengan indeks = 3,29. Tentu menjadi tugas berat bagi presiden terpilih untuk membawa Amerika keluar dari pandemi.

Penutup

Untuk informasi lebih detil silakan mengunjungi pamanapiq.com/covid . Tersedia data lebih lengkap meliputi angka kematian, kasus aktif dirawat, angka reproduksi R, analisis tiap provinsi atau kabupaten, dan lain-lain.

Semoga analisis ini bermanfaat untuk kita semua.

Bagaimana menurut Anda?

Pengetahuan Prinsip Umum

Rara cantik. Rara memang cantik. Karena cantik maka Rara pasti tidak jelek. Karena kita tahu bahwa Rara tidak jelek maka Rara pasti cantik. Mengapa kata-kata sejelas itu harus diulang berkali-kali?

Cantik itu tidak jelek. Jelas itu. Itulah pengetahuan prinsip umum yang sudah jelas. Tetapi karena jelasnya kita bisa saja melupakannya. Seharusnya kita bisa membahasnya, pengetahuan prinsip umum, dengan mudah saja.

1. Tiga Prinsip Umum
2. Hukum Identitas
3. Hukum Non-Kontradiksi
4. Hukum Antara
5. Penutup
6. Diskusi
6.1 Non-Identitas
6.2 Kontradiksi
6.3 Intuisionisme
6.4 Tantangan dan Prospek
6.5 Aneka Tunggal

Prinsip umum sudah dirumuskan dengan baik oleh Aristoteles sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Russell menegaskan kembali prinsip umum ini pada abad ke 20 sampai menjelang abad 21. Tetapi para filsuf posmodernis, dianggap, sering melanggar prinsip umum pikiran ini. Maka kita menjadi sulit sekali memahami teori posmodern, menurut saya salah satunya, karena melanggar prinsip umum di beberapa bagiannya.

Bagaimana mungkin tokoh posmo yang menguasai filsafat kuno sampai filsafat modern bisa melanggar prinsip umum? Saya kira sulit menjelaskan ini. Karena teori posmodern sendiri tidak satu suara. Mereka berbeda-beda. Saya sendiri ragu-ragu apakah filsuf posmo benar-benar melanggar prinsip umum pikiran. Karena sejatinya prinsip umum pikiran tidak bisa dilanggar.

1. Tiga Prinsip Umum

Menurut Russell, mengacu kepada Aristoteles, hanya ada tiga prinsip umum. Pertama, hukum identitas. Jika sesuatu itu benar maka sesuatu itu benar. Wah, apa maksudnya? Bukankah itu jelas sekali?

Kedua, hukum non-kontradiksi. Jika sesuatu itu benar maka sesuatu itu tidak salah. Atau, jika sesuatu itu salah maka sesuatu itu tidak benar. Atau, tidak mungkin sesuatu itu benar dan salah, bersamaan. Itu kontradiksi. Tidak mungkin terjadi kontradiksi.

Ketiga, hukum antara. Sesuatu pasti salah satu antara benar atau salah. Tidak bisa serentak kedua-duanya. Tidak bisa juga jika tidak kedua-duanya. Tidak ada pilihan lain selain salah satu dari dua itu: benar atau salah saja.

Ketiga prinsip umum di atas benar, jelas dengan sendirinya. Tidak perlu pembuktian untuk prinsip umum. Justru segala bukti perlu memenuhi ketiga prinsip umum di atas. Prinsip umum ini, menurut Russell, sejatinya bukan hukum pikiran. Tetapi hukum realitas. Artinya, seluruh realitas memenuhi prinsip umum itu. Jika kita berpikir sesuai prinsip umum ini maka kita berpikir benar sesuai realitas.

2. Hukum Identitas

Jika Rara cantik maka kesimpulannya Rara memang cantik. Hukum identitas yang jelas. Dalam rumus matematika lebih jelas.

A = A
B = B
5 = 5

Meski ini prinsip umum yang jelas dengan sendirinya, tampaknya, untuk bisa memahaminya perlu proses pengamatan, perlu pengalaman. Dalam kehidupan sehari-hari ketika kita melihat sebuah mobil maka kita tahu itu adalah mobil. Ketika kita melihat meja maka itu adalah meja. Dari pengalaman ini kita menyadari prinsip identitas.

Kita bisa mengantisipasi jauh ke depan. Jika 10 tahun ke depan ada batu di Bandung maka itu pasti batu di Bandung. Jika ada makhluk hidup di Mars maka itu adalah makhluk hidup di Mars. Kita yakin itu semua benar. Berlaku umum. Tanpa kita harus mengalaminya secara langsung.

Namun demikian, kita tidak bisa yakin bahwa bayi yang baru lahir memahami prinsip umum ini. Bayi akan mengamati alam sekitarnya untuk kemudian memahami prinsip umum ini – meski tidak harus diformulasikan dalam bentuk bahasa. Ketika bayi melihat ibunya maka itu adalah ibunya. Ketika bayi melihat susu itu adalah susu.

Meski prinsip umum ini selalu benar tetapi penerapan pada kasus yang kompleks bisa lebih menantang. Rara cantik maka tidak jelek. Dari sudut pandang lain, cantik adalah jelek.

Misal hanya ada dua jenis penilaian: cantik atau jelek. Atau S = {cantik, jelek}.

Jika Rara cantik maka Rara memang cantik, dan pasti Rara tidak jelek. Jelas dan pasti itu. Tetapi orang dapat mengatakan bahwa Rara cantik dilihat dari wajahnya. Tapi Rara jelek dilihat dari warna bajunya. Maka, cantik = jelek = tidak cantik. Tentu saja kita mudah melihat kesalahan berpikir dengan cara ini. Perbedaan sudut pandang bisa menghasilkan penilaian yang berbeda.

“Harga komputer ini mahal, dan tidak mahal.”

Maka, mahal = tidak mahal. Lagi kita akan mudah meneliti ini terjadi karena beda sudut pandang. Komputer mahal karena dilihat dari uang yang dimiliki pembeli tidak cukup untuk membelinya. Komputer tidak mahal karena kinerjanya menghasilkan uang lebih besar dari harga belinya.

Jika konsisten maka, mahal = mahal. Dan, tidak mahal = tidak mahal. Semua jelas dengan sendirinya. Realitas alam semesta seperti itu.

3. Hukum Non-Kontradiksi

Saling melengkapi antara hukum kontradiksi dan hukum identitas. Rara yang cantik dipanggil polisi gara-gara melanggar lampu merah lalu lintas di jalan Setiabudi. Polisi melihat rekaman kamera cctv bahwa ada wanita cantik, mirip Rara, melanggar lampu merah tepat pukul 10 pagi. Tapi Rara menolaknya. Rara mengatakan tidak melanggar. Itu bukan Rara.

Memang rekaman video itu mirip Rara. Sama cantiknya. Sama warna bajunya. Sama warna motornya. Dan sama dari berbagai sudut pandang. Rara tidak bisa menyangkal begitu saja. Rara butuh argumen yang lebih kuat dari sekedar sangkalan belaka. (Contoh kasus ini tentu beda dengan kasus video panas mirip artis yang heboh itu).

Untungnya Rara ingat bahwa di waktu yang sama dengan dalam video dimaksud, Rara sedang belajar matematika bersama teman-teman di APIQ. Lalu Rara menunjukkan rekaman video, yang jelas tanpa ragu, bahwa hari itu dari pukul 9 sampai dengan pukul 11, ia sedang belajar matematika di APIQ.

Polisi mempelajari video para siswa sedang belajar di APIQ. Lalu polisi yakin bahwa di waktu itu Rara benar-benar sedang belajar di APIQ. Maka video yang melanggar lalu lintas itu pasti bukan Rara. Video itu hanya mirip Rara tapi bukan Rara.

Polisi sudah tepat menerapkan prinsip umum non-kontradiksi. Dalam sidang pengadilan sering menerapkan prinsip non-kontradiksi berupa alibi.

A: Rara belajar di APIQ.
B: Rara TIDAK belajar di APIQ

Pernyataan A dan B saling ber-kontradiksi maka tidak mungkin bisa benar serentak kedua-duanya. Jika A benar maka B pasti salah. Karena terbukti A benar, Rara sedang belajar di APIQ maka B salah. Jadi, Rara melanggar lalu lintas adalah bernilai SALAH. Pernyataan A di atas bisa disebut sebagai alibi bagi Rara.

Prinsip non-kontradiksi memastikan “ketiadaan sesuatu” sedangkan prinsip identitas memastikan “keberadaan sesuatu”.

“Apakah ada bilangan positif terbesar?”

Misalkan ada bilangan terbesar yaitu P. Tetapi kita bisa membuat bilangan Q = P + 1. Di mana Q lebih besar dari P karena Q = P + 1.

A: P adalah bilangan positif terbesar
B: P BUKAN bilangan positif terbesar

Pernyataan B adalah ber-kontradiksi dengan pernyataan A. Karena pernyataan A masih meragukan, sementara pernyataan B lebih meyakinkan, maka kesimpulannya adalah tidak ada bilangan positif terbesar. Terbukti. Pembuktian dengan prinsip kontradiksi ini sering dikenal dengan reductio ad absurdum, membuang yang absurd.

Lagi, prinsip umum non-kontradiksi ini berlaku umum dan jelas. Tetapi penerapan pada situasi kompleks bisa lebih menantang. Harga komputer ini mahal, dan tidak mahal. Seperti kontradiksi. Solusinya adalah karena ada beda sudut pandang yang sudah kita bahas di bagian prinsip umum identitas.

4. Hukum Antara

Tegas. Hanya pilih satu saja.

Tidak ada tengah-tengah. Tidak ada campuran. Tidak ada keraguan. Tidak ada abu-abu. Hitam, atau bukan hitam saja. Putih, atau bukan putih saja.

Perhatikan bendera Indonesia yang hanya berwarna merah putih. Bila Rara hanya bisa mengintip satu titik dari bagian bendera Indonesia maka warna yang dilihat Rara pasti merah atau putih, salah satunya saja. Jika titik yang terlihat bukan merah maka pasti putih.

Tetapi hidup ini tidak hanya merah putih, tidak hanya hitam putih. Hidup ini adalah warna-warni. Hidup ini bagai pelangi. Tepat. Itu benar sekali. Realitas hidup memang beragam. Maka kita perlu sudut pandang yang luas.

Dalam keluasan realitas, yang penuh aneka ragam, tetap berlaku “hukum antara” bersifat umum. Bila tidak hati-hati hukum ini bisa jadi jebakan. Maka kita perlu membahasnya di sini.

Pandangan hitam putih sering disebut sebagai oposisi biner. Dua hal yang saling bertentangan. Sejatinya hitam putih tidak oposisi biner dalam banyak hal. Syarat oposisi biner adalah afirmasi lawan negasinya.

Hitam vs Bukan Hitam
Putih vs Bukan Putih
Merah vs Bukan Merah
Benar vs Bukan Benar
Besar vs Bukan Besar

Warna pelangi bisa kita buat hanya dua kelompok yaitu merah atau bukan merah. Jingga, kuning, hijau, biru, lembayung, dan ungu masuk pada kelompok bukan merah. Sehingga ketika Rara memandang satu titik pada pelangi bisa dipastikan berwarna merah atau bukan merah, seperti di atas.

Apakah berdasar hukum antara ini orang harus mengambil sikap tegas hitam putih?

Sikap tegas hitam putih adalah sikap yang salah dalam menerapkan hukum antara. Seharusnya hitam vs bukan hitam. Karena bukan hitam bisa jadi merah, kuning, biru, putih, atau lainnya. Sehingga, dengan hukum antara, kita sadar ada banyak pilihan warna. Meskipun awalnya tampak hanya ada dua pilihan saja.

5. Penutup

Tiga prinsip umum di atas dapat saja kita formulasikan dengan bentuk yang berbeda-beda tetapi intinya akan mirip seperti di atas. Secara alamiah, ketika kita berpikir, pasti menerapkan tiga prinsip umum di atas. Hanya pada kondisi-kondisi tertentu saja, secara sadar, kita memanfaatkan prinsip umum untuk mendapatkan bukti yang kuat.

Prinsip non-kotradiksi berguna untuk membuktikan sesuatu yang tidak ada. Karena tidak ada maka kita tidak bisa memberi contoh. Berpikir induksi tidak akan bisa diterapkan dalam hal ini. Eksperimen juga tidak bisa menunjukkan sesuatu yang tidak ada. Solusinya adalah gunakan prinsip non-kontradiksi. Caranya, pertama misalkan sesuatu itu ada. Kedua, tunjukkan bahwa terjadi kontradiksi. Ketiga, kesimpulannya sesuatu itu tidak ada. Terbukti.

Pada bagian selanjutnya kita akan membahas pengetahuan a priori yang berlaku umum dan selalu benar.

6. Diskusi

Tiga prinsip umum, yang sekilas tampak jelas benar, dalam realitas, menghadapi banyak tantangan. Kejelasan prinsip-prinsip ini menjadi, sedikit banyak, goyah. Bagi kita, orang yang mengkaji filsafat, barangkali perlu memberi perhatian lebih terhadap dinamika prinsip umum ini.

6.1 Non-Identitas

Hukum identitas mendapat tantangan hukum non-identitas atau different. Deleuze (1920 – 1995) menunjukkan bahwa different lebih prior dari identitas. Karena ada keragaman different, kemudian, kita baru bisa menyimpulkan identitas.

6.2 Kontradiksi

Hukum non-kontradiksi menghadapi tantangan hukum kontradiksi. Hegel (1770 – 1831) lebih mengutamakan kontradiksi. Alam raya ini terus bergerak karena ada kontradiksi sampai akhirnya menuju spirit absolut.

6.3 Intuisionisme

Hukum antara mendapat tantangan dari pandangan intuitif. Brouwer (1881 – 1966) mengembangkan pandangan intuisionisme. Kita hanya bisa memastikan suatu pernyataan bernilai benar atau salah hanya ketika kita bisa mengkonstruksi – nilai kebenaran – pernyataan itu atau mengkonstruksi negasinya. Jika kita tidak bisa mengkonstruksinya maka kita tidak bisa menyimpulkan kebenaran dengan hukum antara.

Kita akan membahas tantangan-tantangan ini pada bagian-bagian selanjutnya. Sekilas di sini, kita bahas beberapa prospek dari challenge di atas.

6.4 Tantangan dan Prospek

Perhatikan pernyataan (K): Sistem kapitalis adalah sistem terbaik.

Berdasar hukum idenitas, K = K. Secara tegas, kapitalis adalah yang terbaik. Kemudian, para pendukung kapitalis mengumpulkan bukti untuk mendukung klaim mereka. Bila ada tanda-tanda yang agak beda, misal menunjukkan cacat kapitalis, maka tanda tersebut perlu diframing atau dibuang. Sehingga, kapitalis adalah yang terbaik. Identitas K = K karena memang K.

Non-identitas, sebaliknya, justru menunjukkan hal-hal yang berbeda dari K. Banyak bukti-bukti yang menunjukkan bahwa kapitalisme tidak berjalan dengan baik. Perbedaan antara bukti-bukti ini dan klaim kapitalisme sebagai terbaik perlu kita uji dengan memadai. Jika K benar, kapitalisme adalah yang terbaik, itu karena ada peran dukungan dari yang bukan kapitalis. Barangkali karena sosialis kalah baik. Teonomic juga kalah baik.

Jadi, klaim K menjadi bisa valid karena ada yang beda dari kapitalisme. Seandainya tidak ada sosialis dan teonomic maka K juga tidak ada. Validitas K tergantung kepada selain K.

Prospek baru bisa terjadi dengan different ini. Ketika kita mengkaji sosialis dan teonomic, misal ternyata hasilnya, sosialis dan teonomic lebih baik dari kapitalisme. Akibatnya, klaim K yang mengatakan kapitalisme sebagai yang terbaik adalah klaim yang salah. Barangkali, selanjutnya, kita perlu melakukan beberapa koreksi terhadap K. Dengan demikian, akan tejadi klaim yang lebih dinamis.

Sementara, pihak yang berkeras kepala menyatakan K = K karena kapitalisme adalah memang sistem terbaik, kita bisa sebut mereka sebagai katak dalam tempurung. Mereka menilai diri sendiri berdasar standar diri sendiri. Katak dalam tempurung bisa terjadi dalam beragam klaim. “Pikiran kulo adalah yang terbaik.” “Aliran kulo adalah yang terbaik.” “Filosofi kulo adalah yang terbaik.” Klaim-klaim seperti itu sulit dipertanggungjawabkan. (Kulo = saya).

Prospek kontradiksi lebih dramatis lagi. Kontradiksi lebih keras dari different. Karena, kontradiksi menyatakan perlawanan total, bukan sekedar perbedaan dari beragam pihak.

Ketika klaim K mengatakan bahwa kapitalisme adalah sistem terbaik, maka, langsung muncul lawannya, misal (-K), yang menyatakan bahwa kapitalisme BUKAN sistem terbaik. Selanjutnya K berdialektika dengan (-K) menjadi (KK): kapitalisme adalah salah satu sistem terbaik.

Dan, tidak berhenti di (KK) saja. Karena, klaim (KK) akan langsung menghadapi kontradiksi lagi, misal (-KK): kapitalisme BUKAN salah satu sisten terbaik. Selanjutnya, terjadi proses dinamis tanpa pernah berhenti. Dengan prinsip kontradiksi ini, kita dilarang melakukan klaim dengan cara menjadi katak dalam tempurung. Setiap klaim harus menghadapi kontradiksinya.

Terakhir, prospek intuisionisme lebih menarik lagi. Intuis menolak hukum-antara (HA): pernyataan (K or -K) pasti BENAR.

Intuis menuntut agar kita bisa mengkonstruksi bukti bahwa K: kapitalisme adalah sistem terbaik. Kita tahu, bukti seperti itu, sejatinya, sulit diperoleh siapa pun. Atau, intuis lebih longgar, kita hanya dituntut mengkonstruksi bukti (-K). Sama saja, itu bukti yang sulit diperoleh. Lagi pula, siapa yang minat membuktikan kapitalis sebagai BUKAN yang terbaik? Aktivis kiri dan kanan barangkali berminat.

Para kapitalis, ketika kesulitan mebuktikan K, bisa bergeser menunjukkan bahwa (-K) adalah SALAH. Negara-negara yang tidak kapitalis, saat ini, menjadi negara miskin, mundur, dan terbelakang. Kondisi seperti itu menjadi bukti bahwa (-K) adalah SALAH. Konsekuensinya, K menjadi benar: kapitalisme adalah sistem terbaik.

Tentu saja, intuis menolak kesimpulan seperti itu. Kondisi negara yang miskin, mundur, dan terbelakang tidak mencukupi untuk membuktikan (-K) sebagai SALAH. Karena, kita gagal mengkonstruksi bukti untuk K mau pun (-K), menurut intuis, setidaknya saat ini, hal itu menunjukkan K dan (-K) sama-sama sebagai tidak relevan. Akibatnya, kita perlu membuat klaim yang relevan, yang buktinya bisa dikonstruksi, boleh afirmasi atau negasinya.

Apakah kapitalisme adil? Apakah kapitalisme mengatasi kesenjangan ekonomi? Apakah kapitalisme memperkuat kepedulian antar sesama? Barangkali, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas bisa menjadi klaim yang relevan menurut intuis.

6.5 Aneka Tunggal

Heidegger (1889 – 1976) meyakini bahwa realitas-being adalah identik dan difference; secara serentak. Saya menyebutnya sebagai aneka tunggal; aneka adalah difference atau keragaman; tunggal adalah sama atau identik.

Pernyataan (A) bahwa “K = K”.

Kita membaca (A) sebagai “K sama dengan K.” Apa makna-sama-dengan? Apa makna simbol “=”? Jadi, apa makna-identitas?

Kita bergeser; semula, mengkaji K untuk menunjukkan identik dengan K itu sendiri; jadi, mengkaji apa makna-identitas itu sendiri. Mengapa kita tidak cukup hanya dengan menyatakan “K” saja? Karena hanya “K” menjadi tautologi tanpa arti; sehingga tidak memadai.

Pernyataan (A) bisa kita ubah menjadi

(A2) K dan K adalah identik; atau, K dan K adalah sama.

K sebelah kiri adalah “bagian” dari identik. Demikian juga, K sebelah kanan adalah “bagian” dari identik.

(B) Kopi adalah Kopi; atau Kopi = Kopi.

Kita bisa menganalisis pernyataan (B) dengan cara yang mirip dengan di atas. Kopi dan Kopi adalah identik. Sehingga, Kopi adalah “anggota” dari identik; anggota dari identitas.

(C) Kopi-realitas = Kopi-pikiran; Kopi-realitas dan Kopi-pikiran adalah identik.

Kopi-realitas identik dengan kopi-pikiran. Kopi-realitas yang ada di depan Anda itu adalah identik dengan Kopi-pikiran yang Anda lihat di depan Anda itu. Kopi-realitas adalah “anggota” dari identitas dan Kopi-pikiran adalah “anggota” dari identitas.

Apa makna-identitas? Makna-identitas adalah anugerah.

Kopi-realitas memberi anugerah kepada pikiran Anda sehingga Anda melihat Kopi-realitas berupa Kopi-pikiran yang nyata. Arah sebaliknya, Kopi-pikiran memberi anugerah kepada Kopi-realitas sehingga Kopi-realitas menjadi bermakna. Kopi-realitas dan Kopi-pikiran adalah identik sama-sama sebagai anugerah.

Tetapi, kita sadar bahwa realitas berbeda dengan pikiran; meski, realitas dan pikiran juga identik. Jadi, aneka tunggal; difference identik; berbeda tetapi sama.

Analisis lebih jauh, realitas itu sendiri adalah difference. Kopi-realitas adalah kopi-apa-adanya; kopi-ada-bagian-tersembunyi; kopi-aneka-arti. Jadi, realitas adalah aneka tunggal. Demikian juga, pikiran adalah aneka tunggal.

Jika realitas adalah “anggota” dari anugerah; dan pikiran adalah “anggota” dari anugerah; apa makna-anugerah? Anugerah adalah realitas nyata yang selalu memberi tanpa henti dan selalu menata sehingga realitas tertata.

Prinsip aneka tunggal bisa kita nyatakan,

Aneka Tunggal = AT = Aneka keragaman realitas adalah tunggal; aneka keragaman realitas adalah identik; dan realitas tunggal adalah beragam; identitas realitas adalah beragam.

Kita bisa menelusuri formula prinsip aneka tunggal ke pemikir masa lalu: Ibnu Arabi (1165 – 1240); Mulla Sadra (1572 – 1641); Heidegger (1889 – 1976).

Prinsip aneka tunggal (AT) menggeser klaim identitas K = K yang semula bersifat metafisika menjadi bersifat ontologi. Klaim metafisika bersifat pasti, stabil, dan universal. Klaim ontologi bersifat kreatif, dinamis, dan konkret. Pergeseran dari metafisika ke ontologi adalah lompatan besar; leap; atau spring.

Dominasi Metafisika

Mari sedikit membahas kembali ke prinsip identitas K = K secara metafisika.

Kopi = Kopi

Kita membutuhkan identitas metafisika ini untuk memudahkan memahami realitas; yang kita sederhanakan. Anak-anak yang belajar matematika perlu memahami realitas secara metafisika yang bersifat universal.

2 + 1 = 3

Pernyataan sebelah kiri “2 + 1” identik dengan “3” pernyataan sebelah kanan; secara universal. Contoh “2 cangkir kopi” ditambah “1 cangkir kopi” akan identik dengan “3 cangkir kopi.” Prinsip universal ini, di era digital, bergerak dari matematika menuju teknologi; misal teknologi komputer dan AI (akal imitasi / artificial intelligence). Komputer dan AI mampu menyelesaikan tugas dengan cepat karena seluruh proses bersifat universal. “2 + 1 = 3” bernilai BENAR hari ini, 10 hari ke depan, sampai 10 abad ke depan. Kita pasti sudah mati dalam 10 abad ke depan. Tetapi kita yakin “2 + 1 = 3” tetap benar di 10 abad ke depan. Dengan asumsi metafisika universal ini, AI mampu bekerja super cepat.

Problem muncul ketika teknologi makin mendominasi; metafisika makin mendominasi. Kita salah mengira bahwa realitas adalah metafisika; sehingga, realitas 10 abad ke depan bisa kita pastikan dari sekarang; semisal “2 + 1 = 3” itu. Tidak pasti begitu. Realitas sebenarnya “2 cangkir kopi” ditambah “1 cangkir kopi” akan menghasilkan banyak kejutan yang mempesona; bukan hanya “3 cangkir kopi”. Hari ini, “2 cangkir kopi” bisa membuat kejutan; apa lagi di 10 abad ke masa depan. Kita perlu berpikir terbuka terhadap beragam kejutan realitas anugerah yang penuh pesona. Di sini, kita melompat dari dominasi metafisika menuju realitas konkret ontologi yang penuh pesona. Kita membutuhkan keduanya: metafisika dan ontologi.

Hidup kita adalah lompatan besar berupa anugerah konkret dan universal bagi seluruh semesta; bagi makhluk hidup; dan bagi makhluk yang tidak hidup. Kita akan membahas lebih detil di bagian-bagian selanjutnya.

Lanjut ke Pengetahuan A Priori
Kembali ke Philosophy of Love

Induksi: Cantik Keturunan

Rara memang cantik. Ibunya Rara juga cantik. Bahkan neneknya pun cantik. Maka bila Rara nanti punya anak perempuan maka pasti cantik juga. Dilanjutkan lagi, bila punya cucu perempuan pasti juga cantik. Apakah bisa kita berpikir seperti itu?

Tentu saja bisa. Cara berpikir yang lebih luas seperti di atas dikenal sebagai metode berpikir induktif yang mendorong pengetahuan berkembang maju pesat. Kita akan membahas lebih detil berpikir induktif pada bagian ini.

1. Terbit Matahari
2. Perkembangan Pengetahuan
2.1 Induksi Paling Kuat
2.2 Mengapa Induksi Pasti Benar
3. Berpikir Deduktif Lebih Pasti
4. Anomali Adalah Pengetahuan
5. Cantik Turunan
5.1 Dugaan
5.2 Kausalitas
5.3 Mutlak Benar
6. Ringkasan
7. Diskusi
7.1 Falsifikasi Langsung
7.2 Falsifikasi Paradigma
7.3 Falsifikasi Program
7.4 Penolakan Induksi
7.5 Penolakan Kausalitas
7.6 Generalis: Induksi Muda
7.7 Futuris: Induksi Dewasa
7.8 Antisipasi
7.9 Inferensi

Kita mudah menduga bahwa berpikir induktif bisa benar, bisa juga salah. Tepat sekali. Dengan metode yang hati-hati, kita bisa menjamin bahwa berpikir induksi mendekati kebenaran 100%. Russell menunjukkan caranya, dengan mengungkap suatu hubungan sebab-akibat yang mendukung berpikir induksi tersebut. Misal, asumsikan, bahwa penyebab cantik adalah suatu “gen c” yang selalu diturunkan dari ibu ke anak perempuannya. Dan kita menemukan terdapat gen c pada Rara maka kita sah menyimpulkan bahwa anak perempuan Rara pasti cantik juga.

Sementara, Karl Popper mengingatkan bahwa, kebenaran berpikir induksi ini, perlu difalsifikasi. Sehingga kita menemukan letak kesalahan yang mungkin dan mengembangkan pengetahuan yang lebih kokoh. Popper menolak penggunaan metode induksi. Sementara, beberapa pemikir mendukung induksi.

1. Terbit Matahari

Apakah besok matahari akan bersinar? Apakah besok matahari akan terbit lagi? Apakah besok masih ada air di bumi?

Jawabannya positif. Ya, benar semua!

Kita tahu bahwa besok matahari akan bersinar. Tetapi tidak ada jaminan itu benar. Bisa saja nanti malam berpendar. Dan besok, tidak lagi matahari bersinar.

Berpikir induksi akan menjawab ini semua dengan jelas.

Pertama, kemarin matahari bersinar. Kemarin lusa matahari bersinar. Pekan lalu matahari bersinar. Bulan lalu matahari bersinar. Dan sepanjang sejarah manusia, matahari tetap bersinar. Maka kita menyimpulkan bahwa besok matahari bersinar.

Meski kesimpulan di atas benar tetapi tidak meyakinkan.

Kedua, kita bisa menyelidiki mengapa matahari bersinar. Di matahari terjadi reaksi nuklir yang menghasilkan energi, salah satunya, berupa cahaya matahari. Sinar matahari, sebagai gelombang elektromagnetik, merambat sampai ke bumi, yang kita amati. Dari penelitian, diperkirakan umur matahari, masih sampai lebih dari 5 milyard tahun ke depan. Masih ada reaksi nuklir terus-menerus sepanjang milyardan tahun di matahari. Sampai saat ini tidak ada tanda-tanda istimewa akan terjadi perubahan mendadak reaksi nuklir matahari di atas. Maka kita menyimpulkan matahari akan bersinar esok hari.

Dengan cara analisis yang kedua maka kita makin yakin validitas berpikir induktif. Kita tidak hanya mengamati kasus permukaan bahwa matahari bersinar atau tidak. Tetapi kita melangkah lebih jauh dengan mencermati hukum sebab akibat yang terkait pada proses sinar matahari.

Bandingkan dengan berpikir induksi pada kasus yang berbeda. Di pagi hari Senin, Rara membuka pintu rumahnya. Pagi hari Selasa, Rara juga membuka pintu rumahnya. Begitu seterusnya kejadian sampai 99 kali. Pertanyaannya: apakah besok pagi Rara akan membuka pintu rumahnya? Sehingga lengkap sampai 100 kali?

Analisis sederhana menunjukkan bahwa penyebab Rara membuka pintu adalah keputusan Rara itu sendiri. Jika Rara mengambil keputusan untuk membuka pintu maka besok pagi ia akan membuka pintu. Jika Rara memutuskan sebaliknya maka yang terjadi bisa sebaliknya. Berpikir induksi dalam kasus Rara membuka pintu hanya berupa dugaan semata. Meski sudah pernah terjadi peristiwa membuka pintu 99 kali atau seribu kali, atau bahkan sejuta kali maka tetap tidak ada jaminan besok akan terjadi lagi.

Ketiga, dalam kasus apakah matahari besok bersinar, kita dapat meneliti gerak-gerak benda di langit. Termasuk gerak matahari, planet-planet, dan bintang-bintang lain. Gerak jagad raya dapat dihitung dengan hukum gravitasi dan mekanika Newton. Dari perhitungan itu kita peroleh bahwa bumi akan tetap berputar pada porosnya sambil mengelilingi matahari. Dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa hukum gravitasi akan berhenti bekerja. Sehingga kita, sah, menyimpulkan bahwa besok matahari akan bersinar.

Memang bisa saja, misalnya, nanti malam bumi bertabrakan dengan planet Mars. Di saat yang sama, malam nanti, matahari bertabrakan dengan bintang yang lebih besar sampai hancur lebur. Atau orang menyebut sebagai terjadi kehancuran alam semesta. Maka besok matahari TIDAK bersinar. Meski hal ini bisa terjadi tetapi kita tidak melihat ada tanda-tanda yang menunjukkan hal itu bisa terjadi.

2. Perkembangan Pengetahuan

Induksi mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan konsep generalisasi, yang dipakai dalam berpikir induksi, dari pengetahuan yang sedikit kita bisa menyimpulkan yang lebih luas. Dilengkapi dengan metode ilmiah, maka kita bisa melakukan banyak eksperimen hanya di laboratorium, tetapi hasil kesimpulan berlaku luas ke seluruh alam semesta.

Di laboratorium, penelitian menemukan bahwa arus listrik (I) yang mengalir berbanding terbalik dengan nilai hambatan (R). Meski hanya ditemukan di laboratorium tetapi para insinyur yakin bahwa perilaku arus listrik seperti di atas berlaku umum. Maka insinyur dapat mendesain teknologi berdasar perilaku arus listrik di atas (dan aturan-aturan lain yang ditemukan di lab). Dan hasil desain teknologi itu berupa smartphone yang kita pakai, layar monitor yang kita lihat, dan komputer yang memudahkan kerja manusia.

Tentu saja, para peneliti tidak perlu tahu bahwa smartphone akan bisa beroperasi di rumah masing-masing pengguna. Peneliti hanya perlu sudah menguji di lab. Lalu berpikir induksi. Dan benar saja smartphone bisa kita pakai di mana saja. Kadang-kadang kita menemukan cacat pada produk baru smartphone, misal layar yang pecah. Sehingga smartphone tidak beroperasi. Dengan mudah kita bisa mengatakan bahwa itu hanya kejadian khusus saja. Mungkin karena smartphone jatuh atau lainnya. Yang jelas, secara umum, berpikir induktif adalah valid.

2.1 Induksi Paling Kuat

Berpikir induksi yang paling meyakinkan adalah induksi matematika untuk bilangan bulat. Barangkali dengan contoh akan lebih mudah. Perhatikan deret bilangan ganjil positif berikut ini.

1 + 3 + 5 + 7 + … … …

Kita mudah menebak bahwa jumlah dari deret di atas adalah kuadrat atau perkalian banyaknya angka (bilangan).

1 + 3 = 2 x 2 = 4

1 + 3 + 5 = 3 x 3 = 9

Apakah kita bisa berpikir induksi? Apakah bila ada 100 angka maka jumlahnya adalah 100 x 100? Yaitu 10 000. Ternyata benar. (Saya menyebut angka meski yang dimaksud bilangan).

Apakah juga berlaku bila ada 1000 angka maka jumlahnya 1 000 x 1 000 = 1 000 000. Ternyata benar juga.

Matematika punya cara untuk membuktikan validnya berpikir induktif ini dengan keyakinan 100% benar.

Asumsikan bahwa itu berlaku untuk banyak angka n maka jumlah seluruhnya,

S = n x n

Maka kita perlu menunjukkan bila ditambah 1 angka lagi tetap benar. Maksudnya bila 2 angka benar bahwa 2 x 2 = 4 maka harus benar juga,

2 x 2 + (5) = 4 + (5) = 9 = 3 x 3 (Benar)

Bilangan ganjil berikutnya dibentuk dengan rumus (2n + 1).

Maka

n x n + (2n + 1) harus sama dengan (n + 1) x (n + 1)

Dan memang benar,

(n + 1) x (n + 1) = n x n + 2n + 1 (Terbukti).

Kesimpulan bahwa jumlahnya adalah kuadrat selalu benar 100% secara matematika. Tidak ada keraguan dalam induksi matematika ini. Beda dengan induksi alam semesta yang masih menyisakan sedikit banyak keraguan. Dengan falsifikasi Karl Popper kita bisa menyisihkan keraguan, yang tersisa itu, guna membentuk pengetahuan yang lebih kokoh.

Barangkali ada yang penasaran bagaimana induksi matematika di atas terbukti dengan kuat tanpa keraguan?

Pertama, kita menduga bahwa kuadrat itu berlaku untuk n angka. Dan ini bisa kita coba untuk n yang kecil misal n = 2 ternyata benar. Kedua, kita membuktikan bahwa kuadrat itu berlaku untuk (n + 1) maka berlaku semua n berapa pun.

Misal mengapa berlaku untuk n = 100? Karena berlaku untuk 2 angka maka berlaku juga untuk 3 angka. Dan seterusnya maka berlaku untuk 99 angka, sampai berlaku juga untuk 100 angka. Jadi berapa pun nilai n yang kita pilih maka kesimpulan kita akan dijamin benar berdasar induksi matematika.

2.2 Mengapa Induksi Pasti Benar

Mengapai induksi matematika pasti benar? Sedangkan mengapa induksi sains alam dan sosial masih ada kemungkinan salah, meski umumnya benar?

Matematika selalu benar karena didasarkan pada pengetahuan a priori. Sedangkan sains, ada kemungkinan salah karena, mempertimbangkan pengetahuan a posteriori. Lebih lengkap tentang a priori dan a posteriori kita bahas lengkap di bab khusus tulisan ini. Kita akan membahas bagian terpentingnya di saat ini.

Untuk induksi matematika kita punya kemewahan mendefinisikan kasus demi kasus sesuai keingingan kita, a priori. Misal deret bilangan ganjil,

1 + 3 + 5 … … …

Kita bisa memastikan hanya terdiri dari bilangan ganjil yang urut. Bila ada angka 6 akan dimasukkan ke deret maka kita boleh menolaknya. Bahkan bila semua bilangan ganjil tapi susunan acak-acakan maka kita boleh menyusun ulang sesuai aturan yang kita pakai.

Dengan kemewahan ini, kita kemudian berpikir induktif sesuai logika matematika. Maka hasil induksi matematika ini terjamin benar 100%.

Sains bernasib beda. Sains tidak punya kemewahan untuk mendefinisikan fenomena alam. Meski sains sudah berusaha membatasi kajian dengan definisi yang ketat, masih ada peluang, ada hal-hal yang di luar dugaan.

Lagi pula, induksi matematika hanya merupakan satu cara menemukan bukti kebenaran. Ada cara lain, yang lebih pasti, yaitu berpikir deduktif dalam matematika. Tampaknya, sains juga tidak memiliki kemewahan menerapkan berpikir deduktif sekuat matematika.

3. Berpikir Deduktif Lebih Pasti

Berpikir induktif matematika bernilai pasti benar. Sedangkan, berpikir deduktif juga selalu benar, baik untuk bidang matematika atau bidang lainnya. Deduktif tetap selalu benar karena berdasar analisis logis terhadap sistem aksiomatik semisal matematika.

“Setiap presiden Amerika adalah orang pilihan.”
“Biden adalah presiden Amerika.”
Kesimpulan:
“Biden adalah orang pilihan”

Cara berpikir di atas adalah deduktif. Dijamin pasti bernilai benar, kesimpulannya. Dalam matematika, kita akan menemukan banyak cara berpikir deduktif ini.

“Setiap segitiga memiliki 3 sudut.”
“ABC adalah segitiga.”
Kesimpulan: “ABC memiliki 3 sudut.”

Yang menarik adalah, induksi matematika seperti contoh kita di atas, contoh deret bilangan, dapat kita buktikan secara deduksi sehingga bernilai benar 100%. Mari kita perhatikan kembali deret bilangan ganjil positif.

1 + 3 + 5 + … … … + (2n -1)

Jumlah deret aritmetika di atas bisa kita hitung dengan menjumlah suku pertama dengan suku terakhir lalu dikalikan banyaknya pasangan yaitu n/2. Kita peroleh,

S = (1 + (2n – 1)) x (n/2)
= 2n x (n/2)
= n x n

Jadi terbukti, secara deduktif, bahwa jumlahnya adalah n x n. Sama persis dengan pembuktian induksi. Maka dengan cara ini, kita makin yakin, bahwa induksi matematika bernilai benar 100% karena sepadan dengan deduksi.

Untuk sains – eksak dan sosial – tidak seberuntung matematika. Sains hanya bisa deduksi dengan batasan yang lebih ketat. Misalnya kita bisa bertanya, “Apakah matahari bersinar pada tahun 2010?”

“Matahari bersinar dari tahun 2000 sampai 2020”
“Tahun 2010 terletak di antara 2000 sampai 2020”
Kesimpulan: “Matahari bersinar pada tahun 2010.”

Kesimpulan deduksi kita di atas sah dan bernilai benar 100%, meski pun ini sains bukan matematika. Mudah kita lihat bahwa deduksi ini hanya berlaku untuk periode masa lalu, terbatas. Bila kita dihadapkan pada pertanyaan apakah matahari bersinar pada tahun 2050 maka sains akan menggunakan cara induksi lagi.

Sedikit kembali kepada induksi matematika yang terjamin benar 100% di atas, sejatinya, ketika kita memisalkan bilangan bulat positif n maka bilangan n ini bersifat universal. Berlaku untuk seluruh bilangan bulat. Tidak sekedar partikular. Maka masuk akal bila kesimpulan induksi matematika juga bersifat universal, selalu benar.

Ditambah lagi, dalam matematika, kita memiliki kemewahan untuk mendefinisikan deret sesuai kriteria kita secara a priori. Lengkap sudah, kebenaran matematika bersifat pasti.

4. Anomali adalah Pengetahuan

Dalam mengembangkan pengetahuan, anomali bisa menjadi petunjuk arah baru pengetahuan. Anak-anak tidak suka belajar matematika, misalnya. Seharusnya, mendapat ilmu, anak pasti suka. Anomali ini menjadi petunjuk bagi saya untuk mengembangkan metode belajar matematika APIQ yang disukai oleh banyak anak-anak.

Einstein berhasil mengembangkan teori fisika modern karena ada anomali dari fisika klasik Newton. Teori mekanika quantum juga berkembang dari anomali mekanika klasik.

Karl Popper menyatakan bahwa teori sains tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Hanya bisa dibuktikan kesalahannya atau falsifikasi. Dengan cara ini, kita bisa memilih teori sains yang lebih bagus atau memodifikasi teori sains yang ada menjadi lebih tepat.

Mari kita ambil contoh sains fisika Newton. Misal kita naik kereta api dengan kecepatan tetap 40 km/jam. Lalu di dalam kereta api saya berjalan ke depan dengan kecepatan 1 km/jam. Maka kecepatan total saya,

k = 40 + 1 = 41 km/jam.

Rumusan mekanika klasik ini terbukti benar untuk semua eksperimen yang pernah dikaji. Bila ada anomali, bahkan, dicari-cari ada salahnya di mana. Lalu dikoreksi – hasil eksperimennya. Sehingga, teori mekanika klasik tetap benar.

Einstein melihat suatu anomali. Misal kita naik kereta dengan kecepatan 0,7 c. Lalu di atas kereta saya lari ke depan dengan kecepatan 0,5 c. Maka kecepatan total saya adalah,

k = 0,7 + 0,5 = 1,2 c

Anomali…!!! Tidak mungkin bisa lebih besar dari c, kecepatan cahaya. Dari anomali ini, Einstein berhasil menyusun teori relativitas khusus, yang sangat berguna untuk pengembangan teknologi nuklir.

5. Cantik Turunan

Nah, kita kembali membahas cantiknya Rara akankah diwariskan kepada anak-anak perempuan Rara? Artinya, apakah bisa dipastikan, bahwa anak-anak perempuan Rara akan cantik semua?

5.1 Dugaan

Pertama, jika kita hanya memperhatikan fenomena cantiknya Rara, ibunya, dan nenek moyangnya maka kita hanya bisa menduga bahwa anak perempuan Rara akan cantik. Dugaan ini tidak bernilai ilmu pengetahuan, hanya sebatas dugaan.

5.2 Kausalitas

Kedua, jika kita mengkaji lebih dalam hukum sebab-akibat bagaimana seorang ibu menurunkan sifat cantik kepada putrinya maka ini bernilai ilmu pengetahuan. Misalnya benar, setelah kajian mendalam, bahwa cantiknya Rara akan diturunkan kepada putri-putrinya maka tetap ada batasan kebenarannya. Artinya, putri Rara akan cantik selama hukum-hukum sains terpenuhi. Dan dalam banyak kejadian hukum-hukum sains berlaku sehingga putri-putri Rara memang cantik. Namun ada kalanya anomali. Tidak masalah dengan anomali karena menunjukkan arah teori baru atau memperbaiki teori yang sudah ada.

5.3 Mutlak Benar

Ketiga, kita berharap bisa menemukan pengetahuan yang bernilai mutlak benar. Dalam pembahasan di atas, kita sudah menemukan kebenaran mutlak pada pernyataan matematis. Sedangkan pengetahuan yang melibatkan materi di alam semesta ada juga yang mendekati mutlak benar. Misalnya, “Setiap orang mati pada waktunya.” Kita akan menyelidiki pengetahuan yang berlaku mutlak seperti ini pada bab selanjutnya.

6. Ringkasan

Cara berpikir induktif merupakan cara berpikir yang alamiah. Bila kita mengembangkan metode yang tepat maka berpikir induktif ini memudahkan pengembangan ilmu pengetahuan. Eksperimen-eksperimen ilmiah banyak memanfaatkan berpikir induktif. Dengan mengamati fenomena-fenomena terbatas, sains berhasil membuat kesimpulan yang berlaku luas.

Dalam sains, metode induksi bersaing dengan metode falsifikasi. Kita bisa mendiskusikan falsifikasi, di beberapa tempat, sebagai lanjutan tulisan ini.

7. Diskusi

Ide falsifikasi makin penting karena melengkapi ide induksi. Di satu sisi, induksi lebih mudah karena terasa alamiah bahwa kita berpikir secara generalisasi induksi. Di sisi lain, falsifikasi mengingatkan kita adanya beragam batasan dari klaim induksi. Di bagian ini, kita akan mendiskusikan beberapa pengembangan falsifikasi.

7.1 Falsifikasi Langsung

Falsifikasi langsung menyatakan bahwa suatu hipotesis bisa ditolak secara langsung dengan adanya eksperimen, atau pengamatan, yang membuktikan kebalikannya.

H: Setiap mobil beroda 4.
K: Ada mobil truk beroda 6.

Kesimpulan: hipotesis (H): Setiap mobil beroda 4 adalah ditolak. Karena (K) berhasil menunjukkan hasil pengamatan yang berkebalikan dengan (H). Bisa saja, pendukung (H) menyatakan bahwa (K) hanyalah kejadian khusus sehingga (H) tetap bisa diterima.

Bagaimana pun, kita menyadari bahwa klaim (H) terlalu kuat. Kita perlu terbuka dengan beragam alternatif yang mungkin saja menunjukkan hasil pengamatan berbeda dari (H).

7.2 Falsifikasi Paradigma

Setiap klaim memiliki paradigma tertentu. Atau, lebih luasnya, setiap klaim memiliki histori tertentu. Sehingga, kita perlu mengamati klaim sesuai konteks masing-masing.

Bisa saja klaim (H), setiap mobil beroda 4, adalah dilakukan penduduk wilayah tertentu. Di wilayah itu, sulit akses jalan. Sehingga, mobil yang masuk ke sana harus melintasi jembatan sempit. Akibatnya, hanya mobil-mobil kecil yang beroda 4 saja yang bisa ke wilayah itu. Dengan demikian, klaim (H) tetap valid.

Problem filosofis bisa lebih serius. Bagaimana kita yakin bahwa (K), ada mobil truk beroda 6, bernilai mutlak benar? Bukankah (K) perlu difalsifikasi juga? Bagaimana jika (K) ternyata salah?

Skenario ini bisa menjadikan setiap klaim tidak stabil. (H) gugur karena tidak lolos falsifikasi oleh (K). Tetapi, (K) bisa gugur juga karena, misal, tidak lolos falsifikasi oleh (L) dan seterusnya. Solusinya, kita perlu berhenti pada titik tertentu, klaim tertentu, yang bisa disepakati oleh para ahli.

Alternatif solusi adalah kita memandang setiap klaim dengan paradigma probabilistik. Sehingga, setiap pernyataan memiliki nilai kebenaran dengan probabilitas tertentu. Klaim (H), misal, bernilai benar dengan probabilitas 90%. Sehingga, ketika (K) menemukan mobil tidak beroda 4, kita boleh bertanya, “Berapa banyak?”

Jika mobil yang tidak beroda 4 itu hanya 5% maka kita masih percaya klaim (H). Tetapi, jika mobil yang tidak beroda 4 itu lebih dari 15% maka klaim (H) dianggap gugur. Lebih detil metode perhitungan ini, kita bisa merujuk ke statistik.

7.3 Falsifikasi Program

Dengan sengaja, kita bisa menyusun program untuk merespon falsifikasi. Ketika (H) sudah terbukti benar di berbagai situasi, kita perlu menguji (H) pada situasi yang sulit. Misal, pada situasi yang mungkin saja (H) terbukti salah.

P: Setiap mobil di kota A beroda 4.
Q: Ada mobil di kota A tidak beroda 4.

Ketika (Q) terbukti benar maka kita menolak (P). Meski demikian, (H) masih bisa kita terima sebagai teori utama. Program riset semacam ini banyak terjadi di dunia sains.

Teori heliosentris, matahari sebagai pusat, berbeda dengan teori bumi sebagai pusat. Diharapkan akan terjadi perbedaan pengamatan bintang-jauh berdasar heliosentris dibanding teori bumi-pusat.

R: Terjadi perbedaan pengamatan bintang-jauh.
S: Tidak terjadi perbedaan pengamatan bintang-jauh.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa (S) yang benar pada waktu itu. Sehingga, (R) ditolak. Apakah teori heliosentris juga ditolak? Apakah perlu kembali meyakini bumi sebagai pusat dengan matahari yang mengelilingi? Tidak juga. Komunitas sains, saat itu, tetap menerima teori heliosentris. Karena, pengamatan fenomena-fenomena lain lebih banyak mendukung teori heliosentris.

Beberapa puluh tahun kemudian, teknologi teleskop makin berkembang. Pengamatan terbaru menunjukkan bahwa (R) yang benar. Sehingga, teori heliosentris makin dikuatkan lagi.

Sampai di sini, kita bisa menyimpulkan bahwa metode generalisasi induksi valid. Dan, falsifikasi menunjukkan bahwa klaim validitas induksi adalah terbatas, atau tidak mutlak. Dengan sudut pandang seperti itu, kita bisa berpikir lebih terbuka.

7.4 Penolakan Induksi

David Hume (1711 – 1776) menolak validitas induksi. Karena, induksi tidak bisa dibuktikan secara rasional. Induksi hanya bisa dibuktikan secara induksi. Argumen melingkar seperti ini tidak valid seara logika. Bagaimana pun, Hume tetap menerima praktek berpikir induksi.

Induksi-1 = Matahari terbit tiap hari.
Induksi-2 = Cahaya matahari memanaskan batu ketika disinari.
Induksi-3 = … … …

Induksi-1 valid, induksi-2 valid, sampai induksi-n selalu valid. Kesimpulan: seluruh induksi adalah valid. Induksi diterima sebagai valid berdasarkan contoh-contoh induksi. Tetapi, terjadi argumen melingkar di sini. Jadi, berpikir induksi perlu ditolak.

D = Berpikir induksi ditolak.

Bagaimana kita bisa membuktikan bahwa “D = Berpikir induksi ditolak”? Kita tidak akan bisa membuktikan D secara memadai. Mari kita ubah D menjadi E.

E = Seluruh berpikir induksi ditolak.

Kita bisa menolak satu atau dua jenis induksi. Bahkan, kita bisa menolak induksi-n. Tetapi, bagaimana kita bisa menolak seluruh induksi? Bagaimana kita bisa menolak induksi yang akan terjadi 10 tahun ke depan, 100 tahu ke depan, 1000 tahun ke depan? Kita bisa menolak induksi dengan cara induksi. Tentu, berpikir melingkar seperti ini juga batal.

Secara ringkas, kita tidak bisa membuktikan validitas induksi dan, di saat yang sama, kita tidak bisa membuktikan penolakan terhadap induksi. Kita perlu menempatkan induksi pada posisi yang tepat.

Posisi yang tepat menurut Hume adalah posisi skeptis yaitu menerima bahwa: (1) kita gagal membuktikan validitas induksi secara rasional; dan (2) kita gagal menolak induksi. Induksi bisa kita terima sebagai way-of-life atau berdasar praktek common-life.

Problem induksi ini berkaitan dengan problem kausalitas.

7.5 Penolakan Kausalitas

Induksi menjadi valid ketika kajian sampai ke kausalitas, prinsip sebab-akibat. Nenek cantik, ibu cantik, dan Rara cantik. Suatu saat nanti, Rara melahirkan anak perempuan maka anak perempuan tersebut pasti akan cantik. Karena, cantik disebabkan oleh gen-cantik yang diwariskan oleh ibu kepada anak-anak perempuan. Kesimpulan induksi ini valid karena didasarkan pada prinsip kausalitas.

Tetapi, bagaimana kita bisa membuktikan bahwa kausalitas adalah valid?

Asumsikan kita memiliki argumen A, di mana, berkat A kita menyimpulkan kausalitas valid. Jadi A adalah sebab dan kausalitas adalah akibat. Lagi, terjadi proses berpikir melingkar sehingga perlu ditolak. Jadi, kausalitas ditolak.

K = Prinsip kausalitas ditolak.

Muncul pertanyaan lagi, bagaimana kita bisa membuktikan “K = Prinsip kausalitas ditolak” adalah valid?

Asumsikan kita bisa membuktikan K berdasar argumen B. Jadi, B adalah sebab dan K adalah akibat. Kita menolak prinsip kausalitas dengan menerapkan kausalitas. Terjadi proses berpikir melingkar lagi. Jadi, kita gagal membuktikan K.

Secara ringkas, kita tidak berhasil membuktikan kausalitas dan, di saat yang sama, kita tidak berhasil menolak kausalitas. Justru, pembuktian mau pun penolakan, sama-sama membutuhkan kausalitas. Jadi, kita perlu menempatkan prinsip kausalitas pada tempat yang tepat. Kita perlu memaknai kausalitas dengan bijak. Menariknya, Hume menerima kausalitas dan menempatkan sebagai probabilitas.

7.5.1 Makna Kausalitas

Apa itu kausalitas? Apa itu hukum sebab-akibat? Apa itu sebab dan akibat?

“Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kausalitas adalah perihal sebab akibat. Oleh karena itu, pengertian konjungsi kausalitas adalah kata hubung yang digunakan untuk menghubungkan sebab akibat dalam sebuah teks.”

7.5.2 Hubungan Konjungsi

Sebab adalah sesuatu yang berdampak pada akibat. Atau, akibat adalah segala sesuatu yang merupakan dampak dari suatu sebab. Hubungan konjungsi antara sebab dan akibat inilah disebut sebagai kausalitas.

Contoh sederhana: biji kacang adalah sebab dan cambah (toge) adalah akibat.

Sebelumnya, biji kacang adalah akibat dari pohon kacang yang berbuah. Pohon ini pun akibat dari sebab-sebab yang lebih awal. Jadi, kita melihat rangkaian rantai sebab-akibat yang amat panjang. Adakah sebab pertama yaitu sebab yang tidak menjadi akibat sama sekali? Adakah akibat terakhir yaitu akibat yang tidak berdampak sama sekali?

7.5.3 Kategori Apriori

Kant (1724 – 1804) menyelesaikan makna kausalitas sebagai kategori apriori yaitu abstrak universal. Kausalitas adalah abstrak yaitu selalu valid tidak tergantung fakta empiris apa pun. Kausalitas adalah universal yaitu selalu berlaku kapan dan di mana pun.

Kausalitas adalah struktur pikiran manusia sebagai dasar pengalaman (eksperiens). Setiap kita mengalami “lapar” (sebagai contoh) maka ada sebabnya yaitu perut kita kosong dan ada akibatnya yaitu kita mencari-cari makanan. Hanya dengan struktur kausalitas ini kita bisa mengalami “lapar” atau pengalaman apa pun. Tanpa struktur kausalitas maka pengalaman tidak bisa dimengerti atau, bahkan, tidak bisa dialami.

7.5.4 Ide Imajinasi

Hume (1711 – 1776) mendahului Kant dalam mendefinisikan kausalitas dengan fokus kepada sebab (cause).

“There may two definitions be given of this relation, which are only different, by their presenting a different view of the same object, and making us consider it either as a philosophical or as a natural relation; either as a (1) comparison of two ideas, or as an (2) association betwixt them.

We may define a CAUSE to be ‘An object precedent and contiguous to another, and where all the objects resembling the former are plac’d in like relations of precedency and contiguity to those objects, that resemble the latter.’ If this definition be esteem’d defective, because drawn from objects foreign to the cause, we may substitute this other definition in its place, viz.

‘A CAUSE is an object precedent and contiguous to another, and so united with it, that the idea of the one determines the mind to form the idea of the other, and the impression of the one to form a more lively idea of the other.’ Shou’d this definition also be rejected for the same reason, I know no other remedy, than that the persons, who express this delicacy, should substitute a juster definition in its place. But for my part I must own my incapacity for such an undertaking. (1.3.14.31)

Hubungan ini dapat diberikan dua definisi, yang sesungguhnya tidak berbeda secara hakiki, melainkan hanya menyajikan sudut pandang yang berbeda atas objek yang sama—yakni dengan memandangnya sebagai hubungan filosofis atau hubungan alamiah; baik sebagai (1) perbandingan antara dua gagasan, maupun sebagai (2) asosiasi antara keduanya.

Kita dapat mendefinisikan sebab (cause) sebagai: “Sebuah objek yang mendahului dan berdekatan dengan objek lainnya, di mana semua objek yang menyerupai yang pertama ditempatkan dalam hubungan mendahului dan kedekatan yang serupa dengan (maka akan menghasilkan) objek-objek yang menyerupai yang kedua.” Apabila definisi ini dianggap kurang memadai karena diturunkan dari objek-objek yang dianggap tidak esensial terhadap konsep sebab, maka kita dapat menggantinya dengan definisi alternatif, yakni:

“Sebuah sebab adalah objek yang mendahului dan berdekatan dengan objek lainnya, serta sedemikian rupa berhubungan dengannya sehingga gagasan mengenai yang satu (yaitu sebab) mendorong pikiran untuk membentuk gagasan tentang yang lain (yaitu akibat), dan kesan mengenai yang satu membentuk gagasan tentang yang lain secara lebih hidup.”

Jika definisi ini pun ditolak dengan alasan yang serupa, maka saya tidak memiliki jalan lain selain menyarankan agar mereka yang memiliki keberatan tersebut menyusun definisi yang lebih tepat. Adapun saya sendiri, saya harus mengakui ketidakmampuan saya untuk melaksanakan tugas semacam itu.”

David Hume, A Treatise of Human Nature (1.3.14.31)

Kita bisa fokus kepada definisi kedua: sebab adalah ide yang bila kita memikirkannya maka mudah muncul ide lainnya (sebagai akibat). Ketika kita berpikir api maka muncul ide panas; api adalah sebab dan panas adalah akibat. Hume fokus bahwa kausalitas adalah ide tetapi kita menerapkannya dengan sempurna, kausalitas itu, terhadap fenomena realitas eksternal; misal api menyebabkan panas.

7.5.5 Imkan Ashraf: Posibilitas Paling Luhur

Suhrawardi (1154 – 1191) mengembangkan konsep Imkan Ashraf untuk menjelaskan kausalitas. Segala realitas adalah imkan atau posibilitas atau probabilitas. Realitas “lapar” adalah posibilitas; mungkin saja Anda “lapar” tetapi mungkin juga Anda tidak “lapar”.

Imkan Ashraf (IA): setiap realitas, mereka, niscaya membutuhkan posibilitas yang lebih kuat; pada gilirannya, posibilitas lebih kuat itu membutuhkan posibilitas yang lebih kuat lagi; pada akhirnya sampai kepadai posibilitas paling kuat (yaitu imkan ishraf) di mana tidak ada lagi yang lebih kuat.

Dalam istilah kausalitas, IA menyatakan bahwa setiap realitas (sebagai akibat) niscaya membutuhkan sebab yaitu posibilitas yang lebih kuat.

Anda sebagai manusia (sebagai akibat) adalah nyata maka niscaya Anda membutuhkan ibu (sebagai sebab) dengan posibilitas yang lebih besar; pada gilirannya, ibu membutuhkan nenek dan seterusnya. Tetapi tidak memaksa sebaliknya; nenek tidak harus melahirkan ibu; dan ibu tidak harus melahirkan Anda. Misal, nenek meninggal ketika masih usia 5 tahun maka ibu tidak jadi lahir; dan Anda juga tidak jadi lahir. Jadi, nenek “bebas” untuk melahirkan ibu atau tidak. Sementara, ibu wajib harus memiliki orang tua yaitu nenek.

Berdasar IA (imkan ashraf), “sebab” adalah posibilitas yang lebih kuat; dan “akibat” adalah posibilitas kurang kuat. Menariknya, IA mengijinkan kausalitas futuristik; posibilitas yang lebih kuat itu bisa saja eksis di masa lalu, masa kini, mau pun masa depan. Lalu, siapa atau apa posibilitas paling kuat? Posibilitas paling kuat adalah Cahaya Maha Cahaya, Maha Awal, Maha Nyata, dan Maha Akhir.

IA mengijinkan posibilitas kompleks (realitas kompleks) sebagai sebab; sebab yang beragam, sebab yang majemuk, bisa menghasilkan akibat tunggal yang sederhana. Contohnya Anda, diri kita sendiri, adalah tunggal sebagai akibat. Sementara sebabnya adalah beragam: 2 orang tua (ayah dan ibu); 4 orang tua dari ayah-ibu (2 kakek dan 2 nenek) dan seterusnya. Lebih beragam lagi sebabnya, diri kita adalah akibat dari lingkungan sekitar dan sejarah panjang alam semesta.

7.5.6 Argumen Melingkar

Kita perlu sedikit banyak membahas argumen melingkar atau circular reasoning. Secara umum, dalam logika formal, argumen melingkar adalah falasi sehingga perlu ditolak. Tetapi, dalam situasi tertentu kita membutuhkan argumen melingkar. Kita perlu menerima argumen melingkar dengan pertimbangan yang bijak. Sementara, dalam banyak kasus, kita perlu menolak argumen melingkar.

Dalam sistem aritmetika bilangan natural, atau bilangan cacah, bilangan 0 adalah bilangan paling kecil. Mengapa 0 adalah bilangan paling kecil? Karena kita membutuhkan bilangan paling kecil untuk mulai menghitung. Bila kita teliti lebih mendalam akan menemukan argumen melingkar. Bagaimana pun kita perlu memerima 0 sebagai bilangan paling kecil untuk sistem bilangan cacah. Konsekuensinya, kita bisa mengembangkan kajian matematika bilangan cacah.

Mengapa sistem bilangan jam dinding hanya terdiri angka 1 sampai 12? Karena, dari pengalaman, terbukti sudah diterima oleh masyarakat luas. Bila kita kaji lagi pertanyaan ini maka kita akan bertemu dengan argumen melingkar. Bagaimana pun, kita perlu menerima argumen melingkar bahwa bilangan jam dinding hanya sampai 12 saja. Konsekuensinya, kita bisa memanfaatkan aturan jam dinding untuk kehidupan sehari-hari.

Demikian juga, kita bisa menerima prinsip berpikir induksi yang melibatkan argumen melingkar – dalam proses penerimaan itu. Konsekuensinya, kita bisa mengembangkan pengetahuan lebih luas. Bagaimana pun, kita perlu bersikap terbuka terhadap posibilitas perkembangan pengetahuan yang berbeda dari dugaan awal.

7.6 Generalis: Induksi Muda

Kita bisa membedakan dua macam induksi: [1] induksi-muda dan [2] induksi-dewasa.

Generalisasi adalah induksi-muda dan sebaiknya dihindari.

Pengamatan 1 sampai 100 menunjukkan bahwa gagak berwarna hitam. Kesimpulan induksi-muda: K = semua gagak berwarna hitam.

Kesimpulan K adalah tidak layak. Bahkan, jika pengamatan dilakukan ribuan kali sampai jutaan kali dan menunjukkan semua gagak berwarna hitam, maka, kesimpulan K tetap tidak pantas. Kita tidak pernah berhasil verifikasi “semua” gagak. Pasti ada gagak yang belum teramati; misal gagak yang hidup 300 tahun yang lalu atau 500 tahun yang akan datang.

Dari 1000 pengamatan, rakyat wajib membayar SIM ketika mengurus SIM. Kesimpulan: S = selalu wajib membayar SIM ketika mengurus SIM. Lagi, kesimpulan S perlu dihindari.

7.7 Futuris: Induksi Dewasa

Futuris adalah induksi-dewasa yang berupa pernyataan futuristik, partikular, dan teramati.

Pengamatan 1 sampai 100 menunjukkan bahwa gagak berwarna hitam. Kesimpulan induksi-dewasa: D = pada pengamatan 101, gagak berwarna hitam.

Kesimpulan D adalah valid dan bagus. Peluang besar bahwa D akan bernilai benar; dan peluang kecil D bernilai salah. Pengamatan akan menjadi hakimnya.

Dari 1000 pengamatan, rakyat wajib membayar SIM ketika mengurus SIM. Kesimpulan: E = pengamatan 1001, seseorang wajib membayar SIM ketika mengurus SIM. Kesimpulan E adalah valid dan bagus; berpeluang benar atau salah sesuai pengamatan.

Quick count adalah contoh induksi-dewasa. Dari 100 orang sample; 65% memilih capres C dan 35% memilih capres D. Kesimpulan: Q = dari populasi 100 ribu orang; 65% memilih capres C dan 35% memilih capres D. Kesimpulan Q adalah valid dan sah. Kemudian, bisa verifikasi sebagai bernilai benar atau salah.

Tampak jelas, kita perlu menghindari induksi-muda dan beralih menggunakan induksi-dewasa. Berpadu dengan falsifikasi, induksi-dewasa bisa terus melangkah maju.

Catatan tambahan. Hume menolak induksi yang bersifat niscaya; Hume menerima induksi yang bersifat probabilitas. Hume menolak kausalitas-induksi yang bersifat niscaya; Hume menerima kausalitas-induksi yang bersifat probabilitas. Dengan demikian ontologi probabilitas, dan statistik, adalah valid. Singkatnya, Hume menerima realitas probabilitas dengan argumen probabilitas. Jadi, apakah seharusnya kita yakin kepada Hume? Hanya probabilitas.

7.8 Antisipasi

Kita perlu membedakan antara antisipasi dengan inferensi. Kita bisa antisipasi dengan induksi mau pun falsifikasi; sama-sama valid. Tetapi inferensi, menetapkan kesimpulan terhadap teori atau hipotesis berdasar hasil pengamatan, hanya sah melalui modus tolen; tidak sah melalui modus ponen; lebih tepat melalui falsifikasi.

John Stuart Mill pernah bertanya, “Mengapa dengan satu contoh pengamatan kita bisa mengambil kesimpulan meyakinkan? Sementara, di kesempatan lain, ratusan pengamatan tetap tidak meyakinkan untuk mengambil kesimpulan? Orang yang bisa menjawab pertanyaan ini pasti lebih bijak dari tokoh terbijak di era Yunani Kuno.”

Tentu saja, kita bisa menjawab pertanyaan Mill, di atas, menggunakan probabilitas. Dan, kita menjadi lebih bijak dari pemikir Yunani Kuno.

Jika maksud induksi oleh Mill adalah induksi-muda-generalisasi maka tidak ada kesimpulan meyakinkan. Tetapi, jika induksi-dewasa-futuris maka kita akan berhasil mengambil kesimpulan meyakinkan; meski hanya dengan satu pengamatan. Makna kesimpulan di sini adalah antisipasi.

Misal Anda bersama rombongan sekitar 5 orang tertidur lelap. Kemudian, rombongan Anda dipindahkan ke tengah tanah lapang bentuk lingkaran masih dalam suasana gelap menjelang subuh. Anda terjaga bahwa di keliling lapangan terdapat 12 pohon, dengan jarak teratur, tertuliskan angka 1 sampai dengan 12, satu angka (bilangan) pada setiap pohon. Pertanyaannya, “Pada arah pohon angka berapa matahari akan terbit pagi nanti?”

Hanya terbatas dengan informasi di atas, Anda hanya bisa menduga-duga. Pagi tiba, matahari terbit dari balik pohon 6. Hari itu adalah tanggal 1 Mei.

Pertanyaan lanjutan,”Pada arah pohon berapa matahari terbit esok hari?”

Dengan meyakinkan kita menjawab,”Esok hari, matahari akan terbit pada arah pohon 6.”

Esok hari, 2 Mei, dilakukan pengamatan dan memang benar matahari terbit dari arah pohon 6. Kita sudah berhasil antisipasi dengan baik menggunakan induksi meski hanya dengan satu contoh pengamatan.

Bandingkan dengan kasus yang berbeda. Anda diberitahu bahwa nanti siang Rara akan datang. Rara akan menyentuh hanya satu pohon dari pohon-pohon yang ada. “Pohon angka berapa yang akan disentuh oleh Rara?” Siang itu, Rara datang dan menyentuh pohon 6. Besok, Rara akan datang untuk menyentuh satu pohon lagi.

“Pohon angka berapa yang akan disentuh Rara esok hari?”

Jawaban kita tidak akan meyakinkan. Besok, Rara bisa menyentuh pohon 6 atau pohon lainnya. Andai, Rara mengulang menyentuh pohon sampai 100 hari, kemudian, “Pohon angka berapa yang akan disentuh oleh Rara pada hari ke 101?”

Sama saja: kita tidak bisa menjawab dengan meyakinkan. Mengapa? Karena kita berada pada konteks histori tertentu, paradigma dan tradisi tertentu, yang meyakini bahwa Rara bisa mengubah pilihannya untuk menyentuh pohon. Konsekuensinya, kita tidak bisa antisipasi pilihan Rara meski dengan ratusan pengamatan induksi.

Untuk kasus matahari terbit, kita berada dalam konteks bahwa matahari akan terbit esok pagi pada arah yang konsisten dengan hari ini. Konsekuensinya, kita berhasil antisipasi bahwa esok hari matahari akan terbit pada arah pohon 6; meski pun kita hanya berdasar satu pengamatan saja.

7.9 Inferensi

Berhasil antisipasi tetapi gagal inferensi.

H = Matahari terbit pada arah pohon 6 di tanggal 2 Mei.
P = Teramati empiris matahari terbit pada arah pohon 6.
Jika H maka P. [Jika Hipotesis benar maka Pengamatan juga benar.]

Ketika P benar, teramati empiris, maka H tidak terjamin benar. Karena inferensi ini tidak valid; bila berdasar modus ponen. H bisa bernilai salah, atau bisa bernilai benar, dan berkonsekuensi sama yaitu P benar. Jadi, kita gagal inferensi melalui induksi dalam kasus ini.

Kita bisa mengembangkan falsifikasi yang bersesuaian dengan modus tolen.

G = Matahari terbit TIDAK pada arah pohon 6 di tanggal 2 Mei.
Q = Teramati empiris matahari terbit TIDAK pada arah pohon 6.
Jika G maka Q.

Ketika Q bernilai benar maka kita tidak bisa mengambil kesimpulan valid apa pun. Tetapi, pengamatan menunjukkan Q salah. Kita menyimpulkan G juga salah; inferensi ini valid berdasar modus tolen. Kita berhasil falsifikasi G.

Karena G salah maka H benar = matahari terbit pada arah pohon 6 di tanggal 2 Mei.

Tetapi, bukankah sama saja antara verifikasi induksi dengan falsifikasi di atas? Sama-sama menghasilkan H bernilai benar? Poin penting bagi kita adalah setiap kajian perlu terbuka terhadap afirmasi mau pun negasi; perlu siap menerima P atau Q. Pemahaman falsifikasi membantu kita untuk berpikir lebih terbuka.

Inferensi mengembangkan cakupan lebih luas dari antisipasi. Sains membutuhkan klaim yang lebih luas ini. Mari kita ubah agar klaim hipotesis bermakna lebih luas.

H = Matahari terbit pada arah pohon 6 setiap tanggal 2 Mei dalam rentang 10 tahun ke depan.

G = Matahari PERNAH terbit TIDAK pada arah pohon 6 di tanggal 2 Mei dalam rentang 10 tahun ke depan.

Q = Teramati secara empiris bahwa matahari PERNAH terbit TIDAK pada arah pohon 6 di tanggal 2 Mei dalam rentang 10 tahun ke depan.

Ketika pengamatan Q berhasil, bernilai benar, maka H langsung batal secara logis. Falsifikasi valid.

Sebaliknya, ketika, pengamatan Q bernilai salah maka G bernilai salah; sesuai modus tolen. Konsekuensi dari G salah adalah H bernilai benar. Kita berhasil falsifikasi G dengan konsekuensi menguatkan H. Bagaimana pun, hasil akhir inferensi adalah tetap bernilai probabilitas.

Lanjut ke Pengetahuan Prinsip Umum
Kembali ke Philosophy of Love

Megawati Minta Nadiem Luruskan Sejarah

Tugas yang berat. Meluruskan sejarah merupakan suatu tugas yang tampaknya tidak mudah dilakukan oleh pendiri Gojek, Mas Menteri Nadiem Makarim. Meski berat Mas Nadiem, saya kira, akan bisa menyelesaikan dengan baik. Diberitakan, Megawati meminta agar Mas Menteri meluruskan sejarah 1965.

Maka bisa muncul pertanyaan: apakah sejarah Indonesia saat ini tidak lurus sehingga perlu diluruskan?

Saya setuju dengan Lyotard yang mengatakan bahwa kita tidak akan memperoleh pengetahuan definitif tentang sejarah dan politik. Di mana perbedaan pandangan akan selalu ada. Lyotard menyebutnya sebagai dissensus. Maka perlu respek kepada pihak lain. Sementara Habermas lebih bersikap positif dengan menyatakan bahwa sejarah adalah catatan “learning process” kolektif dari peradaban manusia.

Harapan saya, dan barangkali kita bersama, semoga proses meluruskan sejarah ini menjadi pembelajaran agar kita lebih bagus lagi. Bukan mencari siapa yang menang, siapa yang kalah. Bukan mencari pembenaran dengan mencari kesalahan yang lain. Kita mencari pembelajaran terbaik apa yang bisa kita peroleh dari sejarah 1965 dan sepanjang waktu.

Sedikit mengingatkan bahwa kejadian yang baru terjadi saja kita bisa beda pendapat misal penurunan baliho HRS oleh TNI, banyak pro dan kontra. Pemenang pilpres 2014 apakah Jokowi atau Prabowo pun beda pendapat di mana-mana. Di Amerika beda pendapat pemenangnya Biden atau Trump beberapa waktu lalu.

Sikap positif dalam memandang sejarah perlu kita tekankan di sini. Tentu saja sikap kritis bisa dikembangkan di kalangan terbatas yang sudah menyiapkan segala sesuatu.

Semoga kita mampu membaca sejarah sebagai proses belajar untuk lebih maju memperbaiki negeri ini.

Bagaimana menurut Anda?

Tupoksi TNI Vs Baliho HRS

Pangdam Jaya memerintahkan untuk menurunkan Baliho Habib Rizieq Shihab di Jakarta. Melalui video yang tersebar, Pangdam Jaya mengkonfirmasi. Bahkan bila perlu bubarkan FPI, dari viedo yang sama.

Pro-kontra langsung muncul merespon TNI yang turun tangan menurunkan baliho HRS.

Kontra TNI

Bagi yang kontra, di antaranya anggota DPR, mengingatkan agar TNI kembali kepada tupoksi. Tugas pokok dan fungsi TNI tentu saja melindungi kedaulatan NKRI. Dan menurunkan baliho HRS tidak tercantum sebagai tugas TNI sesuai undang-undang tahun 2004 yang berlaku sampai sekarang juga, 2020.

PRO TNI

Kita amati bahwa salah satu tugas TNI sesuai undang-undang adalah “membantu tugas pemerintah di daerah”. DKI adalah daerah khusus ibukota. Maka sudah tepat langkah TNI menurunkan baliho sebagai perwujudan membantu pemda. Tentu itu versi yang mendukung Pangdam Jaya.

Tupoksi TNI sesuai UU

Apa yang Benar

Menurut Derrida, tokoh posmo, bahwa selalu ada peluang mendekonstruksi. Maka yang pro TNI akan selalu menemukan cara untuk mendukung TNI. Sedangkan yang kontra TNI akan selalu menemukan cara menyalahkan TNI. Derrida mengingatkan kita untuk tetap mempertimbangkan “yang lain” atau “the others”. Maka sikap respek dari semua pihak menjadi penting di sini.

Derrida Dibujo.jpg
Derrida

Sementara, Focault, tokoh posmo juga, menyoroti hubungan dekat antara pengetahuan (informasi) dengan kekuasaan. Di mana kekuasaan cenderung menguasai informasi, mengendalikan, dan memanipulasinya. Maka kita perlu waspada kepada pihak-pihak yang berkuasa. Dalam kasus penurunan baliho HRS maka siapakah yang berkuasa mengendalikan informasi? Meski tentu saja penguasa bisa saja jujur.

Sejatinya kita bisa menganalisis dengan pendekatan analytic Russell yang sekarang dikembangkan Searle. Metode ini akan mengantarkan kita kepada hasil yang lebih benar – probabilitasnya lebih besar. Masalahnya, probabilitas besar tidak ada jaminan itu benar. Sedangkan probabilitas kecil juga tidak dijamin salah. Maka saran saya perlu dikembangkan “komunikasi rasional” gaya Habermas. Dan tetap respek terhadap dissensus seperti Lyotard. Di saat yang sama mari kita pastikan kita berjuang demi kebaikan kita bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Pengetahuan Pengenalan dan Deskripsi

Rara gadis cantik itu masih ada di hadapan saya. Pakai baju putih dengan rok warna abu. Matanya bening, alis hitam tebal. Pipinya lembut, bulu mata lentik, dan rambut hitam lebat.

Pengetahuan saya tentang Rara adalah jenis pengetahuan pengenalan, yaitu saya mengetahui Rara langsung dengan melihatnya. Saya langsung mengetahui Rara, obyek eksternal, melalui indera saya. Meski saya melihat langsung, sejatinya, saya hanya mengenali Rara melalui data-indera yang dihubungkan dengan Rara. Saya tetap tidak tahu hakikat Rara. Yang saya ketahui adalah penampakan Rara. Itulah pengetahuan pengenalan oleh manusia.

Tetapi pengetahuan Anda tentang Rara, melalui uraian saya di atas, adalah pengetahuan deskripsi. Anda tidak mengenal Rara. Melalui tulisan saya, Anda jadi mengetahui deskripsi tentang Rara. Pengetahuan deskripsi ini melibatkan suatu kebenaran. Maksudnya pengetahuan deskripsi Anda tentang Rara bisa benar tapi bisa juga salah. Jika saya menguraikan gambaran tentang Rara dengan benar maka boleh jadi pengetahuan deskripsi Anda juga benar. Sementara, jika saya berbohong tentang gambaran Rara, saya edit beberapa bagian tentang Rara, maka pengetahuan deskripsi Anda tentang Rara adalah salah atau sesat.

1. Pengetahuan Pengenalan Selalu Benar
2. Fatamorgana: Ilusi Indera
3. Pengetahuan Deskripsi Tersebar Luas
3.1 Teknologi Kertas
3.2 Teknologi Mesin Cetak
3.3 Teknologi Digital
4. Pengetahuan Deskripsi vs Hoax
5. Berpikir Cepat
6. Lampiran: Manajemen Hoax
6.1 Lawan Hoax vs Fakta
6.2 Lawan Hoax vs Opini
6.3 Hoax Komplikasi Opini
7. Skeptisme

Sekilas, membandingkan pengetahuan pengenalan dengan pengetahuan deskripsi, tampaknya, kita lebih percaya kepada pengetahuan pengenalan. Karena pengetahuan pengenalan adalah langsung dan dijamin selalu benar – sejauh data-indera yang dipertimbangkan. Tetapi sejatinya, ilmu pengetahuan manusia berkembang pesat justru melalui pengetahuan deskripsi, yang bersifat tidak langsung. Kita menambah ilmu hampir seluruhnya melalui membaca, mengikuti pelajaran, menonton video, dan lainnya yang merupakan deskripsi. Sehingga kita perlu menaruh perhatian lebih kuat kepada pengetahuan deskripsi.

1. Pengetahuan Pengenalan Selalu Benar

Dua faktor utama yang membuat pengetahuan pengenalan lebih unggul adalah selalu benar dan sangat mengesankan. Dalam bahasa sehari-hari, pengetahuan pengenalan adalah melihat dengan mata dan kepala sendiri. Dalam proses belajar sains, siswa sering perlu melakukan praktikum agar dapat mengamati secara langsung fenomena alam. Agar memperoleh pengetahuan pengenalan. Saya sendiri membuat permainan berupa benda-benda konkret seperti kubus dan bola, untuk melatih anak-anak belajar berhitung dasar. Anak-anak mengenali secara langsung bahwa 2 bola ditambah 3 bola adalah 5 bola. Hasilnya sangat mengesankan.

Pengetahuan pengenalan, yang diyakini selalu benar, dimanfaatkan oleh persidangan kasus hukum. Mereka biasa memanggil saksi mata agar bersaksi di bawah sumpah. Apa yang disampaikan oleh saksi mata diyakini selalu benar karena dianggap sebagai pengetahuan pengenalan.

Dokter juga sering menanyakan ke pasien apa keluhan yang dirasakan. Pasien bisa menceritakan sakit kaki dan pinggang. Pasien merasakan langsung sakitnya. Itu adalah pengetahuan pengenalan yang diyakini selalu benar. Untuk kemudian dokter melengkapi dengan diagnosa, menambah pengetahuan pengenalan dari prespektif dokter.

Russel juga memasukkan pengetahuan tentang diri, pengenalan tentang kesadaran diri, dalam pengetahuan pengenalan yang diyakini kebenarannya. Intuisi mengenali suatu obyek bersifat cantik dan intuisi menyadari hadirnya rasa cinta juga termasuk dalam pengetahuan pengenalan. Sehingga, intuisi cantik dan cinta diyakini bernilai benar.

Dalam kehidupan sehari-hari orang sering mengatakan, “Saya hanya percaya bila sudah melihat dengan mata dan kepala sendiri.” Menguatkan keyakinan bahwa pengetahuan melalui pengenalan adalah selalu benar.

Namun kita tidak boleh gegabah. Pengetahuan pengenalan adalah selalu benar sejauh data-indera yang diperhatikan. Sedangkan bila kita menyelidiki hakikat obyek, pohon misalnya, pengetahuan pengenalan bisa saja salah. Pohon yang tingginya 2 meter tampak begitu tinggi bila kita melihatnya dari jarak dekat, sedepa misalnya. Tapi bila kita menjauh pada jarak 3000 meter, maka pohon yang sejatinya 2 meter itu tampak hanya setinggi lutut kaki. Untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih hakiki kita perlu melangkah melampaui sekedar data-indera.

2. Fatamorgana: Ilusi Indera

Barangkali kita sudah sangat akrab dengan ungkapan fatamorgana. Mata kita melihat seperti ada air atau gas yang meliuk-liuk ketika cuaca panas terik di jalanan beraspal. Padahal, sama sekali tidak ada air di jalan beraspal tersebut. Fatamorgana menunjukkan bahwa pengetahuan pengenalan dari indera kita tidak bisa begitu saja dipercaya. Pengetahuan indera mata bisa salah.

Contoh lain yang lebih mudah kita ulang dengan eksperimen adalah memasukkan sebatang sendok ke gelas yang berisi air setengah penuh. Maka kita bisa melihat sendok dari atas atau samping tampaknya sendok tersebut patah. Ketika sendok kita ambil terlihat sendok tidak patah. Mata kita tertipu oleh pembiasan atau pembelokan cahaya sendok.

Pesulap barangkali memberi contoh yang lebih serius. Dia menunjukkan hanya ada satu bola pingpong di dalam topinya. Lalu, dia mengambil satu-satunya bola itu, melempar ke penonton. Kemudian, pesulap itu mengambil satu lagi bola dari topinya, dilemparkan lagi ke penonton. Berulang-ulang, pesulap melakukan itu. Kita yakin bahwa yang dilihat mata indera kita adalah ilusi. Kita sedang menghibur diri bersama pesulap. Mana mungkin satu bola bisa diambil berkali-kali? Ada kebenaran yang tersembunyi di balik mata indera kita.

Tugas selanjutnya adalah kita perlu mengungkap kebenaran di balik pengetahuan pengenalan oleh indera. Untuk itu kita perlu memanfaatkan analisis rasional berdasar pengetahuan a priori yang bersifat universal. Misal pesulap yang mengambil satu-satunya bola di dalam topi, pengetahuan a priori memberi tahu, pasti tidak ada lagi bola di dalam topi. Bila, ternyata, ada bola lagi maka pasti ada penambahan bola baru dengan satu dan lain cara. Atau pesulap sejatinya tidak mengambil bola sama sekali dari dalam topi. Ia mengambil bola dari tempat lain. Dengan penyelidikan maka kita akan menemukan rahasia tukang sulap dan berhasil mengungkap kebenaran.

Pembahasan lebih detil tentang pengetahuan a priori yang bersifat universal ini akan kita bahas pada bab khusus selanjutnya. Kita banyak berhutang budi kepada Immanuel Kant, pemikir besar abad 18 – 19 dari Jerman, yang berhasil merumuskan pengetahuan a priori dan a posteriori.

3. Pengetahuan Deskripsi Tersebar Luas

Seperti tidak masuk akal bahwa ilmu pengetahuan bisa tersebar luas oleh pengetahuan deskriptif, yang bisa bernilai benar atau sesat. Sedangkan pengetahuan pengenalan, yang dijamin selalu benar, justru lambat berkembang. Namun kehebatan penyebaran pengetahuan deskripsi, yang revolusioner ini, memerlukan sumber ilmu dari pengetahuan pengenalan juga.

Contoh pengetahuan deskripsi adalah, “Kelas APIQ adalah tempat belajar matematika di kota Bandung.” Pengetahuan ini bisa kita uji nilai kebenarannya. Bila di Bandung memang ada kelas APIQ sebagai tempat belajar matematika maka pengetahuan deskripsi di atas bernilai benar. Sedangkan, jika tidak ada kelas APIQ di Bandung maka pengetahuan deskriptif di atas bernilai sesat atau salah.

Seperti contoh di atas, pengetahuan deskripsi, pada analisis akhir, didasarkan pada pengetahuan pengenalan. Saya mengetahui bahwa ada kelas APIQ di Bandung. Ini adalah pengetahuan pengenalan oleh saya. Lalu, saya tuliskan pengetahuan pengenalan saya itu di buku atau di internet. Maka menjadi pengetahuan deskripsi bagi banyak orang. Semula hanya satu orang, saya saja, yang mengetahui. Berubah menjadi banyak orang yang mengetahui, melalui pengetahuan deskripsi.

3.1 Teknologi Kertas

Revolusi pengetahuan pertama adalah ketika ditemukan teknologi membuat kertas yang baik oleh Cai Lun (Ts’ai Lun) pada abad pertama di negeri Cina. Sebelum jaman Cai Lun, orang sangat sulit untuk membuat catatan karena belum tersedia kertas. Orang harus mengukir di batu, memahat kayu, atau menggores di kulit sapi. Sukses Cai Lun memproduksi kertas memudahkan ilmu dicatat dan disebarkan ke berbagai penjuru.

3.2 Teknologi Mesin Cetak

Revolusi pengetahuan kedua adalah pada abad ke 15 setelah Gutenberg berhasil menemukan mesin cetak yang efektif di Eropa. Bila sebelumnya, orang harus menulis dengan tangan untuk membuat buku, maka setelah ada mesin Gutenberg, buku bisa dicetak dan diperbanyak lebih mudah. Pengetahuan makin melompat tersebar ke seluruh dunia.

3.3 Teknologi Digital

Revolusi pengetahuan ketiga terjadi di milenium ketiga, saat ini, di mana teknologi digital sudah tersebar ke sebagian besar penduduk dunia. Pengetahuan mudah dicatat, diproduksi, dan disebarkan hanya dalam hitungan detik. Dengan kekuatan media sosial, penyebaran informasi bagai tidak ada batas lagi. Setiap orang bisa memproduksi pengetahuan, di saat yang sama, bisa langsung menyebarkannya ke seluruh dunia. Pengetahuan yang diproduksi bisa berupa multimedia, tidak hanya tulisan saja.

4. Pengetahuan Deskripsi vs Hoax

Jaman sekarang, kita dibanjiri hoax. Sehingga, sulit membedakan mana yang pengetahuan dan mana yang kesesatan. Di jaman dulu, tidak ada hoax seperti jaman sekarang. Bayangkan masa sebelum Cai Lun menemukan kertas. Betapa sulitnya menulis satu halaman buku. Apa lagi menulis 120 halaman buku? Dengan kesulitan semacam itu maka orang-orang hanya akan menuliskan pengetahuan yang benar-benar bernilai tinggi.

Beda dengan jaman digital sekarang. Orang bisa menulis apa pun di media sosial dan langsung tersebar ke seluruh dunia, saat ini, dalam hitungan detik. Maka tulisan di jaman sekarang bisa saja bernilai tinggi, bisa bernilai rendah, bahkan bisa sesat. Kita terjebak dalam paradoks: terlalu banyak informasi sama artinya tidak ada informasi. Lebih parah lagi, tumpukan informasi bisa jadi bercampur dengan informasi sesat.

Di jaman kuno, dulu, memang mungkin saja membuat pengetahuan sesat atau hoax. Tetapi penyebaran cukup sulit. Sehingga hoax ini, paling bisanya, disebarkan melalui cerita dari mulut ke mulut. Karena sulit itu maka hoax harus menguntungkan pihak tertentu dengan cara merugikan pihak lain. Misalnya, hoax seorang raja yang menceritakan bahwa dirinya adalah raja yang adil bijaksana. Agar seluruh warga tunduk hormat kepadanya. Atau hoax seorang raja menyebarkan fitnah untuk menjatuhkan reputasi pesaingnya.

Di jaman milenial, hoax bisa saja sekedar iseng. Hanya untuk seru-seruan saja. Toh, nyaris tidak ada biaya untuk menyebarkan hoax. Namun, hoax tetap bisa juga dimanfaatkan pihak tertentu untuk mengambil keuntungan sepihak dan merugikan pihak lain. Maka kita perlu membentengi diri, dan masyarakat, dari ancaman hoax.

Sejatinya ada ilmu khusus menangani hoax atau memanfaatkan hoax. Semiotika adalah ilmu tentang tanda dan penandaan. Umberto Eco mendefinisikan semiotika sebagai teori tentang dusta. Apa saja yang bisa dipakai untuk berdusta dan apa saja yang bisa melindungi kita dari dusta, lengkap dipelajari dalam semiotika.

Di sini, di bagian lampiran, kita akan sedikit membahas cara sederhana untuk melindungi diri dari hoax dengan memanfaatkan literasi media. Paling utama adalah kenali lalu bedakan bagian fakta dan opini dari suatu pengetahuan, informasi, atau berita.

5. Berpikir Cepat

Sampai di sini, kita sudah mengenal ada dua jenis pengetahuan. Yaitu, pertama, pengetahuan pengenalan yang selalu bersifat benar. Pengetahuan yang bersumber dari melihat dengan mata kepala sendiri. Kedua, pengetahuan deskripsi, di mana, kita mengetahui sesuatu tidak secara langsung misal melalui buku. Pengetahuan deskripsi bisa saja bernilai benar tapi bisa bernilai salah atau sesat.

Namun dua jenis pengetahuan di atas masih perlu berkembang lebih cepat lagi. Ada cara berpikir yang fleksibel sehingga pengetahuan, lebih cepat, berkembang yaitu dengan berpikir induktif yang akan menjadi pembahasan utama kita pada bab berikutnya.

Lanjut ke Induksi: Cantik Keturunan
Kembali ke Philosphy of Love

6. Lampiran: Manajemen Hoax

Hoax menjadi penting untuk kita tangani saat ini karena, setidaknya, tiga hal. Pertama melindungi diri jangan sampai jadi korban hoax. Dan kedua, melindungi diri dan orang-orang sekitar agar tidak menjadi produsen atau distributor hoax. Ketiga, bagi yang berminat, bisa memanfaatkan hoax untuk kepentingan tertentu.

Pertimbangan lebih serius adalah hoax menghancurkan sisi manusiawi kita. Hoax menjadikan manusia lupa dengan dirinya sendiri. Lupa dengan realitas sekitar. Lupa dengan saudara. Yang ada hanya hoax itu sendiri. Hoax menuntun orang bagaimana cara melihat sesuatu, cara menilai sesuatu, dan cara memaknai sesuatu. Dan, tentu saja, itu semua tipuan belaka dari hoax.

Bahkan, jika media sosial memberikan informasi dengan benar apa adanya, tanpa hoax, maka manusia masih tetap terjebak dalam bayang-bayang kemanusiaan. Media sosial, yang seharusnya, menghubungkan antar manusia berubah menjadi mendominasi manusia. Media sosial mengarahkan cara berpikir, cara merasa, dan cara menjadi manusia. Maka kita perlu mengembalikan media sosial kepada posisi yang tepat: sebagai media yang membantu bersosialisasi – bukan realitas sosial itu sendiri.

6.1 Lawan Hoax vs Fakta

Cara pertama melawan hoax adalah membedakan antara fakta dan opini. Fakta misalnya: kemarin saya belajar matematika. Contoh opini: nasi soto itu enak. Kedua hal itu, fakta dan opini, perlu diperlakukan secara berbeda.

Fakta perlu kita uji apakah benar ada data seperti itu. “Kemarin saya belajar matematika” perlu diuji apakah ada orang yang melihat kejadian tersebut. Atau barangkali ada foto atau video yang menunjukkannya. Bila benar ada maka kita terima sebagai fakta. Bila tidak ada maka bisa kita anggap sebagai hoax.

Perhatikan kasus “video panas mirip artis,” apakah hoax?

Pertama, video itu mengarah pada fakta tertentu maka perlu dicek faktanya. Apakah benar terjadi adegan panas itu. Bila ternyata itu hanya editan belaka maka hoax. Bila ternyata itu asli rekaman dari suatu kejadian maka perlu dicek kejadian sebenarnya. Kedua, siapakah yang mirip artis itu? Apakah dia orang lain atau justru artis itu sendiri maka perlu diselidiki. Dengan penelitian yang memadai maka bisa disimpulkan bahwa video itu hoax atau asli.

Dalam beberapa kasus, seseorang tidak punya waktu untuk melakukan penelitian atau pengujian fakta. Maka yang bisa kita lakukan adalah mempertimbangkan sumber data. Apakah sumber data bisa dipercaya? Contoh ada berita, “Kemarin, Paman APIQ mendapat hadiah 100 juta rupiah.”

  1. Jika sumber berita adalah pelaku, saya sendiri, Paman APIQ maka bisa dipercaya. Maksudnya, jika Paman APIQ memberi tahu langsung kepada Anda maka Anda boleh percaya itu adalah fakta. Meski demikian kita tetap perlu waspada apakah Paman APIQ termasuk orang jujur, atau sedang bercanda, atau sedang prank.
  2. Sumber dari “grup sebelah” maka perlu diragukan. Grup sebelah itu jelas-jelas tidak jelas. Grup sebelah tidak punya reputasi untuk menyampaikan fakta. Kemungkinan besar fakta dari grup sebelah adalah hoax. Tetapi, jika yang disampaikan adalah “opini” maka Anda masih bisa mempertimbangkannya. Fakta sebaiknya ditolak, setidaknya, diragukan. Tentu saja sharing dari media sosial tanpa menyebutkan sumber yang jelas maka perlu ditolak.
  3. Sumber dari tautan internet maka perlu diragukan. Secara umum tautan internet perlu diragukan. Kita hanya bisa mempercayai, dengan tetap kritis, media internet dari lembaga resmi. Lembaga yang jelas siapa yang bertanggung jawab. Misal kantor berita mestinya bisa dipercaya. Blog pribadi hanya bisa dipercaya sebatas data yang dia miliki. Termasuk sumber dari facebook, twitter, youtube, instagram, wa, dan lain-lain perlu diragukan.

6.2 Lawan Hoax vs Opini

Sejatinya tidak ada masalah dengan opini. Tetapi dampak opini bisa lebih bahaya dari hoax fakta. Misal opini, “Jokowi adalah presiden terbaik.” Tidak masalah dengan penilaian Jokowi sebagai presiden terbaik. Bisa benar dan bisa salah. Hal yang wajar. Dampak bagi yang percaya bisa menganggap bahwa Jokowi selalu benar, selalu baik, maka apa pun yang dilakukan Jokowi selalu didukung.

Sementara opini kebalikannya, “Dia adalah presiden terburuk,” juga tidak masalah. Bisa benar bisa salah. Bagi mereka yang percaya bisa menganggap semua yang dilakukan presiden selalu salah, selalu buruk, maka perlu dikritisi – atau nyinyir. Kita perlu waspada, hati-hati, dengan dampak dari opini. Sementara opini itu sendiri hak masing-masing orang untuk berpendapat di negara yang bebas merdeka ini.

  1. Opini bisa benar atau salah. Maka tetap hormati orang lain yang barangkali berlawanan dengan opini yang kita yakini. Ujilah opini kita dengan pandangan yang lebih luas, dengan data-data terbaru. Barangkali opini kita perlu berubah? Bersikaplah terbuka untuk mendapatkan opini yang lebih baik.
  2. Opini yang tidak konsisten maka sisihkan. Misal opini, ” Harun adalah pembaharu akhlak generasi muda,” perlu disisihkan. Barangkali dulu benar bahwa Harun mengajak generasi muda untuk kembali ke akhlak sesuai ajaran agama. Tetapi, ketika Harun Yahya dijatuhi vonis 1075 tahun pernjara oleh pengadilan Turki atas dakwaan kekerasan seksual di bawah umur maka terjadi tidak konsisten, sebagai pembaharu akhlak. Opini tidak konsisten semacam ini perlu ditolak atau disisihkan.
  3. Lebih waspada dengan dampak opini. Jika opini itu benar maka perlu menjaga agar dampaknya membawa kebaikan. Apalagi bila opini salah maka dampak buruknya harus benar-benar diantisipasi. Misal opini, “Minyak kayu putih mencegah serangan covid,” bisa bernilai benar tapi bisa juga salah. Dampaknya perlu diwaspadai. Jika yang percaya opini minyak kayu putih lalu merasa aman kumpul-kumpul di berbagai kesempatan maka itu meningkatkan resiko penularan. Harus dicegah dampak opini semacam itu. Tetapi jika yang percaya opini minyak kayu putih jadi lebih tenang dan hati-hati menjaga kesehatan maka dampak itu bagus. Tidak masalah.

6.3 Hoax Komplikasi Opini

Bisa kita duga bahwa hoax akan memanfaatkan campuran fakta dan opini. Dengan campuran yang rapi maka pembaca hoax tidak merasa sedang ditipu. Pembaca mengira bahwa semua berita hoax itu sebagai fakta. Pembaca tergugah untuk melakukan tindakan-tindakan yang disarankan oleh berita hoax. Bahkan pembaca langsung share berita hoax itu ke berbagai platform media sosial. Sehingga hoax begitu mudah tersebar.

Solusi untuk mengatasi komplikasi opini ini – campuran fakta, opini, dan kebohongan – adalah dengan memisahkan mana yang fakta dan mana yang opini. Kemudian bisa kita lanjutkan dengan menguji kebenaran masing-masing fakta dan opini dengan langkah-langkah yang kita bahas di atas. Berikut ini beberapa saran praktis yang bagus dari orang-orang yang berpengalaman di dunia media sosial baik sebagai pengguna mau pun produsen penyedia media sosial.

  1. Matikan notifikasi atau kurangi notif. Nikmati hidup Anda dengan ketenangan jiwa, kejernihan berpikir, tanggung jawab pribadi dan sosial. Jangan biarkan notifikasi datang merecoki. Matikan notifikasi berbagai macam aplikasi. Bahkan, saya menyarankan matikan sambungan internet Anda. Hidupkan internet ketika Anda membutuhkannnya. Jangan biarkan internet mendikte hidup Anda. Anda 100% memiliki hidup Anda dan mati Anda.
  2. Hapus atau uninstall aplikasi yang menghabiskan waktu Anda. Terutama aplikasi berita sebaiknya hapus saja. Berita jaman sekarang tidak selalu terjamin kualitasnya. Bahkan sering memancing emosi pembaca, untuk terus bersikap kepo. Aplikasi berita juga banyak dicemari dengan berita-berita gosip tak berguna tapi bikin penasaran. Hapus aplikasi berita. Dan buka atau baca berita ketika Anda benar-benar merasa memerlukannya.
  3. Gunakan mesin pencari yang tidak menyimpan histori. Menurut saya ini saran bagus tapi cukup sulit. Mesin menggunakan data histori kita untuk memberikan hasil pencarian yang lebih tepat, lebih relevan. Tetapi hasil yang lebih relevan ini bisa saja hoax dilanjut hoax dan seterusnya hoax. Pun menjadikan pengguna makin ketagihan, terhadap hoax itu. Saran saya, tetaplah konsisten kepada apa yang sedang Anda cari dengan mesin pencari itu. Jangan tergoda dengan rekomendasi-rekomendasi yang menjebak Anda.
  4. Gunakan ekstensi browser untuk mematikan rekomendasi. Sekali lagi, padamkan rekomendasi. Salah satunya gunakan ekstensi browser untuk mematikan rekomendasi. Barangkali Anda biasa mengalami ketika hendak membuka browser, berselancar di internet, sudah tersedia halaman-halaman rekomendasi yang menarik perhatian. Maka Anda membuka halaman rekomendasi itu. Benar, memang seru. Karena rekomendasi itu tepat sesuai dengan yang anda inginkan. Tetapi Anda jadi lupa apa yang awalnya menjadi tujuan Anda membuka internet. Dan lebih parah, Anda bisa terseret ke berita hoax karena rekomendasi itu. Minimal Anda akan rugi waktu karena membaca hal-hal yang tidak penting itu. Maka matikan rekomendasi.
  5. Cek fakta sebelum komen, like, atau sharing. Khususnya bila ada berita yang begitu menarik. Seseorang yang berbuat salah di dunia digital dampaknya bisa abadi. Anda mungkin saja bisa menghapus komen Anda. Lalu hilang komen itu. Tetapi orang lain sudah menyimpan “tangkapan layar” atau “screenshot” dan disebarkan dengan cara tertentu. Anda tidak bisa mengendalikan media sosial dunia digital. Maka bertindaklah hati-hati dengan melakukan cek fakta – caranya seperti sudah kita bahas di atas – sebelum terlambat.
  6. Cari sumber informasi beragam perspektif, bahkan yang berlawanan. Harus jadi kebiasaan dalam diri kita untuk melihat segala hal dari sudut pandang pro dan kontra. Seorang jurnalis profesional biasanya selalu menyampaikan berita dengan mengkonfirmasi sumber yang pro dan kontra. Sehingga pembaca bisa mempertimbang akan memilih yang pro atau memilih yang kontra. Tetapi tidak demikian di dunia digital. Berita hadir hanya dari satu sudut pandang. Sudut pandang yang sesuai dengan Anda. Medsos sudah memilihkan yang paling cocok untuk Anda. Maka Anda bisa merasa yang paling benar, padahal bisa jadi Anda salah, sudah jadi korban hoax. Maka selalu pertimbangkan dua sudut pandang, pro dan kontra.
  7. Jangan berikan gawai ke anak. Wajar saja, orang dewasa saja bisa jadi korban hoax, apalagi anak-anak? Jika anak memerlukan akses internet maka dampingi anak Anda selama akses internet agar Anda dapat mengarahkan penggunaan internet dengan tepat. Terlalu ketat dengan melarang sepenuhnya anak tidak boleh akses internet, juga bisa merugikan anak Anda, khususnya di masa depan. Anak Anda akan menghadapi dunia yang penuh dengan internet, media sosial, atau yang lebih dahsyat dari itu. Maka anak-anak perlu memanfaatkan internet dengan bijak. Bimbing anak Anda!
  8. Tolaklah rekomendasi video. Makin asyik nonton video yang direkomendasikan oleh aplikasi. Dengan kemampuan AI yang canggih, video rekomendasi itu benar-benar sesuai dengan selera kita. Tanpa terasa kita jadi nonton video bermenit-menit bahkan berjam-jam. Dan peluang terperosok ke dalam video hoax atau video yang meragukan makin besar. Maka tolaklah rekomendasi video. Hanya tonton video sesuai rencana Anda. Hanya tonton yang Anda butuhkan. Itu pun kita masih tetap perlu berpikir kritis.
  9. Hindari clickbait. Judul atau gambar yang bikin penasaran maka hindari. Berita di dunia digital selalu bikin penasaran. Apalagi bila ada gambarnya maka makin penasaran. Itulah clickbait yang perlu kita hindari. Tetapi sulit sekali. Karena, bahkan lembaga resmi pun kadang meramu judul dengan cilckbait. Maka kendali ada di diri kita masing-masing. Makin bikin penasaran, judul dan gambarnya, maka cobalah menghindarinya. Tetap fokus kepada tujuan Anda saja.
  10. Jauhkan gawai dari tempat tidur. Nikmati tidur Anda dengan bahagia. Jangan biarkan media sosial mengacak-acak mood Anda menjelang tidur. Tidurlah dengan bahagia. Barangkali di siang hari, di hari libur, Anda bisa membuka medsos di tempat tidur. Tetapi ketika jadwal tidur malam tiba maka jauhkan hp Anda dari tempat tidur. Lebih tepatnya, jauhkan medsos dari diri Anda ketika menjelang tidur. Medsos bisa menarik Anda, menghapus rasa ngantuk Anda. Medsos bisa membuat Anda kurang tidur. Bisa merusak kualitas tidur Anda. Berbahagialah menjelang tidur, ketika tidur, dan bangun dari tidur – dengan cara menjauhkan hp Anda dari tempat tidur.
  11. Jangan ijinkan anak akses media sosial sampai sekolah menengah. Lagi, media sosial bisa menjerumuskan orang dewasa dalam hoax maka anak-anak kecil bisa lebih rawan lagi menghadapi media sosial. Maka jaga anak Anda dari ancaman media sosial. Dampingi anak Anda jika memang perlu medsos. Bimbing anak Anda menggunakan medsos dengan bijak. Hanya ijinkan anak Anda akses internet setelah mereka sekolah menengah, itu pun dengan syarat Anda yakin anak Anda aman.
  12. Kuasai hidup Anda. Sepenuhnya Anda memiliki hidup Anda. Jangan biarkan medsos menguasai hidup Anda. Jangan biarkan hp merebut hidup Anda. Medsos menyatakan diri mereka sebagai teman Anda. Benar saja, teman Anda menghubungi Anda melalui medsos. Anda terhubung dengan teman lama, dan teman baru. Di balik itu, medsos dengan mesin AI nya yang canggih menguasai Anda, mengendalikan Anda. Termasuk menguasai teman-teman Anda. Kini saatnya, kita kembali menguasai hidup kita. Meraih kebebasan kita. Posisikan medsos hanya sebagai alat bantu belaka. Tinggalkan medsos bila tidak perlu lagi. Mari jalani hidup dengan asli.

Ilmu pengetahuan memang penting bahkan paling penting. Media digital membantu kita memudahkan mengembangkan pengetahuan. Aristoteles, pemikir abad 4 SM, menyatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah meraih kebahagian sejati. Dan kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan dengan memperoleh pengetahuan sejati.

Sadra, pemikir abad 17, menyatakan bahwa manusia selalu rindu menjadi lebih sempurna. Kesempurnaan manusia adalah melalui penyempurnaan ilmu pengetahuan – sejati. Bahkan kesempurnaan ilmu ini mengantar manusia bahagia hakiki sampai kehidupan setelah mati.

Peduli adalah jati diri manusiawi, menurut Heidegger, pemikir abad 20. Mari kembali peduli pada diri sendiri, kepada lingkungan sekitar, dan kepada sesama manusia. Bersama kita melangkah menuju sempurna, hakikat realitas yang ada.

7. Skeptisme

Sikap skeptis seperti sikap negatif. Makna asli dari skeptis adalah penelitian atau pengkajian dengan pemikiran terbuka. Jadi sikap skeptis adalah sikap mengambil kesimpulan dan tetap terbuka dengan beragam koreksi perbaikan. Skeptis bermakna positif. Bahkan, dengan skeptis menjadikan Anda lebih bahagia karena selalu berpikir terbuka.

Kita akan membahas dua tipe skeptisme: khusus dan umum.

Skeptisme umum menyatakan kita perlu skeptis terhadap beragam penilaian karena penilaian tidak pernah tuntas. Pemikir-pemikir yang masuk skeptis umum di antaranya Pyrrho, Timon, Sextus, Hume, Lyotard, Derrida, dan lain-lain. Skeptis umum melibatkan argumen berulang tanpa batas.

Skeptisme khusus menyatakan bahwa kita perlu skeptis terhadap satu penilaian karena penilaian tersebut tidak niscaya. Pemikir-pemikir yang masuk dalan skeptis khusus di antaranya Sokrates, Plato, skeptis Akademi, Ghazali, Descartes, dan lain-lain. Skeptis khusus hanya melibatkan argumen secara khusus atau terbatas.

Kita mulai dari skeptis khusus.

A = Budi melihat meja

maka

B = Apakah benar bahwa “Budi melihat meja”?

Sikap skeptis pernyataan B seakan hanya mengada-ada. Pengamatan lebih lanjut, sikap skeptis B lebih menarik. Karena mungkin saja Budi sedang melihat gambar-meja bukan meja asli. Atau, bisa saja Budi sedang mimpi melihat meja atau sedang halu. Sehingga, perlu penelitian lebih lanjut apakah B bisa dijawab dengan meyakinkan. Penelitian ini yang mendorong kemajuan sains.

C = Asumsikan B adalah benar maka “Apakah Budi bisa tahu?”

Lagi, sekilas C tampak mengada-ada. Pengamatan lebih dalam, sikap skeptis C ini justru menarik. Bagaimana Budi bisa tahu kalau dia tidak sedang mimpi? Tidak sedang halu? Apakah sedang sadar sepenuhnya? Kita perlu kajian lanjutan lagi. Sains akan makin berkembang dengan beragam kajian lanjutan.

Kita beralih ke skeptis umum masih dengan contoh di atas. Skeptis umum menyatakan bahwa setiap penilaian pada akhirnya akan berpijak pada: (a) bukti yang tidak bisa dibuktikan; (b) bukti melingkar; sirkular; (c) regresi yaitu bukti mundur tanpa akhir. Konsekuensinya, sikap skeptis adalah paling bijak secara umum.

Untuk membuktikan peryataan B bahwa Budi melihat meja maka Budi bisa mencoba memegang meja itu. Budi menggoyang-goyang meja. Terbukti benar bahwa Budi memang melihat meja. Mengapa menggoyang-goyang meja menjadi bukti bahwa Budi melihat meja? Karena sudah jelas. Argumen ini masuk kategori (a) bukti yang tidak bisa dibuktikan.

Alternatif argumen adalah karena, kemarin, ketika menggoyang meja, Budi diberitahu oleh Ibu bahwa benda itu memang benar-benar meja. Mengapa Ibu tahu bahwa benda itu adalah meja? Karena Ibu melihat meja itu. Argumen ini masuk kategori (b) melingkar.

Argumen alternatif lagi adalah karena, kemarin, ketika menggoyang-goyang meja terbukti bahwa itu memang terlihat meja. Mengapa kemarin itu menjadi terbukti? Karena kemarinnya lagi, 2 hari lalu, menggoyang meja adalah terbukti. Mengapa terbukti? Karena 3 hari lalu dan seterusnya tanpa henti. Argumen ini masuk kategori (c) regresi.

Skeptis umum memang berlaku umum terhadap setiap klaim penilaian. Skeptis khusus bisa juga berlaku umum tetapi membatasi pembahasan hanya pada kasus khusus. Perlu kita ingat kembali bahwa sikap skeptis adalah sikap berpikir terbuka terhadap koreksi-koreksi baru. Ketika seseorang dengan sengaja dan senang hati bersikap terbuka maka jalan hidup bahagia makin luas terbuka.

Bagaimana menurut Anda?

Idealisme

Cinta ideal menjadi idaman setiap manusia. Keluarga ideal tampak begitu bahagia. Negara ideal sempurna tiada tara.

Sementara, di tempat lain, mahasiswa idealis adalah mahasiswa yang menuntut kebenaran. Mahasiswa idealis kadang tidak peduli dengan nilai kuliahnya, yang penting ia idealis, selalu membela kebenaran. Cowok idealis adalah mereka yang pilih-pilih calon istri dengan kriteria super ketat. Akibatnya, cowok idealis tidak menemukan istri. Bahkan pacar pun dia tidak punya. Cewek idealis bisa bernasib sama.

1. Doktrin Idealisme
2. Bantahan Argumen Idealisme
3. Rancunya Istilah Ide
4. Ketelitian
5. Diskusi
5.1 Berkeley
5.2 Kant
5.3 Hegel
5.4 Zizek
5.5 Chalmers
5.6 McDowell

Tetapi ide idealisme adalah sesuatu yang jauh berbeda dari ideal mau pun idealis di atas. Bertrand Russell mencatat begitu beragamnya penggunaan istilah idealisme. Satu sama lain bisa saja saling bertentangan. Maka, di bagian ini, saya akan mengacu definisi idealisme dari Russell.

1. Doktrin Idealisme

Russell memahami idealisme sebagai suatu doktrin yang menyatakan bahwa apa pun yang eksis, atau yang bisa diketahui akan eksis, pasti dalam pengertian tertentu adalah bersifat mental. Dengan bahasa yang lebih sederhana, idealisme menyatakan bahwa dunia luar, alam eksternal, sejatinya tidak ada. Apa yang kita ketahui tentang meja, pohon, Rara yang cantik, dan lain-lain sejatinya adalah hanya pikiran kita – bersifat mental belaka.

Pandangan idealisme itu tampak absurd bagi kita orang awam. Seperti tidak masuk akal. Tetapi secara filosofis, idealisme, dianut secara luas dan punya pengaruh besar. Maka sebelum melangkah lebih lanjut kita, di bagian ini, perlu membahas dengan tuntas idealisme ini.

Pada bagian awal bukunya, Russell menyatakan bahwa idealisme, bagaimana pun, bisa menjadi sebuah sistem filsafat yang koheren. Di bagian selanjutnya, Russell menunjukkan sesatnya idealisme. Argumen Russell, menurut saya, sah di berbagai bagian tetapi perlu hati-hati di bagian lainnya.

2. Bantahan Argumen Idealisme

Idealisme, umumnya, bersandar kepada epistemologi. Di mana, menurut mereka, manusia diragukan mampu mengetahui dunia alam eksternal. Akibat keraguan ini maka mereka melangkah lebih jauh dengan menyatakan dunia alam eksternal, sejatinya, tidak ada. Yang ada hanya pikiran kita yang bersifat mental. Russell berhasil menunjukkan cara berpikir idealisme ini adalah sesat.

Berkeley, filsuf pendukung idealisme, menyatakan bahwa data-indera (atau impresi-indera) kita tidak akan bisa memiliki esksistensi yang mandiri. Artinya data-indera pasti akan hancur jika kita tidak sedang berpikir, melihat, mendengar, merasa, atau menginderanya. Maka data-indera bersifat mental – sebagian atau seluruhnya. Dan tidak ada yang bisa kita ketahui tentang dunia luar kecuali hanya data-indera yang bersifat mental, yang berupa ide kita sendiri. Jika ada sesuatu yang tidak kita pikirkan, misal sebatang pohon, itu pasti karena sedang dipikirkan oleh orang lain, itu adalah ide orang lain. Dalam versi yang lain, benda yang tidak sedang saya pikirkan tapi realitasnya ada dunia luar misal sebatang pohon, itu karena dipikirkan oleh Tuhan – idenya Tuhan.

Argumen Berkeley di atas ada bagian yang valid dan ada yang sesat. Berkeley benar ketika mengatakan bahwa apa yang kita lihat adalah data-indera belaka bukan benda apa adanya, bukan pohon sejati misalnya. Tetapi Berkeley tersesat ketika menyimpulkan tidak pernah ada pohon sejati di alam luar. Dan Berkeley sendiri ragu ketika mengatakan ada pohon lain di luar sana, meskipun buru-buru dia tambahkan itu pasti ada dalam pikiran orang lain.

Keraguan Berkeley dapat kita perluas. Misalnya perhatikan bagian belakang rembulan, yang tidak pernah terlihat dari bumi, karena yang kita lihat selalu bagian depan rembulan. Tetapi bagian belakang rembulan pasti ada meski kita tidak melihatnya dan kita tidak memikirkannya. Berkeley buru-buru menambahkan bahwa bagian belakang rembulan ada karena dipikirkan oleh Tuhan. Sudah cukup kiranya, kita bisa menolak argumen idealisme Berkeley.

Untuk membuktikan bahwa eksistensi pohon benar-benar ada di alam eksternal bisa kita lakukan dengan beragam cara seperti yang sudah kita bahas di bagian sebelumnya. Misal kita mengajak orang lain mengamati pohon bergantian. Pohon tetap ada ketika kita tidak memikirkannya. Jadi pohon tidak berada dalam pikiran kita. Bisa juga kita memasang kamera yang merekam pohon itu lalu kita tinggalkan. Kemudian kita cek kamera, rekamannya, menunjukkan pohon benar-benar ada. Baik ketika kita sedang memikirkannya atau tidak.

3. Rancunya Istilah Ide

Russell mencatat ada kerancuan ketika Berkeley menggunakan istilah “ide”. Sehingga Berkeley jadi ragu-ragu.

Pertama, ketika kita melihat pohon di depan rumah maka akan muncul “gambaran” pohon dalam pikiran kita. Berkeley menggunakan istilah “ide” untuk “gambaran” pohon dalam pikiran manusia.

Kedua, ketika kita mengatakan dua pohon ditambah tiga pohon sama dengan lima pohon maka kita memikirkan konsep umum tentang pohon. Bukan pohon tertentu yang ada dalam realitas dunia eksternal. Konsep umum ini juga disebut “ide” oleh Berkeley. Dan benar adanya bahwa ide pohon untuk kasus ini hanya ada dalam pikiran manusia.

Ketiga, karena terbukti pada kasus kedua bahwa ide pohon hanya ada di pikiran manusia maka pada kasus pertama ide pohon juga ada di pikiran manusia. Kesimpulan ini juga valid. Selanjutnya, kesimpulan yang salah, Berkeley meyakini ide pohon hanya ada dalam pikiran dan tidak ada pohon sejati di alam eksternal.

Berkeley boleh menggunakan ide pohon pada kasus kedua dan hanya ada dalam pikiran. Seharusnya, untuk kasus pertama, Berkeley menggunakan istilah lain misal data-indera (atau impresi-indera). Di sini kita sepakat data-indera (impresi-indera)memang ada dalam pikiran manusia. Tetapi di saat yang sama, data-indera (impresi-indera) membuktikan, bersesuaian, adanya realitas pohon sejati di alam eksternal – seperti sudah kita tunjukkan di atas.

4. Ketelitian

Tampaknya Russell begitu bersemangat menolak idealisme, semisal pandangan Berkeley. Menurut saya, Russell melangkah terlalu optimis menyatakan bahwa manusia benar-benar bisa melihat pohon di alam eksternal. Sejatinya, kita hanya bisa melihat pohon di alam eksternal hanya dengan estimasi saja. Jadi, kita hanya bisa ada di posisi tengah antara dua ekstrem.

Ekstrem satu adalah pandangan idealisme yang menyatakan tidak ada realitas pohon sejati di alam eksternal karena kita sama sekali tidak bisa melihat alam eksternal. Dan ekstrem kedua adalah pandangan yang menyatakan bahwa kita benar-benar bisa melihat pohon yang ada di alam eksternal. Posisi di tengah, lebih hati-hati dan teliti, adalah kita bisa melihat alam eksternal hanya sebagai pendekatan atau estimasi belaka.

Saya kira, Immanuel Kant, filsuf abad 18-19, yang berhasil meyakinkan bahwa yang kita lihat adalah sekedar penampakan atau fenomena dari hakikat alam. Filsuf selanjutnya menguatkan pandangan Kant tersebut semisal Schopenhauer, Husserl, sampai Sartre. Bahkan sebelum Kant, Sadra filsuf abad 17, lebih tegas dengan menegaskan identitas “yang melihat” dengan “yang dilihat”.

Semua filsuf yang kita sebut di atas menolak idealisme, semisal idealisme Barkeley. Meski pengetahuan manusia memiliki batasan tertentu untuk mengenali alam eksternal, mereka dan kita, yakin bahwa alam eksternal eksis secara obyektif. Sifat-sifat lebih detil dari pengetahuan manusia ini akan menjadi bahasan kita di bagian selanjutnya. Di antaranya pengetahuan melalui pengenalan dan pengetahuan melalui deskripsi.

5. Diskusi

Kita perlu bersikap adil terhadap idealisme. Di bagian ini, kita akan mendiskusikan tema idealisme dari sudut pandang pendukung idealisme itu sendiri. Sehingga, kita bisa memahami idealisme dengan lebih baik dan bersikap tidak melampaui batas.

5.1 Berkeley

Berkeley (1685 – 1753) adalah pemikir besar pertama yang mengembangkan idealisme. Berkeley sangat cerdik merumuskan idealisme. Berbeda dengan kritik Russell, yang kita bahas di atas, argumen Berkeley sangat kuat.

(A) Idealisme epistemologi: semua pengetahuan kita adalah ide kita atau bersifat mental.

(B) Idealisme ontologi: semua realitas adalah ide kita atau bersifat mental.

Berkeley meyakini (A) idealisme epistemologi dan menolak (B) idealisme ontologi. Tetapi, para kritikus menimpakan (B) idealisme ontologi kepada Berkeley. Kritik semacam itu tidak layak. Saya bisa memahami Kant mengkritik keras Berkeley lantaran Kant tidak membaca buku Berkeley yang dalam bahasa Inggris. Sementara, Kant fasih dalam bahasa Jerman. Yang mengherankan, bagaimana Russell yang sejak lahir berbahasa Inggris juga melakukan kritik sama kerasnya kepada Berkeley.

Argumen Berkeley bisa kita ringkas sebagai berikut.

(K): Pengetahuan-baru manusia terhadap obyek luar adalah bersifat mental.

(L): Agar pengetahuan-baru ini tidak hanya bersifat mental maka kita bisa membandingkan dengan pengetahuan-lama yang sudah teruji.

(M): Tetapi, pengetahuan-lama itu sendiri, minimal pada mulanya, adalah bersifat mental.

(N) Seluruh pengetahuan kita, lama atau baru, adalah bersifat mental.

Argumen di atas menunjukkan komitmen idealisme epistemologi. Selanjutnya, Berkeley justru ingin menunjukkan eksistensi obyek luar, realisme ontologi. Obyek luar ada secara obyektif karena ada orang-orang tertentu yang sedang memikirkannya. Jika tidak ada orang yang sedang memikirkannya, tetapi obyek luar tetap ada, maka hal itu disebabkan oleh pikiran Tuhan.

Apakah kita bisa mengetahui obyek luar seperti mereka apa adanya? Bukan sekedar mental kita, bukan sekedar ide kita, bukan sekedar imajinasi kita? Pertanyaan ini adalah pertanyaan besar filosofis sepanjang masa.

5.2 Kant

Kant (1724 – 1804) secara tegas menolak idealisme tetapi banyak pemikir mencurigai Kant sebagai idealis. Di masa hidupnya, Kant sudah membantah kecurigaan semacam itu. Bantahan dari Kant ini, tidak serta-merta menyelamatkannya dari tuduhan idealisme.

Pertama, Kant membagi dunia menjadi fenomena dan noumena. Semua penampakan dunia yang kita lihat adalah sekedar fenomena, sekedar penampakan. Sementara, realitas sejati tetap tersembunyi di dunia noumena. Dengan demikian, Kant termasuk dalam idealisme epistemologi.

Kedua, pengetahuan kita terbentuk oleh sintesa antara data empiris dari luar dengan kategori skemata – deduksi transendental. Data empiris ini tidak bermakna apa-apa tanpa deduksi transendental. Sehingga, penentu akhir dari pengetahuan kita adalah deduksi transendental. Pandangan ini cukup memadai untuk menganggap Kant sebagai idealis.

Bagaimana pun, Kant sudah membela diri di masa hidupnya. Dunia noumena, hakikat, bisa kita buktikan dengan pemikiran mendalam. Memang, pengamatan empiris belaka tidak memadai. Dalam deduksi transendental, skemata menyediakan kerangka berpikir yang masih kosong dari konten apa pun. Skemata ini menjadi bermakna ketika ada konten berupa data empiris sehingga terbentuk sintesa. Dengan demikian, data empiris punya peran penting dalam sintesa pengetahuan.

Dalam kesempatan ini, kita tidak perlu membela Kant. Karena, Kant sudah bisa membela diri. Dan sampai sekarang, perdebatan idealisme Kant ini masih tetap hangat.

5.3 Hegel

Hegel (1770 – 1831) memproklamirkan diri sebagai idealis absolut. Menariknya, tidak banyak kritikus yang menyerang sikap idealis Hegel ini. Lebih banyak kritikus, menyerang konsep dialektika kontradiksi dari Hegel. Barangkali, tema dialektika ini dianggap jauh lebih penting dari idealisme itu sendiri.

Hegel menggunakan kata spirit (geist) dengan cara kreatif. Pengetahuan kita, pikiran kita, dan kondisi mental kita, semua adalah spirit. Lebih dari itu, dunia eksternal misal pohon, meja, kursi, dan lain-lain juga termasuk sebagai spirit. Dunia materi adalah spirit yang menampakkan diri. Karena segala sesuatu adalah spirit maka pandangan ini disebut sebagai idealisme (spirit).

Awalnya, ketika bayi, spirit masih kecil. Kemudian, spirit ini berhadapan dengan dunia nyata, non-spirit. Terjadi proses dialektika antara spirit dengan non-spirit dan terbentuklah spirit-baru yang lebih besar, dengan cara, merangkul spirit dan non-spirit. Tetapi, spirit-baru itu sendiri, sejatinya, spirit juga. Maka, dia akan berdialektika dengan non-spirit lagi. Begitu seterusnya sampai meraih spirit absolut. Dari spirit absolut inilah, Hegel menyebut pemikirannya sebagai idealisme absolut. Bandingkan dengan Kant: idealisme transendental; Fichte: idealisme Aku atau idealisme subyektif; Schelling: idealisme Nyata atau idealisme obyektif.

“However, it is almost certainly true that Hegel’s idealism is both epistemological and metaphysical. Like Fichte and Schelling, Hegel sought to overcome the limits Kant’s transcendental idealism had placed on philosophy, in order to complete the idealist revolution he had begun. The German idealists agreed that this could only be done by tracing all the different parts of philosophy back to a single principle, whether that principle is the I (in Fichte and the early Schelling) or the absolute (in Hegel).” (IEP).

“Namun, hampir dapat dipastikan bahwa idealisme Hegel bersifat epistemologis sekaligus metafisik. Seperti Fichte dan Schelling, Hegel berusaha melampaui batasan-batasan yang ditetapkan oleh idealisme transendental Kant terhadap filsafat, dengan tujuan menyempurnakan revolusi idealisme yang telah dimulai. Para filsuf idealis Jerman sepakat bahwa hal ini hanya dapat dicapai dengan menelusuri seluruh bagian filsafat kembali ke satu prinsip dasar, apakah prinsip itu adalah “Aku” (seperti pada Fichte dan Schelling awal) atau “yang absolut” (seperti pada Hegel).”

Memperhatikan konsep di atas, kita mendapati bahwa Hegel menggunakan kata “idealisme” berbeda dengan penggunaan pada umumnya. Idealisme (spirit) ini tetap mengakui eksistensi dunia luar bahkan mengklaim mampu “mengetahui” dunia luar dengan sempurna, ideal, ketika berhasil meraih spirit absolut. Dari sini, kita menyadari keragaman makna dari idealisme itu sendiri.

“Intervening on Schelling’s behalf as the dispute became more heated, Hegel argued that Fichte’s idealism was “subjective” idealism, while Schelling’s idealism was “objective” idealism. This means that Fichte considers the I to be the absolute and denies the identity of the I and the not-I. He privileges the subject at the expense of the identity of subject and object. Schelling, however, attempts to establish the identity of the subject and object by establishing the objectivity of the subject, the I, as well as the subjectivity of the object, nature. The idealism Schelling and Hegel defend recognizes the identity of subject and object as the “absolute,” unconditioned first principle of philosophy. For that reason, it is often called the philosophy of identity.” (IEP).

5.4 Zizek

Zizek (lahir 1949) bertekad menghidupkan kembali pandangan Hegel dengan “dialektika materialisme.” Padahal Hegel, lebih tepat, kita gambarkan sebagai “dialektika spiritual.” Pergeseran dari spirit menjadi materi, tentu saja, berdampak besar. Karena, dengan cara yang sama, kita bisa menggeser idealisme-spirit menjadi idealisme-materi. Dan, itu yang terjadi.

(A): Segala sesuatu adalah materi
(B): Subyek saya adalah kulo adalah void
(C): The Real adalah Nothing

Segala sesuatu yang ada (A) berdialektika dengan the Real (C) maka terbentuklah (A) yang baru, kemudian, berdialektika terus tanpa henti karena (A) memang berhadapan dengan Nothing – tanpa henti, tanpa batas, ketiadaan segalanya.

Lalu, bagaimana bisa muncul pengetahuan, kesadaran, atau subyek kulo?

Awalnya, justru hanya ada void yaitu subyek kulo. Tapi, void itu adalah kehampaan, yaitu, kehampaan yang mengandung segalanya. Void adalah kehampaan yang sedang hamil besar. Void tidak punya basis karena void sendiri memang hampa. Kemudian terjadi big bang ontologis lahirlah the Real dan being. The Real adalah sumber eksistensi dari being. The Real selalu memberi keberlimpahan kepada seluruh being.

Tetapi, being itu sendiri tidak punya ilmu, tidak punya kesadaran, tidak punya indera. Void merobek being. Luka sayatan oleh void terhadap being itulah yang menghasilkan pengetahuan. Being membuka mata, melihat dunia melalui lubang void. Karena void memang hampa, transparant, maka being hanya melihat being. Dan perlu diingat, proses dialektika terus berlangsung.

Mari kita ringkas posisi idealisme versi Zizek sejauh ini. (A) Segala sesuatu yang ada adalah materi. (B) Subyek kulo meski tampak ada, sejatinya, adalah void yaitu kehampaan. Seluruh subyek kulo, pada analisis akhir, adalah void. (C) The Real, jelas-jelas, punya peran besar. The Real adalah sumber-tanpa-batas bagi being dan tujuan-tanpa-batas dari gerak being. Sesuatu yang tanpa-batas seperti itu adalah nothing. Sehingga, pada analisis akhir, the Real adalah Nothing. Jadi, yang benar-benar ada adalah (A) Segala sesuatu yang ada adalah materi. Terbentuklah idealisme-materi.

Tentu saja, banyak pemikir yang tidak setuju dengan Zizek. Saat ini, masih terus berlangsung perdebatan hangat tentang ide-ide Zizek. Saya sendiri mengamati titik kesulitannya ada pada konsep void sebagai kehampaan yang mengandung keragaman. Bagaimana keragaman bisa tetap hampa?

5.5 Chalmers

Chalmers (lahir 1966) adalah pemikir tentang filsafat pikiran. Chalmers terkenal dengan formulasi “The Hard Problem of Consciousness”: bagaimana kesadaran sebagai subyek kulo bisa muncul dari otak manusia? Sampai sekarang, 20 tahun lebih telah berlalu, belum ada solusi memuaskan terhadap problem kesadaran itu.

Kali ini, kita akan fokus kepada perspektif idealisme dari Chalmers. Sejatinya, Chalmers adalah pemikir analytic, empiris, rasional, dan mengandalkan sains. Dengan situasi seperti itu, yang menarik, Chalmers tetap bersikap terbuka terhadap prospek idealisme. Chalmers sering merujuk kembali ke Descartes.

Descartes berhasil membuktikan eksistensi dirinya dengan dalil cogito. Kemudian, membuktikan eksistensi dunia eksternal. Tetapi pertanyaan tentang apa sejatinya dunia eksternal, Descartes tidak berhasil menjawab dengan meyakinkan. Dunia luar semisal pohon, meja, kursi, dan lain-lain, bisa saja, hanya ilusi.

Bisa saja, ada setan-super-cerdas yang menciptakan ilusi tentang dunia luar. Setan itu menipu seluruh umat manusia dengan ilusinya yang canggih. Setiap usaha manusia untuk keluar dari dunia ilusi, hanya akan, mengantarkan manusia masuk ke dunia ilusi yang satunya.

Atau, bisa saja, saat ini, sebenarnya, kita hanya hidup di dunia mimpi. Apa pun usaha kita untuk terjaga dari mimpi, hanya akan, mengantarkan kita hidup di dunia mimpi berikutnya.

Di era digital saat ini, kita mudah membayangkan bahwa realitas seluruh alam raya hanyalah simulasi digital. Bahkan diri kita, kesadaran diri kita, adalah simulasi. Kita seperti sedang berada dalam game-simulasi yang tampak nyata. Kehendak bebas kita hanyalah kode-kode program tingkat tinggi. Indahnya ketika Anda jatuh cinta juga merupakan bit-bit simulasi.

Kita tidak bisa keluar dari simulasi ini. Karena, setiap kita berhasil keluar dari simulasi hanya mengantar kita masuk ke simulasi yang lebih besar lagi. Kita berada dalam idealisme-simulasi. Segala sesuatu adalah simulasi.

Chalmers menyadari bahwa tidak ada cara valid untuk membantah klaim idealisme-simulasi. Karena, setiap argumen kita masuk dalam kategori simulasi itu sendiri. Russell sudah menyadari kesulitan semacam ini dalam membantah idealisme satu abad yang lalu. Apa alternatif yang kita miliki?

Chalmers melangkah lebih jauh. Seandainya realitas semesta ini adalah simulasi maka simulasi tersebut tetap jadi realitas semesta, tidak kurang, tidak lebih. Maksudnya, asumsikan dunia adalah simulasi, ketika “Anda menghormati ibu” di dunia simulasi sekarang ini, maka, sama nilainya dengan “Anda menghormati ibu” di dunia nyata. Ketika “Anda kenyang makan sepiring nasi” di dunia simulasi ini, maka, sama nilainya dengan “Anda kenyang makan sepiring nasi” di dunia nyata. Begitu juga ketika “Penjahat dihukum akibat kriminal” di dunia simulasi ini, maka, sama nilainya dengan “Penjahat dihukum akibat kriminal” di dunia nyata.

Pandangan idealisme-simulasi tidak mengubah apa pun, yang bernilai, dari pandangan realisme.

Tetapi, bukankah “memiliki kebun anggur” di simulasi komputer berbeda dengan “memiliki kebun anggur” di dunia nyata? Begitu juga, bukankah “memiliki kekasih” di simulasi komputer berbeda dengan “memiliki kekasih” di dunia nyata? Benar. Mereka memang berbeda. Tidak ada masalah dalam perbedaan itu. Status ontologi mereka memang beda.

“Memiliki kekasih” di simulasi komputer sama nilainya dengan “Memiliki kekasih” di simulasi komputer itu sendiri. Tetapi memang berbeda dengan “Memiliki kekasih” di dunia nyata. Meski berbeda, tidak berimplikasi bahwa “Memiliki kekasih” di dunia komputer menjadi tidak bernilai. Semua realitas virtual, simulasi komputer, tetap memiliki nilainya sendiri. Tugas kita, selanjutnya, adalah memberi nilai yang tepat terhadap realtias virtual. Atau menguatkan nilai dari realitas virtual digital.

Di era pandemi covid, kita memberi nilai tinggi terhadap realitas virtual digital. Sebagian besar orang bekerja secara virtual, sekolah secara virtual, dan melakukan pertemuan secara virtual. Semua realitas virtual seperti itu bernilai tinggi – meski tetap beda dengan realitas nyata. Sebaliknya, realitas virtual juga bisa berbahaya. Terjadi penipuan di media sosial, pencurian uang digital, dan beragam kejahatan dunia digital. Sama juga, di dunia nyata juga bisa terjadi kejahatan.

Sehingga, masalahnya bukan karena ada perbedaan antara realitas dunia nyata dengan dunia virtual, tetapi, bagaimana kita memberi nilai yang tepat dan bersikap terhadap dua dunia itu. Dan, trend sekarang makin menunjukkan bahwa peran dunia virtual makin besar. Kita perlu menyambut, dengan gembira dan waspada, akan kedatangan gelombang dunia virtual di seluruh penjuru dunia.

5.6 McDowell

John McDowell (1942 – ) adalah pemikir realis. Bahkan, realisme ganda atau realisme banget. Ada dua alam real. Alam(1) adalah alam apa adanya misal pohon, batu, meja, kursi, dan lain-lain. Alam(2) adalah alam budaya misal bahasa, matematika, teknologi, etika, dan lain-lain. Tetapi, kita bisa memandang dua alam, di atas, dari sudut idealisme. Kedua alam tersebut adalah sama-sama alam konseptual.

Ketika kita memandang pohon maka kita mengalami pemandangan pohon secara langsung. Pemandangan pohon ini lengkap dengan seluruh latar misal ada kebun, ada rumah, ada rumput, ada tanah, dan lain-lain. Jadi, kita mengalami semuanya, obyek pohon dan latar, secara langsung. Dengan demikian, kita benar-benar mengetahui pohon tersebut. Tentu saja, pengetahuan kita bisa salah dan bisa direvisi. Kasus ilusi atau delusi merupakan contoh pengetahuan yang salah. Dengan disiplin ilmiah, atau disiplin lainnya, kita bisa mengembangkan sistem pengetahuan yang sah.

Bagaimana impresi-pohon itu bisa muncul dalam pikiran kita?

Jiwa manusia adalah bebas. Ketika jiwa menerapkan kebebasannya maka membentur alam raya. Benturan-benturan ini memberi batasan-batasan terhadap kebebasan jiwa sehingga menghasilkan, misal, impresi-pohon yang berupa pikiran konseptual. Akibatnya, kita memahami ada pohon, dan latarnya, di depan kita.

Impresi-pohon dalam pikiran bersifat konseptual. Pohon di alam eksternal juga bersifat konseptual. Karena bersifat konseptual maka kita bisa berpikir secara etis atau moral. Apakah pohon tersebut sebaiknya dirawat atau ditebang untuk kepentingan lain? Kita bisa menganalisis secara konseptual untuk mengambil keputusan terbaik antara dirawat atau ditebang.

Menariknya, pemandangan pohon yang seharusnya masuk alam(1) dipengaruhi oleh alam(2), misalnya, persepsi awal kita terhadap pohon. Jika kita pecinta lingkungan maka kita akan melihat pohon sebagai perlu dirawat demi penghijauan. Tetapi, jika kita pebisnis maka kita melihat pohon sebagai sumber keuntungan bisnis untuk dijual. Jiwa kita bebas untuk menentukan keputusan akhir.

Karena alam(1) dan alam(2) sama-sama bersifat konseptual maka kita bisa menyebut pandangan ini sebagai idealisme konseptual. Bagaimana pun, kedua alam di atas sama-sama eksis secara nyata.

Dari beberapa diskusi kita di atas, kita tidak menemukan pemikir serius yang berkomitmen terhadap idealisme-ontologi. Komitmen idealisme hanya terjadi pada wilayah epistemologi. Pandangan dan istilah idealisme itu sendiri beragam. Beberapa di antara pandangan idealisme itu, justru membuka wawasan lebih luas bagi umat manusia.

Saya memandang perlu untuk mendiskusikan tema idealisme di sini secara lebih mendalam karena pembahasan kita selanjutnya, tema-tema selanjutnya, cenderung memilih latar realisme dari idealisme. Dengan diskusi ini, saya berharap, kita bisa memberi apresiasi yang layak kepada idealisme.

Lanjut ke Pengetahuan Pengenalan dan Deskripsi
Kembali ke Philosophy of Love

Membaca Paradox AlQuran

AlQuran adalah kitab suci yang luar biasa. Menjadi sumber inspirasi yang tiada habis-habisnya. Menjadi petunjuk untuk hidup bahagia hakiki di dunia ini dan akhirat nanti.

Namun demikian, logika manusia, menemukan beragam paradox dalam logika kitab suci. Barangkali bahkan ada yang mengira ada kontradiksi-kontradiksi dalam sudut pandang tertentu. Maka manusia perlu terus meluaskan cakrawala berpikir sepanjang masa.

Menumbangkan Akal

Paradox pertama adalah ketika kita membaca kitab dengan urutan dari awal. Setelah pembukaan, pada ayat pertama, AlQuran menyatakan, “Alif Lam Mim” di mana tidak ada satu orang pun yang tahu pasti artinya. Disusul dengan klaim, “Ini adalah kitab yang tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya.”

Bakat dan Minat dalam Al Quran - Kompasiana.com

Pembaca “dipaksa” untuk meyakini Quran bahkan ketika baru saja ia menyatakan sesuatu yang tidak diketahui maknanya yaitu Alif Lam Mim. Orang yang mengandalkan analisis rasional bisa tumbang di sini. Bagaimana bisa tidak ada keraguan? Baru saja menyatakan sesuatu yang tidak diketahui artinya kan?

Paradox ini hanya terjadi bagi mereka yang terlalu mengandalkan analisis rasio. Dalam kehidupan ini kita butuh lebih dari sekedar akal rasio. Kita butuh tindakan moral, butuh keyakinan, butuh pengorbanan, dan lainnya.

Perhatikan, selanjutnya, ALQuran justru menumbangkan akal rasio yang berlebihan. AlQuran menyatakan diri sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Jika Anda bertakwa maka Anda akan mendapat petunjuk, hidayah, dari AlQuran. Sementara orang yang tidak bertakwa, bisa jadi, tidak mendapat petunjuk meski baca AlQuran. Tentu saja ini klaim yang serius.

Namun AlQuran, selanjutnya, merinci orang-orang yang termasuk bertakwa: orang yang beriman dengan yang ghaib, mendirikan sholat, menginfaqkan hartanya, beriman kepada apa saja yang diturunkan kepadamu (Muhammad SAW) dan apa saja yang sebelummu, dan yakin kepada akhirat. Mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Singkatnya, AlQuran, berhasil menumbangkan akal rasio sejak awal-awal. Menuntut sikap beriman dan bertindak sesuai nilai moral yang tinggi.

Bagi Anda yang masih penasaran dengan paradox ini dan ingin meneliti bagaimana AlQuran memposisikan akal bisa meneliti paradox kedua, membaca dari urutan waktu: ayat pertama yang turun.

Menantang Akal

Ayat pertama AlQuran yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah “Bacalah!”

Perintah untuk membaca adalah yang pertama dari AlQuran. Tentu saja ini paradox di masanya, di mana, kegiatan membaca dan menulis adalah minim sekali. Dan perintah ini cocok sekali bagi orang-orang yang mengandalkan kekuatan rasio. Sesuai untuk orang-orang yang berpikir ilmiah. Membaca adalah kegiatan mengenali sesuatu yang diikuti oleh penyelidikan akal. Beda dengan sekedar membaca tulisan.

AlQuran memilih kata “iqra” bukan “tilawah” yang akar katanya sama-sama membaca. Seperti kita tahu, tilawah adalah kegiatan membaca teks dengan melantunkannya. Di Indonesia juga diselenggarakan lomba tilawah nasional di mana yang dinilai adalah suara dan nada bacaan AlQuran.

Sementara iqra adalah perintah membaca alam semesta disertai penyelidikan akal sehat. Buru-buru AlQuran tidak membiarkan perintah membaca, dan menyelidiki, secara serampangan. AlQuran menegaskan, “Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan!” Ketika kita membaca, dan meneliti, sambil diiringi rasa kagum akan Maha Bijaknya Sang Pencipta. Dengan demikian penelitian kita punya arah untuk mengabdi kepada Tuhan, dan pasti bernilai kemanusiaan.

Cara baca holistik, seperti di atas, menjamin proses dan hasil bacaan bernilai baik. Beda dengan cara baca materialis yang mungkin saja tersesat mengumpulkan harta, menindas wong cilik, melayani nafsu serakah, dan resiko lainnya.

Masih dalam rangkaian ayat yang pertama turun, “(Tuhan) Yang mengajar dengan penulisan (qolam).” Barangkali tokoh posmo semaca Derrida akan senang sekali membaca ayat ini. Derrida mengklaim bahwa tulisan lebih utama dari ucapan – atau setidaknya imbang. Orang-orang pada umumnya menilai bahwa bahasa manusia yang asli adalah ucapan. Sedangkan tulisan hanya turunan, hanya perkembangan, dari bahasa ucapan itu, logosentris. Derrida mendobrak pandangan itu dan ingin membalik logosentrisme itu.

Tampaknya, ide Derrida mengutamakan tulisan lebih dari ucapan ini sejalan dengan AlQuran. Dalam bahasa Arab, tulisan (pena) adalah qolam yang mirip dengan ucapan yaitu kalam. Seandainya AlQuran memilih kalam maka itu akan cukup konsisten tetapi AlQuran memilih qolam, tulisan, sebagai cara Tuhan mengajar. Nyatanya sejarah Islam justru memilih “Kalam” sebagai disiplin berpikir teologis. Mengapa tidak memilih “Qolam”?

Jadi perlu kita catat di sini bahwa susunan kitab AlQuran yang terdiri dari bagian 1 sampai bagian 30, Juz 1 sampai dengan Juz 30, berbeda dengan urutan turunnya wahyu AlQuran itu sendiri. Maka bagi yang berminat berpikir analytic bisa membaca sesuai urutan turun wahyu. Sedangkan yang berminat berpikir kreatif otak kanan dapat membaca dari bagian 1, Juz 1. Bagi yang lebih praktis dapat membaca dari Juz terakhir. Itulah paradox ketiga.

Memicu Akal Praktis

Dalam tataran praktis, masyarakat muslim justru sering membaca AlQuran dari bagian terakhir yaitu Juz 30, inilah paradox ketiga menurut saya. Khususnya ketika anak-anak muslim mulai belajar membaca maka mereka akan diarahkan mulai dari bagian terakhir, bagian 30, Juz 30.

Saya menduga ini adalah perkembangan akal praktis dari masyarakat muslim. Di mana membaca Juz 30 adalah lebih praktis dan efisien. Ayat-ayat pada Juz 30 pendek, rima-nya unik, dan mudah dipahami bahkan mudah dihafalkan. Urutan membacanya pun bisa dimulai dari surat pertama (Annaba) atau bisa dari surat terakhir (Annas). Sehingga cara berpikir otak kiri, yang analyitic, dan cara berpikir otak kanan, yang kreatif, berpadu pada tataran praktis.

Saya membayangkan betapa senangnya Derrida, tokoh posmo itu, seandainya mengetahui komunitas muslim menerapkan “language game”-nya Wittgenstein dengan kreatif. Bahkan teori strukturalisme bahasa Saussure pun berhasil memunculkan inovasi baru dengan munculnya wacana kitab “turutan” dan kitab “iqra” yang berguna bagi pemula untuk membaca AlQuran.

Diskusi

Memperhatikan tiga paradox di atas saya menyimpulkan bahwa AlQuran sangat kuat menekankan peran keyakinan dan moral sejak bagian pertama AlQuran, Juz 1. Tetapi sejarah turunnya AlQuran justru mengangkat pentingnya peran akal analytic dengan perintah tegas membaca, “iqra.” Bagaimana pun masyarakat muslim berhasil melahirkan inovasi dengan membaca AlQuran dimulai dari bagian terakhir, Juz 30, bagi pemula.

Bagaimana menurut Anda?

Modernisme yang Gagal

Sudah terbukti gagal tapi banyak yang suka. Modernisme terbukti gagal mewujudkan janji keadilan bagi umat manusia. Janji meningkatkan kesejahteraan terbukti benar hanya untuk golongan elit. Janji menghargai demokrasi ternyata hanya yang kuat yang mendominasi.

Apakah ada solusi?

Modernisme yang diawali era pencerahan dengan tokoh besar semisal Descartes, mengungkapkan kekuatan rasional manusia, berbelok jadi penjara manusia. Yang sukses bergelimang harta hidup hampa di dunia, entah gimana akhiratnya. “Yang lain” tersisih di perumahan miskin, negara kumuh, tanpa berpendidikan memadai.

René Descartes - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Descartes

Kritik Agama

Para tokoh agama sejak awal sudah mengkritisi program modernisme akan gagal. Manusia tidak akan berhasil mengandalkan kekuatan pikiran. Maka mari bersama-sama kembali ke pangkuan agama. Bahagia dunia dan akhirat.

Tentu saja ajakan kembali ke agama tidak mudah diterima oleh kalangan modernis. Gerakan modernisme justru lahir hendak melepaskan diri dari cengkeraman agama dengan konsep sekularnya. Tetapi perlu diingat, di banyak tempat, berpegang teguh kepada agama berhasil mengantarkan umat manusia sukses di dunia – dan akhirat, semoga.

Kritik Habermas

Madzhab Frankfurt sejak awal sudah mengkritisi proyek modernisme. Misal Adorno menolak prime philosophy, seni massal, dan dominasi totaliter dari modernisme. Critical Theory, yang dikembangkan madzhab Frankfurt, terus berkembang dengan konsep yang matang. Generasi kedua, di tangan Habermas, mengusulkan pentingnya komunikasi aktif.

Semua pihak termasuk kaum yang terpinggirkan, menurut Habermas, perlu didengarkan suaranya. Diakomodasi aspirasinya. Lalu bersama-sama membangun kemanusiaan yang adil dan beradab.

Barangkali pendekatan komunikasi aktif Habermas ini terbukti sukses dengan fenomena media sosial dan start up. Misal youtube membebaskan semua orang, bahkan orang yang tidak lulus SD, untuk membuat video di youtube. Kita tahu dengan youtube banyak anak kampung yang tiba-tiba berhasil meraih ratusan juta rupiah hanya dengan membuat video iseng-iseng saja.

Dengan start up, pedagang nasi goreng atau cakue bisa tiba-tiba sukses luar biasa.

Tampaknya dunia digital mendukung konsep Habermas dalam hal komunikasi aktif. Semua pihak boleh bicara, saling mendengarkan, untuk kemudian maju bersama.

Kritik Lyotard

Sebagai tokoh posmo, tentu saja, Lyotard dengan lantang mengkritik modernisme. Menolak narasi besar dari modernisme. Tidak perlu ada konsensus lagi. Posmo hanya mengakui dissensus.

Lyotard beda dengan Habermas. Jika Habermas masih percaya dengan kritik ke modernisme lalu diperbaiki maka Lyotard sudah tidak percaya. Modernisme harus dihentikan. Digantikan dengan posmodern. Tapi apa itu posmodern?

Posmo dicirikan dengan dissensus, fragmented, simulacra, relativisme, pluralisme, paralogi, dekonstruksi, dan lain-lain. Maka mendefiniskan posmo hakikatnya adalah mengingkari posmo itu sendiri. Singkatnya, posmo hanya bisa dijelaskan tapi tidak bisa didefinisikan.

Mengenai media sosial barangkali sesuai dengan ciri-ciri posmo: dissensus, paralogi, fragmented, dan lain-lain. Di medsos kita bebas beda pendapat. Segala sesuatu dinilai relatif sesuai penilai. Medsos terpecah-pecah sesuai minat masing-masing.

Sayangnya, Lyotard tidak sempat menyaksikan fenomena medsos. Lyotard wafat 1998 – sementara Habermas berusia 91 tahun pada 2020 ini. Namun kita tetap bisa memanfaatkan kritik Lyotard terhadap medsos.

Lyotard menolak dominasi dalam bentuk apa pun. Dominasi adalah narasi besar dari modernisme yang perlu disingkirkan. Facebook, misalnya, sudah berhasil menyingkirkan dominasi surat kabar dalam menyebarkan berita. Masing-masing orang bebas menyebarkan berita melalui facebook – atau media sosial lain. Hal ini sesuai dengan ajaran posmo.

Tetapi kita tahu tahun 2016 kemenangan pilpres Trump ada kaitannya dengan facebook. Kita mendengar kasus Cambrige Analytic. Singkatnya, medsos berhasil menggulingkan dominasi surat kabar. Kemudian medsos mendominasi yang lainnya. Posmo gagal lagi di sini.

Dari sudut pandang Lyotard maka kita perlu mewaspadai dominasi medsos, start up, dan bentuk industri lainnya. Awalnya berhasil menghancurkan dominasi modernisme. Lalu terjebak lagi jadi dominan.

Bagaimana menurut Anda?