Being & Freedom: Content

A Pendahuluan
Ekonomi dunia makin maju tapi manusia makin menderita. Teknologi digital makin cepat tapi beban manusia makin berat. Negara-negara makin kaya tetapi kesenjangan makin menganga. Kita butuh solusi. Tidak hanya dari satu sisi. Perlu dari berbagai sisi. Tulisan saya ini berusaha untuk mengajukan solusi dari sudut pandang pemikiran paling mendasar – pemikiran filosofis. Melengkapi beragam solusi yang sudah diajukan oleh banyak pihak.

Secara garis besar saya mengikuti analisis eksistensial Heidegger yang sudah terbit hampir 100 tahun yang lalu. Tentu saja, kita perlu merujuk kepada pemikir-pemikir lintas waktu sampai jauh sebelum Socrates. Misal Parmenides yang menyatakan secara ontologis terdapat satu kebenaran tunggal, Heraklitus yang menyatakan dunia selalu bergerak, dan Sadra, pemikir abad 17, yang berhasil menyusun filsafat eksistensi dengan kokoh.

Image result for freedom

Penting juga bagi kita untuk mengacu pemikir-pemikir kontemporer yang luar biasa. Sebut saja Habermas, lahir di Jerman 2 tahun setelah Heidegger menerbitkan buku analisis eksistensial, yang dengan gigih mengkritik modernitas dan di saat yang sama mendukung terus proyek pencerahan. Lyotard, pemikir Prancis, yang dengan kukuh mendukung konsep keadilan. Kritik Baudrillard terhadap teknologi digital dengan konsep simulacra – simulacrum memberi jalan bagi kita untuk mencari alternatif solusi menghadapi lompatan teknologi yang konsisten eksponensial.

B. Being and Freedom
1. Pentingnya mengkaji Being atau Wujud: Hana
Kajian eksistensial terhadap manusia sejati, hana, menjadi penting karena bisa jadi landasan kajian bidang-bidang lainnya. Meskipun kajian-kajian ini bisa saja seiring sejalan saling melengkapi. Misal kajian biologi juga membahas manusia dari sudut pandang sebagai makhluk hidup. Dengan asumsi eksistensi manusia sudah diberikan, tidak dipertanyakan. Demikian juga psikologi dan anthropologi juga mengkaji manusia dengan asumsi eksistensi manusia sudah diberikan. Sementara, ontologi justru mengkaji apa makna eksistensi manusia, hana, itu sendiri.

2. Freedom: Mungkinkah Secara Pribadi dan Semesta
Kebebasan manusia menjadi pertanyaan dasar dalam beragam bidang kehidupan manusia. Di depan hukum, manusia harus bertanggung jawab karena ia punya kebebasan untuk melakukan suatu tindakan yang berkonsekuensi hukum. Tanpa ada kebebasan, tidak sepatutnya dituntut tanggung jawab. Dari sudut pandang analisis eksistensial apakah bisa dibuktikan bahwa manusia punya kebebasan? Ketika kebebasan adalah hak setiap manusia maka kita perlu mendesain sistem yang menjaga kebebasan hak setiap warga. Mungkinkah?

3. Metodologi: Fenomenologi Spiral
Berbagai macam metodologi kajian dapat kita pertimbangkan. Saya memilih metodologi fenomenologi dengan pertimbangan efektif dan fokus yang tegas kepada fenomena manusia. Analisis eksistensial berusaha untuk mengkaji bagian paling mendasar secara ontologis. Sedangkan pendekatan spiral memberi kesempatan bagi kita untuk berulang-ulang mempertajam kajian interpretif hermeneutik.

C. Kajian Hana: Memahami Karakter Semesta
1. Hanya Bisa Dikaji Melalui Manifestasi: Caraka
Being, ada, atau wujud sudah jelas dengan sendirinya. Kita, misalnya, secara langsung sadar, meja ada. Tanpa perlu penjelasan lebih jauh apa yang dimaksud dengan “ada” itu. Kita paham bahwa meja memang ada.

Maka untuk membahas being ini saya memilih kata hana yang bermakna ada, being, wujud, eksistensi, dan sejenisnya. Kita akan menyelidiki hana secara khusus yaitu hana manusia, eksistensi manusia. Meski demikian, tidak mudah membahas hana secara langsung. Maka kita akan mengkaji manifestasi dari hana yaitu caraka. Segala sesuatu yang ada dalam “ruang” lengkap dengan berbagai macam karakternya adalah termasuk caraka, manifestasi dari hana.

1.1 Being-in-the-world
Hana, manusia sejati, tahu bahwa ada orang lain, ada benda lain, ada sesuatu yang selain dirinya sendiri. Karakter dasar dari hana adalah mengenal yang lain. Hana selalu berada dalam dunia, sebagai being-in-the-world. Sementara dunia yang mengelilingi, dapat dikenali oleh hana sebagai caraka.

1.2 Being-with-mama
Sebagai orang dewasa, kita, barangkali menganggap bahwa uang adalah yang paling penting. Atau jabatan adalah yang paling penting. Tetapi bila kita mencoba mengkaji yang lebih dalam maka bisa kita temukan bahwa yang paling penting bagi kita, sebagai hana manusia sejati, adalah ibu kita. Being-with-mama.

Kita, hana manusia sejati, hadir ke dunia berkat seorang ibu. Kita lahir karena ibu. Sedikit pemikiran lanjutan, menunjukkan bahwa ibu bisa melahirkan kita karena ada peran ayah. Maka jelas, hana, mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ibu dan bapaknya. Setiap orang di dunia ini, hana, mempunyai ibu dan bapak. Kita akan mengkaji eksistensi hubungan hana dengan ibu dan bapak.

1.3 Being-with-other
Hana sadar bahwa ada ibu dan bapak, serta ada orang lain yang bukan ibu dan bapak, being-with-other. Mereka mirip dengan saya tapi bukan saya, bukan pula ibu atau pun bapak. Hubungan antara hana dengan orang lain ada kecenderungan saling mempengaruhi, ada kompromi, sehingga berpeluang menarik hana menjada “rata-rata” saja. Hana bisa tenggelam dalam kerumunan menjadi kehilangan karakter diri yang otentik.

1.4 Being-with-special
Di antara banyak orang itu ada beberapa orang yang spesial bagi hana, kita sebagai manusia sejati. Barangkali Anda bertemu dengan orang yang membuat Anda jatuh cinta? Hana menjadi begitu hidup, otentik, ketika berjumpa dengan orang yang dicinta. Dunia serasa hanya milik berdua saja. Orang spesial bisa saja seorang kekasih tapi bisa juga orang yang sangat berjasa bagi kita, misalnya, seorang guru sekolah dasar yang mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan ini. Orang spesial mempunyai hubungan eksistensi spesial dengan hana.

1.5 Being-with-natural
Hana bertemu banyak benda di dunia ini. Meja, batu, kursi, pohon, bunga, dan sebagainya. Mereka bukan manusia. Tetapi mereka nyata. Apa sejatinya mereka itu, caraka? Dan bagaimana hana berhubungan dengan semesta?

1.6 Language
Bahasa adalah penting bagi hana. Hana berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa. Lebih dari itu, bahasa mengungkapkan berbagai macam hal: benda, perasaan, situasi, harapan, dan lain-lain. Hana memandang bahasa sebagai alat. Tapi ada kemungkinan bahwa hana “dikurung” oleh bahasa itu sendiri.

1.7 Sains
Barangkali sains adalah prestasi terbesar hana sepanjang sejarah. Sains berhasil mengungkap kebenaran. Benarkah demikian? Kebenaran macam apa yang diungkap oleh sains? Beberapa jenis kebenaran, termasuk kebenaran sains, kita kaji pada bagian ini.

1.8 Mathematic
Matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menikmati keistimewaan: benar secara absolut, tanpa keraguan. Benarkah begitu, bagaimana caranya?

1.9 Dunia Digital
Hana lebih dari sekedar memahami dunia. Hana bahkan bisa mempengaruhi dan mengedalikan dunia melalui teknologi. Lebih ekstrem lagi, hana bisa menciptakan dunia baru yaitu dunia digital. Tantangan selalu ada, apakah manusia bisa mengendalikan dunia digital? Atau manusia yang dikendalikan oleh teknologi digital? Dengan mempertimbangan perkembangan teknologi cerdas semacam kecerdasan buatan, maka ancaman semacam ini bisa saja terjadi.

1.10 Hana Otentik
Analisis sebelumnya menjelaskan hana berhubungan dengan dunia sekitarnya. Apakah hubungan ini bisa menjaga hana eksis secara otentik? Maka kita perlu merumuskan karakteristik hana yang otentik. Karakter paling dasar dari manusia sejati adalah peduli, menurut Heidegger. Hana peduli terhadap eksistensi dirinya. Selalu bertanya-tanya tentang masa depan eksistensinya. Dengan dikelilingi dunia, hana beresiko tidak peduli lagi tentang masa depan eksistensinya yang otentik. Manusia tenggelam dalam dunia yang tidak otentik.

1.11 Tenggelam dalam Dunia
Manusia, sebagai hana, rentan tenggelam dalam kesulitan alam semesta. Bagi orang yang kesulitan menjalani hidup bisa terjebak sepanjang hayat hanya mencari kebutuhan pokok, sekedar bertahan hidup. Sementara bagi yang berlimpah harta juga rentan mabuk dunia. Sama-sama tenggelam dalam dunia.

1.12 Tenggelam dalam Rata-rata
Menghabiskan banyak waktu kumpul-kumpul dalam kerumunan bisa menjebak hana jauh dari sikap otentik. Dalam kasus tertentu, hana perlu bersatu, berkumpul menyatukan kekuatan untuk menghasilkan karya besar yang nyata. Namun sebagian besar hana tenggelam dalam rata-rata. Di tengah-tengah kawanan banyak orang, hana melepaskan diri dari tanggung jawab.

1.13 Tenggelam dalam Digital
Tak bisa disangkal, begitu kuatnya dunia digital. Manfaat besar di awal bisa berubah jadi petaka global. Maka kita perlu mencermati dengan tepat eksistensi dunia digital. Dunia digital bisa mencengkeram hana. Dunia digital bukan hanya nyata, real. Dunia digital adalah kenyataan, realitas.

1.14 Real vs Realitas
Mendefinisikan ulang dengan lebih tegas perbedaan antara yang Real dan Realitas memudahkan kita menganilisis hana. Real adalah segala sesuatu yang nyata dengan asumsi memisahkan hana dari kajian. Sedangkan Realitas segala sesuatu yang nyata dengan mempertimbangkan hana, kenyataan sejati.

1.15 Obyektif dan Subyektif: Estimasi Integratif
Tugas membuktikan obyektivitas dunia eksternal menjadi tugas berat bagi filsafat sepanjang sejarah. Selalu ada lubang kelemahan. Pendekatan estimasi integratif mampu memberikan penjelasan yang memadai dari sisi ontologis mau pun epistemologis.

1.16 Cogito Descartes
Rumusan cogito dari Descartes telah mendorong pencerahan dunia. Meskipun terdapat beberapa kerumitan, kita dapat melengkapi dengan beberapa analisis kontemporer.

1.17 Antinomi Kant
Barangkali Immanuel Kant adalah pemikir terbesar setelah masa Descartes. Konsistensi Kant dengan analisis rasionalnya menghasilkan maha karya yang luas dan menjadi rujukan sampai masa kontemporer ini. Sikap jujur mengantarkan kajian Kant kepada jalan buntu: antinomi atau paradox. Seperti dikatakan oleh Kant sendiri, antinomi ini tidak bisa didamaikan. Kita akan mencoba berbagai pendekatan alternatif untuk menyikapi antinomi ini.

1.18 Optimisme: Fenomena Sartre
Sikap optimis Sartre barangkali bisa dikatakan sebagai ekstrem, untuk ukuran seorang filosof. Totalitas dari seluruh fenomena menghasilkan being sejati. Sebaliknya, being sejati adalah seluruh fenomena yang dihasilkannya. Kita akan mencoba mempertimbangkan proyek besar Satre ini serta berbagai macam kontribusinya untuk analisis eksistensial.

1.19 World-in-the-Being
Sejauh ini kita membahas hana, manusia sejati, yang berada dalam dunia, being-in-the-world. Selanjutnya, kita perlu mempertimbangkan kebalikannya, dunia dalam hana, world-in-the-being. Analisis ini tampak mengarah ke idealisme. Tetapi kita tidak perlu terjebak dalam pertentangan idealisme vs realisme. Kita akan mencoba lebih dalam melakukan analisis eksistensial.

Ketika kita berhasil membuktikan eksistensi world-in-the-being maka akan berdampak besar kepada hana. Segala tindakan hana kepada dunia, sejatinya, adalah tindakan hana kepada hana sendiri. Seorang yang berbuat jahat, sejatinya, adalah berbuat jahat kepada dirinya sendiri. Merugikan diri sendiri. Begitu juga orang yang berbuat baik, sejatinya, adalah berbuat baik kepada dirinya sendiri. Semua perbuatan, semua realitas, ada dalam diri manusia.

Dari sini kita bisa mengembangkan lebih lanjut melengkapi hukum moral dan hukum positif. Karena semua tindakan, hakikatnya, adalah tindakan kepada diri sendiri maka hukum ini kita sebut sebagai hukum eksistensial. Karakter hukum eksistensial selaras dengan karakter hana itu sendiri terutama bersifat niscaya dan akumulatif. Artinya semua tindakan manusia niscaya berdampak kepada hana dan dampak ini bersifat akumulatif.

2. Filosofi Negasi dan Different: Sawala
Sejak jaman Aristoteles kita berfokus mengenal dunia dengan prinsip identitas. Ketika kita ingin mengetahui apakah adil itu maka kita akan mendefinisikan adil. Kemudian memberi contoh-contoh tentang adil. Kita kurang tertarik dengan yang bukan-adil atau komplemen-adil. Akibatnya, kita terlalu menghargai konsep adil sebagai identitas dan beresiko tidak menghargai yang lain. Baru menjelang abad 21, konsep perbedaan, negasi, dan “yang lain” mendapat perhatian utama. Perbedaan, pertentangan, perselisihan, dan lain-lain adalah sawala. Realitas nyata yang bebar-benar ada di depan mata: sawala.

2.1 Perbedaan Geometri dan Kuantitatif
Tidak ada keraguan bahwa di dunia nyata kita melihat banyak perbedaan. Di dalam pikiran masing-masing orang pun juga memiliki ide yang berbeda-beda. Tampak cukup aneh bila manusia tidak menghormati perbedaan yang nyata-nyata di dunia nyata. Lingkaran beda dengan persegi, batu beda dengan manusia, air beda dengan api. Jenis perbedaan-perbedaan seperti ini adalah perbedaan geometri dan kuantitatif.

2.2 Perbedaan Intensitas dan Kualitatif
Perbedaan intensitas terasa lebih lembut dari perbedaan kuantitas. Jelas kita bisa membedakan antara kuantitas 3 dengan kuantitas 5. Tetapi kita tidak mudah menjelaskan rasa makanan yang lezat dengan yang lebih lezat. Karena lezat adalah intensitas – atau kualitatif. Bagaimana pun kita mengakui perbedaan tingkat kelezatan makanan satu dengan jenis makanan lainnya. Perbedaan intensitas ini sangat berguna untuk analisis eksistensial.

2.3 Identitas Aristoteles dan Kontradiksi
Kita banyak berhutang budi kepada Aristoteles yang telah merumuskan konsep identitas, non-kontradiksi, hukum antara, dan lengkap dengan logika. Tidak ada masalah dengan konsep identitas ini. Tetapi sikap manusia yang terlalu dominan kepada identitas beresiko merendahkan perbedaan.

2.4 Negasi dan Nothingness
Barangkali Heidegger yang pertama memberi tempat terhormat kepada nothingness, ketiadaan, orano. Rasa cemas manusia adalah momen penting untuk menjadi otentik. Rasa cemas ini beda dengan rasa takut. Jika rasa takut jelas takut kepada sesuatu maka rasa cemas adalah cemas terhadap ketiadaan, orano. Selanjutnya, Sartre mengolah orano lengkap dengan negasi menjadi analisis eksistensial yang fenomenal.

2.5 Differensial
Barangkali istilah differensial lebih sering digunakan dalam matematika. Ada baiknya kita mempertimbangkan differensial dalam konteks yang lebih luas. Sesuai dengan kata dasarnya, differensial, memperhatikan peran perbedaan dalam suatu sistem. Eksistensi suatu komponen tertentu hanya bisa ditentukan karena adanya perbedaan-perbedaan. Misalnya kita memperhatikan banyaknya rumput, sebagai makanan, dan banyaknya kijang, sebagai pemangsa di suatu wilayah. Ketika jumlah rumput bertambah maka kijang ikut bertambah lantaran makanan berlimpah. Pada gilirannya, karena kijang bertambah maka rumput makin berkurang. Dan persediaan rumput yang berkurang ini menyebabkan jumlah kijang juga berkurang. Akibat dari berkurangnya kijang maka akan menyebabkan bertambahnya rumput, dan seterusnya. Eksistensi rumput bergantung dengan eksistensi kijang. Perbedaan antara mereka saling menentukan.

2.6 Ontologi Different: Bergson dan Deleuze
Bergson adalah pemikir abad 20 yang berhasil membawa ide different ke ranah filosofis. Dan lebih hebat lagi, Bergson membahas perbedaan kualitatif yang tampaknya abstrak menjadi begitu jelas. Selanjutnya, Deleuze memperluas pembahasan perbedaan ini ke ranah ontologis. Dengan demikian, fenomena perbedaan yang awalnya hanya dipandang sebagai gejala di permukaan menjadi punya landasan ontologis yang kokoh. Bahkan, menurut Deleuze, different lebih prior dari identitas.

2.7 Differance: Derrida
Derrida dengan kreatif mendefinisikan differance – bukan difference. Dalam konsteks post-strukturalisme, differance bermakna berbeda dan menunda. Setiap kata, dalam suatu bahasa, mempunyai makna karena ada perbedaan dengan kata-kata yang lain. Kata itu sendiri tidak mempunyai makna secara instrinsik. Meski demikian, makna dari suatu kata selalu merujuk ke kata lain, yang selanjutnya merujuk ke kata lain lagi, tanpa henti. Sehingga makna dari kata tersebut tidak pernah berhenti sampai makna akhir. Makna suatu kata selalu tertunda. Derrida memperluas konsep differance ke bidang lain, tidak terbatas hanya sistem bahasa.

2.8 Perbedaan di Dunia Digital
Dunia digital makin memperkuat eksistensi perbedaan. Segalanya bisa diukur, maka makin jelas perbedaannya. Seseorang yang mempunyai pengikut seribu tentu beda dengan orang yang mempunyai pengikut 10 juta. Dan jumlah pengikut itu bisa langsung kita lihat di dunia digital. Sebuah tayangan video yang ditonton 5 ribu kali tentu beda dengan video yang ditonton 600 ribu kali. Dunia digital tidak melemahkan perbedaan, justru menegaskan eksistensi perbedaan.

2.9 Berbeda adalah Otentik
Tidak ada masalah dengan perbedaan. Perbedaan adalah realitas yang nyata. Justru berbeda itu adalah otentik. Setiap hana, manusia sejati, berbeda satu dengan yang lainnya. Masing-masing orang mempunyai bakat dan warisan yang berbeda. Mereka juga mempunyai cita-cita yang berbeda. Sudah tiba saatnya, kita lebih menaruh hormat terhadap perbedaan.

2.10 Antinomi
Kita mencermati kembali antinomi dari Kant. Antinomi menunjukkan perbedaan yang nyata dengan menerapkan standar rasional yang ketat. Salah satu antinomi dari Kant adalah tentang ruang. Bila kita berpikir tentang luasnya ruang maka kita bisa membayangkan luas ruang bisa terus kita perluas. Luas ruang adalah besar tanpa batas. Sedangkan bila kita berpikir membagi-bagi ruang menjadi bagian-bagian kecil maka kita bisa membaginya terus tanpa batas, kecil tanpa batas. Sehingga, ruang adalah sesuatu yang luas tanpa batas dan sekaligus kecil tanpa batas. Itulah perbedaan yang paradox.

2.11 Dialektika
Hegel merumuskan konsep dialektika, salah satunya untuk menyelesaikan antinomi Kant. Hasil akhir dari dialektika adalah kebenaran absolut, identitas absolut, tidak ada perbedaan. Tetapi dialektika justru menunjukkan adanya perbedaan nyata pada tahap awal antara tesis dan anti-tesis. Setelah proses dialektika, tesis dan anti-tesis ini menghasilkan sintesis. Yang nyatanya sintesis ini akan bertemu dengan anti-sintesis. Sehingga terus-menerus menunjukkan adanya perbedaan. Meski diharapkan, pada tahap akhir, akan diperoleh sintesis dengan kebenaran absolut, hal tersebut tidak mudah tercapai.

2.12 Integral Kotesis
Saya tertarik mengganti istilah anti-tesis dengan ko-tesis, komplemen tesis. Anti-tesis tampak bermakna negasi dari tesis. Sementara, ko-tesis adalah sekedar komplemen dari tesis sehingga lebih leluasa. Dengan sudut pandang ini, kita bisa melihat proses dialektika sebaga proses ko-kreasi, mengintegrasikan tesis dengan ko-tesis.

2.13 SDG: Konsensus vs Dissensus
Perbedaan jelas ada di mana-mana, sawala. Penampakan alam semesta dan diri manusia, caraka, juga berbeda-beda. Bagaimana kita harus menyikapi perbedaan semua ini? Mufakat dengan jalan konsensus merupakan suatu pilihan. Di saat-saat tertentu justru harus dissensus. Kita perhatikan SDG, sustainable development goals, tiga prioritas tertinggi menunjukkan adanya pengakuan terhadap sawala di penjuru dunia: tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, dan kesehatan merata. Pertama, mengakui kemiskinan terjadi di berbagai tempat tidak merata. Kedua, kelaparan megancam banyak warga sementara di tempat lain berlebih makanan. Ketiga, fasilitas kesehatan di negara miskin begitu mengenaskan.

3. Kesetaraan dan Peran: Podo Jaya
3.1 Dominasi Identitas
Sewajarnya, manusia mencari suatu kepastian untuk pegangan. Lambat laun, proses mencari kepastian itu diganti dengan kepastian itu sendiri. Tanpa ada keraguan terhadap kepastian. Dengan menerapkan logika identitas, kepastian adalah kepastian. Yang berbeda dengan kepastian maka disingkirkan. Pihak lain, yang berbeda, perlu diseragamkan atau dimusnahkan.

3.2 Differend: Lyotard
Lyotard mencatat ada kondisi yang tidak seimbang, tidak adil: differend. Di mana pihak yang lemah, dalam sengketa, tidak bisa bersuara. Jangankan mengajukan pembelaan untuk mencapai konsensus, sekedar berbicara saja tidak bisa. Situasi differend, yang tidak adil ini, perlu diwaspadai dengan serius.

3.3 Keadilan: Aritoteles dan Lyotard
Aristoteles mendefinisikan adil sebagai titik tengah. Adil adalah kebaikan yang tepat. Tidak ada terlalu adil. Tidak ada pula kurang adil. Adil adalah adil. Tidak masalah dengan definisi adil ini. Masalah timbul ketika ada pihak yang mengklaim sebagai adil. Akibatnya, pihak lain yang berdeda dengannya, dianggap tidak adil. Sementara, Lyotard mendefinisikan adil sebagai mendengarkan semua pihak. Termasuk pihak-pihak yang berbeda, yang tidak bisa bersuara.

3.4 Peran dalam Semesta
Setiap pihak, yang berbeda-beda, punya peran khusus dalam semesta. Orang sakit punya peran memberi pekerjaan kepada dokter. Apa yang bisa dilakukan dokter bila tidak ada orang sakit? Orang lapar punya peran memberi kesempatan dermawan untuk berbagi makanan. Apa yang bisa dilakukan dermawan tanpa ada orang kelaparan? Virus covid memberi kesempatan ahli medis untuk mengembangkan vaksin, teknologi kesehatan, dan manajemen kesehatan yang lebih baik. Semua pihak punya peran seimbang, podo.

3.5 Kontribusi dalam Semesta
Adil, sebagai cita-cita bersama, adalah memberi kesempatan kepada setiap pihak untuk berkontribusi dengan peran aktif, jaya. Petani punya peran bertani. Sopir punya peran berkendara. Presiden punya peran memimpin. Semua punya peran berkontribusi. Tentu ada beberapa peran yang perlu dicegah: koruptor, pencuri, dan pembunuh. Peran mereka perlu dicegah karena mengakibatkan pihak lain tidak bisa berperan aktif.

3.6 Kontribusi Digital
Dunia digital membuka kesempatan luas agar setiap orang bisa berperan dengan mudah. Setiap orang menjadi mudah untuk berbagi melalui media digital. Masalah mulai muncul ketika ada pihak tertentu yang mendominasi dunia digital. Memanipulasi dunia digital merugikan masyarakat. Di sisi lain, kesenjangan akses digital membelah dunia menjadi tidak berimbang. Kita perlu menjaga agar dunia digital menjadi sarana setiap orang berkontibusi optimal.

3.7 Rasio Gini dan Ketimpangan
Kesenjangan antara masyarakat bisa kita rasakan. Kita juga bisa mendeskripsikan kesenjangan itu. Matematika memberi kita alat untuk mengungkapkan eksistensi kesenjangan dengan lebih tegas. Kita sudah mengenal rasio Gini. Saya juga mengembangkan nilai ketimpangan untuk menyatakan ketimpangan masyarakat dengan presisi.

3.8 Prioritas SDG
Menghapus kemiskinan menjadi prioritas utama SDG. Kemiskinan sudah mengancam banyak warga, berdampak kepada warga, menjadi tidak mampu berperan dalam semesta. Penting bagi kemanusiaan, menjaga agar setiap warga tetap bisa berperan aktif.

3.9 Nihilisme
Filsafat nihilisme bisa kita baca dengan beragam cara. Saya membacanya sebagai upaya meruntuhkan dominasi pihak tertentu. Semua pihak, setiap warga, punya peran yang sama untuk berkontribusi. Tidak ada asumsi awal yang membedakan satu orang dengan lainnya. Semua orang bebas untuk memberi, jaya. Pro kontra nihilisme perlu kita analisis dengan kritis di sini.

3.10 Demokrasi Digital
Dunia digital berperan ganda terhadap demokrasi. Dunia digital memudahkan demokrasi, setiap warga bersuara dengan cepat dan mudah. Penguasa bisa memahami keinginan dan kebutuhan rakyat melalui dunia digital. Di sisi lain, dunia digital bisa saja hanya dikuasai segelintir kepentingan. Tanpa disadari banyak orang. Dunia digital seharusnya netral. Bisa meruntuhkan demokrasi.

3.11 Cancel Culture
Presiden Trump, mantan, barangkali adalah yang paling menolak cancel culture. Dia menuduh cancel culture sebagai tirani. Apalagi di dunia digital. Akun media sosial Trump di hapus oleh platform, dicancel. Sehingga dia tidak bisa lagi bersuara melalui media sosial. Di satu sisi, cancel culture membatasi kebebasan seseorang. Di sisi lain, cancel culture diperlukan untuk menjaga masyarakat dari bahaya informasi hoax.

D. Dinamika Maga: Perubahan Abadi
4. Filosofi Gerak: Maga
Kita menyaksikan gerak setiap saat. Kita melangkah dari belakang ke depan, gerak. Mobil bergerak. Lebih seksama, kita menyaksikan gerak pohon tumbuh, dari kecil menjadi tinggi. Bahkan, kita juga bergerak dari tidak kenal media sosial jadi mahir menggunakan media sosial. Kita bergerak dari tidak tahu matematika menjadi mengerti penjumlahan ketika mulai sekolah. Semua gerak ini adalah sebagian dari gerak sejati yaitu maga. Di bagian ini, kita akan menganalisis maga secara eksistensial. Kita akan menyelidiki hubungan maga dengan waktu. Mana yang lebih utama antara maga dan waktu.

4.1 Gerak Biasa: Aksidental
Apa yang tampak di depan mata kita sebagai gerak, pada umumnya, kita golongkan sebagai gerak aksidental. Sains fisika mempelajari gerak dengan teliti dalam mekanika. Misal motor bergerak dengan kecepatan tetap 30 km/jam, dari kota Bandung menuju Sumedang. Kalkulus telah menyediakan perhitungan yang lengkap untuk membahas fenomena gerak ini.

4.2 Gerak Relasi
Kajian gerak dalam fisika, umumnya adalah membahas gerak “tempat”. Dari tempat semula ke tempat akhir dalam selang waktu tertentu. Sejak jaman Aristoteles para pemikir sepakat terdapat tiga jenis gerak aksidental. Pertama, gerak pada tempat, seperti contoh tadi. Kedua, gerak pada kuantitas, misal tubuh sapi yang kecil tumbuh, bergerak, menjadi besar. Ketiga, gerak pada kualitas, misal warna kulit buah pepaya dari hijau berubah, bergerak, menjadi kuning. Ibnu Sina, menambah jenis gerak keempat yaitu gerak posisi atau relasi. Contoh, saya diam, tetapi angin bergerak menerpa badan saya. Meski saya tidak bergerak, tetapi posisi saya atau relasi saya terhadap angin adalah berubah, bergerak.

4.3 Gerak Substansial
Dara mana asal mula gerak itu? Atau dari mana asal mula gerak aksidental? Tentu ada penggerak yang menjadi dasar. Sadra menjawab bahwa hakikatnya, gerak, disebabkan oleh gerak substansial, maga. Penampakan gerak aksidental itu bisa kita selidiki, dasarnya, adalah gerak substansial. Substansi dari hana, manusia sejati, yang bergerak. Substansi manusia bergerak dari pandai menjadi lebih pandai dengan proses belajar.

4.4 Gerak Wujud atau Esensi
Ketika hana melakukan gerak substansial, misal dari pandai menjadi lebih pandai, maka yang bergerak adalah substansi hana atau eksistensi hana? Kita bisa memandang dari dua sudut pandang. Pertama, kita memandang bahwa yang bergerak adalah substansinya, dari eksistensi rendah ke eksistensi yang lebih tinggi. Kedua, kita bisa memandang yang bergerak adalah eksistensi yang lebih tinggi, bergerak, melimpahkan eksistensi ke suatu substansi. Cara pandang ini mirip dengan gaya tarik-menarik antara muatan listrik positif dan negatif. Kita bisa memandang muatan positif menarik negatif atau sebaliknya. Sementara, esensi dipandang sebagai tetap.

4.5 Ambiguitas Sistematis Wujud Sadra
Eksistensi atau wujud meski tunggal, di saat yang sama bergradasi intensitasnya. Wujud hana, manusia sejati, adalah tunggal, semua orang sama. Sekaligus wujud hana berbeda-beda dalam intensitasnya: dari lemah sampai paling kuat. Misal orang yang belum belajar, intensitas wujudnya lemah. Setelah belajar, orang tersebut menjadi lebih pandai, intensitas wujudnya lebih kuat. Perbedaan intensitas ini bersifat kualitatif – bukan kuantitatif. Sadra menyebut sifat wujud ini sebagai tasykik, ambiguitas sistematis.

4.6 Filsafat Proses
Whitehead, pemikir abad 20, merumuskan filsafat proses yang tentunya menempatkan karakter dinamis menjadi paling utama. Substansi diam, misal atom, sejatinya hanya abstraksi dari suatu proses – yang bergerak. Realitas sejati adalah proses yang lebih tepat digambarkan oleh dinamika gelombang elekmagnetik – atau gelombang quantum Schrodinger.

4.7 Sistem Dinamis
Dalam mempelajari fenomena alam kita lebih mudah dengan pendekatan sistem dinamis. Bumi bergerak pada porosnya, bulan mengelilingi bumi, dan matahari berputar di jagad raya. Mesin, listrik, digital, ekosistem, perilaku manusia, virus, pandemi, dan lain-lain kita selidiki dengan pendekatan sistem dinamis. Gerak, perubahan, adalah real dan realitas sejati.

5. Karakter Waktu: Doto Selaras Hana
Waktu terasa nyata. Tapi mana? Kemarin, hari ini, dan besok benar-benar jelas nyata. Bahkan kita bisa mencatatnya di kalender. Analisis filosofis waktu sejati, doto menunjukkan banyak misteri. Paling umum, doto, sebagai waktu sejati, diukur dengan jam dan kalender. Kita mudah saja memutar jarum jam untuk mundur. Tapi waktu tidak ikut mundur, tetap bergerak maju. Kita akan menyelidiki lebih dalam misteri waktu di bagian ini.

5.1 Waktu Linear
Pemahanan waktu seperti garis linear, lurus, yang terus bergerak maju sudah umum kita terima. Penggambaran doto seperti itu mudah dipahami. Hal ini praktis dan banyak manfaat. Kita bisa merencanakan tentang kegiatan masa depan. Bisa juga mengkaji peristiwa di masa lalu. Waktu linear seperti ini bisa kita sebut sebagai waktu umum di mana setiap orang bisa menyepakati waktu secara obyektif. Namun penggambaran doto sebagai waktu linear justru mirip dengan caraka, ruang.


5.2 Waktu Sekarang yang Mengalir
Sejak jaman Plato dan Aristoteles sudah dirumuskan konsep waktu yang lebih menarik. Doto dianggap sebagai “waktu sekarang” yang terus mengalir. Cara ini menyempurnakan gambaran waktu linear. Di mana “waktu sekarang” yang mengalir tetap mengakomodasi waktu linear yaitu ada kemarin, sekarang, dan besok. Penyempurnaannya adalah waktu sejati, doto, hanya ada di waktu sekarang. Maka manusia bisa lebih fokus menjalani waktu sekarang dengan lebih baik. Kemarin adalah “waktu sekarang” yang sudah berlalu. Sedangkan besok adalah “waktu sekarang” yang belum datang.

5.3 Durasi: Bergson
Bergson, pemikir abad 20, merumuskan doto sebagai durasi. Rumusan durasi ini berhasil membuktikan bahwa manusia punya freedom, kebebasan hakiki, meski dalam ruang dan waktu. Tak bisa disangkal segala yang ada dalam ruang, caraka, terikat oleh hukum kausalitas deterministik tetapi manusia mempunyai durasi, selang waktu, untuk mengambil sikap yang bebas. Pendekatan waktu sebagai durasi ini membuka pintu untuk menganalisis hana dari sisi doto, melengkapi caraka.

5.4 Ekstase dan Horison: Heidegger
Karakter dasar dari hana adalah peduli terhadap masa depan eksistensinya. Hana melompat bebas ke masa depan yang ia pilih. Lalu balik ke masa lalu, situasi nyata yang ada. Menyatukan masa depan, masa lalu, di masa kini terbentuklah ekstase waktu. Sejak lahir sampai mati. Kesatuan waktu ini bersifat niscaya bagi hana, tak terpisahkan. Doto memberi waktu kepada hana dan hana memberi wujud kepada doto, waktu sejati. Waktu adalah horison bagi hana, demikian pandangan Heidegger.

5.5 Waktu adalah Maga
Waktu sejati atau doto adalah maga. Sampai di sini kita bisa menyadari hakikat dari waktu adalah menggambarkan gerak sejati, maga. Dan pada gilirannya, maga itu sendiri menggambarkan hana. Sehingga doto menggambarkan hana, manusia sejati.

5.6 Waktu Akumulatif Unik
Satu lagi karakter penting dari doto, waktu sejati, yaitu bersifat akumulatif unik. Masing-masing manusia mengalami waktu yang unik. Di saat yang sama, semua waktu yang kita alami selalu kita jumlahkan, akumulatif. Maksudnya, hari ini tentu beda dengan kemarin. Karena hari ini adalah totalitas hari sampai kemarin ditambah dengan satu hari terbaru sampai hari ini.

5.7 Waktu Digital: Cepat dan Akumulatif
Fenomena waktu di dunia digital memberi kita gambaran yang mirip dengan doto, waktu sejati. Di satu sisi, gerak dunia digital makin cepat bagai tanpa batas. Satuan waktu, selang waktu, bisa dibagi-bagi makin kecil penuh arti. Misal milidetik adalah seper seribu detik. Mikro detik adalah seper sejuta detik. Dalam kehidupan sehari-hari, satu mikro detik bagai tanpa arti. Tetapi di dunia digital sungguh berarti. Berikutnya, waktu digital juga bersifat akumulatif. Semua kegiatan kita di dunia digital dijumlahkan. Di simpan dengan aman, kekal di dunia digital.

5.8 Entitas Abadi: Natural vs Idealisasi
Entitas abadi, sesuatu yang abadi, adalah suatu entitas yang tidak berubah seiring waktu. Ada beberapa cara agar kita mendapat entitas abadi ini. Pertama dengan idealisasi. Misal obyek matematika bisa kita pandang sebagai abadi. Angka 7 akan tetap angka 7, abadi sampai kapan pun. Karena bila angka 7 itu berubah maka kita tidak lagi menyebutnya sebagai angka 7 – itulah idealisasi. Kedua, dengan cara asumsi natural. Cincin emas kita anggap tidak berubah dalam 1 hari. Karena perubahan sedikit pada cincin kita anggap sebagai tidak berubah. Cincin adalah abadi secara natural. Tentu saja sewaktu-waktu cincin bisa hancur.

5.9 Time-in-being
Secara umum kita berpikir berada dalam ruang dan waktu. Atau kita sering menyatakan bahwa manusia dalam ruang dan waktu. Kali ini kita perlu mencoba arah kebalikannya yaitu waktu berada dalam manusia atau time-in-being.

6. Freedom: Free Will dan Warisan
6.1 Freedom adalah Hana: Sartre
Manusia adalah freedom, kebebasan. Definisi dari manusia sejati, hana, adalah kebebasan itu sendiri. Tidak ada kebebasan tanpa manusia. Pun tidak ada manusia tanpa kebebasan. Sartre mendefinisikan dengan tegas bahwa karakter dari being-for-itself adalah freedom. Itulah manusia.

6.2 Kesadaran
Kesadaran sudah menjadi tema utama ilmu dan filsafat sejak jaman kuno. Husserl membawa tema kesadaran menjadi satu-satunya yang paling utama dari filsafat pada abad 20. Dengan pendekatan fenomenologi, yang bersifat saintis, kajian tentang kesadaran membuahkan banyak perkembangan. Salah satunya, kesadaran bersifat intensional, yaitu kesadaran selalu bermakna kesadaran akan sesuatu. Sifat intensional mengantarkan lebih banyak formulasi kesadaran yang jelas.

6.3 Care: Heidegger
Struktur paling fundamental dari manusia sejati, hana, adalah care: peduli. Hana selalu memperhatikan eksistensi dirinya. Hana selalu care akan masa depan eksistensinya. Sehingga, hana selalu selangkah di depan dirinya. Karena itu makna dari care adalah temporality. Dengan logika matematika sederhana, Heidegger sampai kepada kesimpulan temporality adalah care, dan care adalah hana, maka temporality adalah hana itu sendiri.

6.4 Pengetahuan: Sadra
Pengetahuan manusia adalah jalan penyempurnaan manusia menuju wujud yang lebih sempurna. Hakikat pengetahuan adalah wujud itu sendiri. Pengetahuan adalah wujud dari hana, manusia sejati. Mengembangkan pengetahuan bermakna mengembangkan wujud manusia, jalan penyempurnaan sejati.

6.5 Genetika Warisan
Kita mewarisi gen-gen dari ibu dan bapak kita. Sains menunjukkan dengan jelas pewarisan gen tersebut. Pengamatan sehari-hari menunjukkan banyaknya kemiripan setiap orang dengan orang tua masing-masing. Hana mempunyai jarak eksistensial terdekat dengan orang tuanya. Karena jarak eksistensial ini maka manusia hanya bisa terlahir dari manusia lainnya – ibunya. Jika evolusi dari makhluk lain bisa berubah jadi manusia maka akan memerlukan waktu ribuan tahun untuk menempuh jarak eksistensial yang jauh. Warisan eksistensial dari orang tua menjadi modal dasar bagi hana untuk bergerak maga.

6.6 Lingkungan
Manusia dibentuk oleh lingkungannya. Bahkan tenggelam dalam lingkungannya. Di saat yang sama eksistensi manusia bisa bergerak maju sesuai pilihan bebasnya. Hana terikat badannya berada dalam lingkungan fisik. Tetapi eksistensi hana bisa, dan selalu, bergerak melebihi semua batasan yang diberikan oleh lingkungan. Hana otentik tidak hanya dibentuk lingkungan tetapi juga aktif membentuk lingkungan.

6.7 Budaya
Hidup dalam aturan yang sudah ditetapkan bertahun-tahun, hana terikat dalam budaya. Hana terus-menerus mencari jati dirinya dalam lautan budaya yang mapan. Kita menerima warisan budaya, bertugas melestarikan budaya, dan di saat yang sama bertugas menciptakan budaya baru.

6.8 Manusia adalah Maga
Karakter paling fundamental dari manusia adalah maga: gerak sejati. Manusia tidak pernah berhenti, sesaat pun. Hana selalu bergerak maju. Selalu melangkah menuju yang lebih sempurna, lebih besar, dan lebih kuat. Hana berbuat, berpikir, dan merasa. Hana proaktif menyongsong masa depan di setiap masa.

6.9 Perbuatan vs Milik
Ada kecenderungan beberapa orang untuk mengumpulkan kekayaan, harta, koleksi mobil, dan sebagainya. Tetapi semua kepemilikan itu tidak pernah memuaskan hana. Karena hana lebih dari sekedar kepemilikian. Lebih dari sekedar konsumsi. Hana ingin menunjukkan eksistensi. Hana ingin berprestasi. Hana ingin berbuat nyata untuk dunia dan diri sendiri.

6.10 Moral vs Hukum
Aturan moral dan hukum jelas-jelas membatasi gerak hana. Aturan itu sendiri, yang membuat juga manusia untuk kebaikan bersama. Lambat laun, aturan moral dan hukum benar-benar mengungkung manusia. Moral hanya menjadi dalih untuk kepentingan segelintir orang belaka. Hana yang punya freedom senantiasa bergerak untuk merevisi aturan moral dan hukum. Aturan yang progresif mendorong hana untuk terus melangkah maju.

7. Ikatan Alam Semesta
7.1 Sains Obyektif
7.2 Metanarasi
7.3 Progresif
7.4 Teknologi dan Digital

8. Filsafat Sosial: Ekonomi Politik
8.1 Sejarah
8.2 Ekonomi
8.3 Politik
8.4 Hukum
8.5 Demokrasi
8.6. Kritik Sosial

E. Bataga: Mencapai Akhir sebagai Awal Baru
9. Menuju atau Ditarik Bataga
10. Bataga adalah Hana
11. Semesta adalah Hana

F. Dekonstruksi Metafisika
1. Heidegger, Derrida, Deleuze
2. Socrates, Sadra, Kant
3. Russell, Rorty, Habermas
4. Evolusi dan Kosmologi Sains
5. Metafisika Abda 21: Mungkinkah?

G. Enigma Pra-Lahir dan Pasca-Mati
1. Nasib Hana: Spekulasi Pasca-Mati
2. Possibilitas Hana: Pra-Lahir dan Pra-Manusia
3. Hermenuetika: Weak Thought

H. Alternatif Kajian
1. Sains Empiris
2. Agama
3. Mistisisme
4. Seni

I. Epilog
Struktur Hana – Maga – Bataga
Satu istilah paling mendasar yang menggambarkan struktur manusia seutuhnya adalah maga: gerak sejati. Manusia senantiasa bergerak terus menerus. Maga, gerak sejati, ini meliputi gerak permukaan dan gerak eksistensial. Hana tidak pernah diam. Hana terus mengalir. Terbentuk struktur dinamis hana – maga – bataga.

Skandal Terbesar Manusia

Saat ini dua orang menteri, mantan, sedang ditahan oleh KPK gara-gara kasus korupsi. Lepih parah lagi, yang tersandung kasus korupsi adalah justru menteri sosial, yang seharusnya paling bertanggung jawab menangani krisis sosial dampak pandemi covid-19 ini. Juga, mensos ini berasal dari partai penguasa pemenang pemilu, partainya presiden saat ini. Meski begitu, skandal korupsi ini bukanlah skandal terbesar kemanusiaan.

Negara tetangga kita, Malaysia, justru skandal korupsi menyangkut perdana menteri mereka. Tentu lebih besar dampaknya dari sekedar menteri yang korupsi. Itu pun masih bukan termasuk skandal terbesar manusia. Namun, kita semua tetap ikut serta bertanggung jawab mengurangi peluang dan dampak korupsi.

Image result for filsafat korupsi

Skandal terbesar kemanusiaan terbesar justru terjadi di bidang filsafat. Immanuel Kant, pemikir abad 19, mengakui keberadaan skandal terbesar ini. Kemudian, Heidegger, pemikir abad 20, mengkonfirmasi hal yang sama berkenaan skandal terbesar ini. Russell, pemikir abad 20, mencoba memberi solusi dari skandal ini. Tampaknya, Russell tidak bisa terlalu mengandalkan solusinya. Karena skandal ini memang benar-benar skandal besar.

Dunia Obyektif

Bagi orang pada umumnya, bahkan bagi saintis, skandal filsafat ini tidak mudah dipahami. Bahkan bisa dibiarkan berlalu begitu saja. Tetapi bagi orang yang penasaran dengan pemikiran filosofis, skandal ini benar-benar menantang.

Skandal terbesar filsafat adalah: bagaimana membuktikan keberadaan dunia obyektif, alam eksternal yang nyata, yang benar-benar ada di luar pikiran manusia?

Kita mudah menjawab, alam eksternal benar-benar ada. Terbukti. Ada meja, ada kursi, ada pohon, ada anak, ada istri, dan ada lain-lainnya. Bahkan ada uang dan ada utang. Lengkap dengan tukang tagihnya yang mengerikan itu. Jelas itu semua terbukti.

Secara filosofis, beragam bukti di atas bisa diragukan. Ada asumsi, atau keyakinan tertentu, di balik bukti-bukti di atas. Meski demikian, para pemikir besar dunia, umumnya mengakui adanya alam eksternal secara obyektif – meski pun masih skandal.

Dunia Simulasi

Salah satu sikap ekstrem adalah pandangan para idealis: sejatinya tidak ada dunia di luar sana, itu semua hanya ada dalam pikiran manusia.

Russell mengakui bahwa pandangan para idealis ini sulit diterima oleh akal pada umumnya. Tetapi Russell juga mengakui bahwa kita tidak bisa membantah argumen para idealis itu dengan sempurna. Karena semua argumen kita perlu pijakan dan pijakan itu bisa dianggap oleh mereka, oleh kaum idealis, hanya ada dalam pikiran manusia belaka.

Rumusan kontemporer pemikiran idealis bisa berupa dunia simulasi. Yaitu pandangan yang menganggap bahwa seluruh dunia yang kita ketahui ini adalah hanya simulasi komputer yang super canggih. Hanya dunia simulasi belaka. Tentu, sulit diterima akal. Tetapi kita tidak bisa membuktikan kesalahan mereka. Karena setiap bukti yang kita ajukan bisa dianggap sebagai salah satu bentuk simulasi itu sendiri.

Lagi pula, jaman sekarang, manusia sering terjebak dalam dunia simulasi. Manusia terjebak oleh jaring-jaring digital. Media sosial tengah menguasai hidup manusia. Simulacra, simulasi atas simulasi, makin berkembang biak. Sulit menemukan mana palsu atau asli. Atau memang yang asli tidak lagi berarti.

Solusi Hermeneutik

Heidegger mengajukan solusi berupa pendekatan hermeneutik yang interpretif. Solusi logika biasa memang akan kandas. Lantaran manusia tidak bisa dipisahkan dengan dunia luar. Sejak ada manusia maka pasti ada dunia luar itu. Maka usaha untuk menganggap, mula-mula, tidak ada dunia luar lalu dibuktikan ada dunia luar, akan sia-sia. Selalu bisa dibantah oleh mereka yang keras kepala – lengkap dengan logika yang konsisten pula.

Dunia luar itu, benar adanya sebagai sesuatu yang nyata, sesuatu yang real. Tetapi dunia luar, meski nyata, adalah dunia yang kering, gersang, dan miskin – relatif terhadap cahaya. Maka manusialah yang menciptakan realitasnya sendiri, menciptakan kenyataan. Manusia yang memberi makna pada setiap kejadian di luar sana, dan kejadian di dalam sini. Manusia adalah cahaya bagi dunia.

Kita bisa memisalkan ada kamar yang gelap gulita, lengkap dengan berbagai perkakas di dalamnya. Kemudian terdapat percikan cahaya yang menjadikan berbagai macam benda di kamar itu tampak berwarna. Tanpa cahaya, memang ada beragam benda di dalam kamar gelap itu. Mereka adalah nyata, real. Manusia adalah bagaikan percikan cahaya itu. Yang menjadikan berbagai macam benda menjadi berwarna adalah adanya kilatan cahaya manusia. Manusia menciptakan realitasnya sendiri, menciptakan kenyataan, di antara benda-benda yang memang ada dan nyata.

Dunia dalam Manusia

Kita biasa memahami bahwa manusia ada di dalam dunia. Kali ini kita juga bisa menyatakan bahwa dunia ada di dalam manusia. Manusia-dalam-dunia adalah nyata, real. Badan manusia, secara nyata berada dalam dunia yang nyata ini. Sedangkan dunia-dalam-manusia adalah realitas dunia berada dalam realitas manusia, itu adalah kenyataan.

Jika kita kembali menengok kasus korupsi tentu itu memilukan hati. Secara nyata perilaku korupsi merugikan masyarakat, itu adalah real. Sedangkan dari realitas, korupsi merugikan jati diri pelakunya sendiri, itu adalah kenyataan.

Mari jaga diri dari korupsi. Apa lagi dari korupsi diri sejati.

Bagaimana menurut Anda?

Hidup Mau Mati

Hidup menjadi bermakna karena pasti akan mati. Ketika manusia sadar, bahwa hidupnya terbatas pasti mati, bisa sewaktu-waktu, maka ia bisa mengisi waktunya dengan penuh makna. Heidegger, pemikir abad 20, menyatakan bahwa manusia bisa menjalani hidup seutuhnya secara otentik dengan cara menyadari bahwa dirinya akan mati sewaktu-waktu.

Image result for hidup mati

Dengan cara itu, kita bisa “mendengar” suara hati. Yang mengajak kita ke jalan otentik. Ke jalan manusia sejati. Masing-masing dari kita mempunyai “panggilan” hidup yang unik. Membentang dari lahir sampai kita mati. Apa yang akan kita beri? Untuk diri? Untuk negeri?

Sayangnya, kebanyakan manusia, hidup tenggelam dalam dunia. Sibuk dengan kegiatan harian. Lupa sebentar lagi bisa mati. Bahkan ada yang berani korupsi. Istilah mati sudah jauh pergi. Suara hati tiada arti. Meski di balik jeruji tahanan korupsi, masih bisa berangan-angan merebut jabatan nanti.

Tidak masalah bila cuma begitu. Kamu bertanggung jawab terhadap hidupmu. Tapi korupsi berdampak kepada seluruh negeri. Bertubi-tubi bikin rugi. Mengancam masa depan generasi.

Realitas Diri

Uang adalah nyata. Jabatan adalah nyata. Dunia adalah nyata. Semua itu adalah real. Berbeda dengan korupsi. Karena korupsi adalah kenyataan, realitas. Korupsi adalah real dan realitas. Nyata dan kenyataan. Jadi, korupsi itu lebih dahsyat dari uang itu sendiri.

Orang kecil, gaji kecil, uang sedikit, tidak masalah. Itu adalah real, nyata. Meski gaji kecil, uang pas-pasan tetapi membawa berkah. Kebutuhan serba cukup. Keluarga senantiasa sehat. Hidup terasa damai. Itulah realitas, kenyataan.

Pejabat gaji tinggi. Tunjangan berlimpah. Biaya penunjang operasional dahsyat besarnya. Itu adalah real, nyata. Mengapa hidupnya terasa kering? Uang masih saja perlu tambah. Kesehatan sering terganggu. Sulit tidur malam. Anak istri sering bertengkar. Perlu hiburan ekstra. Maka tergoda untuk korupsi. Itulah realitas, lebih dari sekedar real belaka. Realitas semacam itu adalah realitas yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Salah Siapa

Pinginnya, uang berlimpah, itu real. Hidup juga berkah, itu realitas. Bersyukurlah bila begitu. Jika tidak begitu maka tetaplah bersyukur. Karena kita selalu bisa hidup berkah, bila mau. Memang sesuatu yang real bukan kita yang menciptakan. Tetapi realitas adalah 100% bisa kita ciptakan.

Manusia punya kebebasan. Bahkan manusia adalah kebebasan itu sendiri, freedom. Demikian keyakinan Sartre, pemikir abad 20.

Bila Anda seorang pejabat, itu adalah real. Tugas Anda selanjutnya adalah menciptakan realitas yang baik bermodal jabatan itu. Menjalankan jabatan dengan adil. Membela hak-hak orang yang terpinggirkan. Mengayomi rumah tangga Anda. Itulah realitas yang indah bagi Anda yang pejabat.

Bila Anda orang kecil, penghasilan kecil, itu adalah real. Tugas Anda selanjutnya adalah menciptakan realitas yang baik berbekal yang ada. Anda bisa kerja keras ditambah dengan kerja cerdas. Anda bisa punya banyak waktu luang menikmati hidup bersama keluarga. Anda bisa ngobrol santai di warung kopi sebelah rumah kapan saja. Anda bisa membantu anak Anda mengajukan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya. Anda bisa berbahagia, kapan saja. Itulah realitas terbaik, yang selalu bisa Anda ciptakan.

Salah siapa jika hidup terasa menyiksa?

Bukan salah siapa-siapa. Hidup ini hanya menyodorkan sesuatu yang nyata kepada kita, sesuatu yang real. Selanjutnya pilihan kita untuk menciptakan realitas. Bebas saja.

Bagaimana menurut Anda?

Indonesia Lebih Baik Tidak

Masa depan menjadi tanda tanya kita. Apakah Indonesia selama ini menjadi lebih baik atau lebih buruk? Apa ukuran yang bisa kita pakai untuk menentukannya?

Kita yakin, Indonesia menjadi lebih baik ketika proklamasi. Masa awal-awal meraih kemerdekaan lebih baik dari masa penjajahan. Para pahlawan berjuang meraih kemerdekaan dan selanjutnya mempertahankan kemerdekaan. Tidak ada keraguan bahwa itu adalah masa yang lebih baik’

Presiden Indonesia dari Masa Ke Masa » DIALEKSIS :: Dialetika dan Analisis

Tetapi tahun 2021, sekarang ini, apakah lebih baik dari masa-masa sebelumnya?

Orde Baru

Tahun 1966, Presiden Soekarno, sang proklamator, lengser dari kursi presiden. Kemudian Indonesia masuk masa orde baru dengan dipimpin presiden Soeharto. Apakah masa orde baru lebih baik dari masa orde lama?

Secara ekonomi, banyak data menunjukkan bahwa Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan. Secara politik, banyak yang mengkritik bahwa orde baru adalah jaman menakutkan. Bagi pejabat, pebisnis, dan pegawai negeri mengalami masa-masa gemilang.

Jadi, bisa kah kita menyimpulkan bahwa masa orde baru lebih baik dari orde lama? Tampaknya sulit untuk meyakini itu. Nyatanya pada tahun 1998, terpaksa orde baru harus diakhiri. Presiden Soeharto lengser dari kursi presiden. Indonesia memasuki masa reformasi.

Apakah di masa reformasi Indonesia menjadi lebih baik dari masa orde baru? Kebebasan informasi terasa lebih baik. Kebebasan politik juga lebih baik. Ekonomi Indonesia sempat lumpuh di awal reformasi. Lambat laun bangkit. Sampai akhirnya dihantam pandemi covid-19 yang menjadikan kalang kabut semua, seluruh dunia. Sampai di sini, kita masih sulit mengatakan bahwa masa depan selalu lebih baik dari masa lalu.

Keraguan Kant

Imanuel Kant, pemikir abad 19, termasuk yang paling serius memikirkan apakah masa depan lebih baik? Ukuran apa saja yang bisa kita pakai. Tampaknya, Kant tidak berhasil menemukan ukuran yang meyakinkan. Tetapi dengan cara yang kreatif akhirnya Kant menemukan satu cara mengukur kemajuan di masa depan: apakah ditiru di seluruh dunia?

Misalnya, revolusi Prancis apakah membawa kebaikan? Bagi Kant, kita bisa mencoba melihat dampaknya. Kemudian mempertimbangkan apakah revolusi sejenis itu ditiru di belahan dunia yang lain. Jika negara-negara lain ikut meniru revolusi tersebut maka kita menilai bahwa Revolusi Prancis membawa kebaikan. Dan masa itu lebih baik dari masa sebelumnya.

Jelas, dengan kriteria Kant semacam itu maka kita tidak bisa memastikan bahwa masa depan akan selalu lebih baik. Karena banyak kejadian, atau pergerakan, di suatu negara yang akhirnya tidak ditiru oleh negara-negara lain. Bahkan kadang kita menemukan kejadian yang mengerikan. Misal, jatuhnya bom atom di Jepang pada perang dunia kedua. Tentu itu tragedi terbesar di dunia. Justru tahun 1945 itu terjadi kemunduran kemanusiaan.

Lyotard, pemikir abad 20, mencatat bahwa sejarah dunia mengalami beberapa kali kemunduran. Yang jelas, perang dunia kedua adalah kemunduran umat manusia. Kemudian kamp konsentrasi di Jerman juga kemunduran kemanusiaan. Bahkan pendudukan tanah Aborigin oleh kolonialis Australia adalah kemunduran kemanusiaan yang berlangsung sejak lama. Maka Lyotard mengusulkan agar kita dengan sengaja menjaga tatanan dunia berlangung adil untuk semua manusia. Dengan cara menghormati semua warga – termasuk mereka yang berbeda dengan kita.

Dunia Makin Sempurna

Dari sudut pandang analisis eksistensial kita bisa optimis bahwa peradaban akan selalu menuju yang lebih sempurna. Dunia akan menuju kesempurnaan. Makin lama makin sempurna.

Sayangnya optimisme ini tidak selalu bisa kita pertahankan. Memang dunia akan menjadi makin sempurna. Tetapi makin sempurna tidak berarti makin baik, tidak berarti makin adil. Maka tugas mewujudkan Indonesia adil makmur adalah tanggung jawab seluruh warga Indonesia. Mewujudkan tatanan dunia yang adil juga merupakan tanggung jawab warga dunia.

Jadi, ayo tetap semangat berpartisipasi mewujudkan dunia yang adil, sesuai kapasitas masing-masing.

Bagaimana menurut Anda?

Kudeta Myanmar vs PD dan Lingkar Jokowi

Isu kudeta memanas beberapa hari ini. Kudeta militer diberitakan terjadi di Myanmar. Kecaman meluncur dari berbagai penjuru dunia. Di Indonesia, ada kabar kudeta PD (Partai Demokrat), yang katanya melibatkan lingkar Jokowi. Masih terlalu awal kabar itu. Kita belum memperoleh kebenaran dari kabar-kabar itu.

Mengapa kabar seperti itu menjadi seru?

Karena AHY sudah mengidentifikasi 6 sosok yang diduga sebagai pelaku “kudeta” maka bola panas menggelinding dengan jelas.

Manusia Virtual

Kita masuk ke jaman virtual, digital. Maka obrolan demi obrolan makin seru. Ditambah lagi sifat kreatif dari manusia untuk menambahkan makna kepada setiap berita. Isi berita bisa biasa-biasa saja. Tetapi komentar-komentar tentang berita itu yang makin memanaskan suasana. Setiap pihak, setiap orang, terpancing untuk terlibat. Termasuk saya.

Jika obrolan semacam itu mendominasi negeri maka kapan kita membangun negeri ini? Tentu saja, kita sambil membangun negeri ini. Perhitungan matematika sederhana menunjukkan bahwa makin banyak waktu mengurusi kudeta maka makin berkurang porsi waktu untuk membangun negeri. Apalagi harus menyediakan waktu pula untuk mengurusi korupsi, pandemi, serta karir anak istri.

Manusia Tak Terbatas

Kita punya daya yang tak terbatas: imajinasi manusia. Bila diarahkan untuk membangun negeri maka kekuatan tak terbatas itu bermanfaat besar, tak terbatas pula manfaatnya. Tetapi bila disia-siakan maka kesia-siaan pun juga melampaui batas.

Sartre, pemikir abad 20, menggambarkan imajinasi sebagai hasil dari kesadaran bersumber dari kehampaan, ketiadaan, atau orano. Dengan adanya orano itu, benar-benar manusia berkekuatan tanpa batas. Beda dengan benda-benda lain yang selalu terbatas. Saya akan mencoba menjelaskan dengan beberapa susunan angka. Misalkan bola tersusun oleh atom-atom yang jelas dan padat, pasti. Susunan atom-atom dari bola,

Bola = 12345

Susunan atom-atom ini begitu rapat pada bola. Sehingga bola benar-benar jadi bola sejati. Bola tidak mudah bisa berubah jadi bukan bola. Bandingkan dengan manusia yang ada unsur “ketiadaan” atau orano. Seperti biasa orano kita lambangkan 0.

Manusia = 102345 = 120345 = 123450 = … … …

Dan masih banyak lagi susunan yang melibatkan angka 0 sebagai orano ini. Bisa saja orano di kiri, kanan, atas, bawah, miring, dan tak terbatas. Apa sejatinya orano itu? Orano itu sejatinya tidak ada. Orano adalah khas hanya dimiliki pada manusia. Karena sejatinya orano itu tidak ada maka orano itu bebas.

Lagi pula, orano mempunyai karakter selalu berubah, bergerak, atau maga. Dan orano mempunyai memori, penyimpanan tanpa batas, akumulatif.

Terbayang betapa besar potensi manusia. Betapa besar imajinasi manusia. Betapa besar kreativitas manusia.

Saat ini, kita butuh pemimpin yang mengarahkan potensi manusia warga Indonesia yang tak terbatas menuju perbaikan, pembangunan, negeri adil makmur. Bukan hanya manusia yang bergosip tentang kudeta. Kita butuh pemimpin yang menggugah kreativitas anak negeri untuk berprestasi. Kita butuh pemimpin yang menjadi teladan. Benar, pemimpin itu ada di sana, di istana, di senayan, di kantor pusat direksi dan komisaris. Tetapi pemimpin itu juga ada di sini, di dalam hati ini. Di dalam diri kita masing-masing. Kita adalah pemimpin itu sendiri. Kita membutuhkan diri kita untuk bangkit. Berperan aktif membangun negeri ini.

Ayo, semangat langkahkan kaki, sepenuh hati, membangun negeri.

Bagaimana menurut Anda?

Makna Ketiadaan

Ketiadaan punya sejuta makna. Ketiadaan itu tidak ada. Tapi bisa punya makna. Bahkan berjuta makna. Dengan demikian, ketiadaan itu ada. Kita akan bahas ketiadaan dari dua sudut pandang yang mengantarkan berjuta makna itu.

Istilah ketiadaan kita ganti dengan orano yang bermakna tidak ada, nothingness, non-being, bukan wujud, dan sejenisnya. Dengan istilah orano, kita berharap lebih mudah dalam menganalisis.

Angka 0

Yang paling jelas adalah angka 0, yang melambangkan orano, ketiadaan. Angka 0 jelas-jelas bermakna. Maukah uang di rekening anda dihilangkan satu angka 0? Tentu tidak mau. Uang kita berkurang banyak dengan menghilangkan angka 0. Yang kita mau justru menambahkan angka 0 di saldo rekening kita. Berlipat sepuluh kali lipat.

Lebih dari itu, angka 0, sebagai orano juga berperan dalam operasi penjumlahan atau pengurangan. Angka 0, sebagai bilangan, adalah identitas dari operasi penjumlahan atau pengurangan. Berapa pun bilangan bila ditambah dengan 0 maka akan menghasilkan bilangan itu sendiri. Yang lebih dahsyat, angka 0 adalah “super penyerap” dalam perkalian. Berapa pun besarnya suatu bilangan bila dikali 0 maka akan diserap habis, hasilnya menjadi 0.

Orano, yang dilambangkan sebagai angka 0, benar-benar penuh makna.

Dua Macam Ketiadaan

Sartre, pemikir abad 20, menyebut ada dua macam ketiadaan yaitu orano abstrak dan orano konkret. Orano abstrak, yang bersifat absolut, benar-benar tidak bisa kita bahas sama sekali. Orano abstrak ini menyatakan ketiadaan sama sekali. Tidak ada apa pun. Maka tidak ada yang bisa kita bicarakan. Orano mutlak benar-benar tidak ada sama sekali.

Sedangkan orano konkret, seperti angka 0, berjuta makna.

Ketiadaan virus adalah contoh orano konkret, orano nyata. Dengan tidak adanya virus maka hidup menjadi sehat. Masyarakat bebas aktivitas. Peradaban tumbuh maju. Roda ekonomi terus menggelinding. Orano berdampak nyata bagi kemanusiaan.

Barangkali yang paling dekat dengan kita adalah dinding rumah. Ketika disisakan sebagian, atau dilubangi sebagian, untuk menjadi pintu – lubang pintu bukan daun pintu. Menyediakan jalan bagi kita untuk keluar masuk rumah. Bayangkan bila dinding rumah tidak ada lubang pintu seperti apa jadinya. Lubang pintu adalah ketiadaan dinding – orano konkret – yang bermanfaat nyata bagi kita.

Manusia Sejati

Heidegger, pemikir abad 20, memang eksentrik. Dia menulis buku dengan bahasa yang sulit dipahami. Ditambah lagi, Heiddegger menyatakan peran penting dari ketiadaan – yaitu orano. Manusia sejati perlu mengenal orano dengan baik.

Rasa cemas atau gelisah penting bagi manusia. Rasa gelisah melihat kondisi alam. Rasa gelisah terhadap kondisi ekonomi. Rasa cemas akan berbagai macam hal. Rasa cemas akan kematian. Rasa gelisah itu memanggil jati diri kita sebagai manusia sejati – hana. Orang yang gelisah sedang dihadapkan suatu kehidupan yang bermakna. Sementara orang yang tidak pernah gelisah justru terombang-ambing tanpa arah. Dia mengalir kemana arah angin bertiup. Dia tenggelam dalam kerumunan. Dia adalah manusia tidak otentik.

Gelisah berbeda dengan takut. Gelisah tidak jelas terhadap apa. Jika takut jelas, takut kepada ular misalnya. Tetapi gelisah memang tidak jelas. Karena gelisah adalah semacam takut kepada ketiadaan, takut kepada orano. Takut tidak adanya keamanan. Takut tidak adanya perlindungan. Takut tidak adanya ampunan. Gelisah adalah panggilan untuk menjalani hidup yang lebih hakiki.

Dan masih banyak contoh orano lain yang bisa terus kita kaji, berjuta makna.

Bagaimana menurut Anda?

Jokowi: PPKM Tidak Efektif

Presiden menyatakan bahwa PPKM tidak efektif. Saya kira itu benar adanya. Selanjutnya, solusi apa yang tersedia untuk menjaga Indonesia?

Jokowi mengatakan, esensi dari PPKM ialah mengurangi atau mencegah mobilitas masyarakat penularan Covid-19, tapi praktiknya kebijakan tersebut tidak konsisten.

Solusi menangani pandemi ada di depan mata. Tidak mudah. Tetapi bisa dilakukan, bisa dikerjakan.

Pemerintah Membaik

Pernyataan presiden, menurut saya, menunjukkan adanya perbaikan dari pemerintah. PPKM tidak efektif karena pengawasan dan pelaksaan tidak tegas. Pernyataan semacam itu sudah lama saya tunggu, hampir 1 tahun, sejak awal pandemi.

Sebelum-sebelumnya, pemerintah sering menyatakan bahwa pandemi terus membara karena masyarakat tidak taat prokes. Masyarakat masih banyak berkumpul. Masyarakat banyak yang tidak pakai masker. Mobilitas masyarakat masih tinggi. Maka wajar pandemi, angka penularan, terus tinggi. Sikap menyalahkan perilaku masyarakat seperti ini tidak akan memberikan perbaikan penanganan pandemi. Dan benar memang belum tampak perbaikan.

Tetapi, beberapa hari ini, presiden menyatakan bahwa pengawasan yang kurang tegas. Itu pernyataan yang bagus. Artinya, pemerintah fokus kepada usaha apa saja yang bisa dilakukan pemerintah untuk memperbaiki – bukan fokus menyalahkan perilaku masyarakat. Langkah selanjutnya, kita perlu menyusun formula dan strategi yang tepat.

Dua solusi

Saya membuat model yang mengusulkan dua solusi terpenting menangani pandemi covid di Indonesia dan dunia. Solusi pertama adalah manajemen perilaku dan solusi kedua adalah percepatan penyembuhan. Dari model yang saya buat, kita perlu mendeteksi, mengukur dampak perilaku secara realtime.

Saat ini, kita melakukan update data covid secara harian. Itu adalah awal yang baik. Tetapi data harian tidak memadai untuk mengendalikan perilaku dan pandemi. Hipotesis saya, kita memerlukan data per jam. Tentu saja data per jam ini tidak perlu dipublish. Data ini hanya untuk kajian internal. Kita mengolah data internal ini, misal untuk menghitung dinamika R, sesuai model yang saya buat. Kemudian kita bisa mengambil langkah-langkah nyata mengendalikan pandemi. Dan kita memperoleh feedback data tiap jam sebagai perbaikan.

Tipping Point

Sistem dinamik, semisal pandemi, tampak jelas tidak linear. Maka solusi linear tidak akan efektif. Solusi yang menganggap semua masyarakat sebagai sama, atau mirip, tidak akan berhasil meredakan pandemi. Dari model yang kita buat, justru kita perlu mengidentifikasi daerah mana saja yang paling rawan dan daerah mana saja yang aman.

Untuk daerah yang aman, misal daerah pedalaman, maka penerapan pengendalian pandemi bisa lebih longgar. Sementara daerah yang rawan, misal hiburan malam, perlu penerapan pengendalian yang lebih ketat. Semua uji coba penerapan ini kita pantau per jam dari model yang kita buat. Sehingga kita bisa memperbaiki hal-hal yang diperlukan. Kita perlu mencegah lonjakan tipping point.

Kita tidak punya pengetahuan apriori dalam kasus pandemi ini. Maka kita tidak bisa menebak-nebak atau analisis rasional belaka. Semua perlu data nyata. Perlu eksperimen. Perlu data spesifik masing-masing wilayah. Perlu data masing-masing perilaku masyarakat.

Kepala Daerah Pening

Peran kepala daerah tentu penting. Meski bisa bikin pening. Saya kira, kepala daerah bisa meniru sikap kepala negara dalam hal ini.

PPKM tidak efektif karena pengawasan tidak tegas. Penerapan tidak tegas. Maka perlu kita perbaiki dengan strategi yang lebih tepat.

Jangan sampai ada kepala daerah, atau anggota kabinet, atau pejabat lainnya, yang menyatakan bahwa penyebab pandemi adalah masyarakat yang tidak taat prokes. Masyarakat indonesia cenderung bersedia mengikuti aturan. Perhatikan warga Indonesia ketika di Singapura, warga kita juga disiplin. Perhatikan warga kita ketika di Arab, warga kita juga disiplin. Masyarakat memang bisa salah. Tetapi masyarakat bisa dipimpin. Tugas para pemimpin untuk memimpin masyarakat.

Dari sudut pandang masyarakat pun, tidak dibenarkan warga hanya nyinyir kepada pemimpin. Masyarakat perlu mendukung program-program perbaikan yang digulirkan oleh pimpinan. Setiap warga perlu berpartisipasi aktif sesuai kapasitas masing-masing. Semoga kita bisa menangani pandemi dengan baik.

Bagaimana menurut Anda?

Akhir Negeri Korupsi

Akhir bahagia atau akhir sengsara menjadi tanda tanya bagi pelaku korupsi. Yang pasti, mereka akan mati. Pelaku korupsi, pada akhirnya akan mati. Banyak orang menduga, setelah mati, pelaku korupsi akan hidup sengsara. Nyatanya kita tidak bisa melihat langsung. Kita hanya bisa melihat nasib mereka menjelang mati atau ketika ke makam. Banyak cerita seram.

Akhir Tahun, Banyak Kasus Korupsi di Lutim Mandek

Mengapa orang lebih tertarik korupsi daripada membangun negeri?

Menteri, misalnya, bukankah dia punya kesempatan besar untuk membangun negeri. Pendapatan gaji, tunjangan, dan lain-lain dari APBN dalam jumlah berlimpah. Mengapa menteri lebih memilih korupsi? Manusia memang penuh misteri.

Gerak Manusia

Karakter dasar manusia adalah selalu bergerak, selalu bertumbuh. Dan korupsi memberi peluang bertumbuh yang mudah, cepat, dan terasa nikmat. Maka wajar saja bila pejabat memilih korupsi. Pengusaha juga bisa korupsi, sogokan, merusak negeri. Cara pintas yang tak pantas. Apalagi mereka kelas atas.

Akhir negeri yang dijarah pelaku korupsi tentu ngeri.

Seharusnya karakter dasar manusia maga, gerak sejati, adalah untuk menuntun manusia mencapai kebaikan. Maga adalah gerak sejati dari satu situasi menjadi situasi lain yang lebih baik. Maga terus mendorong manusia untuk maju. Tentu saja ada banyak halangan untuk gerak maju. Manusia harus berpikir, menyusun strategi terbaik, lalu menjalankan dengan konsisten. Maga terus mendorong dan menarik manusia untuk mencapai kesempurnaan. Hana, eksistensi manusia, bertujuan menyempurnakan diri.

Negeri yang banyak korupsi tetap saja bisa maju. Sebelum pandemi, tingkat kesejahteraan umat manusia di dunia konsisten meningkat. Di saat yang sama, kesenjangan makin menganga di seluruh dunia. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Ketika terjadi pandemi covid-19, pertumbuhan ekonomi dunia memang tersendat, melambat. Di sisi lain, kesenjangan ekonomi tetap meningkat. Ditambah kasus korupsi yang terus merebak, ancaman kemanusiaan di depan mata. Umat dunia, makin kaya, makin tidak merata.

Hana, manusia sejati, punya kekuatan untuk mencapai akhir yang baik. Meski banyak tantangan, semisal korupsi dan ketidakadilan. Bataga adalah tujuan akhir yang hendak diraih oleh hana, manusia sejati, melalui perjalanan maga.

Akhir adalah Awal

Perjalanan manusia pasti mengantar sampai akhir, bataga. Yang setelah tiba di bagian akhir kita sadar, itu bukan akhir yang sebenarnya. Bataga adalah akhir yang sekaligus menjadi awal. Bataga adalah awal yang baru. Bataga adalah hana dalam versi baru yang lebih sempurna.

Hana, eksistensi manusia, senantiasa bergerak maju, maga. Tibalah sampai ke tujuan akhir, bataga. Yang tidak lain, bataga adalah hana itu sendiri. Maka berlanjut gerak maju lagi, maga. Demikian seterusnya hana.

Bataga, meski sebagai akhir, bisa saja tidak sempurna. Kecurangan, kejahatan, dan korupsi akan mengantarkan manusia ke bataga yang tidak sempurna, tidak seimbang. Manusia yang tidak mampu mengendalikan diri, tidak mampu menjaga keseimbangan, terperosok ke bataga yang menderita. Dalam tataran fisik pun mudah kita lihat. Orang yang tidak mampu mengendalikan nafsu makan, terlalu banyak makan, tidak mau olahraga, maka riskan terserang penyakit gula, darah tinggi, jantung dan sebagainya. Hanya penderitaan pada akhirnya.

Sementara, gerak manusia yang seimbang dan adil akan mengantar sampai ke tujuan bataga yang sempurna. Akhir yang sempurna menjadi awal yang baik untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.

Keterangan foto tidak tersedia.

Jelas, kita perlu meraih bataga yang sempurna, akhir yang baik. Maka kita perlu fokus untuk menjaga keadilan dan keseimbangan. Baik pada skala individu, sosial, dan alam semesta. Salah satu cara paling prospek adalah dengan menguatkan pihak-pihak yang lemah. Secara sistematis, kita perlu menjalankan program penguatan orang-orang kecil. Sehingga orang-orang kecil dapat berperan serta dalam gerak kemajuan, semua orang bisa jaya. Dengan kondisi ini, pelaku korupsi akan makin sulit mencari korban. Makin sulit melancarkan aksi. Semoga negeri ini, dunia ini, makin adil makmur sentosa.

Bagaimana menurut Anda?

Konflik vs Korupsi: Pertumbuhan

Pertumbuhan korupsi di Indonesia makin mengkhawatirkan. Tingkat kebersihan layanan publik merosot, dari urutan 85 menjadi urutan 102 pada tahun 2021 ini, dari 180 negara di dunia yang diteliti. Indeks persepsi kepercayaan (CPI) Indonesia juga merosot dari 40 menjadi 37, jauh di bawah 50, dari nilai sempurna maksimum 100. Di sisi lain, negara-negara yang paling bersih dari korupsi dengan indeks 88 juga tetap terancam adanya korupsi: pencucian uang.

Korupsi makin nyata mengancam kemanusiaan, di seluruh dunia. Lebih ngeri lagi, korupsi terjadi di masa pandemi. Bahkan secara langsung terhubung dengan layanan kesehatan dan bantuan sosial. Bagaimana manusia bisa tega? Rakyat kecil sedang menderita karena pandemi, pejabat melakukan korupsi. Demokrasi juga terancam oleh korupsi.

Transparancy International merekomendasikan 4 cara mengurangi korupsi. Memperkuat lembaga pengawasan, memastikan kontrak yang terbuka dan transparan, perkuat demokrasi dan ruang warga, dan umumkan data yang relevan dan mudah diakses.

Korupsi memang rumit karena terjadi berbagai macam konflik kepentingan. Ketika seorang pejabat melakukan korupsi, apakah atas inisiatif diri sendiri? Apakah dia melakukannya seorang diri? Apakah korupsi demi kepentingan seorang diri? Atau ada kepentingan kelompok? Ada kepentingan melanggengkan karir dan sistem?

Tampaknya sulit untuk mengatakan bahwa korupsi hanya untuk kepentingan diri sendiri. Banyak analisis menunjukkan bahwa korupsi melibatkan kepentingan yang lebih besar. Konflik kepentingan. Di sisi lain, korupsi juga muncul karena nafsu personal. Jebakan kehidupan pribadi yang terpisah dari arti pengorbanan, kebaikan, dan keadilan.

Korupsi sebagai Pertumbuhan

Beberapa waktu lalu, kita disuguhi opini bahwa korupsi adalah pendorong pembangunan, pendorong kemajuan, pendorong pertumbuhan ekonomi. Meski tampak aneh, pendapat itu ada benarnya. Korupsi memperlancar aliran uang, konsumsi meningkat, dan ekonomi tumbuh. Korupsi adalah pelicin pertumbuhan ekonomi. Benarkah begitu?

Benar tapi tidak tepat. Ekonomi bisa tumbuh karena korupsi, namun tidak langgeng. Pada titik tertentu, pertumbuhan ekonomi itu akan hancur akibat korupsi. Maka kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi, dan kemanusian, yang benar dan tepat serta langgeng.

Hegel, pemikir abad 19, menunjukkan bahwa pertumbuhan terjadi melalui proses dialektika. Konflik antara tesis dan anti-tesis menghasilkan sintesis baru yang lebih bagus, hasil pertumbuhan. Selanjutnya, sintesis baru itu bisa kita pandang sebagai tesis maka akan dihadapkan anti-tesis baru dan terjadilah dialektika. Menghasilkan sintesis lagi. Begitu seterusnya, proses dialektika mengantarkan kita ke perumbuhan yang terus-menerus menyempurna.

Tetapi korupsi tidak bisa kita pandang sebagai proses dialektika seperti itu. Karena dialektika mengasumsikan ada dua pihak yang berbeda, setara dalam posisi, kemudian berproses. Korupsi justru merusak pihak lain, maka tidak akan terjadi dialektika. Misal bansos, yang seharusnya sampai ke rakyat kecil, dikorupsi di tengah jalan. Sehingga rakyat kecil tidak punya kekuatan, modal, untuk berproses.

Korupsi menciptakan kondisi tidak adil: differend, dalam istilah Lyotard, pemikir abad 20. Differend adalah kondisi di mana, pihak yang lemah tidak bisa menunjukkan adanya kesalahan. Karena bukti kesalahan itu lenyap, telah dibungkam. Wong cilik tidak bisa membuktikan bahwa bansos-nya sudah dikorupsi oleh pejabat. Tidak ada bukti bahwa bansos itu dikorupsi. Karena bansos-nya sendiri sudah tidak ada.

Mensos yang baru, barangkali bisa mencoba melawan kondisi differend ini. Mensos bisa “mencetak” bukti bahwa nama-nama wong cilik tertentu berhak memperoleh bansos dalam jumlah yang jelas dan batas waktu yang jelas. Bukti ini bisa berupa kartu, postingan di medsos, publikasi digital resmi, atau lainnya. (Tetap mempertimbangkan privasi dan sekuriti). Sehingga ketika ada pejabat melakukan korupsi, wong cilik dapat menunjukkan bukti bahwa dia berhak menerima bansos tapi tidak dia terima. Pejabat akan lebih sulit melakukan korupsi.

Pertumbuhan Sejati

Saya mencatat tiga syarat, minimal, agar terjadi pertumbuhan sejati dalam ekonomi, kemanusiaan, dan lain-lain. Pertama, pengakuan dan respek terhadap adanya sawala – perbedaan sejati. Kaya-miskin, besar-kecil, kuat-lemah, memang ada dan perlu dihormati. Kedua, pengakuan terhadap podo – kesetaraan sejati. Ketiga, menjaga agar setiap pihak bisa berperan aktif. Setiap pihak punya kekuatan khas – jaya.

Saya mencoba merevisi istilah anti-tesis dari dialektika Hegel guna mempertimbangkan tiga syarat di atas – sawala, podo, jaya. Anti-tesis saya ganti dengan ko-tesis. Sehingga proses dialektika terjadi antara tesis dan ko-tesis menghasilkan sintesis. Dalam pengertian tertentu istilah dialektika bisa kita samakan dengan ko-kreasi.

Ko-tesis bermakna mengakui perbedaan, sawala. Tetapi perbedaan itu tidak selalu berlawanan, perbedaan itu eksis bersama-sama, podo. Ko-tesis punya peran unik, kekuatan unik, jaya. Ko-tesis tidak hanya melawan tesis, dia memang berproses dengan dirinya. Sejatinya, Hegel sendiri menggunakan istilah being dan nothing ber-dialektika menghasilkan becoming. Sedangkan istilah anti-tesis berkembang dari pemikir-pemikir idealis Jerman abad 19.

Melawan Korupsi

Konflik adalah hal alamiah. Tidak seharusnya konflik kepentingan berbuah menjadi korupsi. Untuk melawan korupsi kita memerlukan pendekatan sistem dan non-sistem. Pendekatan sistem dengan cara memperkuat lembaga pengawasan dan transparansi. Sedangkan pendekatan non-sistem bisa dengan memperkuat posisi korban, pihak lemah.

Pihak lemah, yang sering jadi korban, perlu diperkuat agar mampu berperan – jaya. Misal ketika terjadi pungutan liar di rumah sakit, korban perlu dibekali cara dan media agar bisa melaporkan kasus itu. Di saat yang sama, korban perlu dijamin bahwa layanan rumah sakit tetap jalan. Korban menjadi enggan, tidak melapor, karena bila melapor maka korban tidak ditangani di rumah sakit tersebut dan bisa fatal. Perlu kepastian layanan rumah sakit bagi pelapor.

Vendor yang akan menerima kontrak perlu dipastikan adanya jalan untuk melaporkan pungutan liar. Dengan cara ini maka pejabat menjadi lebih sulit melakukan korupsi. Di saat yang sama, ketika vendor melaporkan pungutan liar perlu dipastikan bahwa kontrak pekerjaan atau proyek tetap berjalan lancar. Bila karena ada laporan maka kontrak dibatalkan untuk semua maka vendor, sebagai korban, malas melaporkan. Laporan berkonsekuensi hilangnya kontrak kerja. Siapa berani?

Pendekatan personal untuk melawan korupsi juga perlu terus edukasi. Kita memang terjebak dalam situasi yang sulit. Namun, diri kita tetap punya kemampuan untuk mencegah diri dari korupsi. Kita memang produk dari sejarah. Di saat yang sama, kita bisa menciptakan sejarah. Sejarah yang bersih dari korupsi.

Bagaimana menurut Anda?

Berbeda (Bukan) Masalah

Perbedaan sering jadi masalah. Padahal perbedaan bisa jadi berkah. Perbedaan pandangan politik bisa menyulut perpecahan. Perbedaan sudut pandang bisa bertengkar. Perbedaan aliran bisa saling menyesatkan. Seperti apakah sejatinya perbedaan itu?

Pengertian dan Makna Bhinneka Tunggal Ika | Gurugeografi.id

Begitu membuka mata, kita akan melihat beragam perbedaan. Fakta di depan mata dipenuhi oleh sesuatu yang berbeda. Perbedaan adalah suatu yang alamiah. Maka mestinya, kita bisa memandang perbedaan sebagai suatu karunia, suatu anugerah. Kita di Indonesia sudah mempunyai semboyan yang menghargai beragam perbedaan: Bhinneka Tunggal Ika.

Perbedaan laki-laki dan perempuan begitu jelas. Karena berbeda, salah satunya, mereka bisa saling jatuh cinta. Begitu indahnya. Lalu menikah. Berumah tangga. Punya anak. Terbentuk keluarga bahagia. Begitulah manusia berkembang dan hidup bahagia karena perbedaan. Bisa dibayangkan apa jadinya bila semua orang adalah laki-laki? Bagaimana jika semua orang adalah perempuan? Pasti manusia akan punah. Tidak bisa berkembang lagi.

Pandangan Perbedaan

Memandang rendah terhadap perbedaan tampak ada di mana-mana, bahkan sejak dulu kala. Siswa yang beda pendapat dengan guru dianggap nakal. Anak yang berbeda pandangan dengan orang tua dianggap durhaka. Rakyat yang berbeda prinsip dengan pejabat dianggap membakang. Oposisi yang mengkritisi penguasa dianggap nyinyir. Dan masih banyak contoh lainnya.

Deleuze, pemikir posmo abad 20, mengklaim penyebab itu semua adalah terlalu kuatnya manusia berpikir identitas. Padahal identitas, menurut Deleuze, bukanlah yang paling utama. Justru perbedaan adalah yang utama. Sawala adalah yang utama. Saya menggunakan istilah baru “sawala” untuk menyatakan perbedaan sejati.

Prinsip identitas sudah matang dirumuskan dengan baik sejak Aristoteles. Jika sesuatu adalah meja maka meja = meja. Begitu jelas, meja = meja. Tampak sederhana tetapi prinsip ini manfaatnya banyak. Misal jika kita beli meja maka meja yang diantar ke rumah kita harus identik dengan meja yang kita pesan itu. Harus sama. Dalam sains dan matematika kita merumuskan banyak persamaan, dan identitas. Persamaan kuadrat, identitas trigonometri, persamaan logaritma, dan lain-lain memenuhi prinsip identitas.

Tetapi realitas alam semesta dipenuhi sawala – perbedaan sejati. Caraka – realitas sejati – dipenuhi sawala.

Maka Deleuze menyatakan bahwa realitas paling utama adalah sawala – perbedaan sejati. Ketika kita mendefinisikan meja maka kita tidak bisa mendeskripsikan meja dengan identitasnya. Tetapi kita mendefinisikan meja sebagai kumpulan sawala, kumpulan beragam perbedaan. Meja adalah bukan kursi, bukan bantal, bukan lantai, bukan pintu, dan lain-lain. Jadi meja adalah selain yang bukan meja. Meja adalah sawala dari yang bukan meja.

Dengan mengangkat posisi sawala maka lebih terbuka bagi kita untuk lebih menghormati perbedaan. Kaya dan miskin adalah sawala. Tidak perlu menganggap kaya lebih baik dari miskin. Tidak pula sebaliknya. Sebagai sawala, kaya dan miskin mempunyai kedudukan yang sama, pada jaya. Bagi orang kaya ada kesempatan untuk berbagi sumber daya kepada orang miskin. Bagi orang miskin ada kesempatan untuk bekerja sesuai kemampuannya. Kaya dan miskin sama-sama terhormat.

Perbedaan Kualitatif

Kita mudah melihat adanya sawala, perbedaan, secara kuantitatif. Orang kaya punya uang lebih banyak dari uang orang miskin. Pejabat punya fasilitas lebih banyak dari rakyat jelata. Beras 10 kg lebih banyak dari beras 2 kg. Bahkan perbedaan kuantitatif ini bisa kita ukur secara obyektif. Dengan timbangan atau catatan rekening masing-masing.

Bergson, pemikir abad 20, menunjukkan adanya sawala kualitatif, perbedaan kualitatif. Dengan memandang waktu sejati, doto, sebagai durasi maka waktu di satu sisi adalah identik tetapi di sisi lain berbeda. Perbedaan pada doto, waktu sejati, adalah perbedaan kualitatif. Kita perlu lebih cermat untuk bisa memahami perbedaan kualitatif ini.

Untungnya, di jaman ini, kita sering menggunakan istilah “waktu yang berkualitas.” Sehingga kita bisa memahami bahwa waktu yang sama-sama 1 jam, misalnya, bisa saja kualitasnya berbeda. Ada orang yang dalam waktu 1 jam menghasilkan pekerjaan 3p, sementara orang lain menghasilkan 5p. Ada juga kebersamaan dalam waktu 1 jam dipakai untuk bertengkar, sementara orang lain menghabiskan 1 jam dengan saling menyayangi.

Lebih dalam, perbedaan kualitas waktu adalah dibandingkan dengan diri sendiri. Tidak dibandingkan dengan orang lain. Saya bisa memanfaatkan waktu 1 jam pagi untuk olahraga, sedangkan waktu 1 jam siang untuk membaca. Jelas 1 jam yang berbeda kualitas, olahraga beda dengan membaca. Tetapi, seandainya yang sama-sama 1 jam pagi dan siang, saya gunakan sama-sama untuk membaca maka kualitasnya tetap berbeda. Ketika saya membaca di siang hari, saya sudah punya modal membaca di pagi hari. Sedangkan ketika saya membaca di pagi hari, saya belum punya pengalaman membaca di siang hari, belum terjadi. Doto, waktu sejati, bersifat akumulatif.

Karena akumulatif, bersifat mengumpulkan, maka untuk mendapatkan waktu berkualitas tetap mempertimbangkan durasi atau lama waktunya. Waktu kebersamaan dengan keluarga di akhir pekan selama 3 jam akan berbeda dengan hanya 1 jam. Durasi yang 3 jam sudah meliputi, memasukkan, yang 1 jam. Tentu saja keseimbangan dalam berbagai macam hal tetap harus kita pertimbangkan dengan adil.

Perbedaan yang Mengancam

Bagaimana pun memang ada perbedaan yang berbahaya. Lyotard, pemikir abad 20, memberi istilah differend sebagai perbedaan yang tidak adil. Pihak yang kuat memanfaatkan kekuatan untuk memanipulasi agar yang lemah, terpaksa, menuruti yang kuat. Tentu tidak adil. Termasuk tidak adil adalah membungkam pihak yang lemah. Agar adil kita perlu mendengarkan semua pihak. Bahkan mendengarkan mereka yang tidak bersuara.

Polisi versus pencuri juga berada pada posisi perbedaan yang mengancam keadilan. Polisi bertugas menjaga keamanan, adil. Sementara pencuri berniat mencuri barang yang bukan miliknya, tidak adil. Dalam kasus seperti ini, pelanggaran terhadap keadilan, tetap perlu ditindak secara tegas.

Perbedaan Mendorong Perubahan

Perbedaan mempunyai kekuatan untuk mendorong perbaikan. Sawala, perbedaan sejati, mendorong untuk berubah menuju lebih baik. Heidegger, pemikir abad 20, menyatakan bahwa manusia punya karakter mengantisipasi masa depan, yang berbeda dengan masa lalu. Dengan pemahaman yang baik tentang masa depan, yang berbeda dengan masa lalu, maka manusia melangkah di masa kini menuju ke arah yang lebih baik.

Orang yang meyakini bahwa dirinya tidak bisa berubah, tidak bisa berbeda, adalah orang yang memiliki keyakinan yang buruk, keyakinan yang salah. Sejatinya, manusia selalu bisa berusaha untuk berbeda dengan masa lalunya. Manusia selalu bisa untuk berbeda, untuk menjadi lebih baik. Sukses selalu…!

Bagaimana menurut Anda?