Logika Futuristik

Logika adalah ilmu berpikir benar. Logika futuristik adalah logika yang memberi nilai penting futuristik, aspek futural, aspek masa depan. Beda dengan logika klasik yang menetapkan nilai kebenaran berdasar masa lalu dan masa kini, logika futuristik melangkah maju dengan mengkaji masa depan.

1. Paradoks Logika Klasik
2. Implikasi Proposisi dan Boolean
3. Logika Modal dan Temporal
4. Konsep Kebenaran
4.1 Korespondensi
(a. Positivisme; b. Platonisme; c. Visi-iluminasi)
4.2 Koherensi
(a. Matematika; b. Bahasa; c. Simbol)
4.3 Pemahaman
(a. Kognisi; b. Praktis; c. Berpikir; d. Konseptual
4.4 Definisi
4.5 Interpretasi
4.6 Peran Futuristik
(a. Pemahaman; b. Definisi; c. Interpretasi
4.7 Esensi dan Eksistensi
(a. Konstruksi dan Proyeksi; b. Relasi dan Transmisi; c. Realisme Minimal: Epistemologi Ontologi; d. Bentangan Waktu; e. Prioritas Future; f. Sketsa Solusi)
5. Solusi Logika Futuristik
5.1 Posibilitas, Freedom, dan Komitmen
5.2 Demokrasi
5.3 Expert
6. Ekonomi Futuristik
6.1 Tujuan Ekonomi
6.2 Personal dan Sosial
6.3 Peran Lembaga
7. Politik Futuristik
7.1 Tujuan Politik
7.2 Freedom
7.3 Keadilan dan Kebaikan

Masa depan, future, adalah acuan bagi setiap proposisi dan makna. Logika klasik perlu argumen atau teori untuk mendukung suatu teori, yaitu, meta-teori. Pada gilirannya, meta-teori ini perlu dukungan teori lagi tanpa berhenti. Logika klasik menghadapi paradoks. Alternatif solusi paradoks adalah dengan meluaskan, atau menambah, perspektif. Pada gilirannya, penambahan perspektif memerlukan perspektif baru tanpa henti. Paradoks tidak selesai. Logika futuristik memberi solusi terhadap paradoks meta-teori dan meta-perspektif tersebut.

1. Paradoks Logika Klasik

Paradoks logika sudah terjadi sejak 2000 tahun yang lalu atau lebih. Paradoks Zeno, barangkali, paradoks klasik paling terkenal. Demi membela konsep gurunya, yaitu Parmenides, Zeno mengajukan paradoks tentang balapan Achiles lawan kuran-kura. Dimana, Achiles, yang pelari cepat itu, tidak pernah sanggup memenangkan balapan lari melawan kura-kura yang posisi awal kura-kura sedikit di depan Achiles. Pada abad 20, Russell menambahkan paradoks Parmenides.

Saya mencatat tiga paradoks paling signifikan: paradoks Pyrrho, paradoks Godel, paradoks meta-bahasa.

Paradoks Pyrrho

Pyrrho (360 -270 SM) hidup hampir sejaman dengan Aristo. Hanya selang beberapa tahun, setelah Aristo mengenalkan konsep logika dengan cemerlang, muncul paradoks Pyrrho yang tidak pernah bisa diselesaikan.

Paradoks Pyrrho menyatakan bahwa setiap argumen akan memerlukan argumen lain sebagai landasan. Pada gilirannya, argumen lain itu akan memerlukan argumen lain lagi tanpa henti. Argumen hanya bisa berhenti pada (a) argumen akhir tanpa landasan, bisa disebut sebagai aksioma atau postulat dan (b) argumen akhir yang menyebabkan sirkular.

Paradoks Godel

Godel (1906 – 1978) adalah matematikawan sangat cemerlang. Paradoks Godel menyatakan bahwa setiap sistem formal, misal matematika, pasti tidak lengkap atau tidak konsisten.

Yang menarik dari paradoks Godel adalah murni matematis tanpa menggunakan bahasa. Sehingga, validitas paradoks Godel ini kokoh, terbebas dari pengaruh interpretasi dan problem semantik mau pun gramatikal bahasa.

Paradoks Meta-Bahasa

Pada tahun 2021, Zach Weber mengusulkan paradoks meta-bahasa. Setiap bahasa, termasuk bahasa matematika, perlu membuktikan validitasnya. Untuk membuktikan itu, kita memerlukan meta-bahasa. Tetapi, meta-bahasa adalah bahasa itu sendiri. Dengan kata lain, meta-bahasa adalah tidak eksis. Yang eksis hanya bahasa. Karena itu, validitas bahasa tidak bisa dibuktikan. Paradoks meta-bahasa.

Paradoks Meta Teori

Saya menyebut kelompok paradoks seperti di atas sebagai paradoks meta-teori. Setiap teori memerlukan teori lainnya sebagai landasan, yaitu, meta-teori. Tetapi, meta-teori itu sendiri membutuhkan landasan berupa teori lain tanpa henti.

Paradoks meta-teori ini tidak bisa diselesaikan berdasar logika klasik. Dalam hali ini, logika klasik menerapkan konsep waktu masa lalu (past) sebagai landasan. Kita akan mempertimbangkan logika-futuristik untuk menyelesaikan paradoks meta-teori.

Paradoks Meta Perspektif

Alternatif solusi bagi paradoks adalah dengan meluaskan perspektif.

(P): 12 + 1 = 1

Pernyataan (P) di atas adalah benar. Tetapi, menjadi paradoks terhadap operasi bilangan bulat yang seharusnya 12 + 1 adalah 13. Bila kita meluaskan perspektif bahwa (P) bernilai benar pada operasi bilangan jam dinding maka paradoks selesai.

Contoh lain adalah Rusia lawan Ukraina. Bagi Rusia, mereka berhak untuk menyerang Ukraina. Tetapi paradoks, bagi Ukraina, Rusia tidak dibenarkan menyerang Ukraina. Bila kita meluaskan perspektif yang lebih luas untuk memandang kasus Rusia lawan Ukraina, diharapkan, paradoks terselesaikan.

Tetapi, paradoks tidak selesai dengan menambahkan perspektif. Untuk kasus jam dinding versus bilangan bulat, maka, perspektif mana yang bisa menentukan lebih valid. Jika ada perspektif yang lebih valid, maka, akan menuntut eksistensi perspektif baru lagi untuk validasinya. Jadi tetap ada paradoks yaitu paradoks meta-perspektif.

Setiap perspektif adalah terbatas sehingga paradoks. Paradoks bisa diselesaikan dengan menambah perspektif yang lebih luas, yaitu, meta-perspektif. Pada gilirannya, meta-perspektif memerlukan tambahan perspektif lagi tanpa henti. Tetap terjadi paradoks meta-perspektif. Saya menyebut paradoks muncul karena meta perspektif fokus kepada masa kini (present). Logika futuristik mengajukan solusi untuk menyelesaikan paradoks.

Kita bisa ringkas bahwa hanya ada dua kelompok paradoks: meta-teori dan meta-perspektif.

Meski, logika menghadapi paradoks, kita tetap perlu mengapresiasi bahwa paradoks tersebut adalah kemajuan dari logika umat manusia itu sendiri. Di bagian berikutnya, kita akan membahas secara singkat kontribusi penting logika-bahasa dari Aristoteles dan Boolean.

2. Implikasi Proposisi dan Boolean

Logika memberi banyak manfaat kepada perkembangan pemikiran manusia. Silogisme merupakan proses mengambil kesimpulan yang valid. Saya merumuskan ulang dalam bentuk implikasi: proposisional dan Boolean.

Sedikit catatan, sebelum era Aristoteles, logika bersifat pengetahuan langsung semisal logika-cahaya dari Plato. Jadi, logika proposisional adalah kemajuan besar.

(A): Setiap persegi adalah memiliki 4 sisi.
(B): Meja adalah persegi.
Kesimpulan,
(C) Meja adalah memiliki 4 sisi.

Berpikir silogisme, seperti di atas, adalah benar dan sah. Silogisme memasukkan partikular (meja) sebagai anggota dari universal (persegi). Sehingga, sifat universal juga menjadi sifat dari partikular bersangkutan.

Kita bisa mengubah silogisme di atas menjadi implikasi.

(A) Jika persegi maka memiliki 4 sisi.
(B) Meja adalah persegi.
Kesimpulan,
(C) Memiliki 4 sisi.

Implikasi di atas adalah transisi dari proposisonal (Aristo) menuju Boolean.

(K): P maka Q
(L): Q maka R
Kesimpulan,
(M): P maka R

Contoh:

(K): Tombol kanan “maka” listrik nyala.
(L): Listrik nyala “maka” pintu terbuka.
Kesimpulan,
(M): Tombol kanan “maka” pintu terbuka.

Perhatikan bahwa kesimpulan akhir menghubungkan sesuatu, yang asalnya, tidak berhubungan. Tombol kanan tidak berhubungan dengan pintu terbuka. Dengan implikasi Boolean, mereka menjadi terhubung secara otomatis. Logika Boolean makin berkembang dan menjadi tulang punggung perkembangan teknologi informasi, termasuk, media sosial.

3. Logika Modal dan Temporal

Aristo, tampaknya, sudah mengantisipasi perlunya logika-modal dan temporal. Pernyataan (H): “Besok, tinggi hilal adalah 5 derajat” merupakan salah satu contoh. Pernyataan (H) mungkin saja benar, dan, mungkin salah, logika-modal. Saat itu, Aristo meyakini hanya ada satu kemungkinan saja antara benar atau salah. Sehingga, logika-modal belum bisa berkembang. Pernyataan (H) juga merupakan logika-temporal dengan mempertimbangkan “besok.” Masih perlu waktu ratusan tahun kemudian, sampai akhirnya, logika-modal dan temporal bisa berkembang.

Ibnu Sina (970 – 1037) mengembangkan logika-modal dengan konsep wujud-wajib dan wujud-mumkin. Wujud-wajib adalah pasti benar (logika Aristo dan Boolean). Sedangkan, wujud-mumkin bisa benar dan bisa saja salah (logika-modal). Wujud-mumkin menjadi benar (eksis) ketika terhubung dengan wujud-wajib. Jika tidak terhubung dengan wujud-wajib, maka, akan tetap menjadi wujud-mumkin, yang bisa diputuskan sebagai salah (tidak eksis).

Selanjutnya, logika-modal makin berkembang sebagai logika-modal kontemporer, probabilistik, statistik, dan logika quantum.

Sementara, logika temporal berkembang pesat sejak era Newton. Di mana, hampir semua rumusan sains Newton sebagai fungsi waktu. Menariknya, dengan kalkulus, Newton (dan Leibniz) bisa mengembangkan dimensi waktu dengan selang waktu mendekati 0. Meski demikian, logika Newton bersifat eksak, yaitu, logika-temporal tetapi bukan logika-modal.

Logika Quantum

Mekanika quantum, sejatinya, melanjutkan logika sains Newton untuk obyek sub-atomik. Di luar dugaan, quantum menghadapi paradoks-paradoks baru yang memaksa kita mempertimbangkan logika-modal dan logika-temporal.

Ketidakpastian Epistemologi

Heisenberg (1901 – 1976) menunjukkan bahwa tidak mungkin kita bisa mengetahui secara pasti posisi dan kecepatan dari suatu partikel. Jika kita mengukur posisi dengan pasti maka kecepatan menjadi tidak bisa diketahui. Sebaliknya, juga terjadi. Jika kita mengukur kecepatan dengan pasti maka posisi menjadi tidak bisa diketahui. Secara epistemologi, kita terbatas.

Ketidakpastian Ontologi

Schrodinger (1887 – 1961) berhasil merumuskan fungsi gelombang quantum. Di mana, eksistensi suatu partikel bersifat probabilistik. Di dalam suatu kotak, mungkin ada elektron dan mungkin tidak ada elektron. Sehingga, status ontologis suatu partikel, misal elektron, bersifat probabilistik. Pandangan ini berbeda dengan intuisi kita terhadap eksistensi obyek alami, misal, ada pohon, ada meja, dan aka kursi secara pasti.

Ketidakpastian Relasi

Quantum entanglement memunculkan paradoks lebih jauh lagi. Dengan cara seperti apakah obyek-obyek alam eksternal saling terhubung?

Einstein (1879 – 1955) mem-postulatkan bahwa kecepatan maksimum adalah cahaya. Postulat ini terbukti benar di semua kasus yang ada dan efektif. Tetapi quantum entanglement, seakan-akan, menunjukkan ada kecepatan yang lebih cepat dari cahaya. Jadi, seperti apakah realitas alam raya ini saling terhubung? Paradoks ini, sampai sekarang, belum terpecahkan.

Perkembangan logika quantum, yang menguatkan logika-modal dan logika-temporal, mengantarkan kita untuk mengkaji logika-futuristik.

4. Konsep Kebenaran

Konsep kebenaran menentukan apa yang dimaksud dengan benar dan salah. Saya menyebut konsep kebenaran ini sebagai fondasi logika atau logika-informal. Beberapa pemikir membatasi kajian logika hanya kepada logika-formal, sehingga, mereka menolak kajian tentang konsep kebenaran. Mereka mempercayakan kajian konsep kebenaran kepada filsafat, misal, metafisika.

Bagi logika-futuristik, konsep kebenaran justru konsep yang paling fundamental. Kita, justru, perlu mengkaji konsep kebenaran sampai tuntas, andai bisa tuntas. Setelah kita mengkaji fondasi logika ini, maka, logika-formal menjadi memiliki justifikasi yang valid.

Konsep kebenaran paling umum dikenal adalah korespondensi dan koherensi. Kita akan membahas lebih luas dari kedua konsep tersebut.

4.1 Korespondensi

Suatu kebenaran adalah korespondensi yang tepat. Berdasar teori korespondensi, proposisi yang benar adalah proposisi yang berkorespondensi dengan suatu acuan, realitas. Lalu, wajar bagi kita, bertanya, “Apa atau bagaimana korespondensi yang benar?” Teori korespondensi menghadapi resiko paradoks di sini. Kita pertimbangkan beberapa solusi: positivisme, Platonisme, dan visi-iluminasi.

a. Positivisme

Perspektif positivisme berkembang, sejak awal abad 20, seiring dengan perkembangan sains dan teknologi. Proposisi yang benar adalah proposisi yang berkorespondensi dengan realitas fisik empiris.

Proposisi sains bernilai benar jika bisa dilakukan verifikasi empiris fisik dengan hasil korespondensi positif.

Perspektif positivisme ini tampak membatasi hanya kepada verifikasi empiris fisik materialisme. Jelas, muncul banyak paradoks dari positivisme yang tidak bisa dislesaikan. Bagaimana bisa muncul kesadaran pada manusia? Bagaimana manusia bisa mengetahui obyek alam eksternal? Mengapa manusia bisa jatuh cinta?

Husserl (1859 – 1938) menolak positivisme dan menggantinya dengan fenomenologi. Kebenaran adalah fenomena yang hadir apa adanya pada kesadaran subyek, kesadaran manusia. Agar fenomena itu bisa hadir apa adanya, maka, manusia perlu menunda dulu prasangka dan penilaian yang buru-buru.

Jika fenomenologi itu benar, maka, mengapa kita percaya terhadap kesadaran manusia? Kita berhadapan dengan paradoks.

b. Platonisme

Plato adalah filsuf besar yang merupakan guru dari Aristoteles dan, sekaligus, murid dari Socrates. Plato mengembangkan logika-cahaya. Seluruh alam eksternal adalah hanya bayangan dari realitas sejati, yaitu, cahaya. Meja persegi adalah bayangan dari “persegi” ideal yang merupakan cahaya di alam idea. Realitas ideal ini sering kita kenal sebagai realitas platonis. Jadi, proposisi yang benar adalah yang berkorespondensi dengan realitas ideal platonis.

Dari perspektif Platonisme, kita memperoleh korespondensi ideal. Tetapi, bagaimana mereka, persegi ideal dan proposisi, berkorespondensi dengan alam eksternal berupa meja persegi? Kita berhadapan dengan paradoks lagi.

c. Visi-iluminasi

Suhrawardi (1154 – 1191) merumuskan logika visi-iluminasi. Pengetahuan yang benar, proposisi yang benar, adalah korespondensi cahaya-obyek dengan cahaya-subyek menjadi satu kesatuan cahaya baru yang lebih kuat. Cahaya-obyek hadir pada cahaya-subyek.

Korespondensi visi-iluminasi ini, dengan kreatif, memodifikasi banyak hal. Penggunaan simbol cahaya memudahkan kita untuk memahami. Manusia adalah cahaya-subyek. Meja persegi adalah cahaya-obyek atau cahaya-meja. Mereka saling berhadapan. Cahaya-subyek berhadapan dengan cahaya-meja. Lalu, mereka bersatu membentuk cahaya-baru yang merupakan satu kesatuan.

Korespondensi-visi ini menyelesaikan paradoks. Tidak ada lagi paradoks korespondensi. Kita tidak perlu lagi bertanya apa yang menghubungkan cahaya-subyek dengan cahaya-meja karena mereka satu kesatuan dalam cahaya-baru. Problem yang muncul adalah bagaimana kita mengkomunikasikan cahaya-baru ini dalam bentuk proposisi? Bagaimana cahaya-subyek bisa berhasil membentuk cahaya-baru? Logika-futuristik akan memberi solusi terhadap beragam pertanyaan ini di bagian bawah.

4.2 Koherensi

Kebenaran adalah proposisi, atau pengetahuan, yang koheren dengan kebenaran yang sudah terbukti benar. Matematika paling sering memanfaatkan teori koherensi dengan metode deduksi. Sementara, sains banyak memanfaatkan induksi. Ketika, matematika memanfaatkan metode induksi, maka, tetap saja koheren.

Seperti sudah kita sebut di atas, teori koherensi ini berhadapan dengan paradoks.

a. Matematika

Matematika berangkat dari aksioma, yang kebenarannya sudah diterima, kemudian mengembangkan sistem yang koheren. Sehingga, nilai kebenaran matematika bersifat pasti, eksak.

Mari kita coba membuat contoh sederhana. Hampa = 0. Ada sesuatu = 1. Dan, operasi penjumlahan (+) adalah repetisi dari sesuatu.

(A): 3 + 1 = 4,
(B): 3 + 2 = 6.

Pernyataan (A) sudah pasti benar karena koheren dengan aksioma. Sementara, pernyataan (B) sudah pasti salah karena tidak koheren dengan aksioma.

Paradoks muncul, “Mengapa kita memilih aksioma di atas?” Kita bisa menjawabnya dengan suatu argumen yang, pada gilirannya, butuh argumen lanjutan tanpa henti. Atau, orang bisa mengatakan, “Tidak perlu membahas alasan mengapa memilih aksioma, karena, aksioma sudah pasti diterima kebenarannya.”

Tetapi, teorema Godel menunjukkan bahwa sistem formal, atau sistem matematika, pasti tidak lengkap atau tidak konsisten. Jadi, paradoks. Godel tidak bertanya apa pun. Godel hanya menunjukkan paradoks tersebut adalah inheren dalam sistem formal, sistem matematika. Logika-futuristik perlu memberi solusi terhadap paradoks ini.

b. Bahasa

Kebenaran bahasa bisa ditentukan berdasar koherensi dalam sistem bahasa tersebut. Aturan gramatikal, semantik, interpretasi, dan lain-lain menjaga sistem bahasa untuk koheren.

Paradoks muncul, “Dengan cara apa bahasa membuktikan koherensi bahasa?” Tidak mungkin jawabannya adalah dengan bahasa. Jawabannya adalah membuktikan dengan meta-bahasa. Tetapi, meta-bahasa itu juga perlu dibuktikan koherensinya, dan seterusnya, tanpa berhenti.

Barangkali, orang berpikir, kita bisa membuktikan koherensi bahasa dengan cara membandingkan terhadap realitas. Cara seperti ini adalah korespondensi yang sudah kita bahas paradoks di bagian atas. Logika-futuristik perlu mengajukan solusi terhadap paradoks ini.

c. Simbol

Kita bisa mengembangkan sistem simbol yang koheren. Barangkali simbol berupa warna, gambar, gerakan, nada, atau kode-kode tertentu. Kode-kode komputer adalah contoh coding yang luar biasa hebat.

Kita sering mendengar dalam kode komputer, sistem informasi, sering ditemukan “bug” sebagai sebuah paradoks. Setiap programmer handal tidak akan berani memastikan bahwa dalam suatu coding tidak ada bug. Atau, dengan kata lain, dalam setiap coding berpotensi menyimpan bug, menyimpan paradoks.

Karena fundamental dari kode komputer digital, sistem informasi, adalah matematika maka kita bisa menerapkan paradoks Godel terhadap kode komputer. Akibatnya, dalam kode komputer selalu tersimpan paradoks. Jadi, memang besar, tugas logika-futuristik untuk menyelesaikan paradoks.

Dalam tataran praktis, paradoks-paradoks akibat korespondensi dan koherensi menuntut solusi segera. Beberapa solusi yang sering dipakai adalah konsensus, dissensus, pragmatisme, voting, demokrasi, dan lain-lain.

4.3 Pemahaman

Kita perlu mencoba melangkah mundur untuk memahami apa itu pemahaman.

a. Kognisi

Kognisi adalah kemampuan, atau proses, mengenali sesuatu secara umum. Kognisi adalah respon kita, sebagai subyek, terhadap stimulus alam semesta. Kognisi ini bermakna luas mencakup kemampuan panca indera, pikiran, teoritis, dan praktis.

b. Praktis

Keterampilan praktis adalah termasuk dalam kognisi dan pemahaman. Anda mampu mengendarai sepeda adalah keterampilan praktis. Sangat sulit bagi kita untuk mengungkapkan cara mengendarai sepeda melalui bahasa proposisi.

c. Berpikir

Berpikir merupakan jenis kognisi tingkat tinggi. Berpikir mencakup bidang yang luas, tidak hanya terbatas pada bidang formal proposisional saja. Berpikir tentang sastra, berpikir tentang alunan nada, berpikir tentang keindahan alam dan lain-lain. Pada tingkat sangat tinggi, berpikir akan mencapai berpikir-terbuka.

d. Konseptual

Secara umum, berpikir konseptual adalah berpikir tingkat tinggi dalam bentuk konsep-konsep. Dengan kemahiran yang memadai, setiap konsep bisa dibuatkan kode atau simbol. Sehingga, konsep-konsep ini bisa diolah oleh komputer. Artificial intelligence (AI) mampu “berpikir” mengolah konsep-konsep dengan cepat dan canggih, kemudian, mengambil kesimpulan.

Bagaimana pun, kemampuan berpikir konseptual manusia masih jauh di atas AI masa kini.

4.4 Definisi

Definisi adalah batasan pengertian. Sehingga, definisi memang bersifat membatasi suatu maksud agar tidak ambigu dengan maksud lainnya. Bagaimana pun, definisi bisa saja beragam.

4.5 Interpretasi

Interpretasi memberi makna pada suatu konsep. Dengan demikian, interpretasi terbuka terhadap banyak pilihan akan makna.

4.6 Peran Futuristik

Banyak orang menduga bahwa masa lalu, dan masa kini, adalah yang paling menentukan cara berpikir. Di bagian ini, kita akan menunjukkan bahwa peran terbesar ada pada aspek masa depan, futural, sesuai logika-futuristik.

a. Pemahaman

Mengapa Anda paham bahwa benda di depan Anda adalah meja? Karena beberapa waktu lalu (past), kita mengetahui benda semacam itu adalah meja. Dan saat ini (present), kita sedang melihat benda semacam itu. Jadi, saya memahami benda itu adalah meja.

Di mana peran future, masa depan, dalam membentuk pemahaman?

Peran future lebih besar dari past mau pun present. Past dan present adalah persiapan bagi, melengkapi, future untuk memahami obyek, misal meja.

Saya paham benda di depan saya adalah meja karena bila nanti, future, saya menemuinya saya tahu itu adalah meja. Saya paham itu meja karena bila nanti, future, ada orang bertanya saya bisa jawab itu meja. Saya paham itu meja karena bila nanti, future, saya memerlukan meja maka bisa menemukannya.

Jika saya tidak peduli bahwa di masa depan, future, akan ada urusan dengan benda itu, maka, saya tidak peduli apakah benda itu meja, kursi, lemari, atau apa pun. Bahkan, saya tidak perlu tahu sesuatu itu benda, energi, atau sekedar ilusi. Jadi, pemahaman manusia ditentukan oleh aspek future, di mana, past dan present membantu future.

b. Definisi

Definisi juga ditentukan oleh future. Sementara, past dan present adalah persiapan.

Definisi meja, misal, adalah perkakas persegi dengan 4 kaki.

Mengapa definisi meja seperti itu? Karena, bila suatu saat nanti, future, kita perlu definisi meja maka kita bisa menggunakan definisi tersebut.

Definisi bilangan genap, misal, adalah bilangan bulat kelipatan 2.

Mengapa begitu? Karena bila, di masa depan, saya memerlukan definisi misal ditanya dalam ujian, maka, saya menjawab dengan definisi tersebut.

Karena masa depan, future, terbuka luas maka definisi juga terbuka luas terhadap keragaman. Tentu saja, ada definisi yang bagus, buruk, atau bahkan salah. Meski demikian, tetap tersedia posibilitas untuk melakukan koreksi.

c. Interpretasi

Interpretasi lebih jelas lagi dipengaruhi masa depan, future. Sementara, past dan present adalah pendukung.

4.7 Esensi dan Eksistensi

Perdebatan interpretasi antara esensi lawan eksistensi tersebar sepanjang sejarah. Di sini, kita tidak akan ikut terjun dalam perdebatan itu. Kita hanya akan memanfaatkan konsep esensi dan eksistensi untuk lebih memahami logika-futuristik.

a. Konstruksi dan Proyeksi

Realitas, misal meja, terdiri dari esensi dan eksistensi. Esensi adalah realitas terdalam dari meja. Sementara, eksistensi adalah ada-meja itu apa adanya atau realitas meja apa adanya.

Yang benar-benar ada adalah eksistensi meja apa adanya. Termasuk eksistensi kursi, eksistensi saya, eksistensi Anda, dan eksistensi alam raya. Tetapi pikiran kita, pemahaman kita, bergerak lebih maju dengan membuat konstruksi esensi meja. Kemudian, kita mem-proyeksikan konstruksi esensi meja ini terhadap realitas meja di alam eksternal.

Bagaimana pikiran kita mengkonstruksi esensi meja? Pikiran kita memanfaatkan kepentingan future, masa depan, terhadap meja itu. Demikian juga, ketika pikiran mem-proyeksikan esensi meja ke realitas meja juga dipengaruhi oleh kepentingan masa depan kita. Jadi, logika-esensi adalah logika-futuristik. Dan, tentu saja, pikiran tetap memanfaatkan pengalaman masa lalu dan masa kini.

Bagaimana dengan eksistensi meja itu sendiri? Eksistensi meja juga menuju masa depan sesuai logika-futuristik. Di bagian bawah, kita akan membahas lebih detil.

b. Relasi dan Transmisi

Relasi antara pikiran kita dengan meja di alam eksternal menjadi paradoks tak terselesaikan berdasar teori korespondensi dan koherensi. Paradoks muncul karena kita memandang dari perspektif esensi: esensi pikiran berkorespondensi dengan esensi meja. Kita tidak akan berhasil membuat relasi antara dua esensi yang terpisah ini. Karena, relasi antara dua esensi ini hanya berupa proyeksi. Ada kesesuaian tetapi selalu ada perbedaan.

Kita bisa mengatasi paradoks ini dengan perspektif eksistensial. Secara eksistensial, meja itu sudah ada di hadapan kita lengkap dengan lantai, dinding, atap, dan lain-lain. Kita, kesadaran kita, selalu berada dalam dunia secara eksistensial. Tidak bisa, kita eksis di ruang hampa, tanpa ada apa-apa. Jadi, relasi pikiran kita dengan dunia sudah niscaya secara eksistensial. Tugas kita adalah meng-interpretasikan relasi eksistensial ini dengan lebih baik. Bukan tugas kita untuk membuktikan eksistensi dari relasi itu. Karena, relasi eksistensial itu justru sudah terbukti sebelum kita mempertanyakannya.

Pertanyaan yang sama penting, “Bagaimana relasi antara past, present, dan future?”

Relasi mereka – past, present, dan future – sangat kuat. Bahkan terjadi transmisi antara mereka. Future adalah yang paling utama. Future membentang ke past, menarik past menuju future dengan menyusuri bentangan present. Lebih detil pembahasan transmisi ini, kita bahas di bagian bawah.

c. Realisme Minimal: Epistemologi Ontologi

Pandangan umum adalah realisme: alam eksternal benar-benar nyata. Tetapi, untuk membuktikan eksistensi alam eksternal, secara filosofis, tidak mudah. Di bagian atas, kita berhasil membuktikan eksistensi alam eksternal melalui analisis eksistensial. Alternatif realisme minimal merupakan solusi yang menarik.

Secara epistemologi, kita yakin bahwa pengetahuan manusia terbatas. Maksudnya, ada suatu obyek yang tidak diketahui oleh seorang manusia. Saya tinggal di Indonesia, Asia, maka saya tidak tahu berbagai macam obyek yang ada di kutub utara. Saya sedang melihat kutub utara atau tidak, kutub utara tetap eksis. Jadi, eksistensi kutub utara independent dari pengetahuan saya.

Kita bisa berandai-andai tidak ada seorang manusia pun di dunia ini. Atau, bahkan tidak ada makhluk hidup satu pun di dunia ini. Sehingga, tidak ada kognisi sama sekali. Apakah kutub utara tetap eksis?

Ya, positif. Kutub utara tetap eksis. Dunia ini tetap eksis meski tidak ada satu orang manusia pun yang sedang melihatnya. Pandangan realisme seperti ini disebut sebagai realisme minimal. Memang tidak ada mobil, tidak ada gedung, tidak ada jembatan, dan tidak ada komputer.

Mari kita bergeser dari epistemologi ke ontologi.

Secara epistemologi, saya tidak bisa mengetahui obyek-obyek yang ada di kutub utara karena posisi saya terpisah jauh di Indonesia, Asia. Sehingga, kutub utara independent dari pengetahuan saya. Tetapi, secara ontologis, apakah eksistensi kutub utara independent terhadap eksistensi saya? Atau, sebaliknya, apakah eksistensi saya independent terhadap eksistensi kutub utara?

Tentu saja, analisis secara esensial, esensi saya dengan esensi kutub utara saling independent. Sehingga, tidak saling mempengaruhi. Bagaimana secara analisis eksistensial? Bukankah eksistensi saya selalu terhubung dengan eksistensi kutub utara melalui bumi, atmosfir, dan lain-lain?

Benar. Seluruh eksistensi saling terhubung membentuk satu kesatuan eksistensial. Keragaman terjadi karena eksistensi termodulasi dan gradasi. Dengan demikian, realisme minimal akan tetap terdorong menuju realisme normal dari perspektif eksistensial.

d. Bentangan Waktu

Analisis eksistensial akan membawa kita ke analisis waktu, time. Justru itu yang kita perlukan untuk menuju logika-futuristik.

Secara esensial, kita bisa memisahkan suatu obyek dengan waktu. Secara eksistensial, kita memandang obyek dan waktu merupakan satu kesatuan. Waktu memang eksis.

Apa itu waktu? Apa itu time?

Waktu adalah temporalisasi past, present, dan future. Konsep umum dari waktu adalah living-now, yaitu, present yang terus bergulir. Atau, masa-kini yang terus bergulir. Dengan konsep ini, kita bisa menghitung waktu sebagai efek dari gerak aksidental mau pun substansial. Hasil dari gerak jarum jam menunjukkan waktu pada arloji. Gerak matahari menunjukkan waktu satu hari dan lain sebagainya.

Dengan konsep living-now, kita terkungkung dalam waktu now, present. Kita tidak bisa lepas dari present, masa kini. Karena masa lalu, past, adalah present yang sudah tidak ada. Dan, masa depan, future, adalah present yang tidak pernah hadir. Yang ada hanya masa kini. Kita perlu alternatif pandangan, atau revisi pandangan, yang seperti ini.

Time bukan sesuatu. Waktu bukan suatu obyek semacam meja atau batu. Waktu bukan hasil hitungan, bukan hanya konstruksi pikiran. Waktu ada secara nyata.

Waktu pernah di masa lalu dan meraih masa depan dan, di saat yang sama, menjalani masa kini. Sehingga, past-present-future saling terhubung. Kita bisa menyebut sebagai bentangan-waktu yaitu waktu yang membentang.

Waktu selalu mengalir. Sehingga kekuatan waktu bukan present. Karena, jika present maka waktu akan berhenti bagai suatu potret. Mengalir hanya bisa terjadi jika kekuatan utama waktu adalah future.

Future mendorong diri ke belakang maka tercipta past, yang kemudian, ditarik menuju future tercipta present. Lengkaplah bentangan waktu berupa future-past-present.

e. Prioritas Future

Time adalah bentangan waktu future-past-present. Sehingga, waktu adalah ekstase, kesatuan. Tetapi, untuk menekankan bahwa future adalah paling prior maka kita menyebutnya dengan logika-futuristik. Meskipun, istilah yang lebih tepat adalah logika-ekstatik.

Time adalah satu kesatuan. Eksistensi adalah satu kesatuan. Time dan eksistensi saling menghormati. Time memberi waktu kepada eksistensi. Dan, eksistensi menerima anugerah sehingga eksis: time dan eksistensi. Time dan eksistensi saling berkhidmat. Saling memberi dan menerima. Mereka adalah satu kesatuan tak terpisahkan.

Time menjadi tidak eksis jika terpisah dari eksistensi. Demikian juga sebaliknya, tanpa time, eksistensi tidak punya waktu untuk eksis. Jadi, mereka saling berkhidmat. Mereka adalah pengkhidmatan itu sendiri.

Demi kepentingan analisis, kita akan fokus kepada aspek futuristik sebagai paling prior. Logika-futuristik menempatkan aspek futural sebagai paling utama dalam menentukan kebenaran. Kita tahu, karakter future berbeda dengan past. Future adalah posibilitas, freedom, dan komitmen.

Posibilitas luas tanpa batas. Future membuka beragam peluang untuk menjadi nyata. Kemudian, future ini repetisi, mengulang diri, menjadi masa kini.

Freedom untuk berkembang. Future adalah kebebasan menentukan arah. Tidak ada yang membatasi future. Future adalah yang paling depan menerobos kebebasan.

Komitmen untuk repetisi dan transmisi. Future menuntut komitmen untuk repetisi ke present dan past. Sejatinya, future secara otomatis bertransmisi ke masa lalu dan masa kini. Tetapi, perlu komitmen agar repetisi menjadi penuh arti.

f. Sketsa Solusi

Kita akan membuat sketsa solusi terhadap meta-teori dan meta-perspektif.

Meta-teori menghadapi paradoks karena setiap teori perlu dukungan teori lain. Pada gilirannya, teori lain ini juga perlu dukungan teori lagi tanpa henti. Akhirnya, kita akan berhenti pada suatu teori yang disebut sebagai aksioma atau postulat. Mengapa kita menerima aksioma itu? Di sini muncul paradoks.

Logika-futuristik memberi solusi dengan mengkaji aksioma. Basis dari aksioma adalah future, bukan past, dan bukan present. Aksioma ditetapkan agar konsisten terhadap kajian masa depan. Selama aksioma bisa diterima dengan kriteria future, maka, aksioma bisa diterima. Paradoks dianggap selesai. Tetapi, karena future adalah posibilitas maka aksioma tetap terbuka dengan posibilitas dinamis.

Meta-perspektif terjadi karena setiap perspektif terbatas, tidak pernah sempurna. Sementara, tidak mungkin kita mengkaji sesuatu tanpa perspektif. Setiap perspektif berpotensi paradoks terhadap perspektif yang berbeda. Ketika dua, atau lebih, perspektif disatukan maka akan membutuhkan perspektif baru tanpa henti. Meta-perspektif menghadapi paradoks.

Solusi logika-futuristik adalah dengan mengkaji perspektif terbaik. Basis dari perspektif adalah future, bukan past, dan bukan present. Sehingga, ketika perspektif terbaik itu bisa diterima oleh kriteria future, maka, perspektif terbaik bisa diterima. Paradoks selesai. Bagaimana pun, future adalah posibilitas, sehingga, perspektif terbaik tetap terbuka untuk dinamis sesuai beragam posibilitas yang luas.

Dalam pembahasan, secara implisit, kita menyelesaikan paradoks klaim logika sebagai ilmu berpikir benar. Mengapa logika bisa benar? Mengapa logika-futuristik bisa benar? Mengapa benar itu benar?

Bagian selanjutnya akan membahas lebih detil dari solusi logika-futuristik.

5. Solusi Logika Futuristik

Logika-futuristik menuntut karakter kebenaran sebagai posibilitas, freedom, dan komitmen. Karakter-karakter ini adalah karakter utama logika-futuristik yang berhasil memberi solusi terhadap setiap paradoks. Bukan berarti paradoks menjadi hilang total. Tetapi, paradoks bisa diselesaikan dengan baik, meski pun, sulit.

Demokrasi menjadi penting sebagai konsekuensi freedom.

Bagaimana pun, terdapat expert-expert yang mahir sebagai spesialis di bidang tertentu. Wajar bagi kita memberi respek lebih besar kepada para spesialis ini. Bagaimana menciptakan kompromi antara konsep demokrasi dan eksistensi para expert?

Solusi logika-futuristik adalah tiga langkah:

(1) Pelajari logika klasik lengkap dengan meta-teori dan meta-perspektif.
(2) Lakukan modifikasi terhadap logika-klasik.
(3) Terapkan karakter futuristik.

Sekali lagi, logika futuristik senantiasa menerima past dan present. Karena, past dan present adalah repetisi dari future. Dengan kata lain, past dan present adalah anggota dari future. Hanya saja, kita perlu menekankan peran penting dari future.

5.1 Posibilitas, Freedom, dan Komitmen

Posibilitas adalah kemungkinan, peluang, yang terbuka luas di masa depan, future. Logika-futuristik menuntut kebenaran sebagai posibilitas. Kebenaran adalah membuka beragam peluang secara luas. Peluang luas bagi banyak pihak. Peluang umat manusia untuk berkembang, peluang makhluk hidup untuk lestari, dan peluang bagi alam raya untuk terus gerak maju.

Freedom adalah bebas dan membebaskan. Logika-futuristik menuntut kebenaran sebagai freedom. Seluruh umat manusia bebas bersuara. Mereka bebas mengungkapkan ide mereka. Mereka bebas mengejar mimpi-mimpi terbaik mereka. Di saat yang sama, menerapkan freedom adalah sambil menjaga freedom pihak lain. Membebaskan wong cilik dari beragam himpitan. Wong cilik berhak menjadi bebas. Alam raya berhak menjadi bebas.

Komitmen adalah keteguhan diri meraih tujuan. Logika-futuristik menuntut kebenaran sebagai manifestasi komitmen. Komitmen untuk membuka posibilitas luas. Komitmen untuk bebas dan membebaskan. Dan, komitmen untuk mewujudkan beragam manifestasi kebenaran.

Problem Sosial

Mari kita coba cermati dengan beberapa contoh untuk analisis, misal, tentang upah minimum (UM) dan biaya penunjang operasional (BPO). Upah minimum (UM) di Indonesia berada di kisaran 2 juta sampai 5 juta rupiah per bulan. Barangkali istilah UM bisa beragam, misal, UMR, UMK, atau UMP. Sementara, BPO di Indonesia berada di kisaran ratusan juta rupiah sampai beberapa milyar rupiah per bulan untuk seorang pejabat.

“Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Kediri Bambang Priyambodo, Kamis mengemukakan besaran UMK yang ditetapkan di Kota Kediri untuk 2023 adalah Rp2.318.116.”

Di kota Kediri, Jawa Timur, UM adalah 2 juta rupiah lebih sedikit. Sementara di Jakarta, UM adalah hampir 5 juta rupiah. Apakah angka-angka UM sebesar itu bernilai benar?

Logika-past menjawab angka UM sudah benar. Karena, nilai UM sudah ditetapkan oleh pihak berwenang melalui prosedur formal.

Logika-present menjawab angka UM sudah benar. Karena, berdasar peraturan yang berlaku saat ini, memang, angka-angka UM seperti itu.

Bagaimana jawaban logika-futuristik? Logika-futuristik menerima bahwa angka UM memang sudah sesuai dengan aturan yang berlaku, past dan present. Hanya saja, kita bisa bertanya lanjut, “Apakah angka UM sebesar, atau sekecil, itu adil bagi buruh untuk menyongsong masa depan?”

Ambil contoh UM Kediri yang sekitar 2 juta per bulan, atau setara 70 ribu per hari. Seorang suami hidup bersama seorang istri dan 2 orang anak akankah bisa hidup layak dengan angka sebesar itu? Dibagi oleh 4 orang, maka, rata-rata per orang Rp 17.500,- per hari. Untuk keperluan makan, rumah, pakaian, sabun cuci, sekolah, bensin, dan lain-lain. Akankah mereka bisa menyongsong masa depan yang cerah?

Sulit untuk menjawab positif terhadap pertanyaan di atas. Dengan cara yang sama, untuk Jakarta, setara 40 ribu rupiah per hari. Biaya hidup di Jakarta sangat mahal. Akankah buruh di Jakarta mampu menyongsong masa depan yang cerah?

Sejenak, mari beralih ke analisis BPO, biaya penunjang operasional. Capres Prabowo, waktu debat 2019, pernah berniat hendak menaikkan gaji gubernur yang waktu itu sekitar 8 juta rupiah per bulan. Terlalu kecil kan? Untuk ukuran pejabat gubernur, angka 8 juta rupiah tentu terasa kecil. Tetapi, kita perlu mengkaji BPO yang jarang diulas.

“Artinya, jika tahun ini PAD Jakarta mencapai target sebesar Rp 51 triliun (sesuai Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah 2019), Anies berhak atas BPO sebesar Rp 3,15 miliar setiap bulan. Sementara Wakil Gubernur dapat Rp 2,21 miliar/bulan.”

Dengan BPO sebesar 3 milyar lebih per bulan, maka, angka gaji gubernur yang 8 juta itu memang tidak ada arti apa-apa. Apakah BPO sebesar itu adil dan benar bagi rakyat dan negara?

Jawaban logika-past dan logika-present adalah positif. Angka BPO sebesar itu sudah benar berdasar peraturan yang sudah ditetapkan dan berlaku sampai saat ini, past dan present.

Apa jawaban logika-futuristik? Kita bisa mengajukan pertanyaan lanjutan, “Bagaimana manfaat BPO itu bagi rakyat?” Barangkali ada beberapa aturan yang mengatur penggunaan BPO. Tetapi, secara prinsip, gubernur memiliki kebebasan menggunakan BPO untuk kepentingan bersama. Sehingga, ada baiknya, dilakukan kajian mendalam tentang BPO dan efeknya untuk masa depan.

Problem Eksak

Kali ini, kita akan melanjutkan analisis terhadap paradoks yang bersifat eksak, yaitu matematika. Contoh kasus sebelumnya, tentang UM dan BPO, adalah problem sosial. Sehingga, kita lebih fleksibel menghadapi beberapa paradoks sosial. Bagaimana dengan paradoks eksak?

Paradoks Godel adalah contoh paradoks eksak yang diakui secara luas. Paradoks Godel terbukti valid dan tahan uji hampir 1 abad berlalu. Setiap sistem formal, termasuk matematika, pasti tidak konsisten atau tidak lengkap. Terdapat pernyataan G dan negari G, yaitu (-G), dalam sistem formal. Sistem tidak bisa memastikan apakah G atau (-G) yang benar. Paradoks. Bagaimana solusinya?

Logika-past dan logika-present mengkaji ulang paradoks Godel. Mereka menemukan paradoks memang valid. Lalu, bagaimana? Tidak bisa melakukan apa-apa. Faktanya, memang paradoks.

Apa solusi logika-futuristik?

Logika-futuristik menerima kajian paradoks Godel. Lanjut bertanya, “Apa konsekuensi dari paradoks tersebut?”

Jika konsekuensi dari paradoks adalah signifikan maka selesaikan paradoks dengan menambah teorema, atau aksioma, bahwa G bernilai benar. Paradoks memang selesai. Tetapi, muncul paradoks baru antara H dan (-H) akibat dari penambahan aksioma. Solusi bisa diulang. Jika paradoks signifikan maka tambahkan aksioma sampai paradoks tidak signifikan. Situasi terbaik, lebih ringan, bila paradoks sejak awal sudah tidak signifikan. Paradoks selesai.

Dengan logika-futuristik, paradoks bisa ditangani dengan baik, eksak mau pun sosial. Bagaimana pun, logika-futuristik tetap terbuka dengan dinamika masa depan.

Problem sains

Paradoks sains adalah tengah-tengah antara eksak dan sosial, ada aspek pengujian empiris. Kita akan mengkaji paradoks dari logika quantum.

Paradoks ketidakpastian meliputi epistemologi dan ontologi. Quantum tidak bisa mengetahui, secara pasti, posisi dan kecepatan elektron bersamaan. Quantum juga tidak bisa memastikan eksistensi elektron dalam kotak apakah eksis atau tidak. Bagaimana solusi logika-past dan logika-present?

Paradoks. Terpaksa menerima paradoks apa adanya. Logika-past dan present hanya bisa menerima paradoks itu.

Apa solusi logika-futuristik?

Logika-futuristik mengajukan pertanyaan, “Apa konsekuensi paradoks tersebut terhadap masa depan?” Jika tidak ada konsekuensi signifikan di masa depan, maka, terima paradoks tersebut. Jika ada konsekuensi signifikan di masa depan, maka, lanjutkan kajian berdasar logika-futuristik. Barangkali, paradoks bisa diselesaikan dengan meta-teori dan meta-perspektif. Bagaimana pun, kita tetap terbuka dengan posibilitas baru.

Bagaimana dengan paradoks quantum entanglement (QE)? Seakan-akan ada informasi yang dikirimkan dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya.

Logika-past dan logika-present bisa memilih solusi yang diajukan oleh Einstein dan kawan-kawan dalam makalah EPR. Paradoks terjadi akibat ada sesuatu yang belum diketahui oleh teori quantum, yaitu, hidden variable (HV). Jika HV ditemukan, diperhitungkan oleh quantum, maka tidak ada paradoks. Paradoks selesai. Tidak ada kecepatan melebihi cahaya.

Pada tahun 1964, Bell membuktikan bahwa HV tidak eksis. Beberapa eksperimen, di masa berikutnya, menguatkan teorema Bell bahwa HV tidak eksis- tepatnya HV lokal. Jadi, paradoks QE tetap eksis sampai sekarang.

Apa solusi logika-futuristik terhadap QE?

Konsekuensi QE di masa depan adalah besar. Komputer quantum dan telekomunikasi quantum memanfaatkan QE. Justru, karena ada kecepatan “seakan-akan” melebihi cahaya maka menjadi keunggulan tersendiri. Tetapi, terjadi paradoks dengan postulat relativitas.

Menariknya, perkembangan teknologi quantum, ke masa depan, tidak terhambat oleh paradoks QE. Karena, teknologi senantiasa melihat posibilitas dari masa depan. Dengan memanfaatkan probabilitas dan statistik, teknologi tetap bisa berkembang bedasar quantum yang probabilistik dan temporal.

Tetapi, akankah ada solusi secara teoritis terhadap paradoks QE?

Berikut beberapa alternatif solusi berdasar logika-futuristik.

(1) Kita perlu membuka posibilitas bahwa kecepatan maksimum lebih dari kecepatan cahaya c. Mekanika Newton tetap valid untuk fenomena sehari-hari, meski, teori Relativitas lebih valid untuk fenomena dengan kecepatan tinggi. Di masa depan, mungkin saja dikembangkan teori baru dengan postulat kecepatan maksimum yang lebih dari cahaya.

(2) Tetapan energi minimal e = hf juga perlu dikaji ulang dengan pertimbangan mirip di atas.

(3) Penemuan medan-Higgs membangkitkan kembali interpretasi eksistensi mirip eter. Perlu kajian serius terhadap fenomena mirip-eter yang, barangkali, menjadi media komunikasi QE.

(4) Bohm (dan Broglie) mengembangkan solusi pilot-wave yang menyelesaikan paradoks QE. Tetapi, pilot-wave memerlukan eksistensi mirip-eter, sehingga, perlu kajian lebih jauh lagi.

(5) Secara eksistensial, paradoks QE sudah selesai. Karena, seluruh eksistensi adalah satu kesatuan, sehingga, kecepatan melebihi cahaya adalah mungkin. Tetapi, sains adalah kajian esensial – sebagai fokus utama. Ketika kita hendak menggabungkan kajian eksistensial dan esensial, maka, perlu jembatan. Dan, jembatan itu harus berupa kajian esensial. Sementara, kajian eksistensial sebagai sumber inspirasi. Dengan demikian, kajian esensial sains akan terus dinamis karena terhubung dengan kajian eksistensial.

Masih banyak, ide-ide yang bisa kita kembangkan dengan logika-futuristik.

5.2 Demokrasi

Logika-futuristik menghormati posibilitas, freedom, dan komitmen. Konsekuensinya, akan bermunculan banyak ide yang beragam. Bagaimana kita menyikapi perbedaan? Demokrasi menjadi salah satu alternatif terbaik.

Demokrasi, dalam konteks kali ini, adalah menentukan kebenaran berdasar suara terbanyak: voting. Tentu saja, sebelum voting dilakukan komunikasi, dialog, diskusi, debat, dan sebagainya. Seandainya diperoleh mufakat, satu suara, dalam proses komunikasi, maka, tercapai konsensus atau konvensi. Pada situasi ini, penilaian kebenaran didasarkan pada konsensus.

Dalam banyak kasus, tetap terjadi perbedaan maka dissensus. Masing-masing pihak berpegang pada kebenarannya sendiri yang beragam. Situasi dissensus bisa diterima ketika masing-masing pihak saling terpisah, saling independen. Problem muncul ketika masing-masing pihak memiliki kepentingan bersama, misal pemilihan gubernur. Hanya boleh eksis satu gubernur dalam satu provinsi. Tidak diijinkan dissensus.

Voting berdasar suara terbanyak menjadi pilihan dalam demokrasi. Berbagai wilayah menyelenggarakan pemilihan umum untuk menentukan suara terbanyak.

Apa saja yang perlu jadi pertimbangan agar demokrasi berjalan baik?

Substansi

(1) Obyek pilihan – presiden, kepala daerah, undang-undang, program – perlu dipastikan memiliki karakter kebenaran logika-futuristik: posibilitas, freedom, dan komitmen.

(2) Setiap pilihan perlu dipastikan sebagai pilihan yang baik. Pilihan hanya berbeda dalam prioritas. Sehingga, pilihan mana pun yang menang suara terbanyak, maka, tetap berdampak baik.

(3) Bagaimana pun, hasil pilihan tetap futural, sehingga perlu komitmen untuk menjalankan kebaikan. Bisa juga, ternyata salah pilihan, maka, perlu dilakukan revisi seiring waktu.

Proses

(1) Freedom. Setiap orang, setiap pihak, bebas menentukan pilihan sesuai dirinya. Tidak ada paksaan. Tidak ada intimidasi. Tidak ada hipnotis. Bebas dan membebaskan.

(2) Transparant. Berbagai macam informasi yang signifikan dibuka untuk publik, sehingga, setiap orang bisa menentukan pilihan dengan pertimbangan yang baik.

(3) Tidak curang. Semua proses demokrasi perlu dijamin berlangsung adil tanpa kecurangan.

Bila kita mempertimbangkan substansi demokrasi, maka, demokrasi memang baik. Karena, pihak mana pun yang menang suara terbanyak, tetap berdampak baik bagi masa depan. Tetapi, substansi demokrasi ini sulit diverifikasi karena perbedaan perspektif, misalnya. Sehingga, verifikasi kualitas demokrasi akan bergerak ke proses atau prosedur. Proses yang baik akan menghasilkan substansi demokrasi yang baik.

Problem muncul, ketika, pihak tertentu memanipulasi proses, sedemikian hingga, proses demokrasi berjalan baik, tetapi substansinya buruk. Demokrasi hanya menguntungkan pihak tertentu saja dan merugikan pihak lain. Tentu saja, manipulasi demokrasi perlu diberantas. Tidak mudah melakukan itu. Beberapa lembaga melakukan survey demokrasi yang menunjukkan banyaknya demokrasi cacat di dunia, termasuk di Indonesia.

Dengan demikian, demokrasi itu sendiri bersifat futural. Demokrasi perlu terbuka untuk revisi. Dan, kita sendiri perlu terbuka untuk beragam alternatif solusi futuristik.

5.3 Expert

Penilaian oleh satu orang expert, pakar, bisa lebih bagus dari penilaian puluhan orang awam. Diagnosis oleh seorang dokter spesialis bisa lebih bagus dari penilaian oleh sepuluh orang awam. Apakah expertise, kepakaran, bertentangan dengan demokrasi?

Pakar, ahlinya ahli, tersebar di berbagai bidang. Pakar kedokteran, pakar hukum, pakar teknologi, pakar seni, pakar agama, pakar olah raga, pakar bisnis, dan lain-lain. Dalam masing-masing kepakaran bercabang lagi, misal, pakar hukum bisnis, pakar hukum tata negara, pakar hukum pidana, dan lain-lain. Singkat kata, jumlah pakar banyak sekali.

Lebih menantang lagi, ada banyak cara menentukan kepakaran seseorang. Bisa dari tingkat pendidikan formal dan non-formal. Bisa juga dari pengakuan masyarakat luas. Atau, bisa juga dari karya mereka.

(1) Penilaian oleh satu orang pakar lebih baik dari satu orang yang bukan pakar.

(2) Terdapat banyak jumlah pakar, tak tentu.

(3) Dalam demokrasi: satu orang satu suara. Suara pakar sama saja dengan suara orang biasa.

Menerapkan demokrasi murni, kita akan rugi karena kehilangan manfaat pakar. Memberi keistimewaan kepada pakar, kita juga bisa rugi karena kepakaran tidak menjamin kebaikan. Sehingga, logika-futuristik memang harus analisis ke masa depan untuk menemukan kompromi terbaik antara demokrasi dan pakar.

Solusi sederhana yang bisa kita pertimbangkan adalah dengan demokrasi berjenjang. Ada pemilu yaitu pemilihan umum di mana setiap orang dewasa berhak memberikan suara. Ada pemilihan terbatas di mana hanya pakar-pakar tertentu yang berhak ikut serta. Pemilihan presiden adalah pemilu. Pemilihan ketua organisasi masyarakat, ormas, hanya diikuti oleh pakar ormas. Yang terjadi bukan demokrasi antar para pakar, tetapi, demokrasi antar para pihak yang berkepentingan. Lagi pula, menentukan kepakaran tidak mudah, sehingga, dampak demokrasi pakar sulit diakui. Misal di Indonesia ada ICMI, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, sebuah demokrasi para pakar, tetapi, dampaknya tidak semua rakyat mengakuinya.

Saya terpikir solusi demokrasi pakar adalah teknologi futuristik, yaitu, demokrasi artificial intelligence (AI). Pertama, di dalam AI sendiri berkembang sistem pakar. AI sistem pakar perlu untuk terus dikembangkan makin canggih, lebih terbuka, agar AI mampu mencerminkan kepakaran dari para pakar. Kedua, sistem pakar yang beragam ini membentuk asosiasi pakar, di mana, para sistem pakar berdebat dan berdiskusi sesuai kepakaran mereka. Asosiasi pakar ini memberi kesimpulan akhir yang dibutuhkan oleh masyarakat. Ketiga, masyarakat luas bisa mengakses sistem pakar dan asosiasi pakar secara terbuka. Masyarakat luas bisa berdiskusi dengan sistem pakar dan asosiasi pakar sampai mendapat rekomendasi akhir. Setelah melewati tahap-tahap di atas, masyarakat memberikan suara melalui pemilu atau referendum. Karena, teknologi futuristik makin canggih, maka, referendum bisa lebih sering dilaksanakan.

Dalam kasus tertentu, bahkan asosiasi pakar adalah yang memberi keputusan akhir dari pilihan-pilihan yang sudah diseleksi secara demokratis. Ilustrasi penggunaan VAR dalam menghakimi perbedaan penilaian wasit dan atlet merupakan contoh menarik. Wasit dan atlet sepakat, dalam kondisi tertentu, VAR yang memberi keputusan akhir. Tentu saja, masih banyak tantangan di masa depan. Demikianlah logika-futuristik.

6. Ekonomi Futuristik

Di bagian akhir ini, kita akan membahas contoh solusi logika-futuristik terhadap problem ekonomi dan politik. Kita bisa mengawali dengan mengajukan beberapa pertanyaan.

Apa tujuan ekonomi? Apakah bersifat personal atau sosial? Bagaimana peran lembaga – swasta mau pun negara?

6.1 Tujuan Ekonomi

Mengapa orang berkerja? Cari uang.

Apa tujuan ekonomi? Mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan usaha sekecil-kecilnya. Tujuan kapitalisme adalah mengumpulkan kapital, agar kemudian, kapital bekerja untuk memperbesar kapital lagi. Tujuan sosialisme adalah mengumpulkan kapital (sumber produksi) agar menjadi milik negara, untuk kemudian, menghasilkan kapital (sumber produksi) lagi sebagai milik sosial.

Mengapa begitu? Karena, sejak sekolah dasar kita diajarkan seperti itu (logika-past). Sampai sekarang pun, diajarkan seperti itu (logika-present).

Apa solusi logika-futuristik? Seperti biasa, kita menerima logika klasik dan melanjutkan bertanya, “Apa konsekuensi bagi masa depan?” Jika orang bekerja untuk mencari uang, maka, resiko akan kesehatan pekerja, keselamatan pekerja, kehidupan pekerja, keseimbangan hidup, keadilan, etika, agama, dan lain-lain.

Jika ekonomi untuk menambah kapital, maka, resiko krisis iklim, perusakan lingkungan, perbudakan, penipuan, dan lain-lain. Jika ekonomi untuk mengumpulkan sumber produksi atas nama sosial, maka, resiko yang sama bisa muncul.

Logika-futuristik mengajak kita untuk memikirkan ulang tujuan ekonomi. Tujuan ekonomi adalah untuk membuka posibilitas baru guna membebaskan manusia, diri sendiri dan masyarakat, dari kekangan kebutuhan dasar – makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak untuk semua. Untuk mencapai tujuan itu, umat manusia perlu mengembangkan komitmen yang tinggi, saling kerja sama, serta mengembangkan filosofi, sains, seni, dan teknologi. Setelah kebutuhan dasar, manusia bisa bergerak lebih jauh lagi. Silakan kembangkan terus ide-ide Anda tentang ekonomi masa depan.

6.2 Personal dan Sosial

Pasar bebas menunjukkan bahwa ekonomi adalah tanggung jawab individu, personal. Para sosialis meyakini bahwa ekonomi adalah tanggung jawab sosial maka perlu perencanaan terpusat oleh negara, misalnya. Realitas ekonomi saat ini, tampaknya, sedang dimenangkan oleh pasar bebas kapitalisme liberal.

Apa solusi logika-futuristik? Pasar bebas berhasil memunculkan inovasi-inovasi baru dalam bisnis sampai melahirkan milyuner-milyuner baru. Dengan resiko kesenjangan sosial, kemiskinan massal, dan kehampaan hidup. Sosialis berhasil mengendalikan pasar dengan resiko tersendatnya pertumbuhan ekonomi. Apa yang perlu diubah di masa depan? Apa yang perlu dipertahankan di masa depan? Apakah urusan ekonomi menjadi paling utama atau ada yang lebih utama? Apakah ukuran ekonomi atau pertumbuhan ekonomi memang paling penting di masa depan? Bukankah, ukuran bumi relatif konstan? Kita, benar-benar, perlu merumuskan ulang ekonomi dengan pendekatan logika-futuristik.

6.3 Peran Lembaga

Lembaga, negara, berperan penting untuk mendukung ekonomi yang sehat. Di saat yang sama, lembaga negara termasuk yang paling sering terlibat kasus korupsi, tidak efisien, dan kualitas rendah. Bagaimana peran lembaga dan negara bagi ekonomi masa depan?

7. Politik Futuristik

Politik merupakan tantangan paling sulit bagi manusia sepanjang sejarah.

Apa tujuan politik? Siapa harus berpolitik? Sistem politik apa yang terbaik?

7.1 Tujuan Politik

Apa tujuan politik? Tujuan politik adalah mempolitisasi segalanya, politik atau non-politik. Lebih jauh, tujuannya adalah memenangkan pertarungan politik.

Mengapa bisa begitu? Karena, begitulah realitas yang tampak di masa lalu sampai masa kini. Tentu saja, realitas politik beragam. Ada yang seperti penampakannya, ada yang lebih parah, dan ada yang sangat mulia dalam politik.

Apakah realitas politik di masa depan bisa berubah? Tentu saja. Logika-futuristik menunjukkan bahwa politik adalah posibilitas, freedom, dan komitmen itu sendiri. Secara sederhana, tujuan politik adalah memanfaatkan seluruh sumber politik untuk mewujudkan masa depan yang posibilitas terbuka luas, freedom yang bebas dan membebaskan, serta menumbuhkan dan menuntut komitmen semua pihak. Politik memanfaatkan seluruh modal fakta masa lalu dengan modifikasi aktif masa kini.

7.2 Freedom

Politik menjadi sangat sulit dibahas karena politik adalah manifestasi freedom dalam arti harfiahnya. Politik adalah kebebasan itu sendiri. Politik menjadi terbatas karena politik menetapkan batasan bagi dirinya sendiri. Sewaktu-waktu, politik bisa membubarkan batasan itu.

Tentu saja, fakta alamiah tetap inheren dalam politik. Maksudnya, jika semua manusia mati maka politik juga mati. Atau, jika alam raya hancur maka politik juga hancur. Tetapi, dalam pengertian kegiatan manusia yang wajar, politik adalah freedom itu sendiri. Karena itu, pemain politik haruslah orang-orang yang benar-benar baik.

7.3 Keadilan dan Kebaikan

Dalam politik, keadilan adalah yang paling utama. Sedangkan kebaikan, bisa menjadi jalan lurus atau jalan menyimpang dalam politik. Adil adalah memberikan sesuai haknya. Sedangkan, kebaikan adalah memberikan lebih dari haknya, sehingga ada kesan baik pada kebaikan.

Capres 2024

Nama capres 2024 makin hangat menjadi perbincangan politik Indonesia. Prabowo adalah politikus senior yang bertanding penuh stamina sejak 2009, 2014, 2019, dan barangkali 2024.

Kita akan mencermati peran logika-futuristik capres 2024 khususnya belajar dari pengalaman Prabowo.

Pada tahun 2009, Prabowo berpasangan sebagai cawapres dari Mega. Koalisi Gerindra dan PDIP menebarkan optimisme kemenangan, meski, SBY-Budiono yang menang. Saat itu, Prabowo sepakat sebagai cawapres dengan harapan tahun 2014 akan jadi capres dengan koalisi yang sama. Prabowo dengan baik menerapkan logika-futuristik di sini.

Pilpres 2014 tiba. PDIP mencalonkan Jokowi-JK sebagai capres. Pihak Prabowo berharap, seharusnya, PDIP mendukung Prabowo sebagai capres 2014 berdasar pengalaman 2009.

Logika-past, mengacu pembicaraan 2009, tidak berhasil di sini. Mega tidak bisa dipaksa untuk memenuhi interpretasi terhadap kesepakatan 2009 – bila seandainya ada. PDIP menerapkan logika-futuristik bahwa Jokowi-JK akan menang dan membawa kebaikan bagi PDIP dan Indonesia umumnya di masa depan.

Tahun 2019, Prabowo merapat ke kabinet Jokowi dengan harapan lebih dekat dengan PDIP. Dengan kedekatan ini, Prabowo bisa berharap koalisi PDIP dan Gerindra akan mencalonkan Prabowo sebagai capres 2024.

Tetapi, sampai di sini, kita tahu bahwa tidak ada logika-past, tidak ada fakta masa lalu, yang bisa menjadi argumen untuk memastikan capres 2024 di masa depan ini. Siapa capres 2024 dari PDIP? Hanya logika-futuristik yang dominan di dunia politik. Apakah capresnya adalah Prabowo, Ganjar, Puan, Gibran, atau lainnya, pertimbangannya adalah siapa yang akan memberikan dampak terbaik bagi masa depan PDIP dan Indonesia.

Karena logika-politik adalah logika-futuristik maka politik adalah posibilitas, freedom, dan komitmen.

Dalam kehidupan sehari-hari beragama, kita juga sering memanfaatkan logika-futuristik. Mengapa beramal soleh dan tidak mencuri? Bukan karena sekedar ayat suci telah memerintahkan dan melarang itu. Tetapi, terutama, karena di masa depan ada pahala dan siksaan. Masa depan di sini bisa mencakup surga dan neraka, dan bisa juga, masa depan di kehidupan ini.

Perppu Ciptaker

Kita akan mencoba mencermati kasus UU Ciptaker dan Perppu Ciptaker yang menjadi hadiah jelang tahun baru 2023 ini.

Secara ringkas, UU Ciptaker diajukan presiden dan disetujui DPR pada tahun 2020. Sehingga, secara formal legal konstitusional UU Ciptaker adalah UU yang sudah sah. Terjadi demo besar-besaran, saat itu puncak pandemi covid, menentang UU Ciptaker.

Pada akhir 2020, MK menganulir UU Ciptaker dengan menyatakan bahwa UU Ciptaker inkonstitusional bersyarat. Menariknya, media (dan massa) tampak berbeda dengan pemerintah dalam membaca putusan MK.

(1) Media membaca putusan MK yang menyatakan bahwa UU Ciptaker inkonstitusional karena pemerintah tidak melakukan partisipasi publik yang bermakna. MK tidak perlu uji materi karena, bila pemerintah melaksanakan partisipasi bermakna, maka, niscaya publik bersama pemerintah dan dewan melakukan uji materi dengan baik. Sehingga, fokus utama adalah partisipasi bermakna.

(2) Pemerintah membaca putusan MK sebagai menyoroti cacat formal dari UU Ciptaker, sementara, uji materi sama sekali tidak dibahas. Artinya, UU Ciptaker secara materi baik-baik saja. Cacat formal itu sendiri lantaran belum ada dasar omnibus law. Tidak lama berselang, pemerintah menerbitkan peraturan omnibus law.

Dengan posisi itu, pemerintah sudah yakin di jalur yang benar. Sisi formal berupa omnibus law sudah beres. Sisi materi sudah sejak awal baik-baik saja. Tidak diperlukan apa-apa lagi untuk Ciptaker. Agar efisien dan hemat, pemerintah menetapkan Perppu Ciptaker pada 30 Desember 2022.

Bagaimana pun, di dalam kabinet sendiri terjadi perdebatan seru apakah perlu untuk menerbitkan Perppu Ciptaker.

“Pada akhirnya, kata Mahfud, Presiden memilih tetap menerbitkan Perppu Ciptaker. Aturan baru ini sekaligus menganulir putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91/PUU-XVIII/2020, yang sebelumnya menyatakan UU Ciptaker inkonstitusional bersyarat.”

“Langkah strategis diperlukan karena ada keperluan mendesak, yang secara subjektif dianggap oleh Presiden mendesak. Apa itu? Yaitu geopolitik di beberapa kawasan panas, perang Rusia-Ukraina menurut Presiden jadi alasan genting untuk segera mengantisipasi dengan membuat langkah strategis. Langkah strategisnya nggak boleh dibuat kalau belum ada undang-undang atau perppu. Itu tafsir Presiden.”

Pemerintah mengakui bahwa penerbitan Perppu Ciptaker berdasar interpretasi subyektif Presiden atas banyak hal. Tentu saja, proses tersebut adalah sah.

Bagaimana tanggapan media dan massa?

Media massa mengkritik penerbitan Perppu Ciptaker. Sebagian ahli merasa bahwa pemerintah justru menghindari saran MK, yang seharusnya, pemerintah menyelenggarakan partisipasi bermakna. Kita bisa mencermati lebih banyak ragam kritik terhadap penerbitan perppu di media sosial.

Bagaimana solusinya? Saya kira sudah jelas, solusinya adalah logika-futuristik. Jika mengandalkan past dan present hanya akan mempertajam perbedaan. Meski penting analisis tersebut, kita perlu untuk menatap future.

Tetapi, bukankah proses yang panjang membutuhkan biaya? Bukankah uang negara, yang digunakan itu, sejatinya adalah uang rakyat? Bukankah uang rakyat itu lebih baik digunakan untuk kepentingan rakyat? Bukankah Perppu Ciptaker adalah demi rakyat?

Kita akan menemukan solusi bila fokus terhadap logika-futuristik. Kita akan berhasil membangun negeri dan membela wong cilik ketika kita sadar bahwa semua klaim politik adalah posibilitas, freedom, dan komitmen. Kita punya masa depan cerah dengan berpikir terbuka.

Mari kita cermati kembali problem keadilan dan kebaikan. Capres 2024 menurut saya adil dan baik. Adil karena sesuai konstitusi yang sudah dibahas dengan teliti oleh para ahli. Baik karena akan terjadi penyegaran kepemimpinan nasional.

UU dan Perppu Ciptaker ada resiko tidak adil dan tidak baik. Tidak adil karena, menurut MK, prosesnya tidak melibatkan partisipasi bermakna. Lebih tidak adil lagi bila over time dan over budget. Karena, semua dibiayai oleh uang negara yang sejatinya uang rakyat. Jutaan rakyat kita adalah wong cilik yang sulit untuk makan layak, sulit sekolah layak, sulit kesehatan layak, apalagi kemewahan. Tetapi, UU dan Perppu Ciptaker bisa menjadi adil dan baik bila semua pihak berjuang untuk mewujudkan masa depan adil makmur untuk rakyat Indonesia, khususnya, adil makmur bagi wong cilik.

Masa depan cerah ada di hadapan kita. Tantangan kita adalah untuk eksplorasi logika-futurustik guna membuka posibilitas luas, freedom bebas dan membebaskan, serta menuntut dan mendorong komitmen bersama.

Catatan Penutup

Logika-futuristik berhasil menyelesaikan paradoks-paradoks yang berkembang dari logika-klasik. Paradoks-paradoks bisa kita kelompokkan menjadi dua macam: meta-teori dan meta-perspektif. Dalam pembahasan, logika-futuristik berhasil menyelesaikan paradoks Godel (matematika), paradoks quantum (sains), dan paradoks demokrasi (sosial). Secara implisit, logika-futuristik dapat kita gunakan untuk menyelesaikan setiap paradoks karena karakter kebenaran bersifat posibilitas, freedom, dan komitmen. Termasuk, kita perlu menjawab, “Mengapa logika benar?” Dan, “Mengapa benar itu benar?”

Dari beragam logika formal, saya merekomendasikan bentuk implikasi sebagai paling fundamental. Implikasi bisa berupa silogisme partikular-universal (Aristotelian) mau pun kreatif-tidak-berhubungan (Boolean). Bagaimana pun, klaim kebenaran implikasi tersebut hanya bisa dibuktikan melalui logika-futuristik. Bahkan pemahaman, definisi, dan interpretasi juga bersumber dari logika-futuristik.

Saya perlu menambahkan bahwa implikasi “Jika teori (T) maka verifikasi empiris (E)” tidak pernah bisa membuktikan validitas (T). Yang bisa terjadi hanya falsifikasi, yaitu, ketika (E) salah maka kita bisa menolak (T). Dari perspektif logika-futuristik, verifikasi atau pun falsifikasi melalui data empiris (E) sama-sama bernilai penting. Logika-futuristik tidak menolak logika-klasik, atau logika mana pun, tetapi, merangkul semua dalam bentangan future-past-present.

Dalam pembahasan demokrasi vs pakar, saya mengusulkan demokrasi AI, yaitu, demokrasi yang terdiri dari sistem pakar yang membentuk asosiasi pakar. Dalam situasi umum, rakyat luas terbuka untuk akses asosiasi pakar, untuk kemudian, rakyat bisa menentukan suara pemilu atau referendum dengan lebih bijak. Dalam situasi tertentu, kita bisa menyepakati asosiasi pakar sebagai juri terakhir menetapkan keputusan, mirip penerapan VAR dalam olah raga. Tentu saja, usulan di atas adalah usulan futuristik dari logika-futuristik.

Di bagian akhir, kita membahas ekonomi dan politik futuristik. Politik adalah freedom sejati. Karena itu, politik dipenuhi oleh logika-futuristik. Semua klaim politik berdasar data past dan present perlu dikaji ulang dengan perspektif logika-futuristik. Dengan demikian, semua pihak perlu terbuka terhadap klaim politik demi mewujudkan kebaikan bersama.

Logika-futuristik masih terlalu muda. Sehingga masih banyak kelemahan dan kekurangan di berbagai tempat. Saya mengajak semua pihak untuk ikut mengkritisi dan mengembangkan logika-futuristik. Dari pembahasan di atas, saya yakin, logika-futuristik mampu berkontribusi besar terhadap kemajuan umat manusia dan semesta.


Bawa Kebaikan ke Manusia

Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat ke sesama manusia – dan semesta. Bawa kebaikan ke manusia dan bawa manusia ke kebaikan adalah judul web saya di pamanapiq.com. Dua tugas, di atas, sama-sama penting.

Sudah cukup jelas maksud pesan di atas: bawa kebaikan ke manusia. Tetapi, kita masih bisa bertanya apa makna-kebaikan? Apa makna-manusia? Apa makna-bawa?

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita ke kebaikan lebih mendalam lagi. Kita akan mencoba membahasnya.

1. Kebaikan vs Keadilan
2. Kebaikan vs Kebenaran
3. Makna-Manusia
4. Makna-Bawa
5. Kebaikan Digital

Kita akan membahas kebaikan dari sisi makna dan definisi. Makna adalah pemahaman yang kita pikirkan secara sederhana dan terbuka dengan beragam posibilitas baru. Sedangkan, definisi adalah pengertian yang membatasi dengan maksud tertentu. Definisi bersifat ketat, sementara, makna bersifat fleksibel. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memanfaatkan makna. Dalam kajian ilmiah, sering dipersyaratkan menerapkan definisi.

1. Kebaikan vs Keadilan

Kebaikan adalah memberikan sesuatu yang lebih bermanfaat, lebih baik, dari harapan. Keadilan adalah memberikan sesuatu sesuai dengan haknya. Dengan makna ini, kebaikan adalah tindak lanjut dari keadilan.

Harus mengutamakan kebaikan atau keadilan?

Utamakan kebaikan dalam konteks personal. Tetapi, utamakan keadilan dalam konteks sosial.

Ketika Anda berurusan dengan teman maka utamakan untuk berbuat baik. Anda traktir teman minum kopi adalah kebaikan. Anda pinjamkan uang ke teman yang membutuhkannya, adalah, kebaikan. Anda bersedekah ke tetangga dan saudara adalah kebaikan.

Ketika Anda berurusan dengan struktur sosial maka utamakan keadilan di atas kebaikan.

Seorang pejabat menjanjikan gaji ke buruh adalah 3 juta rupiah. Saatnya gajian, pejabat itu membayar 4 juta rupiah. Maka yang 1 juta, kelebihannya, adalah kebaikan. Sementara, yang 3 juta, sesuai hak buruh adalah keadilan.

Tetapi, kebaikan sosial seperti di atas bisa berdampak buruk. Mengapa?

Karena kebaikan sosial, seperti di atas, bisa menjadi topeng pencitraan untuk menutupi borok pejabat melanggar keadilan. Apakah gaji buruh 3 juta itu sudah adil? Berapa gaji pejabat? Besar gaji pejabat total bisa 30 juta atau sampai ratusan juta? Apakah adil gaji buruh adalah 3 juta?

Misal, setelah dikaji ulang, gaji buruh yang adil adalah 5 juta. Maka, tindakan kebaikan sosial oleh pejabat, memberi tambahan 1 juta terhadap gaji 3 juta adalah topeng pencitraan. Dengan kebaikan sosial itu, buruh dan rakyat jadi sungkan untuk menuntut keadilan. Padahal mereka, buruh dan rakyat, berhak mendapat keadilan.

Jadi, dalam koteks sosial, tegakkan keadilan sebagai paling utama. Kebaikan sosial hanya bisa dilakukan setelah keadilan ditegakkan.

Apakah kita bisa mengetahui sistem sosial sudah adil atau belum? Bisa jadi, jawabannya adalah negatif. Atau, lebih tepatnya, jawabannya adalah dinamis. Sebagai pejabat, Anda harus konsisten berjuang menegakkan keadilan untuk seluruh rakyat. Makna pejabat di sini bisa saja pejabat perusahaan swasta atau pun yayasan dan sejenisnya.

Bagaimana pun, kita berinteraksi sosial secara personal. Maksudnya, setiap interaksi sosial kita pasti melibatkan diri kita secara personal. Sehingga, dalam situasi apa pun, kita “wajib” berbuat baik. Hanya saja, kebaikan itu kadang kala harus disembunyikan agar tidak menjadi topeng pencitraan.

Fokus kita, dalam ungkapan ringkas, adalah “Bawa kebaikan ke manusia dan bawa manusia ke kebaikan.”

Apa yang kita bahas di atas adalah makna kebaikan dan keadilan. Sedangkan, definisi kebaikan dan keadilan, silakan Anda bisa mendefinisikan sesuai kebutuhan. Berikut adalah beberapa definisi yang bisa Anda pertimbangkan.

Keadilan: memberikan sesuai haknya, sesuai ukuran yang tepat. Apa itu hak? Apa itu ukuran?

Kebaikan: memberikan lebih baik dari hak seharusnya.

Kebenaran: kenyataan apa adanya. Apa itu kenyataan? Apa maksud dari apa adanya?

2. Kebaikan vs Kebenaran

Dahulukan kebaikan dari kebenaran. Mengapa? Karena keduanya, kebaikan dan kebenaran, adalah sama-sama klaim semata.

Saran di atas berlaku secara general belaka. Secara spesifik, kita perlu mengkaji konteks. Dalam matematika, klaim kebenaran menjadi paling utama.

Mengapa secara umum kita lebih penting mengutamakan kebaikan di atas kebenaran? Karena, konsekuensi kebaikan adalah baik. Sementara, konsekuensi kebenaran bisa saja buruk. Padahal, kedua klaim bisa saja sama-sama salah klaim.

Tentu saja, kondisi ideal adalah terpenuhi baik dan benar – plus adil pula. Dalam kajian teoritis, bisa saja kita mengklaim XYZ adalah baik, benar, dan adil. Sehingga, kita perlu mendukung XYZ. Kita memang harus memperjuangkan XYZ dalam contoh kasus ini.

Dalam realitas, apakah kita bisa klaim XYZ sebagai baik, benar, dan adil? Sulit sekali!

Pertama, setiap klaim XYZ perlu landasan yang berupa klaim juga. Selanjutnya, landasan itu butuh klaim lagi tanpa henti. Kita berhadapan dengan paradoks meta-klaim.

Kedua, klaim XYZ bisa saja mengaku sudah paling lengkap. Tetapi, syarat lengkap ini tidak bisa dipenuhi. Setiap klaim pasti menerapkan perspektif. Tidak mungkin kita bisa klaim dari seluruh perpektif. Dan, tidak mungkin juga kita bisa klaim tanpa perspektif. Kita berhadapan dengan paradoks meta-perspektif di sini.

Ketiga, klaim XYZ adalah yang paling bermanfaat bagi masa depan. Kita bisa memahami mungkin saja XYZ memang paling bermanfaat di masa depan – dan baik, benar, adil. Bagaimana pun, kita sadar bahwa klaim masa depan bersifat kontingen. Sehingga, akan lebih baik ketika terjadi respek antara banyak pihak.

Dengan demikian, secara umum, dahulukan kebaikan dari kebenaran. “Bawa kebaikan ke manusia dan manusia ke kebaikan.” Karena konsekuensi kebaikan selalu baik; konsekuensi kebenaran adalah benar tetapi belum tentu baik. Ada resiko bahwa setiap klaim kebaikan atau kebenaran bisa saja sama-sama salah. Mari terus memperbaiki diri.

3. Makna-Manusia

Selanjutnya, kita perlu menyelidiki makna-manusia? Siapa manusia? Siapa saya?

Manusia adalah yang paling dekat dengan kita, sekaligus, memiliki makna yang paling jauh dari kita. Saya sudah membahas makna-manusia pada tulisan terdahulu: Siapa Manusia. Di sini, saya akan mengutip beberapa bagian paling pentingnya.

Definisi awal, sebagai diferensia,

“Manusia = M = Akal = Rasional”

Model M

M sebagai diferensia mencakup seluruh diferensia lebih awal, di antaranya, meliputi badan, tumbuh, mineral, dan lain-lain.

M adalah model dasar dari manusia. Setiap manusia harus memenuhi M, berakal. Jika tidak berakal maka gagal sebagai M, gagal sebagai manusia.

Tetapi, model M ini berubah secara dinamis. Sehingga, model M bisa, berubah, menjadi berbeda-beda bagai bumi dan langit, bagai binatang dan malaikat, bagai air dan api. Jadi, M terbuka terhadap perubahan. Seiring waktu, M berubah menjadi lebih sempurna yaitu M(S).

Model M(S)

“Manusia = Akal Sempurna = M(S) = Sempurna = S”

M(S) adalah diferensia akhir. Tentu, M(S) meliputi M, meliputi akal. Atau, M(S) adalah ekstensi dari M itu sendiri.

Karakter S (sempurna) tidak bisa dibaca dari M. Artinya, S tidak bisa diprediksi dari M. Kareda ada faktor “forcing” (Cohen) atau “freedom”. Tetapi, S itu tersusun oleh M. Atau, struktur S terdiri dari unsur-unsur M. Jadi, S tersusun oleh unsur akal, badan, dan situasi serta freedom. Sebagai diferensia akhir, kita bisa menyebut sebagai M(S) = manusia sempurna, atau cukup S = sempurna.

M(S) memiliki karakter universal atau hampir absolut. M(S) bisa muncul di berbagai tempat berbeda dan di berbagai waktu berbeda. M(S) tidak bisa dibatasi oleh “hukum” M. Karena, M tidak bisa mem-prediksi M(S). Meskipun, seiring waktu, M akan bisa memahami M(S). Tetapi, M(S) bisa memprediksi M karena M ada dalam diri M(S).

M(S), di saat yang sama, bersifat unik, partikular, sesuai situasi yang ada dan “freedom” individu. Sehingga, di dunia ini, terdapat ribuan atau jutaan M(S). Dengan perspektif tertentu, setiap individu manusia adalah M(S). Tetapi, perspektif umum, menerapkan M(S) hanya kepada manusia sempurna dalam makna positif.

M(S) adalah tujuan akhir dari manusia, yaitu, menjadi manusia sempurna. Apa yang Anda siapkan untuk menjadi manusia sempurna?

M(S) adalah manusia sempurna, adalah dumadi yang menyelaraskan diri, adalah dumadi serasi, adalah serasi.

M(S) = manusia sempurna = selaras diri = serasi

M(S) = Serasi

Kita fokus kepada serasi. Konsep manusia sempurna bisa kita ringkas menjadi hanya serasi. Apa makna serasi?

(1) Serasi terhadap situasi. Manusia menjaga diri agar serasi dengan situasi alam sekitar. Sebaliknya bisa terjadi. Manusia mengubah alam sekitar agar serasi dengan manusia. Perubahan terhadap diri, dan alam sekitar, bisa saja ekstrem. Manusia akan berusaha membawa, kembali, ke situasi serasi. Dalam situasi serasi seperti ini, M(S) adalah unik. M(S) di Asia berbeda dengan M(S) di Eropa, misalnya. Karena mereka menghadapi situasi yang berbeda. Alam sekitar, di sini, bisa berupa natural dan kultural.

(2) Serasi terhadap diri. Menariknya, diri manusia selalu menyimpan misteri. Sehingga, manusia sempurna perlu menjadi serasi dengan diri sendiri yang banyak misteri. Diri manusia memang tersusun oleh unsur-unsur manusiawi: badan, akal, situasi, dan lain-lain. Tetapi selalu ada “forcing” atau “freedom” yang melampaui unsur-unsur manusiawi yang sudah ada itu. Dengan demikian, manusia bisa selaras dengan dirinya sendiri dengan mencoba selaras terhadap “forcing” atau “freedom” dirinya sendiri.

(3) Serasi kepada Tuhan Maha Absolut. Manusia sempurna berjalan menuju absolut dengan menjadi hampir-absolut. Manusia meraih serasi dengan menjadi hampir-absolut, meski, tidak pernah absolut. Manusia perlu bimbingan melalui wahyu, kitab suci, riwayat, guru, sahabat, dan lain-lain. Dari dalam dirinya sendiri, manusia perlu berpikir terbuka, bersikap terbuka, membuka diri, dan membuka hati, agar mencapai serasi absolut. Tepatnya, serasi hampir-absolut. Manusia bisa berhasil meraih sempurna, hampir-absolut, bukan karena dirinya mampu. Tetapi, karena pertolongan dari sumber absolut.

Selamat menapaki jalan menjadi manusia sempurna…!

4. Makna-Bawa

Makna “membawa” sepiring nasi sudah jelas begitu saja bagi kita. Makna “membawa” kebaikan juga sama, sudah jelas. Ketika dipikir lebih jauh, “Bagaimana kita bisa membawa kebaikan?”

Saya membawa sepiring nasi dari dapur untuk saya berikan ke teman saya di ruang depan. Makna “membawa” sepiring nasi adalah mendekatkan nasi ke teman saya. Tujuan saya adalah agar teman saya itu bisa menikmati nasi yang lezat masakan istri. Kita mudah memahami makna-membawa adalah mendekatkan dengan cara memindahkan. Barangkali, kita bisa mendefinisikan membawa adalah memindahkan obyek dengan cara memegang obyek tersebut.

Apa makna-membawa kebaikan?

“Terpilihnya dia sebagai bupati membawa kebaikan bagi rakyat.”

Kebaikan ini bisa berupa kesejahteraan masyarakat miskin meningkat, layanan kesehatan makin berkualitas bagi masyarakat luas, pendidikan berkualitas merata bagi seluruh warga, dan sebagainya.

Kita mudah memahami makna-kebaikan seperti di atas. Memang, semua orang bisa memahami kebaikan. Masalah muncul ketika seseorang meminta apa definisi kebaikan? Bagaimana kesejahteraan masyarakat bisa diukur? Jika kesejahteraan meningkat apakah bisa dipastikan sebagai suatu kebaikan? Dan, apakah terpilihnya sebagai bupati benar-benar “membawa” kebaikan?

Arah sebaliknya perlu kita pertimbangkan, “Membawa manusia ke kebaikan.” Manusianya itu sendiri perlu dengan sengaja membawa dirinya agar masuk ke dalam kebaikan. Untuk itu, manusia perlu komitmen hidup di jalan yang lurus, sederhana, dan saling tolong-menolong. Kesimpulan kita tentang makna-membawa-kebaikan adalah perlu dua arah, “Membawa kebaikan ke manusia dan membawa manusia ke kebaikan.”

5. Kebaikan Digital

Dunia digital berkembang pesat. Bagai pedang bermata dua: bisa menjadi kebaikan atau keburukan. Sehingga, kita, umat manusia, bertanggung jawab untuk memastikan bahwa dunia digital membawa kebaikan bagi semua. Apa ide Anda untuk menciptakan kebaikan digital?

Di era digital kita benar-benar membutuhkan kebaikan digital dan takwa digital. Pertama, kita perlu puasa digital. Membatasi konsumsi digital terhadap konten-konten yang halal. Meski halal, konten tersebut tidak berguna bagi Anda. Bahkan tidak berguna bagi masyarakat. Rugi waktu karena konsumsi konten digital sia-sia. Rugi kuota juga dan energi. Apalagi konten digital haram, jauhi sejauh-jauhnya.

Kedua, jangan tolong-menolong menyebarkan dosa digital. Konten hoax, fitnah, dan sia-sia, jangan ikut menyebarkannya. Jangan ikut share. Sama sekali jangan pernah share konten orang lain. Kecuali konten yang Anda yakin itu benar-benar penuh manfaat. Tidak banyak konten semacam ini.

Ketiga, ayo ikut menciptakan konten digital yang bermanfaat: edukatif dan mencerahkan. Hanya dengan handphone, Anda bisa membuat konten positif. Baik berupa tulisan, gambar, atau video. Kita tidak bisa hanya melarang orang mengakses konten negatif. Kita perlu menyediakan alternatif: konten digital positif.

Mari kita tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa.

Tetap Bahagia Meski Utang

Banyak orang jatuh miskin terlilit hutang. Negara pun bisa bangkrut karena beban hutang. Tetapi, teman yang satu ini justru makin sukses dan bahagia karena utang. Bagaimana bisa?

Utang memang bahaya, membebani, dan bisa menghancurkan. Itu adalah utang buruk. Beda dengan utang baik.

Utang baik, justru, mendorong orang lebih sukses. Usaha menjadi lebih produktif. Bahkan negara, dan masyarakat, makin maju karena terbantu oleh utang baik.

1. Utang Eksistensi
2. Utang Struktural
3. Manfaat Utang

Pertama, kita memang tidak bisa menghindar dari utang yaitu utang eksistensi. Kita berutang kepada ibu dan bapak kita. Ibu telah mengandung 9 bulan lebih dengan beragam kesulitan. Demi anak tercinta, yaitu diri kita, bisa lahir eksis di dunia ini. Utang eksistensi ini tidak pernah bisa kita bayar dengan lunas. Bagaimana pun kita tetap wajib membayar utang kepada ibu dan bapak.

Kedua, utang struktural. Khususnya utang struktural yang buruk memiskinkan rakyat. Kita perlu waspada.

Ketiga, manfaat utang terbuka luas. Kita perlu mencermati manfaat dan resiko utang dengan baik. Sulitnya, utang baik bisa berubah jadi utang buruk dan sebaliknya. Atau, utang buruk mencitrakan diri sebagai utang baik. Kenali utang dengan baik, lalu, manfaatkan dengan lebih baik.

1. Utang Eksistensi
2. Utang Struktural
3. Manfaat Utang

Apa Waktu Sejati?

Apa sebenarnya waktu? Apa waktu benar-benar ada? Apa makna sebenarnya dari waktu?

Waktu adalah apa yang ditunjukkan oleh jarum jam. Waktu adalah hasil pengukuran jam atau stop watch atau alat ukur waktu. Waktu adalah yang kita rasakan ketika terus berubah. Pandangan umum tentang waktu, barangkali, seperti di atas. Tetapi, apa sebenarnya waktu secara filosofis?

Untuk membahas waktu secara tuntas, andai bisa tuntas, saya rekomendasikan tiga tulisan berikut ini.

1. Waktu (Tidak) Bisa Mundur

Dalam tulisan tersebut, saya membahas waktu sejati sebagai bentangan futuristik, yaitu, waktu membentang dari future menuju past dan menyusuri present. Sehingga, waktu adalah kesatuan dalam bentangan masa depan, masa lalu, dan masa kini.

Saya juga membahas waktu secara sains seperti dikaji oleh Newton, Einstein, dan Feynman. Sementara, pandangan filosofis waktu sebagai derivasi dari wujud juga kita bahas. Waktu adalah ukuran gerak substansial menurut Sadra. Bandingkan dengan Aristo, juga Hegel, yang menilai waktu sebagai living-now yang terus bergulir.

Saya kira tulisan saya, di tautan atas, memadai sebagai pengantar membahas konsep true-time secara filosofis.

2. Waktu adalah Binuko: Disclosing & Opening

Waktu adalah horizon transenden bagi being. Waktu adalah binuko. Waktu adalah “sebab” bagi being, bagi wujud, untuk membuka diri. Di saat yang sama, waktu menyembunyikan being.

Waktu adalah keterbukaan. Waktu adalah temporalisasi.

Tulisan pada tautan ini bersumber dari Heidgger yang disusun oleh Thomas Sheehan. Menurut saya, pembahasan Sheehan bagus dan padat.

3. Waktu adalah Apropriasi: Pengkhidmatan

Waktu sejati adalah apropriasi: pengkhidmatan. Waktu berkhidmat kepada being dengan cara memberi waktu kepada being. Being berkhidmat dengan menerima khidmat dari waktu. Apropriasi dari waktu dan being adalah dasar dari segalanya tetapi bukan metafisika. Maksudnya, waktu mau pun being bukan anggota dari apropriasi. Waktu dan being bukan ada lebih awal lalu dihubungkan dengan apropriasi. Bukan pula, apropriasi sudah ada lalu muncul waktu dan being. Mereka setara.

Tautan ketiga ini memang abstrak dalam pembahasannya. Dengan kesabaran, saya yakin Anda akan berhasil menemukan poin-poin penting tentang waktu sejati, true-time. Tulisan saya yang ini belum selesai, masih on progress. Saya berencana melengkapi dengan tema tataluma, serta Urip Iku Urup dari Sunan Kalijaga.

Semoga bermanfaat…!

Bahagia Hidup Mengalir Bagai Air

Teman saya hidup bahagia dengan cara menjalani hidup mengalir bagai air. Dengan wajah ceria, dia cerita, “Hidup bahagia itu sederhana saja. Cukup jalani hidup mengalir bagai air.”

Air mengalir itu memang hebat. Dari dataran tinggi menuju tempat lebih rendah, sampai ke tujuan dengan selamat. Selama perjalanan, air memberi kesegaran kepada alam sekitar. Air menghijaukan, dan memberi kehidupan, alam semesta.

Ketika ada halangan, air berhenti sejenak. Lalu, dengan lentur air belok untuk tetap sampai tujuannya. Kadang, air dengan lembut merembes ke celah-celah kecil penghalang itu. Kadang juga, air hanya menunggu sampai teman-temannya datang. Kemudian, tinggi air cukup tinggi untuk melampaui penghalang itu. Air menghadapi halangan tanpa merusaknya. Air fleksibel dengan ragam situasi.

Bukankah sangat mudah hidup bahagia hanya dengan meniru air? Mengapa manusia gagal menjadi bahagia? Mengapa manusia gagal mencapai tujuannya?

1. Rahasia Air Mengalir
2. Cara Ular Licik Berbisa
3. Cara Manusia

Pertama kita akan membahas rahasia hidup bahagia sesuai air mengalir. Tetapi, perlu waspada. Sewaktu-waktu, air bisa mengakibatkan bencana banjir, longsor, sampai gelombang sunami. Kedua, kita akan mencermati cara hidup ular yang, sering dipandang sebagai, licik. Menariknya, ular tidak pernah berdosa. Hebat juga! Ketiga, kita akan mempertimbangkan cara hidup manusia.

1. Rahasia Air Mengalir

Manusia yang berhasil menjalani hidup bagai air mengalir memang akan hidup bahagia. Apa rahasianya? Apakah bisa gagal untuk bahagia padahal manusia sudah mengalir bagai air? Apa resiko meniru aliran air?

Rahasia pertama adalah air memiliki tujuan pasti. Yaitu, air mengalir menuju pusat gravitasi bumi. Manusia juga bisa bahagia ketika memiliki tujuan yang pasti yaitu akhir yang baik, husnul khatimah, kematian yang baik. Air selalu menuju ke tujuan akhirnya. Apa pun halangan, atau gangguan, yang ada tetap mengarahkan air mendekat ke tujuan. Manusia akan bahagia bila tetap menghadap ke husnul khatimah.

Rahasia kedua, air fleksibel dalam proses. Air mudah berbelok arah bila ada halangan. Itu pun, tetap, untuk mencapai tujuannya. Tak pernah lupa dengan tujuan akhir. Manusia akan bahagia ketika fleksibel dalam menjalani proses. Kadang ke kiri, ke kanan, ke bawah, ke atas, atau sejenak berhenti adalah hal yang wajar untuk meraih bahagia sejati. Bahkan, manusia kadang perlu menetapkan tujuan-tujuan kecil agar memudahkan untuk mencapai tujuan besar dengan cara fleksibel.

Rahasia ketiga adalah konsisten. Air, dengan konsisten, siang dan malam, tetap bergerak untuk mencapai tujuan akhir. Kadang air terserap ke perut bumi, makin dekat ke tujuan pusat gravitasi. Kadang, air harus mengalir ke sungai sampai laut. Kena sinar matahari menguap. Terbang tinggi menjauhi bumi. Air tetap sabar, “Aku akan kembali menuju pusat gravitasi bumi.” Uap air jadi awan lalu turun hujan. Makin dekat ke tujuan akhir lagi. Air bersikap terbuka dengan segala yang ada. Manusia juga akan bahagia ketika tetap konsisten dan sabar untuk mencapai tujuan akhir terbaiknya.

Apakah manusia tetap bisa gagal bahagia padahal sudah mengalir bagai air? Bisa. Hanya mengalir justru menjadikan manusia gagal bahagia. Karena, untuk berhasil, manusia perlu mengalir dengan tujuan pasti, fleksibel, komitmen dan terbuka terhadap semua yang ada.

Apa ada resiko lebih besar? Tentu, karena air bisa berdampak banjir dan sunami. Demikian juga, manusia yang mengalir bisa juga mengakibatkan bencana. Sehingga, manusia, sambil mengalir tetap perlu berpikir dan bersyair.

2. Cara Ular Licik Berbisa

Ular bebas hidup dengan licik memangsa apa saja yang disukainya. Tetapi, ular tetap tidak berdosa meski licik dan berbisa. Bagaimana jika manusia meniru cara hidup ular? Manusia pasti pernah berlumur dosa. Sehingga, manusia tidak boleh meniru hidup ular yang licik memangsa.

Lebih parah lagi, manusia bisa lebih kejam dari ular berbisa. Manusia bisa korupsi uang rakyat atas nama negara. Manusia bisa berperang hanya karena amarah sampai melayang ribuan jiwa. Manusia bisa menipu atas nama fatwa agama. Manusia resiko berlumur dosa. Manusia perlu menjaga dan bertobat dari dosa. Jadi, manusia tidak boleh licik bagai ular berbisa.

Lebih sulit lagi, dosa parah manusia yang kadang tanpa disadari oleh manusia itu sendiri. Ular mencari mangsa hanya ketika dia lapar. Ular piton, misalnya, hanya makan satu kali dalam satu bulan. Jadi, setelah makan, ular piton tidak mau lagi makan. Meski ada mangsa, ayam, di depannya maka piton tidak akan menyerangnya. Dalam satu bulan, piton berpuasa.

Beda dengan manusia. Meski sudah kenyang, manusia masih bisa makan lagi. Pagi makan, siang makan, malam makan lagi. Begitulah manusia. Lebih repot lagi, manusia bisa mengumpulkan harta tanpa ada rasa kenyang. Hari ini cari uang. Besok cari uang lebih banyak lagi. Kadang, sampai ada yang korupsi. Manusia banyak dosa. Ular berbisa tidak punya dosa. Manusia tidak boleh meniru cara hidup ular yang licik.

3. Cara Manusia

Manusia, kita, boleh meniru cara air yang terus mengalir sampai tujuan dengan bahagia. Tetapi, manusia tidak boleh meniru cara hidup binatang. Tidak boleh, misalnya, meniru cara hidup ular berbisa.

Mengapa manusia berdosa ketika licik? Sedangkan, ular tidak berdosa? Lebih enak jadi binatang dong, tanpa dosa?

Manusia berdosa karena manusia punya akal dan pikiran. Sehingga, manusia bisa mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang buruk. Tetapi, seandainya, manusia punya akal dan, di saat yang sama, tidak dituntut atas dosa, bukankah lebih memudahkan manusia?

Maksudnya, manusia punya akal seperti sekarang tetapi tidak berdosa melakukan apa pun, bukahkah itu indah sekali?

Tidak indah. Dan, tidak bisa. Bahkan, ketika ada dosa dan hukuman saja, banyak manusia yang masih berbuat jahat, menipu, serta melukai orang lain. Bagaimana jika tidak ada dosa? Pemimpin dunia, misal, sering mengobarkan perang dengan senjata pembunuh massal nuklir. Tanpa ada beban dosa, dan hukuman, maka manusia akan makin celaka dan saling mencelakai di dunia.

Lebih dari itu, dosa memiliki peran positif yang penting bagi manusia.

Pertama, dosa memunculkan rasa gelisah akibat dosa kesalahan. Gelisah dialami manusia juga ketika kehilangan orang yang dicintainya, ketika menghadapi nasib tak menentu, ketika menghadapi kesulitan besar. Dengan rasa gelisah, manusia kemudian mengambil sikap yang terbaik. Manusia memilih tindakan baik untuk mengatasi rasa gelisah – dan bertobat dari dosa.

Kedua, dosa memberi makna pilihan amal kebaikan. Ketika seseorang bisa memilih, secara bebas, antara dosa atau amal, maka pilihan amal menjadi penuh makna. Tetapi, jika tidak ada pilihan dosa maka jadi hampa. Semua pilihan adalah kebaikan amal-1, amal-2, dan seterusnya. Tanpa berpikir apa pun pilihan manusia adalah amal – yang hampa makna.

Ketiga, dosa mengajak manusia untuk bertobat memperbaiki diri. Manusia mengakui dirinya tak sempurna masih banyak dosa. Kemudian, komitmen meraih masa depan terbaik, dengan belajar dari dosa masa lalu, dan bertanggung jawab memilih respon terbaik di masa kini.

Sebagai penutup, manusia memang benar bisa hidup bahagia dengan mengalir bagai air. Lebih dari itu, manusia memiliki pikiran dan nurani yang membimbing ke masa depan. Berpikir-terbuka: binuko. Ketika aliran air beresiko mengakibatkan banjir, maka, manusia bisa mengatur arah aliran air agar memberi kebaikan kepada umat manusia dan menebarkan kebaikan bagi sesama.

Bagaimana menurut Anda?

Problem Politik Indonesia dan Dunia

Apakah, selamanya, politik itu kejam? Maling teriak maling? Memperkosa hak-hak sewajarnya?

Benar, politik memang kejam. Mengapa banyak orang berpolitik? Justru, orang-orang terbaik, mereka berpolitik? Bahkan, Anda tertarik politik?

Politik adalah solusi dari beragam masalah. Di saat yang sama, politik adalah problem itu sendiri. Atau, sumber dari segala problem. Kita akan membahas beberapa masalah penting dari politik secara bertahap.

1. Problem Politik
2. Hak Kewajiban
3. Bebas Adil

Pertama, kita akan menjawab apa hakikat politik? Hakikat politik adalah perebutan kekuasaan. Sehingga, wajar, bila ada yang ingin berkuasa sampai 3 periode. Putin meluaskan kekuasaan dari Rusia sampai Ukraina. Donald Trump ingin kembali berkuasa di USA. Apakah memang hanya perebutan kekuasaan makna dari politik?

Kedua, apakah politik mengutamakan hak atau kewajiban. Di Indonesia, setiap warga wajib saling menghormati. Lebih-lebih, rakyat wajib menghormati anggota dewan yang terhormat yaitu para politikus. Tetapi, bukankah para politikus itu hanya wakil rakyat? Sehingga, rakyat berhak menuntut laporan kerja dari politikus? Kita akan menyelidiki mana yang lebih utama antara hak dan kewajiban.

Ketiga, politik itu harus adil dan bebas. Mana yang harus diutamakan antara adil dan bebas? Demi keadilan, kebebasan bisa dikalahkan. Atau, demi kebebasan, keadilan bisa dilanggar? Tentu, kita memilih keduanya adil dan bebas. Tetapi, politik lebih mengutamakan adil atau bebas?

Badefisika: Metafisika Sampai Fisika

Kita semua sudah akrab dengan fisika yang merupakan inti dari sains. Sementara, metafisika kadang-kadang agak samar berupa sesuatu yang melebihi dari fisika. Lalu, apa itu badefisika?

“Metaphysics is the branch of philosophy that studies the fundamental nature of reality, the first principles of being, identity and change, space and time, causality, necessity, and possibility.” Wikipedia

Metafisika adalah cabang dari filosofi yang mengkaji pengetahuan prinsip pertama – memang melebihi sains fisika – meliputi realitas, wujud, ruang, waktu, kausalitas, dan lain-lain. Segala tema yang tidak sanggup dikaji oleh sains fisika, maka, dikaji oleh metafisika. Di satu sisi, metafisika tampak lebih hebat dari fisika. Di sisi lain, beberapa orang meragukan apakah metafisika ada gunanya.

Badefisika adalah konsep baru yang melengkapi fisika mau pun metafisika. Badefisika adalah masa depan dari fisika dan metafisika. Di saat yang sama, badefisika memanfaatkan kajian sains fisika dan metafisika sebagai bagian kajian utama. Sehingga, meski badefisika adalah masa depan, tetap saja bersatu dengan masa kini dan masa lalu yaitu fisika dan metafisika.

1. Sains Fisika
2. Metafisika
3. Badefisika

Matematika Itu Paradoks

Matematika itu bertabur kontradiksi. Logika itu bertabur paradoks. Pernyataan obyektif itu disusupi subyektif. Setiap denotasi didasarkan pada konotasi. Pernyataan deskriptif, pada analisis akhir, didasarkan pernyataan normatif.

1. Paradoks Godel
2. Paradoks Meta Teori
3. Banyak Paradoks
4. Anti Paradoks
5. Solusi Paradoks: Meraih Masa Depan

Paradoks sudah muncul sejak awal peradaban manusia. Paradoks Zeno sudah berumur lebih dari 2000 tahun. Tetap diperdebatkan sampai sekarang. Paradoks Godel, yang muncul 1930an, adalah tonggak paradoks paling kuat. Godel menunjukkan paradoks dalam setiap sistem formal, misal sistem matematika, yaitu selalu tidak lengkap atau tidak konsisten.

Awalnya, hanya satu paradoks dalam satu sistem. Selanjutnya, kita bisa identifikasi ada beberapa paradoks. Pada akhirnya, setiap sistem mengandung banyak paradoks. Atau, lebih tegas lagi, setiap proposisi didasarkan pada paradoks.

Beberapa ungkapan yang setara dengan paradoks di antaranya kontradiksi, inkonsistensi, dialetik, dialeteik, dan antinomi. Paradoks terjadi ketika suatu proposisi bernilai benar, sekaligus, bernilai salah.

Dari arah berlawanan, kita perlu mempertimbangkan anti-paradoks, yaitu proposisi yang tidak benar, sekaligus, tidak salah. Underdetermined. Agnotisisme. Tak tentu.

Di bagian akhir, saya mengusulkan solusi bagi paradoks adalah meta-teori, meta-perspektif, dan futuristik.

1. Paradoks Godel

Teorema Godel berbeda, jauh, dengan paradoks-paradoks sebelumnya. Umumnya, kita bisa menelusuri paradoks bersumber dari penggunaan aturan bahasa yang salah. Apakah tuhan yang maha kuasa mampu menciptakan batu sangat besar, sedemikian hingga, tuhan tak kuasa mengangkatnya? Tentukan bilangan ganjil yang merupakan kelipatan 6. Harga komputer ini mahal tetapi tidak mahal. Begitu, ya, begitu tetapi jangan begitu.

Paradoks Godel terbebas dari permainan interpretasi bahasa seperti itu. Godel hanya menganalisis sistem formal, sistem aksiomatik matematika, murni dengan matematika itu sendiri. Terbukti, setiap sistem adalah paradoks, tidak konsisten atau tidak lengkap.

2. Paradoks Meta Teori

Godel, dengan rendah hati, mengakui bahwa teorema Godel hanya berlaku untuk sistem formal. Tetapi, banyak orang tergoda untuk menerapkan Godel lebih luas. Apakah bisa?

Saya pikir bisa. Sistem formal adalah sub-sistem dari sistem lain pada umumnya. Atau, dengan kata lain, kita bisa menemukan sub-sistem dari setiap sistem, di mana, sub-sistem tersebut adalah sistem formal. Karena sub-sistem adalah paradoks maka sistem yang lebih besar pasti paradoks, dalam arti, memuat suatu paradoks. Hipotesis ini diperkuat oleh teorema Godel yang menyatakan bahwa paradoks bisa diselesaikan dengan menambahkan aksioma baru, yang pada gilirannya, menghasilkan paradoks baru yang berbeda.

Pada tahun 2022, Weber secara eksplisit memperluas paradoks pada seluruh sistem, teori, atau bahasa.

“… when you meet your friend at “noonish,” when you buy something that is just a little too expensive, when you remark that nothing your uncle says is true. . . . [The domain of inconsistent phenomena] is everywhere.” (NDPR). 

Validitas suatu bahasa hanya bisa dipastikan oleh bahasa. Paradoks. Bahasa me-validasi bahasa.

Alternatifnya, kita bisa me-validasi bahasa dengan meta-bahasa. Pada gilirannya, meta-bahasa itu sendiri perlu validasi. Dan, meta-bahasa adalah bahasa itu sendiri. Jadi, bahasa memang paradoks.

Alternatif lainnya adalah validasi bahasa dengan referensi, atau korespondensi, terhadap realitas alam raya. Barangkali, untuk bahasa sederhana misal penamaan meja, kursi, dan rumah bisa dengan referensi ke realitas. Tetapi, struktur bahasa – gramatikal, semantik, dan interpretasi – jauh lebih kaya dari sekedar penamaan realitas. Pendekatan referensi, atau korespondensi, tetap berhadapan dengan paradoks.

Demikian juga, untuk validasi setiap teori, kita membutuhkan meta-teori. Pada gilirannya, meta-teori itu sendiri perlu validasi. Dan, meta-teori adalah teori juga. Sehingga, setiap teori berhadapan dengan paradoks.

3. Banyak Paradoks

Untuk mengkaji sistem, atau mendesain sistem, kita perlu menjamin sistem tersebut konsisten dan lengkap – sampai kadar tertentu.

Lengkap. Pelajari secara lengkap setiap proposisi P atau (-P), negasi P.

Konsisten. Pastikan dalam sistem hanya salah satu P atau (-P) saja.

Alamiah. Tidak ada cara pasti untuk memastikan apakah P atau (-P) yang harus berlaku dalam sistem. Kita hanya bisa menentukan pilihan secara normatif. Jadi, sistem memang paradoks.

Pada awalnya, hanya ada satu proposisi paradoks, misal G. Memang, teorema Godel membuktikan eksistensi paradoks dari G ini secara teoritis. Tetapi, untuk menemukan G hanya bisa dilakukan secara mekanis, membutuhkan waktu dan energi yang besar. Sehingga, untuk membuktikan bahwa setiap sistem formal adalah paradoks, kita cukup menunjukkan dengan sebuah G saja. Apakah memang hanya ada satu paradoks yaitu G?

“… take almost any object; it is a borderline case of some vague predicate. Any red thing is a borderline case of some subcollection within the red things—e.g., the set of “red but also a bit yellowish orange” things. So the collection of objects that are φ and not φ for some closely related predicate is the entire total.” (NDPR). 

Hampir setiap obyek, setiap proposisi, setiap sistem adalah paradoks. Kita, umat manusia, bisa bersikap seakan-akan tidak ada paradoks. Atau, paradoks itu tidak signifikan atau tidak relevan.

Pada awalnya, matematika parakonsisten menerima satu paradoks, misal G. Kemudian, menjaga agar paradoks itu tidak “meledak”, agar tidak terjadi ECQ: Ex Contradictio Quotlibet, dari kontradiksi maka apa saja boleh. Syarat untuk inferensi adalah argumen harus relevan dengan kesimpulan. Karena itu, matematika parakonsisten dikenal juga sebagai matematika relevan. Dan, memang berhasil menjaga paradoks tidak “meledak”.

Tetapi, analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa paradoks itu tidak hanya satu, tidak hanya G saja. Di mana-mana banyak paradoks. Proposisi demi proposisi berpijak kepada paradoks. Kita memerlukan solusi lebih dari sekedar “lokalisasi” satu paradoks.

Sebelum sampai ke solusi, kita akan membahas dulu kebalikan dari paradoks: anti-paradoks.

4. Anti Paradoks

Paradoks adalah menerima eksistensi kontradiksi atau antinomi. Yaitu, menerima G sebagai benar dan (-G) negasi juga benar. Anti paradoks kebalikan dari paradoks, yaitu G sebagai tidak benar dan (-G) negasi G juga tidak benar.

Contoh anti paradoks,

G: Ada alien cerdas di Pluto.
(-G): Tidak ada alien cerdas di Pluto.

Ada “gap” pada G. Kita tidak bisa memastikan G sebagai benar. Bisa jadi G tidak benar. Demikian juga ada gap pada (-G). Bisa jadi (-G) tidak benar juga. Kita tidak bisa memastikan. Klaim kebenaran apa pun tidak ada masalah. Karena selalu ada gap. Memang anti paradoks.

Anti paradoks memberi seberkas solusi kepada paradoks.

5. Solusi Paradoks: Meraih Masa Depan

Tiba saatnya, kita untuk merumuskan solusi terhadap paradoks. Saya tuliskan ulang masalah yang kita hadapi sebagai konsekuensi dari paradoks.

Matematika itu bertabur kontradiksi. Logika itu bertabur paradoks. Pernyataan obyektif itu disusupi subyektif. Setiap denotasi didasarkan pada konotasi. Pernyataan deskriptif, pada analisis akhir, didasarkan pernyataan normatif.

Meski tulisan ini hanya membahas sebagian dari problem di atas, masing-masing dari kita bisa mengembangkan lebih jauh sesuai kebutuhan. Kita akan melompat ke arah beberapa alternatif solusi.

Solusi Meta Teori

Solusi meta-teori menyarankan agar kita menerima paradoks apa adanya. Setiap teori perlu validasi oleh meta-teori. Sedangkan, meta-teori itu sendiri juga teori. Paradoks sudah pasti terjadi maka kita terima apa adanya.

Dalam banyak kasus, paradoks hanya terdiri pada teori itu sendiri. Sementara, beragam proposisi dalam teori tidak paradoks. Sehingga, kita bisa bekerja dari proposisi ke proposisi. Paradoks ter-lokalisasi hanya pada proposisi tertentu. Paradoks pada teori tidak signifikan pada tataran operasional.

Saya menyebut solusi meta-teori ini sebagai berpijak kepada masa lalu, past.

Solusi Meta Perspektif

Solusi kedua adalah dengan meta-perspektif. Paradoks terjadi pada satu perspektif. Dengan meluaskan perspektif, kita bisa mengatasi paradoks tersebut. Hanya saja, kita perlu waspada bahwa kita terbatas dalam meluaskan perspektif. Maksudnya, tidak mungkin bagi kita untuk melihat teori lengkap dari seluruh perspektif. Pun, tidak mungkin bagi kita melihat teori tanpa perspektif.

Dengan memahami perspektif, kita terbuka terhadap dinamika keragaman perspektif.

Saya menyebut solusi meta-perspektif sebagai berpijak ke masa kini, present.

Solusi Futuristik

Sesuai namanya, solusi futuristik memberi peran besar ke future, masa depan. Paradoks terjadi akibat teori dan perspektif yang terbatas – memang terbatas. Solusi meta-teori dan meta-perspektif telah memberi jalan keluar namun tetap berhadapan dengan paradoks jenis baru. Solusi futuristik menerima solusi meta-teori mau pun meta-perspektif, untuk kemudian, dikembangkan untuk menyongsong masa depan. Atau, lebih tepat, sebaliknya. Future, masa depan, memberi arah bagi meta-teori untuk bergerak maju dan memberi meta-perspektif pilihan yang paling tepat. Mereka – masa lalu dan masa kini – bersatu membentang sampai masa depan. Sehingga, istilah yang lebih tepat bagi solusi futuristik adalah solusi ekstatik. Bagaimana pun, istilah futuristik memiliki kekuatan tersendiri.

Karakter dari futuristik adalah posibilitas, freedom, dan komitmen. Futuristik membuka posibilitas baru, peluang baru, untuk mengembangkan teori-teori lebih maju atau penerapan-penerapan baru dari beragam teori. Futuristik memberi freedom kepada teori, atau saintis, untuk memilih arah pengembangan lebih lanjut. Dan, futuristik menuntut komitmen semua pihak guna mencapai perkembangan masa depan.

Meta-teori dan meta-perspektif adalah “penuh” sehingga memuat paradoks, ada G dan (-G). Sementara, futuristik adalah gap menuju masa depan sehingga anti-paradoks. Gap ini bisa kita sebut sebagai posibilitas.

Kita ambil contoh teori bilangan bulat positif dengan operasi dasar penjumlahan, mirip Peano Arithmetic (PA). Meta-teori, misal teorema Godel, menunjukkan bahwa PA memuat paradoks G. Meta-perspektif, misal teorema Cantor, menunjukkan bahwa PA mengandung padadoks H. Di mana (H): N < 2N dengan N adalah bilangan infinity pertama. Apa solusi futuristik?

Futuristik bertanya,” Ke arah mana kita akan mengembangkan teori?” Misal, kita akan mengembangkan teori informasi (matematika digital) maka futuristik fokus membuka posibilitas teori informasi dengan tetap mewaspadai G. Sehingga, teori informasi bisa terus berkembang dengan tetap terbuka adanya sandungan paradoks G atau konsekuensi dari G. Demikian juga, ketika kita hendak mengembangkan kalkulus (bilangan real), maka teori kalkulus bisa terus maju dan tetap waspada dengan resiko paradoks perspektif bilangan real terhadap bilangan bulat.

Untuk teori lebih umum, bukan sekedar matematika, kita bisa mengembangkan solusi futuristik dengan tetap mempertimbangkan meta-teori dan meta-perspektif.

Jadi, posibilitas baru apa yang terbuka untuk Anda?

Problem Filsafat Sains

Sains mencapai puncak kejayaan di jaman sekarang ini. Sains yang merambah ke teknologi, ekonomi, dan politik makin mengokohkan dominasinya. Apakah sains adalah solusi, atau problem, bagi kemanusiaan dan semesta?

Tentu saja, orang mudah mengira sains adalah solusi dari beragam problem. Di saat yang sama, sains memunculkan problem besar yang pelik. Apa solusi dari problem besar itu? Lebih awal, apa problem besar itu?

Dari beragam problem besar sains, yang berakar pada problem filsafat sains, saya memilih problem ontologika. Pertama, problem ontologi sains. Apa sejatinya sains? Sains adalah pengetahuan yang tidak otentik. Kedua, prinsip logika sains. Sains tidak bisa berpikir. Sains tidak bisa berpikir mendalam. Ketiga, aspek praktis sains. Sains tidak memiliki etika. Sains, bahkan, sering melanggar etika. Apakah serangan-serangan terhadap sains, seperti di atas, bisa dibenarkan?

1. Problem Ontologi
1.1 Sains Tidak Otentik
1.2 Mengapa Tidak Otentik
1.3 Entitas vs Being
1.4 Sains Eksistensial
2. Prinsip Logika
2.1 Konsep Kebenaran
2.2 Logika Klasik
2.3 Kausalitas
3. Aspek Praktis
3.1 Posibilitas
3.2 Freedom
3.3 Komitmen

Sains adalah segalanya. Sains adalah hakim dari segala perselisihan. Pandangan ini meng-klaim sains sebagai realitas paling fundamental secara ontologis. Klaim semacam ini memunculkan problem besar. Beberapa orang melakukan klaim eksplisit, misal, positivisme. Beberapa yang lain hanya klaim implisit. Kita perlu mengurai dengan jelas problem besar ini, untuk kemudian, mengusulkan beberapa solusi alternatif.

Prinsip logika sains tampak sudah jelas dengan sendirinya. Maksudnya, apa yang dinyatakan benar secara saintifik maka diterima sebagai kebenaran sejati. Lagi, klaim logika ini memunculkan banyak problem besar. Kita perlu mengurainya guna menemukan beragam solusi yang mungkin, terutama, dari perspektif filsafat sains.

Terakhir, apakah praktek sains sesuai dengan harapan? Kita terlibat dalam kajian etika di sini. Tetapi, kita hanya akan membatasi praktek sains yang lebih dekat ke filsafat sains saja. Sementara, dampak sains secara luas, kita akan kaji di tulisan yang berbeda.

1. Problem Ontologi

Ketika Newton (1643 – 1727) menulis Principia, dia menyebutnya sebagai filsafat-alam. Di jaman modern, saat ini, Principia adalah buku pegangan sains fisika dan matematika. Jadi, pada mulanya, sains adalah filsafat-alam. Sehingga, problem ontologis bisa ditangani oleh sains dari sudut pandang filsafat-alam. (Newton, 1)

Einstein (1879 – 1955) adalah saintis besar dunia yang merangkap sebagai filsuf sains. Dalam otobiografi Living-Philosopher, Einstein menjelaskan tantangan sains secara filosofis. Lagi, tidak ada problem ontologis serius bagi sains di saat itu. (Einstein, 2)

Situasi berubah pada pertengahan abad 20. Para saintis tampak tidak terlalu berminat mengkaji filsafat. Sains mulai menjaga jarak terhadap filsafat. Akibatnya, sains tidak mampu, dan tidak mau, membahas problem ontologis. Feyerabend (1924 – 1994) menengarai bahwa saintis saat itu tidak kalah cerdas dari Einstein mau pun Newton. Hanya saja, para saintis kurang mengkaji filsafat.

Dari sisi filsuf sendiri tidak mudah untuk bisa menembus, dan memahami, ontologi sains yang makin canggih. Sains bercabang menjadi ratusan cabang, dan ranting, yang masing-masing mengembangkan disiplin sains secara spesialis. Tidak akan ada seorang filsuf yang mampu mengkaji sains seluas dan sedalam itu.

Problem ontologis sains membesar, makin serius, dan makin parah. Apa ontologi sains? Mengapa sains hanya berstatus sebagai pengetahuan yang tidak otentik? Mengapa sains hanya mampu mendekati pengetahuan-ontic dan tidak mampu mengkaji pengetahuan ontologis?

Tidak ada saintis yang mampu, atau mau, membahas problem ontologi di atas secara mendalam. Kita akan mencoba mengkajinya, meski hanya sampai kedalaman tertentu, dan berharap akan ada kajian yang lebih dalam lagi.

1.1 Sains Tidak Otentik

Heidegger (1889 – 1976) adalah filsuf besar yang terang-terangan menuduh sains sebagai tidak otentik (rajeru). Lalu, jenis pengetahuan macam apa yang otentik (jeru)? Pengetahuan otentik adalah pengetahuan ontologis yang mengkaji question-of-being. Heidegger menetapkan dirinya sendiri untuk mengembangkan pengetahuan otentik dan, kemudian, menyebarkannya. (Heidegger, 3)

Memang tidak mudah untuk merespon tuduhan Heiddegger di atas. Sudah terkenal, tulisan Heidegger adalah kriptik, sulit sekali dipahami. Russell (1872 – 1970) tidak berani menanggapi Heidegger secara panjang lebar. Bahkan, ketika Russell menulis Histori Filosofi di tahun 1940an, Russell sama sekali tidak membahas Heidegger. Di kesempatan lain, Russell menyebut bahwa Heidegger adalah filsuf yang aneh, yang, memanfaatkan rasa gelisah untuk filsafat. Heidegger menanggapi bahwa ada filsuf yang malas berpikir.

Mario Bunge (1919 – 2020) menyebut bahwa filosofi Heidegger tidak berguna bagi sains. Atau, sains tidak bisa mengambil manfaat dari filosofi Heidegger. Carlo Rovelli (1956 – ) menyerukan untuk meninggalkan filosofi Heidegger. Sains perlu filosofi, tetapi, bukan filosofi Heidegger. Rovelli menyarankan sains untuk mengkaji filosofi Aristo atau Hegel.

Jadi, ketika, sains dituduh sebagai tidak otentik, apa respon saintis atau filsuf sains? Saya tidak menemukan respon memadai. Baru, pada abad 21, mulai ada respon yang memadai untuk memahami serangan Heidegger dan, kemudian, membela sains dalam perspektif tertentu.

1.2 Mengapa Tidak Otentik

Tentu saja, pernyataan bahwa “sains tidak otentik” adalah pernyataan negatif bahkan kasar. Tetapi, apakah Heidegger bermaksud kasar kepada sains dan teknologi? Bisa jadi. Atau, tidak otentik merupakan ungkapan netral saja?

Ungkapan yang netral, barangkali, adalah ontic: sains adalah pengetahuan-ontic. Sedangkan, pengetahuan otentik yang menjawab question-of-being adalah pengetahuan-ontologis. Dengan demikian, kita memiliki dua mode pengetahuan: ontic dan ontologis.

Dengan cara sedikit berbeda, kita bisa menyusun model persamaan pengetahuan.

sains = pengetahuan-ontic = tidak-otentik

ontologis = otentik = pengetahuan-ontic + question-of-being

Dari model di atas, sains adalah pengetahuan penting untuk meraih pengetahuan-otentik.

otentik = sains + question-of-being

Jadi, kita membutuhkan sains untuk menjadi otentik. Atau, lebih tepatnya, sains menjadi otentik dengan menambahkan question-of-being. Karena terbuka jalan lain, selain sains, untuk menjadi otentik. Misal seni, politik, agama, dan filsafat itu sendiri.

Mengapa sains tidak otentik? Karena tidak bertanya question-of-being. Jika saintis bertanya tentang question-of-being, maka, sains menjadi otentik. Sehingga, label tidak otentik, sekaligus, menunjukkan cara untuk menjadi otentik. Bukankah itu kontribusi penting filsafat?

“… Heidegger made significant contributions to philosophical understanding of the sciences, but that philosophy of science was at the center of his project and its development throughout his career.” (Rouse, 4).

Lalu, apa itu question-of-being?

1.3 Entitas vs Being

Kita menganggap segala sesuatu yang ada sebagai entitas: meja, pohon, komputer, elektron, bahkan jiwa kita. Entitas-entitas itu ada di alam raya. Apa makna-ada itu sendiri? Apakah makna-ada juga merupakan entitas? Kita tidak berhak berasumsi makna-ada sebagai entitas sebagai mana entitas lain. Kita perlu mengkaji question-of-being ini dengan cermat.

Sains menjadi pengetahuan-ontic, yang tidak otentik, lantaran hanya mengkaji entitas. Bahkan, sains itu sendiri merupakan entitas, yaitu entitas pengetahuan-ontic. Dengan mencermati asumsi-asumsi ini, kita akan menggeser sains menuju pengetahuan otentik.

“Heidegger thought that there are unexamined, erroneous presuppositions underlying any such conception of knowers as a special kind of entity (mind, consciousness, language-speaker, or rational agent), and of knowledge as a relation between entities, insisting that ‘‘we have no right to resort to dogmatic constructions and to apply just any idea of being and actuality to this entity [that we ourselves are], no matter how ‘self-evident’ that idea may be’’ (1953: 16). In posing the question of being (of what it means to be, or of the intelligibility of entities as entities), Heidegger sought to circumvent these unexamined assumptions about knowledge or consciousness, and engage in a more radical philosophical questioning. The ‘‘being’’ of an entity is its intelligibility as the entity it is. Heidegger’s point is that we should avoid assuming that the intelligibility of entities is itself an entity (such as a meaning, an appearance, a concept, or a thought).” (Rouse, 4).

Ke arah mana pun sains membuat kajian, sains akan berhadapan dengan entitas. Demikian juga, dalam pengamatan sehari-hari, kita menemui entitas-entitas belaka. Bagaimana kita bisa menemukan solusi terhadap question-of-being? Kita bisa menjawabnya dengan mengkaji dasein, yaitu, being yang mempertanyakan eksistensinya sendiri. Dasein adalah being yang care sebagai being-in-the-world.

“[Dasein] never finds itself otherwise than in the things themselves, and in fact in those things that daily surround it. It finds itself primarily and constantly in things because, tending them, distressed by them, it always in some way or other rests in things. Each one of us is what he pursues and cares for.” (Heidegger, 3).

Kita agar bisa mengetahui meja, di alam eksternal, perlu pengetahuan-awal wujud-meja, pengetahuan-awal tentang being-meja. Sehingga, pemahaman akan wujud-meja mendahului pengetahuan kita akan meja konkret yang ada di alam eksternal.

“Heidegger’s central claim in Being and Time was that any such understanding of entities presupposes an understanding of being. John Haugeland (1998) offers a useful analogy to unpack this seemingly obscure claim. One cannot encounter a rook as such without some grasp of the game of chess. In Heidegger’s terms, the ‘‘discovery’’ of chess entities (pieces, positions, moves, or situations) presupposes a prior ‘‘disclosure’’ of chess as the context in which they could make sense.” (Rouse, 4).

Barangkali, analogi permainan catur akan lebih mudah memahami pentingnya pengetahuan-awal being. Kita bisa mengetahui benteng-catur jika, di awal, kita sudah memahami aturan main catur. Catur dimainkan dalam bidang tersusun 64 persegi hitam putih. Benteng-catur bisa bergerak lurus vertikal atau horisontal dan sebagainya. Ketika, seekor kelelawar melihat benteng-catur, maka, kelelawar tersebut tidak akan memahami benteng-catur. Karena, kelelawar tidak memiliki pengetahuan-awal berupa aturan main catur. Begitu juga orang, misal bayi, yang tidak memahami pengetahuan-awal aturan main catur, maka, tidak akan bisa memahami benteng-catur.

Lalu, muncul pertanyaan di pikiran kita, “Bukankah pengetahuan-awal itu memerlukan pengetahuan-awal lain yang lebih awal lagi tanpa henti?”

Pertanyaan itu valid. Dan, itu termasuk question-of-being. Ketika sains bertanya, “Pengetahuan-awal apa yang diperlukan oleh sains?” maka sains bergerak menuju ke pengetahuan otentik. Dan, kita menduga setiap jawaban bagi pengetahuan-awal sains akan membutuhkan pengetahuan-awal yang lebih awal lagi. Bukankah memang seperti itu realitasnya? Pintu pengetahuan otentik sudah ada di depan sains. Kita perlu berpikir-terbuka untuk melanjutkan kajian.

Di kehidupan sehari-hari, dan sains, kita mampu memahami entitas dengan mudah saja. Kita tidak bertanya lebih jauh mengapa aturan catur dibuat seperti itu. Kita, justru, memanfaatkan aturan main catur itu untuk bermain catur. Demikian juga dalam sains. Kita tidak bertanya mengapa aturan sains seperti itu. Kita, justru, memanfaatkan aturan sains untuk mengkaji sains. Dalam hal ini, kita lebih mengutamakan manfaat entitas dari esensi entitas tersebut.

” What understanding, as an existentiale [an essential structure of our way of being], is competent over is not a ‘‘what,’’ but being as existing . . . . Dasein is not something occurrent which possesses its competence as an add-on; it is primarily being-possible. (Heidegger, 3).

Dengan mengkaji aturan sains dan manfaat sains, kita bergerak menuju sains otentik. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Sains hanya mengkaji entitas sains belaka. Sains membatasi diri hanya mengkaji sains obyektif, pengetahuan ontic. Mereka mengira, dari sains obyektif ini, kemudian, siapa saja bisa menambahkan nilai manfaat dan nilai subyektif sesuai konteks. Tidak bisa terjadi seperti itu. Akibatnya, kita menemukannya pada saat ini, sains menjadi tidak otentik.

1.4 Sains Eksistensial

Untuk menjadi sains otentik, kita perlu kajian eksistensial. Karakter dasar eksistensi sains adalah futural – menuju masa depan. Klaim sains sebagai menemukan fakta obyektif, yang eksis di masa kini dan masa lalu, adalah klaim tidak otentik. Klaim otentik perlu lebih kuat aspek futural. Meski pun, analisis lebih mendalam menunjukkan, karakter ekstase lebih tepat untuk menggambarkan sains otentik.

“An ‘‘existential’’ conception of science was called for because ‘‘sciences, as human comportments, have [Dasein’s] way of being’’ (1953: 11). Dasein’s way of being is future-oriented; it ‘‘presses forward into [its] possibilities,’’ and does so out of concern for its own being. Dasein’s most basic relation to itself is not self-consciousness, but care: Dasein is ‘‘the entity whose own being is at issue for it’’ (1953: 42), such that everything it does is understood in response to that issue.” (Rouse, 4).

Karena sains adalah futural maka sains adalah possibilitas – peluang terbuka. Sains membuka peluang baru untuk meraih masa depan yang lebih baik dengan memodifikasi masa kini dan memanfaatkan fakta masa lalu. Sains adalah freedom, kebebasan. Sains membebaskan umat manusia untuk memilih masa depan sesuai cita-cita terbaik mereka. Sains membebaskan alam raya untuk bergerak maju. Sains adalah komitmen. Sains menuntut, dan hasil dari, komitmen umat manusia terhadap masa depan.

Bukankah sains memang futural seperti itu? Tidak. Sebagian besar sains didominasi oleh metafisika present. Sains meng-klaim sebagai kebenaran masa kini, present. Dan klaim bahwa hanya sains yang membuka peluang masa depan. Mereka yang berbeda dengan sains tidak punya masa depan. Dengan cara ini, sains menjadi tidak otentik. Karena seluruh alam, sains dan bukan sains, sejatinya terbuka terhadap masa depan. Semua memiliki hak yang sama untuk meraih masa depan dengan possibilitas yang sama.

Metafisika present juga bisa menekan kebebasan pihak lain. Apalagi ketika sains muncul dalam bentuk teknologi, kekuatan sains menyisihkan pihak-pihak lain. Mereka yang tidak tunduk kepada teknologi terpinggirkan. Mereka yang tunduk kepada teknologi, sama saja, dikendalikan oleh teknologi. Sains, dan teknologi, berhasil menaklukkan freedom.

Sains, yang didominasi metafisika present, juga tidak berkomitmen. Karena sains sudah benar, saat ini, buat apa komitmen? Padahal, sains tetap perlu komitmen dan sikap tanggung jawab terhadap masa depan.

Mari kita ringkas problem ontologi sains. Pertama, sains menjadi tidak otentik karena membatasi kajian hanya kepada pengetahuan ontic. Sains berfokus kepada kajian fakta obyektif masa lalu dan masa kini. Sains tidak akan berhasil meraih fakta masa lalu. Karena sains selalu terjebak di masa kini.

Kedua, sains bisa menjadi otentik dengan menambahkan kajian question-of-being yang bersikap terbuka terhadap masa depan – futural. Sains otentik terbuka kepada masa depan dengan membuka possibilitas baru, mengutamakan freedom, dan memegang komitmen.

Ketiga, sains, yang tidak otentik, tidak berhasil membuktikan klaim validitas mereka berdasar fakta masa lalu dan masa kini. Sebaliknya, sains otentik berpeluang berhasil membuktikan klaim validitasnya dengan fokus merujuk masa depan, dengan tetap mempertimbangkan masa lalu dan masa kini. Klaim validitas kebenaran ini menjadi kajian kita berikutnya: apakah sains bisa berpikir?

2. Prinsip Logika

Tugas utama logika adalah menentukan suatu proposisi sebagai benar atau salah. Mudah saja. Proses penentuan itu adalah proses berpikir. Tetapi, sains tidak bisa berpikir. Akibatnya, sains tidak logis. Apakah tuduhan semacam itu bisa dibenarkan?

Tuduhan bahwa sains tidak bisa berpikir adalah benar adanya, sejauh ini. Sains tidak berpikir karena sains hanya menerapkan prosedur berpikir atau prosedur kebenaran. Sementara, sains tidak menyelidiki apa itu berpikir dan apa itu klaim kebenaran. Sains menerima begitu saja asumsi bahwa sains sudah berpikir dan sudah benar.

Apakah sains, pada waktunya, akan bisa berpikir? Tentu saja. Kita akan membahasnya di bagian ini. Pertama, kita akan membahas konsep kebenaran. Sains mengasumsikan bahwa kebenaran bisa ditentukan dengan konsep korespondensi dan koherensi. Kita akan tunjukkan, sains memerlukan konsep kebenaran lebih dari itu agar bisa berpikir.

Kedua, kita akan membahas prinsip logika. Sains menerima prinsip logika identitas, non-kontradiksi, dan hukum-antara begitu saja. Agar sains bisa berpikir, sains perlu mempertimbangkan prinsip logika alternatif: difference, kontradiksi, dan konstruksi.

Ketiga, kita membahas hukum kausalitas. Segala sesuatu membutuhkan sebab. Segala sebab akan berdampak pada akibat. Sains menerima begitu saja prinsip kausalitas. Agar bisa berpikir, sains perlu mengajukan pertanyaan apa makna-kausalitas.

2.1 Konsep Kebenaran

Apa itu benar? Apa itu kebenaran? Bagaimana cara membuktikan kebenaran?

Korespondensi adalah konsep kebenaran paling mudah kita pahami. Suatu proposisi, atau kalimat, bernilai benar jika berkorespondensi dengan fakta empiris tertentu. “Molekul air adalah H2O” bernilai benar jika memang kita menemukan fakta empiris seperti itu. Sains menunjukkan terbukti benar bahwa molekul air memang H20. Sains menerima apa adanya konsep korespondensi ini, just given.

Popper (1902 – 1994) mengajukan konsep falsifikasi. Seribu verifikasi tidak mampu membuktikan bahwa suatu proposisi sains bernilai benar. Tetapi, hanya satu kali penolakan sudah cukup untuk menggugurkan suatu proposisi sains, falsifikasi sains.

Jika P maka E.

Jika proposisi P benar maka kita akan menemukan fakta empiris E yang berkorespondensi.

P: Molekul air adalah H2O.
E: Ditemukan fakta empiris bahwa molekul air adalah H2O.

Tetapi, kita tidak akan pernah berhasil membuktikan validitas klaim korespondensi di atas. Ketika kita menemukan E, maka, masih belum bisa memastikan P sebagai benar. Karena, di kesempatan lain, bisa saja E gagal. Justru, jika kita menemukan negasi E maka kita memastikan P sebagai salah.

Dengan demikian, kita tidak bisa membangun logika sains berdasarkan korespondensi. Bagaimana pun, konsep korespondensi tetap berguna dan penting. Terutama, untuk kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, koherensi adalah konsep kebenaran yang didasarkan pada konsistensi suatu proposisi. Suatu proposisi dinyatakan benar jika koheren, atau konsisten, dengan proposisi lain yang sudah diterima sebagai benar. Teori matematika dan bahasa banyak memanfaatkan konsep koherensi ini.

P: Bilangan 6 adalah genap.

Karena 6 : 2 = 3 maka P koheren dengan aksioma dasar, sehingga, P bernilai benar.

Q: Kecepatan benda yang jatuh bebas setelah 2 detik adalah 20 satuan.

Pernyataan Q bernilai benar karena koheren dengan teori Newton. Kecepatan adalah hasil kali percepatan gravitasi dengan waktu = g x t = 10 x 2 = 20 satuan.

Kita bisa mengajukan keberatan terhadap koherensi. Mengapa teori Newton dianggap benar? Karena terbukti secara matematis. Mengapa dianggap benar? Karena dari teori matematis terbukti secara empiris. Mengapa dianggap benar? Kita akan sampai pada suatu titik, di mana, tidak ada lagi acuan yang kuat sebagai dasar jawaban. Konsep koherensi untuk sains patut diragukan.

Pukulan keras terhadap konsep koherensi adalah teorema Godel di awal abad 20. Godel berhasil membuktikan bahwa setiap sistem formal pasti tidak konsisten atau tidak lengkap. Padahal, sains membutuhkan keduanya: konsisten dan lengkap.

Lalu, apa alternatif yang tersedia? Ketika kita mengajukan pertanyaan tersebut, tentang konsep kebenaran, kita sedang mengajak sains untuk berpikir. Jadi, sains bisa berpikir. Benar. Sains memang bisa berpikir dengan mengajukan pertanyaan apa makna-kebenaran.

Orang bisa berdalih bahwa sains tidak bisa berpikir tetapi saintis yang bisa berpikir. Tentu saja, dalih semacam itu boleh-boleh saja. Tetapi, maksud sains tidak bisa berpikir adalah termasuk saintis tidak bisa berpikir. Ketika saintis hanya menerapkan prosedur berpikir, maka, saintis tersebut memang tidak bisa berpikir. Sebaliknya, ketika saintis mengajukan pertanyaan apa makna-kebenaran maka saintis bisa berpikir. Konsekuensinya, sains juga bisa berpikir.

Alternatif Korespondensi Koherensi

Jadi, apa makna-kebenaran? Apa alternatif dari korespondensi dan koherensi?

Alternatif yang umum adalah konvensi, konsensus, demokrasi, voting, dissensus, dan pragmatis.

Konvensi adalah kebenaran didasarkan pada kesepakatan. Dissensus adalah kebenaran yang menerima perbedaan pendapat masing-masing pihak. Sementara, voting menyelesaikan perbedaan pendapat dengan memilih suara terbanyak. Terakhir, pragmatis menetapkan kriteria kebenaran adalah manfaat pragmatis dari suatu proposisi.

Pada analisis akhir, semua alternatif di atas akan kembali kepada korespondensi dan kohorensi. Bagaimana pun, semua proses berpikir ini sudah berhasil mengajak sains untuk berpikir. Adakah proses berpikir yang lebih radikal? Memang ada.

Konsep kebenaran sebagai disclosedness, opening, alethia, keterbukaan, ketersingkapan, atau binuka. Semua istilah ini bermakna sama atau mirip. Kebenaran adalah keterbukaan atau binuka.

Binuka: benar adalah terbukanya makna-being.

Untuk memahami binuka, kita perlu mengacu makna-being berkarakter futural – meski lebih tepat sebagai ekstase future, past, dan present. Kriteria kebenaran adalah masa depan. Fakta obyektif masa lalu dan masa kini adalah modal untuk menentukan masa depan. Atau, sebaliknya lebih tepat. Masa depan adalah penentu kebenaran. Dari visi masa depan, sains mengumpulkan fakta obyektif masa lalu dan memodifikasi masa kini. Dengan proses ini, sains mampu berpikir dan menemukan kebenaran otentik.

Bagaimana cara menentukan kebenaran masa depan? Dengan cara berpikir. Masa depan tidak bisa ditentukan oleh apa pun. Masa depan adalah possibilitas. Masa depan adalah freedom. Masa depan adalah komitmen. Jadi, kita hanya bisa menentukan masa depan dengan berpikir. Sains hanya bisa menetapkan masa depan dengan berpikir. Lebih tepatnya, dengan berpikir-terbuka. Tujuan kita, memang, mengajak sains untuk berpikir terbuka.

2.2 Logika Klasik

Sains menerima tiga prinsip logika klasik: identitas, non-kontradiksi, dan hukum-antara. Jika sains hanya menerima logika-klasik ini maka sains tidak bisa berpikir. Karena, sains hanya menjalani prosedur berpikir. Sebaliknya, agar sains bisa berpikir, sains perlu memikirkan logika alternatif yang saya sebut sebagai logika dinamik: difference, kontradiksi, dan konstruksi.

Identitas vs Difference

Prinsip identitas menyatakan bahwa A adalah A. Misal, meja adalah meja. Proposisi, atau inferensi, dinyatakan benar jika memenuhi prinsip identitas.

P = 2 + 3
Q = 1 + 4

Kita bisa menyatakan bahwa P adalah Q karena, pada analisis akhir, P = 5 dan Q = 5. Memenuhi prinsip identitas. Barangkali Anda ingat ketika belajar identitas trigonometri? Beragam pernyataan yang berbeda, kemudian, diolah sampai akhirnya semua pernyataan adalah identik.

Prinsip difference berkebalikan dengan prinsip identitas. Meja adalah kebalikan dari seluruh yang bukan meja. Perhatikan ada meja, kursi, lantai, dan atap. Meja adalah yang bukan kursi, bukan lantai, dan bukan atap. Dengan demikian, bukankah sama saja? Antara prinsip difference dengan prinsip identitas? Sangat berbeda.

Prinsip identitas hanya membutuhkan meja untuk mengatakan meja adalah meja. Sedangkan, prinsip difference membutuhkan kursi, lantai, dan atap untuk menyatakan bahwa meja bukan kursi, bukan lantai, dan bukan atap. Prinsip identitas menyatakan bahwa dirinya sendiri sudah cukup menyatakan logika kebenaran. Prinsip difference membutuhkan pihak lain, lebih banyak pihak lain, untuk menyatakan logika kebenaran.

Sains bisa saja mengatakan bahwa sains adalah benar berdasarkan sains. Selaras dengan prinsip identitas. Tetapi, prinsip difference menolak klaim sains di atas. Sains tidak bisa klaim kebenaran hanya berdasar internal sains. Sains perlu mempertimbangkan yang bukan sains, misal seni, filsafat, agama, dan lain-lain. Paling bagus, klaim sains hanya bisa menyatakan bahwa sains berbeda dengan yang bukan sains. Sains berbeda dengan seni, berbeda dengan filsafat, dan berbeda dengan agama. Sehingga, sains perlu berpikir-terbuka.

Lalu, mana yang lebih benar antara prinsip identitas atau difference? Anda perlu berpikir untuk memutuskannya. Dan, sains memang bisa berpikir ketika mempertimbangkan keduanya.

Non-Kontradiksi

Prinsip kedua dari logika klasik adalah non-kontradiksi. Tidak mungkin ada kontradiksi. Atau, kontradiksi harus ditolak. Sementara, prinsip logika dinamik justru terbuka terhadap kontradiksi.

Kita ambil contoh tentang bilangan asli yang terdiri dari bilangan genap dan ganjil. Bilangan 3 adalah ganjil. Tidak mungkin 3 sebagai genap. Jika ada pernyataan “Bilangan 3 adalah genap” maka kontradiksi dan harus ditolak. Prinsip non-kontradiksi ini tampak jelas dengan sendirinya. Lalu, mengapa kita perlu mempertimbangkan kontradiksi bisa terjadi?

Prinsip non-kontradiksi memandang obyek sebagai obyek asbtrak misal bilangan 3. Obyek abstrak, misal bilangan 3, seakan-akan konstan. Tidak terpengaruh oleh ruang dan waktu. Di mana pun, kapan pun, bilangan 3 tetap bilangan 3, tidak berubah. Atau, obyek abstrak berada di luar ruang dan waktu. Tetapi, apakah ada obyek abstrak seperti itu?

Hegel (1770 – 1831) dalah pemikir besar pertama yang mengokohkan prinsip kontradiksi, melawan non-kontradiksi. Ketika kita menyatakan bilangan 3, maka, kita merujuk eksistensi bilangan 3 apa adanya. Sesaat kemudian, esensi bilangan 3 akan langsung berkontradiksi dengan eksistensi bilangan 3. Terjadi proses dialektika, akibat dari kontradiksi eksistensi dengan esensi, menghasilkan becoming bilangan 3. Dan, proses dialektika kontradiksi ini berlangsung terus-menerus. Karena, becoming adalah eksistensi dalam status yang baru. Pada gilirannya, berkontradiksi dengan esensi.

Sartre (1905 – 1980) mengembangkan prinsip kontradiksi lebih jauh lagi. Being-in-itself memang menolak kontradiksi dengan kembali kepada identitas: meja adalah meja. Sedangkan, being-for-itself justru selalu berkontradiksi dengan dirinya sendiri, misal kesadaran manusia. “Saya bukanlah saya yang seperti ini.” “Saya bukan karyawan yang seperti ini.” Ketika saya berubah menjadi karyawan dengan status baru, kesadaran sadar lagi, “Saya bukan karyawan yang seperti ini.” Orang bisa saja menerima identitas, “Saya adalah seperti ini.” Keyakinan seperti itu adalah bad-faith, mengubah kesadaran bagaikan “meja”. Manusia sejati, terus-menerus, berubah karena kontradiksi, “Saya bukan seperti ini.”

Dalam realitas selalu terjadi kontradiksi antara eksistensi dan esensi. Dalam pikiran, bukan realitas konkret, kita bisa membayangkan hanya ada esensi, misal obyek abstrak bilangan 3, sehingga non-kontradiksi. Lalu, sains harus memilih kontradiksi atau non-kontradiksi? Atau, kombinasi di antara keduanya? Hanya proses berpikir-terbuka yang akan memutuskannya. Sains, memang, perlu berpikir-terbuka. Terbukti, sains bisa berpikir-terbuka.

Antara vs Konstruksi

Hukum-antara adalah prinsip ketiga dari logika klasik. Hanya ada satu pilihan antara benar atau tidak-benar. Tidak ada pilihan ketiga. Atau, pernyataan “P atau negasi P” pasti bernilai benar.

Dalam contoh bilangan asli, “Genap atau tidak genap” pasti bernilai benar. Bilangan 3 adalah tidak genap maka pernyataan benar. Bilangan 6 adalah genap maka pernyataan benar.

Prinsip konstruksi berbeda dengan hukum-antara dalam prinsip. Pernyataan “P atau negasi P” tidak bisa dipastikan nilai kebenarannya. Kita hanya bisa memastikan nilai kebenaran jika berhasil mengkonstruksi, empiris atau konseptual, salah satu di antara “P” atau “negasi P”.

Mari kita ambil contoh agar lebih mudah memahami. Pernyataan L: Lampu lalu lintas antara menyala atau tidak menyala. Bagi hukum-antara, pernyataan L selalu benar. Tampak masuk akal karena lampu bisa menyala atau tidak menyala. Bagi prinsip-konstruksi, kita masih belum bisa memastikan nilai kebenaran. Karena, bisa saja lampu lalu lintas sudah tidak ada lagi – misal dicuri oleh pencuri. Sehingga, tidak relevan lagi antara menyala atau tidak.

M: Ada makhluk cerdas atau tidak ada makhluk cerdas di planet Mars.

Bagi hukum-antara, M selalu benar. Bagi prinsip-konstruksi, kita perlu memastikan dulu untuk mengujinya. Prinsip-konstruksi memang membatasi sains hanya kepada pernyataan-pernyataan yang relevan. Tetapi, ada kalanya, kita perlu lebih berani berpikir spekulasi.

Jadi, sampai di sini, apakah sains tidak bisa berpikir? Apakah sains tidak logis? Sains memang tidak bisa berpikir, tidak logis, jika sains membatasi diri hanya menerapkan logika-klasik. Sains hanya akan menjalankan prosedur berpikir. Tetapi, sains jelas bisa berpikir ketika mempertimbangkan logika-klasik dan logika dinamik. Sains berpikir-terbuka dengan mimilih pada konteks mana saja menerapkan logika klasik dan pada konteks yang lain menerapkan logika-dinamik.

2.3 Kausalitas

Sains menjadi tidak bisa berpikir ketika memastikan hukum kausalitas berlaku apa adanya. Sains menjadi bisa berpikir ketika bertanya apa makna-kausalitas.

Hume (1711 – 1776) pemikir besar pertama yang berhasil menggoyahkan konsep kausalitas. Apakah kausalitas memang ada? Apakah kita bisa membuktikan kausalitas? Jika tidak ada kausalitas, maka, apa alternatifnya?

Pertama, mari kita coba jawab apa alternatif dari kausalitas. (1) Atomisme alam raya. Seluruh alam raya ini terdiri dari sistem atom-atom yang diskrit secara waktu. Misal detik-1 bersesuaian dengan frame-1 alam raya dan detik-2 bersesuaian dengan frame-2. Karena berurutan, kita mengira frame-1 adalah sebab bagi frame-2. Tetapi, sesuai atomisme, tidak ada kausalitas. Frame-1 dan frame-2 saling mandiri. Jeda waktu antar frame bisa dibuat mendekati 0 sehingga terkesan kontinyu.

(2) Spontan. Terjadi beberapa kejadian spontan tanpa ada sebab. Misal, pikiran manusia bisa memikirkan sesuatu di luar dugaan tanpa sebab. Atau, sistem chaos bisa memunculkan sesuatu tanpa sebab yang mendahuluinya. Atau, seniman tiba-tiba muncul inspirasi. Kejadian spontan ini tanpa sebab apa pun. Jika kejadian spontan ini digabungkan dengan sistem deterministik kompleks maka kausalitas menjadi sirna.

(3) Kausalitas tanpa konsistensi. Gaya gravitasi menjadi sebab buah jambu jatuh menuju bumi di malam kemarin. Tetapi, beberapa tahun ke depan, beberapa abad ke depan, beberapa milenium ke depan, apakah gaya gravitasi tetap konsisten menjadi sebab buah jambu jatuh ke bumi? Bisa jadi, tidak ada lagi gaya gravitasi, misalnya. Ditambah lagi, tidak ada sebab yang menjadikan gravitasi tetap konsisten. Atau, tidak ada jaminan bahwa gravitasi tetap konsisten di masa depan.

Kedua, seandainya tiga alternatif di atas atau alternatif lainnya benar, sehingga kausalitas gugur, tetap saja, pikiran manusia membutuhkan konsep kausalitas. Terlepas status ontologis hukum kausalitas, pikiran kita tetap membutuhkan kausalitas.

Apakah kausalitas bisa dibuktikan? Sulit sekali. Karena setiap pembuktian memerlukan konsep kausalitas. Apakah kausalitas bisa dibuktikan sebagai tidak ada? Sulit sekali. Karena, seandainya ada bukti bahwa kausalitas tidak eksis maka justru bukti itu menunjukkan kausalitas eksis.

Ketiga, penting bagi kita untuk bertanya, “Apa makna-kausalitas?”

Jika sains memaknai kausalitas dengan suatu makna, maka, apakah ada makna yang lain? Jika ada lebih dari satu makna-kausalitas, maka, sains memilih makna yang mana? Atau, sains bisa mengkombinasikan beragam makna? Pertanyaan terhadap makna-kausalitas ini mendorong sains bisa berpikir. Sains, memang, bisa berpikir secara mendalam.

Makna umum kausalitas adalah masa lalu menjadi sebab bagi masa kini. Dan, masa kini menjadi sebab bagi masa depan. Karena sains bisa mengklaim mengetahui masa lalu maka sains paling berhak menentukan masa kini. Pada gilirannya, karena sains paling mengetahui masa kini maka sains yang paling mengetahui masa depan. Sejarah masa lalu, sejak terjadi big bang sampai masa depan alam raya hancur, sains memiliki pengetahuan itu semua. Makna kausalitas seperti itu berasumsi kausalitas sebagai determinisme.

Makna alternatif dari kausalitas menerima adanya ketidak-pastian. Ada aspek probabilitas dan in-determinisme dalam kausalitas. Fisika quantum, dan relativitas, mengakui beberapa aspek tidak-pasti dari sains. Sementara, sains sosial humaniora lebih leluasa menerima aspek tidak-pasti dari suatu pengetahuan. Dengan makna kausalitas yang lebih lentur seperti ini, mendorong sains lebih terbuka dalam berpikir dan bersikap.

Makna alternatif kausalitas yang lebih radikal adalah memandang future menjadi sebab bagi present dan past. Kita sudah membahas, di atas, bahwa makna-being berkarakter futural – masa depan. Future adalah sebab bagi semua gerak perubahan. Future menarik masa lalu dan masa kini untuk menuju masa depan. Jadi, sains masa depan yang menyebabkan sains masa lalu dan sains masa kini bergerak lebih maju.

Apa itu sains masa depan? Sains masa depan adalah possibilitas yang terbuka luas. Ada banyak sains masa depan dalam jumlah tak terbatas. Kita akan memilih yang mana? Untuk menjawabnya, kita berhadapan dengan problem etika yang menjadi pembahasan selanjutnya.

3. Aspek Praktis

Sains tidak bermoral. Sains tidak beretika. Karena, sains mengklaim sebagai pengetahuan obyektif, justru, berakibat tidak bermoral.

Jika sains adalah obyektif, maka, bukankah sains menjadi netral? Dari aspek praktis, sains tidak bisa netral. Atau, sulit sekali untuk netral. Klaim sains sebagai netral hanya bisa dilakukan berdasar data masa kini dan data masa lalu. Sementara, kita tidak akan bisa memperoleh data lengkap dari masa kini dan masa lalu.

Data masa lalu terbatas oleh kemampuan kita untuk akses mundur ke belakang. Sementara, setiap data masa lalu perlu didukung oleh data yang lebih awal tanpa henti. Sedangkan untuk melengkapi data masa kini, kita terbatas oleh perspektif. Kita hanya mampu akses data dengan perspektif terbatas. Tidak mungkin, kita bisa akses dari seluruh perspektif. Sebaliknya juga tidak bisa. Kita tidak bisa akses data tanpa perspektif.

Alternatif yang tersisa adalah melihat sains masa depan. Semua penilaian kita terhadap sains didasarkan pada data di masa depan. Demikian juga, penilaian kita tentang moralitas sains perlu didasarkan pada aspek masa depan. Kosekuensisinya, sains menjadi berpikir-terbuka. Tidak ada klaim dogmatis terhadap sains masa depan. Sains masa depan adalah posibilitas, freedom, dan komitmen. Tentu, pilihan masa depan tidak bisa netral. Karena, masa depan bukanlah fakta obyektif yang netral.

Masa depan mana yang akan kita jadikan referensi sains?

3.1 Posibilitas

Sains masa depan adalah posibilitas, peluang, terbukanya sains-sains baru penuh harapan. Secara etika, sains juga perlu memberi peluang kepada pihak lain untuk tumbuh berkembang, memberi posibilitas.

Teori relativitas Einstein, misalnya, membuka posibilitas baru dengan kemampuan mengubah massa materi menjadi energi. Di masa depan, pengembangan energi ini akan bermanfaat bagi masyarakat banyak. Sehingga, pengembangan teori relativitas di masa kini mendapat justifikasi. Ditambah dengan data penemuan-penemuan sains masa lalu, maka, menjadi lebih lengkap.

Di sisi lain, orang berniat membuat senjata pembunuh massal untuk beberapa tahun ke depan. Pengembangan sains saat ini, untuk mendukung senjata pembunuh massal menyalahi etika. Kita perlu menolaknya. Para saintis perlu menolaknya.

Tentu saja, di banyak kasus, pengembangan sains masa depan akan terjadi pro-kontra. Alternatif mana yang akan kita pilih? Sains perlu berpikir-terbuka untuk memilih alternatif yang etis. Yaitu, pilihan yang membuka posibilitas luas bagi umat manusia dan semesta. Sains memang ber-etika.

3.2 Freedom

Sains menjadi etis dengan mengembangkan freedom, kebebasan, bagi umat manusia mau pun alam raya. Hakikat ilmu adalah kebebasan dan membebaskan. Demikian juga, hakikat sains adalah freedom.

Sains masa depan menjadi bermoral ketika membebaskan wong cilik dari kebodohan dan kemiskinan. Sains, masa kini, menjadi etis ketika bertujuan membebaskan umat dan alam raya.

Dan, seperti biasa, orang bisa meragukan apakah sains benar-benar akan membebaskan umat di masa depan? Bisa diperdebatkan. Kita memang perlu berpikir-terbuka dan komitmen kuat untuk memilih keputusan tepat.

3.3 Komitmen

Masa depan adalah komitmen. Sains masa depan adalah komitmen itu sendiri.

Ketika sains sudah menetapkan posibilitas dan freedom, selanjutnya, diperlukan komitmen. Pengalaman menunjukkan, freedom tidak datang begitu saja. Kita perlu berjuang untuk meraih freedom – memperjuangkan kemerdekaan. Komitmen adalah segalanya.

Sains menjadi etis dengan komitmen yang kuat terhadap posibilitas dan freedom.

Catatan Penutup

Di bagian penutup ini, saya mencatat tiga poin penting terkait probem filsafat sains: konfirmasi, koreksi, dan komitmen.

Pertama, konfirmasi. Benar adanya bahwa sains tidak otentik. Sains tidak bisa berpikir. Dan, sains tidak etis. Meski demikian, karakter-karakter di atas bukanlah karakter asli dari sains. Sehingga, sejatinya, sains bisa berubah menjadi lebih baik.

Kedua, koreksi. Sains mampu mengoreksi diri. Sains bisa berubah dari tidak otentik menjadi otentik dengan cara bertanya question-of-being. Sains berubah dari tidak bisa berpikir menjadi bisa berpikir dengan bertanya makna-kebenaran, mempertimbangkan logika-klasik dan logika dinamik, serta bertanya tentang makna-kausalitas.

Ketiga, komitmen. Sains menjadi bermoral dengan komitmen tinggi kepada posibilitas dan freedom bagi umat manusia dan alam raya.

Referensi

1) Newton, Isaac. 1846. Mathematical Principal of Natural Philosophy. New York, Dadiel Adee 45 Liberty Street.

2) Einstein, Albert. 1949. Philosopher-Scientist. Evanston, Library of Living Philosophers.

3) Heidegger, Martin. 1962. Being and Time. Oxford, Blackwell Publisher.

4) Rouse, Joseph. 2005. Continental Philosophy of Science. UK, Blackwell Publisher.

5) Suhrawardi, Shihab Al-Din. 2000. Philosophy of Illumination. Brigham Young University.

6) Shadra, Mulla. 2001. Kearifan Puncak. Yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset.

7) Russell, Bertrand. 1912. The Problems of Philosophy. New York, Henry Holt and Company.

8) Arabi, Ibn and Chittick, William. 1998. The Self-disclosure of God. State University of New York Press.

9) Arabi, Ibnu. 2018. Al-Futuhat Al-Makkiyyah. Yogyakarta, Darul Futuhat.

10) Mahzar, Armahedi. 2004. Revolusi Integralisme Islam. Bandung, Mizan.

11) Mahayana, Dimitri. 1999. Menjemput Masa Depan. Bandung, PT Remaja Rosdakarya.

12) Derrida, Jacques. 2016. Heidegger: The Question of Being & History. The University of Chicago Press.

13) Nggermanto, Agus. 2001. Quantum Quotient. Bandung, Nuansa Cendekia.

14) Hegel, Georg. 1873. The Logic of Hegel. Oxford, The Clarendon Press.

15) Rovelli, Carlo. 2018. Reality is Not What it Seems. Riverhead Books.

Ontologi Matematika Fiksional

Matematika adalah ontologi fundamental. Dengan nilai kebenaran yang eksak, matematika sebagai ontologi memberi kepastian filosofi. Sehingga, kita menilai kebenaran suatu pernyataan atau teori dengan meyakinkan. Benarkah demikian?

Kita bisa bertanya, “Apa, sejatinya, obyek dari matematika?” Misal, bilangan atau angka 3, sejatinya apa itu angka 3? Meski pun, kita bisa memastikan nilai kebenaran operasi bilangan bulat 2 + 1 = 3, tetapi, tidak mudah untuk memahami apa makna angka 3 itu sendiri.

1. Ontologi
2. Platonisme
3. Fiksionalisme

Pertama, kita akan mengkaji klaim bahwa matematika adalah ontologi dan, sebaliknya, ontologi adalah matematika. Selanjutnya, kedua dan ketiga, kita akan membandingkan Platonisme dan fiksionalisme dalam filosofi matematika. Platonisme meyakini bahwa obyek matematika, misal angka 3, sebagai benar-benar ada. Sehingga, Platonisme adalah realisme matematika. Sebaliknya, fiksionalisme memandang bahwa obyek matematika, misal angka 3, hanya fiksional atau tidak nyata.

1. Ontologi

Badiou (1937) meng-klaim bahwa ontologi adalah matematika dan matematika adalah ontologi. Atau, matematika adalah ontologi fundamental. Dengan demikian, matematika adalah fundamental dari seluruh eksistensi, esensi, realitas, dan kebenaran itu sendiri. Meski pun klaim matematika sebagai ontologi bisa kita runut mundur sampai era Plato, Pythagoras, bahkan Thales, tetapi baru Badiou melakukan klaim secara eksplisit di akhir abad 20.


2. Platonisme
3. Fiksionalisme