Jokowi: Semua Memburuk

Tidak semperti biasa. Presiden Jokowi menyatakan bahwa semua memburuk. Biasanya, presiden memandang situasi selalu dari sisi positif. Kali ini, presiden menyatakan kondisi memburuk, semua. Tentunya dalam kaitan pandemi corona covid-19 yang tidak mereda.

Apa artinya?

  1. Angka Reproduksi R

Saya rutin sepanjang pandemi di Indonesia menghitung angka reproduksi R dari covid di Indonesia, dan beberapa negara, provinsi, serta kabupaten kota. Hasil perhitungan ini menunjukkan R “selalu” di atas 1 yang bermakna pandemi terus menyebar di Indonesia. Orang boleh mengatakan kondisi Indonesia memang memburuk, sejak Maret sampai Desember 2020.

2. Kasus Aktif

Kasus aktif minggu ini memburuk, kata Presiden. Menurut hitungan saya, memang memburuk sepanjang pandemi. Presiden membandingkan kasus aktif dengan periode minggu lalu dan rata-rata dunia. Saya tidak yakin perbandingan semacam itu adalah fair. Perbandingan dengan model angka reproduksi R akan menghasilkan analisa lebih terpercaya. Demikian juga untuk angka kematian Indonesia yang memburuk.

Kita coba cermati jebakan rata-rata penghasilan 5 keluarga di kampung dengan data: 2 juta + 2 juta + 2 juta + 2 juta + 102 juta.

Rata-rata = (2 + 2 + 2 + 2 + 102)/5 = 110/5 = 20 juta per keluarga

Maka Pak RW bergembira karena rata-rata penghasilan warga kampung meningkat bahkan selama kondisi pandemi. Tahun ini rata-rata 20 juta per bulan tiap keluarga. Sedangkan tahun 2019 lalu penghasilan rata-rata hanya 4 juta per bulan tiap keluarga.

Tentu saja kesimpulan Pak RW tidak tepat. Rata-rata naik karena ada warga baru pindahan dari ibu kota yang penghasilannya 102 juta itu.

3) Jokowi Optimis

Seperti saya sebut di awal, Presiden Jokowi cenderung bersikap optimis dalam berbagai kesempatan. Maka ketika Presiden menyebut buruk tampaknya benar-benar ada sesuatu di balik pernyataan itu. Tentu saja spekulasi bisa liar ke arah mana saja.

Kita masih bisa optimis bahwa dalam waktu dekat vaksin akan menjadi solusi efektif mengatasi pandemi. Bila ini terjadi maka seluruh warga dunia patut bersyukur. Tetapi bila vaksin ternyata tidak efektif, pandemi tidak mereda, kasus terus melonjak, maka apa yang bisa dilakukan kemudian?

Kita bisa memperbaiki, tidak harus menunggu nanti. Saya mengembangkan model mengatasi pandemi dengan fokus kepada manajemen perilaku dan percepatan penyembuhan pasien. Dengan tambahan vaksin maka lebih manjur lagi.

Bagaimana menurut Anda?

Pengetahuan Tentang Universal

Cinta itu universal, tidak membedakan kasta. Cinta itu universal, tidak membedakan usia. Cinta itu universal, tidak memandang apa-apa. Cinta itu buta. Buta terhadap materi dunia. Cinta itu menuntun manusia menguak cakrawala.

1. Pengetahuan Pengenalan Universalia
2. Pengetahuan Universalia Melalui Deskripsi
3. Proses Pengetahuan Universalia
3.1 Empiris
3.2 Idealisasi
3.3 Sains Universal
4. Cinta Cantik Universal
5. Ringkasan
6. Diskusi
6.1 Transendental
6.2 Empiris
6.3 Transendental-ke-Empiris
6.4 Empiris-ke-Transendental
6.5 Mode Being
6.6 Mode Void
6.7 Irreducible

Saya cinta Rara. Sudah berulang kali saya menyatakan cinta itu. Cinta saya kepada Rara adalah cinta sejati, cinta seorang ayah kepada anaknya. Demi cinta, rela berkorban untuk kebahagiaan anaknya. Tapi bagaimana saya tahu cinta itu? Bagaimana kita bisa tahu cinta universal? Bagaimana kita mengetahui beragam universalia?

Russell mengelompokkan tiga jenis pengetahuan universalia. Pertama, pengetahuan melalui pengenalan. Kedua pengetahuan melalui deskripsi. Dan ketiga pengetahuan tidak melalui pengenalan mau pun deskripsi.

1. Pengetahuan Pengenalan Universalia

Dalam sehari-hari kita mengenali universalia secara langsung. Misal kita melihat piring bentuk lingkaran, topi bentuk lingkaran, koin bentuk lingkaran, dan benda-benda lain berbentuk lingkaran. Kita langsung mengenali mereka sebagai berbentuk lingkaran. Itu adalah contoh sederhana pengetahuan universalia “lingkaran” melalui pengenalan.

Tetapi ketika kita diminta untuk menjelaskan apa itu lingkaran kadang-kadang tidak mudah. Perlu keterampilan khusus dalam bahasa, geometri, atau bahkan matematika untuk dapat mendeskripsikan universalia “lingkaran”. Padahal kita mengenali bentuk lingkaran secara langsung begitu melihat benda partikular berbentuk lingkaran.

Contoh lain bisa kita pertimbangkan. Kita melihat lampu hijau, pisang hijau, daun hijau, baju hijau, dan benda-benda lain yang berwarna hijau. Lagi, kita langsung mengenali universalia warna “hijau”. Jika kita diminta mendeskripsikan warna hijau, bagaimana caranya? Tidak mudah juga.

Barangkali satu contoh lagi universalia lebih menarik. Kita sering melihat sepeda roda 2, ayam berkaki 2, tangan ada 2, telinga ada 2, dan berbagai macam hal yang menunjukkan kuantitas 2. Dengan mudah kita mengenali kuantitas “2” yang merupakan suatu universalia.

Kita bisa melanjutkan ke contoh pengetahuan melalui pengenalan kepada yang lebih kompleks, misal, “2 + 1 = 3”. Sebagai orang dewasa, kita dengan mudah mengenali bahwa 2 + 1 = 3. Tetapi bayangkan masa kanak-kanak kita, apakah kita bisa mengenali langsung 2 + 1 = 3? Begitu juga anak-anak yang saat ini berusia di bawah 5 tahun barangkali tidak bisa mengenali langsung penjumlahan angka-angka tersebut.

Dari sini, kita menyadari ada proses pengenalan yang sederhana, langsung, dan ada pula yang proses pengenalannya perlu pemahaman. Tentu saja kita bisa mengambil contoh univesalia yang lebih kompleks misal 6 x 7 = 42. Meski, sejatinya, kita bisa mengenali universalia 6 x 7 = 42 secara langsung, namun beberapa orang akan memerlukan proses tambahan yang lebih lama. Teori matematika yang lebih tinggi, misal rumus deret, juga merupakan universalia di mana beberapa orang mampu mengenalinya sedangkan orang yang lain tidak mampu memahaminya.

2. Pengetahuan Universalia Melalui Deskripsi

Bayangkan ada orang luar negeri yang sudah mahir berbahasa Indonesia, sebut saja namanya Manca. Dia lupa istilah bentuk dalam bahasa Indonesia. Manca memberikan deskripsi, “Apa ya, namanya? Bidang dimensi dua. Terdiri dari 4 garis sama panjang yang saling berpotongan membentuk 4 sudut yang sama besar.”

Kita ingin membantu Manca. Tapi kita harus memikirkan bentuk apa yang tepat untuk deskripsi dari Manca itu. Beberapa orang akan berhasil mengetahui deskripsi yang dimaksud Manca adalah persegi. Ya, tepat, universalia persegi. Di atas adalah contoh pengetahuan universalia melalui deskripsi.

Pada kesempatan lain, Manca lupa tentang angka, bilangan bulat, “Berapa sih angka setelah 8?” Tentu saja kita mudah menjawab angka yang dimaksud Manca adalah 9. Yang menarik juga bahwa universal “9” merupakan relasi dari beragam universalia dengan cara yang berbeda-beda. Misal 8 + 1, 10 – 1, 3 x 3, 18/2, dan lain-lain semuanya adalah universalia 9.

Dalam contoh di atas kita berhasil mengetahui universalia melalui deksripsi bahasa (dan angka). Dalam banyak hal, bahasa tidak mampu mendeskripsikan universalia. Misalnya bagaimana kita mendeskripsikan “hijau”?

Tentu saja, para ilmuwan dapat mendeskripsikan warna hijau adalah gelombang elektromagnetik pada spektrum panjang gelombang 495 – 570 nm. Dan ilmuwan lain yang tersebar di seluruh dunia memahami yang dimaksud gelombang 495 – 570 nm adalah warna hijau.

Kita punya cara yang lebih mudah dari para ilmuwan dunia itu. Warna hijau adalah warna lampu lalu lintas yang bukan merah dan bukan kuning. Dan semua orang, bukan hanya ilmuwan saja, paham bahwa bukan merah, bukan kuning adalah hijau.

Bisa kita lihat bahwa penjelasan warna hijau di atas akan sulit dipahami oleh orang yang buta sejak lahir. Meski ilmuwan memberi penjelasan terukur bahwa hijau adalah panjang gelombang antara 495 – 570 nm namun orang buta tidak merasakan sensasi seperti orang normal melihat warna hijau. Apa lagi penjelasan warna hijau sebagai warna lampu lalu lintas makin membingungkan orang buta yang tidak pernah melihat lampu lalu lintas sepanjang hidupnya.

Deskripsi bahasa, angka, kode, simbol, atau lainnya tampaknya baru bermanfaat bila dua pihak yang berkomunikasi saling mengenal maknanya melalui pengetahuan pengenalan.

3. Proses Pengetahuan Universalia

Klaim universal adalah benar, selalu berlaku secara umum. Beda dengan partikular. Beda dengan klaim induksi yang didasarkan pada penelitian empiris, bersifat terbatas.

Pertimbangkan pengetahuan universalia, “Keliling suatu persegi besarnya adalah 4 kali panjang sisinya.”

Selalu benar sejak sebelum masa Pythagoras, sampai masa sekarang, bahkan sampai masa yang akan datang. Bagaimana kita bisa mengetahui sebanyak itu? Tidak mungkin kita melakukan penelitian satu demi satu, mengukur setiap sisi persegi, lalu menghitung keliling persegi tersebut. Jumlah persegi yang, di dunia ini, banyaknya tak terhingga tidak bisa kita amati dengan cara apa pun. Maka kita perlu penjelasannya bagaimana kita bisa memperoleh pengetahuan universalia dengan meyakinkan seperti itu.

3.1 Empiris

Russell, pertama-tama, menegaskan bahwa kita mendapat pengetahuan unversalia melalui pengalaman empiris. Awalnya kita menyelidiki beberapa persegi. Mencoba mencari hubungan antara panjang sisi dan keliling persegi. Beberapa pengamatan menunjukkan bahwa keliling sama dengan 4 kali panjang sisi.

Pengamatan lebih mendalam, keliling sama dengan 4 panjang sisi, adalah berlaku umum. Kita bisa mengelilingi persegi, misal, dengan bergerak ke kanan, atas, kiri, dan bawah. Tepat 4 kali maka kembali ke titik awal. Cara ini berlaku untuk semua persegi. Maka kita menyimpulkan bahwa kesimpulan ini berlaku secara umum, universal. Dan memang selalu benar.

Saya ingin menegaskan lagi bahwa Russell memberi status yang kuat terhadap pengalaman, pengamatan empiris. Tanpa pengalaman tidak akan terbentuk pengetahuan universalia.

3.2 Idealisasi

Kedua, kita melakukan idealisasi. Bahwa semua persegi berlaku, kelilingnya sama dengan 4 kali panjang sisi. Bila ada suatu bangun yang kelilingnya tidak sama dengan 4 kali panjang sisi maka dipastikan bangun tersebut bukanlah persegi. Maka kita bisa melihat di sini, pengetahuan universalia, merupakan sistem aksiomatik. Sehingga wajar berlaku umum di mana pun, kapan pun.

Proses idealisasi ini eksklusif milik pengetahuan universal. Sementara, pengetahuan empiris melalui induksi, tidak bisa melakukan idealisasi dengan cara yang sama. Misal pernyataan, “Setiap manusia mati pada waktunya,” tetap tidak universal. Meski pun sepanjang sejarah menunjukkan semua manusia pada akhirnya mati tetapi di jaman ini masih ada manusia yang tidak mati. Pikiran kita masih terbuka terhadap kemungkinan ditemukannya suatu obat atau teknologi yang menjadikan manusia tidak mati. Walau peluangnya kecil tapi mungkin saja.

Pengetahuan empiris, misalnya sains, menemukan cara untuk “mengidealisasikan” diri. Caranya adalah dengan mengubah proposisi sains menjadi proposisi matematika. Contoh paling sukses adalah hukum Newton tentang gerak. Misalnya gerak lurus beraturan didefinisikan sebagai gerak lurus yang kecepatannnya konstan. Jika ada gerak yang kecepatannya tidak konstan maka itu bukan gerak lurus beraturan.

Dengan cara idealisasi di atas maka proposisi sain menjadi berlaku universal, karena sejatinya adalah proposisi matematika.

Teori Newton ini berdampak radikal. Mengoreksi pandangan Aristoteles dan pandangan masyarakat awam. Bila ada bola bergerak dengan kecepatan 10 km/jam di jalan yang licin tanpa gangguan maka bola tersebut akan terus bergerak dengan kecepatan tetap selamanya, tidak pernah berhenti.

Aristoteles, dan pandangan masyarakat umum, menduga bola tersebut akan melambat. Dan pada akhirnya bola akan berhenti. Karena, pada bola, tidak ada lagi yang mendorong. Tidak ada lagi sebab yang menyebabkan bola terdorong. Lagi pula, berbagai pengamatan menunjukkan bahwa bola berhenti pada akhirnya. Tidak pernah kita melihat bola terus-menerus bergerak.

Tampaknya, Aristoteles dan masyarakat umum, harus menerima kekalahan. Teori Newton yang benar. Berbagai macam percobaan membuktikan. Bola tidak akan pernah berhenti bila tidak ada gangguan. Misal bola pertama akan berhenti dalam 1 menit. Bola kedua, jalan dibuat lebih licin, berhenti setelah 2 menit. Bola ketiga, jalan dibuat sangat licin, maka bola baru berhenti setelah 10 menit. Dan seterusnya, ketika jalan dibuat licin sempurna, maka bola tidak akan pernah berhenti.

Tetapi bagaimana dengan kenyataan sehari-hari bahwa bola pada akhirnya memang berhenti? Bola berhenti disebabkan adanya gangguan dari luar, berupa jalan tidak licin dan gesekan udara. Jika tidak ada gangguan maka teori Newton tentang gerak lurus beraturan yang benar dan selalu benar secara universal. Namun karena kehidupan sehari-hari ada gangguan, semisal gesekan udara, maka berlaku teori Newton tentang gerak lurus berubah beraturan. Teori Newton ini juga berupa proposisi matematika sehingga berlaku universal. Singkatnya, sains, dengan menggunakan proposisi matematika, maka selalu benar bersifat universal.

3.3 Sains Universal

Mudah kita pahami, saat ini, bahwa sains (dan teknologi) benarnya bersifat universal. Dan tentu kita boleh meragukannya. Resiko, meragukan sains, adalah dianggap sebagai tidak ilmiah.

Selama sains berhasil membatasi diri dalam proposisi matematika maka terjamin nilai kebenarannya, semisal teori Newton. Tetapi, ketika sains melangkah lebih luas dari proposisi matematika maka tidak ada jaminan berlaku universal. Paradoksnya, bila sains hanya sah secara matematis maka fenomena empiris tidak bisa dijelaskan oleh sains. Sains tidak punya hak lagi untuk klaim universal.

Karl Popper, filsuf sains abad 20, memberikan ide cerdik untuk falsifikasi kebenaran sains empiris. Kebenaran proposisi sains tidak bisa dibuktikan benar. Hanya bisa dibuktikan salah. Lalu disusun proposisi sains yang lebih bagus. Begitulah perkembangan sains. Kesalahan demi kesalahan membersihkan sains dari dugaan yang salah maka sains makin kuat.

Yang paling terkenal adalah proposisi, “Semua angsa berwarna putih.”

Pengamatan dari ratusan sampai ribuan angsa, semua berwarna putih. Dilanjutkaan pengamatan bertahun-tahun berlalu, semua angsa berwarna putih. Maka wajar bagi kita menyimpulkan bahwa semua angsa berwarna putih. Mudah kita cermati, proposisi ini tidak bersifat universal. Artinya sewaktu-waktu bisa saja kita menemukan angsa tidak berwarna putih.

Maka proposisi di atas tidak bisa kita buktikan kebenarannya. Berjuta-juta angsa yang kita periksa, misalnya, semua berwarna putih maka tetap tidak menjamin kebenarannya. Cara paling tepat adalah menganggap proposisi ini hanya berlaku untuk sementara. Sampai suatu saat ada bukti sebaliknya. Dan benar saja, ditemukan ada satu angsa berwarna hitam. Maka terbukti proposisi di atas salah. Berhasil difalsifikasi.

Pada bagian berikutnya kita akan mendiskusikan ide falsifikasi ini dibandingkan dengan ide induksi untuk mengembangkan sains.

Kritik lebih keras, terhadap sains, berasal dari Lyotard, sang tokoh posmodern. Nilai kebenaran sains hanya berbasis konsensus belaka. Lyotard tidak percaya kepada metanarasi yang “dipaksakan” oleh sains – modern. Lyotard merujuk dasar kritiknya ini kepada Immanuel Kant. Berbeda dengan Popper yang kritiknya justru menguatkan sains, kritik posmodern seakan-akan meruntuhkan sains dari landasan paling dasarnya. Kita juga akan membahas kritik ini pada bagian khusus berikutnya.

4. Cinta Cantik Universal

Pembahasan kita sejauh ini, tampaknya, mengarah kepada legitimasi sains. Yang selama ini, masyarakat modern menganggap sains selalu benar, nyatanya masih bisa kita pertanyakan keabsahannya. Sementara cantik dan cinta, yang sering dianggap sekedar subyektif dan tidak ilmiah, justru menguat status ontologisnya.

Cantik itu universal. Maka cantik itu abadi, seperti sudah kita bahas di bagian sebelumnya. Eksistensi cantik tidak di dunia materi dan tidak di dunia alam mental manusia tapi cantik ada di dunia universalia. Sementara kita perlu mempertimbangkan bahwa cantik hanyalah sebuah kata untuk menunjukkan cantik sejati yang kuantitasnya tak terbatas. Barangkali kita bisa mempertimbangkan beberapa istilah cantik, ayu, manis, anggun, menawan, dan sebagainya. Masing-masing mewakili realitas cantik dalam komposisi yang berbeda. Ada komposisi cantik tak terbatas di dunia universalia. Betapa indahnya hidup di dunia yang penuh kecantikan itu.

Tentang cinta, tidak ada keraguan bahwa cinta lebih utama dari dunia dan isinya. Cinta seperti apa yang dimaksud? Kita masih perlu membahas dulu pengetahuan intuitif, pada bagian selanjutnya, agar lebih memudahkan diskusinya.

5. Ringkasan

Kita memperoleh pengetahuan tentang universalia melalui: (A) pengenalan langsung, misal mengetahui persegi, (B) deskripsi, misal bangun datar dengan 4 sisi sama panjang yang berpotongan tegak lurus, (C) bukan (A) mau pun (B), misal melalui intuisi, pengetahuan inseptual, pengetahuan transenden, dan lain-lain.

Proses untuk mendapat pengetahuan adalah, pertama, pengamatan empiris. Kedua, membuat idealisasi sehingga berlaku secara universal. Dengan bantuan idealisasi matematika, saat ini, sains dan teknologi berkembang pesat berlaku universal. Kita bisa bersikap kritis terhadap klaim universal ini.

Cantik dan cinta adalah contoh universal. Kita mengenali cantik melalui intuisi. Proses lebih lengkap pengetahuan intuisi ini menjadi pembahasan kita selanjutnya.

6. Diskusi

Tiba saatnya, kita mendiskusikan bagaimana terbentuknya pengetahuan prinsip umum, pengetahuan tentang universalia paling mendasar – identitas, non-kontradiksi, dan hukum-antara. Barangkali, kita juga bisa mempertimbangkan penantang dari prinsip umum – non-identias, kontradiksi, dan intuisionisme.

6.1 Transendental

Salah satu sudut pandang menyatakan bahwa kita bisa memahami pengetahuan prinsip umum melalui argumen transendental. Kita memahaminya begitu saja, transendental, atau terlepas, dari setiap pengetahuan empiris. Justru, pengetahuan empiris bisa menjadi suatu pengetahuan, yang bermakna bagi manusia, lantaran ada pengetahuan prinsip umum yang transendental itu.

Lalu, bagaimana pengetahuan transendental itu bisa hadir dalam diri manusia?

Barangkali jawaban paling jelas adalah: pengetahuan transendental adalah anugerah dari Tuhan. Maka, kita perlu bersyukur atas anugerah yang besar ini. Atau, pengetahuan transendental adalah anugerah alamiah paling fundamental bagi manusia.

Di sisi lain, kita bisa membedakan argumen transendental dengan dunia transenden. Argumen transendental adalah sekedar argumen “yang terpisah” dari pengamatan empiris. Sementara, dunia transenden adalah sebuah dunia lain yang berbeda dengan dunia materi yang kita amati secara empiris ini.

Dengan pemahaman transendental seperti di atas, para pemikir empiris bisa menerima argumen transendental. Tetapi beberapa pemikir masih bersikeras menuntut argumen yang empiris-imanen pada dunia materi. Bagaimana pun, argumen transendental tetap layak kita terima sebagai sah meski pun kita menggunakan sudut pandang empiris materialis.

6.2 Empiris

Tidak ada yang misterius dari pengetahuan prinsip umum. Semua pengetahuan ini terbentuk dari pengalaman empiris. Kemudian, kita membuat generalisasi dan idealisasi, sedemikian hingga, pengetahuan ini selalu berlaku benar sebagai prinsip umum. Ketika masih bayi, kita tidak mengetahui bahwa meja “persegi” adalah identik dengan ubin “persegi.” Pengalaman empiris memberi tahu kita bahwa meja “persegi” adalah identik dengan ubin “persegi.” Semua terjadi secara alamiah empiris saja.

Bagaimana prinsip identitas seperti itu bisa berlaku lebih luas dari pengalaman empiris? Padahal, semua didasarkan pada pengalaman empiris.

Pengetahuan prinsip umum berlaku luas, dan universal, karena kita sudah melakukan generalisasi dan idealisasi. Tanpa idealisasi, kita tidak bisa memandang meja “persegi” identik dengan ubin “persegi.” Karena “persegi” adalah ideal maka kita bisa mengatakan semua “persegi” adalah identik.

Kita masih bisa bertanya bagaimana kita tahu bahwa idealisasi adalah valid? Prespektif empiris bisa memberi jawaban. Kemudian, kita bisa bertanya lagi “mengapa valid” dari setiap jawaban, tanpa ada akhir. Akibatnya, tidak akan ada solusi akhir. Dari sini, kita bisa memikirkan solusi sintesa: transendental-ke-empiris dan empiris-ke-transendental.

6.3 Transendental-ke-Empiris

Solusi sintesa pertama adalah trans-ke-empiris: pengetahuan prinsip umum itu, sejatinya, adalah transenden(tal) kemudian berkembang melalui pengalaman empiris. Kita sudah tahu, secara transenden, bahwa (P): Setiap persegi identik dengan persegi. Hanya saja, kita perlu pengalaman empiris untuk mengetahui bahwa meja adalah persegi dan ubin adalah persegi. Kemudian, kita menyadari bahwa mereka adalah persegi yang identik.

6.4 Empiris-ke-Transendental

Alternatif solusi sintesa kedua adalah dari empiris-ke-trans: semua pengetahuan adalah empiris, untuk kemudian, terbentuk pengetahuan transenden(tal). Awalnya, pengetahuan kita adalah kosong. Pengamatan empiris, kemudian, mengisi pengetahuan secara partikular. Melalui proses suatu penalaran, akhirnya berkembang, tercipta pengetahuan transendental yang melampaui batasan empiris.

Tentu saja, kita bisa menerima bahwa empiris dan transendental sama-sama berperan dalam pembentukan pengetahuan prinsip umum. Dan, transendental niscaya diperlukan untuk mencegah terjadinya regresi, mundur, tanpa batas. Bagaimana pun, sampai di sini, pertanyaan dasar masih tetap muncul, mana yang lebih prior di antara empiris dan transendental?

Pandangan eksistensialisme menjadi alternatif menarik.

6.5 Mode Being

Eksistensialisme memberi alternatif menarik bahwa “being” adalah anugerah yang sudah ada begitu adanya. Tugas kita, umat manusia, adalah memaknai being dan berpartisipasi dalam gerak harmonis wujud.

Pengetahuan prinsip umum adalah mode-being atau mode-wujud. Demikian juga, argumen transendental dan empirisme adalah sama-sama mode-being. Being membuka diri, menyingkapkan diri, disclosedness, openness, melalui beragam mode-being. Dengan demikian, transendental dan empirisme adalah merupakan satu kesatuan being. Meski, orang tertentu “terbuka” melalui mode-being transendental. Sementara, orang lain “terbuka” melalui mode-being empiris. Keduanya saling terhubung, bahkan, satu kesatuan being.

Lalu, bagaimana kita bisa tahu bahwa itu semua adalah keterbukaan mode wujud? Karena, itu semua adalah anugerah wujud.

Being adalah realitas yang jelas dengan dirinya sendiri semisal cahaya. Segala sesuatu butuh cahaya agar menjadi jelas. Argumen transendental menjadi jelas karena anugerah cahaya. Demikian juga, empirisme menjadi jelas karena anugerah cahaya. Tugas kita adalah memaknai, menginterpretasikan, dan berpartisipasi dalam cahaya.

Dengan sudut pandang itu, pandangan eksistensialis lebih dekat ke argumen transendental? Pemikir Timur tampak lebih dekat ke transendental. Cahaya Segala Cahaya adalah Tuhan yang memberi anugerah kepada segala yang ada. Sementara, pemikir Barat bisa saja lebih dekat dengan empirisme. Being adalah segala realitas yang ada di hadapan kita dengan keragaman mode-being terutama mode-empiris.

Sampai di sini, kita bisa menyimpulkan bahwa pendekatan mode-wujud ini mampu menjelaskan terbentuknya pengetahuan prinsip umum. Yaitu, mereka semua adalah mode-wujud. Beres semua. Tidak juga. Manusia memang tidak akan beres. Manusia selalu dinamis.

Apa dasar dari semua wujud? Tidak ada! Void adalah tidak ada. Dengan demikian, void adalah dasar dari wujud, void lebih fundamental dari wujud. Benarkah?

6.6 Mode Void

Memikirkan void sebagai sesuatu yang utama, tampak, sia-sia. Void adalah ketiadaan. Void adalah hampa. Void adalah kosong. Void memang tidak ada. Tetapi, karena being tidak bersandar ke yang lain, maka, being bersandar ke void. Akibatnya, void memiliki peran besar secara ontologis.

Kembali ke problem pengetahuan prinsip umum, apakah mereka muncul berdasar kepada void? Ya, benar, menurut pandangan void sebagai ontologi fundamental. Bagaimana, misalnya, void bisa menjadi dasar prinsip identitas? Di sini, justru karakter menarik dari void. Karena void adalah hampa maka void bebas, tidak bisa diikat apa pun.

Void bebas membentuk prinsip identitas – bila void mau. Void bisa menjaga karakter identik dari suatu proposisi, logika, atau pun realitas. Tetapi, void juga bebas membentuk prinsip different, atau non-identitas. Void selalu menolak identitas. Karena, void memang menolak segalanya. Dengan demikian, void mampu mengakomodasi pengetahuan prinisp umum atau pun penantangnya, misal prinsip different.

Lebih luas, void bebas merangkul kontradiksi dan non-kontradiksi. Termasuk, void juga bisa merangkul hukum-antara (law of excluded the middle) mau pun intuisionisme. Intinya, void memang bebas.

Tetapi, apa artinya jika semua bebas? Bebas total tanpa batas, sama artinya, tidak ada aturan sama sekali. Pengetahuan menjadi bukan pengetahuan karena semua chaos.

Pengetahuan tetap valid sebagai pengetahuan dari sudut pandang void. Prinsip umum tetap valid sebagai prinsip umum. Hanya saja, pengetahuan bersifat retroaktif bukan metafisik. Klaim metafisik berani menyatakan bahwa pengetahuannya benar secara universal. Sementara, retroaktif hanya berani klaim secara retroaktif – refleksi terhadap realitas yang ada dan masa lalu. Terhadap klaim masa depan, retroaktif tidak bisa klaim secara niscaya karena void adalah bebas. Masa depan adalah bebas.

Void tidak mengijinkan klaim dogmatis. Void hanya mengijinkan sikap terbuka terhadap realitas.

Bagaimana void bisa menjelaskan keragaman realitas? Void itu sendiri beragam maka realitas ikut beragam. Kita bisa membayangkan bilangan bulat positif 1, 2, 3, dan seterusnya sebagai being. Sementara, bilangan negatif adalah tidak ada atau ketiadaan atau void. Dengan cara pandang ini, void memang beragam seperti bilangan negatif -1, -2, -3, dan seterusnya. Bukankah eksistensi keragaman void seperti itu menunjukkan bahwa mereka adalah being? Keragaman void adalah eksis? Saya kira mode-void mengalami kesulitan untuk mejelaskan problem keragaman ini.

Keunggulan lain lagi dari void adalah bersifat manusiawi. Hanya manusia otentik yang peduli dengan void. Gerombolan manusia hanya memikirkan mencari uang, menumpuk kekayaan, mengejar makanan dan nafsu belaka. Gerombolan itu tidak pernah serius memikirkan void. Tetapi, manusia otentik memikirkan void. Mengapa tidak ada keadilan? Mengapa tidak ada kesejahteraan bagi rakyat miskin? Mengapa, pada akhirnya, manusia mati, menjadi tiada? Mengapa void?

Bahkan, pembeda manusia dan binatang adalah tingkat kesungguhan mereka peduli kepada void. Binatang lapar maka mencari makan. Manusia bisa sama, lapar maka mencari makan. Lebih lanjut, manusia otentik akan bergerak pikirannya dari makan ke void: bagaimana dengan rakyat kecil yang “tidak ada” makanan? Peduli, resah, dan gelisah adalah sikap yang wajar bagi manusia otentik ketika mereka berhadapan dengan void.

Dengan demikian, apakah void menjadi perspektif paling unggul? Menariknya, jika semua istilah “void” kita ganti dengan istilah “being” maka kita akan mengubah mode-void menjadi mode-being. Akibatnya, prespektif void menjadi selaras dengan eksistensialisme. Dan, puncaknya, void murni adalah tunggal. Sementara, being murni juga tunggal. Mereka sama-sama tunggal. Tanda tanya besar tetap ada di hadapan kita.

6.7 Irreducible

Pembahasan kita sejauh ini, mengantarkan kita kepada karakter “irreducible” dari realitas. Argumen transendental tidak bisa direduksi menjadi empiris. Sebaliknya juga sama, empiris tidak bisa direduksi menjadi transendental. Jika kita memaksa untuk mereduksi mereka, maka, kita akan menemukan hasil reduksi yang kaya: sederhana adalah segalanya.

Misal, kita memilih reduksi realitas menjadi materi empiris. Maka materi tersebut adalah materi yang kaya. Bukan sekedar materi yang tersusun oleh atom-atom atau pun partikel quantum. Tetapi, materi super kaya. Yaitu, materi yang punya kemampuan melihat berupa organ mata. Materi yang bisa berpikir yaitu otak. Materi misterius yang punya kesadaran sebagai subyek yaitu saya.

Sebaliknya, kita bisa mereduksi realitas menjadi transendental, misal, berupa spirit. Maka, kita akan memperoleh spirit yang sangat kaya. Bukan sekedar spirit yang punya pengetahuan dan kesadaran. Tetapi, spirit yang mampu menggerakkan materi tangan. Spirit yang mampu mengendalikan laju sepeda. Spirit yang mampu mengolah lahan pertanian. Spirit yang punya badan manusia yaitu badan kita.

Saya mengusulkan perspektif filosofi roda tiga yang terus menerus berputar.

(1) realitas adalah ruang temu: barzakh atau being,
(2) empiris: pengetahuan adalah materi yang perlu sandaran transendental,
(3) transendental: pengetahuan transendental perlu konten nyata realitas, kembali ke (1)

Pengetahuan kita, termasuk pengetahuan prinsip umum, selalu bergerak siklus berputar sesuai filosofi roda tiga di atas. Pengetahuan yang berhenti berputar akan terjebak menjadi klaim dogmatis. Sementara, kita membutuhkan pengetahuan yang dinamis untuk terus bergerak maju.

Demikian juga, perspektif being dan void bisa kita baca dengan filosofi roda tiga. Perlu kita ingat bahwa being tidak bisa direduksi menjadi void. Reduksi sebaliknya juga tidak bisa. Kecuali, kita menerima hasil reduksi yang kaya: sederhana adalah segalanya.

(1) realitas adalah barzakh atau being,
(2) being adalah yang paling nyata “tidak ada” dasar,
(3) void adalah hampa yang perlu konten nyata, kembali (1),

Pengetahuan kita memang terus berputar. Tidak pernah berhenti. Selalu bergerak maju. Sampai kapan pun terus maju. Bahkan, jika sudah tidak ada waktu, gerak berputar ini bertekad untuk menciptakan waktu. Akankah berhasil? Waktu yang akan menjadi saksi.

Lanjut ke Pengetahuan Intuisi Cinta
Kembali ke Philosphy of Love

Dunia Universalia

Pemahaman kita tentang dunia universalia sangat penting, akan mampu menyelesaikan beragam persoalan sulit. Kita juga akan mampu membahas cantiknya Rara yang sejatinya cantik itu ada di dunia universalia. Begitu juga tentang cinta suci juga ada di dunia universalia.

Sepanjang sejarah, para pemikir besar dunia sudah berusaha membahas panjang lebar tentang dunia unversalia. Tapi, tampaknya, tidak ada kata sepakat di antara mereka. Russell lebih memilih pendekatan Plato dalam membahas alam idea untuk menjelaskan dunia universalia.

1. Melampaui Descartes
2. Bukti Dunia Universalia
3. Penolakan Universalia
4. Mengetahui Universalia
5. Ringkasan
6. Diskusi
6.1 Plato Aristoteles
6.2 Neo Platonis
6.3 Alam Mitsal Ghazali
6.4 Barzakh Suhrawardi
6.5 Barzakh Ibn Arabi
6.6 Tasykik Sadra
6.7 Noumena Kant
6.8 Spirit Hegel
6.9 Void Zizek

Pemikir terdekat Plato, yakni Aristoteles yang juga murid Plato, sudah membantah beragam klaim Plato. Misalnya yang paling terkenal adalah argumen orang ketiga dari Aristoteles, ditulis 2000 tahun yang lalu. Begitu juga Heidegger, filsuf abad 20, menduga bahwa Plato tidak membahas tema ini dengan tuntas. Karl Popper, filsuf sains abad 20, mencurigai Plato sebagai mendukung pemerintahan totaliter. Tetapi Sadra, filsuf abad 17, membela Plato dengan memberikan status modus wujud yang lebih tinggi kepada dunia universal.

Di pembahasan kita, di sini, akan mencoba mengikuti alur argumen Bertrand Russell yang ditulis pada abad 20.

1. Melampaui Descartes

Barangkali kita sepakat bahwa filsut terbesar sejak jaman modern adalah Descartes. Sukses Descartes membangun sistem filsafat dualisme mendorong kemajuan sains, teknologi, bisnis, politik, dan kemanusiaan mencapai puncaknya. Descartes membagi alam menjadi dua yaitu alam materi dan alam jiwa. Kedua alam ini saling bebas diatur dengan aturan yang berbeda dan tidak terhubung. Alam materi diatur oleh hukum materi, sains, dan rasionalitas. Sedangkan alam jiwa diatur oleh hukum agama dan spiritualisme.

Filsuf setelah Descartes mencoba mencari titik temu jiwa dan materi tetapi tidak berhasil. Salah satu filsuf terbesar berikutnya adalah Immanuel Kant, yang berhasil membuat sintesa antara tesis dan antitesis. Sintesa ini hanya berhasil untuk pengetahuan manusia yaitu sintesa antara pengetahuan empiris dengan pengetahuan a priori, seperti sudah kita bahas pada bab terdahulu. Bahkan, Kant menyisakan beberapa paradoks atau antinomy, yang menantang filsuf selanjutnya untuk mencari solusi.

Russell, filsuf abad 20, menghadirkan kembali dunia universal, yang tidak menyatukan dunia materi dan jiwa, justru menjadikan ada dunia yang ketiga. Maka di sini, kita menegaskan kembali, bahwa dunia universal bukan bagian dari dunia materi, juga bukan bagian dari dunia mental jiwa, tetapi realitas yang mandiri. Bahkan Plato menyarankan agar manusia bergerak dari dunia materi menuju dunia universal yang murni, melalui perenungan.

2. Bukti Dunia Universalia

Cara paling mudah membuktikan dunia universalia adalah dengan memperhatikan relasi spasial, menurut Russell. Maka mari kita perhatikan lagi wajah Rara yang cantik itu. Alis di atas mata. Mata di atas pipi. Kita juga bisa memperhatikan fenomena alam yang lain. Pohon di atas tanah. Buku di atas meja. Sepatu di atas lantai.

Relasi “di atas” benar-benar ada, nyata. Tetapi relasi ini bukan materi. Ketika kita mengatakan mata Rara di atas pipi Rara maka yang materi adalah mata Rara dan pipi Rara. Sementara relasi “di atas” itu sendiri bukan materi. Perhatikan juga “sepatu di atas lantai.” Sepatu dan lantai bersifat materi. Sementara relasi “di atas” juga bukan materi.

Apakah relasi di atas adalah bersifat mental, dalam pikiran manusia? Dugaan yang masuk akal. Kita perlu memeriksanya.

Sepatu di atas lantai tetap di atas lantai meski saya tidak sedang memikirkannya. Alis Rara tetap di atas mata Rara meski tidak ada orang yang sedang memikirkan itu. Buku tetap di atas meja meski tidak ada seorang pun yang sedang memikirkannya. Maka relasi “di atas” tidak bersifat mental, tidak hanya ada di pikiran manusia.

Karena relasi “di atas” tidak ada di dunia materi, dan tidak ada di dunia alam mental, tetapi benar-benar ada, maka relasi “di atas” ada di dunia tersendiri yaitu di dunia universalia. Dunia universalia ini bersifat universal, kokoh, dan murni. Universal dalam arti bahwa relasi mata dan pipi Rara mengambil relasi dari dunia universalia. Sebagaimana sepatu dan lantai mengambil relasi dari dunia universalia. Alam material yang partikular mengambil relasi dari dunia universalia.

Termasuk dalam dunia universalia adalah relasi waktu, kualitas, kuantitas, dan lain-lain.

Perhatikan, misalnya, display detik pada jam digital. Display itu menunjuk angka 1, 2, 3, 4, … .Kita sadar bahwa 1 muncul sebelum 2, dan 2 sebelum 3, dan seterusnya. Relasi “sebelum” yang merupakan relasi waktu juga ada di dunia universalia.

Contoh kualitas barangkali kita bisa memperhatikan lampu merah, bola merah, baju merah, dan lain-lain. Kualitas warna “merah” bersifat universal dan ada di dunia universal. Tentang kuantitas, misalnya, dua kaki, dua mata, dua mobil, dua orang, dua rumah, dan lain-lain. Kuantitas “dua” adalah universal dan ada di dunia universalia. Ada banyak universalia di dunia universalia, bahkan tak terbatas.

Rara cantik, Rini cantik, Ina cantik, Siti cantik, dan banyak wanita lainnya cantik. Kualitas cantik adalah universal dan ada di dunia universalia yang murni dan sejati.

3. Penolakan Universalia

Kita perlu mempertimbangkan bahwa beberapa pemikir besar menolak adanya universalia. Kita coba analisis dari Immanuel Kant tentang waktu. Menurut Immanuel Kant, “waktu” adalah sensasi dasar dari pikiran manusia. Jadi, “waktu” hanya bersifat mental dari pikiran manusia. “Waktu” sejatinya tidak ada di alam nyata. Namun konsep “waktu” sangat diperlukan oleh manusia untuk memahami segala fenomena.

Bukti bahwa “waktu” tidak ada bisa kita ringkas sebagai berikut. Bayangkan kita bisa meniti waktu terus-menerus ke masa depan. Maka kita maju terus, dan tidak akan pernah berhenti. Kita tidak akan menemukan ujung akhir dari waktu di masa depan. Kita juga bisa meniti waktu dengan arah sebaliknya, kita meniti waktu mundur ke masa lalu. Berjalan terus-menerus ke masa lalu. Dan kita tidak akan pernah berhenti. Kita tidak akan pernah menemukan ujung awal pada waktu. Sesuatu yang tidak punya awal dan tidak punya akhir mustahil mewujud di dunia ini. Maka terbukti “waktu” tidak ada di dunia ini.

Dari sudut pandang yang berbeda, kita bisa menganalisis “waktu” dengan membaginya. Perhatikan, misalnya, selang waktu 1 jam dari jam 2 sampai dengan jam 3. Kita bisa membagi selang 1 jam ini menjadi 2 masing-masing 1/2 jam. Kemudian, selang yang 1/2 jam ini bisa kita bagi menjadi 2 lagi. Dan seterusnya kita bisa membagi-bagi sampai tak terhingga. Proses pembagian sampai tak terhingga tanpa akhir ini mustahil terjadi di dunia ini. Jadi terbukti “waktu” adalah tidak ada.

Tentu saja benar bahwa “waktu” memang tidak ada di alam materi mau pun alam mental manusia seperti kita tunjukkan di bagian sebelumnya. Karena “waktu” ada di dunia universal. Jadi, waktu ada di dunia universal.

Konseptualis dan Nominalis

Ruang dan waktu adalah sensasi murni dari imajinasi manusia. Pandangan seperti Kant ini, kita kenal sebagai konseptualis. Mereka memandang ruang dan waktu sebagai tidak ada di alam eksternal. Ruang dan waktu hanya ada dalam konsep pikiran kita. Demikian juga universal lainnya juga tidak ada. Universal, menurut konseptualis, hanya ada dalam konsep pikiran manusia.

Dari arah yang berbeda, nominalis juga menolak eksistensi universal di alam eksternal. Bagi nominalis, yang ada di alam eksternal hanya obyek itu sendiri, tanpa universalia. Bahkan, universalia juga tidak ada dalam pikiran kita.

Meja persegi adalah satu obyek M, misanya. Bukan ada universal meja dan universal persegi, lalu bersatu, membentuk meja persegi. Hanya ada obyek unik M. Demikian juga, ketika kita melihat “bola bulat di atas meja persegi” maka tidak ada universalia sama sekali. Misal N = bola bulat di atas meja persegi, maka, kita melihat N saja. Jadi, bagi nominalis, alam eksternal adalah apa adanya yang ada di alam eksternal itu sendiri.

Dimensi Waktu

Menariknya, Russell melangkah lebih jauh. Bukan hanya ruang dimensi tiga dan waktu, yang total menjadi 4 dimensi, matematika dan sains saat ini berhasil menunjukkan realitas 5 dimensi atau yang lebih tinggi. Barangkali, Russell bermaksud merujuk ke Hilbert-space, yang secara matematika berhasil membangun ruang dimensi n, berapa pun. Jadi bukan hanya ruang waktu yang kita pahami ini ada tetapi masih ada lebih banyak ruang waktu yang lainnya.

Heidegger, filsuf abad 20, menempatkan “waktu” pada status realitas yang kuat. Dalam magnum opusnya, “Being and Time” Heidegger justru mengklaim “waktu” adalah hakikat wujud manusia. Namun, Heidegger membahas waktu sebagai bersatunya masa depan, masa lalu, dan masa kini dalam eksistensi manusia. Kata Heidegger, eksistensi manusia berada dalam rangkulan waktu, dari lahir sampai mati. Di masa tua, Heidegger ingin meralat “Being and Time” menjadi “Time and Being” yang barangkali, maksud Heidegger, “waktu” berada dalam rangkulan eksistensi manusia. Terbalik dari ide awal dia.

Cara pandang berbeda, ide paling cemerlang datang dari Sadra, filsuf besar abad 17. Dia memandang eksistensi atau wujud bersifat gradasi dalam intensitasnya. Bayangkan cahaya matahari sebagai satu kesatuan. Tetapi di saat yang sama intensitas cahaya matahari berbeda-beda sesuai lokasi. Di dasar laut, ada cahaya matahari dengan intensitas rendah, hampir gelap. Di bawah permukaan laut ada cahaya matahari intesitas rendah tapi lebih kuat dari yang di dasar laut. Sedangkan di atas permukaan laut intensitas lebih kuat. Dan barangkali di angkasa dekat matahari, intensitas paling kuat. Mereka semua sejatinya tetap cahaya matahari yang sama namun dengan intensitas yang berbeda. Ada yang lemah dan ada yang kuat.

Dengan cara pandang yang mirip cahaya, kita bisa memandang wujud bergradasi intensitasnya. Sehingga modus penampakan wujud bisa beragam. Misal, paling tegas, kita bisa memandang modus wujud alam realitas menjadi tiga: alam materi, alam imajinasi, dan alam akal.

Mengenai universalia, misalnya waktu, memang tidak kita temukan di alam materi. Tetapi universalia waktu ada di modus alam imajinasi. Di alam materi, yang kita temukan sekedar tanda waktu yang ditunjukkan oleh jam atau gerak semu matahari. Di alam imajinasi terdapat universalia waktu di antara unversalia-universalia lainnya semisal universalia ruang.

Namun universalia waktu bila kita analisis lebih mendalam, eksistensinya juga tidak bisa mandiri. Waktu hanya ada karena ada gerak substansial. Yaitu gerak suatu substansi dari satu modus wujud ke modus wujud lain yang lebih tinggi. Gerak ini yang menghasilkan efek universalia waktu.

Mari kita cermati lagi Heidegger. Maka di sini, saya akan mencoba meringkas pergerakan pemahaman “waktu” dari Heidegger. Bagaimana pun Heidegger mengakui “waktu” sebagai realitas yang kuat, berbeda dengan pandangan Kant. Heidegger muda menyatakan bahwa eksistensi manusia berada dalam dekapan waktu. Manusia eksis dalam “waktu” sejak lahir sampai mati. Dengan demikian, eksistensi “waktu” lebih kuat dari eksistensi manusia. “Waktu” melingkupi manusia.

Tampaknya, Heidegger muda bermaksud merujuk eksistensi manusia yang ada di alam materi dan alam mental. Sehingga benar bahwa eksistensi manusia berada dalam dekapan eksistensi waktu. Namun Heidegger dewasa merubah pandangan itu. Dalam surat kepada temannya, Heidegger dewasa bermaksud mengubah “Being and Time” menjadi “Time and Being”.

Heidegger dewasa mengklaim bahwa “waktu” berada dalam dekapan eksistensi manusia. Tampaknya, Heidegger dewasa kali ini, merujuk eksistensi manusia yang berada di alam materi, alam imajinasi, dan alam akal. Dengan sudut pandang ini, benar adanya bahwa “waktu” ada dalam genggaman manusia.

4. Mengetahui Universalia

Wajar bila kita bertanya, “Bagaimana cara mengetahui universalia?”

Atau kita bisa bertanya lebih radikal bagaimana manusia bisa mengetahui wujud. Dalam pandangan Sadra, wujud lebih prior dari universalia. Sementara dalam pandangan manusia sehari-hari, bahkan unversalia itu sendiri sudah terlalu tinggi dibanding dengan alam materi dan alam mental manusia.

Wujud, menurut Sadra, hanya bisa diketahui dengan pengetahuan kehadiran. Yaitu ketika wujud hadir dalam jiwa manusia yang dilimpahi cahaya kebenaran. Kita akan membahas pengetahuan kehadiran ini (knowledge by present, ilmu huduri) pada bagian lebih akhir.

Eksistensi, menurut Heidegger, bisa ketahui melalui “sense”. Dan sense yang paling penting adalah rasa gelisah. Perlu kita catat, rasa gelisah yang dimaksud Heidegger adalah dalam arti positif dan negatif. Misal kita gelisah memikirkan apa arti hidup ini. Kita gelisah memikirkan, mencari solusi, untuk memperbaiki peradaban manusia. Kita gelisah ketika merenung malam hari. Rasa gelisah ini adalah pintu kita mengenal eksistensi sejati.

Eksistensi yang lebih tinggi dari pengamatan sehari-hari, menurut Russell, bisa diketahui melalui intuisi. Universalia dan kebenaran sejati bisa diketahui melalui intuisi. Namun, intuisi manusia apakah selalu benar? Atau sesekali benar, di waktu yang lain salah? Kita akan membahas pengetahuan intuisi, yang diawali dengan pengetahuan universalia, pada bab-bab selanjutnya.

5. Ringkasan

Pembahasan dunia universalia adalah melampaui dualisme Descartes yang membagi substansi menjadi dua: materi dan jiwa. Bukti eksistensi dunia universalia paling mudah adalah relasi ruang, misal buku “di atas” meja. Relasi “di atas” bukan bersifat materi, juga bukan bersifat jiwa. Relasi “di atas” adalah universalia.

Penolakan universalia terjadi sepanjang sejarah pemikiran. Misal, Kant menganggap “ruang” dan “waktu” adalah imajinasi paling murni dari manusia. Sehingga, ruang dan waktu, sejatinya tidak ada. Bagaimana pun dukungan terhadap universalia terus berkembang pesat. Misal, matematika modern berhasil memproduksi “ruang dimensi tinggi” lebih dari 3 atau 4.

Cara mengetahui universalia bisa melalui: (A) langsung, misal melihat bentuk persegi, (B) melalui deskripsi, misal bangun datar dengan tiga sudut, (C) bukan (A) mau pun (B), misal melalui intuisi.

Kiranya, perlu saya tambahkan bahwa istilah universal biasanya dipakai dalam tiga konteks berbeda.

1. Etika universal, misal, “Menghormati ibu adalah baik.” Etika universal berlaku universal kapan saja, di mana saja, dan untuk siapa saja.

2. Logika universal, misal, “3 lebih besar dari 2.” Logika universal berlaku universal, selalu benar, di seluruh ruang dan waktu – bahkan berlaku di luar ruang dan waktu.

3. Metafisika universal, misal “Buku di atas meja.” Status realitas “di atas” adalah universal. Ada banyak obyek yang memiliki relasi “di atas.”

Kita juga bisa membagi universalia sebagai abstrak atau konkret. Universalia abstrak misalnya adalah persegi dengan contoh meja persegi, lantai persegi, buku persegi, dan lain-lain. Persegi merupakan universalia hasil abstraksi dari meja persegi atau obyek persegi lainnya. Sementara universalia konkret misal manusia dengan contoh Adi, Budi, Cita, dan lainnya. Universalia manusia bersifat konkret.

6. Diskusi

Di bagian ini, kita akan mendiskusikan perkembangan ide universalia sepanjang sejarah filsafat. Anda bisa saja melewati bagian diskusi ini dengan langsung melanjutkan ke bagian berikutnya tanpa mengurangi koherensi pembahasan. Bagi Anda yang berminat diskusi lebih dalam, kita akan membahasnya, secara selektif, sesuai urutan waktu.

6.1 Plato Aristoteles

Plato adalah pemikir pertama yang merumuskan dunia universalia sebagai dunia idea atau dunia form. Aristoteles, murid dari Plato, mengkritik konsep dunia universal ini. Bagaimana pun, kritik dari Aristoteles tidak menolak universalia, tetapi, hanya berbeda prioritas. Bagi Plato, dunia universalia adalah “ante rem” yaitu lebih prior dari dunia materi partikular. Sementara bagi Aristoteles, dunia universalia adalah “in re” yaitu ada bersamaan dengan eksistensi materi partikular.

6.2 Neo Platonis

Plotinus (205 – 270) mengembangkan lebih jauh konsep dari Plato dan Aristoteles. Kelak, konsep dari Plotinus ini, kita kenal sebagai Neo Platonisme yang berkembang sampai ke Timur, misal, sampai ke Farabi dan Ibnu Sina. Plotinus membagi alam raya sebagai: alam intelek, alam jiwa, dan alam materi. Di atas itu semua ada Yang Maha Esa. Masing-masing alam intelek dan alam jiwa ada beragam tingkatannya. Dunia universalia berada dalam alam jiwa. Sehingga, konsep Plotinus ini lebih dekat ke konsep Plato – wajar dikenal sebagai Neo Platonisme.

6.3 Alam Mitsal Ghazali

Ghazali (1058 – 1111) merumuskan dunia universalia sebagai alam mitsal atau dunia imajinasi. Alam mitsal berkonotasi lebih luas dari dunia universalia pada umumnya. Alam mitsal meliputi alam setelah kematian manusia. Setelah manusia mati, maka mereka akan berada dalam alam mitsal dan mengalami kehidupan mirip di dunia materi ini tetapi dengan kadar yang lebih kuat. Alam mitsal ini menghubungkan, dan memisahkan, alam dunia saat ini dengan alam akhirat yang abadi.

6.4 Barzakh Suhrawardi

Suhrawardi (1154 – 1191) merumuskan dunia universalia sebagai barzakh di antara ontologi gradasi cahaya. Realitas sejati adalah cahaya yang beragam dalam gradasi intensitas. Barzakh adalah ruang temu, garis pertemuan, antara cahaya dan gelap. Tetapi, karena gelap sejatinya adalah tidak ada, maka, penyebab eksistensi dari barzakh adalah cahaya itu sendiri. Terdapat banyak barzakh di antara gradasi cahaya yang tak terhingga itu. Di sini, Suhrawardi menempatkan barzakh, atau dunia universalia, dalam posisi vertikal ontologis yang tak terhingga banyaknya. Suhrawardi melangkah lebih jauh dari konsep Neo Platonisme pada jamannya.

6.5 Barzakh Ibn Arabi

Ibn Arabi (1165 – 1240) mengelaborasi konsep dunia universalia dengan canggih. Arabi menggunakan term barzakh secara kreatif dan menegaskan bahwa realitas paling fundamental adalah wujud – atau being atau eksistensi. Barzakh adalah penghubung antara dua realitas, penghubung antara materi dan akal, penghubung antara dunia dan akhirat, penghubung antara ibu dan anak, penghubung antara positif dan negatif dan sebagainya. Barzakh adalah penghubung ontologis secara vertikal mau pun horisontal – atau bahkan diagonal.

Lalu, apa sejatinya barzakh atau dunia universal itu? Barzakh adalah manifestasi dari wujud itu sendiri. Wujud bergradasi secara vertikal, berinteraksi secara horisontal, dan berkolaborasi secara diagonal. Dengan demikian, barzakh berperan besar dalam setiap realitas. Bahkan, barzakh merangkul beragam kontradiksi.

6.6 Tasykik Sadra

Sadra (1571 – 1641) mewarisi filosofi Ibn Arabi, Suhrawardi, dan lainnya. Untuk membahas dunia universalia, kita bisa merujuk konsep tasykik dan gerak substansial dari Sadra. Realitas paling fundamental adalah wujud atau eksistensi bergradasi secara intensitas dan termodulasi bersama esensi – tasykik. Tetapi, karena realitas sejati adalah eksistensi maka modulasi adalah modulasi eksistensi bukan modulasi esensi.

Ketika kita melihat meja persegi di depan kita maka kita tahu ada meja persegi di dunia eksternal dan tercipta impresi meja persegi dalam pikiran. Realitas meja persegi adalah wujud-eksternal dan impresi meja persegi adalah esensi dari meja persegi. Pada analisis akhir, impresi juga mendapat status sebagai wujud yaitu wujud-mental. Wujud-eksternal meja bersifat gradasi. Maksudnya, ada wujud yang lebih kuat dari sekedar wujud penampakan meja eksternal. Dan, meja ini senantiasa bergerak meningkat ke tingkat wujud yang lebih sempurna – gerak substansial.

Demikian juga, wujud-mental juga bergerak ke tingkat wujud yang lebih prior, wujud yang lebih sempurna. Gerak substansial ini berlangsung terus menerus tanpa henti. Bahkan, gerak aksidental, misal perpindahan meja dari satu tempat ke sebelahnya, pada analisis akhir, adalah akibat dari gerak substansial yang terus menyempurna.

Dunia universalia adalah merupakan salah satu mode wujud. Di mana mode wujud ini terus bergerak menyempurna. Dan, terdapat tak hingga mode wujud di alam raya ini.

6.7 Noumena Kant

Immanuel Kant (1720 – 1804) membagi dunia menjadi dua: dunia fenomena dan dunia noumena. Meja persegi yang kita lihat adalah sekedar penampakan dari meja, di mana, penampakan adalah dunia fenomena. Sementara, meja persegi sejati, dunia noumena, tetap tersembunyi dari indera manusia.

Dunia universalia termasuk yang mana? Dunia universalia, semisal meja atau persegi, ada dalam imajinasi manusia. Jadi, dunia universalia bersifat konseptual saja. Dengan kata lain, Kant menolak eksistensi dunia universalia dan menerimanya hanya sebagai konseptual saja. Dunia universalia adalah wujud-mental.

Lalu, apa yang menghubungkan dunia fenomena dengan dunia noumena? Pertanyaan ini tidak terjawab dengan tuntas dan menjadi tugas bagi pemikir-pemikir berikutnya.

6.8 Spirit Hegel

Hegel (1770 – 1831) adalah penerus Kant yang fenomenal. Dunia noumena dari Kant yang tersembunyi dari manusia itu harus terungkap dengan jelas. Hegel merumuskan konsep dialektika untuk mencapai spirit-absolut.

Seluruh pengetahuan kita adalah spirit. Bahkan seluruh alam raya adalah spirit. Sesuatu yang tak terjangkau oleh spirit adalah the Real. Spirit terus bergerak, berdialektika, untuk merangkul the Real. Awalnya, spirit adalah pengetahuan yang terbatas. Kemudian spirit sadar keterbatasannya dan merangkul the Real untuk membentuk spirit yang lebih sempurna. Nyatanya, spirit yang baru ini juga tidak sempurna, banyak keterbatasan. Spirit berlanjut bergerak merangkul the Real untuk lebih sempurna lagi, yang pada akhirnya, meraih spirit-absolut.

Di mana posisi dunia universalia? Dunia universalia merupakan bagian dari spirit. Wujud-mental dan wujud-eksternal, semuanya, adalah bagian dari spirit. Materi adalah spirit yang menampakkan diri. Apakah ada dunia universalia dalam the Real? Kita tidak tahu. Karena the Real adalah rahasia Tuhan. Hanya ketika spirit menjadi absolut, dia, bisa menjawabnya.

6.9 Void Zizek

Di abad 20, Russell menegaskan dukungannya terhadap dunia universalia seperti di atas. Russell mendukung Plato tetapi menolak Hegel. Baru, di abad 21, dukungan terhadap Hegel kembali bermunculan.

Popper (1902 – 1994) sejalan dengan Russell, dalam konsep dunia universalia, merumuskan dunia-3. Dunia-1 adalah dunia obyektif yang ada di depan kita: pohon, meja, batu, dan lain-lain. Dunia-1 adalah wujud-eksternal. Sedangkan, dunia-2 adalah dunia subyektif manusia atau wujud-mental: pemahaman, rasa manis, rasa sakit, dan lain-lain. Dunia-3 adalah dunia “obyektif” yang bukan dunia-1 dan bukan dunia-2. Dunia-3 adalah dunia universalia.

Zizek (lahir 1949) mengembangkan dialektika Hegel kontemporer, tentu, beda dengan Russell mau pun Popper. Zizek membaca Hegel melalui kaca mata meta-psikoanalisis Lacan dan ontologi Schelling. Ditambah dengan materialisme Marx maka menghasilkan sistem filsafat yang beda jauh dari yang pernah ada. Zizek mengaku bahwa dia membaca pikiran para pemikir sebelumnya dengan cara yang berbeda. Zizek meniru cara Deleuze dalam hal ini.

Seluruh realitas, wujud-eksternal dan wujud-mental, adalah spirit. Proses dialektika terus terjadi untuk mencapai spirit-absolut. Pertanyaannya: siapakah subyek dari spirit dan the Real itu?

Hegel dan Lacan tidak berani menjawab dengan terus terang. Sementara, Schelling menjawab dengan cara berlindung diri. The Real adalah Tuhan. Sehingga, kita perlu kembali menjalani hidup dengan tuntunan agama yang benar. Jawaban yang bagus. Tapi, Zizek tidak puas dengan jawaban seperti itu.

Spirit dan the Real saling terhubung melalui subyek: kulo. Hakikat dari subyek kulo adalah void yang beragam atau bergradasi. Peran void, di sini, mirip dengan barzakh dari Ibn Arabi, yang, menjembatani spirit dan the Real. Bagaimana pun, void adalah hampa atau ketiadaan. Tetapi void bukan hampa sebarang hampa. Void adalah hampa yang mengandung segalanya. Void adalah hampa yang sedang hamil besar.

Sedangkan, the Real adalah Nothing atau ketiadaan murni. Akibatnya, spirit pasti gagal total dalam ontologi seperti ini. Gagal itu tidak buruk. Gagal adalah realitas sejati yang perlu kita rangkul dengan riang gembira.

Spirit gagal ketika hendak merangkul dirinya sendiri sebagai subyek kulo. Karena, kulo adalah void, ketiadaan. Maka, spirit tidak akan bisa merangkul sesuatu yang tidak ada. Demikian juga, spirit pasti gagal ketika hendak merangkul the Real karena the Real adalah Nothing – yang tentu tidak akan bisa dirangkul. Meski demikian, spirit terus bergerak maju berdialektika menuju sempurna.

Tentu saja, banyak pemikir yang tidak setuju dengan pandangan Zizek yang negatif ini. Memang, yang menarik dari Zizek adalah tetap riang gembira dalam segala negativitas. Argumen Zizek untuk mendukung sistem filsafat negatif tidak lebih unggul dari argumen filsafat positif. Sehingga, wajar saja, bila banyak pemikir yang tetap mendukung filsafat positif.

Bagaimana dengan dunia universalia? Jelas, dunia universalia adalah bagian dari spirit yang terus bergerak menyempurna untuk meraih spirit-absolut. Plus ada bonus yaitu subyek kulo yang menghubungkan antara spirit dan the Real. Subyek kulo ini mirip dengan konsep barzakh versi Ibn Arabi jika spirit dan the Real, sama-sama, positif. Tetapi, jika subyek kulo menghubungkan antara cahaya dan gelap, antara positif dan negatif, maka lebih mirip dengan konsep barzakh dari Suhrawardi.

Universal Konkret

Kita bisa melanjutkan diskusi dengan fokus ke abstrak vs konkret. Contoh abstrak adalah universal persegi yang kita amati pada meja persegi, ubin persegi, kaca persegi, dan lain-lain. Sementara, universal konkret menjadi kajian menarik karena karakternya yang konkret – dan universal.

Problem dari abstrak adalah bisa saja palsu karena memang tidak konkret. Lebih masalah lagi, universal abstrak bisa menjadi partikular bagi universal lain. Kemudian, kita bisa mengembangkan universal baru yang lebih abstrak lagi tanpa henti. Misal, universal persegi adalah partikular dari universal bangun datar, partikular dari universal bangun, dan seterusnya.

Sementara, universal konkret adalah nyata dan tidak perlu universal yang lebih konkret lagi atau yang lebih asbtrak lagi.

Contoh universal konkret adalah manusia. Adi adalah manusia. Budi adalah manusia. Adi adalah manusia konkret. Bentuk konkret dari universal manusia adalah Adi. Di saat yang sama, Adi berbeda dengan Budi. Meski mereka, Adi dan Budi, sama-sama partikular dari manusia.

Kita tidak perlu membuat universal yang lebih tinggi dari manusia. Misal, kita bisa mengatakan bahwa manusia adalah partikular dari mamalia. Tetapi, mamalia adalah universal abstrak, bukan konkret. Kita membutuhkan universal yang konkret. Karena mamalia adalah abstrak, maka, mamalia bisa saja palsu.

Universal konkret menjadi penting karena bersifat universal dan konkret. Bagaimana kita bisa menemukan, atau merumuskan, universal konkret?

Netral

Universal yang bersifat netral, atau tidak membedakan, di antara anggota-anggota partikular adalah universal netral. Contohnya adalah cogito dari Descartes. Cogito, aku berpikir, adalah karakter universal yang ada pada semua manusia. Cogito tidak membeda-bedakan laki perempuan, muda dewasa, atau lainnya.

Tetapi, cogito ini nyatanya tidak netral. Berpikir dengan standar ilmiah dibedakan dengan yang tidak standar ilmiah. Berpikir dengan bahasa internasional berbeda dengan berpikir memakai bahasa lokal. Universal netral masih belum memenuhi harapan.

Simton

Kemanusiaan adalah universal yang merupakan simton, atau gejala. Semua orang memiliki kemanusiaan yang sama. Tampaknya, kita sepakat. Tetapi, itu hanya simton. Karena hanya ada kemanusiaan tertentu yang dianggap universal. Misal, manusia kulit putih adalah standar universal. Sehingga, semua orang perlu meniru standar manusia kulit putih.

Kelompok aliran tertentu mendefinisikan “amal” sesuai standar kemanusiaan mereka. Siapa saja melakukan “amal” seperti itu maka bermoral tinggi dan masuk surga, universal. Sementara, orang lain perlu meniru “amal” sesuai standar aliran tersebut. Universal semacam itu adalah simton.

Tampaknya, simton belum memenuhi kriteria universal konkret yang kita harapkan.

Hegemoni

Hegemoni adalah universal yang mendominasi. Contohnya kapitalisme. Awalnya, tidak ada apa-apa. Hampa. Lalu, muncul kapitalisme yang menjadi standar universal. Semua negara perlu meniru kapitalisme. Semua perusahaan perlu meniru kapitalisme. Dengan cari itu, kapitalisme mendominasi dunia.

Uang adalah contoh lain standar universal hegemoni. Rumah, makanan, mobil, dan sebagainya, semua bisa dihitung dengan uang. Bahkan, tenaga kerja manusia bisa dihitung dengan uang. Tenaga kerja insinyur adalah 2 kali lipat tenaga tukang, misalnya. Pulsa bisa dihitung dengan uang. Pulsa di daerah terpencil lebih mahal dari kota karena investasi infrastruktur yang lebih mahal. Uang mendominasi seluruh sisi kehidupan.

Di antara banyak universal hegemoni, mana yang paling konkret universal? Kapitalisme, uang, sosialisme, militerisme, teknologi, dan sebagainya, mana yang paling mendominasi?

Mereka, universal-universal itu, muncul dari kehampaan. Kemudian, mereka berjuang untuk bertahan hidup. Bagi yang menang, selanjutnya, akan mendominasi.

Hegemoni berhasil menjelaskan universal konkret sebagai realitas yang ada. Bisa kita lihat, hegemoni bukannya menyelesaikan masalah, tetapi, justru memunculkan masalah baru yang lebih parah.

Pelopor

Pelopor adalah yang memulai hadirnya universalia. Di saat yang sama, pelopor adalah partikular konkret di antara beragam partikular lainnya. Beberapa pemikir menyebut pelopor sebagai constitutive-exception.

WR Supratman menciptakan lagu Indonesia Raya adalah universal pelopor. Sebuah lagu universal yang bisa dinyanyikan oleh siapa saja. Jutaan rakyat Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan cara yang sama – sekaligus berbeda-beda variasinya. WR Supratman sendiri adalah partikular sama seperti rakyat Indonesia dalam menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tetapi, WR Supratman berbeda dengan rakyat Indonesia karena WR Supratman adalah pencipta lagu tersebut.

Saya menciptakan trik-7-detik-matematik. Lalu, ribuan orang menirukan trik-7-detik. Mereka adalah partikular-partikular yang beragam. Saya sendiri, juga, partikular. Tetapi, saya berbeda karena saya adalah pencipta trik-7-detik itu sendiri. Jadi, trik-7-detik adalah universal konkret.

Tampaknya, universal pelopor berhasil menjadi universal konkret. Benarkah demikian?

Benar, dalam contoh Indonesia Raya dan trik-7-detik adalah universal konkret. Karena, mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya riang gembira. Mereka menerapkan trik-7-detik dengan senang hati. Mereka menjadi partikular atas dasar kebebasan, atau freedom.

Situasi berubah menjadi hegemoni ketika ada paksaan.

Kapitalisme bisa menjadi universal konkret ketika orang-orang menerapkan kapitalisme berdasar freedom. Tetapi, kapitalisme sering memaksakan standar harga, sistem, kontrak, dan lain-lain kepada pihak lain. Dengan cara itu, kapitalisme adalah hegemoni. Kapitalisme gagal menjadi pelopor universal konkret.

Untuk benar-benar berhasil menjadi universal konkret, pelopor perlu diterapkan dengan freedom. Jadi, bagaimana formula lengkapnya?

Cinta

Cinta adalah universal konkret. Ibn Arabi menyatakan bahwa cinta adalah realitas konkret di seluruh alam raya. Suhrawardi menggunakan istilah cahaya dan Sadra menggunakan istilah wujud untuk padanan realitas konkret.

Hegel (1770 – 1830) kembali mengungkapkan bahwa cinta adalah universal konkret. Hegel menganalisis cinta antara sepasang kekasih. Cinta menyatukan suami dan istri, di saat yang sama, cinta membedakan suami dengan istri. Cinta menyatukan perbedaan dan membedakan dalam kebersamaan.

Cinta hadir karena ada suami dan istri. Jika tidak ada suami maka tidak cinta. Tidak bisa, seorang istri hanya mencintai dirinya sendiri. Itu bukan cinta sejati. Jadi, suami dan istri adalah sebab bagi terbentuknya cinta.

Sebaliknya juga terjadi, suami dan istri tercipta karena cinta. Seorang lelaki dan perempuan yang hidup bersama tanpa cinta maka bukanlah suami dan istri. Karena ada cinta maka lelaki itu jadi suami. Karena ada cinta maka perempuan itu menjadi istri. Jadi, cinta adalah sebab bagi terbentuknya pasangan suami istri.

Cinta itu sendiri terbentuk dengan bebas. Tidak ada paksaan dalam cinta, Justru, cinta selalu memberi kebebasan – dan suatu ikatan.

Cinta berhasil menjadi konkret universal yang kita harapkan. Dari cinta suami istri ini bisa terus berkembang menjadi cinta dalam keluarga. Orang tua mencintai anak-anaknya. Dan anak-anak mencintai orang tuanya. Mereka, anggota keluarga, adalah berbeda tetapi sama. Masing-masing dari mereka unik, tidak ada yang identik, tetapi mereka bersatu dalam cinta.

Universal konkret berupa cinta bisa terus berkembang meluas ke seluruh warga negara dan seluruh warga semesta. Bagaimana caranya? Kita akan membahas di bagian-bagian selanjutnya.

Etika

Akhlak mulia, atau etika mulia, adalah universal konkret. Semua orang bisa berakhlak mulia, kapan pun, dan di mana pun; akhlak mulia adalah universal. Setiap orang yang bersikap akhlak mulia bersesuaian dengan situasi konkret orang tersebut, masyarakat, ruang, dan waktu; jadi akhlak mulia adalah konkret dan unik.

“Menghormati ibu” adalah contoh akhlak mulia yang dapat dilakukan oleh setiap orang secara konkret. Bagaimana pun, “Budi menghormati ibu” adalah berbeda dari “Cita menghormati ibu.” Jadi, masing-masing akhlak adalah unik; eksepsi terhadap yang lain.

Apa itu akhlak mulia? Apa itu etika mulia? Atau, singkatnya, apa itu akhlak?

Untuk bisa memutuskan bahwa suatu perilaku sebagai akhlak mulia, kita perlu akhlak mulia itu sendiri. Akhlak mulia hanya bisa dipastikan melalui akhlak mulia. Bila seseorang dipaksa untuk melakukan akhlak mulia maka “pemaksaan” itu batal menjadi akhlak mulia. Sementara, “keterpaksaan” bisa jadi akhlak mulia atau bisa juga bukan akhlak mulia. Utamakan akhlak mulia yang konkret dan universal. Saya membahas tema akhlak mulia pada tulisan lainnya. Bagi yang berminat, silakan merujuknya.

Lanjut ke Pengetahuan Tentang Universal
Kembali ke Philosopy of Love

Tolak Relativisme, Terima Pluralisme

Einstein merumuskan teori relativitas, sukses luar biasa. Bahkan ada dua teori ralativitas: khusus dan umum. Relativitas ini sudah menghancurkan teori Newton yang sudah menguasai jagad raya sekitar 200 tahun. Fisika Newton terasa kuno, hanya cocok bagi pemula. Bagi yang mahir harus ke fisika Einstein: relativitas.

Einstein's 'impossible' hope: Light bending theory directly observed in  distant stars for first time - ABC News

Jika segala sesuatu relatif maka apa yang bisa kita sepakati? Apa yang bisa jadi pegangan? Apa yang bisa jadi ukuran?

Tidak perlu khawatir. Karena relativitas Einstein itu tidak relatif tetapi mutlak. Nilainya pasti. Bisa diukur. Jadi aman-aman saja. Jadi relativitas Einstein itu tidak mendukung relativisme. Justru menolak relativisme tapi memang mendukung pluralisme. Wah, apa pula itu?

Pluralisme adalah mengakui adanya keragaman yang hidup saling respek, koeksistensi. Kita perlu saling hormat. Ini adalah realitas kehidupan. Maka kita perlu menerima pluralisme. Dalam contoh yang sederhana, ada manusia, ada hewan, ada tumbuhan, ada batu, dan lain-lain.

Relativisme, dalam sebuah pandangan, adalah menganggap tidak adanya ukuran pasti. Semua serba relatif. Semua serba boleh. Maka ini perlu kita tolak. (Sementara paham relativisme yang lain bisa kita terima, semisal relativitas dalam sains fisika).

Relativitas Sains

Seperti saya sebut di atas, relativitas sains itu tidak relatif. Istilah relativitas digunakan untuk menyatakan kecepatan relatif. Karena konsep kecepatan memang harus diukur kepada suatu acuan tertentu. Hubungan suatu benda dengan benda lain yang bergerak disebut sebagai “relasi” maka bersifat “relatif”.

Contoh, mobil Joko bergerak dengan kecepatan 60 km/jam. Mobil Bowo, 40 km/jam. Maka kecepatan relatif Joko terhadap Bowo adalah 60 – 40 = 20 km/jam. Tetapi hal itu tidak relatif, namun mutlak. Jika Joko diganti Agus, dan Bowo diganti Budi maka kecepatan relatif mereka tetap 20 km/jam.

Joko diganti siapa pun, Bowo diganti siapa pun, maka hasilnya tetap pasti 20 km/jam. Tidak ada yang relatif. Hasilnya eksak.

Relativitas tidak mengajarkan relativisme tapi menunjukkan pluralisme.

Pluralisme Selalu

Plural, beragam, jamak, berbeda-beda, tidak seragam, tidak sama, dan lain-lain adalah realitas alam. Sains, filsafat, dan agama mengakui adanya keragaman. Maka kita perlu respek terhadap pluralisme ini.

Kembali kepada contoh Joko kecepatan 60 km/jam, Bowo 40 km/jam, dan tambahkan Citra kecepatan 30 km/jam. Sudah jelas mereka berbeda dalam hal kecepatan mengemudi mobil. Lagi-lagi menunjukkan realitas pluralisme. Dan bila kita mencoba menerapkan teori relativitas Einstein, Newton, mau pun Galileo maka kita hanya mendapat pluralisme bukan relativisme.

Kecepatan Joko terhadap Bowo = 60 – 40 = 20 km/jam
Kecepatan Joko terhadap Citra = 60 – 30 = 30 km/jam
Kecepatan Bowo terhadap Citra = 40 – 30 = 10 km/jam

Perhitungan sains di atas tidak menunjukkan relativisme sama sekali. Tetapi menunjukkan pluralisme belaka. Nama-nama mereka bisa kita ganti dengan Agus, Budi, dan Cinta. Hasilnya akan tetap eksak sama.

Politik Relatif atau Plural

Dalam realitas yang lebih luas, misal politik, bisnis, agama, olah raga, dan lain-lain hanya akan menunjukkan pluralisme tapi bukan relativisme.

Misal partai republik setuju untuk menambah anggaran, di sisi lain, partai demokrat tidak setuju untuk menambah anggaran. Perbedaan kedua partai tersebut adalah pluralisme. Masing-masing punya cara analisis, ukuran, dan pertimbangan tersendiri.

Memang bila kita memperhatikan tokoh posmo misal Lyotard, apa lagi Derrida, tampak memanfaatkan language game tanpa batas. Akibatnya segala sesuatu seperti relatif padahal sekedar plural. Karena masing-masing language game punya rule berbeda yang tidak bisa saling dipertukarkan. Justru, rule ini, menurut Wittgenstein sang penemu language game, untuk memudahkan memahami bahasa yang beragam itu.

Mari kita coba ambil contoh game dalam olah raga: sepak bola versus basket (bola). Di mana sepak bola, aturan utamanya, memainkan bola dengan kaki. Mereka yang menggunakan tangan dianggap melanggar rule. Sementara basket, aturan utamanya, justru memainkan bola dengan tangan. Mereka yang menggiring bola pakai kaki dianggap melanggar rule.

Sepak bola menjadi seru, berjalan dengan baik, meriah karena menerapkan aturan main pakai kaki. Bayangkan apa yang terjadi jika wasit menghakimi sepat bola pakai aturan basket. Ketika pemain menendang bola maka ditegur oleh wasit, dikenai sanksi kartu kuning. Sepak bola tidak bisa jalan dengan aturan basket. Begitu juga basket tidak bisa jalan dengan aturan sepak bola. Masing-masing hanya valid dengan aturan mereka sendiri.

Pertanyaan selanjutnya, apakah aturan sepak bola tidak pernah berubah? Tentu saja peraturan sepak bola terus-menerus direvisi, berubah agar permainan sepak boleh lebih seru, fair, dan berkembang.

Kembali ke dunia politik, apakah aturan politik perlu direvisi? Tentu saja perlu terus direvisi demi kebaikan bersama.

Tolak relativisme, terima pluralisme.

Bagaimana menurut Anda?

Pengetahuan A Priori

Sikap apriori sering dianggap negatif. Sikap yang keras kepala tidak mau berubah apa pun yang terjadi. Saya menilai setiap gadis yang bernama Rara pasti gadis cantik. Saya terpengaruh oleh anak saya yang bernama Rara dan cantik itu. Ketika saya mendengar orang menyebut nama Rara maka lansung terbayang cantiknya Rara.

Padahal ada 100 Rara yang lain di luar sana. Saya belum pernah bertemu dengan 100 gadis yang semua bernama Rara itu. Tapi saya yakin semua gadis itu cantik-cantik. Sikap keras kepala saya ini didasarkan pada sikap apriori bahwa setiap yang bernama Rara pasti cantik tanpa melihat bukti-bukti lebih dulu.

1. A Priori Vs A Posteriori
2. Proses Pengamatan
3. Pengetahuan Analitik Vs Sintetik
4. Matematika Sehari-Hari
5. Pengetahuan A Priori Kokoh
6. Ringkasan

Sikap apriori saya, tentu saja, bisa salah. Dan barangkali akan sering salah. Karena di antara 100 orang bernama Rara mungkin saja ada yang tidak cantik.

Pengetahuan a priori beda dengan sikap apriori. Pengetahuan a priori justru selalu benar bahkan tanpa melihat bukti-bukti dari pengamatan sekali pun. Namun keduanya, pengetahuan dan sikap, sama-sama apriori. Dalam arti sama-sama sudah mengambil keputusan dulu tanpa melihat bukti pengamatan.

Tampak hebat sekali pengetahuan a priori: selalu benar tanpa harus melakukan pengamatan. Bahkan kebenarannya berlaku umum, universal. Kita banyak berhutang budi kepada Immanuel Kant, pemikir besar abad 18, yang berhasil merumuskan pengetahuan a priori dan a posteriori.

1. A Priori vs A Posteriori

David Hume, filsuf abad 17, meyakini bahwa setiap pengetahuan memerlukan pengamatan atau pengalaman lebih dulu. Misalnya, pernyataan, buah mangga di depan rumah sudah matang. Kita perlu mengamati apakah mangga di depan rumah benar sudah matang. Setelah itu kita baru dapat menilai benar atau salahnya pernyataan buah mangga di depan rumah sudah matang.

Pernyataan di atas adalah contoh pengetahuan a posteriori, pengetahuan belakangan, pengetahuan yang didahului oleh pengamatan. David Hume dan rekan-rekannya meyakini bahwa semua pengetahuan bersifat a posteriori.

Immanuel Kant, di sisi lain, meyakini ada sebagian pengetahuan yang tidak a posteriori. Ada pengetahuan a priori. Yaitu pengetahuan yang mendahului, pengetahuan yang lebih dulu dari pengamatan. Contoh pengetahuan a priori adalah pengetahuan matematika misalnya, 2 + 1 = 3.

Kita tidak perlu melakukan pengamatan lebih dulu tapi bisa menyimpulkan bahwa pengetahuan a priori itu benar, bulan depan, 2 orang penduduk Bandung ditambah 1 orang penduduk Bandung lainnya maka jumlahnya adalah 3 orang penduduk Bandung. Tentu saja, saat ini, kita tidak bisa mengamati kejadian di bulan depan. Tetapi kita bisa mengantisipasi pengetahuan 2 + 1 = 3 adalah benar di bulan depan. Dan bisa kita lihat nilai kebenarannya pun berlaku umum. Berlaku di masa depan, di masa sekarang, dan di masa lalu. Berlaku di sini, di sana, atau di tempat mana pun.

Di abad 20, Bertrand Russell memutuskan bahwa yang benar adalah pandangan Immanuel Kant. Yakni ada sebagian dari pengetahuan kita bersifat a priori. Dan tentu saja tetap ada pengetahuan a posteriori.

2. Proses Pengamatan

Meski pengetahuan kita tentang persamaan matematika, 2 + 1 = 3, bersifat apriori tetapi untuk memahaminya kita perlu pengamatan. Maksudnya, ketika kita masih bayi belum paham perhitungan. Lalu usia kanak-kanak mulai belajar, mengamati beragam fenomena alam. Baru kemudian kita memahami bahwa 2 + 1 = 3.

Proses belajar berupa pengamatan ini penting. Pengalaman saya dalam mengajar anak bermatematika bahkan kita perlu mengenalkan konsep berhitung dengan media-media yang konkret. Misal saya membuat permainan yang berupa bola-bola kecil. Saya tunjukkan 2 bola, ditambah lagi 1 bola, total seluruhnya terkumpul 3 bola. Anak-anak sebagian langsung paham 2 + 1 = 3. Sementara siswa yang lain perlu mengulang-ulang proses itu baru paham. Minggu depannya, ada yang lupa 2 + 1 = 3. Perlu diulang lagi.

Setelah seorang anak memahami bahwa 2 + 1 = 3 maka anak tersebut tidak perlu pengamatan lagi. Dia bisa meyakini bahwa 2 + 1 = 3 benar, berlaku universal. Di mana saja dan kapan saja, berlaku 2 + 1 = 3. Sifatnya yang umum ini lah yang menyebabkan menjadi pengetahuan a priori. Kita tidak perlu melakukan pengamatan di bulan, misalnya, bahwa 2 bongkah batu di tambah 1 bongkah batu maka terkumpul 3 bongkah batu. Kita yakin, di bulan tetap berlaku benar.

Dalam bidang matematika banyak sekali pengetahuan a priori. “Setiap segiempat dapat dibagi menjadi 2 bagian masing-masing berupa segitiga mengikuti garis diagonal segiempat tersebut.” Awalnya, barangkali kita tidak memahami pernyataan itu. Kita bisa mengambil beberapa contoh agar lebih paham. Misal layar smartphone Anda berbentuk segiempat. Maka bisa dibagi mengikuti garis diagonal, miring, terbentuk dua buah segitiga. Kita juga bisa mengamati ubin di lantai. Lalu membayangkan beberapa ubin yang berbentuk segiempat. Dan selalu bisa membagi ubin segiempat itu menjadi dua buah segitiga. Selanjutnya, pengetahuan kita tentang segiempat ini bersifat universal, pengetahuan a priori.

Proses memahami pengetahuan a priori, barangkali, perlu proses pengamatan. Namun sifat pengetahuan a priori berlaku umum melampaui dari sekedar pengamatan partikular itu sendiri.

Mari kita bandingkan lagi dengan pengetahuan a posteriori, misal, buah mangga di depan rumah sudah matang. Kita perlu mengamati apakah benar buah mangga sudah matang. Kesimpulannya misal salah, ternyata, buah mangga belum matang. Untuk besok, apakah buah mangga sudah matang? Kita akan perlu pengamatan di waktu yang seusai. Hasil pengamatan bisa memutuskan bahwa mangga benar sudah matang atau belum.

Sejatinya, tujuan sains adalah mendapatkan pengetahuan yang bersifat umum. Berlaku dalam segala situasi. Pengetahuan yang hanya berlaku khusus pada satu kejadian tidak banyak berguna. Hal ini bisa kita kembangkan dengan metode induksi, yang dibahas pada bagian sebelumnya, dilengkapi dengan penelitian yang memadai. Misal untuk kasus matangnya buah mangga di depan rumah diperoleh pengetahuan,

“Buah mangga akan matang setelah 30 hari.”

Dari pengetahuan itu kita tidak perlu tiap hari mengamati apakah buah mangga sudah matang. Kita hanya perlu mengetahui sudah berumur berapa hari buah mangga itu. Kemudian memperkirakan kapan berumur 30 hari. Dan setelah itu kita berharap buah mangga benar-benar matang.

Jika pengetahuan induksi itu diperoleh dengan metode yang memadai maka akan dijamin benar. Maksudnya mangga benar-benar sudah matang setelah 30 hari. Meski demikian, pengetahuan ini tetap bersifat a posteriori. Di mana kita perlu pengamatan untuk memastikan kebenarannya.

Sehingga jelas perbedaan pengetahuan a priori terhadap a posteriori. Pengetahuan 2 + 1 = 3 adalah pengetahuan a priori, pasti benar.

3. Pengetahuan Analytik vs Sintetik

Meski pengetahuan a priori berlaku universal namun bisa diragukan apakah ada gunanya? Misal, 2 + 1 = 3, memang selalu benar. Lalu buat apa? Bukankah memang selalu begitu?

Bandingkan dengan pengetahuan a posteriori, misal, buah mangga matang setelah 30 hari. Maka kita dapat merencanakan kapan waktu yang tepat untuk panen. Jadi pengetahuan a posteriori bermanfaat besar. Meski mungkin saja kadang-kadang pengetahuan ini bernilai salah. Justru karena bisa bernilai salah maka pengetahuan a posteriori yang bersifat benar menjadi berguna.

Selanjutnya, orang bisa saja meremehkan pengetahuan a priori hanya bersifat analitis belaka. Tidak ada pengetahuan baru di situ. Hanya pengetahuan yang sudah ada lalu dipahami.

“Segitiga memiliki 3 sudut.”

Pengetahuan di atas adalah a apriori, selalu benar, berlaku umum. Bersifat analitik. Yaitu ketika kita menyebut segitiga, sejatinya, di situ kita sudah tahu pasti memiliki 3 sudut. Sehingga pengetahuan di atas tidak menambah informasi apa pun, selain hanya menyatakan ulang yang sejatinya sudah diketahui.

Di sini kita perlu membedakan pengetahuan analitik dengan pengetahuan sintetik.

Pengetahuan sintetik diakui semua orang sebagai bermanfaat. Pengetahuan ini gabungan antara pengamatan, data dari alam luar, dengan pengetahuan a priori yang sudah ada dalam diri manusia. Misalnya pengetahuan sintetik bahwa mangga akan matang setelah 30 hari. Pertama kita mengamati buah mangga berhari-hari. Apakah sudah matang atau masih mentah. Kedua, secara serentak kita memanfaatkan pengetahuan a priori misal prinsip non-kontradiksi. Bahwa mangga yang matang berbeda dengan mangga yang tidak matang, sebut saja masih mentah. Ketiga, proses sintesa antara pengamatan dan prinsip apriori. Maka menghasilkan kesimpulan baru, pengetahuan baru yang bersifat sintetik.

Dalam contoh di atas kita melakukan sintesa antara pengetahuan a posteriori dengan pengetahuan a priori. Berikutnya kita akan menunjukkan bahwa memungkinkan dilakukan sintesa antara pengetahuan a priori dengan pengetahuan a priori lainnya.

Perhatikan pengetahuan a priori, 2 + 1 = 3, yang akan kita tunjukkan sebagai sintesa a apriori (dengan a priori). Dalam pengetahuan ini, awalnya, kita tidak tahu bilangan 3. Di mana kita tidak bisa secara analisis menemukan angka 3 dengan menganalisis angka 2. Pun kita tidak bisa menemukan angka 3 dengan menganalisis angka 1. Angka 3 kita peroleh dengan sintesa angka 2 dengan angka 1 sesuai hukum penjumlahan.

Kita bisa bereksperimen dengan merubah operasi penjumlahan menjadi pembagian, misalnya, 1 : 2 = 0,5. Makin jelas, hasil akhir 0,5 adalah sintesa dari 1 dan 2 dengan aturan pembagian. Bukan sekedar analisis belaka. Jadi sampai di sini kita menunjukkan adanya dua macam sintesa: sintesa a posteriori dengan a priori, dan yang kedua, sinstesa a priori dengan a priori. Sebelum masa Immanuel Kant, semua pengetahuan a priori dianggap sebagai analytic belaka.

Pengetahuan analytic tetap berguna meski tidak menambah informasi baru. Misal segitiga sama sisi adalah segitiga yang memiliki 3 sudut sama besar. Jelas bahwa “memiliki 3 sudut sama besar” sejatinya sudah tersedia ketika kita menyebut “segitiga sama sisi”. Namun demikian, pengetahuan analitik ini tetap berguna misalnya untuk pendidikan kepada pemula. Siswa yang baru mempelajari tentang segitiga barangkali tidak “mengetahui” tentang sudut yang sama besar. Siswa itu hanya tahu segitiga sama sisi memiliki sisi sama panjang. Dengan demikian ketika dia tahu bahwa sudutnya sama besar maka itu menjadi pengetahuan baru, a priori. Dan berguna baginya dalam banyak hal.

Abad 21 ini, bisa dianggap sebagai abad big data. Di mana para ilmuwan terkemuka menaruh hormat kepada istilah analytic. Dengan menggunungnya data yang berlimpah di mana-mana maka kemampuan analytic yang cepat, akurat, dan efisien sangat penting. Menggali data, menambang data, dan menganalisis data bisa lebih penting dari data itu sendiri. Dengan demikian pengetahuan analytic, di abad 21 ini, mendapat tempat yang paling terhormat.

Saya sendiri mengelola canel youtuber paman APIQ merasa sangat terbantu dengan disediakannya analytic oleh youtube. Saya memperoleh wawasan apa saja yang dibutuhkan oleh para penonton saya yang jumlahnya jutaan itu. Saya jadi tahu berapa menit rata-rata video saya yang ditonton ribuan kali itu. Saya juga paham dari kata kunci apa saja penonton bisa tiba ke canel paman APIQ. Semua saya peroleh dari analytic. Sekali lagi, pengetahuan analytic memegang peran amat penting di masa digital ini.

4. Matematika Sehari-hari

Matematika adalah gudangnya pengetahuan a priori. Sehingga kebenaran matematika bersifat universal. Namun banyak yang meragukan guna matematika dalam kehidupan sehari-hari. Memang untuk hitung dagang kita perlu matematika tapi hanya yang dasar. Itu pun sudah cukup dilakukan oleh kalkulator. Apa guna matematika untuk kehidupan sehari-hari?

Saya sudah sering membahas masalah ini tetapi saya ingin membahas dengan pengalaman kasus terbaru. Matematika benar-benar berguna dalam kehidupan sehari-hari. Rara, yang cantik itu, tentu gemar memanfaatkan matematika. Di jaman serba digital, Rara berpikir memanfaatkan matematika untuk belanja di pasar digital agar mendapatkan harga terbaik. Pengalaman Rara dan kawan-kawan mengagetkan saya.

Belanja digital, online, sudah terbiasa menawarkan diskon dengan syarat tertentu. Misal diskon 10 ribu untuk pembelian minimal 30 ribu. Berlaku lagi diskon 20 ribu untuk pembelian minimal 50 ribu. Tersedia pula vocer belanja mau pun vocer ongkos kirim.

Umumnya, orang akan belanja 60 ribu dapat diskon 20 ribu sehingga cukup membayar 40 ribu. Lumayan, cukup meringankan program diskon itu. Rara tidak puas dengan diskon seperti itu. Rara berpikir cepat, menggunakan matematika, untuk mencari diskon optimal.

Hasil perhitungan Rara, dalam hari tertentu, belanja 110 ribu cukup hanya bayar 5 ribu rupiah saja. Itu diskon optimal.

Jika Rara belanja 120 ribu diskon berubah ia harus membayar 50 ribu. Begitu juga jika Rara belanja 100 ribu ia harus membayar 45 ribu. Titik optimal adalah belanja 110 ribu cukup membayar 5 ribu rupiah saja.

Di hari yang lain, Rara menemukan bila belanja 80 ribu maka gratis. Belanjaan dikirim ke alamat. Bila belanja 70 ribu masih harus bayar 30 ribu. Dan bila belanja 90 ribu harus bayar 40 ribu. Maka Rara mengatur agar belanjaan seharga 80 ribu dan gratis. Hari itu, Rara belanja berkali-kali dengan harga masing-masing 80 ribuan yang berarti gratis. Kemudian tumpukan belanjaan itu dibagi-bagikan ke tetangga yang membutuhkan.

Siapa bilang matematika tidak berguna untuk kehidupan sehari-hari?

5. Pengetahuan A Priori Kokoh

Pengetahuan a priori berhak mengklaim berlaku universal, tanpa kecuali. Berbeda dengan pengetahuan dari induksi, dari pengamatan yang terbatas, meski berusaha mengklaim berlaku universal, tetapi tetap terbatas. Sewaktu-waktu dapat difalsifikasi, sesuai saran Popper.

Pengetahuan a priori, 2 + 1 = 3, berlaku universal. Dan secara logika matematika kita bisa membuktikan benar. Tanpa harus menguji kasus demi kasus yang jumlahnya tak hingga.

Sementara pengetahuan a posteriori, “Semua orang mati pada waktunya,” meski tampaknya berlaku universal tetapi tidak demikian. Bila masih ada satu orang saja yang tidak mati saat ini, maka pernyataan di atas masih bisa diragukan. Masih mungkin ada orang yang tidak mati, sejauh sampai saat ini. Meski semua orang yakin, tampaknya akan benar, setiap orang akan mati pada waktunya.

Bagaimana pengetahuan a priori bisa klaim berlaku universal, bahkan tanpa menguji kasus demi kasus, akan kita bahas pada bagian selanjutnya: dunia universalia.

6. Ringkasan

Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang bernilai benar bahkan tanpa pengamatan empiris – contoh pengetahuan matematika 2 + 1 = 3. Sedangkan pengetahuan posteriori adalah pengetahuan yang nilai kebenarannya ditentukan oleh hasil pengamatan – misal sains ilmu alam. Sehingga, pengetahuan posteriori ada peluang bernilai salah.

Proses pembentukan pengetahuan bisa melalui analitik yaitu dengan analisis terhadap obyek yang ada. Bisa juga sintetik dengan menggabungkan pengetahuan a priori dengan posteriori atau gabungan sama-sama a priori.

Meski pengetahuan a priori benar secara universal tanpa pengamatan, tetapi, pemahaman kita akan pengetahuan a priori memerlukan proses pengamatan. Setelah melakukan pengamatan dalam kadar yang memadai, kita baru memahami pengetahuan a priori. Demikian halnya dengan pengetahuan prinsip umum – identitas, non-kontradiksi, dan hukum antara – adalah termasuk pengetahuan a priori.

Tentu saja, masih tersisa pertanyaan, “Bagaimana pengamatan yang terbatas bisa menghasilkan pengetahuan a priori yang tidak terbatas?” Kita akan menjawabnya, di bagian selanjutnya, dengan mempertimbangkan dunia universal dan argumen transendental.

Lanjut ke Dunia Universalia
Kembali ke Philosphy of Love

Indonesia Urutan 106 vs US 173: Indeks Covid

Kita berharap pandemi segera berlalu. Umat manusia di seluruh dunia, semoga tetap sabar menghadapi dan mencari jalan keluar dari wabah covid-19.

Saya, bersama tim, mencoba merumuskan formula Indeks Covid dari negara-negara di dunia. Hasil perhitungan rumus ini saya tampilkan di bagian bawah, untuk beberapa negara terpilih.

Negara tetangga kita, Brunei, Singapura, dan Timor berhasil meraih nilai tertinggi dari Indeks Covid. Formula ini mempertimbangkan penambahan kasus harian, jumlah penduduk suatu negara, dan luas wilayah negara tersebut.

Sementara negara kita, Indonesia ada pada urutan 106. Tetapi jangan berkecil hati karena Amerika berada di urutan yang paling bawah yaitu 173.

Formula Indeks

Indeks Awal = Jumlah penduduk / (Kasus harian * Luas daratan)

Indek Akhir = 7 + log (Indeks Awal)

Interpretasi

Sesuai formula indeks di atas kita akan menghasilkan angka-angka dalam rentang sangat besar. Agar mudah kita memahaminya maka saya menghitung nilai logaritma dari indeks tersebut. Kemudian menambahkan angka 7 sebagai acuan agar mirip seperti PH larutan asam atau basa. Di mana nilai 7 disepakati sebagai nilai normal.

Berikut ini interpretasi masing-masing kelompok indeks.

IndeksMakna
9 – ke atasBagus sekali, pertahankan
7 – 9Bagus, tingkatkan
6 – 7Perlu aksi perbaikan khusus
6 – ke bawahPerlu ekstra aksi

Juara: Brunei, Singapura, Timor

Seperti pada tabel di atas, negara tetangga kita berhasil menduduki posisi juara dengan indeks di atas 9. Barangkali kita bisa berkilah mereka kan negara kecil. Meski kecil, Singapura memiliki kepadatan penduduk lebih dari 7 ribu orang per km persegi. Lebih besar 50 kali lipat dari Indonesia.

Vietnam, dengan indeks hampir 9, adalah negara besar berpenduduk sekitar 100 juta orang. Di mana dinamika penduduk sebesar itu tidak beda jauh dengan penduduk Indonesia.

Batas: Qatar, Ghana, Srilanka

Nila di perbatasan 7 diduduki oleh Qatar dan Srilanka seperti tabel berikut ini. Batas warna hijau berubah menjadi kuning.

Indonesia Urutan 106 Merah

Seperti sudah kita sebut di atas, Indonesia pada posisi ke 106, warna merah, dengan indeks = 5,47. Maka kita perlu kompak untuk memperbaiki situasi.

Amerika Paling Bawah Urutan 173

USA yang baru saja menyelenggarakan pemilu, menempati posisi paling akhir urutan 173 dengan indeks = 3,29. Tentu menjadi tugas berat bagi presiden terpilih untuk membawa Amerika keluar dari pandemi.

Penutup

Untuk informasi lebih detil silakan mengunjungi pamanapiq.com/covid . Tersedia data lebih lengkap meliputi angka kematian, kasus aktif dirawat, angka reproduksi R, analisis tiap provinsi atau kabupaten, dan lain-lain.

Semoga analisis ini bermanfaat untuk kita semua.

Bagaimana menurut Anda?

Pengetahuan Prinsip Umum

Rara cantik. Rara memang cantik. Karena cantik maka Rara pasti tidak jelek. Karena kita tahu bahwa Rara tidak jelek maka Rara pasti cantik. Mengapa kata-kata sejelas itu harus diulang berkali-kali?

Cantik itu tidak jelek. Jelas itu. Itulah pengetahuan prinsip umum yang sudah jelas. Tetapi karena jelasnya kita bisa saja melupakannya. Seharusnya kita bisa membahasnya, pengetahuan prinsip umum, dengan mudah saja.

1. Tiga Prinsip Umum
2. Hukum Identitas
3. Hukum Non-Kontradiksi
4. Hukum Antara
5. Penutup
6. Diskusi
6.1 Non-Identitas
6.2 Kontradiksi
6.3 Intuisionisme
6.4 Tantangan dan Prospek
6.5 Aneka Tunggal

Prinsip umum sudah dirumuskan dengan baik oleh Aristoteles sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Russell menegaskan kembali prinsip umum ini pada abad ke 20 sampai menjelang abad 21. Tetapi para filsuf posmodernis, dianggap, sering melanggar prinsip umum pikiran ini. Maka kita menjadi sulit sekali memahami teori posmodern, menurut saya salah satunya, karena melanggar prinsip umum di beberapa bagiannya.

Bagaimana mungkin tokoh posmo yang menguasai filsafat kuno sampai filsafat modern bisa melanggar prinsip umum? Saya kira sulit menjelaskan ini. Karena teori posmodern sendiri tidak satu suara. Mereka berbeda-beda. Saya sendiri ragu-ragu apakah filsuf posmo benar-benar melanggar prinsip umum pikiran. Karena sejatinya prinsip umum pikiran tidak bisa dilanggar.

1. Tiga Prinsip Umum

Menurut Russell, mengacu kepada Aristoteles, hanya ada tiga prinsip umum. Pertama, hukum identitas. Jika sesuatu itu benar maka sesuatu itu benar. Wah, apa maksudnya? Bukankah itu jelas sekali?

Kedua, hukum non-kontradiksi. Jika sesuatu itu benar maka sesuatu itu tidak salah. Atau, jika sesuatu itu salah maka sesuatu itu tidak benar. Atau, tidak mungkin sesuatu itu benar dan salah, bersamaan. Itu kontradiksi. Tidak mungkin terjadi kontradiksi.

Ketiga, hukum antara. Sesuatu pasti salah satu antara benar atau salah. Tidak bisa serentak kedua-duanya. Tidak bisa juga jika tidak kedua-duanya. Tidak ada pilihan lain selain salah satu dari dua itu: benar atau salah saja.

Ketiga prinsip umum di atas benar, jelas dengan sendirinya. Tidak perlu pembuktian untuk prinsip umum. Justru segala bukti perlu memenuhi ketiga prinsip umum di atas. Prinsip umum ini, menurut Russell, sejatinya bukan hukum pikiran. Tetapi hukum realitas. Artinya, seluruh realitas memenuhi prinsip umum itu. Jika kita berpikir sesuai prinsip umum ini maka kita berpikir benar sesuai realitas.

2. Hukum Identitas

Jika Rara cantik maka kesimpulannya Rara memang cantik. Hukum identitas yang jelas. Dalam rumus matematika lebih jelas.

A = A
B = B
5 = 5

Meski ini prinsip umum yang jelas dengan sendirinya, tampaknya, untuk bisa memahaminya perlu proses pengamatan, perlu pengalaman. Dalam kehidupan sehari-hari ketika kita melihat sebuah mobil maka kita tahu itu adalah mobil. Ketika kita melihat meja maka itu adalah meja. Dari pengalaman ini kita menyadari prinsip identitas.

Kita bisa mengantisipasi jauh ke depan. Jika 10 tahun ke depan ada batu di Bandung maka itu pasti batu di Bandung. Jika ada makhluk hidup di Mars maka itu adalah makhluk hidup di Mars. Kita yakin itu semua benar. Berlaku umum. Tanpa kita harus mengalaminya secara langsung.

Namun demikian, kita tidak bisa yakin bahwa bayi yang baru lahir memahami prinsip umum ini. Bayi akan mengamati alam sekitarnya untuk kemudian memahami prinsip umum ini – meski tidak harus diformulasikan dalam bentuk bahasa. Ketika bayi melihat ibunya maka itu adalah ibunya. Ketika bayi melihat susu itu adalah susu.

Meski prinsip umum ini selalu benar tetapi penerapan pada kasus yang kompleks bisa lebih menantang. Rara cantik maka tidak jelek. Dari sudut pandang lain, cantik adalah jelek.

Misal hanya ada dua jenis penilaian: cantik atau jelek. Atau S = {cantik, jelek}.

Jika Rara cantik maka Rara memang cantik, dan pasti Rara tidak jelek. Jelas dan pasti itu. Tetapi orang dapat mengatakan bahwa Rara cantik dilihat dari wajahnya. Tapi Rara jelek dilihat dari warna bajunya. Maka, cantik = jelek = tidak cantik. Tentu saja kita mudah melihat kesalahan berpikir dengan cara ini. Perbedaan sudut pandang bisa menghasilkan penilaian yang berbeda.

“Harga komputer ini mahal, dan tidak mahal.”

Maka, mahal = tidak mahal. Lagi kita akan mudah meneliti ini terjadi karena beda sudut pandang. Komputer mahal karena dilihat dari uang yang dimiliki pembeli tidak cukup untuk membelinya. Komputer tidak mahal karena kinerjanya menghasilkan uang lebih besar dari harga belinya.

Jika konsisten maka, mahal = mahal. Dan, tidak mahal = tidak mahal. Semua jelas dengan sendirinya. Realitas alam semesta seperti itu.

3. Hukum Non-Kontradiksi

Saling melengkapi antara hukum kontradiksi dan hukum identitas. Rara yang cantik dipanggil polisi gara-gara melanggar lampu merah lalu lintas di jalan Setiabudi. Polisi melihat rekaman kamera cctv bahwa ada wanita cantik, mirip Rara, melanggar lampu merah tepat pukul 10 pagi. Tapi Rara menolaknya. Rara mengatakan tidak melanggar. Itu bukan Rara.

Memang rekaman video itu mirip Rara. Sama cantiknya. Sama warna bajunya. Sama warna motornya. Dan sama dari berbagai sudut pandang. Rara tidak bisa menyangkal begitu saja. Rara butuh argumen yang lebih kuat dari sekedar sangkalan belaka. (Contoh kasus ini tentu beda dengan kasus video panas mirip artis yang heboh itu).

Untungnya Rara ingat bahwa di waktu yang sama dengan dalam video dimaksud, Rara sedang belajar matematika bersama teman-teman di APIQ. Lalu Rara menunjukkan rekaman video, yang jelas tanpa ragu, bahwa hari itu dari pukul 9 sampai dengan pukul 11, ia sedang belajar matematika di APIQ.

Polisi mempelajari video para siswa sedang belajar di APIQ. Lalu polisi yakin bahwa di waktu itu Rara benar-benar sedang belajar di APIQ. Maka video yang melanggar lalu lintas itu pasti bukan Rara. Video itu hanya mirip Rara tapi bukan Rara.

Polisi sudah tepat menerapkan prinsip umum non-kontradiksi. Dalam sidang pengadilan sering menerapkan prinsip non-kontradiksi berupa alibi.

A: Rara belajar di APIQ.
B: Rara TIDAK belajar di APIQ

Pernyataan A dan B saling ber-kontradiksi maka tidak mungkin bisa benar serentak kedua-duanya. Jika A benar maka B pasti salah. Karena terbukti A benar, Rara sedang belajar di APIQ maka B salah. Jadi, Rara melanggar lalu lintas adalah bernilai SALAH. Pernyataan A di atas bisa disebut sebagai alibi bagi Rara.

Prinsip non-kontradiksi memastikan “ketiadaan sesuatu” sedangkan prinsip identitas memastikan “keberadaan sesuatu”.

“Apakah ada bilangan positif terbesar?”

Misalkan ada bilangan terbesar yaitu P. Tetapi kita bisa membuat bilangan Q = P + 1. Di mana Q lebih besar dari P karena Q = P + 1.

A: P adalah bilangan positif terbesar
B: P BUKAN bilangan positif terbesar

Pernyataan B adalah ber-kontradiksi dengan pernyataan A. Karena pernyataan A masih meragukan, sementara pernyataan B lebih meyakinkan, maka kesimpulannya adalah tidak ada bilangan positif terbesar. Terbukti. Pembuktian dengan prinsip kontradiksi ini sering dikenal dengan reductio ad absurdum, membuang yang absurd.

Lagi, prinsip umum non-kontradiksi ini berlaku umum dan jelas. Tetapi penerapan pada situasi kompleks bisa lebih menantang. Harga komputer ini mahal, dan tidak mahal. Seperti kontradiksi. Solusinya adalah karena ada beda sudut pandang yang sudah kita bahas di bagian prinsip umum identitas.

4. Hukum Antara

Tegas. Hanya pilih satu saja.

Tidak ada tengah-tengah. Tidak ada campuran. Tidak ada keraguan. Tidak ada abu-abu. Hitam, atau bukan hitam saja. Putih, atau bukan putih saja.

Perhatikan bendera Indonesia yang hanya berwarna merah putih. Bila Rara hanya bisa mengintip satu titik dari bagian bendera Indonesia maka warna yang dilihat Rara pasti merah atau putih, salah satunya saja. Jika titik yang terlihat bukan merah maka pasti putih.

Tetapi hidup ini tidak hanya merah putih, tidak hanya hitam putih. Hidup ini adalah warna-warni. Hidup ini bagai pelangi. Tepat. Itu benar sekali. Realitas hidup memang beragam. Maka kita perlu sudut pandang yang luas.

Dalam keluasan realitas, yang penuh aneka ragam, tetap berlaku “hukum antara” bersifat umum. Bila tidak hati-hati hukum ini bisa jadi jebakan. Maka kita perlu membahasnya di sini.

Pandangan hitam putih sering disebut sebagai oposisi biner. Dua hal yang saling bertentangan. Sejatinya hitam putih tidak oposisi biner dalam banyak hal. Syarat oposisi biner adalah afirmasi lawan negasinya.

Hitam vs Bukan Hitam
Putih vs Bukan Putih
Merah vs Bukan Merah
Benar vs Bukan Benar
Besar vs Bukan Besar

Warna pelangi bisa kita buat hanya dua kelompok yaitu merah atau bukan merah. Jingga, kuning, hijau, biru, lembayung, dan ungu masuk pada kelompok bukan merah. Sehingga ketika Rara memandang satu titik pada pelangi bisa dipastikan berwarna merah atau bukan merah, seperti di atas.

Apakah berdasar hukum antara ini orang harus mengambil sikap tegas hitam putih?

Sikap tegas hitam putih adalah sikap yang salah dalam menerapkan hukum antara. Seharusnya hitam vs bukan hitam. Karena bukan hitam bisa jadi merah, kuning, biru, putih, atau lainnya. Sehingga, dengan hukum antara, kita sadar ada banyak pilihan warna. Meskipun awalnya tampak hanya ada dua pilihan saja.

5. Penutup

Tiga prinsip umum di atas dapat saja kita formulasikan dengan bentuk yang berbeda-beda tetapi intinya akan mirip seperti di atas. Secara alamiah, ketika kita berpikir, pasti menerapkan tiga prinsip umum di atas. Hanya pada kondisi-kondisi tertentu saja, secara sadar, kita memanfaatkan prinsip umum untuk mendapatkan bukti yang kuat.

Prinsip non-kotradiksi berguna untuk membuktikan sesuatu yang tidak ada. Karena tidak ada maka kita tidak bisa memberi contoh. Berpikir induksi tidak akan bisa diterapkan dalam hal ini. Eksperimen juga tidak bisa menunjukkan sesuatu yang tidak ada. Solusinya adalah gunakan prinsip non-kontradiksi. Caranya, pertama misalkan sesuatu itu ada. Kedua, tunjukkan bahwa terjadi kontradiksi. Ketiga, kesimpulannya sesuatu itu tidak ada. Terbukti.

Pada bagian selanjutnya kita akan membahas pengetahuan a priori yang berlaku umum dan selalu benar.

6. Diskusi

Tiga prinsip umum, yang sekilas tampak jelas benar, dalam realitas, menghadapi banyak tantangan. Kejelasan prinsip-prinsip ini menjadi, sedikit banyak, goyah. Bagi kita, orang yang mengkaji filsafat, barangkali perlu memberi perhatian lebih terhadap dinamika prinsip umum ini.

6.1 Non-Identitas

Hukum identitas mendapat tantangan hukum non-identitas atau different. Deleuze (1920 – 1995) menunjukkan bahwa different lebih prior dari identitas. Karena ada keragaman different, kemudian, kita baru bisa menyimpulkan identitas.

6.2 Kontradiksi

Hukum non-kontradiksi menghadapi tantangan hukum kontradiksi. Hegel (1770 – 1831) lebih mengutamakan kontradiksi. Alam raya ini terus bergerak karena ada kontradiksi sampai akhirnya menuju spirit absolut.

6.3 Intuisionisme

Hukum antara mendapat tantangan dari pandangan intuitif. Brouwer (1881 – 1966) mengembangkan pandangan intuisionisme. Kita hanya bisa memastikan suatu pernyataan bernilai benar atau salah hanya ketika kita bisa mengkonstruksi – nilai kebenaran – pernyataan itu atau mengkonstruksi negasinya. Jika kita tidak bisa mengkonstruksinya maka kita tidak bisa menyimpulkan kebenaran dengan hukum antara.

Kita akan membahas tantangan-tantangan ini pada bagian-bagian selanjutnya. Sekilas di sini, kita bahas beberapa prospek dari challenge di atas.

6.4 Tantangan dan Prospek

Perhatikan pernyataan (K): Sistem kapitalis adalah sistem terbaik.

Berdasar hukum idenitas, K = K. Secara tegas, kapitalis adalah yang terbaik. Kemudian, para pendukung kapitalis mengumpulkan bukti untuk mendukung klaim mereka. Bila ada tanda-tanda yang agak beda, misal menunjukkan cacat kapitalis, maka tanda tersebut perlu diframing atau dibuang. Sehingga, kapitalis adalah yang terbaik. Identitas K = K karena memang K.

Non-identitas, sebaliknya, justru menunjukkan hal-hal yang berbeda dari K. Banyak bukti-bukti yang menunjukkan bahwa kapitalisme tidak berjalan dengan baik. Perbedaan antara bukti-bukti ini dan klaim kapitalisme sebagai terbaik perlu kita uji dengan memadai. Jika K benar, kapitalisme adalah yang terbaik, itu karena ada peran dukungan dari yang bukan kapitalis. Barangkali karena sosialis kalah baik. Teonomic juga kalah baik.

Jadi, klaim K menjadi bisa valid karena ada yang beda dari kapitalisme. Seandainya tidak ada sosialis dan teonomic maka K juga tidak ada. Validitas K tergantung kepada selain K.

Prospek baru bisa terjadi dengan different ini. Ketika kita mengkaji sosialis dan teonomic, misal ternyata hasilnya, sosialis dan teonomic lebih baik dari kapitalisme. Akibatnya, klaim K yang mengatakan kapitalisme sebagai yang terbaik adalah klaim yang salah. Barangkali, selanjutnya, kita perlu melakukan beberapa koreksi terhadap K. Dengan demikian, akan tejadi klaim yang lebih dinamis.

Sementara, pihak yang berkeras kepala menyatakan K = K karena kapitalisme adalah memang sistem terbaik, kita bisa sebut mereka sebagai katak dalam tempurung. Mereka menilai diri sendiri berdasar standar diri sendiri. Katak dalam tempurung bisa terjadi dalam beragam klaim. “Pikiran kulo adalah yang terbaik.” “Aliran kulo adalah yang terbaik.” “Filosofi kulo adalah yang terbaik.” Klaim-klaim seperti itu sulit dipertanggungjawabkan. (Kulo = saya).

Prospek kontradiksi lebih dramatis lagi. Kontradiksi lebih keras dari different. Karena, kontradiksi menyatakan perlawanan total, bukan sekedar perbedaan dari beragam pihak.

Ketika klaim K mengatakan bahwa kapitalisme adalah sistem terbaik, maka, langsung muncul lawannya, misal (-K), yang menyatakan bahwa kapitalisme BUKAN sistem terbaik. Selanjutnya K berdialektika dengan (-K) menjadi (KK): kapitalisme adalah salah satu sistem terbaik.

Dan, tidak berhenti di (KK) saja. Karena, klaim (KK) akan langsung menghadapi kontradiksi lagi, misal (-KK): kapitalisme BUKAN salah satu sisten terbaik. Selanjutnya, terjadi proses dinamis tanpa pernah berhenti. Dengan prinsip kontradiksi ini, kita dilarang melakukan klaim dengan cara menjadi katak dalam tempurung. Setiap klaim harus menghadapi kontradiksinya.

Terakhir, prospek intuisionisme lebih menarik lagi. Intuis menolak hukum-antara (HA): pernyataan (K or -K) pasti BENAR.

Intuis menuntut agar kita bisa mengkonstruksi bukti bahwa K: kapitalisme adalah sistem terbaik. Kita tahu, bukti seperti itu, sejatinya, sulit diperoleh siapa pun. Atau, intuis lebih longgar, kita hanya dituntut mengkonstruksi bukti (-K). Sama saja, itu bukti yang sulit diperoleh. Lagi pula, siapa yang minat membuktikan kapitalis sebagai BUKAN yang terbaik? Aktivis kiri dan kanan barangkali berminat.

Para kapitalis, ketika kesulitan mebuktikan K, bisa bergeser menunjukkan bahwa (-K) adalah SALAH. Negara-negara yang tidak kapitalis, saat ini, menjadi negara miskin, mundur, dan terbelakang. Kondisi seperti itu menjadi bukti bahwa (-K) adalah SALAH. Konsekuensinya, K menjadi benar: kapitalisme adalah sistem terbaik.

Tentu saja, intuis menolak kesimpulan seperti itu. Kondisi negara yang miskin, mundur, dan terbelakang tidak mencukupi untuk membuktikan (-K) sebagai SALAH. Karena, kita gagal mengkonstruksi bukti untuk K mau pun (-K), menurut intuis, setidaknya saat ini, hal itu menunjukkan K dan (-K) sama-sama sebagai tidak relevan. Akibatnya, kita perlu membuat klaim yang relevan, yang buktinya bisa dikonstruksi, boleh afirmasi atau negasinya.

Apakah kapitalisme adil? Apakah kapitalisme mengatasi kesenjangan ekonomi? Apakah kapitalisme memperkuat kepedulian antar sesama? Barangkali, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas bisa menjadi klaim yang relevan menurut intuis.

6.5 Aneka Tunggal

Heidegger (1889 – 1976) meyakini bahwa realitas-being adalah identik dan difference; secara serentak. Saya menyebutnya sebagai aneka tunggal; aneka adalah difference atau keragaman; tunggal adalah sama atau identik.

Pernyataan (A) bahwa “K = K”.

Kita membaca (A) sebagai “K sama dengan K.” Apa makna-sama-dengan? Apa makna simbol “=”? Jadi, apa makna-identitas?

Kita bergeser; semula, mengkaji K untuk menunjukkan identik dengan K itu sendiri; jadi, mengkaji apa makna-identitas itu sendiri. Mengapa kita tidak cukup hanya dengan menyatakan “K” saja? Karena hanya “K” menjadi tautologi tanpa arti; sehingga tidak memadai.

Pernyataan (A) bisa kita ubah menjadi

(A2) K dan K adalah identik; atau, K dan K adalah sama.

K sebelah kiri adalah “bagian” dari identik. Demikian juga, K sebelah kanan adalah “bagian” dari identik.

(B) Kopi adalah Kopi; atau Kopi = Kopi.

Kita bisa menganalisis pernyataan (B) dengan cara yang mirip dengan di atas. Kopi dan Kopi adalah identik. Sehingga, Kopi adalah “anggota” dari identik; anggota dari identitas.

(C) Kopi-realitas = Kopi-pikiran; Kopi-realitas dan Kopi-pikiran adalah identik.

Kopi-realitas identik dengan kopi-pikiran. Kopi-realitas yang ada di depan Anda itu adalah identik dengan Kopi-pikiran yang Anda lihat di depan Anda itu. Kopi-realitas adalah “anggota” dari identitas dan Kopi-pikiran adalah “anggota” dari identitas.

Apa makna-identitas? Makna-identitas adalah anugerah.

Kopi-realitas memberi anugerah kepada pikiran Anda sehingga Anda melihat Kopi-realitas berupa Kopi-pikiran yang nyata. Arah sebaliknya, Kopi-pikiran memberi anugerah kepada Kopi-realitas sehingga Kopi-realitas menjadi bermakna. Kopi-realitas dan Kopi-pikiran adalah identik sama-sama sebagai anugerah.

Tetapi, kita sadar bahwa realitas berbeda dengan pikiran; meski, realitas dan pikiran juga identik. Jadi, aneka tunggal; difference identik; berbeda tetapi sama.

Analisis lebih jauh, realitas itu sendiri adalah difference. Kopi-realitas adalah kopi-apa-adanya; kopi-ada-bagian-tersembunyi; kopi-aneka-arti. Jadi, realitas adalah aneka tunggal. Demikian juga, pikiran adalah aneka tunggal.

Jika realitas adalah “anggota” dari anugerah; dan pikiran adalah “anggota” dari anugerah; apa makna-anugerah? Anugerah adalah realitas nyata yang selalu memberi tanpa henti dan selalu menata sehingga realitas tertata.

Prinsip aneka tunggal bisa kita nyatakan,

Aneka Tunggal = AT = Aneka keragaman realitas adalah tunggal; aneka keragaman realitas adalah identik; dan realitas tunggal adalah beragam; identitas realitas adalah beragam.

Kita bisa menelusuri formula prinsip aneka tunggal ke pemikir masa lalu: Ibnu Arabi (1165 – 1240); Mulla Sadra (1572 – 1641); Heidegger (1889 – 1976).

Prinsip aneka tunggal (AT) menggeser klaim identitas K = K yang semula bersifat metafisika menjadi bersifat ontologi. Klaim metafisika bersifat pasti, stabil, dan universal. Klaim ontologi bersifat kreatif, dinamis, dan konkret. Pergeseran dari metafisika ke ontologi adalah lompatan besar; leap; atau spring.

Dominasi Metafisika

Mari sedikit membahas kembali ke prinsip identitas K = K secara metafisika.

Kopi = Kopi

Kita membutuhkan identitas metafisika ini untuk memudahkan memahami realitas; yang kita sederhanakan. Anak-anak yang belajar matematika perlu memahami realitas secara metafisika yang bersifat universal.

2 + 1 = 3

Pernyataan sebelah kiri “2 + 1” identik dengan “3” pernyataan sebelah kanan; secara universal. Contoh “2 cangkir kopi” ditambah “1 cangkir kopi” akan identik dengan “3 cangkir kopi.” Prinsip universal ini, di era digital, bergerak dari matematika menuju teknologi; misal teknologi komputer dan AI (akal imitasi / artificial intelligence). Komputer dan AI mampu menyelesaikan tugas dengan cepat karena seluruh proses bersifat universal. “2 + 1 = 3” bernilai BENAR hari ini, 10 hari ke depan, sampai 10 abad ke depan. Kita pasti sudah mati dalam 10 abad ke depan. Tetapi kita yakin “2 + 1 = 3” tetap benar di 10 abad ke depan. Dengan asumsi metafisika universal ini, AI mampu bekerja super cepat.

Problem muncul ketika teknologi makin mendominasi; metafisika makin mendominasi. Kita salah mengira bahwa realitas adalah metafisika; sehingga, realitas 10 abad ke depan bisa kita pastikan dari sekarang; semisal “2 + 1 = 3” itu. Tidak pasti begitu. Realitas sebenarnya “2 cangkir kopi” ditambah “1 cangkir kopi” akan menghasilkan banyak kejutan yang mempesona; bukan hanya “3 cangkir kopi”. Hari ini, “2 cangkir kopi” bisa membuat kejutan; apa lagi di 10 abad ke masa depan. Kita perlu berpikir terbuka terhadap beragam kejutan realitas anugerah yang penuh pesona. Di sini, kita melompat dari dominasi metafisika menuju realitas konkret ontologi yang penuh pesona. Kita membutuhkan keduanya: metafisika dan ontologi.

Hidup kita adalah lompatan besar berupa anugerah konkret dan universal bagi seluruh semesta; bagi makhluk hidup; dan bagi makhluk yang tidak hidup. Kita akan membahas lebih detil di bagian-bagian selanjutnya.

Lanjut ke Pengetahuan A Priori
Kembali ke Philosophy of Love

Induksi: Cantik Keturunan

Rara memang cantik. Ibunya Rara juga cantik. Bahkan neneknya pun cantik. Maka bila Rara nanti punya anak perempuan maka pasti cantik juga. Dilanjutkan lagi, bila punya cucu perempuan pasti juga cantik. Apakah bisa kita berpikir seperti itu?

Tentu saja bisa. Cara berpikir yang lebih luas seperti di atas dikenal sebagai metode berpikir induktif yang mendorong pengetahuan berkembang maju pesat. Kita akan membahas lebih detil berpikir induktif pada bagian ini.

1. Terbit Matahari
2. Perkembangan Pengetahuan
2.1 Induksi Paling Kuat
2.2 Mengapa Induksi Pasti Benar
3. Berpikir Deduktif Lebih Pasti
4. Anomali Adalah Pengetahuan
5. Cantik Turunan
5.1 Dugaan
5.2 Kausalitas
5.3 Mutlak Benar
6. Ringkasan
7. Diskusi
7.1 Falsifikasi Langsung
7.2 Falsifikasi Paradigma
7.3 Falsifikasi Program
7.4 Penolakan Induksi
7.5 Penolakan Kausalitas
7.6 Generalis: Induksi Muda
7.7 Futuris: Induksi Dewasa
7.8 Antisipasi
7.9 Inferensi

Kita mudah menduga bahwa berpikir induktif bisa benar, bisa juga salah. Tepat sekali. Dengan metode yang hati-hati, kita bisa menjamin bahwa berpikir induksi mendekati kebenaran 100%. Russell menunjukkan caranya, dengan mengungkap suatu hubungan sebab-akibat yang mendukung berpikir induksi tersebut. Misal, asumsikan, bahwa penyebab cantik adalah suatu “gen c” yang selalu diturunkan dari ibu ke anak perempuannya. Dan kita menemukan terdapat gen c pada Rara maka kita sah menyimpulkan bahwa anak perempuan Rara pasti cantik juga.

Sementara, Karl Popper mengingatkan bahwa, kebenaran berpikir induksi ini, perlu difalsifikasi. Sehingga kita menemukan letak kesalahan yang mungkin dan mengembangkan pengetahuan yang lebih kokoh. Popper menolak penggunaan metode induksi. Sementara, beberapa pemikir mendukung induksi.

1. Terbit Matahari

Apakah besok matahari akan bersinar? Apakah besok matahari akan terbit lagi? Apakah besok masih ada air di bumi?

Jawabannya positif. Ya, benar semua!

Kita tahu bahwa besok matahari akan bersinar. Tetapi tidak ada jaminan itu benar. Bisa saja nanti malam berpendar. Dan besok, tidak lagi matahari bersinar.

Berpikir induksi akan menjawab ini semua dengan jelas.

Pertama, kemarin matahari bersinar. Kemarin lusa matahari bersinar. Pekan lalu matahari bersinar. Bulan lalu matahari bersinar. Dan sepanjang sejarah manusia, matahari tetap bersinar. Maka kita menyimpulkan bahwa besok matahari bersinar.

Meski kesimpulan di atas benar tetapi tidak meyakinkan.

Kedua, kita bisa menyelidiki mengapa matahari bersinar. Di matahari terjadi reaksi nuklir yang menghasilkan energi, salah satunya, berupa cahaya matahari. Sinar matahari, sebagai gelombang elektromagnetik, merambat sampai ke bumi, yang kita amati. Dari penelitian, diperkirakan umur matahari, masih sampai lebih dari 5 milyard tahun ke depan. Masih ada reaksi nuklir terus-menerus sepanjang milyardan tahun di matahari. Sampai saat ini tidak ada tanda-tanda istimewa akan terjadi perubahan mendadak reaksi nuklir matahari di atas. Maka kita menyimpulkan matahari akan bersinar esok hari.

Dengan cara analisis yang kedua maka kita makin yakin validitas berpikir induktif. Kita tidak hanya mengamati kasus permukaan bahwa matahari bersinar atau tidak. Tetapi kita melangkah lebih jauh dengan mencermati hukum sebab akibat yang terkait pada proses sinar matahari.

Bandingkan dengan berpikir induksi pada kasus yang berbeda. Di pagi hari Senin, Rara membuka pintu rumahnya. Pagi hari Selasa, Rara juga membuka pintu rumahnya. Begitu seterusnya kejadian sampai 99 kali. Pertanyaannya: apakah besok pagi Rara akan membuka pintu rumahnya? Sehingga lengkap sampai 100 kali?

Analisis sederhana menunjukkan bahwa penyebab Rara membuka pintu adalah keputusan Rara itu sendiri. Jika Rara mengambil keputusan untuk membuka pintu maka besok pagi ia akan membuka pintu. Jika Rara memutuskan sebaliknya maka yang terjadi bisa sebaliknya. Berpikir induksi dalam kasus Rara membuka pintu hanya berupa dugaan semata. Meski sudah pernah terjadi peristiwa membuka pintu 99 kali atau seribu kali, atau bahkan sejuta kali maka tetap tidak ada jaminan besok akan terjadi lagi.

Ketiga, dalam kasus apakah matahari besok bersinar, kita dapat meneliti gerak-gerak benda di langit. Termasuk gerak matahari, planet-planet, dan bintang-bintang lain. Gerak jagad raya dapat dihitung dengan hukum gravitasi dan mekanika Newton. Dari perhitungan itu kita peroleh bahwa bumi akan tetap berputar pada porosnya sambil mengelilingi matahari. Dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa hukum gravitasi akan berhenti bekerja. Sehingga kita, sah, menyimpulkan bahwa besok matahari akan bersinar.

Memang bisa saja, misalnya, nanti malam bumi bertabrakan dengan planet Mars. Di saat yang sama, malam nanti, matahari bertabrakan dengan bintang yang lebih besar sampai hancur lebur. Atau orang menyebut sebagai terjadi kehancuran alam semesta. Maka besok matahari TIDAK bersinar. Meski hal ini bisa terjadi tetapi kita tidak melihat ada tanda-tanda yang menunjukkan hal itu bisa terjadi.

2. Perkembangan Pengetahuan

Induksi mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan konsep generalisasi, yang dipakai dalam berpikir induksi, dari pengetahuan yang sedikit kita bisa menyimpulkan yang lebih luas. Dilengkapi dengan metode ilmiah, maka kita bisa melakukan banyak eksperimen hanya di laboratorium, tetapi hasil kesimpulan berlaku luas ke seluruh alam semesta.

Di laboratorium, penelitian menemukan bahwa arus listrik (I) yang mengalir berbanding terbalik dengan nilai hambatan (R). Meski hanya ditemukan di laboratorium tetapi para insinyur yakin bahwa perilaku arus listrik seperti di atas berlaku umum. Maka insinyur dapat mendesain teknologi berdasar perilaku arus listrik di atas (dan aturan-aturan lain yang ditemukan di lab). Dan hasil desain teknologi itu berupa smartphone yang kita pakai, layar monitor yang kita lihat, dan komputer yang memudahkan kerja manusia.

Tentu saja, para peneliti tidak perlu tahu bahwa smartphone akan bisa beroperasi di rumah masing-masing pengguna. Peneliti hanya perlu sudah menguji di lab. Lalu berpikir induksi. Dan benar saja smartphone bisa kita pakai di mana saja. Kadang-kadang kita menemukan cacat pada produk baru smartphone, misal layar yang pecah. Sehingga smartphone tidak beroperasi. Dengan mudah kita bisa mengatakan bahwa itu hanya kejadian khusus saja. Mungkin karena smartphone jatuh atau lainnya. Yang jelas, secara umum, berpikir induktif adalah valid.

2.1 Induksi Paling Kuat

Berpikir induksi yang paling meyakinkan adalah induksi matematika untuk bilangan bulat. Barangkali dengan contoh akan lebih mudah. Perhatikan deret bilangan ganjil positif berikut ini.

1 + 3 + 5 + 7 + … … …

Kita mudah menebak bahwa jumlah dari deret di atas adalah kuadrat atau perkalian banyaknya angka (bilangan).

1 + 3 = 2 x 2 = 4

1 + 3 + 5 = 3 x 3 = 9

Apakah kita bisa berpikir induksi? Apakah bila ada 100 angka maka jumlahnya adalah 100 x 100? Yaitu 10 000. Ternyata benar. (Saya menyebut angka meski yang dimaksud bilangan).

Apakah juga berlaku bila ada 1000 angka maka jumlahnya 1 000 x 1 000 = 1 000 000. Ternyata benar juga.

Matematika punya cara untuk membuktikan validnya berpikir induktif ini dengan keyakinan 100% benar.

Asumsikan bahwa itu berlaku untuk banyak angka n maka jumlah seluruhnya,

S = n x n

Maka kita perlu menunjukkan bila ditambah 1 angka lagi tetap benar. Maksudnya bila 2 angka benar bahwa 2 x 2 = 4 maka harus benar juga,

2 x 2 + (5) = 4 + (5) = 9 = 3 x 3 (Benar)

Bilangan ganjil berikutnya dibentuk dengan rumus (2n + 1).

Maka

n x n + (2n + 1) harus sama dengan (n + 1) x (n + 1)

Dan memang benar,

(n + 1) x (n + 1) = n x n + 2n + 1 (Terbukti).

Kesimpulan bahwa jumlahnya adalah kuadrat selalu benar 100% secara matematika. Tidak ada keraguan dalam induksi matematika ini. Beda dengan induksi alam semesta yang masih menyisakan sedikit banyak keraguan. Dengan falsifikasi Karl Popper kita bisa menyisihkan keraguan, yang tersisa itu, guna membentuk pengetahuan yang lebih kokoh.

Barangkali ada yang penasaran bagaimana induksi matematika di atas terbukti dengan kuat tanpa keraguan?

Pertama, kita menduga bahwa kuadrat itu berlaku untuk n angka. Dan ini bisa kita coba untuk n yang kecil misal n = 2 ternyata benar. Kedua, kita membuktikan bahwa kuadrat itu berlaku untuk (n + 1) maka berlaku semua n berapa pun.

Misal mengapa berlaku untuk n = 100? Karena berlaku untuk 2 angka maka berlaku juga untuk 3 angka. Dan seterusnya maka berlaku untuk 99 angka, sampai berlaku juga untuk 100 angka. Jadi berapa pun nilai n yang kita pilih maka kesimpulan kita akan dijamin benar berdasar induksi matematika.

2.2 Mengapa Induksi Pasti Benar

Mengapai induksi matematika pasti benar? Sedangkan mengapa induksi sains alam dan sosial masih ada kemungkinan salah, meski umumnya benar?

Matematika selalu benar karena didasarkan pada pengetahuan a priori. Sedangkan sains, ada kemungkinan salah karena, mempertimbangkan pengetahuan a posteriori. Lebih lengkap tentang a priori dan a posteriori kita bahas lengkap di bab khusus tulisan ini. Kita akan membahas bagian terpentingnya di saat ini.

Untuk induksi matematika kita punya kemewahan mendefinisikan kasus demi kasus sesuai keingingan kita, a priori. Misal deret bilangan ganjil,

1 + 3 + 5 … … …

Kita bisa memastikan hanya terdiri dari bilangan ganjil yang urut. Bila ada angka 6 akan dimasukkan ke deret maka kita boleh menolaknya. Bahkan bila semua bilangan ganjil tapi susunan acak-acakan maka kita boleh menyusun ulang sesuai aturan yang kita pakai.

Dengan kemewahan ini, kita kemudian berpikir induktif sesuai logika matematika. Maka hasil induksi matematika ini terjamin benar 100%.

Sains bernasib beda. Sains tidak punya kemewahan untuk mendefinisikan fenomena alam. Meski sains sudah berusaha membatasi kajian dengan definisi yang ketat, masih ada peluang, ada hal-hal yang di luar dugaan.

Lagi pula, induksi matematika hanya merupakan satu cara menemukan bukti kebenaran. Ada cara lain, yang lebih pasti, yaitu berpikir deduktif dalam matematika. Tampaknya, sains juga tidak memiliki kemewahan menerapkan berpikir deduktif sekuat matematika.

3. Berpikir Deduktif Lebih Pasti

Berpikir induktif matematika bernilai pasti benar. Sedangkan, berpikir deduktif juga selalu benar, baik untuk bidang matematika atau bidang lainnya. Deduktif tetap selalu benar karena berdasar analisis logis terhadap sistem aksiomatik semisal matematika.

“Setiap presiden Amerika adalah orang pilihan.”
“Biden adalah presiden Amerika.”
Kesimpulan:
“Biden adalah orang pilihan”

Cara berpikir di atas adalah deduktif. Dijamin pasti bernilai benar, kesimpulannya. Dalam matematika, kita akan menemukan banyak cara berpikir deduktif ini.

“Setiap segitiga memiliki 3 sudut.”
“ABC adalah segitiga.”
Kesimpulan: “ABC memiliki 3 sudut.”

Yang menarik adalah, induksi matematika seperti contoh kita di atas, contoh deret bilangan, dapat kita buktikan secara deduksi sehingga bernilai benar 100%. Mari kita perhatikan kembali deret bilangan ganjil positif.

1 + 3 + 5 + … … … + (2n -1)

Jumlah deret aritmetika di atas bisa kita hitung dengan menjumlah suku pertama dengan suku terakhir lalu dikalikan banyaknya pasangan yaitu n/2. Kita peroleh,

S = (1 + (2n – 1)) x (n/2)
= 2n x (n/2)
= n x n

Jadi terbukti, secara deduktif, bahwa jumlahnya adalah n x n. Sama persis dengan pembuktian induksi. Maka dengan cara ini, kita makin yakin, bahwa induksi matematika bernilai benar 100% karena sepadan dengan deduksi.

Untuk sains – eksak dan sosial – tidak seberuntung matematika. Sains hanya bisa deduksi dengan batasan yang lebih ketat. Misalnya kita bisa bertanya, “Apakah matahari bersinar pada tahun 2010?”

“Matahari bersinar dari tahun 2000 sampai 2020”
“Tahun 2010 terletak di antara 2000 sampai 2020”
Kesimpulan: “Matahari bersinar pada tahun 2010.”

Kesimpulan deduksi kita di atas sah dan bernilai benar 100%, meski pun ini sains bukan matematika. Mudah kita lihat bahwa deduksi ini hanya berlaku untuk periode masa lalu, terbatas. Bila kita dihadapkan pada pertanyaan apakah matahari bersinar pada tahun 2050 maka sains akan menggunakan cara induksi lagi.

Sedikit kembali kepada induksi matematika yang terjamin benar 100% di atas, sejatinya, ketika kita memisalkan bilangan bulat positif n maka bilangan n ini bersifat universal. Berlaku untuk seluruh bilangan bulat. Tidak sekedar partikular. Maka masuk akal bila kesimpulan induksi matematika juga bersifat universal, selalu benar.

Ditambah lagi, dalam matematika, kita memiliki kemewahan untuk mendefinisikan deret sesuai kriteria kita secara a priori. Lengkap sudah, kebenaran matematika bersifat pasti.

4. Anomali adalah Pengetahuan

Dalam mengembangkan pengetahuan, anomali bisa menjadi petunjuk arah baru pengetahuan. Anak-anak tidak suka belajar matematika, misalnya. Seharusnya, mendapat ilmu, anak pasti suka. Anomali ini menjadi petunjuk bagi saya untuk mengembangkan metode belajar matematika APIQ yang disukai oleh banyak anak-anak.

Einstein berhasil mengembangkan teori fisika modern karena ada anomali dari fisika klasik Newton. Teori mekanika quantum juga berkembang dari anomali mekanika klasik.

Karl Popper menyatakan bahwa teori sains tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Hanya bisa dibuktikan kesalahannya atau falsifikasi. Dengan cara ini, kita bisa memilih teori sains yang lebih bagus atau memodifikasi teori sains yang ada menjadi lebih tepat.

Mari kita ambil contoh sains fisika Newton. Misal kita naik kereta api dengan kecepatan tetap 40 km/jam. Lalu di dalam kereta api saya berjalan ke depan dengan kecepatan 1 km/jam. Maka kecepatan total saya,

k = 40 + 1 = 41 km/jam.

Rumusan mekanika klasik ini terbukti benar untuk semua eksperimen yang pernah dikaji. Bila ada anomali, bahkan, dicari-cari ada salahnya di mana. Lalu dikoreksi – hasil eksperimennya. Sehingga, teori mekanika klasik tetap benar.

Einstein melihat suatu anomali. Misal kita naik kereta dengan kecepatan 0,7 c. Lalu di atas kereta saya lari ke depan dengan kecepatan 0,5 c. Maka kecepatan total saya adalah,

k = 0,7 + 0,5 = 1,2 c

Anomali…!!! Tidak mungkin bisa lebih besar dari c, kecepatan cahaya. Dari anomali ini, Einstein berhasil menyusun teori relativitas khusus, yang sangat berguna untuk pengembangan teknologi nuklir.

5. Cantik Turunan

Nah, kita kembali membahas cantiknya Rara akankah diwariskan kepada anak-anak perempuan Rara? Artinya, apakah bisa dipastikan, bahwa anak-anak perempuan Rara akan cantik semua?

5.1 Dugaan

Pertama, jika kita hanya memperhatikan fenomena cantiknya Rara, ibunya, dan nenek moyangnya maka kita hanya bisa menduga bahwa anak perempuan Rara akan cantik. Dugaan ini tidak bernilai ilmu pengetahuan, hanya sebatas dugaan.

5.2 Kausalitas

Kedua, jika kita mengkaji lebih dalam hukum sebab-akibat bagaimana seorang ibu menurunkan sifat cantik kepada putrinya maka ini bernilai ilmu pengetahuan. Misalnya benar, setelah kajian mendalam, bahwa cantiknya Rara akan diturunkan kepada putri-putrinya maka tetap ada batasan kebenarannya. Artinya, putri Rara akan cantik selama hukum-hukum sains terpenuhi. Dan dalam banyak kejadian hukum-hukum sains berlaku sehingga putri-putri Rara memang cantik. Namun ada kalanya anomali. Tidak masalah dengan anomali karena menunjukkan arah teori baru atau memperbaiki teori yang sudah ada.

5.3 Mutlak Benar

Ketiga, kita berharap bisa menemukan pengetahuan yang bernilai mutlak benar. Dalam pembahasan di atas, kita sudah menemukan kebenaran mutlak pada pernyataan matematis. Sedangkan pengetahuan yang melibatkan materi di alam semesta ada juga yang mendekati mutlak benar. Misalnya, “Setiap orang mati pada waktunya.” Kita akan menyelidiki pengetahuan yang berlaku mutlak seperti ini pada bab selanjutnya.

6. Ringkasan

Cara berpikir induktif merupakan cara berpikir yang alamiah. Bila kita mengembangkan metode yang tepat maka berpikir induktif ini memudahkan pengembangan ilmu pengetahuan. Eksperimen-eksperimen ilmiah banyak memanfaatkan berpikir induktif. Dengan mengamati fenomena-fenomena terbatas, sains berhasil membuat kesimpulan yang berlaku luas.

Dalam sains, metode induksi bersaing dengan metode falsifikasi. Kita bisa mendiskusikan falsifikasi, di beberapa tempat, sebagai lanjutan tulisan ini.

7. Diskusi

Ide falsifikasi makin penting karena melengkapi ide induksi. Di satu sisi, induksi lebih mudah karena terasa alamiah bahwa kita berpikir secara generalisasi induksi. Di sisi lain, falsifikasi mengingatkan kita adanya beragam batasan dari klaim induksi. Di bagian ini, kita akan mendiskusikan beberapa pengembangan falsifikasi.

7.1 Falsifikasi Langsung

Falsifikasi langsung menyatakan bahwa suatu hipotesis bisa ditolak secara langsung dengan adanya eksperimen, atau pengamatan, yang membuktikan kebalikannya.

H: Setiap mobil beroda 4.
K: Ada mobil truk beroda 6.

Kesimpulan: hipotesis (H): Setiap mobil beroda 4 adalah ditolak. Karena (K) berhasil menunjukkan hasil pengamatan yang berkebalikan dengan (H). Bisa saja, pendukung (H) menyatakan bahwa (K) hanyalah kejadian khusus sehingga (H) tetap bisa diterima.

Bagaimana pun, kita menyadari bahwa klaim (H) terlalu kuat. Kita perlu terbuka dengan beragam alternatif yang mungkin saja menunjukkan hasil pengamatan berbeda dari (H).

7.2 Falsifikasi Paradigma

Setiap klaim memiliki paradigma tertentu. Atau, lebih luasnya, setiap klaim memiliki histori tertentu. Sehingga, kita perlu mengamati klaim sesuai konteks masing-masing.

Bisa saja klaim (H), setiap mobil beroda 4, adalah dilakukan penduduk wilayah tertentu. Di wilayah itu, sulit akses jalan. Sehingga, mobil yang masuk ke sana harus melintasi jembatan sempit. Akibatnya, hanya mobil-mobil kecil yang beroda 4 saja yang bisa ke wilayah itu. Dengan demikian, klaim (H) tetap valid.

Problem filosofis bisa lebih serius. Bagaimana kita yakin bahwa (K), ada mobil truk beroda 6, bernilai mutlak benar? Bukankah (K) perlu difalsifikasi juga? Bagaimana jika (K) ternyata salah?

Skenario ini bisa menjadikan setiap klaim tidak stabil. (H) gugur karena tidak lolos falsifikasi oleh (K). Tetapi, (K) bisa gugur juga karena, misal, tidak lolos falsifikasi oleh (L) dan seterusnya. Solusinya, kita perlu berhenti pada titik tertentu, klaim tertentu, yang bisa disepakati oleh para ahli.

Alternatif solusi adalah kita memandang setiap klaim dengan paradigma probabilistik. Sehingga, setiap pernyataan memiliki nilai kebenaran dengan probabilitas tertentu. Klaim (H), misal, bernilai benar dengan probabilitas 90%. Sehingga, ketika (K) menemukan mobil tidak beroda 4, kita boleh bertanya, “Berapa banyak?”

Jika mobil yang tidak beroda 4 itu hanya 5% maka kita masih percaya klaim (H). Tetapi, jika mobil yang tidak beroda 4 itu lebih dari 15% maka klaim (H) dianggap gugur. Lebih detil metode perhitungan ini, kita bisa merujuk ke statistik.

7.3 Falsifikasi Program

Dengan sengaja, kita bisa menyusun program untuk merespon falsifikasi. Ketika (H) sudah terbukti benar di berbagai situasi, kita perlu menguji (H) pada situasi yang sulit. Misal, pada situasi yang mungkin saja (H) terbukti salah.

P: Setiap mobil di kota A beroda 4.
Q: Ada mobil di kota A tidak beroda 4.

Ketika (Q) terbukti benar maka kita menolak (P). Meski demikian, (H) masih bisa kita terima sebagai teori utama. Program riset semacam ini banyak terjadi di dunia sains.

Teori heliosentris, matahari sebagai pusat, berbeda dengan teori bumi sebagai pusat. Diharapkan akan terjadi perbedaan pengamatan bintang-jauh berdasar heliosentris dibanding teori bumi-pusat.

R: Terjadi perbedaan pengamatan bintang-jauh.
S: Tidak terjadi perbedaan pengamatan bintang-jauh.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa (S) yang benar pada waktu itu. Sehingga, (R) ditolak. Apakah teori heliosentris juga ditolak? Apakah perlu kembali meyakini bumi sebagai pusat dengan matahari yang mengelilingi? Tidak juga. Komunitas sains, saat itu, tetap menerima teori heliosentris. Karena, pengamatan fenomena-fenomena lain lebih banyak mendukung teori heliosentris.

Beberapa puluh tahun kemudian, teknologi teleskop makin berkembang. Pengamatan terbaru menunjukkan bahwa (R) yang benar. Sehingga, teori heliosentris makin dikuatkan lagi.

Sampai di sini, kita bisa menyimpulkan bahwa metode generalisasi induksi valid. Dan, falsifikasi menunjukkan bahwa klaim validitas induksi adalah terbatas, atau tidak mutlak. Dengan sudut pandang seperti itu, kita bisa berpikir lebih terbuka.

7.4 Penolakan Induksi

David Hume (1711 – 1776) menolak validitas induksi. Karena, induksi tidak bisa dibuktikan secara rasional. Induksi hanya bisa dibuktikan secara induksi. Argumen melingkar seperti ini tidak valid seara logika. Bagaimana pun, Hume tetap menerima praktek berpikir induksi.

Induksi-1 = Matahari terbit tiap hari.
Induksi-2 = Cahaya matahari memanaskan batu ketika disinari.
Induksi-3 = … … …

Induksi-1 valid, induksi-2 valid, sampai induksi-n selalu valid. Kesimpulan: seluruh induksi adalah valid. Induksi diterima sebagai valid berdasarkan contoh-contoh induksi. Tetapi, terjadi argumen melingkar di sini. Jadi, berpikir induksi perlu ditolak.

D = Berpikir induksi ditolak.

Bagaimana kita bisa membuktikan bahwa “D = Berpikir induksi ditolak”? Kita tidak akan bisa membuktikan D secara memadai. Mari kita ubah D menjadi E.

E = Seluruh berpikir induksi ditolak.

Kita bisa menolak satu atau dua jenis induksi. Bahkan, kita bisa menolak induksi-n. Tetapi, bagaimana kita bisa menolak seluruh induksi? Bagaimana kita bisa menolak induksi yang akan terjadi 10 tahun ke depan, 100 tahu ke depan, 1000 tahun ke depan? Kita bisa menolak induksi dengan cara induksi. Tentu, berpikir melingkar seperti ini juga batal.

Secara ringkas, kita tidak bisa membuktikan validitas induksi dan, di saat yang sama, kita tidak bisa membuktikan penolakan terhadap induksi. Kita perlu menempatkan induksi pada posisi yang tepat.

Posisi yang tepat menurut Hume adalah posisi skeptis yaitu menerima bahwa: (1) kita gagal membuktikan validitas induksi secara rasional; dan (2) kita gagal menolak induksi. Induksi bisa kita terima sebagai way-of-life atau berdasar praktek common-life.

Problem induksi ini berkaitan dengan problem kausalitas.

7.5 Penolakan Kausalitas

Induksi menjadi valid ketika kajian sampai ke kausalitas, prinsip sebab-akibat. Nenek cantik, ibu cantik, dan Rara cantik. Suatu saat nanti, Rara melahirkan anak perempuan maka anak perempuan tersebut pasti akan cantik. Karena, cantik disebabkan oleh gen-cantik yang diwariskan oleh ibu kepada anak-anak perempuan. Kesimpulan induksi ini valid karena didasarkan pada prinsip kausalitas.

Tetapi, bagaimana kita bisa membuktikan bahwa kausalitas adalah valid?

Asumsikan kita memiliki argumen A, di mana, berkat A kita menyimpulkan kausalitas valid. Jadi A adalah sebab dan kausalitas adalah akibat. Lagi, terjadi proses berpikir melingkar sehingga perlu ditolak. Jadi, kausalitas ditolak.

K = Prinsip kausalitas ditolak.

Muncul pertanyaan lagi, bagaimana kita bisa membuktikan “K = Prinsip kausalitas ditolak” adalah valid?

Asumsikan kita bisa membuktikan K berdasar argumen B. Jadi, B adalah sebab dan K adalah akibat. Kita menolak prinsip kausalitas dengan menerapkan kausalitas. Terjadi proses berpikir melingkar lagi. Jadi, kita gagal membuktikan K.

Secara ringkas, kita tidak berhasil membuktikan kausalitas dan, di saat yang sama, kita tidak berhasil menolak kausalitas. Justru, pembuktian mau pun penolakan, sama-sama membutuhkan kausalitas. Jadi, kita perlu menempatkan prinsip kausalitas pada tempat yang tepat. Kita perlu memaknai kausalitas dengan bijak. Menariknya, Hume menerima kausalitas dan menempatkan sebagai probabilitas.

7.5.1 Makna Kausalitas

Apa itu kausalitas? Apa itu hukum sebab-akibat? Apa itu sebab dan akibat?

“Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kausalitas adalah perihal sebab akibat. Oleh karena itu, pengertian konjungsi kausalitas adalah kata hubung yang digunakan untuk menghubungkan sebab akibat dalam sebuah teks.”

7.5.2 Hubungan Konjungsi

Sebab adalah sesuatu yang berdampak pada akibat. Atau, akibat adalah segala sesuatu yang merupakan dampak dari suatu sebab. Hubungan konjungsi antara sebab dan akibat inilah disebut sebagai kausalitas.

Contoh sederhana: biji kacang adalah sebab dan cambah (toge) adalah akibat.

Sebelumnya, biji kacang adalah akibat dari pohon kacang yang berbuah. Pohon ini pun akibat dari sebab-sebab yang lebih awal. Jadi, kita melihat rangkaian rantai sebab-akibat yang amat panjang. Adakah sebab pertama yaitu sebab yang tidak menjadi akibat sama sekali? Adakah akibat terakhir yaitu akibat yang tidak berdampak sama sekali?

7.5.3 Kategori Apriori

Kant (1724 – 1804) menyelesaikan makna kausalitas sebagai kategori apriori yaitu abstrak universal. Kausalitas adalah abstrak yaitu selalu valid tidak tergantung fakta empiris apa pun. Kausalitas adalah universal yaitu selalu berlaku kapan dan di mana pun.

Kausalitas adalah struktur pikiran manusia sebagai dasar pengalaman (eksperiens). Setiap kita mengalami “lapar” (sebagai contoh) maka ada sebabnya yaitu perut kita kosong dan ada akibatnya yaitu kita mencari-cari makanan. Hanya dengan struktur kausalitas ini kita bisa mengalami “lapar” atau pengalaman apa pun. Tanpa struktur kausalitas maka pengalaman tidak bisa dimengerti atau, bahkan, tidak bisa dialami.

7.5.4 Ide Imajinasi

Hume (1711 – 1776) mendahului Kant dalam mendefinisikan kausalitas dengan fokus kepada sebab (cause).

“There may two definitions be given of this relation, which are only different, by their presenting a different view of the same object, and making us consider it either as a philosophical or as a natural relation; either as a (1) comparison of two ideas, or as an (2) association betwixt them.

We may define a CAUSE to be ‘An object precedent and contiguous to another, and where all the objects resembling the former are plac’d in like relations of precedency and contiguity to those objects, that resemble the latter.’ If this definition be esteem’d defective, because drawn from objects foreign to the cause, we may substitute this other definition in its place, viz.

‘A CAUSE is an object precedent and contiguous to another, and so united with it, that the idea of the one determines the mind to form the idea of the other, and the impression of the one to form a more lively idea of the other.’ Shou’d this definition also be rejected for the same reason, I know no other remedy, than that the persons, who express this delicacy, should substitute a juster definition in its place. But for my part I must own my incapacity for such an undertaking. (1.3.14.31)

Hubungan ini dapat diberikan dua definisi, yang sesungguhnya tidak berbeda secara hakiki, melainkan hanya menyajikan sudut pandang yang berbeda atas objek yang sama—yakni dengan memandangnya sebagai hubungan filosofis atau hubungan alamiah; baik sebagai (1) perbandingan antara dua gagasan, maupun sebagai (2) asosiasi antara keduanya.

Kita dapat mendefinisikan sebab (cause) sebagai: “Sebuah objek yang mendahului dan berdekatan dengan objek lainnya, di mana semua objek yang menyerupai yang pertama ditempatkan dalam hubungan mendahului dan kedekatan yang serupa dengan (maka akan menghasilkan) objek-objek yang menyerupai yang kedua.” Apabila definisi ini dianggap kurang memadai karena diturunkan dari objek-objek yang dianggap tidak esensial terhadap konsep sebab, maka kita dapat menggantinya dengan definisi alternatif, yakni:

“Sebuah sebab adalah objek yang mendahului dan berdekatan dengan objek lainnya, serta sedemikian rupa berhubungan dengannya sehingga gagasan mengenai yang satu (yaitu sebab) mendorong pikiran untuk membentuk gagasan tentang yang lain (yaitu akibat), dan kesan mengenai yang satu membentuk gagasan tentang yang lain secara lebih hidup.”

Jika definisi ini pun ditolak dengan alasan yang serupa, maka saya tidak memiliki jalan lain selain menyarankan agar mereka yang memiliki keberatan tersebut menyusun definisi yang lebih tepat. Adapun saya sendiri, saya harus mengakui ketidakmampuan saya untuk melaksanakan tugas semacam itu.”

David Hume, A Treatise of Human Nature (1.3.14.31)

Kita bisa fokus kepada definisi kedua: sebab adalah ide yang bila kita memikirkannya maka mudah muncul ide lainnya (sebagai akibat). Ketika kita berpikir api maka muncul ide panas; api adalah sebab dan panas adalah akibat. Hume fokus bahwa kausalitas adalah ide tetapi kita menerapkannya dengan sempurna, kausalitas itu, terhadap fenomena realitas eksternal; misal api menyebabkan panas.

7.5.5 Imkan Ashraf: Posibilitas Paling Luhur

Suhrawardi (1154 – 1191) mengembangkan konsep Imkan Ashraf untuk menjelaskan kausalitas. Segala realitas adalah imkan atau posibilitas atau probabilitas. Realitas “lapar” adalah posibilitas; mungkin saja Anda “lapar” tetapi mungkin juga Anda tidak “lapar”.

Imkan Ashraf (IA): setiap realitas, mereka, niscaya membutuhkan posibilitas yang lebih kuat; pada gilirannya, posibilitas lebih kuat itu membutuhkan posibilitas yang lebih kuat lagi; pada akhirnya sampai kepadai posibilitas paling kuat (yaitu imkan ishraf) di mana tidak ada lagi yang lebih kuat.

Dalam istilah kausalitas, IA menyatakan bahwa setiap realitas (sebagai akibat) niscaya membutuhkan sebab yaitu posibilitas yang lebih kuat.

Anda sebagai manusia (sebagai akibat) adalah nyata maka niscaya Anda membutuhkan ibu (sebagai sebab) dengan posibilitas yang lebih besar; pada gilirannya, ibu membutuhkan nenek dan seterusnya. Tetapi tidak memaksa sebaliknya; nenek tidak harus melahirkan ibu; dan ibu tidak harus melahirkan Anda. Misal, nenek meninggal ketika masih usia 5 tahun maka ibu tidak jadi lahir; dan Anda juga tidak jadi lahir. Jadi, nenek “bebas” untuk melahirkan ibu atau tidak. Sementara, ibu wajib harus memiliki orang tua yaitu nenek.

Berdasar IA (imkan ashraf), “sebab” adalah posibilitas yang lebih kuat; dan “akibat” adalah posibilitas kurang kuat. Menariknya, IA mengijinkan kausalitas futuristik; posibilitas yang lebih kuat itu bisa saja eksis di masa lalu, masa kini, mau pun masa depan. Lalu, siapa atau apa posibilitas paling kuat? Posibilitas paling kuat adalah Cahaya Maha Cahaya, Maha Awal, Maha Nyata, dan Maha Akhir.

IA mengijinkan posibilitas kompleks (realitas kompleks) sebagai sebab; sebab yang beragam, sebab yang majemuk, bisa menghasilkan akibat tunggal yang sederhana. Contohnya Anda, diri kita sendiri, adalah tunggal sebagai akibat. Sementara sebabnya adalah beragam: 2 orang tua (ayah dan ibu); 4 orang tua dari ayah-ibu (2 kakek dan 2 nenek) dan seterusnya. Lebih beragam lagi sebabnya, diri kita adalah akibat dari lingkungan sekitar dan sejarah panjang alam semesta.

7.5.6 Argumen Melingkar

Kita perlu sedikit banyak membahas argumen melingkar atau circular reasoning. Secara umum, dalam logika formal, argumen melingkar adalah falasi sehingga perlu ditolak. Tetapi, dalam situasi tertentu kita membutuhkan argumen melingkar. Kita perlu menerima argumen melingkar dengan pertimbangan yang bijak. Sementara, dalam banyak kasus, kita perlu menolak argumen melingkar.

Dalam sistem aritmetika bilangan natural, atau bilangan cacah, bilangan 0 adalah bilangan paling kecil. Mengapa 0 adalah bilangan paling kecil? Karena kita membutuhkan bilangan paling kecil untuk mulai menghitung. Bila kita teliti lebih mendalam akan menemukan argumen melingkar. Bagaimana pun kita perlu memerima 0 sebagai bilangan paling kecil untuk sistem bilangan cacah. Konsekuensinya, kita bisa mengembangkan kajian matematika bilangan cacah.

Mengapa sistem bilangan jam dinding hanya terdiri angka 1 sampai 12? Karena, dari pengalaman, terbukti sudah diterima oleh masyarakat luas. Bila kita kaji lagi pertanyaan ini maka kita akan bertemu dengan argumen melingkar. Bagaimana pun, kita perlu menerima argumen melingkar bahwa bilangan jam dinding hanya sampai 12 saja. Konsekuensinya, kita bisa memanfaatkan aturan jam dinding untuk kehidupan sehari-hari.

Demikian juga, kita bisa menerima prinsip berpikir induksi yang melibatkan argumen melingkar – dalam proses penerimaan itu. Konsekuensinya, kita bisa mengembangkan pengetahuan lebih luas. Bagaimana pun, kita perlu bersikap terbuka terhadap posibilitas perkembangan pengetahuan yang berbeda dari dugaan awal.

7.6 Generalis: Induksi Muda

Kita bisa membedakan dua macam induksi: [1] induksi-muda dan [2] induksi-dewasa.

Generalisasi adalah induksi-muda dan sebaiknya dihindari.

Pengamatan 1 sampai 100 menunjukkan bahwa gagak berwarna hitam. Kesimpulan induksi-muda: K = semua gagak berwarna hitam.

Kesimpulan K adalah tidak layak. Bahkan, jika pengamatan dilakukan ribuan kali sampai jutaan kali dan menunjukkan semua gagak berwarna hitam, maka, kesimpulan K tetap tidak pantas. Kita tidak pernah berhasil verifikasi “semua” gagak. Pasti ada gagak yang belum teramati; misal gagak yang hidup 300 tahun yang lalu atau 500 tahun yang akan datang.

Dari 1000 pengamatan, rakyat wajib membayar SIM ketika mengurus SIM. Kesimpulan: S = selalu wajib membayar SIM ketika mengurus SIM. Lagi, kesimpulan S perlu dihindari.

7.7 Futuris: Induksi Dewasa

Futuris adalah induksi-dewasa yang berupa pernyataan futuristik, partikular, dan teramati.

Pengamatan 1 sampai 100 menunjukkan bahwa gagak berwarna hitam. Kesimpulan induksi-dewasa: D = pada pengamatan 101, gagak berwarna hitam.

Kesimpulan D adalah valid dan bagus. Peluang besar bahwa D akan bernilai benar; dan peluang kecil D bernilai salah. Pengamatan akan menjadi hakimnya.

Dari 1000 pengamatan, rakyat wajib membayar SIM ketika mengurus SIM. Kesimpulan: E = pengamatan 1001, seseorang wajib membayar SIM ketika mengurus SIM. Kesimpulan E adalah valid dan bagus; berpeluang benar atau salah sesuai pengamatan.

Quick count adalah contoh induksi-dewasa. Dari 100 orang sample; 65% memilih capres C dan 35% memilih capres D. Kesimpulan: Q = dari populasi 100 ribu orang; 65% memilih capres C dan 35% memilih capres D. Kesimpulan Q adalah valid dan sah. Kemudian, bisa verifikasi sebagai bernilai benar atau salah.

Tampak jelas, kita perlu menghindari induksi-muda dan beralih menggunakan induksi-dewasa. Berpadu dengan falsifikasi, induksi-dewasa bisa terus melangkah maju.

Catatan tambahan. Hume menolak induksi yang bersifat niscaya; Hume menerima induksi yang bersifat probabilitas. Hume menolak kausalitas-induksi yang bersifat niscaya; Hume menerima kausalitas-induksi yang bersifat probabilitas. Dengan demikian ontologi probabilitas, dan statistik, adalah valid. Singkatnya, Hume menerima realitas probabilitas dengan argumen probabilitas. Jadi, apakah seharusnya kita yakin kepada Hume? Hanya probabilitas.

7.8 Antisipasi

Kita perlu membedakan antara antisipasi dengan inferensi. Kita bisa antisipasi dengan induksi mau pun falsifikasi; sama-sama valid. Tetapi inferensi, menetapkan kesimpulan terhadap teori atau hipotesis berdasar hasil pengamatan, hanya sah melalui modus tolen; tidak sah melalui modus ponen; lebih tepat melalui falsifikasi.

John Stuart Mill pernah bertanya, “Mengapa dengan satu contoh pengamatan kita bisa mengambil kesimpulan meyakinkan? Sementara, di kesempatan lain, ratusan pengamatan tetap tidak meyakinkan untuk mengambil kesimpulan? Orang yang bisa menjawab pertanyaan ini pasti lebih bijak dari tokoh terbijak di era Yunani Kuno.”

Tentu saja, kita bisa menjawab pertanyaan Mill, di atas, menggunakan probabilitas. Dan, kita menjadi lebih bijak dari pemikir Yunani Kuno.

Jika maksud induksi oleh Mill adalah induksi-muda-generalisasi maka tidak ada kesimpulan meyakinkan. Tetapi, jika induksi-dewasa-futuris maka kita akan berhasil mengambil kesimpulan meyakinkan; meski hanya dengan satu pengamatan. Makna kesimpulan di sini adalah antisipasi.

Misal Anda bersama rombongan sekitar 5 orang tertidur lelap. Kemudian, rombongan Anda dipindahkan ke tengah tanah lapang bentuk lingkaran masih dalam suasana gelap menjelang subuh. Anda terjaga bahwa di keliling lapangan terdapat 12 pohon, dengan jarak teratur, tertuliskan angka 1 sampai dengan 12, satu angka (bilangan) pada setiap pohon. Pertanyaannya, “Pada arah pohon angka berapa matahari akan terbit pagi nanti?”

Hanya terbatas dengan informasi di atas, Anda hanya bisa menduga-duga. Pagi tiba, matahari terbit dari balik pohon 6. Hari itu adalah tanggal 1 Mei.

Pertanyaan lanjutan,”Pada arah pohon berapa matahari terbit esok hari?”

Dengan meyakinkan kita menjawab,”Esok hari, matahari akan terbit pada arah pohon 6.”

Esok hari, 2 Mei, dilakukan pengamatan dan memang benar matahari terbit dari arah pohon 6. Kita sudah berhasil antisipasi dengan baik menggunakan induksi meski hanya dengan satu contoh pengamatan.

Bandingkan dengan kasus yang berbeda. Anda diberitahu bahwa nanti siang Rara akan datang. Rara akan menyentuh hanya satu pohon dari pohon-pohon yang ada. “Pohon angka berapa yang akan disentuh oleh Rara?” Siang itu, Rara datang dan menyentuh pohon 6. Besok, Rara akan datang untuk menyentuh satu pohon lagi.

“Pohon angka berapa yang akan disentuh Rara esok hari?”

Jawaban kita tidak akan meyakinkan. Besok, Rara bisa menyentuh pohon 6 atau pohon lainnya. Andai, Rara mengulang menyentuh pohon sampai 100 hari, kemudian, “Pohon angka berapa yang akan disentuh oleh Rara pada hari ke 101?”

Sama saja: kita tidak bisa menjawab dengan meyakinkan. Mengapa? Karena kita berada pada konteks histori tertentu, paradigma dan tradisi tertentu, yang meyakini bahwa Rara bisa mengubah pilihannya untuk menyentuh pohon. Konsekuensinya, kita tidak bisa antisipasi pilihan Rara meski dengan ratusan pengamatan induksi.

Untuk kasus matahari terbit, kita berada dalam konteks bahwa matahari akan terbit esok pagi pada arah yang konsisten dengan hari ini. Konsekuensinya, kita berhasil antisipasi bahwa esok hari matahari akan terbit pada arah pohon 6; meski pun kita hanya berdasar satu pengamatan saja.

7.9 Inferensi

Berhasil antisipasi tetapi gagal inferensi.

H = Matahari terbit pada arah pohon 6 di tanggal 2 Mei.
P = Teramati empiris matahari terbit pada arah pohon 6.
Jika H maka P. [Jika Hipotesis benar maka Pengamatan juga benar.]

Ketika P benar, teramati empiris, maka H tidak terjamin benar. Karena inferensi ini tidak valid; bila berdasar modus ponen. H bisa bernilai salah, atau bisa bernilai benar, dan berkonsekuensi sama yaitu P benar. Jadi, kita gagal inferensi melalui induksi dalam kasus ini.

Kita bisa mengembangkan falsifikasi yang bersesuaian dengan modus tolen.

G = Matahari terbit TIDAK pada arah pohon 6 di tanggal 2 Mei.
Q = Teramati empiris matahari terbit TIDAK pada arah pohon 6.
Jika G maka Q.

Ketika Q bernilai benar maka kita tidak bisa mengambil kesimpulan valid apa pun. Tetapi, pengamatan menunjukkan Q salah. Kita menyimpulkan G juga salah; inferensi ini valid berdasar modus tolen. Kita berhasil falsifikasi G.

Karena G salah maka H benar = matahari terbit pada arah pohon 6 di tanggal 2 Mei.

Tetapi, bukankah sama saja antara verifikasi induksi dengan falsifikasi di atas? Sama-sama menghasilkan H bernilai benar? Poin penting bagi kita adalah setiap kajian perlu terbuka terhadap afirmasi mau pun negasi; perlu siap menerima P atau Q. Pemahaman falsifikasi membantu kita untuk berpikir lebih terbuka.

Inferensi mengembangkan cakupan lebih luas dari antisipasi. Sains membutuhkan klaim yang lebih luas ini. Mari kita ubah agar klaim hipotesis bermakna lebih luas.

H = Matahari terbit pada arah pohon 6 setiap tanggal 2 Mei dalam rentang 10 tahun ke depan.

G = Matahari PERNAH terbit TIDAK pada arah pohon 6 di tanggal 2 Mei dalam rentang 10 tahun ke depan.

Q = Teramati secara empiris bahwa matahari PERNAH terbit TIDAK pada arah pohon 6 di tanggal 2 Mei dalam rentang 10 tahun ke depan.

Ketika pengamatan Q berhasil, bernilai benar, maka H langsung batal secara logis. Falsifikasi valid.

Sebaliknya, ketika, pengamatan Q bernilai salah maka G bernilai salah; sesuai modus tolen. Konsekuensi dari G salah adalah H bernilai benar. Kita berhasil falsifikasi G dengan konsekuensi menguatkan H. Bagaimana pun, hasil akhir inferensi adalah tetap bernilai probabilitas.

Lanjut ke Pengetahuan Prinsip Umum
Kembali ke Philosophy of Love

Megawati Minta Nadiem Luruskan Sejarah

Tugas yang berat. Meluruskan sejarah merupakan suatu tugas yang tampaknya tidak mudah dilakukan oleh pendiri Gojek, Mas Menteri Nadiem Makarim. Meski berat Mas Nadiem, saya kira, akan bisa menyelesaikan dengan baik. Diberitakan, Megawati meminta agar Mas Menteri meluruskan sejarah 1965.

Maka bisa muncul pertanyaan: apakah sejarah Indonesia saat ini tidak lurus sehingga perlu diluruskan?

Saya setuju dengan Lyotard yang mengatakan bahwa kita tidak akan memperoleh pengetahuan definitif tentang sejarah dan politik. Di mana perbedaan pandangan akan selalu ada. Lyotard menyebutnya sebagai dissensus. Maka perlu respek kepada pihak lain. Sementara Habermas lebih bersikap positif dengan menyatakan bahwa sejarah adalah catatan “learning process” kolektif dari peradaban manusia.

Harapan saya, dan barangkali kita bersama, semoga proses meluruskan sejarah ini menjadi pembelajaran agar kita lebih bagus lagi. Bukan mencari siapa yang menang, siapa yang kalah. Bukan mencari pembenaran dengan mencari kesalahan yang lain. Kita mencari pembelajaran terbaik apa yang bisa kita peroleh dari sejarah 1965 dan sepanjang waktu.

Sedikit mengingatkan bahwa kejadian yang baru terjadi saja kita bisa beda pendapat misal penurunan baliho HRS oleh TNI, banyak pro dan kontra. Pemenang pilpres 2014 apakah Jokowi atau Prabowo pun beda pendapat di mana-mana. Di Amerika beda pendapat pemenangnya Biden atau Trump beberapa waktu lalu.

Sikap positif dalam memandang sejarah perlu kita tekankan di sini. Tentu saja sikap kritis bisa dikembangkan di kalangan terbatas yang sudah menyiapkan segala sesuatu.

Semoga kita mampu membaca sejarah sebagai proses belajar untuk lebih maju memperbaiki negeri ini.

Bagaimana menurut Anda?

Tupoksi TNI Vs Baliho HRS

Pangdam Jaya memerintahkan untuk menurunkan Baliho Habib Rizieq Shihab di Jakarta. Melalui video yang tersebar, Pangdam Jaya mengkonfirmasi. Bahkan bila perlu bubarkan FPI, dari viedo yang sama.

Pro-kontra langsung muncul merespon TNI yang turun tangan menurunkan baliho HRS.

Kontra TNI

Bagi yang kontra, di antaranya anggota DPR, mengingatkan agar TNI kembali kepada tupoksi. Tugas pokok dan fungsi TNI tentu saja melindungi kedaulatan NKRI. Dan menurunkan baliho HRS tidak tercantum sebagai tugas TNI sesuai undang-undang tahun 2004 yang berlaku sampai sekarang juga, 2020.

PRO TNI

Kita amati bahwa salah satu tugas TNI sesuai undang-undang adalah “membantu tugas pemerintah di daerah”. DKI adalah daerah khusus ibukota. Maka sudah tepat langkah TNI menurunkan baliho sebagai perwujudan membantu pemda. Tentu itu versi yang mendukung Pangdam Jaya.

Tupoksi TNI sesuai UU

Apa yang Benar

Menurut Derrida, tokoh posmo, bahwa selalu ada peluang mendekonstruksi. Maka yang pro TNI akan selalu menemukan cara untuk mendukung TNI. Sedangkan yang kontra TNI akan selalu menemukan cara menyalahkan TNI. Derrida mengingatkan kita untuk tetap mempertimbangkan “yang lain” atau “the others”. Maka sikap respek dari semua pihak menjadi penting di sini.

Derrida Dibujo.jpg
Derrida

Sementara, Focault, tokoh posmo juga, menyoroti hubungan dekat antara pengetahuan (informasi) dengan kekuasaan. Di mana kekuasaan cenderung menguasai informasi, mengendalikan, dan memanipulasinya. Maka kita perlu waspada kepada pihak-pihak yang berkuasa. Dalam kasus penurunan baliho HRS maka siapakah yang berkuasa mengendalikan informasi? Meski tentu saja penguasa bisa saja jujur.

Sejatinya kita bisa menganalisis dengan pendekatan analytic Russell yang sekarang dikembangkan Searle. Metode ini akan mengantarkan kita kepada hasil yang lebih benar – probabilitasnya lebih besar. Masalahnya, probabilitas besar tidak ada jaminan itu benar. Sedangkan probabilitas kecil juga tidak dijamin salah. Maka saran saya perlu dikembangkan “komunikasi rasional” gaya Habermas. Dan tetap respek terhadap dissensus seperti Lyotard. Di saat yang sama mari kita pastikan kita berjuang demi kebaikan kita bersama.

Bagaimana menurut Anda?