Filosofi Visi Iluminasi
1. Pendahuluan
2. Formula Matematika Struktur Cahaya
3. Ketunggalan Cahaya Maha Cahaya
4. Penentuan Batas Barzakh
5. Dominasi Cinta
6. Muncul Keragaman
7. Sains Huduri

1. Pendahuluan
Wacana 2.2 membahas kosmogini menjelaskan bagaimana seluruh eksistensi hadir berkat Cahaya Maha Cahaya. Cahaya Maha Cahaya adalah wujud sederhana sempurna sehingga hanya ada akibat tunggal: “Cahaya Terdekat” atau “Cahaya Pertama”. Cahaya Terdekat ini sama persis dengan Cahaya Maha Cahaya hanya beda sedikit kadar intensitasnya. Demikian halnya, materi pertama harus tunggal sebagai medan segala sesuatu secara homogen. Kita perhatikan gerak semesta, gerak putaran benda-benda langit, tentu saja digerakkan oleh wujud yang hidup. Jadi, benda-benda langit pasti digerakkan oleh cahaya immaterial.
Bagian terluar dari semesta pasti bukan akibat langsung dari Cahaya Maha Cahaya. Mereka eksis karena dark-accident (gelap-aksidental) dari Cahaya Pertama atau cahaya yang lebih rendah. Sebab, cahaya yang memiliki dua relasi dengan Cahaya Maha Cahaya, relasi langsung dan tidak langsung, bisa menghadirkan cahaya lain dan bodi, yaitu, media atau arena atau medan. Karena setiap cahaya saling relasi, saling manifestasi, maka cahaya pada hirarki paling rendah memiliki keragaman aksidental paling banyak. Pancaran sinar cahaya tidak berarti terpisahnya sesuatu dari cahaya. Tetapi, merupakan penciptaan suatu aksiden pada sesuatu yang disinari. Kompleksitas sistem cahaya itu tercermin dalam kompleksitas bintang-bintang di langit dan kompleksitas segala sesuatu di bumi ini.
Berbeda dengan Ibnu Sina, yang menetapkan hirarki akal hanya terdiri 10 intelek, masing-masing dengan tingkat ontologi yang berbeda, Suhrawardi mengijinkan posibilitas cahaya pada tingkat intensitas yang sama tetapi berbeda dalam aksiden. Cahaya dalam “tatanan horisontal” ini adalah sebab dari spesies dan keragaman alamiah dunia sublunar – form Platonis, atau arketip talisman. Terdapat cahaya pengatur bodi, secara langsung, yaitu: jiwa.
Tuhan mengetahui segalanya, partikular mau pun universal, karena segala sesuatu hadir kepada Cahaya Maha Cahaya. Sebuah contoh ilmu huduri paling tinggi, menurut Suhrawardi, adalah ilmu Tuhan. Prinsip umum yang menyatakan segala sesuatu pada bidang ontologi lebih rendah harus memiliki sebab pada bidang ontologi yang lebih tinggi di sebut “the most noble contigency” dan menjadi prinsip fundamental bagi HI. Cahaya yang lebih rendah mungkin saja memiliki sebab majemuk.
Pengetahuan tentang kompleksitas cahaya sejati yang tak terhitung ini adalah hasil pengalaman langsung dari Suhrawardi dan bisa diverifikasi langsung melalui testimoni para pemikir besar masa lalu, baik dari Yunani mau pun dari Timur. Form Platonis bukanlah universal logis tetapi cahaya sejati, immaterial mind, yang menjadi sebab bagi spesies yaitu arketip. Seiring menuruni tangga ontologis, cahaya sejati makin redup dan lebih kompleks. Salah satunya, cahaya sejati menjadi jiwa manusia yang kekuatannya terbatas.
2. Formula Matematika Struktur Cahaya
Bagaimana sesuatu yang tunggal bisa menghasilkan keragaman? Cahaya Segala Cahaya adalah tunggal. Maka dari yang tunggal akan memancarkan efek tunggal juga: Cahaya Pertama. Di mana, Cahaya Pertama (C1) identik dengan Cahaya Segala Cahaya (C0), hanya sedikit berbeda dalam kadar intensitas. Perbedaan tersebut: C0 adalah sebab dan C1 adalah akibat secara intelektual.
(C0) adalah Cahaya Segala Cahaya.
(C1) adalah Cahaya Pertama memancar langsung dari (C0) Cahaya Segala Cahaya.
Bagian selanjutnya, menunjukkan kemahiran Suhrawardi dalam matematika: bagaimana bilangan pangkat 2 menjadi rumus keragaman yang bersumber tunggal.
(C2) Cahaya Kedua mendapat 2 macam sinaran: dari (C0) Cahaya Segala Cahaya dan (C1) Cahaya Pertama.
(C3) Cahaya Ketiga mendapat 4 macam sinaran: C0, C1, [C0+C2], [C1 + C2]
(C4) Cahaya Keempat mendapat 8 macam sinaran: 2 kali lipat dari banyaknya sinaran pada Cahaya Ketiga. Dan seterusnya akan selalu 2 kali lipat. Sehingga, kita bisa memanfaatkan formula matematika 2 pangkat n untuk menghitung kompleksitas struktur cahaya.
Dengan demikian, dari tunggal akan menghasilkan tunggal, pada gilirannya, menghasilkan keragaman. Kita hidup dalam keragaman dan ketunggalan. Keragaman di atas baru mempertimbangkan struktur vertikal. Keragaman akan makin kaya bila kita mempertimbangkan struktur horisontal, dan diagomal. Misal dengan hadirnya C1B, C1C, C1D, dan lain-lain.
3. Ketunggalan Cahaya Maha Cahaya
Cahaya Maha Cahaya adalah tunggal. Cahaya Maha Cahaya = Cahaya Segala Cahaya = Nurul Anwar = Light of Light = C0.
Dari Cahaya Maha Cahaya hanya ada hasil yang tunggal juga. Tidak bisa serentak, cahaya dan gelap, keduanya muncul dari Cahaya Maha Cahaya. Dari yang tunggal hanya menghasilkan tunggal. Dari C0 hanya menghasilkan C1.
Anggap ada hasil ganda yaitu cahaya dan gelap. Tetapi, tidak ada gelap pada C0. Jadi, anggapan ada hasil ganda harus ditolak.
Anggap ada hasil tunggal berupa gelap. Tetapi, tidak ada gelap pada C0. Jadi, hasil berupa gelap tunggal harus ditolak.
Anggap ada hasil tunggal berupa cahaya. Benar, memang ada cahaya pada C0. Jadi, akibat langsung dari C0 adalah cahaya tunggal berupa C1.
C1 dan C0 adalah sama-sama tunggal dan sama-sama cahaya. Jadi, mereka adalah sama persis hanya berbeda tingkat. C1 adalah akibat. C0 adalah sebab.
Asumsikan C0 dan C1 adalah sama-sama gelap yang tunggal. Tetapi, C0 yang gelap tidak bisa menghasilkan efek apa pun. Termasuk, tidak bisa menghasilkan C1. Jadi, asumsi C0 sebagai gelap harus ditolak. Ditambah lagi, saat ini, ada Anda, pernah ada ibu Anda, dan ada alam sekitar. Pasti, C0 adalah cahaya.
(135) A light and a darkness can not both occur from Light of Lights.
(135) Satu cahaya dan satu gelap tidak bisa serentak terjadi dari Cahaya Maha Cahaya.
(136) The incorporeal light, however, has no recipient, so that all lights of other than Light of Lights have perfection and deficiency by reason of the rank of their agent.
(136) Bagaimana pun, cahaya sejati tidak memiliki penerima. Dengan demikian, semua cahaya, selain Cahaya Maha Cahaya, memiliki kesempurnaan dan kelemahan hanya berdasar derajat penyebab, atau agen, mereka.
(138) The Proximate Light is dependent in itself but independent by virtue of the First. The existence of a light from Light of Lights does not happen by separation of something from It, for you know that separation and connection are specific properties of bodies.
(138) Cahaya Terdekat bergantung pada dirinya sendiri dan mandiri berkat yang Awal. Eksistensi cahaya tidak terjadi dengan cara pemisahan dari Cahaya Maha Cahaya, seperti Anda tahu bahwa pemisahan dan penggabungan adalah sifat khusus dari bodi.
Kesempurnaan cahaya sejati adalah berdasar derajat sebab mereka, atau agen mereka. Cahaya Pertama, C1, adalah paling sempurna karena memiliki sebab tertinggi yaitu C0. Cahaya Kedua, C2, sedikit di bawah C1 dalam kesempurnaan. Karena memiliki dua sebab yaitu C1 dan C0. Sedangkan, Cahaya Maha Cahaya adalah Maha Sempurna karena tidak ada sebab. Di sini, kita menggunakan angka-angka sekedar untuk memudahkan pemahaman.
Perlu kita catat bahwa maksud cahaya adalah cahaya immaterial sehingga melampaui ruang dan waktu. Sedangkan pembahasan yang melibatkan ruang dan waktu adalah pembahasan barzakh atau barrier berikut ini.
4. Penentuan Batas Barzakh
Kita selalu bisa menentukan batas atas dan batas bawah. Kemudian, kita bisa melampaui batas-batas itu. Lebih bawah dari batas bawah dan lebih atas dari batas atas. Selanjutnya, kita bisa mengulangi lagi. Demikianlah pengalaman kita di dunia ini dan dunia pikiran. Kita bisa melakukan pembatasan seperti itu pada barzakh atau barrier.
(139) Know that in any direction you may point, there are limits.
(140) Therefore, place is the interior of proximate container, and that which is not contained has no place.
(139) Ketahuilah bahwa ke arah mana pun yang kamu tunjuk, ada batas-batas.
(140) Karena itu, tempat adalah interior dari wadah terdekatnya, dan bahwa yang tidak dimasukkan maka tidak punya tempat.
Ketika kita membahas barzakh, misal benda batu, kita menemukan keragaman batu besar, batu kecil, batu ringan, batu berat, dan lain-lain. Bagaimana keragaman bisa muncul bila Cahaya Maha Cahaya adalah tunggal?
Bahkan, dalam ontologi cahaya sejati, kita sudah bisa menemukan keragaman. Suatu cahaya sejati bisa kita pandang sebagai dominating-light dan managing-light. Ada cahaya tinggi dan ada cahaya rendah. Tetapi, dalam dirinya sendiri, setiap cahaya adalah sama yaitu sama-sama cahaya sejati. Hanya derajat intensitas beragam.
Kembali kepada barrier, atau barzakh atau bodi, mereka selalu berada dalam wadah. Akibatnya, kita selalu bisa mengukur bodi. Kita bisa berpikir untuk mengukur bodi yang lebih kecil dari yang terkecil. Atom, awalnya, dianggap yang paling kecil. Kita bisa berpikir ada bodi yang lebih kecil dari atom, yaitu inti atom dan pinggiran atom. Benar, akhirya, ditemukan inti atom yang lebih kecil dari atom, misal neutron. Dan seterusnya, kita bisa berpikir ada bodi yang lebih kecil dari neutron.
Dalam arah sebaliknya, arah lebih besar, juga sama. Kita selalu bisa berpikir ada bodi yang lebih besar dari alam raya ini. Sains mutakhir meyakini bahwa alam raya selalu bergerak mengembang atau membesar. Jadi, alam raya tahun depan adalah lebih besar dari alam raya tahun lalu.
Dengan pertimbangan di atas, alam raya selalu bisa melampaui batas-batas, maka gerak alam raya adalah bebas. Apalagi, sebab dari gerak alam raya adalah cahaya sejati yang bebas tanpa pembatas.
5. Dominasi Cinta
Cahaya tinggi memiliki karakter sebagai dominating-light. Sesuai namanya, dominating-light bersifat dominan dengan kekuatan yang besar. Setiap cahaya sejati memiliki cahaya lebih tinggi sebagai dominating-light. Sampai berakhir kepada cahaya paling dominan, yaitu, Cahaya Maha Cahaya. Demikian juga, setiap cahaya mendominasi cahaya yang lebih rendah. Sampai berakhir, titik terjauh, cahaya yang tidak mendominasi cahaya lainnya.
(147) The higher light possesses a dominate over the lower light, and the lower has a desire and passion to the higher.
(147) Cahaya yang lebih tinggi memiliki dominasi terhadap cahaya lebih rendah, dan yang lebih rendah memiliki harapan dan rindu kepada yang lebih tinggi.
Cahaya yang lebih tinggi berbahagia dengan melindungi cahaya lebih rendah. Sedangkan cahaya lebih rendah berbahagia penuh cinta ketika dilindungi oleh dominating-light.
6. Muncul Keragaman
Pada awalnya, secara intelektual, hanya ada Cahaya Maha Cahaya yang tunggal (C0). Kemudian memancarkan Cahaya Terdekat (C1) yang juga tunggal. Selanjutnya, menghasilkan C2 yang tidak lagi tunggal. Karena ada ismush (penghubung) antara C2 dengan C0 yaitu C1. Keragaman cahaya mulai muncul pada tahap ini. Keragaman makin subur dengan terpancarnya cahaya C3, C4, C5, dan seterusnya.
(143) Many different things indeed may result from one thing by virtue of differing and multiple states of receptivity.
(143) Satu hal dapat menghasilkan banyak hal berbeda karena perbedaan penerima dan keragaman state penerima.
Keragaman cahaya membuka peluang hadirnya barzakh, yaitu, badan materi. Cahaya yang tidak tunggal, misal C2, bisa memancarkan (1) cahaya lain dan (2) barzakh. Ontologi cahaya memiliki cahaya dalam keragaman derajat sampai ribuan (C1.000), atau jutaan (C1.000.000), atau tak terhitung (Cn). Dengan demikian, keragaman barzakh, keragaman alam raya makin terbuka luas.
Tetapi, di antara keragaman, kita melihat kesamaan. Anda berbeda dengan saya, tetapi di saat bersamaan, Anda dan saya adalah sama, yaitu, sama-sama manusia. Kucing jantan beda dengan kucing betina, tetapi, mereka sama-sama kucing. Kita sama sebagai spesies manusia. Mereka sama-sama sebagai spesies kucing. Demikian juga terdapat cahaya yang beragam tetapi sama-sama dalam satu spesies cahaya yang sama. Mereka adalah cahaya yang derajatnya sama tetapi memiliki perbedaan aksidental.
Dengan sudut pandang spesies kita bisa memahami terdapat ribuan spesies cahaya dan masing-masing spesies beranggotakan jutaan cahaya yang beragam secara aksidental dan sederajat. Sampai di sini, kita bisa memahami sistem ontologi cahaya dan alam raya yang kompleks dan penuh keragaman.
Dalam ontologi cahaya berlaku prinsip “most noble contingency” atau “kemungkingan tertinggi” atau “imkanu ashraf.” Semua cahaya yang lebih rendah hadir secara langsung dalam cahaya yang lebih tinggi. Misal C3, C4, dan C5 adalah hadir dalam C2. Dengan kata lain, C2 mengetahui C3, C4, dan C5 secara langsung melalui kehadiran mereka. Karena Cahaya Maha Cahaya, C0, adalah paling tinggi maka C0 mengetahui semua cahaya secara langsung melalui kehadiran mereka.
7. Sains Huduri
Direct knowledge, atau ilmu huduri, adalah teori pengetahuan orisinal dari HI. Barangkali, kita bisa mengatakan bahwa huduri adalah kontribusi terbesar dari Suhrawardi. Huduri selaras dengan tiga prinsip: (1) pengetahuan positif, yaitu, direct knowledge; (2) most-noble-contigency; (3) cahaya sejati melampaui jiwa.
(160) It is clear that vision is not conditioned on the imprinting of an image or on the emission on something: it is sufficient for there to be no veil between the seer and the object of vision.
(160) Jelas bahwa penglihatan bukan ditentukan oleh penempelan citra atau pada pancaran sesuatu: cukup sekedar tidak ada penghalang antara subyek pelihat dan obyek yang dilihat.
(1) Pengetahuan positif adalah pengetahuan langsung ketika kita mengalaminya. Anda minum air segar adalah karena Anda, mengalami langsung, minum air segar. Berbeda dengan mengatakan Anda minum H2O. Berbeda lagi dengan mengatakan H2O berpindah dari gelas, masuk mulut, lalu masuk perut. Yang benar, Anda mengalami langsung minum air segar secara total.
Makin beda lagi, dengan mengatakan, Anda tidak minum teh. Hanya pengetahuan negatif berupa Anda tidak minum teh adalah pengetahuan yang tidak memadai. Huduri bukan pengetahuan negatif. Huduri adalah pengetahuan positif. Anda minum air segar adalah huduri.
Visi, atau penglihatan, adalah huduri. Visi bukan karena esensi obyek luar terpancar melaui mata lalu tercetak pada otak. Bukan pula visi adalah mata memancarkan sinar kemudian obyek luar terlihat. Visi adalah mata sehat berhadapan langsung dengan obyek tanpa penghalang. Visi adalah hadirnya obyek kepada subyek membentuk kesatuan huduri.
Analisis lebih jauh menunjukkan bahwa yang melihat obyek adalah jiwa kita, diri kita. Bukan mata dan bukan otak yang melihat obyek. Cahaya-subyek berhadapan dengan cahaya-obyek lalu tercipta kesatuan subyek dan obyek berupa huduri. Dalam dirinya sendiri, huduri adalah selalu bernilai benar.
Tuhan mengetahui segala sesuatu, universal dan partikular, secara langsung sebagai huduri. Pengetahuan oleh Cahaya Maha Cahaya adalah hadirnya cahaya sejati dalam Cahaya Maha Cahaya.
(2) Most-noble-contingency, atau imkanu ashraf (IA), memastikan bahwa cahaya tinggi mencakup cahaya rendah. Misal kita hendak menumpuk bata sampai 100 bata. Kita mulai 1 bata, 2 bata, dan 3 bata. Ketika tinggi 3 bata maka dipastikan sudah terjadi 2 bata dan 1 bata. Dengan kata lain, 3 bata meliputi 2 dan 1 bata. Kemudian lanjutkan sampai sempurna 100 bata, maka, 100 bata adalah sempurna. Maksudnya, 100 bata meliputi seluruh bata yang ada. Berapa pun tinggi bata yang Anda sebut, maka, 100 bata akan meliputinya secara langsung. Tidak ada tinggi bata yang terlewat oleh 100 bata.
(164) If a baser contingent exists, a nobler contingent must have existed.
(164) Jika sebuah kontingensi rendah eksis, maka, kontingensi yang lebih tinggi pasti sudah eksis.
Cahaya tinggi meliputi cahaya rendah. Cahaya Maha Cahaya adalah cahaya paling tinggi. Sehingga, Cahaya Maha Cahaya meliputi seluruh cahaya. Tidak ada cahaya yang terlewat dari Cahaya Maha Cahaya. Cahaya Maha Cahaya mengetahui seluruh cahaya dengan huduri.
Tantangan kita lebih menarik karena membahas kontingensi atau imkan. Seorang raja datang akan memberi tanda bintang mungkin pada bata 1 sampai bata 100, hanya 1 tanda bintang saja. Bagaimana kita mengetahui kemungkinan posisi tanda bintang tersebut?
Manusia = M(7) = sampai bata 7
Dominating-light = D(15) = sampai bata 15
Cahaya Terdekat = C(90) = sampai bata 90
Kasus (a) = tanda bintang pada bata 3. Manusia, M(7), benar atau berhasil karena bata 7 meliputi bata 3. Tentu saja, D(15) dan C(90) juga benar karena meliputi mereka semua.
Kasus (b) = tanda bintang pada bata 8. M(7) gagal. Manusia salah menilai, mengira tidak ada tanda bintang padahal ada tanda bintang. Hanya, manusia tidak mampu melihat bata 8 yang ada tanda bintang. D(15) benar karena meliputi bata 8. Tentu saja, C(90) juga benar. Jadi, M(7) bisa gagal tetapi D(15) berhasil.
Kasus (c) = tanda bintang pada bata 21. Maka D(15) gagal. Dan tentu saja, M(7) juga gagal. Tetapi, C(90) berhasil karena meliputi bata 21.
Kasus (d) = tanda bintang pada bata 95. Maka C(90) gagal. Tentu saja, D(15) dan M(7) juga gagal.
Keberhasilan pada cahaya rendah, secara langsung, memastikan keberhasilan pada cahaya tinggi. Cahaya rendah dijamin oleh cahaya tinggi. Kegagalan pada cahaya rendah tidak berpengaruh ke cahaya tinggi. Cahaya rendah tidak mengganggu cahaya tinggi. Keberhasilan pada cahaya tinggi tidak memastikan cahaya rendah jadi berhasil. Cahaya tinggi memiliki kebebasan memilih. Tetapi, kegagalan pada cahaya tinggi memastikan kegagalan, secara langsung, pada cahaya rendah. Tanpa jaminan cahaya tinggi maka cahaya rendah pasti gagal.
(3) Cahaya sejati melebihi jiwa. Meski jiwa adalah anggota dari cahaya sejati tetapi cahaya sejati lebih tinggi dari jiwa tertentu. Jiwa manusia, misal, mengetahui teori sains. Bagaimana pun, pengetahuan sains seorang manusia adalah terbatas. Cahaya sejati meliputi dan melebihi pengetahuan sains yang terbatas itu. Atau, pengetahuan sains oleh jiwa seorang manusia diketahui oleh cahaya sejati melalui huduri. Karena cahaya sejati lebih tinggi dari cahaya jiwa.
(174) We ourselves are only veiled form It by perfection of Its Light and deficiency of our faculties – not because It is hidden.
(174) Diri kita terhalang dari Dia hanya karena sempurnanya CahayaNya dan lemahnya kemampuan kita – bukan karena Dia sembunyi.
Masih ada lebih banyak keajaiban dunia yang mempesona lebih dari sains belaka. Karya seni sangat mempesona. Cinta begitu indahnya. Olah raga membuat gairah membara. Sains tidak punya hak untuk mengaku paling berkuasa dari itu semua.
Lebih dari itu, ada banyak hal misterius di sisi rembulan yang gelap. Ada panas super dahsyat di permukaan matahari. Ada tanda tanya besar di inti bumi. Jiwa manusia tidak pernah tahu itu semua. Dan masih banyak hal-hal menakjubkan lain, yang, jiwa manusia tidak pernah mengalaminya. Tetapi, cahaya sejati mengalami itu semua. Cahaya sejati aktif berpartisipasi lebih luas. Atau, pengaruh jiwa manusia adalah terbatas. Sementara, pengaruh cahaya sejati melampaui batas-batas.
Sedikit kita ringkas lagi konsep huduri. Manusia mengetahui obyek luar secara huduri, pengetahuan langsung. Cahaya sejati mengetahui seluruh pengetahuan manusia, juga secara langsung. Lebih dari itu, cahaya sejati mengetahui banyak hal yang tidak diketahui oleh jiwa manusia. Makin tinggi kedudukan cahaya sejati maka makin luas pengetahuan hudurinya. Huduri berpuncak kepada pengetahuan sempurna oleh Cahaya Maha Cahaya.
Lanjut ke: Wacana 2.3: Dinamika Cahaya
Kembali ke: Filosofi Visi
Lampiran:
















































