Wacana 2.2: STRUKTUR CAHAYA

Filosofi Visi Iluminasi

1. Pendahuluan
2. Formula Matematika Struktur Cahaya
3. Ketunggalan Cahaya Maha Cahaya
4. Penentuan Batas Barzakh
5. Dominasi Cinta
6. Muncul Keragaman
7. Sains Huduri

1. Pendahuluan

Wacana 2.2 membahas kosmogini menjelaskan bagaimana seluruh eksistensi hadir berkat Cahaya Maha Cahaya. Cahaya Maha Cahaya adalah wujud sederhana sempurna sehingga hanya ada akibat tunggal: “Cahaya Terdekat” atau “Cahaya Pertama”. Cahaya Terdekat ini sama persis dengan Cahaya Maha Cahaya hanya beda sedikit kadar intensitasnya. Demikian halnya, materi pertama harus tunggal sebagai medan segala sesuatu secara homogen. Kita perhatikan gerak semesta, gerak putaran benda-benda langit, tentu saja digerakkan oleh wujud yang hidup. Jadi, benda-benda langit pasti digerakkan oleh cahaya immaterial.

Bagian terluar dari semesta pasti bukan akibat langsung dari Cahaya Maha Cahaya. Mereka eksis karena dark-accident (gelap-aksidental) dari Cahaya Pertama atau cahaya yang lebih rendah. Sebab, cahaya yang memiliki dua relasi dengan Cahaya Maha Cahaya, relasi langsung dan tidak langsung, bisa menghadirkan cahaya lain dan bodi, yaitu, media atau arena atau medan. Karena setiap cahaya saling relasi, saling manifestasi, maka cahaya pada hirarki paling rendah memiliki keragaman aksidental paling banyak. Pancaran sinar cahaya tidak berarti terpisahnya sesuatu dari cahaya. Tetapi, merupakan penciptaan suatu aksiden pada sesuatu yang disinari. Kompleksitas sistem cahaya itu tercermin dalam kompleksitas bintang-bintang di langit dan kompleksitas segala sesuatu di bumi ini.

Berbeda dengan Ibnu Sina, yang menetapkan hirarki akal hanya terdiri 10 intelek, masing-masing dengan tingkat ontologi yang berbeda, Suhrawardi mengijinkan posibilitas cahaya pada tingkat intensitas yang sama tetapi berbeda dalam aksiden. Cahaya dalam “tatanan horisontal” ini adalah sebab dari spesies dan keragaman alamiah dunia sublunar – form Platonis, atau arketip talisman. Terdapat cahaya pengatur bodi, secara langsung, yaitu: jiwa.

Tuhan mengetahui segalanya, partikular mau pun universal, karena segala sesuatu hadir kepada Cahaya Maha Cahaya. Sebuah contoh ilmu huduri paling tinggi, menurut Suhrawardi, adalah ilmu Tuhan. Prinsip umum yang menyatakan segala sesuatu pada bidang ontologi lebih rendah harus memiliki sebab pada bidang ontologi yang lebih tinggi di sebut “the most noble contigency” dan menjadi prinsip fundamental bagi HI. Cahaya yang lebih rendah mungkin saja memiliki sebab majemuk.

Pengetahuan tentang kompleksitas cahaya sejati yang tak terhitung ini adalah hasil pengalaman langsung dari Suhrawardi dan bisa diverifikasi langsung melalui testimoni para pemikir besar masa lalu, baik dari Yunani mau pun dari Timur. Form Platonis bukanlah universal logis tetapi cahaya sejati, immaterial mind, yang menjadi sebab bagi spesies yaitu arketip. Seiring menuruni tangga ontologis, cahaya sejati makin redup dan lebih kompleks. Salah satunya, cahaya sejati menjadi jiwa manusia yang kekuatannya terbatas.

2. Formula Matematika Struktur Cahaya

Bagaimana sesuatu yang tunggal bisa menghasilkan keragaman? Cahaya Segala Cahaya adalah tunggal. Maka dari yang tunggal akan memancarkan efek tunggal juga: Cahaya Pertama. Di mana, Cahaya Pertama (C1) identik dengan Cahaya Segala Cahaya (C0), hanya sedikit berbeda dalam kadar intensitas. Perbedaan tersebut: C0 adalah sebab dan C1 adalah akibat secara intelektual.

(C0) adalah Cahaya Segala Cahaya.

(C1) adalah Cahaya Pertama memancar langsung dari (C0) Cahaya Segala Cahaya.

Bagian selanjutnya, menunjukkan kemahiran Suhrawardi dalam matematika: bagaimana bilangan pangkat 2 menjadi rumus keragaman yang bersumber tunggal.

(C2) Cahaya Kedua mendapat 2 macam sinaran: dari (C0) Cahaya Segala Cahaya dan (C1) Cahaya Pertama.

(C3) Cahaya Ketiga mendapat 4 macam sinaran: C0, C1, [C0+C2], [C1 + C2]

(C4) Cahaya Keempat mendapat 8 macam sinaran: 2 kali lipat dari banyaknya sinaran pada Cahaya Ketiga. Dan seterusnya akan selalu 2 kali lipat. Sehingga, kita bisa memanfaatkan formula matematika 2 pangkat n untuk menghitung kompleksitas struktur cahaya.

Dengan demikian, dari tunggal akan menghasilkan tunggal, pada gilirannya, menghasilkan keragaman. Kita hidup dalam keragaman dan ketunggalan. Keragaman di atas baru mempertimbangkan struktur vertikal. Keragaman akan makin kaya bila kita mempertimbangkan struktur horisontal, dan diagomal. Misal dengan hadirnya C1B, C1C, C1D, dan lain-lain.

3. Ketunggalan Cahaya Maha Cahaya

Cahaya Maha Cahaya adalah tunggal. Cahaya Maha Cahaya = Cahaya Segala Cahaya = Nurul Anwar = Light of Light = C0.

Dari Cahaya Maha Cahaya hanya ada hasil yang tunggal juga. Tidak bisa serentak, cahaya dan gelap, keduanya muncul dari Cahaya Maha Cahaya. Dari yang tunggal hanya menghasilkan tunggal. Dari C0 hanya menghasilkan C1.

Anggap ada hasil ganda yaitu cahaya dan gelap. Tetapi, tidak ada gelap pada C0. Jadi, anggapan ada hasil ganda harus ditolak.

Anggap ada hasil tunggal berupa gelap. Tetapi, tidak ada gelap pada C0. Jadi, hasil berupa gelap tunggal harus ditolak.

Anggap ada hasil tunggal berupa cahaya. Benar, memang ada cahaya pada C0. Jadi, akibat langsung dari C0 adalah cahaya tunggal berupa C1.

C1 dan C0 adalah sama-sama tunggal dan sama-sama cahaya. Jadi, mereka adalah sama persis hanya berbeda tingkat. C1 adalah akibat. C0 adalah sebab.

Asumsikan C0 dan C1 adalah sama-sama gelap yang tunggal. Tetapi, C0 yang gelap tidak bisa menghasilkan efek apa pun. Termasuk, tidak bisa menghasilkan C1. Jadi, asumsi C0 sebagai gelap harus ditolak. Ditambah lagi, saat ini, ada Anda, pernah ada ibu Anda, dan ada alam sekitar. Pasti, C0 adalah cahaya.

(135) A light and a darkness can not both occur from Light of Lights.

(135) Satu cahaya dan satu gelap tidak bisa serentak terjadi dari Cahaya Maha Cahaya.

(136) The incorporeal light, however, has no recipient, so that all lights of other than Light of Lights have perfection and deficiency by reason of the rank of their agent.

(136) Bagaimana pun, cahaya sejati tidak memiliki penerima. Dengan demikian, semua cahaya, selain Cahaya Maha Cahaya, memiliki kesempurnaan dan kelemahan hanya berdasar derajat penyebab, atau agen, mereka.

(138) The Proximate Light is dependent in itself but independent by virtue of the First. The existence of a light from Light of Lights does not happen by separation of something from It, for you know that separation and connection are specific properties of bodies.

(138) Cahaya Terdekat bergantung pada dirinya sendiri dan mandiri berkat yang Awal. Eksistensi cahaya tidak terjadi dengan cara pemisahan dari Cahaya Maha Cahaya, seperti Anda tahu bahwa pemisahan dan penggabungan adalah sifat khusus dari bodi.

Kesempurnaan cahaya sejati adalah berdasar derajat sebab mereka, atau agen mereka. Cahaya Pertama, C1, adalah paling sempurna karena memiliki sebab tertinggi yaitu C0. Cahaya Kedua, C2, sedikit di bawah C1 dalam kesempurnaan. Karena memiliki dua sebab yaitu C1 dan C0. Sedangkan, Cahaya Maha Cahaya adalah Maha Sempurna karena tidak ada sebab. Di sini, kita menggunakan angka-angka sekedar untuk memudahkan pemahaman.

Perlu kita catat bahwa maksud cahaya adalah cahaya immaterial sehingga melampaui ruang dan waktu. Sedangkan pembahasan yang melibatkan ruang dan waktu adalah pembahasan barzakh atau barrier berikut ini.

4. Penentuan Batas Barzakh

Kita selalu bisa menentukan batas atas dan batas bawah. Kemudian, kita bisa melampaui batas-batas itu. Lebih bawah dari batas bawah dan lebih atas dari batas atas. Selanjutnya, kita bisa mengulangi lagi. Demikianlah pengalaman kita di dunia ini dan dunia pikiran. Kita bisa melakukan pembatasan seperti itu pada barzakh atau barrier.

(139) Know that in any direction you may point, there are limits.

(140) Therefore, place is the interior of proximate container, and that which is not contained has no place.

(139) Ketahuilah bahwa ke arah mana pun yang kamu tunjuk, ada batas-batas.

(140) Karena itu, tempat adalah interior dari wadah terdekatnya, dan bahwa yang tidak dimasukkan maka tidak punya tempat.

Ketika kita membahas barzakh, misal benda batu, kita menemukan keragaman batu besar, batu kecil, batu ringan, batu berat, dan lain-lain. Bagaimana keragaman bisa muncul bila Cahaya Maha Cahaya adalah tunggal?

Bahkan, dalam ontologi cahaya sejati, kita sudah bisa menemukan keragaman. Suatu cahaya sejati bisa kita pandang sebagai dominating-light dan managing-light. Ada cahaya tinggi dan ada cahaya rendah. Tetapi, dalam dirinya sendiri, setiap cahaya adalah sama yaitu sama-sama cahaya sejati. Hanya derajat intensitas beragam.

Kembali kepada barrier, atau barzakh atau bodi, mereka selalu berada dalam wadah. Akibatnya, kita selalu bisa mengukur bodi. Kita bisa berpikir untuk mengukur bodi yang lebih kecil dari yang terkecil. Atom, awalnya, dianggap yang paling kecil. Kita bisa berpikir ada bodi yang lebih kecil dari atom, yaitu inti atom dan pinggiran atom. Benar, akhirya, ditemukan inti atom yang lebih kecil dari atom, misal neutron. Dan seterusnya, kita bisa berpikir ada bodi yang lebih kecil dari neutron.

Dalam arah sebaliknya, arah lebih besar, juga sama. Kita selalu bisa berpikir ada bodi yang lebih besar dari alam raya ini. Sains mutakhir meyakini bahwa alam raya selalu bergerak mengembang atau membesar. Jadi, alam raya tahun depan adalah lebih besar dari alam raya tahun lalu.

Dengan pertimbangan di atas, alam raya selalu bisa melampaui batas-batas, maka gerak alam raya adalah bebas. Apalagi, sebab dari gerak alam raya adalah cahaya sejati yang bebas tanpa pembatas.

5. Dominasi Cinta

Cahaya tinggi memiliki karakter sebagai dominating-light. Sesuai namanya, dominating-light bersifat dominan dengan kekuatan yang besar. Setiap cahaya sejati memiliki cahaya lebih tinggi sebagai dominating-light. Sampai berakhir kepada cahaya paling dominan, yaitu, Cahaya Maha Cahaya. Demikian juga, setiap cahaya mendominasi cahaya yang lebih rendah. Sampai berakhir, titik terjauh, cahaya yang tidak mendominasi cahaya lainnya.

(147) The higher light possesses a dominate over the lower light, and the lower has a desire and passion to the higher.

(147) Cahaya yang lebih tinggi memiliki dominasi terhadap cahaya lebih rendah, dan yang lebih rendah memiliki harapan dan rindu kepada yang lebih tinggi.

Cahaya yang lebih tinggi berbahagia dengan melindungi cahaya lebih rendah. Sedangkan cahaya lebih rendah berbahagia penuh cinta ketika dilindungi oleh dominating-light.

6. Muncul Keragaman

Pada awalnya, secara intelektual, hanya ada Cahaya Maha Cahaya yang tunggal (C0). Kemudian memancarkan Cahaya Terdekat (C1) yang juga tunggal. Selanjutnya, menghasilkan C2 yang tidak lagi tunggal. Karena ada ismush (penghubung) antara C2 dengan C0 yaitu C1. Keragaman cahaya mulai muncul pada tahap ini. Keragaman makin subur dengan terpancarnya cahaya C3, C4, C5, dan seterusnya.

(143) Many different things indeed may result from one thing by virtue of differing and multiple states of receptivity.

(143) Satu hal dapat menghasilkan banyak hal berbeda karena perbedaan penerima dan keragaman state penerima.

Keragaman cahaya membuka peluang hadirnya barzakh, yaitu, badan materi. Cahaya yang tidak tunggal, misal C2, bisa memancarkan (1) cahaya lain dan (2) barzakh. Ontologi cahaya memiliki cahaya dalam keragaman derajat sampai ribuan (C1.000), atau jutaan (C1.000.000), atau tak terhitung (Cn). Dengan demikian, keragaman barzakh, keragaman alam raya makin terbuka luas.

Tetapi, di antara keragaman, kita melihat kesamaan. Anda berbeda dengan saya, tetapi di saat bersamaan, Anda dan saya adalah sama, yaitu, sama-sama manusia. Kucing jantan beda dengan kucing betina, tetapi, mereka sama-sama kucing. Kita sama sebagai spesies manusia. Mereka sama-sama sebagai spesies kucing. Demikian juga terdapat cahaya yang beragam tetapi sama-sama dalam satu spesies cahaya yang sama. Mereka adalah cahaya yang derajatnya sama tetapi memiliki perbedaan aksidental.

Dengan sudut pandang spesies kita bisa memahami terdapat ribuan spesies cahaya dan masing-masing spesies beranggotakan jutaan cahaya yang beragam secara aksidental dan sederajat. Sampai di sini, kita bisa memahami sistem ontologi cahaya dan alam raya yang kompleks dan penuh keragaman.

Dalam ontologi cahaya berlaku prinsip “most noble contingency” atau “kemungkingan tertinggi” atau “imkanu ashraf.” Semua cahaya yang lebih rendah hadir secara langsung dalam cahaya yang lebih tinggi. Misal C3, C4, dan C5 adalah hadir dalam C2. Dengan kata lain, C2 mengetahui C3, C4, dan C5 secara langsung melalui kehadiran mereka. Karena Cahaya Maha Cahaya, C0, adalah paling tinggi maka C0 mengetahui semua cahaya secara langsung melalui kehadiran mereka.

7. Sains Huduri

Direct knowledge, atau ilmu huduri, adalah teori pengetahuan orisinal dari HI. Barangkali, kita bisa mengatakan bahwa huduri adalah kontribusi terbesar dari Suhrawardi. Huduri selaras dengan tiga prinsip: (1) pengetahuan positif, yaitu, direct knowledge; (2) most-noble-contigency; (3) cahaya sejati melampaui jiwa.

(160) It is clear that vision is not conditioned on the imprinting of an image or on the emission on something: it is sufficient for there to be no veil between the seer and the object of vision.

(160) Jelas bahwa penglihatan bukan ditentukan oleh penempelan citra atau pada pancaran sesuatu: cukup sekedar tidak ada penghalang antara subyek pelihat dan obyek yang dilihat.

(1) Pengetahuan positif adalah pengetahuan langsung ketika kita mengalaminya. Anda minum air segar adalah karena Anda, mengalami langsung, minum air segar. Berbeda dengan mengatakan Anda minum H2O. Berbeda lagi dengan mengatakan H2O berpindah dari gelas, masuk mulut, lalu masuk perut. Yang benar, Anda mengalami langsung minum air segar secara total.

Makin beda lagi, dengan mengatakan, Anda tidak minum teh. Hanya pengetahuan negatif berupa Anda tidak minum teh adalah pengetahuan yang tidak memadai. Huduri bukan pengetahuan negatif. Huduri adalah pengetahuan positif. Anda minum air segar adalah huduri.

Visi, atau penglihatan, adalah huduri. Visi bukan karena esensi obyek luar terpancar melaui mata lalu tercetak pada otak. Bukan pula visi adalah mata memancarkan sinar kemudian obyek luar terlihat. Visi adalah mata sehat berhadapan langsung dengan obyek tanpa penghalang. Visi adalah hadirnya obyek kepada subyek membentuk kesatuan huduri.

Analisis lebih jauh menunjukkan bahwa yang melihat obyek adalah jiwa kita, diri kita. Bukan mata dan bukan otak yang melihat obyek. Cahaya-subyek berhadapan dengan cahaya-obyek lalu tercipta kesatuan subyek dan obyek berupa huduri. Dalam dirinya sendiri, huduri adalah selalu bernilai benar.

Tuhan mengetahui segala sesuatu, universal dan partikular, secara langsung sebagai huduri. Pengetahuan oleh Cahaya Maha Cahaya adalah hadirnya cahaya sejati dalam Cahaya Maha Cahaya.

(2) Most-noble-contingency, atau imkanu ashraf (IA), memastikan bahwa cahaya tinggi mencakup cahaya rendah. Misal kita hendak menumpuk bata sampai 100 bata. Kita mulai 1 bata, 2 bata, dan 3 bata. Ketika tinggi 3 bata maka dipastikan sudah terjadi 2 bata dan 1 bata. Dengan kata lain, 3 bata meliputi 2 dan 1 bata. Kemudian lanjutkan sampai sempurna 100 bata, maka, 100 bata adalah sempurna. Maksudnya, 100 bata meliputi seluruh bata yang ada. Berapa pun tinggi bata yang Anda sebut, maka, 100 bata akan meliputinya secara langsung. Tidak ada tinggi bata yang terlewat oleh 100 bata.

(164) If a baser contingent exists, a nobler contingent must have existed.

(164) Jika sebuah kontingensi rendah eksis, maka, kontingensi yang lebih tinggi pasti sudah eksis.

Cahaya tinggi meliputi cahaya rendah. Cahaya Maha Cahaya adalah cahaya paling tinggi. Sehingga, Cahaya Maha Cahaya meliputi seluruh cahaya. Tidak ada cahaya yang terlewat dari Cahaya Maha Cahaya. Cahaya Maha Cahaya mengetahui seluruh cahaya dengan huduri.

Tantangan kita lebih menarik karena membahas kontingensi atau imkan. Seorang raja datang akan memberi tanda bintang mungkin pada bata 1 sampai bata 100, hanya 1 tanda bintang saja. Bagaimana kita mengetahui kemungkinan posisi tanda bintang tersebut?

Manusia = M(7) = sampai bata 7
Dominating-light = D(15) = sampai bata 15
Cahaya Terdekat = C(90) = sampai bata 90

Kasus (a) = tanda bintang pada bata 3. Manusia, M(7), benar atau berhasil karena bata 7 meliputi bata 3. Tentu saja, D(15) dan C(90) juga benar karena meliputi mereka semua.

Kasus (b) = tanda bintang pada bata 8. M(7) gagal. Manusia salah menilai, mengira tidak ada tanda bintang padahal ada tanda bintang. Hanya, manusia tidak mampu melihat bata 8 yang ada tanda bintang. D(15) benar karena meliputi bata 8. Tentu saja, C(90) juga benar. Jadi, M(7) bisa gagal tetapi D(15) berhasil.

Kasus (c) = tanda bintang pada bata 21. Maka D(15) gagal. Dan tentu saja, M(7) juga gagal. Tetapi, C(90) berhasil karena meliputi bata 21.

Kasus (d) = tanda bintang pada bata 95. Maka C(90) gagal. Tentu saja, D(15) dan M(7) juga gagal.

Keberhasilan pada cahaya rendah, secara langsung, memastikan keberhasilan pada cahaya tinggi. Cahaya rendah dijamin oleh cahaya tinggi. Kegagalan pada cahaya rendah tidak berpengaruh ke cahaya tinggi. Cahaya rendah tidak mengganggu cahaya tinggi. Keberhasilan pada cahaya tinggi tidak memastikan cahaya rendah jadi berhasil. Cahaya tinggi memiliki kebebasan memilih. Tetapi, kegagalan pada cahaya tinggi memastikan kegagalan, secara langsung, pada cahaya rendah. Tanpa jaminan cahaya tinggi maka cahaya rendah pasti gagal.

(3) Cahaya sejati melebihi jiwa. Meski jiwa adalah anggota dari cahaya sejati tetapi cahaya sejati lebih tinggi dari jiwa tertentu. Jiwa manusia, misal, mengetahui teori sains. Bagaimana pun, pengetahuan sains seorang manusia adalah terbatas. Cahaya sejati meliputi dan melebihi pengetahuan sains yang terbatas itu. Atau, pengetahuan sains oleh jiwa seorang manusia diketahui oleh cahaya sejati melalui huduri. Karena cahaya sejati lebih tinggi dari cahaya jiwa.

(174) We ourselves are only veiled form It by perfection of Its Light and deficiency of our faculties – not because It is hidden.

(174) Diri kita terhalang dari Dia hanya karena sempurnanya CahayaNya dan lemahnya kemampuan kita – bukan karena Dia sembunyi.

Masih ada lebih banyak keajaiban dunia yang mempesona lebih dari sains belaka. Karya seni sangat mempesona. Cinta begitu indahnya. Olah raga membuat gairah membara. Sains tidak punya hak untuk mengaku paling berkuasa dari itu semua.

Lebih dari itu, ada banyak hal misterius di sisi rembulan yang gelap. Ada panas super dahsyat di permukaan matahari. Ada tanda tanya besar di inti bumi. Jiwa manusia tidak pernah tahu itu semua. Dan masih banyak hal-hal menakjubkan lain, yang, jiwa manusia tidak pernah mengalaminya. Tetapi, cahaya sejati mengalami itu semua. Cahaya sejati aktif berpartisipasi lebih luas. Atau, pengaruh jiwa manusia adalah terbatas. Sementara, pengaruh cahaya sejati melampaui batas-batas.

Sedikit kita ringkas lagi konsep huduri. Manusia mengetahui obyek luar secara huduri, pengetahuan langsung. Cahaya sejati mengetahui seluruh pengetahuan manusia, juga secara langsung. Lebih dari itu, cahaya sejati mengetahui banyak hal yang tidak diketahui oleh jiwa manusia. Makin tinggi kedudukan cahaya sejati maka makin luas pengetahuan hudurinya. Huduri berpuncak kepada pengetahuan sempurna oleh Cahaya Maha Cahaya.

Lanjut ke: Wacana 2.3: Dinamika Cahaya
Kembali ke: Filosofi Visi

Lampiran:

Prospek Usaha Ketika Pandemi Sirna

Kita patut bersyukur pandemi sirna. Catatan sejarah menunjukkan bahwa setelah terjadi pandemi akan diikuti lompatan kemajuan peradaban manusia. Kita segera bangkit lebih maju dari yang sebelum-sebelumnya.

Apakah Anda siap?

Siap tidak siap kita harus siap. Menyongsong masa depan cerah mulai saat ini, berbekal pengalaman – termasuk pengalaman pandemi. Berikut ini beberapa solusi dan prospek masa depan yang bisa kita kembangkan.

1. Meningkatkan Konsumsi

Teori ekonomi, yang saat ini banyak dipakai, menyarankan untuk meningkatkan konsumsi. Ketika konsumsi meningkat maka produksi didorong untuk meningkat pula. Barang-barang produksi dan jasa laris manis. Selanjutnya, roda ekonomi berputar.

Barangkali solusi meningkatkan konsumsi lebih tepat dijalankan oleh pemerintah dengan anggaran belanjanya dan perusahaan-perusahaan besar untuk mendorong dinamika.

2. Produksi Strategis

Prospek yang lebih terbuka lebar adalah produk strategis. Di mana, kita bisa mem-produksi barang atau jasa yang dibutuhkan masyarakat, di saat yang sama, aman dari ancaman covid. Misal warung atau restoran yang menerapkan jaga jarak dan prokes. Berdagang secara online membuka banyak prospek baru. Dan masih banyak prospek lainnya.

3. Pendidikan Kreatif

Selama pandemi, barangkali, bidang pendidikan adalah yang paling banyak dikalahkan. Hal semacam itu wajar saja. Karena, kita paham bahwa pendidikan itu penting tetapi tidak kritis. Maksudnya, pendidikan bisa ditunda untuk sekian waktu. Dan, ketika saat ini pandemi usai, maka pendidikan perlu bangkit kembali dengan cara yang kreatif.

Apakah pandemi benar-benar sudah usai? Benar, pandemi telah selesai. Bukan karena tidak ada ancaman covid lagi, tetapi, karena kita sudah 2 tahun lebih hidup bersama covid. Karena itu, kita sudah sanggup hidup bersama covid atau tanpa covid, termasuk adaptasi dengan prosedur kesehatan. Jadi, secara efektif, pandemi telah usai.

Kebangkitan pendidikan kreatif mengambil beragam bentuk: pendidikan formal, informal, dan non-formal.

3.1 Prospek Kursus Matematika

Kursus bahasa, kursus matematika, dan beragam bentuk kursus lainnya menjadi bidang penting untuk kemajuan generasi masa kini. Saya sendiri menyediakan program kerja sama afiliasi APIQ yang membantu Anda membuka kursus matematika dengan mudah. APIQ sudah menyediakan bahan ajar matematika kreatif dengan standar APIQ. Selanjutnya, Anda bisa membuka kursus matematika APIQ di lokasi Anda. Info lebih lengkap silakan kunjungi: program afiliasi APIQ.

3.2 Prospek Pelatihan Guru Kreatif

Para guru memerlukan keahlian baru karena tuntutan jaman, berupa kemajuan teknologi, dan perubahan kurikulum yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Guru perlu membekali diri dengan kemampuan kreatif dan memanfaatkan teknologi dengan canggih. APIQ menyelenggarakan program pelatihan kreatif secara rutin bulanan dan bisa diselenggarakan di lokasi Anda. Info lebih lengkap silakan kunjungi: training kreatif APIQ.

3.3 Edukasi Konten Digital

Kita sudah memasuki era digital. Dunia pendidikan juga masuk dunia digital. Tetapi, masa pandemi sudah menunjukkan bahwa program pendidikan melalui media digital online murni adalah gagal. Siswa tidak bisa belajar hanya melalui media online (kelas daring). Siswa tetap membutuhkan kelas tatap muka (kelas luring).

Kita perlu bersikap bijak terhadap media digital. Cukup sekedarnya saja, memanfaat media digital, untuk pendidikan. Tidak berlebihan dan tidak kurang. Dengan ukuran yang tepat dan metode yang tepat, edukasi konten digital akan memberikan pendidikan terbaik bagi generasi muda. Saya membuat beragam konten edukasi matematika melalui canel Paman APIQ.

Sukses selalu untuk kita semua. Bagaimana menurut Anda?

Matematika Ceria: Bahagia Sempurna

Cita adalah siswa kelas 3 SD di kota Bandung. Senyumnya lebar bahagia dengan belajar matematika. Kok bisa?

Di sekolah Cita, disediakan program ekskul, siang, setelah jam sekolah. Anak-anak bebas memilih program olah raga, robotika, menggambar, matematika, dan lain-lainnya. Pilihan siswa paling banyak adalah program matematika bersama APIQ.

“Mengapa kamu memilih matematika?”
“Karena matematika itu seru! Belajarnya lebih asyik dari robotika,” jawab Cita dan teman-temannya.

Matematika APIQ mengajak anak-anak gembira belajar matematika dengan game permainan orisinal (game ori). Mengapa namanya game ori? Karena game ini memang asli matematika bukan selingan belaka. Berbeda dengan game lainnya. Umumnya, game lain adalah selingan ketika anak-anak capek belajar matematika maka main game dulu. Sementara, game ori adalah asli. Dengan anak-anak bermain game ori maka, di saat yang sama, anak-anak jadi mahir matematika. Dalam game ori, sudah terselip petualangan matematika.

Anda bisa bergabung dengan program APIQ, saat ini, melalui WA 0818 22 0898 atau pelatihan terdekat silakan klik: Pelatihan APIQ.

Kita membutuhkan inovasi-inovasi yang menghadirkan matematika dengan riang gembira. Karena, matematika itu sendiri memang mengantarkan umat manusia untuk meraih bahagia sempurna. Disayangkan, saat ini, matematika sering menyulitkan para siswa, guru, dan orang tua.

Siapa pun, usia berapa pun, bisa belajar matematika kreatif APIQ yang asyik. Kakek Badar, saat itu usia 60 tahun, ikut program pelatihan matematika APIQ.

“Apa pertimbangan Pak Badar ikut training matematika APIQ?”
“Saya ini sudah tua,” lanjut Pak Badar,” maka perlu menjaga kesehatan. Dengan belajar matematika asyik, pikiran saya jadi terus aktif sehingga menjadi lebih sehat. Lagi pula, saya bisa mengajarkan matematika APIQ ini ke cucu-cucu saya. Jadi lebih akrab dengan semua keluarga besar.”

Program Matematika APIQ berguna untuk anak usia dini, TK, SD, SMP, SMA, guru, profesional, dan masyarakat luas.

Mari bergembira bersama-sama, membangun generasi muda dengan matematika!

Bagaimana menurut Anda?



Pendahuluan Oleh Suhrawardi

Suhrawardi mengaku menuliskan buku ini bukan dari hasil pemikiran diskursif, tetapi, dari pengalaman langsung. Baru, kemudian, dia mencari-cari pembuktian rasional. Seandainya, tidak ditemukan bukti rasional pun, hal tersebut, tidak mengubah kesahihan buku ini. Nyatanya, buku ini menghadirkan bukti rasional yang kreatif.

(1) O God, glorious is Thy mention and mighty Thy holiness.

(1) Wahai Tuhan, Maha Agung nama-Mu dan Maha Mulia kesucian-Mu

Suhrawardi membuka dengan memuji keagungan Tuhan, memohon anugerah bagi Nabi Muhammad, dan memohon pertolongan dianugerahi Cahaya Tuhan serta bersyukur atas semua karunia.

Awalnya, Suhrawardi tidak berniat menulis buku. Tetapi, karena sahabat-sahabat memintanya untuk mengungkapkan pengalaman dan perolehan dalam renungan suci, maka, Suhrawardi memenuhi permintaan itu. Setiap jiwa manusia, termasuk jiwa kita, memiliki porsi tertentu dari Cahaya Tuhan. Sehingga, setiap orang memiliki kesempatan mencicipi indahnya anugerah Cahaya Maha Cahaya. Pintu langit tidak pernah tertutup bagi umat manusia. Cahaya Tuhan selalu ada.

Sebelum buku ini, Hikmah Al Isyraq (HI), Suhrawardi sudah menulis beberapa buku sesuai metode Peripatetik – pendekatan Aristoteles di dunia Muslim. Tetapi, buku HI ini berbeda dari yang lainnya. HI membahas Peripatetik dengan singkat dan tajam. Lebih sistematis, cermat, dan mudah dipahami. Suhrawardi menulis HI berdasar pengalaman langsung, kemudian, memperkuat dengan dalil rasional.

Pembahasan ilmu ontologi cahaya ini selaras dan saling menguatkan dengan kajian tokoh-tokoh masa lalu: Plato, Hermes, Empedocles, Pythagoras, dan lain-lain. Mereka menggunakan ungkapan simbolis atau bahasa perlambang. Perlambang tidak bisa dibantah. Orang-orang hanya bisa membantah makna literal dari perlambang. Mereka salah memahami makna sejati perlambang. Pengalaman cahaya sejati juga selaras dengan tokoh-tokoh timur: Jamasp, Frahostar, dan Bozogmehr, serta tokoh sebelum mereka.

(4) This world has never been without philosophy or without a person possessing proofs and clear evidences to champion it. He is God’s vicegerent on His earth.

(4) Dunia ini tak pernah kosong dari filosofi atau kosong dari orang yang memiliki pembuktian dan bukti jelas untuk menguasainya. Dia adalah wakil Tuhan di bumi-Nya.

Filsuf dari jaman kuno sampai sekarang sepakat dan sama dalam prinsip-prinsip mendasar. Mereka hanya berbeda dalam bahasa dan tingkat terus terangnya. Mereka sepakat tentang tiga dunia (intelek, jiwa, dan badan) dan sepakat tentang ketunggalan Tuhan.

Tingkat para filsuf beragam, bisa kita kelompokkan: (1) mahir intuisi tetapi lemah diskursif, (2) mahir diskursif tetapi lemah intuisi, (3) filsuf suci yang mahir diskursif dan intuisi, (4) filsuf suci yang mahir intuisi tetapi menengah atau lemah diskursif, (5) mahir diskursif tetapi menengah atau lemah intuisi, (6) murid filosofi intuisi dan diskursif, (7) murid diskursif, dan (8) murid filosofi intuisi. Penguasaan dunia dan peran wakil Tuhan diberikan kepada filsuf yang mahir intuisi dan mahir diskursif. Jika tidak ada maka diberikan kepada filsuf mahir intuisi tetapi menengah diskursif, kemudian, mahir intuisi tetapi lemah diskursif. Dunia ini tidak pernah kosong dari filsuf mahir intuisi.

(5) The vicegerency need direct knowledge. By this authority I do not mean political power.

(5) Kepemimpinan membutuhkan pengetahuan langsung. Otoritas ini tidak mengharuskan kekuatan politik.

Buku HI ini ditujukan kepada murid filosofi intuisi dan diskursif. Buku ini tidak berguna bagi filsuf diskursif yang tidak menguasai intuisi, atau tidak sedang mengasah intuisi. Pembaca diharapkan pernah mengalami cahaya suci pada tingkat tertentu – tidak cukup satu kali tetapi teratur. Orang lain tidak akan memperoleh manfaat dari HI. Bagi yang berminat mengkaji diskursif silakan merujuk metode Peripatetik. HI tidak berkepentingan dengan itu. Andai dalil rasional tidak sanggup mengantarkan ke cahaya suci, maka, jiwa yang bersih akan menggapainya dengan bertahap.

Kami telah menyederhanakan “tool” penjaga pikiran dari kesalahan menjadi hanya sedikit aturan penting paling berguna. Hal ini sudah memadai bagi yang cerdas dan yang sedang mencari pencerahan. Bagi yang berminat lebih detil – ilmu tentang tool – silakan merujuk ke buku-buku lainnya.

Buku ini hanya terdiri dari dua bagian.

Dua bagian tersebut adalah (1) logika dan (2) ontologi cahaya.

Di bagian intro ini, sudah jelas, Suhrawardi menekankan pentingnya pengetahuan langsung atau direct knowledge. Perdebatan rasional diskursif saja tidak memadai. Bahkan, dunia ini tidak pernah kosong dari filsuf intuisi yang mahir direct knowledge. Mereka adalah pemimpin dunia bisa melalui kekuatan politik atau tanpa politik.

Suhrawardi mengkaji pemikiran jaman dulu dari Plato, Aristoteles, dan era sebelumnya. Dari timur, Suhrawardi mengkaji pemikir Persia kuno sampai Ibnu Sina. Suhrawardi, mestinya, mengenal baik karya Al Ghazali yang ditulis setengah abad lebih awal. Tetapi, saya tidak menemukan rujukan kepadanya. Dalam kajian kita kali ini, saya akan menyandingkan HI dengan filosofi kontemporer abad 21. Sebut saja McDowell, Zizek, Heidegger, Iqbal, Hegel, Einstein, Popper, dan Kant. Tentu saja, kita juga perlu menyandingkan dengan Ibnu Arabi, Mulla Sadra, dan Hossein Ziai.

Selamat mengkaji…!

Kembali ke: Filosofi Visi

Lampiran

Kembali ke: Filosofi Visi

Filosofi Visi Iluminasi – Hikmah Isyraq

Filosofi Visi, karya Suhrawardi (1154 – 1191), hanya terdiri dari dua bagian. Bagian satu membahas tentang logika, kritik, dan gagasan solusi. Bagian dua membahas ontologi cahaya sebagai solusi tuntas dari filosofi visi.

Akhir Futuristik

Wacana Awal

Intro oleh Hossein Ziai

Pendahuluan oleh Suhrawardi

Bagian 1: Logika
Wacana 1.1: Semiotika
Wacana 1.2: Logika Formal Silogisme
Wacana 1.3: Kritik Logika dan Falasi

Bagian 2: Ontologi Cahaya
Wacana 2.1 Ontologi Cahaya Sejati
Wacana 2.2: Struktur Cahaya
Wacana 2.3: Dinamika Cahaya
Wacana 2.4: Realisasi Cahaya
Wacana 2.5 Cahaya Masa Depan

Wasiat oleh Suhrawardi

Wacana Lanjutan

Bagian 1: Logika: makna proposisi, silogisme formal, dan kritik logika

Wacana 1.1: Semiotika. Suhrawardi dengan cerdik menyatakan bahwa makna dari suatu ungkapan bahasa bisa beragam: sesuai yang diharapkan, berbeda dengan yang diharapkan, atau bahkan berlawanan dari yang diharapkan. Pengetahuan ada dua jenis: pengetahuan fitri (bawaan) dan pengetahuan non-fitri (bukan-bawaan). Pada analisis akhir, semua pengetahuan didasarkan pada pengetahuan fitri. Bagian akhir dari wacana ini, mengungkapkan kritik Suhrawardi terhadap teori “definisi esensialis” dari Aristoteles yang dikembangkan oleh Ibnu Sina.

Wacana 1.2: Logika Formal Silogisme. Luar biasa! Di abad 12, Suhrawardi berhasil menyederhanakan beragam bentuk silogisme menjadi satu bentuk tunggal yang bersifat: niscaya, universal, dan afirmatif. Kelak, di abad 20, kita mengenal metode Karnaugh Map untuk menyederhanakan sistem digital yang rumit menjadi paling sederhana, dan hemat. Suhrawardi sudah mengantisipasi proses “penyederhanaan” logika 8 abad lebih awal. Dengan kemahiran Suhrawardi ini, maka dia berhak melakukan kritik terhadap logika silogisme, khususnya, pada bagian fondasinya: definisi esensial.

Wacana 1.3: Kritik Logika. Dengan cukup panjang, di bagian ini, Suhrawardi melancarkan kritik keras terhadap logika Aristoteles (Ibnu Sina) dilengkapi dengan alternatif solusi. Di bagian awal, kritik diarahkan pada kesalahan formal dalam menyusun silogisme dan kesalahan semantik itu sendiri. Bagian selanjutnya, Suhrawardi meng-kritik definisi esensial Aristoteles Ibnu Sina.

Definisi esensial tidak akan pernah berhasil “menjadi” pengetahuan. Definisi esensial dibentuk dengan menggabungkan genus dan diferensia. Orang yang tidak paham akan genus atau diferensia, maka, dia tidak akan paham definisi esensial. Sementara, orang yang sudah tahu genus dan diferensia yang dimaksud, maka, sudah paham apa yang akan didefinisikan tanpa perlu definisi esensial. Sehingga, definisi esensial tetap tidak berhasil baik bagi orang yang sudah paham mau pun yang belum paham.

Suhrawardi memberi solusi lengkap terhadap masalah logika ini yang melibatkan epistemologi. Bagian dua, bagian selanjutnya, membahas tuntas solusi Suhrawardi. Dan, sebagai konsekuensi, terbentuklah sistem filsafat lengkap: filosofi visi iluminasi.

Bagian 2: Ontologi Cahaya: cahaya sejati, struktur cahaya, dinamika cahaya, realisasi cahaya, dan cahaya masa depan.

Wacana 2.1 Ontologi Cahaya Sejati. Suhrawardi menyelesaikan problem filosofis melalui prinsip paling dasar: ontologi cahaya. Sejak awal, Suhrawardi mendefinisikan bahwa cahaya adalah realitas yang paling jelas dengan dirinya sendiri. Segala sesuatu yang lain, yang bukan cahaya, membutuhkan cahaya agar menjadi jelas, agar dapat didefinisikan.

Cahaya ini memenuhi dua syarat utama untuk mendefinisikan yang lain: lebih jelas dan lebih awal diketahui. Meski kita bisa memikirkan cahaya secara fisika, tetapi, kita perlu melangkah lebih jauh untuk membahas cahaya sejati sampai Cahaya Segala Cahaya yang bersifat incorporeal.

Wacana 2.2: Struktur Cahaya. Bagaimana sesuatu yang tunggal bisa menghasilkan keragaman? Cahaya Segala Cahaya adalah tunggal. Maka dari yang tunggal akan memancarkan efek tunggal juga: Cahaya Pertama. Di mana, Cahaya Pertama (C1) identik dengan Cahaya Segala Cahaya (C0), hanya sedikit berbeda dalam kadar intensitas.

Bagian selanjutnya, menunjukkan kemahiran Suhrawardi dalam matematika: bagaimana bilangan pangkat 2 menjadi rumus keragaman yang bersumber tunggal.

(C2) Cahaya Kedua mendapat 2 macam sinaran: dari (C0) Cahaya Segala Cahaya dan (C1) Cahaya Pertama.

(C3) Cahaya Ketiga mendapat 4 macam sinaran: C0, C1, [C0+C2], [C1 + C2]

(C4) Cahaya Keempat mendapat 8 macam sinaran: 2 kali lipat dari banyaknya sinaran pada Cahaya Ketiga. Dan seterusnya akan selalu 2 kali lipat.

Dengan demikian, dari tunggal akan menghasilkan tunggal, pada gilirannya, menghasilkan keragaman. Kita hidup dalam keragaman dan ketunggalan.

Wacana 2.3: Dinamika Cahaya. Setiap cahaya memiliki dua karakter: dominating-light dan managing-light. Dominating-light memancarkan sinar ke segala arah dengan kekuatan penuh. Sementara, managing-light mengatur agar arah tepat, ukuran tepat, waktu tepat, dan segala sesuatu dengan tepat. Dua karakter utama dari cahaya ini, yang merupakan satu kesatuan, menjamin bahwa ontologi cahaya bersifat dinamis dan harmonis.

Dari perspektif cahaya-lebih-rendah, cahaya memiliki dua karakter: terlindungi dan cinta. Cahaya-lebih-rendah merasa dilindungi oleh cahaya-lebih-tinggi, di saat yang sama, merasa cinta dan rindu untuk menggapainya.

Wacana 2.4: Realisasi Cahaya. Selanjutnya, Suhrawardi membahas lebih detil ontologi cahaya yang bermanifestasi dalam dunia materi fisik: realisasi. Suhrawardi mengenalkan beragam sifat “barzakh” (perantara, penghalang, jembatan) atau badan fisik. Transparan adalah barzakh yang bersifat meneruskan cahaya seutuhnya. Translusen meneruskan sebagian cahaya. Dan, ada pula yang buram. Di bagian ini, kita bisa belajar banyak hal-hal praktis dan nyata dari ontologi cahaya.

Wacana 2.5 Cahaya Masa Depan. Kita bisa belajar banyak filosofi moral dan etika pada bagian ini. Suhrawardi membuktikan bahwa jiwa manusia tidak sirna akibat kematian badan, immortal. Setiap kebaikan berbalas kebaikan berlimpah. Kejahatan mendapat balasan secara adil.

Lebih dari itu, manusia memiliki potensi untuk mendapat informasi masa depan melalui wahyu, ilham, dan mimpi. Karena ontologi cahaya dinamis maka masa depan, memang, benar-benar dinamis. Selanjutnya, mari kita nikmati dinamika semesta raya!

###

Berikut adalah terjemah Kitab Hikmah Al Isyraq karya Suhrawardi bagian 2 wacana ke 1 atau (2.1).

BAGIAN DUA

###Terjemah dari English ke Indonesia

Tentang Cahaya Sejati, Cahaya dari Cahaya, dan Dasar dan Tatanan dari Eksistensi, dalam Lima Wacana

Wacana Pertama

Tentang cahaya dan realitasnya, Cahaya dari Cahaya, dan apa yang pertama dihasilkan-Nya, dalam sembilan topik dan aturan

Topik [satu]

[Petunjuk bahwa cahaya tidak membutuhkan bukti]

(107) Segala sesuatu dalam eksistensi yang tidak memerlukan definisi atau tidak memerlukan penjelasan adalah terbukti. Karena tidak ada yang lebih terbukti dari cahaya, tidak ada yang kurang dalam membutuhkan definisi.

Topik [dua]

[Definisi tentang mandiri]

(108) Jika bukan esensi atau bukan kesempurnaan dari sesuatu terletak pada yang lain, dia adalah “mandiri.” Jika esensinya atau suatu kesempurnaannya terletak pada yang lain, dia adalah “tidak mandiri.”

###Terjemah dari Arab ke Indonesia

Tentang Cahaya Sejati, Cahaya dari Cahaya, dan Dasar dan Tatanan dari Eksistensi, dalam Lima Wacana

Wacana Pertama

Tentang cahaya dan realitasnya, Cahaya dari Cahaya, dan apa yang pertama dihasilkan-Nya, dalam sembilan topik dan aturan

Topik [satu]

[Tentang: Sesungguhnya cahaya tidak memerlukan definisi]

(107) Segala sesuatu dalam eksistensi yang tidak memerlukan definisi atau tidak memerlukan penjelasan adalah terbukti. Dan tidak ada yang lebih terbukti dari cahaya, maka tidak ada yang lebih sempurna dari cahaya tentang definisi.

Topik [dua]

[Definisi tentang mandiri]

(108) “Mandiri” adalah dia yang esensinya atau kesempurnaannya bukan pada yang lainnya. “Tidak mandiri” adalah dia yang esensinya atau kesempurnaannya terletak pada yang lainnya.

BAGIAN DUA

Melompat ke paragraf (155) tentang dua kelas cahaya: domimating-light dan managing-light.

Bagian intro oleh Hossein Ziai memberi ringkasan yang sangat bagus.

Jangan Berpikir

“Jangan bertindak! Cukup berpikir saja.”

Dalam situasi sulit, seperti sekarang ini, semua tindakan bisa saja salah. Semua perbuatan, bisa saja, memperparah situasi. Maka yang kita butuhkan adalah berpikir. Jangan bertindak apa pun.

“Jangan berpikir, tapi perhatikan!”

Bahkan, berpikir pun bisa salah. Pikiran kita tidak obyektif, tidak jujur, tidak lurus seperti dikira. Pikiran kita banyak dibelokkan oleh prasangka, dugaan-dugaan. Ketika kita menghapus satu prasangka maka kita akan berhadapan dengan prasangka lainnya. Jangan berpikir. Tapi, perhatikan baik-baik. Terima realitas dengan ikhlas.

1. Ikhlas Menerima Realitas
1.1 Membuka Diri
1.2 Dialog Tuhan
1.3 Menata Diri
1.4 Perhatian

2. Berpikir Cerdas
2.1 Berpikir Idealis
2.2 Berpikir Praktis
2.3 Berpikir Realistis
2.4 Kreatif: Inovatif – Disruptif
2.5 Paradoks Kontradiksi
2.6 Self-Reference Pikiran
2.7 Retroaktif

3. Bertindak Bijak
3.1 Puasa Diri
3.2 Kontribusi Terbatas
3.3 Ikhlas Lagi

Urutan yang tepat adalah: (1) terima realitas dengan ikhlas, (2) berpikir dengan cerdas, dan (3) bertindak dengan bijak. Kemudian proses itu kita lanjutkan secara dinamis: ikhlas, berpikir, bertindak, ikhlas, berpikir, bertindak, ikhlas, dan seterusnya. Dalam tulisan ini, kita akan membahasnya secara bertahap.

1. Ikhlas Menerima Realitas

“Jangan diperhatikan, ikhlaskan saja!”

Cara untuk menjadi ikhlas sangat mudah, meski, banyak orang mengira bahwa sulit sekali untuk menjadi ikhlas. Cara menjadi ikhlas cukup hanya dengan, “Ikhlaskan saja.” Maka kita jadi ikhlas. Tuntas.

Orang masih bisa bertanya lagi, “Bagaimana cara ikhlaskan saja itu?”

Ikhlas atau tidak ikhlas adalah sikap dasar dari manusia sejati. Sehingga, tidak ada sebab bagi seseorang untuk menjadi ikhlas atau pun menjadi tidak ikhlas. Mereka bebas memilih untuk ikhlas atau sebaliknya. Jika Anda memilih ikhlas maka Anda jadi ikhlas.

Realitas menjadi tidak jelas karena kita, manusia, berinteraksi dengan lingkungan sosial dan sejarah masa lalu – atau masa depan.

Seseorang bisa ikhlas ketika mendapat uang dalam jumlah besar. Orang lain, bisa saja, tidak ikhlas ketika mendapat uang dalam jumlah yang sama besar. Bahkan, ada orang yang sampai korupsi dan mencuri meski dia sudah memperoleh uang yang besar. Ada orang yang ikhlas menerima berbagai macam cobaan. Sementara, ada orang lain yang tidak ikhlas menerima sebagian cobaan.

Karena tidak ada sebab pasti seseorang bisa menjadi ikhlas, atau segala sesuatu justru bisa menjadi sebab bagi seseorang menjadi ikhlas, maka cara paling mudah untuk ikhlas adalah, “Ikhlaskan saja!”

Terbukti kita semua bisa ikhlas. Ketika kita lahir, sebagai bayi, kita ikhlas. Digendong ibu, kita ikhlas. Disusuin ibu, kita ikhlas. Apa pun yang terjadi, kita ikhlas. Kita perlu belajar kembali ke masa lalu kita, masa bayi kita, yang setiap hari selalu ikhlas.

Bagaimana pun, karakter manusia memang dinamis. Maka sikap ikhlas ini dengan mudah berubah menjadi tidak ikhlas. Karena itu, sebagai orang dewasa, kita perlu berusaha untuk konsisten bersikap ikhlas. Berikut ini beberapa ide yang bisa kita coba untuk mencapai ikhlas: membuka diri, dialog Tuhan, dan menata diri.

1.1 Membuka Diri

Alam raya terus menerus membuka diri. Matahari terbit membuka pagi, menebar kehangatan. Benih tumbuh menjadi pohon yang semerbak membuka kelopak bunga. Bayi-bayi kucing berlari-lari membuka mata dan telinga. Bayi-bayi manusia membuka diri terhadap semua yang ada.

Apakah manusia dewasa bisa membuka diri sebagai mana dia bayi dulu? Alam raya membuka diri kepada manusia. Sebaliknya, manusia juga membuka diri kepada alam raya. Tetapi, manusia dewasa memiliki pilihan bebas: akankah membuka diri atau menutup diri?

Manusia dewasa, sampai kapan pun, selalu bisa membuka diri dengan cara membuka hati. Barangkali, makin tua seseorang maka badannya tidak mampu lagi belajar olah raga dengan beban berat. Sementara, hati orang yang sudah tua tetap bisa terbuka terhadap segala yang ada. Ikhlas dengan semua: duka atau bahagia. Dalam ikhlas, semua sama saja, sama-sama penuh makna.

Bayi manusia, ketika lahir, tidak punya apa-apa. Bayi manusia sangat lemah. Bayi manusia adalah kosong. Beda dengan bayi harimau, misalnya. Ketika lahir, bayi harimau punya badan yang kuat. Kuku-kukunya tajam siap untuk menerkam. Taringnya tajam. Bayi harimau dilengkapi dengan insting yang tajam untuk menyerang mangsa.

Bayi manusia tidak punya apa-apa. Manusia, memang, tidak punya apa-apa.

Tetapi bayi manusia punya yang paling berharga: kemampuan membuka diri. Bayi belajar dari segala yang ada. Bayi belajar dari ibu dan bapak. Ketika remaja, mereka sekolah. Ketika dewasa, mereka bisa menjadi apa saja. Mereka bisa jadi tentara yang senjatanya lebih kuat dari kuku harimau. Bisa menjadi pilot yang terbang lebih tinggi dari elang. Bisa menjadi nahkoda yang menyelami samudera lebih dalam dari ikan-ikan di lautan. Bisa menjadi ilmuwan yang mengungkap misteri alam raya. Manusia bisa menjadi apa saja.

Saatnya, kini, kita kembali membuka diri terhadap semua yang ada. Buka mata, buka telinga, dan buka hati Anda. Siap menerima segala yang ada. Ikhlas kapan saja, di mana saja.

1.2 Dialog Tuhan

Umat beragama memiliki keuntungan besar yaitu bisa berdialog dengan Tuhan. Jika kita ikhlas maka kita bisa berdialog dengan Tuhan. Sebaliknya juga benar, jika kita sedang berdialog dengan Tuhan maka kita ikhlas.

Ada banyak cara berdialog dengan Tuhan. Barangkali, cara paling jelas adalah dialog melalui Utusan Tuhan misal melalui malaikat Jibril. Tampaknya, hanya orang-orang tertentu yang berhasil dialog dengan Jibril. Lebih besar terbuka peluang, dialog dengan cara berbeda, dialog melalui Nabi Khidir. Sampai saat ini, diyakini, Khidir sering menemui manusia-manusia pilihan. Dan sayangnya, banyak orang, merasa tidak pernah bertemu dengan Nabi Khidir.

Kita punya pilihan, cara paling umum dialog dengan Tuhan adalah melalui mimpi.

Tuhan menyapa manusia melalui mimpi. Kita ikhlas merima pesan itu. Baik pesan itu berupa kabar baik, anugerah dariNya, atau pun kadang, berupa kabar akan datangnya suatu musibah. Dengan mengetahui pesan musibah lebih awal, misal akan datangnya musim paceklik, maka kita bisa melakukan berbagai macam persiapan untuk antisipasi.

Sayangnya, banyak orang lupa akan mimpinya semalam. Mereka lupa telah dialog bersama Tuhan. Mimpi itu menjadi bermakna ketika kita mengingatnya dan merenunginya, serta, berusaha memahami pesan yang ada. Setiap malam, kita tidur. Setiap saat, kita berdialog dengan Tuhan. Setiap saat, kita bisa ikhlas. Mari kita belajar merenungi mimpi.

Cara berdialog dengan Tuhan, yang lebih terbuka luas, adalah melalui alam. Alam raya ini adalah media yang menyimpan, dan menyampaikan, pesan Tuhan. Diri kita sendiri adalah bagian dari alam raya. Sehingga, diri kita selalu membawa pesan dari Tuhan. Setiap saat, kita berhadapan dengan alam raya maka kita sedang berdialog dengan Tuhan. Wajar, kita ikhlas. Setiap saat, kita berhadapan dengan diri kita sendiri maka kita sedang berdialog dengan Tuhan. Wajar, kita ikhlas kapan saja, di mana saja.

Bagi Anda yang punya pasangan, suami atau istri, maka dia adalah pembawa pesan Tuhan. Istri yang berdialog dengan suaminya, sejatinya, dia berdialog dengan Tuhan. Suami yang berdialog dengan istrinya, sejatinya, dia berdialog dengan Tuhan. Demikian juga ketika dialog bersama guru, bersama siswa, bersama tetangga, sejatinya, kita sedang berdialog dengan Tuhan. Ikhlas adalah sikap yang paling pantas.

1.3 Menata Diri

Bagaimana pun, sikap ikhlas adalah sikap hati. Sehingga, tidak ada yang bisa memaksa hati untuk ikhlas. Pun, tidak ada yang bisa memaksa sebaliknya. Untuk bisa ikhlas, kita perlu menata diri. Anda bisa ikhlas dalam segala situasi. Sikap hati, bagaimana pun begitu mudah setiap saat, berubah dari ikhlas menjadi tidak ikhlas dan bolak-balik.

Al Ghazali (1058 – 1111) mengilustrasikan hati memiliki pasukan pembela yang menjaga hati untuk tetap ikhlas. Di saat yang sama, hati memiliki gerombolan musuh yang merusak sikap ikhlas hati. Situasinya, gerombolan musuh itu, jumlahnya lebih banyak dari pasukan pembela hati. Sehingga, hati begitu mudah terjatuh kepada sikap tidak ikhlas. Karena itu, kita perlu menata diri agar pasukan pembela selalu siaga menjaga hati tetap ikhlas.

Pasukan pembela hati menjadi siaga dengan cara hidup sederhana dan waspada. Makan hanya sedikit saja, lebih banyak memberi makan untuk orang yang membutuhkan. Harta sekedarnya saja, lebih banyak sedekah dengan yang dimilikinya. Kekuasaan secuil saja, lebih banyak menggunakan kekuatan untuk menguatkan kekuatan masyarakat. Pembela hati menjadi waspada dengan banyak puasa: puasa makanan, puasa harta, puasa politik, dan puasa jiwa.

Immanuel Kant (1720 – 1804) merumuskan bahwa penilaian estetika keindahan, kecantikan, dan sublim merupakan kerja harmonis antara akal, pemahaman, dan imajinasi. Dengan cara yang sama, kita bisa merumuskan sikap hati ikhlas merupakan kerja harmonis antara akal, pemahaman, imajinasi, badan, dan alam raya. Karena itu, akal saja tidak bisa memastikan hati menjadi ikhlas. Demikian juga, badan saja tidak bisa memastikan hati menjadi ikhlas. Butuh kerja sama banyak faktor untuk bisa menjadi ikhlas.

Sikap ikhlas, karena terdiri banyak faktor, maka banyak situasi berbeda mengantarkan kita jadi ikhlas. Demikian juga, banyak situasi lain yang mengantar seseorang menjadi tidak ikhlas. Baik ikhlas atau tidak, sama-sama tidak tunggal melainkan beragam. Sehingga, kita benar-benar perlu menata diri untuk bisa meraih ikhlas.

1.4 Perhatian

Selanjutnya, setelah ikhlas menerima segala realitas, kita perlu memperhatikan sesaksama segala yang ada. Kita memperhatikan alam sekitar, memperhatikan kehidupan sosial, memperhatikan “misteri diri sendiri”, dan memperhatikan pesan Tuhan. Perhatian yang tulus ini akan membuka alam raya untuk tumbuh berkembang, membuka diri untuk lebih sempurna, dan membuka segala yang ada.

Tugas memperhatikan segalanya dengan tulus, tidak mudah dilakukan. Karena, sikap ikhlas bersifat tidak stabil. Sewaktu-waktu, sikap hati tergelincir tidak ikhlas. Padahal perhatian orang yang tidak ikhlas, justru, bisa merusak banyak hal. Sikap perhatian perlu dilandasi sikap ikhlas, di saat yang sama, perlu ditunjang dengan berpikir cerdas. Karakter berpikir cerdas lebih stabil dari sikap ikhlas.

Misal, seseorang yang memahami operasi bilangan bulat 2 + 1 = 3 akan stabil meyakininya dengan pikirannya. Apakah dia sedang lapar, sedang kenyang, sedang marah, atau sedang ceria tetap saja yakin bahwa 2 + 1 = 3. Berbeda dengan orang yang bersikap ikhlas terhadap gaji 3 juta rupiah. Ketika dia membutuhkan jumlah uang yang lebih banyak, bisa saja, berubah menjadi tidak ikhlas terhadap gaji 3 juta.

Sampai di sini, kita menyadari keterkaitan antara ikhlas, perhatian, dan berpikir cerdas. Ikhlas adalah landasan dari segalanya. Perhatian menjadi sarana untuk memahami. Sedangkan berpikir cerdas adalah proses untuk mengkaji dengan teliti segala yang terjadi. Pada gilirannya, berpikir cerdas menguatkan landasannya sendiri: ikhlas dan perhatian. Dan, berpikir cerdas adalah landasan untuk bertindak bijak. Berikutnya, kita akan membahas berpikir cerdas.

2. Berpikir Cerdas

Kita mengawali berpikir cerdas dengan cara berpikir idealis. Pada gilirannya, kita sadar bahwa berpikir idealis tidak memadai. Kita perlu berpikir realistis. Berbeda dengan idealis, berpikir realistis menuntut kita untuk bersikap dinamis.

Secara idealis, kita tahu bahwa 2 + 1 = 3. Secara realistis, 2 kg beras ditambah 1 kg beras bisa saja tidak tepat 3 kg beras. Barangkali ada kebocoran di sana-sini. Atau, ada salah ukur di beberapa tempat. Bagaimana pun, kita menghadapi realitas yang dinamis seperti itu.

Lebih serius lagi, dalam berpikir cerdas, kita akan menghadapi paradoks atau kontradiksi. Secerdas apa pun pikiran kita maka akan menghadapi jalan buntu paradoks. Selalu ada pikiran lain yang berbeda dengan pikiran kita, di saat yang sama, tidak ada cara menghakimi pikiran mana yang lebih benar. Tentu saja, seseorang bisa saja keras kepala dengan menyatakan bahwa pikirannya adalah yang paling benar. Cara seperti itu, justru, menunjukkan bahwa dia berpikir tidak cerdas.

Di bagian ini, kita akan membahas berpikir cerdas bertahap dari berpikir idealis, realistis, paradoks, bahkan sampai retroaktif. Kemampuan retroaktif adalah kemampuan kita berpikir dengan perenungan refleksi mendalam. Di mana perenungan mendalam ini adalah yang membentuk pikiran kita. Sehingga, sejatinya, kita selalu punya kesempatan untuk membentuk pikiran, secara positif, melalui kemampuan retroaktif. Sebuah kesempatan yang perlu kita manfaatkan dengan baik.

2.1 Berpikir Idealis

Berpikir idealis menjadi penting karena sifatnya yang ideal. Meski dunia realitas tidak selalu sesuai dengan ukuran ideal, kita memerlukan ukuran ideal sebagai salah satu petunjuk dan pertimbangan penting. Berpikir idealis adalah berpikir secara simbol – yang bersifat ideal.

Matematika dasar adalah contoh berpikir idealis paling jelas. Dalam operasi bilangan bulat, kita yakin 12 + 1 = 13 berlaku secara ideal kapan saja, di mana saja. Luas persegi yang sisinya 100 meter x 100 meter adalah 10 000 meter persegi atau 1 hektar. Benar secara mutlak.

Aristoteles (384 – 322 SM) mengembangkan sistem logika ideal yang kita kenal dengan silogisme. Logika ideal ini menjadi sarana bagi kita untuk menarik kesimpulan yang valid.

A: Setiap pejabat adalah orang baik.
B: Budi adalah seorang pejabat.

Berdasar logika ideal, kita menyimpulkan secara sah bahwa,

K: Budi adalah orang baik.

Kebalikan dari silogisme logika ideal di atas bernilai belum tentu benar – atau tidak sah. Dengan asumsi premis (A) bernilai benar dan,

C: Catur bukan pejabat.

Kesimpulan (L) berikut adalah tidak sah, bisa bernilai salah atau benar,

L: Catur bukan orang baik. (Tidak sah)

Tetapi, logika kontra posisi bernilai sah setara dengan silogisme.

D: Tuan PQR bukan orang baik.

Maka kesimpulan (M) bernilai benar.

M: Tuan PQR bukan pejabat.

Saya membahas lebih lengkap tema logika ini pada tulisan saya yang satunya: Logika Seberapa Logis.

Perlu sedikit saya tambahkan bahwa “kesepakatan” adalah logika ideal berdasar konsensus. Misal disepakati, “Masa jabatan dibatasi maksimal dua periode.” Jika seorang pejabat sampai menjabat tiga periode maka pejabat tersebut, jelas, melanggar “kesepakatan”.

Demikian juga berpikir berdasar aturan moral, aturan agama, kearifan lokal, hukum positif, dan sejenisnya adalah termasuk berpikir idealis. Maka, kita perlu mencermati dan menghormati berbagai macam aturan yang ada.

Dalam banyak hal, berpikir ideal berhasil membimbing umat manusia. Sedangkan dalam banyak hal lain, berpikir ideal sulit diterapkan karena realitas kehidupan lebih kompleks. Salah satu alternatif yang baik adalah berpikir berdasar manfaat: berpikir praktis.

2.2 Berpikir Praktis

Paham utilitarianisme memberikan solusi sederhana: berpikir praktis berdasar manfaat. Di Indonesia, kita mengenal asas manfaat. “Di antara banyak pilihan yang ada maka pilihlah yang paling besar memberi manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang.”

Asas manfaat selaras dengan prinsip, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat kepada manusia.”

Asas manfaat begitu mudah kita pahami. Sebenarnya, cukup mudah juga bagi umat manusia untuk menerapkannya. Hanya saja, kadang, ada godaan yang membelokkan manusia dari asas manfaat. Misal, seorang pejabat bisa saja tergoda untuk korupsi dengan mencuri uang rakyat. Jabatannya menjadi tidak bermanfaat, malah, membahayakan umat.

Bentham (1748 – 1832) adalah pemikir pertama yang merumuskan dengan tegas, “Memberikan manfaat terbesar kepada sebanyak-banyaknya orang adalah ukuran sesuatu sebagai benar atau salah.” Selanjutnya, Bentham mengembangkan beragam cara untuk menghitung dan mengukur suatu manfaat. Dengan demikian, kita menjadi lebih fokus dengan meningkatkan manfaat yang lebih besar banyak orang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita punya perasaan bahwa sesuatu itu bermanfaat atau tidak. Jika bermanfaat maka lakukan. Jika tidak bermanfaat maka tinggalkan. Berpikir praktis dengan asas manfaat memang praktis.

John Mill (1806 – 1873) adalah murid dari Bentham yang mengembangkan konsep asas manfaat lebih jauh lagi. Menurut Mill, ukuran suatu manfaat tidak sesederhana yang dipikirkan oleh Bentham. Manfaat, sudah tentu, bisa diukur secara ekonomi, misal kenaikan pendapatan. Atau, kita memberi uang kepada orang miskin, jelas, bermanfaat. Sesuatu yang lebih abstrak, misal membahagiakan orang lain, juga termasuk manfaat. Begitu juga mencerdaskan masyarakat dengan membekali mereka keterampilan kerja juga bernilai manfaat tinggi. Singkatnya, ukuran manfaat menjadi lebih luas lagi.

Karl Popper (1902 – 1994) mendukung konsep asas manfaat negatif. Apa yang kita bahas di atas adalah asas manfaat positif. Yaitu, memberikan manfaat positif kepada masyarakat: meningkatkan pendapatan, memberi ilmu, membuka lapangan kerja. Asas manfaat negatif, lebih penting lagi, yaitu mencegah kerugian atau kejahatan. Contoh mencegah korupsi, mencegah kecelakaan, mencegah penindasan, menghapus kecurangan, melawan kesewenang-wenangan, dan lain-lain. Bagi negara sangat penting mengutamakan asas manfaat negatif. Bagi kita, secara personal, juga penting. Ketika kecurangan dan kejahatan sudah dihapus, maka, dengan sendirinya umat manusia akan mengembangkan asas manfaat positif.

Sekali lagi, berpikir praktis ini bagi kita, sebenarnya memang praktis. Kita hanya perlu meningkatkan manfaat dan mencegah kejahatan. Itu saja. “Tebarkan manfaat dan cegah kerusakan.” “Mengajak kepada kebaikan, mencegah keburukan.”

Benarkah semudah itu? Masih ada tantangan berikutnya. Apa itu manfaat? Apa itu kejahatan? Siapa yang menentukan sesuatu sebagai bermanfaat atau jahat? Kita, memang, bisa menentukan manfaat secara idealis saklek. Nyatanya, realitas tidak selalu seindah alam ideal. Maka kita perlu berpikir realistis. Bagian berikutnya, kita akan membahas berpikir realistis.

2.3 Berpikir Realistis

Berpikir realistis itu mudah saja, yaitu, berpikir apa adanya. Tidak kurang, tidak lebih, cukup berpikir apa adanya. Itulah berpikir realistis yang terbaik.

Dengan berpikir realistis, nyaris kita berpikir dengan sempurna. Ditambah dengan berpikir praktis ( mencari cara memberi manfaat dan mencegah bahaya) serta berpikir idealis (memikirkan skenario-skenario ideal) maka kita siap menghadapi segala tantangan yang Anda. Tantangan realitas ini menjadi makin menarik lantaran sifatnya yang dinamis.

Realitas dinamis. Realitas selalu berubah, selalu bergerak. Pikiran orang yang statis, yang kaku, yang saklek, tentu tidak sesuai dengan realitas. Berpikir yang sesuai dengan realitas adalah berpikir yang dinamis. Berpikir yang menyesuaikan beragam perubahan. Apa artinya suatu pemikiran, suatu teori, jika terus-menerus berubah?

Tentu saja, teori pemikiran itu sangat penting. Teori, umumnya, bersifat tetap dan tidak berubah. Karena, teori mengasumsikan kondisi ideal. Sehingga, teori termasuk kategori berpikir ideal. Dengan demikian, teori bermanfaat untuk menjadi panduan. Dalam prakteknya, di dunia realitas, kita perlu fleksibel untuk menerapkan suatu teori.

Strategi Six Sigma, sebagai contoh, adalah konsep manajemen yang berdasarkan teori statistik. Six Sigma memberikan beragam standar, sedemikian hingga, suatu produk berkualitas tinggi sesuai standar. Seketat apa pun standar ini, nyatanya, Six Sigma tetap memberikan kelonggaran terhadap simpangan. Diijinkan ada 3 atau 4 produk cacat dari 1 juta produk yang dihasilkan. Tentu saja, itu prestasi yang luar biasa. Six Sigma sendiri mengijinkan adanya revisi, improvement berkelanjutan. Sehebat apa pun, teori Six Sigma tetap mengijinkan adanya perubahan.

Ketika teori tidak sesuai dengan realitas, maka, apa yang harus direvisi?

Jawaban singkatnya: teori yang harus direvisi. Karena teori yang harus sesuai dengan realitas. Itulah berpikir realistis. Tetapi, kita harus hati-hati dalam hal ini. Bisa saja, hanya terjadi salah menilai realitas. Sejatinya, teorinya tetap benar sesuai realitas.

Dalam kehidupan personal sehari-hari, kita perlu lebih fleksibel untuk merevisi teori. Sehingga, sifat dari teori adalah dinamis berdasar realitas sehari-hari. Sikap berpikir fleksibel ini akan memudahkan kita menemukan beragam solusi dari setiap situasi. Sementara, sikap keras kepala berpegang pada teori lama yang tidak sesuai realita, justru bisa menimbulkan banyak petaka.

Dulu, kita pakai sms untuk komunikasi. Perkembangan jaman, sms tidak realistis lagi, diganti blackberry (BB). Kemudian, BB tidak realistis lagi, diganti WA. Barangkali beberapa waktu ke depan, WA tidak realistis lagi, maka perlu diganti dengan yang baru. Begitulah realitas, selalu dinamis. Pikiran kita, juga, perlu dinamis.

Heidegger (1889 – 1976) menyatakan bahwa manusia selalu berada dalam situasi dunia tertentu. Kita tidak bisa lepas dari dunia ini. Jika kita lari dari dunia ini maka kita akan berada dalam situasi berbeda, yang nyatanya, dunia lagi. Realitas dari dunia, senantiasa terus-menerus, berubah membuka diri. Tugas kita adalah untuk berusaha memahami dunia, dan memahami diri sendiri, untuk kemudian tumbuh seiring seirama manusia dan dunia.

Ketika kita berpikir realistis apa adanya, maka, apa yang dimaksud dengan “apa adanya” itu?

Pertanyaan sederhana yang kaya akan jawaban. Bahkan, jawaban untuk pertanyaan di atas, tidak ada habis-habisnya. Serta, kita perlu memohon kepada Tuhan agar ditunjukkan yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah.

Jawaban tentang “apa adanya” adalah sebagai berikut.

Pertama, realitas sosial yang dinamis selalu berubah. Kehidupan Anda bersama keluarga selalu berubah. Kehidupan Anda bermasyarakat, termasuk sosial politik, selalu berubah. Bila ada kehidupan politik yang tidak berubah maka justru itu aneh. Maksudnya, pasti ada sesuatu yang berubah di bidang politik, tetapi ditampilkan seakan-akan tidak berubah. Harga minyak goreng hari ini pasti berubah, bisa naik atau turun. Gaji Anda bulan ini pun, bagi yang gajian, pasti berubah. Jika tidak berubah, itu karena, ada yang mengubahnya sedemikian hingga gaji Anda seperti tidak berubah.

Dengan perubahan kehidupan sosial yang begitu nyata, maka sikap berpikir realistis paling tepat adalah merespon perubahan sebaik-baiknya. Berpikir fleksibel terhadap perubahan, serta menikmati perubahan. Hidup bahagia bersama perubahan. Berpikir “apa adanya” adalah fleksibel berubah.

Kedua, kehidupan pribadi kita, secara psikologis, senantiasa juga berubah. Meski Anda menikmati kopi pagi yang nikmat hari ini seperti nikmatnya hari kemarin, nyatanya, nikmatnya kopi itu berubah. Bisa lebih nikmat. Jika tidak berubah, justru itu yang aneh. Pikiran terhadap kehidupan, dan terhadap kematian, pasti berubah. Waktu kecil, kita berpikir hidup mengalir saja dengan main-main. Ketika muda, hidup lebih serius mengejar cita-cita. Saat sudah tua, hidup adalah persiapan diri menghadapi keabadian. Sejatinya, perubahan pikiran kita terhadap kehidupan terjadi setiap saat – tidak harus perlu waktu bertahun-tahun.

Sungguh aneh, orang yang mengira dirinya tidak berubah. Dia mengira dirinya memang sudah begitu adanya. Padahal, diri kita selalu berubah setiap saat. Maka, berpikir realistis adalah mengarahkan perubahan diri kita menjadi lebih baik. Di saat yang sama, kita menikmati segala perubahan dengan bahagia. Ayo berubah, memang, pasti berubah. Berpikir “apa adanya” adalah diri kita yang fleksibel berubah.

Ketiga, sains juga berubah setiap saat. Sains dianggap sebagai ilmu pasti – yang tidak berubah. Nyatanya, setiap hari ada penemuan sains baru. Jadi, sains berubah setiap saat. Matematika adalah ilmu pasti yang paling pasti. Sehingga, matematika dianggap tidak berubah. Nyatanya, matematika selalu berubah. Ada penemuan teori matematika baru. Ada revisi teori matematika yang lama menjadi baru. Matematika berubah setiap saat. Tidak ada yang tidak berubah. Bahkan perubahan itu sendiri juga berubah – makin cepat dan menghentak.

Singkatnya, berpikir realistis adalah berpikir siap berubah. Berpikir apa adanya.

Jika realitas selalu berubah maka realitas mana yang benar? Atau, apa yang benar-benar Nyata? Apa itu Real Sejati? Pertanyaan ini sulit dijawab dengan satu sudut pandang. Maka kita perlu melihatnya dengan beragam sudut pandang.

Pandangan pertama, Tuhan adalah yang paling Nyata. Tuhan adalah Sang Maha Nyata. “Tuhan ada di sini, di dalam hati ini,” begitu potongan sebuah syair. Kita bisa melihat pohon di samping rumah karena ada terang sinar matahari. Dalam gelap gulita malam, kita tidak bisa melihat pohon itu. Sinar matahari yang menjadikan kita bisa melihat pohon. Meski demikian, mata kita justru tidak mampu melihat matahari, secara langsung, karena saking terangnya. Silau matahari bisa membuat mata buta.

Tuhan adalah Sang Maha Nyata. Segala alam raya menjadi nyata ada berkah karunia Tuhan. Tetapi, mata kita tidak akan mampu menatap Sang Maha Nyata karena begitu terangnya cahaya. Hati, yang bersih, yang akan mampu memandang Tuhan. Maka untuk bisa melihat apa yang benar-benar nyata, kita perlu mendengarkan suara hati, membuka mata hati, dan membersihkan hati. Berpikir realistis adalah berpikir bersama hati bersih.

Pandangan kedua, realisme materialisme menganggap yang paling nyata adalah materi di alam raya.

Interpretasi

Kita selalu bisa menciptakan suatu interpretasi. Karena interpretasi adalah kebebasan bagi setiap manusia. Apakah suatu interpretasi benar atau salah? Benar atau salah, pikiran kita selalu melibatkan sejenis interpretasi.

2.4 Kreatif: Inovatif – Disruptif

Berpikir kreatif adalah berpikir baru; menghasilkan ide baru, produk baru, proses baru, sistem baru, model baru, atau lainnya. Inovasi adalah berpikir kreatif yang berdampak nyata dalam dunia bisnis; inovasi memberi kuntungan besar pada pihak tertentu; inovasi merugikan lebih banyak orang; terjadi disrupsi.

2.5 Paradoks Kontradiksi

Ketika Anda peduli dengan suatu pemikiran maka Anda akan menemukan paradoks atau kontradiksi. Paradoks ini bisa kita selesaikan dengan suatu teori; pada gilirannya, teori itu akan memunculkan paradoks baru.

2.6 Self-Reference Pikiran

Pikiran itu menjadi benar karena dipikirkan. Wah? Tidak kah itu suatu kesombongan?

2.7 Retroaktif

Pada waktunya, kita perlu berpikir retroaktif; berpikir mundur; berpikir reflektif.

3. Bertindak Bijak

Bertindak bijak dan bersikap bijak menjadi sangat penting. Kita butuh lebih banyak hikmah.

3.1 Puasa Diri

Langkah dasar untuk bertindak bijak adalah puasa: puasa ekonomi; puasa politik; dan puasa menghakimi.

3.2 Kontribusi Terbatas

Keinginan nafsu adalah untuk bertambah besar. Bahkan, berbagi kebaikan pun, nafsu mendorong untuk kebaikan yang lebih besar lagi. Apa masalahnya? Masalah sangat besar.

3.3 Ikhlas Lagi

Kita berputar lengkap dengan kembali ikhlas lagi. Urutan yang tepat adalah: (1) terima realitas dengan ikhlas, (2) berpikir dengan cerdas, dan (3) bertindak dengan bijak. Kemudian proses itu kita lanjutkan secara dinamis: ikhlas, berpikir, bertindak, ikhlas, berpikir, bertindak, ikhlas, dan seterusnya. 

Tuhan atau Manusia

Mana yang lebih utama: Tuhan atau manusia?

Sekilas, jawabannya seperti jelas. Tuhan lebih utama, tentu, bagi umat beragama. Benarkah? Bagi umat yang tidak beragama, bagaimana?

Siapakah yang bertanggung jawab atas kejahatan? Tuhan atau manusia? Siapakah yang bertanggung jawab atas kelestarian alam? Siapakah yang bertanggung jawab atas kehidupan?

Pertanyaan bisa sedikit kita ubah: mana lebih utama, ketuhanan atau kemanusiaan?

Kedua-duanya, sama-sama utama. Tetapi, kadang kala, kita memang perlu membuat prioritas. Menyusun daftar sesuai urutan prioritas. Sehingga, kita perlu menjawab, dengan tegas, mana yang lebih utama.

1. Tuhan Utama
2. Manusia Utama
3. Kejahatan Manusia
4. Tanggung Jawab Semesta
5. Teman Dialog

Secara bertahap, kita akan membahas berbagai macam alternatif prioritas di atas. Pada bagian akhir, saya mengusulkan solusi dialektika. Tuhan dan manusia adalah teman dialog. Tentu saja, tidak semua manusia “berhasil” menjadi teman dialog. Hanya orang-orang tertentu yang berdialog dengan Tuhan. Anugerah, bencana, amal, atau pun kejahatan, semua adalah media dialog manusia dengan Tuhan.

1. Tuhan Utama

Tuhan adalah pencipta alam semesta. Tuhan Maha Pengasih. Tuhan Maha Penyayang. Maka Tuhan adalah yang paling utama. Segala perbuatan kita, yang kita niatkan tulus demi Tuhan maka menjadi ikhlas dan bernilai tinggi. Sementara, perbuatan orang-orang yang diniatkan untuk memperoleh pamrih manusia lain, maka, hanya pamer belaka. Tidak bernilai di sisi Tuhan.

Tetapi, bagaimana dengan teroris yang mengatasnamakan Tuhan dalam serangan mereka? Mereka hanya meng-klaim atas nama Tuhan. Memperhatikan bahwa mereka berani berkorban nyawa demi keyakinan mereka, tampaknya, klaim mereka sangat kuat. Apakah Tuhan, dengan demikian, benar-benar paling utama? Atau ada alternatif lain yang lebih utama?

Tentu saja, kita tahu bahwa tidak semua teroris mengatasnamakan Tuhan atau agama. Sebagian, tidak berhubungan dengan klaim Tuhan sama sekali. Bagaimana pun, teroris yang membawa nama Tuhan cukup merepotkan kita untuk justifikasi – Tuhan sebagai yang utama.

Kita bisa membela diri bahwa para teroris itu hanya sebagian kecil saja dari umat beragama. Mereka adalah pencilan, outlier. Karena itu, mereka, para teroris, bisa diabaikan. Mereka tidak mewakili umat beragama. Mereka tidak mewakili orang yang mengutamakan Tuhan. Secara statistik, memisahkan outlier seperti itu adalah metodologi yang sah.

Di sisi lain, orang bisa keberatan dengan argumen outlier ini. Meski mereka, ekstremis, hanya dalam jumlah kecil, tetap saja, mereka mengatasnamakan Tuhan dalam aksi terornya. Sehingga, mereka mengutamakan Tuhan di atas kemanusiaan universal. Dengan demikian, argumen outlier yang mengutamakan Tuhan, bisa ditolak.

Argumen lebih kuat untuk mengutamakan ketuhanan di atas kemanusiaan, barangkali, adalah proporsi. Benar bahwa terjadi penyimpangan dalam proporsi kecil, misal oleh teroris, di bawah 1%. Di sisi lain, lebih 99% orang yang mengutamakan ketuhanan, terbukti, berperilaku baik secara moral mau pun legal. Tidak masuk akal bila penyimpangan 1% membatalkan kebaikan yang 99% itu. Apa lagi, di dunia nyata, tidak ada praktek yang 100% ideal. Justru, karena lebih 99% menunjukkan perilaku yang baik maka kita harus menerima bahwa mengutamakan ketuhanan di atas kemanusiaan adalah sah.

Argumen proporsi ini berhasil menjustifikasi pengutamaan ketuhanan di atas kemanusiaan. Tetapi, argumen ini tidak berhasil menolak alternatif kebalikannya. Maksudnya, argumen proporsi tidak berhasil menolak bahwa kemanusiaan lebih utama dari ketuhanan. Karena itu, kita perlu mengkajinya. Apakah alternatif lain bisa ditolak atau, justru, harus diterima juga?

2. Manusia Utama

Apa pun yang kita pikirkan pasti bersifat manusiawi. Maka manusia adalah yang paling utama.

Bahkan keyakinan kita tentang Tuhan pun bersifat manusiawi. Maksudnya, keyakinan itu adalah keyakinan oleh seorang manusia. Jika tidak ada manusia maka tidak ada keyakinan tentang Tuhan – oleh manusia. Jadi, pada analisis akhir, manusia adalah yang paling utama.

Demikian juga, pengetahuan kita tentang alam raya juga bersifat manusiawi. Sains dan teknologi berkembang karena budaya manusia yang terus berkembang. Semua kemajuan adalah hasil perkembangan manusia. Bagaimana dengan perusakan alam oleh manusia? Bagaimana dengan kekejaman manusia? Bagaimana dengan keserakahan manusia? Apakah manusia bisa menjadi yang paling utama? Bukankah manusia itu jahat dan serakah?

3. Kejahatan Manusia

Sudah jelas bahwa manusia bertanggung jawab atas kejahatan manusia. Umat beragama meyakini bahwa Tuhan Maha Baik. Sedangkan, segala kejahatan adalah karena kesalahan manusia sendiri. Orang ateis, di sisi lain, meyakini kejahatan adalah benar-benar tanggung jawab manusia itu sendiri.

Justru sebagian ateis berargurmen bahwa kejahatan menunjukkan bukti jelas bahwa Tuhan Maha Baik itu tidak ada. Jika benar bahwa ada Tuhan Maha Baik maka Tuhan bisa mencegah kejajahatan dan menggantinya dengan kebaikan bagi seluruh semesta. Karena kejahatan nyata-nyata ada maka kebalikannya yang benar. Mereka memang, karena itu, ateis.

Tentu saja, orang ateis tidak akan mengutamakan ketuhanan. Mereka tidak percaya Tuhan. Mereka mengutamakan kemanusiaan. Kita tahu, tidak sedikit manusia yang jahat. Bagaimana kita bisa mengutamakan kemanusiaan?

4. Tanggung Jawab Semesta

Siapa yang bertanggung jawab menjaga kelestarian alam raya?

Manusia bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam. Bahkan manusia bertanggung jawab untuk mengembangkan alam. Siapa lagi yang harus bertanggung jawab jika bukan manusia? Tetapi, banyak manusia yang justru merusak alam. Kemajuan teknologi makin canggih, misal bom nuklir, justru mengancam alam semesta.

Tuhan, tentu, dengan mudah bisa menjaga kelestarian alam raya. Jika Tuhan sepenuhnya menjaga kelestarian alam raya, lalu, apa tugas manusia?

Memang Tuhan, di satu sisi, tetap menjaga kelestarian alam. Di sisi lain, manusia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kelestarian alam. Karena, tanpa beban tanggung jawab ini, justru manusia tidak punya arti hidup di dunia.

Demikian juga ketika ada orang-orang jahat yang justru merusak alam. Maka perilaku jahat seperti itu adalah tantangan yang harus ditaklukkan oleh pelaku itu sendiri dan oleh masyarakat luas. Tantangan ini yang memberikan makna bagi kehidupan manusia.

5. Teman Dialog

Tuhan berdialog dengan manusia. Manusia berdialog dengan Tuhan. Manusia dan Tuhan adalah teman dialog.

Nabi Ibrahim adalah teman dialog Tuhan. Dan, tentu saja, Tuhan adalah teman dialog Ibrahim. Kita tahu Ibrahim adalah bapak semua agama samawi: Yahudi, Kristen, dan Islam. Predikat sebagai teman dialog yang baik adalah predikat tertinggi. Umat manusia perlu meneladani Ibrahim untuk menjadi teman dialog Tuhan.

Al Ghazali (1058 – 1111) menyatakan bahwa bila seseorang mampu mengendalikan diri dalam ekstase jatuh cinta kepada Tuhan maka akan muncul kesadaran baru yang lebih tinggi. Umumnya, orang akan menyebut, “Dia adalah Tuhan.” Tuhan terasa jauh di sana, transenden. Kesadaran baru yang lebih tinggi akan mengatakan, “Aku adalah Tuhan.” Tuhan hadir begitu dekat di dalam diri ini, imanen. Kesadaran lebih tinggi lagi akan mengatakan, “Engkau adalah Tuhan.” Tuhan selalu hadir di hadapan kita sebagai teman dialog, transenden dan imanen.

Ribuan tahun yang lalu, Ibrahim berdialog dengan Tuhan. Di jaman sekarang, apakah manusia masih bisa berdialog dengan Tuhan? Tentu saja bisa. Bahkan ada banyak cara untuk berdialog. Berikut, kita akan membahas beberapa cara dialog bersama Tuhan.

Sunan Kalijaga (1460 – 1513) mengingatkan kita bahwa ada resiko-resiko dalam dialog. Kalijaga menulis “Suluk Linglung” yang menggambarkan bagaimana proses dialog berlangsung. Pertama, kata “suluk” menunjukkan bahwa dialog adalah proses yang perlu dijalani oleh masing-masing diri manusia. Dialog ini bukan sekedar teori yang bisa diajarkan. Tetapi, dialog adalah proses perjalanan yang perlu dijalani dan direnungi.

Kedua, kata “linglung” menunjukkan suatu momen yang menjadikan logika bingung. Logika lama tidak bisa dipaksakan pada momen ini, linglung. Ada logika baru dalam momen dialog penting ini. Tentu saja, setelah kejadian, kita bisa merenungkan kembali momen-momen dialog sehingga memperoleh pemahaman dan formulasi lebih rapi.

5.1 Doa
5.2 Mimpi
5.3 Ilham
5.4 Alam Raya
5.5 Wujud

Kita boleh menolak penyataan, “Segalanya adalah Tuhan.” Tetapi, kita bisa menerima pernyataan, “Tuhan adalah segalanya.” Barangkali, kita bisa mengenang masa-masa jatuh cinta dengan merayu kekasih, “Engkau adalah segalanya.” “You are my everything.”

Tuhan adalah segalanya. Termasuk, Tuhan adalah teman dialog kita. Kapan saja, di mana saja, di setiap saat, di setiap tempat.

Manusia Tidak Bisa Mati

Meski manusia ingin mati, dia tidak bisa mati. Manusia tidak bisa mati. Karena, ketika mati datang, manusia tidak lagi jadi manusia. Badan manusia berubah menjadi mayat, bukan lagi manusia. Jiwa manusia, setelah mati, tidak lagi jadi manusia. Jiwa adalah jiwa itu sendiri atau arwah atau ruh. Atau, justru dia adalah manusia sejati?

Seorang manusia, misalnya Anda, tidak bisa mati. Ketika Anda ada maka tidak mati. Ketika mati tiba maka Anda tidak ada. Diri Anda dan kematian tidak pernah bersama-sama.

Bukankah setiap manusia pasti mati?

Benar saja, pengamatan kita menunjukkan bahwa setiap manusia, pada waktunya, pasti mati. Semua orang yang pernah hidup di masa lalu, akhirnya, mati. Barangkali, kita masih bisa menemukan orang berumur 100 tahun meski jarang. Tetapi, kita nyaris tidak akan bisa menemukan orang yang berumur 200 tahun saat ini. Artinya, orang-orang yang lahir 200 tahun lalu, atau yang lebih lama, semuanya sudah mati. Setiap manusia pasti mati.

1. Paradox Mati
2. Setelah Mati
3. Siap Mati

Pertama, mati memang paradoks. Membingungkan, bahkan menakutkan. Mati adalah akhir kehidupan, di saat yang sama, adalah awal kehidupan. Ketika manusia lahir, sudah dipastikan dia pasti akan mati. Hanya dibentangkan waktu dari lahir sampai mati, pasti. Mati bisa terjadi berkali-kali: mati sebelum mati.

Kedua, apa yang terjadi setelah mati? Tentu saja sulit menjawabnya. Karena, setiap orang yang sudah mati tidak pernah kembali ke sini untuk berbagi informasi. Kaum materialis, barangkali, meyakini setelah mati tidak ada kehidupan. Hati kecil terdalam kita mengharuskan bahwa ada kehidupan setelah mati. Agama-agama besar dunia mengajarkan adanya realitas kehidupan setelah mati, alam kubur dan akhirat. Para pemikir besar dunia juga mengajarkan bahwa realitas kehidupan setelah mati lebih nyata dari kenyataan itu sendiri.

Ketiga, apa yang perlu kita siapkan menghadapi kematian? Kita bisa melupakan kematian, toh, kematian tetap datang. Kita bisa bersiap-siap menghadapi kematian, toh, siap atau tidak siap, kematian tiba-tiba datang. “Dan janganlah kamu mati kecuali kamu dalam keadaan selamat.”

1. Paradox Mati
2. Setelah Mati

3. Siap Mati

Bagaimana pun, dalam hidup ini, kita perlu bersikap terhadap kematian. Kita bisa memilih untuk melupakan kematian. Atau, kita justru bisa memilih untuk terus ingat kematian. Dan, kita bisa bervariasi antara lupa dan ingat mati. Lebih penting dari itu, apa sikap kita selanjutnya? Hidup menjadi bermakna karena ada mati. Hidup menjadi bermakna karena ada batas waktu. Hidup menjadi bermakna karena ada batas kesempatan. Hidup menjadi bermakna karena serba terbatas.

Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup Anda maka apa yang akan Anda kerjakan? “Dan janganlah kamu mati kecuali kamu dalam keadaan selamat.”

3.1 Melupakan Kematian

Sikap paling mudah bagi manusia adalah melupakan kematian. Kemudian menjalani kesibukan hidup yang tidak ada habisnya. Sibuk kerja, berkarya, pesta pora, doa, dan sibuk apa saja asal bisa untuk melupakan datangnya ajal. Di tengah kesibukan seperti itu, kita bisa lupa mati. Tetapi, mengapa kadang-kadang masih ingat mati juga?

3.11 Sibuk Kerja
3.12 Sibuk Karya
3.13 Sibuk Pesta
3.14 Sibuk Doa
3.15 Sibuk Apa Saja

3.2 Mengingat Kematian

Mengingat mati merupakan sikap yang lebih baik bagi kita. Dengan ingat mati segalanya menjadi penuh arti. Mati adalah jalan pasti bagi kita untuk menempuh perjalanan lebih jauh, lebih hakiki. Mati adalah perpindahan alam masa kini menuju alam nanti – pertemuan masa depan, masa lalu, dan masa kini. Selanjutnya, setelah ingat mati, kita menjalani hidup penuh arti. Sibuk kerja adalah cara kita memberi manfaat kepada kehidupan dan mengumpulkan bekal kematian. Doa adalah penguat kehidupan dan cahaya kematian. Hidup adalah langkah-langkah perjalanan dalam bentangan sajadah panjang kematian.

3.21 Memaknai Mati
3.22 Memaknai Hidup
3.33 Menjalani

Erick Thohir for President 2024

Angin segar bertiup sejuk di Bandung. Beberapa poster besar terpasang berisi dukungan,” Erick Thohir for Presiden 2024.” Apakah Anda setuju? Saya beberapa kali melihatnya di kawasan Setiabudi, Sukajadi, dan Sarijadi kota Bandung.

Pilpres 2024, pemilihan umum presided RI 2024, merupakan kegiatan politik besar bagi Indonesia. Semoga berjalan lancar, damai, dan sukses.

Nama Erick menyegarkan bursa capres 2024, yang belum resmi dimulai. Nama Erick melambung tinggi belum lama ini. Erick sukses menyelenggarakan Asian Games beberapa tahun lalu. Dia sukses menjadi ketua tim kampanye Jokowi 2019 (dan mengantarkan Jokowi menjadi presiden periode 2). Saat ini, Erick menjabat menteri BUMN yang makin terkenal dengan video GRATIS toilet SPBU itu.

Sebelumnya, kita sudah mengenal banyak nama capres 2024 potensial. Sebut saja Prabowo, Anies, Ganjar, Puan, Emil, AHY, dan jangan lupa, Ma’ruf Amin, Gibran putra Jokowi, dan Bobby menantu Jokowi.

Kemunculan nama Erick Thohir memberi warna ceria di antara nama-sama yang sudah ada.

Pembeda Capres

Apa yang membedakan di antara banyak nama capres 2024 itu?

Saya sulit menjawabnya. Karena, kita sulit menemukan perbedaan esensial di antara mereka. Hanya ada sedikit benyak perbedaan namun tidak terlalu signifikan terhadap pencalonan presiden.

Mereka semua, capres-capres itu, berasas dan ber-ideologi Pancasila. Demikian juga, kelak, partai pengusung capres juga ber-ideologi Pancasila. Perhatikan, bandingkan, misalnya dengan capres US (Amerika). Di antara capres US pasti beda ideologi dan program prioritasnya. Capres dari Republik, misal Trump, berpandangan konservatif-kanan-individualis. Maka program dari Trump cenderung mengurangi pajak agar para kapitalis (individualis) bisa lebih bebas berkreasi dalam bisnis. Dalam urusan agama, Trump mendukung program-program konservatif.

Sementara capes Demokrat, misal Biden, berpandangan progresif-kiri-sosialis. Maka program Biden akan cenderung menambah pajak bagi perusahaan besar agar dana yang terkumpul bisa disalurkan untuk mendukung orang-orang kecil. Dalam urusan agama, Biden cenderung mendukung gerakan progresif.

Saya mengusulkan, untuk pilpres Indonesia, “Prioritas Pancasila sebagai Pembeda.”

Prioritas Pancasila

Dalam Pancasila, kita memiliki 5 sila. Para capres dan parpol bisa memilih prioritas dari sila Pancasila ini. Sehingga, rakyat pemilih bisa membedakan capres berdasar prioritas mereka.

Berikut ini, kita berandai-andai membuat prioritas bagi capres dan parpol.

Erick bisa prioritas Keadilan (Sila 5). Sebagai menteri BUMN, Erick mendorong BUMN untuk lebih maju, profesional, dan mendukung kemajuan wong cilik melalui program UMKM. Erick, di beberapa kesempatan, berkunjung langsung ke pedesaan, mendukung kemajuan desa dan koperasi-koperasi.

Prabowo bisa prioritas Persatuan (Sila 3). Sebagai menteri pertahanan, Prabowo menjaga persatuan dan kesatuan negeri ini. Pengalamannya sebagai tentara menjadi bekal yang memadai untuk menjaga kewibawaan Indonesia di dunia internasional. Di dalam negeri, Prabowo menguatkan solidaritas seluruh warga untuk membangun negeri.

Anies bisa prioritas Ketuhanan (Sila 1). Sebagai gubernur DKI, Anies mendapat dukungan dari berbagai kalangan agamawan. Di saat yang sama, Anies berhasil menampilkan diri sebagai tokoh yang sangat peduli dengan agama. Dengan demikian, Anies bisa membangun negeri ini dengan nilai-nilai agama yang luhur.

Dengan contoh sederhana di atas, rakyat pemilih bisa membedakan capres Erick, Prabowo, atau Anies. Lagi pula, prioritas ini kemudian dijabarkan menjadi “program nyata” capres sampai detil. Sehingga, program para capres menjadi jelas dan tidak bisa saling dipertukarkan. Maksudnya, program Erick tidak bisa dijalankan oleh Prabowo dan program Anies tidak bisa dijalankan oleh Erick.

Bagi capres dan parpol yang menganggap bahwa seluruh 5 sila adalah sama-sama prioritas maka sama artinya dengan tidak punya prioritas. Rakyat pemilih perlu edukasi untuk tidak memilih capres dan parpol yang tidak punya prioritas. Rakyat pemilih didorong untuk memilih capres sesuai hatinya dengan mempertimbangkan program prioritas mereka.

Tentu saja, prioritas Pancasila ini bersifat terbuka, inklusif. Ketika seorang capres mem-prioritaskan Kemanusiaan (Sila 2), maka, 4 sila lainnya tetap menjadi asas dan dasar. Hanya saja, 4 sila yang lain berada di bawah naungan sila paling utama.

Dengan demikian, rakyat pemilih memiliki pembeda yang jelas di antara capres. Bagi capres, mereka punya tanggung jawab untuk menjalankan prioritas guna memajukan negeri ini.

Bagaimana menurut Anda?

Cahaya Sains Membutakan

Cahaya adalah yang paling sempurna. Cahaya begitu mempesona. Cahaya, dalam segala suasana, tetap bercahaya. Tetap bersinar. Dalam sukses, cahaya bersinar. Dalam kesulitan, cahaya tetap bersinar. Dalam suka atau duka, cahaya lagi-lagi, tetap bersinar. Dan kita, manusia, adalah cahaya di antara cahaya-cahaya.

Warna-warni cahaya menambah indahnya pesona cahaya. Pelangi menambah langit lebih berseri. Setiap warna, mereka, berbeda frekuensi. Mereka saling mengisi dalam harmoni masa lalu, masa kini, dan masa depan nanti.

Setiap ilmu adalah cahaya. Setiap pengetahuan adalah cahaya. Sains adalah cahaya. Sains telah berhasil menerangi peradaban manusia. Sains mendorong lahirnya teknologi – sampai teknologi informasi. Kita bisa menikmati kemajuan sains sampai pelosok bumi.

Tetapi cahaya sains bisa membutakan mata. Sehingga menggelapkan jiwa manusia. Peradaban hancur lebur akibat sains dan teknologi. Moral tersisih ke sudut yang sepi. Manusia saling memangsa demi birahi. Tirani tidak bisa lagi berhenti. Semuanya, akibat dari sains dan teknologi.

Bagaimana pun, kita bisa mengembalikan sains sebagai cahaya yang menerangi kemanusiaan. Kita bisa bergandeng tangan memanfaatkan sains untuk kebaikan bersama. Tentu, bukan tugas mudah. Tetapi, tugas besar kita sebagai umat manusia.

1. Revolusi Sains

2. Filosofi Positif
2.1 Filosofi August Comte
2.2 Filosofi Schelling

2.3 Filosofi Negatif

3. Esensi Teknologi
4. Induksi Falsifikasi

5. Sains Tanpa Filosofi
5.1 Efisiensi
5.2 Pertumbuhan Ekonomi
5.3 Penguatan Birahi

6. Sains Murni Suci
6.1 Sains Manusiawi
6.2 Sains Semestawi
6.3 Sains Filosofi

7. Dinamika Sains: Tiada Henti