Moral: Freedom vs Marriage

Moral menjadi masalah penting di berbagai situasi. Negara yang moralnya tinggi maka akan maju. Mampu mengatasi beragam kesulitan. Sementara, negara yang moralnya roboh maka akan compang-camping. Kita, negara Timur sering mengaku sebagai bangsa yang bermoral luhur. Tetapi kenyataan bisa saja berbeda. Korupsi masih ada di mana-mana. Bahkan menteri sosial, yang seharusnya menunjukkan moral paling tinggi, justru ditangkap KPK dengan jeratan kasus korupsi. Bukan korupsi sembarangan. Tetapi korupsi dana bantuan untuk warga yang terdampak pandemi. Teganya melihat warga miskin yang kelaparan. Apakah masih ada istilah moral di sana?

Two international samples used for large-scale study of gender differences  in moral judgments within cultures

Freedom, kebebasan, menjadi dasar utama bagi manusia untuk bermoral. Manusia bebas bertindak maka ia harus bertanggung jawab terhadap hasil tindakan itu. Pilihan yang bermoral akan memberikan kebaikan bagi semua. Bahkan tindakannya itu sendiri, tindakan bermoral, adalah kebaikan – kebenaran dan keadilan. Amerika, negara yang mengaku menjunjung tinggi kebebasan, menghadapi resiko kebebasan itu. Aksi demonstrasi ke gedung Capitol mengatasnamakan kebebasan berdemokrasi menelan korban tewas sekitar 5 orang. Atas demonstrasi itu, Presiden Trump terancam dilengserkan di akhir masa jabatannya. Kebebasan, yang menjadi modal dasar manusia untuk bermoral, bisa salah arah.

Marriage, pernikahan, adalah ikatan suci antara manusia sejak awal sejarah kita, kini dipertanyakan. Apakah umat manusia saat ini masih perlu pernikahan? Beberapa orang, dikabarkan, sudah menikah dengan boneka. Tuntutan untuk diakuinya pernikahan sesama jenis kelamin merebak di beberapa tempat. Kekerasan dalam rumah tangga tidak menunjukkan perbaikan. Tetapi jelas, sepanjang sejarah manusia, kita membutuhkan pernikahan. Manusia hidup damai dalam pernikahan. Keluarga bahagia terbentuk dalam pernikahan. Kelangsungan generasi manusia terjaga oleh lembaga pernikahan. Apakah di satu sisi ada jenis pernikahan yang bermoral dan di sisi lain ada pernikahan yang tidak bermoral?

Saya akan mencoba membahas tiga tema di atas – moral, freedom, marriage – dalam tulisan ini dengan cara kritis. Analisis rasional akan menjadi alat utama tulisan ini. Kita akan tetap terbuka dengan data alternatif misal emosi, pengalaman pribadi, opini, ajaran agama, juga prediksi teknologi. Tidak bisa dipungkiri, teknologi sudah mengubah cara hidup manusia. Media sosial bisa lebih kuat dari kehidupan sosial itu sendiri. Generasi muda menghabiskan waktu lebih banyak menatap layar digital dibanding menatap realitas alam raya. Boneka cantik lebih sempurna dari tubuh manusia. Bayi yang baru merangkak lebih akrab dengan gadget daripada dengan tetangga. Masa depan lebih banyak tanda tanya. Maka kita makin membutuhkannya: moral!

Berikut ini beberapa tema yang kita bahas.

  1. Moral: Peta yang Salah Arah
  2. Freedom: Kebebasan yang tidak Bebas
  3. Marriage: Ikatan Paling Lemah Paling Indah
  4. Masyarakat Berbasis Pernikahan
  5. Sistem Patriarki: Bos Lawan Budak
  6. Pemujaan Jagoan, Kesederhanaan, dan Dosa
  7. Etika Agama
  8. Cinta Romantis
  9. Kebebasan Wanita
  10. Tabu
  11. Peran Cinta dalam Hidup Manusia
  12. Pernikahan dan Anak
  13. Prostitusi
  14. Pernikahan Uji Coba
  15. Keluarga Abad 21
  16. Keluarga dalam Psikologi Pribadi
  17. Keluarga, Pendidikan, dan Negara
  18. Perceraian
  19. Populasi
  20. Eugenik
  21. Sex dan Kebahagian Individu
  22. Sex dan Nilai Kemanusiaan
  23. Kesimpulan

Epilog: Sejarah Manusia Menuju Retakan

Waktu dan Ruang Hanya Angan

Tidak masalah jika waktu dan ruang itu hanya angan-angan. Yang jadi masalah adalah jika uang hanya ada di angan-angan. Uang harus nyata untuk membiayai kehidupan nyata. Bukankah begitu? Benar begitu dari sisi praktis. Dari sisi yang lebih mendalam, banyak hal yang kita pelajari dari ruang dan waktu, lebih-lebih, dari uang itu sendiri.

Image | Massive Bodies Warp Space-Time | LIGO Lab | Caltech

Masalah ruang dan waktu, space time, sudah menyusahkan para pemikir dari awal sejarah sampai jaman kontemporer, postmodern ini. Beberapa pemikir menyatakan bahwa ruang waktu ada secara obyektif. Umumnya saintis meyakini ini. Newton termasuk yang dengan canggih mengolah ruang dan waktu menjadi sains dan teknologi. Berikutnya, Einstein melakukan beragam inovasi tentang ruang dan waktu dengan teori relativitas yang memungkinan melengkungkan, membelokkan, ruang dan waktu. Waktu obyektif ini disebut sebagai waktu ilmiah oleh Bang Armahedi Mahzar.

Sementara beberapa tokoh menyebut waktu dan ruang hanya bersifat subyektif – atau intersubyektif. Bang Armahedi menyebutnya sebagai waktu sejarah. Perkembangan teknologi yang makin canggih serba cepat memungkinkan pemanfaatan waktu sampai mikro atau nano detik sehingga kita bisa menyebutnya sebagai waktu teknologis. Ketika semua hal, manusia dan teknologi, terhubung melalui dunia siber, dunia internet, dunia digital, maka makin lengkap membentuk waktu mayantara.

1. Waktu Benar Nyata
2. Waktu Hanya Ilusi
3. Waktu Ada Secara Derivatif

Kali ini kita akan lebih fokus kepada eksistensi ruang dan waktu: apakah benar-benar ada? Atau sekedar hanya di angan-angan belaka?

1. Waktu Benar Nyata

Waktu dan ruang benar-benar ada bagi para saintis, ilmuwan, seperti kita sebut di atas. Bahkan, menurut Russell, sains dan teknologi bisa menciptakan lebih banyak ruang dan waktu. Lebih dari sekedar ruang berdimensi 3 ditambah waktu berdimensi 1. Saya menduga bahwa Russell merujuk ke Hilbert Space yang mampu menciptakan ruang vektor berdimensi n, yang lebih besar dari 4.

Tetapi, keyakinan bahwa ruang dan waktu ada secara obyektif ini menghadapi pertanyaan berat yang sulit dijawab.

Jika waktu ada maka sejak kapan ada waktu?
Jika ruang ada maka berada di mana ruang itu?

Saintis. tampaknya, tidak berminat menjawab pertanyaan berat itu. Pun bukan tugas ilmuwan untuk menjawabnya. Barangkali tugas para filosof untuk menjawab dengan baik. Tugas ilmuwan adalah mengolah ruang dan waktu agar menjadi sesuatu yang bermanfaat optimal bagi kemanusiaan.

Kita, dalam kehidupan sehari-hari, dengan mudah meyakini adanya ruang dan waktu. Kita biasa membeli air 1 liter yang disimpan dalam botol di ruang depan. Kita biasa membuat janji bertemu 3 hari setelah hari ini dengan waktu yang sama.

2. Waktu Hanya Intuisi

Immanuel Kant, pemikir abad 18, menyatakan bahwa waktu adalah hanya intuisi manusia. Maka waktu tidak ada secara obyektif. Demikian juga dengan ruang juga hanya intuisi manusia. Kita bisa merujuk ke Parmenides, pemikir abad 6 sebelum masehi, yang menyatakan bahwa semua opini, termasuk ruang dan waktu, sejatinya tidak ada.

Kant menyatakan bahwa ruang adalah intuisi kita tentang geometri. Ketika kita memikirkan “persegi” maka intuisi kita menciptakan suatu ruang yang ditempati oleh “persegi.” Kita tidak bisa membayangkan “persegi” tanpa ruang. Sedangkan bila kita melihat “meja berbentuk persegi” maka “ruang” adalah dampak perluasan dari “meja” itu. Ruang sejatinya tidak ada, hanya dampak dalam intuisi kita.

Sedangkan, waktu adalah intuisi kita tentang aritmetika, masih menurut Kant. Ketika kita menghitung 1 + 2 = 3 maka kita menciptakan waktu dalam intuisi untuk memproses perhitungan. Waktu sejatinya tidak ada, hanya intuisi kita. Jadi waktu, dan ruang, hanya subyektif.

Meski ruang dan waktu hanya intuisi tetapi pengalaman sehari-hari kita tentang tempat dan jam tetap sah. Pengalaman sehari-hari itu adalah realitas intuisi kita. Barangkali, orang bisa mengatakan bahwa ruang dan waktu hanya ilusi.

3. Waktu Ada Secara Derivatif

Sadra, pemikir Persia abad 17, menyatakan bahwa ruang dan waktu tidak ada secara mandiri. Tetapi ruang dan waktu hanya turunan, derivatif, dari “gerak substansial.” Martin Heidegger, pemikir Jerman abad 20, menyatakan bahwa “waktu” dan “ada” saling memberi, appropriation.

Saya kira rumusan Sadra tentang ruang dan waktu sangat kreatif. Sadra memulai dengan formula “gerak substansial”. Segala sesuatu yang ada, suatu substansi, senantiasa bergerak dari suatu tingkat wujud menuju ke tingkat wujud yang lebih kuat. Sejatinya, yang ada adalah gerak itu sendiri. Maka gerak menciptakan efek waktu dan ruang dalam intuisi manusia.

Ketika suatu substansi, misal sepeda, bergerak maka intuisi kita menyatakan perlu “waktu” untuk proses gerak itu. Demikian juga, gerak, memerlukan ruang untuk perpindahan. Maka ruang dan waktu benar-benar ada. Tetapi tidak mandiri, hanya ada karena ada gerak substansial.

Contoh gerak sepeda di atas adalah gerak aksidental. Tetapi kita bisa menganalisis lebih dalam bahwa gerak aksidental ini juga berakar dari gerak substansial.

Bagaimana menurut Anda?

Mati: Misteri Manusia Sejati

Kabar duka. Kematian orang yang dicinta selalu menghujam, terdalam, ke diri manusia. Baru-baru ini, kita mendapat kabar kecelakaan pesawat Sri Wijaya yang menewaskan puluhan orang. Duka untuk seluruh warga.

Salah satunya, seorang bapak, bernama Dedi sebutan, yang sudah siap menunggu di bandara pontianak sejak siang. Dari pagi, Pak Dedi bersiap menjemput kedatangan istri dan 3 anaknya dari Jakarta. Siang hari, Pak Dedi bersenda gurau, bahagia, melalui WA keluarga. Sore harinya, Pak Dedi menunggu dan hanya menunggu di bandara Pontianak. Istrinya dan 3 orang anaknya terbang bersama Sri Wijyaya dari Jakarta. Kecelakaan di udara. Meninggal semua. Hanya air mata yang tak reda, Pak Dedi di bandara. Tidak punya siapa-siapa. Seluruh keluarga telah tiada.

70+ Kata Ucapan Belasungkawa | Sopan, Bijak, Singkat, Menyentuh Hati  [Lengkap] | Kata-kata mutiara, Katolik, Bijak

Mati adalah misteri manusia sejati.

Mati dengan cara yang wajar, misal kerena sudah tua, tetap menembus ke hati. Apa lagi mati yang tidak diharapkan, misal karena kecelakaan atau wabah penyakit, tentu makin menusuk nurani.

Tetapi itu semua, kita melihat dari sisi orang yang hidup. Dari sisi orang yang ditinggal mati. Bagaimana mati jika dilihat dari sisi orang yang mengalami sendiri? Bagaimana jika diri kita yang mati?

Manusia sejati

Manusia sejati pasti mati. Mati adalah eksistensi sejati yang dimiliki manusia sejati. Begitu menurut pendapat Martin Heidegger, pemikir Jerman abad 20. Kita bisa pura-pura kaya, pura-pura bahagia, pura-pura terpesona. Kita juga bisa pura-pura menderita, pura-pura kecewa, dan pura-pura putus asa. Tetapi kita tidak bisa pura-pura mati. Pada waktunya pasti mati secara hakiki.

Data empiris menunjukkan bahwa setiap orang di masa lalu, akhirnya, mati. Orang-orang di jaman sekarang dan masa datang juga diperkirakan akan mati. Meski ini hanya perkiraan, dari berpikir induksi, tetapi kepastiannya hampir pasti benar. Kita akan mati. Tidak ada bukti kuat yang menyatakan bahwa kita tidak akan mati.

Mati adalah sempurna sejati

Dari sisi orang yang ditinggalkan, mati adalah duka. Dari sisi orang yang mengalami, orang yang mati, kematian adalah kesempurnaan. Demikian menurut Sadra, pemikir Persia abad 17. Ketika kita mati bukan berarti kita hilang dari alam semesta. Mati justru mengantarkan kita ke alam yang lebih sempurna. Jiwa kita, ruh kita, bergerak lebih sempurna dengan mengalami kematian badan. Melepaskan badan di dunia ini untuk terus melanjutkan perjalanan diri yang masih panjang.

Orang yang bersiap menghadapi mati, menyiapkan amal terbaik dengan modal yang ada adalah manusia sejati menurut Heidegger. Sebaliknya, orang yang melupakan kematian, menyibukkan diri dengan dunia, memenuhi urusan ini itu dari pagi sampai malam, justru termasuk munafik – tidak otentik. Untuk jadi manusia sejati kita harus selalu sadar bahwa kita sedang menuju mati, memberikan yang terbaik untuk seluruh eksistensi kita.

Konsep husnul khotimah, akhir yang sempurna, adalah ajaran terbaik dari Nabi Muhammad, Nabi abad 7, yang mengajak umat manusia untuk secara sengaja menyiapkan diri meraih kematian yang sempurna. Demikian menurut Pak Muh Zuhri, pemikir Indonesia abad 21. Semua gerak kita, diam kita, tidur kita, kita arahkan untuk meraih husnul khotimah.

Mati lebih dari sekali

Bahkan kita, sejatinya, membutuhkan mati lebih dari sekali. Kita butuh mati berkali-kali. Menjadi manusia sejati berkali-kali. Demikian menurut Rumi, pemikir Timur abad 12. Matilah sebelum mati. Tentu saja bukan mati fisik. Tetapi matinya ego untuk hidup kembali menjadi manusia sejati.

Kita membutuhkan pemimpin yang telah “mati,” pemimpin yang telah selesai dengan dirinya. Pemimpin yang tidak lagi memikirkan kepentingan pribadi. Tidak pernah ada korupsi. Pemimpin yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk mengabdi ke rakyat. Memberikan pemikiran dan kebijakan terbaik untuk seluruh rakyat.

Pemimpin idaman itu ada di sana, di kursi para pejabat dan penguasa dunia. Tetapi kita lebih dari itu. Kita butuh pemimpin itu ada di sini. Di dalam diri kita ini. Kita butuh pemimpin ini, di sini, di saat ini. Pemimpin itu adalah diri kita sendiri. Yang menuju mati. Yang diharapkan sudah mati sebelum mati.

Bagaimana menurut Anda?

Komnas HAM Vs Maha Benar

Baru-baru ini Komnas HAM telah mengumumkan hasil investigasi terkait tewasnya 6 orang laskar yang ditembak di sekitar rest area tol Jabar. Komnas HAM menyatakan 4 orang di antara 6 itu ditembak dengan kemungkinan terjadi pelanggaran HAM. Maka diperlukan pengadilan pidana untuk mengungkap lebih jelas pelanggaran HAM (atau tidaknya).

Mengungkap pelanggaran HAM semacam itu tidak mudah atau bahkan hampir mustahil. Lyotard, pemikir postmodern, memberikan penjelasan yang lebih detil tentang kasus yang mirip dalam buku The Differend.

Anggota tim penyidik Bareskrim Polri memperagakan adegan saat rekonstruksi kasus penembakan enam anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) di Karawang, Jawa Barat, Senin (14/12/2020) dini hari. Rekonstruksi tersebut memperagakan 58 adegan kasus penembakan enam anggota laskar FPI di tol Jakarta - Cikampek KM 50 pada Senin (7/12/2020) di empat titik kejadian perkara. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/aww.

Untuk mudahnya kita memisalkan ada Tuan Kritis yang serba benar atau bahkan dia menyebut dirinya Maha Benar. Sekitar pertengahan abad 20, Nazi dituduh menyiksa orang dengan menyediakan kamar gas. Orang yang dimasukkan ke kamar gas maka akan mati. Maka, itu adalah pelanggaran HAM. Bagaimana cara membuktikan pelanggaran HAM itu? Mustahil!

Tuan Kritis hanya mau mengakui keberadaan kamar gas itu bila ada saksi mata dari korban. Sedangkan setiap korban yang masuk ke dalam kamar gas pasti mati. Maka Tuan Kritis akan selalu benar.

A)Tidak ada kamas gas maka tidak ada korban. Sehingga tidak ada saksi mata dari korban.

B)Ada kamar gas maka semua korban mati karena masuk kamar gas. Sehingga tidak ada saksi mata dari korban.

Jadi, Tuan Kritis akan selalu menang. Ada kamar gas atau tidak akan tetap saja tidak ada saksi mata. Karena itu disimpulkan tidak ada kamar gas. Tentu saja hal ini tidak adil. Tetapi situasi semacam ini bisa saja terjadi. Mengapa tidak cari saksi lain, misal petugas pembuat kamar gas, untuk bersaksi? Apakah petugas mau bersaksi yang bisa merugikan diri sendiri? Apakah kesaksian petugas dinilai valid?

Tuan Kritis bisa saja menganalisis kemungkinan pelanggaran HAM terhadap 4 orang laskar yang ditembak. Tuan Kritis hanya percaya bila ada saksi mata dari korban.

A)Tidak ada pelanggaran HAM maka tidak ada korban penembakan. Sehingga tidak ada saksi mata dari pelanggaran HAM.

B)Ada pelanggaran HAM maka korban ditembak. Sehingga tidak ada saksi mata dari pelanggaran HAM.

Tuan Kritis menang lagi dalam situasi ini. Apakah ada pelanggaran atau tidak, maka tetap saja, tidak akan ada saksi mata dari korban. Sehingga Tuan Kritis menyimpulkan tidak ada pelanggaran HAM dalam kasus seperti itu.

Tentu saja kita perlu berjuang untuk menemukan keadilan sejati. Jalan panjang harus ditempuh negeri ini. Barangkali ada banyak cara untuk menjamin negeri ini mencapai adil makmur. Kondisi selalu benar dari Tuan Kritis perlu kita kritisi.

Tuan Kritis bisa kita tanya, “Apakah pendidikan Indonesia bertambah baik?”

Tuan Kritis bisa menjawab dengan benar bahwa pendidikan di Indonesia kualitasnya terus bertambah baik. Tuan Kritis mengambil contoh pendidikan SMA atau sederajat. Dibuktikan dengan makin banyaknya siswa SMA Indonesia yang diterima di ITB. Bahkan fakultas paling favorit semisal STEI ITB. Peningkatan mahasiswa baru yang diterima STEI ITB adalah, menjadi 500an mahasiswa di tahun 2020 dari sekitar 400an mahasiswa beberapa tahun sebelumnya.

A)Ada peningkatan kualitas pendidikan maka yang diterima di STEI ITB meningkat jadi 500 mahasiswa. Sehingga ada bukti peningkatan.

B)Tidak ada peningkatan kualitas pendidikan maka yang diterima di STEI ITB meningkat jadi 500 mahasiswa. Sehingga ada bukti peningkatan.

Tuan Kritis menang lagi, benar lagi. Dia berhasil membuktikan bahwa ada peningkatan kualitas pendidikan SMA dengan menunjukkan makin meningkatnya jumlah siswa SMA yang diterima di STEI ITB menjadi 500 orang. Jumlah sebesar ini bahkan belum pernah terjadi pada tahun-tahun yang lalu. Ini adalah pencapaian yang luar biasa menurut Tuan Kritis.

Tentu saja kita bisa mengkritisi Tuan Kritis. Daya tampung STEI ITB tidak ada hubungannya dengan kualitas pendidikan SMA. Seperti apa pun kualitas pendidikan SMA maka kuota mahasiswa baru STEI ITB memang sudah ditetapkan 500 orang. Siswa SMA hanya perlu bersaing untuk memenangkan kursi mahasiswa baru yang tersedia.

Bagaimana menurut Anda?

Amar Makruf Nahi Munkar: Wajib untuk Semua

Siapa pun Anda, apa pun agama Anda, semua wajib menjalankan amar makruf nahi munkar. Bahkan orang yang tidak beragama pun, wajib melaksanakan amar makruf nahi munkar. Tapi bukankah itu ajaran untuk umat Islam saja? Benar! Ajaran amar makruf nahi munkar bersumber dari Islam tapi bernilai universal.

Amar makruf = mengajak kebaikan
Nahi munkar = mencegah keburukan

Barangkali ada yang keberatan bila setiap orang harus menjalankannya. Tetapi mudah kita pahami bahwa memang benar seharusnya setiap orang menjalankannya. Mari kita mulai dengan contoh agar lebih mudah.

Contoh amar makruf, amar ma’ruf, mengajak kebaikan: “Ayo bersikap adil!”

Siapa pun Anda harus bersikap adil. Bahkan kita perlu mengajak, mempromosikan sikap adil. Baik adil kepada diri sendiri, keluarga, negara, dan bahkan ke seluruh dunia. Negara menanggung beban besar untuk mewujudkan masyarakat adil untuk semua.

Contoh nahi munkar, nahi mungkar, nahy munkar, mencegah keburukan: “Jangan korupsi!”

Siapa pun Anda tidak boleh korupsi. Bahkan harus mencegah korupsi. Mengajarkan anti korupsi sejak dini. KPK punya tugas besar untuk mencegah dan menindak korupsi. Anggaran sekitar 1 trilyun rupiah per tahun, hanya untuk KPK. Belum lagi untuk polisi, hakim, dan lain-lain.

Kriteria makruf vs munkar

Pertanyaan dasar bisa muncul: apa definisi makruf dan munkar itu? Bila makruf seperti “bersikap adil” maka semua setuju untuk mendukungnya. Dan jika munkar seperti “jangan korupsi” maka semua setuju untuk mencegahnya. Bagaimana dengan sweeping restoran yang menjual minuman keras apakah itu termasuk nahi munkar? Apakah menyuruh wanita pakai cadar di tempat umum adalah amar makruf?

Kita bisa menjawab pertanyaan di atas dengan beragam cara. Menurut saya, salah satu jawaban terbaik adalah dari Immanuel Kant, pemikir abad 18 – 19. Kant merumuskannya dengan categorial imperative yang harus lolos dari 4 ujian penting. Bagi yang tidak lulus maka bisa masuk ke dalam conditional imperatif – perintah bersyarat atau tidak selalu wajib.

  1. Bisa dilakukan sepanjang waktu

Perintah kebaikan (amar makruf) dan mencegah keburukan (nahi munkar) harus bisa diterapkan sepanjang waktu. Sejauh orang-orang berakal dapat memikirkannya, perintah makruf harus bisa diterapkan.

“Ayo berbuat adil!” lolos ujian ini karena dapat berlaku kapan saja. Adil bisa dilakukan dari jaman kuno, jaman sekarang, sampai jaman masa depan yang kita belum tahu itu. Maka berpeluang untuk menjadi salah satu contoh kebaikan atau “makruf”.

“Wanita harus pakai cadar” tampaknya tidak lolos tes kesatu ini, tes sepanjang waktu. Karena ada waktu-waktu tertentu ketika wanita boleh tidak pakai cadar misal ketika dia masih kanak-kanak atau sudah tua renta. Sehingga keharusan pakai cadar gagal masuk sebagai makruf tetapi masih berpeluang menjadi kebaikan yang bersyarat. Meski, misalnya, hal ini baik maka harus mempertimbangkan beragam situasi dan kondisi.

2. Bisa dilakukan di setiap tempat

Di mana pun Anda berada maka, seharusnya, Anda dapat menjalankannya.

“Jangan korupsi!” lolos ujian ini. Di mana pun Anda berada maka Anda bisa mencegah untuk tidak korupsi. Maka larangan ini berpotensi menjadi “nahi munkar.”

“Dilarang menjual minuman keras!” tampaknya tidak lolos tes lokasi ini. Karena di tempat-tempat tertentu barangkali diperlukan minuman keras. Misal di tempat yang secara legal dibolehkan. Atau di situasi pelayaran super dingin di laut dekat kutub barangkali diperlukan minuman keras. Meski tidak lolos tetapi berpeluang menjadi larangan bersyarat. Misal dilarang menjual minuman keras di tempat umum.

3. Disetujui semua orang

Semua orang yang berakal sehat dan jujur bisa menyetujui amar makruf dan nahi munkar itu. Seperti contoh di atas “ayo berbuat adil” dan “dilarang korupsi.”

4. Bisa dilakukan oleh warga

Setiap warga punya kemampuan untuk menjalankan amar makruf dan nahi munkar itu. Lagi-lagi kita sudah memberi contoh yang lolos semisal “ayo berbuat adil.” Dan beberapa contoh yang tidak lolos seperti di atas.

Penutup

Kewajiban amar makruf nahi munkar benar berlaku untuk setiap manusia. Juga berlaku untuk setiap organisasi mau pun setiap negara. Meski demikian kriteria makruf dan munkar perlu kita cermati dengan baik. Begitu juga metode pelaksanaan amar makruf dan nahi munkar juga perlu mempertimbangkan berbagai macam sudut pandang.

Bagaimana menurut Anda?

Polisi Adil di Indonesia

Masyarakat Indonesia merasa aman dengan memiliki polisi yang adil dan profesional di seluruh penjuru negeri. Masalah bisa muncul sewaktu-waktu di tengah jalan. Apakah polisi akan tetap bisa bersikap adil? Bila kasus itu melibatkan polisi yang mungkin saja harus diadili?

Adil adalah mendengarkan dari semua pihak. Bahkan pihak yang tidak lagi bisa bersuara. Kita tetap perlu mendengarkan suaranya. Membungkam pihak tertentu maka bisa dipandang sebagai melanggar keadilan. Setiap manusia, termasuk diri kita, perlu bersikap adil.

Penampakan mobil Aiptu ICH rusak akibat kecelakaan maut di Jaksel

Mari kita coba cermati kasus terbaru yang terjadi pada 25 Desember 2020.

“Sambodo menjelaskan, Handana menjadi tersangka karena diketahui menyerempet mobil Toyota Innova dengan nomor pelat B 2159 SIJ yang dikendarai Aiptu Imam Chambali alias IC.

Akibat penyerempetan itu, mobil yang dikendarai Imam hilang kendali hingga menyebrang ke jalur berlawanan, lalu menghantam tiga pengendara motor.

Korban bernama Pinkan Lumintang (30) tewas di lokasi kejadian. Sementara, korban lain, Dian Prasetyo mengalami luka berat dan M Sharif luka ringan. ” (Sumber: Kompas.tv)

A. Handono ditetapkan sebagai tersangka

Sudah sewajarnya polisi menetapkan tersangka dalam kasus yang meyebabkan hilangnya nyawa di jalanan. Polisi sudah mengambil langkah yang baik dalam hal ini.

Apakah masih ada suara dari pihak lain yang perlu didengarkan? Tentu saja. Karena adil adalah mendengarkan suara semua pihak.

B. Pengemudi innova yang menabrak pemotor

Dari berita yang beredar, korban yang mengendarai motor adalah ditabrak mobil innova. Maka penelitian terhadap pengemudi innova menjadi penting. Apakah pengemudi ini harus bertanggung jawab?

Sayangnya, pengemudi innova adalah anggota polisi. Siapa yang harus meneliti anggota polisi? Apakah polisi harus meneliti polisi? Kabar baiknya, polisi Indonesia selalu berusaha konsisten menjalankan tugas dengan profesional.

C. Terjadi cekcok antara pengemudi

Berita, dari beberapa saksi, menyatakan bahwa sebelum kecelakaan, terjadi cekcok antara H (warga sipil, pengemudi Hyundai yang akhirnya menyenggol innova) dengan IC (anggota polisi, pengemudi innova yang akhirnya bertabrakan dengan motor korban). Cekcok ini perlu diteliti dengan baik. Apakah cekcok antara H dan IC ini bertanggung jawab terhadap kecelakaan?

Dan tentu saja masih banyak suara-suara dari pihak lain yang perlu didengarkan. Semoga Indonesia adil makmur!

Bagaimana menurut Anda?

Pengetahuan, Kesesatan, dan Opini

Pengetahuan, khususnya sains dan teknologi, kini, sedang mencapai masa kejayaan. Ledakan teknologi digital merambah ke seluruh dunia. Apakah itu kabar baik? Kabar baik bagi yang diuntungkan. Atau, bagi yang sengaja mengeruk keuntungan. Tetapi, bisa jadi kabar buruk bagi mereka yang dipinggirkan. Bukankah seharusnya pengetahuan menjadi kabar baik bagi seluruh umat manusia? Benar. Namun, pengetahuan bisa terperosok ke kesesatan. Yang membawa manusia ke lembah bencana.

Pengetahuan cinta dan cantik berbeda dengan pengetahuan sains dan teknologi. Pengetahuan cinta, umumnya, selalu bersifat baik. Bahkan kebaikan hidup di alam semesta ini berkah dari cinta. Begitu juga pemandangan alam semesta, sudah cantik alami, memancarkan cinta. Dari dulu kala.

1. Definisi Pengetahuan
2. Pengetahuan Aksiomatik selalu Benar
2.1 Matematika
2.2 Agama
2.3 Moral
2.4 Manfaat Aksioma
3. Pengetahuan Empiris Probabilistik
3.1 Falsifikasi Empiris
3.2 Induksi vs Falsifikasi
4. Pengetahuan Agama selalu Benar
4.1 Interpretasi
4.2 Silogisme Valid
4.3 Perangkap Falasi
5. Pengetahuan Cinta
5.1 Karakter Cinta
5.2 Inspirasi Cinta
6. Opini: Pengetahuan Diharapkan Benar
6.1 Opini Probabilistik
6.2 Hilal Awal Bulan
6.3 Pengembangan Pengetahuan
6.4 Pseudo-sains atau Sains Palsu
7. Ringkasan
8. Diskusi
8.1 Teori Evolusi
8.2 Evolusi Kreatif
8.3 Intelligent Design
8.4 Extended
8.5 Opini

Pada bagian ini, kita akan membahas pengetahuan lengkap dengan bayangan hitamnya berupa kesesatan yang diiringi samar-samar harapan yaitu opini. Dengan mencermatinya, kita berharap bisa terus mendorong kemajuan pengetahuan. Bab ini mengkaji pengetahuan sebagai sistem pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Berbeda dengan pembahasan sebelum-sebelumnya, yang, mengkaji pengetahuan sebagai pengetahuan sederhana, pengamatan, pengalaman, atau pernyataan.

1. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah susunan dari kebenaran-kebenaran. Dengan susunan yang rapi maka kita lebih mudah untuk memahami kebenaran. Dan memungkinkan dilahirkan kebenaran-kebenaran baru. Sehingga, ilmu mempunyai karakter untuk terus mengembangkan diri. Sebagaimana pernah kita bahas, kebenaran-kebenaran meliputi kebenaran aksiomatik, yang terjamin selalu benar, dan kebenaran probabilistik, yang diharapkan bernilai benar.

Kesesatan adalah pengetahuan, yang pada analisis akhir, bukan kebenaran. Kesesatan mirip dengan pengetahuan tetapi sejatinya bukan pengetahuan. Misal, contoh kesesatan, “Rahasia Ilmu Menggandakan Uang.” Sudah pasti itu kesesatan. Ilmu menggandakan uang sudah pasti tidak benar. Pertama, bila berhasil menggandakan uang dengan nomor seri sama persis dengan uang yang sudah ada maka bersalah melanggar hukum, aspek legal. Kedua, bila berhasil menggandakan uang dengan nomor seri yang baru maka itu uang palsu yang melanggar hukum, aspek legal. Ketiga, bila tidak berhasil menggandakan uang maka itu kebohongan yang nyata.

Opini adalah pengetahuan yang kebenarannya di tengah-tengah. Level keyakinan sekitar 50%. Opini mungkin saja benar dan mungkin saja salah. Tetapi opini diformulasikan dengan cara yang sama valid sebagaimana ilmu pengetahuan.

Kita akan lebih banyak membahas pengetahuan dan beberapa bagian opini. Sedangkan kesesatan tidak kita bahas secara langsung. Karena kesesatan bisa kita kenali dengan cara mengenali pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan yang menyeleweng dari kebenaran itulah kesesatan.

2. Pengetahuan Aksiomatik selalu Benar

Wajar saja bila kita menghendaki pengetahuan yang bersifat pasti benar. Dengan jaminan pasti benar maka kita bisa meyakini sepenuhnya. Dan, untungnya, memang ada pengetahuan yang selalu bernilai benar, yaitu pengetahuan aksiomatik. Contoh paling nyata pengetahuan aksiomatik adalah matematika, selalu benar.

Proses pengembangan pengetahuan aksiomatik, salah satu caranya, adalah dengan metode deduksi. Yaitu dari premis-premis dasar yang teruji kebenarannya kemudian ditarik kesimpulan spesifik yang dijamin bernilai benar. Metode yang paling terkenal adalah deduksi dengan metode silogisme.

2.1 Matematika

Misal sudah terbukti bahwa,

A : Setiap bilangan ganjil ditambah 5 maka menghasilkan bilangan genap.

Manusia dengan bantuan teknologi dan komputer makin canggih dalam melakukan perhitungan. Maka bilangan prima terbesar, yang ditemukan manusia, makin bertambah besar. Misalkan bilangan prima tersebut adalah P. Saat ini, tahun 2020, bilangan P terdiri lebih dari 23 juta digit angka. Barangkali tahun 2030 bilangan P terdiri dari 24 juta digit angka. Belum ada yang tahu. Tetapi, dengan deduksi kita bisa memastikan pengetahuan aksiomatik C berikut bernilai benar.

C: Jika P adalah bilangan prima terbesar yang ditemukan pada tahun 2050 maka P ditambah 5 menghasilkan bilangan genap.

Perhatikan kemampuan pengetahuan aksiomatik untuk mengantisipasi kejadian sampai tahun 2050 dan dipastikan benar. Bahkan, saat ini, kita tidak tahu berapakah bilangan P yang ditemukan pada tahun 2050 itu. Tetapi metode deduksi menjamin pengetahuan kita bernilai benar. Silogisme deduksi ini sudah dirumuskan dengan jelas lebih dari 2000 tahun yang lampau misal pada jaman Aristoteles.

A: Setiap bilangan ganjil ditambah 5 maka menghasilkan bilangan genap.
B: P yang merupakan bilangan prima terbesar adalah bilangan ganjil.

Kesimpulan
C: P yang merupakan bilangan ganjil bila ditambah 5 maka menghasilkan bilangan genap. (Sah dan pasti benar).

2.2 Agama

Pengetahuan agama juga merupakan pengetahuan aksiomatik yang selalu benar, sejauh referensi disepakati. Demikian juga dengan pengetahuan moral, legal, konsensus, dan lain-lain merupakan pengetahuan aksiomatik sejauh referensi disepakati.

A: Setiap orang yang beriman masuk surga.
B: Orang yang beramal adalah termasuk orang yang beriman.

Maka kesimpulan,
C: Orang yang beramal, pasti, masuk surga. (Benar dan sah).

Dengan asumsi bahwa premis A dan B, di atas, adalah benar maka silogisme untuk menarik kesimpulan bernilai sah dan menghasilkan kesimpulan yang benar. Pengetahuan deduktif dalam bidang agama ini dijamin selalu benar. Meski terjamin kita perlu hati-hati dalam menerapkan untuk realitas sehari-hari. Ketika kita hendak menilai seseorang sebagai “orang yang beriman” maka melibatkan proses penilaian intuitif praxis yang tidak terjamin kebenarannya. Artinya, pernyataan “Pak Eko adalah orang yang beramal,” nilai kebenarannya tidak terjamin. Bisa benar, bisa juga salah. Karena pernyataan tersebut bersifat partikular khusus berkenaan kepada kasus Pak Eko.

2.3 Moral

Etika atau sistem moral bisa kita pandang sebagai sistem pengetahuan aksiomatik yang selalu bernilai benar. Misal perilaku “menghormati ibu” adalah perilaku moral yang selalu bernilai benar. Dengan logika deduksi maka kita bisa mengembangkan sistem moral yang lebih luas.

2.4 Manfaat Aksioma

Kembali bisa kita tegaskan bahwa pengetahuan yang dikembangkan dengan metode deduksi membentuk pengetahuan aksiomatik yang terjamin bernilai selalu benar. Barangkali satu contoh lagi akan memperjelas kepastian kebenaran aksiomatik. Diadakan penelitian kepada seluruh gajah yang ada di seluruh kebon binatang di pulau Jawa. Diperoleh hasil berikut.

A: Semua gajah berkaki empat.
B: Bonita adalah salah satu gajah.

Kesimpulan,
C: Bonita berkaki empat. (Sah dan benar)

Pertanyaan selanjutnya bukan terhadap nilai kebenaran pengetahuan aksiomatik yang selalu benar. Tetapi manfaat pengetahuan aksiomatik diragukan. Misal pada contoh “Bonita adalah salah satu gajah” sudah terkandung informasi jelas bahwa dia adalah gajah yang berkaki empat. Maka tidak ada manfaatnya mengembangkan pengetahuan deduktif semacam itu. Lebih absurd lagi adalah ketika kita melakukan penelitian dan menunjukkan “Semua gajah berkaki empat” maka dalam pernyataan itu sudah terkandung bahwa Bonita berkaki empat.

Benar adanya bahwa pada contoh kasus si gajah Bonita memang pengetahuan aksiomatik secara deduktif tidak menambah manfaat. Tetapi pada kasus yang lain, pengetahuan aksiomatik melalui deduktif banyak bermanfaat. Misalnya bahwa bilangan prima terbesar P pasti tidak genap. Baik pada tahun 2050 atau tahun 3000 nanti tetap benar. Maka pengetahuan aksiomatik ini berguna untuk menguji apakah P benar-benar prima atau tidak prima, karena genap.

Lebih dari itu, ilmu matematika berkembang pesat berdasar sistem aksiomatik, dan jelas, memberi manfaat yang besar bagi perkembangan sains, teknologi, serta peradaban manusia secara umum. Aksioma bermanfaat besar menjadi dasar bagi setiap pengembangan pengetahuan. Meski, pada akhirnya, sistem aksioma tidak lagi murni aksiomatik, tetapi, berkolaborasi dengan sistem praktis dan, bahkan, dengan seni sehingga memberi manfaat lebih nyata.

Pada kajian lebih mendalam, meski pengetahuan aksiomatik selalu bernilai benar, tetapi kita akan menemukan paradoks sesuai teorema Godel. Setiap sistem aksiomatik tidak konsisten atau tidak lengkap. Bagaimana pun, paradoks ini terjadi hanya pada kasus terbatas. Sehingga, kita tetap bisa mengandalkan sistem aksiomatik dengan baik. Tentu, perlu dilengkapi dengan sikap berpikir terbuka. Sehingga, selalu ada dinamika dalam sistem aksioma.

3. Pengetahuan Empiris Probabilistik

Era modern mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan empiris yang kebenarannya bersifat probabilistik. Dengan kesadaran bahwa kebenaran ini bersifat sementara, maka sains dan teknologi terus bergerak maju untuk berinovasi. Bertrand Russell percaya bahwa perkembangan sains melalui metode induksi. Sementara Karl Popper, menolak induksi dengan mengajukan falsifikasi. Meski mereka sama-sama hidup di pertengahan abad 20, tampaknya mereka tidak menemukan kata sepakat. Bagaimana pun, semua pemikir serius, pasti menerima kebenaran universal dari pengetahuan aksiomatik melalui deduksi. (Derrida bisa sedikit kita kecualikan karena ide dekonstruksi diterapkan pada konteks yang berbeda).

Aristoteles, lebih dari 2000 tahun lalu, menekankan pentingnya empirisme. Ibnu Sina, 1000 tahun yang lalu, juga menguatkan peran empirisme. Bahkan Francis Bacon, 500 tahun lalu, berkeinginan kuat untuk merumuskan empirisme. Tapi dunia perlu filsuf besar Descartes serta Copernicus, disusul oleh Newton dan kawan-kawan untuk memantapkan fundamental empirisme sains modern – dan teknologi. Kebenaran empiris, yang tidak terjamin itu, justru menjadi keunggulan: inovasi tiada henti.

Berpikir induksi adalah jantung dari sains empiris, menurut Russell. Ketika kita melihat buah apel jatuh dari pohon maka terpikir semua benda yang dilepas dari atas akan jatuh menuju bawah. Dari satu pengamatan “berinduksi” ke seluruh kejadian umum, semua benda jatuh ke bawah. Tetapi pengamatan itu saja tidak cukup, seperti kita bahas pada bagian sebelumnya, kita perlu menemukan kausalitas, hukum sebab-akibat. Benda jatuh adalah sekedar akibat. Penyebabnya adalah gravitasi bumi.

Newton melangkah lebih jauh dengan menciptakan rumus matematika untuk benda jatuh. Hal ini berbeda dengan Aristoteles, Ibnu Sina, mau pun Bacon. Formula matematika yang digunakan Newton menguatkan pengetahuan empiris menjadi pengetahuan eksak. Menjadi ilmu pasti yang nilai kebenarannya juga pasti benar. Meski di era Newton, abad 17, kita bisa meragukan sifat pasti dari ilmu pasti, tetapi di abad 21 ini, ilmu pasti sudah diasumsikan bersifat pasti.

Dengan pembulatan percepatan gravitasi g = 10 (m/s^2) kita bisa memastikan kecepatan benda yang jatuh bebas dari atas.

kecepatan = 10 x waktu

waktu (detik) maka kecepatan (meter/detik)

0 maka kecepatan = 0
1 maka kecepatan = 10
2 maka kecepatan = 20

Jika ada hasil pengukuran yang berbeda dari perhitungan di atas maka kita perlu mencari gangguan-gangguan, bukan meragukan formula Newton. Dan benar saja, gangguan-gangguan tersebut bisa ditemukan misal gesekan udara. Maka formula Newton tetap berlaku sebagai ilmu pasti, dengan melengkapi gangguan gesekan udara.

Terbukti cara mengembangkan pengetahuan di atas, melalui induksi dilengkapi dengan fomula matematika, maju pesat. Peradaban manusia masuk ke era industri dengan pembangungan pabrik industri besar-besaran di seluruh dunia. Masih dengan pendekatan yang serupa peradaban manusia masuk ke era informasi, seperti yang kita alami dengan merebaknya dunia digital saat ini lengkap dengan media sosial dan simulakra.

Metode induksi, bisa kita ringkas, terdiri dari perumusan masalah dan hipotesa, pengujian empiris terbatas, dan menarik kesimpulan umum. Metode induksi di atas menjadi makin kuat bila kita lengkapi dengan formula matematika yang berlaku universal. Sehingga klaim sebagai ilmu pasti menjadi kuat. Tetapi bisa kita tegaskan, sekuat apa pun klaim ilmu pasti itu maka tetap kebenarannya bernilai probabilistik, tidak 100% benar, karena melibatkan kasus partikular.

3.1 Falsifikasi Empiris

Karl Popper, filsuf abad 20, menolak klaim metode induksi. Popper mengusulkan falsifikasi. Kebenaran empiris tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara universal. Tetapi kita bisa menunjukkan letak kesalahan proposisi empiris untuk kemudian berpegang kepada proposisi yang lebih kuat. Lagi pula para ilmuwan tidak menemukan ide melalui induksi. Ide bisa muncul begitu saja melalui intuisi. Kadang ide muncul dalam mimpi. Kadang juga muncul dari respon terhadap pengetahuan yang sudah ada.

Langkah falsifikasi bisa kita rumuskan dengan menyusun hipotesa (atau teori), men-deduksi dari hipotesa suatu proposisi empiris, menguji secara empiris, menarik kesimpulan. Yang menarik dari falsifikasi adalah tujuan dari pengujian empiris, yaitu untuk menolak hipotesa. Artinya jika pengujian empiris itu berhasil maka kesimpulannya adalah hipotesa ditolak. Tetapi jika pengujian itu gagal maka kesimpulannya adalah hipotesa (teori) diterima – untuk waktu itu. Berbeda dengan induksi, di mana pengujian empiris, digunakan untuk memperkuat hipotesa (teori) bila pengujian berhasil. Falsifikasi justru dengan sengaja merancang eksperimen untuk menolak hipotesa.

Kita bisa mencoba menaganalisis teori gerak Newton. Kecepatan total adalah kecepatan orang pertama ditambah (dikurangi) dengan kecepatan orang kedua, sesuai teori relativitas Newton (dan Galileo).

Adi mengendarai mobil ke utara dengan kecepatan 40 km/jam.
Budi mengendarai motor ke selatan dengan kecepatan 30 km/jam.

Maka kecepatan total antara Adi dan Budi adalah 40 + 30 = 70 km/jam.

Eksperimen menunjukkan kebenaran hipotesa di atas. Secara berulang-ulang konsisten benar. Maka, melalui induksi, terbukti kecepatan total adalah penjumlahan dari masing-masing kecepatan. Teori relativitas Newton benar.

Enstein mencoba mencari kejadian-kejadian yang menjadikan teori Newton salah, falsifikasi. Einstein mulai dengan eksperimen pikiran. Adi dan Budi bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya c.

Adi mengendarai mobil dengan kecepatan 0,7 c ke utara.
Budi mengendarai motor dengan kecepatan 0,5 c ke selatan.

Maka kecepatan total mereka, antara Adi dan Budi, adalah 0,7 + 0,5 = 1,2 c. (Salah). Tidak mungkin ada kecepatan gerak yang lebih besar dari kecepatan cahaya. Teori relativitas Newton berhasil dibuktikan salah, berhasil difalsifikasi. Kesimpulannya adalah relativitas Newton tidak berlaku umum. Hanya berlaku pada kasus khusus yaitu bila kecepatan gerak jauh di bawah kecepatan cahaya. Itu pun berlaku hanya sebagai estimasi. Kita memerlukan teori relativitas yang baru yaitu relativitas Einstein. Yang saat ini dianggap benar.

Apakah teori relativitas Einstein pasti benar? Tidak juga. Dengan perspektif falsifikasi, relativitas Einstein dianggap benar karena belum terbukti salah. Bila suatu saat terbukti salah maka teori itu perlu direvisi untuk mendapatkan teori yang lebih valid lagi. Memang begitulah karakteristik sains, berubah, diperbaiki untuk mendapatkan teori yang lebih baik.

3.2 Induksi vs Falsifikasi

Mana yang lebih baik, induksi atau falsfikasi? Sebagian besar ilmuwan mendukung pendekatan induksi, semisal Russell. Tetapi Karl Popper lebih mendukung falsifikasi. Tampaknya, secara umum lebih ringan memilih induksi yang berkonotasi menemukan pengetahuan baru. Sedangkan falsifikasi, tampaknya, justru mencari-cari kesalahan dari suatu teori. Nyatanya, kita memerlukan keduanya. Induksi untuk memotivasi inovasi-inovasi baru. Sementara falsifikasi menjamin langkah-langkah inovasi sudah sesuai jalur.

Dalam statistik, kita mengenal uji hipotesis, yang mengakomodasi induksi mau pun falsifikasi. Saya akan menggunakan istilah tesis dan antitesis, agar lebih mirip dialektika Hegel dan menjaga tetap membahas konsep bukan angka-angka. Misal kita hendak membuktikan bahwa,

Tesis: Semua presiden Indonesia adalah orang cerdas.

Secara induksi kita perlu menguji beberapa presiden Indonesia dan memastikan bahwa mereka adalah orang yang cerdas. Sebut saja kita berhasil menguji 5 presiden Indonesia dan semuanya memang cerdas. Maka kita berkesimpulan benar, bahwa, semua presiden Indonesia adalah orang yang cerdas.

Metode di atas mudah diragukan, bagaimana dengan presiden ke 6?

Maka statistik memberi ide menarik dengan cara merumuskan antitesis.

Antitesis: Ada presiden Indonesia yang bukan orang cerdas.

Dengan meneliti 5 presiden maka kita akan mem-falsifikasi tesis. Kita ingin menemukan dari 5 presiden itu ada yang tidak cerdas, sesuai antitesis. Ternyata kita gagal, kita tidak berhasil menemukan ada presiden yang tidak cerdas. Jadi kita gagal membuktikan “antitesis: Ada Presiden Indonesia yang bukan orang cerdas.” Akibatnya, sampai sejauh ini, kita harus menerima “tesis: Semua presiden Indonesia adalah orang cerdas.

Meskipun kedua metode, induksi dan falsifikasi, memberi kesimpulan yang sama tetapi spiritnya berbeda. Induksi, seakan-akan, berhasil membuktikan bahwa semua presiden Indonesia adalah orang cerdas. Sedangkan falsifikasi, lebih rendah hati, sejauh ini tidak berhasil membuktikan ada presiden yang tidak cerdas, maka semua presiden adalah cerdas.

Disayangkan bahwa banyak orang lebih mudah terpengaruh dengan ide-ide induksi. Kurang mendalami falsifikasi. Hal ini bisa berakibat kepada sikap berlebihan dalam membela suatu ide.

Sejatinya, dalam kehidupan nyata, hakim lebih sering memanfaatkan falsifikasi. Dakwaan: Menteri melakukan korupsi. Maka hakim akan mengatakan bahwa terbukti menteri melakukan korupsi maka dihukum setimpal. Atau, alternatifnya, hakim mengatakan bahwa tidak terbukti menteri melakukan korupsi sehingga terbebas dari semua tuntutan.

Dalam hal menteri terbebas dari hukuman, para pendukung mengklaim bahwa menteri terbukti tidak korupsi. Tidak begitu sejatinya. Yang benar, menteri hanya tidak terbukti telah korupsi, untuk kasus tersebut. Hakim hanya mem-falsifikasi dakwaan. Hanya menolak dakwaan. Tidak membuktikan kebersihan diri menteri.

Perlu tetap kita ingat, baik induksi mau pun falsifikasi, menghasilkan pengetahuan probabilistik. Di mana, nilai kebenarannya tidak. terjamin, benar 100%. Tetapi, secara terus-menerus bisa direvisi untuk menghasilkan pengetahuan yang lebih bagus. Statistik menyediakan konsep confindence-level dan confindence-interval yang, dengan baik, mengakomodasi pengetahuan probabilistik.

4. Pengetahuan Agama selalu Benar

Kita sudah sebutkan di atas bahwa pengetahuan agama bersifat aksiomatik sehingga terjamin benar 100%. Untuk menjamin kebenarannya, kita perlu memastikan bahwa premis-premis bernilai benar dan proses mengambil kesimpulan juga sah.

Pengetahuan agama bisa terus kita kembangkan dengan menguji premis-premis yang sudah ada dengan tantangan jaman yang baru. Atau bisa juga, dengan cara, kita mengembangkan premis-premis baru tentang pengetahuan agama. Misalnya aturan berbisnis melalui teknologi internet akan menghasilkan pengetahuan agama yang baru. Karena ketika pengetahuan agama dirumuskan, beberapa ratus tahun yang lalu, belum ada teknologi internet. Sedangkan saat ini, umat beragama harus berbisnis menggunakan teknologi internet. Dan masih banyak lagi, pengetahuan agama yang kita perlukan, dalam menghadapi tantangan jaman.

4.1 Interpretasi

Keunggulan dari ajaran agama adalah selalu mampu beradaptasi sepanjang jaman. Untuk bisa beradaptasi dengan lincah, ajaran agama kerap tertuang dalam bentuk bahasa simbolis. Sehingga, umat beragama mampu mengambil inspirasi dari ajaran agama kapan pun dan di mana pun.

Bagaimana pun, inspirasi dinamis ini melibatkan interpretasi dalam kadar sedikit atau banyak. Kelak, inspirasi ini bisa menjadi premis dalam sistem aksiomatik yang menghasilkan kebenaran agama selalu bernilai benar. Meski demikian, kita sadar bahwa interpretasi terbuka dengan peluang keragaman interpretasi. Pada gilirannya, ajaran agama mampu terus bergerak dinamis dengan kesadaran tersebut.

4.2 Silogisme Valid

Berikutnya, deduksi silogisme dapat kita gunakan secara valid untuk beragam pengembangan pengetahuan. Perkembangan logika, termasuk silogisme, saat ini, sudah sangat canggih. Dengan rangkaian logika, kita dapat menyederhanakan setiap sistem logika menjadi operasi paling dasar. Di sini, perlu kita tegaskan bahwa bentuk silogisme paling sederhana dan mudah adalah bentuk implikasi.

(A) JIKA membaca kitab suci MAKA bahagia.

Dengan asumsi premis (A) bernilai benar maka hanya ada dua kemungkinan kesimpulan yang sah atau valid.

(B) membaca kitab suci, kesimpulan: bahagia.

(C) TIDAK bahagia, kesimpulan: (akibat dari dia) TIDAK membaca kitab suci.

Sedangkan kesimpulan (D) dan (E) berikut adalah tidak sah dan kita sebut sebagai falasi dari sisi formal.

4.3 Perangkap Falasi

Kesalahan berpikir, kesalahan menarik kesimpulan, biasa kita sebut sebagai falasi terjadi dalam sisi formal dan informal.

(D) TIDAK membaca kitab suci, kesimpulan: TIDAK bahagia.

Kesimpulan (D) tidak sah. Kita tidak bisa memastikan seseorang sebagai TIDAK bahagia karena TIDAK membaca kitab suci. Karena orang tersebut bisa saja bahagia dengan membaca doa yang sudah dihafalkannya atau bahagia karena beramal baik.

(E) Bahagia, kesimpulan: TIDAK membaca kitab suci.

Kesimpulan (E) tidak sah. Kita tidak bisa mengambil kesimpulan dari orang yang “bahagia.” Karena orang bahagia bisa disebabkan oleh bacaan kitab suci atau lainnya.

Kedua tipe falasi di atas, jenis (D) dan (E), perlu diwaspadai. Karena falasi semacam ini kadang-kadang halus sekali sehingga tidak disadari banyak orang.

Sementara, falasi informal, mestinya, lebih mudah kita kenali. Umumnya, falasi informal merupakan akibat dari interpretasi dogmatis atau penetapan premis yang ceroboh. Dengan berpikir terbuka, kita bisa mengatasi falasi ini.

5. Pengetahuan Cinta

Cinta selalu benar. Pengetahuan cinta juga selalu benar sejauh pengetahuan tersebut adalah pengetahuan sederhana. Ketika kita jatuh cinta, kita tahu sedang jatuh cinta maka pengetahuan tersebut bernilai benar. Tetapi, pada bagian ini, kita mengkaji sistem pengetahuan cinta. Bagaimana kebenaran dari sistem pengetahuan cinta?

5.1 Karakter Cinta

Pertama, kebenaran cinta adalah kebenaran kreatif. Cinta menjadi benar karena kita menciptakan atau menghadirkan cinta tersebut. Untuk menghadirkan cinta banyak faktor berpengaruh: pemahaman, imajinasi, akal, memori, materi, dan lain-lain. Faktor-faktor ini berinteraksi dengan cara bebas tidak deterministik. Akibatnya, formula cinta adalah unik. Tidak ada satu formula tunggal tentang cinta yang berlaku umum. Meski, cinta itu sendiri universal.

Kedua, cinta adalah pengalaman yang indah, kompleks, dan transendental. Tanpa mengalami, seseorang, tidak akan memahami cinta dengan baik. Sehingga sistem pengetahuan cinta, bila ada, akan berbeda jauh dengan pengalaman cinta. Kita perlu merasakan cinta. Sedangkan, sistem pengetahuan cinta akan menjadi asbtraksi yang berbeda dengan rasa.

Ketiga, sejauh ini, tidak ditemukan metode deduksi atau induksi cinta. Barangkali, memang tidak akan pernah ada deduksi cinta atau silogisme cinta. Karena, cinta melibatkan kebebasan atau freedom. Tidak ada kepastian tentang freedom yang bebas itu.

Dengan mempertimbangkan karakter-karakter cinta di atas, maka, kita tidak akan berhasil menyusun sistem pengetahuan cinta. Tetapi, bukankah kita justru memerlukan pedoman pengetahuan cinta? Bukankah cinta sangat penting? Bukankah cinta berpotensi ada bencana?

Benar! Kita membutuhkan sistem pengetahuan cinta.

5.2 Inspirasi Cinta

Karena pengetahuan cinta tidak akan berhasil menjadi sistem pengetahuan, maka, pengetahuan itu hanya bisa menjadi inspirasi cinta. Yaitu suatu pengetahuan yang menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk jatuh cinta, merawat cinta, dan bersinar bersama cinta.

Inspirasi cinta menjadi makin penting lagi karena karakternya yang bebas, unik, dan dinamis. Untuk mahir dalam cinta, kita tidak cukup hanya dengan membaca satu buku inspirasi cinta. Barangkali, perlu dua buku sampai sembilan buku inspirasi cinta. Lebih dari itu, kita perlu mengalami cinta untuk bisa jatuh cinta. Cinta kepada sesama, cinta kepada semesta, dan cinta kepada Maha Cinta.

Sebagai catatan, pengetahuan tentang yang cantik memiliki karakter yang mirip dengan pengetahuan cinta. Sehingga, sistem pengetahuan tentang cantik dan cinta adalah sebentuk inspirasi cinta.

6. Opini: Pengetahuan Diharapkan Benar

Sebagaimana kita sebutkan sebelumnya, opini adalah sebentuk pengetahuan, yang nilai kebenarannya, diharapkan bernilai benar. Kita bisa memposisikan opini sebagai pelopor pengetahuan. Di mana, opini mendorong masyarakat untuk membuktikan kebenaran – atau kesalahannya. Sehingga peran opini mirip dengan peran hipotesis. Perbedaanya adalah opini sudah dikaji, sedemikian hingga, diharapkan akan bernilai benar.

Dalam situasi tertentu, kita hanya bisa membentuk opini, tanpa pernah berhasil mendapatkan pengetahuan yang pasti. Sehingga opini, dalam kasus seperti ini, menempati posisi selayaknya pengetahuan yang sudah teruji kebenarannya. Misalnya, pada tahun 2021 ini, kita ingin tahu opini masyarakat tentang siapakah calon presiden yang mereka anggap paling baik untuk pilpres pada tahun 2034? Hasilnya, 30% memilih Andi, 30% memilih Budi, dan 40% tidak memilih. Opini semacam itu akan tetap menjadi opini, tidak bisa diuji secara pasti, karena tahun 2034 adalah masa depan yang tidak terjangkau di masa kini – tahun 2021.

Opini juga penting untuk pengetahuan masa lalu yang tidak bisa diuji. Mengapa waktu itu para wali memilih istilah Wali Songo? Karena tidak ada dokumen resmi, atau bukti resmi, yang menjelaskan alasan pemilihan istilah Wali Songo maka kita bisa mengembangkan beragam opini. Barangkali kita bisa beropini karena “songo” bermakna 9 maka dipilih sebagai angka ganjil terbesar. Para wali menyukai angka ganjil apa lagi yang terbesar. Opini yang lain, barangkali, mengatakan karena saat itu memang ada 9 orang wali maka kebetulan saja. Dengan mempertimbangkan berbagai macam data yang tersedia, kita bisa mengembangkan beragam opini yang masuk akal – dan berguna.

Bahkan pada saat sekarang, kadang-kadang kita hanya bisa membuat opini belaka. Bisa jadi karena bukti-bukti yang kita butuhkan bersifat rahasia atau sulit diperoleh. Perusahaan Andi beropini bahwa perusahaan Budi – kompetitor dari Andi – melakukan manuver XYZ karena ingin mengalahkan perusahaan Andi di kota Bandung. Dengan opini ini, perusahaan Andi bisa menentukan respon yang diperlukan. Mengaitkan “manuver XYZ” sebagai bertujuan “mengalahkan perusahaan Andi” adalah sekedar opini. Untuk membuktikan kebenarannya, kita memerlukan data-data tambahan. Hanya saja, data tambahan itu adalah data rahasia perusahaan Budi, yang tidak layak untuk diperoleh.

Sampai di sini, kita perlu waspada bahwa opini tidak terbukti, atau belum terbukti, nilai kebenarannya. Sehingga, ketika kita bersandar kepada opini, harus sadar dengan beragam resiko yang mungkin terjadi. Bagaimana pun, opini sudah disusun dengan kaidah yang benar. Wajar saja, opini bisa kita percaya dalam beberapa hal. Opini, memang, diharapkan bernilai benar.

6.1 Opini Probabilistik

Cara aman beropini adalah dengan menyadari bahwa opini bersifat probabilistik. Kita coba cermati beberapa implikasi probabilistik.

M = Peluang menang 70%.

Dengan asumsi hanya ada menang dan kalah maka kemungkinan afirmasi dan negasi adalah 4 alternatif berikut.

Kemungkinan khusus atau afirmasi

A1 = Peluang menang 70%

A2 = Peluang kalah 30%

Kemungkinan mutlak atau negasi

N1 = Tidak mungkin untuk menang 100% (karena 70%)

N2 = Tidak mungkin untuk kalah 100% (karena 30%)

Empat makna kemungkinan atau peluang, di atas, adalah valid. Perlu hati-hati ketika menyikapi negasi. “Andi mungkin menang.” Negasi yang tidak sah adalah, “Andi tidak mungkin menang.” Seharusnya, negasi yang sah adalah, “Andi mungkin tidak menang.” Atau, “Andi tidak mungkin, bisa, 100% menang.”

6.2 Hilal Awal Bulan

Kita, di Indonesia, berulangkali, mengalami serunya menentukan awal bulan berdasar tinggi hilal.

MU = Kriteria t = 0.

Bagi MU, jika tinggi hilal di atas t = 0 maka sudah masuk bulan baru. Kriteria ini merupakan pernyataan aksiomatik yang ditetapkan berdasar perhitungan, hisab, atas data-data sebelumnya. Dengan demikian, MU tidak perlu pengamatan empiris atau rukyat.

Tetapi, kriteria t = 0 ini, mudah dikritisi. Berapa toleransinya? Bila tinggi hilal = 0,1 bagaimana? Bila tinggi hilal = 0.0001 bagaimana?

Bagaimana pun, kita perlu menetapkan kriteria di atas 0. Misal 0,5 atau bahkan 1 derajat. Karena, kita selalu perlu toleransi empiris.

NU = Kriteria t = 3.

Bagi NU, jika tinggi hilal di atas kriteria t = 3 maka hilal mungkin bisa teramati. NU melakukan pengamatan empiris, rukyat, untuk memastikan penampakan hilal.

Berdasar pengalaman bertahun-tahun, ketika tinggi hilal lebih dari 3, selalu berhasil hilal teramati. Sehingga, sudah masuk bulan baru. Tentu saja, baik-baik saja dengan pengamatan empiris ini.

Situasi lebih menarik ketika tinggi hilal di bawah 3 derajat. Orang bisa berpikir, “Hilal tidak mungkin bisa diamati.” Karena muncul istilah “tidak mungkin” maka muncul konotasi aksiomatik. Konsekuensinya, jika ada orang berhasil mengamati hilal pada ketinggian di bawah 3 derajat maka laporan orang tersebut ditolak. Dengan demikian, terbentuk sistem aksiomatik.

Situasi seperti ini mengantarkan NU dan MU, sama-sama, memilih sistem aksiomatik dalam menentukan awal bulan. Bedanya, NU dengan kriteria t = 3 dan MU dengan t = 0. Penetapan kriteria tinggi t ini adalah opini yang disepakati oleh banyak pihak. Tentu, berdasar analisis data.

Apakah ada kemungkinan titik temu agar hasil penetapan awal bulan baru selalu serentak? Tentu saja bisa. Jika sepakat t = 1 atau t = 2 maka awal bulan baru akan serentak. Karena, penetapan kriteria memang berdasar kesepakatan dan analisis data.

Bukankah pengamatan hilal adalah sistem empiris? Betul, sistem empiris kombinasi dengan aksiomatik. Tampaknya, saat ini, peran sistem aksiomatik makin besar. Sementara, hasil pengamatan empiris berperan menambah data analisa. Keuntungan sistem aksiomatik adalah kita bisa menetapkan awal bulan baru lebih cepat beberapa bulan sebelumnya. Sehingga, kita terbebas dari urgensi pengamatan empiris atau rukyat di senja akhir bulan.

6.3 Pengembangan Pengetahuan

Opini adalah sarana paling penting untuk pengembangan pengetahuan. Pengetahuan konkret lebih bernilai dari pengetahuan umum – atau pengetahuan genera. Opini bergerak dari genera menuju konkret. Memang ada resiko, karena, opini bisa bernilai salah. Meski bernilai salah, opini tetap bernilai tinggi karena lebih konkret dari genera. Apalagi, ketika opini bernilai benar maka makin penting.

G = genera = matahari terbit pagi hari.
K = konkret = matahari terbit pukul 06.05.

Pernyataan G bernilai benar – dan aman. Sementara, pernyataan K lebih konkret tetapi ada resiko bernilai salah. Kita bisa melakukan pengamatan, misal benar, matahari terbit pukul 06.05 pada hari itu. Maka pengetahuan konkret K lebih bernilai dari pengetahuan genera G. Ilmu pengetahuan berkembang dengan cara bergerak dari genera menuju konkret.

Sering terjadi salah paham. Orang mengira genera G lebih bernilai dari konret K. Mereka mengira genera meliputi, atau mencakup, konkret. Ketika konret K benar, maka, genera G juga pasti benar. Tetapi, ketika konkret K salah, maka, genera G tetap benar. Cara pandang seperti di atas adalah salah.

Cara pandang yang benar adalah konkret K lebih bernilai dari genera G. Karena, ketika K benar bahwa matahari terbit pukul 06.05 maka kita tidak memerlukan G. Dari K, kita bisa menyimpulkan bahwa matahari terbit di pagi hari. Jadi, justru pengetahuan konkret K yang meliputi, atau mencakup, pengetahuan genera G.

Sebaliknya, ketika K salah, juga berlaku pengetahuan konkret lebih bernilai dari genera. Misal ternyata yang benar dalah (L) = matahari terbit pukul 06.03. Dari pengetahuan konkret L, kita bisa menyimpulkan bahwa matahari terbit di pagi hari.

Pernyataan genera paling general barangkali adalah (T) = karena Tuhan menciptakan begitu. Mengapa terjadi pandemi covid? Karena T. Mengapa terjadi metamorfosa kupu-kupu? Karena T. Mengapa ada gaya nuklir? Karena T. Meski T benar, kita tetap membutuhkan pengetahuan yang lebih konkret untuk mengembangkan pengetahuan.

Alternatif genera yang sangat general adalah (S) = karena ada hukum sebab-akibat. Mengapa terjadi krisis ekonomi? Karena S. Mengapa ada bencana alam? Karena S. Mengapa teknologi digital bisa berkembang? Karena S. Lagi, meski S diklaim selalu benar, kita tetap membutuhkan pengetahuan konkret yang lebih berkembang. Pengetahuan genera saja tidak mencukupi. Kita perlu pengetahuan konkret.

Contoh di atas adalah untuk sistem pengetahuan empiris. Untuk sistem pengetahuan aksiomatik tetap berlaku bahwa pengetahuan konkret lebih bernilai dari pengetahuan genera.

G = bilangan-bilangan bisa dijumlahkan.

K = 2 + 1 sama dengan 3

Ketika, seorang anak kecil, atau kita, memahami G maka belum tentu anak kecil itu memahami K. Sebaliknya, jika seorang anak kecil memahami K maka, anak kecil itu, memahami G. Dengan memahami bahwa penjumlahan 2 + 1 sama dengan 3, dia paham bahwa bilangan-bilangan itu bisa dijumlahkan. Pengetahuan konkret lebih bernilai dari pengetahuan genera dalam sistem aksiomatik.

6.4 Pseudo-sains atau Sains Palsu

Pengembangan sains bisa salah arah dengan melanggar etika sehingga menghasilkan pseudo-sains atau sains palsu. Dari sisi penampilan, sains-palsu sama persis dengan sains. Tetapi, pada analisis akhir, terbukti terjadi eksploitasi yang merugikan banyak pihak.

Berikut ini, kita akan fokus kepada empat kriteria untuk menilai bahwa suatu sains adalah palsu. Sebagai ilustrasi, kita akan mengambil kasus Theranos, yaitu, perusahaan yang memproduksi alat kesehatan. Dengan alat tersebut, seseorang bisa melakukan tes darah yang mudah dan cepat guna mengetahui kondisi kesehatan badannya. Theranos berdiri pada tahun 2003 dan menjadi perusahan bernilai 10 milyar dolar hanya dalam waktu 10 tahun – perhatikan, bukan 10 juta dolar tapi 10 milyar.

Non-sains. Pertama, predikat sains-palsu atau pseudo-sains hanya bisa dialamatkan kepada sains itu sendiri atau bidang yang mengaku saintifik. Non-sains tidak bisa menjadi sains-palsu. Seni tidak bisa dinilai sebagai sains-palsu. Karena, seni memiliki kriteria konsep internal yang berbeda dengan sains. Olahraga, hobi, agama, permainan, dan lain-lain adalah non-sains. Sehingga, mereka aman dari predikat sains-palsu.

Tentu saja, kita bisa mengkaji seni atau olahraga secara saintifik. Dengan demikian, ada resiko terjebak ke sains-palsu. Bisa juga, seseorang menolak sains dengan teori tertentu. Meski awalnya, teori tertentu itu bukan sains, pada analisis akhir, bisa dikaji secara saintifik dan ada peluang termasuk sebagai sains-palsu.

Theranos meng-klaim menerapkan metode sains untuk tes darah. Karena itu, Theranos tepat menjadi kajian apakah termasuk sains-palsu.

Tidak obyektif. Sains-palsu bersifat tidak obyektif. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menguji kebenarannya. Pihak luar tidak bisa, atau sulit sekali, untuk melakukan pengujian.

Theranos menyembunyikan hasil kajian perusahaannya sehingga tidak obyektif. Pihak luar tidak bisa mengkajinya atau sulit untuk mengkajinya. Pihak luar hanya bisa mempertanyakan validitas dari kajian Theranos. Kelak, Theranos gagal menunjukkan validitas dan obyektivitas kajian tes darahnya.

Buruk atau salah. Sains buruk atau sains salah adalah kajian sains yang tidak memenuhi standar kriteria internal mereka sendiri. Sehingga, hasil kajian tersebut hanya layak sebagai bahan kajian bukan untuk keperluan komersial. Dalam konotasi positif, bisa dipandang sebagai proto-sains.

Tes darah Theranos termasuk sains-buruk atau sains-salah. Dengan kualitas yang rendah, Theranos tidak layak mengkomersilkan produknya.

Eksploitasi melanggar etika menjadi penentu utama sebagai sains-palsu. Sains yang tidak obyektif dan sains buruk, sejatinya, tidak menjadi masalah. Sejauh, kita menempatkan sains buruk pada posisinya. Tetapi, mengeksploitasi sains-buruk memang menggiurkan dengan imbalan materi yang besar.

Theranos sadar bahwa kajian mereka adalah sains-buruk. Kemudian, Theranos justru mengeksploitasi untuk mengeruk keuntungan komersial. Teknologi Theranos murah dan praktis. Sehingga, masyarakat luas membeli produk Theranos – termasuk di pasar saham. Tetapi, karena memang berdasar sains-buruk maka produk Theranos adalah sains-palsu.

Karena etika menjadi paling penting, lalu, bagaimana cara kita menentukan bahwa sesuatu melanggar etika atau tidak? Kita membahasnya di bagian lain. Yang jelas, klaim kebenaran etika sama kuat dengan klaim kebenaran matematika. Etika dan matematika adalah, sama-sama, kebenaran konseptual atau kebenaran sistem aksiomatik.

7. Ringkasan

Pengetahuan, ilmu pengetahuan, adalah susunan kompleks dari kebenaran-kebenaran. Idealnya, susunan kompleks ini akan menghasilkan kebenaran-kebenaran lanjutan. Dan seterusnya, menghasilkan pengetahuan-pengetahuan baru. Pengetahuan aksiomatik bernilai selalu benar – misal pengetahuan matematika. Sementara, pengetahuan empiris bersifat probabilistik – hampir pasti benar tetapi ada kemungkinan salah.

Pengembangan pengetahuan empiris bisa melalui induksi atau falsifikasi. Induksi melakukan generalisasi dari penelitian terbatas agar berlaku umum. Sementara, falsifikasi melakukan pengujian terhadap suatu teori untuk menghasilkan teori yang lebih kuat. Pengetahuan membutuhkan keduanya: induksi dan falsifikasi. Pengetahuan berkembang dari pengetahuan genera, yang bersifat umum, menuju pengetahuan konkret yang bersifat lebih jelas spesifik. Pengetahuan konkret lebih bernilai tinggi dari pengetahuan genera.

Sementara itu, pengetahuan tentang cinta dan cantik adalah sebentuk inspirasi cinta. Berbeda dengan ilmu pengetahuan pada umumnya, pengetahuan cinta melibatkan suatu pengalaman langsung.

Opini adalah pengetahuan yang nilai kebenarannya belum sepenuhnya terjamin. Sementara di pihak lain, kesesatan adalah pengetahuan yang, pada analisis akhir, bernilai salah. Kesesatan bisa dieksploitasi oleh pihak-pihak jahat menghasilkan pseudo-sains atau sains palsu yang melanggar etika. Bagaimana pun, kita mengharapkan opini bernilai benar. Opini dilengkapi beragam asumsi, atau indikator, sedemikian hingga agar bisa dipastikan nilai kebenarannya ketika diperlukan. Opini adalah sebentuk pengetahuan yang sah dan baik.

8. Diskusi

Kita akan mendiskusikan teori evolusi pada bagian ini. Apakah teori evolusi termasuk sebagai pengetahuan, opini, atau kesesatan? Karena teori evolusi merupakan bagian dari sains alam bilogi, maka, wajar bagi kita menyimpulkan bahwa teori evolusi adalah ilmu pengetahuan alam. Kajian lebih mendalam, termasuk analisis filosofis, menunjukkan bahwa klaim seperti itu masih bisa kita perdebatkan.

8.1 Teori Evolusi

Darwin (1809 – 1882) adalah pelopor teori evolusi. Evolusi Darwin mendominasi perkembangan sains alam biologi berabad-abad sampai masa kini. Pro kontra terhadap Evolusi Darwin selalu dinamis. Secara umum, komunitas saintis memenangkan teori evolusi Darwin di atas para pesaing. Hampir di seluruh belahan dunia, pendidikan menengah mengajarkan teori evolusi Darwin sebagai bagian dari kurikulum sains biologi.

Evolusi menyatakan bahwa spesies yang ada di masa kini, misal manusia, berasal dari spesies yang ada di masa lalu. Beragam spesies yang berbeda, misal manusia berbeda dengan kera, bisa saja memiliki nenek moyang berupa spesies yang sama, misal kera-kuno. Dalam bahasa sehari-hari, nenek moyang manusia adalah kera.

Tetapi, siapa nenek moyang dari kera-kuno itu? Nenek moyang dari kera adalah spesies yang ada jutaan tahun sebelum spesies kera ada di bumi. Kita persingkat, nenek moyang dari kera adalah spesies sederhana misal mikroba, yang hanya terdiri dari beberapa sel saja. Lalu, pertanyaan berlanjut, siapa nenek moyang dari mikroba itu? Nenek moyang dari mikroba adalah struktur zat-zat kimia yang memungkinkan hadirnya kehidupan di bumi. Tentu, kita masih boleh bertanya, siapa nenek moyang dari zat-zat kimia itu? Jawaban tuntasnya adalah: big bang atau ledakan besar. Sampai di sini, kita terpaksa harus berhenti bertanya. Karena, sebelum big bang tidak ada apa-apa. Hanya ada kehampaan void sebelum big bang. Bahkan, tidak ada ruang, tidak ada waktu.

Apakan teori evolusi Darwin bisa kita kategorikan sebagai sains?

Sangat sulit untuk jadi sains. Karena, kita tidak akan mampu menunjukkan bukti-bukti empiris yang memadai untuk mendukung teori evolusi. Proses evolusi terbentang sampai jaman jutaan tahun yang lalu. Tentu, kita akan melibatkan banyak interpretasi terhadap data empiris yang ditemukan – dalam rentang jutaan tahun itu. Maka, sulit bagi kita untuk menyimpulkan bahwa teori evolusi adalah sains atau ilmu pengetahuan.

Apakah teori evolusi adalah kesesatan?

Tidak. Teori evolusi bukan kesesatan. Teori evolusi dilengkapi dengan beragam data empiris, fakta sains. Kemudian, dari data itu, para ilmuwan melakukan interpretasi sehingga terbentuk teori evolusi. Tentu saja, kita sadar bahwa interpretasi dari banyak ilmuwan bisa menghasilkan perbedaan hasil interpretasi. Memang terjadi pro kontra, tetapi, bukan kesesatan.

Apakah teori evolusi adalah suatu opini?

Benar, teori evolusi adalah opini. Paling tepat, menurut saya, kita memasukkan teori evolusi sebagai opini. Dalam arti, teori evolusi adalah pengetahuan yang nilai kebenarannya belum dipastikan sebagai benar. Tetapi, kita bisa berharap bahwa teori evolusi bernilai benar.

Deduksi Evolusi

Mari kita cermati proses deduksi yang mengantarkan kita bisa menyusun teori evolusi.

P1: Organisme menghasilkan anak, atau sel reproduksi, jauh lebih banyak dari yang berhasil tumbuh menjadi dewasa.

P2: Jumlah individu dalam populasi atau spesies relatif tetap sama dalam selang waktu yang cukup panjang.

D1: Kesimpulannya adalah banyak sel reproduksi yang mati atau banyak anak-anak yang tidak berhasil hidup sampai dewasa.

P3: Setiap individu tidak identik, meski mirip. Mereka menunjukkan beragam variasi karakter. Individu yang berhasil hidup sampai dewasa dengan karakter tertentu akan menjadi orang tua bagi generasi berikutnya.

D2: Kesimpulannya adalah karakter-karakter tertentu yang mengantarkan mereka hidup sampai tua dan punya anak, adalah, karakter yang mampu beradaptasi dengan lingkungan.

P4: Keturunan mirip dengan orang tuanya, tetapi, tidak persis sama.

D3: Kesimpulannya adalah generasi penerus mewarisi karakter unggul dari orang tuanya dan memperbaikinya melalui proses perubahan gradasi.

Semua proposisi di atas, P1 sampai P4, didasarkan pada data empiris. Sementara, semua kesimpulan deduksi, D1 sampai D3, didasarkan pada analisis logis terhadap proposisi data empiris. Dengan demikian, kita berhasil menyusun teori evolusi berdasar data empiris sains. Proses evolusi terjadi melalui seleksi alam dan mutasi genetika acak. Seleksi alam menyisihkan individu-individu yang tidak mampu beradaptasi terhadap lingkungan. Sementara, mutasi genetika memastikan perubahan gradasi, atau evolusi, terjadi secara turun-temurun dari orang tua ke generasi berikutnya.

Kritik Evolusi

Kritik terhadap evolusi sudah berlangsung sejak awal kemunculannya. Dan, kritik ini valid. Pertama, semua proposisi atau premis didasarkan kepada data empiris sehingga hanya valid secara partikular, tidak universal. Seperti kita tahu, data empiris meski benar, tidak valid untuk mengklaim secara universal. Benar bahwa seorang manusia, misalnya, menghasilkan sel sperma dalam jumlah jutaan. Jauh lebih besar dari dirinya yang seorang diri atau jumlah anaknya. Sementara, organisme sederhana yang membelah diri tidak perlu menghasilkan sel reproduksi dalam jumlah yang jauh lebih besar. Mereka, organisme sederhana, hanya perlu membelah diri saja. Dan, bagaimana dengan organisme di masa depan? Kita tidak bisa mengklaim masa depan organisme hanya berdasar data masa lalu.

Kedua, menarik kesimpulan melalui deduksi data empiris tidak bersifat pasti, tidak niscaya. Sehingga, meski kesimpulan teori evolusi adalah valid secara ilmiah, maka, kesimpulan yang kontra-evolusi bisa sama validnya secara ilmiah. Dengan demikian, pandangan pro kontra terhadap teori evolusi adalah wajar.

Lamarck (1744 – 1829) mengajukan teori evolusi lebih awal setengah abad dari Darwin. Karena teori evolusi Lamarck berbeda dengan Darwin, maka, kita bisa memandang Lamarck sebagai kritik terhadap Darwin – atau sebaliknya. Karakter organ yang sering digunakan, misal leher jerapah untuk mengambil daun di pohon yang tinggi, maka makin berkembang. Kemudian, perkembangan karakter organ ini diwariskan kepada anak turunnya.

Sampai sekarang, beberapa ahli biologi menerima teori evolusi Lamarck, sehingga, kontra terhadap Darwin. Meski demikian, arus utama ahli bilogi saat ini lebih mendukung Darwin. Mengapa?

Deleuze (1920 – 1995) memberi analisis menarik mengapa komunitas saintis memilih Darwin dari Lamarck. Tidak ada argumen ilmiah, yang memadai, untuk menolak Lamarck. Tetapi argumen ideologis bekerja lebih lembut di lingkungan saintis.

Jika kita menerima Lamarck, misal tentang leher panjang pada jerapah, maka kita perlu asumsi ada jerapah berleher pendek di masa lalu. Kemudian, ada pendahulu dari jerapah berleher pendek itu, dan seterusnya. Sampai pada akhirnya, kita mundur tak terbatas. Akibatnya, harus ada Tuhan di ujung sana.

Sebaliknya, Darwin menyelesaikannya dengan mutasi acak. Dari banyak individu jerapah ada yang bermutasi acak menghasilkan leher panjang. Kondisi lingkungan, daun-daun pohon yang tinggi, menyebabkan leher panjang mampu beradaptasi. Kemudian, anak turun jerapah leher panjang terus berkembang atau bertahan. Sementara, jerapah leher pendek akan punah.

Bagaimana mutasi acak itu bisa terjadi? Karena acak, maka, kita tidak bisa memastikan prosesnya. Yang jelas, hasil mutasinya bisa kita amati secara empiris, seperti contoh leher panjang pada jerapah. Dengan demikian, persoalan selesai tanpa meminta bantuan kepada eksistensi Tuhan. Akibatnya, komunitas saintis lebih mendukung Darwin.

Karakter Memudar

Sejak awal, Darwin menghadapi kesulitan dengan teori evolusi dan tidak mampu menyelesaikannya.

Seorang anak hanya mewarisi karakter bapaknya 50%. Karena, 50% sisanya adalah warisan dari karakter ibunya. Cucu mewarisi 50% dari 50% yaitu 25% dari kakeknya. Lama-lama, karakter ini akan habis terkikis. Fenomena ini berlawanan dengan teori Darwin dan Darwin tidak mampu menemukan solusinya.

Lebih rumit lagi, misal, seorang lelaki berambut keriting punya anak berambut lurus. Kemudian, punya cucu berambut keriting mirip dengan kakeknya tetapi beda dengan bapaknya.

Mendel (1822 – 1884) hidup sejaman dengan Darwin. Tampaknya mereka tidak saling berhubungan. Penelitian Mendel tentang genetika berhasil menyelamatkan teori Darwin dari keruntuhan. Tetapi, Darwin tidak mengenal solusi Mendel. Baru pada tahun 1920an, Mendel dan Darwin sudah meninggal puluhan tahun, murid-murid Darwin berhasil mengadaptasi teori Mendel ke dalam teori evolusi.

Menurut Mendel, orang tua mewariskan gen-gen ke keturunannya. Bukan mewariskan karakter yang selalu tampak. Dari genetika, ada gen dominan dan, lainnya, resesif. Gen dominan selalu tampak ke anak turunan. Sementara, gen resesif kadang tampak, kadang tidak. Gen resesif menjelaskan bagaimana karakter tidak muncul pada anak, tetapi kemudian, muncul pada karakter cucu.

Masih menurut Mendel, orang tua mewariskan gen 100% ke anaknya. Akibatnya, anak menerima gen 100% dari ayah dan 100% dari ibu, total 200% atau 2n. Selanjutnya, anak mewariskan gen 100% ke cucu – dikombinasikan gen 100% pasangan anak. Dengan demikian, gen diwariskan 100%. Sehingga, tidak terjadi karakter yang memudar. Yang terjadi, justru, adalah mutasi acak genetika.

Neo Darwin

Teori evolusi Darwin sudah runtuh sejak awal, sejak masa Darwin masih hidup. Menariknya, sains selalu mampu beradaptasi. Sains mampu ber-evolusi. Sehingga, teori evolusi Darwin juga mengalami evolusi itu sendiri.

Sebutan sebagai Neo Darwin, barangkali lebih tepat. Meski, kita menyebut evolusi Darwin, sejatinya, yang kita maksud adalah evolusi neo Darwin. Benar saja, sampai sekarang, neo Darwin mengalami koreksi terus-menerus. Salah satu istilah paling terkenal adalah “missing-link” atau bentuk transisi.

Bentuk transisi menjadi masalah dalam evolusi – dan menjadi masalah filosofis secara luas. Misal, manusia adalah hasil evolusi dari kera, maka kita perlu transisi dari kera menjadi manusia.

Manusia (100, 0)
Transisi (50, 50)
Kera (0, 100)

Transisi (50 , 50) adalah manusia-kera yang memiliki karakter manusia 50% dan karakter kera 50%. Ketika, kita menemukan fosil Transisi (50, 50), maka, kita perlu transisi yang lebih baru lagi.

Manusia (100, 0)
TT (60, 40)
Transisi (50, 50).

Kita bisa menduga bahwa tuntutan transisi ini tidak akan ada habisnya. Ketika TT (60, 40) sudah memiliki karakter 60% manusia, maka, kita menuntut persentase yang lebih tinggi lagi. Bahkan seandainya, kita menemukan fosil yang 99% karakter manusia maka kita masih menuntut persentase yang lebih sempurna lagi. Apakah realistis?

Yang menarik adalah, bahkan pada situasi saat ini, tanpa ditemukan fosil bentuk transisi, para pendukung evolusi Darwin tetap yakin bahwa manusia adalah hasil evolusi spesies kera, atau spesies non-manusia. Sementara, bagi yang kontra Darwin menyatakan bahwa bukti yang ada tidak memadai. Seandainya dilengkapi dengan bukti fosil transisi, tetap saja, bukti-bukti itu tidak memadai.

Pro dan kontra terus terjadi. Bagian selanjutnya, kita akan meninjau evolusi dari perspektif yang lebih luas.

8.2 Evolusi Kreatif

Proses evolusi itu pasti terjadi, harus terjadi, dan memang terjadi. Imajinasi kita memerlukan obyek yang berada dalam ruang dan waktu. Karena itu, setiap obyek pasti mengalami evolusi.

Perhatikan pohon di sebelah rumah Anda. Pohon itu hadir secara evolusi. Maksudnya, pohon itu awalnya kecil, lalu, tumbuh menjadi besar. Bagaimana, seandainya, pohon itu muncul dengan tiba-tiba langsung berupa pohon besar di depan kita? Kita bisa merekam kemunculan pohon itu menjadi video yang durasinya mungkin setengah detik. Dari tidak ada pohon, tiba-tiba, menjadi ada pohon. Kemudian, kita bisa memutar video itu dengan gerak lambat. Durasi video yang setengah detik itu menjadi berjalan dalam 10 menit. Kemunculan pohon yang tiba-tiba menjadi tampak bertahap, menjadi evolusi.

Bayangkan, jaman dahulu kala, hadir orang pertama. Umat beragama menyebut orang pertama tersebut adalah Adam dan Hawa. Di sini, kita menyebut orang pertama, misalnya, adalah Aba. Barangkali, Aba muncul begitu saja di dunia ini. Muncul begitu saja dalam waktu berapa detik? Secepat kilat. Atau, lebih cepat dari kilat. Baik. Dari tidak ada Aba menjadi ada Aba, maka, pikiran kita menuntut adanya proses yang memerlukan waktu atau durasi. Misal durasi tersebut sangat singkat yaitu d.

Lagi, kita bisa membuat skenario untuk merekam kemunculan Aba dengan kamera video. Tentu saja, rekaman video itu berdurasi pendek yaitu d. Tetapi jelas, video itu menunjukkan di suatu tempat, mula-mula, tidak ada Aba. Selang waktu d, lebih cepat dari kilat, muncul Aba. Kemudian, kita memutar video itu dengan gerak lambat menjadi 10 menit. Maka, kita melihat kemunculan Aba secara bertahap, secara evolusi.

Semua materi fisik yang ada di dalam ruang waktu memerlukan proses untuk hadir. Maka, mereka perlu proses evolusi. Sehingga, teori evolusi itu sudah pasti harus ada. Petanyaannya adalah bagaimana proses evolusi itu terjadi?

Evolusi Mekanistik

Bergson (1859 – 1941) menilai teori evolusi Darwin bersifat mekanistik. Manusia dikenai oleh hukum-hukum alam di lingkungan sekitar. Kemudian, sebagian manusia punah akibat hukum alam itu. Seleksi alam. Dan, sebagian kecil darinya tetap hidup sampai kini – anak keturunannya. Mereka bisa berubah karena ada mutasi acak genetika yang lambat laun diwariskan ke anak-cucu.

Teori evolusi mekanistik, seperti di atas, tidak mampu menjelaskan proses kreatif yang terjadi di alam raya. Perhatikan seekor induk kupu-kupu yang hendak bertelur. Dia, kupu-kupu itu, tidak sebarang tempat bertelur. Dia, secara kreatif, mencari tempat bertelur sedemikian hingga, ketika telur menetas menjadi ulat maka ulat tersebut cukup mendapat makanan dari tempat sekitar.

Perhatikan manusia! Seorang anak manusia menulis lagu lalu menyanyikan dengan merdu. Seorang anak manusia menulis rumus matematika yang kelak menjadi program komputer luar biasa. Seorang anak manusia menciptakan pesawat terbang untuk keliling dunia. Seorang anak manusia, memang kreatif, luar biasa.

Kita membutuhkan teori evolusi yang kreatif yang mampu menjelaskan proses kreatif umat manusia dan alam raya.

Simpati

Manusia memiliki kehidupan dengan cara menjalani kehidupan. Manusia menjadi hidup karena menjalani proses kreatif menciptakan kehidupan. Manusia bukan dipaksa untuk hidup. Tetapi, manusia memilih menjalani hidup dengan proses kreatif.

Simpati adalah kesadaran manusia, bahwa, dalam dirinya ada kebebasan, ada freedom. Dan, melalui simpati juga, manusia menyadari bahwa orang lain sama dengan dirinya – memiliki simpati, memiliki kesadaran, dan memiliki kecerdasan.

Kecerdasan

Simpati dan kecerdasan saling terhubung. Lebih dari hanya mengenali bahwa ada orang lain yang punya kesadaran, dengan kecerdasaan, atau dengan intelligence, manusia mampu berpikir secara kreatif melampaui segala rintangan. Di saat yang sama, manusia mampu merancang masa depan yang baru, yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Manusia memiliki tujuan yang pasti. Tetapi bukan tujuan yang tunggal. Tujuan itu bersifat kreatif dan cerdas. Sehingga, kita tidak bisa memastikan kreativitas dari kecerdasan manusia di masa depan.

Evolusi manusia adalah evolusi kreatif, bukan sekedar evolusi mekanistik.

Alam, bisa saja, mendiktekan suatu kondisi kepada manusia. Dengan kreativitas, umat manusia mampu mengatasi batasan alam itu. Bahkan, manusia memanfaatkan alam semesta untuk lebih berkembang lagi. Alam, bisa saja, bermaksud melakukan seleksi kepada manusia berupa seleksi alam. Manusia, dengan kecerdasannya, berhasil meloloskan diri dari setiap seleksi alam. Darwin terbukti salah dengan menganggap populasi dari suatu spesies adalah konstan. Populasi umat manusia adalah 0,5 milyard pada tahun 1500 dan berkembang menjadi lebih dari 6 milyard pada tahun 2000.

Darwin salah merumuskan premis empirisnya sehingga deduksi yang menghasilkan teori evolusi mekanistik juga tidak sah. Kita perlu menggantinya dengan teori evolusi kreatif.

Freedom

Apakah evolusi berjalan dengan kebebasan manusia? Apakah manusia memiliki freedom dalam menjalani evolusi? Bukankah badan manusia, termasuk otak manusia, dikenai hukum alam yang bersifat pasti? Ketika kita menerima bahwa evolusi berlangsung secara kreatif, maka, apakah evolusi tersebut sudah dipastikan oleh hukum alam?

Darwin menjawab bahwa evolusi terjadi karena mutasi acak, sehingga, tidak deterministik. Ada peluang bagi manusia memiliki freedom dalam teori Darwin. Sebaliknya, evolusi kreatif menilai bahwa manusia mempunyai “tujuan” tertentu. Dengan demikian, manusia terikat oleh tujuan tersebut secara intelektual – sadar atau tidak. Di sisi lain, badan manusia terikat oleh hukum fisika. Lengkap sudah, manusia tidak memiliki freedom dengan sudut pandang seperti itu.

Manusia tetap memiliki freedom, memiliki kebebasan, meskipun terikat oleh suatu tujuan dan terikat oleh hukum fisika.

Karena, menurut Bergson, manusia memiliki waktu berupa durasi. Konsep durasi berbeda dengan konsep waktu yang berjalan linear dari masa lalu, masa kini, dan masa depan. Durasi bersifat kumulatif intensif dan terbebas dari pengaruh ruang. Dengan demikian, durasi memberi “waktu” kepada manusia memilih secara bebas, freedom.

Ketika manusia mendapat tekanan dari alam, maka, manusia memiliki durasi untuk memilih respon secara bebas. Manusia bisa merespon mengikuti tekanan alam, atau melawan tekanan alam, atau menghindari tekanan alam, atau respon kreatif lainnya.

Demikian juga, ketika manusia terikat oleh suatu tujuan, maka, manusia memiliki durasi untuk merespon ikatan tujuan itu dengan bebas. Manusia bisa merespon dengan komitmen terhadap tujuan itu, atau meninggalkan tujuan, atau membuat tujuan baru, atau respon kreatif lainnya.

Evolusi kreatif, benar-benar, berlangsung dengan cara kreatif dan bebas.

Elan Vital

Tidak ada jaminan bahwa generasi terakhir lebih kreatif dari generasi sebelumnya. Jadi, apa yang menjamin evolusi kreatif mengantarkan spesies menjadi lebih baik? Apa lagi, jika manusia memiliki freedom untuk memilih, maka apa yang bisa mencegah manusia berbuat keburukan?

Sebaliknya, evolusi mekanistik Darwin lebih menjamin pertumbuhan kebaikan. Mutasi genetika terjadi secara acak. Kemudian, alam melakukan seleksi umum. Hasil mutasi terbaik, dalam arti mampu beradaptasi, akan berhasil bertahan di alam dan berkembang biak dengan melahirkan generasi penerus. Dengan demikian, generasi penerus terjamin lebih baik dari generasi-generasi terdahulu melalui evolusi mekanistik Darwin.

Bergson menjawab bahwa evolusi kreatif digerakkan, didorong dan ditarik, oleh elan vital – kita sebut sebagai elan. Dengan elan, evolusi kreatif cenderung menuju ke arah yang lebih baik. Meski pun, manusia tetap memiliki freedom untuk menentukan sendiri arah evolusinya. Elan adalah energi kehidupan yang “mengingatkan” manusia untuk memilih arah yang terbaik.

Elan memberi tahu manusia bahwa “menghormati ibu” adalah perilaku yang baik. Setiap manusia bebas untuk memilih “menghormati ibu” atau memilih lainnya. Tetapi, elan menunjukkan kepada manusia: mana yang baik dan mana yang tidak baik. Elan pada induk kupu-kupu memberi tahu lokasi mana yang tepat untuk bertelur agar ketika telur menetas, nantinya, ulat-ulat itu memperoleh makanan yang memadai. Elan membimbing manusia untuk sanggup menghadapi segala rintangan. Bahkan, elan menunjukkan jalan pengorbanan untuk memberikan kebaikan terbesar bagi semesta raya. Elan adalah energi kehidupan yang ada pada setiap individu.

Evolusi Eksistensial

Terdapat beberapa alternatif teori evolusi: mekanistik, kreatif, eksistensial, ID, dan ekstended. Semua alternatif di atas mengutamakan analisis faktor imanen kecuali ID. Karena sama-sama imanen, di antara beragam alternatif, bisa saling melengkapi. Sementara ID, yang cukup kuat faktor transenden, cukup sulit untuk saling melengkapi dengan lainnya.

Bergson, dengan sengaja, mengarahkan evolusi kreatif untuk mengkritisi evolusi mekanisitik. Sedangkan, evolusi eksistensial hadir lebih awal dari evolusi mekanistik Darwin. Sehingga, kita harus membuat formulasi khusus untuk mengarahkannya sebagai kritik terhadap teori evolusi mekanistik.

Suhrawardi (1154 – 1191), Ibnu Arabi (1165 – 1240), dan Sadra (1571 – 1640) berhasil meletakkan konsep dasar evolusi eksistensial. Khususnya Sadra, dengan tegas, menyatakan terjadinya gerak-substantial abadi terhadap seluruh realitas alam raya. Gerak-substansial adalah dasar dari evolusi eksistensial.

Pertama, realitas paling fundamental adalah tunggal yaitu monisme-eksistensi. Kadang, kita membuat simbol cahaya untuk mewakili eksistensi. Selain eksistensi adalah tidak ada atau void. Kedua, eksistensi beragam dalam gradasi intensitas – ada yang lebih kuat dan ada yang lebih lemah. Di saat yang sama, eksistensi atau cahaya termodulasi, sehingga, menghadirkan beragam spesies konsep atau barza. Ketiga, setiap realitas dikenai gerak-substansial terus-menerus. Gerak ini satu arah, dari cahaya lemah menuju cahaya lebih kuat. Gerak-substansial terjadi karena cahaya yang kuat melimpahkan cahaya eksistensi ke yang lebih lemah. Sementara, cahaya yang lemah selalu “rindu” untuk meraih cahaya yang lebih kuat.

Mari kita coba menerapkan konsep gerak-substansial ke evolusi-eksistensial.

A: Karena eksistensi-cahaya bergradasi maka kita menyaksikan keragaman spesies dan keragaman individu.

B: Masing-masing spesies atau individu mengalami evolusi-eksistensial dengan “rindu” kepada eksistensi-cahaya yang lebih kuat atau lebih sempurna. Di saat yang sama, cahaya yang lebih kuat menarik, atau mendorong, individu untuk menjadi lebih sempurna. Evolusi-eksistensial ini berlangsung secara terus-menerus.

C: Arah evolusi-eksistensial adalah satu arah, yaitu, menuju eksistensi-cahaya yang lebih kuat, atau lebih sempurna.

Jika kita membandingkan evolusi-eksistensial dengan evolusi-kreatif maka kita akan menemukan beberapa kesamaan dan perbedaan.

Pertama, ada kekuatan, yang lebih besar dari sekedar aturan materi fisik, yang “mendorong” evolusi terus berlangsung. Elan bagi evolusi-kreatif dan gerak-substansial bagi evolusi-eksistensial.

Kedua, kekuatan evolusi bersifat imanen di dunia ini. Bagi evolusi-kreatif terbuka “ruang” tak terbatas pada durasi. Bagi evolusi-eksistensial terbuka “ruang” tak terbatas untuk penyempurnaan eksistensi-cahaya.

Ketiga, sama-sama terbuka terhadap argumen transendental. Sejatinya, evolusi mekanistik Darwin juga masih terbuka terhadap argumen transendental. Tetapi, tampaknya, para pendukungya tidak berminat mengembangkan argumen transendental. Apalagi, realitas transenden.

Berikutnya, kita perlu membahas ID, Intelligent Design, yang terasa kuat muatan transendentalnya.

8.3 Intelligent Design

Sejak awal, Darwin meragukan dalil teologis kreasionisme yang menyatakan bahwa manusia pertama diciptakan begitu saja dari kehampaan. Doktrin kreasionisme tidak memberi pengetahuan baru apa pun tentang asal-mula spesies manusia. Darwin menyusun teori evolusi yang berhasil memberi pengetahuan baru dan mendorong kajian baru tentang alam raya. Dalam sudut pandang ini, Darwin berhasil meraih sukses luar biasa.

Menariknya, konsep kreasionisme itu sendiri mengalami evolusi menjadi lebih matang, yaitu, menjadi Intelligent Design atau ID. Dari namanya, kita sudah bisa menangkap pesan bahwa ID meyakini eksistensi perancang cerdas yang transendental yaitu Tuhan. Lebih dari itu, ID memberi tantangan serius kepada teori evolusi mekanistik Darwin.

Kompleksitas

Kompleksitas yang tidak bisa direduksi. Struktur kompleks yang berfungsi dengan baik tetapi masing-masing komponen tidak bisa mewakili struktur kompleks itu. Misal, perhatikan struktur kompleks pada mobil ada kursi, roda, stir, dan mesin. Kursi saja, tidak bisa berfungsi sebagai mobil. Mesin saja, juga, tidak bisa berfungsi sebagai mobil. Struktur kompleks mobil adalah satu kesatuan. Tidak bisa direduksi menjadi komponen-komponen belaka. Karena, ada perancang cerdas yang merancang mobil menjadi struktur kompleks, sehingga, mobil berfungsi sebagai alat transportasi dengan baik.

Struktur kompleks pada tubuh manusia tersusun oleh mata, kaki, tangan, dan otak. Masing-masing organ tidak bisa mewakili manusia. Manusia merupakan struktur kompleks yang dirancang oleh perancang cerdas, sehingga, terciptalah manusia secara sempurna.

Spesifik

Kompleksitas yang berkembang makin kompleks, di saat yang sama, memiliki tujuan spesifik. Mobil makin kompleks dengan beragam asesoris: spion, nomor, ac, dan lain-lain. Kompleksitas yang meningkat ini memiliki tujuan menjadikan mobil sebagai alat transportasi yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan tujuan sang perancang.

Organ manusia, misal organ mata, terdiri dari jutaan sel. Beragam jenis sel berkembang di organ mata, sementara, beragam jenis sel lain tidak berkembang. Jutaan sel di organ mata tersusun dengan kompleks, dengan tujuan spesifik, agar bisa melihat. Tidak ada sel yang menumbuhkan daging di depan kornea, misalnya, karena bisa menghalangi mata. Sementara, sel-sel tumbuh untuk menguatkan otot-otot akomodasi lensa mata. Semua sesuai kehendak sang perancang cerdas.

Penalaan

Fine-tune, atau penalaan, alam raya begitu mempesona. Ketetapan gravitasi, massa proton, kecepatan cahaya, muatan listrik, dan lain-lain begitu sempurna, sehingga, memungkinkan terciptanya alam raya dan lahirnya kehidupan manusia.

Seandainya, ketetapan gravitasi lebih besar dari seharusnya, maka, alam semesta ini terlalu kuat terikat. Sehingga, alam raya tidak mengembang. Alam raya mengkerut sejak awal kemunculannya. Dan, tidak sempat ada kehidupan apa pun di alam semesta – bahkan tidak sempat ada alam semesta. Tetapi, angka ketetapan gravitasi begitu tepat. Sehingga, alam berkembang sampai kehadiran umat manusia yang cerdas. Itu semua sesuai dengan tujuan dari sang perancang cerdas.

Perancang

Siapakah perancang cerdas itu?

Jawabannya adalah Tuhan Sang Maha Cerdas. Tentu saja, itu jawaban yang benar. Jawaban yang sah. Bagi umat beragama berhak untuk mengatakan bahwa alam semesta adalah rancangan dari Tuhan.

Pertanyaannya adalah bagaimana dalil-dalil ID, di atas, bisa membuktikan adanya Tuhan sebagai perancang cerdas? Atau, bagi orang yang tidak percaya, bagaimana membuktikan Tuhan itu ada? Atau, bagaimana Tuhan berhubungan dengan semua alam raya itu?

ID bisa menyusun argumen untuk menjawab semua pertanyaan itu. Tetapi, komunitas saintis menilai argumen ID tidak ilmiah. Sehingga, ID dianggap sebagai bukan sains. Beberapa pihak menilai ID sebagai sains palsu. Sehingga, konsep ID dilarang diajarkan di sekolah.

Salah satu keberatan utama terhadap ID adalah logika ignoran – logika tidak tahu. Karena kita tidak tahu mengapa sel-sel tertentu berubah membentuk organ mata, maka, kesimpulannya adalah karena ada perancang cerdas. Karena kita tidak tahu mengapa banyak hal menakjubkan, maka, kesimpulannya adalah karena ada perancang cerdas.

Sementara, komunitas saintis berharap, ketika kita tidak tahu sesuatu, maka kita perlu mengkajinya.

Secara filosofis, dalil ID bisa saja valid, meski belum tentu benar. Alternatifnya, para pendukung ID bisa saja mengembangkan sistem aksiomatik dengan menerima interpretasi ID sebagai aksioma. Kemudian, sistem aksiomatik itu terus bekembang secara canggih. Realitasnya, sistem aksiomatik ID memang berkembang. Tetapi, mereka sering berbenturan di domain yang sama dengan sains. Sehingga, konflik tak terhindarkan.

Alternatif lain adalah ID bisa mencoba mengadaptasi evolusi-kreatif dan evolusi-eksistensial. Tampaknya, ID lebih dekat ke konsep evolusi-kreatif ini. Tantangan tetap ada: evolusi-kreatif mengandalkan argumen imanensi, sementara, ID mengandalkan argumen transenden. Akankah ID tertarik dengan argumen imanen?

8.4 Extended

Anomali adalah sebentuk pengetahuan. Pengecualian adalah pengetahuan sejati. Perbedaan adalah pengetahuan baru. Sehebat apa pun klaim teori evolusi, tetap saja, kita bisa menemukan beragam anomali. Bukan hanya satu anomali, tetapi, banyak anomali. Sehingga wajar, banyak pihak yang mengusulkan revisi terhadap teori evolusi.

Extended Evolution Synthesis (EES) adalah salah satu usulan solusi yang mengakomodasi beragam anomali dari teori evolusi. Tentu saja, kita bisa menduga, terjadi pro kontra terhadap EES. EES mengusulkan agar beberapa sub-bidang baru menjadi landasan sains biologi di antaranya: plasticity, pengembangan evolusi, epigenetik, dan evolusi kultur.

Plasticity menunjukkan bagaimana suatu organisme dapat berubah dengan sangat lentur, sangat plastis. Perubahan plastis jauh lebih drastis dari yang dipikirkan oleh perubahan evolusi. Barangkali, perubahan plastis bisa dikatakan sebagai revolusi.

Polypterus senegalus adalah ikan dari Senegal yang mampu berubah secara revolusioner. Polypterus memiliki insang dan paru-primordial. Di atas permukaan air, polypterus mampu bernafas dengan paru-primordial. Sementara, sebagian besar hidupnya, polypterus hidup di dalam air dengan memanfaatkan insang. Saintis melakukan eksperimen dengan memindahkan polypterus muda, usia beberapa minggu, ke habitat daratan. Polypterus itu berhasil hidup di daratan dengan mengembangkan paru-primordial menjadi paru-paru, sehingga bisa bernafas dengan baik. Tulang-tulang siripnya berkembang lebih kuat untuk menopang badannya bergerak di darat. Dan, beragam anggota tubuhnya berubah untuk mendukung kehidupan di daratan.

Polypterus ini merupakan, mirip dengan, fosil transisi dari mahkluk air menjadi makhluk darat. Berdasar data fosil, perlu waktu jutaan tahun, untuk transisi seperti polypterus. Sementara, polypterus melakukannya dengan cepat hanya perlu satu generasi. Perubahan evolusi yang revolusioner. Beberapa saintis tidak menyebutnya sebagai revolusioner, tetapi, sebagai transformasi cepat.

EES memiliki banyak data empiris yang menunjukkan simpangan serius terhadap evolusi neo Darwin. Sehingga, EES menuntut revisi besar-besaran terhadap teori evolusi. Sementara, di sisi pendukung evolusi Darwin, menganggap semua simpangan di atas adalah wajar-wajar saja. Semua bisa dijelaskan dengan kerangka evolusi yang sudah ada. Jadi, tidak perlukah revisi terhadap teori evolusi?

8.5 Opini

Kesimpulan akhir: teori evolusi adalah sebuah opini. Teori evolusi bukan sains, tetapi teori sains. Teori evolusi bukan fakta sains, tetapi teori sains. Teori evolusi, juga, bukan kesesatan. Teori evolusi adalah opini yang nilai kebenarannya diharapkan benar, tetapi, belum terbukti sebagai benar.

Bisakah, teori evolusi menjadi sains empiris? Tidak bisa. Karena evolusi melibatkan data fosil dari masa jutaan tahun yang lalu, maka, kita menyertakan banyak interpretasi dalam teori evolusi. Sehingga, tetap menjadi opini yang mungkin bernilai benar.

Bisakah, teori evolusi menjadi sistem pengetahuan aksiomatik? Bisa. Beberapa orang yang menerima interpretasi tertentu sebagai aksioma, maka, selanjutnya, bisa mengembangkan sistem pengetahuan aksiomatik. Tetapi, teori evolusi lebih dekat ke sistem sains empiris dari pada ke sistem aksiomatik matematika atau sistem aksiomatik agama. Barangkali lebih bijak, kita memilih teori evolusi dibiarkan tetap dinamis.

Bisakah, teori evolusi menjadi sistem pengetahuan aksiomatik filosofis? Tentu bisa. Evolusi-kreatif dan evolusi-eksistensial adalah sisten aksiomatik filosofis untuk teori evolusi. Bagaimana pun, kita tetap perlu perkembangan data empiris untuk menguji teori evolusi. Sehingga, meski tersedia sistem aksiomatik filosofis, kita tetap memerlukan revisi berdasar data empiris. Teori evolusi tetap dinamis. Tetap evolusi, atau kadang, revolusi.

Lanjut ke Batas-Batas
Kembali ke Philosophy of Love

Benar Vs Salah

Cinta saya kepada Rara adalah cinta sejati. Kebenaran sejati. Tidak ada keraguan sama sekali. Tetapi bila ditanya berapa tinggi badan Rara maka ada keraguan menjawabnya. Di sekolah, tinggi Rara 165 (cm). Waktu Rara tes mengemudi untuk SIM, tingginya 166. Sehingga saya mengira tinggi Rara sekitar 165 – 166. Mengapa kita tidak bisa tahu tinggi Rara yang sebenarnya?

1. Kebenaran Empiris Aksiomatik
1.1 Kebenaran Korespondensi
1.2 Ketidakpastian Korespondensi
1.3 Problem Relasi
1.4 Kebenaran Aksiomatik
2 Kebenaran Praxis Probabilistik
2.1 Kebenaran Praxis
2.2 Konsensus Praxis
2.3 Dissensus Praxis
2.4 Kebenaran Probabilistik
2.5 Berbohong dengan Statistik
3. Kebenaran Cinta Kreatif
4. Ringkasan
5. Diskusi
5.1 Kebenaran Dinamis
5.2 Kebenaran Verifikasi
5.3 Kebenaran Cakrawala
5.4 Kebenaran Interpretasi
5.5 Kebenaran Pengalaman

Di masa pandemi covid-19, Presiden dengan konsisten menyatakan bahwa kondisi Indonesia senantiasa baik-baik saja. Awal Desember 2020, tiba-tiba Presiden menyatakan bahwa kondisi Indonesia memburuk, semuanya memburuk. Selang satu hari, Presiden menyatakan lagi bahwa Indonesia sudah baik. Hanya sekitar 5 jam setelah itu, kasus positif terinfeksi virus di Indonesia meledak, memuncak, bertambah lebih dari 8 ribu dalam sehari.

Di antara pernyataan Presiden itu, mana yang benar? Mana yang sesat? Apakah semua bisa dianggap benar? Selalu relatif? Pada bagian ini kita akan membahas dengan tegas mana yang termasuk benar, sebagai kebenaran. Dan tentu saja, juga menentukan mana yang salah, sebagai kesesatan atau kebohongan.

Berbohong dengan statistik adalah paling menarik. Karena bohongnya dilengkapi dengan data, persentase, perbandingan, dan lain-lain membuat masyarakat luas mudah percaya. Bohongnya statistik begitu meyakinkan. Tetapi, sejatinya, dengan data statistik yang sama kita lebih mudah mengungkap kebohongan itu. Hanya saja, data yang bisa mengungkap kebohongan itu, bisa disembunyikan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Pembahasan kita akan dimulai dengan menyelidiki kebenaran yang bersifat korespondensi. Kebenaran ini dianggap paling sederhana yaitu tinggal dicek dengan fakta. Nyatanya tidak semudah itu karena definisi fakta tidak selalu sama. Kemudian kita akan membahas kebenaran aksiomatik yang bersifat pasti semisal kebenaran matematika dan sains teknologi. Pada bagian akhir kita membahas kebenaran probabilistik yang mencakup hampir seluruh pengetahuan manusia.

Dari arah yang berbeda kita perlu mempertimbangkan kebenaran moral. Meski diliputi beberapa perbedaan sudut pandang, kita perlu membahas kebenaran moral, dan kebenaran fundamental, dengan tuntas. Perbedaan-perbedaan, demi keperluan praktis, dapat diselesaikan dengan konvensi, kesepakatan di antara pihak yang berkepentingan.

1. Kebenaran Empiris Aksiomatik
1.1 Kebenaran Korespondensi

“Tinggi badan Rara adalah 165 cm.”

Pernyataan di atas adalah benar secara korespondensi bila ada fakta empiris yang sesuai. Maka kita bisa mengukur tinggi badan Rara secara langsung, secara empiris. Misal hasil pengukuran menunjukkan bahwa tinggi badan Rara 165 cm. Sehingga kita menyimpulkan pernyataan di atas bernilai benar, sebagai kebenaran. Jika tinggi Rara, dari pengukuran, ternyata tidak 165 cm maka pernyataan di atas dianggap salah, sebagai kesesatan.

Situasi lebih menantang adalah bagaimana jika kita tidak bisa secara langsung mengukur tinggi badan Rara? Misalnya kita pada posisi di luar negeri yang membutuhkan informasi tentang tinggi Rara, bisa diinfokan secara online. Barangkali kita bisa melihat dokumen resmi yang memuat informasi tentang tinggi badan Rara. Di KTP tertulis tinggi badan Rara 165 cm. Tapi di SIM tertulis tinggi badan Rara 166 cm. Mana yang benar?

Di sini kita bisa mengambil sikap bahwa kebenaran korespodensi dihubungkan dengan (1) realitas atau (2) sesuatu yang dianggap benar. Dalam kehidupan sehari-hari, dokumen legal adalah termasuk sesuatu yang dianggap benar. Misal KTP Rara yang menyatakan bahwa tinggi badan Rara 165 cm adalah dianggap benar. Dengan demikian, pernyataan di atas, bahwa tingggi badan Rara adalah 165 cm, bernilai benar.

Tetapi mengacu SIM, tinggi Rara adalah 166 cm. Perbedaan tinggi yang hanya 1 cm, dalam kehidupan sehar-hari, masih dapat diterima. Artinya, kita masih dapat menganggap kedua dokumen di atas sama-sama benar. Barangkali tinggi Rara, sejatinya, memang antara 165 – 166 cm. Sehingga ketika diukur, kadang terbaca, pembualatan, menjadi 165 atau 166 cm. Secara praktis, manusia bersikap toleran. Bisa menerima beberapa perbedaan dengan lapang dada. Dan dalam banyak hal kita memerlukan sikap toleran seperti itu.

Kita masih bisa terus bertanya berapa tinggi Rara sejatinya, secara realitas. Barangkali kita bisa melakukan pengukuran beberapa kali agar lebih yakin. Hasilnya, misalnya dalam satuan cm, seperti berikut:

Pengukuran 1 = 165,4
Pengukuran 2 = 165,49
Pengukuran 3 = 165,499
Pengukuran 4 = 165,4999
Pengukuran 5 = 165,49999

Wajar bila KTP menuliskan 165 sebagai pembulatan ke bawah. Dan bisa dipahami SIM menuliskan 166 sebagai pembulatan ke atas. Sekali lagi, sebagai mahasiswa filsafat kita masih bertanya, berapa tinggi Rara sejatinya? Dari hasil pengukuran di atas, sains dan matematika punya jawaban yang meyakinkan. Misalkan makin teliti (presisi) pengukuran tinggi Rara menghasilkan nilai angka di belakang koma adalah 9 terus menerus. Tanda titik 3 di belakang angka 9 menandakan angka 9 diulang tanpa henti.

R = 165,499999…

Bila R dikali 10 maka akan menghasilkan angka yang sama tapi tanda koma digeser ke kanan. Hasil kali ini juga memiliki angka 9 di belakang koma berulang tanpa henti.

10 x R = 1654,99999…

Karena sama-sama memiliki angka 9 berulang tanpa henti maka bila kita kurangkan, angka 9 tanpa henti ini menjadi saling menghilangkan.

10 x R – R = 1654,99999… – 165,499999… = 1489,50

9 x R = 1489,50

R = 1489,50/9 = 165,5

Jadi, tinggi Rara tepat 165,5 cm setelah dilakukan pengukuran berulang-ulang dan dihitung secara matematika. Sampai di sini, kita bisa menyimpulkan bahwa sah KTP menulis 165 cm, SIM menulis 166 cm, untuk tinggi Rara. Angka tersebut cukup akurat sesuai pengukuran sains yang memberikan hasil lebih presisi yatu 165,5 cm.

Pernyataan yang berkebalikan dengan hasil di atas bisa kita nilai sebagai kesesatan, lawan dari kebenaran. Misal pernyataan “tinggi badan Rara adalah 150 cm” adalah kesesatan. Orang juga sering menyebutkan sebagai kebohongan, yang menyesatkan.

1.2 Ketidakpastian Korespondensi

Mahasiswa filsafat masih bisa meniru Socrates yang terus-menerus mempertanyakan keabsahan pengukuran tinggi Rara di atas. Namun demikian, seorang filsuf tetap bisa menjaga diri dalam situasi praktis sehari-hari. Maksudnya, meski angka 165 atau 166 tidak secara tepat menggambarkan tinggi Rara yang sesungguhnya tetapi angka tersebut bisa diterima secara meyakinkan untuk dituliskan dalam dokumen resmi.

Demikian juga ketika ilmuwan menyatakan bahwa tinggi Rara yang lebih presisi adalah 165,5 cm maka kita terima untuk kepentingan sains. Resiko muncul ketika sains mengklaim bahwa angka 165,5 itu benar secara tepat. Meskipun secara matematika bisa dibuktikan bahwa,

R = 165,4999… = 165,5

Tetapi bisa dipastikan bahwa persamaan itu mengandung suatu “error”, yang bisa diterima. Error ini memang kecil tetapi tidak nol. Maka sains melangkah lebih fleksibel dengan memberi rentang toleransi berupa margin dari error. Misalnya, sains menyatakan bahwa tinggi Rara adalah 165,5 dengan toleransi 165 – 166 cm. Maksudnya, sains yakin bahwa tinggi Rara adalah 165,5 tetapi masih bisa menerima jika ada selisih sedikit misal di antara 165 – 166 tersebut.

Lagi, mahasiswa filsafat masih bisa bertanya, sebenarnya bisakah kita mengukur tinggi Rara dengan tepat?

Pertanyaan ini perlu kita tanggapi dengan cermat. Secara filosofis kita hanya bisa mengetahui penampakan Rara saja bukan Rara secara sejati. Sehingga ketika kita mengukur tinggi badan Rara, sejatinya itu hanya penampakan yang bisa kita ukur. Maka bisa kita nyatakan bahwa kita tidak bisa mengukur tinggi Rara dengan tepat. Kita hanya bisa mengukur penampakan belaka. Di sisi alat ukur sendiri, yang bisa diketahui adalah penampakan alat ukur. Bukan alat ukur sejatinya. Jadi, secara filosofis, kita tidak bisa mengukur tinggi Rara secara tepat. Kita hanya bisa melakukan estimasi dengan teliti.

Sains dan teknologi melangkah lebih berani. Dengan menciptakan alat ukur yang lebih canggih, dilengkapi sistem cerdas digital, maka kita memperoleh hasil ukur yang lebih mengagumkan presisi. Alat ukur canggih ini bisa mengarahkan posisi berdiri Rara agar ideal. Hasil pengukuran pun sudah berupa angka digital. Misal dengan kondisi yang sempurna, alat ukur menunjukkan hasil pengukuran,

R = 165,499 999 999 cm

Dengan ketelitian 9 angka di belakang koma. Hasil yang bagus. Sudah mencukupi untuk berbagai keperluan baik praktis, ilmiah, atau lainnya. Hanya satu yang belum terjawab: apakah itu benar-benar tinggi Rara sejati?

Seandainya alat ukur itu dibuat lebih hebat lagi dengan bisa menampilkan 1 digit tambahan. Maka digit tambahan itu akan menunjuk angka berapa? Jika menunjuk angka 9 lagi maka pengukuran sebelumnya adalah terlalu kecil dibanding pengukuran yang terakhir. Agar pengukuran awal memberikan hasil yang tepat maka tambahan digit baru harus menghasilkan angka 0. Dan bila ditambah berapa pun digitnya maka digit tambahan ini semuanya harus bernilai 0.

Mudah bagi kita untuk meragukan bahwa tambahan digit selalu menghasilkan 0. Kita lebih yakin bahwa tambahan digit bisa saja menghasilkan angka bukan 0. Sehingga hasil pengukuran itu tidak bisa kita yakini sebagai mengukur tinggi Rara secara sejati.

Barangkali kelemahan terletak pada alat ukur? Jika kita memiliki alat ukur sempurna apakah bisa mengukur tinggi badan Rara dengan sempurna?

Mari kita cermati dengan membayangkan kita memiliki teknologi sangat canggih sehingga bisa mengukur dengan sempurna. Alat ukur canggih ini berhasil mengukur tinggi Rara adalah 165,5 cm dengan satu masalah yaitu ada satu elektron yang kadang berada di atas rambut Rara. Jika elektron ini menyelinap ke bawah rambut maka tinggi Rara tepat 165,5 cm. Tetapi jika elektron ini berada di atas rambut maka tinggi Rara adalah 165,5 cm + d, di mana d adalah diameter elektron.

Panjang diameter elektron sekitar 10 pangkat -14 meter. Ilustrasinya, bila ada 1 trilyun elektron dipasang sambung menyambung maka panjang totalnya adalah 1 cm. Sehingga ukuran diameter elektron adalah terlalu kecil untuk pengalaman kehidupan sehari-hari.

Mari, kembali kita perhatikan hasil ukur alat yang sangat canggih itu. Hanya ada dua kemungkinan tinggi Rara yaitu tepat 165,5 cm atau 165,5 + d. Tampaknya dengan mudah kita bisa menyelesaikan masalah ini. Kita katakan tinggi Rara adalah tepat 165,5 cm ketika tidak ada elektron di atas rambutnya. Dan tinggi Rara jadi 165,5 cm + d ketika ada elektron di atas rambutnya. Solusi ini benar bila kita hanya menerapkan teori fisika klasik Newton. Tetapi, tidak bisa dibuktikan kebenarannya jika kita menerapkan teori mekanika quantum. Dan, sayangnya, urusan elektron adalah wilayah dari mekanika quantum.

Mekanika quantum menyatakan adanya ketidakpastian Heisenberg. Di mana kita tidak bisa mengetahui lokasi elektron secara pasti. Sehingga alat canggih kita tidak pernah tahu pasti apakah elektron sedang ada di atas rambut Rara atau tidak. Akibatnya, alat canggih kita tidak pernah tahu tinggi Rara secara tepat. Alat canggih kita hanya menduga.

Apakah dengan demikian alat ukur itu tidak berguna? Tentu saja berguna. Bahkan sangat berguna. Kita, sebagai manusia, perlu menyikapi hasil alat ukur itu dengan bijak. Pertama, sesuaikan kebutuhan. Jika kita perlu mengukur tinggi badan untuk kepentingan sehari-hari maka beda pengukuran 1 cm adalah wajar dan bisa diterima. Untuk kepentingan laboratorium, barangkali perlu lebih teliti misal selisih tidak boleh lebih dari 1 milimeter.

Kedua, dalam banyak hal kita lebih mementingkan akurasi. Misal menyatakan tinggi Rara 165 cm adalah benar, akurat. Menyatakan tinggi Rara 166 cm juga benar, akurat. Tetapi menyatakan tinggi Rara adalah 255,999 cm adalah salah. Meski presisi sampai 3 angka di belakang koma namun tidak akurat. Jadi kita anggap sebagai salah, atau informasi salah yang menyesatkan.

Ketiga, sehebat apa pun alat ukur kita, sehebat apa pun pengetahuan kita tentang alam eksternal, adalah tetap sebuah estimasi. Di mana estimasi kemungkinan besar akan bernilai benar namun tetap ada kemungkinan, pihak lain memiliki, hasil pengukuran yang berbeda dengan yang kita miliki. Maka di sini sikap respek antara berbagai pihak yang berbeda menjadi penting. Barangkali bisa dicari titik temu antara pihak yang berbeda. Atau paling tidak bisa saling memahami antara semua pihak.

1.3 Problem Relasi

Teori kebenaran korespondensi menghadapi masalah filosofis lebih serius: tidak pernah bisa terbentuk relasi yang diperlukan oleh korespondensi.

Mari kita tinjau ada meja bulat tinggi 1 meter dan ada meja persegi tinggi juga 1 meter. Kedua meja itu terhubung oleh relasi tinggi yang sama-sama 1 meter. Tetapi, bagaimana kita bisa tahu tinggi mereka adalah 1 meter?

Kita bisa mengukur dengan mistar penggaris dan menyimpulkan bahwa tinggi kedua meja tersebut adalah sama-sama 1 meter. Dalam kasus ini, mistar adalah penghubung, atau relasi, antara meja bulat dengan meja persegi. Pertanyaan berlanjut, “Bagaimana kita bisa membuat relasi antara mistar dengan tinggi meja?”

Kita berasumsi telah membuat relasi korespondensi ketika menempelkan mistar ke meja. Padahal, tidak ada hubungan nyata antara mistar dan meja. Relasi tersebut hanya ada dalam imajinasi kita. Kita berpikir bahwa panjang mistar adalah 1 meter, dalam imajinasi. Kemudian, kita menempelkan mistar ke meja dan membuat imajinasi tinggi meja adalah 1 meter berdasar hasil pengamatan pengukuran. Dalam tahap ini, imajinasi 1 meter adalah relasi yang kita buat.

Pertanyaan masih berlanjut, “Bagaimana imajinasi bisa terhubung dengan mistar?”

Misal, imajinasi terhubung dengan mistar melalui relasi A. Maksudnya, imajinasi terhubung dengan A dan A terhubung dengan mistar. Kita akan perlu membuat relasi lagi antara A dan mistar, misal melalui relasi B. Demikian seterusnya, kita perlu C, D, E, dan F tanpa ujung akhir. Karena itu, kita tidak pernah berhasil membuat relasi antara dua entitas yang dipersyaratkan oleh teori korespondensi.

Meski pun teori korespondensi menghadapi problem filosofis, tetapi tetap berguna. Dengan kata lain, korespondensi itu tidak mencukupi tetapi diperlukan. Karena itu, kita akan memanfaatkan secara luas teori korespodensi. Di saat yang sama, terbuka dengan ragam kemungkinan koreksi.

Beberapa solusi yang mungkin adalah dengan mengenalkan konsep dunia universalia – seperti dibahas di bagian terdahulu – atau dunia imajinasi atau dunia ketiga atau yang lainnya lagi. Di bagian bawah, kita akan membahas pentingnya teori kebenaran cinta-kreatif.

1.4 Kebenaran Aksiomatik

Seperti sudah kita nyatakan di awal, kebenaran aksiomatik bersifat pasti bahkan universal. Pernyataan matematika dan sains ideal adalah kebenaran aksiomatik, selalu bersifat benar. Kebenaran moral juga bersifat aksiomatik, selalu benar, sejauh acuan moral disepakati. Begitu juga kebenaran legal juga bersifat aksiomatik, selalu benar, sejauh acuan legal disepakati. Dan yang paling mengagumkan adalah kebenaran sistem informasi, digital, juga bersifat aksiomatik, selalu benar, sejauh sistem perform.

Tantangan pertama adalah menemukan formula kebenaran aksiomatik. Misalnya dalam geometri dinyatakan, “jumlah besar ketiga sudut dari segitiga adalah 180 derajat.” Pernyataan geometri ini selalu benar dan universal. Barangkali kita bisa mencoba aneka ragam segitiga. Lalu mengukur sudut-sudutnya dan menjumlahkannya. Memang selalu benar jumlahnya selalu 180 derajat, apa pun bentuk segitiganya.

Kita bisa mengubah pernyataan geometri di atas sebagai logika biimplikasi. (Dengan kalimat yang disederhanakan).

Jika segitiga maka total 180 derajat (dan)
Jika total 180 derajat maka segitiga.

Biimplikasi berlaku dua arah. Artinya, jika kita menemukan bangun datar dan jumlah seluruh sudutnya 180 derajat maka bisa dipastikan bangun datar tersebut adalah segitiga.

Di sisi lain, kita perlu waspada bentuk logika yang mirip biimplikasi tetapi berbeda, yaitu implikasi.

Jika suatu bilangan lebih dari 5 maka bilangan tersebut pasti positif.

Pernyataan di atas selalu benar. Kita bisa ambil contoh bilangan 6, 7, 8 atau berapa pun asal lebih dari 5 maka pasti positif juga. Tetapi implikasi pada arah kebalikannya tidak selalu benar.

Jika suatu bilangan positif maka bilangan tersebut lebih dari 5. (Tidak sah).

Berpikir seperti di atas adalah tidak sah. Dalam arti, logika itu bisa salah. Meskipun dalam kasus tertentu bisa saja benar. Di sini kita perlu waspada. Jika kita ambil contoh bilangan positif adalah 7 maka benar 7 adalah lebih dari 5. Tetapi jika kita ambil contoh bilangan positif adalah 2 maka tidak benar dianggap sebagai lebih dari 5.

Dalam kehidupan sehar-hari banyak contoh bisa kita amati.

Jika dia adalah Jokowi maka dia adalah presiden. (Benar dan sah)
Jika dia adalah presiden maka dia adalah Jokowi. (Tidak sah)

Yang terakhir bisa salah karena presiden bisa saja SBY, Mega, Obama, dan lain-lain. Bagaimana pun dengan mematuhi aturan logika kita bisa menjamin bahwa kebenaran aksiomatik berlaku universal, selalu benar. Apa lagi dengan memanfaatkan teknologi digital maka memudahkan perhitungan, simulasi, dan estimasi. (Dalam berbagai kasus, kita memahami bahasa sesuai language game Wittgenstein bukan dekonstruksi Derrida).

Godel (1906 – 1978) adalah ahli sistem aksiomatik yang berhasil menunjukkan kelemahan sistem aksiomatik atau sistem formal. Teorema Godel menyatakan bahwa setiap sistem aksiomatik pasti tidak lengkap atau tidak konsisten. Akibatnya, meski kebenaran askiomatik bersifat pasti, pada gilirannya, kita akan berhadapan dengan masalah paradoks. Dalam sistem aksiomatik akan menghasilkan suatu pernyataan bernilai BENAR dan sekaligus pernyataan tersebut bernilai TIDAK BENAR. Dan, sistem aksiomatik tidak mampu menentukan mana yang “lebih benar.” Sistem aksiomatik menjadi tidak konsisten.

Kabar baiknya, karakter tidak konsisten dari sistem aksiomatik tersebut bisa dibatasi hanya pada kasus tertentu saja. Sehingga, kita masih bisa percaya kepada sistem aksiomatik dalam banyak hal kasus. Sementara, untuk kasus tertentu, kita harus terbuka ada kemungkinan munculnya paradoks yang tidak konsisten.

2. Kebenaran Praxis Probabilistik
2.1 Kebenaran Praxis

Barangkali kita bahagia karena ada kebenaran universal yang selalu bernilai benar yaitu kebenaran aksiomatik. Nyatanya tidak semudah itu. Karena kebenaran universal berlaku pada syarat dan ketentuan, yang menjadi batasannya. Ketika kita hendak menerapkan ke dunia nyata sering dituntut untuk menerjemahkan yang universal menjadi partikular. Maka kita berhadapan dengan kebenaran praxis: penilaian intuitif kasus partikular dengan merujuk universal.

Mari kita ambil contoh pernyataan matematika “2 + 1 = 3” adalah selalu benar secara universal. Saat akan menerapkan ke dunia nyata kita berhadapan dengan kondisi yang berbeda.

beras 2 kg + beras 1 kg = beras 3 kg

Seharusnya persamaan tentang beras di atas benar sesuai formula matematika “2 + 1 = 3”. Tetapi kita tahu bahwa “beras 2 kg” adalah pernyataan praktis yang menuntut kebenaran korespondensi. Sudah kita bahas di atas, bahwa kita tidak bisa mengetahui dengan tepat beras 2 kg. Yang bisa kita ketahui adalah estimasi beras 2 kg. Barangkali beras 2 kg itu kelebihan 1 butir atau kurang 2 butir, malahan.

Dengan merujuk ketidakpastian Heisenberg, kita bisa menduga barangkali beras 2 kg itu kelebihan 1 elektron atau kurang 1 elektron. Tidak ada yang tahu secara pasti. Sesuai kaidah mekanika quantum tentang ketidakpastian Heisenberg.

Akibatnya, beras 2 kg adalah estimasi, beras 1 kg juga estimasi, dan hasilnya beras 3 kg pasti bersifat estimasi. Hasil estimasi ini sah. Hasil ini berguna dalam kehidupan praktis secara luas. Jika Anda membeli beras 2 kg lalu tambah lagi 1 kg maka Anda wajib membayar untuk total beras 3 kg itu. Tidak ada keraguan dalam hal ini.

Yang perlu diwaspadai adalah, dan perlu selalu diingat, bahwa klaim beras 3 kg adalah sekedar estimasi. Maka kita perlu bersikap toleran seandainya ada pihak lain yang berbeda pandangan. Kita yakin, dengan verifikasi, perbedaan pandangan tentang beras 3 kg akan berakhir dengan kata sepakat. Seperti kita sudah bahas pada bab sebelumnya, kasus beras 3 kg ini, termasuk penilaian intuitif yang memungkinkan persetujuan.

2.2 Konsensus Praxis

Habermas barangkali filsuf terbesar dunia yang masih hidup saat ini. Habermas berusia 91 tahun pada 2020. Habermas meyakini bahwa umat manusia akan mampu berhasil membangun peradaban bersama dengan mengedepankan konsensus melalui komunikasi rasional yang aktif. Seperti kita telah bahas dengan contoh di atas, bahwa dalam banyak hal, kita berhasil mencapai konsensus.

Kita bisa ambil contoh lagi untuk konsensus. Saya punya cita-cita mengajarkan matematika kreatif ke seluruh penjuru. Teman saya mempunyai kemampuan membuat program komputer, dan apk mobile. Kami bertemu lalu sepakat membuat kerja sama di bawah konsensus. Masing-masing pihak mempunyai hak dan kewajiban. Saya berkewajiban membuat konten matematika. Dan teman saya berkewajiban membuat program digital. Kerja sama berjalan dengan baik.

Kasus yang lebih serius terjadi pada abad ke 17 di bidang matematika. Siapakah penemu kalkulus? Ilmuwan Inggris mengklaim penemu kalkulus adalah Newton. Tetapi ilmuwan Jerman mengklaim penemu kalkulus adalah Leibniz. Masing-masing memiliki argumen yang sama kuat. Newton terbukti lebih awal mempublikasikan penemuan kalkulusnya. Sedangkan Leibniz terbukti, telah menemukan kalkulus beberapa tahun sebelum Newton, tersimpan dalam catatan pribadi yang belum dipublikasikan.

Sidang penentuan siapa penemu kalkulus digelar. Saat itu dicapai konsensus bahwa penemu kalkulus adalah Newton. Meski pihak Leibniz keberatan, mereka harus menerima konsensus itu. Waktu terus berjalan. Berbagai pihak mengusulkan untuk mengkaji ulang konsensus yang pernah dicapai. Pengkajian lebih mendalam menunjukkan bahwa kalkulus Newton dengan kalkulus Leibniz berbeda tajam dalam hal metode dan notasi-notasinya. Sehingga disimpulkan mereka berdua menemukan kalkulus secara independen. Dan akhirnya dicapai konsensus baru bahwa penemu kalkulus adalah Newton dan Leibniz, yang bekerja secara terpisah.

Habermas mendorong semua pihak untuk berperan dalam menemukan formula konsensus terbaik melalui komunikasi aktif dan rasional. Masing-masing pihak mengungkapkan sudut pandangnya dalam bentuk rasional. Sehingga pihak lain dapat memahami dengan baik, secara rasional. Dengan proses komunikasi aktif ini diharapkan tercapai konsensus terbaik untuk semua pihak.

Habermas menekankan pentingnya mengganti sikap fundamentalis dengan sikap fallibilis. Di mana sikap fundamentalis memandang bahwa sudut pandang dirinya adalah yang paling benar secara fundamental. Tentu sulit mencapai konsensus dengan cara ini. Maka perlu diganti dengan sikap fallibilis, yaitu, sikap terbuka yang meyakini bahwa sudut pandangnya mungkin saja salah. Lalu dicari sudut pandang yang lebih baik. Dengan sikap fallibilis ini maka kita bisa maju mencapai konsensus terbaik.

Tetapi kritik terhadap pendekatan konsensus Habermas ini terjadi dari berbagai sudut pandang. Salah satunya adalah kritik telak dari tokoh posmodern yaitu Lyotard. Mereka, Lyotard dan Habermas, berdebat panjang di akhir abad 20. Di mana, debat mereka akhirnya, tampak tidak berhasil mencapai konsensus.

Kritik terhadap konsensus di antaranya adalah, realitas, bahwa tidak semua pihak bisa aktif berkomunikasi. Juga tidak mudah mengungkapkan pandangan secara rasional. Kadang-kadang pihak yang dominan menemukan cara, meski halus tanpa paksaan, mempengaruhi pihak yang lemah agar menyetujui konsensus. Cara-cara halus ini bisa saja tidak disadari oleh berbagai macam pihak lain, dimanipulasi oleh pihak dominan secara profesional.

Maka Lyotard mengusulkan solusi: dissensus.

2.3 Dissensus Praxis

Lyotard mengusulkan dissensus, berbeda pendapat. Bahkan menolak konsensus. Dan melangkah lebih jauh tidak mempercayai metanarasi. Akibatnya, Lyotard dianggap, meruntuhkan legitimasi sains modern. Dia menilai sains hanya mendapatkan legitimasi dari konsensus belaka, yang sejatinya metanarasi, tidak layak dipercaya. Kali ini kita hanya fokus membahas dissensus saja.

Lyotard melihat ada kasus yang tidak mungkin untuk disatukan menjadi konsensus. Khususnya yang melibatkan penilaian intuitif sublim dan penilaian intuitif khusus. Lyotard merujuk situasi seperti ini kepada antinomy yang dirumuskan oleh Kant. Lyotard memuji Kant yang mengijinkan heterogenitas. Di mana realitas memang heterogen. Di sisi lain, Lyotard mengkritik Heidegger, yang mencoba melampaui heterogenitas tersebut dengan sudut pandang eksistensialisme.

Misalnya orang pinggiran, wong cilik, tidak mungkin mampu bernegosiasi dengan pejabat untuk mencapai konsensus. Pihak dominan akan menemukan cara untuk memenangi konsensus. Pada akhirnya menindas wong cilik. Di sini lah Lyotard menuntut dissensus. Pihak dominan wajib menghormati perbedaan. Wajib menghormati suara wong cilik yang tidak bersuara. Kita bisa melihat misi mulia dari dissensus.

Pada situasi pihak-pihak yang berimbang pun dimungkinkan harus dissensus. Misalkan Adi memeluk agama A sedangkan Budi memeluk agama B. Di antara Adi dan Budi tidak mungkin dipaksakan konsensus untuk memeluk agama yang sama. Mereka memiliki keyakinan agama yang berbeda. Mereka dissensus. Untuk kemudian saling menghormati.

Bahkan dalam satu agama yang sama, sering kita jumpai dissensus. Misalnya NU (Nahdhatul Ulama) dan MU (Muhammadiyah) memiliki pendekatan yang berbeda untuk ikut serta mencerdaskan bangsa. Cara menyelenggarakan program pendidikan NU dan MU berbeda. Bahkan tata cara ibadah ada beberapa perbedaan di berbagai situasi. Tidak sepantasnya, kita memaksa NU dan MU untuk bersepakat dalam satu konsensus.

Kita bisa memperhatikan bahwa di suatu kasus tertentu perlu dissensus, sesuai Lyotard. Sementara di kasus lain lebih tepat konsensus, sesuai Habermas. Menariknya, dua orang tokoh posmodern itu berdebat panjang, masing-masing bersiteguh pada pendiriannya. Mereka tidak sepakat, artinya dissensus. Tentu saja, Habermas tidak bisa memaksa Lyotard agar menyetujui konsensus. Hanya saja dalam praktek pengajaran mereka melalui seminar hal sebaliknya yang sering terjadi. Habermas sering memancing ide-ide kreatif dari peserta yang berbeda-beda. Sehingga terjadi dissensus. Sementara Lyotard sering menyampaikan argumen yang jelas sehingga para peserta setuju kepada Lyotard, terbentuk konsensus.

Di sini, kita kembali fokus kepada nilai kebenaran. Baik konsensus atau pun dissensus kedua-duanya adalah penilaian intuitif praxis. Sehingga nilai kebenarannya adalah estimasi, tidak 100%. Karena itu, keduanya, terbuka untuk dilakukan revisi-revisi untuk mendapatkan praxis yang lebih baik. Bukan kebenaran universal.

2.4 Kebenaran Probabilistik

Saya kira kebenaran probabilistik adalah buah terbaik dari pemahaman manusia – sains, filsafat, seni, keyakinan, dan lain-lain. Probabilitas (dan statistik) bahkan dengan rendah hati tidak menggunakan istilah “kebenaran” dan menggantinya dengan “keyakinan” (confidence). Ahli matematika bisa saja mengklaim teorinya benar 100%. Tetapi ahli statistik tidak bisa mengklaim keyakinan 100%. Bahkan jika dia yakin 100% itu pun hanya keyakinan bukan kebenaran.

Dua istilah penting dalam statistik adalah “level keyakinan” (confidence level) dan “selang keyakinan” (confidence interval), yang saling terkait. Mari kita kembali ke contoh tinggi Rara yang cantik itu. Ahli statistik melakukan pengukuran tinggi Rara berkali-kali, misal 100 kali. Dan diperoleh kesimpulan berikut,

Tinggi Rara = 165 – 166 cm (selang keyakinan)
Dengan level keyakinan 95%.

Makna kajian statistik ini adalah tinggi Rara terletak antara 165 – 166 cm. Statistik tidak bisa memastikan satu angka pasti di sini. Karena dari 100 kali pengukuran memang hasilnya berbeda-beda. Tetapi yakin bahwa tinggi Rara berada pada selang 165 – 166. Seberapa yakin? Level keyakinannya adalah 95% – tidak 100%. Maka saya menilai kebenaran statistik ini sebagai kebenaran probabilistik, penilaian praxis terbaik manusia.

Apa makna level keyakinan 95%?

Makna 95% tampak dekat dengan peluang atau probabilitas 95%. Meski demikian, sebagian ahli statistik menyatakan bahwa 95% itu bukan peluang tetapi distribusi data. Yaitu bila kita melakukan pengukuran tinggi Rara sebanyak 1000 kali maka diharapkan 95% akan masuk pada selang keyakinan 165 – 166 cm. Kita akan memperoleh 950 data ada pada selang 165 – 166 dan 50 data sisanya barangkali di bawah 165 atau di atas 166.

Bisakah statistik mempunyai level keyakinan 100%? Tidak layak, statistik tidak patut mengejar level keyakinan 100%. Yang lebih baik adalah mendekati 100%. Misalnya 99%. Tetapi berdampak kepada melebarnya selang keyakinan. Misalnya untuk tinggi Rara,

Level keyakinan = 99%
Tinggi Rara = 160 – 170 cm

Bisa kita lihat di atas, informasi tinggi Rara menjadi kurang bermakna karena selang terlalu lebar dari 160 – 170. Meski pun kita lebih yakin dengan level keyakinan 99%.

Kita bisa saja eksperimen lebih lanjut seperti kesimpulan di bawah ini.

Tinggi Rara = 140 – 180 cm
Level keyakinan = 99,999%

Meski pun level keyakinan mendekati 100% tetapi kita kehilangan makna informasi tinggi Rara yang di kisaran 140 – 180 cm. Berapa tinggi Rara sebenarnya? Apakah dia termasuk gadis pendek dengan tinggi badan 140 cm? Atau gadis jangkung dengan tinggi badan 180 cm? Kajian statistik di atas kehilangan arti. Maka statistik mengembangkan solusi untuk memilih selang keyakinan yang bermakna, di saat yang sama, level keyakinan yang memadai.

Jadi, statistik membekali kita cara menemukan kebenaran probabilistik dengan bijak. Kita bisa mendapatkan level keyakinan terukur dengan selang keyakinan yang terukur. Dengan statistik ini terbuka bagi manusia untuk terus memperbaiki ilmu pengetahuan.

2.5 Berbohong dengan Statistik

Penyelewengan dengan memanfaatkan statistik memang menarik. Data mudah diperoleh, diolah, untuk kemudian diarahkan sesuai kepentingan tertentu. Para politikus dan pejabat dapat memanfaatkan statistik untuk menguatkan legitimasi. Misal untuk kasus pandemi covid-19, Presiden Trump dan Presiden Jokowi memanfaatkan data statistik.

Trump pernah menyampaikan bahwa covid tidak berbahaya. Covid, virus corona 99,9 % tidak berbahaya sama sekali. Jokowi juga pernah menyampaikan bahwa kondisi pandemi Indonesia baik, lebih baik dari rata-rata dunia. Tentu saja pernyataan seperti di atas didukung oleh data statistik. Tetapi apakah klaimnya benar? Bisa dipertanggungjawabkan? (Besaran angka bisa berbeda sedikit sesuai waktu dan ketelitian, tetapi tetap akurat.)

Trump berhasil meyakinkan bahwa covid tidak berbahaya dengan 99,9% aman di Amerika. Trump tampaknya mengambil data dari jumlah orang meninggal akibat covid, pada Desember 2020 adalah mendekati 300 ribu, dibandingkan dengan jumlah penduduk Amerika yang lebih dari 300 juta jiwa. Maka tingkat kematian di Amerika 300 ribu / 300 juta = 0,001 = 0,1%. Maka sisanya adalah 99,9% diklaim aman oleh Trump.

Tentu saja banyak orang yang tidak setuju dengan klaim Trump. Data yang dipakai memang benar. Tetapi klaimnya bisa salah arah. Misal kita bisa membandingkan dengan jumlah orang yang sembuh adalah sekitar 9 juta. Sehingga yang meninggal dibanding yang sembuh adalah 300 ribu / 9 juta = 1/30 = 0,33 lebih dari 3%. Angka kematian lebih dari 3% adalah tinggi sekali, berbahaya. Jika dibiarkan penyebaran covid sampai menyerang 200 juta penduduk Amerika ada kemungkinan bahwa 6 juta orang di antaranya meninggal dunia. Angka yang sangat besar. Pada akhirnya Trump kalah dalam pemilu presiden Amerika, salah satunya, disebabkan isu covid.

Presiden Jokowi, saya kira, lebih cerdik menggunakan statistik. Presiden menyatakan bahwa pandemi Indonesia lebih baik dari rata-rata dunia. Data yang digunakan adalah persentase kasus aktif. Sayangnya persentase kasus meninggal di Indonesia lebih buruk dari rata-rata dunia. Sekali lagi, klaim presiden tentu didasarkan pada data yang benar. Tetapi apakah klaimnya bahwa Indonesia lebih baik juga benar?

Pertanyaan pertama, apa sah membandingkan kondisi pandemi suatu negara dengan negara lain? Mengingat jumlah penduduk beda, fasilitas tes, fasilitas kesehatan, tingkat ekonomi, dan lain-lain bisa berbeda jauh. Tampaknya sulit membandingkan satu negara dengan negara lainnya. Maka akan lebih baik jika kita menganalisis kondisi pandemi dalam negeri. Membandingkan dengan negara lain hanya untuk studi banding. Bukan untuk klaim lebih baik.

Pertanyaan kedua, apa yang dimaksud dengan rata-rata? Anggap saja bahwa membandingkan antar negara yang berbeda adalah cara yang sah untuk klaim lebih baik atau tidak. Orang memandang rata-rata, umumnya, yang dimaksud adalah nilai pemusatan. Sehingga ada tiga macam rata-rata, nilai pemusatan, yaitu mean, median, dan modus. Sedangkan dalam perhitungan matematika, yang dianggap rata-rata adalah mean.

Sayangnya, menggunakan mean sebagai acuan sering tidak tepat. Misal untuk kasus pandemi ini, kita bisa mencoba mengurutkan total kasus aktif (bukan persen) dari sekitar 200 negara di dunia. Orang akan menebak nilai rata-rata dari 200 negara akan berada di urutan sekitar 100. Tebakan ini benar. Maka yang dimaksud di sini adalah median, sebagai nilai pemusatan. Dengan median kita membagi data menjadi dua kelompok: kelompok A adalah kelompok yang lebih baik dari median, dan kelompok B adalah kelompok yang lebih buruk dari median. Sayangnya, Indonesia adalah urutan negara terburuk ke 20 maka masuk kelompok B, lebih buruk dari median.

Bisa saja dari 200 negara, kita membagi menjadi 5 kelompok A, B, C, D, dan E. Di mana masing-masing kelompok berisi 40 negara. Kelompok A adalah yang terbaik. Kelompok E adalah yang terburuk. Karena Indonesia urutan ke 20 maka masih masuk kelompok E. Sedangkan beberapa negara tetangga masuk kelompok A, kelompok terbaik, di antaranya Brunei, Timor, Laos, Singapura, Vietnam (nilai batas).

Bagaimana pun klaim yang dilakukan Presiden Trump dan Presiden Jokowi sama-sama didukung dengan data yang benar. Meski pihak-pihak tertentu meragukan klaim mereka, tetapi klaim mereka mengandung kebenaran. Justru di sini letak keunggulan statistik: tidak ada klaim mutlak yakin 100%. Sehingga secara alamiah, kebenaran probabilistik, terbuka dengan ragam alternatif klaim interpretasi.

Kiranya bisa kita simpulkan di sini bahwa statistik berguna untuk melakukan banyak analisis. Bahkan ketika kita meragukan klaim tertentu dari analisis statistik maka kita bisa menganalisis kembali dengan berbagai macam sudut pandang. Sehingga, meski pun seseorang bisa saja berbohong dengan statistik, dengan metode yang sama, kebohongan itu bisa diuji.

Kembali perlu kita tegaskan bahwa nilai kebenaran statistik adalah kebenaran probabilistik, tidak 100% sempurna. Di mana masih terbuka untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru yang berbeda. Nyatanya, hampir semua pengetahuan kita di dunia nyata bersifat probabilistik. Maka penting bagi kita untuk menyikapi kebenaran probabilistik secara tepat.

3. Kebenaran Cinta Kreatif

Cinta selalu benar, itulah cinta suci. Cantik juga selalu benar, bersifat universal. Tapi cinta bisa diliputi dusta sehingga tidak lagi benar. Ungkapan cinta bisa juga ke mana-mana. Tidak ada lagi jaminan benar. Kita akan mencoba membahas nilai kebenaran cinta yang bersifat kreatif.

Cinta saya kepada Rara selalu benar. Cinta yang suci. Cinta dari seorang ayah kepada anaknya. Bahkan saya rela berkorban apa saja demi Rara, anak saya. Dalam situasi umum, tidak ada masalah cinta ayah ke anaknya. Tetapi situasi yang lebih rumit bisa terjadi.

Seorang ayah yang cinta kepada anak kecilnya iba melihat anaknya menangis karena lapar. Hatinya pedih. Dia sendiri juga menahan lapar. Karena sudah dewasa, ayah bisa memahami pedihnya menahan lapar entah sampai kapan. Sementara, buah hatinya yang masih kecil terus merengek menahan lapar. Demi cintanya kepada anak tercinta, ayah mencari makan yang tidak dia temukan di mana pun. Uang tidak punya. Kerja tidak punya. Air pun tidak punya. Ayah tahu, tidak jauh di luar sana, ada toko swalayan yang pembelinya bebas ambil barang sendiri. Ia pergi ke swalayan. Ambil beberapa potong roti. Lalu pergi tanpa membayarnya. Pulang ke rumah. Menemui buah hatinya yang masih merengek. Ayah memberikan sepotong roti. Buah hatinya sedikit memakannya. Mengubah air mata menjadi tawa bahagia. Ayah memeluk putrinya.

Penjaga toko swalayan bukan tidak tahu apa yang dilakukan ayah. Melalui monitor cctv penjaga tahu bahwa ayah mengambil roti tanpa membayarnya. Penjaga tahu bahwa ayah orang baik meski miskin. Dia menduga ayah pasti punya alasan melakukan itu. Meski penjaga toko beresiko mendapat peringatan dari atasannya karena lalai membiarkan pencurian tapi, meski tidak mudah, dia terima resiko itu.

Sampai di sini kita perlu mengkaji nilai kebenaran cinta. Cinta selalu benar dengan sifatnya yang kreatif. Dalam arti bahwa cinta itu muncul dari dalam diri seseorang. Cinta kreatif muncul dari diri bapak ke anaknya. Cinta muncul dari diri suami ke istrinya. Cinta muncul dari diri pemimpin ke seluruh raknyatnya. Cinta kreatif ini bernilai selalu benar. Sudah kita bahas di bagian sebelumnya juga bahwa cinta ini adalah intuisi transendental.

Ekspresi cinta, selanjutnya, bisa saja bernilai salah. Misal karena cinta, seorang ayah mencuri roti demi anaknya yang menahan lapar. Tindakan mencuri tetap bernilai salah. Meski cinta kepada putrinya benar tetapi ekspresi dalam bentuk mencuri menyalahi aturan legal, moral, dan agama.

Dusta juga sering terlibat dalam cinta. Seorang laki-laki bisa saja berdusta mengaku cinta kepada perempuan. Merayunya sampai mabuk kepayang. Setelah laki-laki itu mendapatkan segala yang diinginkannya, dengan modal dusta atas nama cinta, lalu ia mencampakkan sang perempuan. Kisah cinta berakhir derita. Padahal bukan cinta tapi dusta. Dan masih banyak contoh nyata yang bisa kita temukan berdusta atas nama cinta.

Sehingga cinta, agar bernilai benar dalam ekspresinya, harus konsisten dengan aturan di luar. Termasuk perlu konsisten dengan aturan legal, moral, agama, dan ilmu pengetahuan secara umum. Lalu bagaimana aturan umum itu semua bisa dibentuk oleh umat manusia? Kita akan membahas pada bagian selanjutnya dengan tema pengetahuan, kesalahan, dan opini.

Kebenaran “cinta kreatif” ini membuka wawasan filosofis baru. Apa lagi bila kita sandingkan dengan “ketidakpastian korespondensi.” Cinta kreatif tidak membutuhkan korespondensi. Cinta kreatif menciptakan kebenarannya sendiri. Cinta menjadi benar karena memang ada cinta. Sehingga, cinta tidak dihadapkan kepada “ketidakpastian korespondensi.” Cinta menjadi pasti benar karena eksistensi dirinya sendiri.

Jadi, kebenaran “cinta kreatif” adalah bukan kebenaran korespondensi. Kebenaran adalah “hadirnya” cinta. Kebenaran adalah “tersingkapnya” cinta. Paralel dengan konsep kebenaran ini adalah kebenaran sebagai “tersingkapnya” wujud atau “disclosedness” atau “openness” being. Kebenaran cinta adalah “binuka” yaitu terbukanya cinta itu sendiri.

Suhrawardi (1154 – 1191) mengenalkan konsep ilmu-huduri atau knowledge-by-presence yang selalu bernilai benar. Berbeda dengan teori korespondensi. Huduri terjadi ketika subyek pengamat memiliki kemampuan visi, melihat, kepada obyek yang bersinar, iluminasi, tanpa ada halangan. Visi bersatu dengan iluminasi menjadi satu kesatuan, subyek menyatu dengan obyek. Kesatuan inilah yang membentuk huduri bernilai selalu benar. Pada analisis akhir, semua pengetahuan manusia harus didasarkan kepada huduri agar valid.

Huduri adalah benar otentik. Huduri menghadirkan yang telah hadir mau pun yang tidak hadir. Sehingga, menerjemahkan huduri sebagai “presence” perlu hati-hati. Karena huduri adalah “presencing present and others.” Lebih tepat jika kita menerjemahkan huduri sebagai “openness” atau “binuka.”

4. Ringkasan

Kiranya perlu kita ringkas kembali pembahasan tentang kebenaran (dan kesesatan) di sini. Pertama, kebenaran yang bersifat pasti. Kebenaran ini didasarkan kepada kebenaran aksiomatik. Semisal kebenaran formula matematika yang dijamin pasti benar bahkan universal. Sejauh proses menarik kesimpulannya konsisten maka kebenaran aksiomatik tetap terjaga. Sedangkan di bagian sebelumnya kita sudah membahas kebenaran yang juga dianggap benar yaitu intuisi indera dan intuisi transendental termasuk intuisi cinta.

Kedua, kebenaran probabilistik. Yaitu kebenaran yang kita harap bernilai benar, sesuai nilai probabilitasnya. Meski demikian, kebenaran probabilistik tidak terjamin untuk selalu bernilai benar. Dalam realitas kehidupan praktis hampir semua masalah yang kita hadapi melibatkan kebenaran probabilistik ini. Sehingga perlu sikap respek dari semua pihak untuk mendorong terbentuk konsensus atau dissensus. Kebenaran korespondensi, yang dianggap banyak orang sebagai bernilai pasti, dalam analisis akhir lebih tepat sebagai kebenaran probabilistik.

Ketiga, kesesatan adalah kebenaran yang, pada analisis akhir, bernilai tidak benar. Kesesatan tidak memenuhi kaidah kebenaran aksiomatik, atau kaidah kebenaran korespondensi, atau pun kaidah kebenaran konsensus. Maka, kesesatan seharusnya ditolak.

Perlu kita catat bahwa suatu klaim kebenaran, meski klaim kebenaran aksiomatik, bisa saja ditolak oleh pihak lain. Dengan terjadinya perbedaan klaim kebenaran ini, maka kita perlu mempertimbangkan untuk mencapai konsensus. Dan, dalam banyak situasi, bahkan dissensus. Pada analisis lebih lanjut, setiap klaim kebenaran bisa memunculkan paradoks. Umat manusia tertantang untuk menyelesaikan paradoks. Dengan demikian, pengetahuan umat manusia terus berkembang. Kita akan membahas paradoks pada bagian-bagian selanjutnya.

Terakhir, kebenaran cinta bersifat kreatif. Cinta menghadirkan cinta sejati sebagai kebenaran. Cinta selalu benar meski ekpresi cinta bisa saja tidak benar. Kebenaran cinta yang kreatif ini selaras dengan prinsip ketersingkapan, openness, huduri, dan binuka.

5. Diskusi

Kita menambahkan, di bagian ini, lima karakter kebenaran yaitu pancajati: dinamis, verifikasi, cakrawala, interpretasi, dan pengalaman.

5.1 Kebenaran Dinamis

Segala sesuatu yang ada di alam ini bersifat dinamis. Kebenaran, sejauh ada di alam ini, maka bersifat dinamis. Kebenaran yang kita pahami saat ini adalah hasil dinamika kebenaran dari hari kemarin dan tahun-tahun yang lalu. Serta, harapan dinamika masa depan.

Dengan memahami kebenaran yang bersifat dinamis maka kita berharap lebih bersikap terbuka terhadap beragam prespektif kebenaran. Kita juga perlu terus berjuang, dinamis, untuk mendapat kebenaran paling hakiki. Meskipun kebenaran hakiki itu, kebenaran sejati, juga bersifat dinamis.

Pemahaman kita terhadap rumus matematika 2 + 1 = 3 pun bersifat dinamis. Ketika kita masih kanak-kanak, memahami 2 +1 = 3 dengan cara penuh usaha keras. Saat kita dewasa, dengan mudah memahami kebenaran 2 + 1 = 3. Kebenaran memang dinamis.

Tetapi, bukankah 2 + 1 = 3 itu bersifat pasti, eksak, dan tanpa keraguan? Benar juga. Sejauh kita menjaganya secara ideal. Dalam dunia nyata, 2 kg beras ditambah dengan 1 kg beras maka tidak ada jaminan tepat menjadi 3 kg beras. Bisa jadi hasilnya adalah 3 kg beras lebih 1 butir atau 3 kg beras kurang 5 butir. Tidak ada masalah dengan selisih 1 atau 5 butir beras. Kita menganggap 3 kg beras itu statis, padahal dinamis. Ditambah lagi kita dapat mempertimbangan dinamika beras terhadap waktu. Alam semesta memang dinamis.

5.2 Kebenaran Verifikasi

Kebenaran adalah hasil dari proses verifikasi. Kebenaran bukan sesuatu yang mandiri, bukan independent, di alam ini.

Matematika 2 + 1 = 3 bernilai benar karena merupakan hasil verifikasi yang sah. Semua orang dengan mudah me-verifikasi bahwa 2 + 1 = 3 adalah benar. Tetapi 2 + 1 = 3 itu sendiri tidak mandiri. Misalnya dalam sistem bilangan jam 3an, di mana hanya ada angka 0, 1, dan 2, maka 2 + 1 = 0. Contoh yang lebih nyata adalah pada sistem jam dinding di mana 12 + 1 = 1 bukan 13. (Pada jam dinding tidak ada angka 13).

Bagaimana pun 2 + 1 = 3 bernilai eksak benar dalam konteks sistem verifikasi yang diterima secara umum. Dalam sistem bilangan real, 2 + 1 pasti benar bernilai sama dengan 3.

Tidak ada relativisme di sini. Selama kita konsisten dengan sistem verifikasi maka kita bisa menjamin nilai kebenaran – atau probabilitasnya.

5.3 Kebenaran Cakrawala

Sistem untuk verifikasi kebenaran tersebut adalah cakrawala. Maka benar saja ungkapan orang-orang bijak: perluaslah cakrawala pengetahuan. Dengan luasnya cakrawala pengetahuan maka kita akan lebih bijak dalam menyikapi suatu kebenaran, yang sejatinya, ada di sini, ada dalam diri.

Sebagai contoh kita dapat membandingkan cakrawala jam dinding, yang hanya ada angka 1 sampai 12, dengan cakrawala bilangan real yang seperti kita pahami dalam kehidupan sehari-hari.

2 + 1 = 3 adalah bernilai benar; baik dalam cakrawala jam dinding maupun cakrawala bilangan real sama-sama benar.

12 + 1 = 13 adalah bernilai benar dalam cakrawala bilangan real tetapi bernilai salah dalam cakrawala jam dinding. Yang benar, dalam cakrawala jam dinding, 12 + 1 = 1. Keduanya bersifat eksak. Tidak ada keraguan. Tidak ada relativisme. Pasti benar dalam cakrawala bilangan real. Dan pasti salah, 12 + 1 = 13, dalam cakrawala jam dinding.

Buah jeruk rasanya nikmat. Bernilai benar dalam cakrawala manusia. Bernilai salah dalam cakrawala harimau. Barangkali juga bernilai salah dalam cakrawala alien. Cakrawala yang berbeda akan menghasilkan verifikasi yang berbeda terhadap kebenaran.

5.4 Kebenaran Interpretasi

Semua klaim kebenaran adalah interpretasi. Cakrawala yang kita gunakan untuk menverifikasi kebenaran juga merupakan susunan-susunan interpretasi. Dan tentu saja setiap interpretasi besifat dinamis. Sebagaimana kebenaran juga bersifat dinamis.

“Buah jeruk rasanya nikmat,” adalah interpretasi yang bernilai benar dalam cakrawala manusia pada umumnya. Jelas kita lihat bahwa “rasa nikmat” adalah interpretasi kita terhadap rasa jeruk. Lebih jauh lagi, “buah jeruk” adalah interpretasi kita terhadap “sesuatu realitas.”

Dalam cakrawala harimau, rasa jeruk diinterpretasikan dengan “tidak nikmat”, beda dengan manusia. Nyatanya, harimau tidak mau makan jeruk tetapi mau makan daging, misalnya. Lagi-lagi, itu adalah interpretasi kita sebagai pengamat. Ketika seekor harimau memandang buah jeruk maka harimau itu akan membuat interpretasi, atau persepsi, yang berbeda dengan jeruk yang dipandang oleh manusia.

Kebenaran itu adalah interpretasi. Bukan karena kita mengetahui sesuatu melalui interpretasi, tetapi karena semua yang sampai kepada diri kita adalah memang suatu interpretasi. Dan interpretasi, dalam arti yang canggih, adalah keunggulan unik umat manusia.

Kita bisa saja mengambil contoh eksak, semisal rumus matematika 12 + 1 = 13, adalah interpretasi. Angka 12 dan angka-angka lain adalah interpretasi manusia. Operasi penjumlahan dan tanda sama dengan juga interpretasi dari manusia. Sehingga formula eksak pun penuh dengan interpretasi. Bukankah itu semua adalah simbol?

Sekali lagi tidak ada relativisme di sini. Sekali kita membuat interpretasi maka secara konsisten kita dapat menyusun cakrawala – yang dipengaruhi oleh budaya dan sejarah. Dengan cakrawala ini kita dapat melakukan verifikasi kebenaran. Dan tentu saja dinamis.

5.5 Kebenaran Pengalaman

Dengan interpretasi itu lah kita menjalani hidup sejati. Pengalaman dan interpretasi saling berkaitan erat. Manusia mengalami sesuatu karena meng-interpretasi. Manusia bisa meng-interpretasi karena ada pengalaman.

Apakah kopi pahit terasa nikmat?

Kopi pahit terasa tidak nikmat bagi kita, dulu, waktu masih kanak-kanak. Seiring pengalaman mencicipi kopi yang pahit, ketika dewasa, kopi pahit menjadi nikmat. Pengalaman dan interpretasi saling terkait.

Bagaimana dengan sambal pedas? Pengalaman kita juga mirip. Ketika kanak-kanak tidak suka sambal pedas. Begitu dewasa, kita doyan sambal pedas.

Bagaimana dengan pengalaman interpretasi formula eksak? Sedikit berbeda tetapi ada miripnya. Ketika kanak-kanak kita meng-interpretasikan kuantitas di alam semesta sebagai bilangan asli: bilangan bulat dan positif. Ada 2 jeruk, 5 jeruk, dan sebagainya. Menginjak remaja, seiring pengalaman, kita meng-interpretasikan kuantitas lebih beragam, ada bilangan pecahan, bilangan negatif, irasional, dan bahkan kompleks.

Pengalaman kita adalah interpretasi. Dan interpretasi adalah yang kita alami.

Vattimo, pemikir Itali usia 86 tahun, melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa segala realitas adalah interpretasi itu sendiri. Tugas manusia berpikir, berfilsafat dan lain-lain, adalah tugas ber-interpretasi.

Sekali lagi, dengan semua analisis kebenaran di atas, tidak ada relativisme di sini. Ketika kita mengambil suatu pengalaman dan interpretasi sebagai suatu acuan maka kita akan mengembangkan cakrawala; dalam cakrawala ini kita mengembangkan proses verifikasi yang absah untuk menghasilkan kebenaran sejati. Dan kita tahu, kebenaran adalah dinamis.

Lanjut ke Pengetahuan, Kesalahan, dan Opini
Kembali ke Philosophy of Love

Jokowi: Membuahkan Hasil – Memburuk

Presiden, sekitar 2 hari lalu, menyatakan kondisi Indonesia memburuk semua, semua memburuk – berkaitan dengan kondisi covid-19. Lalu kemarin siang, Presiden Jokowi menyatakan bahwa kerja keras kita menangani covid-19 sudah membuah hasil. Sinyal-sinyal positif.

Mana yang benar? Membuahkan hasil membaik? Atau bebas saja, boleh memburuk dan membaik bersamaan?

Sekitar 5 jam setelah Presiden Jokowi mengatakan bahwa sudah ada sinyal positif membaik, kasus harian Indonesia meledak: rekor diatas 8 ribu orang kasus positif infeksi covid baru.

  1. Pandemi tidak berubah cepat

Kondisi pandemi di Indonesia, apa lagi dunia, mestinya tidak bisa berubah dalam waktu cepat. Misal dalam hitungan 1 atau 2 hari tidak wajar berubah dari memburuk jadi membaik atau sebaliknya. Paling tidak, untuk pandemi covid, kita perlu mempertimbangkan waktu 14 harian.

2. Presiden tidak tahu

Covid merupakan virus yang ukurannya kecil, tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Namun dampak penyakitnya bisa menyebar luas ke seluruh dunia. Dengan kondisi itu maka Presiden tidak akan pernah tahu apa yang sejatinya sedang terjadi: membaik atau memburuk.

Bahkan semua orang juga tidak ada yang tahu pasti. Segalanya hanya estimasi. Maka kita selalu perlu terbuka dengan berbagai macam kemungkinan salah ukur di sana-sini.

3. Prediksi Covid Indonesia

Banyak yang ingin tahu bagaimana prediksi kondisi covid di Indonesia atau bahkan dunia. Tentu kita bisa membuat prediksi dengan beragam model lengkap dengan kelebihan dan keterbatasannya. Berikut ini prediksi sederhana saya kondisi Indonesia dalam 30 hari ke depan.

2 Januari 2021, estimasi total kasus,

Kondisi optimis: 747 000 orang

Kondisi moderat: 988 000 orang

Kondisi pesimis: 1 200 000 orang

Pada kondisi moderat, total kasus di Indonesia dekat dengan 1 juta orang menjelang tahun baru 2021. Kita berharap kondisi yang lebih baik bisa terjadi yaitu hanya 700 ribuan di pergantian tahun 2020 ke 2021.

Saya mengusulkan solusi berupa manajemen perilaku dan percepatan penyembuhan. Ditambah dengan vaksin yang efektif akan lebih bagus lagi.

Bagaimana menurut Anda?

Pengetahuan Intuisi Cinta

Cinta hadir begitu saja. Kita tidak sadar mengapa cinta hadir. Tiba-tiba saja ada cinta. Barangkali cinta ke pasangan hidup, sedikit banyak, bisa kita cari alasannya. Karena dia cantik, baik hati, pengertian, lalu muncul cinta di antara mereka.

Tapi cinta saya kepada Rara, muncul begitu saja. Ketika Rara tumbuh jadi gadis remaja, aku cinta dia. Ketika Rara masih kanak-kanak, lucu dan imut, saya sudah cinta. Bahkan ketika Rara, masih berada dalam kandungan istriku, aku sudah cinta kepada Rara. Misteri cinta akan menjadi lebih jelas setelah kita bahas di bagian ini, atau malah makin misterius.

1. Sumber Pengetahuan
2. Penilaian Pengetahuan Intuitif
3. Imajinasi Transendental Kant
4. Cantik dan Cinta Transendental
4.1 Penilaian Persetujuan
4.2 Penilaian tanpa Persetujuan
4.3 Penilaian Cantik Sublim
4.4 Penilaian Spesial
5. Kebenaran Intuitif
5.1 Selalu Benar
5.2 Kadang Benar
6. Ringkasan
7. Diskusi
7.1 Skemata Kant
7.2 Hard Problem
7.3 Cahaya Ontologi
7.3.1 Intuisi Pengetahuan
7.3.2 Cahaya Cinta
7.3.3 Etika Cinta
7.3.4 Solusi Hard Problem

Kita membahas pengetahuan, di bagian ini, dengan kerangka pengetahuan intuitif, termasuk pengetahuan cinta. Sementara, pembahasan pengetahuan sebagai sistem ilmu pengetahuan, kita bahas di bab berikutnya.

1. Sumber Pengetahuan

Sampai di sini, sudah tepat kiranya bila kita membahas sumber pengetahuan manusia. Pengetahuan bisa kita bagi menjadi dua: pengetahuan tentang realitas dan pengetahuan tentang kebenaran. Mengikuti cara Russell dan beberapa modifikasi, saya tampilkan seperti tabel di bawah.

RealitasPengetahuan LangsungPengetahuan InderaPengetahuan Partikular
Pengetahuan universalia
Pengetahuan DeskripsiPengetahuan PrinsipPengetahuan yang Benar
Pengetahuan yang Sesat
KebenaranPengetahuan LangsungPengetahuan IntuitifPenilaian Indera
Penilaian Transendental
Pengetahuan DerivatifPrinsip DeduksiPenilaian Aksiomatik
Induksi – FalsifikasiPenilaian Probabilistik

Untuk mudahnya kita bisa memperhatikan 8 kelompok pengetahuan di bagian paling kanan tabel. Meskipun di antaranya bisa saja saling berbaur tapi kita akan membahasnya masing-masing terpisah.

Pertama, pengetahuan partikular dari indera manusia dianggap selalu benar, sejauh data indera yang diperhatikan. Misalnya, saya sedang melihat sesuatu mirip bola, adalah pasti benar. Meski pun ternyata yang dilihat itu adalah telur tetapi “melihat sesuatu mirip bola” adalah bernilai benar. Yang ada kemungkinan salah adalah “penilaian” dari data-indera. Sementara pengalaman melihat sesuatu selalu dianggap benar.

Kedua, pengetahuan universal dari indera manusia dianggap benar. Misal,”saya melihat persegi” selalu dianggap benar. Pengalaman saya melihat universalia persegi bernilai benar. Meskipun bisa saja ternyata bentuknya tidak persegi, agak melengkung. Penilaian saya di atas bisa salah tetapi pengalaman saya selalu benar.

Dua jenis pengetahuan di atas bersifat segera, atau langsung dari pengalaman kita. Sehingga dijamin benar.

Ketiga, pengetahuan yang benar. Misal, “Paman APIQ adalah guru matematika,” adalah pengetahuan yang benar. Pernyataan di atas sesuai dengan realitas bahwa Paman APIQ memang guru matematika. Kita bisa verifikasi melalui canel youtube paman APIQ yang mengajarkan matematika. Atau kita bisa saja berkunjung ke Bandung untuk melihat langsung Paman APIQ mengajar matematika.

Keempat, pengetahuan yang salah. Misal, “Paman APIQ adalah bukan guru matematika,” adalah salah. Tentu saja dengan mudah kita tahu itu pernyataan salah. Dengan melihat canel youtube paman APIQ kita tahu bahwa Paman APIQ mengajar matematika. Paman APIQ adalah guru matematika.

Jenis pengetahuan ketiga dan keempat, di atas, adalah pengetahuan derivatif melalui deskripsi maka mungkin saja bernilai salah, dan mungkin bernilai benar. Seluruhnya, pengetahuan pertama sampai keempat, adalah pengetahuan tentang realitas atau pengetahuan tentang impresi indera. Sedangkan jenis pengetahuan kelima sampai kedelapan adalah pengetahuan tentang kebenaran atau penilaian terhadap impresi.

Kelima, penilaian indera yang bersifat langsung. Penilaian ini bisa saja salah, dan bisa benar. Maka, di sini, saya menggunakan istilah “penilaian”. Misal, “Saya melihat mobil warna biru.” Bisa bernilai salah bila ternyata warna mobil tersebut adalah hijau. Dan tentu bernilai benar bila warna mobil tersebut adalah, ternyata, biru.

Keenam, penilaian transendental yang bersifat langsung. Misal rasa cinta, rindu, takut, cemas, gelisah, dan lain-lain. Penilaian intuitif langsung ini akan kita bahas lebih detil, di bab ini, baik penilaian transendental mau pun penilaian indera.

Ketujuh, pengetahuan aksiomatik, seharusnya selalu benar. Misal, “setiap persegi memiliki 4 sisi.” Ada kemungkinan salah ketika kita mengambil kesimpulan dengan proses yang salah. Namun dengan ketelitian, kesalahan dapat ditemukan untuk, kemudian, dikoreksi.

Kedelapan, pengetahuan probabilistik, yang kemungkinan besar bernilai benar. Sebagian besar pengetahuan kita tentang kehidupan praktis adalah masuk kelompok pengetahuan probabilistik. Pengetahuan ketujuh dan kedelapan ini akan menjadi bahasan utama pada bab selanjutnya.

Dari pengelompokan di atas, kita lihat sumber pengetahuan adalah langsung atau tidak langsung. Pengetahuan langsung bisa berupa dari pengamatan indera atau langsung dari intuisi. Sedangkan pengetahuan tidak-langsung bisa berupa proposisi sederhana atau proposisi tidak sederhana – termasuk menarik kesimpulan dari beragam data. Dari pengetahuan-pengetahuan sederhana ini, kita bisa mengembangkan sistem ilmu pengetahuan yang lebih kompleks. Bagaimana pun, kita tetap terbuka dengan alternatif pengelompokan sumber pengetahuan yang berbeda-beda.

2. Penilaian Pengetahuan Intuitif

Proses penilaian intuitif kita tampaknya terjadi seketika begitu saja. “Saya melihat pohon.” “Saya melihat pohon lebat.” “Saya melihat pohon lebat dan tinggi.”

Ketika saya mengarahkan pandangan ke pohon di siang hari maka saya dengan segera melihat pohon itu. “Saya melihat pohon.” Proses melihat pohon ini sudah dijelaskan oleh sains – fisika, biologi, dan lain-lain – secara tuntas.

Pohon menerima sinar dari berbagai arah. Sebagian sinar diserap dan sebagian yang lain dipantulkan dengan cara tertentu. Sinar yang dipantulkan pohon ini mengenai mata saya, lalu sinar ini diolah oleh mata menjadi sinyal-sinyal yang bersesuain dikirim ke otak saya melalui sistem syaraf yang komplek. Otak mengolah sinyal-sinyal dan akhirnya pikiran saya memahami bahwa yang di depan saya adalah pohon. Dalam kata-kata, bisa saya katakan, “Saya melihat pohon.”

Mudah kita cermati bahwa penilaian saya tentang “pohon” bisa saja salah. Jika kita ingin lebih yakin barangkali kita bisa mendekati pohon, melihatnya, merabanya, dan menggoyang-goyangkan untuk meyakinkan bahwa itu benar-benar pohon sesuai penilaian kita. Bisa saja setelah didekati ternyata itu bukan pohon melainkan cuma hiasan yang mirip pohon.

Pertanyaan yang bersifat filosofis adalah bagaimana gambaran pohon itu bisa muncul secara intuitif di pikiran saya?

Sains menjawab, itu adalah proses refleks sistem tubuh manusia yang dilengkapi dengan sistem indera, sistem syaraf, dan sistem otak. Jawaban ini sudah jelas bagi sains. Bahkan sains bergerak lebih maju dengan menciptakan teknologi tiruan semisal kamera. Dengan prinsip-prinsip yang sama dengan mata, kamera, bisa melihat seperti mata manusia. Kamera bisa melihat dalam bentuk gambar mau pun video bergerak.

Meski sains dan teknologi sudah punya jawaban yang memuaskan, filsafat masih bertanya lebih jauh. Bagaimana proses refleks pada pikiran manusia itu bisa memunculkan gambaran pohon?

Menurut Russell, proses munculnya gambar pohon di otak atau pikiran manusia itu berlangsung secara intuitif dengan seketika. Proses intuitif terbentuk berdasar pengalaman manusia. Tanpa pengalaman maka manusia tidak akan bisa melakukan penilaian apa pun. Sejak kecil manusia belajar melihat alam sekitar. Melakukan penilaian secara intuitif atas berbagai hal. Dan pada masa tertentu kita memiliki kemampuan intuitif ini secara matang. Tidak ada yang misterius dalam kasus ini. Pengalaman empiris sudah menjelaskan semuanya.

Di sisi lain, masih banyak filsuf yang penasaran. Mereka ingin tahu lebih detil bagaimana proses intuitif munculnya gambar pohon dalam pikiran manusia. Salah satunya, pada akhir abad 20, filsuf David Chalmers memunculkan “Hard problem of consciousness.” Salah satu dari problem ini bisa kita nyatakan, “Bagaimana beberapa organisme, misal manusia, menjadi subyek dari suatu pengalaman?” Dalam versi ringannya, adalah seperti yang sedang kita bicarakan, “Bagaimana gambar pohon muncul dalam pikiran manusia?”

Hard problem sudah muncul lebih dari 20 tahunan, sampai kini, belum ada solusi yang memuaskan. Bahkan problem yang ringan pun juga belum ada solusi memuaskan yang disepakati para filsuf dan saintis. John Searle, filsuf abad 21, ikut aktif untuk memecahkan hard problem sejak akhir abad 20. Sampai sekarang juga belum menemukan solusinya.

3. Imajinasi Transendental Kant

Barangkali kita bisa merujuk Immanuel Kant, filsuf abad 18-19, yang menjelaskan penilaian intuitif manusia melalui skema. Pikiran manusia memiliki pengetahuan a priori murni, kategori, yang terbebas dari kebutuhan pengalaman empiris. Pengetahuan a priori ini sudah tertanam dalam pikiran manusia sejak awal. Sedangkan data-indera diperoleh manusia sesuai pengalaman empiris manusia.

Data-indera, yang berupa sinar-sinar dari pohon, tidak punya arti apa-apa bila menyentuh dinding. Data-indera ini berpeluang dipahami bila menyentuh mata manusia, lalu diolah dikirim ke otak. Terjadi proses sintesis antara data-indera dengan pengetahuan a priori manusia. Sehingga terbentuk sintesa berupa pemahaman oleh pikiran tentang “pohon” melalui kekuatan imajinasi intuitif.

Proses terbentuk sintesa ini dikenal sebagai skema. Lebih lengkap kita bahas di bagian diskusi, di bawah. Pengetahuan a priori murni manusia terdiri dari 4 kelompok: kuantitas, kualitas, relasi, dan modus. Masing-masing 4 kelompok tersebut mempunyai 3 jenis. Sehingga total 4 x 3 = 12 kategori, menurut Immanuel Kant.

Mari kita ambil contoh lagi proses munculnya gambar pohon di pikiran manusia. Ketika data-indera diterima maka secara intuitif pengetahuan a priori bekerja. Pertama, menentukan kuantitas data indera berupa ukuran, panjang, lebar, tinggi, dan lain-lain. Kedua, menentukan kualitas misal daun hijau, batang coklat, kayu padat, seberapa kuat kualitas afirmasi, seberapa lemah kualitas negasi, dan lain-lain. Ketiga, menentukan relasi, apakah data-indra tersebut substansi-aksiden, sebab-akibat, dan lain-lain. Keempat, menentukan apakah pasti, mustahil, atau mungkin. Ditambah lagi sensasi intuisi murni berupa waktu dan ruang maka terbentuklah imajinasi gambar “pohon” sesuai fenomena di alam eksternal.

Menurut saya, uraian Kant ini cukup jelas. Masih ada satu pertanyaan, bagaimana imajinasi gambar “pohon” itu terbentuk? Kant menjawab bahwa gambar pohon itu terbentuk dengan kekuatan imajinasi transendental pikiran manusia.

Proses yang cukup panjang bila diuraikan dengan kata-kata di atas, sejatinya, berlangsung seketika dan intuitif. Kant memastikan kita bisa mengetahui kebenaran penilaian intuitif ini, yang merupakan sintesa data empiris (pengetahuan a posteriori) dan pengetahuan a priori. Maksudnya, dengan cara-cara tertentu, manusia mampu menentukan bahwa apakah yang dilihat itu benar atau salah, berupa pohon. Dengan cara ini sains yang mengandalkan penelitian empiris mendapatkan justifikasi filosofis.

Pengetahuan yang tidak dilengkapi data empiris masih bisa sah dengan mengandalkan sintesa apriori atau analitik. Misal pengetahuan matematika bahwa 2 + 1 = 3 adalah sintesa analitik yang dapat diakui nilai kebenarannya. Yaitu melibatkan proses pengetahuan a priori “2” dan “1” serta definisi penjumlahan maka menghasilkan sintesa bernilai “3”.

Tetapi pada kasus pengetahuan umum yang tidak dilengkapi dengan data empiris maka tidak akan bisa dibuat sintesa yang memuaskan. Situasi seperti ini menghasilkan paradoks atau yang disebut dengan antinomy. Misalnya,

tesis: terdapat hukum alam yang pasti sehingga segala yang ada di alam sudah ditentukan, determinisme.

anti tesis: setiap manusia memiliki kehendak bebas, free will.

Antara tesis dan anti tesis di atas saling bertentangan. Dan tidak ada sintesa untuk mempertemukan keduanya. Secara empiris kita tidak bisa menjamin kebenaran tesis mau pun anti tesis. Secara apriori kita juga tidak bisa membuktikannya. Maka Kant membiarkan eksistensi keduanya, sebagai antinomy. Beberapa usulan solusi untuk ini saya sertakan di lampiran, di bagian diskusi bawah. Di antaranya dialektika Hegel, keutamaan kehendak Schopenhauer, keutamaan emosi Kierkeegaard, fenomenologi Husserl, keutamaan being Heidegger, dan keutamaan wujud Sadra. Serta dissensus dari Lyotard. Dari arah yang berbeda kita perlu mempertimbangkan psikoanalisa Freud, strukturalisme Saussure, alam al-mitsal Al Ghazali, dan jalan cinta Rumi dan Ibnu Arabi.

Kita bisa meringkas, untuk penilaian intuitif indera, sebagai berikut. Proses ini terjadi intuitif dari pikiran manusia. Penilaian makin matang sesuai dengan pengalaman empiris kita, mengacu pendapat Russell. Sedangkan Kant menjelaskan bahwa penilaian intuitif ini melibatkan sintesa data empiris dan pengetahuan a priori manusia. Dalam proses sintesa ini melibatkan kekuatan imajinasi transendental.

4. Cantik dan Cinta Transendental

Mari kembali memikirkan cantik dan cinta. Saya bisa membayangkan cantiknya Rara. Anda membayangkan cantiknya siapa saja. Sudah kita bahas bahwa cantik adalah universal. Cantik ada di dunia unversalia yang sempurna. Meski demikian, di sini, kita perlu membahas bagaimana penilaian cantik dan cinta.

Kant memberikan ide yang menarik berkaitan dengan penilaian estetika – berhubungan dengan rasa. Saya akan meminjam ide-ide dari Kant di bagian ini. Proses penilaian ini melibatkan data empiris (pengetahuan a posteriori), pengetahuan a priori, dan imajinasi transendental.

4.1 Penilaian Persetujuan

Pertama, penilaian yang diharapkan ada persetujuan. Contoh, saya menilai bahwa rambut Rara adalah lebat. Penilaian saya ini, bisa diharapkan akan disetujui oleh semua orang. Artinya, orang-orang yang mencermati rambut Rara akan setuju bahwa lebat. Bila ada orang yang tidak setuju maka bisa didiskusikan dan diharapkan akan sepakat pada akhirnya.

Hari ini, sinar matahari terasa panas. Penilaian panas ini juga diharapkan akan disetujui oleh semua orang. Bahkan, sains dan teknologi, menciptakan alat ukur untuk mengukur panas misal termometer. Dari pada saya menilai “panas” maka bisa saya ukur temperatur hari ini misalnya 32 derajat celcius. Penilaian termometer ini lebih terjamin obyektivitasnya. Dengan resiko mengurangi peran saya sebagai subyek yang merasa panas itu.

Rara adalah gadis cantik, adalah penilaian yang diharapkan akan disetujui orang. Saya belum tahu apakah sains dan teknologi sudah membuat alat untuk mengukur kecantikan. Misal ada derajat kecantikan seperti termometer. Barangkali seru juga?

4.2 Penilaian tanpa Persetujuan

Kedua, penilaian yang bisa tidak ada persetujuan. Misal, sayur masakan ibu adalah yang paling nikmat. Ketika pernyataan ini saya sampaikan ke kakak-kakak dan adik-adik saya, mereka setuju. Sementara bila saya sampaikan kepada orang luar kota yang tidak saya kenal, mereka bisa saja tidak setuju. Dan saya sendiri tidak bisa berharap bahwa orang luar kota itu akan selalu setuju dengan saya.

Iwan Fals adalah penyanyi dengan suara paling merdu. Saya kira penggemar Bang Iwan akan setuju dengan saya. Tapi akan banyak orang yang tidak setuju. Mereka, barangkali, punya pilihan berbeda untuk penyanyi yang memiliki suara paling merdu. Kita tidak perlu berharap kata sepakat untuk jenis penilaian intuitif semacam ini.

Ilmu statistik mempunyai cara tertentu untuk mengukur penilaian ini misal dengan sensus atau survey. Dari seribu orang yang disurvey memilih Iwan Fals sebanyak 45%. Sedangkan 4 penyanyi lain rata-rata dapat dukungan sekitar 10% – 20%. Maka kita bisa menobatkan Iwan Fals sebagai penyanyi dengan suara paling merdu. Sah. Dengan resiko suara mayoritas bisa mendominasi suara minoritas.

4.3 Penilaian Cantik Sublim

Ketiga, penilaian yang bersifat sublim atau suci – termasuk penilaian cantik. Saya terharu melihat perjuangan seorang guru ngaji di kampung. Guru ngaji mengajar dengan tulus setiap sore sampai malam. Dilanjutkan pagi hari setelah subuh. Siswa-siswa tidak membayar apa pun kepada guru ngaji. Bahkan guru ngaji sering memberi buku dan alat tulis kepada siswa-siswanya. Guru ngaji itu juga bukan orang kaya. Dia hidup sederhana dengan bertani di sawahnya yang hanya sepetak.

Saya terharu adalah jenis penilaian intuitif bersifat sublim. Rasa cinta saya kepada Rara adalah sublim, suci. Anda barangkali terpesona oleh indahnya alam pegunungan, adalah perasaan sublim intuitif. Ada juga yang mengagumi deburan ombak menghantam tepian pantai tiada henti.

Banyak sekali momen intuitif sublim, suci, dalam hidup ini. Anda mendengar rintihan bocah kecil dipinggir jalan, hati Anda tersentuh adalah sublim. Lantunan lagu sedih yang menyayat hati Anda adalah sublim. Lukisan tangan seniman yang dipamerkan, meggoreskan rasa mendalam ke hati Anda, adalah sublim. Bacaan kitab suci yang menembus ke dalam hati sanubari, mengajak insyaf diri, adalah sublim. Anda jatuh cinta adalah sublim.

4.4 Penilaian Spesial

Keempat, penilaian yang bersifat spesial. Pada situasi-situasi tertentu dimungkinkan munculnya penilaian intuitif transendental yang bersifat spesial.

Saya pernah membaca buku yang bercerita tentang pengalaman hidup Bertrand Russell. Waktu masih remaja, Russell mengalami kebosanan dalam hidup. Lalu ia memanfaatkan waktu bosan itu untuk mempelajari matematika. Tiba-tiba muncul dalam pikiran Russell bahwa dia punya tugas untuk menyebarkan ilmu dan matematika ke seluruh alam semesta. Rasa bosan dalam hidup berubah menjadi rasa bahagia sepanjang hayat. Munculnya pesan khusus bagi Russell adalah proses penilaian intuitif transendental yang bersifat spesial.

Fuller, diceritakan, menjalani hidup yang datar-datar saja. Tidak ada semangat dalam hidup ini. Kemudian Fuller pergi ke pantai menyusun strategi cerdik berenang ke laut. Meski dengan resiko dia bisa saja tidak akan selamat. Ketika akan menjalankan rencananya, muncul suara di dalam diri Fuller yang mengatakan, “Kamu diciptakan di dunia ini bukan untuk dirimu.” Fuller memahami pesan itu sebagai adanya tugas khusus dia di dunia ini. Jalan hidup Fuller berubah total sejak itu menjadi lebih semangat mengabdikan diri untuk sesama.

Seorang pemuda sedang jalan menuju rumahnya pulang dari kampus. Dalam perjalanan santai itu, dia memikirkan sebuah ungkapan, “Tidak pantas bila setiap orang terjun ke dunia praktis. Harus ada sebagian kecil yang mendalami ilmu, teoritis dan praktis, untuk kemudian mengajarkan kepada sesama.” Pemuda itu tersentuh bahwa pesan itu ditujukan khusus untuknya. Kemudian ia lebih semangat mendalami ilmu dan menyebarkan ke seluruh penjuru. Baik melalui media pengajaran langsung tatap muka, menerbitkan buku, mau pun media digital. Momen tersentuhnya jiwa pemuda dengan pesan khusus merupakan penilaian intuitif transendental.

Saat ini, banyak dikembangkan metode-metode khusus untuk mendapatkan momen intuitif transendental. Misalnya dengan berdoa di malam hari ketika sepi. Ada juga dengan menyendiri di goa. Ada lagi dengan cara meditasi.

Mari kembali kita cermati empat macam penilaian intuitif transendental di atas. Meski kita membedakan ada empat macam, sejatinya, pembedaan ini hanya bersifat memudahkan meski pun nyata juga. Karena beberapa penilaian bisa saja masuk ke seluruh empat kelompok di atas. Misalnya penilaian bahwa alam pegunungan Tangkuban Parahu adalah indah. Penilaian ini bisa diharapkan untuk disepakati, mungkin saja tidak ada kata sepakat, bisa juga keindahan pegunungan bersifat sublim. Bagi orang-orang tertentu, indahnya pegunungan Tangkuban Parahu bisa saja memberikan momen transendental yang spesial. Demikian juga dengan penilaian cantik dan cinta, melibatkan keempat penilaian intuitif transendental di atas.

5. Kebenaran Intuitif

Tiba saatnya, kita menyelidiki nilai kebenaran dari pengetahuan intuitif. Di satu sisi kita berharap menemukan nilai kebenaran pengetahuan, di sisi lain, penilaian ini berdampak secara moral. Bahkan dalam arti luas berdampak terhadap nasib peradaban manusia.

5.1 Selalu Benar

Pertama, penilaian intuitif selalu benar sejauh data-indera atau data-terdekat yang diperhatikan. Ungkapan “saya melihat pohon” selalu bernilai benar. Dalam arti “saya melihat sesuatu”. Bahwa sesuatu itu bisa benar-benar pohon, bisa juga bukan pohon, masih perlu kita cek dengan langkah selanjutnya.

“Rara adalah cantik” selalu bernilai benar sejauh data-indera atau data-terdekat yang diperhatikan. Ketika saya melihat Rara dan menilainya sebagai cantik maka itu selalu benar. Dalam ungkapan sehari-hari, persepsi saya selalu dianggap benar. Persepsi saya tentang cantik dan pohon sama-sama bernilai benar. Apakah orang lain akan sepakat bahwa Rara memang cantik? Maka hal itu perlu kita cek dengan langkah lanjutan.

“Saya cinta Rara” juga selalu benar sejauh data-terdekat yang diperhatikan. Artinya saya merasakan cinta untuk Rara adalah benar adanya. Fakta bahwa saya adalah ayahnya Rara makin menguatkan kebenaran cinta saya kepada Rara. Persepsi saya tentang cinta saya selalu benar. Sementara, orang lain ada cinta yang penuh dusta maka perlu kita cek dengan langkah lanjutan.

Bisa kita ringkas, penilaian intuitif kita selalu bersifat benar sejauh data-terdekat yang kita perhatikan. Penilaian intuitif adalah penilaian yang muncul begitu saja, refleks. Bahkan ketika, kita mengalami mimpi atau halusinasi maka persepsi kita, tetap, bernilai benar. Tetapi, persepsi intuitif ini bisa bernilai salah ketika dibandingkan dengan realitas yang lebih jauh, kita bahas di bagian kedua berikut.

5.2 Kadang Benar

Kedua, penilaian intuitif bisa bernilai benar atau salah ketika dibandingkan dengan realitas luar. “Saya melihat pohon” bernilai benar bila, setelah dicek dengan berbagai macam cara, ternyata benar-benar pohon. Tetapi bernilai salah bila ternyata yang saya lihat itu bukan pohon, misalnya gambar pohon. Cara cek kebenaran intuisi indera ini relatif mudah misal dengan mengamati lebih dekat pohon itu, memegangnya, menggoyang-goyangkannya dan lain-lain.

“Hari ini panas” bisa bernilai benar atau salah. Karena persepsi orang-orang terhadap panas bisa saja berbeda-beda maka perlu dicari titik temu. Sains dan teknologi menciptakan termometer untuk memudahkan kita menyepakati. Misal pernyataan diubah menjadi “Hari ini temperatur 32 derajat celcius.” Dengan melihat termometer maka kita bisa memastikan bahwa penyataan itu benar (atau salah).

Bisa kita lihat di kasus ini, sains membantu untuk memudahkan kesepakatan 32 derajat celcius. Tetapi kita harus tetap ingat bahwa 32 derajat celcius itu bisa dipersepsi panas bagi orang tertentu dan dipersepsi tidak panas oleh orang lain. Maka di sini perlu sikap untuk saling respek kepada perbedaan yang mungkin.

“Rara adalah cantik” bisa bernilai benar atau salah. Karena pengertian “cantik” masing-masing orang bisa berbeda maka kesimpulan akhir bisa beda. Sekali lagi kita perlu respek terhadap perbedaan ini.

Sedangkan penilaian intuitif tentang cinta selalu benar. “Saya cinta Rara” adalah selalu benar. Karena, cinta saya, tidak perlu dibandingkan dengan realitas luar. Justru, cinta saya adalah realitas diri saya. Sehingga, selama saya jujur, cinta saya kepada Rara adalah selalu benar. Tetapi orang bisa berbohong tentang cinta. Karena tidak ada realitas obyektif untuk menentukan cinta maka dusta dengan cinta mudah dilakukan. Misal ungkapan “Saya cinta Sasa” bisa salah jika saya berbohong. Sejatinya saya tidak cinta tapi hanya di bibir saja bilang cinta.

Mirip dengan intuisi cinta, intuisi sublim dan intuisi spesial juga selalu bernilai benar.

6. Ringkasan

Sampai di sini kita bisa menyimpulkan bahwa intuisi cinta selalu bernilai benar. Demikian juga intuisi sublim dan intuisi spesial juga selalu benar. Sedangkan intuisi indera selalu benar sejauh data-indera yang diperhatikan. Penilaian intuisi indera bisa salah (atau benar) bila dibanding dengan realitas luar. Penilaian intuisi estetika, yang melibatkan rasa, bisa saja disepakati dan di kasus lain tidak ada kesepakatan. Perlu sikap saling respek dalam perbedaan.

7. Diskusi

Bagian diskusi ini akan membahas lebih detil tentang pengetahuan intuitif. Anda yang berminat dapat mendalami diskusi ini. Sementara yang berminat melompati dan langsung ke bab berikutnya tidak masalah.

7.1 Skemata Kant

Skemata adalah bagian paling sulit dari Kritik Akal Murni Kant. Para pembaca, di era Kant, banyak yang mengeluhkannya. Kant sendiri, dikabarkan, minta maaf atas kesulitan yang diakibatkan oleh skemata. Kesulitan ini muncul karena skemata bersifat teknis. Sehingga, skemata mirip dengan tugas mengalikan bilangan besar acak 4 angka dengan 5 angka. Meski, kita paham cara mengalikan, tetapi, tetap butuh usaha keras untuk menghitungnya.

Sementara, bagi pemikir yang ingin memahami secara detil, skemata justru memberi penjelasan paling jelas dari proses pemahaman manusia. Baik pemahaman konsep pikiran mau pun pemahaman hadirnya “impresi indera” tentang obyek eksternal.

Skemata adalah pendekatan sintesa antara data empiris dan deduksi transendental. Sehingga kategori dalam skemata juga bersifat sintesa. Seluruhnya ada 12 kategori. Karena, masing-masing ada tesis, antitesis, dan sintesis maka bisa menjadi 4 kelas saja: kuantitas, kualitas, relasi, dan modalitas. Proses judgement (penilaian) mengikuti skema kategori yang sama.

Data empiris, misal ada bola di depan kita, berupa cahaya-cahaya yang memancar dari bola mengenai mata – kita sebut sebagai data-indera. Kemudian, data-indera ini diolah oleh sistem indera lengkap dengan sistem syaraf menghasilkan sinyal-indera. Sampai sinyal-indera, kita belum memahami ada bola di depan kita.

Proses di atas adalah proses terhadap data empiris. Validitas data empiris mengikuti perkembangan sains. Maksudnya, jika ada perubahan teori dalam sains empiris maka kita mengikuti perubahan tersebut.

Langkah berikutnya adalah proses sintesa data empiris dengan kategori transendental yaitu proses judgement (penilaian). Proses penilaian ini adalah tugas filsafat karena melibatkan argumen transendental.

Sinyal-indera bertemu dengan kategori maka terjadi proses penilaian menghasilkan impresi-indera berupa gambar bola dalam pikiran kita.

Lebih lengkap proses penilaian adalah sebagai berikut.

A) Sinyal-indera berhadapan dengan kategori

B) Terjadi proses penilaian

B.1 Kuantitas: apakah bola tersebut universal atau partikular menghasilkan bola singular.
B.2 Kualitas: apakah bola itu ter-afirmasi atau ter-negasi menghasilkan infinite (batas-batas tak tentu).
B.3 Relasi: bagian bola mana yang substansi atau aksiden, atau, sebab atau akibat, menghasilkan interaksi-disjungsi dinamis.
B.4 Modalitas: apakah mungkin ada bola seperti itu atau itu bola apa adanya menghasilkan kepastian bola tertentu.

C) Muncul impresi-indera berupa gambar bola di pikiran kita.

Semua proses di atas berlangsung secara refleks intuitif nyaris tidak perlu waktu, tidak perlu ruang. Data-indera dan sinyal-indera bersifat empiris. Sedangkan, impresi-indera berupa gambar bola dalam pikiran bersifat transendental.

Proses skemata di atas bisa kita terapkan kepada obyek eksternal mau pun obyek logika semisal pernyataan matematika 2 + 1 = 3 atau proposisi “Jakarta ibu kota Indonesia.”

Ketika kita melihat “angka 2” atau mendengar “ucapan 2” maka data-indera kita terima, lalu, diolah oleh indera dan sistem syaraf menghasilkan sinyal indera untuk berhadapan dengan kategori transendental. Terjadi proses penilaian seperti di atas, akhirnya, menghasilkan impresi-indera 2.

Yang menarik, anak kecil bisa melihat “2 + 1” tetapi tidak bisa menyimpulkan hasilnya 3. Kita, orang dewasa, bisa menyimpulkan bahwa hasil operasi “2 + 1” adalah “3”. Mengapa bisa begitu?

Ruang dan Waktu

Ruang dan waktu adalah sensasi paling murni dari intuisi transendental. Sehingga, seluruh kategori dan proses skemata selalu berada dalam ruang dan waktu. Sensasi ruang membuat kita mampu menyusun obyek-obyek berdampingan secara halus, homogen. Kita mampu menyusun dalam imajinasi bahwa di bawah bola ada meja, di bawah meja ada lantai, di samping meja ada kursi, dan lainnya secara halus tanpa terputus. Sensasi ruang bersifat halus homogen.

Begitu juga, sensasi waktu membuat kita mampu menyusun proses kejadian berurutan secara halus tanpa terputus, homogen. Detik 1, bola di depan kita; detik 2, bola kita pegang; detik 3, bola dilempar. Detik demi detik berlangsung secara halus tanpa terputus.

Dengan sudut pandang bahwa ruang dan waktu adalah sensasi paling murni, maka, seluruh obyek imajinasi selalu berada dalam sensasi ruang dan waktu. Tetapi, ruang dan waktu itu sendiri tidak eksis secara mandiri dalam realitas. Ruang dan waktu eksis disebabkan sensasi intuitif imajinasi kita. Tentu saja, banyak pemikir yang berbeda pendapat tentang konsep ruang dan waktu.

Apakah konsep ruang dan waktu benar-benar bersifat halus, homogen, kontinu? Atau, ruang dan waktu justru diskrit, terputus-putus? Seperti teori atom quantum yang berupa paket-paket dalam ukuran quantum, atau ukuran quanta. Tema yang menarik ini akan kita bahas pada tempatnya yang tepat.

Akal, rasa, pemikiran, dan lain-lain bersifat lebih “luas” dari sensasi imajinasi. Sehingga, mereka bisa terbebas dari ruang dan waktu. Misal, konsep “rumus Pythagoras” terbebas dari ruang dan waktu. Di mana pun, kapan pun, rumus Pythagoras adalah valid. Meski demikian, untuk memahami rumus Pythagoras, kita perlu ruang dan waktu. Kita perlu membuat gambar segitiga. Kemudian, perlu waktu untuk mem-proses perhitungan. Tetapi, rumus Pythagoras sendiri tidak perlu ruang dan waktu.

Demikian juga, rasa jatuh cinta tidak perlu ruang dan waktu. Meski pun, kejadian jatuh cinta perlu ruang, misal pertemuan antara dua orang. Dan perlu waktu, ada proses saling mengenal dan memahami. Tetapi, cinta itu sendiri terbebas dari ruang dan waktu.

Memori dan Imajinasi

Bagaimana kita bisa membayangkan ada bola berwarna putih hitam? Padahal, tidak ada bola di depan kita. Kita membayangkan bola tersebut dengan imajinasi. Dari mana asal imajinasi bola itu? Berasal dari memori atau kombinasi beberapa memori atau bukan dari memori.

Dalam kasus imajinasi bola ini, kita menghadapkan skemata tanpa data empiris, tanpa ada bola di depan mata.

Secara refleks intuitif muncul sesuatu – yang nanti, kita kenal dengan imajinasi bola putih hitam. Sesuatu itu berhadapan dengan kategori transendental untuk proses sintesa melaui penilaian.

Dalam seluruh penilaian – kuantitas, kualitas, relasi, dan modalitas – mirip dengan penilaian bola sebagai obyek eksternal. Kecuali dalam penilaian kualitas, sintesa antara afirmasi dan negasi menghasilkan infinite yang lebih dekat ke negasi, sehingga, hasil akhir berupa bola hitam putih imajinatif. Bukan bola hitam putih yang nyata sebagai obyek eksternal. Beberapa orang tertentu, ada yang, mengalami kelemahan dalam penilaian kualitas. Akibatnya, mereka sulit membedakan obyek imajinatif dengan obyek eksternal nyata.

Sementara, ada orang-orang tertentu yang imajinasinya sangat kreatif. Kita mengenal mereka sebagai jenius. Imajinasi mereka tidak terbatas pada memori. Imajinasi mereka lebih dari memori. Bahkan, imajinasi mereka lebih kreatif dari seluruh kombinasi memori. Mereka memang jenius kreatif.

Hasil pemikiran kreatif ini tidak ada bentuk nyatanya dalam dunia eksternal. Mereka benar-benar hanya berupa pikiran imajinatif. Untuk mengungkapkan diri menjadi nyata di dunia eksternal, mereka memanfaatkan beragam media. Ibnu Arabi mengungkapkan karya kreatifnya dalam bentuk buku “Futuhat,” Newton dalam buku “Principia,” dan Heidegger dalam buku “Being and Time.” Bentuk ekspresi bisa beragam. Rumi dalam bentuk “tarian sufi,” Rendra dalam bentuk “puisi Rajawali,” dan Iwan Fals dalam bentuk “Nyanyian Jiwa.”

Heidegger (1889 – 1976) menemukan sesuatu yang menarik ketika mengkaji karya seni kreatif. Heidegger meyakini bahwa realitas paling fundamental adalah being, khususnya, being-there atau dasein atau manusia sejati. Dasein selalu berada dalam mode being-in-the-world, manusia selalu ada dalam dunia. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa manusia “transendental” terhadap dunia. Maksudnya, manusia bukan bagian dari dunia dan dunia bukan bagian dari manusia, meski, mereka selalu terhubung.

Dari mana muncul karya seni yang kreatif? Bisa dari dasein – manusia sejati – atau dari dunia. Jika karya seni itu berasal dari dunia maka, untuk menjadi karya, masih memerlukan peran manusia. Sehingga, karya seni itu pasti berasal dari manusia sejati yang memiliki kreativitas super. Kajian lebih lanjut terhadap dasein, memang menunjukkan bahwa karya seni bersumber dari dasein. Tetapi, selalu ada yang aneh, di mana, ada hal-hal tertentu yang mendorong dasein untuk menghasilkan karya seni. Sesuatu itu bukan dasein. Sesuatu itu transendental terhadap dasein mau pun dunia. Bahkan, sesuatu itu transenden, bukan hanya transendental.

Komitmen Heidegger terhadap ontologi – dan menghindari metafisika – mencegahnya untuk menilai dorongan karya seni adalah sesuatu yang transenden. Heidegger mencari jawaban yang bersifat imanen – nyata di dunia ini. Apa jawabannya?

Pemikir empiris-materialis akan mencari jawabannya dari fenomena materi. Mereka menemukan cara kerja otak yang kreatif membuat beragam kombinasi dalam jumlah tak hingga. Perlu diingat bahwa jaringan neuron di otak manusia, jumlahnya, lebih banyak dari bintang-bintang di seluruh alam semesta. Ditambah, otak manusia bersifat plastis yaitu lentur lebih lentur dari segala yang lentur. Sehingga, otak manusia bisa berkembang menjadi apa saja. Salah satunya, otak manusia mampu menghasilkan maha karya seni super kreatif.

Pemikir ontologis, semisal Heidegger, tidak mau berhenti hanya pada jawaban empiris. Manusia itu, dasein, transendental terhadap dunia – termasuk transendental terhadap materi. Sehingga, dasein transendental terhadap kerja otak yang bersifat materi. Kita memerlukan jawaban yang bukan hanya “hasil kerja otak.” Heidegger meyakini sumber karya seni adalah bahasa. Lebih tepatnya, sistem-bahasa. Karena, bahasa adalah rumah-dari-being. Termasuk, dasein tinggal di rumah-bahasa. Bahasa adalah tempat being mengungkapkan diri, menyingkapkan diri, openness.

Dasein tinggal di rumah-bahasa, diasuh dan dibesarkan oleh bahasa. Bahasa di sini terhubung dengan bahasa di sana. Bahasa saat ini terhubung dengan bahasa masa lalu dan bahasa masa depan. Dasein bersembunyi di rumah bahasa, pun, mengungkapkan diri di rumah bahasa. Sistem bahasa yang kompleks itu mendorong dasein yang kreatif untuk menerima ilham karya seni. Kemudian, dasein mengungkapkan ilham seni menjadi karya seni yang nyata di dunia eksternal. Maka, lahirlah sebuah maha karya seni.

Pemikir teologis memiliki jawaban yang mudah dan meyakinkan. Sumber ilham seni adalah ilham dari Tuhan. Jawaban ini benar dan meyakinkan. Sekuat apa pun keyakinan terhadap ilham Tuhan ini, beberapa pemikir yang semangat tetap bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. Pilihannya, ilham seni dari Tuhan ini muncul melalui kerja otak manusia, sehingga, selaras dengan jawaban empiris. Atau, ilham itu muncul melalui sistem bahasa, sehingga, selaras dengan jawaban ontologis.

Pembahasan kita tentang imajinasi kreatif ini, tampaknya, sudah melangkah jauh dari skemata. Kita perlu kembali membahas skemata.

Konsistensi dan Koherensi

Kriteria paling umum suatu pernyataan bernilai benar adalah konsisten dan koheren. Bagaimana pikiran kita bisa menguji konsistensi? Dan, lebih dasar, bagaimana pikiran bisa menetapkan konsistensi menjadi penting? Atau, sejatinya, kita tidak butuh konsistensi mau pun koherensi? Atau bisa juga kita melangkah mundur dengan bertanya, “Bagaimana kategori skemata itu bisa terbentuk?”

Tampaknya, kita bisa meminjam konsep dialektika Hegel untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas. Hegel menulis buku berjudul “Fenomenologi Spirit” yang menjadi landasan sistem filsafatnya.

Awalnya, spirit hanya sadar dirinya sendiri adalah spirit. Kemudian, spirit berhadapan dengan sesuatu yang bukan spirit, atau non-spirit. Proses dialektika mulai terjadi antara spirit dan non-spirit maka menghasilkan spirit-baru.

Spirit-baru ini lebih matang dari spirit yang semula. Spirit-baru sadar ada saya yaitu kulo. Dan, ada yang lain yaitu non-spirit. Kesadaran ini mengantarkan spirit memahami kuantitas: universal, partikular, dan singular. Dengan demikian, spirit berhasil membentuk tiga kategori dalam kelompok kuantitas.

Dengan analisis yang sama, spirit berhasil membentuk kelompok kategori lain: kualitas, relasi, dan modalitas. Bahkan, spirit punya kesempatan untuk membentuk lebih banyak kategori lagi. Sampai di sini, spirit telah berhasil membentuk kategori secara lengkap.

Kiranya perlu kita ingat di sini bahwa spirit berhasil membentuk kategori secara retroaktif atau analisis mundur. Setelah spirit berdialektika dengan non-spirit, kemudian, spirit-baru melakukan refleksi diri menghasilkan skema kategori. Spirit tidak bisa melakukan antisipasi, ke depan, di waktu itu. Karena, spirit tidak punya pengalaman apa pun.

Proses dialektika akan terjadi lagi tanpa henti. Spirit-baru berhadapan dengan non-spirit menghasilkan spirit-baru-2. Yang terakhir, spirit-baru-2, jauh lebih matang dari spirit-spirit sebelumnya. Karena, spirit-baru-2 sudah mengalami dua kali proses dialektika: dialektika-pertama dan dialektika-kedua.

Dari dialektika-kedua, spirit menyadari ada sesuatu yang konsisten dan koheren, yaitu, skema kategori. Di saat yang sama, spirit juga sadar ada sesuatu yang berbeda, suatu different: lebih kuat, lebih besar, lebih matang, dan lain sebagainya. Karena proses dialektika ini terjadi berulang kali, maka, spirit makin kuat menyadari ada sesuatu yang konsisten dan ada sesuatu yang different.

Sampai taraf tertentu, spirit sadar bahwa “12 + 1” akan menghasilkan, secara konsisten dan koheren, angka “13.” Spirit dari orang dewasa, umumnya, bisa menyadari bahwa “12 + 1” adalah “13.” Tetapi, spirit dari anak usia dini, barangkali, belum bisa memahami perhitungan di atas. Spirit dari anak usia dini belum cukup banyak berdialektika untuk memahaminya. Di sinilah, kita sadar betapa pentingnya suatu pendidikan.

Lagi, kita perlu catat di sini, spirit sadar bahwa “12 + 1” menghasilkan “13” adalah berdasar retroaktif – refleksi diri mundur terhadap pengalaman masa lalu. Tentu saja, meski retroaktif, spirit memiliki karakter kreatif untuk meng-kombinasikan beragam memori dengan satu dan lain cara.

Apakah mungkin spirit meyakini bahwa “12 + 1” tidak menghasilkan “13”? Atau, apakah mungkin spirit meyakini eksistensi dari suatu kontradiksi?

Kontradiksi Wittgenstein

Wittgenstein (1889 -1951) memunculkan pertanyaan kontradiksi yang menarik. Mengapa kita yakin bahwa “12 + 1 = 1” adalah SALAH? Atau, mengapa kita yakin bahwa pernyataan yang berkontradiksi dengan “12 + 1 = 13” adalah tidak mungkin eksis sebagai kebenaran?

Sementara, mengapa kita tidak menolak pernyataan ” kuda berkaki 8″? Atau, mengapa kita yakin “kuda berkaki 8” bisa saja eksis sebagai kebenaran?

Padahal, baik “12 + 1 = 1” mau pun “kuda berkaki 8” sama-sama tidak ada di alam nyata. Apa yang membedakan keduanya?

Perbedaannya adalah: “12 + 1 = 1” didasarkan kepada konsistensi, sedangkan, “kuda berkaki 8” didasarkan kepada different.

12 + 1 = 1

Matematika adalah disiplin ilmu paling konsisten dan koheren. Sebagai disiplin ilmu murni, matematika bekerja dalam sistem aksiomatik yang ideal. Skemata sangat tepat diterapkan untuk sistem aksiomatik seperti matematika.

(A) 12 + 1 = 13

Pernyataan matematika (A) selalu benar. Secara retroaktif, kita sudah pernah melakukan perhitungan bahwa 12 + 1 memang menghasilkan 13. Mengapa benar? Pertama, kita sudah pernah melakukannya. Kedua, kita bisa melakukan idealisasi terhadap sistem bilangan asli. Ketiga, bahkan, kita bisa generalisasi misal 34 + 1 = 35.

Dengan keyakinan itu, kita bisa memastikan bahwa pernyataan (S) bernilai SALAH.

(S) 12 + 1 = 1

Atau, (S) berkontradiksi terhadap (A). Karena itu, (S) tidak mungkin eksis di dunia nyata. Benarkah begitu? Benar bahwa (S) tidak akan pernah eksis dalam sistem aksiomatik bilangan asli. Sistem aksiomatik ini sudah tertanam kuat prinsip identitas dalam pemahaman kita.

Bagaimana jika tidak dalam sistem aksiomatik bilangan asli, seperti umumnya selama ini?

(S) 12 + 1 = 1 bisa bernilai BENAR dalam sistem aksiomatik bilangan jam dinding.

Dalam sistem jam dinding, yang ada di rumah saya misalnya, tidak ada angka 13. Maka setelah jam 12 kembali ke jam 1. Sehingga “12 + 1 = 1” bernilai BENAR. Jadi, (S) terbukti bernilai BENAR.

Kesimpulan kita, (S): 12 + 1 = 1 adalah mungkin BENAR. Tidak mustahil untuk menjadi benar. Memang kesimpulan ini berbeda “different” dari cara pikir kita pada umumnya.

Kuda Berkaki 8

Meski, kita yakin mungkin saja benar, peryataan

(K): Kuda berkaki 8,

tetapi realitasnya, kita tidak pernah menemui kuda berkaki 8. Setiap kuda yang kita temui selalu berkaki 4. Bisakah pernyataan (K) bernilai mutlak mustahil? Sehingga, kita benar-benar menolak validitas (K).

Tentu saja, (K) bisa bernilai mutlak mustahil. Dengan cara, kita menetapkan sistem aksiomatik retroaktif. Yaitu, kita mendefinisikan kuda adalah seluruh kuda yang pernah saya lihat. Dan terbukti bahwa seluruh kuda yang pernah saya lihat adalah berkaki 4.

Kesimpulan kita, (K): kuda berkaki 8 adalah mutlak mustahil. Tidak mungkin bernilai benar dalam sistem aksiomatik yang saya definisikan.

Bagaimana pun, cara berpikir aksiomatik terhadap kuda, seperti di atas, adalah tidak lazim. Karena, ketika kita berpikir tentang realitas kuda, kita cenderung berpikir “different.” Selalu ada peluang perbedaan dalam pengamatan berikutnya.

Jadi, apa yang membedakan pernyataan (K): kuda berkaki 8 dengan pernyataan (S): 12 + 1 = 1?

Perbedaannya adalah pilihan sikap kita sendiri. Umumnya, kita menyikapi (S) dengan prinsip identitas yaitu (S) mutlak salah. Sedangkan, kita menyikapi (K) dengan prinsip “different” yaitu mungkin saja ada hasil pengamatan yang berbeda-beda.

Lebih lanjut, kita bisa menyikapi (S) dan (K) dengan cara yang sama. Keduanya mutlak mustahil bila kita menerapkan prinsip identitas. Dan, keduanya sama-sama mungkin ketika kita menerapkan prinsip different.

Prinsip Kausalitas

Hubungan sebab-akibat atau prinsip kausalitas merupakan prinsip paling dasar dari setiap pemahaman; Kant menyebutnya sebagai prinsip analogi pengalaman. Kita akan mencoba membahasnya dari kelompok kategori relasi: [1] inheren; [2] kausalitas; [3] korelasi.

A = Jika n adalah 5 maka n adalah bilangan ganjil.

Pernyataan A adalah inheren. Bilangan n = 5 menjadi sebab bagi akibat n sebagai bilangan ganjil. Kita hanya perlu analisis pemahaman tanpa harus ada pengamatan. Pernyataan A bersifat universal abstrak. Sehingga, bernilai benar kapan saja di mana saja.

B = Jika p sumber panas maka p menyebabkan panas.

Pernyataan B adalah kausalitas. Sebagai sumber panas, jelas, p menyebabkan panas. Tetapi, p bersifat konkret bukan abstrak. Seperti apakah p itu? Bagaimana p bisa memanaskan suatu obyek? Pernyataan B adalah universal konkret. Sehingga B bernilai benar kapan saja di mana saja. Sementara itu, sifat konkret dari p masih menjadi tanda tanya.

C = Sinar matahari menyebabkan batu panas.

Pernyataan C adalah korelasi. Kita bisa melakukan satu pengamatan dan, misal, terbukti bahwa sinar matahari menyebabkan batu menjadi panas. Kita yakin pernyataan C bernilai benar. Tetapi, jika besok kita mengulangi pengamatan, maka, apakah batu pasti menjadi panas? Bagaimana jika pengamatan dilakukan 10 tahun atau 100 tahun ke masa depan? Kita tidak yakin bahwa C bernilai benar. Pernyataan C adalah partikular konkret.

Dalam kasus partikular konkret, seperti C, kausalitas kadang gagal dan kadang berhasil. Kita hanya mampu menyimpulkan relasi antara “sinar matahari” dan “batu panas” sebagai korelasi. Kajian sains berharap melangkah dari korelasi menuju kausalitas. Sehingga, sains berlaku valid secara universal. Bagaimana pun, sifat konkret dari sains, dan teknologi, akan tetap menjadi tanda tanya. Syarat dan ketentuan berlaku.

Sains hanya mampu meraih kausalitas dan tidak akan mampu meraih inheren. Karena sains bersifat konkret – tidak hanya abstrak. Sementara, matematika mampu meraih inheren karena abstrak dan universal.

Dengan pemahaman kausalitas ini, kita bisa menempatkan metode induksi dan deduksi, termasuk falsifikasi, pada tempat masing-masing secara layak. Kita perlu mencatat bahwa kausalitas adalah pengetahuan apriori yang merupakan salah satu kategori dari skemata.

Kausalitas adalah anugerah dari Tuhan.

Seorang anak muda penasaran ingin menemukan relasi kausalitas bahwa sinar matahari menyebabkan batu itu menjadi panas. Dengan kajian sains, pemuda itu hanya akan berhasil mencapai korelasi belaka; tidak akan pernah sampai ke kausalitas. Pemuda itu menyatakan, berdasar sains, sinar matahari adalah kalor K yang merambat kemudian mengenai batu; konsekuensinya, batu menjadi panas akibat dari kalor K ini. Sesuai hukum sains kekekalan energi kalor, maka, terbukti sinar matahari sebagai sebab bagi batu menjadi panas. Kausalitas terbukti.

Pemuda itu bahagia. Tetapi, saintis lain, atau filsuf, bisa mengajukan pertanyaan lanjutan, “Apakah itu benar-benar kausalitas?” Karena terdapat contoh kontra yaitu ada sinar matahari tetapi batu tidak menjadi panas. Atau, batu menjadi panas padahal tidak kena sinar matahari. Jadi, pada analisis akhir, kausalitas sains akan menghadapi dilema. Karena kausalitas adalah anugerah Tuhan; bukan sekedar sains.

Tuhan yang mana? Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Baik, Maha Awal, dan Maha Akhir. Tuhan Maha Akhir melimpahkan anugerah bagi batu dan matahari sedemikian hingga batu menjadi panas dengan matahari memancarkan cahaya. Bagaimana proses atau mekanisme dari anugerah ini? Kita perlu membahasnya dengan pendekatan logika futuristik. Bagi yang berminat silakan merujuk ke buku saya yaitu Trilogi Logika Futuristik.

Modalitas: Mustahil-Mungkin-Niscaya

Modalitas adalah problem paling sulit dari kategori dan skemata. Di saat yang sama, modalitas adalah kategori paling penting bagi manusia. Hanya manusia yang memiliki kapasitas memahami modalitas dengan baik. Binatang, misal kucing, tidak mampu memahami modalitas.

“Apa perbedaan ikan asin bagi kucing dan bagi manusia?”

Perbedaan ada pada pemahaman modalitas. Kucing dan manusia, sama-sama, bisa memahami ikan asin dalam kategori kuantitas, kualitas, dan relasi. Tetapi, hanya manusia yang sanggup memahami kategori modalitas ikan asin. Kucing memahami kuantitas ikan asin, misal, 2 ekor; kucing memahami kualitas ikan asin, misal, aroma yang menggoda; kucing memahami relasi ikan asin, misal, jika dimakan bisa bikin kenyang. Manusia juga sama; bisa memahami itu semua. Tentu saja, ada keragaman kadar pemahaman antara kucing dan manusia.

Hanya saja, perbedaan paling tajam, manusia berlanjut dengan kategori modalitas: niscaya-mungkin-mustahil. Kant memasukkan eksistensi sebagai modalitas.

Bagi manusia, ikan asin “niscaya” berubah seiring waktu; karakter eksistensi adalah selalu berubah. Akan berubah seperti apa ikan asin itu? Dan, ikan asin “mustahil” akan tetap abadi seperti itu selamanya.

Ikan asin memiliki banyak posibilitas; banyak hal-hal yang “mungkin” terjadi pada ikan asin.

Bagaimana jika ikan asin saya jual? Bagaimana jika saya mendirikan restoran spesial ikan asin? Bagaimana jika saya bisnis ekspor-impor ikan asin? Bagaimana jika ikan asin diolesi racun untuk menjebak tikus? Bagaimana jika ikan asin saya buang? Manusia bisa memilih “cuek” terhadap ikan asin atau memilih “peduli” terhadap ikan asin.

Sikap peduli terhadap posibilitas ikan asin berdampak pemahaman manusia terhadap ikan asin menjadi jauh berbeda dengan pemahaman oleh seekor kucing. Kategori kuantitas: manusia bisa menghitung ulang jumlah ikan asin bahkan menimbangnya; kualitas: manusia memeriksa ikan asin tersebut kualitas biasa atau kualitas super; relasi: manusia memeriksa ikan asin tersebut hasil olahan rumah tangga atau dari industri; modalitas: posibilitas luas apa saja yang terbuka bagi ikan asin?

Manusia sadar bahwa menjual ikan asin adalah dosa karena ikan asin tersebut bukan miliknya. Konsep dosa berkembang dalam pemahaman manusia karena manusia peduli dengan modalitas (niscaya-mungkin-mustahil). Mencuri adalah dosa. Korupsi, yaitu mencuri uang rakyat, adalah dosa besar. Pejabat yang korupsi, sambil tertawa terbahak-bahak, adalah manusia berlumur dosa besar. Pejabat berdosa karena korupsi “niscaya” merugikan rakyat; korupsi “mustahil” memberi keuntungan kepada korban; tersedia banyak “posibilitas” atau alternatif lain untuk meninggalkan korupsi. Mari jauhi korupsi. Manusia adalah dumadi unik: manusia mampu memilih amal kebaikan padahal bisa berbuat dosa.

Posibilitas masa depan cemerlang seperti apa yang hendak Anda kembangkan?

Revolusi Copernicus

Copernicus membalik teori geosentris menjadi heliosentris; semula bumi adalah pusat; berubah menjadi matahari adalah pusat tatasurya. Kant meng-klaim bahwa teori kritiknya melakukan revolusi seperti Copernicus. Semula, orang mengira bahwa fenomena alam adalah begitu adanya; fenomena alam adalah pusat. Kemudian, manusia menyelidiki alam, berputar mengelilingi alam; sedemikian hingga agar pengetahuan manusia bersesuaian dengan fenomena alam. Kant melakukan pembalikan terhadap pemahaman itu; Kant melakukan revolusi. Manusia memiliki pengetahuan apriori, misal 12 kategori. Alam semesta berputar di sekitar manusia. Kemudian manusia menata seluruh fenomena alam agar sesuai dengan pengetahuan apriori; pengetahuan apriori adalah pusat bagi fenomena alam raya.

Dalam perspektif yang lebih revolusioner adalah manusia yang aktif menerapkan kapasitas intelektualnya kepada alam sekitar. Pengetahuan apriori milik manusia bekerja kepada alam sekitar sedemikian hingga fenomena alam bersesuaian dengan pengetahuan apriori.

Dalam perspektif sains, fenomena alam adalah pusat. Kita, sebagai manusia, menyelidiki fenomena dari beragam perspektif sedemikian hingga menghasilkan sains yang komprehensif; sains yang menggambarkan realitas fenomena sebagaimana adanya. Pendekatan sains ini sah karena manusia dan alam berinteraksi berulang kali dalam rentang waktu yang cukup lama.

Revolusi kritik oleh Kant bermaksud dari arah sebaliknya; yaitu, pengetahuan apriori sebagai pusat. Misal, kita melihat bola di depan kita.

A: Aksioma intuisi. Pikiran kita menciptakan intuisi ada sesuatu yang kita duga sebagai bola secara kuantitatif. Bisa jadi satu bola (unity) atau banyak bola (plural) atau sejumlah bola tertentu.

B: Antisipasi persepsi. Kita mengantisipasi kualitas bola tersebut. Bola itu bisa saja bola nyata (realitas) atau bola imajinasi (negasi) atau bola dalam bentuk tertentu (limitasi). Demikian juga, secara apriori, kita menerapkan kualitas bahan bola, warna bola, dan lain-lain.

C: Analogi eksperien (pengalaman). Secara apriori kita menerapkan kausalitas, sebab-akibat, terhadap bola itu. Karena ada bola, dan karena saya menatap bola itu, maka terlihat fenomena bola. Bola berada dalam situasi tertentu; sebagian fenomena adalah sebab bagi keberadaan bola; sebagian lain menjadi akibat dari bola; sebagian lain hanya memiliki relasi dengan bola. Dan ada fenemona tertentu yang secara inheren adalah karakter dari bola semisal massa dan volume.

D: Postulat Empiris. Secara apriori, bola adalah bola. Bola adalah niscaya identik dengan bola. Bola mustahil sebagai bukan bola (prinsip non-kontradiksi). Bola memiliki posibilitas untuk jatuh atau tetap di tempat atau lainnya. Akhirnya, bola eksis sebagaimana fenomena bola itu.

Kita perhatikan seluruh proses di atas adalah aksi apriori seorang manusia. Kita sudah melakukan aksi “melihat bola” sebelum bola itu ada di depan mata kita. Pada akhirnya, kita melihat bola di depan mata sebagai fenomena yang nyata. Fenomena “melihat bola” adalah pengetahuan posteriori yang terjadi setelah pengalaman empiris. Setiap pengetahuan empiris didasarkan pada aksi apriori. Tanpa aksi apriori maka tidak ada fenomena “melihat bola”. Tanpa aksi apriori hanya mungkin ada realitas bola. Jadi, setiap pengetahuan empiris niscaya membutuhkan aksi apriori. Kant menawarkan 12 kategori apriori yang sudah kita bahas.

Apa yang kita bahas sejauh ini adalah “masalah mudah” atau “easy problem” yaitu bagaimana impresi-indera, misal gambar bola, muncul dalam pikiran kita. Bagian berikutnya akan mendiskusikan “hard problem.” Meski demikian, pembahasan kita sampai menyentuh ke tema skemata yang penuh tanda tanya.

7.2 Hard Problem

“Hard Problem” menanyakan, “Bagaimana dan mengapa kita mengalami kesadaran sebagai subyek saya, subyek kulo?”

Di sini, saya menggunakan istilah hard-problem sedikit berbeda dari Chalmers, yang memunculkannya pada tahun 1995. Meski hard-problem sudah menjadi kajian lebih dari 27 tahun, solusinya masih tidak memuaskan sampai saat ini.

Mengacu kepada Chalmers, easy-problem menanyakan bagaimana manusia bisa menerima data-indera, kemudian mengolahnya bersama sistem syaraf dan sistem tubuh, sampai menghasilkan sensasi impresi-indera. Problem ini dianggap mudah karena kajian sains empiris akan menjawabnya dengan jelas seiring berjalannya waktu. Ternyata, tidak semudah yang dikira.

Hard-problem melanjutkan, “Mengapa itu semua – proses pengolahan data-indera – bisa diiringi oleh suatu pengalaman, suatu experience?” Dengan kata lain, mengapa kita merasa lapar? Padahal, kondisi fisik orang tidak makan bisa saja tidak merasa lapar. Mengapa kita merasa takut kepada harimau? Padahal kondisi fisik seseorang yang melihat harimau, bisa saja, tidak merasa takut. Mengapa kita mengalami lapar, takut, dan bahagia?

Saya menambahkan ke hard-problem, “Mengapa kita mengalami, sadar, sebagai subyek atau sebagai kulo?” Sehingga, hard-problem berubah menjadi very-hard-problem.

Solusi Empiris – Materialis

Semua kesadaran kita, termasuk kesadaran sebagai subyek kulo, adalah hasil kerja dari jaringan otak manusia – dan seluruh anggota tubuh. Sehingga, dengan meneliti cara kerja otak maka kita akan menemukan bagaimana kesaradan itu muncul dari sel-sel otak manusia. Penelitan sains menunjukkan kemajuan signifikan di bidang neurologi dan sistem syaraf.

Sampai saat ini, penelitan sains belum berhasil mengungkap kemunculan kesadaran manusia ini. Dengan mempertimbangkan kemajuan teknologi, lebih-lebih teknologi digital bidang medis dan pengolahan citra, maka kita bisa optimis sains dan tekonologi akan memberi solusi terbaik. Bagaimana pun, kita masih membutuhkan pemikiran spekulatif untuk melengkapi sains dan teknologi.

Quantum Neuron

Hipotesa quantum-neuron merupakan salah satu hipotesa paling menarik dalam menjelaskan kemunculan kesadaran. Kita mencermati kerja sel otak, neuron, sampai level quantum. Sebagaimana kita tahu, teori mekanika quantum menghadirkan wawasan baru di bidang fisika sub-atomik. Kejutannya, teori quantum sering tidak sesuai dengan logika umum atau tidak masuk akal. Teori quantum sering tidak konsisten. Bagaimana pun, teori quantum tetap valid secara ilmiah. Fisika klasik, atau fisika Newton, bersifat deterministik. Sementara, fisika quantum bersifat indetermenistik, tidak deterministik.

Dengan karakter quantum yang indeterministik, terbuka luas bagi kita untuk mengembangkan pemikiran spekulatif. Dan, saat ini, berkembang beragam interpretasi terhadap fenomena quantum.

Quantum-neuron mencermati cara kerja sel otak, neuron, ke level quantum yang indeterministik. Karena jumlah neuron pada otak manusia ada 100 milyard dan masing-masing tersusun dari jutaan sub-atom, maka, kita memiliki sistem quantum-neuron dalam ukuran super besar. Neuron menerima sinyal-sinyal dari indera dan memori. Kemudian, neuron mengolah sinyal-sinyal ini dengan sistem quantum-neuron yang menghasilkan kesadaran manusia.

Cara kesadaran muncul dari neuron adalah melalui proses lompatan-quantum. Sebagaimana elektron, berpindah dari orbit 1 ke orbit 2 melalui lompatan diskrit, bukan dari gerak halus kontinyu, begitu juga proses munculnya kesadaran dari neuron. Elektron yang melompat dari orbit lebih tinggi ke orbit rendah, seketika, melepaskan cahaya. Begitu juga, proses gerak quantum-neuron dari satu state ke state yang lain “melepaskan” cahaya kesadaran seketika.

Perlu kita catat bahwa lompatan quantum yang “memancarkan” cahaya kesadaran ini terjadi dari interaksi milyaran atau trilyunan quantum-neuron. Interaksi kompleks quantum-neuron ini, pada tahap kematangan tertentu, menghadirkan kesadaran diri sebagai subyek kulo.

Struktur Quantum Neuron

Masih banyak alternatif hipotesa yang bisa kita kembangkan berdasar sudut pandang empiris materialis seperti di atas. Kita bisa memandang kesadaran muncul bukan dari sekedar proses quantum-neuron sederhana, tetapi, dari proses struktur-quantum-neuron. Dari milyaran sub-atomik neuron, mereka tidak bekerja sendiri-sendiri. Sebaliknya, mereka bekerja sama membentuk struktur khusus. Dari struktur kompleks inilah, hadir kesadaran pada diri manusia.

Pandangan strukturalis ini membuka variasi yang lebih luas. Dua otak yang memiliki quantum-neuron mirip, bisa saja, memiliki struktur yang jauh beda. Sehingga, dua orang kembar identik, bisa saja, memiliki materi quantum-neuron yang sama. Tetapi, mereka bisa memiliki kepribadian, kesadaran, yang berbeda karena mereka memiliki struktur-quantum-neuron yang beda.

Peran penting dari struktur bisa kita bandingkan dengan struktur game catur, misalnya. Raja-catur berhadapan dengan kuda-catur. Dari materi raja dan kuda, kita tidak bisa menentukan apakah raja yang berhak menyerang kuda atau sebaliknya. Tetapi, dari struktur aturan main game catur, kita bisa menentukan bahwa raja berhak menyerang kuda. Bahkan, kita bisa tahu pihak mana yang, akhirnya, memenangkan permainan catur. Bukan dari materi penyusun raja-catur atau pun kuda-catur. Kita mengetahuinya dari struktur aturan main game catur. Dalam situasi ekstrem, kadang, kita tidak memerlukan materi apa pun, misal, catur online atau catur bayangan.

Struktur-quantum-neuron memandang struktur kompleks lebih utama dalam menentukan kesadaran manusia. Karena, dari beberapa struktur, bisa menyusun supra-struktur maka otak memiliki kebebasan menyusun aneka supra-struktur tanpa batas. Dari supra-struktur inilah muncul free will, kehendak bebas, manusia. Free will manusia tidak bisa, secara langsung, kita temukan dari materi penyusun badan manusia. Kita menemukan free will dari struktur-quantum-neuron yang bebas – dalam sistem organisasi diri yang kompleks. Ditambah karakter quantum yang indeterministik, supra-struktur menghasilkan karakter manusia yang dinamis.

Lebih jauh, kita memperhatikan perkembangan struktur-quantum-neuron berkembang seiring waktu dan ruang. Maksudnya, struktur otak kita berinteraksi dan berevolusi dari masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Di saat yang sama, struktur otak kita berinteraksi dengan struktur otak orang lain dan struktur budaya secara luas. Dengan demikian, meski fenomena kesadaran diri, kita rasakan secara pribadi, tetapi, proses kesadaran itu sendiri melibatkan struktur masyarakat secara luas. Kesadaran diri pribadi menentukan, dan ditentukan oleh, kesadaran masyarakat luas secara dinamis.

Dualisme

Pandangan dualisme meyakini ada dua substansi yang saling mandiri: substansi materi dan substansi non-materi. Kesadaran termasuk dalam substansi non-materi atau substansi jiwa. Bagi dualis, tidak ada masalah dari mana munculnya kesadaran. Karena, kesadaran exist apa adanya terbebas dari materi. Sehingga, tidak ada pertanyaan dari bagian otak yang mana kesadaran itu muncul.

Solusi dualis ini, sebenarnya, berhasil menyelesaikan masalah hard-problem. Tetapi, banyak pihak tidak puas dengan solusi dualis. Karena dualis tidak menyelesaikan problem, melainkan, menghapus problem. Dualis menerima begitu saja munculnya kesadaran. Sementara, hard-problem justru bertanya bagaimana munculnya kesadaran.

Eliminis

Kita bisa melangkah lebih jauh dengan pendekatan eliminatif atau eliminis. Eliminis memandang realitas adalah materi saja. Selain materi, tidak ada apa-apa. Ketika kita merasa punya kesadaran, itu hanya ilusi belaka. Karena yang ada hanya materi dengan ragam interaksi dan hukum materi. Kesadaran hanya ilusi.

Dari sudut pandang eliminis, hard-problem itu tidak ada. Karena, kesadaran memang tidak ada. Problem selesai.

Eliminis juga bisa bergerak dari arah sebaliknya, bergerak dari arah idealis. Realitas sejati adalah kesadaran manusia. Materi fisik, sejatinya, tidak ada. Semua yang ada adalah kesadaran manusia. Meja dan kursi yang ada di depan kita, sejatinya, adalah kesadaran pikiran kita sendiri. Kesadaran kita yang menciptakan seakan-akan ada materi di alam eksternal.

Bagi eliminis idealis, hard-problem itu tidak ada. Karena yang ada hanyalah kesadaran itu sendiri. Jadi, hard-problem sudah selesai bagi eliminis idealis. Tentu saja, banyak pihak yang keberatan dengan solusi eliminis ini. Lagi, karena eliminis tidak menjawab problem tetapi membuang problem itu sendiri.

Solusi Dialektik

Kita pernah membahas solusi dialektika, di bagian awal munculnya kategori skemata, dengan pendekatan fenomenologi spirit. Perlu kita tambahkan di sini bahwa Immanuel Kant menolak pendekatan dialektika karena dialektika adalah kesalahan berpikir. Sementara, Hegel justru menerima dialektika sebagai proses paling fundamental dalam logika berpikir. Sehingga wajar, sampai sekarang, terjadi perbedaan tajam dalam merespon dialektika.

Awalnya hanya ada spirit sederhana yang hanya sadar akan dirinya sendiri. Kemudian spirit sadar ada yang lain, selain dirinya, yaitu non-spirit. Terjadi proses dialektika antara spirit dan non-spirit terciptalah spirit-baru yang merangkul spirit dan non-spirit. Pada gilirannya, spirit-baru juga sadar bahwa ada sesuatu selain dirinya, yaitu, non-spirit. Terjadi dialektika lagi antara spirit-baru dengan non-spirit maka terciptalah spirit-baru-2. Dan seterusnya, sampai tercipta spirit dewasa.

Spirit dewasa ini adalah kesadaran diri kita yang sadar akan diri kita sendiri dan sadar ada alam eksternal di sekitar kita.

Jadi, bagaimana solusi dialektika terhadap hard-problem? Dari mana asal mula munculnya kesadaran manusia? Jawaban dialektika adalah: yang paling awal eksis adalah spirit-sederhana yaitu kesadaran diri kita yang hanya sadar tentang dirinya sendiri. Kemudian, terus berproses dialektika menghasilkan kesadaran spirit dewasa.

Kita bisa mengembangkan hipotesis skenario-dini. Ketika baru lahir, bayi hanya memiliki kesadaran spirit sederhana yang hanya sadar terhadap dirinya sendiri. Kemudian, spirit sederhana ini berdialektika dengan non-spirit misal dengan alam sekitar atau, bahkan, dengan badannya sendiri. Bayi menangis sebagai simbol terbentuknya spirit yang lebih matang. Bayi mendapat asupan air susu ibu, non-spirit, maka spirit bayi terus tumbuh sampai akhirnya menjadi spirit dewasa.

Dengan skenario-dini, kesadaran mulai muncul ketika bayi lahir berupa spirit-sederhana yang, seiring waktu, berkembang menjadi spirit dewasa dengan kesadaran yang matang. Dalam proses perkembangan dialektika itu, spirit menguatkan kesadaran diri dan kesadaran akan eksistensi alam eksternal.

Bagaimana atau dari mana spirit-sederhana itu bisa muncul pada bayi?

Kita bisa mengembangkan hipotesis skenario-janin. Dalam skenario-janin, spirit bayi yang lahir dianggap sudah terbentuk cukup kompleks, bukan spirit-sederhana. Awalnya, ada sel sperma dan sel telur, yang masing-masing memiliki setengah-spirit-jantan dan setengah-spirit-betina. Masing-masing dari mereka bukanlah spirit. Jika mereka tidak berdialektika, tidak bertemu, maka tidak akan hadir spirit. Mereka akan sama-sama mati. Tetapi, jika setengah-spirit-jantan bertemu dengan setengah-spirit-betina maka mereka berdialektika. Terjadi proses saling memberi dan saling menerima. Sampai proses ini cukup matang, pada akhirnya, setengah-spirit-jantan ditambah setengah-spirit-betina menghasilkan satu utuh spirit-sederhana.

Kisah selanjutnya adalah proses dialektika fenomenologi spirit seperti yang kita bahas di atas. Janin, awalnya, hanya memiliki spirit-sederhana. Kemudian, berdialektika dengan non-spirit menghasilkan spirit yang lebih matang. Dan, proses dialektika ini berlangsung terus-menerus sampai akhirnya menghasilkan spirit-bayi dan spirit dewasa yang sadar akan dirinya sendiri dan sadar akan alam eksternal.

Tentu saja, kesadaran yang dimiliki oleh spirit-janin berbeda dengan kesadaran yang dimiliki oleh spirit dewasa. Bagaimana pun, mereka sama-sama spirit dan sama-sama kesadaran.

Solusi Teologis

Sudut pandang teologis selalu mampu memberi solusi yang meyakinkan, termasuk, solusi terhadap hard-problem. Dari mana hadirnya kesadaran? Kesadaran adalah anugerah dari Tuhan. Jika Tuhan berkehendak memberi kesadaran kepada manusia, maka, manusia jadi memiliki kesadaran.

Pertanyaan masih bisa berlanjut: bagaimana proses anugerah kesadaran tersebut? Lebih detil proses anugerah ini, kita bisa mengadaptasi beberapa solusi yang sudah kita jelaskan di atas.

Solusi Monisme

Pandangan monisme mengarahkan solusi ke monisme netral, yaitu, adanya realitas fundamental yang memiliki karakter ganda: materi dan kesadaran. Dengan demikian, materi adalah mode-realitas dan kesadaran juga mode-realitas. Materi tidak bisa direduksi ke kesadaran. Sebaliknya, kesadaran tidak bisa direduksi ke materi.

Saya pikir monisme netral ini merupakan ide yang sangat menarik. Tetapi, apa yang dimaksud sebagai realitas fundamental dari monisme netral? Pertanyaan ini, sejauh yang saya tahu, belum mendapat perhatian serius dari para pemikir dunia. Untuk menjawabnya, barangkali, kita bisa mengkaji sejarah filosofi tentang monisme.

Mempertimbangkan situasi abad 20 dan abad 21 ini, tampaknya trend monisme paling kuat adalah materialisme. Di mana, materi adalah realitas paling fundamental. Dengan sudut pandang ini, monisme netral jatuh menjadi materialisme. Jika kita mengamati Russell, misalnya sebagai salah seorang penggagas monisme netral, maka kita menemukan bahwa monisme muncul justru akibat dari kebuntuan materialisme. Sehingga, monisme materialistis bukanlah solusi yang diharapkan.

Chalmers terus mengkaji untuk menemukan realitas fundamental itu. Berada dalam konteks materialisme, Chalmers berharap akan menemukan realitas fundamental, atau prinsip fundamental, yang barangkali bukan materialis. Sejauh ini, saya belum menemukan hipotesis darinya.

Mari kita mundur lebih jauh ke sejarah filsafat. Parmenides adalah pemikir pra-Socrates yang menyatakan monisme-eksistensi. Realitas fundamental adalah tunggal yaitu eksistensi. Tetapi, kita tidak bisa mendapatkan info lebih detil tentang monisme-eksistensi Parmenides ini karena tidak banyak teks yang tersedia tentangnya.

Suhrawardi (1154 – 1191) menggagas monisme-cahaya. Realitas paling fundamental adalah cahaya-sejati. Kemudian, Suhrawardi menyusun ontologi-cahaya yang kokoh. Saya pikir ontologi-cahaya adalah konsep monisme paling jelas dan kuat sampai saat ini. Di bagian bawah, kita akan membahas khusus tema ontologi cahaya ini.

Ibn Arabi (1165 – 1240), hidup pernah sejaman dengan Suhrawardi, mengembangkan monisme-wujud. Ibn Arabi mengembangkan sistem metafisika, dan ontologi, yang canggih di ratusan buku karyanya. Sehingga tidak mudah, bagi para pengkaji, untuk menarik kesimpulan pendek atas konsep monisme-wujud Ibn Arabi. Kesulitan ini bukan akibat monisme-wujud yang tidak jelas, tetapi, akibat dari karya Ibn Arabi yang kaya akan interpretasi.

Sadra (1571 – 1640) mengembangkan monisme-wujud melanjutkan konsep Ibn Arabi dengan pengembangan yang lebih canggih dan filosofis. Karya Sadra yang terstruktur filosofis memudahkan bagi kita untuk mengkajinya. Bagaimana pun, tetap banyak kesulitan yang kita hadapi lantaran banyak istilah yang memiliki konotasi berbeda antara jaman Sadra dengan jaman sekarang.

Spinoza (1632 – 1677) adalah pemikir Barat pertama yang paling terkenal dengan konsep monisme. Spinoza menyatakan realitas fundamental adalah substansi-Tuhan. Realitas yang lain, hanyalah substansi yang mendapat pinjaman dari substansi-Tuhan. Meski konsep monisme Spinoza ini tampak jelas relijius, pemikir berikutnya, menafsirkan monisme Spinoza dengan netral saja.

Leibniz (1646 – 1716) mengembangkan monisme-monad. Realitas paling fundamental adalah sistem monad yang memenuhi seluruh alam raya. Diceritakan, Leibniz pernah membuat Newton kebingungan, “Jika gravitasi bulan mempengaruhi air laut pasang surut, maka, dengan cara apa gravitasi dari bulan sampai ke bumi?” Teori gravitasi Newton tidak mampu memberikan solusi di masa itu. Sistem monad adalah solusi dari Leibniz.

Heidegger (1889 – 1976) mengembangkan monisme-being. Konsep being dari Heidegger ini, sangat jelas, tertuang dalam bukunya “Being and Time.” Tetapi, karena Heidegger memulai kajiannya dari dasein, being-there, yang dimaknai sebagai manusia sejati, akibatnya, banyak orang mengira sistem filsafat Heidegger adalah sejenis psikologi. Bahkan Husserl, mentor dari Heidegger sendiri, merasa bahwa Heidegger membelokkan filsafat menjadi antropologi.

Dengan sejarah panjang monisme-netral seperti di atas, terbuka peluang bagi monisme untuk menjadi solusi terbaik bagi hard-problem. Kita masih menantikan akankah ada kajian lebih serius tentang monisme-netral?

Keberatan

Bagaimana pun, kita masih bisa mengajukan keberatan kepada masing-masing solusi di atas: sains, dialektika, mau pun teologis.

Keberatan terhadap materialis. Sudut pandang materialis mengharuskan kajian sampai ke teori quantum, misal hipotesis quantum-neuron. Keberatannya adalah teori quantum itu sendiri “belum matang”. Tidak ada kesimpulan akhir tentang teori quantum. Yang ada, saat ini, sekedar interpretasi quantum. Dengan demikian, solusi materialis juga sekedar bersifat interpretasi yang beragam.

Asumsikan, suatu saat, berkembang teori quantum yang sudah matang sehingga solusi quantum-neuron terhadap hard-problem juga sudah matang. Sehingga, kita bisa memastikan bahwa kesadaran hadir dari lompatan-quantum. Bagaimana proses lompatan-quantum itu? Bagaimana proses lompatan-kesadaran itu terjadi? Bukankah itu justru pertanyaan dasar hard-problem?

Pendekatan strukturalis materialisme juga menghadapi keberatan yang sama. Bagaimana proses “melompat” dari materi fisik menjadi struktur yang menghasilkan “lompatan” kesadaran itu? Kita terjebak dalam begging-the-question atau petitio-principii.

Bagaimana pun, solusi materialis ini sudah berhasil maju dalam mengembangkan pengetahuan. Keberatan-keberatan, atau pertanyaan-pertanyaan, yang muncul adalah masalah baru yang levelnya lebih tinggi dari pertanyaan semula. Sehingga, kajian materialis ini memberi kontribusi besar terhadap ilmu pengetahuan.

Keberatan terhadap dialektika adalah bagaimana cara kita agar bisa untuk verifikasi. Spirit-sederhana, kemudian, berdialektika menjadi spirit-matang hingga mampu menyadari diri sendiri dan eksistensi alam eksternal. Bagaimana kita tahu spirit seperti itu? Kita mengetahui spirit-matang dengan cara refleksi diri. Tetapi, bagaimana kita bisa mengetahui eksistensi spirit-sederhana yang terbentuk ketika janin dalam kandungan? Refleksi diri tidak akan mampu mengantarkan kita ingat masa-masa dalam kandungan. Paling jauh, umumnya, refleksi diri mengantarkan kita ingat akan kesadaran masa kanak-kanak. Lebih awal dari masa kanak-kanak sulit untuk diingat.

Barangkali, kita bisa berperan sebagai pengamat dengan mengkaji kesadaran para bayi. Asumsikan, melalui penelitian empiris, kita berhasil mempelajari spirit-sederhana pada bayi, sedemikian hingga, bayi sadar diri dan alam eksternal. Pertanyaan berlanjut, “Dari mana asal mula spirit-sederhana pada bayi?” Untuk menjawabnya, kita perlu mengkaji spirit-sederhana pada janin – yang berperan sebagai sumber spirit-sederhana pada bayi. Asumsikan, lagi, kita berhasil mengkaji spirit-sederhana pada janin. Pertanyaan masih valid, “Bagaimana spirit-sederhana itu hadir pada janin?”

Kita bisa menjawab: setelah sel sperma berinteraksi dengan sel telur secara memadai, maka, terciptalah spirit-sederhana pada janin. Bagaimana itu bisa terjadi? Seperti apa prosesnya? Kita menghadapi petitio-pricipii lagi. Kita menghadapi tantangan hard-problem yang lebih tinggi lagi.

Bagaimana pun, meski dialektika gagal memberi solusi yang tuntas, dialektika berhasil mengantar kita ke pemahaman kesadaran lebih dalam dan luas. Bila kita melengkapi dengan kajian verifikasi empiris maka dialektika akan mampu menghadirkan wawasan baru yang segar.

Keberatan terhadap solusi teologis adalah pada sisi detilasinya. Sementara, keberatan terhadap eliminis adalah karena eliminis tidak menjawab problem. Tetapi, eliminis membuang problem itu sendiri dan menganggap kasus selesai.

Keberatan terhadap solusi monisme adalah belum adanya kajian monisme yang memadai untuk menjawab hard-problem. Bagaimana pun, monisme-netral, tampak, menjanjikan solusi yang prospektif. Bagian berikutnya, kita akan membahas ontologi-cahaya, yang bisa kita pandang, sebagai salah satu pendekatan monisme-netral.

7.3 Ontologi Cahaya

Cahaya adalah realitas paling jelas dalam dirinya sendiri. Cahaya tidak perlu dijelaskan. Bahkan, segala sesuatu bisa menjadi jelas karena ada cahaya. Cahaya adalah realitas paling fundamental. Tentu saja, maksud cahaya, di sini, adalah cahaya ontologis. Meski demikian, cahaya biasa bisa menjadi simbol untuk membantu pemahaman kita.

Cahaya adalah tunggal, yaitu, cahaya itu sendiri. Tetapi, cahaya beragam dalam kadar kekuatan intensitas, beragam bentuk, beragam frekuensi, dan lain-lain. Sehingga, cahaya adalah beragam, di saat yang sama, cahaya adalah tunggal.

Karakter utama cahaya adalah selalu bersinar, selalu dinamis, dan selalu memancar. Setiap ada “ruang” maka ada cahaya. Setiap ada “waktu” maka ada cahaya. Ruang tanpa cahaya maka menjadi hampa. Waktu tanpa cahaya maka menjadi hampa. Sejatinya, justru, cahaya adalah yang menciptakan ruang dan waktu.

Selain cahaya adalah gelap, hampa, atau void. Dalam dirinya sendiri, void adalah kehampaan murni. Void adalah tidak ada sama sekali. Void adalah kehampaan itu sendiri. Meski demikian, void membantu pikiran kita untuk memahami beragam masalah yang ada.

Cahaya tidak punya batas. Atau, batas dari cahaya adalah tidak ada. Batas dari cahaya adalah void. Batas pertemuan antara cahaya dan void adalah barzakh, atau barza.

Kita bisa membayangkan sedang di tengah tanah lapang yang disinari cahaya matahari. Kemudian, kita mengeluarkan buku bentuk persegi, sedemikian hingga, tercipta bayangan persegi di sebagian tanah lapang itu. Garis tepi bayangan persegi itu adalah barza. Daerah dalam persegi, yang gelap, adalah void – hampa cahaya. Sedangkan, tanah lapang yang mandi sinar matahari adalah cahaya.

Mari, kita perhatikan barza yang berupa garis tepi persegi. Barza, memang, merupakan pertemuan antara cahaya dan void. Tetapi, void sejatinya tidak ada. Sehingga, barza menjadi ada karena cahaya itu sendiri. Tanpa cahaya, menjadi, gelap semua.

7.3.1 Intuisi Pengetahuan

Berikutnya, kita akan menyusun solusi berdasar ontologi cahaya. Bagaimana impresi-indera, misal gambar bola, bisa muncul dalam pikiran kita? Bagaimana kita bisa merasakan ada obyek “cantik” ketika memandang wajah gadis remaja? Bagaimana kita bisa merasa yakin sepenuhnya “cinta” kepada ibu?

Bola yang ada di depan kita adalah barza: pertemuan antara cahaya dan void. Sehingga, jika dari barza-bola kita menghadap ke void maka kita hanya menatap gelap. Kita tidak memperoleh “pengetahuan” yang signifikan. Sebaliknya, jika dari barza-bola kita menghadap ke cahaya maka kita akan memperoleh “pengetahuan” yang bermakna. Bagaimana pun, void memiliki peran penting di sini. Tentu saja, cahaya berperan atas segala yang ada.

Di atas, kita sudah sebutkan bahwa cahaya bergradasi kadar kekuatan intensitasnya. Demikian juga, barza ikut bergradasi karena barza mengikuti cahaya itu sendiri. Bola fisik di depan kita adalah barza dengan kadar lemah relatif terhadap barza kesadaran diri kita sebagai subyek kulo. Cahaya yang lemah membutuhkan cahaya yang kuat. Cahaya yang lemah tidak bisa “menjelaskan” cahaya yang kuat. Sebaliknya yang terjadi. Cahaya yang kuat bisa “menjelaskan” cahaya yang lemah.

Misal cahaya(9) adalah lebih kuat dari cahaya(5). Cahaya(9) bisa menjelaskan cahaya(5) dengan cara memisahkan cahaya(5) dan cahaya(4). Sebaliknya tidak bisa terjadi. Cahaya(5) tidak akan bisa menjelaskan cahaya(9). Cahaya(5) hanya akan mampu menjelaskan cahaya(9) dengan cara menjadi cahaya yang lebih kuat intensitasnya.

Kembali ke impresi-indera bola yang muncul dalam pikiran manusia. Bola di alam eksternal tidak akan mampu menjelaskan hadirnya impresi-indera bola pada kesadaran manusia. Karena, barza-bola lebih lemah dari barza-kesadaran. Justru, sebaliknya yang bisa terjadi. Yaitu, barza-kesadaran yang mampu menjelaskan eksistensi barza-bola di alam eksternal.

Sehingga, analisis kita terbalik dari pendekatan sains empiris pada umumnya. Sains menyelidiki dari eksistensi bola eksternal, bagaimana akhirnya, muncul impresi-indera berupa gambar bola dalam kesadaran manusia. Ontologi cahaya, justru, menyelidiki dari arah sebaliknya. Bagaimana dari kesadaran akan bola, kemudian, memastikan apakah bola tersebut eksis di alam eksternal atau hanya imajinatif saja.

Dalam kasus yang kita analisis, kesadaran kita sudah merupakan spirit-dewasa, bukan spirit-sederhana sebagaimana janin dalam kandungan ibu. Sehingga, umumnya, kesadaran sudah mahir memastikan bahwa impresi-indera berupa gambar bola adalah bukti memang ada bola di alam eksternal. Sementara, ketika kita melamun tentang bola, maka, kita sadar bahwa bayangan bola tersebut adalah bola imajinatif.

Metodologi sains menjadi sangat penting karena obyek eksternal bukan hanya obyek sederhana semisal bola. Obyek eksternal bisa berupa sains itu sendiri, teknologi, sistem ekonomi, sistem politik, dan sistem sosial secara umum. Metodologi sains yang menerapkan prinsip induksi, prinsip falsifikasi, dan sistem aksiomatik berhasil membuktikan klaim mana saja yang sesuai realitas dan klaim mana saja yang bersifat imajinatif belaka. Sehingga, masyarakat memang perlu mengembangkan kemampuan berpikir saintifik.

Verifikasi memberikan beragam kemungkinan mode hasil verifikasi.

[1] Veridic yaitu terbukti benar ada obyek eksternal yang sesuai, misal bola.

[2] Delusi yaitu ada obyek eksternal mirip bola, misal kelapa.

[3] Ilusi, atau halusinasi, yaitu tidak ada obyek apa pun yang mirip atau sesuai harapan.

[4] Fiksi yaitu sengaja menciptakan obyek imajinasi misal sebagai karya seni.

[5] Visi yaitu menciptakan masa depan yang diharapkan dengan komitmen tinggi.

Dari 5 mode hasil verifikasi di atas, seharusnya, kita mengutamakan “visi”. Seseorang bersama masyarakat, dan berada di dunia ini, menciptakan visi bersama. Kemudian, dengan komitmen tinggi mewujudkan visi menjadi nyata.

Visi bisa saja meleset tidak menjadi nyata di dunia. Seseorang yang membuat visi seorang diri, atau membatasi hanya bersama orang tertentu, kemudian mencukupkan hanya sebatas ide maka mengubah visi menjadi fiksi. Bagaimana pun, fiksi ini tetap bisa bernilai tinggi, misal, menjadi karya seni atau sumber inspirasi.

Situasi lebih sulit adalah ketika seseorang menciptakan visi hanya seorang diri tanpa komitmen untuk mewujudkannya. Visi berubah menjadi ilusi. Bila sebagian visi berhasil terwujud maka bisa merupa delusi.

Visi berubah menjadi veridic ketika seseorang fokus kepada esensi dari visi; bukan eksistensi. Pengamatan sains atau pengamatan obyektif, umumnya, menetapkan kriteria esensial kepada visi sehingga, pada situasi terbaik, seseorang akan berhasil verifikasi berupa veridic. Sementara, untuk menciptakan visi menjadi nyata, kita perlu kerja sama dengan banyak orang dan interaksi yang tepat dengan dunia, di mana, eksistensi kita berada.

Proses verifikasi di atas, seakan-akan, terjadi satu arah dan sekali jadi. Tidak seperti itu. Realitasnya, proses verifikasi terjadi terus-menerus sepanjang waktu, interaksi tanpa henti. Cahaya diri kita saling mempengaruhi dengan cahaya dunia dan cahaya orang lain; secara aktif mau pun pasif; secara sadar mau pun otomatis.

Proses munculnya impresi-indera berupa gambar bola pada kesadaran, kemudian, kita melakukan verifikasi alam eksternal adalah proses yang wajar terjadi terhadap setiap orang yang sehat. Sementara, di sisi lain, rasa “cinta” yang hadir dalam kesadaran seseorang hanya terjadi pada orang tertentu saja. Maksudnya, seseorang bisa jatuh cinta kepada kekasih, tetapi, orang lain bisa saja tidak jatuh cinta.

7.3.2 Cahaya Cinta

Kali ini, kita bergeser mengkaji hadirnya intuisi cinta dan penilaian “rasa” cantik dari sisi ontologi cahaya.

Penilaian-cantik melibatkan proses kesadaran yang lebih kompleks. Impresi-indera, begitu hadir dalam kesadaran, kita hanya perlu verifikasi alam eksternal. Sementara, penilaian cantik melibatkan proses dinamis antara kesadaran dan alam eksternal. Dari sisi kesadaran pun, terjadi interaksi dinamis antara beragam fakultas: imajinasi, pemahaman, akal, dan beragam indera-internal. Secara singkat, pemikir Timur menyebutnya sebagai dinamika-hati.

Ketika saya melihat kebun teh di pegunungan Bandung, saya merasa bergetar dalam hati. Saya merasa kebun teh adalah pemandangan yang indah, pemandangan yang cantik. Saya yakin, orang lain akan mengalami rasa indah atau rasa cantik yang sama ketika memandang kebun teh di pegunungan Bandung. Meski demikian, sentuhan hati, getaran hati ini tetap bersifat kompleks. Ada peluang keragaman respon terhadap indahnya kebun teh. Bisa saja, orang lain tidak merasakan indahnya kebun teh.

Rasa cinta lebih lembut lagi dari penilaian-cantik. Rasa cinta melibatkan dinamika-hati yang lebih tinggi dan bahkan melibatkan sumber cahaya yang diselimuti misteri. Bagaimana pun, cinta adalah realitas cahaya suci itu sendiri.

7.3.3 Etika Cinta

Ketika menghadapi realitas yang sama, masing-masing orang bisa menghasilkan respon penilaian-cantik dan cinta yang berbeda.

Melihat kebun teh yang indah, seseorang bisa berpikir untuk menguasainya. Ketika melihat tambang emas berlimpah, seseorang bisa berpikir untuk eksploitasi. Ketika melihat gadis cantik, seseorang bisa berpikir untuk memperdayanya.

Tetapi, orang lain bisa merespon dengan lebih baik. Melihat kebun teh yang indah, dia berpikir untuk menjaga alam semesta. Melihat tambang emas, dia berpikir untuk mensejahterakan masyarakat sekitar. Melihat gadis cantik, dia berpikir mendukungnya dengan memfasilitasi edukasi terbaik.

Mengapa bisa jauh berbeda?

Ontologi cahaya menunjukkan pentingnya etika untuk mengembangkan pengetahuan dan intuisi. Kita hanya bisa meraih cahaya yang lebih tinggi, cahaya yang lebih kuat, melalui perilaku etis yang layak. Pertama, etika ekonomi. Kita perlu melatih diri hidup sederhana. Mengejar kebutuhan ekonomi hanya sekedarnya saja. Lebih banyak memanfaatkan sumber ekonomi untuk membantu kehidupan sesama dan alam raya.

Kedua, etika politik. Kita hanya perlu memanfaatkan kekuatan politik sekedarnya saja. Tidak perlu sombong, tidak perlu merasa paling mampu menguasai alam raya. Kita memanfaatkan kekuatan politik untuk membangun kekuatan rakyat. Sehingga, setiap orang mampu berkembang meraih bakat-bakat terbaik mereka. Pada gilirannya, kita bersama masyarakat membangun alam raya dengan segala kekuatan, dan kelemahan, yang ada.

Ketiga, etika berpikir terbuka. Kita perlu membuka pikiran, membuka hati, dan membuka diri. Cahaya yang tinggi hanya datang kepada mereka yang membuka hati. Bagaimana cahaya akan masuk jika pintu hati kau tutup rapat-rapat? Mari bersikap terbuka terhadap diri sendiri, terhadap masyarakat sekitar, terhadap alam raya, dan paling penting, terbuka kepada Cahaya Tertinggi.

Apa itu Cahaya Tertinggi? Apa itu Cahaya Maha Cahaya? Apa itu Sumber Cahaya?

Pembahasan panjang lebar, di atas, masih menyisakan beberapa pertanyaan. Mengapa manusia bertanya? Karena membutuhkan jawaban. Mengapa manusia BISA bertanya? Karena manusia peduli dengan masa depan. Manusia adalah futuristik.

Mengapa muncul impresi-indera, misal citra bola, pada pikiran manusia? Mengapa muncul penilaian “indah” dan “cantik” ketika melihat kebun teh di pegunungan nan hijau? Mengapa saya cinta kepada Rara, anak perempuan saya? Karena manusia peduli masa depan, yaitu, futuristik.

7.3.4 Solusi Hard Problem

Saya percaya ontologi cahaya efektif untuk menyelesaikan hard-problem dan easy-problem.

Easy-problem bertanya bagaimana impresi-indra, misal citra bola, bisa muncul dalam pikiran manusia? Pendekatan sains tidak memuaskan karena menghadapi beg-question; petitio principii; sains mencermati data-indra yang terpancar dari sinar bola eksternal mengenai mata; kemudian diolah sistem syaraf; dan menghasilkan impresi-indra berupa citra bola. Bagaimana impresi-indra itu bisa muncul dari sistem syaraf atau sistem lainnya? Beg-question.

Ontologi-cahaya membalik cara berpikir itu. Kesadaran manusia adalah cahaya-sejati yang intensitasnya lebih tinggi dari cahaya-sejati bola atau barza bola. Konsekuensinya, kesadaran mampu membuktikan eksistensi bola eksternal. Kesadaran akan impresi-indra mampu membuktikan eksistensi bola eksternal. Sebaliknya, tidak bisa terjadi. Eksistensi bola tidak mampu membuktikan eksistensi kesadaran.

Dari kesadaran akan impresi-indra, misal citra bola pada pikiran, kemudian kita melakukan verifikasi apakah benar-benar ada bola di alam eksternal. Hasil verifikasi bisa berupa 5 mode: [1] veridic; [2] ilusi; [3] delusi; [4] fiksi; [5] visi. Dengan demikian easy-problem terselesaikan.

Hard-problem terselesaikan di saat yang sama. Cahaya-sejati selalu sadar diri sebagai subyek. Ketika seseorang mengamati bola di alam eksternal maka saat itu juga, serentak, dia sadar bahwa dirinya sedang mengamati bola. Tidak perlu aktivitas atau analisis tambahan.

Barangkali, lanjutan dari hard-problem wajar terjadi: dari mana asal mula kesadaran diri itu?

Kesadaran diri adalah cahaya-sejati yang merupakan anugerah dari Cahaya Maha Cahaya; anugerah dari Tuhan. Saya menjelaskan proses pelimpahan anugerah dari Cahaya Maha Cahaya sampai ke kesadaran manusia dalam tulisan yang lain; di tulisan saya tentang buku Hikmah Al Ishraq karya Suhrawardi. Tetapi, di sini, kita akan membahas secara singkat dimulai dari sudut pandang kesadaran individu.

Kesadaran diri sudah muncul sejak kita lahir; bahkan kesadaran diri sudah muncul sejak kita dalam kandungan ibu. Ibu adalah cahaya-sejati; demikian juga, ayah adalah cahaya-sejati. Cinta ayah kepada ibu adalah setengah-cahaya-ayah; dan cinta ibu kepada ayah adalah setengah-cahaya-ibu. Masing-masing setengah-cahaya ini tidak mandiri; bila terlepas dari ayah atau dari ibu maka setengah-cahaya akan musnah. Pada waktunya, setengah-cahaya-ayah bertemu dengan setengah-cahaya-ibu, kemudian sintesa-cahaya itu tinggal di rahim ibu.

Sintesa-cahaya terus bertumbuh dalam rahim ibu berlimpah cinta. Pertumbuhan sintesa-cahaya makin kuat, pada akhirnya, berhasil menjadi cahaya-sejati yang mandiri berupa janin; masih dalam kandungan ibu. Cahaya-sejati, yaitu diri kita waktu berupa janin, sudah bersifat mandiri tetapi masih membutuhkan dukungan ibu sepenuhnya untuk bertahan dan tumbuh.

Pada waktu yang tepat, cahaya-sejati lahir ke dunia ini meninggalkan rahim ibu. Cahaya-sejati, yaitu diri kita ketika bayi, makin mampu bersikap mandiri meski tetap membutuhkan cinta ibu; dan, benar, ibu senantiasa mencurahkan cinta kepada kita. Lebih dari itu, ayah dan seluruh keluarga besar ikut mencurahkan cinta kepada kita; alam raya juga ikut mendukung kehadiran bayi yaitu cahaya sejati. Kisah selanjutnya, kita sudah biasa memahami.

Seiring waktu, cahaya-sejati tumbuh menjadi bocah, remaja, lalu dewasa. Cahaya-sejati makin mampu untuk mandiri. Meski demikian, cahaya-sejati selalu sadar bahwa dirinya selalu membutuhkan orang lain dan membutuhkan dunia ini. Cahaya-sejati hidup dalam masyarakat dan dalam alam.

Pendekatan ontologi cahaya, yang kita bahas di atas, berhasil memberikan solusi terhadap easy-problem dan hard-problem.

Lanjut ke Benar Vs Salah
Kembali ke Philosophy of Love