Waktu (Tidak) Bisa Mundur

Waktu bisa mundur. Hanya ada di kisah-kisah fiksi ilmiah – atau tidak ilmiah. Sejatinya, apakah waktu benar-benar bisa bergerak mundur? Kita akan jawab tuntas dalam tulisan ringkas ini.

Sebelumnya, saya sudah pernah menulis tentang konsep waktu dilihat dari sudut pandang filosofis Kant sebagai intuisi murni. Dari Sadra, waktu sebagai dampak gerak wujud. Dari Newton, waktu sebagai gerak linear ke depan. Dari Heidegger, waktu sebagai horison dari being. Dari Einstein, waktu adalah relatif terhadap kecepatan gerak pengamat.

NASA Memburu Alien Pakai Mesin Waktu di Luar Angkasa

1. Waktu Bisa Mundur
2. Waktu Sejati Doto
3. Waktu Sejati Akumulatif
4. Meraih Masa Lalu
5. Bentangan Masa Depan

Saya perlu menambahkan konsep waktu dari Bergson adalah durasi. Di mana, waktu adalah tunggal tetapi di saat yang sama beragam secara kualitatif. Durasi ini terbebas dari hukum fisika. Maka durasi bebas sehingga manusia mempunyai kebebasan – free will.

1. Waktu Bisa Mundur

Pertanyaan apakah waktu bisa mundur perlu kita bahas. Dari sudut pandang ilmiah, Newton, seharusnya waktu bisa mundur tetapi tidak bisa. Kita bisa menggambarkan waktu seperti garis lurus bergerak maju misal hari Senin, Selasa, dan Rabu. Jika hari ini misal hari Selasa maka harusnya kita bisa bergerak mundur ke hari kemarin yaitu Senin. Gerak mundur ini tidak pernah bisa dilakukan secara ilmiah. Jadi, secara ilmiah, waktu tidak bisa bergerak mundur.

Bagaimana pun, sains terus berkembang. Einstein berhasil merumuskan relativitas khusus yang menunjukkan bahwa waktu adalah relatif. Disusul dengan relativitas umum yang menyatakan bahwa massa bisa membelokkan ruang dan waktu. Yang semula gerak waktu dikira lurus ke depan, ternyata bisa dibelokkan. Jika pembelokan waktu ini cukup kuat maka memungkinkan waktu hampir gerak mundur. Dengan menambahkan “lubang cacing” sebagai lorong waktu maka waktu benar-benar bisa gerak mundur. Tetapi gerak mundur itu masih spekulasi atau bahkan hanya fiksi ilmiah. Jadi, waktu tetap tidak bisa mundur secara ilmiah.

Penelitan yang lebih menjanjikan adalah waktu quantum dari Richard Feynmann. Benar-benar terbukti waktu bisa mundur dalam skala quantum. Kita perlu memahami waktu quantum yang bisa mundur ini apakah benar-benar seperti kita harapkan. Penelitian sub-atomik yang menunjukkan gerak mundur waktu adalah analisis sebab-akibat. Kita coba misalkan agar lebih mudah. Sebuah partikel “hana” mengubah partikel “caraka” dari kondisi A menjadi kondisi B. Pengamatan menunjukkan bahwa caraka pada kondisi B saat ini, berubah dari kondisi A yang selama ini terjadi. Dan diketahui kemudian, hana mengubah caraka dari kondisi A menjadi B pada 100 mikrodetik berikutnya, terlambat dari hasilnya. Maka terjadi waktu mundur quantum.

Mari kita cermati lagi gerak mundur waktu quantum ini. Seharusnya, bila gerak maju, hana mengubah caraka dari A ke B, kemudian caraka berubah dari A menjadi B. Pengamatan quantum menunjukkan waktu mundur yaitu, caraka berubah dari A ke B, kemudian 100 mikro detik berikutnya, hana yang mengubah caraka dari A ke B. “Sebab” nya terjadi 100 mikrodetik terlambat dari “akibat”nya. Itulah gerak waktu mundur secara quantum.

Bisa kita lihat, bahwa gerak waktu mundur quantum ini bukan gerak mundur yang kita harapkan. Jadi secara ilmiah kita tidak bisa menunjukkan waktu bergerak mundur. Dan seandainya bisa, seperti klaim waktu quantum, itu pun terbatas hanya bisa mundur dalam waktu 100 mikrodetik atau kurang.

2. Waktu sejati Doto

Tiba saatnya kita mengkaji waktu sejati: doto. Dan apakah doto ini memungkinkan waktu bisa menjadi mundur. Doto adalah istilah yang saya pilih untuk mewakili waktu sejati. Doto digambarkan sebagai waktu linear oleh fisika Newton. Doto digambarkan sebagai waktu relatif terhadap pengamat oleh Einstein. Dan doto digambarkan sebagai waktu quantum oleh Feynmann dan kawan-kawan.

Secara filosofis, doto digambarkan sebagai intuisi murni oleh Kant. Doto digambarkan sebagai eksistensi derivatif dari gerak wujud (atau substansi) oleh Sadra. Dan doto digambarkan sebagai horison being oleh Heidegger. Serta doto digambarkan sebagai durasi oleh Bergson.

Manusia umumnya, kita, hanya bisa memahami hana – eksistensi sejati – hanya melalui penampakan caraka. Caraka adalah seperti lukisan atau gambar foto. Caraka diam, statis, segala sesuatu yang nyata. Kita, manusia, perlu doto – waktu sejati – untuk memahami dinamika. Dengan caraka dan doto ini kita bisa memahami hana, lengkap dengan keterbatasan dan kelebihan manusia.

Doto bersifat kumulatif, mengumpulkan. Sebagaimana doto adalah mewakili karakter hana yang kumulatif, bergerak satu arah menuju level hana yang lebih kuat. Untuk memahami karakter doto kita perlu memahami karakter dari hana itu sendiri.

Hana, eksistensi, senantiasa bergerak satu arah menuju yang lebih sempurna, lebih eksis. Gerak mundur tidak terjadi pada hana. Karena gerak mundur bermakna mengurangi hana, yaitu mengubah hana menjadi bukan hana, meski misal bisa sebagian. Tetapi bukan hana adalah bukan eksistensi, yaitu ketiadaan. Jadi gerak mundur hana adalah tidak ada. Dengan kata lain, hana tidak pernah bergerak mundur. Hana hanya bergerak maju menuju hana yang yang lebih kuat, intens.

Sedikit ilustrasi gerak maju dari hana barangkali bisa membantu. Dan ilustrasi ini berlaku juga untuk doto – waktu sejati.

Kita hendak mengumpulkan air hujan, curah hujan, dengan menyediakan ember ukuran 5 liter. Awalnya ember terisi sedikit air, lalu 1 liter, kemudian 2 liter, dan seterusnya. Volume air dalam ember hanya bisa bertambah karena curah hujan. Air dalam ember tidak bisa berkurang karena curah air hujan. Selama ada air tercurah maka volume air di ember akan terus begerak, bertambah, akumulatif. Demikian pula karakter dari doto: waktu sejati.

3. Waktu Sejati Akumulatif

Dengan karakter doto, waktu sejati, yang akumulatif maka tidak mungkin waktu bergerak mundur.

Apakah tidak ada waktu untuk bertobat, menebus kesalahan masa lalu? Karena doto selalu bergerak maju.

Selalu ada waktu untuk bertobat. Semua orang harus bertobat. Menutup kesalahan masa lalu dengan kebaikan masa kini. Dan konsisten menuju masa depan yang lebih baik.

Dosa atau kesalahan, sejatinya, adalah hana pada kondisi caraka yang tidak seimbang, tidak adil, tidak indah. Misal korupsi adalah tidak adil maka dosa dan salah. Seorang menteri seharusnya menyalurkan bansos dan dia menerima gaji sebagai menteri. Ketika menteri korupsi, dia mengambil dana bansos (sebagian atau seluruhnya) dan menerima gaji. Maka hana – eksistensi sejati – dari menteri ini bergerak maju dua langkah, mengambil bansos dan menerima gaji. Meski hana menteri makin maju tetapi tidak seimbang, dia berdosa, dia bersalah, dia tidak adil.

Menteri yang korupsi masih bisa tobat. Dengan cara memberikan semua hasil korupsi kepada yang berhak, mungkin perlu ditambah denda dan lain-lain. Tindakan ini membuat hana sang menteri bergerak maju lagi. Tindakan pemberian oleh menteri ini tentu saja tidak berimbang, karena menteri tidak menerima apa pun, tidak adil bila dilihat dari satu kejadian. Tetapi bila dilihat dari rangkaian tindakan korupsi maka tindakan tobat ini diharapkan sebagai pengimbangnya. Sehingga, diharapkan, tobat ini bisa kembali mengarahkan hana sang menteri menjadi adil kembali.

Untuk konsep adil kita bahas di bagian tulisan yang berbeda.

Jadi, dengan karakter doto yang akumulatif ini maka tidak ada gerak mundur pada waktu. Tetapi kita tetap bisa memperbaiki kesalahan masa lalu dengan melakukan tobat dengan sebenar-benarnya tobat.

4. Meraih Masa Lalu

Kita bisa mengubah masa lalu, tentu, dengan cara meraih masa lalu. Padahal, waktu tidak bisa bergerak mundur. Lalu, bagaimana caranya?

Waktu sejati, doto, justru selalu meraih masa lalu, masa kini, dan masa depan. Doto terbentang dari masa depan (future) sampai masa lalu (past) sebagai bentangan melalui masa kini (present).

Fenomena tobat adalah contoh manusia meraih masa lalu, untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. Menteri yang korupsi, di tahun 2021, bertobat di tahun 2022. Menteri itu bertobat dengan meraih masa lalu, tahun 2021, dan menebusnya dengan amal kebaikan serta menjalani hukuman denda di tahun 2022.

Ilustrasi doto, waktu sejati, sebagai air di ember yang mula-mula berisi 1 liter, bertambah jadi 2 liter, dan seterusnya menunjukkan kesatuan waktu sebagai bentangan. Misal, air di ember itu berisi 5 liter air, maka, 5 liter itu meliputi 1 liter, 2 liter, dan seluruhnya. Dengan kata lain, doto masa kini (5 liter air) meraih masa lalu (2 liter air). Meraih masa lalu adalah karakter dari doto, waktu sejati.

Apakah kita bisa meraih masa depan? Tentu saja. Tetapi orang-orang mudah terlambat untuk meraih masa depan. Ketika orang-orang tiba di masa depan, saat itu juga, masa depan sudah melangkah jauh ke depan lagi.

5. Bentangan Masa Depan

Kali ini, kita akan mencermati bahwa doto adalah masa depan. Waktu sejati adalah futuristik. Kita hidup di masa depan.

Kita sudah sebutkan bahwa doto adalah bentangan masa depan ke masa lalu dengan membentangkan masa kini. Kita perlu tekankan bahwa kesatuan ekstase bentangan doto ini memiliki karakter utama futuristik.

Jika diringkas, doto adalah masa depan. Sedangkan, present (masa kini) adalah past-of-future, masa lalunya dari masa depan.

Kita perlu hati-hati. Doto adalah bentangan. Tetapi, bukan living-now, bukan masa-kini yang terus bergulir sejak lahir sampai mati.

Apa bukti eksistensi masa depan, future? Bukti masa lalu, past, adalah bukti obyektif misal candi Borobudur. Bukti masa kini, present, adalah bukti obyektif misal saya sedang membaca tulisan ini.

Bukti future adalah lebih dari sekedar obyektif. Future adalah posibilitas terbuka luas, freedom bergerak bebas, dan komitmen sampai tuntas.

Fakta masa lalu candi Borobudur hanya bisa dipahami dengan pandangan masa depan. Borobudur bermakna karena Anda akan cerita tentang Borobudur ke teman-teman Anda di masa depan. Atau, Anda akan sharing foto Borobudur di media sosial suatu saat nanti.

Fakta masa kini Anda membaca tulisan ini menjadi berarti karena Anda ingin memahami informasi setelah ini. Atau, Anda komen setelah membaca ini.

Waktu sejati, doto, memang membentang dari future ke past melewati present. Waktu tidak bisa bergerak mundur. Tetapi, kita selalu merangkul masa lalu dan masa kini dalam dekapan masa depan.

Bagaimana menurut Anda?

Jokowi Vaksinasi 2: Indonesia Imun

Presiden sudah menjalani vaksinasi ke-2. Begitu juga Raffi. Meski kita sempat dibuat heboh dengan Raffi yang datang ke pesta sesaat setelah vaksin pertama. Raffi yang diharapkan menjadi pengaruh baik dalam menangani pandemi justru bertindak sebagai mana artis, sesuai dirinya. Tampaknya, justru Presiden Jokowi yang bisa konsisten memberi contoh baik menjalani vaksinasi.

Jokowi Jalani Vaksinasi ke-2 di Istana, Begini Momennya

Secara pasti, kita tidak tahu kapan pandemi berakhir. Bahkan dengan program vaksinasi pun kita masih belum tahu. Tapi vaksinasi menjadi harapan utama agar Indonesia mencapai imun nasional – herd immunity skala nasional. Masalah utama dalam vaksinasi adalah kecepatan. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk vaksinasi 180 juta jiwa penduduk Indonesia? Menkes sudah melakukan perhitungan itu. Tampaknya hasilnya terlalu lama. Sehingga bisa mengancam program vaksinasi gagal.

Vaksinasi 8 Tahun

Tanpa percepatan serius, barangkali kita perlu waktu 8 tahun untuk menyelesaikan vaksinasi nasional. Waktu selama itu bisa memastikan hasil vaksinasi tidak efektif. Kajian sejauh ini periode kebal (imun) setelah vaksinasi hanya bertahan beberapa bulan saja. Sehingga orang yang sudah divaksin pun akan menjadi rentan terserang covid dalam waktu lebih dari 1 tahun. Jika perlu waktu 8 tahun, maka dipastikan vaksinasi gagal.

Vaksinasi 2 tahun

Kajian dari seorang ahli menyatakan bahwa Indonesia perlu waktu 2 tahun untuk menyelesaikan vaksinasi nasional. Saya kira ini termasuk hitungan yang optimis. Target 180 juta jiwa, 2 kali suntik vaksin, dalam rentang 24 bulan. Maka rata-rata 360 juta / 24 bulan = 15 juta suntikan tiap bulan. Apakah mampu melakukan suntikan sebanyak 15 juta kali tiap bulan? Tentu perlu diupayakan. Kita beruntung, saat ini punya menkes yang keren.

Bagaimana pun waktu 2 tahun ini masih cukup lama bila dibanding kekebalan seseorang setelah menerima vaksin, misalnya, sekitar 1 tahun. Maka ancaman gagal mencapai HI, herd immunity, tetap ada. Di sini kita perlu kerja sama semua pihak agar tetap patuh prokes untuk bisa mencapai HI.

Bukankah dengan adanya yang terpapar covid juga mempercepat HI? Benar juga. Tapi resiko bagi yang terpapar bisa sampai meninggal dunia. Tidak layak untuk jadi pilihan.

Vaksinasi 6 Bulan Mandiri

Salah satu ide alternatif adalah mempercepat vaksinasi dengan membuka peluang vaksinasi mandiri, berbayar. Masalahnya adalah produsen vaksin itu sendiri ketersediaannya terbatas. Sehingga jika pihak swasta membeli vaksin, karena punya uang, maka belum tentu vaksin yang akan dibeli tersedia. Tidak mudah untuk mempercepat vaksinasi bisa hanya 6 bulan selesai.

Belum lagi isu kesetaraan, keadilan antara yang punya uang dan rakyat miskin. Apakah pantas karena punya uang maka seseorang berhak mendapat vaksin lebih awal? Barangkali ada pertimbangan, selain uang, untuk menyusun prioritas vaksinasi. Dan saya kira prioritas itu sudah disusun saat ini, misalnya, dengan mengutamakan nakes.

Menolak Vaksin

Beberapa kalangan menolak vaksin. Bisa alasan pribadi, keyakinan, atau lainnya. Dalam perhitungan HI memang ada beberapa orang yang tidak perlu divaksin. Untuk kasus Indonesia ada sekitar 90 juta jiwa yang tidak perlu divaksin. Karena cukup dengan 180 juta jiwa yang imun sudah memungkinkan tercapainya HI. Sehingga tidak ada masalah bila ada yang menolak untuk divaksin. Sejauh total yang tidak divaksin terjaga di bawah 90 juta jiwa tersebut.

Tetapi jika penolakan vaksinasi itu mengakibatkan lebih dari 90 juta jiwa tidak divaksin maka mengancam efektivitas program vaksinasi. Saya kira menkes bisa menghitung seberapa besar dampak penolakan ini. Dan bisa menjaga tetap aman untuk mencapai HI nasional – bahkan semoga global.

Bagaimana menurut Anda?

Mengapa Belajar sampai China

*Sebuah pengantar untuk buku Berburu Ilmu di Negeri Panda yang Lucu

China berhasil menggebrak dunia, sekali lagi. Warga dunia kagum dengan kemajuan China yang begitu mempesona. Akhir abad 20, China mencoba mengejar industri melalui produksi mobil dan motor lalu ekspor ke penjuru dunia. Tampaknya, meski hasilnya bagus masih kurang dari harapan. Tetapi pada abad 21, China benar-benar berhasil mengagumkan masyarakat dunia. Perusahaan-perusahaan besar China di bidang teknologi informasi berhasil mendominasi dunia. Sebut saja misalnya Alibaba dan Huawei. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, China juga termasuk tertinggi di dunia bahkan setelah terjadi pandemi covid-19 sekali pun.

Keterangan tidak tersedia.

Saya merasa senang sekali mendapat kiriman buku tentang belajar di negeri China yang mempesona. Apalagi buku ini langsung dari penulisnya yaitu Om Jay Wijaya Kusumah. Orang sudah kenal Om Jay sebagai blogger pendidikan terbaik Indonesia. Saya sendiri kenal baik dengan Om Jay tapi belum pernah bertemu langsung. Saya mengenal Om Jay dari dunia digital. Saya adalah youtuber pendidikan (youtube.com/pamanapiq dan youtube.com/edujiwa) maka banyak titik temu dengan Om Jay yang blogger keren itu.

Tentu saja, buku Om Jay ini sangat menarik. Berikut ini beberapa catatan saya yang ringkas, barangkali Anda dapat melengkapinya karena lebih banyak lagi hal menarik di dalamnya. Memang benar pepatah lama yang sering kita dengar: tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.

Pertama, possibilitas. Banyaknya kesempatan baru. Om Jay cerita seru dari awal sampai akhir buku. Banyak kesempatan baru di China. Kesempatan untuk meningkatkan pembelajaran mau pun budaya dan peradaban. Suasana negeri China yang jauh lebih dingin dari Jakarta (Bekasi) membuka lebar-lebar mata kita. Pagi-pagi rombongan harus sarapan. Bukan sarapan biasa seperti di Indonesia. Di China, sarapan itu padat penuh isi. Hal ini penting. Sarapan menjadi energi utama untuk kita berkreasi sepanjang hari.

Sementara, di negeri kita sendiri, ada orang yang kadang tidak sarapan. Atau sarapan dengan makanan sekedarnya. Hal ini dapat membuat mood yang kurang baik di pagi hari. Meski hanya mood, tetapi ini adalah awal yang akan menentukan aktivitas sepanjang hari. Perbedaan kecil di awal hari dapat berdampak besar di akhir hari. Dan bila itu dilakukan sepanjang tahun, 365 hari, maka terbayang berapa besar beda prestasi antara mereka. Saya perlu tambahkan bahwa mood adalah realitas sejati dari diri kita, sebagai manusia. Maksudnya kita akan selalu berada dalam mood. Jika kita menolak suatu mood maka kita akan berada pada mood yang lainnya. Maka mood di pagi hari menjadi penting sekali.

Kedua, pemblokiran media sosial. Beda dengan Indonesia. Di China kita tidak bebas akses media sosial misal WA, youtube, facebook, dan lain-lain. Bahkan banyak juga layanan internet yang diblokir di China. Tembok China tidak hanya di dunia fisik. Tembok China itu juga ada di dunia digital. Apakah China menjadi tertinggal karena dikungkung oleh tembok fisikal dan tembok digital? Tidak juga! Tembok-tembok itu tidak mengurung tetapi melindungi dari berbagai ancaman.

China tidak hanya memblokir layanan internet. Di saat yang sama, China mengembangkan layanan internet dalam negeri yang bersaing dengan dunia luar. Misal untuk WA, di China tersedia WeChat yang sangat bagus. Karena penduduk China lebih dari 1 milyard orang maka jumlah pengguna WeChat bisa saja lebih besar dari WA. Untuk menyaingi mesin pencari google maka disiapkan beragam pesaing misal Baidu. Lagi pula, google tidak mudah melakukan pencarian dalam bahasa China dengan karakter huruf khas China. Maka Baidu memiliki keunggulan bersaing untuk menang.

Apakah Indonesia perlu meniru pemblokiran seperti di China? Saya kira tidak harus begitu. Nyatanya di Indonesia, anak ngeri juga sudah berhasil menunjukkan karya di dunia digital semisal Gojek, Bukalapak, dan lain-lain.

Ketiga, kelas digital. Om Jay cerita, di buku ini, seorang guru mengajar pelajaran kimia paralel untuk 3 kelas di 3 lokasi berbeda, serentak. Cara ini bisa ditempuh dengan dukungan TIK, teknologi informasi dan komputer. Dengan cara ini siswa berkesempatan belajar dari guru terbaik yang ada. Di saat yang sama, guru-guru yang masih muda, juga bisa belajar langsung dari guru terbaik yang sudah penuh dengan pengalaman itu. Saya kita metode seperti ini perlu dikembangkan di Indonesia. Tentu saja akan banyak kesulitan di tahap-tahap awal. Dengan semangat dan improvement berkelanjutan maka kita akan menemukan bentuk terbaiknya.

Keempat, pendidikan karakter. Di bagian hampir akhir, Om Jay menceritakan belum menemukan contoh pendidikan karakter di China. Bagi saya ini pengamatan yang sangat menarik dari Om Jay. Pendidikan karakter itu penting tetapi tidak bisa hanya diajarkan secara teori. Pendidikan karakter paling efektif dijalankan melalui teladan. Guru yang mengajar datang tepat waktu, tidak terlambat. Bahkan guru sudah hadir 30 menit sebelum jam belajar, itu sudah jadi teladan pendidikan karakter terbaik.

Bandingkan dengan kasus guru di tempat yang berbeda. Guru mengajarkan agar siswa datang tepat waktu, sebagai karakter bangsa, secara teori. Ketika mengajar, guru tersebut datang terlambat, tanpa persiapan, tanpa konsistensi. Lebih kuat mana antara pesan yang diucapkan oleh guru dibanding teladan tindakan nyata? Saya kira kita membutuhkan teladan karakter bangsa terbaik.

Kelima, pendidikan terbaik. China mengagumkan terbukti berhasil melaksanakan pendidikan terbaik di dunia. Dalam kancah olimpiade internasinal bidang sains dan matematika, China sering menjadi juara. Untuk kompetisi semacam olimpiade, kita, Indonesia juga sering berhasil meraih juara. Kita bersaing sama baik dengan China. Tetapi untuk pendidikan bagi seluruh siswa yang tersebar di seluruh negeri kita berbeda. Misalnya hasil survey internasional dari TIMSS dan PISA konsisten menempatkan pendidikan untuk rakyat China adalah yang terbaik di dunia. Sementara, survey yang sama, menempatkan Indonesia pada kelompok terburuk.

Karena terbukti Indonesia menang berkali-kali jadi juara olimpiade internasional maka kita optimis ada banyak jalan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah dengan pemerataan pendidikan berkualitas ke seluruh penjuru Indonesia. Dan buku Om Jay ini merupakan usaha untuk memajukan pendidikan Indonesia seperti dimaksud. Sukses selalu untuk Indonesia Raya.

Solusi Indonesia: Fokus 1 Saja

Indonesia sedang menghadapi banyak masalah. Masalah politik, korupsi, kesenjangan ekonomi, pendidikan, moral, dan tentu pandemi covid. Apa solusi terbaiknya? Solusinya adalah fokus kepada 1 hal paling penting yang saya uraikan di bawah ini.

Penting Lawan Lebih Penting

Banyak hal penting yang harus ditangani untuk memperbaiki negeri ini. Tetapi hal-hal penting itu mestinya kalah oleh hal-hal yang lebih penting. Seorang presiden, misal Pak Jokowi, pasti melakukan hal-hal yang penting. Tentu saja. Hal-hal yang tidak penting tidak perlu dilakukan oleh seorang presiden. Pertanyaannya apakah ada hal-hal yang lebih penting untuk dilakukan oleh seorang presiden?

Warga Klaten Kaget Jokowi Blusukan ke Pasar Gede Klaten : Okezone News

Jika presiden hanya melakukan hal-hal penting maka nasib suatu negara sedang dipertaruhkan. Sementara jika presiden mengerjakan hal-hal yang lebih penting maka masa depan negara lebih cerah ada di depan mata. Justru, idealnya, seorang presiden hanya mengerjakan hal-hal paling penting. Untuk hal-hal yang penting maka bisa delegasi kepada para menteri dan jajarannya.

Pertanyaan yang sama juga bisa kita ajukan kepada diri kita sendiri, kepada setiap individu: apakah kita sudah melakukan hal-hal paling penting?

Memang sebagai individu bisa jadi seseorang melakukan hal-hal tidak penting. Toh, dia harus menanggung resikonya sendiri. Tetapi pejabat tidak boleh. Karena digaji dan ditunjang uang APBN yang besar, yang merupakan uang rakyat Indonesia.

Solusi Politik

Tampaknya mudah saja solusinya. Pilih presiden yang baik. Pilih wakil rakyat yang baik. Lalu presiden membentuk kabinet dengan mimilih menteri yang baik. PNS menjadi baik. BUMN menjadi baik. Peraturan menjadi baik. Dan Indonesia jadi adil makmur. Mengapa solusi politik yang tampak mudah seperti itu tidak terjadi?

Karena solusi politik tidak mudah. Hanya tampaknya saja mudah. Indonesia berada dalam iklim demokrasi. Banyak kepentingan saling bertarung. Seandainya kepentingan-kepentingan, yang bertarung itu, sama-sama penting maka tidak masalah. Siapa pun yang menang, kepentingan mereka adalah penting buat Indonesia, atau bahkan paling penting buat rakyat Indonesia. Nyatanya kepentingan politik tidak selalu benar-benar penting. Baru-baru ini menteri dari partai politik ditangkap KPK karena kasus korupsi. Malangnya, korupsinya adalah di bidang sosial dan perikanan yang merugikan banyak rakyat kecil.

Dan kita masih punya banyak solusi alternatif untuk memperbaiki Indonesia, misalnya, solusi ekonomi, kesehatan, pendidikan, moral, dan lain-lain. Sementara, sampai di sini, kita sudah boleh mengasumsikan bahwa solusi politik bukanlah solusi terpenting. Tetapi solusi politik tetap termasuk solusi yang penting. Kita masih perlu melanjutkan pencarian menemukan 1 solusi paling penting itu untuk menjadi fokus kita semua.

Solusi Terpenting

Solusi kembali ke ajaran agama adalah solusi yang baik. Sila pertama Pancasila jelas-jelas “Ketuhananan Yang Maha Esa.” Maka jelas kita perlu kembali kepada agama untuk menyelesaikan carut marut negeri ini. Lagi pula, dengan kembali kepada ajaran agama maka tangan-tangan langit akan turut memudahkan upaya kita. Mengapa kita tidak melakukannya? Karena tidak mudah untuk melakukannya. Kementerian agama bahkan termasuk yang banyak tersandung kasus korupsi. Pun pemahaman keagamaan kadang memancing emosi-emosi perpecahan yang perlu penanganan lebih arif. Jadi, solusi agama bukanlah solusi terpenting. Tetapi solusi agama tetap menjadi solusi penting untuk negeri ini.

Tiba saatnya kita merumuskan satu solusi terpenting untuk negeri ini.

(bersambung)

Sketsa Bayangan Hakikat

Vaksin adalah konspirasi. Pandemi juga konspirasi. Tentu kita sulit membuktikan itu. Konspirasi sulit dibuktikan. Jika mudah dibuktikan maka tidak menjadi konspirasi. Ketika kita sudah tahu tidak ada bukti, kemudian, apakah pantas kita percaya terhadap konspirasi seperti itu? Kita perlu solusi. Yang lebih pasti. Bukan sekedar konspirasi.

Coronavirus mutations: what we've learned so far

Saya mencoba membuat sketsa bayangan hakikat untuk mencatat beberapa alternatif solusi. Kita akan fokus kepada solusi ilmu pengetahuan. Khususnya yang bersifat filosofis. Sementara, konspirasi tidak menunjukkan tanda-tanda solusi. Konspirasi hanya asyik sebagai bahan diskusi sana sini. Berikut ini sketsa meniti solusi.

Daftar Isi – Content

A Pendahuluan
B. Being and Freedom
1. Pentingnya mengkaji Being atau Wujud: Hana
2. Freedom: Mungkinkah Secara Pribadi dan Semesta
3. Metodologi: Fenomenologi Spiral

C. Kajian Hana: Memahami Karakter Semesta
1. Hanya Bisa Dikaji Melalui Manifestasi: Caraka
11 Being-in-the-world
12 Being-with-mama
13 Being-with-other
14 Being-with-special
15 Being-with-natural
16 Language
17 Sains
18 Mathematic
19 Dunia Digital
110 Hana Otentik
111 Tenggelam dalam Dunia
112 Tenggelam dalam Rata-rata
113 Tenggelam dalam Digital
114 Real vs Realitas
115 Obyektif dan Subyektif: Estimasi Integratif
116 Cogito Descartes
117 Antinomi Kant
118 Optimisme: Fenomena Sartre
119 World-in-the-Being

2. Filosofi Negasi dan Different: Sawala
21 Perbedaan Geometri dan Kuantitatif
22 Perbedaan Intensitas dan Kualitatif
23 Identitas Aristoteles dan Kontradiksi
24 Negasi dan Nothingness
25 Differensial
26 Ontologi Different: Bergson dan Deleuze
27 Differance: Derrida
28 Perbedaan di Dunia Digital
29 Berbeda adalah Otentik
210 Antinomy
211 Dialektika
212 Integral Kotesis
213 SDG: Konsensus vs Dissensus

3. Kesetaraan dan Peran: Podo Jaya
31 Dominasi Identitas
32 Differend: Lyotard
33 Keadilan: Aritoteles dan Lyotard
34 Peran dalam Semesta
35 Kontribusi dalam Semesta
36 Kontribusi Digital
37 Rasio Gini dan Ketimpangan
38 Prioritas SDG
39 Nihilisme
310 Demokrasi Digital

D. Dinamika Maga: Perubahan Abadi
1. Filosofi Gerak: Maga
11 Gerak Biasa: Aksidental
12 Gerak Relasi
13 Gerak Substansial
14 Gerak Wujud atau Esensi
15 Ambiguitas Sistematis Wujud Sadra
16 Filsafat Proses
17 Sistem Dinamis

2. Karakter Waktu: Doto Selaras Hana
21 Waktu Linear
22 Waktu Sekarang yang Mengalir
23 Durasi: Bergson
24 Ekstase dan Horison: Heidegger
25 Waktu adalah Maga
26 Waktu Akumulatif Unik
27 Waktu Digital: Cepat dan Akumulatif
28 Entitas Abadi: Natural vs Idealisasi

3. Freedom: Free Will dan Warisan
31 Freedom adalah Hana: Sartre
32 Kesadaran
33 Care: Heidegger
34 Pengetahuan: Sadra
35 Genetika Warisan
36 Lingkungan
37 Budaya
38 Manusia adalah Maga
39 Perbuatan vs Milik
310 Moral vs Hukum

4. Ikatan Alam Semesta
41 Sains Obyektif
42 Metanarasi
43 Progresif
44 Teknologi dan Digital

5. Filsafat Sosial: Ekonomi Politik
51 Sejarah
52 Ekonomi
53 Politik
54 Hukum
55 Demokrasi
56. Kritik Sosial

E. Bataga: Mencapai Akhir sebagai Awal Baru
1. Menuju atau Ditarik Bataga
2. Bataga adalah Hana
3. Semesta adalah Hana

F. Dekonstruksi Metafisika
1. Heidegger, Derrida, Deleuze
2. Socrates, Sadra, Kant
3. Russell, Rorty, Habermas
4. Evolusi dan Kosmologi Sains
5. Metafisika Abda 21: Mungkinkah?

G. Enigma Pra-Lahir dan Pasca-Mati
1. Nasib Hana: Spekulasi Pasca-Mati
2. Possibilitas Hana: Pra-Lahir dan Pra-Manusia
3. Hermeunetika: Weak Thougt

H. Alternatif Kajian
1. Sains Empiris
2. Agama
3. Mistisisme

  1. Immanuel Kant, pemikir abad 18, merumuskan transendental fenomenologi. Segala sesuatu yang kita ketahui di dunia ini adalah sekedar fenomena, penampakan belaka. Misal seorang dokter meneliti covid-19 maka apa yang diketahui oleh dokter itu tentang covid-19 adalah penampakannya saja. Sedangkan hakikat covid itu sendiri adalah tetap tersembunyi, transenden, di luar ruang dan waktu. Kant sendiri meyakini bahwa ruang dan waktu tidak bersifat nyata obyektif. Ruang dan waktu adalah intuisi murni dari manusia, subyektif.
  2. Sadra, pemikir abad 17, meyakini bahwa pengetahuan adalah manifestasi dari wujud, atau bahkan wujud itu sendiri. Sehingga kita bisa benar-benar mengetahui sesuatu secara hakiki. Bahkan, Sadra sejalan dengan Aristoteles, meyakini kesatuan antara subyek yang mengetahui dengan obyek pengetahuan itu sendiri. Meski Sadra menerapkan kajian rasional, sayangnya, untuk mengetahui hakikat segala sesuatu tidak cukup hanya berbekal rasionalitas saja. Rasio, menurut Sadra, hanya mengantarkan. Selanjutnya, butuh manusia seutuhnya untuk mencapai pengetahuan sempurna.
  3. Hegel, pemikir abad 19, melangkah lebih maju dengan menyusun dialektika. Suatu pengetahuan bisa kita anggap sebagai tesis. Maka akan berhadapan dengan antitesis, sebut saja anti-pengetahuan. Ketegangan antara pengetahuan dengan anti-pengetahuan akan berproses dialektis sehingga muncul sintesis baru, sebut saja pengetahuan baru, yang lebih bagus. Pengetahuan baru ini akan terus berproses, berdialektika dengan antitesisnya, untuk pengetahuan yang lebih bagus lagi. Sampai akhirnya tercapai pengetahuan absolut. Proses dialektika ini sangat menarik dan dinamis. Tetapi kita berhadapan dengan pertanyaan besar: bagaimana kita tahu pengetahuan absolut itu, bahwa pengetahuan tertentu absolut benar? Sementara jiwa manusia, pengetahuan manusia, memiliki posibilitas yang tak terbatas. Sehingga tidak mudah membatasi pengetahuan manusia.
  4. Husserl, pemikir abad 20, secara sah dapat kita nyatakan sebagai pendiri fenomenologi modern. Kita seharusnya fokus meneliti apa yang hadir kepada kesadaran kita dari sudut pandang orang pertama yang mengalaminya, saran Husserl. Apa yang hadir itu adalah fenomena maka pendekatan Husserl menyelidiki struktur kesadaran ini disebut sebagai fenomenologi. Dengan fenomenologi ini maka filsafat bergerak secara produktif menghasilkan penyelidikan-penyelidikan dengan analisis mendalam. Apakah pengetahuan manusia menjadi lebih dekat, lebih benar, untuk mengetahui hakikat segala sesuatu, dengan pendekatan fenomenologi? Tampaknya struktur kesadaran manusia memang penuh misteri. Bukan jawaban pasti yang kita peroleh dari fenomenologi. Tetapi kita berhasil mendapatkan lebih banyak pertanyaan yang mencerahkan.
  5. Heidegger, pemikir abad 20, lebih dalam mengkaji fenomenologi dengan analisis eksistensial. Langkah Heidegger ini membelokkan filsafat kembali ke arah being, sang-ada. Di mana, menurut Heidegger, filsafat sejak Plato sampai Nietzsche telah terlalu jauh melupakan being. Yang seharusnya justru menjadi fokus utama dari filsafat itu. Dengan arah baru ini, wajar saja, Heidegger menjadi sulit dipahami oleh rekan-rekan filsuf lainnya. Bahkan sering dicurigai sebagai tidak masuk akal. Tetapi argumen Heidegger kuat. Pertama kita perlu fokus kepada being itu sendiri agar mengungkapkan diri apa adanya, analisis eksistensial. Kedua, membatasi kepada apa-apa yang hadir kepada manusia. Menggeser metafisika ke ontologi. Ketiga, kita tidak bisa melakukan klaim preskriptif (menentukan). Yang bisa kita lakukan adalah deskriptif. Maka terbuka peluang interpretasi tak terbatas: hermeneutik.
  6. Sartre, pemikir abad 20, menerapkan analisis eksistensial fenomenologi dengan lebih fokus kepada kesadaran manusia. Dengan menggabungkan pendekatan Husserl dan Heideger, Sartre sampai pada kesimpulan kesejatian manusia adalah kebebasan. Tidak ada manusia tanpa kebebasan. Pun tidak ada kebebasan tanpa manusia. Manusia adalah kebebasan, kata Sartre. Untuk sampai kesimpulan itu, Sartre perlu elaborasi lebih mendalam konsep negasi atau ketiadaan. Lagi-lagi, ini adalah pembahasan yang sulit karena beda dengan nalar sehari-hari. Tetapi pada bagian akhir, Sartre bergerak kepada hal-hal yang praktis dari kebebasan itu sendiri. Kebebasan terus bergerak bebas menuju yang lebih sempurna. Tidak pernah berhenti. Apa yang ada di diri manusia selalu ingin diubah oleh kesadaran manusia itu sendiri. Kebebasan mewujud dalam bentuk suatu kerja nyata serta membebaskan orang lain.
  7. Lyotard, pemikir abad 20 akhir, menghadirkan konsep postmodern ke wacana filsafat. Dengan kredo, “tidak percaya metanarasi,” posmo berhasil menggoyang perdebatan filsafat. Ketika sebagian besar orang percaya dengan narasi modernitas untuk memajukan kemanusiaan, Lyotard justru meragukan narasi tersebut. Bahkan Lyotard berhasil menunjukkan bahwa modernitas hanya sekedar narasi, cerita yang diulang-ulang tanpa menambah nilai kebenaran sama sekali. Lyotard mengusulkan dissensus sebagai solusi untuk mewujudkan manusia yang adil. Menghargai perbedaan setiap pihak. Mendengarkan suara mereka yang tidak bicara. Lyotard membangun argumennya merujuk ke antinomy Kant. Tidak bisa diseragamkan. Adil dalam keragaman. Apakah dissensus bisa diterapkan untuk kehidupan nyata?
  8. Russell, pemikir abad 20, adalah pelopor filsafat analytic. Bersama siswanya, Wittgenstein, Russell berhasil meletakkan fondasi yang kuat untuk filsafat analytic, aliran filsafat yang paling mudah masuk akal. Berawal dengan penyelidikan nilai kebenaran suatu proposisi berkembang ke bahasa – dan matematika. Dengan mengikuti cara berpikir Russell maka kita lebih mudah menentukan sesuatu bernilai benar atau salah, dengan cara analisis yang masuk akal. Sains dan teknologi modern dapat berkembang pesat dengan memanfaatkan analisis ini. Pendekatan analytic konsisten dengan logika Aristoteles misalnya penerapan logika non-kontradiksi. Russell juga sepakat dengan dunia universalia Plato. Pendek kata, dengan pendekatan analytic kita berhasil makin dekat dengan kebenaran sejati atau bahkan berhasil meraih kebenaran sejati. Ideal. Lalu apa masalahnya? Benar, masalahnya filsafat analytic ini hanya berlaku pada bidang tertentu, yang terlalu sempit untuk kemanusiaan. Maka di usa, filsafat analytic berkembang menjadi pragmatisme yang lebih luas. Pada abad 21 bangkit menjadi neopragamatis di tangan Rorty.
  9. Habermas, pemikir abad 21, yang saat ini berusia 92 tahun, adalah pelopor generasi kedua critical theory. Percaya bahwa sistem masyarakat lebih dominan dari peran individu, Habermas mengembangkan pendekatan komunikasi aktif. Kemanusiaan bisa berkembang dengan jalan komunikasi antara semua pihak tanpa manipulasi. Komunikasi ini menerapkan ungkapan-ungkapan rasional sehingga semua pihak dapat menganalisis dengan baik dan diambil konsensus terbaiknya. Habermas percaya proyek modernitas sudah pada arah yang tepat tapi belum tuntas. Maka kita memerlukan kritik-kritik terhadap modernitas untuk menyempurnakan. Wajar saja bila pendekatan Habermas ini mendapat banyak dukungan karena Habermas mendukung modernitas yang sedang berjalan saat ini. Kritik terhadap Habermas, salah satunya, dari Lyotard yang menolak konsensus. Dalam konsensus selalu terdapat peluang bagi pihak yang kuat untuk memanipulasi pihak yang lemah, tidak adil. Tidak ada kata sepakat antara Lyotard dan Habermas. Dan di tahun 2021 ini, Habermas masih terus berkarya.

Sketsa

Dengan mempertimbangkan pemikiran para tokoh-tokoh kontemporer di atas dan melengkapi dengan pemikiran kuno misal dari Thales, Parminides, Zeno, Plato, dan Aristoteles maka saya coba susun sketsa pembahasan.

  1. Fenomenologi. Kita akan melakukan analisis eksistensial dengan bantuan fenomenologi. Karena semua yang kita bahas tentu hadir dalam kesadaran manusia maka fenomenologi menjadi paling tepat. Sifat fenomenolog yang deskriptif memberi kelonggaran hasil analisis untuk lebih beragam.
  2. Spiral fenomenologi. Ketika fenomenologi memulai analisis dari pengalaman sehari-hari, langkah ini memberi pijakan umum. Kemudian fenomenologi melanjutkan analisis lebih mendalam terhadap pengalaman kesadaran manusia itu. Saya akan mencoba melangkah lebih jauh menganilisis pengalaman-pengalaman tokoh penting masa lalu dengan pendekatan spiral fenomenologi.
  3. Non eksistensi. Meski Heidegger dan Sartre sudah mulai membahas non esksistensi atau ketiadaan tetapi pembahasan mereka masih perlu lebih jauh kita elaborasi. Maka saya akan mencoba membahas non eksistensi ini lebih luas dan mendalam.
  4. Possibility vs probability. Perkembangan analytic kontemporer menunjukkan peran kuat dari probailitas (dan statistik). Maka kita akan mengkaji probabilitas secara filosofis dengan bantuan analytic. Di saat yang sama, kita menyadari bahwa probabilitas mengasumsikan mengetahui semesta 100%. Tentu itu hanya asumsi maka kita perlu membuka posibilitas lebih luas, tanpa batas.
  5. Definisi eksistensi. Sudah disepakati para ahli bahwa eksistensi tidak bisa didefinisikan. Maka kita perlu cara-cara baru mendekati definisi eksistensi. Saya memperkenalkan istilah “hana” sebagai padanan baru dari being, eksistensi, dan wujud. Lebih detil saya mendekati hana dengan “equa” yang mempertimbangkan posibilitas tak terbatas dan probabilitas yang lebih fokus.

Bagaimana pun cara kita mengenal realitas sejati, empiris dan rasional, hanya akan mampu mendekati kebenaran realitas itu. Sementara kebenaran mutlak, untuk menemukannya, akan tetap menjadi tugas kemanusiaan untuk mengkajinya sepanjang jaman.

Karakter Hana

Hana sebagai istilah being dari manusia, wujud dari manusia, eksistensi dari manusia akan menjadi fokus utama pembahasan kita. Kita akan menyelidiki apa saja karakter utama dari hana, melakukan interpretasi dari sudut pandang analisis eksistensial.

  1. Gerak atau perubahan. Karakter utama dari hana adalah selalu berubah atau bergerak. Hana berubah dari sisi permukaan, aksidental, misal berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hana juga berubah dari sisi mendalam, substansial, misal seseorang yang dulunya penakut, ketika dewasa menjadi pemberani. Gerak substansial diformulasikan oleh Sadra, pemikir abad 17. Sedangkan gerak aksidental sudah dikenal banyak orang sejak awal dan masuk pembahasan filsafat sejak masa Heraklitus, pemikir abad 5 SM.
  2. Ruang dan waktu. Gerak dari hana berkonsekuensi pentingnya ruang dan waktu. Manusia senantiasa dalam ruang dan waktu, tak terpisahkan. Umumnya, orang menerima begitu saja eksistensi ruang dan waktu. Kant, pemikir abad 18, yang berhasil meyakinkan kita bahwa ruang dan waktu adalah intuisi murni manusia. Heidegger, pemikir abad 20, mengklaim waktu sebagai horison bagi hana untuk mengungkapkan diri. Einstein, pemikir abad 20, merumuskan ruang waktu sebagai relatif terhadap pengamat. Yang absolut adalah kecepatan gerak cahaya, menurut Einstein.
  3. Kesadaran, peduli, dan bebas. Karakter utama berikutnya dari hana perlu kita pertimbangkan. Kesadaran menjadi yang paling utama menurut fenomenologi Husserl. Namun Heidegger lebih mengutamakan peduli, care, sebagai karakter dasar hana. Sartre memilih kebebasan, freedom, sebagai paling utama. Kita perlu mempertimbangkan karakter-karakter penting hana tersebut dan merumuskan struktur eksistensial paling mendasar.
  4. Sistem sosial. Hana menemukan dirinya lahir dari orang tua, yang merupakan Hana juga. Hana selama bersama hana lainnya. Hana berada dalam jaringan sosial. Mewarisi genetika, budaya, bahasa, dan berbagai hal dari masa lalu. Akankah Hana mengalir bersama sistem sosial itu? Ataukah Hana justru bisa mengarahkan aliran sosial itu?
  5. Sistem alam semesta. Hana mengetahui ada banyak hal di sekitarnya. Hana berada dalam alam semesta. Hana memanfaatkan alam semesta dan menjaga alam semesta.

A. Waktu (Tidak) Bisa Mundur
B. Berbeda (Bukan) Masalah
C. Konflik vs Korupsi: Pertumbuhan
D. Akhir Negeri Korupsi
E. Makna Ketiadaan
F. Kosmologi: Mahana – Kosmos – Hana

Moral: Peta yang Salah Arah

Terbayang betapa menyakitkan, sudah menggunakan peta, tetap salah arah tujuan. Saya berangkat dari Bandung dini hari sebelum subuh menuju ke Indramayu hendak memberikan pelatihan multimedia. Panitia pelatihan sudah mengirimkan lokasi lengkap dengan peta digital kota Indramayu. Saya tiba di lokasi, sesuai peta, pukul 6 pagi. Padahal acara pelatihan dimulai pukul 8. Maka saya mencari tempat yang nyaman untuk sarapan dan minum kopi, di sekitar lokasi.

Menjelang jam 8 saya berangkat lagi dari kedai kopi menuju lokasi, kurang dari 5 menit sudah tiba. Saya tidak menemukan acara pelatihan multimedia di lokasi. Setelah bertanya ke orang di situ, ternyata saya salah peta. Lokasi yang saya cari ada di 40 km sebelah barat, sudah saya lewati ketika dari Bandung. Mereka juga cerita, sudah sering ada orang salah arah ke situ dengan menggunakan peta digital.

Salah arah dalam jarak 40 km tidak terlalu bermasalah. Tetapi salah arah dalam moral kemanusiaan lebih berbahaya.

Moral begitu penting dalam kemanusiaan. Sayangnya, moral di jaman kontemporer, bagai peta yang salah arah. Tentu tidak semua moral salah arah. Tetapi, moral salah arah justru di saat yang paling penting. Maka kita perlu kembali melakukan koreksi terhadap arah moral kemanusiaan kita.

Apakah seorang menteri yang korupsi melanggar moral? Apakah seorang pemuda yang mencuri roti melanggar etika? Apakah seorang bapak yang merusak hutan melanggar akhlak? Tepat, semua terjadi pelanggaran. Bagaimana pelanggaran semacam di atas bisa terjadi? Apakah kita bisa menemukan solusi?

Dasar Moral yang Rapuh

Sebagian besar rakyat bisa dipastikan bermoral. Sebagian besar pemimpin juga bisa dipastikan bermoral. Hanya sedikit orang yang tidak bermoral, sudah cukup untuk meruntuhkan sistem ideal bermasyarakat. Pelanggaran moral justru terjadi pada dasar-dasar yang rapuh.

Apa yang dimaksud dengan seuatu yang bermoral, baik, bagus, adil, dan benar?

Pertanyaan di atas jelas pertanyaan filosofis. Maka kita perlu menjawab dengan landasan yang kokoh untuk merumuskan dasar-dasar moral. Untuk sementara, kita menganggap bermakna sama antara moral, etika, dan akhlak. Untuk perbedaan-perbedaannya akan kita bahas di bagian bawah.

Terdapat beberapa pendekatan untuk menjawab pertanyaan dasar di atas: utilitarian (asas manfaat), otentisitas (manusia sejati), dan konsensus (kesepakatan). Berbagai pendekatan ini tidak saling menolak, tetapi kita perlu menyusun prioritas. Meski hanya prioritas, dampaknya sangat besar bagi masyarakat luas.

David Hume, pemikir abad 17, dan Bertrand Russell, pemikir abad 20, mendukung pendekatan utilitarian (asas manfaat). Sartre, Heidegger, pemikir abad 20, Sadra, pemikir abad 17, Ibnu Sina, pemikir abad 11, Aristoteles, pemikir abad 3 SM, meyakini pendekatan otentisitas (manusia sejati). Sedangkan Habermas, pemikir abad 21, dan Immanuel Kant, pemikir abad 18, mendukung konsensus (kesepakatan).

Bagi yang meyakini asas manfaat, sesuatu yang bermoral adalah sesuatu yang memberi manfaat terbesar bagi seluruh manusia dan alam semesta. Hakikatnya tidak ada sesuatu yang khusus untuk dikategorikan sebagai bermoral atau tidak. Kita perlu mengkajinya, untuk menentukan sesuatu itu seberapa besar manfaatnya. Korupsi, misalnya, jelas merugikan masyarakat maka tidak bermoral. Menolong sesama, misalnya, bermanfaat besar bagi masyarakat maka termasuk bermoral.

Sementara, yang berpandangan otentisitas (manusia sejati) menyatakan bahwa ada nilai-nilai khusus pada perilaku manusia. Misalnya, adil, adalah pasti bermoral. Karena manusia, sejatinya, harus selalu bersikap adil. Korupsi adalah tidak bermoral karena tidak adil, tidak sesuai dengan manusia sejati. Pada situasi apa pun, adil selalu bermoral. Apakah adil itu bermanfaat atau tidak, itu adalah pertanyaan kedua, karena adil adalah yang utama. Untuk menentukan sesuatu adil atau tidak dalam situasi tertentu, di situlah pentingnya kecerdasan manusia, dan moral manusia.

Di sisi lain, pendukung konsensus meyakini pentingnya kesepakatan semua pihak. Suatu tindakan yang bermoral adalah yang disepakati oleh semua pihak. Korupsi adalah tidak bermoral karena ada pihak tertentu yang tidak setuju, dirugikan. Menolong sesama adalah tindakan bermoral karena disetujui oleh semua orang. Persetujuan ini, dalam kondisi tertentu perlu eksplisit dan resmi misal dalam perjanjian kerja sama. Di sisi lain, bisa juga persetujuan ini bersifat kajian akal sehat yang adil dan jujur.

Landasan moral akan menjadi rapuh bila prioritas yang dipilih tidak tepat, dilanjutkan dengan penyelewengan di beberapa kasus.

Penyelewengan Moral Manfaat

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terjebak dalam kebutuhan. Maka bimbingan moral yang paling mudah adalah asas manfaat. Apa yang memberi manfaat besar maka pantas kita pilih. Mengapa seorang anak harus belajar? Agar sekolahnya bagus. Mendapat kerja yang baik. Dan menjalani hidup dengan sejahtera. Asas manfaat yang bagus.

Tetapi penyelewengan bisa terjadi sewaktu-waktu. Mengapa pesawat ini harus diterbangkan? Bukankah pesawat ini waktunya diistirahatkan karena sudah terbang 36 jam terus-menerus? Jika pesawat ini diterbangkan maka memberi manfaat yang besar bagi banyak pihak. Keuntungan perusahaan lebih besar, pilot dan pramugari mendapat bonus lebih besar. Semua mendapat keuntungan, semua mendapat manfaat.

Dalam beberapa kali penerbangan terakhir dengan kondisi yang mirip, semua berjalan lancar. Setelah penerbangan itu, direncanakan pesawat akan istirahat dan mendapatkan perawatan sesuai standar. Kejadian pada tahun 2018 berbicara lain. Pesawat terbang dari Jakarta. Beberapa menit kemudian hilang kontak. Dan kabar duka menyelimuti seluruh negeri. Pilot, pramugari, dan ratusan penumpang meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat terbang. Tahun 2021 tejadi kecelakan pesawat terbang. Membawa duka yang besar juga. Tapi kita belum mengetahui lebih detil masalahnya. Semoga kita bisa mencegah kecelakaan serupa.

Prioritas moral yang terbaik adalah dengan mengutamakan otentisitas (manusia sejati) kemudian disusul asas manfaat atau konsensus dalam penerapan kehidupan nyata yang lebih praktis.

Misal, untuk penerbangan pesawat, kita bisa mencoba melihat dari otentisitas. Apakah ketika hendak menerbangkan pesawat adalah adil untuk semua pihak? Apakah adil bagi penumpang, pilot, dan pramugari? Bagi perusahaan bisa memberi penghematan. Tetapi resiko bagi penumpang dan kru tetap harus dikaji dengan adil. Jika pesawat tidak layak untuk terbang maka, demi keadilan, pesawat ditunda dari terbang. Keputusan adil ini bisa menurunkan manfaat bagi perusahaan misal tidak jadi untung. Bagi pilot dan pramugari tidak dapat manfaat bonus. Dan bagi penumpang tidak dapat manfaat transportasi karena penerbangan ditunda. Di sisi lain penundaan ini menyelamatkan semua pihak: itulah tindakan bermoral.

Dalam tulisan-tulisan selanjutnya, kita akan membahas masalah moral ini dengan mengambil fokus tema freedom dan pernikahan. Di satu sisi, manusia perlu menjunjung tinggi kebebasan (freedom), di sisi lain, manusia harus mengikatkan diri dengan konsensus nyata ikatan pernikahan (marriage). Apakah freedom dan pernikahan saling bertentangan atau bisa saling bersesuaian? Apa dampak moral secara pribadi dan masyarakat?

Lanjut ke
Freedom: Kebebasan yang tidak Bebas

Kembali ke
Moral: Freedom vs Marriage

Lampiran

Dalam beberapa bagian saya akan melampirkan pembahasan yang lebih detil bagi yang berminat. Lampiran ini bisa dilewatkan saja dan lanjut ke bagian selanjutnya tanpa mengurangi keutuhan pembahasan. Tapi bagi yang teratarik silakan mendalami lampiran demi lampiran.

Etika Aristoteles

Etika, filsafat moral, kuno paling komprehensif barangkali adalah karya Aristoteles: Nicomachian Ethics. Kita berhutang budi kepada sang putra Aristoteles, yang bernama Nicomachian, yang berhasil menyusun karya etika ini. Kita dapat menggolongkan tuntunan moral Aristoteles adalah otentisitas yang memberi nilai moral tinggi kepada sikap manusia sejati yaitu adil.

Plato dan Socrates juga menunjukkan menjunjung tinggi moral manusia sejati. Socrates, kakek guru dari Aristoteles, mendorong manusia untuk terus mencari kebenaran – sebagai sikap moral tertinggi. Sedangkan Plato, guru dari Aristoteles, mementingkan manusia untuk merenungi diri, berkontemplasi menemukan kebenaran sejati. Aristoteles sangat beruntung mendapat bimbingan langsung dari mahaguru, pemikir terbesar pada abad ke 4 atau ke 3 sebelum Masehi.

Aristoteles menyatakan bahwa adil adalah nilai moral tertinggi dan paling tepat. Adil adalah ada di tengah-tengah. Sehingga adil selalu benar. Tidak ada istilah terlalu adil atau kurang adil. Adil adalah sempurna. Berbeda dengan dermawan, salah sati sikap moral yang juga baik. Dermawan itu bisa saja terlalu dermawan. Seseorang yang terlalu besar berderma maka menjadi melampaui batas, terlalu dermawan, menjadi sikap yang buruk. Terlalu dermawan bergeser menjadi boros. Di sisi lain, kurang dermawan juga buruk karena bergeser menjadi kikir. Sementara adil benar-benar di tengah, sempurna. Dengan kata lain, ketika seseorang hendak menjadi dermawan maka, di saat yang sama, dia harus bersikap adil agar bermoral. Maka kita perlu menjadi “masyarakat yang di tengah-tengah.”

Tentu saja, Aristoteles merumuskan beragam karakter manusia yang bermoral tinggi. Misal sikap mau belajar, baik hati, bersahabat, mengendalikan marah, dan lain-lain. Bagi Aristoteles, sikap marah adalah manusiawi. Marah yang tak terkendali jadi berbahaya dan tidak bermoral. Tetapi marah dengan ukuran yang tepat, di saat yang tepat, di tempat yang tepat, kepada orang yang tepat adalah sikap moral yang tinggi.

Etika Sadra

Sadra adalah pemikir besar abad 17 yang paling berhasil merumuskan manusia spiritual. Tindakan moral yang paling tinggi adalah tindakan manusia yang menyempurnakan diri sebagai manusia spiritual. Tindakan moral tersebut adalah tindakan manusia menyempurnakan ilmu pengetahuan. Sadra menunjukkan bahwa pengetahuan sejati adalah pengetahuan spiritual tentang wujud sejati melalui pengalaman nyata.

Pengetahuan sejati mengangkat hakikat manusia ke arah wujud yang lebih tinggi. Pengetahuan sejati, berbuah menjadi tindakan moral, memberikan yang terbaik untuk seluruh alam semesta. Dunia luar, yang tampaknya seperti obyek bagi individu, sejatinya adalah wujud dari diri kita sendiri. Maka ketika seseorang berbuat buruk kepada dunia luar, sejatinya, dia merusak dirinya sendiri. Sedangkan ketika kita, berbuat baik kepada semua orang, sejatinya kita berbuat baik kepada diri sendiri.

Hanya dengan pengetahuan sejati kita dapat menyempurnakan diri. Sadra berhasil membuktikan bahwa proses dan hasil menyempurnakan diri ini tidak berhenti ketika manusia mati. Bahkan ketika manusia sudah mati justru jiwa manusia menjadi lebih sempurna sesuai dengan tindakan moral dan pengetahuannya. Maka nilai moral berlanjut dari masa ketika manusia hidup di dunia sampai setelah dunia ini. Kita adalah manusia spiritual.

Kita bisa menggolongkan etika Sadra sebagai otentisitas. Manusia sejati adalah manusia spiritual yang penuh moral dengan pengetahuan terus meningkat. Sementara, kebodohan adalah sikap tidak bermoral yang menutup beragam potensi manusia yang seharusnya menggapai wujud yang lebih tinggi. Maka pengetahuan sejati adalah tindakan bermoral manusia untuk bergabung ke wujud yang lebih tinggi secara abadi.

Etika Kant

Saya kira Immanuel Kant adalah pemikir terbesar di jaman modern ini. Kant menuliskan karya-karyanya di abad ke 18 sampai abad 19. Analisis yang tajam ditambah wawasan yang luas menjadikan Kant benar-benar istimewa. Kant punya proyek ambisius untuk membangun filsafat moral yang kokoh. Kant merumuskan categorial imperative yang merupakan rumusan moral yang bersifat wajib dan pasti. Apakah Kant berhasil?

Kant beruntung, pada jamannya, pemikiran rasionalis sudah matang dengan tokoh-tokohnya Descartes, Leibniz, Spinoza, dan lainnya. Sedangkan pemikiran empiris juga sudah kuat dengan tokoh-tokohnya Locke, Hume, Newton, dan lainnya. Sehingga Kant berkesempatan untuk membuat sintesa besar dari raionalisme dan empirionalisme itu. Dan formula CI, categorial imperative, adalah hasil nyatanya.

CI mengambil dua bentuk yaitu larangan dan perintah. Contoh perintah CI adalah “Jagalah kehidupan!” yang bersesuaian dengan amar makruf. Sedangkan CI dalam bentuk larangan bersesuaian dengan nahi munkar, contoh, “Jangan membunuh.” Untuk merumuskan CI kita bisa mempertimbangkan empat tes berikut ini. Jika lolos maka bisa jadi CI. Jika tidak lolos maka gagal sebagai CI.

Pertama, bisa dilakukan setiap saat. “Jangan membunuh” lolos dengan tes ini. Tetapi “Peliharalah tanaman” gagal tes ini. Karena ketika tidur, seseorang tidak bisa memelihara tanaman. Sementara, ketika tidur, seseorang tetap bisa mematuhi tidak membunuh siapa pun.

Kedua, bisa dilakukan di setiap tempat. “Jagalah kehidupan” lolos tes ini. Di mana pun kita dapat menjaga kehidupan dengan cara mencegah penghancurannya. Sementara “Dilarang parkir” tidak lolos tes ini karena di tempat tertentu terpaksa kita harus parkir. Atau kadang-kadang kita tidak berurusan sama sekali dengan parkir.

Ketiga, bisa dilakukan setiap orang. Tentu saja, setiap orang bisa mematuhi larangan, “Jangan membunuh.”

Keempat, disetujui setiap orang yang bernalar jujur. Kita tentu setuju dengan perintah “Jagalah kehidupan.” Maka lolos sebagai CI. Barangkali orang jahat tidak setuju itu. Orang-orang yang mau untungnya sendiri juga bisa menolaknya. Tetapi orang yang jujur, secara wajar, akan bisa memberikan penilaian yang memadai.

Dengan pertimbangan di atas maka saya memasukkan filsafat moral Kant sebagai konsensus. Keunggulan Kant adalah praktis untuk menyusun aturan moral secara demokratis. Bisa kita duga akan terjadi perdebatan seru dalam menyusun konsensus terutama bila bersifat detil dan praktis. Habermas, pemikir abad 21, meyakini konsensus sebagai solusi terbaik dengan cara komunikasi aktif secara rasional.

Kant tampak mendukung otentisitas dengan menyatakan kebajikan moral sejati adalah ketika Anda memilih berbuat baik padahal Anda bisa berbuat buruk. Kant juga berhasil membuktikan eksistensi Tuhan. Dan menyusun postulat bahwa jiwa manusia bersifat abadi tidak hancur setelah mati. Tapi cara berpikir Kant yang terbuka dengan beragam ide mengantarkan dia sampai kepada antinomi: paradox. Dalam tataran praktis, antinomi dapat dimaklumi, diselesaikan, dengan cara konsensus.

Etika Russell

Russell, pemikir abad 20, adalah yang paling radikal tentang filsafat moral menurut saya. Russell menyakini utilitirianisme, asas manfaat. Bahwa sesuatu dinilai bermoral dilihat dari manfaatnya. Cara pandang yang jelas dan praktis. Asas manfaat ini sudah digagas oleh Hume, sekitar 200 tahun sebelum Russell. Dan bisa kita lacak benih-benih awalnya ada di para pemikir sofis, sekitar 100 tahun sebelum Aristoteles.

Russell membawa asas manfaat ini dengan menuliskan buku moral yang membahas isu pernikahan di jaman modern secara radikal. Russell meng-klaim bahwa dia memperoleh hadiah Nobel atas karya tulis moralnya itu. Tetapi panitia penghargaan Nobel membantahnya dengan menyatakan bahwa Russell mendapat penghargaan atas beragam karyanya yang luas bukan hanya karya moral.

Asas manfaat mengkaji suatu tindakan atas hasil akhirnya apakah bermanfaat atau tidak. Jika hasil akhir bermanfaat maka tindakan itu bernilai moral. Misal “menanam pohon” apakah bermoral? Kegiatan menanam pohon itu sendiri tidak bisa dikatakan sebagai bermoral atau melanggar moral. Kegiatan itu netral. Maka kita perlu mengkaji dampak dari menanam pohon itu sendiri. Jika setelah menanam pohon alam menjadi indah, aman, dan sejuk, maka menanam pohon adalah bermoral. Dan sebaliknya menebang pohon di hutan sampai gundul menyebabkan banjir di mana-mana adalah tindakan tidak bermoral.

Mari kita pertimbangkan kasus “menanam pohon” di pinggir jalan. Setelah pohon tumbuh besar menghalangi jalan. Sehingga orang-orang yang hendak berlalu di jalan itu menjadi terganggu. Menanam pohon, dalam kasus ini, tidak bermanfaat maka itu adalah tindakan tidak bermoral. Kita perhatikan, bahwa kegiatan menanam pohon itu sendiri bersifat netral. Terbebas dari moral atau tidak.

Russell memandang “pernikahan” dengan cara yang sama, netral. Bisa bermoral, bisa juga tidak bermoral. Kita perlu mengkaji lebih jauh apa manfaat pernikahan itu. Russell mencoba menggali argumen dari jaman kuno mengapa manusia menikah, menganalisis situasi pada jaman ini – jaman Russell, dan memprediksi situasi masa depan, lalu merumuskan seperti apakah seharusnya bentuk pernikahan itu. Dan hasil analisis Russell ini memang radikal. Maka saya akan membahasnya bagian demi bagian pada lanjutan tulisan saya ini.

Etika Lyotard

Lyotard adalah pemikir postmodernis yang berhasil memunculkan istilah postmodern dalam pembahasan filsafat pada tahu 1970an akhir. Sebagaimana pemikir postmo lainnya, Lyotard juga menghargai pluralisme, keanekaragaman. Sehingga kita bisa menggolongkan Lyotard sebagai pemikiran dengan pendekatan otentisitas. Manusia sejati adalah manusia yang menghormati perbedaan, manusia yang bermoral. Lyotard sendiri menulis buku dengan judul “The Differand” – perbedaan.

Dalam beragam tulisannya, Lyotard tampak menaruh komitmen kuat terhadap keadilan. Bahkan menghormati perbedaan, sejatinya, adalah untuk mewujudkan keadilan itu sendiri. Satu deskripsi sederhana dari sikap adil adalah sikap yang mendengarkan semua pihak, termasuk suara pihak yang tidak bersuara. Sedangkan differand itu sendiri adalah situasi yang timpang di mana keadilan tidak bisa dijalankan.

Lyotard menolak pendekatan konsensus sebagai solusi untuk menyelesaikan konflik. Menurutnya, konsensus selalu dipakai oleh pihak yang kuat untuk memanipulasi pihak yang lemah. Maka keadilan tidak terwujud. Konsensus harus ditolak.

Moral: Freedom vs Marriage

Moral menjadi masalah penting di berbagai situasi. Negara yang moralnya tinggi maka akan maju. Mampu mengatasi beragam kesulitan. Sementara, negara yang moralnya roboh maka akan compang-camping. Kita, negara Timur sering mengaku sebagai bangsa yang bermoral luhur. Tetapi kenyataan bisa saja berbeda. Korupsi masih ada di mana-mana. Bahkan menteri sosial, yang seharusnya menunjukkan moral paling tinggi, justru ditangkap KPK dengan jeratan kasus korupsi. Bukan korupsi sembarangan. Tetapi korupsi dana bantuan untuk warga yang terdampak pandemi. Teganya melihat warga miskin yang kelaparan. Apakah masih ada istilah moral di sana?

Two international samples used for large-scale study of gender differences  in moral judgments within cultures

Freedom, kebebasan, menjadi dasar utama bagi manusia untuk bermoral. Manusia bebas bertindak maka ia harus bertanggung jawab terhadap hasil tindakan itu. Pilihan yang bermoral akan memberikan kebaikan bagi semua. Bahkan tindakannya itu sendiri, tindakan bermoral, adalah kebaikan – kebenaran dan keadilan. Amerika, negara yang mengaku menjunjung tinggi kebebasan, menghadapi resiko kebebasan itu. Aksi demonstrasi ke gedung Capitol mengatasnamakan kebebasan berdemokrasi menelan korban tewas sekitar 5 orang. Atas demonstrasi itu, Presiden Trump terancam dilengserkan di akhir masa jabatannya. Kebebasan, yang menjadi modal dasar manusia untuk bermoral, bisa salah arah.

Marriage, pernikahan, adalah ikatan suci antara manusia sejak awal sejarah kita, kini dipertanyakan. Apakah umat manusia saat ini masih perlu pernikahan? Beberapa orang, dikabarkan, sudah menikah dengan boneka. Tuntutan untuk diakuinya pernikahan sesama jenis kelamin merebak di beberapa tempat. Kekerasan dalam rumah tangga tidak menunjukkan perbaikan. Tetapi jelas, sepanjang sejarah manusia, kita membutuhkan pernikahan. Manusia hidup damai dalam pernikahan. Keluarga bahagia terbentuk dalam pernikahan. Kelangsungan generasi manusia terjaga oleh lembaga pernikahan. Apakah di satu sisi ada jenis pernikahan yang bermoral dan di sisi lain ada pernikahan yang tidak bermoral?

Saya akan mencoba membahas tiga tema di atas – moral, freedom, marriage – dalam tulisan ini dengan cara kritis. Analisis rasional akan menjadi alat utama tulisan ini. Kita akan tetap terbuka dengan data alternatif misal emosi, pengalaman pribadi, opini, ajaran agama, juga prediksi teknologi. Tidak bisa dipungkiri, teknologi sudah mengubah cara hidup manusia. Media sosial bisa lebih kuat dari kehidupan sosial itu sendiri. Generasi muda menghabiskan waktu lebih banyak menatap layar digital dibanding menatap realitas alam raya. Boneka cantik lebih sempurna dari tubuh manusia. Bayi yang baru merangkak lebih akrab dengan gadget daripada dengan tetangga. Masa depan lebih banyak tanda tanya. Maka kita makin membutuhkannya: moral!

Berikut ini beberapa tema yang kita bahas.

  1. Moral: Peta yang Salah Arah
  2. Freedom: Kebebasan yang tidak Bebas
  3. Marriage: Ikatan Paling Lemah Paling Indah
  4. Masyarakat Berbasis Pernikahan
  5. Sistem Patriarki: Bos Lawan Budak
  6. Pemujaan Jagoan, Kesederhanaan, dan Dosa
  7. Etika Agama
  8. Cinta Romantis
  9. Kebebasan Wanita
  10. Tabu
  11. Peran Cinta dalam Hidup Manusia
  12. Pernikahan dan Anak
  13. Prostitusi
  14. Pernikahan Uji Coba
  15. Keluarga Abad 21
  16. Keluarga dalam Psikologi Pribadi
  17. Keluarga, Pendidikan, dan Negara
  18. Perceraian
  19. Populasi
  20. Eugenik
  21. Sex dan Kebahagian Individu
  22. Sex dan Nilai Kemanusiaan
  23. Kesimpulan

Epilog: Sejarah Manusia Menuju Retakan

Waktu dan Ruang Hanya Angan

Tidak masalah jika waktu dan ruang itu hanya angan-angan. Yang jadi masalah adalah jika uang hanya ada di angan-angan. Uang harus nyata untuk membiayai kehidupan nyata. Bukankah begitu? Benar begitu dari sisi praktis. Dari sisi yang lebih mendalam, banyak hal yang kita pelajari dari ruang dan waktu, lebih-lebih, dari uang itu sendiri.

Image | Massive Bodies Warp Space-Time | LIGO Lab | Caltech

Masalah ruang dan waktu, space time, sudah menyusahkan para pemikir dari awal sejarah sampai jaman kontemporer, postmodern ini. Beberapa pemikir menyatakan bahwa ruang waktu ada secara obyektif. Umumnya saintis meyakini ini. Newton termasuk yang dengan canggih mengolah ruang dan waktu menjadi sains dan teknologi. Berikutnya, Einstein melakukan beragam inovasi tentang ruang dan waktu dengan teori relativitas yang memungkinan melengkungkan, membelokkan, ruang dan waktu. Waktu obyektif ini disebut sebagai waktu ilmiah oleh Bang Armahedi Mahzar.

Sementara beberapa tokoh menyebut waktu dan ruang hanya bersifat subyektif – atau intersubyektif. Bang Armahedi menyebutnya sebagai waktu sejarah. Perkembangan teknologi yang makin canggih serba cepat memungkinkan pemanfaatan waktu sampai mikro atau nano detik sehingga kita bisa menyebutnya sebagai waktu teknologis. Ketika semua hal, manusia dan teknologi, terhubung melalui dunia siber, dunia internet, dunia digital, maka makin lengkap membentuk waktu mayantara.

1. Waktu Benar Nyata
2. Waktu Hanya Ilusi
3. Waktu Ada Secara Derivatif

Kali ini kita akan lebih fokus kepada eksistensi ruang dan waktu: apakah benar-benar ada? Atau sekedar hanya di angan-angan belaka?

1. Waktu Benar Nyata

Waktu dan ruang benar-benar ada bagi para saintis, ilmuwan, seperti kita sebut di atas. Bahkan, menurut Russell, sains dan teknologi bisa menciptakan lebih banyak ruang dan waktu. Lebih dari sekedar ruang berdimensi 3 ditambah waktu berdimensi 1. Saya menduga bahwa Russell merujuk ke Hilbert Space yang mampu menciptakan ruang vektor berdimensi n, yang lebih besar dari 4.

Tetapi, keyakinan bahwa ruang dan waktu ada secara obyektif ini menghadapi pertanyaan berat yang sulit dijawab.

Jika waktu ada maka sejak kapan ada waktu?
Jika ruang ada maka berada di mana ruang itu?

Saintis. tampaknya, tidak berminat menjawab pertanyaan berat itu. Pun bukan tugas ilmuwan untuk menjawabnya. Barangkali tugas para filosof untuk menjawab dengan baik. Tugas ilmuwan adalah mengolah ruang dan waktu agar menjadi sesuatu yang bermanfaat optimal bagi kemanusiaan.

Kita, dalam kehidupan sehari-hari, dengan mudah meyakini adanya ruang dan waktu. Kita biasa membeli air 1 liter yang disimpan dalam botol di ruang depan. Kita biasa membuat janji bertemu 3 hari setelah hari ini dengan waktu yang sama.

2. Waktu Hanya Intuisi

Immanuel Kant, pemikir abad 18, menyatakan bahwa waktu adalah hanya intuisi manusia. Maka waktu tidak ada secara obyektif. Demikian juga dengan ruang juga hanya intuisi manusia. Kita bisa merujuk ke Parmenides, pemikir abad 6 sebelum masehi, yang menyatakan bahwa semua opini, termasuk ruang dan waktu, sejatinya tidak ada.

Kant menyatakan bahwa ruang adalah intuisi kita tentang geometri. Ketika kita memikirkan “persegi” maka intuisi kita menciptakan suatu ruang yang ditempati oleh “persegi.” Kita tidak bisa membayangkan “persegi” tanpa ruang. Sedangkan bila kita melihat “meja berbentuk persegi” maka “ruang” adalah dampak perluasan dari “meja” itu. Ruang sejatinya tidak ada, hanya dampak dalam intuisi kita.

Sedangkan, waktu adalah intuisi kita tentang aritmetika, masih menurut Kant. Ketika kita menghitung 1 + 2 = 3 maka kita menciptakan waktu dalam intuisi untuk memproses perhitungan. Waktu sejatinya tidak ada, hanya intuisi kita. Jadi waktu, dan ruang, hanya subyektif.

Meski ruang dan waktu hanya intuisi tetapi pengalaman sehari-hari kita tentang tempat dan jam tetap sah. Pengalaman sehari-hari itu adalah realitas intuisi kita. Barangkali, orang bisa mengatakan bahwa ruang dan waktu hanya ilusi.

3. Waktu Ada Secara Derivatif

Sadra, pemikir Persia abad 17, menyatakan bahwa ruang dan waktu tidak ada secara mandiri. Tetapi ruang dan waktu hanya turunan, derivatif, dari “gerak substansial.” Martin Heidegger, pemikir Jerman abad 20, menyatakan bahwa “waktu” dan “ada” saling memberi, appropriation.

Saya kira rumusan Sadra tentang ruang dan waktu sangat kreatif. Sadra memulai dengan formula “gerak substansial”. Segala sesuatu yang ada, suatu substansi, senantiasa bergerak dari suatu tingkat wujud menuju ke tingkat wujud yang lebih kuat. Sejatinya, yang ada adalah gerak itu sendiri. Maka gerak menciptakan efek waktu dan ruang dalam intuisi manusia.

Ketika suatu substansi, misal sepeda, bergerak maka intuisi kita menyatakan perlu “waktu” untuk proses gerak itu. Demikian juga, gerak, memerlukan ruang untuk perpindahan. Maka ruang dan waktu benar-benar ada. Tetapi tidak mandiri, hanya ada karena ada gerak substansial.

Contoh gerak sepeda di atas adalah gerak aksidental. Tetapi kita bisa menganalisis lebih dalam bahwa gerak aksidental ini juga berakar dari gerak substansial.

Bagaimana menurut Anda?

Mati: Misteri Manusia Sejati

Kabar duka. Kematian orang yang dicinta selalu menghujam, terdalam, ke diri manusia. Baru-baru ini, kita mendapat kabar kecelakaan pesawat Sri Wijaya yang menewaskan puluhan orang. Duka untuk seluruh warga.

Salah satunya, seorang bapak, bernama Dedi sebutan, yang sudah siap menunggu di bandara pontianak sejak siang. Dari pagi, Pak Dedi bersiap menjemput kedatangan istri dan 3 anaknya dari Jakarta. Siang hari, Pak Dedi bersenda gurau, bahagia, melalui WA keluarga. Sore harinya, Pak Dedi menunggu dan hanya menunggu di bandara Pontianak. Istrinya dan 3 orang anaknya terbang bersama Sri Wijyaya dari Jakarta. Kecelakaan di udara. Meninggal semua. Hanya air mata yang tak reda, Pak Dedi di bandara. Tidak punya siapa-siapa. Seluruh keluarga telah tiada.

70+ Kata Ucapan Belasungkawa | Sopan, Bijak, Singkat, Menyentuh Hati  [Lengkap] | Kata-kata mutiara, Katolik, Bijak

Mati adalah misteri manusia sejati.

Mati dengan cara yang wajar, misal kerena sudah tua, tetap menembus ke hati. Apa lagi mati yang tidak diharapkan, misal karena kecelakaan atau wabah penyakit, tentu makin menusuk nurani.

Tetapi itu semua, kita melihat dari sisi orang yang hidup. Dari sisi orang yang ditinggal mati. Bagaimana mati jika dilihat dari sisi orang yang mengalami sendiri? Bagaimana jika diri kita yang mati?

Manusia sejati

Manusia sejati pasti mati. Mati adalah eksistensi sejati yang dimiliki manusia sejati. Begitu menurut pendapat Martin Heidegger, pemikir Jerman abad 20. Kita bisa pura-pura kaya, pura-pura bahagia, pura-pura terpesona. Kita juga bisa pura-pura menderita, pura-pura kecewa, dan pura-pura putus asa. Tetapi kita tidak bisa pura-pura mati. Pada waktunya pasti mati secara hakiki.

Data empiris menunjukkan bahwa setiap orang di masa lalu, akhirnya, mati. Orang-orang di jaman sekarang dan masa datang juga diperkirakan akan mati. Meski ini hanya perkiraan, dari berpikir induksi, tetapi kepastiannya hampir pasti benar. Kita akan mati. Tidak ada bukti kuat yang menyatakan bahwa kita tidak akan mati.

Mati adalah sempurna sejati

Dari sisi orang yang ditinggalkan, mati adalah duka. Dari sisi orang yang mengalami, orang yang mati, kematian adalah kesempurnaan. Demikian menurut Sadra, pemikir Persia abad 17. Ketika kita mati bukan berarti kita hilang dari alam semesta. Mati justru mengantarkan kita ke alam yang lebih sempurna. Jiwa kita, ruh kita, bergerak lebih sempurna dengan mengalami kematian badan. Melepaskan badan di dunia ini untuk terus melanjutkan perjalanan diri yang masih panjang.

Orang yang bersiap menghadapi mati, menyiapkan amal terbaik dengan modal yang ada adalah manusia sejati menurut Heidegger. Sebaliknya, orang yang melupakan kematian, menyibukkan diri dengan dunia, memenuhi urusan ini itu dari pagi sampai malam, justru termasuk munafik – tidak otentik. Untuk jadi manusia sejati kita harus selalu sadar bahwa kita sedang menuju mati, memberikan yang terbaik untuk seluruh eksistensi kita.

Konsep husnul khotimah, akhir yang sempurna, adalah ajaran terbaik dari Nabi Muhammad, Nabi abad 7, yang mengajak umat manusia untuk secara sengaja menyiapkan diri meraih kematian yang sempurna. Demikian menurut Pak Muh Zuhri, pemikir Indonesia abad 21. Semua gerak kita, diam kita, tidur kita, kita arahkan untuk meraih husnul khotimah.

Mati lebih dari sekali

Bahkan kita, sejatinya, membutuhkan mati lebih dari sekali. Kita butuh mati berkali-kali. Menjadi manusia sejati berkali-kali. Demikian menurut Rumi, pemikir Timur abad 12. Matilah sebelum mati. Tentu saja bukan mati fisik. Tetapi matinya ego untuk hidup kembali menjadi manusia sejati.

Kita membutuhkan pemimpin yang telah “mati,” pemimpin yang telah selesai dengan dirinya. Pemimpin yang tidak lagi memikirkan kepentingan pribadi. Tidak pernah ada korupsi. Pemimpin yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk mengabdi ke rakyat. Memberikan pemikiran dan kebijakan terbaik untuk seluruh rakyat.

Pemimpin idaman itu ada di sana, di kursi para pejabat dan penguasa dunia. Tetapi kita lebih dari itu. Kita butuh pemimpin itu ada di sini. Di dalam diri kita ini. Kita butuh pemimpin ini, di sini, di saat ini. Pemimpin itu adalah diri kita sendiri. Yang menuju mati. Yang diharapkan sudah mati sebelum mati.

Bagaimana menurut Anda?

Komnas HAM Vs Maha Benar

Baru-baru ini Komnas HAM telah mengumumkan hasil investigasi terkait tewasnya 6 orang laskar yang ditembak di sekitar rest area tol Jabar. Komnas HAM menyatakan 4 orang di antara 6 itu ditembak dengan kemungkinan terjadi pelanggaran HAM. Maka diperlukan pengadilan pidana untuk mengungkap lebih jelas pelanggaran HAM (atau tidaknya).

Mengungkap pelanggaran HAM semacam itu tidak mudah atau bahkan hampir mustahil. Lyotard, pemikir postmodern, memberikan penjelasan yang lebih detil tentang kasus yang mirip dalam buku The Differend.

Anggota tim penyidik Bareskrim Polri memperagakan adegan saat rekonstruksi kasus penembakan enam anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) di Karawang, Jawa Barat, Senin (14/12/2020) dini hari. Rekonstruksi tersebut memperagakan 58 adegan kasus penembakan enam anggota laskar FPI di tol Jakarta - Cikampek KM 50 pada Senin (7/12/2020) di empat titik kejadian perkara. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/aww.

Untuk mudahnya kita memisalkan ada Tuan Kritis yang serba benar atau bahkan dia menyebut dirinya Maha Benar. Sekitar pertengahan abad 20, Nazi dituduh menyiksa orang dengan menyediakan kamar gas. Orang yang dimasukkan ke kamar gas maka akan mati. Maka, itu adalah pelanggaran HAM. Bagaimana cara membuktikan pelanggaran HAM itu? Mustahil!

Tuan Kritis hanya mau mengakui keberadaan kamar gas itu bila ada saksi mata dari korban. Sedangkan setiap korban yang masuk ke dalam kamar gas pasti mati. Maka Tuan Kritis akan selalu benar.

A)Tidak ada kamas gas maka tidak ada korban. Sehingga tidak ada saksi mata dari korban.

B)Ada kamar gas maka semua korban mati karena masuk kamar gas. Sehingga tidak ada saksi mata dari korban.

Jadi, Tuan Kritis akan selalu menang. Ada kamar gas atau tidak akan tetap saja tidak ada saksi mata. Karena itu disimpulkan tidak ada kamar gas. Tentu saja hal ini tidak adil. Tetapi situasi semacam ini bisa saja terjadi. Mengapa tidak cari saksi lain, misal petugas pembuat kamar gas, untuk bersaksi? Apakah petugas mau bersaksi yang bisa merugikan diri sendiri? Apakah kesaksian petugas dinilai valid?

Tuan Kritis bisa saja menganalisis kemungkinan pelanggaran HAM terhadap 4 orang laskar yang ditembak. Tuan Kritis hanya percaya bila ada saksi mata dari korban.

A)Tidak ada pelanggaran HAM maka tidak ada korban penembakan. Sehingga tidak ada saksi mata dari pelanggaran HAM.

B)Ada pelanggaran HAM maka korban ditembak. Sehingga tidak ada saksi mata dari pelanggaran HAM.

Tuan Kritis menang lagi dalam situasi ini. Apakah ada pelanggaran atau tidak, maka tetap saja, tidak akan ada saksi mata dari korban. Sehingga Tuan Kritis menyimpulkan tidak ada pelanggaran HAM dalam kasus seperti itu.

Tentu saja kita perlu berjuang untuk menemukan keadilan sejati. Jalan panjang harus ditempuh negeri ini. Barangkali ada banyak cara untuk menjamin negeri ini mencapai adil makmur. Kondisi selalu benar dari Tuan Kritis perlu kita kritisi.

Tuan Kritis bisa kita tanya, “Apakah pendidikan Indonesia bertambah baik?”

Tuan Kritis bisa menjawab dengan benar bahwa pendidikan di Indonesia kualitasnya terus bertambah baik. Tuan Kritis mengambil contoh pendidikan SMA atau sederajat. Dibuktikan dengan makin banyaknya siswa SMA Indonesia yang diterima di ITB. Bahkan fakultas paling favorit semisal STEI ITB. Peningkatan mahasiswa baru yang diterima STEI ITB adalah, menjadi 500an mahasiswa di tahun 2020 dari sekitar 400an mahasiswa beberapa tahun sebelumnya.

A)Ada peningkatan kualitas pendidikan maka yang diterima di STEI ITB meningkat jadi 500 mahasiswa. Sehingga ada bukti peningkatan.

B)Tidak ada peningkatan kualitas pendidikan maka yang diterima di STEI ITB meningkat jadi 500 mahasiswa. Sehingga ada bukti peningkatan.

Tuan Kritis menang lagi, benar lagi. Dia berhasil membuktikan bahwa ada peningkatan kualitas pendidikan SMA dengan menunjukkan makin meningkatnya jumlah siswa SMA yang diterima di STEI ITB menjadi 500 orang. Jumlah sebesar ini bahkan belum pernah terjadi pada tahun-tahun yang lalu. Ini adalah pencapaian yang luar biasa menurut Tuan Kritis.

Tentu saja kita bisa mengkritisi Tuan Kritis. Daya tampung STEI ITB tidak ada hubungannya dengan kualitas pendidikan SMA. Seperti apa pun kualitas pendidikan SMA maka kuota mahasiswa baru STEI ITB memang sudah ditetapkan 500 orang. Siswa SMA hanya perlu bersaing untuk memenangkan kursi mahasiswa baru yang tersedia.

Bagaimana menurut Anda?