Ekonomi Cinta

Setiap sisi kehidupan manusia adalah cinta. Setiap butir debu adalah debu cinta. Setiap hembusan nafas adalah nafas cinta. Ekonomi adalah ekonomi cinta.

Saya memberi uang kepada Rara yang cantik adalah ungkapan cinta. Saya mengasuh Rara sejak bayi adalah manifestasi cinta. Saya cinta Rara adalah ungkapan cinta. Rara telah menyemai cinta di hatiku bahkan ketika dia masih dalam kandungan istriku. Rara telah memberiku cinta dan aku membalasnya dengan cinta pula.

Semua transaksi adalah transaksi cinta.

Kita bisa menduga ekonomi cinta, bisa berbelok, menjadi ekonomi dusta. Menjadi ekonomi nafsu semata. Menjadi ekonomi serakah. Menjadi ekonomi mewah. Pada bagian ini, kita akan membahas ekonomi cinta yang dibelokkan menjadi ekonomi nafsu. Untuk kemudian, kita mencoba merumuskan beberapa solusi meluruskan kembali agar menjadi ekonomi cinta.

1. Ekonomi Libido Serakah
1.1 Barter
1.2 Uang Emas
1.3 Uang Digital
1.4 Harga Raga Jiwa
1.5 Politik Uang

2. Ekonomi Angka Semata
2.1 Pertumbuhan bukan Profit
2.2 Dominasi bukan Prestasi
2.3 Cinta Angka

3. Penjara vs Sasana
3.1 Cahaya Ekonomi
3.2 Ruang Temu Barzakh
3.2.1 Solusi Pribadi
3.2.2 Solusi Sistem
3.2.2.1 Kapitalis
3.2.2.2 Sosialis
3.2.2.3 Teonomis
3.3 Sarana Cinta
3.3.1 Pertumbuhan Ekosistem
3.3.2 Rasio Gini Palma
3.3.3 Rasio Power Paman

4. Ringkasan

5. Diskusi: Adil Makmur
5.1 Berlimpah Lapangan Kerja
5.2 Berlimpah Biaya Universitas
5.3 Berlimpah Wirausaha
5.4 Relasi Uang
5.4.1 Realitas Uang
5.4.2 Eksperimen Uang Pokok
5.4.3 Eksperimen Uang Mewah
5.5 Diferensiasi Harmonis

Di bagian awal, kita mengakui bahwa ekonomi adalah kebutuhan umat manusia yang tidak bisa ditolak. Ekonomi adalah sinar dari cahaya cinta umat manusia itu sendiri. Sayangnya, sistem ekonomi dibelokkan oleh libido serakah setelah umat manusia menemukan konsep uang. Pembelokan ini makin parah dengan berkembangnya uang digital. Seperti hal lainnya, uang digital sendiri, sejatinya adalah sinar cinta.

Implikasi lanjutannya, pembelokan ekonomi cinta makin parah ketika uang bisa digantikan oleh angka-angka belaka – misal uang digital, valuta asing, saham, dan lain-lain. Pertumbuhan ekonomi bisa saja hanya bermakna bagi kelompok kaya. Pertumbuhan ekonomi bukan pertumbuhan ekonomi real. Hanya pertumbuhan angka-angka bagi kelas kaya. Bagaimana pun, angka-angka tetap bermakna sebagai kemewahan dunia.

Di bagian akhir, dari pesimis bercampur optimis, kita akan mencoba merumuskan solusi ekonomi cinta. Ekonomi yang seharusnya menjadi sarana kemajuan umat manusia telah berubah menjadi penjara bagi umat manusia. Kita sudah memiliki beragam teori dan alat ukur untuk menciptakan sistem ekonomi yang adil makmur. Pertumbuhan ekonomi, tentu, menjadi ukuran paling utama. Di saat yang sama, kita perlu menjamin pemerataan dan menghapus kesenjangan yang ada. Rasio gini dan rasio power paman menjadi andalan utama. Dengan demikian, kita berhak optimis untuk mengarahkan ekonomi sebagai jalan cinta, mengubah penjara menjadi sasana cinta.

1. Ekonomi Libido Serakah

Di bagian awal, kita mengakui bahwa ekonomi adalah kebutuhan umat manusia yang tidak bisa ditolak. Ekonomi adalah sinar dari cahaya cinta umat manusia itu sendiri. Sayangnya, sistem ekonomi dibelokkan oleh libido serakah setelah umat manusia menemukan konsep uang. Pembelokan ini makin parah dengan berkembangnya uang digital. Seperti hal lainnya, uang digital sendiri, sejatinya adalah sinar cinta.

1.1 Barter

Sebelum ditemukan uang, umat manusia berdagang dalam sistem ekonomi barter. Suatu barang ditukar dengan barang lain sesuai kepentingan masing-masing. Jika Anda punya mangga berlebih, tetapi, Anda membutuhkan pisang maka Anda bisa menukar mangga Anda kepada orang yang punya pisang dan dia membutuhkan mangga dari Anda. Tidak mudah menemukan orang semacam itu kan? Maka, kita menciptakan pasar, di mana, banyak orang berkumpul saling bertukar barang. Di pasar, proses barter menjadi lebih mudah.

Dari sisi realitas, sistem barter ini memberi banyak keuntungan. Pertama, barter lebih menjamin pertukaran yang saling bermanfaat. Beda dengan pertukaran uang yang kadang tidak mengutamakan manfaat tetapi lebih mengutamakan profit. Kedua, barter mendorong pemerataan manfaat dan keadilan sosial. Masing-masing pihak mendorong hak miliknya untuk dimanfaatkan oleh pihak yang membutuhkan. Ketiga, barter mencegah nafsu serakah. Karena menumpuk hak milik tidak serta merta menambah manfaat. Justru, manfaat kita peroleh ketika kita memiliki sesuatu pada kadar yang tepat – tidak terlalu lebih, tidak terlalu kurang.

Kelemahan utama barter adalah tidak efisien, tidak mudah, dan memerlukan waktu dan energi yang lebih besar. Di sisi lain, barter juga tidak mencegah manusia dari kejahatan. Manusia, selalu, punya cara untuk berbuat jahat apa pun sistem ekonominya. Tentu saja, manusia juga selalu punya cara untuk berbuat baik dalam segala situasi. Karena kelemahan-kelemahan barter tersebut maka barter mulai ditinggalkan dan diganti dengan penggunaan uang.

1.2 Uang Emas

Koin emas atau uang emas barangkali menjadi solusi praktis dari kelemahan barter. Nilai emas diakui oleh masyarakat luas. Di saat yang sama, emas bersifat kuat dan stabil, tidak mudah berubah. Dan, yang lebih utama, koin emas bersifat praktis. Maksudnya 1 gram emas, saat ini, bernilai sekitar 1 juta rupiah. Sehingga, hanya dengan 1 keping emas, kita bisa makan malam sekeluarga di restoran mewah. Atau dengan 5 gram emas, kita bisa membeli seekor kambing besar.

Ahli ekonomi kuno sudah menyadari, dengan ditemukannya koin emas maka akan lebih mudah terjadi penumpukan kekayaan kepada hanya segelintir orang. Untuk menjadi kaya raya, seseorang tidak harus memiliki 100 ekor kambing atau 200 ekor sapi. Cukup hanya dengan 10 kg emas maka Anda sudah menjadi kaya. Dan 10 kg emas itu tidak jauh beda dengan 10 kg beras dalam hal ukuran volume dan lainnya. Sehingga, Anda bisa menjadi kaya raya hanya dengan menyimpan 100 kg emas di pojok kamar Anda. Tidak tampak mencolok dari penampilan luar rumah.

Benar saja, orang kaya makin mudah kaya dengan uang emas. Terutama para penguasa, raja, menjadi mudah menumpuk kekayaan dengan cara menguasai emas-emas yang ada di dunia. Para pejabat dan pegusaha besar menjadi kaya raya dengan cara yang sama, menguasai emas yang ada.

Diogenes (404 – 323 SM) adalah kritikus terhadap uang emas di masa-masa awal. Diogenes mengaku dirinya adalah pewaris Socrates yang sebenarnya – bukan Plato. Tetapi, kita lebih mengenal Plato sebagai murid utama dari Socrates karena Plato banyak menulis buku tentang Socrates dan filsafat. Sementara, Diogenes, tampaknya, tidak menulis buku sebanyak Plato. Bagaimana pun, Diogenes adalah pendiri filosofi sinisme: hidup sederhana, merdeka, terbebas dari ikatan dunia materi.

Suatu ketika, kaisar Aleksander Agung, murid dari Aristoteles, penasaran ingin menemui Diogenes yang pemikiran filosofinya begitu unik. Dengan dikawal pasukan khusus, Aleksander mendekati Diogenes pagi itu. Diogenes tetap cuek dengan kedatangan kaisar Aleksander. Diogenes tetap menikmati pagi dengan berjemur sinar matahari.

“Apakah Anda Diogenes?” tanya kaisar.
“Bisakah Anda bergeser sedikit,” jawab Diogenes, “karena tubuh Anda menghalangi cahaya matahari.”

“Seandainya di dunia ini, saya tidak terlahir sebagai Aleksander maka saya ingin menjadi Diogenes,” kaisar melanjutkan.
Diogenes menjawab, “Seandainya saya tidak terlahir sebagai Diogenes, maka, saya ingin terlahir sebagai Diogenes.”

Diogenes mengkritik uang emas karena yang terpenting dari uang bukan nilai emasnya tetapi nilai “trust” atau nilai kepercayaannya. Diogenes mengusulkan agar uang emas diganti dengan uang logam atau uang kertas yang sekarang kita kenal sebagai uang fiat. Nilai dari uang kertas, sebagai uang fiat, adalah sesuai dengan tulisannya. Meski pun nilai kertasnya sendiri barangkali hanya kecil. Karena nilai uang kertas ini dijamin oleh negara atau oleh masyarakat maka tetap terpercaya, trust.

Tentu saja, masyarakat di masa itu tidak bisa memahami maksud uang fiat yang diusulkan oleh Diogenes. Diogenes memang cerdik. Kritik terhadap uang emas bisa dibuktikan secara nyata. Setiap menemukan uang emas maka Diogenes menipiskan sedikit bagian pinggirnya sehingga menghasilkan serbuk emas. Orang tidak mengira bahwa uang emas itu sedikit berkurang beratnya (massanya). Hasil serbuk emas dari koin ini kemudian dikumpulkan menjadi jumlah yang cukup besar. Banyak orang meniru perilaku Diogenes. Orang-orang itu tidak perlu kerja keras menambang emas, cukup mengumpulkan serbuk emas dari koin-koin yang beredar. Mereka lebih cepat kaya dengan cara itu.

Uang emas terbukti tidak bisa dipertahankan!

Secara bertahap, masyarakat meninggalkan uang emas berpindah ke uang logam dan uang kertas seperti sekarang ini. Dan, di era media sosial ini, kita mulai menyaksikan hadirnya uang digital.

Apakah uang emas, kemudian berkembang menjadi uang kertas, adalah lebih baik bagi sistem ekonomi? Apakah uang kertas menjadikan masyarakat lebih adil makmur? Apakah manusia menjadi lebih terbuka untuk saling cinta?

Uang kertas terbukti lebih efisien dan praktis. Sehingga, roda ekonomi lebih mudah berkembang dengan kecepatan tinggi. Siapa pun Anda bisa menjadi kaya dengan menguasai uang kertas. Cukup hanya dengan memiliki uang kertas 1 koper maka Anda sudah menjadi kaya raya. Lebih praktis lagi, uang kertas bisa saja cukup disimpan dalam rekening bank. Anda bisa menjadi kaya raya hanya dengan memiliki rekening yang berisi catatan uang dalam jumlah besar.

SDG Report melaporkan, pada tahun 2021, ekonomi di seluruh dunia mengalami kemajuan. Memang, pada tahun 2020, ekonomi dunia sempat jatuh akibat pandemi. Tetapi, kemudian, ekonomi dunia bangkit lagi. Dalam laporan yang sama, SDG menyatakan meskipun ekonomi di dunia makin maju, di saat yang sama, kesenjangan ekonomi makin curam. Padahal, kesenjangan ekonomi berbahaya bagi umat manusia. Bukan hanya berbahaya bagi kelompok miskin, kesenjangan ekonomi, juga berbahaya bagi kelompok kaya. Sewaktu-waktu peradaban umat manusia bisa runtuh akibat kesenjangan ekonomi yang makin menganga ini. Kita butuh solusi.

Apakah kita perlu kembali ke sistem barter? Atau ke uang emas, dinar, dirham, dan sebagainya?

Analisis kita di atas, menunjukkan bahwa sistem barter dan uang emas, kedua-duanya, sama-sama tidak memadai untuk mengembangkan ekonomi umat manusia. Justru, uang kertas atau uang fiat yang berhasil mendorong perekonomian dunia. Hanya saja, kita perlu menjaga agar kesenjangan ekonomi tetap dalam kadar yang rendah. Kemudian, mencegah dampak negatif pertumbuhan ekonomi misal krisis iklim dan krisis kemanusiaan. Masalah utama bukan terletak pada uang fiat itu sendiri. Masalah justru ada pada manusia. Bagaimana manusia bisa menciptakan sistem ekonomi yang adil makmur? Uang fiat hanyalah salah satu instrumen dari sistem ekonomi. Kita akan menjawab pertanyaan ini di bagian bawah.

Bagaimana pun, tetap ada kritik tajam terhadap uang fiat. Kritik datang dari pendukung uang digital, khususnya, pendukung uang crypto (kripto) yang memanfaatkan teknologi blockchain. Argumen utama mereka adalah uang sebagai simbol kebebasan. Tidak sepantasnya pihak tertentu, misal pemerintah, memiliki wewenang tunggal dalam mencetak uang. Kita bisa berargumen bahwa kritik Diogenes terhadap uang emas bukan untuk memindahkan wewenang uang ke pemerintah. Tetapi, memastikan uang adalah “trust” kepercayaan antara umat manusia yang sama-sama memiliki kebebasan.

Kita bisa belajar dari sejarah; awalnya, uang logam dan uang kertas dijamin oleh emas; ketika Anda punya 100 dolar, misalnya, Anda bisa menukar dengan emas ke pemerintah sebagai jaminan. Tetapi, sejak 1971, US melepaskan jaminan emas tersebut. Jadi, dolar tidak ada jaminan emas lagi. Negara-negara lain, tampak, mengikuti US dengan meniadakan jaminan emas. Dengan demikian, uang adalah “sekedar” saling trust antar umat manusia. Justru ini menjadi fenomena yang sangat menarik.

1.3 Uang Digital

Uang digital atau uang elektronik sudah berkembang pesat puluhan tahun ini. Di sini, kita perlu membedakan uang digital yang sejatinya uang fiat dengan uang digital yang sejatinya uang kripto (crypto currency). Uang digital, yang saat ini beredar, nyaris seluruhnya adalah uang fiat. Sementara, uang kripto baru mulai berkembang semisal bitcoin, ethereum, dogecoin, dan lain-lain.

Uang fiat digital memiliki karakter mirip dengan uang fiat biasa dengan beberapa kelebihan. Pertama, cepat. Kita bisa transaksi dengan uang digital online di berbagai penjuru dunia. Kedua, terjaga. Khususnya uang digital yang “catatannya” disimpan dalam sistem misal kartu ATM. Ketika kartu ATM hilang maka kita bisa minta ganti kartu tanpa kehilangan nilai uangnya. Beda dengan uang kertas bila hilang atau terbakar, misalnya, maka nilai uang kertas tersebut ikut hilang dari Anda. Ketiga, histori. Semua transaksi uang digital, hakikatnya, tercatat dalam sistem. Sehingga, seorang koruptor tidak akan mengirimkan uang korupsi berupa uang digital karena catatan historinya mudah ditelusuri.

Dengan mempertimbangkan keunggulan uang fiat digital, kita bisa menilainya sebagai “penguat” uang fiat biasa. Kita menduga uang digital akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih besar, di saat yang sama, menyebabkan krisis kemanusiaan dan krisis iklim juga lebih besar. Sehingga, kita memerlukan solusi yang lebih baik untuk uang fiat digital. Uang kripto perlu menjadi pertimbangan.

Uang kripto, misal bitcoin, beda dengan uang fiat digital. Meski, mereka sama-sama digital. Uang kripto mengklaim diri sebagai freedom: bebas. Benarkah demikian?

Pertama, uang fiat dicetak dan diatur oleh pemerintah, misal Bank Indonesia. Sementara, uang kripto “dicetak” oleh masyarakat tanpa ada peran bank sentral. Rakyat benar-benar bebas “mencetak” uang kripto. Teknologi blockchain menjadi instrumen bagi masyarakat bebas untuk “mencetak” uang kripto. Tanpa instrumen teknologi yang memadai maka masyarakat tidak bisa mencetak uang kripto. Artinya, uang kripto tidak bisa dicetak pada abad lalu, abad 20, karena instrumen teknologi tidak memadai.

Kedua, nilai uang fiat dipengaruhi intervensi pemerintah. Sementara, nilai uang kripto, sepenuhnya, ditentukan oleh masyarakat. Masyarakat bebas untuk menentukan nilai uang kripto. Lagi-lagi teknologi blockchain menjadi platform yang mendukung ini. Ketiga, uang kripto bersifat anonim. Bila Anda ingin transaksi rahasia maka Anda bisa, benar-benar, sembunyi dalam uang kripto.

Dengan beragam keunggulan uang kripto, barangkali kita bisa optimis bahwa uang kripto akan berhasil menciptakan kehidupan umat manusia yang adil makmur dan dalam suasana freedom. Apakah uang kripto akan bisa seperti itu? Masih terlalu dini untuk memberi jawaban akhir.

Memang uang kripto memberi “kekuasaan” yang besar kepada masyarakat sehingga masyarakat bisa mengimbangi kekuasaan penguasa, misal pemerintah. Tentu saja, penguasa tidak dengan mudah melegalkan uang kripto. Karena uang kripto bisa menggoyang kekuasaan status quo. Di beberapa negara, uang kripto dianggap sebagai tidak legal. Wajar.

Dengan suksesnya bitcoin, sebagai salah satu contoh uang kripto, tentu memberi motivasi bagi banyak pihak untuk mengembangkan uang kripto secara mandiri. Saat ini, tahun 2022, setidaknya sudah ada 9900 jenis uang kripto di pasar bebas. Memang benar bahwa bitcoin saat ini, tampaknya, dimiliki oleh orang-orang kelas kaya (tentu kita tidak bisa tahu secara pasti karena anonim). Namun, di antara ribuan uang kripto yang ada, atau yang akan muncul, barangkali akan ada yang berhasil mewujudkan masyarakat adil makmur dalam suasana freedom.

Mari kita ringkas ulang pembahasan kita dari sistem barter, uang fiat, sampai uang kripto. Sistem barter sudah ketinggalan jaman maka tidak layak jadi pilihan saat ini. Sementara, uang kripto masih terlalu awal untuk bisa diandalkan meski kita berharap banyak uang kripto bisa jadi solusi. Pilihan yang tersisa, saat ini, adalah uang fiat, baik berupa uang kertas atau pun uang fiat digital.

Uang fiat terbukti berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi tetapi dengan harga yang mahal pula: krisis iklim dan krisis kemanusiaan. Bagaimana pun, krisis ini bukan disebabkan oleh uang fiat itu sendiri, melainkan disebabkan oleh manusianya. Sementara, uang fiat berperan sekedar sebagai instrumen hasrat manusia. Sehingga, solusi bisa saja tetap memakai uang fiat atau tidak memakainya. Solusi ini menjadi makin sulit karena melibatkan hasrat manusia yang tidak bisa dipastikan. Sejatinya, hasrat adalah ungkapan cinta dari manusia. Sebagaimana biasa, manusia selalu bisa membelokkan cinta jadi dusta. Kita perlu waspada.

1.4 Harga Raga Jiwa

Hasrat manusia kepada uang teramat besar. Atau, uang yang menyebabkan hasrat manusia menjadi lepas kendali terus membesar. Manusia, yang sejatinya punya kebebasan, menjadi terikat oleh hasrat. Pada gilirannya, hasrat terikat oleh uang. Orang mengira bahwa dirinya bisa mengendalikan uang. Sebaliknya yang terjadi, manusia yang dikendalikan oleh uang. Tentu saja, kecuali orang-orang tertentu.

Wajar bila seseorang berdonor organ tubuhnya demi orang lain, misal donor ginjal. Menjadi sulit dipahami bila seseorang menjual organ tubuhnya demi mendapatkan uang. Lebih rumit lagi ketika terjadi pencurian organ tubuh beberapa puluh tahun yang lalu. Calon korban dibius, kemudian, ginjalnya diambil oleh pelaku. Selanjutnya, pelaku menjual organ curian itu ke pembeli termahal. Organ tubuh manusia bisa dibeli dengan uang. Tentu, ngeri sekali. Badan manusia bisa dinilai dengan uang.

Lengkap sudah manusia bisa dihitung berdasar uang. Organ tubuhnya bisa dihitung dengan uang. Sementara, jiwanya dan hasratnya dikendalikan oleh uang. Maka jiwa dan raga manusia, totalitas, bisa dibeli dengan uang. Tentu saja, tidak manusiawi. Itulah realitas hari demi hari.

1.5 Politik Uang

Politikus berpikir bahwa dia bisa memenangkan kompetisi politik dengan memainkan uang. Pada gilirannya, politikus itu sendiri yang dikendalikan oleh uang. Dan, masyarakat luas yang dikendalikan oleh politikus itu, sejatinya, dikendalikan oleh uang juga.

Politikus bisa saja berpikir idealis untuk membangun negara. Politikus berpikir bisa menetapkan undang-undang sedemikian hingga undang-undang itu mengantar rakyat adil makmur. Di saat yang sama, politikus sadar akan dampak dari undang-undang yang mereka tetapkan. Apa yang akan terjadi jika undang-undang membawa dampak positif kepada masyarakat tetapi tidak menyebabkan politikus terpilih kembali menduduki kursi jabatan? Ataukah, lebih menarik untuk menetapkan undang-undang yang konvensional tetapi berdampak dirinya, sang politikus, terpilih kembali menduduki jabatan politis?

Noam Chomsky (lahir 1928) mencermati bahwa siapa pun pemenang kontes politik, pada gilirannya, kekuasaan dikendalikan oleh perusahaan besar. Politikus tahu siapa yang membiayai kemenangan kampanye politik mereka. Dan, politikus juga tahu biaya yang dibutuhkan untuk tetap bertahan di kursi jabatan. Perusahaan-perusahaan raksasa adalah rekanan paling tepat untuk mereka, secara langsung atau tidak langsung. Perusahaan besar sudah teruji sebagai pihak yang paling mahir memainkan uang.

Meski secara resmi politik uang adalah terlarang, tetapi secara realita, politik uang bisa ada di mana saja. Kekuatan dahsyat uang telah berhasil menenggelamkan idealisme politik di berbagai wilayah.

Sampai di sini, pembahasan kita tentang uang, seakan-akan uang adalah sumber dari segala masalah kemanusiaan. Bagaimana pun, kita juga sudah menegaskan bahwa masalahnya bukan pada uangnya tetapi pada sisi manusianya. Uang adalah sekedar instrumen bagi sistem ekonomi. Uang adalah instrumen bagi manusia. Maka, kita akan mengusulkan solusi ekonomi yang melibatkan sisi kemanusiaan di bagian bawah. Dengan harapan, sistem ekonomi bisa kembali menjadi manifestasi cinta bagi seluruh umat manusia.

2. Ekonomi Angka Semata

Pembelokan ekonomi cinta makin parah ketika uang bisa digantikan oleh angka-angka belaka – misal uang digital, valuta asing, saham, dan lain-lain. Pertumbuhan ekonomi, bisa saja, hanya bermakna bagi kelompok kaya. Pertumbuhan ekonomi bukan pertumbuhan ekonomi real. Hanya pertumbuhan angka-angka bagi kelas kaya. Bagaimana pun, angka-angka itu tetap bermakna sebagai kemewahan dunia.

2.1 Pertumbuhan bukan Profit

Peter Drucker (1909 – 2005) menekankan pentingnya bagi perusahaan untuk tetap profit. Dengan cara ini, perusahaan menjadi sehat dan mampu berinteraksi dengan masyarakat secara wajar. Menjelang akhir abad 20 dan awal abad 21, rumusan Drucker mulai banyak yang menentang. Apa lagi dengan munculnya era digital, fokus terhadap profit mulai tertinggal.

Intuisi kita, sebagai orang awam, setuju dengan Drucker yang ahli ekonomi itu bahwa perusahaan perlu untuk tetap profit. Sementara, pemain bisnis memiliki cara pandang yang lebih cerdik. Profit bukan yang paling utama. Bisa saja perusahaan rugi bertahun-tahun dalam jumlah trilyunan rupiah. Di saat yang sama, perusahaan itu tetap “menguntungkan” sehingga tetap dipertahankan. Kita melihat banyak kasus akhir-akhir ini di perusahaan penerbangan, marketplace, transportasi, minimart, dan lain-lain yang tidak profit tetapi “menguntungkan.”

Salah satu ukuran lebih penting dari profit adalah pertumbuhan. Selama perusahaan membukukan pertumbuhan pendapatan, meski tidak profit, dipandang baik-baik saja. Dalam skala negara, pertumbuhan ekonomi menjadi ukuran paling utama. Jika tumbuh mendekati 5%, apalagi dua digit, maka negara tersebut dipandang sebagai negara yang sukses. Padahal, di negara yang sama, bisa saja terjadi ketimpangan ekonomi, tidak adil, perusakan lingkungan dan sebagainya.

Ukuran pertumbuhan bisa membuat kita terlena dari beragam resiko di atas. Sementara, fokus kepada profit nyata menjaga kita untuk tetap berinteraksi wajar dengan alam sekitar. Tentu saja, fokus hanya kepada profit tidak cukup. Kita tetap perlu mempertimbangkan aspek kemanusiaan.

2.2 Dominasi bukan Prestasi

Lanjutan dari pertumbuhan perusahaan adalah dominasi. Kita menyadari bahwa monopoli dilarang di berbagai tempat. Sementara, dominasi dibolehkan di mana-mana. Selanjutnya, setelah dominasi, perusahaan bisa “praktek monopoli” atas nama pasar bebas.

Barangkali, kita masih ingat kasus beberapa perusahaan besar mendominasi market. Kemudian, semua pesaing berguguran. Tinggal perusahaan besar yang dominan itu mengambil keuntungan. Di Indonesia, beberapa tahun lalu, kita mengenal istilah perusahaan sedang “bakar uang.” Perusahaan menebar program promo harga murah dan bonus besar. Orang-orang jadi berlangganan. Padahal perusahaan tersebut rugi sampai trilyunan – “bakar uang.” Sementara, perusahaan kecil yang akan bersaing pasti kalah. Jangankan rugi trilyunan rupiah, rugi 3 juta rupiah saja perusahaan kecil dan mikro sudah gulung tikar.

Setelah itu, perusahaan yang “bakar uang” menjadi dominan. Dia bebas melakukan beragam manuver untuk mengambil keuntungan. Bukan monopoli tetapi dominasi. Persaingan, nyaris sudah hilang.

Kita tahu bahwa kita perlu kompetisi yang sehat untuk menghasilkan prestasi terbaik bagi masing-masing perusahaan dan masyarakat luas. Persaingan yang sehat tidak menjamin suatu perusahaan pasti akan menang. Karena itu, investasi di dunia persaingan sehat sangat beresiko. Investasi akan lebih aman bila berada pada posisi dominan. Konsekuensi wajar, dominasi lebih utama dari prestasi.

Apakah sistem ekonomi mengutamakan dominasi adalah baik?

Barangkali berdampak baik bagi pihak dominan. Tetapi, bisa berdampak buruk ke masyarakat luas. Dampak susulan dominasi adalah terjadinya kesenjangan sosial. Sebagaimana SDG mengungkapkan bahwa kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi, berbahaya bagi umat manusia. Dominasi juga berdampak hilangnya kebebasan. Rakyat tidak lagi bebas membuka usaha. Karena, bisa dipastikan, rakyat biasa yang bersaing dengan pihak dominan akan kalah melalui satu dan lain cara. Atau, jika rakyat itu sangat kreatif dan kuat, dia terpaksa harus kolaborasi dengan pihak dominan. Untuk kemudian, usaha rakyat itu diakuisisi oleh pihak dominan.

Kita butuh kompetisi yang sehat. Kita butuh masyarakat yang sehat. Kita butuh ekonomi yang sehat, ekonomi yang menjadi manifestasi cinta bagi sesama.

2.3 Cinta Angka

Kita sampai ke bagian paling bahaya: cinta ditukar oleh angka.

Uang adalah angka. Kekayaan adalah angka. Pertumbuhan adalah angka. Dominasi adalah angka. Ekonomi adalah angka. Manusia adalah angka. Cinta adalah angka.

Dan, kita tahu angka adalah tak hingga. Selalu ada angka yang lebih besar dari angka yang pernah Anda bayangkan. Selalu ada uang yang lebih besar dari uang yang Anda bayangkan. Selalu ada hasrat yang lebih besar dari hasrat yang pernah Anda rasakan.

Libido keserakahan menjadi tanpa batas karena angka yang tertulis pada uang juga tanpa batas. Uang sendiri menjadi tak terbatas pada uang saja, karena, angka muncul dalam ragam variasi: valuta asing, saham, nilai properti, hak cipta, sampai crypto currency.

Ketika umat manusia fokus hanya kepada angka maka semua bisa hilang makna. Transaksi ekonomi yang semula saling memberi manfaat berganti menjadi hanya angka-angka belaka. Kerusakan lingkungan, yang menjadikan orang-orang miskin kelaparan, berubah menjadi data angka-angka belaka. Rakyat yang hidupnya terbelenggu dalam jurang kemiskinan pun hanya angka-angka belaka.

Apa pentingnya angka-angka? Angka adalah segalanya. Atau, segalanya adalah angka.

Deleuze (1920 – 1995) mengingatkan bahwa mesin pendorong manusia adalah hasrat-produksi. Di mana, dengan angka, hasrat-produksi ini makin tampak nyata. Hasrat yang semula kecil, hasrat ingin menikmati rumah kecil, tumbuh menjadi besar. Karena besar adalah angka maka pasti ada angka yang lebih besar, ada hasrat yang lebih besar dari yang besar itu. Dan, orang menyangka bisa memuaskan hasrat dengan konsumsi suatu produk atau jasa. Tidak bisa, nyatanya, manusia tidak bisa puas. Konsumsi, sejatinya, adalah memproduksi hasrat yang lebih besar lagi. Makin besar seseorang melakukan konsumsi maka makin besar hasrat yang dia produksi.

Ekonomi hasrat, ekonomi libido, ekonomi serakah tentu saja berbahaya bagi umat manusia. Kita akan merumuskan beberapa rekomendasi solusi di bagian bawah berikut ini.

3. Penjara vs Sasana

Di bagian akhir ini, kita akan mencoba merumuskan solusi ekonomi cinta. Ekonomi yang seharusnya menjadi sarana kemajuan umat manusia telah berubah menjadi penjara bagi umat manusia. Kita sudah memiliki beragam teori dan alat ukur untuk menciptakan sistem ekonomi yang adil makmur. Pertumbuhan ekonomi, tentu, menjadi ukuran paling utama. Di saat yang sama, kita perlu menjamin pemerataan dan menghapus kesenjangan yang ada. Rasio gini dan rasio power paman menjadi andalan utama. Dengan demikian, kita berhak optimis untuk mengarahkan ekonomi sebagai jalan cinta, mengubah penjara menjadi sasana cinta.

3.1 Cahaya Ekonomi

Hakikat dari ekonomi adalah cahaya, adalah cinta. Sehingga, sistem ekonomi adalah sistem yang mengantarkan manusia menuju jalan terang kemajuan peradaban. Bila ada sistem ekonomi serakah, ekonomi tanpa moral, maka itu adalah pembelokan dari sistem ekonomi cahaya. Kita tetap punya harapan untuk kembali merancang sistem ekonomi yang bercahaya.

Kita membutuhkan analisis kritis terhadap setiap sistem ekonomi. Kita perlu bersikap pesimis terhadap sistem ekonomi yang ada. Pandangan kritis ini membantu kita untuk mengenali dampak negatif sistem ekonomi, untuk kemudian, kita menyiapkan solusi yang memadai. Masing-masing individu, di antara kita, menyimpan cahaya. Kita bisa, bersama-sama, memancarkan cahaya dalam sistem ekonomi cahaya.

3.2 Ruang Temu Barzakh

Sistem ekonomi adalah barzakh yang merupakan ruang temu antara cahaya dan gelap. Kita memerlukan gelap itu untuk memahami cahaya. Kita menyadari pentingnya cahaya lampu ketika ruang gelap. Tetapi, kita bisa meremehkan cahaya lampu ketika berada di tengah lapang, di bawah terik matahari. Cahaya lampu menjadi berarti karena ada ruang yang gelap. Sistem ekonomi adalah ruang temu cahaya dan gelap seperti itu.

Dalam ruang temu cahaya dan gelap, seseorang bisa saja terjebak dalam sisi gelap. Mereka yang menjalani sistem ekonomi serakah adalah orang yang sedang terjebak dalam sisi gelap ekonomi. Mereka hanya berputar-putar dalam ruang gelap. Makin lama, makin terperangkap. Tetapi perangkap gelap ini bukan hanya berlaku terhadap individu. Perangkap gelap itu bisa terjadi secara sistemik, memang sistem ekonominya yang menjebak para individu. Ruang temu cahaya itu berubah menjadi penjara bagi cahaya. Cahaya-cahaya individu terjerat dalam jeruji gelap.

Dengan demikian, kita bisa mempertimbangkan solusi ekonomi cahaya dalam tiga bentuk. Pertama, solusi personal di mana masing-masing orang berperilaku dengan moral tinggi dalam menjalankan kegiatan ekonomi. Kedua, solusi sistem di mana kita merancang sistem ekonomi yang memastikan setiap anggota masyarakat mendapatkan hak dan kewajiban ekonomi secara adil makmur. Ketiga, kombinasi dari solusi personal dan sistem. Dalam kombinasi ini, bobot aspek personal dan aspek sistem bisa beragam. Sehingga, solusi kombinasi ini sangat beragam.

3.2.1 Solusi Pribadi

Solusi personal mengandalkan kesadaran individu-individu untuk menjunjung moral tinggi dalam kegiatan ekonomi. Jika masing-masing individu bermoral tinggi, maka, keseluruhan sistem ekonomi akan menjadi ekonomi cahaya yang adil makmur. Meski tampak mudah, solusi personal sulit untuk realisasi. Karena, masing-masing individu adalah agen yang bebas dalam transaksi ekonomi. Sehingga, mereka sewaktu-waktu bisa melanggar standar moral. Tidak ada yang bisa mencegah pelanggaran itu.

Hobbes (1588 – 1679) meyakini bahwa bila setiap individu berniat baik di masyarakat, sama-sama bebas berbuat baik, hasilnya adalah sistem ekonomi yang buruk. Karena, setiap orang akan mengejar “kebaikan” versi masing-masing yang, pada gilirannya, saling merugikan di antara mereka. Atau, bahkan merugikan dalam skala komunitas. Hobbes memandang manusia lebih kuat dari sisi gelapnya. Pandangan pesimis Hobbes ini mengingatkan kita untuk tidak merasa cukup hanya dengan solusi personal. Hobbes sendiri mengusulkan solusi yang, menurut pandangan banyak pengamat, terlalu besar memberi kekuatan kepada negara.

Locke (1632 – 1704) adalah murid dari Hobbes. Locke merevisi berbagai macam pandangan Hobbes. Memang akan terjadi konflik dalam masyarakat bila masing-masing manusia bebas berbuat sesuai keinginan baik mereka. Tetapi, dalam konflik ini, pihak-pihak tidak bermaksud untuk mengeruk keuntungan bagi dirinya sendiri. Mereka hanya menuntut keadilan. Meski demikian, tuntutan terhadap keadilan ini bersifat bias. Tanpa sengaja, masing-masing pihak melakukan tuntutan secara berlebihan. Masalah peliknya, dalam banyak kasus, tidak ada acuan jelas tentang praktek keadilan. Maka, kita perlu membangun masyarakat sipil yang berpegang pada hukum.

Nozick (1938 – 2002) melangkah lebih jauh dengan mempercayai kebebasan manusia. Freedom adalah hak paling dasar bagi setiap manusia. Tidak ada yang bisa melanggar kebebasan orang dengan dalih apa pun. Termasuk negara, tidak berhak membatasi kebebasan setiap warga. Barangkali sejalan dengan Sartre, “Manusia adalah kebebasan dan kebebasan adalah manusia.” Sehingga, Nozick mengusulkan bentuk negara sebagai negara-minimalis. Sementara, peran terbesar tetap kepada masing-masing individu.

Suhrawardi (1154 – 1191) menyadari bahwa manusia memiliki sisi cahaya dan sisi gelap. Meski, yang sejati adalah aspek cahaya, tetapi, sisi gelap sewaktu-waktu bisa menyergap. Karena itu, Suhrawardi menyarankan umat manusia untuk hidup sederhana. Kehidupan ekonomi hanya secukupnya saja. Memanfaatkan kekuatan ekonomi untuk saling membantu di antara sesama umat manusia. Dan, umat manusia perlu lebih fokus mengembangkan peradaban yang maju melalui pencerahan pengetahuan dan jiwa.

Epicurus (341 – 270 SM), sejak awal, mengingatkan bahwa tugas manusia adalah menikmati kehidupan ini. Agar bisa menikmati hidup maka setiap manusia perlu membatasi diri. Konsumsi hanya secukupnya saja, bahkan, produksi juga secukupnya. Termasuk profit atau pertumbuhan ekonomi hanya secukupnya saja. Sesuatu yang berlebihan justru akan membuat seseorang gagal menikmati kehidupan.

Kita bisa meringkas bahwa solusi personal, solusi pribadi, tidak akan mencukupi untuk mengembangkan sistem ekonomi cahaya. Tetapi, solusi personal adalah suatu keharusan bagi setiap individu. Tanpa solusi personal yang baik maka solusi apa pun akan gagal. Sementara, dengan solusi personal, minimal, masing-masing individu bisa mengembangkan sistem ekonomi cahaya dalam skala kecil.

Solusi personal terbaik, di antaranya, adalah: [1] etika ekonomi dengan membatasi konsumsi diri sekedarnya saja; tidak berlebih; sedikit kurang dari yang dibutuhkan; [2] memanfaatkan sumber ekonomi untuk membantu sesama dan mengembangkan semesta; sistem ekonomi adalah media untuk berbagi; dan [3] memaknai kegiatan ekonomi sebagai bermakna kegiatan ruhani; puasa ekonomi adalah kebahagiaan manusiawi sejati.

3.2.2 Solusi Sistem

Berikutnya, kita akan mencoba mengkaji beberapa solusi sistemik, sosial, atau kenegaraan. Barangkali, kita akan memilih sedikit saja, yaitu sistem ekonomi kapitalisme, komunisme, dan teonomis. Saat ini, kapitalisme dianggap sebagai sistem ekonomi paling berhasil, benarkah? Komunisme dianggap gagal di beberapa tempat, tetapi, kemampuan adaptasinya membuat banyak pihak tertarik membuat revisinya. Sedangkan, teonomis, yaitu sistem ekonomi berdasar aturan agama, dianggap pernah berhasil di masa lalu. Apakah bisa menjadi solusi terbaik di masa kini?

3.2.2.1 Kapitalis

Adam Smith (1723 – 1790) adalah pemikir ekonomi paling brilian di masanya. Pada umumnya, orang-orang menyebut Smith sebagai bapak ekonomi kapitalis. Smith meyakini pasar bebas dan persaingan bebas adalah jalan terbaik untuk membangun ekonomi negara. Kelak, konsep Smith ini menjadi fondasi ekonomi kapitalis. Sejak itu, memang benar, pertumbuhan ekonomi makin maju lengkap dengan dinamikanya. Produsen dari Eropa makin gencar meluaskan pasar sampai ke Asia dan Afrika. Ditambah dengan filosofi Hobbes bahwa sebagian besar manusia tidak mampu mengatur diri-sendiri, pertumbuhan ekonomi kapitalis seiring dengan perkembangan kolonialis.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa Eropa berkembang pesat. Bermunculan orang kaya baru dari berbagai macam lapisan masyarakat. Inovasi di bidang industri makin subur. Bukan hanya bangsawan yang bisa hidup makmur. Siapa pun orangnya bisa bersaing untuk menjadi makmur. Tentu saja, tidak seindah itu bila kita membaca dari sudut yang berbeda. Dari kacamata rakyat Asia dan Afrika, ekonomi kapitalisme justru banyak merugikan. Kemiskinan ada di mana-mana. Pengerukan kekayaan alam sampai merusak bumi. Dan, ketimpangan ekonomi makin menjadi-jadi.

Dari dalam diri kapitalisme sendiri, muncul problem serius. Awal abad 20, kemampuan pabrik-pabrik industri makin tumbuh besar. Hasil produksi mereka lebih banyak dari yang dibutuhkan oleh masyarakat. Akibatnya, terjadi kelebihan produksi, kelebihan penawaran. Tidak ada pembelian atau permintaan yang memadai. Ekonomi kapitalis macet. Terjadi krisis dan resesi ekonomi di dunia. Kapitalisme terjebak dalam perangkapnya sendiri.

Keynes (1883 – 1946) adalah pahlawan ekonomi kapitalis dunia. Pertumbuhan ekonomi bukan ditentukan oleh kemampuan produksi. Tetapi oleh agregat permintaan. Atau, dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingkat konsumsi. Semakin besar konsumsi masyarakat maka makin besar pertumbuhan ekonominya. Industri ekonomi kapitalis beradaptasi dengan mencermati pertumbuhan konsumsi, untuk kemudian, memproduksi barang atau jasa sesuai kebutuhan. Benar saja, krisis ekonomi teratasi waktu itu menjelang pertengahan abad 20. Perusahaan-perusahaan berusaha memahami kebutuhan konsumsi masyarakat. Bahkan, jika tidak ada kebutuhan dari masyarakat maka bisa diciptakan citra kebutuhan melalui iklan yang menggoda.

Industri iklan menjadi dominan. Bukan hanya inovasi produksi yang penting, inovasi iklan yang menciptakan rasa haus masyarakat terhadap konsumsi bahkan lebih penting. Ketika hasrat konsumsi itu sudah tinggi, maka, tugas industri untuk memproduksi barang adalah suatu tugas yang ringan. Benar saja, pertumbuhan ekonomi membubung tinggi kembali.

Yang mengagumkan dari ekonomi kapitalis adalah kemampuannya beradaptasi, misal, ketika menghadapi krisis ekonomi. Di awal abad 21 ini, ekonomi kapitalis menghadapi krisis besar lagi dengan terjadinya pandemi covid nyaris di seluruh dunia. Sistem ekonomi dunia lumpuh. Di tahun 2022, mulai tampak tanda-tanda kebangkitan kembali ekonomi kapitalis. Mengagumkan!

Tetapi, ekonomi kapitalis menghadapi masalah pelik yang tidak mampu mereka tangani. Pertama, kesenjangan sosial ekonomi. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Hampir di seluruh dunia terjadi kesenjangan ekonomi dan belum ada tanda-tanda untuk solusi. Kedua, dominasi pihak kuat ke pihak lain. Dalam pasar bebas, dan persaingan bebas, pihak kuat bisa mendominasi pihak lain dengan cara yang halus dan samar. Ketiga, krisis bumi dan semesta. Kapitalisme memang tidak mengutamakan tujuan menjaga bumi, barangkali sebalikya, menjaga bumi dianggap sebagai tanggung jawab pihak lain. Kapitalisme mengutamakan profit, pertumbuhan, dan kapital itu sendiri. Masih banyak krisis lain, yang tidak mampu diselesaikan oleh kapitalisme. Apakah kapitalisme akan mampu beradaptasi lagi?

3.2.2.2 Sosialis

Kedua adalah ekonomi komunisme, setelah kapitalisme sebagai yang pertama. Barangkali, kita menggunakan kata “sosialis” atau “sosialisme” lebih nyaman dalam diskusi kita. Ekonomi sosialis sejak awal sudah bersikap kritis terhadap kapitalisme. Dan, kritik-kritik dari sosialis ini terus bertumbuh subur sampai sekarang.

Marx (1818 – 1883), barangkali tepat, kita sebut sebagai filsuf terbesar sampai abad 20. Kritiknya terhadap kapitalisme tepat sasaran di berbagai tempat. Tapi, banyak meleset dalam meramal masa depan. Memang, siapa yang bisa meramal masa depan?

Pertama, kapitalisme akan menghancurkan dirinya sendiri. Kapitalisme akan menciptakan kelas pekerja lawan kelas kaya. Mereka berkontradiksi, lalu terjadi revolusi, dan terbentuklah masyarakat pasca-revolusi yaitu masyarakat adil makmur tanpa kelas. Kritik ini benar bahwa kapitalisme menciptakan kesenjangan antar kelas: kelas pekerja lawan kelas kaya. Tetapi tidak benar bahwa, kemudian dengan sendirinya, disusul terciptanya masyarakat adil makmur. Atau, tidak terbukti bahwa tercipta masyarakat adil makmur.

Kedua, kapitalisme menyebabkan keterasingan masyarakat. Para pekerja terasing dengan hasil kerjanya. Misal, pekerja pabrik yang merapikan tumpukan roda terasing dengan produk mobil jadi. Pekerja itu tidak mengenali konsumen yang membeli mobil dengan bahagia untuk jalan-jalan bersama keluarga. Padahal, pekerja itu akan makin bahagia bila melihat hasil kerjanya membuat orang bahagia sekeluarga. Pekerja itu terasing. Dia hanya bekerja merapikan tumpukan roda – tanpa makna.

Pekerja yang terasing dari makna kerja, bukan hanya pekerja pabrik. Nyaris semua pekerja, atau semua orang dalam sistem ekonomi kapitalis, terasing dari makna kerjanya. Direktur terasing dari hasil kerjanya karena direktur hanya melihat angka-angka pertumbuhan profit atau pertumbuhan nilai saham belaka. Direktur tidak harus peduli dengan produk perusahaan apakah akan memberi manfaat kepada masyarakat. Tetapi, meningkatkan angka profit atau angka valuasi perusahaan adalah wajib bagi direktur. Tentu saja, krisis keterasingan ini berbahaya karena sudah melanda ke mana-mana.

Ketiga, kapitalisme menyebabkan pemujaan kepada kapital. Sudah kita sebutkan di atas bahwa ekonomi serakah, ekonomi libido, menyebabkan orang-orang memuja uang dan kapital. Pemujaan yang berlebihan tanpa batas akhir. Semua orang hanya mengejar uang, atau kapital, yang memang menjadi pujaan mereka.

Masih banyak kritik-kritik lain dari sosialis ke kapitalis. Lalu, apa solusi dari sosialis? Sosialis mengusulkan sistem sosial yang adil tanpa kesenjangan antar kelas. Bagaimana caranya? Bisa revolusi atau reformasi. Mereka cenderung memilih cara revolusi. Ada yang berhasil untuk revolusi, sebagian gagal.

Fukuyama (lahir 1952) mengklaim bahwa sistem ekonomi sosial-komunis telah runtuh pada tahun 1990an ditandai dengan runtuhnya tembok Berlin. Yang tersisa, sejak itu, adalah sistem ekonomi kapitalisme-liberal. Meski, klaim Fukuyama ini benar di beberapa bagian tetapi salah di banyak bagian lainnya. Kita melihat ada Cina yang berhasil dengan sistem sosialis dalam beberapa aspek. Dan, kita melihat Brunei berhasil dengan sistem teonomis dalam aspek tertentu.

Catatan dari SDG Report menunjukkan bahwa Cina, negara sosialis terbesar, 20% penduduknya di bawah garis kemiskinan pada awal tahun 2000an. Saat ini, pada tahun 2020an, hanya 1% penduduk Cina yang miskin. Cina lebih bagus dari banyak negara lain. Misal, kemiskinan di Indonesia sekitar 10% penduduk (atau 20% tergantung standar garis kemiskinan). Sedang kemiskinan di Amerika sekitar 6% penduduk. Demikian juga dalam kesenjangan ekonomi, di Cina tidak terjadi kesenjangan yang tajam. Sementara, di negara kapitalis, benar-benar terjadi kesenjangan ekonomi yang tajam.

Bagaimana pun, Cina adalah negara sosialis tetapi berbeda dengan konsep negara sosialis di awal. Cina sudah beradaptasi dengan konsep kapitalis. Misal, di Cina saat ini, diijinkan perusahaan besar berkembang layaknya perusahaan kapitalis. Kita mengenal nama-nama besar seperti Alibaba, Huawei, dan lain-lain. Dari aspek sosial, Cina beradaptasi dengan mengijinkan rakyatnya menjalankan agama sesuai keyakinan. Padahal, awalnya, negara sosialis menolak agama. Bahkan, saat ini, Cina termasuk salah satu negara dengan penduduk beragama islam terbesar di dunia.

Sehingga, kita bisa menolak Fukuyama yang mengatakan komunisme sudah runtuh karena, misalnya, masih ada Cina. Begitu juga, kita bisa menolak Marx yang mengatakan kapitalisme menghancurkan diri sendiri karena, sampai sekarang, masih berdiri banyak negara kapitalis. Demikian juga, kita bisa menolak orang yang mengatakan teonomis sudah runtuh. Tidak benar bahwa sistem ekonomi berbasis agama sudah runtuh. Karena, ada beberapa negara teonomis yang tegak berdiri misal Brunei. Baik kapitalis, sosialis, mau pun teonomis, mereka semua memiliki kemampuan beradaptasi. Umat manusia, memang, mampu beradaptasi.

3.2.2.3 Teonomis

Ketiga, sistem ekonomi teonomis berbasis agama perlu kita bahas. Kapitalis adalah pertama, sosialis adalah kedua, dan teonomis adalah ketiga dalam urutan pembahasan kita kali ini. Sistem ekonomi teonomis, sepanjang sejarah, justru yang terbukti pernah paling sukses. Jaman kejayaan Islam, terbukti ekonomi maju. Jaman kejayaan Kristen, terbukti ekonomi maju. Dan, agama-agama lain juga memiliki sistem ekonomi yang bagus. Barangkali, sukses sistem ekonomi teonomis ini bila dijumlahkan rentang waktunya bisa melebihi 10 abad. Sementara, sukses sistem ekonomi kapitalis baru terbukti 2 atau 3 abad terakhir ini saja. Demikian juga, sukses sistem ekonomi sosialis barangkali masih kurang dari 1 abad. Sehingga, layak bagi kita untuk menimbang kembali teonomis sebagai solusi.

Keunggulan sistem teonomis adalah lengkap, komprehensif, dan tentu adaptif. Teonomis mengkaji konsep ekonomi dari masa lalu (ribuan tahun yang lalu), masa kini, dan masa depan, bahkan masa depan yang jauh yaitu masa setelah kematian – misal kehidupan di akhirat. Teonomis memandang kegiatan ekonomi sebagai suatu aktivitas yang saling terhubung dengan bidang-bidang lain. Ekonomi terhubung dengan nilai ibadah dan moral agama. Sehingga, kegiatan ekonomi memiliki nilai sakral. Kegiatan ekonomi terhubung dengan peningkatan pendidikan masyarakat, menjaga kesehatan masyarakat, dan menjaga kelestarian alam raya. Berbeda dengan kapitalisme yang memandang ekonomi hanya sebagai media maksimalisasi profit. Berbeda juga dengan sosialisme yang memandang ekonomi hanya sebagai sumber daya yang harus “disosialisasikan.” Teonomis, benar-benar, memiliki prespektif yang komprehensif.

Bila teonomis begitu hebat, maka, mengapa sistem ekonomi teonomis bisa runtuh?

Kita perlu mengkaji secara mendalam untuk menjawab pertanyaan itu. Saya berhipotesis ada tiga faktor: lemah, kooptasi, dan dogmatis.

Pertama, manusianya lemah atau tidak kompeten untuk menjalankan teonomis yang komprehensif. Akibatnya, teonomis tidak memberikan hasil sesuai harapan. Gagal di bidang ekonomi ini makin parah dengan lemahnya pendidikan. Dampak lebih jauh: makin merosotnya teonomis sampai runtuh ke jurang kehancuran.

Kedua, teonomis terkooptisi oleh kepentingan. Teonomis dibajak oleh para pejabatnya digunakan untuk menumpuk kekayaan para petinggi. Atau, teonomis digunakan untuk kepentingan politik pihak-pihak licik. Pada gilirannya, teonomis runtuh bersama sistem sosialnya yang lebih besar.

Ketiga, sikap dogmatis. Barangkali, sikap dogmatis adalah sumber bencana dari segala bencana teonomis. Keunggulan teonomis, salah satunya, adalah adaptif yaitu mampu mengikuti segala perubahan termasuk perubahan jaman, perubahan sains, perubahan teknologi, dan lain-lain. Karakter adaptif ini tertuang dalam bahasa simbolis. Dengan bahasa simbolis, umat manusia berhasil meraih inspirasi dari kitab suci setiap hari. Tetapi, sikap dogmatis bisa membalik semuanya.

Kaum dogmatis membalik teonomis, yang awalnya adaptif, menjadi jumud ketinggalan jaman. Kaum dogmatis mengambil inspirasi tunggal dari kitab suci, untuk kemudian, mereka jadikan dogma subversif. Di mana, hanya dogma versi mereka yang benar dan pihak lain salah semua. Karena teonomis tidak hanya membahas uang atau ekonomi, maka, pihak yang salah dituduh sebagai sesat bahkan tersesat dari agama. Konsekuensi lanjutannya, bisa dibayangkan, adalah menghapus keragaman, punahnya dinamika, dan akhirnya, runtuhnya teonomis itu sendiri.

Bagaimana pun, sikap dogmatis tidak hanya terjadi pada pendukung teonomis. Kaum sosialis mau pun kapitalis bisa juga terjebak dalam dogmatis. Mereka meyakini sistem mereka sebagai satu-satunya sistem yang benar, sementara, sistem yang berbeda adalah salah. Di mana pun, sikap dogmatis membahayakan sistem mereka sendiri.

Sehingga, salah satu cara untuk membangkitkan kembali teonomis adalah dengan memerangi sikap dogmatis dan menggantinya dengan sikap terbuka. Tentu saja, sikap dogmatis adalah hak masing-masing individu. Sehingga, kita perlu menghormati mereka yang bersikap dogmatis. Hanya saja, dalam kehidupan bermasyarakat, kita perlu saling terbuka dengan keragaman inspirasi. Melalui dialog yang sehat dalam masyarakat, diharapkan, teonomis bisa bangkit kembali untuk kebaikan bersama.

Taylor (lahir 1931) berpendapat bahwa sekularisasi memperkuat dan diperkuat oleh agama. Berbeda dengan kebanyakan orang yang mengira bahwa sekularisasi mengikis keyakinan umat beragama. Sekularisasi menyebabkan gelombang perubahan dari orang beragama menjadi ateis. Sebagian, memang benar begitu. Sebagian yang lain, terjadi sebaliknya. Ada gelombang besar dari orang ateis berubah menjadi beragama. Singkatnya, sekularisasi bukan memusuhi agama. Sekularisasi adalah sebuah pilihan sikap hidup yang bisa sejalan dengan agama. Sehingga, teonomis tetap valid untuk menjadi salah satu alternatif solusi.

Sampai di sini, mari kita buat ringkasan beberapa solusi. Solusi personal dan solusi sistem, mereka saling melengkapi. Kita tidak cukup hanya memilih salah satu saja antara personal dan sistem. Sedangkan dari ketiga solusi sistem yang kita bahas – kapitalis, sosialis, dan teonomis – memiliki keunggulan dan kelemahan. Kita perlu menghindari sikap dogmatis, untuk kemudian, menggantinya dengan sikap terbuka.

Bagaimana jika kita merangkul semua solusi yang ada? Sistem ekonomi Pancasila adalah sistem ekonomi yang merangkul semuanya: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan. Dengan demikian, apakah ekonomi Pancasila menjadi yang terbaik? Saya membahas ekonomi Pancasila di tulisan yang lain. Benar bahwa Pancasila adalah anugerah yang luar biasa. Kita perlu untuk merawatnya. Sementara, dalam tataran praktis, misal ekonomi Pancasila, kita perlu waspada di berbagai sektor yang ada.

3.3 Sarana Cinta

Kita fokus pada solusi ekonomi cinta di bagian ini. Berbagai macam kritik ekonomi, personal dan sistemik, sudah kita bahas di bagian sebelumnya. Bahkan, kita juga sudah memberikan beragam alternatif solusi. Selanjutnya, kita akan memandang ekonomi sebagai sarana cinta. Sistem ekonomi adalah barzakh yang merupakan ruang temu antara cahaya dan gelap. Karena itu, sistem ekonomi adalah sarana bagi kita untuk jatuh cinta bersama cahaya.

Sebagai sarana, sistem ekonomi bisa berubah menjadi penjara atau sasana. Ketika ekonomi menjadi penjara cahaya, maka, cahaya cinta itu terjebak dalam sistem ekonomi. Cahaya hanya berputar-putar dalam penjara. Kadang lelah, kadang serakah, dan kadang kalah. Cahaya tidak kemana-mana hanya terperangkap dalam penjara. Meski ada lubang kecil untuk keluar dari penjara, cahaya itu sudah terjebak tak bisa melompat.

Kita perlu mengubahnya untuk menjadi sasana cahaya. Bahkan penjara itu, bisa kita ubah menjadi sasana berlatih bagi cahaya. Berlatih tiap hari, dengan disiplin, menjadikan otot-otot cinta lebih kuat. Sasana cahaya menjadi pijakan bagi kita untuk melompat jauh tinggi. Sangat tinggi, untuk menjangkau rangkulan Cahaya Segala Cahaya. Sistem ekonomi adalah sasana bagi kita untuk bercahaya. Kita membutuhkan sasana. Kita membutuhkan sarana untuk bertumbuh bersama.

Berikut ini adalah ide-ide bagi kita untuk berlatih di dalam sasana cahaya.

3.3.1 Pertumbuhan Ekosistem

Solusi paling utama adalah mengubah indikator “pertumbuhan ekonomi” menjadi pertumbuhan ekosistem. Dalam teori, SDG telah merumuskan tujuan-tujuan pertumbuhan ekosistem yang berkelanjutan dengan baik. Misal, tujuan “menghapus kemiskinan,” “menghapus kelaparan,” dan “aksi iklim.” Selengkapnya, ada 17 goal dari SDG yang benar-benar baik.

Tantangan selanjutnya, bagaimana agar pertumbuhan ekosistem ini bisa benar-benar dijalankan?

Perlu komitmen nasional agar bisa dijalankan. Karena SDG adalah skala internasional maka tidak memiliki daya kerja secara langsung. Hanya level negara, komitmen nasional, yang berpeluang besar untuk mengejar tujuan-tujuan besar itu. Lebih dari itu, masing-masing negara tetap perlu detilasi dari “goal” yang bersifat global itu menjadi standar yang kongkrit. Jadi, tantangan besar masih di depan kita.

Pertama, agar ekosistem bisa bertumbuh maka kita perlu mendefinisikan batasan konsumsi yang sehat berupa batas minimal dan maksimal. Kedua, membatasi ketimpangan sosial, misal, dengan rasio Gini dan rasio Palma. Ketiga, indikator ketimpangan sosial perlu kita buat lebih real-time sehingga kita cepat mendapatkan feedback untuk kemudian melakukan koreksi segera.

Kita akan mulai dari yang pertama: mendefinisikan batasan konsumsi yang sehat.

Definisi di sini hanya bersifat estimasi dan dinamis. Maksudnya, untuk wilayah yang berbeda, bisa saja menggunakan batasan definisi yang disesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Demikian juga bersifat dinamis yaitu definisi bisa berubah sesuai waktu dan perubahan.

Konsumsi Sehat = [b sampai dengan a] = [b – a]

Konsumsi dianggap sehat bila nilainya lebih dari batas bawah (b) dan kurang dari batas atas (a).

Jika seseorang, atau suatu keluarga, besaran konsumsinya kurang dari batas bawah (b) maka orang tersebut termasuk golongan tidak mampu. Karenanya, perlu tindakan khusus bagi mereka agar mampu menaikkan tingkat konsumsi. Barangkali tindakan ini bisa berupa membuka lapangan kerja, lapangan usaha, atau meningkatkan keterampilan.

Sementara, jika seseorang, atau suatu keluarga, besaran konsumsinya lebih besar dari batas atas (a) maka orang tersebut termasuk golongan boros. Mereka perlu melakukan tindakan khusus karena terlalu boros dalam konsumsi. Barangkali tindakan berupa wajib lapor ke pihak berwenang atau wajib berbagi amal dalam aneka cara.

Kita bisa mengambil contoh agar lebih jelas. Untuk kasus Indonesia secara umum, kita bisa mendefinisikan konsumsi sehat perkapita, per bulan:

Konsumsi Sehat = [Rp 2 juta – Rp 8 juta]

Orang yang konsumsinya kurang dari 2 juta per bulan adalah tidak sehat karena rendah-konsumsi. Begitu juga orang yang konsumsinya lebih dari 8 juta per bulan adalah tidak sehat karena tinggi-konsumsi.

Agar lebih mudah kita pahami, barangkali, kita menghitung konsumsi per keluarga yang terdiri dari 4 orang: suami, istri, dan 2 orang anak.

(R) Keluarga yang konsumsinya di bawah 8 juta per bulan adalah kurang sehat karena rendah-konsumsi.

(T) Keluarga yang konsumsinya di atas 32 juta per bulan adalah kurang sehat karena tinggi-konsumsi.

(S) Keluarga yang konsumsinya di antara 8 sampai 32 juta per bulan adalah sehat karena wajar-konsumsi.

Tugas kita adalah membantu keluarga (T) yang kelebihan konsumsi agar bisa disalurkan sebagian ke keluarga (R) yang rendah konsumsi. Meski demikian, kita tetap perlu menghormati bahwa T berhak untuk konsumsi lebih besar dari 32 juta per bulan. Dengan konsekuensi wajib berbadi kepada R.

Sebagai ilustrasi, misal, T melakukan konsumsi 40 juta, kelebihan 8 juta dari batas atas. Maka T berkewajiban berbagi dalam jumlah yang sama dengan kelebihan, yaitu 8 juta, kepada R. Dengan demikian, setiap kelebihan konsumsi akan berdampak perbaikan konsumsi pada kelompok rendah-konsumsi R. Atau, sejatinya, T tidak harus belanja lebih dari 32 juta per bulan karena angka 32 juta per bulan adalah sudah memadai untuk kehidupan yang sehat. Bila demikian, T bisa lebih banyak berbagi atas seluruh kelebihan daya konsumsinya kepada R.

Bukankah ide semacam itu hanya khayalan bagi kita, bagi Indonesia, misalnya?

Tidak. Bukan khayalan. Karena ilustrasi angka-angka di atas mendekati realitas ekonomi di Indonesia. Konsumsi perkapita Indonesia per bulan, rata-rata, di kisaran Rp 5 juta. Untuk keluarga terdiri 4 orang maka konsumsi 20 juta per bulan. Bila ada dua keluarga maka total adalah 2 x 20 juta = 40 juta perbulan.

Bandingkan dengan ilustrasi dua keluarga: keluarga R adalah 8 juta ditambah keluarga T adalah 32 juta. Total 40 juta rupiah yang mirip dengan realitas ekonomi Indonesia saat ini. Problem muncul, di Indonesia misalnya, karena tingkat konsumsi yang senjang. Banyak keluarga yang konsumsinya di bawah 8 juta, sementara sebagian keluarga kaya konsumsi di atas 32 juta. Tugas kita adalah mencari solusinya.

Konsep konsumsi sehat menjamin keluarga miskin mampu belanja dengan memadai, di saat yang sama, menjaga keluarga kaya belanja sewajarnya, tidak berlebihan, tidak serakah. Sebagaimana kita sudah memberikan beragam kritik terhadap ekonomi serakah.

Bagaimana cara keluarga kaya T berbagi kepada keluarga miskin R? Bukankah sudah ada pajak dan badan amal?

Tersedia beragam alternatif. Saya berpikir, konsep konsumsi sehat adalah seiring sejalan dengan pajak dan badan amal. Sehingga, reformasi dalam strategi pajak bisa terus berlanjut. Sementara, konsep konsumsi sehat berusaha untuk menjaga pertumbuhan-ekosistem dalam lingkungan ekonomi cinta.

Kelebihan daya konsumsi dari keluarga kaya T disalurkan oleh agen-agen mandiri. Semua dana, atau kelebihan daya konsumsi ini, disalurkan ke keluarga miskin R dalam jumlah 100%. Biaya operasional agen dibiayai oleh negara dari APBN. Benar, di sini ada penambahan beban APBN. Meski demikian, agen adalah agen mandiri yang tidak terikat oleh pemerintah atau kepentingan lain. Manajemen agen transparan, terbuka untuk publik.

Biaya operasional agen juga bukan dari hibah atau sejenisnya. Karena agen bukan badan amal. Agen mandiri dirancang untuk benar-benar mandiri. Barangkali, tidak akan ada prospek karir mentereng bagi orang-orang yang bekerja sebagai agen. Tetapi, pendapatan mereka terjamin layak, tidak kurang dan tidak berlebih dalam jangka waktu tertentu. Agen, bisa saja, adalah pemuda yang sedang mencari pengalaman kerja beberapa tahun. Bisa juga, agen adalah profesional yang benar-benar mengabdikan hidupnya untuk menjadi agen profesional.

Ekosistem Luas

Kita perlu mendefinisikan pertumbuhan-ekosistem lebih luas lagi dari konsep konsumsi sehat. Beberapa kandidat konsep antara lain: investasi sehat, properti sehat, pendidikan sehat, dan usaha sehat. Meski banyak konsep sehat yang bisa kita kembangkan, kita tetap perlu fokus dan menjaga cukup sederhana. Sehingga, seandainya, kita fokus hanya kepada konsep konsumsi-sehat adalah bagus. Bagaimana pun, konsep-konsep dari SDG merupakan sumber inspirasi terbaik.

Kita berasumsi bila konsep konsumsi sehat berjalan baik, maka, masing-masing individu memanfaatkan kebebasan dirinya untuk memilih konsumsi terbaik bagi mereka. Pertumbuhan ekosistem menyasar perbaikan ekonomi cahaya secara personal dan sistemik. Secara personal, masyarakat perlu bersyukur ketika konsumsi mereka dalam rentang konsep konsumsi sehat. Individu perlu waspada bila tingkat konsumsi terlalu rendah atau terlalu tinggi. Secara sistem – kapitalis, sosialis, dan teonomis – bisa memanfaatkan konsep konsumsi sehat untuk menjaga dinamika sistem ekonomi berkelanjutan.

3.3.2 Rasio Gini Palma

Rasio Gini menjadi ukuran keadilan ekonomi dunia paling terkenal. Rasio Gini sangat sederhana. Hanya berupa angka dari 0 sampai 1 saja – atau dinyatakan dalam bentuk persen. Misal rasio Gini Indonesia adalah G = 0,38 menandakan ada ketimpangan ekonomi. Di bagian ini, kita akan membahas rasio Gini, dan rasio Palma, guna menjaga sistem ekonomi agar menjadi sasana cahaya – sebuah sarana bagi umat manusia untuk tumbuh bersama cahaya cinta.

Lorenz (1876 – 1959) adalah ekonom dan ahli statistik yang berhasil membuat kurva penyebaran kekayaan dan pendapatan. Kelak, kurva ini dikenal sebagai kurva Lorenz. Dengan cerdik, Lorenz membuat kelompok ekonomi masyarakat dalam beberapa kelas. Kemudian, mengurutkannya dari yang paling miskin menuju ke yang lebih kaya. Data ini, selanjutnya, dibuatkan grafik kumulatif yang berupa kurva. Dari kurva ini tampak jelas penyimpangan dari garis lurus. Makin jauh menyimpang dari garis lurus maka makin besar ketimpangan ekonomi di masyarakat bersangkutan. Seberapa besar ketimpangan tersebut?

Gini (1884 – 1965) adalah ahli statistik dan sosiolog yang berhasil merumuskan indeks atau rasio ketimpangan ekonomi. Kelak, indeks tersebut dikenal sebagai indeks Gini atau rasio Gini yang begitu populer. Gini mengkaji kurva Lorenz, untuk, kemudian menghitung rasio ketimpangan dari setiap kurva. Gini membandingkan, rasio, wilayah yang menyimpang dari garis lurus terhadap total wilayah tanpa penyimpangan ideal. Hasilnya adalah rasio Gini G.

Makin besar rasio gini G maka makin besar ketimpangan ekonominya. Nilai G = 0 bermakna tidak ada ketimpangan atau semua orang memiliki kekayaan, penghasilan, dalam jumlah yang sama persis. Adil merata. Dalam realitas, tidak pernah ditemukan adil merata seperti itu. Nilai G = 1 atau 100%, bermakna terjadi ketimpangan maksimal. Yaitu, semua orang tidak punya kekayaan sama sekali kecuali hanya 1 orang raja yang memiliki seluruh kerajaannya. Dalam realitas, hal ini juga sulit terjadi.

Secara realistis, rasio G di antara 0 dan 1. Tujuan keadilan ekonomi adalah mencapai nilai G yang rendah, misal, SDG menetapkan rasio G = 0,275 = 27,5% sebagai batas ketimpangan. Ketika di Indonesia, rasio G = 0,38 maka bermakna terjadi ketimpangan ekonomi di Indonesia. Sementara di Uni Emirat Arab, G = 0,26 maka tidak terjadi ketimpangan. Di Emirat, bukannya tidak ada perbedaan antara yang miskin dan kaya. Tetapi, perbedaan yang ada tidak sampai menimbulkan ketimpangan. Karena perbedaannya hanya sedikit saja.

Tampak jelas, rasio Gini memberi kita informasi jelas tentang ketimpangan. Di Indonesia, pendapatan perkapita, rata-rata pendapatan penduduk, adalah sekitar 5 juta per bulan. Atau, untuk keluarga dengan anggota 4 orang, pendapatan adalah 20 juta per bulan. Cukup bagus, bahkan sangat bagus, sebagai rata-rata. Problem muncul ketika yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya dengan ditunjukkannya oleh rasio Gini G = 0,38. Solusinya cukup jelas yaitu dengan pemerataan ekonomi: yang miskin didukung untuk lebih kuat dan yang kaya boleh membantu yang miskin meski tetap makin kaya.

Yang menarik dari rasio Gini adalah tidak adanya keharusan yang kaya dikurangi kekayaannya untuk memperbaiki G. Maksudnya, ketika yang kaya makin kaya dan diiringi yang miskin ikut makin kaya maka nilai G makin baik – ketimpangan makin teratasi.

Problem dari rasio Gini adalah tidak berlaku sebaliknya, tidak bisa membentuk kurva Lorenz lagi. Maksudnya, satu nilai G yang sama, bisa jadi, kurva Lorenz-nya berbeda-beda. Lalu, bagaimana kita bisa menyimpulkan ketimpangan dari nilai G?

Palma (lahir 1947) mengarahkan kajian lebih fokus pada ketimpangan. Kelas menengah, umumnya, tidak mengalami ketimpangan. Ketimpangan ekonomi terjadi antara kelas terkaya dengan kelas termiskin. Maka, kita bisa membandingkan 10% kelas terkaya dengan 40% kelas termiskin. Perbandingan ini, kita kenal sebagai rasio Palma P.

SDG menetapkan rasio Palma P = 0,9 sebagai batas – atau di bawah 1. Misal Indonesia, rasio P = 1,8 maka bermakna terjadi ketimpangan ekonomi di Indonesia. Sedangkan Austria, rasio P = 0,9 maka tidak terjadi ketimpangan di Austria. Sejatinya cukup jelas, problem ekonomi di Indonesia adalah ketimpangan ekonomi, sehingga, kita perlu fokus untuk mencapai solusinya

Keunggulan rasio Palma adalah intuitif, kita lebih mudah memahami. Ketika P = 1, bermakna bahwa konsumsi 10% kelas terkaya setara dengan konsumsi 40% kelas termiskin. Atau, konsumsi kelas kaya 4 kali lipat lebih besar dari konsumsi kelas miskin. Angka ini mirip dengan ilustrasi konsep konsumsi-sehat di atas. Konsumsi terendah perkapita per bulan adalah 2 juta rupiah. Sedangkan, konsumsi tertinggi adalah 8 juta per bulan.

Rasio Palma, mirip dengan rasio Gini, tidak bisa menghasilkan kurva Lorenz. Padahal, kita memerlukan kurva Lorenz. Palma bisa saja menganggap bahwa dia tidak perlu kurva Lorenz. Tetapi, bagaimana pun, Palma tetap memerlukan Lorenz. Kemudian menentukan kelas termiskin dan kelas terkaya.

Rasio power Paman berhasil memproduksi kurva Lorenz. Bahkan, berhasil menguji konsistensi Lorenz, Gini, dan Palma. Berikutnya, kita akan membahas rasio power Paman.

3.3.3 Rasio Power Paman

Ketimpangan ekonomi makin menjadi-jadi di berbagai belahan dunia. Kita memerlukan indikator yang bersifat real-time agar lebih mudah beradaptasi. Rasio power Paman N bermaksud menghasilkan indikator real-time yang dimaksud. Pada saat yang sama, proses perhitungan rasio N mudah dan ringan. Dan, rasio N dapat untuk menguji konsisteni kurva Lorenz, rasio Gini, dan rasio Palma.

Pertama, rasio N memanfaatkan kurva Lorenz. Kedua, mengestimasi fungsi kurva Lorenz dengan polinom. Saya menggunakan deret jumlah Riemann untuk tugas tahap kedua ini. Ketiga, menentukan nilai power polinom n = N. Keempat, memaknai rasio N. Kelima, menemukan konsistensi rasio N dengan Gini dan Palma.

Kita mulai dengan memaknai rasio N. Kita bisa membayangkan kurva Lorenz sebagai grafik polinom sederhana dengan pangkat N. Sehingga, ketika rasio paman N = 2, kita mengatakan nilai ketimpangan adalah N = 2 atau timpang kuadrat. Sedangkan, rasio N = 3, bisa kita katakan timpang pangkat 3 atau timpang kubik atau timpang kuadrat 3. Kasus khusus terjadi ketika N = 1 yang bermakna sebagai linear, atau garis lurus, atau tidak ada ketimpangan. Semua kelas memiliki kekayaan dalam jumlah yang sama, adil merata. Rasio N bisa bernilai pecahan positif dan, secara teori, nilai maksimumnya tidak ada, tak hingga.

Makin besar nilai rasio N maka makin besar ketimpangan masyarakat bersangkutan. Nilai ketimpangan ini mengikuti kurva Lorenz sebagai fungsi polinom pangkat N.

Misal di Indonesia, rasio N = 2,2 maka nilai ketimpangan ekonomi di masyarakat Indonesia lebih buruk dari ketimpangan kuadrat – lebih buruk dari rasio N = 2. Konsekuensinya, kita bisa menghitung tingkat-konsumsi 25% rakyat termiskin adalah di bawah 19% dari rata-rata konsumsi perkapita. Untuk tahun 2020an ini, sekitar 70 juta jiwa rakyat Indonesia daya konsumsi atau konsumsi perkapita adalah 19% x 5 juta = 950 ribu rupiah per bulan. Uang sejumlah 950 ribu itu digunakan untuk makan, sewa rumah, bayar listrik, beli sabun, dan lain-lain. Tentu saja, tidak layak. Kita perlu solusi yang tepat.

Dengan rasio N, kita bisa menghitung tingkat konsumsi kelas terkaya, kelas termiskin, atau kelas menengah sesuai fokus kajian. Untuk tingkat konsumsi 10% rakyat termiskin di Indonesia, sekitar 27 juta jiwa, adalah 6% x 5 juta = 300 ribu per orang per bulan.

Konsistensi dengan Lorenz

Secara langsung, kita dapat memproduksi kurva Lorenz:

f(x) = x^N.

Rasio Gini G:

G = (N – 1)/(N + 1)

Sebaliknya, N = (1 + G)/(1 – G)

Rasio Palma P,

P = (1 – 0.9^N)/0.4^N

Konsistensi dari beragam persamaan di atas langsung bisa kita uji dengan menggunakan nilai N. Dengan demikian, kita sudah memiliki indikator jelas secara statistik untuk mengarahkan sistem ekonomi menjadi sasana cahaya yang mengantarkan umat manusia menuju peradaban cerah.

Konsep konsumsi-sehat memberi arahan tingkat konsumsi yang tepat bagi warga masyarakat dengan menyediakan ukuran batas atas dan batas bawah. Konsep ini menjaga masyarakat dari jebakan ekonomi libido serakah baik secara personal atau pun sistemik. Sedangkan rasio N, secara lengkap memberikan data nilai ketimpangan masing-masing kelompok masyarakat. Dengan demikian, kita bisa menyusun strategi solusi yang lebih fokus untuk mengatasi masalah ekonomi.

4. Ringkasan

Akar masalah dari sistem ekonomi adalah libido serakah yang tak terkendali. Di bagian ini, kita sudah membahas berbagai macam masalah ekonomi tersebut dan mengusulkan beragam solusi agar kita mampu mengubah sistem ekonomi dari penjara cahaya menjadi sasana cahaya, sarana untuk umat manusia bersinar bersama-sama.

Di bagian awal, kita menyoroti bahwa uang adalah pemicu libido serakah menjadi tak terkendali. Berbeda dengan barang, misalnya, orang bersyukur dengan panen pisang sekarung karena bisa dibagi-bagi untuk tetangga. Sementara, bila seseorang mendapat uang sekarung maka dia makin serakah ingin uang dua karung dan seterusnya.

Solusi dengan mengajak kembali ke sistem barter tanpa uang atau kembali ke uang emas, terbukti, tidak memadai.

Masalah ekonomi libido serakah makin parah dengan hadirnya uang digital. Segala keserakahan dilipatgandakan dan dipermudah. Dan, masyarakat menjadi terbiasa bahwa yang utama dari uang adalah angka-angkanya. Akibatnya, sistem ekonomi direduksi menjadi uang, untuk kemudian, menjadi angka-angka belaka. Praktek dominasi, mirip monopoli, merebak di mana-mana.

Saya mengusulkan solusi personal dan sistemik untuk mengatasi problem ekonomi secara dinamis. Kita perlu sadar bahwa tidak ada solusi tunggal yang menyelesaikan semua masalah, satu kali, untuk selamanya. Tidak ada solusi dogmatis. Baik sistem kapitalis, sosialis, mau pun teonomis, mereka perlu belajar dari beragam kegagalan untuk kemudian diperbaiki.

Apa pun solusi ekonomi yang kita tawarkan, mensyaratkan solusi personal yang memadai. Maksudnya, masing-masing individu, dalam porsi cukup besar, harus mampu menjaga diri dari jebakan ekonomi libido serakah. Kemudian, solusi sistemik memperkuatnya. Konsep konsumsi-sehat memberikan range konsumsi (batas bawah dan batas atas) untuk personal dan sistemik. Sedangkan, rasio N memberikan ukuran yang jelas nilai ketimpangan ekonomi dalam masyarakat. Dengan demikian, menjadi jelas bentuk solusi yang diperlukan.

Meski pembahasan kita, di sini, tidak memadai untuk disebut sebagai solusi lengkap, setidaknya, kita optimis akan mampu mengatasi beragam masalah ekonomi libido serakah dengan teori yang kita kembangkan plus belajar dari pengalaman yang sudah-sudah. Kita juga tidak membahas konten ekonomi itu sendiri, apakah harus fokus bidang pertanian, atau harus mengutamakan ekonomi digital, atau bidang lainnya. Pembahasan bidang-bidang ekonomi seperti itu akan memerlukan kajian yang panjang lebar. Sekali lagi, pembahasan kita hanya fokus kepada “pertumbuhan ekosistem” melalui konsep konsumsi-sehat dan menangani ketimpangan ekonomi melalui indikator real-time rasio N. Semoga kita semua berhasil berpetualang dalam sistem ekonomi sasana cahaya.

5. Diskusi: Adil Makmur

Apa ukuran sistem ekonomi sebagai adil makmur? Kita akan membahas tiga ukuran utama: [1] lapangan kerja berlimpah; setiap orang yang berminat bekerja maka tersedia lapangan kerja; [2] tersedia kursi universitas berlimpah; setiap pemuda yang berminat kuliah maka tersedia pembiayaan dan daya tampung universitas; [3] setiap orang mendapat kesempatan untuk menjadi wirausaha. Bila ada orang tidak memenuhi tiga indikator di atas, yaitu, tidak mau bekerja; tidak mau kuliah; tidak mau wirausaha; maka mereka adalah beban masyarakat. Mereka membutuhkan pertolongan dari masyarakat. Bagaimana pun, masyarakat membutuhkan beban dalam kadar tertentu.

Saya mencatat ada tiga jenis beban yang dibutuhkan oleh manusia dan masyarakat: [a] beban dosa; [b] beban anak; [c] beban tua.

Beban dosa dibutuhkan karena memberi makna kepada setiap amal manusia. Amal menjadi bermakna tinggi karena kebalikan amal adalah dosa. Sementara hewan, misal kucing, tidak punya dosa. Konsekuensinya, kucing tidak punya amal yang bermakna. Kucing tidur adalah baik; kucing makan adalah baik; kucing bermain adalah baik. Semua perilaku kucing adalah baik-baik saja. Tetapi, manusia yang tidak bekerja adalah berdosa. Konsekuensinya, kerja manusia adalah amal yang penuh makna. Merusak lapangan kerja adalah dosa besar; kebalikannya adalah amal; membuka lapangan kerja adalah amal kebaikan yang amat besar.

Beban anak makin terasa berat di akhir-akhir ini. Beberapa orang memutuskan untuk tidak punya anak agar mengurangi beban. Tetapi, anak adalah beban; yang dengan beban anak, manusia menjadi lebih bahagia; melihat anak senyum adalah bahagia; melihat anak bermain adalah bahagia; melihat anak tidur adalah bahagia. Anak menjadi beban bagi manusia dewasa karena anak hidup di “surga”; lapar tinggal makan; haus tinggal minum; mengantuk tinggal tidur saja. Kita membutuhkan beban anak karena menciptakan “surga” bagi anak adalah kebahagiaan penuh makna tiada tara.

Beban tua adalah beban yang kita butuhkan untuk menyongsong masa depan. Bila beruntung, pada akhirnya, kita akan tua; mencapai usia 70 tahun atau lebih; dan kita menjadi beban bagi umat manusia. Kita tidak mampu lagi bekerja secara produktif; kita membutuhkan bantuan umat manusia. Sebaliknya juga benar; manusia muda, atau usia produktif, membutuhkan beban orang tua karena orang tua adalah orang yang dulu merawat kita ketika kita masih kecil. Lebih dari itu, kita butuh belajar hikmah dari orang yang sudah tua; orang yang tubuhnya lemah tetap pantang menyerah menyongsong masa depan; mereka telah banyak mencicipi manis pahitnya kehidupan bersama sang waktu. Kita akan mengalami masa depan yang sama sebagai manusia tua.

Kerja kita, saat ini, menjadi bermakna karena beban-beban yang ada. Sehingga, lapangan kerja perlu untuk kita buka seluas-luasnya.

5.1 Berlimpah Lapangan Kerja

Setiap orang yang berminat untuk bekerja maka mereka mendapat pekerjaan yang baik dengan penghasilan yang layak. Indikator ketersediaan lapangan kerja ini mudah kita cermati sebagai indikator ekonomi adil makmur. Di jaman kuno, setiap orang yang mau bekerja bisa bekerja misal dengan mencari buah-buahan di hutan; berburu burung atau sapi atau ikan di sungai; atau menanam padi. Sungguh ironi bila, di masa kini, tidak tersedia lapangan kerja kan?

Problem lapangan kerja, saat ini, adalah tidak tersedia uang yang layak. Maksudnya, tentu saja, setiap orang pasti bisa bekerja. Hanya saja, tidak ada jaminan orang tersebut akan mendapatkan penghasilan uang yang layak. Mengapa uang menjadi penentu kerja?

Di bagian bawah, saya mengusulkan solusi berupa eksperimen uang-pokok dan uang-mewah. Uang-pokok menjamin setiap orang memperoleh penghasilan yang memadai untuk kebutuhan pokok; sementara itu, orang tersebut bisa bekerja untuk mengembangkan kualitas hasil kerjanya. Uang-mewah membantu orang kaya untuk lebih peduli ke realitas sosial sekitar; dan mendorong orang kaya untuk lebih banyak donasi kepada fakir miskin.

5.2 Berlimpah Biaya Universitas

Setiap orang, khususnya pemuda, yang berminat kuliah di universitas maka tersedia kursi universitas lengkap dengan beasiswa. Keinginan seorang pemuda untuk kuliah adalah cita-cita mulia. Baik kuliah tingkat sarjana atau diploma. Anggaran beasiswa ini disediakan oleh negara. Ratusan tahun yang lalu, setiap pemuda yang ingin kuliah di pesantren, mereka bisa kuliah di pesantren tanpa dipungut biaya; tersedia beasiswa dari situasi sosial yang ada. Ironi juga kan bila, saat ini, banyak pemuda ingin kuliah tetapi kursi universitas terbatas?

Tentu, kita sadar bahwa banyak pemuda yang tidak minat kuliah. Mereka mungkin saja ingin langsung kerja atau kegiatan lainnya. Mereka memiliki freedom untuk menentukan jalan hidupnya. Hanya saja, bagi pemuda yang berminat kuliah maka negara harus menyediakan kursi universitas dan beasiswa. Indikator ekonomi adil makmur ini juga mudah untuk kita cermati.

Bagaimana cara menyediakan beasiswa bagi semua mahasiswa di universitas? Jerman telah melakukan itu. Kita bisa belajar dari Jerman. Atau, kita bisa mengembangkan sistem beasiswa sendiri yang disesuaikan dengan situasi Indonesia; misal di Indonesia terdapat ribuan pesantren dan padepokan yang bisa meluaskan akses pendidikan tinggi. Ditambah lagi, teknologi digital dan online makin memudahkan untuk akses pendidikan.

5.3 Berlimpah Wirausaha

Indikator adil makmur ketiga yang mudah kita cermati adalah tersedianya, secara berlimpah, peluang wirausaha. Setiap orang yang minat wirausaha maka mendapat peluang untuk wirausaha secara layak. Wirausaha adalah menambah manfaat, menambah nilai, bagi masyarakat dan alam. Sepantasnya, setiap warga masyarakat mendukung wirausaha. Hanya anggota masyarakat tertentu yang menolak wirausaha; mereka yang takut bersaing; mereka yang serakah ingin dominasi pribadi; mereka yang mengeruk keuntungan pribadi.

Di Indonesia, peluang wirausaha terbuka luas dengan baik. Setiap orang bebas untuk wirausaha. Tantangannya adalah sulit untuk menjadi wirausaha yang sukses. Dan, andai akhirnya berhasil menjadi wirausaha sukses maka dia dalam resiko terjebak ke dalam sistem kesenjangan ekonomi baru. Masyarakat adil makmur masih jauh untuk menjadi realitas. Apa solusi yang kita perlukan?

Pemahaman kita tentang realitas uang, kita bahas di bawah, akan membantu kita untuk meluaskan peluang wirausaha.

5.4 Relasi Uang

Apakah uang bisa menciptakan relasi yang adil makmur? Tampaknya sulit sekali. Kali ini, kita akan mendiskusikan relasi uang terhadap sistem ekonomi dan sistem sosial lebih luas. Kita berharap bisa menciptakan sistem adil makmur dengan instrumen relasi uang. Untuk itu, kita akan mengkaji 10 baris x 3 kolom = 30 tema tentang uang. Jumlah tema bisa kita kembangkan terus tanpa batas. Matriks 30 tema ini merupakan adaptasi dari tulisan Hardt (1963 – ) dan Negri (1933 – 2023).

1. Era Kuno:
Pertanian;
kolonial
2. Era Industri:
Sains
3. Era Digital:
Online
a. Waktu produksiAlamiah: musimanJam kerjaTiap saat
b. NilaiMutlakRelatifBiopower
c. EkstraksiPenaklukan;
Pengusiran
Eksploi;
Industri
Aproprias
bersama
d. PropertiTetapGerakRepro
e. TenagaPerajinPabrikSosial
f. RealisasiSinkronKreditProyeksi
g. PejuangPopularPekerjaViral
h. PolitisMutualisSerikatKoalisi
i. PencetakNegaraKorporasiFinans
j. GovernKoloniImperialBiopolitik
Peran Uang dan Relasi Sosial

Relasi uang dengan realitas bersifat dinamis. Uang mempengaruhi realitas sosial; dan realitas sosial mempengaruhi uang. Sehingga, analisis terhadap uang harus melibatkan analisis sosial.

5.4.1 Realitas Uang

Uang adalah instrumen perdagangan dan penyimpan nilai. Uang merupakan instrumen jual beli. Kita memerlukan definisi uang lebih dari definisi uang sebagai instrumen seperti itu; kita perlu memahami apa makna-uang; bukan hanya apa itu uang; tetapi mengapa dan apa saja yang dilakukan oleh uang; makna dari realitas uang.

(1a) Uang diproduksi secara alamiah. Seorang petani menanam padi pada musim tanam; beberapa bulan kemudian, petani panen padi pada musim panen; menghasilkan beberapa ton padi yang bisa dijual senilai, misal, 25 keping uang emas. Pada era kuno seperti ini, waktu untuk menghasilkan uang selaras dengan waktu alamiah.

(2a) Uang diproduksi sesuai jam kerja. Seorang buruh bekerja 8 jam sehari dengan upah standar. Di saat-saat tertentu, buruh kerja lembur; buruh menghasilkan uang lembur yang merupakan tambahan dari upah standarnya. Sebaliknya, juga bisa terjadi. Buruh sakit sehingga tidak bisa kerja; konsekuensinya, gaji buruh dipotong; berkurang dari biasanya. Di era industri, uang diproduksi berdasar jam kerja; jam kerja bisa saja siang atau malam; jam kerja bisa terbebas dari musim alamiah.

(3a) Uang diproduksi setiap saat; 24 jam sehari dan 7 hari tiap minggu; misal melalui internet. Ketika Anda tidur, bisa saja orang-orang menonton konten Anda sehingga Anda menghasilkan uang. Konten Anda bisa diakses di Indonesia mau pun dari seluruh dunia; kapan saja, di mana saja. Anda bisa menghasilkan uang kapan saja di mana saja di era digital ini.

Meski kita bisa membedakan waktu produksi uang, misal era kuno, industri, dan digital, bagaimana pun seluruh waktu produksi bisa eksis secara bersamaan. Khususnya era digital, tetap terbuka dengan eksistensi produksi uang sesuai waktu alamiah mau pun jam kerja industri. Dengan demikian, uang era digital memiliki kekuatan jauh lebih besar.

(1b) Nilai uang adalah mutlak, atau absolut, di era kuno. Petani yang memiliki 25 keping uang emas, benar-benar, bernilai 25 keping uang emas. Umumnya, emas dianggap sebagai bernilai paling stabil.

(2b) Nilai uang relatif terhadap jaminan di era industri. Uang kertas 100 ribu, misalnya, dijamin oleh pemerintah bernilai 100 ribu; bisa digunakan untuk jual beli atau bayar pajak. Awalnya, pemerintah menjamin uang ini dengan persediaan emas oleh pemerintah.

(3b) Nilai uang ditentukan oleh biopower di era digital. Saham Apple melonjak 2 kali lipat beberapa tahun ini. Anda memiliki nilai uang melonjak 2 kali lipat dengan memiliki saham Apple; tanpa nilai instrinsik emas; tanpa jaminan pemerintah. Saham Apple melonjak karena biopower; kekuatan manusia, yaitu biopower, menilai saham Apple lebih tinggi dari sebelumnya.

(1c) Uang di-ekstraks, diperoleh, atau dirampas, melalui penaklukan dan pengusiran. Di era kuno, pasukan penjajah merebut suatu wilayah dan mengusir penduduk asli. Kemudian, penjajah menguasai sumber alam, misal emas, untuk mengeruk keuntungan berupa uang.

(2c) Uang di-ekstraks melalui eksplorasi atau eksploitasi industri. Perusahaan mempekerjakan buruh dengan upah murah, kemudian, menjual hasil kerja buruh dengan harga mahal.

(3c) Uang di-ekstraks melalui appropirasi bersama. Orang-orang menilai saham Apple makin mahal, sehingga, harga saham Apple benar-benar melonjak. Orang-orang yang “menilai saham Apple” adalah masyarakat luas; sementara, yang menikmati hasilnya adalah pemilik saham Apple saja.

Sejenak, mari kita analisis peran uang dan relasi sosial dari tema (1a) sampai (3c).

Era kuno, peran uang lebih stabil; relasi sosial terhadap uang juga lebih stabil; orang harus menanam padi dan menunggu panen untuk menghasilkan uang; ketika uang emas sudah diperoleh, nilainya juga stabil. Era industri lebih dinamis; dan makin dinamis di era digital. Orang bisa menghasilkan uang kapan saja misal melalui konten digital online; relasi uang terhadap realitas sosial makin dinamis; ketika uang sudah diperoleh dalam bentuk saham, misalnya, bisa saja nilainya melonjak tinggi atau bahkan jatuh.

Uang lebih dari sekedar instrumen jual beli; uang adalah cerminan dari realitas sosial itu sendiri; atau, uang adalah realitas sosial dalam bentuk konkret. Uang kuno bisa lebih baik dari uang digital karena stabil; tetapi, uang digital bisa lebih baik karena lebih dinamis. Uang kuno bisa lebih jahat karena memicu perampasan dan penindasan; uang digital bisa lebih jahat karena perampasan uang digital begitu cepat, halus, dan tersembunyi.

Jadi, uang mana yang lebih adil makmur? Uang kuno, uang industri, atau uang digital? Sama saja, masing-masing uang bisa adil makmur; dan masing-masing uang bisa juga jahat. Hanya saja, dinamika uang digital yang cepat dan masif perlu kita waspadai. Di bagian bawah, kita akan membahas eksperimen [1] uang pokok dan [2] uang beragam untuk menciptakan sistem ekonomi adil makmur.

Sedikit ilustrasi tentang dahysatnya uang digital barangkali bisa membantu.

Gojek adalah perusahaan digital yang lahir di Indonesia. Pada awalnya, Gojek berhasil memberi penghasilan uang yang besar kepada para drivernya. Kabarnya, seorang driver bisa menghasilkan uang 10 juta sampai 30 juta rupiah per bulan. Wajar, kemudian, banyak orang bergabung sebagai driver Gojek. Bandingkan dengan upah minimum di suatu kabupaten hanya 2 juta rupiah per bulan dan di Jakarta hanya 4 juta rupiah waktu itu. Singkat cerita, Gojek makin sukses sebagai perusahaan rintisan berkat kerja keras para diriver dan, tentunya, peran para pengguna.

Saat ini, valuasi Gojek sudah puluhan trilyun rupiah; bahkan, ada yang menilai valuasi perusahaan Gojek lebih besar dari perusahaan Garuda yang mengelola puluhan atau ratusan pesawat terbang di Indonesia. Dikabarkan, kekayaan Nadiem, pendiri Gojek, sekitar 5 trilyun rupiah ketika merger dengan Tokopedia. Baru-baru ini, Tiktok bergabung ke Gojek sehingga valuasi Gojek makin melonjak. Pemilik saham Gojek, saat ini, terbuka secara internasional termasuk Google ikut memiliki Gojek.

Ketika valuasi Gojek melonjak tinggi puluhan atau ratusan trilyun rupiah, bagaimana penghasilan driver Gojek? Beberapa driver Gojek justru menurun penghasilan mereka. Kadang, untuk mendapatkan uang 5 juta rupiah per bulan, sebagai driver Gojek, sangat sulit. Ketika motor rusak, driver sepenuhnya membiayai kerusakan motor.

Ketika investor asing dari Amerika atau Eropa menikmati lonjakan valuasi Gojek, bagaimana nasib driver Gojek? Apakah uang digital, misal berupa saham, yang berlaku di Gojek adalah adil makmur? Tidak mudah untuk menjawabnya dengan tuntas. Kita masih perlu melanjutkan kajian relasi uang.

(1d) Properti uang kuno bersifat tetap; ketika seseorang memiliki uang emas maka uang emas itu tetap menjadi miliknya selama dia genggam. (2d) Properti uang industri lebih mudah bergerak. Anda lebih mudah menjual atau menyewa produk-produk industri. (3d) Properti uang digital mudah direproduksi atau diproduksi ulang. Konten video Anda bisa dinikmati orang di Eropa. Anda juga bisa menikmati konten dari luar negeri. Produk-produk digital mudah digandakan. Tetapi, siapa pemilik uang digital sebenarnya?

(1e) Tenaga kerja penghasil uang kuno adalah perajin atau seniman, misal, petani. Petani menanam padi sesuai gaya masing-masing. (2e) Tenaga kerja penghasil uang industri adalah pekerja dengan standar tertentu; standar pabrik; standar ilmiah; standar internasional dan lain-lain. (3e) Tenaga kerja penghasil uang digital adalah relasi sosial yaitu masyarakat. Interaksi sosial, termasuk interaksi politik dan ekonomi, menyebabkan harga saham dan harga valuta melonjak atau anjlok.

(1f) Sinkron; pembayaran dengan uang emas bersifat selaras; ketika Anda membeli makanan maka proses menyerahkan uang dan menerima makanan adalah hampir serentak. (2f) Kredit; realisasi pembayaran uang industri bisa mundur atau maju. (3f) Proyeksi; uang digital bernilai besar karena diproyeksikan akan melonjak di masa depan; sebaliknya, bila diproyeksikan akan anjlok maka nilai uang digital akan berkurang. Realisasi uang digital adalah proyeksi futuristik.

Realitas uang di bagian berikutnya terkait dengan tema politik.

(1g) Tokoh masyarakat atau pejuang yang populer mampu memperjuangkan uang kuno agar lebih adil makmur. (2g) Para pekerja mampu mendorong agar uang industri lebih adil makmur. (3g) Konten viral mampu mendorong perimbangan uang digital agar lebih adil makmur.

(1h) Uang kuno mendorong konsensus politik mutualistik secara terpaksa atau sukarela. (2h) Serikat pekerja dan partai politik memiliki posisi tawar untuk menetapkan konsensus yang adil terhadap distribusi uang industri. (3h) Koalisi sosial, termasuk media sosial, mendorong transformasi uang digital.

(1i) Bank sentral, bang milik negara, mencetak uang kuno. (2i) Bank sentral dikendalikan oleh korporasi, secara langsung atau tidak, mencetak uang industri. (3i) Masyarakat, sistem sosial, mencetak uang digital misal saham atau uang kripto.

(1j) Pemerintahan kolonial monarki mengendalikan uang kuno. (2j) Pemerintahan imperial oligarki mengendalikan uang industri. (3j) Biopolitik mengendalikan uang digital; kepentingan politik dan ekonomi masing-masing kelompok masyarakat, yang pada gilirannya, mengendalikan uang digital.

Dari 30 tema di atas, kita bisa memahami realitas uang lebih komprehensif. Kita masih bisa mengembangkan tema lebih banyak lagi tanpa batas. Tetapi, 30 tema relasi uang sudah memadai untuk kajian dasar.

Apakah uang itu netral?

Tidak netral. Karena uang selalu terkait dengan kepentingan sosial dan politik yang lebih besar. Pihak dominan mendominasi uang; baik uang kuno, industri, mau pun digital; sedangkan pihak lemah ditindas melalui relasi uang; sekeras apa pun pihak lemah bekerja maka, tetap saja, pihak dominan yang kaya.

Netral. Uang adalah netral. Dalam arti, uang bersifat netral bisa mendorong ekonomi adil makmur mau pun penindasan ekonomi. Meski uang bisa netral, tetapi manusia tidak bisa netral. Kita, sebagai umat manusia, selalu harus bertanggung jawab terhadap pilihan realitas uang. Kita punya tanggung jawab menciptakan ekonomi adil makmur melalui relasi uang.

Catatan sejarah menunjukkan, sejak 1971, pemerintah US tidak menjamin uang dengan emas. Maksudnya, jika Anda memiliki uang 100 dolar maka Anda tidak dijamin bisa menukarnya dengan emas. Uang 100 dolar itu hanya dijamin oleh orang lain, atau masyarakat, yang bersedia transaksi dengan Anda. Andai tidak ada orang yang bersedia transaksi dengan uang 100 dolar itu, maka uang 100 dolar itu hanya bernilai seperti uang mainan belaka. Pemerintah di berbagai negara lain mengikuti langkah US dengan melepaskan jaminan emas untuk uang mereka. Jadi, uang kuno dan uang industri mulai bergeser menjadi uang digital yang dinamis. Tidak ada lagi jaminan bagi semua uang dalam makna umumnya.

Dengan mencermati relasi uang, kita sadar bahwa uang bisa berubah secara tajam; lebih-lebih, uang digital sangat dinamis. Karena itu kita perlu beragam eksperimen tentang uang demi masyarakat adil makmur.

5.4.2 Eksperimen Uang Pokok

Universal Basic Income (UBI) sudah menjadi ide menarik untuk menjamin kehidupan yang layak bagi setiap warga. Dalam situasi apa pun, bekerja atau tidak, setiap warga bisa hidup layak, tidak berlebih, melalui jaminan UBI. Dampak positif susulan dari UBI adalah setiap warga bisa bekerja sesuai dengan bakat dan minat; bekerja bukan karena memenuhi kebutuhan dasar bertahan hidup; bekerja adalah untuk aktualisasi diri. Harapannnya, dengan motivasi kerja sebagai aktualisasi, maka akan memberi hasil yang lebih produktif bagi masyarakat.

Problem dari UBI adalah anggaran. Dari mana negara membiayai UBI? Bagaimana jika UBI tidak berhasil meningkatkan produktivitas masyarakat? Jika UBI berlangsung dalam jangka waktu yang lama bukankah menjadi beban yang sangat berat bagi negara?

Jawaban sederhana: negara bisa mencetak uang untuk membiayai UBI. Tentu saja, negara bisa mencetak uang suka-suka. Tetapi, resiko inflasi selalu menghantui. Umumnya, negara tidak akan berani.

Eksperimen uang-pokok adalah solusi.

Negara mencetak uang-pokok untuk membiayai UBI misal berupa koin khusus. Dengan demikian, uang-pokok berbeda dengan uang biasa; berbeda dengan rupiah mau pun dolar. Konsekuensinya, uang-pokok tidak menyebabkan inflasi bagi rupiah.

Untuk eksperimen uang-pokok, kita memilih satu kabupaten di Indonesia dengan penduduk 1 juta orang.

[1] Setiap penduduk mendapat uang-pokok berupa koin untuk 1 tahun penuh.

[2] Setiap penduduk menerima 3 koin untuk makan pagi, siang, dan malam; 3 koin x 365 hari = 1 095 koin.

[3] Asumsikan 1 koin setara 5 ribu rupiah; 1 095 koin x 5 ribu x 1 juta penduduk = 5 475 ribu juta rupiah; Atau bulatkan menjadi 5 T rupiah per tahun.

[4] Sebagian besar penduduk kelas menengah mendonasikan koin untuk fakir miskin; dengan cara tidak klaim koin. Terjadi penghematan dari 5 T menjadi 2 T rupiah.

[5] Anggaran 2 T rupiah masih terlalu besar bagi kabupaten tetapi cukup ringan bagi negara Indonesia. Lagi pula, negara hanya perlu mencetak koin yang murah; kemudian menjamin kurs 1 koin setara 5 ribu rupiah khusus untuk kabupaten tersebut.

Dengan lima langkah di atas, negara sudah berhasil mencetak koin uang-pokok dengan biaya murah; koin ini setara dengan 2 T rupiah. Langkah selanjutnya adalah menjalankan program uang-pokok agar memberikan hasil maksimal.

Petani terlindung dari berbagai tekanan. Sudah umum bagi kita bahwa harga cabe mahal sekali ketika para petani tidak panen cabe. Tiba waktunya, petani panen cabe maka harga cabe sangat murah; cabe bernilai nol rupiah. Petani terlindung dari kesulitan ini karena petani sudah memiliki koin uang-pokok. Kebutuhan dasar untuk hidup bagi petani dan keluarga sudah terjamin oleh uang-pokok. Ketika harga cabe mendekati nol rupiah, petani bisa berkreasi mengolah cabe menjadi bubuk cabe, sambal kering, dibagi buat tetangga, atau lainnya.

Secara bertahap dan pasti, harga cabe akan relatif stabil. Petani cabe makin sejahtera; hasil pertanian makin berlimpah; dan masyarakat luas makin berkembang. Demikian juga petani padi, petani sayur, peternak ikan, petambak garam, dan lain-lain bisa terlindung dari jatuh dan lonjakan harga komoditas.

Perajin makin kreatif menghasilkan karya seni. Perajin sepatu atau perajin ukir kursi sudah sering kita dengar hanya mendapat upah minim; perajin ukir terpaksa berhutang kepada majikan untuk kebutuhan hidup sehari-hari; karena hasil ukiran masih perlu menunggu beberapa pekan selesai; dan beberapa pekan kemudian baru laku dijual; dengan harga yang murah juga. Perajin ukir bisa mengatasi kesulitan ini dengan koin uang-pokok. Perajin bisa menemukan harga terbaik dari karya seni ukirannya; perajin tidak perlu buru-buru. Perajin bisa fokus menghasilkan karya seni kualitas tertinggi; perajin berkarya dengan penuh konsentrasi.

Guru ngaji lebih ikhlas dalam mengaji. Guru sekolah fokus mengajar pelajaran sekolah. Pedagang fokus memperdagangkan produk-produk kualitas tinggi. Warung Tegal mendapat omset yang stabil. Rumah Makan Padang makin cemerlang. Warung-warung tradisional makin tumbuh kembang.

Angka kemiskinin mendekati 0; mengikuti standar garis kemiskinan BPS; konsumsi sekitar 450 ribu rupiah per bulan; koin uang-pokok tepat di dekat garis kemiskinan. Dengan tambahan sedikit-banyak usaha, maka seluruh penduduk akan melampaui batas garis kemiskinan. Tentu, ini menjadi prestasi yang luar biasa.

Tetapi, kita perlu mencapai target konsumsi sehat antara 2 juta sampai 8 juta rupiah perkapita per bulan. Sehingga, kita masih perlu mendorong masyarakat untuk lebih produktif lagi.

5.4.3 Eksperimen Uang Mewah

Eksperimen uang-mewah mengkaji konsumsi yang melebihi batas tertinggi dari konsumsi sehat; misal di atas 10 juta rupiah perkapita per bulan.

Uang-mewah berbeda dengan uang-normal; berbeda dengan rupiah mau pun dolar; berbeda juga dengan uang-pokok. Uang-mewah bisa menjadi substitusi terhadap pajak; bisa juga sekedar sebagai komplemen bagi pajak. Tetapi, yang paling tegas, uang-mewah berbeda dengan uang-normal.

Tujuan uang-mewah adalah untuk mendekatkan orang kaya kepada orang miskin; untuk mendekatkan orang kaya kepada realitas di dekat mereka. Uang-mewah bukan bertujuan menambah beban bagi konsumsi barang mewah; meski, memang terjadi penambahan beban semacam itu.

Barangkali dengan ilustrasi akan memudahkan untuk memahami konsep uang-mewah. Saya sendiri merasa implementasi uang-mewah akan mengahadapi beragam kompleksitas.

Sebuah toko mobil mewah ABC hanya menjual mobil mewah. Konsekuensinya, semua transaksi pembelian mobil di toko ABC wajib menggunakan uang-mewah; tidak boleh menggunakan rupiah mau pun dolar; tersedia kurs yang jelas antara uang-mewah terhadap rupiah atau dolar.

Mobil M berharga 400 juta rupiah. Artis R berniat membeli mobil M. Artis R harus menyediakan uang-mewah sebanyak 800 juta rupiah; yaitu, 2 kali dari harga mobil M.

[1] Artis R menyerahkan 400 juta rupiah uang-mewah kepada toko ABC sebagai pembelian mobil.

[2] Artis R menyerahkan jumlah yang sama, yaitu 400 juta rupiah uang-mewah, kepada fakir miskin atau kepada lembaga yang ditunjuk. Sangat direkomendasikan agar artis R menyerahkan langsung kepada fakir miskin; karena tujuan uang-mewah adalah untuk mendekatkan orang kaya kepada orang miskin; makin besar konsumsi barang mewah maka makin besar pula donasi kepada fakir miskin.

[3] Fakir miskin, misal 400 orang, masing-masing menerima 1 juta rupiah; kemudian, fakir miskin menukarkan uang-mewah ke bank menjadi uang-normal dengan nominal yang sama. Fakir miskin bisa membelanjakan uang-normal ini dengan cara yang wajar.

[4] Toko ABC menerima pembayaran 400 juta rupiah uang-mewah; kemudian, toko ABC menukar uang-mewah ke Bank; hasil penukaran adalah: [4a] toko ABC menerima 200 juta rupiah uang-normal dan [4b] pihak Bank menyalurkan 200 juta rupiah uang-normal lainnya kepada fakir miskin.

[5] Nominal uang-mewah bernilai 100% bila dimiliki oleh fakir miskin; tetapi, secara efektif, hanya bernilai 50% bila dimiliki oleh orang kaya.

Bentuk fisik uang-mewah bisa berupa uang kertas atau uang digital. Beberapa skenario pelanggaran aturan penggunaan uang-mewah bisa terjadi di berbagai tempat; pelanggaran bisa masuk kategori pidana. Kita perlu mengembangkan beragam skenario solusinya.

5.5 Diferensiasi Harmonis

Adil makmur dipenuhi oleh keragaman, diferensiasi, yang harmonis. Sehingga, ekonomi adil makmur perlu membedakan diri dengan sistem politik mau pun sistem agama. Komponen-komponen ekonomi itu sendiri juga saling terdiferensiasi: uang, bahan baku, sdm, inovasi, teknologi, dan lain-lain. Ekonomi adil makmur bertabur keragaman harmonis; internal dan eksternal.

Ekonomi tidak bisa mandiri; tidak bisa terlepas dari politik dan agama, misalnya. Realitas ekonomi, politik, dan agama selalu saling pengaruh. Membahas ekonomi saja, secara terbatas, hanya untuk memudahkan. Pada gilirannya, teori ekonomi perlu diuji dalam realitas; termasuk relasi dinamisnya terhadap politik dan agama. Uang, yang awalnya hanya bagian dari realitas ekonomi, berpengaruh besar terhadap politik dan agama.

Realitas uang menjadi masalah besar karena tidak ada diferensiasi pada uang. Orang memandang uang sebagai universal konkret. Universal karena uang bisa berlaku di mana saja dan kapan saja. Dolar bisa laku di Indonesia dengan menukar ke rupiah; dolar bisa laku di Arab dengan menukar ke riyal. Konkret karena uang bisa membeli segala sesuatu secara konkret; uang bisa membeli makanan, pakaian, mobil, rumah, dan apa saja. Tetapi, pandangan seperti itu adalah salah. Karena uang bukan universal konkret. Uang hanya dianggap sebagai universal dan dianggap sebagai konkret.

Apakah uang bisa membeli cinta? Apakah uang bisa membeli kebahagiaan? Apakah uang bisa membeli waktu?

Uang tidak bisa membeli cinta barangkali, karena, uangnya kurang banyak. Jika jumlah uang Anda lebih banyak maka akan mudah membeli cinta. Candaan seperti ini salah meski tampak seperti benar.

Uang tidak bisa membeli cinta karena uang tidak universal; ada banyak hal yang tidak bisa dibeli oleh uang; cinta dan bahagia termasuk yang tidak bisa dibeli oleh uang; berapa pun jumlah uangnya. Bahkan oksigen saja tidak bisa dibeli bila memang tabung oksigen sudah habis; misal ketika pandemi covid mencapai puncaknya.

Uang jelas tidak konkret; anda tidak bisa makan uang; anda tidak bisa menghirup uang. Beda dengan air yang konkret; kita bisa minum air yang menyegarkan karena air konkret.

Bagaimana pun, uang adalah hampir universal dan hampir konkret; atau uang bersifat universal dalam perspektif tertentu dan bersifat konkret pada perspektif yang lain. Kita sudah membahas realitas relasi uang dengan 30 tema di bagian atas. Uang ini, meski kompleks, kita sebut sebagai uang-normal.

Sampai di sini, kita bisa membuat diferensiasi uang menjadi 3 macam.

[1] Uang-normal. Berupa uang emas, uang fiat, dan uang digital yang sudah kita bahas di atas.

[2] Uang-pokok. Uang yang menjamin kebutuhan pokok bagi setiap orang. Uang-pokok bisa berbentuk koin.

[3] Uang-mewah. Uang yang digunakan untuk transaksi produk dan jasa mewah. Setiap transaksi produk mewah berkonsekuensi untuk donasi kepada fakir miskin. Bentuk uang-mewah bisa berupa kertas atau digital.

Dinamika harmonis dari keragaman jenis uang ini mengarahkan kita untuk menciptakan sistem ekonomi yang adil makmur. Bagaimana menurut Anda?

Lanjut ke Politisasi Cinta
Kembali ke Philosophy of Love

The Death of God other than God: Nietzsche Philosophy

Anakku bertanya tentang Nietzsche. Lalu aku jawab, “Dia adalah pemikir jenius yang sulit dipahami tapi mudah disalahpahami.” Saya setuju dengan Iqbal (1877 – 1938) yang menempatkan Nietzsche sebagai pemikir tingkat tinggi. Iqbal mengetahui itu dari pembimbingnya yaitu Rumi.

“This is the German genius whose place is between these two worlds…his words are fearless, his thoughts sublime,
the Westerners are struck asunder by the sword of his speech.”

Kita akan membahas lima ide penting dari Nietzsche (1844 – 1900). Pertama, “the death of god other than God.” Tentu saja, ide kematian-tuhan mengguncang dunia. Umat beragama merespon dengan menolak ide itu. Kita akan mengkaji lebih dalam dari sekedar potongan kalimat kematian-tuhan. Umat beragama juga ada yang menggunakan term mirip itu seribu tahun sebelumnya. “There is no god but God.”

Kedua, konsep nihilisme dan penciptaan nilai. Nietzsche sering dikenal sebagai tokoh nihilisme. Memang, dia sendiri memprediksi dalam dua abad ke depan adalah jaman yang dipenuhi oleh nihilisme. Lalu apa jika memang nihilisme? Pertanyaan ini yang perlu kita bahas. Setelah hampanya segala nilai maka selanjutnya manusia bertanggung jawab untuk menciptakan nilai secara kreatif.

Ketiga, overman. Manusia sempurna adalah overman atau sering disebut juga sebagai superman. Dia adalah manusia sempurna yang punya kekuatan mengatasi segala kesulitan. Dia adalah manusia yang tidak pernah menyerah. Dia adalah manusia yang berani berbeda dari sekawanan orang biasa.

Keempat, will-to-power. Kehendak untuk berkuasa, will-to-power adalah realitas fundamental dari alam semesta. Dari butiran debu, virus, tumbuhan, binatang, manusia, rembulan, matahari, sampai seluruh galaksi memiliki will-to-power untuk menampilkan diri secara gagah berani.

Kelima, pengulangan-abadi-yang -sama. Nietzsche sendiri menekankan bahwa konsep pengulangan-abadi adalah ide paling sentral dari filsafatnya. Sementara, kita sulit memahami dengan pasti apa maksud dari pengulangan-abadi. Beberapa sarjana membacanya sebagai konsep kosmologi bahwa alam semesta akan terus-menerus berulang dengan cara yang sama. Saya sendiri membacanya, konsep pengulangan-abadi, sebagai proses kreatif yang berlangsung terus-menerus secara abadi.

Ragam Interpretasi

Seperti kita sebut di awal, Nietzsche mudah disalahpahami dan sulit dipahami. Maka interpretasi kita, di sini, bisa jadi bertentangan dengan interpretasi orang lain. Wajar saja itu terjadi. Karya Nietzsche tampak seperti gabungan antara tulisan filosofis dengan puisi. Sehingga banyak pesan yang tersurat dan tersirat.

Vattimo (1936 – ) adalah pemikir Itali yang mengapresiasi Nietzsce. Menurutnya, Nietzsche telah membuka jalan kebebasan manusia dan menyiapkan landasan masyarakat demokratis. Deleuze (1920 – 1995) adalah pemikir Prancis yang menilai karya Nietzsche sebagai sangat kreatif dan menghormati beragam macam perbedaan. Heidegger (1989 – 1976) adalah pemikir Jerman yang menyatakan bahwa Nietzsche berhasil memotret dengan tepat kondisi mutakhir dari masyarakat modern lengkap dengan beragam masalah yang dihadapi. Russell (1872 – 1970) adalah pemikir Inggris yang mengkritik keras Nietzsche. Menurutnya, Nietzsche mengijinkan perilaku kekerasan. Dan banyak tokoh agama yang mengutuk Nietzsche lantaran dinilai sebagai menyebarkan ajaran atheisme.

Tulisan ini akan membaca Nietzsche dari sudut pandang filsafat dinamis. Maka kita akan menemukan sisi-sisi dinamis dari pemikiran Nietzsche. Karena dinamis maka tidak ada titik akhir dari suatu ide. Selamanya, ide bisa terus berkembang secara dinamis.

A. The Death of God other than God

Tentu saja, ide kematian-tuhan adalah ide yang provokatif dan sensitif. Barangkali, Nietzsche sengaja melontarkan ide kematian-tuhan untuk membangunkan umat manusia dari tidur panjangnya. Umat beragama kaget. “Ajaran macam apa yang menyatakan kematian-tuhan?” Mereka, umat beragama, menolak konsep kematian-tuhan.

Di pihak lain, pada masa akhir abad 19 sampai sekarang, orang-orang atheis merasa mendapat dukungan segar. Mereka penuh semangat mendukung ide kematian-tuhan. Bila kita menakar keberhasilan konsep kematian-tuhan dari banyaknya respon, maka kita bisa sepakat, Nietzsche sudah berhasil mendapat respon dari dua kubu – dan masih banyak kubu lainnya.

”Well! Take heart! ye higher men! Now only travaileth the mountain of the human future. God hath died: now do we desire – the Superman to live.” (Study.com)

Lebih dari sekedar respon, ide kematian-tuhan memang menyimpan konsep kreatif yang bisa kita gali terus-menerus. Untuk memahaminya, saya berharap, kita memotong frasenya sedikit lebih panjang. Menjadi seperti berikut ini,

the-death-of-god-other-than-God = kematian-tuhan-selain-Tuhan

Dengan frasa yang lebih panjang di atas, kita bisa memahami bahwa hanya tuhan-tuhan tertentu yang mati. Untuk selanjutnya, hadir Tuhan-sejati. Tugas kita menjadi lebih menantang: Tuhan-sejati itu seperti apa? Nietzsche sendiri mengambil tokoh Zaratusta untuk menjelaskan itu. Zaratusta harus turun gunung untuk mejelaskan kepada masyarakat yang sibuk bisnis di pasar. Hasilnya, orang-orang yang sibuk di pasar itu, memang tetap, tidak paham kata-kata Zarastuta – yang penuh dengan kebenaran itu. Nasib yang sama menimpa Nietzsche sendiri – orang-orang tidak memahaminya.

Kepada umat beragama, seakan-akan, Nietzsche menyerukan, “Dogma-dogma ketuhanan kalian sudah mati. Ayo, menghidupkan ketuhanan yang sejati.”

Agama, pada awalnya, bersifat kreatif dinamis. Agama membersihkan dogma-dogma yang menjerat masyarakat. Dogma itu sudah menjadi berhala. Dogma itu sudah menjadi tuhan-tuhan bagi mereka. Dan tentu saja, ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari dogma-dogma itu. Di saat yang sama, dengan dogma itu, penguasa meng-eksploitasi orang-orang miskin yang lemah. Agama, sejatinya, datang untuk menghancurkan dogma-dogma itu.

Agama berhasil membawa manusia menuju pencerahan. Tidak lama dari itu, ada pihak-pihak tertentu yang mengubah agama menjadi dogma baru. Dogma yang sama seperti dulu yang pernah ada. Dan dogma dari agama itu menjadi tuhan mereka. Dogma yang menjadi tuhan itulah yang harus mati. Umat manusia perlu kembali kepada Tuhan-sejati.

Orang-orang atheist, sama saja, mereka terjebak dalam dogmanya. Atheisme, yang awalnya, mengaku sebagai pembebasan, nyatanya, menjadi dogma juga. Tanpa bukti kuat, mereka menolak Tuhan. Tanpa nalar yang konsisten, orang atheis menolak berbagai macam hal yang tidak sanggup mereka pahami. Dogma atheisme telah menjadi tuhan bagi mereka. Tuhan semacam itu sudah mati. Sudah tiba waktunya, umat manusia kembali kepada Tuhan-sejati.

Orang-orang agnostik juga terjebak dalam dogma ketidaktahuannya. Orang agnostik menganggap eksistensi Tuhan tidak bisa dibuktikan. Di saat yang sama, orang agnostik, meyakini bahwa pernyataan yang menolak eksistensi Tuhan juga tidak bisa dibuktikan. Orang agnostik berimbang antara tidak bisa membuktikan adanya Tuhan dan tidak ada bukti menolak eksistensi Tuhan. Dogma agnostik seperti itu juga menjad dogma yang dipertuhankan. Tuhan dogma agnostik sudah mati. Saatnya kembali ke Tuhan-sejati.

B. Nihilisme dan Penciptaan Nilai

“What I relate is the history of the next two centuries. I describe what is coming, what can no longer come differently: the advent of nihilism. . . . ” (IEP)

Nietzsche memprediksi, dalam 2 abad ke depan, yaitu abad 20 dan 21, nihilisme akan mendominasi dunia. Prediksi ini menunjukkan banyak tanda-tanda kebenarannya, terutama, di Barat. Tetapi apa yang dimaksud dengan nihilisme?

“affirmation of life, even in its strangest and sternest problems, the will to life rejoicing in its own inexhaustibility through the sacrifice of its highest types—that is what I called Dionysian….beyond [Aristotelian] pity and terror, to realize in oneself the eternal joy of becoming—that joy which also encompasses joy in destruction (“What I Owe the Ancients” 5).” (IEP)

Pertama, nihilisme adalah runtuhnya nilai tertinggi. Dalam filsafat, nilai tertinggi adalah klaim kebenaran metafisika yang dijamin kebenarannya. Misalnya alam ideal Plato dianggap paling bernilai tinggi. Atau kesempurnaan intelektual Aristoteles dianggap sebagai paling bernilai. Semua runtuh di hadapan nihilisme. Semua nihil. Semua setara. Semua horisontal. Seseorang, justru, harus menikmati proses menjadi diri sendiri terbebas dari ikatan metafisika.

Bagi umat beragama, nihilisme ini seakan konsekuensi dari kematian-tuhan. Sejatinya, nihilisme adalah kematian dogma-dogma agama yang dipertuhankan itu. Umat beragama, seharusnya, bisa menikmati proses menjalankan agama sebagai manusia-sejati. Terbebas dari dogma-dogma yang mengaku sebagai tuhan.

Bagi manusia modern, manusia ekonomi, nihilisme mengatakan bahwa profit itu hampa. Keuntungan ekonomi, yang dulu dikejar sebagai paling bernilai, itu tidak berguna. Itu semua sia-sia. Manusia ekonomi, seharusnya, menikmati proses dalam menjalankan roda ekonominya.

Kedua, nihilisme adalah runtuhnya tujuan. Nihilisme menghapus tujuan. Orang bisa saja menghalalkan cara demi mencapai tujuan. Saat ini, dengan nihilisme, tujuan sudah sirna. Karena tidak ada tujuan maka tugas manusia adalah menciptakan tujuannya sendiri. Tugas manusia adalah menciptakan nilainya sendiri.

Dengan runtuhnya tujuan dan runtuhnya nilai tertinggi maka manusia benar-benar menjadi bebas. Manusia bebas terbang, menikmati hidupnya, menciptakan tujuannya sendiri, dan menciptakan nilai-nilainya sendiri. Untuk menikmati kebebasan ini, manusia rela mengorbankan segala yang perlu dikorbankan. Manusia tidak pernah berhenti menciptakan tujuannya sendiri, dan menciptakan nilai tertingginya sendiri. Semua proses penciptaan ini berlangsung dengan penuh bahagia.

Ketiga, nihilisme adalah tidak adanya jawaban untuk pertanyaan “mengapa.” Orang bisa saja mengaku sudah menemukan jawaban terhadap pertanyaan “mengapa.” Itu hanya klaim belaka. Nihilisme meruntuhkan jawaban yang bersifat pasti seperti itu. Tidak pernah ada jawaban sekuat itu. Manusia, justru, yang harus menjawab pertanyaan “mengapa.” Pada gilirannya, setiap jawaban akan berhadapan dengan pertanyaan “mengapa” yang lebih baru. Proses ini berlangsung terus-menerus tanpa henti. Manusia, lagi-lagi, menikmati penuh bahagia semua proses ini.

Dengan makna konsep nihilisme seperti di atas maka tidak ada sikap pesimis dalam manusia. Nihilisme, justru, mengajak manusia untuk bersikap aktif dan menikmati seluruh proses menghancurkan dogma-dogma yang ada, kemudian, menciptakan nilai-nilai baru yang paling tinggi.

Siapa orang yang sanggup melakukan itu? Bukan orang biasa-biasa saja. Bukan sekedar gerombolan. Dia memang orang yang luar biasa. Dia adalah overman.

C. Overman

Konsep ketiga paling penting, yang kita bahas, adalah overman atau superman atau superhuman yaitu manusia teladan. Overman adalah manusia yang tidak pernah kehabisan energi terus berkreasi. Mampu mengatasi segala rintangan. Rela mengorbankan apa saja. Dan, menikmati penuh bahagia semua proses yang ada.

“1. the higher species is lacking, i.e., those whose inexhaustible fertility and power keep up the faith in man….[and] 2. the lower species (‘herd,’ ‘mass,’ ‘society,’) unlearns modesty and blows up its needs into cosmic and metaphysical values.” (IEP)

Overman adalah spesies langka. Hanya segelintir orang yang berhasil menjadi overman. Sebagian besar orang menyerah, untuk kemudian, menjadi manusia biasa-biasa saja. Mereka tenggelam dalam hembusan debu kosmik. Mereka lahir, kemudian tertiup angin, akhirnya menuju kuburannya sendiri. Overman berbeda dari itu semua. Overman berani menantang semua rintangan. Overman menguasai dunia.

Siapakah contoh nyata overman? Tampaknya, Nietzsche hanya samar-samar memberi contoh. Kita bisa memahaminya. Karena overman tidak bisa dicontoh. Justru, overman adalah dia yang menciptakan contoh. Overman adalah contoh original yang kreatif. Tidak ada dua orang overman yang identik. Setiap overman adalah unik. Seseorang tidak bisa menjadi overman dengan cara meniru overman.

Dalam samar-samar contoh nyata, kita bisa mendekati beberapa tokoh sebagai kandidat overman. Pertama, Zaratusta, adalah pemikir orisinal yang berani tampil beda. Zaratusta sudah hidup nyaman di pertapaan lengkap dengan petualangan intelektual – dan spiritual. Zaratusta meninggalkan kenyamanannya, turun ke pasar, mengajak masyarakat untuk melepaskan diri dari jeratan hidup yang biasa-biasa saja. Orang-orang perlu menjadi manusia kuat, overman. Resiko sudah jelas. Orang-orang biasa itu tidak paham kata-kata dari Zaratusta. Akhirnya, setelah sekian lama, ada juga yang paham.

Kedua, Napoleon adalah jenderal perang yang cerdik dan kuat. Napoleon tampak cocok sebagai contoh overman. Napoleon berhasil menaklukkan hampir seluruh daratan Eropa. Napoleon memimpin pasukan perang melewati medan perang yang sangat berbahaya. Napoleon, dengan pasukannya, gagah perkasa mengalahkan semua halangan.

Ketiga, Mr Nietzsche adalah pemikir orisinal yang berbeda dengan semua pemikir lainnya. Semua pemikiran, masa itu, terjerat oleh metafisika Plato-Aristoteles. Mr Nietzsche adalah overman yang mengatasi jeratan metafisika. Dia meruntuhkan pemikiran rasional gaya Apollo. Untuk kemudian membangkitkan gaya berpikir kreatif ala Dionysian. Mr Nietzsche membebaskan pemikiran manusia untuk terbang tinggi mencapai overman.

Bila kita mempertimbangkan tiga contoh overman di atas – Zaratusta, Napoleon, dan Mr Nietzsche – maka kita bisa menambahkan lebih banyak contoh lagi. Barangkali orang-orang jenius di bidang masing-masing bisa kita masukkan sebagai overman. Di antaranya jenius sains, seni, olahraga, bisnis, politik, spiritual, dan lain-lain. Overman, meskipun sulit dicapai, bukanlah sosok ideal yang fantastis. Overman adalah manusia nyata yang hidup di dunia nyata ini. Yang menjadi istimewa pada overman, tidak dimiliki orang biasa, adalah overman mengembangkan will-to-power terus-menerus.

D. Will-to-Power

Will-to-power adalah realitas fundamental semesta. Orang mengira will-to-power adalah kehendak yang ada pada manusia saja. Sejatinya, will-to-power ada pada semua alam raya dari elektron, atom, molekul, debu, angin, pasir, air, virus, tumbuhan, binatang, manusia, rembulan, matahari, dan seluruh galaksi. Mereka semua adalah will-to-power yang saling bertabrakan untuk menjadi pemenang.

“What is good?—All that heightens the feeling of power, the will to power, power itself in man. What is bad?—All that proceeds from weakness.  What is happiness?—The feeling that power increases—that a resistance is overcome.” (IEP)

Pertama, memang benar, bahwa will-to-power ada dalam diri manusia. Will-to-power adalah yang menentukan sesuatu menjadi baik atau buruk. Sesuatu yang baik adalah yang meningkatkan perasaan berkuasa, will-to-power. Sementara, sesuatu yang buruk adalah sesuatu yang melemah. Sedangkan bahagia adalah perasaan berkembangnya will-to-power.

Kedua, will-to-power adalah seluruh realitas alam semesta. Maka alam semesta, juga, ingin mengembangkan kekuatannya. Misal, virus covid mempunyai will-to-power untuk berkembang ke seluruh dunia. Debu-debu kosmik, juga, ingin memenuhi alam raya dengan kekuatannya. Will-to-power ingin eksis di alam raya dan alam raya itu sendiri adalah will-to-power.

Ketiga, mengembangkan will-to-power adalah mengembangkan alam semesta, itulah, kebaikan. Meruntuhkan will-to-power adalah meruntuhkan alam semesta, itulah, keburukan. Apakah manusia ingin bahagia? Maka kembangkanlah will-to-power, kembangkanlah alam semesta. Perasaan berkembangnya will-to-power, berkembangnya alam semesta, itulah kebahagiaan.

Manusia paling bahagia adalah overman. Dia menaklukkan semua halangan. Dia mengembangkan will-to-power terus menerus tanpa henti. Dia mengembangkan alam semesta tiada henti. Overman berbahagia tanpa henti.

Apa yang terjadi jika seseorang tidak mau jadi overman? Dia hanya menjadi manusia biasa-biasa saja. Dia tidak mengembangkan will-to-power. Dia tidak mengembangkan alam semesta. Maka orang biasa-biasa saja seperti itu terjebak dalam pengulangan-abadi-yang-sama. Manusia hanya bisa selamat dari jebakan itu dengan menjadi overman yang melampaui pengulangan-abadi.

E. Pengulangan-Abadi-yang-Sama

Nietzsche sendiri menekankan konsep pengulangan-abadi adalah konsep paling penting dalam filsafatnya. Sekilas, konsep pengulangan-abadi adalah tema kosmologi. Sementara, konsep will-to-power adalah konsep psikologi. Tampaknya, pembacaan lebih lanjut menunjukkan tidak adanya pembatasan sempit seperti itu. Pengulangan-abadi bukan hanya kosmologi. Begitu juga, will-to-power bukan hanya psikologi.

“… and everything unutterably small or great in your life will have to return to you, all in the same succession and sequence—even this spider and this moonlight between the trees, and even this moment and I myself. The eternal hourglass of existence is turned upside down again and again, and you with it, speck of dust!” (IEP)

Pertama, secara kosmologi, pengulangan-abadi adalah sejenis reinkarnasi dari alam semesta beserta isinya. Barangkali kita bisa meminjam teori kosmologi dari sains fisika. Alam semesta berawal dari big-bang beberapa milyard tahun yang lalu. Kemudian alam mengembang. Tercipta tata surya, salah satunya ada planet bumi. Muncul kehidupan di bumi sampai lahir umat manusia. Beberapa milyard tahun ke depan, alam semesta berhenti mengembang. Justru, berbalik arah, alam semesta mengecil. Makin lama, alam semesta makin kecil, lebih kecil dari kelereng. Tentu saja, seluruh gedung-gedung sudah runtuh dalam himpitan alam seukuran kelereng. Umat manusia juga ikut hancur. Hancur lebur semua menjadi satu titik saja, lalu, hilang dalam kehampaan.

Setelah kehampaan alam semesta, terjadi big-bang lagi sebagai pengulangan-abadi. Alam semesta mengembang, muncul manusia yang sama persis dengan manusia-manusia masa lalu. Lalu alam menyempit lagi sampai jadi satu titik. Hancur, lenyap dalam kehampaan. Dan, terus berulang secara abadi seperti itu.

Kedua, pengulangan-abadi adalah terjadi di sini, saat ini, termasuk secara psikologis. Orang-orang gerombolan yang biasa-biasa saja berulang secara abadi, dengan sama persis, tetap menjadi orang-orang biasa. Orang yang malas dan lemah berulang secara abadi, dengan sama persis, tetap jadi orang malas dan lemah.

Sementara, overman, orang yang kuat, terlepas dari jebakan pengulangan-abadi. Ketika overman akan diulang dengan cara yang sama, overman itu sudah berubah, overman sudah lebih berkembang will-to-power-nya. Lagi, ketika akan diulang dengan cara yang sama, overman sudah berubah juga. Will-to-power sudah jauh berkembang.

Sehingga tidak ada pengulangan-abadi-yang-sama terhadap overman. Yang terjadi adalah pengulangan-perbedaan terhadap overman. Ketika diulang, overman sudah jauh berkembang. Bukan eternal-recurrence-of-the-same terhadap overman. Melainkan, eternal-recurrence-of-the-difference dari overman.

Ketiga, pilihan ada di tangan Anda sebagai manusia. Seseorang bisa menyerah kalah menjadi orang biasa-biasa saja. Untuk kemudian, dia terjebak dalam pengulangan-abadi-yang-sama. Tetap menjadi orang yang kalah. Atau Anda bisa memilih menjadi overman. Menjadi orang yang pantang menyerah. Rela menghadapi berbagai kesulitan. Mampu mengatasi segala rintangan. Anda lolos dari jebakan. Anda masuk ke pengulangan-perbedaan yang abadi. Will-to-power Anda selalu berbeda, selalu berkembang.

Demokrasi Nihilisme

Bagaimana overman menghadapi demokrasi?

Tampaknya, Nietzsche tidak banyak membahas filsafat politik. Dia lebih fokus ke filsafat fundamental metafisika atau ontologi. Hasil sampingannya berupa filsafat kemanusiaan sebagai individu, overman. Sehingga, untuk membahas demokrasi overman, kita perlu mengembangkan beragam alternatif pemikiran.

Pertama, demokrasi otoriter. Mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa overman akan mendorong demokrasi otoriter. Atau, bahkan tidak ada demokrasi. Otoritas politik hanya ada di tangan satu orang yaitu overman, satu manusia kuat.

Apa masalahnya dengan demokrasi otoriter?

Tidak ada masalah dengan demokrasi otoriter, sejauh pemegang kekuasaan adalah overman, manusia sempurna. Overman memimpin masyarakat menuju masyarakat adil dan makmur. Tidak ada korupsi, tidak ada kejahatan, tidak ada penindasan. Masalah justru muncul ketika penguasa politik, yang otoriter itu, ternyata, bukan overman. Dia memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan kroni-kroninya. Demokrasi otoriter, dalam hal ini, benar-benar bermasalah.

Kedua, demokrasi aristokrasi. Apa masalah dari aristokrasi? Tidak ada masalah dengan aristokrasi sejauh para aristokratnya, bangsawan, adalah overman. Para aristokrat, yang overman itu, memanfaatkan seluruh kekuatan politik untuk kebaikan bersama. Masalah muncul, mirip sebelumnya, bila para aristokrat itu, ternyata, bukan overman. Mereka hanya bangsawan yang memanfaatkan gelar bangsawan untuk kepentingan pribadi dan kaumnya belaka. Demokrasi aristokrasi, dalam kasus ini, benar-benar bermasalah.

Ketiga, demokrasi overman. Barangkali cita-cita politik ideal masa kini adalah demokrasi overman. Demokrasi, di mana rakyat adalah pemegang kekuasaan politik, di saat yang sama, rakyat adalah para overman. Atau, sebagian besar dari rakyat adalah overman, manusia sempurna. Dengan demikian rakyat overman itu saling bersaing dan bekerja sama dalam kehidupan politik yang adil dan makmur.

Masalah tetap bisa muncul. Ketika rakyat bukan overman. Maka suara rakyat bisa dibeli oleh partai politik. Untuk kemudian, partai politik dan penguasa politik mengeksploitasi sumber daya dan rakyat untuk kepentingan segelintir orang. Sehingga, tugas terpenting bagi kemanusiaan adalah mendorong rakyat untuk menjadi overman, manusia sempurna.

Dengan kemajuan teknologi digital yang makin melejit, terbuka peluang besar bagi kita untuk menciptakan demokrasi sejati. Demokrasi oleh rakyat overman, dari rakyat overman, dan untuk rakyat overman. Selalu ada dinamika dalam diri overman. Selalu ada dinamika dalam demokrasi.

Nihilisme membuka jalan untuk overman, untuk kemudian, membangun demokrasi overman.

Materialisasi Cinta dan Kecantikan

Cinta itu indah. Cinta itu suci. Cinta itu putih. Membahagiakan setiap orang. Membahagiakan kehidupan sekitar. Dan membahagiakan alam semesta. Cinta adalah segalanya.

Di sisi lain, cinta bisa saja berlumur dusta. Bahagia menjadi derita. Cinta hanya di bibir saja. Cinta bukan lagi cinta. Karenanya, jadi sumber bencana.

1. Nafsu Cinta
2. Warna Cinta
2.1 Putih
2.2 Hitam
2.3 Merah
2.4 Kuning
3. Kekuatan Cinta
3.1 Big Power
3.2 Bio Power
3.3 Bit Power
4. Solusi
4.1 Personal
4.2 Sosial
4.3 Sirkular
5. Filosofi Cantik
5.1 Cantik Subyektif
5.2 Cantik Obyektif
5.3 Cantik Dialektik
6. Proses Cantik
6.1 Cantik Tidak Cantik
7. Sublim dan Teleologi
7.1 Teleologi Alam Raya
7.2 Tujuan Manusia
8. Bukti Tuhan Ada
8.1 Argumen Rasional
8.2 Antinomi Eksistensi Tuhan
8.3 Argumen Moral
8,4 Argumen Spesial
9. Cantik Maha Cantik
10. Ringkasan

Di bagian ini, kita akan membahas penyelewengan cinta dan kecantikan. Manusia, sebagaimana biasanya, memiliki kemampuan membelokkan segala sesuatu. Termasuk, membelokkan cinta. Cinta, yang seharusnya, sebagai anugerah bagi sesama berubah menjadi senjata untuk eksploitasi umat manusia. Kecantikan menjadi daya pesona yang luar biasa untuk menggelapkan mata. Bagaimana pun, manusia tetap punya kemampuan untuk kembali meluruskan cinta. Membuat cinta kembali bening putih, kembali bersinar, dan kembali suci.

1. Nafsu Cinta

Sunan Kalijaga (1450 – 1513) menyebutkan ada beragam nafsu pada manusia. Dalam Serat Nawaruci, Kalijaga melambangkan empat macam nafsu dengan warna putih, hitam, merah dan kuning. Kita akan membahasnya di bagian ini.

Istilah nafsu adalah kata serapan dari bahasa Arab. Setelah diserap, istilah nafsu lebih sering bermakna negatif. Kita sering menyebut, misalnya, nafsu amarah atau nafsu serakah atau nafsu syahwat. Sementara, dalam bahasa Arab, nafsu itu cenderung bersifat netral. Memang ada hawa nafsu yang cenderung negatif. Di sisi lain, ada juga nafsu yang tenang, muthmainah, nafsu yang damai berbahagia.

Sedangkan, istilah cinta sering kita maknai sebagai bersifat positif sebagai mana cinta suci. Begitu kita menggabungkan nafsu dan cinta menjadi nafsu cinta, terasa lebih kuat konotasi negatifnya. Maka kita akan memaknai nafsu cinta sesuai dengan konteks masing-masing sehingga lebih fleksibel.

2. Warna Cinta

Dalam kisah Nawaruci, Bima pergi ke samudera untuk mendapatkan kebenaran sejati, air kehidupan. Bima mendapat bimbingan Nawaruci untuk masuk ke dalam tubuh Nawaruci yang berukuran kecil, seukuran jari kelingking. Setelah masuk ke dalam diri, Bima melihat empat warna cahaya.

2.1 Putih

Cahaya putih adalah cinta suci dalam diri manusia. Cinta yang bersinar dalam diri kita dan selalu menyinari segalanya. Cinta putih adalah jiwa sejati setiap anak manusia. Tetapi cinta cahaya putih ini hanya seorang diri. Sehingga cinta putih sering dikalahkan oleh warna-warna lain. Ada tiga warna utama yang menghalangi: hitam, merah, dan kuning. Masing-masing warna itu bervariasi dalam jumlah yang banyak, dengan kombinasi di antara mereka. Akibatnya, cinta putih tenggelam di antara banyak warna lainnya. Kita, tetap, membutuhkan cinta putih.

2.2 Hitam

Cinta hitam, adalah pembelokan dari cinta. Barangkali tidak bisa lagi disebut sebagai cinta. Bisa kita sebut sebagai nafsu hitam, yaitu nafsu amarah dengan ukuran yang terlalu besar. Nafsu hitam menggelapkan pandangan umat manusia. Nafsu hitam mengajak seseorang menyelamatkan diri dengan cara menyerang orang lain. Merampok adalah contoh nafsu hitam. Merugikan pihak lain demi memperoleh keuntungan sendiri. Korupsi pejabat di kala pandemi, barangkali adalah nafsu hitam yang sangat hitam.

Kita perlu mengalahkan nafsu hitam tersebut untuk kembali mengambil sinar cinta putih. Berbagai macam cara perlu kita kembangkan, baik secara rasional atau etis, untuk mengendalikan nafsu hitam.

2.3 Merah

Nafsu merah, di samping nafsu hitam, merupakan pembelokan dari cinta putih. Hasrat kita untuk makan adalah cinta putih yang mendorong kita untuk menjaga kesehatan. Hasrat makan juga mengajarkan kita agar membantu orang lain yang kelaparan dengan cara berbagi makanan. Nafsu merah mengajak manusia untuk melanjutkan nikmatnya makanan dalam jumlah lebih besar. Akibatnya, seseorang bisa makan dalam jumlah yang lebih besar dari seharusnya. Pada waktunya, orang tersebut menjadi kelebihan berat badan. Ancaman beragam penyakit selalu mengintai: darah tinggi, diabetes, sakit jantung, dan lain-lainnya. Di pihak orang miskin, mereka kekurangan makanan. Karena ada pihak orang kaya yang mengkonsumsi berlebihan.

2.4 Kuning

Sementara, nafsu kuning, lebih licik dari nafsu hitam dan merah, membelokkan cinta putih dengan cara lebih halus. Nafsu kuning bisa membuat pembenaran dari beragam kejahatannya. Kita perlu lebih waspada. Seorang pejabat melakukan korupsi dengan mencuri uang 100 juta rupiah. Lalu dia menggunakan 20 juta dari uang korupsi itu untuk membantu yatim piatu, membangun tempat ibadah, dan sekolah. Pahalanya lebih besar dari 100 juta maka dia lebih banyak pahalanya dari dosanya. Dengan perhitungan itu, nafsu kuning mendorong pejabat untuk terus korupsi dengan cara yang lebih halus. Dan pejabat itu, dengan bangga, merasa telah berjasa kepada yatim piatu, tempat ibadah, dan sekolah.

Pembelokan cinta oleh nafsu hitam, merah, dan kuning adalah bentuk materialisasi cinta. Di mana, cinta putih nan suci dibelokkan untuk mengeruk kepentingan material. Sebagai akibatnya, merugikan lebih banyak pihak lain. Dan pada gilirannya, sejatinya, merugikan pelakunya sendiri.

Kita bisa membuat ilustrasi yang lebih tegas tentang pembelokan cinta demi materi. Nafsu hitam menyuruh pejabat memerintahkan seorang anak buah laki-laki tugas ke luar kota. Dalam perjalanan, karyawan laki-laki itu dibuat kecelakaan transportasi sampai meninggal. Untuk kemudian, pejabat itu menikahi istri cantik dari karyawannya yang sudah meninggal. Sungguh pejabat yang kejam dengan nafsu hitam.

Nafsu merah menjebak manusia untuk berlebihan dalam melampiaskan nafsunya. Pejabat yang sudah beristri main perempuan di sana-sini. Bahkan, bisa jadi, punya istri simpanan yang jumlahnya tidak karuan. Atau dalam pergaulan bebas, beberapa orang berganti-ganti pasangan. Suatu perilaku dalam jebakan nafsu merah, pembelokan cinta. Akibatnya, ancaman beragam penyakit ada di mana-mana termasuk HIV.

Nafsu kuning, lagi-lagi, lebih curang dari nafsu hitam dan nafsu merah dengan cara yang lembut. Seorang bos membuka lowongan kerja khusus bagi pemuda dan pemudi dengan penampilan menarik. Bos merekrut banyak pemuda dan pemudi. Tahap awal bekerja adalah layanan pekerjaan yang wajar. Tahap selanjutnya, pekerjaan mulai bergeser ke layanan pekerjaan cinta. Semua pergeseran kerja itu dilakukan tanpa paksaan dengan kesepakatan semua pihak. Nafsu kuning berhasil meyakinkan bos bahwa bos telah berhasil membuka lapangan kerja dan mengambil keuntungan yang legal, suka sama suka.

Seberapa pun dalamnya seseorang terperangkap dalam nafsu hitam, merah, dan kuning, di saat-saat tertentu, cinta putih akan mengetuk hatinya. Cinta putih mengajak kita untuk kembali ke jalan cinta yang suci. Selanjutnya, pilihan ada di tangan kita. Kita bisa memilih untuk kembali ke jalan cinta putih yang suci. Atau seseorang bisa memilih tetap tenggelam dalam nafsunya. Bagaimana pun, sinar cinta putih akan selalu terpecik dalam jiwa setiap orang, meski kadang redup dalam situasi sulit.

3. Kekuatan Cinta

Kali ini, kita akan membahas kekuatan cinta secara sosial. Sebelumnya, kita lebih fokus kepada kekuatan cinta secara personal – jiwa seseorang. Secara sosial, pembelokan kekuatan cinta bisa terjadi di mana-mana. Kita akan mengelompokkan kekuatan cinta menjadi tiga: big-power, bio-power, dan bit-power.

3.1 Big-power adalah kekuatan cinta yang begitu besar mendorong dan melindungi umat manusia. Cinta mendorong seorang bapak untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan seluruh keluarga. Padahal, ketika masih bujangan, bapak itu, tidak punya dorongan untuk bekerja. Seorang ibu bangun sebelum subuh menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan anggota keluarga. Seorang tentara siap mengorbankan jiwa demi membela negara. Dan masih banyak contoh besar lainnya tentang kekuatan cinta big-power.

Seperti biasa, manusia bisa membelokkan kekuatan cinta yang besar ini, big-power, ke arah yang suram. Negara-negara Eropa memanfaatkan big-power untuk menjajah berbagai wilayah di dunia. Mereka memanfaatkan senjata dan kemajuan teknologi untuk mengeksploitasi orang lain. Senjata adalah big-power. Sejatinya, senjata, membantu manusia untuk menebang pohon, membangun jalan, atau melindungi diri dari ancaman bahaya. Teknologi juga big-power, yang sejatinya, untuk memudahkan kehidupan manusia. Lagi-lagi, teknologi, apalagi digital, bisa dimanfaatkan untuk eksploitasi kemanusiaan.

Tragedi big-power paling mengerikan dalam sejarah, barangkali, adalah bom nuklir yang meledak di Jepang. Saat perang dunia, big-power benar-benar dieksploitasi untuk melanggar kemanusiaan. Tetapi daya rusak bom nuklir melebihi imajinasi paling ngeri umat manusia. Saat ini pun, eksploitasi big-power masih ada di mana-mana. Kita bisa lihat kasus di Palestina, Uighur, Afghanistan, dan lain-lain.

3.2 Bio-power adalah kekuatan cinta yang lebih dahsyat dari big-power. Big-power merupakan kekuatan yang bekerja dari luar kemudian mengenai manusia, sementara, bio-power merupakan kekuatan yang bekerja dari dalam diri manusia kemudian menyebar ke segala penjuru. Lebih hebat lagi, bio-power tidak menghantam big-power. Bio-power hanya mengendalikan big-power sehingga kekuatan mereka makin besar.

Barangkali masih segar di ingatan kita tentang program KB, keluarga berencana, di Indonesia? Pada masa orde baru, program KB dijalankan dengan big-power. Rakyat dipaksa untuk melakukan KB. Rakyat disuruh untuk punya anak maksimal dua orang saja. Bahkan pegawai negeri lebih ketat lagi. Pemerintah mengucurkan dana dan sumber daya yang besar untuk menggulirkan program KB – pendekatan big-power. Pemerintah melarang rakyat punya anak lebih dari dua, dengan cara tertentu.

Hal yang berbeda bisa kita amati setelah tahun 2000 ini. Orang di Indonesia, bahkan seluruh penjuru dunia, sudah berpikir secara ekonomis. Anak adalah liabilitas. Anak adalah beban ekonomi yang berat. Butuh biaya besar untuk merawat anak dan, lebih-lebih, biaya pendidikan terus meroket. Pasangan muda, suami-istri, yang hidup setelah tahun 2000 dengan penuh kesadaran membatasi beban ekonomi. Sebagai konsekuensinya, mereka membatasi jumlah anak. Sebagian hanya ingin punya anak 2 atau 1 atau bahkan tidak punya anak sama sekali. Kekuatan cinta bio-power telah bersemi di jiwa pasangan muda. Terbukti, nyaris tidak ada pasangan muda yang punya anak lebih dari 2 orang. Program KB lebih berhasil dengan pendekatan bio-power.

Di negara Cina, tahun 2021 ini, lebih menarik lagi. Di sana, orang-orang sudah sadar untuk punya anak hanya 1 saja atau tidak sama sekali, bio-power tertanam kuat. Sementara, kajian pemerintah menunjukkan bahwa perlambatan pertumbuhan populasi Cina bisa berbahaya. Sehingga, pemerintah kembali kampanye agar penduduk punya anak lebih dari 1 orang – pendekatan big-power. Rakyat, tetap, bersikukuh tidak mau menambah jumlah anak. Beban ekonomi terlalu berat. Rakyat hanya ingin punya anak 1 saja atau tidak sama sekali.

Kekuatan bio-power makin menyebar ke seluruh bidang kehidupan. Terutama, bio-power, masuk dari sisi perhitungan ekonomis setiap orang. Tentu saja, resiko kehancuran sosial mengancam umat manusia. Akibat dari pertimbangan ekonomi yang mendominasi kehidupan umat manusia. Orang-orang berpikir untuk selalu mendapat keuntungan ekonomi. Kehidupan berubah menjadi hitung-hitungan ekonomi belaka. Dampaknya, bisa kita duga. Anak-anak dari kecil diarahkan untuk sekolah dengan baik, lalu lulus dengan nilai bagus. Berkarir di perusahaan besar dengan gaji besar. Hidup berkecukupan, tua, dan akhirnya mati.

Jebakan bio-power begitu kuat. Tentu saja, tidak salah dengan cita-cita mendapat pekerjaan yang layak dengan kompensasi yang bagus. Masalahnya adalah berlebihan dalam mengejar keuntungan ekonomi itu. Lebih parah lagi, banyak orang bercita-cita seperti itu. Seperti kita lihat saat ini, dampaknya, konsumsi bahan bakar membubung tinggi. Pencemaran lingkungan di mana-mana. Penggundulan hutan terjadi di berbagai belahan dunia. Dan, krisis iklim mengancam dunia.

Bakat-bakat anak muda yang luar biasa itu berhasil mengantarkan dirinya jadi orang kaya, secara ekonomi. Nyatanya, mereka hanya sebagai salah satu alat bagi orang super kaya untuk menambah kekayaan menjadi lebih super kaya lagi. Di sisi lain, ketimpangan ekonomi memang terjadi. Orang kecil yang kalah bersaing, atau tidak sempat bersaing, tersingkir. Orang miskin makin miskin. Terpojok di ujung kehidupan.

Bio-power, yang sejatinya, adalah kekuatan cinta sebagai pendorong kemajuan manusia dari dalam diri telah berbelok menghancurkan manusia. Bagaimana pun, kita, sebagai manusia, tetap punya kekuatan untuk meluruskan kembali bio-power agar kembali memajukan kemanusiaan di seluruh dunia. Dengan bio-power juga kita bisa menjaga alam semesta, merawat alam semesta.

3.3 Bit-power, dari arah yang baru, melangkah lebih hebat dari bio-power dan big-power. Bit-power adalah kekuatan cinta yang diperkuat oleh kekuatan digital. Lagi-lagi, bit-power menjadi lebih hebat dengan cara tidak melawan bio-power dan big-power. Bit-power hanya mengendalikan mereka.

Bit-power menyebarkan cinta ke seluruh dunia. Dengan bantuan teknologi digital, bit-power menebarkan ilmu ke seluruh penjuru. Setiap orang menjadi mudah mendapat informasi hanya dengan mengetukkan jari. Kemajuan pengetahuan menyebar ke seluruh bumi. Di saat yang sama, kerja sama antara penduduk di seluruh dunia mudah menjadi nyata. Kehidupan yang adil merata tampak di depan mata. Umat manusia berhasil meraih cita-cita yang sempurna.

Lagi-lagi, manusia bisa membelokkan kekuatan cinta bit-power. Harapan untuk menyebarkan ilmu dengan teknologi digital online bisa sirna. Memang benar, informasi tersebar luas di seluruh dunia. Nyatanya, bisa sebalikya yang terjadi, media digital menjadi media mengumpulkan kekayaan oleh segelintir orang. Media digital adalah media sempurna untuk marketing, mencuci otak, dan menciptakan ketergantungan. Teknologi digital mencengkeram umat manusia demi keuntungan segelintir orang super kaya. Dengan media sosial, orang merasa bebas menyuarakan pendapat dan aspirasinya. Tentu saja, memang bebas, sejauh itu semua menguntungkan pihak-pihak super kaya.

Lebih hebat lagi, bit-power memanfaatkan teknologi cerdas seperti artificial intelligence AI. Dengan AI, media digital mampu bekerja cerdas secara otomatis. Anda yang suka politik maka oleh AI akan disuguhi berita politik sesuai minat Anda. Lambat laun, Anda terjerat karena semua berita politik itu begitu menarik. Begitu juga Anda yang suka berita olah raga, disuguhi berita olah raga oleh AI. Anda makin terpikat. Orang-orang tidak sadar bahwa itu jeratan. Yang, pada akhirnya, menguntungkan pihak tertentu saja.

AI yang begitu cerdas tidak bekerja sendiri. AI bekerja sama dengan orang-orang khusus yang punya kepentingan khusus, terutama kepentingan ekonomi. Jadi, ketika kita menghadapi media sosial, kita tidak sedang berhadapan dengan AI yang cerdas. Kita sedang berhadapan dengan AI yang cerdas didukung oleh orang-orang yang cerdas, dengan dukungan kapital nyaris tanpa batas. Bisakah seorang individu menang terhadap media sosial? Sulit sekali. Bagaimana caranya? Tetap ada cara.

Bitcoin merupakan salah satu gebrakan dari dunia digital, kekuatan bit-power. Akankah Bitcoin, dan uang kripto lainnya, menghancurkan sistem keuangan yang ada sekarang? Bisnis digital sudah terbukti meruntuhkan bisnis konvensional seperti percetakan koran, televisi, transportasi, dan lain-lain. Wajar saja, kita menduga Bitcoin, dengan teknologi blockchain, akan meruntuhkan sistem keuangan konvensional. Jika terjadi maka siapa yang dirugikan? Dan siapa yang diuntungkan?

Pertanyaan terhadap perkembangan bit-power masih bisa terus berlanjut. Bagaimana jika kecerdasan AI melampaui kecerdasan manusia? Atau bagaimana jika AI mempunyai kesadaran diri sehingga bisa mengambil keputusan secara mandiri layaknya manusia? Bagaimana jika AI mendominasi manusia? Saat ini, AI baru sekedar komputer dengan program yang sangat cerdas. Sehingga, AI menuruti perintah manusia. AI bekerja sama dengan manusia layaknya sebuah mesin. Lompatan teknologi saat ini, dan masa depan, bisa mengubah segalanya.

Mari kita ringkaskan kekuatan bit-power yang begitu luar biasa. Pertama, bit-power menguasai big-power. Senjata militer, saat ini, dikendalikan oleh sistem komputer. Ketika seorang presiden memerintahkan serangan besar, misalnya, semua perintah itu dikendalikan oleh sistem komputer, bit-power. Komunikasi para jenderal pun menggunakan jaringan komunikasi digital, bit-power. Dan semua sistem big-power di dunia, saat ini, dikendalikan oleh komputer.

Kedua, bit-power menguasai bio-power. Semua perkembangan pengetahuan dan informasi manusia, saat ini, memerlukan sistem informasi yang dikendalikan oleh bit-power. Cita-cita masa depan anak millenial, sama halnya dengan prasangka dogmatis orang tua, ditentukan oleh informasi yang lalu-lalang di media digital. Semua pemahaman kita ditentukan, dalam kadar terntentu, oleh media digital, bit-power. Manusia dikendalikan oleh bit-power.

Ketiga, bit-power bisa saja mengendalikan manusia di saat ini, atau di masa depan. Lompatan teknologi yang begitu cepat memungkinkan bit-power memiliki kemampuan jauh di atas kemampuan manusia. AI, yang semula, alat bagi manusia, di masa depan bisa terbalik. Manusia bisa jadi sebagai alat bagi AI.

Bagaimana pun, sampai saat ini, manusia telah membelokkan bit-power menjadi merugikan manusia. Pada waktunya nanti, manusia bisa kembali meluruskan bit-power agar bermanfaat bagi kemanusiaan dan bagi seluruh semesta. Bukan tugas kecil untuk meluruskan bit-power, benar-benar, tugas yang sangat besar.

Selanjutnya, kita akan membahas beberapa ide solusi. Kita akan mempertimbangan solusi personal yaitu mengembangkan cinta putih dan mengendalikan nafsu hitam, merah, dan kuning. Serta solusi sosial dengan mengendalikan big-power, bio-power, dan bit-power. Kenyataannya, solusi personal dan sosial saling berjalin kelindan.

4. Solusi

Solusinya tampak mudah. Agar setiap orang berbuat baik. Saling menghormati satu sama lain. Tidak mengganggu satu dengan lain. Maka kehidupan menjadi baik. Secara individu, masing-masing orang menjadi baik. Dan secara sosial, kehidupan juga menjadi baik. Beres semua urusan. Mengapa tidak dilakukan cara semudah itu?

Karena solusi yang mudah seperti itu memang tidak bisa dilakukan. Atau, setidaknya, sulit dilakukan.

Berharap bahwa masing-masing orang akan berbuat baik adalah harapan hampa. Masing-masing orang punya rasa cinta putih yang sewaktu-waktu bebas belok menjadi nafsu hitam. Dari ribuan orang, atau jutaan orang, maka hampir bisa dapastikan pembelokan cinta menjadi nafsu hitam akan terjadi. Sehingga kita perlu mengembangkan solusi sosial, sebagai pelengkap solusi personal, untuk mendukung warga terus mengembangkan cinta putih, dan di saat yang sama, mempersulit pembelokan menjadi nafsu hitam. Tetapi, agar solusi sosial ini sukses, perlu solusi personal berjalan dengan baik. Kita terjebak dalam lingkaran masalah. Agar solusi sosial berjalan lancar diperlukan solusi personal. Sementara, agar solusi personal berjalan lancar diperlukan solusi sosial. Sehingga tidak ada solusi eksak dalam hal ini. Semua solusi adalah solusi yang melibatkan dinamika cinta.

Berikut ini, kita akan mendiskusikan beberapa alternatif dinamika solusi.

4.1 Personal

Solusi personal satu. Kita, dan setiap orang, merawat cinta putih untuk tetap tumbuh setiap hari. Untuk merawat cinta putih, kita bisa memanfaatkan beragam sumber pegangan. Di antaranya, kita bisa merujuk ajaran agama, ajaran spiritual, puisi cinta, karya seni cinta, dan buku-buku berkualitas. Setiap hari, khususnya di pagi hari, bacalah sumber pegangan itu walau hanya satu paragraf. Renungi maknanya dan biarkan cinta putih bersemi di hari ini.

Solusi personal dua. Kita perlu mengawali hidup dengan tindakan cinta putih yang nyata. Di pagi hari, lakukan suatu kegiatan positif sebagai ungkapan cinta, meski hanya kegiatan kecil. Senyum manis kepada pasangan di tiap pagi bisa jadi pertimbangan. Membantu anggota keluarga membereskan rumah dengan riang gembira bisa jadi pilihan. Atau, barangkali dengan sengaja, Anda mengirimkan makanan ringan buat tetangga yang membutuhkan. Dan, masih banyak pilihan tindakan nyata lainnya, meski kecil, sebagai ungkapan cinta Anda. Selanjutnya, ijinkan dampak susulan berupa kehidupan yang penuh cinta di hari itu.

Solusi personal tiga. Tetapkan dua atau tiga proyek cinta jangka panjang. Misalnya, secara bertahap, Anda mengumpulkan dana untuk membantu yatim piatu. Atau, secara bertahap juga, Anda mengembangkan pendidikan untuk masyarakat sekitar. Barangkali proyek ini bisa Anda lakukan secara personal atau bersama teman-teman Anda. Perlu diingat bahwa proyek ini adalah proyek cinta yang bersifat memberi kasih sayang – bukan proyek untuk keuntungan finansial. Dengan demikian, sepanjang waktu, pikiran kita mempunyai kesibukan positif untuk menebarkan cinta. Jika satu proyek cinta selesai maka buatlah proyek cinta baru sebagai gantinya.

Solusi personal empat. Bersikaplah terbuka, setiap saat, untuk berbuat baik sebagai tindakan nyata cinta. Pada waktu tertentu, barangkali ada teman Anda yang membutuhkan pertolongan maka sambutlah dengan membantunya. Tentu saja perlu hati-hati terhadap kasus penipuan di dunia digital saat ini. Bantuan kita kepada teman, tentu saja, perlu kita sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Begitulah cinta: universal dan unik sesuai kondisi.

Solusi personal lima. Pastikan proyek utama Anda adalah proyek cinta dalam satu dan lain cara. Proyek utama bisa berupa pekerjaan, usaha, karya, dan sebagainya. Di mana proyek utama ini, biasanya, juga berdampak signifikan terhadap penghasilan finansial kita. Meski proyek utama mengutamakan “profit” dalam berbagai bentuk, kita perlu menjamin proyek utama ini adalah, sejatinya, proyek cinta. Misalnya Anda bekerja sebagai sopir. Pastikan bahwa Anda, sebagai sopir, sedang membantu banyak orang untuk berbuat baik. Jika mobil Anda digunakan untuk mengirim barang haram maka sebaiknya Anda, mempertimbangkan, pindah kerja. Karena proyek utama ini, sopir barang haram, bukan proyek cinta. Begitu juga bila Anda seorang pegawai (PNS), di mana, divisi Anda dimanfaatkan untuk tindakan korupsi tersembunyi maka sebaiknya Anda pindah kerja. Kerja, bisnis, karya, atau aktivitas utama Anda pastikan itu adalah proyek cinta.

Solusi personal enam. Waspadai nafsu hitam. Sewaktu-waktu, nafsu hitam bisa membelokkan cinta. Kita perlu hati-hati setiap hari. Hentikan nafsu hitam dan kembali ke jalan cinta suci. Apakah Anda merugikan orang lain? Langsung atau tak langsung? Apakah Anda mengganggu orang lain? Apakah Anda merugikan alam semesta? Apakah ada resiko pencemaran lingkungan? Apakah membahayakan generasi masa depan?

Saya sekedar menjalankan tugas tidak bisa jadi pembenaran. Beberapa orang melakukan suatu pekerjaan, sesuai tugas dari kantornya, yang bisa merugikan alam sekitar. Lalu orang itu berargumen, “saya sekedar bekerja. Saya sekedar mencari penghidupan. Saya sekedar menjalankan tugas.” Meski pun, argumen itu sah secara legal maka tidak mengubah nafsu hitam menjadi benar. Suara suci dari dalam hati akan tetap menyinari. Tinggalkan nafsu hitam. Mari meniti jalan cinta yang suci.

Solusi personal tujuh. Hentikan nafsu merah. Nafsu merah tidak salah tetapi parah. Secara legal, nafsu merah adalah sah. Sementara secara substansi, nafsu merah menjadikan segalanya parah. Kata-kata bijak “Berhenti makan sebelum kenyang” adalah solusi terbaik untuk menghentikan nafsu merah. Anda bisa saja terus makan meski kenyang. Makanan sudah Anda miliki. Secara sah sudah Anda beli. Karena gairah, meski kenyang, Anda bisa terus saja makan. Akibatnya, penyakit obesitas mengancam Anda. Di sisi lain, orang miskin kelaparan. Berhentilah makan sebelum kenyang.

Dalam bidang olah raga bisa juga parah. Pernahkan Anda mendengar orang mati karena kebanyakan olah raga? Orang mati ketika futsal? Orang mati ketika badminton? Orang mati ketika gowes? Tujuan olah raga adalah untuk menjadikan tubuh kita sehat, bugar, dan bahagia. Tetapi, nafsu merah menjebak seseorang olah raga dalam ukuran berlebih. Bukan sehat hasilnya, justru bahaya yang ada.

Solusi untuk mengembalikan, membelokkan, nafsu merah menjadi cinta yang suci adalah dengan menetapkan batas-batas yang jelas. Memang, kita harus ikhlas, berhenti sebelum titik maksimal. Makan hanya sekedarnya, minum sekedarnya, tidur sekedarnya, olah raga sekedarnya, binis sekedarnya, dan beragam kegiatan lain hanya sekedarnya – sesuai batas-batas. Kita perlu berlatih mengendalikan diri terhadap hal-hal yang halal, dan sah. Beberapa orang melakukannya dengan hidup tirakat dan puasa. Kita perlu terus ingat, “Berhenti makan sebelum kenyang. Dan makan hanya ketika lapar.” Ingat batas!

Solusi personal delapan. Atasi nafsu kuning. Nafsu kuning menjadi paling sulit diatasi lantaran nafsu kuning pandai berdalih. Nafsu hitam dan merah bisa dipahami sebagai sesuatu yang salah. Sementara, nafsu kuning mengelabui kita bahwa kita punya pembenaran. Politikus mudah ditipu nafsu kuning. Politikus merasa menegakkan keadilan, membela rakyat miskin, dan membangun seluruh negeri. Nyatanya, itu semua sekedar dalih untuk memperkaya diri. Pejabat, terutama pejabat pengadilan semisal hakim-jaksa-pengacara-polisi, beresiko ditipu oleh nafsu kuning. Pejabat bisa merasa bahwa dirinya adalah penjaga hukum, penegak undang-undang, sebenarnya, mereka adalah mafia hukum. Mereka adalah perusak hukum itu sendiri.

Apa solusi untuk nafsu kuning yang begitu licik dan cerdik?

Solusinya adalah seseorang harus menjalankan semua solusi di atas ditambah dengan refleksi diri tingkat tinggi. Kita harus menghidupkan cinta putih yang suci. Di saat yang sama, menghentikan nafsu hitam yang sering merugikan. Ditambah lagi, menolak nafsu merah yang sering berlebihan meski sah. Kemudian kita lanjutkan dengan refelksi diri tingkat tinggi. Adakah kesalahan di sana-sini? Tentu ada. Maka kita perlu memperbaiki. Adakah kekeliruan? Pasti ada. Maka kita koreksi. Adakah kekurangan? Memang ada. Maka kita lengkapi.

Godaan nafsu kuning bisa menyelinap setiap saat. Baik melalui diri sendiri atau pun orang lain, termasuk keluarga dekat. Bisa jadi seseorang berhasil mengendalikan nafsu kuning bagi dirinya. Tetapi anaknya tidak bisa diterima di sekolah yang diidamkan. Demi kebaikan anak sendiri, nafsu kuning menunjukkan jalan mudah untuk memasukkan anak ke sekolah idaman – melalui jalur khusus yang dibenarkan oleh nafsu kuning. Tentu saja kepentingan anak, istri, saudara, tetangga dan sebagainya tersebar luas di bidang pendidikan, ekonomi, seni, dan lain-lain. Nafsu kuning siap menjebak siapa saja dan menjamin bahwa cara itu adalah cara yang benar.

Mempertimbangkan liciknya nafsu kuning, kita perlu waspada bahwa solusi personal bisa saja gagal. Maka kita, memang, perlu mengembangkan solusi sosial. Sehingga solusi personal dan sosial ini bisa saling menguatkan – meski melingkar.

4.2 Sosial

Solusi sosial satu. Yang paling awal, secara sosial, adalah kekuatan politis. Siapa yang paling berkuasa? Siapa yang paling berhak menentukan kebenaran? Siapa yang jadi panutan bersama?

Umumnya, saat ini, kekuatan politis paling tinggi adalah konstitusi. Pertanyaan masih berlanjut. Siapa yang menetapkan konstitusi? Siapa yang berhak menafsirkan konstitusi? Siapa dan bagaimana menentukan interpretasi yang paling sah?

Sehingga, solusi sosial paling dasar adalah menetapkan konstitusi yang menjamin sumber daya masyarakat, big-power, dimanfaatkan untuk kebaikan bersama seluruh masyarakat. Pada tahap ini, penyusunan konstitusi, umumnya bisa berjalan dengan baik. Masyarakat berhasil menyusun konstitusi dengan baik. Pertanyaan penting berikutnya: bagaimana menjalankan konstitusi?

Solusi sosial kedua adalah menjalankan dan merevisi konstitusi. Tidak ada konstitusi yang sempurna. Karena itu, konstitusi perlu terus direvisi untuk kebaikan masyarakat luas. Bahkan, ketika konstitusi dianggap sudah sempurna untuk jangka waktu tertentu, maka penafsiran dari konstitusi itu bisa berujung konflik. Big-power bisa membelokkan konstitusi untuk kepentingan kroni.

Solusi sosial ketiga adalah kebebasan berpendapat sebagai kontrol oleh masyarakat. Konstitusi, dan peraturan turunannya, perlu menjamin kebebasan pendapat dari warga. Kebebasan ini memastikan agar big-power, benar-benar, dimanfaatkan untuk kebaikan bersama. Umumnya, setiap konstitusi menjamin kebebasan berpendapat. Masalahnya, kebebasan itu sering dibenturkan oleh konstitusi itu sendiri dengan suatu batasan, misalnya, pencemaran nama baik. Jika konstitusi pencemaran-nama-baik lebih kuat dari kebebasan-berpendapat maka itu sama artinya dengan tidak adanya kebebasan berpendapat. Kita, memang, harus menemukan titik keseimbangan. Masyarakat membutuhkan kebebasan berpendapat.

Solusi sosial keempat adalah menjamin berkembangnya bio-power. Konstitusi bisa dengan tegas mengatur big-power. Bagaimana pun, dengan beragam kompleksitasnya, konstitusi juga perlu mengatur bio-power dan bit-power. Konstitusi perlu menjamin kehidupan yang layak, dengan standar tertentu, bagi seluruh warga. Dengan standar ini, warga mampu untuk terus belajar sepanjang hidup. Sehingga, setiap warga mampu mengembangkan bio-power dengan baik.

Solusi sosial kelima adalah masyarakat mengembangkan diri lebih dari standar legal. Masyarakat dengan kreatif bekerja sama dan bersaing mengembangkan bisnis, seni, olahraga, agama, penelitian, dan lain-lain melebihi dari sekedar tuntutan kewajiban. Masyarakat berkembang sesuai dinamika dan kreativitas yang ada.

Solusi sosial keenam adalah masyarakat dan pemerintah bekerja sama mengembangkan bit-power. Dinamika dunia digital berkembang jauh lebih cepat dari segala aturan. Akibatnya, setiap aturan akan segera ketinggalan jaman oleh kemajuan teknologi digital. Karena itu, masyarakat dan pemerintah perlu membangun kerja sama untuk bisa mengendalikan bit-power agar bermanfaat bagi kebaikan bersama.

Solusi sosial ketujuh adalah bersiap mengantisipasi lompatan kecerdasan buatan, artificial intelligent, AI. Kita, umat manusia, baru mengalami lompatan permukaan AI. Kita tidak tahu, sampai saat ini, potensi tersembunyi yang lebih mendalam dari AI. Apakah AI, selamanya, akan menjadi suatu teknologi yang dimanfaatkan manusia? Ataukah suatu saat AI akan berkembang lebih cerdas dari manusia? Bisakah, suatu saat nanti, AI memiliki kesadaran sehingga bisa mengambil keputusan kreatif secara mandiri? Kita tidak tahu jawaban pasti tentang pertanyaan bit-power AI yang begitu penting. Yang bisa kita lakukan adalah bersiap-siap mengantisipasinya.

4.3 Sirkular

Tidak ada solusi sempurna untuk tetap bisa meniti hidup di jalan cinta suci. Semua solusi hanya solusi parsial. Bahkan solusi itu terhubung secara melingkar, solusi sirkular. Solusi sosial tidak bisa berjalan baik kecuali didukung oleh individu-individu yang baik, yaitu solusi personal. Dengan kata lain, solusi sosial bergantung kepada solusi personal. Sementara itu, solusi personal juga tidak bisa berjalan dengan baik kecuali dengan dukungan solusi sosial. Sehingga terbentuk solusi sirkular. Solusi yang selalu ada dinamika.

Mengapa cinta suci yang putih itu bisa berbelok menjadi nafsu yang mengundang bencana? Pasti karena ada pemicu yang menyebabkan meledaknya nafsu. Pemicu itu adalah berbagai hal yang menarik nafsu syahwat. Pemicu itu adalah sesuatu yang cantik. Pemicu itu adalah sesuatu yang menggoda. Mengapa cantik dan mempesona menjadi disalahkan sebagai pemicu? Apa salah menjadi cantik dan mempesona? Berikut ini, kita akan membahas tema cantik lebih mendalam.

5. Filosofi Cantik

Untuk membahas filsafat kecantikan kita akan merujuk ke pemikir-pemikir jaman dahulu sampai kontemporer. Secara khusus, kita akan banyak merujuk konsep kecantikan dari Immanuel Kant (1724 – 1804) dan Ibnu Arabi (1165 – 1240). Kant membahas kecantikan dalam kritik ketiganya yang menyandingkan kecantikan, sublim, dan teleologi. Sementara, Ibnu Arabi membahas kecantikan dalam magnum opusnya, Futuhaat, dengan memasangkan cantik dan agung sebagai karakter dari cinta.

Apakah cantik itu obyektif atau subyektif?

Rara gadis cantik, benar-benar cantik, secara obyektif. Pipinya, alisnya, matanya, dan rambutnya secara obyektif menjadikan Rara sebagai gadis cantik. Di sisi lain, orang bisa mengatakan bahwa cantiknya Rara itu subyektif, tergantung siapa yang menilainya. Seekor kambing, misalnya, barangkali tidak menilai Rara sebagai gadis cantik.

Solusi paling mudah adalah kita menilai cantik itu bersifat obyektif dan subyektif sekaligus. Kita perlu mengkajinya lebih dalam. Di bagian mana obyektif dan dari sisi mana subyektif.

5.1 Cantik Subyektif

Cantik sebagai realitas subyektif bisa diterima oleh banyak orang. Bahkan para pemikir besar juga mengakui cantik itu subyektif. David Hume (1711 – 1776) meyakini bahwa cantik itu subyektif tergantung kita yang melihatnya. Lebih dari itu, Hume menilai hukum kausalitas (sebab-akibat) juga bersifat subyektif. Maksudnya, sebab-akibat itu hanya ada dalam pikiran kita. Sedangkan, di dunia luar hanya ada urutan. Ketika kita, misalnya, merebus air kemudian air mendidih, itu bukan proses sebab akibat. Proses merebus bukan menjadi sebab bagi air yang mendidih. Kejadian itu hanya urutan belaka. Berdasar pengalaman, setelah air direbus, urutan berikutnya, air mendidih. Hanya saja pikiran kita, secara subyektif, menilainya ada hubungan sebab-akibat. Demikian juga, ketika kita melihat gadis cantik maka urutan berikutnya adalah kita menilai gadis itu sebagai cantik. Penilaian cantik seperti itu hanya subyektif.

Dalam bahasa sehari-hari, kita menyebut cantik itu relatif. Barangkali relatif terhadap obyek cantik lainnya – yang lebih cantik atau kurang cantik. Atau, bisa juga relatif terhadap pengamat yang memberi penilaian, bisa cantik atau bisa tidak cantik.

Nietzsche (1844 – 1900) menilai cantik juga sebagai subyektif. Barangkali, kita mengenal Nietzsche sebagai tokoh nihilisme. Sesuai konsep nihilisme, tidak ada nilai obyektif. Semua nilai runtuh. Kita, manusia sebagai subyek, adalah yang bertanggung jawab untuk menciptakan nilainya sendiri. Sehingga cantik, sebagai sebuah nilai yang runtuh, adalah ciptaan subyektif oleh masing-masing subyek. Cantik, dalam pandangan nihilisme, adalah subyektif belaka yang merupakan ciptaan manusia.

Jika cantik hanya subyektif maka mengapa Nietzsche menulis sastra yang begitu cantik? Mengapa tidak menulis acak-acakan saja? Mengapa susunan kalimatnya begitu indah?

Kita perlu mempertimbangkan bahwa cantik itu obyektif – setelah memahami sudut pandang subyektif.

5.2 Cantik Obyektif

Pemikiran bahwa cantik itu sebagai realitas obyektif sudah terekam sejak 2500 tahun yang lalu. Plato (428 – 348 SM) menyatakan bahwa cantik itu benar-benar nyata sebagai realitas obyektif. Bahkan, cantik ini berada di alam idea yang sempurna, abadi, dan tak lapuk oleh waktu. Kita, sebagai manusia, bertugas untuk jatuh cinta kepada sang cantik sejati yang abadi itu. Jatuh cinta kepada sang cantik sejati adalah kebahagiaan hakiki umat manusia.

Sementara itu, wanita cantik memang cantik secara obyektif. Cantiknya seorang wanita hanyalah pantulan dari sang cantik sejati yang ada di alam idea. Begitu juga bunga yang cantik, puisi yang cantik, pemandangan yang cantik, dan semua yang cantik adalah cantik secara obyektif dan merupakan citra dari sang cantik sejati. Kita bisa jatuh cinta kepada wanita cantik. Kita bisa jatuh cinta kepada lukisan yang cantik. Kita juga bisa jatuh cinta kepada pemandangan yang cantik. Jatuh cinta semacam itu adalah hal-hal yang membahagiakan manusia. Hanya saja, kebahagiaan sejati adalah jatuh cinta kepada sang cantik sejati yang abadi di alam idea.

Aristoteles (384 – 322 SM) adalah murid Plato yang juga menyatakan bahwa cantik merupakan realitas obyektif. Meski sama-sama obyektif, menurut Aristoteles, cantik tidak berada di alam idea. Cantik justru melekat kepada obyek secara obyektif. Wanita cantik memang ada karakter cantik pada wanita itu. Pemandangan alam yang cantik memang ada kualitas cantik pada alam itu. Begitu juga puisi yang cantik memang, benar-benar, cantik ada pada pusisi itu.

Cantik adalah komposisi, tekstur, struktur, dan sebagainya dari suatu obyek yang pada akhirnya menghasilkan karakter bernilai cantik. Rara gadis cantik itu karena komposisi matanya yang bening, pipinya yang lembut, bibirnya yang manis, rambutnya yang hitam, dan sebagainya yang menghasilkan karakter cantik. Pemandangan alam yang cantik itu karena daunnya yang hijau, luasnya alam yang bak tanpa batas, hembusan angin yang sejuk, dan sebagainya menghasilkan karakter cantik. Singkatnya, cantik ada pada obyek secara obyektif.

5.3 Cantik Dialektik

Cantik itu dialektik. Cantik obyektif berdialektif dengan cantik subyektif menghasilkan sintesa cantik yang baru yaitu cantik dialektif.

Selanjutnya, kita akan membahas konsep cantik dengan meminjam konsep cantik Immanuel Kant (1724 – 1804). Proyek besar filsafat dari Kant adalah untuk menyatukan, sintesa, semua pandangan filsafat yang ada sampai pada masanya. Dengan proyek sintesa besar ini, Kant menemui keharusan proses dialektif dari ragam sudut pandang yang sering saling kontradiksi. Kant berhasil menjalankan proyek besar itu dengan menghasilkan maha karya trilogi kritik.

Cantik adalah klaim subyektif yang bernilai obyektif.

Untuk memudahkan, kita akan membandingkan klaim penilaian cantik ini dengan klaim persetujuan dan klaim kebaikan. Klaim-persetujuan adalah klaim subyektif yang kita berharap orang lain akan setuju atau tidak setuju.

“Kopi ini nikmat,” adalah contoh klaim-persetujuan. Bagi saya, benar bahwa kopi ini nikmat. Saya bisa berharap bahwa orang lain akan setuju bahwa kopi ini nikmat. Di saat yang sama, saya tahu bahwa ada juga orang yang tidak setuju. Wajar saja bila ada orang meng-klaim bahwa kopi itu tidak nikmat. Klaim-persetujuan adalah penilaian subyektif, yang kita sadari, bernilai subyektif dan bisa inter-subyektif.

“Rara adalah cantik,” merupakan klaim-cantik. Cantik ini klaim subyektif saya pribadi. Tetapi bernilai obyektif universal. Semua orang seharusnya setuju bahwa Rara adalah cantik. Sehingga ungkapan “Rara adalah cantik” tidak memerlukan relasi terhadap subyek. Saya tidak perlu mengatakan, “Rara adalah cantik bagi saya.” Begitu juga seseorang tidak perlu mengatakan, “Pemandangan itu indah bagi penduduk desa.” Pemandangan indah, atau pemandangan cantik, itu berlaku universal secara obyektif. Pemandangan indah adalah universal bagi seluruh umat manusia.

Klaim-kebaikan juga berlaku universal bagi orang berakal.

“Menghormati ibu adalah kebaikan,” merupakan contoh klaim-kebaikan yang bersifat universal. Kekuatan klaim-kebaikan ini sekuat klaim kebenaran matematika seperti 1 + 2 sudah pasti menghasilkan 3. “Menghormati ibu” adalah kebaikan bagi semua umat manusia. Semua orang berakal “harus” menerima klaim-kebaikan semacam itu. Bukan hanya “seharusnya” menerima tapi memang “harus” menerima kebenaran klaim-kebaikan.

Memang ada perbedaan antara klaim matematika 1 + 2 = 3, dengan klaim-kebaikan yang bersifat moral, dalam hal analisis rasional. Klaim matematika bisa kita analisis secara rasional sedemikian hingga kita bisa memastikan nilai kebenarannya. Sementara klaim-kebenaran moral tidak bisa kita analisis secara raional belaka. Kita perlu mempertimbangkan sisi moral. Ada semacam “ketidakpastian” dalam analisis moral. Bagaimana pun, hasil analisis moral bersifat pasti nilai kebenarannya. “Korupsi merupakan kejahatan,” merupakan analisis moral yang bersifat pasti.

Klaim-cantik merupakan penilaian yang ada di tengah-tengah antara klaim-persetujuan dan klaim-kebaikan. Penilaian cantik dilakukan secara subyektif dengan klaim kebenarannya bersifat universal obyektif.

6.1 Proses Cantik

Bagaimana mungkin proses penilaian cantik yang bersifat subyektif menghasilkan klaim yang bernilai universal?

Kita perlu mengkaji prosesnya lebih detil untuk bisa menjawab pertanyaan itu. Dan, di bagian ini, kita mendefinisikan cantik adalah penilaian estetika yang menghasilkan rasa bahagia.

Proses pertama, penilaian cantik didasarkan pada perasaan tanpa kepentingan. Sebuah perasaan khusus yaitu perasaan bahagia. Dengan demikian, penilaian perasaan ini berbeda dengan penilaian kognisi (pikiran), misalnya, warna hijau adalah penilaian kognisi berdasar persepsi. Penilaian cantik tanpa kepentingan sehingga tidak punya tujuan tertentu, bagi subyek. Dengan ini, maka membedakan dengan (1) penilaian-persetujuan, kopi ini nikmat, bertujuan setuju atau tidak. Dan (2) berbeda dengan penilaian-kebaikan moral, misalnya, hormat kepada ibu, bertujuan untuk disetujui sebagai kebaikan universal.

Proses kedua, hasil penilaian cantik berlaku secara universal tanpa konsep. Ketika saya menilai “Rara adalah cantik” maka setiap orang yang melihat Rara akan menilai sebagai cantik. Tetapi karakter universal ini tidak didasarkan kepada konsep. Ketika seseorang menilai “kopi ini nikmat” maka rasa nikmat ini masuk dalam konsep nikmat. Di mana beragam kriteria dan ukuran nikmat bisa disepakati. Atau, ada pihak lain yang tidak sepakat.

Sementara, penilaian cantik tidak bisa dimasukkan kepada konsep apa pun. Meski kita bisa saja membuat konsep cantik, misalnya, cantik adalah ketika mata kiri dan mata kanan punya Rara harmonis. Jarak mata dan alis adalah 1,7 cm dan lain-lain. Maka konsep cantik seperti itu bukanlah penilaian-cantik. Konsep tersebut hanya karakter, yang dinilai, sering muncul pada obyek yang bersifat cantik. Cantik itu sendiri bukan konsep. Cantik adalah penilaian oleh perasaan langsung yang bersifat universal.

Dengan program komputer, coding, kita bisa membuat aplikasi untuk menentukan suatu kopi nikmat atau tidak. Lengkap dengan AI, kita bisa mempercayai akurasi aplikasi kita. Sementara, untuk menentukan cantik, penilaian-cantik, kita tidak bisa membuat aplikasi, program komputer, meski dengan AI. Dengan kata lain, program komputer AI tidak akan merasa bahagia ketika melihat gadis cantik.(Bagaimana dengan AI di masa depan?). Jika cantik akan kita buatkan suatu konsep maka konsep cantik tersebut adalah konsep-ketidakpastian.

Proses ketiga, penilaian cantik adalah rasa bahagia tanpa tujuan lain, tanpa maksud akhir. Atau, tujuan penilaian cantik bersifat terbuka, tidak pasti. Berbeda dengan penilaian-persetujuan, misalnya, kopi ini nikmat. Kenikmatan itu harus memenuhi kriteria tertentu sebagai tujuan akhirnya. Begitu juga, penilaian-kebaikan moral, misalnya, hormat kepada ibu, harus memenuhi kriteria tertentu untuk dipenuhi. Sementara, cantik tidak ada tujuan tertentu seperti itu.

Proses keempat, penilaian cantik bersifat niscaya bagi subyek dan terbuka muncul antinomi. Ketika saya menilai “Rara adalah cantik” karena muncul rasa bahagia dalam diri saya ketika melihat Rara, maka, orang lain juga akan merasa kebahagiaan yang sama ketika melihat Rara. Kenyataannya, mungkin saja, orang tidak merasa bahagia ketika melihat Rara. Sehingga orang tersebut gagal menilai “Rara adalah cantik.” Seharusnya, setiap orang akan merasa bahagia ketika melihat Rara yang cantik. Kejadiaan semacam ini, perbedaan penilaian cantik, adalah antinomi atau paradox. Tidak ada cara untuk menyelesaikan antinomi ini. Sehingga tidak bisa dilakukan penyeragaman terhadap penilaian cantik.

Mari kita ringkas empat proses penilaian cantik di atas: (1) perasaan tanpa kepentingan, (2) universal tanpa konsep, (3) bahagia tanpa akhir, dan (4) niscaya tanpa seragam.

6.1 Cantik Tidak Cantik

Kali ini, kita akan coba mencermati beberapa kasus cantik tapi tidak cantik. Suatu klaim yang menyatakan cantik tapi tidak memenuhi salah satu, atau beberapa, dari empat proses penilaian cantik di atas.

“Gadis ini cantik.” Karena saya akan menikahinya. Klaim ini tidak memenuhi kriteria proses (1) karena saya berkepentingan akan menikahinya. Sehingga penilaian cantik itu bisa tidak jujur. Meski pun, ada kemungkinan untuk jujur.

“Kebun ini cantik.” Karena dengan cantik saya akan bisa menjual kebun ini dengan harga lebih tinggi. Klaim ini melanggar kriteria proses (1) yang, seharusnya, bebas dari kepentingan.

“Gadis ini cantik karena tingginya 165 cm dan berat badan 50 kg.” Penilaian cantik ini memasukkan cantik dalam konsep (kriteria) tinggi dan berat badan. Sehingga tidak sah melanggar kriteria proses (2) bahwa, seharusnya, cantik adalah universal tanpa konsep.

“Kebun ini cantik karena luasnya lebih dari 3 hektar dan ketinggian lebih dari 3 km di atas permukaan laut.” Lagi, penilaian cantik ini tidak sah karena memasukkan cantik dalam konsep, atau kriteria, luas dan ketinggian.

“Gadis ini cantik karena bisa menarik puluhan pelanggan.” Klaim cantik ini juga tidak sah karena terikat pada tujuan lain, tujuan akhir, yaitu menarik puluhan pelanggan. Sehingga melanggar kriteria proses (3) yang, seharusnya, terbebas dari tujuan akhir atau maksud lainnya.

“Kebun ini cantik karena bisa sebagai persyaratan pendanaan dari pemerintah.” Lagi, klaim cantik ini tidak sah karena melanggar kriteria proses (3).

“Gadis ini cantik.” Saya benar-benar merasakannya. Tapi orang lain, dengan jujur, mengatakan sebaliknya. Jika saya dan orang tersebut sama-sama jujur maka terjadi antinomi atau paradox. Hal semacam itu mungkin saja terjadi. Seandainya kemudian diundi dengan melempar dadu, misalnya, untuk menyeragamkan penilaian saya dan orang lain itu, maka justru penyeragaman ini melanggar kritieria proses (4) yang, seharusnya, niscaya dan terbuka dengan antinomi.

“Kebun ini cantik.” Saya benar-benar merasakannya. Sementara, orang lain, dengan jujur, mengatakan sebaliknya. Maka, dalam kasus ini, terjadi antinomi sesuai kriteria proses (4).

Kriteria proses (4) yang mengakui antinomi ini, apakah bisa diselesaikan dengan jalan konsensus? Tidak bisa. Karena penilaian-cantik yang jujur memang tidak bisa dipaksakan. Kita bisa mengembangkan sikap saling menghormati di antara pihak-pihak yang saling berbeda dalam penilaian. Kerja sama berbagai pihak tetap bisa dijalankan meski ada perbedaan, dengan tetap mengedepankan rasa saling hormat.

7. Sublim dan Teleologi

Masih banyak yang bisa kita kaji mengenai tema cantik. Sementara, kali ini, kita akan beralih membahas tema yang menarik juga yaitu tentang sublim dan teleologi, masih berhubungan dengan penilaian cantik. Keduanya, penilaian sublim dan teleologi, menurut hemat saya, sama-sama merupakan penilaian estetik seperti halnya penilaian cantik. Sehingga penilaian ini di dasarkan kepada perasaan.

Sublim adalah sesuatu yang sangat besar, lebih besar dari kemampuan imajinasi kita. Sedangkan teleologi adalah tujuan yang jauh ke depan, lebih jauh dari imajinasi kita.

Sublim ada dua macam yaitu matematis dan dinamis. Sublim matematis adalah sesuatu yang sangat besar secara matematis, secara ukuran. Sehingga, imajinasi kita tidak mampu untuk membayangkan ukuran yang sangat besar itu. Misalnya adalah kita tidak mampu membayangkan bilangan ganjil terbesar yang ditemukan saat ini. Sementara, pikiran kita bisa memahami bila bilangan ganjil terbesar itu ditambah 1 maka hasilnya adalah bilangan genap yang lebih besar dari bilangan ganjil terbesar.

Pertama, kita sadar kelemahan imajinasi manusia. Kita tidak mampu membayangkan bilangan ganjil terbesar itu. Kedua, kita bisa merasa bahagia bahwa pemahaman kita lebih hebat dari imajinasi kita. Ketika imajinasi gagal menggambarkan tentang bilangan ganjil terbesar, di saat yang sama, pemahaman kita bisa memahaminya dengan baik. Bahkan pemahaman bisa mengolah bilangan ganjil itu: menambah, mengurangi, membagi, mengali, atau operasi lainnya. Dari dua perasaan ekstrem ini, lemah dan unggul, maka muncul perasaan sublim, perasaaan bahagia tak terlukis dengan kata-kata.

Tentu saja, para ilmuwan bisa lebih banyak mengalami jatuh cinta dengan perasaan sublim ini. Perasaan bahagia menemukan inovasi-inovasi matematis di berbagai bidang. Yang bukan ilmuwan juga bisa merasakan jatuh cinta sublim dengan merenungkan obyek-obyek dalam ukuran sangat besar. Barangkali merenungkan laut luas, gunung menjulang tinggi, atau hutan lebat nan hijau.

Sublim dinamis, sublim jenis kedua di samping matematis, adalah sublim ketika kita berhadapan dengan dinamika alam semesta. Misal ketika kita berhadapan dengan ledakan gunung berapi, banjir bandang super besar, halilintar, angin topan, badai tsunami, dan lain-lainnya. Muncul perasaan sublim ketika kita menghadapi sublim dinamis ini. Pertama, kita sadar bahwa tubuh kita lemah dibandingkan kekuatan alam yang super besar itu. Kedua, kita sadar bahwa jiwa kita lebih besar dari tubuh kita. Bahkan, kita sadar, kita punya jiwa yang lebih besar dari fenomena alam semesta itu. Dari dua perasaan ekstrem ini, merasa lemah dan merasa besar, maka muncul perasaan bahagia sublim. Perasaan bahagia yang istimewa sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Perasaan bahagia sublim ini didasarkan pada penilaian estetik bukan penilaian pikiran rasional. Sehingga, perasaan sublim lebih mirip dengan perasaan bahagia ketika melihat yang cantik. Meski demikian, ada beberapa keistimewaan perasaan sublim.

Pertama, obyek sublim, misal tsunami, seperti tanpa tujuan. Sementara, kita, sebagai subyek yang menghadapi obyek sublim, merasa punya tujuan. Dibanding penilaian-cantik, penilaian sublim berbeda dalam: (1) tujuan bukan ada pada obyek tetapi ada pada subyek, (2) dan hadirnya tujuan ini bukan pada imajinasi kita tetapi tujuan hadir pada pemahaman kita atau pada jiwa manusia.

Kedua, klaim universal sublim tidak terletak pada kondisi kognisi atau imajinasi. Klaim universal sublim adalah klaim perasaan moral.

Ketiga, kita bisa menyebut suatu obyek sebagai obyek yang cantik. Tidak demikian dengan sublim. Sublim tidak terletak pada obyeknya. Sublim ada pada jiwa kita, ada pada pemahaman kita sebagai subyek.

Keempat, penilaian-cantik melibatkan dinamika hubungan antara imajinasi dan pemahaman kita. Sementara, penilaian sublim melibatkan imajinasi dan akal kita.

Dengan demikian, secara langsung, sublim mengarahkan manusia untuk memikirkan aspek moral. Sementara, kecantikan mengarahkan moral manusia secara tidak langsung. Dan, teleologi mengajak kita untuk lebih jauh mendalami sisi moral dalam diri kita.

7.1 Teleologi Alam Raya

Apa tujuan akhir dalam seluruh alam raya? Apa tujuan dari semua yang ada? Apa tujuan hidup manusia?

Pertanyaan tentang tujuan akhir adalah pertanyaan teleologi.

Manusia, kita, mempunyai sikap apriori menganggap segala sesuatu memiliki tujuan. Ada mobil diparkir di tengah jalan. Apa maksudnya? Apa tujuannya? Ada sungai dibendung airnya. Apa tujuannya? Matahari terbit di pagi hari. Apa tujuannya? Ada toko online memberi diskon besar-besaran. Apa tujuannya? Anda membaca tulisan ini. Apa tujuannya? Selalu menganggap ada tujuan adalah sikap apriori manusia.

Kita bisa membedakan tujuan menjadi dua: ekstrinsik dan instrinsik. Tujuan ekstrinsik adalah tujuan yang ada di luar dirinya. Membangun bendungan air tujuannya adalah agar ketika kemarau tetap bisa mengairi sawah-sawah di sekitar. Tujuan dari makan adalah agar kenyang. Tujuan dari belajar adalah agar pintar.

Sedangkan tujuan instrinsik adalah tujuan yang ada pada dirinya sendiri. Tujuan dari bernyanyi adalah bernyanyi itu sendiri. Tujuan dari gowes bersepeda adalah gowes itu sendiri. Tujuan dari berdoa adalah berdoa itu sendiri.

Ketika tujuan ada di luar aktivitas maka aktivitas menjadi alat atau sarana. Jika tujuan makan adalah untuk kenyang maka makan adalah sarana untuk mencapai kenyang. Sementara, ketika instrinsik maka tujuan dan sarana menjadi satu. Tujuan instrinsik memiliki derajat yang lebih tinggi. Tujuan dari bernyanyi adalah, memang, bernyanyi itu sendiri.

Organisme, makhluk hidup, adalah makhluk yang punya tujuan dalam dirinya sendiri. Virus covid bertujuan untuk menjadi covid itu sendiri. Lebih dari itu, organisme mempunyai tujuan untuk mengembangkan diri sendiri. Tujuan virus covid adalah menjadi virus covid yang lebih banyak lagi. Bila perlu, covid bermutasi agar tetap menjadi covid.

Lalu, apa tujuan akhirnya?

7.2 Tujuan Manusia

Tujuan akhir dari organisme adalah untuk menjadi manusia – organisme yang mampu berpikir. Menariknya adalah teori evolusi sains menunjukkan hasil yang sama. Sains paling mutakhir, saat ini, menunjukkan bahwa hasil evolusi paling sempurna adalah menjadi manusia. Manusia adalah tujuan dari alam raya. Sebagai tujuan akhir, manusia juga sebagai kebaikan tertinggi di alam ini.

Mari kita selidiki beberapa skenario.

Skenario (1) alam berevolusi tanpa menghasilkan manusia. Alam raya terus bergerak makin sempurna – tanpa menghasilkan manusia di dalamnya. Alam semesta ini bergerak dengan teratur sesuai segala aturan. Tidak ada pembangunan gedung-gedung tinggi. Tidak ada media sosial. Pun, tidak ada kerusuhan massal atau korupsi. Apakah itu tujuan tertinggi? Tidak. Alam seperti itu adalah alam yang berjalan apa adanya. Sesuai aturan saja. Alam raya berjalan bagaikan mesin saja. Tujuan alam seperti itu adalah menaati aturan yang ada. Jadi bukan tujuan instrinsik. Sehingga bukan tujuan tertinggi.

Skenario (2) alam berevolusi menghasilkan manusia yang cerdas tapi tanpa kebebasan. Dalam skenario ini, alam berkembang makin canggih karena ada manusia yang cerdas. Di dalamnya, kita melihat pembangungan gedung pencakar langit, produksi mesin-mesin pabrik, dan berkembang teknologi digital super canggih. Semua berjalan dengan lancar. Apakah skenario semacam itu adalah tujuan tertinggi? Tidak. Skenario semacam itu hanya berjalan seperti mesin belaka. Meski pun, sudah menjadi mesin yang cerdas. Lagi-lagi, alam seperti itu punya tujuan untuk menaati aturan yang ada. Sehingga bukan tujuan pada dirinya, bukan tujuan tertinggi.

Skenario (3) alam berevolusi menghasilkan manusia yang cerdas plus kebebasan. Dalam skenario ini, alam raya sama berkembangnya seperti skenario sebelumnya. Pembangunan gedung pencakar langit ada di mana-mana. Teknologi digital tersebar ke mana-mana. Di saat yang sama, terjadi pencurian, penipuan, korupsi, dan segala macam kejahatan. Karena manusia cerdas dan bebas maka mereka bebas untuk berbuat baik atau memilih berbuat buruk. Apakah itu tujuan tertinggi? Ya, benar. Itu adalah tujuan tertinggi. Tujuan menjadi manusia yang baik, manusia bermoral, adalah tujuan tertinggi. Karena tujuan itu diciptakan oleh manusia sendiri. Tujuan itu ada dalam dirinya sendiri.

Tujuan akhir tertinggi adalah ketika manusia berhasil memilih berbuat baik meski pun dia sebenarnya bisa memilih berbuat jahat. Manusia berhasil memenangkan prinsip moral melebihi sekedar hasrat hawa nafsu saja. Alam raya berkembang dengan dinamika tinggi ketika hadir orang-orang bermoral di antara orang-orang lain yang tidak bermoral. Orang jahat diperlukan kehadirannya, kadang kala, untuk memicu munculnya orang bermoral. Dan, orang jahat itu, pada waktunya, bisa bertobat untuk kembali menjadi manusia bermoral.

Jadi, tujuan akhir tertinggi, alam raya, secara teleologis, adalah hadirnya manusia-manusia bermoral.

Kita masih boleh bertanya, “Apa tujuan akhir dari manusia bermoral itu?”

Tujuan dari manusia bermoral adalah menggapai kebaikan tertinggi sejati yaitu Tuhan. Kita akan membahas tema Tuhan ini langsung di bagian bawah ini. Sementara, mari kita ringkaskan dulu pembahasan kita mengenai penilaian estetika sejauh ini. Sekaligus, sebagai pengantar pembahasan tentang Tuhan.

Pertama, penilaian estetik tentang obyek yang cantik menghasilkan perasaan bahagia sejati dalam diri kita. Penilaian estetik ini, tentu didasarkan rasa, mengantar kita kepada ajaran moral untuk ikut serta dalam kebaikan, dalam kecantikan. Hal ini mengarahkan kita untuk merenungkan kebaikan yang Maha Baik, yaitu Tuhan.

Kedua, penilaian estetik tentang yang sublim menghasilkan perasaan kagum kepada kebesaran alam raya dan alam manusia. Perasaan sublim mengajak kita untuk merenungkan nilai moral yang lebih tinggi. Perasaan sublim mengajak kita merenungkan kebaikan dari yang Maha Agung yaitu Tuhan.

Ketiga, penilaian teleologis mengantar kita kepada tujuan akhir dari alam semesta. Tujuan akhir tersebut adalah hadirnya manusia, atau mahkluk-makhluk, yang bermoral. Mereka memilih menjalankan prinsip-prinsip moral yang luhur meski pun ada halangan dan godaan di mana-mana. Prinsip moral yang luhur mengantar kita untuk merenungkan yang Maha Luhur, yaitu Tuhan.

8.2 Bukti Tuhan Ada

Kita bisa membuktikan eksistensi Tuhan secara meyakinkan dengan argumen moral. Terbukti dengan pasti tanpa keraguan. Sementara, pembuktian eksistensi Tuhan dengan argumen rasional menghasilkan bukti dan penolakan yang sama kuat. Di bagian ini, kita akan membuktikan eksistensi Tuhan dengan argumen moral yang meyakinkan. Bagaimana pun, kita akan memulainya dengan argumen rasional.

8.1 Argumen Rasional

Bukti 1.0: Argumen Rasional membuktikan eksistensi Tuhan, bahwa Tuhan ada, secara rasional. Umumnya, bagi manusia yang mau berpikir maka, akan berhasil membuktikan secara rasional ini. Berikut ini beberapa argumen yang bisa digunakan secara rasional.

Bukti 1.0A: Argumen Kosmologi menyatakan bahwa setiap benda ada yang menciptakannya. Misal, sepatu pasti ada yang menciptakannya yaitu tukang sepatu. Begitu juga meja, ada yang menciptakannya yaitu pengrajin meja. Apalagi alam semesta, bumi, bulan, dan matahari pasti ada yang menciptakannya. Penciptanya adalah yang Maha Agung yaitu Tuhan.

Bukti 1.0B: Argumen Ontologi menyatakan realitas paling sempurna adalah Tuhan yang Maha Sempurna. Banyak variasi argumen ontologi yang berkembang sepanjang sejarah.

Argumen kebaikan dari Descartes (1596 – 1650) menyatakan bahwa di dunia ini ada kebaikan. Di antara kebaikan itu ada yang lebih baik. Dari yang lebih baik itu, ada yang lebih baik lagi, dan seterusnya, kita sampai kepada yang paling baik yaitu Tuhan yang Maha Baik. Jadi, terbukti bahwa Tuhan ada sebagai yang Maha Baik.

Argumen wujud dari Sadra ( 1571 – 1636) menyatakan bahwa Tuhan adalah wujud paling sempurna.

1 Ada wujud.
2 Wujud adalah sempurna, tidak ada yang lebih dari wujud.
3 Realitas adalah kesempurnaan wujud.
4 Wujud adalah tunggal dan sederhana.
5 Realitas tunggal itu bergradasi dalam intensitas kesempurnaan.
6 Intensitas kesempurnaan wujud mencapai kesempurnaan tertinggi.
7 Tuhan adalah kesempurnaan wujud tertinggi, Ada Maha Sempurna.

Argumen wujud ini berhasil membuktikan Tuhan Ada, Sempurna, dan Tunggal. Sementara, keragaman di alam raya adalah keragaman intensitas kesempurnaan wujud.

Argumen kemungkinan dari Ibnu Sina (980 – 1037) menyatakan bahwa alam semesta ini adalah wujud-mungkin sedangkan Tuhan adalah wujud-pasti. Meja, misalnya, adalah wujud-mungkin. Maksudnya, meja mungkin saja ada tapi mungkin juga tidak ada. Agar meja, benar-benar, menjadi ada maka perlu penyebab menjadi ada. Yaitu tukang kayu yang menciptakan meja itu. Tanpa tukang kayu, meja selamanya hanya menjadi mungkin belaka.

Selanjutnya, tukang kayu itu sendiri adalah wujud-mungkin juga. Sehingga tukang kayu itu juga perlu penyebab agar dirinya menjadi ada. Dan seterusnya, setiap penyebab adalah wujud-mungkin yang memerlukan penyebab lain untuk ada. Seluruh barisan wujud-mungkin ini akan selamanya menjadi kemungkinan tanpa kepastian bila tidak ada yang memastikan. Tetapi, saat ini, kita benar-benar tahu bahwa ada meja, ada alam semesta. Maka di antara wujud-mungkin itu pasti ada wujud-pasti yang menyebabkan, memastikan, semua menjadi ada. Wujud-pasti itu adalah Tuhan yang Maha Pasti. Jadi, Tuhan pasti ada.

Bukti 1.0C: Argumen Fisikologi menyatakan bahwa mesin-mesin fisik mengerjakan tugas-tugas tertentu sesuai tujuan rancangan desainernya. Jam dinding, misalnya, bergerak memutar jarum jamnya dengan tujuan untuk menunjukkan waktu. Maka jam dinding ini punya tujuan, dan menunjukkan adanya desainer. Hewan punya tujuan untuk mencari makan, manusia punya tujuan untuk bekerja, virus covid punya tujuan untuk reproduksi, itu semunya menunjukkan adanya desainer. Desainer, perancang, alam semesta adalah Tuhan yang Maha Cerdas.

Barangkali, di era digital ini, kita bisa mempertimbangkan media sosial. Media sosial menjalankan tugas-tugas tertentu, berbagi gambar, berbagai status, komunikasi pesan, dan lain-lain. Media sosial punya tujuan sesuai desainernya. Jadi, media sosial pasti ada desainernya. Demikian juga, alam raya pasti ada desainernya yaitu Tuhan yang Maha Hebat.

Kita masih bisa menambahkan lebih banyak argumen rasional yang membuktikan bahwa Tuhan memang ada. Sampai di sini, kita bisa menanyakan seberapa efektifkah bukti rasional itu? Sangat efektif.

Khususnya, argumen kosmologi sangat efektif membuktikan bahwa Tuhan memang ada, kepada seluruh lapisan masyarakat. Segala sesuatu ada penciptanya dan pencipta alam semesta adalah Tuhan. Sementara, argumen rasional lainnya menambah keyakinan bagi mereka yang berminat.

Saya mengestimasi hasil argumen rasional ini, mendorong 70 orang atau lebih, yakin bahwa Tuhan memang ada, dari 100 orang yang diamati. Awalnya, asumsikan 50 orang agak yakin bahwa Tuhan ada. Sementara, 50 orang lainnya agak ragu.

Argumen rasional berhasil menambah orang yang lebih yakin bahwa Tuhan memang ada. Estimasi saya,

Yakin = 70 orang
Ragu = 20 orang
Menolak = 10 orang

Kita bisa mengatakan efektifitas argumen rasional adalah 70 orang dari 100 orang.

8.2 Antinomi Eksistensi Tuhan

Mengapa argumen rasional tidak bisa mencapai 100 orang seluruhnya menjadi yakin eksistensi Tuhan? Immanuel Kant menjawab karena adanya antinomi, atau paradox. Tesis bahwa “Tuhan Ada” tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Sementara, antitesis bahwa “Tuhan tidak ada” juga tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Tesis dan antitesis tetap bertentangan tanpa solusi, itulah antinomi.

Antinomi bisa kita selesaikan dengan sintesa-dialektika, pada umumnya. Solusi bisa berupa sintesa aposteriori atau sintesa apriori.

Tesis: matahari terbit pukul 06.00
Antitesis: matahari tidak terbit pukul 06.00

Untuk menyelesaikan paradox di atas, kita bisa melakukan pengamatan pada pukul 06.00 apakah matahari terbit? Jika terbit maka tesis diterima. Jika tidak terbit maka antitesis yang diterima. Sintesa ini kita peroleh setelah ada pengamatan fisik – maka disebut sintesa aposteriori.

Tesis: 1 + 12 = 13
Antitesis: 1 + 12 tidak 13

Paradox di atas dapat kita selesaikan dengan sintesa apriori, tanpa pengamatan. Kita hanya perlu menganalisis tesis dan antitesis dengan lebih teliti. Tesis “1 + 12 = 13” adalah benar bila yang dimaksud adalah penjumlahan bilangan seperti biasa, bilangan real. Tetapi, antitesis “1 + 12 tidak 13” adalah benar jika yang dimaksud adalah operasi bilangan pada jam dinding yang angka paling besar hanya 12 saja.

Kembali kepada tesis “Tuhan Ada,” kita tidak bisa membuat sintesa aposteriori. Karena Tuhan lebih besar dari semua hasil pengamatan. Atau, semua hasil pengamatan pasti bukan Tuhan. Sementara, sintesa apriori juga gagal. Karena kita tidak bisa membatasi definisi Tuhan. Setiap pembatasan, hasilnya, pasti bukan Tuhan. Sehingga, hasil akhir tetap ada antinomi.

Meski ada antinomi, argumen-argumen rasional di atas, menurut estimasi saya, berhasil menguatkan tesis bahwa “Tuhan Ada” mencapai 70 orang dari 100 orang yang diamati – hipotetis. Selanjutnya, kita akan mengembangkan argumen moral untuk meningkatkan efektifitas lebih dari 70.

8.3 Argumen Moral

Bukti 2.0: Argumen Moral membuktikan bahwa secara moral Tuhan pasti ada. Argumen moral berbeda dengan argumen rasional yang lebih logis. Argumen moral akan kita uraikan dalam bentuk deskripsi. Penilaian, kita dasarkan pada penilaian estetika yang mengandalkan kekuatan rasa.

Secara moral, kita yakin bahwa manusia bertanggung jawab atas semua pilihan bebasnya. Orang yang menanam jagung berhak memanen jagung. Orang yang mencuri uang harus menanggung resiko dihukum. Orang yang beramal kebaikan berhak mendapat balasan kebaikan. Begitu juga, orang jahat bertanggung jawab atas resikonya.

Kenyataannya, dunia bisa seakan-akan terbalik. Koruptor, para pencuri uang rakyat, hidup mewah dengan pesta pora gemerlap dunia. Sementara, orang-orang baik yang rajin bekerja tetap hidup miskin tersisih di kampung kumuh. Mengapa bisa begitu?

Karena semua yang kita amati adalah dunia fenomena, dunia penampakan. Sementara, dunia noumena, dunia sejati tetap tersembunyi dari pandangan orang biasa. Koruptor yang hidup mewah gemerlap, di dunia penampakan, sejatinya mereka terpuruk sengsara di dunia noumena. Sementara, orang-orang baik yang hidup sederhana di kampung, sejatinya, sedang menjalani hidup bahagia sempurna di dunia noumena.

Hukum moral berjalan dengan pasti di dunia noumena, kebaikan dibalas dengan kebaikan, begitu pula sebaliknya. Sementara, di dunia fenomena, hukum moral tampak ada pembelokan di sana-sini. Pembelokan itu sekedar penampakan, tidak lebih. Sejatinya, semua berjalan dengan hukum moral yang sempurna. Tuhan yang Maha Baik menjamin berjalannya hukum moral dengan konsisten di dunia noumena. Sementara, pembelokan moral di dunia fenomena adalah batu ujian bagi orang-orang bermoral. Mereka yang bermoral justru makin kuat nilai moralnya dengan adanya ujian-ujian.

Hukum moral berjalan dengan tepat bukan karena usaha manusia yang bermoral. Manusia hanya bisa memilih untuk memilih jalan bermoral. Sementara, Tuhan yang Maha Kuasa yang menjamin hukum moral tegak berjalan. Kebaikan dibalas oleh kebaikan bukan karena perilaku manusia yang berbuat baik. Balasan kebaikan terjadi hanya karena Tuhan yang Maha Baik memberi kebaikan bahkan dengan yang lebih baik.

Semua perilaku orang-orang bermoral tidak akan mampu mengubah sesuatu menjadi lebih baik di dunia noumena. Tetapi, sesuatu menjadi lebih baik, di dunia noumena, karena Tuhan menghendaki menjadikannya lebih baik, untuk kemudian, melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang yang bermoral, orang-orang pilihan Tuhan.

Sampai di sini, secara moral, kita berhasil meyakinkan bahwa manusia mempunyai pilihan bebas sehingga bertanggung jawab sesuai hukum moral sejati. Dan, kita juga meyakini hadirnya Tuhan yang Maha Baik yang menjamin hukum moral berjalan dengan tepat.

Masih ada sedikit pertanyaan moral: bila koruptor, pencuri uang rakyat, bisa hidup mewah di dunia ini, bukankah itu pilihan yang menarik? Sementara, di dunia ini, orang-orang baik justru hidup sederhana dengan menjalani banyak ujian.

Jawaban pertanyaan moral itu mengantar kita kepada kehidupan di alam-setelah-dunia ini. Kehidupan seorang anak manusia tidak berakhir dengan kematiannya. Memang benar, dengan mati maka, berakhir kehidupan di dunia fenomena ini. Kematian justru mengantarkan kita ke alam-setelah-dunia, lebih terbuka ke alam noumena. Orang jahat, di alam-setelah-dunia, akan memperoleh balasan setimpal, misal koruptor pencuri uang rakyat. Begitu juga orang baik memperoleh balasan kebaikan yang berlimpah.

Namun perlu diingat bahwa di saat ini pun, para koruptor sedang menjalani kehidupan sengsara di dunia noumena meskipun tampak mewah di dunia penampakan. Sementara, orang-orang bermoral, saat ini, sedang menjalani hidup bahagia di dunia noumena apa pun yang terjadi di dunia penampakan.

Argumen moral, sampai di sini, mengantarkan kita kepada keyakinan yang mantap tentang tanggung jawab moral setiap anak manusia, Maha Baiknya Tuhan, dan kehidupan di alam-setelah-dunia.

Berapa efektivitas argumen moral? Sangat efektif. Saya kira banyak orang meyakini eksistensi Tuhan dengan sentuhan aspek moral. Bila digabungkan dengan argumen rasional, total dengan argumen moral, estimasi saya mendekati 90 orang dari 100.

Yakin: 90 orang
Ragu: 5 orang
Menolak: 5 orang

Selanjutnya, kita akan membahas argumen moral-sempurna untuk meningkatkan efektivitas di atas 90. Meski kita membahas argumen moral-sempurna pada urutan terakhir, sejatinya, argumen ini menyempurnakan dengan cara menghubungkan bukti 1.0: argumen rasional dengan bukti 2.0: argumen moral. Karena itu, saya menyebutnya sebagai bukti 1.5: argumen moral-sempurna.

Bukti 1.5: Argumen Moral-Sempurna membuktikan bahwa dengan seluruh kapasitas yang dimiliki manusia, yang bisa dikomunikasikan, meyakini bahwa Tuhan ada. Pembuktian ini, seperti argumen moral pada umumnya, mendasarkan penilaian pada rasa, penilaian estetik.

Bukti 1.5A: Argumen Cantik Sempurna menunjukkan bahwa penilaian cantik adalah sempurna dalam dirinya sendiri. Maksudnya, ketika kita menilai sesuatu sebagai cantik maka cantik itu sudah sempurna apa adanya. Alam pegunungan ini begitu cantik, begitu indah. Alam pegunungan itu indah dengan dirinya sendiri. Kita tidak perlu alasan tambahan untuk menilai alam sebagai cantik. Kita tidak perlu survey untuk menguatkan bahwa alam pegunungan itu cantik. Dan, klaim cantik berlaku universal. Siapa pun orangnya, yang melihat alam pegunungan ini maka, akan menilainya sebagai cantik.

Di sisi kita, sebagai subyek, menemukan banyak hal yang bersifat cantik: alam pegunungan, gadis, sawah menghijau, dan lain-lain. Di antara obyek cantik, yang sempurna dalam diri mereka itu, ada yang lebih cantik. Dari yang lebih cantik masih ada yang lebih cantik lagi. Seterusnya sampai yang paling cantik, yang paling sempurna. Dia adalah Tuhan yang Maha Sempurna, Sang Maha Cantik.

Bukti 1.5B: Argumen Sublim menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan menilai pengalaman sublim. Letusan gunung berapi, gempa bumi dahsyat, dan gelombang tsunami adalah beberapa contoh fenomena alam yang mengantar kepada pengalaman sublim. Gelombang tsunami itu begitu besar, lebih besar dari seluruh kemampuan kita untuk menyelamatkan diri. Badan kita bisa habis disapu gelombang tsunami. Tapi, di saat yang sama, kita sadar bahwa jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami itu. Pengalaman sublim terbentuk ketika kita merasa lemah, dari sisi badan dan bahkan imajinasi, tapi di sisi jiwa, kita merasa lebih besar. Jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami. Akal kita bisa memahami ada yang lebih besar dari gelombang tsunami. Bahkan ada yang maha besar yaitu Tuhan Maha Agung.

Perasaan sublim ada pada jiwa kita bukan berada pada obyeknya, bukan pada gelombang tsunaminya. Jiwa kita, jiwa manusia, lebih besar dari fenomena alam raya. Klaim sublim ini juga berlaku universal. Setiap orang yang berjiwa akan mampu mengalami peristiwa sublim, mereka menyadari ada jiwa yang lebih besar dari fenomena alam. Dari jiwa yang besar itu masih ada yang lebih besar lagi. Dia adalah Tuhan yang Maha Besar, Tuhan yang Maha Agung.

Bukti 1.5C: Argumen Teleologis menyatakan bahwa alam raya mempunyai tujuan akhir. Apa tujuan akhir dari alam semesta? Tujuannya, misalnya, adalah kemajuan ekonomi terbaik. Tetapi kita, sebagai manusia, bisa memikirkan bahwa masih ada yang lebih baik dari kemajuan ekonomi terbaik itu. Kemajuan ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu. Sehingga, kemajuan ekonomi tidak bisa menjadi tujuan akhir dari alam semesta.

Apa pun kondisi terbaik dari alam semesta, sewaktu-waktu, masih bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Maka kondisi alam semesta tidak bisa menjadi tujuan akhir. Dunia ini selalu berputar.

Tujuan akhir alam semesta adalah hadirnya manusia-manusia bermoral. Apa tujuan dari manusia bermoral? Tujuannya adalah menjadi manusia bermoral itu sendiri. Jadi, manusia bermoral adalah tujuan akhir dari alam semesta.

Mengapa manusia bermoral bisa menjadi tujuan akhir? Sedangkan alam semesta tidak bisa. Karena, manusia hanya bisa menjadi bermoral, akibat dari pilihan bebas manusia tersebut. Manusia bisa memilih jadi jahat tetapi mereka memilih menjadi manusia bermoral. Mereka, manusia bermoral, adalah tujuan akhir dan tujuan tertinggi dari alam semesta ini.

Kita bisa menerima bahwa manusia bermoral adalah tujuan akhir alam raya. Sementara, bila kita lihat alam nyata, banyak orang bermoral hidupnya justru tidak kaya raya. Sedangkan, mereka yang jahat, misal perampok uang rakyat, justru hidup mewah dengan pesta pora. Bagaimana bisa ada fenomena begitu?

Dunia fenomena adalah dunia penampakan belaka, bukan alam yang sebenarnya. Alam sejati adalah dunia noumena yang tersembunyi dari penampakan orang biasa. Di alam noumena, saat ini dan nanti, orang-orang bermoral hidup bahagia. Sedangkan penjahat hidup sengsara. Tuhan yang Maha Baik menjamin itu semua. Orang-orang bermoral mendapat anugerah berlimpah dari Tuhan yang Maha Sempurna.

Perlu dicatat bahwa orang-orang bermoral memperoleh kebaikan di dunia noumena bukan karena usaha mereka yang berbuat baik dan bermoral itu. Usaha mereka tidak akan mampu mengubah sesuatu di dunia noumena menjadi lebih baik. Mereka memperoleh kebaikan yang berlimpah karena Tuhan berkehendak melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang bermoral. Mereka mencapai “Kebaikan Tertinggi Sejati” bukan karena usaha mereka. Tetapi karena Tuhan menganugerahkan itu kepada mereka.

Tuhan Maha Baik. Tuhan Maha Kuasa. Tuhan Maha Sempurna.

Berapa efektivitas argumen moral-sempurna kali ini? Saya mengestimasi lebih dari 99. Tentu saja dengan menggabungkan argumen rasional bahwa segala sesuatu ada yang menciptakan maka Tuhan adalah pencipta alam semesta, ditambah dengan argumen moral bahwa Tuhan adalah yang menjamin orang bermoral berlimpah anugerah, dan argumen moral-sempurna bahwa Tuhan yang mengantarkan manusia bermoral meraih “Kebaikan Tertinggi Sejati.”

8.4 Argumen Spesial

Bukti 3.0: Argumen Spesial menyatakan bahwa Tuhan hadir pada momen-momen spesial. Efektivitas argumen spesial bisa mencapai 100. Hanya saja, sesuai namanya, argumen spesial hanya berlaku spesial, partikular. Argumen spesial tidak meng-klaim berlaku universal. Masing-masing orang punya momen yang unik. Sementara, orang lain juga tidak berhak menolak argumen spesial. Argumen spesial valid secara partikular.

Covid-19 adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang dokter muda, usia sekitar 30an, merawat banyak pasien. Ketika pandemi covid merebak, makin banyak pasien yang perlu perawatan. Covid bisa kita cegah dengan lebih sering cuci tangan. Dokter muda itu, awalnya, cuek saja masalah agama dan Tuhan. Dia sering melihat teman-temannya, di kantor, melakukan wudu dengan cuci tangan, wajah, dan kaki setiap pagi, siang, dan sore.

Bertahun-tahun, pemandangan teman-temannya berwudu dianggapnya biasa saja. Ketika pandemi, dokter muda melihatnya secara spesial. Orang sering wudu artinya adalah mereka sering cuci tangan. Sehingga, mereka terjaga dari pandemi covid. Dokter muda itu berpikir, “Ajaran wudu itu pasti ajaran dari Tuhan yang Maha Tahu.” Dokter muda itu menjadi yakin Tuhan telah hadir untuknya, kemudian dia memeluk agama Islam dan rajin beribadah sesuai ajaran agama. Bagi dokter muda itu, pandemi adalah momen special. Bukti spesial, argumen spesial bahwa Tuhan memang ada bahkan hadir untuknya.

Bagi orang lain, menyaksikan teman-teman berwudu adalah hal biasa-biasa saja. Bagi dokter muda itu, orang berwudu adalah momen spesial hadirnya Tuhan.

Mimpi adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang suami yang menikahi istrinya lebih dari 20 tahun, sampai sekarang, belum punya anak. Suatu malam, suami itu bermimpi bertemu seorang kakek berbaju putih yang menyuruhnya memberi sedekah ke 7 anak yatim. Suami itu belum bertanya mengapa tetapi kakek menjelaskan bahwa dia akan mendapat anugerah seorang anak.

Terjaga dari mimpinya, suami itu dengan cepat mencari beberapa anak yatim. Kemudian dia memberi sedekah ke anak yatim sampai lengkap 7 orang. Barangkali karena gembiranya, dia menambah sedekah ke 7 anak yatim lainnya lagi. Beberapa hari kemudian, dia mengulangi sedekah ke 7 anak yatim lagi, berulang-ulang.

Dengan menemui sejumlah anak yatim, suami itu merasa bahagia. Dia bahkan merasa seperti sudah punya anak. Bahkan punya anak yang jumlahnya sangat banyak. Apakah dia masih membutuhkan hadirnya anak kandung? Bukankah semua anak adalah anak kita, yang perlu kita cintai?

Tiga bulan setelah kejadian itu, benar saja, istrinya positif hamil. Dan pada waktunya, melahirkan dengan selamat. Lengkap sudah kebahagian mereka. Bagi suami itu, mimpinya bertemu kakek berbaju putih adalah bukti hadirnya Tuhan. Suami itu makin yakin dengan hadirnya Tuhan dalam hidupnya.

Kucing hitam adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Saya sering melihat kucing hitam betina yang melintas di depan rumah saya. Kucing kampung hitam itu, liar tanpa pemilik, punya 3 anak yang masih diasuhnya. Wajar, sebagai induk, kucing hitam itu menyusui anak-anaknya penuh cinta. Mereka, kucing hitam dan anak-anaknya, tinggal 200 meter di sebelah selatan rumah saya. Sementara, ada tempat sampah besar di sebelah utara rumah saya berjarak sekitar 100 meter.

Ketika lapar, kucing hitam itu akan pergi ke tempat sampah mengais-ais sisa tulang atau makanan. Setelah cukup kenyang dari tulang sisa makanan, kucing hitam itu kembali melintas di depan rumah saya menuju sarangnya untuk menyusui anak-anaknya. Saya kagum melihat kucing hitam itu mengasuh anaknya penuh cinta.

Setelah beberapa hari, badan anak-anak kucing itu makin besar. Kebutuhan energi mereka, tampaknya, tidak cukup hanya dari susu induknya. Perlu tambahan sumber energi lainnya.

Kucing hitam, sang induk, seperti biasa melintas di depan rumah saya menuju tempat sampah. Dia tampak lapar. Di tempat sampah, dia menemukan tulang sisa makanan orang, yang cukup besar. Dia memakannya hanya sedikit bagian, meski dia lapar. Kemudian dia menggigit tulang besar itu, membawanya berjalan, melintasi depan rumah saya, dengan mulut yang tetap menggigit tulang sisa makanan. Sampai di sarang, induk kucing itu memberikan tulang ke anak-anaknya. Dengan gembira, anak-anak kucing itu memakan tulang yang dibawakan induknya. Kucing hitam memandangi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Saya makin kagum dengan perilaku kucing hitam itu. Dengan kasih sayang, dia menyusui anaknya. Dengan kasih sayang, dia memberi makanan anaknya. Bagi saya, kucing hitam itu adalah bukti Tuhan hadir di depan kita. Tuhan yang Maha Pengasih, Tuhan yang Maha Penyayang, selalu hadir bersama kita.

Orang suci melihat Tuhan dengan mata hati adalah bukti. Orang-orang suci selalu menjaga diri agar bisa berbuat baik dan menghindari kejahatan. Orang yang disiplin, terlatih, untuk konsisten menjaga hati agar bersih, dia melihat Tuhan dengan mata hatinya. Mata hati yang suci adalah bukti yang lebih jelas dari segala penjelas.

Orang ini menatap alam raya dengan hati, menebarkan kebaikan bagi seluruh alam raya. Mencegah kemunduran dari segala yang ada. Di mana dia berada, hanya ada cahaya cinta yang terpancar darinya. Dia berdialog dengan Tuhan dalam sepinya malam. Dia berdialog dengan Tuhan dalam hiruk-pikuk kesibukan. Tuhan adalah segalanya. Kemana saja, kapan saja, ada Tuhan.

9. Cantik Maha Cantik

Cantik dari Sang Maha Cantik adalah cantik mutlak, cantik murni, cantik sejati. Di saat yang sama, Tuhan adalah Sang Maha Perkasa, Sang Maha Kuat, dan Sang Maha Agung. Pada diri Tuhan, Maha Cantik dan Maha Perkasa selalu seiring seirama. Sementara pada manusia, karakter cantik bisa saja terpisah dari karakter perkasa. Akibatnya, bisa ada bencana di mana-mana.

Orang yang bersikap perkasa, tanpa kelembutan, bisa berbuat kasar kepada orang lemah. Mereka bisa mendominasi pihak lain. Cinta mereka berbelok menjadi nafsu hitam dan merah. Sebaliknya, orang yang bersikap cantik, tanpa perkasa, bisa berbuat terlalu lemah. Mudah terombang-ambing oleh angin. Tidak punya pendirian. Cinta mereka berbelok menjadi nafsu kuning yang licin dan licik.

Sebagai manusia, kita perlu berimbang kedua karakter itu: cantik dan perkasa. Itulah cinta putih, bening, yang bijaksana.

Manusia berbeda dengan alam raya – selain manusia. Alam raya hanya bisa menerima cantiknya dari Sang Maha Cantik. Alam raya ini tidak mampu menerima perkasanya dari Sang Maha Perkasa. Ketika alam raya menampilkan karakter perkasa misal gunung meletus, gelombang tsunami, halilintar dan lain-lain itu semua adalah manifestasi dari Sang Maha Cantik menurut Ibnu Arabi. Sang Maha Cantik bermanifestasi di alam raya ini dalam karakter cantik dan perkasa. Meski tampak perkasa, alam raya ini bersumber dari Sang Maha Cantik bukan dari Sang Maha Perkasa.

Sang Maha Perkasa sejati tetap tersembunyi dari alam raya ini. Seandainya, Sang Maha Perkasa menampilkan diri di alam raya maka alam raya tidak akan mampu menerimanya. Alam raya akan hancur lebur bagai debu bertebaran entah ke mana. Badan fisik manusia pun tidak akan sanggup menanggungnya. Hancur lebur pula.

Bagaimana dengan hati manusia? Bagaimana dengan jiwa manusia? Bagaimana dengan diri manusia?

Semua yang ada di alam raya ini adalah manifestasi, perwujudan, dari Sang Maha Cantik. Wajar saja bila seluruh alam raya begitu cantik nan mempesona. Namun, tidak semua orang mampu mengenali cantiknya seluruh alam raya. Hanya mereka yang jiwanya terbuka, hati terbuka, pikiran terbuka mampu memandang cantiknya seluruh alam raya.

Sudahkah Anda membuka mata hati?

Ke mana pun kau menghadapkan wajah hanya ada cantiknya alam raya, kapan saja, di mana saja. Hanya ada cantiknya Sang Maha Cantik.

10. Ringkasan

Cinta ada di seluruh penjuru semesta. Hidup kita menjadi bahagia karena cinta. Hidup kita, sejatinya, adalah cinta. Bahagia bersama cinta adalah hak setiap anak manusia. Tetapi, cinta mudah berbelok. Manusia bisa membelokkan cinta menjadi nafsu semata: nafsu hitam, nafsu merah, dan nafsu kuning.

Dengan nafsu, manusia terkungkung oleh jeratan materi. Bahkan, cinta ditukar dengan materi. Kekuatan cinta yang penuh pesona berubah menjadi sumber derita, di antaranya, big power, bio power, dan bit power. Manusia mendominasi sesama melalui big power. Manusia meng-eksploitasi kehidupan sesama melaui bio power. Dan, manusia menjebak sesama melalui bit power.

Bagai mana pun, manusia bisa kembali ke jalan cinta suci yang bening. Hidup kembali bersama cinta suci adalah hidup paling bahagia. Solusi pertama, untuk kembali kepada cinta, adalah personal. Masing-masing pribadi berkomitmen untuk menyirami cinta setiap hari. Solusi kedua adalah solusi sosial. Secara bersama-sama, masyarakat berkomitmen menjalani hidup penuh cinta yang, terutama, tertuang dalam konstitusi. Ketiga, solusi personal dan sosial saling menguatkan untuk membentuk solusi sirkular yang terus berputar.

Filosofi cantik berhasil membuktikan bahwa cantik bersifat subyektif, obyektif, dan dialektik. Karakter cantik dialektik ini kadang yang menjadikan manusia gagal mengenali kecantikan. Menilai kecantikan memang urusan rasa, estetika, yang melibatkan peran materi, pemahaman, imajinasi, dan akal. Proses dialektika antara beragam komponen inilah yang menghasilkan penilaian rasa cantik sejati.

Tentu saja, kita bisa menilai cantik dengan ukuran tertentu misal adanya struktur selaras, rapi, dan lainnya. Bila demikian, maka cantik berubah menjadi cantik obyektif. Atau, bisa saja, subyek berkomitmen, bahkan dengan sugesti, menilai sesuatu sebagai cantik. Bila demikian, maka cantik berubah menjadi cantik subyektif. Sementara, cantik sejati memerlukan dialektika beragam aspek di atas.

Melangkah lebih jauh, dengan dialektika imajinasi, pemahaman, dan akal, kita dapat menilai obyek sublim dan teleologis – tujuan jangka panjang. Kita berhasil membuktikan bahwa tujuan penciptaan alam raya adalah untuk menghadirkan manusia bermoral. Mereka, sejatinya, bisa memilih untuk berbuat jahat tetapi mereka memilih untuk menjadi manusia bermoral.

Dengan beragam argumen yang kita bahas, selanjutnya, kita berhasil membuktikan eksistensi Tuhan. Di sini, kita memanfaatkan argumen rasional, argumen moral, dan argumen moral sempurna.

Alam raya, sejatinya, selalu cantik karena alam raya adalah anugerah dari Sang Maha Cantik. Ke mana pun kita menghadapkan pandangan maka kita akan menjumpai semesta yang cantik. Kita dikelilingi oleh alam raya yang cantik. Hakikat hidup ini pun adalah manifestasi cinta. Mari kita jalani hidup ini penuh pesona bahagia. Kita hanya butuh untuk membuka mata dan mata hati, tentunya.

Lanjut ke Ekonomi Cinta
Kembali ke The Philosphy of Love

Hermeneutics Philosophy: Pecahnya Persatuan

Hermeneutika adalah disiplin filsafat paling canggih di abad 21 ini. Ketika beriring dengan filsafat analitik maka dunia filsafat nyaris meraih titik puncak kematangan. Harapan seperti itu bisa musnah karena yang terjadi bisa sebaliknya. Hermeneutik, yang seharusnya, bisa menyatukan beragam perbedaan justru, bisa ironis, memecah-belah segala yang sudah bersatu.

Bagaimana pun, hermeneutika adalah madzhab filsafat yang luar biasa. Gadamer (1900 – 2002) adalah tokoh paling berpengaruh dalam mengembangkan hermeneutika. Dia belajar langsung dari gurunya, Heidegger (1889 – 1976), yang merupakan tokoh utama membangun fondasi hermeneutik ontologis.

Buku Kebenaran dan Metode (Truth and Method), Pengantar Filsafat  hermeneutika - Hans Georg Gadamer | Lazada Indonesia

Saat ini, abad 21, hermeneutics masih terus berkembang di berbagai belahan dunia. Sebut saja di Kanada ada Charles Taylor, di Itali ada Vattimo, dan di Spanyol ada Zabala. Di Indonesia pun berkembang beragam hermeneutika. Saya sendiri mengembangkan konsep pancajati untuk merespon dinamika kebenaran hermeneutik di era digital.

Tulisan ini akan membahas hermeneutika sebagai “seni interpretasi” berdasar pandangan beberapa tokoh. Kita akan berkenalan dengan konsep hermeneutik dari Heidegger, yang awalnya, adalah untuk “membahas” being sebagai realitas sejati. Heidegger meng-kritik filsafat Barat yang mengaku membahas “being” tetapi justru melupakan “Being” sejak masa Plato sampai Nietzsche. Seni interpretasi dari Heiddegger, yang berkembang jadi hermeneutik, adalah solusi untuk kembali membahas being.

Kemudian, kita akan berkenalan dengan konsep hermeneutik yang matang dari Gadamer, yang menekankan pentingnya bahasa dan proses dialog gaya Socrates. Pemikiran Vattimo, murid dari Gadamer, bisa kita pandang sebagai post-nihilisme. Yaitu langkah afirmasi manusia setelah klaim kebenaran mutlak runtuh oleh nihilisme Nietzsche.

Bagaimana pun, menurut Heidegger, hermeneutik adalah keniscayaan being, khususnya manusia. Manusia selalu melakukan interpretasi. Dan setiap pengetahuan manusia selalu melibatkan aspek interpretasi. Sehingga, kita bisa menelusuri proses hermeneutika sampai jauh ribuan tahun ke masa lalu. Karena itu, kita akan mencoba membahas hermeneutika masa lalu, di antaranya, hermeneutika Ghazali (1058 – 1111), Ibnu Arabi (1165 – 1240), dan Sunan Kalijaga (1460 – 1513).

A Kelemahan Hermeneutika
B Hermeneutika Mengacaukan Tatanan
C Realitas Sejati: Hermeneutika Heidegger
D Dinamika Bersejarah: Hermeneutika Gadamer
E Post-Nihilism: Hermeneutika Vattimo
F Al Ghazali: Hermeneutika Manusia Seimbang
G Ibnu Arabi: Hermeneutika Manusia Sempurna
H Sunan Kalijaga: Hermeneutika Seni Beragama
I Hermeneutika Kitab Suci: Vattimo, Abu Zaid, Shahrur
J Persatuan Hermeneutika: Rorty dan Bernstein

A Kelemahan Hermeneutika

Sebagai perkembangan filsafat paling canggih, hermeneutika memiliki kelemahan yang begitu mengerikan. Kelemahan ini berakar, secara tidak adil, kepada konsep pengetahuan dari Heidegger. Setiap pengetahuan manusia melibatkan interpretasi. Ini benar adanya. Maka setiap klaim kebenaran juga, tentu, melibatkan suatu interpretasi. Hal ini juga benar.

Penerapannya bisa salah!

“Covid tidak bahaya karena 99,9% warga aman dari Covid.” Presiden Trump dan pendukungnya dari dulu menyatakan bahwa covid tidak bahaya. Warga aman-aman saja. Trump mengatakan itu berdasarkan data, kurang dari 1% warga US yang terinfeksi covid. Maka Trump menginterpretasikan 99,9% warga US aman terhadap covid. Tentu saja, itu interpretasi yang salah. Dan, banyak bukti menunjukkan klaim Trump memang salah. Sampai September 2021 ini lebih dari 40 juta penduduk US terinfeksi covid – lebih dari 12% penduduk US telah terinfeksi covid. Sedangkan yang meninggal lebih dari 650 ribu orang. Bayangkan ada berapa ratus ribu anak yatim akibat covid di US?

Berikutnya, mari kita cermati kasus isu jabatan presiden 3 periode di Indonesia.

“Saya tidak berminat menjabat 3 periode. Konstitusi mengamanatkan masa jabatan presiden adalah 2 periode, itu yang harus dijaga.” Begitu kira-kira ungkapan Presiden Jokowi.

Kita bisa menginterpretasikan bahwa Jokowi menolak untuk dicalonkan jabatan presiden 3 periode. Sementara, orang lain bisa memilih interpretasi berbeda. Jika konstitusi diamandemen sehingga dibolehkan jabatan presiden 3 periode maka Jokowi akan bersedia.

Interpretasi mana yang benar? Saat ini, kita belum bisa memastikan kebenarannya karena kejadian 3 periode adalah nanti di tahun 2024 – saat ini belum terjadi.

Contoh-contoh di atas, sejatinya, bukanlah hermeneutik. Melainkan, penyalahgunaan dari hermeneutik. Sebagaimana pisau, hermeneutik bisa berguna, di saat yang sama, bisa merugikan. Pisau bisa memudahkan kita memotong sayuran, di saat yang sama, pisau bisa melukai jari kita.

Di bagian bawah akan tampak jelas kesalahan-kesalahan mereka. Dan, kita bisa memanfaatkan hermeneutika dengan baik. Gadamer sendiri mengatakan bahwa hermeneutik bukanlah metode filsafat tetapi kesadaran filsafat itu sendiri. Derrida (1930 – 2004) juga menyatakan hermeneutik-dekonstruksi bukan suatu metode, melainkan suatu kritik.

Mengubah filsafat hermeneutik menjadi suatu metode adalah kesalahan sangat mendasar.

B Hermeneutika Mengacaukan Tatanan

Dampak susulan dari penyalahgunaan hermeneutika adalah mengacaukan tantanan. Anarki bisa terjadi di mana-mana. Karena setiap klaim adalah interpretasi dan manusia memiliki kebebasan ber-interpretasi maka manusia bisa melakukan klaim kebenaran apa saja.

Lagi-lagi, itu bukan hermeneutika.

Hermeneutika mengakui klaim kebenaran dengan jelas sesuai horison, atau cakrawala, masing-masing. Dan, kita bisa memastikan kesalahan dari suatu pernyataan.

“Pandemi covid telah menginfeksi lebih dari 40 juta penduduk US” adalah pernyataan benar berdasarkan laporan badan kesehatan yang berwenang – cakrawala praktis.

“Penduduk US 99,9% aman terhadap serangan covid” adalah pernyataan yang salah berdasar laporan resmi badan kesehatan.

“Setiap elektron bermuatan listrik negatif” adalah pernyataan benar berdasar cakrawala sains.

“Soekarno adalah presiden ketiga RI” adalah pernyataan salah berdasar cakrawala sejarah.

Dengan cakrawala yang konsisten kita bisa mempertahankan, atau menciptakan, tatanan yang konsisten. Hermeneutika tidak merusak tatanan. Tetapi penyalah-gunaan hermeneutika, memang, bisa merusak tatanan.

Berikutnya, kita akan membahas hermeneutika secara positif. Dengan pembahasan positif ini, kita berharap mampu memahami hermeneutik dengan baik. Serta, kita bisa terhindar dari penyalah-gunaan hermeneutika.

C Realitas Sejati: Hermeneutika Heidegger

Memahami filsafat Heidegger, terutama buku Being and Time, adalah dasar utama dari hermeneutika. Barang siapa memahami filsafat Heidegger maka akan menghargai pentingnya hermeneutika. Masalahnya adalah sulit sekali untuk memahami filsafat Heidegger. Jangankan orang biasa, orang sekaliber Bertrand Russell (1872 – 1970) saja sulit memahami filsafat Heidegger. Padahal mereka, Russell dan Heidegger, sama-sama mendalami filsafat di rentang waktu bersamaan. Russell hanya berkomentar bahwa filsafat Heidegger adalah filsafat yang aneh.

Di bagian ini, kita akan membahas filsafat Heidegger secara ringkas, khususnya yang berhubungan dengan hermeneutika.

Destruksi Metafisika

Sesuai judulnya, Being and Time, memang fokus kepada being dan time itu sendiri. Dalam membahas “being,” Heidegger menyerang dengan keras tradisi filsafat Barat, yang justru, melupakan “Being.” Proyek filsafat Heidegger adalah mengembalikan filsafat untuk membahas “Being” dengan benar. Tetapi ini adalah proyek yang besar dan sulit. Maka Heidegger mengusulkan proyek yang lebih spesifik, yaitu, destruksi metafisika.

Nyatanya, kita tidak bisa meninggalkan metafisika. Kita akan berhadapan dengan metafisika di mana-mana. Yang bisa kita lakukan hanyalah “membelokkan” metafisika menjadi lebih fokus kepada ontologi saja.

Barangkali, kita akan lebih mudah membandingkan metafisika dengan ontologi melalui contoh klaim kebenaran.

Contoh klaim metafisika;

“Atom adalah partikel terkecil penyusun materi.” Dari mana kita tahu? Kita tahu dari eksperimen dan perhitungan matematika yang teliti. Lengkap dengan metode ilmiah yang terpercaya. Dari mana kita tahu metode ilmiah adalah terpercaya? Karena metode ilmiah adalah metode yang paling terpercaya.

Contoh di atas adalah klaim metafisika di mana, pada akhirnya, kita meyakini kebenaran dengan keyakinan yang pasti. Bandingkan dengan klaim ontologi berikut.

Contoh klaim ontologi;

“Atom adalah partikel terkecil penyusun materi.” Dari mana kita tahu? Kita tahu dari eksperimen dan perhitungan matematika yang teliti. Lengkap dengan metode ilmiah yang terpercaya. Dari mana kita tahu metode ilmiah adalah terpercaya? Sejauh ini, dengan beragam keterbatasan manusia, metode ilmiah adalah metode yang paling kita percaya. Barangkali besok atau tahun depan akan ada metode yang lebih baik atau hasil penelitian yang lebih baik.

Contoh yang terakhir adalah contoh klaim ontologi. Di mana, pada akhirnya, kita masih membuka peluang adanya hasil penelitian yang lebih bagus dan berbeda dari klaim ontologi kita yang semula.

Klaim metafisika yakin kepada kebenaran akhir. Sementara, klaim ontologi yakin adanya pertumbuhan kebenaran.

Para ilmuwan, nyatanya, tidak pernah melakukan klaim metafisika. Mereka, para ilmuwan, justru melakukan klaim ontologi. Mereka yakin kebenaran sains adalah kebenaran yang bersifat sementara. Ada peluang pertumbuhan sains yang makin lama makin bagus, sebagai revisi, berbeda dengan sains yang sudah ada.

Tetapi para ahli metafisika bisa saja melakukan klaim metafisika. Mereka meyakini klaim kebenaran yang bersifat sempurna dan abadi.

Sementara, Heidegger mengajak kita melakukan klaim ontologi. Membelokkan fokus kita dari metafisika menuju ontologi. Dan, ini adalah dasar dari hermeneutika.

Kemampuan Interpretasi

Mengapa kita hanya bisa klaim ontologi? Karena, itu adalah karakter dari being, realitas sejati. Kita hadir dalam dunia sebagai being-in-the-world. Kita tidak hadir dalam kehampaan. Maka tugas kita, dan kemampuan kita sebagai being-in-the-world, adalah menginterpretasikan dunia ini. Sehingga, kita tidak punya keyakinan penuh untuk klaim metafisika. Kita hanya bisa melakukan klaim ontologis, melalui interpretasi itu.

Mari kita bandingkan dengan cogito dari Descartes (1596 – 1650): Aku berpikir maka aku ada. Pada masanya, formula cogito ini menyelesaikan banyak masalah. Memberikan pencerahan kemajuan pemikiran. Pada masa sekarang, kita perlu bersikap kritis terhadap cogito itu.

“Aku berpikir maka aku ada” adalah klaim metafisika yang diyakini kebenarannya secara pasti, waktu itu. Saat ini, kita hanya bisa klaim ontologis. Subyek “aku” yang berpikir itu apakah statis atau dinamis, bisa berubah dengan satu dan lain cara? Kita, barangkali, bisa refleksi diri kita masing-masing. Tentu, kita saat ini berbeda dengan diri kita 10 tahun yang lalu. Beda dari sisi pengalaman, wawasan, dan usia tentunya. Meski, tetap ada beberapa hal yang tetap sama dari yang dulu dan sekarang. Maka secara totalitas, subyek “aku” yang berpikir, mengalami perubahan secara dinamis.

Demikian juga aktivitas “berpikir” apakah tetap sama dari jaman dulu sampai sekarang? Tentu saja ada perbedaan. Selanjutnya, subyek “aku” mengarahkan perhatian ke alam sekitar. “Aku” melihat ada pohon, batu, meja, kursi, dan lain-lain. Maka “aku” berhasil membuktikan ada eksistensi di dunia luar, ada suatu dunia fisik. Dengan demikian subyek “aku” berhasil membuktikan ada dua macam substansi yang berbeda. Pertama, substansi jiwa, atau substansi mental, yaitu sang subyek “aku.” Dan, kedua, substansi materi yang mandiri dari subyek, yaitu substansi dunia luar. (Selanjutnya, Descartes membuktikan eksistensi substansi ketiga yaitu substansi Tuhan yang mandiri dari jiwa dan materi ).

Dengan analisis yang sama, seperti sebelumnya, kita bisa mengklaim formula cogito di atas adalah sebentuk interpretasi oleh subyek “aku” terhadap fenomena yang ada. Heidegger, tampak, tidak setuju dengan alur cogito seperti itu. Heidegger lebih memilih konsep being-in-the-world. Subyek “aku” selalu berada dalam dunia, sejak lahir sampai mati. Sehingga, subyek “aku” tidak harus membuktikan eksistensi dirinya mau pun eksistensi dunia luar. Tugas subyek “aku” adalah melakukan interpretasi terhadap seluruh dunia, yang memang sudah ada.

Pengetahuan Ontic dan Ontologi

Wajar bila kita, sampai di sini, bertanya-tanya tentang status pengetahuan. Jika pengetahuan manusia “hanya” sebentuk interpretasi maka pengetahuan semacam itu, rasanya, tidak meyakinkan. Kita memerlukan pengetahuan dengan status yang lebih meyakinkan.

Hermeneutik akan memberikan jawaban yang meyakinkan tentang status pengetahuan yang sepenuhnya meyakinkan.

Immanuel Kant (1724 – 1804) membedakan antara fenomena dan noumena. Semua pengetahuan kita adalah pengetahuan tentang fenomena. Ketika kita melihat meja, misalnya, maka yang kita lihat adalah fenomena meja. Kita melihat warna meja, bentuk meja, ukuran meja, bahan meja, atau kita bisa menimbang berat (massa) dari meja. Semua pengetahuan kita tentang meja adalah sekedar fenomena dari meja, penampakan dari meja. Tetapi, apa sejatinya meja, noumena dari meja masih tersembunyi dari pengetahuan kita.

Apakah kita bisa mengetahui noumena meja? Apakah kita bisa mengetahui meja sejati? Tidak bisa.

Barangkali kita bisa meneliti meja itu dengan ketelitian yang lebih canggih dengan melibatkan ahli fisika, ahli kimia, dan ahli meja – tentunya. Analisis ilmiah paling detil, saat ini, menunjukkan bahwa meja terdiri dari partikel-partikel atom dan sub-atomik. Apakah partikel sub-atomik itu adalah noumena dari meja? Apakah itu meja sejati? Bukan. Partikel-partikel itu, masih tetap, merupakan penampakan dari meja. Jadi, hakikat dari meja sejati itu masih tetap tersembunyi.

Kali ini, mari kita berandai-andai bahwa suatu saat kita bisa mengetahui meja sejati, kita berhasil mengetahui noumena dari meja. Pengetahuan kita tentang noumena meja itu bisa kita sebut sebagai pengetahuan-ontic. Jadi, pengetahuan-ontic ini adalah jawaban dari pertanyaan “apa” hakikat dari meja sejati.

Kita masih bisa bertanya, apakah pengetahuan-ontic seperti itu merupakan pengetahuan tentang realitas meja itu?

Ya, dalam arti realitas esensial meja. Tetapi pengetahuan-ontic tetap tidak berhasil memotret realitas meja sepenuhnya. Pengetahuan-ontic hanya mampu menjawab pertanyaan “apa” sejatinya meja. Sementara, pertanyaan “mengapa” ada meja masih tidak bisa dijawab oleh pengetahuan-ontic. Dan, beberapa pertanyaan ontologis lainnya juga tidak bisa dijawab oleh pengetahuan-ontic: “untuk apa” ada meja? “bagaimana” ada meja? “siapakah” meja itu?

Sampai di sini, kita bisa membedakan lebih jauh lagi antara realitas-ontic dan realitas-ontologis. Realitas-ontic adalah realitas meja sejati. Sementara realitas-ontologis adalah realitas meja sebagai being-in-the-world, sebagai being-with-other. Realitas-ontic barangkali bisa dinyatakan dalam rumusan atau definisi tertentu – meski pun memunculkan beragam paradox. Sementara, realitas-ontologis tidak bisa dibatasi dengan suatu definisi. Kita hanya bisa melakukan interpretasi kepada realitas-ontologis dan merevisi terus-menerus interpretasi itu untuk lebih mendekati kebenaran.

Hermeneutik membuka peluang bagi kita mengelompokkan beberapa jenis pengetahuan dengan lebih meyakinkan. Pertama, pengetahuan-fenomena yaitu pengetahuan tentang penampakan-penampakan. Pengetahuan-fenomena ini penting bagi kita untuk merespon beragam fenomena yang terjadi di masyarakat. Misal, kita jadi mengetahui bagaimana fenomena perilaku masyarakat dalam menghadapi pandemi covid.

Kedua, pengetahuan-ontic yaitu pengetahuan esensial terhadap hakikat segala sesuatu. Untuk mendapatkan pengetahuan-ontic kita perlu kajian dan penelitian yang mendalam terhadap suatu fenomena sampai menembus ke noumena. Misalnya, kita perlu mempelajari strutur sel virus covid di laboratorium dengan peralatan yang canggih. Pengetahuan-ontic tentang virus ini membantu para peneliti untuk mendesain vaksin, misalnya. Makin kita mendalami pengetauan-ontic maka makin berkembang pengetahuan manusia. Pengetahuan-ontic umat manusia, meski tampaknya bisa dibatasi, nyatanya terus bertumbuh tanpa batas. Kajian sains menunjukkan pertumbuhan pengetahuan-ontic yang dinamis.

Ketiga, pengetahuan-ontologis yaitu pengetahuan tentang realitas. Di mana, kita bisa mengembangkan pengetahuan-ontologis dengan terus-menerus merevisi interpretasi demi interpretasi. Kemajuan pengetahuan-ontologis mengantarkan kita lebih dekat ke realitas kebenaran ontologis. Sementara, kebenaran ontologis itu sendiri terus bergerak dinamis. Dengan demikian, kita perlu secara terus-menerus memperbaiki, menyempurnakan, pengetahuan kita tanpa pernah berhenti.

Selalu ada perbedaan antara realitas-ontic dan realitas-ontologis. Perbedaan tersebut adalah perbedaan ontologis – ontological difference.

Kontribusi Heidegger

Mari kita ringkas kontribusi Heidegger terhadap “fondasi” hermeneutik. Sampai di sini, kita merasakan bahwa istilah “fondasi” tidak begitu tepat disematkan kepada hermeneutik dengan cara seperti biasanya. Hermeneutik justru menggali fondasi demi fondasi tanpa henti. Dengan demikian, tampak jelas, Heidegger memberikan pijakan awal bagi hermeneutik untuk lebih berkembang.

Pertama, destruksi metafisika. Kita perlu “membelokkan” fokus dari metafisika ke arah ontologi. Kita perlu menghindari klaim metafisika yang memandang klaim tersebut sebagai kebenaran sempurna dan abadi. Sebaliknya, kita perlu menyadari bahwa klaim kita adalah klaim ontologis yang perlu secara terus-menerus diuji dan direvisi.

Kedua, interpretasi. Segala pengetahuan kita selalu melibatkan interpretasi dengan satu dan lain cara. Karena keterbatasan interpretasi maka, lagi-lagi, kita perlu terus menguji dan merevisi interpretasi kita. Bahkan pengetahuan tentang fakta, yang diklaim obyektif pun, perlu untuk terus kita cermati.

Ketiga, ontological difference. Selalu ada perbedaan antara realitas-ontologis dengan realitas-ontic. Hal ini menjamin dinamika di seluruh semesta. Jika alam semesta, senantiasa, bersifat dinamis maka wajar saja bila kita juga bersikap dinamis. Hermeneutika memang dinamis.

Dengan memahami kontribusi Heidegger terhadap hermeneutika, seharusnya, orang-orang tidak menyalah-gunakan hermeneutika sebagai sembarangan melakukan interpretasi. Hermeneutika adalah, memang, seni berinterpretasi. Hermeneutika bukan metode. Hermeneutika adalah kesadaran berfilsafat. Hermeneutika adalah kritik berfilsafat.

D Dinamika Bersejarah: Hermeneutika Gadamer

Gadamer, sebagai murid dari Heidegger, melanjutkan proyek pengembangan hermeneutika hingga mencapai puncak kematangan. Di satu sisi, bersama Gadamer, kita lebih mudah memahami hermeneutik. Di sisi lain, hermeneutik menjadi lebih mudah disalahpahami, disalahgunakan, dan disalah-salahkan. Untuk memahami Heidegger, kita perlu kecakapan berpikir yang luar biasa. Sementara, untuk memahami Gadamer, kita perlu menambah kadar kedewasaan yang, juga, luar biasa.

Sesuai judul buku Gadamer yaitu Truth and Method, kita mudah memahami hermenetika sebagai suatu kebenaran dan suatu metode. Sementara, Gadamer sendiri menyatakan bahwa kebenaran dan metode itu saling berlawanan. Ketika kita mengutamakan kebenaran maka kita akan kehilangan metode. Sebaliknya, ketika kita mengutamakan metode maka kita akan makin berjarak dengan kebenaran. Dan, pertanyaannya, lebih utama mana antara kebenaran dengan metode? Jawabannya: lebih mudah metode! Selanjutnya, kensekuensi-konsekuensi logis terjadi sebagaimana harusnya.

Gadamer berhasil memperluas dan memperdalam konsep hermeneutika. Lebih hebat lagi, di tangan Gadamer, hermeneutika memiliki konsekuensi praktis. Sehingga, hermeneutika bisa langsung membahas ekonomi, etika, politik, dan – tentu saja – agama. Serta, lengkap dengan penyalahgunaannya.

Prasangka Sejarah Bahasa

Kita tidak bisa melepaskan diri dari prasangka atau praduga. Selalu ada prasangka dalam setiap pengetahuan manusia. Prasangka tidak selalu bersifat negatif. Justru, prasangka bersifat positif sebagai titik awal mengembangkan pengetahuan. Kita hanya perlu menempatkan prasangka sebagai hipotesis, yang perlu diuji dan disempurnakan.

Sikap yang wajar bagi kita: ketika hipotesis terbukti salah maka kita tolak atau kita revisi, sedangkan ketika hipotesis terbukti benar, maka kita terima sebagai pengetahuan. Hanya saja, hermeneutika tidak berhenti kepada pengetahuan yang terbukti benar itu. Hermeneutika menyarankan kita untuk memandang pengetahuan itu sebagai hipotesis yang baru, yang perlu diuji lagi. Dengan demikian, tidak ada titik henti bagi pegetahuan manusia. Kita perlu terus menguji pengetahuan kita untuk mendapat pengetahuan yang lebih baik lagi.

Kita juga bisa bergerak ke arah sebaliknya terhadap prasangka. Dari mana datangnya prasangka itu? Mengapa kita punya prasangka tertentu? Ada faktor apa saja yang mendorong kita berprasangka seperti itu?

Kita bisa melihat bahwa prasangka kita dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan kita. Pengalaman itu dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman sebelumnya, dan seterusnya. Singkatnya, kita dipengaruhi oleh sejarah budaya kita. Pengetahuan kita terikat oleh sejarah dan budaya kita. Sekali lagi, itu bukan suatu kesalahan. Itu adalah situasi yang melingkupi kita. Siatuasi yang harus kita terima. Untuk kemudian kita menyikapi dengan lebih bijak.

Dari beragam budaya dan sejarah, faktor bahasa adalah yang paling besar mempengaruhi kita. Kita berpartisipasi dalam bahasa, yang sejatinya bahasa itu sudah terbentuk ratusan tahun yang lalu. Kita dibentuk oleh bahasa dalam satu dan lain cara. Meski kita merasa bisa membentuk bahasa, yang lebih banyak terjadi adalah sebaliknya, kita yang dibentuk oleh bahasa.

Sedikit ilustrasi barangkali lebih menarik. Teman-teman kita yang tinggal di Madura, umumnya, tidak membedakan secara bahasa antara warna biru dan hijau. Mereka menyebut dua warna itu sebagai sama yaitu biru. Lalu, kita bisa eksperimen. Di balik kartu yang berwarna biru kita beri tanda B. Sedangkan di balik kartu hijau kita beri tanda H. Kemudian kita menunjukkan kartu itu kepada teman kita yang dari kecil tinggal di Madura. Setelah melihatnya, kita minta teman kita menebak huruf di balik kartu sesuai warnanya. Kita menunjukkan kartu secara terpisah. Apa yang hasilnya?

Bagi kita mudah saja. Warna biru maka huruf B dan warna hijau maka huruf H. Bagi teman kita, ternyata tidak mudah menebaknya. Mereka menganggap semua kartu berwarna biru. Jadi tebakan mereka kadang benar, kadang salah. Bukankah warna biru berbeda dengan hijau? Benar, bagi kita yang terbiasa dengan bahasa biru dan bahasa hijau. Sementara, bagi teman kita yang tidak membedakan secara bahasa antara biru dan hijau, nyatanya, dua warna itu dianggap sama. Tentu saja, setelah latihan beberapa kali, teman kita akan mampu membedakan warna biru dan hijau. Itulah peran bahasa.

Barangkali ilustrasi yang berhubungan dengan kendaraan paling populer di Indonesia adalah mobil Kijang. Orang tua kita, orang yang lahir sebelum 1960, cenderung menganggap sama antara mobil Kijang dan Panther. Semua mobil seperti itu mereka sebut sebagai mobil Kijang – secara bahasa. Lalu kita bisa eksperimen dengan meminta orang tua kita untuk menentukan satu mobil apakah Kijang atau Panther? Mereka akan menjawab mobil Kijang sebagai Kijang dan mobil Panther sebagai Kijang juga. Lagi-lagi ada peran penting bahasa dalam kasus ini.

Hermeneutika menempatkan bahasa pada peran utama dalam membentuk pengetahuan manusia. Pengetahuan kita mengandung unsur prasangka – yang dipengaruhi oleh bahasa, sejarah, dan budaya. Tugas kita adalah meng-interpretasikan dengan sebaik-baiknya segala pengetahuan – dan realitas. Hermeneutika adalah tugas kemanusiaan.

Gadamer memperluas konsep manusia dari Heidegger, being-in-the-world, menjadi manusia dalam bahasa, budaya, dan sejarah. Meski seorang manusia bisa membentuk bahasa, budaya, dan sejarah, proses sebaliknya lebih mudah terjadi.

Pengetahuan Paling Utama

Kemajuan sains dan teknologi begitu mempesona akhir-akhir ini. Makin mengagumkan dengan teknologi digital, lengkap dengan media sosial, yang membentuk budaya manusia kontemporer. Bila, dulu, manusia adalah binatang yang berpikir maka, sekarang, manusia adalah binatang digital. Khususnya di kota besar, dan negara maju, kehidupan manusia makin banyak di dunia digital.

Dunia digital menjadikan manusia lebih mudah mengakses informasi sampai pengetahuan, bisa kapan saja dan di mana saja. Ironisnya, makin banyak informasi tidak menjamin makin banyak pengetahuan manusia. Karena di antara informasi itu, atau sebagian besarnya, berupa hoax. Informasi palsu. Bagaimana kita bisa memperoleh pengetahuan di era digital seperti sekarang ini?

Hermeneutika dan ilmuwan sepakat dalam hal kita memperoleh pengetahuan melalu hipotesa yang kemudian diuji dan direvisi untuk mendapatkan pengetahuan yang berkualitas lebih baik. Hoax pasti lenyap dalam proses pengujian dan revisi itu. Tetapi mereka, ilmuwan dan hermeneutik, berbeda dalam hal bagaimana cara kita mengetahui. Ilmuwan, saintis, meneliti suatu obyek dengan fokus, terbatas, dan obyektif. Sementara, hermeneutika mengatakan cara ilmuwan seperti itu tidak pernah memadai.

Metode ilmiah yang dikembangkan ilmuwan itu akan menghasilkan pengetahuan obyektif yang merupakan pengetahuan-ontik. Hermeneutik menerima pengetahuan-ontik ini dengan baik. Hermeneutik menuntut pengetahuan lebih luas lagi yaitu pengetahuan-ontologis. Di mana pengetahuan-ontologis ini kita peroleh dengan melakukan interpretasi terhadap pengetahuan-ontik dengan mempertimbangkan subyek, budaya, sejarah, dan bahasa.

Gadamer meyakini, pada analisis akhir, pengetahuan tidak bisa direduksi menjadi suatu kriteria obyektif tertentu.

Seperti kita bahas di bagian sebelumnya, hermeneutik mengakui beragam bentuk pengetahuan: pengetahuan-fenomena, pengetahuan-ontik, dan pengetahuan-ontologis. Mereduksi pengetahuan menjadi hanya pengetahuan-ontik yang obyektif adalah kesalahan fatal beberapa pihak.

Kita mengakui pengetahuan matematika merupakan pengetahuan ideal yang nilai kebenarannya terjamin valid. Matematikawan, baik realisme atau anti-realisme, mampu membuat formula matematika untuk kemudian menarik kesimpulan yang valid. Hermeneutik mengakui pengetahuan-ontik dari matematika seperti itu. Hanya saja, kita perlu lebih dari sekedar pengetahuan-ontik seperti itu.

Fisika modern, barangkali, bidang kajian paling ideal. Di satu sisi, fisika menerapkan teori matematika paling canggih. Di sisi lain, fisika mempertimbangkan eksperimen fisik. Saat ini, ada dua cabang fisika paling maju: quantum dan relativitas. Fisika quantum mengkaji fenomena sub-atomik dan menghasilkan teori quantum yang kokoh. Sementara, relativitas mengkaji fenomena alam semesta dan menghasilkan teori relativitas – khusus dan umum – yang teruji sepanjang waktu. Anehnya, teori quantum dan relativitas tidak bisa disatukan. Mereka berlaku, sejauh ini, pada bidang masing-masing, meski pun sama-sama bidang fisika.

Para fisikawan, masa kini, sedang berusaha menyatukan quantum dan relativitas menjadi teori gravitasi quantum. Salah satu kandidat teori gravitasi quantum adalah teori string – yang bersaing dengan teori loop (Loop Quantum Gravity). Mari kita sedikit mendiskusikan teori string – yang masih terus dikembangkan sampai kini.

Segala sesuatu yang ada di alam ini, baik partikel atau gelombang, tersusun oleh string. Dengan demikian, string menyelesaikan masalah dualisme partikel dengan gelombang. Karena keduanya, partikel dan gelobang itu, sama-sama tersusun oleh string. Lalu string itu sendiri apa? String adalah mirip-titik berdimensi satu yang memiliki tegangan. Sehingga string bisa berosilasi – bergetar. String dalam jumlah tertentu, dengan cara tertentu, menyatu membentuk partikel elementer semisal elektron atau foton. Pada gilirannya, partikel elementer ini membentuk proton, neutron, atom, molekul, dan seluruh materi alam semesta – dan gelombang elektromagnetik serta gravitasi. Dengan demikian, seluruh misteri alam semesta dapat kita jelaskan dengan teori string. Teori string berhasil menjadi theory-of-everything.

Dengan teori string yang sempurna seperti itu apakah kita jadi bisa mengetahui semua realitas? Tidak. Sekali lagi tidak bisa. Karena, sehebat apa pun teori string maka pengetahuan kita akan tetap terbatas kepada pengetahuan-ontic. Teori string tetap tidak bisa menjawab beragam pertanyaan: Apa tujuan ada string? Dari mana munculnya string? Mengapa ada manusia? Bagaimana manusia bisa punya imajinasi? Dan lain-lain.

Lebih mendasar lagi, teori string dikembangkan dengan asumsi adanya latar berupa ruang-waktu. Sehingga, teori string tidak akan mampu menjawab pertanyaan: apa itu ruang dan waktu?

Kita perlu tegaskan bahwa teori string, dan sains pada umumnya, adalah pengetahuan-ontic yang bermanfaat dan diperlukan oleh manusia. Lebih dari itu, kita tetap memerlukan pengetahuan-ontologis dengan cara interpretasi yang terus-menerus direvisi. Kita, sebagai manusia memang, membutuhkan hermeneutika.

Dialektika Dialog

Sejak jaman Plato (Sokrates), pengetahuan manusia berkembang melalui dialektika, proses dialog. Hermeneutika memandang penting proses dialektika ini. Proses dialog bisa terjadi antara satu orang dengan orang lain. Bisa juga, proses dialog terjadi antara pembaca dengan suatu tulisan. Proses dialog ini tentu mengandung resiko: hasil dialog tidak seperti harapan awal.

Melalui dialog, hermeneutika menuntut kita menjalankan filsafat politik dan filsafat moral dengan adab yang luhur. Masyarakat yang berdialog terbuka untuk memajukan kehidupan bersama akan mampu membangun kehidupan yang demokratis. Masyarakat jadi menghargai perbedaan pendapat, dan perbedaan dalam banyak hal, untuk kemudian duduk bersama lalu berdialog.

Dialog dengan semangat hermeneutika meyakini bahwa pengetahuan kita, dan pengetahuan setiap orang, adalah pengetahuan yang bisa direvisi terus-menerus. Dengan demikian, dialog adalah cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih valid, dan sekaligus, menjadi cara mengembangkan pengetahuan.

Dialog bukan sekedar saling bicara, bukan pula hanya saling mendengar. Dialog menuntut keyakinan bahwa pihak lain mungkin saja lebih benar dari kita. Gadamer bukan hanya mengajarkan dialog seperti itu. Gadamer, benar-benar, menjalankan dialog hermeneutik dengan baik.

Dialektika melalui dialog meski tampak mudah dilakukan, nyatanya, itu adalah tugas besar manusia. Berikut ini beberapa poin yant perlu kita pertimbangkan dalam dialog.

Pertama, berusahalah untuk mengerti pihak lain. Kita berusaha untuk mendapatkan kebenaran dari teman dialog. Tentu dengan mendengarkan penuh rasa hormat. Selanjutnya, ungkapkan kebenaran yang kita yakini dengan jelas. Dari dua sudut pandang ini, atau lebih banyak sudut pandang, kita bangun dialog untuk menemukan solusi yang lebih baik.

Dialog, barangkali menghasilkan kesepakatan atau konsensus bersama. Dengan hasil ini, para pihak meyakini dan menyetujui kebenaran bersama. Tampaknya, konsensus adalah hasil yang paling diharapkan banyak orang. Ada kalanya, dialog tidak menghasilkan konsensus. Yang terjadi justru dissensus – tidak ada kesepakatan. Meski kedua pihak sama-sama saling memahami, tetap saja, mereka bisa tidak sepakat. Maka sikap saling hormat dari semua pihak perlu dikembangkan. Mengingat hermeneutik meyakini keragaman budaya, bahasa, dan subyektivitas maka hasil dialog bisa saja juga beragam.

Kedua, dialog bisa terjadi antara seseorang dengan suatu teks. Ketika kita membaca suatu buku, sebenarnya, kita sedang berdialog dengan teks atau tulisan. Seorang penulis, barangkali, menulis buku dalam rentang waktu sepuluh tahun yang lalu. Sementara, kita membaca buku tersebut saat ini. Terbayang perbedaan waktu, situasi, latar budaya, bahasa, dan lain-lain antara penulis asli dengan diri kita. Maka, kita perlu mempertimbangkan sudut pandang penulis, cakrawala penulis. Di saat yang sama, kita pasti membawa sudut pandang kita, cakrawala pembaca. Dengan demikian terjadi penggabungan antara cakrawala penulis dan pembaca. Terjadi dialog pembaca dan penulis. Dialog semacam ini bersifat kritis, menurut Gadamer, bisa menghasilkan ide-ide baru di luar dugaan.

Pertimbangkan ketika kita membaca kitab suci. Di mana kitab suci, barangkali, dituliskan sudah 1000 tahun yang lalu atau lebih. Sedangkan kita membaca saat ini. Tentu terdapat perbedaan budaya yang jauh. Paling menonjol adalah perbedaan teknologi jaman digital ini dengan jaman 1000 tahun yang lalu. Begitu juga perbedaan budaya masyarakat dunia, yang saat ini, sudah bersifat global. Maka dalam membaca kitab suci akan terjadi dialog-dialog yang bersifat kritis. Perlu sikap arif, dari seluruh pihak, dalam hal ini.

Ketiga, dialog dengan alam raya. Dialog hermeneutika adalah dialog “being”. Dialog ini tidak terbatas hanya dengan kata-kata. Kita bisa berdialog dengan alam semesta. Bagi umat beragama, bahkan bisa berdialog dengan Tuhan. Seseorang bisa berdoa kepada Tuhan. Kita bisa berdialog dengan realitas sistem ekonomi, sistem politik, bahkan dengan tokoh imajiner. Singkatnya, kita bisa berdialog dengan siapa saja, dengan apa saja.

Dalam dialog dengan alam raya, kita melibatkan penilaian pribadi. Kita, dalam dialog dengan alam raya, dituntut untuk mengambil kesimpulan. Tentu saja, perlu kita sadari bahwa kesimpulan kita adalah hasil interpretasi hermeneutik. Sehingga kesimpulan kita bisa saja salah. Dengan demikian, kita perlu melanjutkan dengan proses refleksi agar kesimpulan – interpretasi – kita lebih mendekati kebenaran.

Kritik Debat Gadamer

Sebagai seorang filsul, Gadamer menjalankan prinsip-prinsip filosofisnya dalam kehidupan nyata. Meski demikian, kritik terhadap Gadamer bertebaran di mana-mana. Dalam beberapa kesempatan, bahkan Gadamer sempat melakukan debat filosofis. Seperti kita sebut, dalam proses debat itu, Gadamer menjalankan prinsip-prinsip hermeneutika dengan baik. Berikut ini, kita akan membahas beberapa kritik terhadap Gadamer.

Pertama, menyebabkan hermeneutik mudah disalahgunakan. Berbeda dengan Heidegger yang menulis filsafat dengan bahasa sulit dipahami, Gadamer menulis filsafat dengan bahasa yang mudah dipahami oleh banyak kalangan. Bahkan, karya Gadamer bisa dianggap sebagai “metode praktis” hermeneutik. Sebuah interpretasi yang sering ditolak oleh Gadamer. Akibat interpretasi mereka itu, hermeneutik sering disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengelabui pihak lain. Dan, sampai kadar tertentu, hermeneutik direndahkan sebagai metode sembarangan yang terjebak dalam relativisme.

Tentu saja, penyalahgunaan hermeneutik bukan tanggung jawab Gadamer. Mereka bertanggung jawab atas perilaku mereka sendiri. Gadamer telah menulis buku dengan baik. Gadamer telah merumuskan filsafat hermeneutik dengan baik. Tidak ada masalah dengan Gadamer.

Kedua, hermeneutik mengubah sains menjadi pengetahuan subyektif. Khususnya ilmu sosial, menjadi teori yang bersifat subyektif. Karena semua teori sosial dipengaruhi oleh subyek pengamat, latar budaya, bahasa, dan interpretasi dari masing-masing ilmuwan. Gadamer menolak penilaian semacam itu. Konsep hermeneutik Gadamer, sekali lagi, bukanlah metode. Konsep hermeneutik Gadamer bersifat deskripsi, menggambarkan apa sejatinya yang terjadi ketika seorang ilmuwan merumuskan suatu teori sosial, misalnya. Bahwa dalam proses tersebut dipengaruhi oleh interpretasi subyektif ilmuwan, memang, seperti itu yang terjadi. Namun demikian, proses interpretasi semacam itu tidak serta-merta menjadi subyektif. Dalam cakrawala tertentu, horison tertentu, teori sosial tetap bisa bersifat obyektif.

Ketika ahli ekonomi menyusun teori ekonomi, tentu saja, dia dipengaruhi pengalaman pribadi, budaya, dan bahasanya. Sejauh ahli ekonomi itu menerapkan kaidah-kaidah ilmiah sesuai cakrawalanya maka teori ekonominya tetap bisa bersifat obyektif. Apa lagi, jika ahli ekonomi itu kemudian dialog dengan komunitasnya untuk merevisi teori ekonomi tersebut maka karakter obyektif makin kuat. Dengan demikian, hermeneutik tetap menjaga pengetahuan bisa bersifat obyektif sesuai cakrawala masing-masing.

Ketiga, hermeneutik tidak mampu mendeteksi ideologi yang mengendalikan masyarakat. Habermas (1929 – ) melontarkan kritik tersebut di tahun 1970an. Sejatinya, Habermas dan Gadamer lebih banyak titik temunya dan hanya ada sedikit beda pandangan – seperti masalah ideologi di atas. Habermas sendiri, tampaknya, sengaja memancing debat dengan para filsuf lain untuk mengangkat isu filosofis penting tertentu. Terbukti, debat Habermas dengan Gadamer ini, mengantar konsep hermeneutik lebih dikenal di seluruh dunia.

Karena hermeneutik, menurut Habermas, berpegang kepada tradisi, budaya, dan sejarah maka hermeneutik tidak mampu membebaskan diri dari jeratan ideologi yang ada dalam masyarakat tersebut. Hermeneutik perlu bersikap kritis dan membebaskan diri dari itu semua agar mampu melepaskan diri dari kungkungan ideologi. Tentu saja, kita tahu, Gadamer mengijinkan hermeneutik untuk bersikap kritis terhadap semua ideologi. Namun melepaskan diri dari sejarah, untuk kemudian meng-klaim diri sebagai obyektif, justru merupakan dogma yang kaku – yang perlu kita hindari. Dengan demikian, hermeneutik tetap mampu mengenali konsep ideologi.

Keempat, kritik terhadap kebenaran absolut hermeneutik. Derrida (1930 – 2004) melontarkan kritik ini tepat pada jantung hermeneutik. Sejatinya, Derrida dan Gadamer, keduanya adalah sama-sama penerus dari Heidegger. Derrida mengembangkan proyek destruksi metafisika, dari Heidegger, menjadi dekonstruksi filosofis. Sementara, Gadamer mengembangkan karakter pengetahuan interpretatif, dari Heidegger, menjadi hermeneutika filosofis.

Derrida menolak ide Gadamer yang menyatakan bahwa proses revisi interpretasi terus-menerus dari hermeneutik akan mengantarkan kita kepada kebenaran sejati. Menurut Derrida, kebenaran sejati seperti itu tidak pernah diraih, dengan cara apa pun. Baik, hermeneutik mau pun dekonstruksi, sama-sama tidak akan berhasil meraih kebenaran sejati. Derrida berpegang pada konsep differance yang bermakna ganda: makna berbeda dengan tanda dan makna selalu tertunda.

Bagian pertama yang menyatakan bahwa makna berbeda dengan tanda bisa kita pahami dengan mudah. Sementara, bagian kedua, menyatakan bahwa makna selalu tertunda, bisa kita bahas lebih detil. Suatu tanda akan menunjuk ke suatu makna. Nyatanya, makna itu sendiri merupakan suatu tanda pula, tanda yang baru. Pada gilirannya, tanda ini akan menunjuk ke makna lagi, makna yang baru. Dan begitu seterusnya tidak pernah berhenti. Sehingga makna akhir tidak pernah kita raih. Makna selalu tertunda. Demikian juga, kebenaran sejati selalu tertunda.

Kritik dari Derrida ini, tampaknya, memang harus diterima. Gadamer sendiri bersikap terbuka terhadap kritik ini dan kritik-kritik lainnya. Kita bisa memahami maksud Gadamer dengan kebenaran sejati adalah kebenaran maksimal yang bisa kita raih dengan hermeneutik, dengan revisi terus-menerus. Kebenaran ini bersifat temporal dan dinamis. Sehingga, klaim kebenaran ini adalah kebenaran-ontologis bukan kebenaran-metafisis. Dengan demikian, hermeneutik seiring sejalan dengan konsep differance dari Derrida.

Kelima, penyebaran framing informasi digital. Di akhir abad 20, ketika Gadamer mengembangkan hermeneutik, barangkali orang-orang tidak berpikir akan datangnya suatu era digital, di mana informasi bisa menyebar begitu cepatnya dalam hitungan detik. Hermeneutik, disalahgunakan, untuk me-framing informasi sesuatu kepentingan pihak tertentu. Informasi palsu, informasi hoax, bertebaran di dunia digital, di abad 21 ini.

Lebih parah lagi, framing dunia digital tidak hanya melibatkan kemampuan pikiran manusia. Framing digital juga memanfaatkan kekuatan jaringan komputer raksasa di seluruh dunia dengan kecerdasan buatan, artificial intelligence. Kombinasi otak manusia yang serakah dan kecerdasan buatan sangat ampuh untuk mencuci otak umat manusia di seluruh dunia.

Memang benar, hermeneutika bisa disalahgunakan untuk memproduksi framing informasi hoax. Namun kita tahu, itu bukan salah hermeneutika, bukan pula salah Gadamer. Justru, dengan kesadaran hermeneutika, kita mampu merevisi berita-berita hoax itu melalui pengujian-pengujian dan revisi. Sehingga, di era digital, kita makin membutuhkan masyarakat yang berkesadaran hermeneutik.

Kontribusi Gadamer

Banyak sekali kontribusi Gadamer dalam mengembangkan hermeneutika filosofis. Barangkali kita akan menekankan kembali tiga kontribusi utama Gadamer. Pertama, Gadamer memperluas faktor-faktor yang mempengaruhi interpretasi seseorang sampai ke sejarah, budaya, dan bahasa. Sehingga kita perlu melakukan beragam pengujian ulang terhadap setiap interpretasi kita.

Kedua, pengetahuan manusia melebihi dari sekedar pengetahuan-ontic. Dengan tegas, Gadamer menerima keabsahan pengetahuan-ontic yang bersifat obyektif. Di saat yang sama, kita perlu terus mengkaji ulang pengetahuan obyektif itu. Karena, pada analisis akhir, pengetahuan tidak bisa dibatasi hanya dengan suatu kriteria tertentu.

Ketiga, manusia berkembang dialektis melalui proses dialog. Perbedaan dari banyak pihak adalah modal utama untuk melakukan dialog demi kemajuan bersama. Hermeneutik menilai penting proses dialog secara luas. Baik dialog antar manusia, dialog bersama teks, dan dialog bersama alam raya. Tentu saja, dialog bersama Tuhan.

E Post-Nihilism: Hermeneutika Vattimo

Vattimo (1936 – ) mengantarkan hermeneutika ke babak baru. Saat ini, Vattimo berusia 86 tahun. Karena itu, Vattimo mengembangkan hermeneutika di era digital yang serba global ini. Kita berharap mendapatkan ide-ide hermeneutik yang kekinian dari Vattimo. Dan, memang begitulah adanya. Vattimo belajar hermeneutika langsung dari Gadamer.

Akhir Sejarah


F Al Ghazali: Hermeneutika Manusia Seimbang
G Ibnu Arabi: Hermeneutika Manusia Sempurna
H Sunan Kalijaga: Hermeneutika Seni Beragama
I Hermeneutika Kitab Suci: Vattimo, Abu Zaid, Shahrur
J Persatuan Hermeneutika: Rorty dan Bernstein

Political Philosophy: Indonesia Cermin Dunia

Setiap kehidupan bersifat politis. Memperebutkan kekuasaan. Mempraktekkan kekuasaan. Membatasi kekuasaan. Dan mengendalikan kekuasaan.

Setiap kehidupan adalah filosofis. Setiap sisi punya fondasi. Setiap saat ada hasrat. Setiap tempat perlu kiblat. Setiap manusia adalah alat dan tujuan itu sendiri.

Setiap kerhidupan adalah cinta. Bahkan kematian adalah cinta. Hidup untuk cinta. Mati untuk cinta. Politik untuk cinta. Filsafat untuk cinta. Cinta untuk Sang Maha Cinta, dari Sang Maha Cinta, oleh Sang Maha Cinta.

Berikut ini adalah beberapa catatan politik Indonesia cermin dunia dan dunia cermin Indonesia.

1 Adil Makmur: Politik Ekonomi Indonesia
2 Lebih Kejam dari Politik: Bitpower
3 Presiden 3 Periode dan Amandemen UUD
4 Indonesia Lebih Baik Tidak
5 Konflik Vs Korupsi: Pertumbuhan

6 Berbeda Adalah (Bukan) Masalah
7 Youtuber Menunggangi Politik
8 Peta Moral yang Salah Arah

Presiden 3 Periode dan Amandemen UUD

Amandemen UUD 1945 menunjukkan dinamika dalam sistem pemerintahan Indonesia. Dinamika seperti itu, wajar, kita pandang sebagai kemajuan positif. Setelah reformasi, amandemen terbaik, menurut beberapa kalangan, adalah pembatasan masa jabatan presiden dan wakil menjadi hanya 10 tahun atau 2 periode.

featured

Tahun 2021, muncul ide kembali untuk amandemen UUD 45. Sejatinya, wajar saja. Menjadi lebih heboh lantaran dalam rencana amandemen itu adalah mengesahkan masa jabatan presiden menjadi 3 periode. Kosekuensinya, bila amandemen terjadi, Presiden Jokowi bisa mencalonkan kembali pada 2024.

Atau logikanya bisa dibalik. Beberapa pihak mengharapkan presiden Jokowi untuk menjabat 3 periode. Agar sah secara konstitusional maka diperlukan amandemen. Dan, lebih menarik lagi, koalisi pemerintah di MPR sangat besar sehingga memungkinkan dilakukan amandemen.

Presiden Jokowi Menolak

Dalam berbagai macam media, Jokowi menolak ide masa jabatan presiden 3 periode.

“Saya tegaskan, saya tidak ada niat, tidak ada juga berminat menjadi presiden tiga periode. Konstitusi mengamanatkan dua periode, itu yang harus kita jaga bersama-sama.” (Sumber: asumsi.co)

Secara sekilas, tampak jelas, dari pernyataan di atas bahwa Jokowi menolak masa jabatan 3 periode. Sementara bagi pendukung masa jabatan 3 periode, pernyataan presiden di atas bukanlah penolakan nyata. Jika konstitusi mengijinkan, misal dengan amandemen, maka presiden bisa saja bersedia.

Untuk mengurangi kekuatan oposisi, bahkan pendukung jabatan 3 periode, memasangkan Jokowi dan Prabowo di 2024.

Presiden Lebih Tegas

Tentu saja, presiden bisa membuat pernyataan lebih tegas, sesuai sikap dirinya.

a. Saya menolak masa jabatan 3 periode
b. Saya memerintahkan, atau mengajak, anggota DPR untuk menolak amandemen UUD 45 berkenaan dengan masa jabatan presiden.
c. Jika karena satu dan lain hal terjadi amandemen yang mengijinkan masa jabatan presiden menjadi 3 kali maka saya dengan tegas menolak dicalonkan untuk masa jabatan ke 3. Saya cukup menjabat 2 periode saja.

Debat Masa Jabatan

Dalam suasana demokrasi yang sehat, debat publik masa jabatan presiden 3 periode mesti dapat tempat yang memadai. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba mendiskusikan beberapa sudut pandang filosofis.

Plato dan Aristoteles

Para pemikir kuno semisal Plato dan Aristoteles, tampaknya, tidak terlalu mendukung pemerintahan demokrasi. Plato lebih mendukung pemerintahan yang dipimpin oleh raja yang adil dan cerdas – King Philosopher. Sehingga, jika kita telah mendapatkan king-philosopher itu maka seharusnya kita mendukungnya untuk masa jabatan 3 periode atau lebih.

Pandangan pemerintahan king-philosopher seperti itu, saat ini, sulit mendapat dukungan. Kemajuan peradaban manusia justru mendukung pemerintahan demokrasi.

Al Farabi (870 – 950)

Al Farabi melanjutkan pemikiran Plato dengan menyempurnakan king-philosopher dengan keharusan mendapat pencerahan Tuhan demi mencapai kebaikan masyarakat luas.

Berbeda dengan Plato, Al Farabi hidup hampir 1000 tahun setelah masehi. Sehingga, kitab suci sudah dibukukan dengan baik. King-philosopher harus mampu membaca kitab suci untuk kemudian menafsirkan dengan cerdas demi kebaikan seluruh masyarakat.

Barangkali, ide Al Farabi ini pernah sukses di masa lalu. Tetapi di masa sekarang, tampaknya masyarakat lebih mendukung demokrasi. Meski demikian, beberapa pemikir mencoba menggabungkan ide Al Farabi ini dengan demokrasi.

Ibnu Khaldun (1332 – 1406)

Ibnu Khaldun adalah pemikir ilmu sosial pertama di dunia. Khaldun mengenalkan konsep empiris untuk menguji teori sosial. Sehingga, bila kita bertanya kepada Ibnu Khaldun tentang presiden 3 periode maka jawabannya: belajarlah dari pengalaman empiris.

Pertama, kita bisa menguji suksesi era SBY yang menjabat 2 periode, total 10 tahun. Lalu digantikan oleh Jokowi berjalan dengan lancar dan demokratis.

Kedua, kita bisa menguji suksesi bagi presiden yang menjabat lebih dari 10 tahun. Kita punya presiden Soeharto dan Soekarno. Kita mengagumi kedua presiden hebat itu. Tetapi, kita tahu, suksesi mereka berjalan secara tidak normal – darurat. Tentu banyak resiko.

Ketiga, berdasar pengalaman empiris, sesuai pendapat Ibnu Khaldun, kita bisa menarik kesimpulan. Batasan masa jabatan presiden 10 tahun teruji secara demokratis dalam suksesi, pergantian presiden berjalan dengan baik. Sedangkan masa jabatan presiden lebih dari 10 tahun, atau 3 periode, beresiko terjadi krisis demokrasi dalam suksesi.

Immanuel Kant (1724 – 1804)

Kita bisa mempelajari pemikiran Kant melalui buku-bukunya yang luas dan mendalam. Khususnya buku trilogi-kritik memberikan wawasan yang amat berguna untuk kita semua.

Masa jabatan presiden 3 periode bisa kita analisis dengan kategorial-imperatif atau kewajiban moral versi Immanuel Kant.

Jika 3 periode itu memang baik maka harus dilakukan. Jika 3 periode itu buruk maka harus ditinggalkan. Pertanyaannya, bagaimana kita menentukan 3 periode itu baik atau buruk, sesuai kategorial-imperatif?

Kant percaya kepada kemampuan manusia berakal untuk menentukan baik dan buruknya sesuatu, termasuk 3 periode. Dalam hal ini, Kant mendukung demokrasi umat manusia untuk menentukan sikap masing-masing sesuai akal sehat. Berikut ini, empat kriteria yang menyatakan bahwa 3 periode masa jabatan presiden itu baik atau buruk.

Pertama, disetujui semua orang. Syarat ini sulit dipenuhi. Karena, sekarang pun, sudah banyak yang menolak masa jabatan 3 periode itu.

Kedua, bisa dilakukan oleh semua orang. Syarat ini bisa dipenuhi. Setiap orang yang memenuhi syarat bisa saja mencalonkan diri sebagai presiden 3 periode.

Ketiga, bisa dilakukan kapan saja. Syarat ini juga bisa dipenuhi. Jika konstitusi mengijinkan maka bisa kapan saja diterapkan masa jabatan 3 periode.

Keempat, bisa dilakukan di mana saja. Syarat ini juga bisa dipenuhi. Jika berbagai negara di dunia menyepakati 3 periode maka mereka bisa menerapkan di mana saja.

Dari empat kriteria di atas, hanya satu kriteria yang belum terpenuhi. Sehingga masa jabatan presiden 3 periode tidak bisa disebut sebagai kewajiban moral. Akibatnya, boleh ditolak.

Tetapi, apakah ada kewajiban moral yang memenuhi empat kriteria di atas? Tentu ada. “Menghormati ibu,” “Jangan korupsi,” “Jangan membunuh,” adalah contoh kewajiban moral yang memenuhi empat kriteria di atas.

John Rawls (1921 – 2002)

Rawls adalah pemikir politik yang fenomenal. Dengan bukunya A Theory of Justice, Rawls berhasil menggeser perdebatan etika politik yang bersifat normatif menjadi etika politik yang aplikatif – bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat secara nyata.

Rawls melanjutkan konsep masyarakat adil dengan pendekatan kontraktarianisme seperti Kant. Pertama, prinsip kesamaan dalam kebebasan. Ide masa jabatan presiden 3 periode harus terbuka secara umum bagi seluruh warga. Prinsip ini bisa dipenuhi.

Kedua, prinsip perbedaan. Setiap perbedaan harus memberikan akibat terbaik bagi masyarakat lemah. Masa jabatan presiden 3 periode, yang berbeda dengan semula 2 periode, apakah memberi manfaat terbaik bagi masyarakat lemah?

Sulit untuk menjawab afirmasi pertanyaan kedua. Sulit bagi kita untuk meyakinkan bahwa presiden 3 periode akan berdampak positif bagi masyarakat lemah. Siapa pun presidennya, masa jabatan 3 periode justru membuka peluang ke arah kolusi dan korupsi yang lebih berbahaya.

Dengan demikian, amandemen UUD untuk menetapkan periode jabatan presiden 3 periode layak ditolak.

Habermas (lahir 1929)

Habermas sejalan dengan Rawls melanjutkan konsep kontraktarianisme dari Kant. Habermas juga percaya bahwa masing-masing orang punya akal yang mampu menentukan sesuatu bersifat baik atau buruk. Habermas melangkah lebih jauh dengan menetapkan komunikasi aktif adalah sarana paling tepat untuk dialog mencapai konsensus bersama.

Ruang publik adalah ruang terbuka, secara fisik atau digital, bagi masyarakat untuk bisa saling diskusi dengan bebas. Siapa pun bebas memulai tema diskusi di ruang publik. Masing-masing pihak menanggapi pro-kontra secara rasional. Begitulah demokrasi.

Isu presiden 3 periode perlu dibahas di ruang publik secara terbuka.

Philosophy of Science: Paradox Filsafat Ilmu

Saat ini, ilmu pengetahuan makin maju, manusia makin makmur. Sementara, penderitaan ada di mana-mana. Teknologi makin menjangkau ke seluruh penjuru dunia. Manusia makin terjebak dalam sengsara. Ceramah agama bisa online kapan saja. Krisis moral tidak tampak mereda. Teknologi kedokteran makin canggih. Pandemi covid datang, tak ada yang sanggup menghadang.

Paradox filsafat ilmu. Makin maju, makin keliru. Ada masalah apa sebenarnya?

Pada tulisan ini, kita akan membahas paradox filsafat ilmu. Pertama, kita akan membahas filsafat ilmu dari beragam sudut pandang. Kedua, kita akan mengkaji sisi-sisi paradox dari filsafat ilmu itu. Dan, ketiga, kita akan mengusulkan beberapa alternatif sudut pandang untuk mengatasi paradox. Tentu saja, dengan resiko, muncul paradox yang lebih baru.

1) Paradox Ilmu
1.1 Fisika Quantum: Ketidakpastian Heisenberg
1.2 Relativitas Einstein: Ruang dan Waktu
1.3 Covid-19: Virus Kecil yang Mendunia
1.4 Ekonomi Serakah: Mengapa Harus Boros
1.5 Ekonomi Tak Berakal: Dynamic Stochastic General Equilibrium
1.6 Kepastian Hukum yang Tidak Pasti: Hermeneutika
1.7 Keyakinan Agama: Landasan yang Digoyang

2) Epistemologi Ontologi

2.1 Metafisika ke Ontologi
2.2 Metafisika Different
2.3 Enframing Genealogi

3) Madzhab Filsafat Ilmu

3.1 Positivisme Ilmu Alam
3.2 Communitarian Ilmu Sosial
3.3 Rasionalisme Matematika

4. Spesialisasi Filsafat Ilmu

4.1 Filsafat Fisika
4.2 Filsafat Matematika
4.3 Filsafat Sosial
4.4 Filsafat Teknologi
4.5 Filsafat Agama

5) Solusi Paradox Filsafat Ilmu

5.1 Paradox Godel: Ilmu Pasti
5.2 Jarak Ontologis: Ilmu Sosial
5.3 Paradox Praktis: Mukjizat Hari ini

Philosophy of Mathematics: Mengapa Belajar Matematika?

Pertanyaan sering muncul ke kita: mengapa belajar matematika? Yang lebih penting, justru, pertanyaan sebaliknya: mengapa tidak belajar matematika?

Motivasi untuk belajar matematika sudah jelas: sukses pendidikan, sukses ekonomi, sukses kehidupan, dan lain-lain. Tetapi, memilih untuk tidak belajar matematika harus punya alasan yang jelas dan kuat. Salah memilih alasan, untuk tidak belajar matematika, bisa mengakibatkan kerugian besar – rugi materi mau pun kesempatan.

Why is Math important? Interesting Facts for Students - EduBirdie.com

Pertanyaan sederhana tentang mengapa-matematika, sejatinya, adalah pertanyaan filosofis. Maka kita akan membahas filsafat matematika pada kesempatan ini. Ada tiga bagian utama dari filsafat matematika. Pertama, aksiologi matematika meliputi etika matematika, ekonomi matematika, politik matematika, dan termasuk mengapa-matematika.

Kedua, ontologi matematika atau meta-matematika atau metafisika matematika. Kita akan menyelidiki apa sejatinya matematika. Meski nilai-kebenaran dari matematika begitu jelas, pasti, dan meyakinkan di satu sisi, sedangkan, di sisi lain, apa sejatinya matematika tidak mudah kita jawab. Plato menyatakan bahwa matematika adalah realitas di alam ideal – yang sangat tinggi. Sementara, Russell menyatakan matematika adalah sistem logika. Bahkan, di era kontemporer ini, ada yang menyatakan bahwa matematika adalah fiksi.

Ketiga, epistemologi matematika. Bagaimana kita bisa mengetahui matematika dan menguji kebenaran pengetahuan matematika. Plato menyarankan agar umat manusia memurnikan pengetahuan agar mampu mengetahui ide-ide matematika. Sementara, Aristoteles menyarankan, justru, kita perlu menyelidiki fenomena alam semesta untuk mengembangkan pengetahuan matematika. Aljabar menyarankan untuk mengembangkan matematika dengan menerapkan dan menguji dalam kehidupan manusia. Dan, di jaman sekarang, kita bisa mengetahui matematika melalui komputer.

  1. Aksiologi Matematika
    A. Mengapa Matematika
    B. Etika Matematika
    C. Ekonomi Matematika
    D. Politik Matematika
    E. Pendidikan Matematika
  2. Ontologi Matematika
    A. Realisme: Plato, Aristoteles, Aljabar, Russell, Godel
    B. Anti-realisme: psikologi, formalisme, fiksionalisme
    C. Super-realisme: mathematical-universe
    D. Dari Ontic ke Ontologi
    E. Metafisika Different
    F. Dinamika Virtual Aktual
  3. Epistemologi
    A. Plato: Merenungi Matematika Ideal
    B. Aristoteles: Meneliti Matematika di Bumi
    C. Aljabar: Menguji Matematika Langit dan Bumi
    D. George Boole: Menguji Matematika Digital
    E. Alan Turing: Matematika Komputer
    F. Google: Matematika oleh Semesta
    G. Gojek: Rakyat Jelata Bermatematika
  4. Lebih dalam Aksiologi
    A. Demokrasi Matematika: Persamaan Pertidaksamaan
    B. Pertumbuhan Ekonomi Manusia
    C. Krisis Iklim Bumi
    D. Inovasi Perkembangan Matematika
    E. Bitpower dalam Universe Matematika

1) Aksiologi Matematika

1.1 Mengapa Matematika

Seperti kita baca di atas, alasan mengapa belajar matematika begitu banyak. Yang paling jelas, mengapa kita perlu belajar matematika, adalah agar kita lulus sekolah. Melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kemudian, mendapat pekerjaan yang keren dan hidup bahagia selamanya.

Di Indonesia, misalnya, berkarir sebagai PNS adalah idaman banyak orang. Mereka yang belajar dan menguasai matematika maka akan lulus tes CPNS dan kemudian karirnya cemerlang.

Pertanyaan masih bisa berlanjut: tetapi, ketika sudah kerja, matematika tidak ada gunanya kan?

Pertanyaan, sekali lagi, bisa kita balik: pekerjaan apa yang tidak membutuhkan matematika? Semua pekerjaan membutuhkan matematika untuk sukses, berguna, dan berkembang.

PNS jelas membutuhkan matematika. PNS perlu menghitung berapa gaji mereka. Berapa kebutuhan kehidupan tiap bulan. Lalu, mempertimbangkan bonus pendapatan yang diharapkan. Serta memikirkan jenjang kenaikan karir lengkap dengan kerangka perhitungan waktunya. Jika ada PNS tanpa matematika maka mereka termasuk PNS paling merugi.

Pengusaha, lebih-lebih, membutuhkan matematika dengan porsi yang lebih besar lagi. Sejak awal akan usaha, pengusaha menghitung berapa modal yang dibutuhkan. Berapa ukurang ruang usaha, jumlah karyawan, dan kapan mulai balik modal. Pengusaha tanpa matematika adalah pengusaha paling rugi di muka bumi.

Zukerberg tidak menyelesaikan sekolahnya – tidak mau belajar matematika. Nyatanya, Zukerberg sukses luar biasa dengan facebook-nya. Steve Jobs juga tidak mau melanjutkan sekolah – tidak mau belajar matematika. Lagi-lagi, Jobs sukses luar biasa dengan apple-nya.

Nah, kita, kali ini, punya alasan untuk tidak belajar matematika. Mengapa kita tidak perlu belajar matematika? Kita tidak perlu belajar matematika bila pasti bisa mendirikan perusahaan sekelas facebook dan apple, sebagai mana Zukerberg dan Jobs. Jika ada orang tidak mau belajar matematika dan tidak mampu sukses seperti facebook maka dia orang yang merugi.

Tunggu dulu! Jobs memang tidak melanjutkan belajar matematika di universitas. Jobs mendirikan Apple. Saat mengembangkan Apple, Jobs justru mengembangkan matematika bisnis tingkat tinggi. Jobs menghitung kemampuan produksi Apple, ukuran market Apple, dan tentu profit Apple. Jobs bisa menghindar dari matematika universitas hanya untuk, pada gilirannya, menghadapi matematika di dunia bisnis.

Manusia bisa menghindari matematika untuk kemudian dia menyadari tetap menghadapi matematika dalam satu dan lain bentuk.

1.2 Etika Matematika

Satu dan menyatu antara etika dan matematika. Etika adalah ukuran yang tepat, matematika yang tepat, dari perilaku manusia. Etika adalah matematika yang tepat untuk menentukan volume eksplorasi bumi. Etika adalah matematika yang tepat menentukan konsumsi minyak bumi. Etika adalah matematika yang tepat menentukan porsi makanan yang kita konsumsi. Singkatnya, etika adalah matematika.

Terlalu banyak makan maka tidak etis. Terlalu banyak eksplorasi bumi maka merusak lingkungan, tidak etis. Terlalu sedikit beramal maka pelit, tidak etis. Tanpa ukuran yang tepat, tanpa matematika maka menjadi kehilangan etika.

Dengan matematika kita bisa menghitung. Kita bisa mengukur. Kita bisa mengatur. Agar semua berjalan sebagai yang terbaik untuk semua. Itulah etika. Itulah matematika.

1.3 Ekonomi Matematika

Tampak jelas, matematika sangat berguna untuk ekonomi. Baik ekonomi sebagai pribadi mau pun ekonomi secara sosial. Semua perlu matematika.

Sebagai individu, sebagai kepala keluarga, kita berpikir berapa besar kebutuhan ekonomi kita. Lalu kita menghitung berapa besar nilai ekonomi dari berbagai sumber. Baik nilai ekonomi yang bersumber dari dari pekerjaan, dari suatu usaha, atau dari investasi. Kadang-kadang, kita juga mendapat keuntungan ekonomi dari faktor keberuntungan atau dari hal-hal yang terduga. Semua perlu kita hitung, kita olah, kita salurkan untuk kepentingan ekonomi keluarga.

Secara sosial, kita juga perlu menghitung kebutuhan ekonomi masyarakat luas. Mendata apa saja sumber ekonomi yang tersedia. Merancang sistem ekonomi yang menciptakan lapangan kerja dalam jumlah memadai. Menghitung pengangguran serta membuat program untuk menanganinya. Termasuk menjaga fluktuasi nilai tukar mata uang. Bisakah itu semua tanpa matematika? Semua adalah matematika.

1.4 Politik Matematika

Politik, jelas-jelas, adalah matematika. Satu suara, bisa saja, memenangkan calon terpilih jadi presiden. Capres wajib berhitung jumlah suara agar dia terpilih jadi presiden. Jumlah suara adalah matematika politik.

Untuk mendapat jumlah suara yang banyak, para kontestan perlu mencermati jumlah pendukung tiap hari. Memperhatikan pengaruh suatu kampanye terhadap kenaikan suara pendukung. Bahkan, politik uang pun perlu mempertimbangkan matematika. Berapa besar biaya untuk membeli suatu suara?

Setelah terpilih jadi presiden – atau gubernur atau pejabat – maka peran matematika makin besar. Berapa besar sumber daya yang tersedia dan berapa besar tanggung jawab yang dipegang sebagai presiden terpilih. Kewajiban presiden, di antaranya, mengentaskan kemiskinan yang lebih dari 50 juta orang, meningkatkan pendidikan bagi lebih dari 50 juta orang, menciptakan lapangan kerja untuk puluhan juta pengangguran, dan lain-lain. Semua tanggung jawab presiden melibatkan matematika. Jika ada presiden yang tidak mempelajari matematika maka di adalah presiden yang merugi.

1.5 Pendidikan Matematika

Pendidikan, lagi-lagi, bersatu padu dengan matematika. Jumlah siswa, jumlah guru, jumlah sekolah, semuanya adalah matematika.

Di dalam pendidikan sendiri, dipenuhi dengan matematika. Berapa persen kurikulum yang sudah berjalan dengan baik. Berapa siswa yang berhasil meningkatkan kualitas literasi. Berapa guru yang berperan aktif dalam pengajaran digital. Dan, semua ukuran pendidikan berkenaan dengan matematika.

Lebih dalam lagi, pendidikan perlu mengajarkan matematika. Pendidikan perlu menyusun kurikulum matematika yang paling tepat untuk seluruh peserta didik. Matematika yang terlalu rendah adalah ketinggalan jaman. Sedangkan matematika yang terlalu tinggi maka tidak akan bisa diserap siapa pun, sia-sia belaka. Kita perlu berkreasi menciptakan matematika yang tepat guna.

2) Ontologi Matematika

Membahas ontologi matematika, barangkali, adalah tema paling penting dalam tulisan ini. Kita akan menjawab pertanyaan paling mendasar: apa sejatinya matematika itu? Pertanyaan semacam ini mudah terlewatkan lantaran ada peran matematika yang begitu besar dalam kehidupan. Karena matematika begitu penting dalam segala hal maka kita tidak perlu menanyakan apa hakikat dari matematika. Di sini, kita akan membangkitkan lagi tema ontologi matematika.

Kita akan membahas ontologi dengan mengikuti tiga garis besar ontologi matematika. Pertama, adalah realisme matematika yang menyatakan bahwa matematika benar-benar ada dalam realitas. Bahkan status realitas matematika bisa lebih kuat dari realitas benda-benda fisik. Kita mengenal banyak tokoh besar mendukung realisme matematika di antaranya: Plato, Pythagoras, Aristoteles, Aljabar, Russell, dan Godel.

Kedua, anti-realisme matematika yang menyatakan bahwa matematika tidak memiliki realitas secara mandiri. Realitas matematika tergantung kepada realitas yang lain. Misalnya, matematika hanya sebentuk pikiran manusia. Matematika adalah sekedar realitas psikologis, logika, dan formalisme dari manusia. Matematika juga bisa dipandang sebagai abstraksi dari benda-benda di alam raya – nominalisme.

Ketiga, super-realisme matematika yang menyatakan bahwa realitas segala sesuatu, pada hakikatnya, adalah matematika. Semua benda-benda di dunia, dari partikel atom sampai planet-planet adalah perwujudan dari realitas matematika. Atom adalah formula matematika yang menampakkan diri dalam wujud atom. Planet-planet adalah wujud dari formula matematika. Demikian juga, manusia adalah wujud dari formula matematika. Ketika kita meneliti segala sesuatu, lalu kita menemukan formula matematika pada fenomena tersebut, maka hal itu dikarenakan, segala fenomena adalah sejatinya matematika itu sendiri.

2.1 Esensi Realitas

“Realitas ontologis matematika adalah esensi dari realitas yang paling jelas bagi pemahaman manusia. Matematika adalah inti dari inti realitas tetapi bukan realitas apa adanya. Matematika adalah realitas paling paling jelas, paling tegas, bagi pemahaman manusia. Tetapi bukan realitas super kompleks di alam eksternal. Matematika adalah realitas paling ideal harmonis pikiran manusia dan alam raya. Matematika bisa stabil dan bisa dinamis terhadap ruang-waktu mau pun pikiran manusia.”

Bayangan Realitas

Kita bisa membuat ilustrasi matematika sebagai bayangan dari realitas cahaya. Di tanah lapang, matahari bersinar terang. Lalu acungkan jempol Anda. Maka kita bisa melihat bayangan jempol di tanah.

Bayangan jempol itu adalah esensi dari realitas cahaya. Dengan bayangan jempol, kita menjadi jelas adanya cahaya matahari. Jika ada pohon di pinggir tanah lapang, kita juga bisa melihat bayangan pohon itu.

Meski bayangan adalah bukan realitas cahaya tetapi bayangan menjadikan cahaya mudah dipahami.

Imajinasikan di tanah lapang tidak ada apa pun. Tidak ada pohon, tidak ada tiang, hanya ada cahaya matahari. Justru, kita sulit memahami realitas cahaya karena seluruh lapang sama, semua bertabur cahaya matahari.

Matematika hanyalah esensi dari realitas, bayangan dari cahaya. Tetapi dengan esensi ini, dengan matematika, kita memahami realitas.

Realitas Termodulasi

Imajinasikan kita berada dalam kamar gelap gulita. Untung ada lubang kunci di pintu. Sehingga, dari lubang kunci itu, sedikit cahaya matahari dari luar masuk ke dalam kamar. Dan, menciptakan gambar lubang kunci di dinding.

Gambar lubang kunci di dinding, tersusun oleh cahaya, adalah realitas yang termodulasi. Realitas yang terbentuk – membentuk – lubang kunci. Demikian juga, matematika adalah realitas yang termodulasi.

Kamar gelap adalah ibarat pikiran manusia tanpa cahaya ilmu. Matematika adalah cahaya ilmu, cahaya realitas, yang menerangi pikiran manusia. Meski demikian, cahaya matematika hanyalah cahaya realitas termodulasi berbentuk lubang kunci – bukan cahaya matahari sepenuhnya. Bagaimana pun, cahaya termodulasi, cahaya matematika menyinari jiwa manusia.

Realitas Kompleks

Sekarang, bayangkan cahaya lubang kunci di dinding ruang yang gelap. Kemudian, seekor nyamuk terbang masuk ke lubang kunci. Sehingga, cahaya lubang kunci, yang tadinya utuh, menjadi terhalang bayangan badan nyamuk. Kita melihat realitas kompleks antara cahaya dan bayangan. Realitas kompleks antara cahaya realitas dan bayangan esensi.

Demikian juga, realitas matematika adalah realitas kompleks antara cahaya dan bayangan.

Kompleksitas ini makin kompleks lantaran bentuk lubang kunci beragam, bayangan juga beragam misal bayangan nyamuk, semut, kupu-kupu atau lainnya.

Dari sisi cahaya beragam intensitasnya. Gradasi intensitas dan superposisi ragam frekuensi makin menambah variasi. Realitas matematika memang realitas kompleks. Kita bisa melihatnya dari beragam sudut pandang.

Bukankah realitas kompleks antara cahaya realitas dan bayangan esensi berlaku untuk cahaya pengetahuan secara umum? Tidak terbatas hanya matematika? Benar, berlaku umum. Tetapi matematika adalah pengetahuan ideal yang paling tegas.

2.2 Realitas Ontic

Asumsikan kita berhasil merumuskan realitas entitas abstrak di dunia idea Platonis, atau anti-realisme atau fictionalisme, hal semacam itu, belum menyentuh realitas ontologi matematika. Menurut Heidegger, realitas idea Platonis itu baru sekedar realitas ontic. Sementara realitas ontologis belum kita temukan. Agar berhasil mendekati realitas ontologi kita perlu menjawab mengapa ada realitas matematika? Bagaimana bisa ada realitas matematika? Untuk apa ada realitas matematika? Dan, bisakah kita menjawabnya dengan formula matematika? Atau kita perlu formula lain, semisal bahasa?

Sementara, jawaban terhadap pertanyaan apa sejatinya realitas matematika, hanya mengantar kita kepada realitas ontic. Bagaimana pun, selalu ada perbedaan ontologis – dengan realitas ontic.

Barangkali, untuk membahas realitas ontologis matematika, kita bisa mempertimbangkan metafisika different dari Deleuze. Apakah kita bisa membuat formula matematika untuk konsep different dari Deleuze? Sementara, kita tahu Deleuze sendiri mendapat inspirasi dari matematika kalkulus.

Hubungan dinamis dunia virtual dan aktual, tampaknya, perlu kita perhatikan secara khusus. Deleuze menyatakan bahwa singularitas yang memiliki intensitas tinggi, di dunia virtual, akan muncul “teraktualisasi” di dunia aktual. Baik dunia virtual mau pun aktual, keduanya, sama-sama real atau nyata. Mereka hanya berbeda dalam intensitas saja. Kita akan menyelidiki apa yang terjadi bila intensitas di dunia aktual sudah terlalu tinggi, terlalu kuat?

2.1 Realisme: Plato, Aristoteles, Aljabar, Russell, Godel

Plato adalah tokoh besar pertama yang merumuskan matematika sebagai realitas murni di dunia idea atau dunia universal. Meskipun Pythagoras, beberapa tahun sebelum Plato, juga sudah menempatkan matematika sebagai suatu realitas yang sangat mulia.

Ontologi Matematika
A. Realisme: Plato, Aristoteles, Aljabar, Russell, Godel
B. Anti-realisme: psikologi, formalisme, fiksionalisme
C. Super-realisme: mathematical-universe

Epistemologi
A. Plato: Merenungi Matematika Ideal
B. Aristoteles: Meneliti Matematika di Bumi
C. Aljabar: Menguji Matematika Langit dan Bumi
D. George Boole: Menguji Matematika Digital
E. Alan Turing: Matematika Komputer
F. Google: Matematika oleh Semesta
G. Gojek: Rakyat Jelata Bermatematika

Quantum Quotient: IQ, EQ, dan SQ Harmonis

Begitu cepat waktu berlalu. Sudah 20 tahun yang lalu, saya menulis buku Quantum Quotient. Terima kasih kepada seluruh masyarakat yang menyambut hangat buku Quantum Quotient saya itu.

Quantum Quotient (Kecerdasan Quantum) - Agus Nggermanto | Shopee Indonesia

Sebagian besar tulisan buku Quantum Quotient, saya tulis di tahun 2000 dan 2001. Buku tersebut terbit pada tahun 2001. Menjadi best seller di berbagai toko buku, menjadi koleksi di berbagai perpustakaan, dan menjadi pegangan beragam lembaga pendidikan. Sampai saat ini, tahun 2021, Quantum Quotient cetak ulang beberapa kali dengan modifikasi desain sampul buku.

Saya bermaksud menulis ulang buku Quantum Quotient dengan pengayaan beragam sudut pandang yang baru. Pertama, saya akan meringkas dan menegaskan kembali konsep dasar Quantum Quotient. Dan kedua, saya akan memperdalam kajian filosofis buku Quantum Quotient. Bagaimana pun, saya akan mempertahankan karakter praktis Quantum Quotient agar lebih mudah menjangkau beragam pembaca. Ketiga, saya akan memperluas penerapan Quantum Quotient. Bila edisi pertama Quantum Quotient fokus kepada pengembangan “IQ, EQ, dan SQ yang Harmonis” secara personal maka edisi 2021 akan meluas ke bidang sosial, politik, ekonomi, pendidikan, agama, dan sebagainya.

Yang unik dari tahun 2021 adalah dunia digital dan pandemi covid. Maka kita akan membahas Quantum Quotient dengan mempertimbangkan kekuatan digital yang sudah menyusup ke dalam jiwa umat manusia. Di saat yang sama, kita mengalami pandemi covid yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Nyaris seluruh dunia, kocar-kacir berhadapan dengan covid. Quantum Quotient akan memberikan beragam saran dialogis umat manusia menghadapi covid.

Prolog: Siapa Manusia Sejati?

Bagian 1: Quantum Quotient Asli

Konsep dasar Quantum Quotient yang asli, yang saya tuliskan di tahun 2000, adalah cara praktis melejitkan IQ, EQ, dan SQ yang harmonis. IQ, atau intelligence quotient, sudah banyak dikenal orang sebagai ukuran kecerdasan. Sedang EQ, atau awalnya emotional intelligence, merupakan konsep kecerdasan emosi yang baru muncul pada akhir abad 20. Sedangkan SQ, atau awalnya intelligence spiritual, merupakan kecerdasan spiritual yang makin kuat pada abad 21.

11. Kecerdasan Manusia: IQ Tanpa Batas
12. Dinamika Manusia: Hidup untuk Belajar
13. Cinta Lebih Cerdas dari IQ: Hadirnya EQ
14. Batas-Batas Quantum Tanpa Batas: Menyentuh SQ
15. Quantum Quotient Digital

Bagian 2: Quantum Quotient Lebih Dalam

Berawal dari sudut pandang praktis, kemudian, kita akan melanjutkan kajian yang lebih dalam, dengan pendekatan filosofis.

21. Quantum dalam Fisika Modern
22. Interpretasi Quantum
23. Teori Kecerdasan dan Multi Cerdas
24. Manusia Digital: Cerdas Tanpa Batas
25. Dialog Sains dan Filsafat
26. Enigma Quantum
27. Differential Ontologis
28. Karakter Manuisa: Plasticity Cinta

Bagian 3: Quantum Quotient Lebih Luas

Sejatinya, kita, umat manusia senantiasa hidup bersama orang lain, bersama benda-benda, bersama cerita-cerita, dan bersama seluruh semesta. Selanjutnya, kita akan membahas Quantum Quotient meluas ke seluruh semesta.

31. Quantum Sosial
32. Quantum Universal
33. Quantum Business
34. Quantum Instruktur
35. Dominasi Ekonomi
36. Kekuatan Politik
37. Pasca Nihilisme
38. Dialog Semesta: Pandemi Digital
39. Quantum Dinamis

Epilog: Awal Manusia Sejati

Lebih Kejam dari Politik: Bitpower

Barangkali kita sudah akrab dengan ungkapan politik itu kejam. Bitpower lebih kejam dari politik. Apa itu bitpower?

Bitpower adalah kekuatan yang luar biasa dahsyat. Kita akan membandingkan dengan istilah bigpower dan biopower agar lebih jelas makna bitpower. Tentu saja bitpower punya dua sisi. Positif dan negatif.

Sisi negatif bitpower lebih kejam dari politik itu sendiri. Sedangkan sisi positif bitpower lebih indah dari imajinasi terindah. Maka wajar bagi kita untuk memperjuangkan bitpower. Kita juga bisa membayangkan bahwa salah satu bentuk bitpower adalah bitcoin – cryptocurrency yang menerapkan teknologi blockchain.

1. Bigpower: Kekuatan Besar
2. Biopower: Kekuatan Diri
3. Bitpower: Kekuatan Manusia Digital
4. Bayangan Politik Cinta
4.1 Kekuatan Cinta
4.2 Solusi Personal Sosial

1. Bigpower: Kekuatan Besar

Bigpower adalah kekuatan besar yang selama ini mudah kita kenali. Kekuatan tentara menyerbu musuh adalah contoh bigpower. Jaman kuno, bigpower adalah kekuatan yang paling besar. Penjajah menguasai wilayah jajahan dengan menggunakan senjata bigpower.

Penduduk asli yang melawan penjajah diancam dengan senjata api. Penduduk asli terpaksa menuruti kemauan penjajah itu.

Dalam kehidupan sehari-hari bigpower masih sering dipakai. Pejabat mengendalikan bawahan dengan bigpower. Bawahan yang tidak menuruti kemauan bos, bisa dipecat. Bawahan, terpaksa, menuruti kehendak bos.

Dunia pendidikan, sering menerapkan bigpower. Guru atau dosen bisa mengancam siswanya. Siswa yang tidak mengerjakan tugas dari guru, diancam dengan nilai buruk. Bahkan, guru bisa mengancam siswanya tidak lulus. Siswa terpaksa mengikuti perintah gurunya.

Suami bisa saja menggunakan bigpower ke istrinya. Seorang istri yang tidak menurut kemauan suami diancam siksa neraka. Di dunia, istri bisa diancam dengan kekerasan fisik pula.

Ancaman politik, ancaman hukum, ancaman kerugian ekonomi, dan berbagai ancaman lainnya juga merupakan bentuk bigpower.

Tentu saja, bigpower bisa bersifat positif. Bonus, gaji besar, kursi jabatan, kemewahan, dan lain-lain juga merupakan bigpower – dalam sifat positif.

Meski bigpower memiliki kekuatan besar, tetapi di jaman modern, mulai dikalahkan oleh biopower. Yang pada gilirannya, bitpower adalah yang paling dahsyat.

2. Biopower: Kekuatan Diri

Biopower lebih kuat dari bigpower. Jika big-power mengendalikan manusia dari luar, berbeda halnya, bio-power mengendalikan manusia dari dalam dirinya sendiri. Pada gilirannya, biopower ini yang akan mengendalikan bigpower itu.

Kapitalisme liberal adalah salah satu contoh sukses biopower. Hampir setiap orang, di seluruh belahan dunia, ingin jadi kaya. Saat kanak-kanak harus rajin belajar atau harus dapat nilai sekolah yang bagus dengan satu dan lain cara. Lanjut kuliah di kampus bergengsi. Lulus, kemudian, bekerja di perusahaan keren. Mengumpulkan banyak uang. Hidup kaya. Akhirnya, mati juga.

Tidak ada kekuatan luar – bigpower – yang memaksa orang untuk menjadi kaya. Orang-orang itu bermimpi untuk jadi kaya didorong oleh hasrat dalam dirinya sendiri – itulah biopower. Beberapa di antaranya sadar, bahwa untuk kaya, bisa lebih mudah melalui jalur politik. Mereka berebut kursi jabatan politik dengan cara baik-baik mau pun cara lainnya. Untuk kemudian berharap menjadi kaya melalui politik – jalur lurus atau jalur intrik.

Seperti biasa, orang-orang cerdas itu bisa menyusun argumen dengan amat cerdas pula. Mengapa harus kaya? Dengan kaya maka saya bisa menolong banyak orang. Dengan menjadi pejabat maka saya bisa membantu rakyat yang hidup sengsara. Lalu, mengapa ada yang korupsi?

Berikutnya, kekuatan biopower ini menjad lebih dahsyat dengan hadirnya bitpower.

3. Bitpower: Kekuatan Manusia Digital

Politik bitpower menjadi kekuatan paling besar karena bitpower mengendalikan biopower dan bigpower. Sesuai namanya, bitpower memanfaatkan kekuatan bit-bit digital. Bitpower menguasai politik melalui media digital, termasuk artificial intelligent, dengan kombinasi orang-orang cerdas di belakangnya.

Bitpower bisa menjadi kekuatan untuk membangun peradaban manusia, di saat yang sama, bisa menjadi monster penghancur kemanusiaan. Kali ini, manusia benar-benar menghadapi tugas yang besar.

Bitpower menjadi makin mewabah lantaran harga teknologi digital makin murah. Remaja-remaja di kampung sudah terhubung dengan internet. Orang-orang tua juga tidak mau kalah meramaikan media sosial. Apakah itu kabar baik? Jelas kabar baik, khususnya, bagi penguasa bitpower. Orang-orang di kampung adalah pasar yang nikmat untuk di-eksplorasi, kadang-kadang, di-eksploitasi. Bagi orang lemah yang di kampung, apakah itu kabar baik?

Ledakan bitpower, tampaknya, tidak bisa dicegah. Pertama, harga teknologi makin murah. Termasuk akses jaringan internet makin mudah dan cepat dengan jaringan 5G dan generasi berikut-berikutnya. Meski ada ketimpangan digital antara kota dan desa, itu justru menjadi suatu peluang bagi bitpower – positif atau negatif.

Kedua, perkembangan artificial intelligence AI yang makin tinggi. Hari kemarin, baru diperkenalkan AI yang mampu memberi penilaian moral terhadap perilaku manusia. Awalnya, AI semacam itu seperti sebuah permainan saja. Seiring berjalannya waktu, AI makin cerdas. AI bisa membaca masa lalu, untuk kemudian, memprediksi masa depan dengan akurasi tinggi. Apa yang Anda lakukan jika Anda tahu persis nasib Anda satu tahun ke depan? Apa yang Anda lakukan jika Anda tahu pasti teman SMA Anda 3 tahun lagi jadi menteri? Apa yang Anda lakukan jika tahu pasti orang yang Anda cintai akan mati dalam 3 bulan lagi? AI bisa memprediksi dengan pasti.

Ketiga, bitcoin makin menggurita. Atau lebih umum, teknologi blockchain makin berkembang. Salah satunya, saat ini, sudah ada hampir 7000 cryptocurrency di bursa. Uang fiat, uang kertas, bisa sewaktu-waktu digantikan oleh uang digital seperti bitcoin. Tidak diperlukan lagi bank sentral. Bitcoin bergerak dinamis bebas begitu saja di masyarakat. Jika bitcoin tidak cocok untuk diterapkan di suatu wilayah, masih ada 7000 cryptocurrency lainnya. Sistem keuangan, dan sistem sosial lainnya, akan menjadi anarkis. Apa yang akan terjadi di dunia anarkis?

4. Bayangan Politik Cinta

Berikut ini saya kutipkan hubungan antara politik dan cinta. Hubungan rumit antara politik dan cinta menantang manusia untuk mampu menyelesaikan dengan cara yang canggih. Hubunungan rumit ini kita sebut sebagai copower: complicated power; complex power; con power. Berbagai macam solusi perlu untuk terus kita kembangkan.

4.1 Kekuatan Cinta

Kali ini, kita akan membahas kekuatan cinta secara sosial. Sebelumnya, kita lebih fokus kepada kekuatan cinta secara personal – jiwa seseorang. Secara sosial, pembelokan kekuatan cinta bisa terjadi di mana-mana. Kita akan mengelompokkan kekuatan cinta menjadi tiga: big-power, bio-power, dan bit-power.

Big-power adalah kekuatan cinta yang begitu besar mendorong dan melindungi umat manusia. Cinta mendorong seorang bapak untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan seluruh keluarga. Padahal, ketika masih bujangan, bapak itu, tidak punya dorongan untuk bekerja. Seorang ibu bangun sebelum subuh menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan anggota keluarga. Seorang tentara siap mengorbankan jiwa demi membela negara. Dan masih banyak contoh besar lainnya tentang kekuatan cinta big-power.

Seperti biasa, manusia bisa membelokkan kekuatan cinta yang besar ini, big-power, ke arah yang suram. Negara-negara Eropa memanfaatkan big-power untuk menjajah berbagai wilayah di dunia. Mereka memanfaatkan senjata dan kemajuan teknologi untuk mengeksploitasi orang lain. Senjata adalah big-power. Sejatinya, senjata, membantu manusia untuk menebang pohon, membangun jalan, atau melindungi diri dari ancaman bahaya. Teknologi juga big-power, yang sejatinya, untuk memudahkan kehidupan manusia. Lagi-lagi, teknologi, apalagi digital, bisa dimanfaatkan untuk eksploitasi kemanusiaan.

Tragedi big-power paling mengerikan dalam sejarah, barangkali, adalah bom nuklir yang meledak di Jepang. Saat perang dunia, big-power benar-benar dieksploitasi untuk melanggar kemanusiaan. Tetapi daya rusak bom nuklir melebihi imajinasi paling ngeri umat manusia. Saat ini pun, eksploitasi big-power masih ada di mana-mana. Kita bisa lihat kasus di Palestina, Uighur, Afghanistan, dan lain-lain.

Bio-power adalah kekuatan cinta yang lebih dahsyat dari big-power. Big-power merupakan kekuatan yang bekerja dari luar kemudian mengenai manusia, sementara, bio-power merupakan kekuatan yang bekerja dari dalam diri manusia kemudian menyebar ke segala penjuru. Lebih hebat lagi, bio-power tidak menghantam big-power. Bio-power hanya mengendalikan big-power sehingga kekuatan mereka makin besar.

Barangkali masih segar di ingatan kita tentang program KB, keluarga berencana, di Indonesia? Pada masa orde baru, program KB dijalankan dengan big-power. Rakyat dipaksa untuk melakukan KB. Rakyat disuruh untuk punya anak maksimal dua orang saja. Bahkan pegawai negeri lebih ketat lagi. Pemerintah mengucurkan dana dan sumber daya yang besar untuk menggulirkan program KB – pendekatan big-power. Pemerintah melarang rakyat punya anak lebih dari dua, dengan cara tertentu.

Hal yang berbeda bisa kita amati setelah tahun 2000 ini. Orang di Indonesia, bahkan seluruh penjuru dunia, sudah berpikir secara ekonomis. Anak adalah liabilitas. Anak adalah beban ekonomi yang berat. Butuh biaya besar untuk merawat anak dan, lebih-lebih, biaya pendidikan terus meroket. Pasangan muda, suami-istri, yang hidup setelah tahun 2000 dengan penuh kesadaran membatasi beban ekonomi. Sebagai konsekuensinya, mereka membatasi jumlah anak. Sebagian hanya ingin punya anak 2 atau 1 atau bahkan tidak punya anak sama sekali. Kekuatan cinta bio-power telah bersemi di jiwa pasangan muda. Terbukti, nyaris tidak ada pasangan muda yang punya anak lebih dari 2 orang. Program KB lebih berhasil dengan pendekatan bio-power.

Di negara Cina, tahun 2021 ini, lebih menarik lagi. Di sana, orang-orang sudah sadar untuk punya anak hanya 1 saja atau tidak sama sekali, bio-power tertanam kuat. Sementara, kajian pemerintah menunjukkan bahwa perlambatan pertumbuhan populasi Cina bisa berbahaya. Sehingga, pemerintah kembali kampanye agar penduduk punya anak lebih dari 1 orang – pendekatan big-power. Rakyat, tetap, bersikukuh tidak mau menambah jumlah anak. Beban ekonomi terlalu berat. Rakyat hanya ingin punya anak 1 saja atau tidak sama sekali.

Kekuatan bio-power makin menyebar ke seluruh bidang kehidupan. Terutama, bio-power, masuk dari sisi perhitungan ekonomis setiap orang. Tentu saja, resiko kehancuran sosial mengancam umat manusia. Akibat dari pertimbangan ekonomi yang mendominasi kehidupan umat manusia. Orang-orang berpikir untuk selalu mendapat keuntungan ekonomi. Kehidupan berubah menjadi hitung-hitungan ekonomi belaka. Dampaknya, bisa kita duga. Anak-anak dari kecil diarahkan untuk sekolah dengan baik, lalu lulus dengan nilai bagus. Berkarir di perusahaan besar dengan gaji besar. Hidup berkecukupan, tua, dan akhirnya mati.

Jebakan bio-power begitu kuat. Tentu saja, tidak salah dengan cita-cita mendapat pekerjaan yang layak dengan kompensasi yang bagus. Masalahnya adalah berlebihan dalam mengejar keuntungan ekonomi itu. Lebih parah lagi, banyak orang bercita-cita seperti itu. Seperti kita lihat saat ini, dampaknya, konsumsi bahan bakar membubung tinggi. Pencemaran lingkungan di mana-mana. Penggundulan hutan terjadi di berbagai belahan dunia. Dan, krisis iklim mengancam dunia.

Bakat-bakat anak muda yang luar biasa itu berhasil mengantarkan dirinya jadi orang kaya, secara ekonomi. Nyatanya, mereka hanya sebagai salah satu alat bagi orang super kaya untuk menambah kekayaan menjadi lebih super kaya lagi. Di sisi lain, ketimpangan ekonomi memang terjadi. Orang kecil yang kalah bersaing, atau tidak sempat bersaing, tersingkir. Orang miskin makin miskin. Terpojok di ujung kehidupan.

Bio-power, yang sejatinya, adalah kekuatan cinta sebagai pendorong kemajuan manusia dari dalam diri telah berbelok menghancurkan manusia. Bagaimana pun, kita, sebagai manusia, tetap punya kekuatan untuk meluruskan kembali bio-power agar kembali memajukan kemanusiaan di seluruh dunia. Dengan bio-power juga kita bisa menjaga alam semesta, merawat alam semesta.

Bit-power, dari arah yang baru, melangkah lebih hebat dari bio-power dan big-power. Bit-power adalah kekuatan cinta yang diperkuat oleh kekuatan digital. Lagi-lagi, bit-power menjadi lebih hebat dengan cara tidak melawan bio-power dan big-power. Bit-power hanya mengendalikan mereka.

Bit-power menyebarkan cinta ke seluruh dunia. Dengan bantuan teknologi digital, bit-power menebarkan ilmu ke seluruh penjuru. Setiap orang menjadi mudah mendapat informasi hanya dengan mengetukkan jari. Kemajuan pengetahuan menyebar ke seluruh bumi. Di saat yang sama, kerja sama antara penduduk di seluruh dunia mudah menjadi nyata. Kehidupan yang adil merata tampak di depan mata. Umat manusia berhasil meraih cita-cita yang sempurna.

Lagi-lagi, manusia bisa membelokkan kekuatan cinta bit-power. Harapan untuk menyebarkan ilmu dengan teknologi digital online bisa sirna. Memang benar, informasi tersebar luas di seluruh dunia. Nyatanya, bisa sebalikya yang terjadi, media digital menjadi media mengumpulkan kekayaan oleh segelintir orang. Media digital adalah media sempurna untuk marketing, mencuci otak, dan menciptakan ketergantungan. Teknologi digital mencengkeram umat manusia demi keuntungan segelintir orang super kaya. Dengan media sosial, orang merasa bebas menyuarakan pendapat dan aspirasinya. Tentu saja, memang bebas, sejauh itu semua menguntungkan pihak-pihak super kaya.

Lebih hebat lagi, bit-power memanfaatkan teknologi cerdas seperti artificial intelligence AI. Dengan AI, media digital mampu bekerja cerdas secara otomatis. Anda yang suka politik maka oleh AI akan disuguhi berita politik sesuai minat Anda. Lambat laun, Anda terjerat karena semua berita politik itu begitu menarik. Begitu juga Anda yang suka berita olah raga, disuguhi berita olah raga oleh AI. Anda makin terpikat. Orang-orang tidak sadar bahwa itu jeratan. Yang, pada akhirnya, menguntungkan pihak tertentu saja.

AI yang begitu cerdas tidak bekerja sendiri. AI bekerja sama dengan orang-orang khusus yang punya kepentingan khusus, terutama kepentingan ekonomi. Jadi, ketika kita menghadapi media sosial, kita tidak sedang berhadapan dengan AI yang cerdas. Kita sedang berhadapan dengan AI yang cerdas didukung oleh orang-orang yang cerdas, dengan dukungan kapital nyaris tanpa batas. Bisakah seorang individu menang terhadap media sosial? Sulit sekali. Bagaimana caranya? Tetap ada cara.

Bitcoin merupakan salah satu gebrakan dari dunia digital, kekuatan bit-power. Akankah Bitcoin, dan uang kripto lainnya, menghancurkan sistem keuangan yang ada sekarang? Bisnis digital sudah terbukti meruntuhkan bisnis konvensional seperti percetakan koran, televisi, transportasi, dan lain-lain. Wajar saja, kita menduga Bitcoin, dengan teknologi blockchain, akan meruntuhkan sistem keuangan konvensional. Jika terjadi maka siapa yang dirugikan? Dan siapa yang diuntungkan?

Pertanyaan terhadap perkembangan bit-power masih bisa terus berlanjut. Bagaimana jika kecerdasan AI melampaui kecerdasan manusia? Atau bagaimana jika AI mempunyai kesadaran diri sehingga bisa mengambil keputusan secara mandiri layaknya manusia? Bagaimana jika AI mendominasi manusia? Saat ini, AI baru sekedar komputer dengan program yang sangat cerdas. Sehingga, AI menuruti perintah manusia. AI bekerja sama dengan manusia layaknya sebuah mesin. Lompatan teknologi saat ini, dan masa depan, bisa mengubah segalanya.

Mari kita ringkaskan kekuatan bit-power yang begitu luar biasa. Pertama, bit-power menguasai big-power. Senjata militer, saat ini, dikendalikan oleh sistem komputer. Ketika seorang presiden memerintahkan serangan besar, misalnya, semua perintah itu dikendalikan oleh sistem komputer, bit-power. Komunikasi para jenderal pun menggunakan jaringan komunikasi digital, bit-power. Dan semua sistem big-power di dunia, saat ini, dikendalikan oleh komputer.

Kedua, bit-power menguasai bio-power. Semua perkembangan pengetahuan dan informasi manusia, saat ini, memerlukan sistem informasi yang dikendalikan oleh bit-power. Cita-cita masa depan anak millenial, sama halnya dengan prasangka dogmatis orang tua, ditentukan oleh informasi yang lalu-lalang di media digital. Semua pemahaman kita ditentukan, dalam kadar terntentu, oleh media digital, bit-power. Manusia dikendalikan oleh bit-power.

Ketiga, bit-power bisa saja mengendalikan manusia di saat ini, atau di masa depan. Lompatan teknologi yang begitu cepat memungkinkan bit-power memiliki kemampuan jauh di atas kemampuan manusia. AI, yang semula, alat bagi manusia, di masa depan bisa terbalik. Manusia bisa jadi sebagai alat bagi AI.

Bagaimana pun, sampai saat ini, manusia telah membelokkan bit-power menjadi merugikan manusia. Pada waktunya nanti, manusia bisa kembali meluruskan bit-power agar bermanfaat bagi kemanusiaan dan bagi seluruh semesta. Bukan tugas kecil untuk meluruskan bit-power, benar-benar, tugas yang sangat besar.

Selanjutnya, kita akan membahas beberapa ide solusi. Kita akan mempertimbangan solusi personal yaitu mengembangkan cinta putih dan mengendalikan nafsu hitam, merah, dan kuning. Serta solusi sosial dengan mengendalikan big-power, bio-power, dan bit-power. Kenyataannya, solusi personal dan sosial saling berjalin kelindan.

4.2 Solusi Personal Sosial

Solusinya tampak mudah. Agar setiap orang berbuat baik. Saling menghormati satu sama lain. Tidak mengganggu satu dengan lain. Maka kehidupan menjadi baik. Secara individu, masing-masing orang menjadi baik. Dan secara sosial, kehidupan juga menjadi baik. Beres semua urusan. Mengapa tidak dilakukan cara semudah itu?

Karena solusi yang mudah seperti itu memang tidak bisa dilakukan. Atau, setidaknya, sulit dilakukan.

Berharap bahwa masing-masing orang akan berbuat baik adalah harapan hampa. Masing-masing orang punya rasa cinta putih yang sewaktu-waktu bebas belok menjadi nafsu hitam. Dari ribuan orang, atau jutaan orang, maka hampir bisa dipastikan pembelokan cinta menjadi nafsu hitam akan terjadi. Sehingga kita perlu mengembangkan solusi sosial, sebagai pelengkap solusi personal, untuk mendukung warga terus mengembangkan cinta putih, dan di saat yang sama, mempersulit pembelokan menjadi nafsu hitam. Tetapi, agar solusi sosial ini sukses, perlu solusi personal berjalan dengan baik. Kita terjebak dalam lingkaran masalah. Agar solusi sosial berjalan lancar diperlukan solusi personal. Sementara, agar solusi personal berjalan lancar diperlukan solusi sosial. Sehingga tidak ada solusi eksak dalam hal ini. Semua solusi adalah solusi yang melibatkan dinamika cinta.

4.3 CoPower: Komplikasi

Kita berada dalam situasi rumit komplikasi. Masalah bigpower adalah negatif; artinya, bigpower mengganggu kita maka jadi masalah. Sebaliknya, masalah biopower adalah positif; artinya, biopower merusak kita ketika kita sukses. Ketika orang-orang sukses KB (keluarga berencana) maka mereka tidak punya anak; perlahan manusia menua dan musnah tanpa generasi penerus. Ketika seseorang sukses jadi pejabat, jabatan makin tinggi, maka ia justru hilang kendali; korupsi tapi mengaku membangun negeri. Masalah bitpower paling komplikasi karena memperbesar masalah negatif mau pun positif: copower.

Ketika internet, media sosial, dan AI masuk ke kampung maka kekayaan kampung dirampas oleh pengusaha dan penguasa besar. Rakyat jelata menjadi korban negatif perampasan itu; melalui kecanduan judol; kecanduan online, mahal listrik, mahal kuota, dan lain-lain. Di saat yang sama, rakyat jelata menjadi korban positif: makin sukses dia akses slot, makin sukses ia belanja online, makin sukses pinjol, makin sukses ia taruhan judol, maka rakyat jelata makin terpedaya oleh sukses bitpower itu. Komplikasi. Rumit. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.

Bagaimana menurut Anda?