Akhirnya, politik benar-benar menggelitik asyik. Atau, malah, menggelikan. Bagaimana pun, geli atau asyik, sama-sama perlu kita nikmati. Secangkir kopi hangat pembuka pikiran, barangkali, bisa menerangi jalan politik yang suka temaram remang.
Presiden Jokowi tetap menjadi magnet manis bisik-bisik politik Indonesia. Tentu saja. Jokowi adalah presiden sampai 2024. Isu 3 periode sempat hangat. Bahkan, isu penundaan pemilu begitu seru.
Politik internasional, Putin mendominasi pemberitaan karena keputusan Rusia menyerang Ukraina. Meski Rusia tampak akan menang, tetapi, Ukraina siap berjuang. Hari ini adalah Jumat terakhir di bulan Ramadan. Biasanya, saudara-saudara kita di Palestina akan sholat Jumat dengan jamaah dalam jumlah sangat besar. Sementara, polisi dan tentara Israel, dalam jumlah besar pula, bersiaga mengepung mereka. Resiko besar terjadi bentrokan berdarah bisa sewaktu-waktu terjadi.
Kita menyaksikan kebuntuan politik lokal mau pun internasional. Tokoh dunia tidak mampu meredam perang Rusia-Ukraina yang sudah memakan korban ribuan nyawa tak berdosa. Lebih dari itu, puluhan tahun sudah berlalu, tokoh dunia juga tidak mampu menyelesaikan masalah pendudukan Palestina oleh Israel.
Meski begitu muram wajah politik umat manusia, tetap saja, politik adalah tanggung jawab kita bersama. Kita tidak bisa menghindar. Karena, politik akan senantiasa mengejar. Mendingan hajat politik itu kita hajar. Bersama politik, dan politikus, kita belajar.
Di bawah ini, saya mengumpulkan beberapa tulisan tentang isu politik yang kadang menggelitik. Dan lebih sering, menggelikan.
Judul yang terdiri dari tiga kata di atas, seluruhnya merupakan kata-kata penting. Topologi adalah cabang matematika modern paling canggih. Wujud adalah realitas-kenyataan paling jelas di seluruh semesta. Dan, nothing adalah teka-teki alam raya yang tidak ada habis-habisnya. Dalam tulisan ini, kita akan membahas tema-tema penting tersebut secara bertahap.
Apa realitas paling fundamental yang ada di semesta ini? Pertanyaan ontologis, atau metafisika, seperti itu sudah menghantui setiap pemikir sejak ribuan tahun yang lampau. Dan, bisa kita duga, tentu jawabannya beragam. Realitas paling nyata di depan mata adalah materi alam raya. Segala yang ada terdiri dari materi dengan unsur-unsur dasar penyusunnya. Pandangan materialis seperti itu mudah kita pahami. Tetapi, tidak selalu mudah bagi banyak orang untuk sepakat. Realitas paling fundamental adalah spirit. Sedangkan, materi hanyalah penampakan dari spirit yang lebih prior dari materi itu sendiri. Dan, masih banyak pandangan alternatif lainnya.
Formulasi pertanyaan fundamental ontologis di atas bisa saja beragam. Apakah tuhan ada? Apakah meja di rumah saya itu ada? Apakah saya ada? Dalam pertanyaan-tersebut tersebut, kita mengasumsikan bahwa makna-ada sudah jelas. Kita justru bisa bertanya, “Apa makna-ada?” Apa makna-being? Apa makna-wujud?
Kita, dan para pemikir pun, sering melupakan makna-ada karena di anggap: jelas dengan sendirinya, tak bisa didefinisikan, dan cakupannya paling universal. Semua alasan itu tidak menyebabkan makna-ada menjadi lebih jelas. Kita akan mencoba membahas makna-ada pada tulisan ini.
1. Realitas Fundamental 2. Eksistensi Parmenides 3. Wujud Arabi – Sadra 3.1 Prioritas Wujud 3.2 Gradasi Wujud 3.3 Gerak Eksistensial 3.4 Wujud Basit (Sederhana) 3.5 Puncak Wujud 4. Nothingness Heidegger – Sartre – Zizek 4.1 Being-in-the-world 4.2 Care dan Waktu 4.3 Otentik 4.4 Mati 4.5 Temporalitas dan Historitas 4.6 Bad Faith 4.7 Nothingness Void 4.8 Alternatif Topologi 5. Topologi 5.1 Being atau Barza 5.2 Quantum Relativity 5.3 Cahaya vs Void 5.4 Ideal atau Simbol atau Imaji 5.5 Barza – Obyektif – Subyektif 5.6 Void – Barza – Cahaya 5.7 Cahaya – Barza – Void 5.8 Siklus Cahaya Void 5.9 Filosofi Roda Tiga
Parmenides (515 SM) adalah pemikir besar yang merumuskan realitas paling fundamental. Hanya ada satu realitas fundamental di alam semesta yaitu eksistensi, being, atau wujud. Selain “being” adalah “tidak ada” atau “nothing”. Karena “nothing” memang tidak ada maka kita tidak bisa menggambarkan “nothing”. Di antara “being” dan “nothing” hanya ada opini yang bisa saja bernilai salah.
Ibnu Arabi (1165 – 1240) mengembangkan sistem wujud yang canggih nan kompleks. Realitas paling fundamental adalah wujud. Selain wujud, bahkan, tidak pernah mencium aroma wangi eksistensi. Kelak, Sadra (1571 – 1640) mengembangkan sistem wujud lebih dinamis dengan melengkapi dinamika gerak substansial. Varian eksistensialisme berkembang maju pesat di Barat, pada abad 20, dengan nama-nama besar: Heidegger, Sartre, dan Camus.
Heidegger (1889 – 1976) memberi peran penting terhadap “nothing”. Hanya manusia, dasein, yang berani merangkul “nothing” yang akan mampu memaknai eksistensinya. Sartre (1902 – 1978) menegaskan bahwa kesadaran adalah karakter dari “nothing” yang selalu menolak identitas diri. Akibatnya, dari penolakan identitas ini, kesadaran adalah kebebasan. Zizek (1949 – ) melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa kesadaran subyektivitas manusia adalah “less than nothing.”
Apakah “being” lebih prior dari “nothing” atau sebaliknya?
Untuk menjawab pertanyaan fundamental itu, saya mengusulkan topologi guna meberikan gambaran lebih jelas. Topologi adalah struktur geometri yang tidak berubah akibat perubahan bentuk. Misal cincin, gelang, dan donat adalah struktur geometri dengan topologi yang sama (homeomorphism). Bahkan donat bisa berubah menjadi bentuk cangkir kopi, masih dengan topologi yang sama.
Ilustrasi topologi “Being” vs “Nothing”. Kredit gambar: Dewa Gede Parta
“Being” adalah realitas fundamental tunggal dengan topologi yang sama tetapi strukturnya bisa berubah dengan dinamis. Sehingga, “being” bermanifestasi dalam keragaman semesta. Atau, justru, “nothing” yang memiliki struktur geometri dengan topologi yang tetap sama? Kita akan menyimpulkannya di bagian akhir tulisan ini.
1. Realitas Fundamental
Apa realitas paling fundamental yang ada di semesta ini? Pertanyaan ontologis, atau metafisika, seperti itu sudah menghantui setiap pemikir sejak ribuan tahun yang lampau. Dan, bisa kita duga, tentu jawabannya beragam. Realitas paling nyata di depan mata adalah materi alam raya. Segala yang ada terdiri dari materi dengan unsur-unsur dasar penyusunnya. Pandangan materialis seperti itu mudah kita pahami. Tetapi, tidak selalu mudah bagi banyak orang untuk sepakat. Realitas paling fundamental adalah spirit. Sedangkan, materi hanyalah penampakan dari spirit yang lebih prior dari materi itu sendiri. Dan, masih banyak pandangan alternatif lainnya.
Pandangan materialis, menganggap yang paling fundamental adalah materi, mudah kita pahami secara umum. Realitas adalah meja, bola, kayu, dan segala materi yang ada di depan mata kita. Lebih canggih, sains fisika kontemporer berhasil mengungkap berbagai macam fenomena obyektif berdasar kajian terhadap materi. Keabsahan sains, materialis, diakui secara luas. Dan yang menarik, sains ini terbuka dengan revisi-revisi tanpa henti.
Al Ghazali (1058 – 1111) menyadari beberapa kelemahan ilmu alam. Pengetahuan kita tentang materi tidak bisa diandalkan. Perhatikan, misal, fatamorgana yang muncul seperti air di jalanan padahal tidak ada air sama sekali. Pengamatan kita mudah keliru. Ghazali mengusulkan lebih mengandalkan kekuatan “pikiran”. Pada gilirannya, pikiran juga sering keliru. Akhirnya, Ghazali mengusulkan agar kita lebih percaya kepada kekuatan “hati” yang bersih. Dengan cara ini, Ghazali memandang ada realitas yang lebih fundamental dari realitas materi fisik.
Realitas spiritual, yang dikenali oleh hati, lebih fundamental dari realitas materi fisik menurut Ghazali.
Bertrand Russell (1872 – 1970) mengakui bahwa pengetahuan kita tentang materi, misalnya meja, bisa salah. Tetapi, kita tidak salah dengan mengetahui ada suatu materi fisik yang kita kira sebagai meja. Ternyata benda itu adalah dipan – bukan meja. Bagaimana pun, kita telah berhasil mengetahui sesuatu yang bersifat materi fisik.
Sejak era Aristoteles, para pemikir sudah bisa membedakan antara persepsi dan penilaian. Pertama, kita mem-persepsi ada sesuatu di depan kita. Kedua, kita menilainya sebagai meja. Tahap pertama, persepsi, bernilai selalu benar, terjadi kontak fisik antara kita dan suatu obyek. Tahap kedua, penilaian, bisa saja salah. Kita menilai benda itu meja, padahal, yang benar adalah dipan. Dengan demikian, realitas materi adalah yang paling fundamental dan obyektif. Sementara, penilaian kita bisa saja salah.
Immanuel Kant (1720 – 1804) lebih bersikap kritis dibanding para pemikir lainnya. Pengetahuan kita tentang dunia materi adalah sekedar pengetahuan penampakan – pengetahuan dunia fenomena. Sementara, kita tidak bisa mengetahui realitas sejati yang berada di dunia noumena. Misal, pengetahuan kita tentang hukum kausalitas (sebab akibat): benda yang didorong maka akan bergerak. Dalam dunia fenomena, penampakan, terbukti bahwa “dorongan” menyebabkan benda menjadi “bergerak”.
Tetapi, “Apakah kita bisa memastikan bahwa itu kausalitas?”
Secara statistik, kita bisa meng-konfirmasi bahwa “dorongan” adalah sebab bagi “bergerak”. Analisis lebih mendalam, statistik tidak berhasil membuktikan adanya hukum kausalitas. Statistik hanya berhasil menunjukkan adanya “korelasi” antara “dorongan” dan “bergerak”. Korelasi statistik itu pun hanya bernilai estimasi.
Kant meyakini bahwa pengetahuan kita di dunia fisik tidak akan pernah bersifat pasti karena hanya fenomena. Sehingga, kita tidak bisa membuktikan hukum kausalitas di dunia fenomena. Kita hanya bisa membuktikan hukum kausalitas di dunia noumena. Kant berhasil membuktikan hukum kausalitas dengan “argumen transendental” yang terkenal.
Realitas noumena lebih fundamental dari fenomena.
Tentu saja, pandangan Kant langsung mendapat kritik keras dari generasi berikutnya: Hegel, Husserl, Heidegger, Sartre, dan Russell.
Sartre (1905 – 1980) menolak konsep noumena dengan cara menerimanya. Dunia noumena adalah totalitas dari dunia fenomena. Karena totalitas fenomena adalah tanpa batas maka kita, memang, tidak akan berhasil mengetahui noumena secara lengkap. Bagaimana pun, pengetahuan kita tentang fenomena yang terbatas itu tetap merupakan pengetahuan sejati. Sehingga, kita tidak memerlukan lagi “argumen transendental.” Semua yang kita perlukan sudah ada di sini, di dunia ini.
Cara pandang Sartre ini mengantar kita kepada cara pandang materialis. Semua yang ada adalah dunia materi ini. Lalu, bagaimana bisa muncul kesadaran, pengetahuan, dan subyektivitas pada manusia?
Kesadaran adalah “nothing”. Kesadaran adalah “ketiadaan”.
Sartre memberi status ontologis yang kuat kepada nothing. Meski nothing adalah tidak ada tetapi dampaknya nyata. “Anda sudah minum kopi di warung, kemudian, baru mengetahui bahwa tidak ada uang sama sekali di dompet Anda – nothing.” Anda jadi gelisah karena nothing.
Kita tidak bisa melihat sesuatu yang berada di balik dinding. Jika pada dinding kita buat lubang (nothing) maka kita jadi bisa melihat sesuatu yang ada di balik dinding. Nothing menyebabkan kita bisa melihat sesuatu. Pandemi covid menyebabkan ekonomi porak-poranda. Ketika covid tidak ada (nothing) maka ekonomi kembali bergeliat. Nothing menyebabkan ekonomi bertumbuh.
Kesadaran adalah nothing. Pengalaman subyektif adalah nothing. Di saat yang sama, nothing itu memberi dampak yang nyata. Sehingga, dalam ontologi Sartre, realitas fundamental adalah materi dan nothing. Karena nothing, memang, tidak ada maka yang ada adalah materi itu sendiri. Di bagian bawah, kita akan membahas tema ini lebih detil.
Sampai di sini, kita bisa menegaskan kembali pertanyaan kita, “Apa realitas paling fundamental?”
Kredit: Dewa Gede Parta
2. Eksistensi Parmenides
Parmenides (515 SM) adalah pemikir besar yang merumuskan realitas paling fundamental. Hanya ada satu realitas fundamental di alam semesta yaitu eksistensi, being, atau wujud. Selain “being” adalah “tidak ada” atau “nothing”. Karena “nothing” memang tidak ada maka kita tidak bisa menggambarkan “nothing”. Di antara “being” dan “nothing” hanya ada opini yang bisa saja bernilai salah.
Kita tidak bisa memperoleh pandangan eksistensialisme versi Parmenides ini secara lengkap karena tidak banyak dokumen yang tersedia tentangnya. Secara prinsip, kita bisa menduga, berinterpretasi, bahwa Parmenides memegang pandangan prioritas wujud atau prioritas eksistensi. Di mana, realitas sejati adalah tunggal yaitu eksistensi. Sementara, non-eksistensi memang tidak ada. Sedangkan, opini tampak seperti di tengah-tengah antara eksistensi dan non-eksistensi. Pada analisis akhir, kita bisa menyimpulkan apakah opini itu benar atau salah. Atau, akhirnya, kita bisa menerima opini tersebut atau harus menolaknya.
Meski ringkas, pandangan Parmenides ini menjadi kajian mendalam oleh pemikir-pemikir besar berikutnya.
Sadra (1571 – 1640) mengambil alih konsep prioritas wujud dan memuji Parmenides. Jika suatu realitas terdiri dari wujud dan esensi maka yang prioritas adalah wujud, sedangkan, esensi hanya ada dalam pikiran kita. Memang dalam pikiran, esensi tampak lebih prior dari wujud – realitas terbalik dari itu. Bahkan, Sadra melangkah lebih jauh lagi. Wujud bukan hanya lebih prior, tetapi, wujud adalah satu-satunya realitas.
Berikutnya, Sadra melengkapi konsep wujud ini menjadi lebih dinamis dengan konsep gerak-substansial (harakah al jauhariyah) dan ambiguitas wujud (tasykik). Dengan konsep seperti itu, prioritas wujud menjadi sistem filosofi yang kokoh.
Russell (1872 – 1970) membaca Parmenides dengan paradoks. Segala yang kita pikirkan adalah sesuatu. Apa saja yang kita ucapkan adalah sesuatu. Dan sesuatu itu pasti eksis (wujud), minimal, dalam pikiran. Skenarionya, kita bisa memikirkan sesuatu yang tidak eksis, misal gunung emas atau bilangan prima genap yang lebih besar dari 7. Maka pikiran kita itu eksis, sekaligus, tidak eksis. Kelak paradox ini dikenal sebagai paradox Parmenides.
Menjelang akhir abad 20, murid-murid Russell menganggap paradox Parmenides sebagai dialektika. Pikiran kita berinteraksi dengan realitas nyata untuk maju dalam dialektika. Model dialektika yang mirip Hegel ini, seandainya tahu, Russell tidak akan setuju. Russell terkenal konsisten menolak keras ide dialektika Hegel.
Heidegger (1889 – 1976) menilai filsafat Parmenides lebih bagus dari Plato dan berikutnya. Heidegger sudah terkenal sangat kritis terhadap filsafat Barat sejak Plato sampai Nietzshe. Parmenides adalah filosof era sebelum Plato. Parmenides merumuskan kebenaran atau “truth” sebagai keterbukaan, ketersingkapan wujud, alethia, disclosedness being. Filsafat Barat mereduksi kebenaran menjadi hanya korespondensi. Akibatnya, Barat mengalami kemunduran moral. Heidegger berjuang untuk mengembalikan konsep truth sebagai ketersingkapan wujud sesuai pandangan Parmenides. Apakah Heidegger berhasil?
Kita bisa bertanya kepada Parmenides, “Apa realitas paling fundamental?” Realitas paling fundamental adalah eksistensi. Atau, kadang disebut sebagai wujud serta being. Apa makna-ada? Makna-ada adalah seluruhnya.
3. Wujud Arabi – Sadra
Ibnu Arabi (1165 – 1240) mengembangkan sistem wujud yang canggih nan kompleks. Realitas paling fundamental adalah wujud. Selain wujud, bahkan, tidak pernah mencium aroma wangi eksistensi. Kelak, Sadra (1571 – 1640) mengembangkan sistem wujud lebih dinamis dengan melengkapi dinamika gerak substansial. Saya memasukkan Suhrawardi (1154 – 1191) sebagai eksistensialis dengan mempertimbangkan konsep ontologi-cahayanya. Varian eksistensialisme berkembang maju pesat di Barat, pada abad 20, dengan nama-nama besar: Heidegger, Sartre, dan Camus.
Berikut ini adalah lima prinsip utama eksistensialisme.
3.1 Prioritas Wujud
Realitas paling fundamental adalah wujud atau being atau eksistensi. Kita sering melambangkan wujud sebagai cahaya. Yang ada hanya cahaya. Selain cahaya adalah tidak ada atau gelap atau void. Bagaimana pun, void tetap punya peran penting meski pun sejatinya void adalah tidak ada.
Realitas di dunia luar semisal pohon, meja, dan batu adalah wujud. Jika tidak “ada” batu maka kita tidak bisa mengatakan itu “ada batu”. Jadi, batu adalah wujud-batu. Tetapi, apa yang kita pahami, apa yang kita lihat adalah konsep-batu atau persepsi-batu. Konsep-batu ini hanya ada dalam pikiran, tidak ada di alam realitas. Konsep-batu kita sebut sebagai esensi. Sehingga, apa yang kita ketahui tentang dunia luar adalah esensi belaka, bukan wujud realitas.
Wujud adalah realitas yang ada di dunia luar. Esensi tidak ada. Esensi hanya ada dalam pikiran. Maksudnya esensi ada? Dalam pikiran? Esensi tidak ada secara ontologi. Tetapi, esensi ada secara epistemologi. Mereka adalah dua hal berbeda, yang akan kita bahas secara berbeda.
Esensi, meski tidak ada, punya peran penting. Karena esensi maka wujud bisa bergerak menyempurna menjadi lebih konkret. Realitas dunia luar, dan apa yang kita pahami tentang dunia luar, adalah barza yaitu garis pertemuan antara wujud dan esensi. Garis pertemuan, barza, ini sebenarnya tidak ada secara mandiri. Barza inilah yang bergerak untuk menggapai wujud lebih sempurna. Garis pertemuan hanya ada secara potensial, pada awalnya, sebagai materi-pertama.
Secara tegas, hanya wujud yang ada. Esensi adalah tidak ada. Wujud adalah paling prior. Wujud adalah realitas fundamental dan primordial. Lalu, bagaimana bisa muncul keragaman?
3.2 Gradasi Wujud
Wujud itu tunggal yaitu hanya wujud. Di saat yang sama wujud itu beragam dengan gradasi. Wujud berbeda-beda berdasar intensitas kuat-lemah, berbeda berdasar urutan, berbeda berdasar modulasi bentuk. Jadi, wujud adalah yang menyatukan semua realitas karena mereka memang wujud tunggal. Di saat yang sama, wujud adalah yang membeda-bedakan di antara semua realitas karena wujud bergradasi.
Identitas wujud adalah keragaman. Dan, keragaman wujud adalah identik.
Bayangkan bilangan atau angka 5 dan angka 7. Mereka adalah sama-sama angka. Tetapi, karena mereka sama-sama angka justru mereka menjadi berbeda, yaitu angka 5 berbeda dengan angka 7. Apa yang menyebabkan mereka menjadi sama, yaitu sama-sama angka, sekaligus, menyebabkan mereka berbeda.
Realitas sejati adalah beragam karena wujud yang bergradasi atau termodulasi. Wujud termodulasi menjadi wujud-meja-itu, menjadi wujud-pohon-itu, dan menjadi wujud-manusia-itu. Mereka berbeda-beda di antara meja, pohon, dan manusia itu. Di saat yang sama, mereka adalah sama yaitu sama-sama wujud. Jadi, wujud adalah yang menjadikan realitas beragam, berbeda-beda, dan wujud juga yang menjadikan mereka sama, yaitu sama-sama wujud.
Wujud bergradasi berdasar intensitas kuat dan lemahnya.
3.3 Gerak Eksistensial
Dari wujud yang lemah bergerak menuju wujud yang lebih kuat. Gerak wujud selalu satu arah menuju yang lebih sempurna. Gerak wujud adalah gerak substansial bukan sekedar gerak aksidental. Pada analisis akhir, gerak aksidental adalah petunjuk karena adanya gerak substansial.
Gerak wujud ke arah yang lemah adalah tidak mungkin. Karena, pengurangan wujud adalah mustahil. Misal wujud dengan intensitas 7 berubah menjadi intensitas 5. Terjadi pengurangan 2. Di mana wujud 2 itu? Apakah wujud 2 menjadi hilang? Menjadi bukan wujud? Tidak mungkin dari wujud menjadi bukan wujud.
Gerak wujud menuju yang lebih kuat adalah yang terjadi. Dari intensitas 5 berubah menjadi intensitas 7. Dari mana tambahan wujud 2? Dari wujud yang lebih kuat. Dari wujud 7, wujud 9, atau wujud tak hingga. Di sinilah terjadi proses gerak eksistensial menuju yang lebih sempurna. Salah satu karakter wujud adalah bergerak kreatif seperti itu.
Kita bisa membuat beragam formula dari gerak eksistensial kreatif ini.
Gerak wujud: wujud-lemah menuju wujud-basit.
Wujud-lemah adalah wujud apa adanya saat itu. Kemudian, berproses menjadi wujud yang lebih kuat yaitu wujud-basit. Meski wujud-basit adalah sederhana, di saat yang sama, merangkul wujud-lemah. Semua karakter wujud-lemah tetap hidup selaras dalam rangkulan wujud-basit. Prinsip wujud adalah wujud sederhana meliputi segalanya.
Gerak substansi: genus menuju diferensia.
Secara logika, genus lebih umum dari diferensia sehingga dianggap lebih kuat dari diferensia. Secara filosofis, diferensia lebih konkret dari genus. Sehingga, diferensia lebih kuat dari genus. Diferensia, misal jiwa rasional, meliputi genus-genus yang lebih umum, misal jiwa binatang dan jiwa tumbuhan. Dengan kata lain, di dalam jiwa rasional tersimpan jiwa binatang dan tumbuhan. Gerak substansial adalah dari genus menuju diferensia. Genus adalah diferensia-lemah-saat-itu bergerak menjadi diferensia-nyata-saat-ini.
Gerak pengetahuan: general menuju spesialis.
Barangkali, kita sudah akrab dengan istilah dokter umum. Yaitu, dokter dengan pengetahuan kedokteran yang bersifat general atau umum. Bagi dokter umum yang berminat, bisa melanjutkan pendidikan dokter spesialis, misal spesialis jantung. Dokter spesialis adalah lebih sempurna dari dokter umum. Di dalam diri dokter spesialis jantung tersimpan pengetahuan dokter umum. Di dalam ilmu yang spesifik, spesialis, tersimpan ilmu umum, general. Jadi, ilmu bergerak dari pengetahuan general menuju pengetahuan spesialis yang lebih sempurna. Dari pengetahuan yang samar menuju pengetahuan konkret yang jelas.
Gerak materi: materi menuju bentuk.
Materi, misal, kayu adalah bahan dasar. Kemudian, seniman membuat karya berupa meja ukir yang indah adalah bentuk. Bentuk meja ukir lebih sempurna dari bahan materi kayu yang semula. Di dalam meja ukir tetap ada materi kayu itu. Jadi, materi bergerak dari materi semula menjadi bentuk tertentu yang lebih sempurna. Secara filosofis, pengertian materi dan bentuk lebih mendalam dari contoh di atas.
Gerak manusia: bayi menuju jawani.
Setiap manusia lahir sebagai bayi. Kemudian, bertumbuh menjadi manusia dewasa. Di antaranya, berhasil menjadi manusia sempurna, insan kamil, kita sebut sebagai wong jawani. Di dalam jiwa wong jawani tersimpan jiwa bayi dan jiwa remaja. Jawani merangkul seluruh alam raya dalam naungannya. Jadi, manusia bergerak dari jiwa-bayi menuju jiwa-jawani yang lebih sempurna.
Gerak waktu: temporal menuju historal.
Waktu terus begerak. Waktu terus mengalir. Aliran waktu ini bersifat temporal. Kemudian, aliran waktu ini terjadi dalam jangka waktu tertentu – dalam durasi 2 jam atau 3 hari misalnya. Durasi itu sendiri terus berubah, mengalir. Totalitas durasi yang terus mengalir, temporal, membentuk sejarah atau waktu historal. Jadi, historal adalah totalitas durasi dan temporal. Waktu bergerak dari yang bersifat temporal, mengalir sesaat, menjadi totalitas waktu yang historal.
Kita masih bisa merumuskan beragam gerak eksistensial lainnya. Sedangkan gerak aksidental, misal berpindah dari lokasi kiri ke lokasi kanan, pada analisis akhir, bersumber dari gerak eksistensial.
3.4 Wujud Basit (Sederhana)
Wujud yang lebih sempurna adalah lebih sederhana dan lebih konkret (wujud basit). Wujud konkret ini meliputi, merangkul, semua wujud yang lebih lemah dengan cara sederhana atau simpel. Sehingga, sederhana adalah segalanya.
Kita perlu hati-hati memahami makna sederhana ini. Karena sederhana bukan bermakna umum, bukan general, bukan samar. Sederhana, justru, bermakna spesifik, konkret, dan jelas.
Bayangkan, sebagai ilustrasi, botol air berisi 5 liter. Kemudian, ditambahkan 2 liter sehingga menjadi 7 liter.
Wujud 7 liter adalah lebih kuat dari wujud 5 liter. Dari 7 liter kita bisa menganalisa bahwa di dalamnya ada wujud 5 liter. Jadi, 7 liter meliputi yang 5 liter. Wujud 7 liter lebih konkret dari wujud 5 liter.
Sebaliknya, tidak bisa terjadi. Dari wujud 5 liter, kita tidak bisa menghasilkan analisa wujud 7 liter. Wujud 5 liter tidak meliputi wujud 7 liter. Bagaimana pun, wujud itu bersifat individu atau diferensia secara nyata. Wujud 5 liter adalah wujud unik 5 liter, diferensia 5 liter. Begitu juga wujud 7 liter adalah wujud unik 7 liter, diferensia 7 liter.
Dalam pikiran, kita bisa menganalisa bahwa wujud 7 = wujud 5 + wujud 2. Dalam realitas, kita tidak bisa memisahkan wujud 5 dengan wujud 2 itu.
Kita ambil contoh lain,
manusia = binatang + rasional.
Di dalam pikiran, kita bisa menganalisa dengan memisahkan binatang dan rasional. Dalam realitas, tidak demikian. Dalam realitas, yang ada hanya diferensia-rasional saja. Dalam diferensia-rasional sudah meliputi binatang. Diferensia-rasional adalah wujud konkret, wujud basit, wujud sederhana.
Di dalam realitas, kita juga tidak bisa menambah “rasional” kepada “binatang” agar terbentuk “manusia”. Manusia adalah wujud-basit, wujud-sederhana, yang di dalamnya meliputi “binatang” dan “rasional” tersebut. Manusia bukan hasil dari penambahan atau penggabungan.
Wujud sederhana adalah segalanya.
3.5 Puncak Wujud
Manusia sempurna atau insan kamil atau wong jawani, kita singkat sebagai jawani atau jawa.
Ketika wujud terus bergerak menuju yang lebih sempurna, di manakah ujung akhir gerak wujud itu? Ujung akhir gerak wujud adalah hadirnya manusia sempurna atau wong jawani atau jawani.
Di satu sisi, jawani adalah wujud sederhana. Di sisi lain, jawani adalah diferensia paling konkret. Jawani adalah puncak wujud (alam raya). Jawani adalah puncak diferensia nyata.
Dengan jawani, kita bisa mengkaji eksistensialisme dengan dua perspektif: metafisika-transendental dan ontologi-imanen.
A. Ontologi-Imanen
Perjalanan wujud imanen dimulai dari big bang ontologi. Secara fisika, dimulai dari teori big bang atau sejenisnya. Mula-mula hadir materi paling awal. Kemudian, evolusi menghasilkan mahkluk hidup sederhana, tumbuhan, hewan, dan akhirnya manusia.
Manusia adalah diferensia akhir dari evolusi. Setelah hadir manusia, evolusi bersifat halus: evolusi pengetahuan, kesadaran, dan peradaban. Dalam masyarakat berkembang sains, mitologi, filosofi, agama, teknologi, dan lain-lain. Manusia berkembang dengan mengembangkan itu semua.
Jawani adalah manusia sempurna yang merangkul semua kemajuan secara sederhana. Jawani meliputi segala realitas yang ada menjadi individu paling konkret. Perlu kita catat lagi, jawani bukan menguasai ilmu secara global, bukan secara general, bukan secara samar. Jawani menguasai ilmu secara nyata, secara detil, dan secara konkret.
B. Metafisika-Transendental
Awal dari wujud adalah wujud sempurna yaitu Tuhan. Analisis metafisika-transendental ini, tampaknya, dominan di berbagai macam kajian. Dari wujud sempurna, sebut misal wujud-0, memancar wujud-1. Selanjutnya, memancar wujud-2 sampai tak terhingga keragamannya.
Di ujungnya paling jauh, wujud bertemu dengan materi pertama yang berupa potensi murni. Cahaya wujud menyinari materi pertama untuk membawanya ke cahaya eksistensi. Materi pertama adalah konsep paling umum, paling general, paling samar.
Bersama cahaya wujud, materi mengalami evolusi. Kemudian, hadir tumbuhan, binatang, sampai manusia. Evolusi manusia, meski terjadi di dunia, merupakan evolusi transendental. Manusia menyempurnakan diri dengan pengetahuan dan kebajikan moral sampai terbentuk manusia sempurna, wong jawani. Manusia menempuh perjalanan spiritual yang panjang untuk menjadi jawani. Sampai akhirnya, jawani bergabung bersama singgasana Tuhan Maha Suci.
Jawani merangkul seluruh eksistensi alam raya dalam wujud basit dirinya untuk menghadap hadirat Tuhan Sang Wujud Murni.
Kedua analisis di atas, ontologi-imanen dan metafisika-transenden, sejatinya adalah mengkaji realitas yang sama. Kedua analisis sama pentingnya.
C. Topologi Wujud
Kita bisa menyusun topologi wujud dari konsep wujud Ibnu Arabi dan Sadra. Bahkan, topologi wujud ini mencapai konsep yang sangat canggih dengan prinsip gradasi-wujud dari Sadra. Meski, konsep wujud sangat kental dengan perspektif transendent, di saat yang sama, memiliki karakter imanent. Khususnya konsep wong jawani, insan kamil, sebagai puncak diferensia dan puncak wujud manusiawi adalah imanen.
Jadi, apa realitas paling fundamental? Wujud! Selain wujud adalah tidak nyata. Dengan demikian, kita berhasil menyusun topologi wujud.
Topologi wujud adalah topologi yang tersusun oleh wujud. Wujud memiliki keragaman gradasi, keragaman bentuk, keragaman konsep, keragaman intensitas, dan keragaman lainnya. Di saat yang sama, wujud tetap tunggal. Wujud tetap satu topologi.
Tentu saja, kita bisa mengembangkan topologi wujud yang berbeda-beda. Bagaimana pun, dari setiap topologi wujud, kita berhasil menunjukkan: (1) wujud adalah realitas fundamental atau realitas primordial; (2) wujud adalah topologi tunggal; (3) wujud adalah beragam dalam topologi tunggal; (4) wujud terus-menerus bergerak dinamis; (5) puncak wujud adalah jawani yang merupakan realitas konkret imanen menghadap realitas transenden wujud murni.
Apa makna-ada? Makna-ada adalah topologi wujud yang kita bahas di atas.
Topologi Kredit: Dewa Gede Parta
4. Nothingness Heidegger – Sartre – Zizek
Heidegger (1889 – 1976) memberi peran penting terhadap “nothing”. Hanya manusia, dasein, yang berani merangkul “nothing” yang akan mampu memaknai eksistensinya. Sartre (1902 – 1978) menegaskan bahwa kesadaran adalah karakter dari “nothing” yang selalu menolak identitas diri. Akibatnya, dari penolakan identitas ini, kesadaran adalah kebebasan. Zizek (1949 – ) melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa kesadaran subyektivitas manusia adalah “less than nothing.”
Heidegger adalah pemikir paling berani dengan mengajukan pertanyaan, “Apa makna being?”
Meski Parmenides, Ibn Arabi, dan Sadra sudah membahas being dengan baik. Tetapi, mereka tidak menanyakan makna-being dengan serius. Memang, baru, Heidegger yang menanyakan makna-being dengan sangat serius. “Apakah pohon di samping rumah itu ada?” “Apakah manusia sebenarnya ada?” “Apakah Tuhan itu ada?”
Dalam pertanyaan-pertanyaan di atas, kita mengasumsikan bahwa makna “ada” sudah jelas. Misal, pohon itu ada. Seakan-akan kita sudah memahami makna-ada atau makna-being itu. Heidegger, justru, menanyakan makna-being itu. Heidegger menjawab pertanyaan makna-ada itu, di tahun 1926, berupa buku “Being and Time” yang terbit 1927. Heidegger melanjutkan jawabannya sampai setengah abad kemudian, dia meninggal, di tahun 1976.
Salah satu jawaban terbaik: makna-ada adalah menemukan makna-ada untuk kemudian bertanya lagi apa makna-ada itu.
4.1 Being-in-the-world
Problem ontologi paling fundamental adalah, “Apa makna-ada?”
Mudah, bagi kita, untuk mengajukan problem lanjutan, “Apa makna-dari-makna-ada?”
Maksudnya, ketika kita akan menyelidiki makna-ada, seakan-akan, kita sudah paham dengan “makna” itu sendiri. Dengan kita menanyakan “makna-dari-makna” maka kita mundur ke arah yang lebih fundamental lagi.
A. Differance
Derrida (1930 – 2004) menanyakan makna-dari-makna tanpa henti. Derrida menyimpulkan bahwa “makna” adalah “differance.” Pertama, differance bersifat berbeda. Yaitu, makna dari sesuatu bisa berbeda-beda sesuai konteks mau pun obyeknya. Tidak ada makna tunggal yang dominan. Berbagai macam makna, yang mungkin saling kontradiksi, sama-sama berhak menjadi makna terbaik.
Kedua, differance bersifat tertunda. Yaitu, setiap makna akan mengacu ke makna lain. Pada gilirannya, makna lain ini akan mengacu ke makna lain lagi tanpa henti. Kita akan “tertunda” untuk mencapai makna akhir. Atau, kita tidak akan pernah berhasil mencapai makna-akhir itu karena selalu tertunda.
Konsep differance dari Derrida ini menguak problem filosofis baru lagi. Heidegger mengajukan problem ontologis dengan mengajukan apa makna-ada. Derrida melanjutkan problem ontologis menjadi problem dekonstruksi. Kita selalu bisa melakukan dekonstruksi makna terhadap setiap sistem. Para pemikir postmodernis tampak begitu semangat menerapkan program dekonstruksi di berbagai bidang. Karena pemikir postmo begitu dominan dalam mengkaji dekonstruksi makna, akibatnya, banyak orang menilai postmodern terjebak dalam filsafat bahasa. Tentu saja, penilaian semacam itu tidak benar. Karena dekonstruksi Derrida bukan hanya dekonstruksi bahasa, melainkan, dekonstruksi ontologi. Atau, dekonstruksi being itu sendiri.
Sementara, kita akan meninggalkan tema dekonstruksi untuk kembali membahas tema ontologi. Heidegger sendiri menyadari ada kesulitan untuk interpretasi makna ontologis. Setiap pengetahuan kita melibatkan interpretasi. Sementara, interpretasi itu sendiri akan melibatkan interpretasi yang lebih awal. Sehingga, kita berada pada lingkaran interpretasi, lingkaran hermeneutika.
B. Lingkaran Hermeneutika
Untuk memahami suatu being, suatu dumadi, maka kita perlu mengkaji dumadi tersebut secara detil. Tetapi, untuk memahami detil dumadi itu kita perlu memahami dumadi secara luas, yaitu, hubungan dumadi ini dengan dumadi-dumadi lain di seluruh alam raya. Sedangkan, lagi, untuk memahami dumadi di alam raya, kita perlu memahami bagian-bagian dengan detil. Jadi, kita terikat dalam lingkaran pemahaman, atau lingkaran hermeneutika, yaitu untuk memahami bagian kita perlu keseluruhan. Sementara, untuk memahami keseluruhan, kita perlu memahami bagian.
Solusi dari lingkaran hermeneutik adalah dengan menerimanya. Untuk kemudian, kita mengajukan pertanyaan ontologi fundamental lagi.
Kita, sebagai manusia, sudah selalu berada di dalam dunia ini. Kita adalah being-in-the-world. Kita memahami dunia sudah dalam posisi diri kita berada dalam dunia. Heidegger memilih istilah dasein, being-there, untuk menggambarkan karakter ontologis, salah satunya, dari manusia sebagai being-in-the-world.
Dasein memahami dunia sebagai ready-at-hand bukan present-at-hand. Kita merasakan panas sinar matahari sebagai ready-at-hand. Kita tidak merasakan sinar matahari sebagai tersusun oleh gelombang elektromagnetik, bukan sebagai present-at-hand. Tentu saja, para saintis bisa saja meneliti sinar matahari sebagai gelombang elektromagnetik melalui prosedur sains. Tetapi, prosedur sains ini tidak alamiah. Manusia perlu persiapan tertentu untuk itu. Sementara, rasa panas sinar matahari terjadi begitu saja ketika mengenai tangan. Jadi, pemahaman ready-at-hand lebih primordial dari present-at-hand.
Sampai di sini, kita perlu menyadari bahwa secara ontologis kita terikat oleh dunia. Kita tidak bisa mengasumsikan bahwa diri kita bisa terbebas dari dunia. Seandainya, kita bisa lepas dari satu dunia, maka, kita akan berada dalam dunia lainnya. Karena itu, kita perlu lebih peduli, atau care, kepada dunia. Makna dunia itu sendiri luas. Ada dunia fisik, dunia kerja, dunia politik, dan dunia lainnya.
Tugas kita, sebagai dasein, adalah untuk mengungkapkan semua makna dari yang ada. Tugas kita adalah menciptakan makna menjadi lebih konkret dari makna yang semula. Mengkaji makna-being yang semula tersembunyi menjadi penuh arti. Makna-dominan, makna-penguasa, sudah biasa menjadi makna-being yang dianggap paling benar. Padahal, ada makna-being yang disembunyikan oleh makna-dominan. Kita perlu membuat terang makna “ada udang di balik batu.” Untuk itu, Heidegger mengusulkan proyek destruksi. Derrida menyambutnya dengan proyek dekonstruksi. Sebuah proyek untuk membawa terang, menjadi konkret, dari beragam makna-being yang masih samar-samar.
4.2 Care dan Waktu
Apakah Anda tahu bahwa atap rumah Anda retak? Tidak. Kita tidak tahu atap rumah retak. Ketika hujan turun deras, kemudian bocor air hujan, kita sadar bahwa atap rumah retak. Kita tahu karena kita peduli. Karena kita care.
Jika kita tidak peduli dengan politik maka tidak ada masalah politik. Jika kita tidak peduli dengan sistem pendidikan maka tidak ada masalah dengan sistem pendidikan. Semua, akan baik-baik saja selama kita tidak peduli. Jika kita tidak peduli dengan tema ontologi fundamental maka tidak akan ada problem ontologis.
Jadi, sikap peduli kita adalah akar dari masalah itu. Dan, sikap peduli juga yang mengantarkan kita ke arah solusi. Yaitu, solusi pada level yang lebih tinggi.
Sikap peduli menunjukkan kita bahwa ada sesuatu yang sudah berubah dan sesuatu yang bisa berubah. Peduli menunjukkan ada dunia yang bersifat temporal, dunia berada dalam waktu. Kita bisa mengambil sikap cuek terhadap dunia. Kita juga bisa mengambil sikap antisipasi untuk mengubah dunia sesuai komitmen diri. Ada waktu untuk semua itu. Kita punya waktu. Dasein punya waktu yang terbentang sejak lahir menuju mati. Apakah Anda peduli?
4.3 Otentik
Dasein, manusia ontologis, bisa memilih sikap otentik atau tidak otentik. Sikap otentik adalah dasein peduli dengan semua yang ada. Kemudian, dasein mengantisipasi masa depan yang mungkin terjadi. Untuk itu, dasein mencermati perjalanan masa lalu serta semua realitas yang ada dan bertekad untuk mewujudkan pilihan hidupnya saat ini.
Sikap otentik dasein ini mengantarkan dasein makin “gelisah”. Dasein gelisah dengan masa depan dirinya. Dasein gelisah dengan masa depan anak dan keluarganya. Dasein gelisah dengan masa depan umat manusia.
Gelisah terhadap apa? Gelisah terhadap bukan apa-apa. Gelisah terhadap nothing. Gelisah saja.
Gelisah berbeda dengan rasa takut, misal, takut kepada ular. Dengan mengusir ular maka rasa takut jadi hilang. Sementara, gelisah adalah berbeda. Obyek dari gelisah adalah nothing, tidak ada. Akibatnya, kita tidak bisa mengusir nothing karena memang tidak ada yang bisa diusir. Sehingga, gelisah itu akan selalu datang lagi sebagai sikap otentik dasein.
Misal gelisah terhadap masa depan anak-anak. Kemudian, Anda menyekolahkan anak ke universitas terbaik. Apakah gelisah Anda jadi hilang? Muncul lagi gelisah baru. Bagaimana masa depan anak setelah universitas?
Gelisah justru bisa diatasi dengan memilih sikap tidak otentik.
Tidak usah peduli maka Anda tidak akan gelisah. Dasein yang tidak peduli, sehingga tidak gelisah, adalah dasein yang tidak otentik. Banyak cara untuk memilih tidak otentik. Misalnya, menyibukkan diri dengan kesibukan kerja. Anda menjadi lupa dengan gelisah Anda dengan sibuk kerja. Ada orang yang mengusir gelisah dengan olah raga, jalan-jalan, minum-minum, dan lain sebagainya.
Benar saja, sikap tidak otentik itu mengantarkan manusia terbebas dari rasa gelisah. Tetapi, kadang-kadang, suatu malam, Anda sulit tidur lalu gelisah. Atau, Anda menunggu antri sesuatu, lalu tiba-tiba, muncul gelisah.
Barangkali, alternatif lebih baik adalah dengan menerima rasa gelisah kemudian mengambil sikap otentik. Aku adalah dasein yang gelisah. Masa depanku adalah tak menentu. Masa depan keluargaku adalah tanggung jawabku. Masa depan negeri ini adalah masa depanku. Dunia ini adalah duniaku. Aku gelisah.
Dari gelisah itu, kemudian kita mengantisipasi penuh tekad. Kita menyusun rencana, menyiapkan perbekalan, dan menjalani hidup saat ini dengan dinamika otentik. Apakah gelisah akan hilang? Tidak juga. Gelisah datang lagi. Gelisah menghadapi mati.
4.4 Mati
Mati adalah sesuatu yang paling pasti dari eksistensi manusiawi. Mati adalah otentik. Setiap orang, dasein, yang lahir pasti sedang berproses menuju mati. Meski secara empiris, kita berharap barangkali akan ada orang yang berumur panjang. Dengan kemajuan teknologi medis, orang makin sehat, makin panjang umur dan mungkin tidak akan mati. Bagaimana pun, naluri kita tetap meyakini setiap orang akan mati. Bukti empiris sampai ratusan tahun yang lalu menunjukkan bahwa setiap orang akan mati – pada akhirnya.
Mati itu penting dan otentik. Justru, sikap melupakan kematian adalah tidak-otentik, tidak jeru, rajeru. Karena ada mati maka hidup ini menjadi berarti. Apa yang Anda lakukan selama hidup ini? Sebelum Anda mati. Semua yang kita lakukan di masa lalu dan masa kini menjadi bernilai, bisa memiliki nilai, karena akhirnya kita mati.
Tentu saja, kita bisa meyakini ada kehidupan setelah mati. Orang lain, bisa, meyakini kehidupan berakhir dengan kematian. Bagaimana pun, kematian menjadikan hidup kita mencapai keutuhan. Keutuhan jenis apa yang hendak Anda raih ketika mati? Sikap otentik adalah sikap antisipasi terhadap mati, menyadari hadirnya mati setiap saat. Kemudian, memodifikasi masa kini dan masa lalu untuk meraih kematian yang terbaik.
Logika sebaliknya sulit diterima. Logika yang menganggap ada peluang manusia hidup selamanya. Jika manusia bisa hidup selamanya, tidak mati, maka semua nilai menjadi tidak berarti. Semua nilai menjadi relatif dibandingkan dengan masa depan tanpa batas dan masa lalu tanpa batas juga. Semua makna menjadi tidak bermakna.
Hanya kematian yang memberi makna sejati seutuhnya. Semua sikap kita di masa lalu, dan masa kini, adalah persiapan untuk menciptakan nilai ketika mati tiba. Mati adalah hak setiap manusia untuk menjadi manusia seutuhnya.
4.5 Temporalitas dan Historitas
Setiap being bersifat temporal dan historal. Kita selalu berada dalam rangkulan waktu. Kita adalah produk dari sejarah dan memproduksi sejarah.
Karakter temporal atau fenomena time sangat penting bagi Heidegger. Dia memberi judul bukunya “Being and Time” yang terbit pada tahun 1927 dan, kemudian, menulis “Time and Being” pada tahun 1962, di usia 73 tahun.
Time adalah horison transenden dari being. Beberapa pengamat menilai bahwa time adalah being itu sendiri. Wajar saja. Karena, struktur fundamental dari being, dari dasein, adalah care yaitu peduli terhadap temporalitas di-dalam-dunia. Dan, karakter temporalitas ini memungkinkan terciptanya sejarah, atau sebaliknya. Sehingga, kita lebih mudah mengkaji karakter being sejati dengan cara mengkaji time sejati dari pada melalui kajian terhadap a-being atau beings.
Time sejati memiliki empat dimensi: future (masa-depan), present (masa-kini), past (masa-lalu), dan extending yaitu ekstase dari seluruh dimensi waktu.
Heidengger menolak pandangan bahwa time adalah living-now atau masa kini yang terus bergulir. Karakter utama dari waktu adalah futural, bersifat masa depan. Maksudnya, futural adalah kekuatan yang menarik masa-kini dan masa-lalu untuk menuju masa depan. Sehingga, being yang otentik, manusia yang otentik, adalah manusia yang mengantisipasi masa-depan. Dengan proyeksi masa-depan ini, manusia menerima seluruh anugerah fakta masa-lalu, dan memodifikasi masa-kini. Bagaimana pun, seluruh dimensi waktu tetap menyatu ekstase dan extending. Bagi manusia, dasein, lahir bukanlah waktu yang sudah berlalu. Mati juga bukan masa depan yang belum datang. Tetapi, lahir dan mati tetap menyatu dalam diri manusia, dasein. Lahir dan mati terhubung secara kontinyu oleh bentangan dasein.
Dalam “Time and Being”, Heidegger membahas Being secara umum, bukan sekedar dasein. Being dan time saling appropriasi, saling berkhidmat. Time memberi waktu kepada Being dan Being memberi anugerah kepada time. Proses appropriasi ini mendorong Being untuk selalu dinamis.
Jadi, apa realitas paling fundamental? Realitas fundamental adalah Being. Apa makna-Being? Apa makna-ada? Makna being adalah dasein yaitu care sebagai being-in-the-world yang bersifat temporal. Being dan time saling appropriasi, saling berkhidmat, sehingga senantiasa dinamis.
Perlu kita catat bahwa Heidegger men-destruksi metafisika, destruksi ontologi. Sehingga, Heiddegger memandang bahwa being bukanlah ground, bukan landasan ontologi, karena telah destruksi. Sebaliknya, being juga tidak memiliki landasan fundamental apa pun. Atau, landasan being adalah nothing.
Apakah ada peran dari nothing? Besar sekali. Heidegger membahas peran nothing di beberapa tempat. Di bagian bawah, kita akan elaborasi konsep nothing dari sudut pandang Sartre dan Zizek. Bagi Heidegger, rasio tidak akan mampu memikirkan nothing karena nothing memang tidak ada. Nothing bukanlah hasil negasi dari being. Tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya. Logika negasi bisa terjadi karena berlandaskan ke nothing. Jadi, nothing lebih fundamental dari logika negasi.
Bagaimana pun, manusia bisa menjumpai nothing, bukan merasionalkan nothing. Ketika manusia gelisah maka manusia sedang berhadapan dengan nothing. Gelisah berbeda dengan takut. Karena, obyek takut adalah jelas misal takut kepada ular. Dengan menyingkirkan obyek ular maka rasa takut menjadi hilang. Sementara, obyek dari gelisah adalah tidak ada, nothing. Sehingga obyek dari gelisah tidak bisa disingkirkan karena memang tidak ada.
Gelisah memikirkan masa depan negara. Gelisah karena negara “tidak ada” masa depan, nothing. Dengan gelisah menghadapi nothing ini, manusia berpotensi menjadi manusia seutuhnya, menjadi dasein otentik. Apakah Anda pernah gelisah?
4.6 Bad Faith
Bad-faith, keyakinan-buruk, adalah konsep sangat penting dalam eksistensialisme Sartre. Barangkali, Sartre adalah filsuf paling sukses sepanjang sejarah ketika filsuf tersebut masih hidup. Sartre berhasil merumuskan eksistensialisme filosofis, sedemikian hingga, masyarakat luas memahami, menerima, dan menerapkan eksistensialisme di masa itu juga. Sementara filsuf besar lainnya – misal Parmenides, Ibn Arabi, Sadra, Hegel, Heidegger – baru bisa dipahami secara bertahap ide-ide besar mereka setelah mereka wafat.
Eksistensialisme Sartre mengelompokkan eksistensi menjadi dua: being-in-itself dan being-for-itself. Being-in bersifat afirmasi. Misal, meja adalah being-in. Meja mengafirmasi diri, “Saya adalah meja.” Dengan demikian, jelas identitas meja adalah meja.
Sementara, being-for justru tidak afirmasi sehingga lemah dalam identitas diri. Being-for justru bersifat negasi. “Saya adalah pegawai tetapi bukan pegawai seperti ini.” “Saya adalah pemikir tetapi bukan pemikir seperti ini.” Atau, lebih singkatnya langsung negasi. “Saya bukan orang yang seperti ini.”
Kesadaran manusia adalah being-for. Bahkan, satu-satunya being-for. Sementara, being yang lain adalah being-in. Karakter negatif dari being-for bukanlah suatu aib, bukan keburukan. Justru, karakter negatif dari being-for adalah keistimewaan. Karena being-for selalu negasi maka being-for selalu berubah. Jadi, being-for selalu dinamis.
Dan, negasi bersifat bebas, freedom. Being-for, manusia, bebas menolak apa pun. Keyakinan terhadap freedom inilah keyakinan yang baik: good faith. Bahkan, Sartre mendefinisikan manusia adalah freedom.
Tetapi, manusia bisa memiliki keyakinan buruk: bad-faith. Yaitu keyakinan yang menganggap diri mereka tidak bebas. Menganggap diri mereka tidak bisa berubah. Menganggap diri mereka memang begitu adanya. “Saya memang seperti ini.”
Bad-faith mengubah being-for menjadi being-in. Mengubah freedom menjadi keterpaksaan. Bad-faith adalah petaka besar. Lebih parahnya, pada analisis akhir, setiap keyakinan adalah bad-faith.
Eksistensialisme Sartre ini, terbukti, berhasil mengobarkan semangat juang pada masanya dan berikutnya. Barangkali, karena konsep freedom yang begitu kuat pada Sartre.
Jadi, apa realitas paling fundamental? Realitas paling fundamental adalah eksistensi atau being.
Tetapi, Sartre melakukan analisis lanjutan. Being-in adalah materi. Dan, being-for adalah nothing. Sehingga, maha karya Sartre berjudul “Being and Nothingness.”
Lebih fundamental mana antara being-in dan being-for. Jika being-in lebih fundamental maka menjadi materialisme. Sedangkan, jika being-for lebih fundamental maka menjadi nothingness. Eksistensialisme menjadi nihilisme.
Apa makna-ada? Makna-ada adalah freedom.
4.7 Nothingness Void
Zizek (lahir 1949) melangkah lebih berani dengan menyatakan “void” adalah “less than nothing.” Void adalah realitas paling fundamental. Di sini, kita perlu mulai membedakan antara void dengan nothing.
Negasi dari being adalah nothing. Tetapi, negasi dari nothing bukan kembali sebagai being. Negasi dari nothing adalah void. Kita bergerak dari oposisi biner, being versus nothing, menjadi perputaran-roda-tiga.
Himpunan angka di atas adalah untuk memudahkan saja. Being adalah beragam sebagaimana bilangan angka positif. Nothing hanya tunggal yaitu 0. Tetapi, void adalah “less than nothing” yaitu kurang dari 0. Void beragam juga misal -1, -2, dan seterusnya. Void, meski hampa, adalah mengandung segala keragaman.
Badiou (lahir 1937) mengajukan klaim yang gamblang, “Matematika = ontologi.” Matematika adalah ontologi dan ontologi adalah matematika. Badiou memanfaatkan teori himpunan, khususnya himpunan Cantor, untuk menguatkan klaim itu. Bila kita sandingkan dengan konsep matematika fiksional, maka, kita akan mendapat pemahaman yang lebih menarik.
Nothing = 0 = ketiadaan
0 = 0 {0} = 1 {{0}} = 2 {{{0}}} = 3
dan seterusnya.
Semua bilangan positif sejatinya adalah himpunan dari 0 atau kosong. Nothing adalah landasan dari being. Atau, being bila kita analisis lebih mendalam maka kita temukan nothing. Karena nothing ini beragam, dalam representasinya, maka kita sebut sebagai void.
Pandangan di atas merevisi pandangan kita pada umumnya. Kita melihat satu batu adalah 1 dan dua batu adalah 2. Sehingga, angka 1 dan 2 adalah simbol dari realitas batu yang nyata di depan kita. Begitu juga, ketika, kita menghitung 2 + 1 = 3 adalah ada dua batu kemudian di tambah satu batu terkumpul tiga batu. Sedangkan, kosong adalah tidak adanya batu. Kita tidak menemukan batu nyata. Matematika fiksional, sebagai ontologi, merevisi itu semua.
Ontologi matematika fiksional justru menyatakan yang paling fundamental adalah 0 atau nothing itu. Atau, karena beragam kita sebut sebagai void. Lalu, “Apakah realitas batu adalah void?”
Benar. Realitas adalah representasi dari void. Realitas adalah presentasi dari presentasi. Karena, presentasi ini bisa terus-menerus tak terbatas maka realitas juga tak terbatas. Dengan demikian, disimpulkan bahwa realitas fundamental adalah nothing atau void.
Lebih fundamental mana antara nothing versus void?
Secara ontologis matematika fiksional, nothing lebih fundamental dari void. Tetapi, muncul pertanyaan, mengapa dari nothing kemudian muncul void atau muncul being? Bukankah nothing adalah hampa, damai, abadi?
Kita perlu memilih void lebih fundamental dari nothing. Dengan menganalisis void, kemudian, kita menemukan nothing. Void adalah kehampaan yang penuh keragaman. Kehampaan yang hamil besar. Kehampaan yang siap meledak. Big bang.
“Mengapa muncul being tidak nothing?”
Karena void siap meledak, void menyimpan energi dahsyat tak terbatas, nothing tidak akan mampu menahan energi besar dari void. Bahkan, void itu sendiri tidak sanggup menahan energi yang dikandungnya. Meledak. Big bang. Maka hadirlah being dan sirna nothing.
Bagaimana pun, void berbeda dengan being. Sehingga, void tidak bisa dibatasi karena void memang hampa. Logika manusia adalah logika terhadap being. Logika terhadap “presentasi dari presentasi.” Logika ini tidak bisa deterapkan kepada void. Atau, void akan selalu melanggar aturan logika. Void selalu menembus batas. Kajian mendalam terhadap realitas akan menemukan kebuntuan logika, menemukan inkonsistensi, menemukan kebingungan. Karena makin mendalam kajian, maka, makin mendekati void.
Fisika quantum, relativitas umum, ontologi matematika, makna being, evolusi kehidupan, misteri kesadaran, enigma freedom, rahasia ketuhanan, arah sejarah, realitas politik, dominasi ekonomi, indahnya cinta, cantiknya bidadari, lagu merdu, dan lain-lain akan menunjukkan kebuntuan logika. Justru, ketika logika buntu, maka, makin dekat dengan realitas sebenarnya, yaitu void.
4.8 Alternatif Topologi
Selanjutnya, kita akan mempertimbangkan tiga alternatif topologi. Kemudian, kita akan mengkaji mana yang lebih fundamental antara being atau nothing atau void.
A. Topologi Being
Realitas fundamental adalah being, wujud, atau eksistensi. Being yang tunggal ini membentuk topologi dengan gradasi dan modulasi sehingga tercipta keragaman. Jadi, being adalah tunggal dan beragam. Selain being adalah tidak nyata dan tidak signifikan.
B. Topologi Kombinasi
Realitas fundamental adalah kombinasi antara being dengan void. Meski being adalah yang paling nyata, tetapi, void memiliki peran khusus yang penting sehingga tercipta keragaman being. Dari satu sisi, tampak hanya being yang eksis, hanya being yang bisa ditemukan. Dari sisi lain, setiap being membalut, atau dibalut oleh, void. Jadi, realitas fundamental adalah kombinasi being dan void.
C. Topologi Void
Realitas fundamental adalah void, ketiadaan, atau nothing. Void membentuk topologi dengan modulasi dan gradasi sehingga muncul keragaman void. Orang bisa mengira keragaman void ini tampak seperti keragaman being. Pada analisis lebih mendalam, hanya void yang menjadi dasar fundamental segalanya. Jadi, realitas fundamental adalah void.
Mana yang lebih kuat dari tiga deskripsi di atas? Masing-masing topologi memiliki argumen yang sama kuat – kita sudah membahas di bagian-bagian sebelumnya. Tetapi, kita dituntut untuk memilih topologi mana yang lebih argumentatif.
Satu kelemahan utama dari topologi void adalah sulit meyakinkan hadirnya keragaman, sulit menunjukkan multiplisitas. Meski pun, para pendukung void memiliki argumen untuk itu, untuk menjelaskan multiplisitas. Sehingga, dengan pertimbangan itu, deskripsi paling kuat adalah topologi being.
Atau, bila kita susun berdasar argumen paling kuat adalah: topologi being, lalu topologi kombinasi, terakhir topologi void.
Tetapi, topologi being memang mengandung resiko klaim metafisika. Ada pihak tertentu yang bisa meng-klaim paling mengetahui being, paling mengetahui realitas. Sehingga, mereka bisa mengklaim sebagai paling benar, penentu kebenaran, atau bahkan penentu kekuatan politik. Sementara, topologi void terhindar dari resiko klaim paling benar. Karena realitas fundamental adalah void, maka, tidak ada pihak yang bisa mengetahui void secara pasti. Void, karena tidak ada, maka tidak bisa diketahui secara pasti. Dengan demikian, topologi void lebih terbuka terhadap demokrasi klaim kebenaran.
Resiko klaim kebenaran seperti di atas bisa dihindari dari topologi being. Karena realitas fundamental being adalah freedom itu sendiri. Sehingga, klaim kebenaran adalah klaim pembebasan, klaim freedom. Tidak ada yang bisa mengikat being. Tidak ada yang bisa membatasi wujud. Wujud sejati adalah freedom itu sendiri, kebebasan murni.
Di bagian selanjutnya, kita akan membahas ragam alternatif being dan void ini dengan lebih dinamis dalam tema topologi.
5. Topologi
Apakah “being” lebih prior dari “nothing” atau sebaliknya?
Untuk menjawab pertanyaan fundamental itu, saya mengusulkan topologi guna memberikan gambaran lebih jelas. Topologi adalah struktur geometri yang tidak berubah akibat perubahan bentuk. Misal cincin, gelang, dan donat adalah struktur geometri dengan topologi yang sama (homeomorphism). Bahkan donat bisa berubah menjadi bentuk cangkir kopi, masih dengan topologi yang sama.
“Being” adalah realitas fundamental tunggal dengan topologi yang sama tetapi strukturnya bisa berubah dengan dinamis. Sehingga, “being” bermanifestasi dalam keragaman semesta. Atau, justru, “nothing” yang memiliki struktur geometri dengan topologi yang tetap sama? Kita akan menyimpulkannya di bagian akhir tulisan ini.
5.1 Being atau Barzakh
Being atau Barzakh adalah realitas yang ada di hadapan kita. Meja, pohon, kursi, manusia dan lain-lain adalah being atau barzakh. Pikiran kita, kesadaran kita, subyektivitas kita juga bisa kita anggap sebagai being meski perlu kita kaji lebih mendalam.
Barzakh atau barza adalah titik temu, ruang temu, antara cahaya dan gelap, antara being dan void. Dengan demikian, barza kita pandang sebagai netral. Bagi pendukung cahaya, barza adalah cahaya. Bagi pendukung void, barza adalah void.
Sedikit ilustrasi barangkali akan memudahkan. Bayangkan di lapangan luas sedang bersinar matahari. Lalu, kita menempatkan papan persegi di lapangan itu sehingga terbentuk bayangan gelap pada tanah lapang yang berbentuk persegi juga. Bagian yang terang dari lapangan adalah cahaya. Bagian yang gelap di bayangan persegi adalah void. Dan, garis keliling persegi yang membatasi void dan cahaya adalah barza. Kita bisa memandang barza sebagai pemisah antara cahaya dan void. Sebaliknya juga bisa, barza adalah penghubung antara cahaya dan void.
Semua realitas yang kita kenali di alam ini adalah barza. Meja, kursi, pohon, bulan, dan lain-lain adalah barza yang merupakan perpaduan antara cahaya dan void.
Selanjutnya, untuk mengkaji barza, kita bisa mengambil sudut pandang obyektif atau subyektif.
5.2 Quantum Relativity
Quantum Relativity adalah bidang kajian fisika paling canggih saat ini. Barangkali, di masa depan, kajian fisika ini bisa berubah secara fundamental. Kajian sains, misal fisika, bersifat obyektif. Tetapi teori quantum mulai meragukan obyektivitas sains. Karena, kesadaran pengamat mempengaruhi perilaku partikel quantum. Yang lebih menarik, teori quantum beda dengan teori Newton. Di mana, teori Newton diyakini benar sebagai model fisika alam raya apa adanya. Sementara, teori quantum mengakui diri sebagai “interpretasi” terhadap alam raya. Selanjutnya, lebih tajam lagi, berkembang “interpretasi” terhadap teori quantum. Terciptalah interpretasi terhadap interpretasi.
Demikian juga, teori relativitas menyatakan bahwa perilaku pengamat, misal kecepatan geraknya, mempengaruhi hasil pengamatan. Obyektivitas berjalin kelindan dengan subyektivitas.
5.3 Cahaya vs Void
Cahaya vs Void adalah ontologi paling fundamental. Perspektif “cahaya” meyakini bahwa realitas adalah benar-benar ada secara positif bagai cahaya. Karena cahaya begitu nyata maka pikiran kita tidak memadai untuk “mendefinisikan” cahaya. Justru, sebaliknya, cahaya bisa mendefinisikan pikiran.
Perspektif “void” meyakini bahwa realitas sejati adalah “tidak ada” atau “nothing” atau “less than nothing.” Semakin mendalam kita mengkaji realitas maka kita akan menemukan ruang kosong. Tentu saja, pikiran kita tidak akan mampu memahami nothing itu. Karena nothing memang tidak ada.
Baik perspektif cahaya atau pun void mengakui, pada akhirnya, kita akan menemui paradoks.
Ketika kita mengamati keliling bayangan persegi di tanah lapang terjadi paradoks. Keliling persegi itu adalah cahaya sekaligus bukan cahaya yaitu void.
5.4 Ideal atau Simbol atau Imaji
Ideal atau Simbol atau Imaji meyakini bahwa semua yang kita ketahui adalah sekedar “simbol” untuk kita. Semua realitas adalah realitas untuk kita. Kita tidak akan pernah mengetahui realitas dalam diri mereka sendiri. Ketika kita menemukan realitas mereka maka mereka berubah menjadi realitas untuk kita.
Bahkan, sains yang mengaku obyektif itu sejatinya adalah obyektif untuk kita. Dengan demikian, dengan sudut pandang ini, sains tetap bersifat subyektif. Apalagi pikiran kita, kesadaran kita, atau subyektivitas kita tentu saja bersifat subyektif.
Lalu, realitas dalam dirinya sendiri apakah benar-benar ada? Atau semua “simbol” itu apakah benar-benar ada? Apakah imaji, ideal, dan simbol itu juga ada? Kita menemukan dua macam jawaban yaitu dari perspektif cahaya dan void.
Bagaimana pun sikap idealisme subyektif seperti di atas harus mengakui realitas obyektif diri saya: “kulo.” Tanpa kulo bagaimana bisa ada subyek dan subyektivitas? Dan, kulo tidak tunggal. Ada banyak orang lain, yang merupakan kulo bagi diri mereka masing-masing. Ada ibu kita, ada nenek kita, ada ibu dari nenek kita dan seterusnya. Pada gilirannya, kulo membuka mata. Kulo melihat ada sesuatu yang berbeda dengan dirinya: being atau barzakh. Jadi, barzakh itu ada secara obyektif karena bukan bagian dari kulo.
Akibatnya, klaim subyektif yang kuat itu, sejatinya, berjalin kelindan dengan obyektivitas yang sama kuat.
5.5 Barzakh – obyektif – subyektif.
Barangkali, kita bisa memandang jam 3an yaitu jam yang hanya terdiri dari 3 angka dan berputar tanpa akhir.
(1) Barzakh; realitas obyektif benar-benar nyata di dunia, (2) Obyektif; kajian sains obyektif menunjukkan ada peran subyektif, (3) Subyektif; pandangan subyektif berbasis pada realitas subyek dan barzakh yang obyektif. Kembali ke (1).
Kita, memang, perlu mengkaji realitas ontologi paling fundamental.
5.6 Void-barzakh-cahaya.
Akal manusia, umumnya, membayangkan bahwa dahulu kala, awalnya, tidak ada apa-apa hanya hampa: void. Kemudian, muncul sesuatu yaitu barzakh atau being. Pada akhirnya, barzakh akan hancur dan menuju realitas sejati abadi – cahaya.
Pandangan di atas, kita sebut sebagai prioritas void: kehampaan adalah yang paling utama. Pandangan sebaliknya bisa jadi alternatif: prioritas cahaya.
5.7 Cahaya-barzakh-void.
Sejatinya, yang ada hanyalah cahaya – realitas abadi. Selain cahaya adalah tidak ada, yaitu, void. Pertemuan cahaya dengan void membentuk titik temu, atau garis temu, yaitu barzakh atau being. Semua yang ada di semesta alam raya adalah barzakh.
Struktur geometrinya menjadi: cahaya-barzakh-void. Dengan catatan yang sejatinya ada hanya cahaya. Void adalah tidak ada. Barzakh, tampak, seperti perpaduan dari cahaya dan void. Tetapi void tidak ada. Sehingga, barzakh menjadi ada karena sinaran oleh cahaya.
5.8 Siklus Cahaya Void
Barzakh atau being ada di depan mata kita. Analisis obyektif dengan sains menunjukkan bahwa barzakh tersusun oleh atom, atau partikel subatomik. Makin mendalam kajian, maka, makin tidak ditemukan apa-apa. Hampa. Void.
Void adalah hampa. Murni tidak ada apa-apa sama sekali. Void hanya ada void. Void adalah void. Void tidak bisa dibedakan dengan dirinya sendiri. Void murni tidak bisa dibedakan dengan yang lain, karena tidak ada yang lain, hanya void murni. Pikiran kita tidak bisa membayangkan void murni. Atau, pikiran yang hampa. Void hanya void. Void adalah tunggal. Void adalah esa.
Cahaya sejati adalah tunggal. Cahaya adalah cahaya. Cahaya Segala Cahaya adalah esa. Cahaya tidak bisa dibedakan dengan yang bukan cahaya. Karena, yang bukan cahaya adalah tidak ada. Mata kita tidak mampu menatap Cahaya Segala Cahaya. Pikiran kita tidak mampu memikirkan Cahaya Segala Cahaya. Atau, pikiran tak ada pikiran. Cahaya Segala Cahaya memancarkan cahaya.
Cahaya Segala Cahaya memancarkan Cahaya Pertama. Kemudian memancar Cahaya Kedua. Dan seterusnya memancar beragam cahaya. Cahaya-cahaya itu beda dalam kadar intensitasnya dan bentuknya. Tetapi, mereka semua sama: sama-sama cahaya.
Selanjutnya, pada gilirannya, cahaya bertemu dengan void. Titik temu, garis temu, atau ruang temu antara cahaya dan void adalah barzakh (atau being). Tetapi void adalah tidak ada. Sehingga, void tidak bisa menyebabkan barzakh menjadi ada. Barzakh menjadi ada karena cahaya. Karena cahaya beragam dalam intensitas, dan bentuk, maka barzakh juga beragam. Being atau barzakh memang beragam. Bagaimana pun mereka tetap sama: sama-sama being.
Selanjutnya, kita bisa meringkas menjadi siklus jam 3an atau roda-tiga.
(1) Barzakh atau being adalah realitas nyata di depan kita. Analisis mendalam terhadap being mengarah kepada hampa: void. (2) Void adalah hampa. Void murni adalah tunggal. Void adalah esa. (3) Cahaya Segala Cahaya adalah esa, tunggal. Kemudian, memancarkan Cahaya Pertama dan beragam cahaya, sampai, terciptalah being (barzakh). Kembali ke (1) barzakh.
Alternatif siklus being atau siklus barzakh bisa melalui jalur obyektif atau pun subyektif. Keduanya, sama-sama, menghasilkan siklus roda-tiga seperti di atas.
Jalur obyektif memulai kajian barzakh secara obyektif, misal, melalui sains. Kajian sains mengarah ke void, di mana, void murni adalah tunggal. Cahaya murni juga tunggal. Cahaya Segala Cahaya, pada gilirannya, memancarkan keragaman barzakh, atau being, yang menjadi kajian obyektif sains.
Jalur subyektif memulai kajian dengan meneliti kesadaran diri. Pada level yang canggih, kesadaran diri akan berhadapan dengan nihilisme atau fana yaitu berhadapan dengan void murni. Void adalah tunggal. Cahaya murni juga tunggal. Cahaya Segala Cahaya, pada gilirannya, memancarkan keragaman barzakh, atau being, yang menjadi kajian kesadaran subyektif dan sains obyektif. Siklus tiga-roda terus berputar.
5.9 Filosofi Roda Tiga
Kita mudah memahami bahwa roda terus berputar. Kehidupan terus berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Jarum jam, juga, terus berputar. Bagaimana dengan para pencari kebenaran? Apakah mereka terus berputar? Bagaimana dengan saintis? Bagaimana dengan filosof? Bagaimana dengan politikus? Bagaimana kita semua?
Roda, meski berputar, di saat yang sama, mereka maju. Kita bisa menyaksikan roda sepeda berputar menyebabkan sepeda maju. Kita melihat roda mobil berputar maka mobil maju. Roda berputar seperti sekedar berputar. Tetapi, sejatinya sambil berputar, begerak maju.
Filosofi roda-tiga merupakan ilustrasi yang menggambarkan bahwa setiap usaha kita untuk maju perlu untuk terus bergerak berputar. Begitu roda berhenti dari berputar, maka, dia berhenti dari gerak dan itu masalah besar. Kita perlu membuka diri agar roda-tiga terus berputar, yang pada gilirannya, kita terus bergerak maju.
Barzakh, atau being, adalah titik temu, yang umumnya, bisa kita jadikan sebagai kajian awal dalam model filosofi roda-tiga. Kemudian, kita bisa memilih gerak ke (2) timur atau ke (3) barat. Misal, kita memilih gerak ke timur, pada waktunya, akan sampai ke barat juga, untuk kemudian mencapai (1) barzakh lagi. Alternatifnya, kita bisa memilih mulai dari barat, untuk kemudian, mencapai timur dan kembali ke barzakh.
Bagaimana jika tidak ada barzakh, atau being, yang bisa disepakati sebagai pijakan awal kajian?
Seorang pengkaji tetap bisa mulai kajian awal dari mana saja. Misal kita bisa mulai dari (2) timur. Toh kemudian, kita akan sampai ke (3) barat lalu ke (1) barzakh. Dan, filosofi roda-tiga terus berputar.
Timur bisa saja berkontradiksi dengan barat. Tetapi, bisa juga timur hanya berbeda dari barat. Atau, timur sekedar tidak masuk kategori dari barat. Dengan beragam alternatif itu, kita perlu menjaga dinamika perputaran roda-tiga.
Catatan Analisis
Di bagian akhir ini, saya akan memberikan beberapa catatan analisis yang bisa kita pandang sebagai kesimpulan terbuka. Apa realitas paling fundamental?
1. Perspektif yang meyakini realitas fundamental adalah being atau pun realitas fundamental adalah void, sama-sama, memiliki keunggulan argumentasi.
2. Di antara beragam keunggulan, masing-masing argumen memiliki kelemahan. Pandangan realitas fundamental being memiliki lebih sedikit kelemahan dibanding realitas fundamental void. Karena itu, realitas fundamental being lebih tepat sebagai topologi realitas fundamental.
3. Apapun pilihan perspektif kita, being atau void, akan tetap terjadi dinamika filosofi roda tiga. Karena itu, di antara beragam perspektif yang berbeda tidak harus saling meniadakan. Mereka justru bisa saling belajar memperbaiki perspektif masing-masing untuk terus bergerak maju. Penting, bagi kita, untuk terus membuka diri dengan cara berpikir-terbuka.
Pertanyaan ontologi fundamental, yaitu question-of-being, saya bahas di tulisan terpisah. Selamat membaca.
Seorang anak muda kagum ke saya. Dia mengagumi “Trik 7 Detik Matematik Paman APIQ.”
“Paman APIQ ini jago matematika, serba bisa semua ya?” kata anak muda itu. “Saya hanya belajar matematika dua jenis saja.”
“Hah…? Hanya dua jenis tapi bisa semua matematika. Apa saja itu?” anak muda itu penasaran. “Pertama, saya belajar matematika dasar. Dan, kedua, dasar matematika.”
Sayangnya, dua jenis matematika itu justru sering terlewatkan dalam dunia pendidikan matematika Indonesia. Akibatnya, matematika menjadi terasa begitu sulit bagi banyak orang. Kita, bagaimana pun, bisa menemukan solusi untuk masalah itu.
1. Matematika Dasar 1.1 Onde Milenium 1.2 Segitiga Ganjil 1.3 Integral Gendut 1.4 Guru tanpa Guru
2. Dasar Matematika 2.1 Epistemologi dan Etika 2.2 Logika Matematika 2.3 Ontologi
3. Edukasi Matematika 3.1 Edukasi Dasar 3.2 Pendidikan Guru 3.3 Investasi Bodong
Dalam tulisan ini, kita akan kembali mengangkat pentingnya tema matematika dasar dan dasar matematika. Memang disayangkan, di berbagai universitas, tema matematika dasar sering ditinggalkan. Atau, setidaknya, hanya mendapat sedikit porsi pembahasan. Padahal, kita memerlukan inovasi matematika dasar untuk generasi muda.
Demikian juga, dasar matematika tampak masih jauh untuk menjadi kajian utama. Filosofi matematika, khususnya ontologi matematika, nyaris tidak pernah menjadi kajian utama. Barangkali, aplikasi penerapan matematika untuk keperluan industri bisnis lebih menarik perhatian bagi banyak kalangan.
1. Matematika Dasar
Barangkali, matematika dasar adalah yang paling penting, yang kita butuhkan saat ini. Generasi muda kita, yang masih sekolah SD-SMP-SMA, mereka ada sekitar 50 juta siswa sedang menantikan inovasi kita untuk mengajarkan matematika dasar secara kreatif. Ditambah bayi yang baru lahir, usia dini, dan taman kanak-kanak, mereka semua menanti inovasi pendidikan matematika untuk anak usia dini.
Matematika dasar adalah matematika yang diperlukan oleh anak sejak bayi, TK, SD, SMP, dan SMA. Sementara, matematika yang dipelajari secara umum di S1, S2, dan S3 adalah matematika menengah atau matematika tinggi.
Berikut ini, beberapa contoh inovasi matematika dasar yang menjadikan anak-anak lebih senang belajar matematika.
1.1 Onde Milenium
Saya mengembangkan permainan onde milenium yang menjadikan anak-anak usia dini sampai SD suka memainkannya. Dengan permainan onde milenium, anak-anak bersenang-senang memahami angka (bilangan) dasar. Mereka bersuka ria, sambil bermain, memahami konsep satuan, puluhan, dan ratusan. Tentu saja, anak-anak jadi mahir operasi penjumlahan, perkalian, pengurangan, dan pembagian.
1.2 Segitiga Ganjil
Rumus Pythagoras, barangkali, adalah rumus paling terkenal bagi seluruh siswa SD-SMP-SMA. Di saat yang sama, rumus Pyhtagoras adalah yang paling menyebalkan. Siswa disuruh menghitung kuadrat satu sisi, lalu, ditambahkan dengan kuadrat sisi lainnya. Dan, terakhir, siswa disuruh menghitung balik akarnya untuk mendapatkan nilai sisi miring (hipotenusa).
Saya berinovasi mengembangkan segitiga-ganjil yang menjadikan siswa bergembira bersama segitiga Pythagoras. Tidak harus kuadrat dan akar lagi.
(3, 4, 5) maka sisi miring c = 5 adalah 4 + 1
(5, 12, c) maka c = 12 + 1 = 13
(7, 24, c) maka c =
(9, 40, c) maka c =
Tentu saja, kita juga bisa mengembangkan segitiga genap. Jika ganjil ditambah 1 maka genap ditambah 2. Contoh (4, 3, 5), (6, 8,10), dan (8, 15, 17). Bagi yang berminat dengan segitiga ganjil dan genap silakan merujuk ketulisan saya yang terdahulu atau merujuk ke video di youtube pamanapiq.
1.3 Integral Gendut
Bagi siswa SMA, barangkali bab integral adalah yang paling sulit untuk dipahami. Saya berinovasi mengembangkan integral kurva gendut, di mana, untuk menghitung luas kurva fungsi kuadrat cukup dengan,
L = (2/3)a.t
Hitunglah luas wilayah yang dibatasi sumbu X dan kurva fungsi kuadrat yang melalui (0, 0) dan (0, 6) [panjang alas a = 6] serta titik puncak (3, 4). [tinggi = 4].
Siswa SMA sudah kesal duluan karena harus bersusah payah mencari rumus fungsi kuadrat, dan kemudian, mengintegralkan dari batas-batas yang tepat.
Siswa jadi bergembira dengan mengenal kurva-gendut.
L = (2/3)a.t = (2/3).6.4 = 16
Dan masih banyak inovasi matematika dasar yang bisa terus kita kembangkan.
1.4 Guru Tanpa Guru
Masalah kita di matematika dasar adalah guru tanpa guru. Guru matematika SD tidak pernah, atau sedikit sekali, belajar cara mengajar matematika SD. Ketika kuliah, calon guru SD tersebut lebih banyak belajar matematika menengah, yaitu matematika untuk tingkat S1. Tiba saatnya mereka jadi guru SD maka mereka hanya mencoba-mencoba sebisanya mengajarkan materi matematika SD.
Mereka adalah guru tanpa guru.
Demikian juga calon guru matematika SMP mau pun matematika SMA (sederajat). Ketika kuliah mereka tidak pernah, atau sedikit sekali, mendalami materi matematika SMP SMA.
Kita perlu solusi segera untuk menangani masalah “guru tanpa guru” ini. Pertama, kita bisa merombak kurikulum kependidikan matematika di universitas untuk lebih banyak mempelajari matematika dasar. Kedua, di universitas, didesain suasana yang mendorong mahasiswa dan dosen untuk berinovasi di materi matematika dasar. Ketiga, mengajak peran serta aktif masyarakat luas, lembaga swasta atau peneliti independent, untuk mengembangkan matematika dasar.
2. Dasar Matematika
Dasar matematika tampak masih jauh untuk menjadi kajian utama. Filosofi matematika, khususnya ontologi matematika, nyaris tidak pernah menjadi kajian utama. Barangkali, aplikasi penerapan matematika untuk keperluan industri bisnis lebih menarik perhatian bagi banyak kalangan.
Dasar matematika adalah fondasi matematika. Kajian dasar-matematika meliputi ontologi matematika, logika matematika, epistemologi matematika, dan etika matematika. Meski dasar-matematika tampak membahas sesuatu yang abstrak, tetapi, kita bisa membahasnya dengan bahasa yang lebih ringan mudah dimengerti.
2.1 Epistemologi dan Etika
Etika mengkaji alasan mengapa kita perlu belajar matematika. Barangkali agar nilai sekolah bagus, dapat melanjutkan kuliah, lalu berhasil mendapat pekerjaan yang mapan. Apakah etika seperti itu bisa diterima?
Ataukah tujuan belajar matematika adalah agar kita menjadi lebih paham konsep matematika, untuk kemudian, bisa menerapkan teori matematika dalam kehidupan masyarakat yang lebih baik? Atau ada tujuan lain dalam belajar matematika? Misal, bisar cepat kaya? Menang kompetisi? Dan lain-lain.
Epistemologi mengkaji bagaimana siswa, atau kita, bisa memahami konsep matematika. Barangkali bisa dengan cara menghafal rumus. Atau, dengan pembuktian suatu teorema. Atau dengan mempraktekkannya di dunia nyata dan simulasi. Dan, masih banyak alternatif lainnya.
Logika tampak jelas, seperti, sudah benar dengan begitu adanya. Maksudnya, misal, 2 + 3 = 5 adalah benar dengan sendirinya. Tetapi, logika apa yang bisa memastikan pernyataan matematika seperti itu bernilai benar dengan sendirinya?
Bila kita mengkaji dengan serius, nyatanya, tidak selalu mudah membuktikan kebenaran suatu pernyataan matematika. Bahkan, kita juga bisa bertanya, “Apa itu kebenaran?”
Bagi yang berminat mendalami beragam sistem logika matematika silakan merujuk ke tulisan saya yang dahulu.
2.3 Ontologi
Ontologi matematika, barangkali, menjadi tema matematika paling serius. Ontologi mengkaji, “Apa sejatinya matematika?”
Ketika kita menyebut “3 jeruk” maka apa yang dimaksud dengan “3”? Untuk “jeruk” barangkali bisa kita lihat bendanya ada di alam fisik. Tetapi, angka “3” itu sendiri tidak secara langsung kita temukan di alam fisik. Obyek matematika seperti itu adalah obyek abstrak.
Apa sejatinya obyek abstrak dari matematika? Apakah benar-benar ada di alam nyata? Atau, hanya fiksi belaka? Atau, memang ada karena diciptakan oleh intuisi pikiran manusia?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ontologis seperti itu silakan merujuk ke tulisan saya terdahulu.
3. Edukasi Matematika
Kita mempertimbangkan edukasi matematika, setidaknya, ada tiga sasaran. Edukasi matematika dasar untuk siswa dari bayi sampai SMA. Edukasi matematika untuk calon guru, calon pengajar, matematika. Dan, edukasi matematika untuk masyarakat luas, misalnya, mengenali angka-angka investasi bodong.
3.1 Edukasi Dasar
Pendidikan matematika dasar untuk tingkat SD, SMP, dan SMA sebaiknya menitik-beratkan kepada kedalaman pemahaman siswa. Bukan keluasan materi yang tercakup dalam matematika. Hasrat untuk meraih keduanya, kedalaman dan keluasan, hampir dipastikan gagal. Kedalaman pemahaman hanya bisa diraih dengan kurikulum yang fokus. Jangan sampai kurikulum seluas samudera tapi kedalaman hanya 1 mili.
Solusi utama untuk edukasi dasar itu adalah dirancangnya kurikulum yang “sedikit tapi menggigit”. Hanya sedikit beban kurikulum tetapi memberikan hasil maksimal. Lebih lengkap tentang kurikulum ini silakan baca tulisan saya terdahulu.
3.2 Pendidikan Guru
Solusi pendidikan calon guru matematika, seperti saya sebut di atas, perlu menambah porsi matematika dasar dan dasar matematika. Barangkali, usulan saya, struktur beban kuliah (SKS) adalah:
50% matematika menengah dan tinggi 45% matematika dasar (disesuaikan TK SD SMP SMA) 5% dasar matematika
Universitas perlu mangajak masyarakat luas dan para profesional untuk ikut serta mengembangkan matematika dasar.
Ketika guru bertugas mengajar, disediakan program pelatihan berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas guru di bidang matematika dasar. Meski guru berusaha berinovasi dalam mengajar di kelas, guru tetap perlu dibantu dengan inovasi-inovasi terbaru dari para pakar profesional.
3.3 Investasi Bodong
Kita bertanggung jawab untuk mendidik masyarakat luas agar waspada dengan penipuan matematika, misal, berkedok investasi tapi bodong. Kita bisa menyusun kriteria investasi bodong, misalnya,
keuntungan per tahun lebih dari 50% atau per bulan lebih dari 5% (keuntungan terlalu besar maka perlu diwaspadai.)
transaksi dengan harga dan produk yang wajar dibanding pasar terbuka (harga terlalu murah atau terlalu mahal maka perlu diwaspadai.)
kepatuhan terhadap regulator misal OJK atau lainnya (tidak terdaftar resmi OJK maka perlu diwaspadai.)
Masih banyak yang bisa kita kembangkan untuk memajukan dunia pendidikan. Bagaimana menurut Anda?
Benar, matematika pasti benar. Bahkan, di saat ini, matematika berpadu dengan sains dan teknologi sehingga makin hebat lagi. Kebenaran matematika ini memberi kemajuan besar kepada umat manusia. Kajian sosial politik, saat ini pun, juga harus menggunakan matematika, misalnya, data statistik. Begitulah pandangan umum. Kita akan mengkaji lebih dalam.
Matematika ada di mana-mana dan selalu benar. Apakah matematika sehebat itu?
Matematika selalu benar, sejauh, mereka tetap sebagai matematika. Mereka membahas esensi ideal sehingga selalu benar. Tetapi, bila matematika digunakan untuk mengkaji realitas nyata maka matematika bisa bernilai salah juga. Matematika adalah beragam.
1. Kajian Esensi Ideal 2. Matematika Tidak Konsisten 3. Keragaman Matematika 4. Tanda Tanya Ontologi 5. Filosofi Matematika Sakina 6. Diskusi 6.1 Makna Realitas 6.2 Argumen Tak Terbantahkan 6.3 Kulminasi Metafisika
Kita perlu membedakan antara esensi dan realitas. Keduanya saling berhubungan erat, meski berbeda, bahkan sangat berbeda.
“2 jeruk + 3 jeruk = 5 jeruk”
Jeruk adalah realitas di dunia fisik yaitu buah jeruk. Sedangkan, angka 2 + 3 = 5, adalah esensi. Selama matematika fokus kepada esensi, 2 + 3 = 5, maka matematika selalu benar.
Begitu bergeser membahas realita, bisa berbeda. Misal, 2 jeruk + 3 jeruk = 4 jeruk, karena yang 1 jeruk hilang entah ke mana. Realitas bisa berbeda dengan esensi. Matematika bisa salah ketika membahas realitas, misalnya jeruk di atas.
Di bagian awal tulisan ini, kita akan menekankan bahwa kebenaran mutlak matematika itu hanya berlaku kepada esensi. Baik matematika untuk kehidupan sehari-hari, atau pun matematika tingkat tinggi, mereka memang fokus kepada esensi.
Di luar dugaan, pada awal abad 20, matematika terbukti tidak konsisten. Meskipun, matematika tetap fokus membahas esensi ideal, pada analisis tingkat tinggi, terbukti, matematika tidak konsisten. Sehingga, matematika tidak lagi berhak meng-klaim diri selalu benar secara konsisten.
Perkembangan lebih jauh, matematika itu beragam, tidak tunggal. Dan, keragaman matematika ini bisa saling berlawanan. Bila demikian, jenis matematika mana yang benar? Sikap apa yang seharusnya kita pilih? Umumnya, matematika standar, adalah matematika yang membahas angka-angka berdasar teori himpunan. Di masa ini, abad 21, ada matematika membahas “program” komputer. Tentu saja, mereka berbeda jauh. Meski, tetap ada beberapa titik temu.
Pertanyaan lebih serius adalah tentang ontologi matematika: apa sejatinya obyek yang dikaji oleh matematika? Obyek yang dikaji matematika, misal, adalah angka 2, 3, dan seterusnya. Apakah angka-angka seperti itu benar-benar ada di alam realitas? Atau, hanya rekaan imajinasi manusia belaka? Jawaban terhadap masalah ontologis ini, ternyata, juga beragam.
Pada bagian akhir, saya mengusulkan pendekatan filosofi sakina untuk menjawab masalah-masalah fundamental matematika. Pertama, filosofi sakina mengakui adanya keragaman matematika. Kedua, masing-masing “versi” matematika memiliki peran khusus. Ketiga, di antara banyak keragaman matematika itu diharapkan mereka saling belajar. Keempat, sebagai umat manusia, kita memilih versi matematika mana paling tepat “diterapkan” pada situasi tertentu. Atau, kita meramu kombinasi beragam versi matematika untuk mendapatkan hasil terbaik. Kelima, bagaimana pun, matematika selalu dinamis – tidak ada titik henti.
1. Kajian Esensi Ideal
Esensi berbeda dengan realitas, seperti kita sebut di atas. Matematika memiliki keunggulan mampu mengenali dan mengungkapkan esensi secara ideal: jelas dan tegas. Berbeda, misalnya, dengan bahasa yang juga mampu mengungkapkan esensi tetapi tidak sejelas atau setegas matematika. Di sisi lain, bahasa memiliki keunggulan dengan karakternya yang lebih kreatif imajinatif.
Mari kita ambil contoh realitas jeruk lagi. Esensi jeruk adalah jumlahnya, beratnya, bentuknya, warnanya, dan lain-lain. Dalam hal ini, kita fokus kepada jumlah jeruk, sebagai salah satu yang mewakili esensi jeruk. Sehingga, kita bisa membuat pernyataan matematika.
“2 jeruk + 3 jeruk = 5 jeruk”
Lebih tegas, kita ubah menjadi pernyataan esensi jumlah.
E: “2 + 3 = 5”
Pernyataan esensial E: “2 + 3 = 5” selau benar kapan pun dan di mana pun. Dalam realitas, pernyataan esensial matematika ini, kita gunakan untuk memahami: 2 jeruk + 3 jeruk = 5 jeruk; 2 sendok + 3 sendok = 5 sendok; 2 menit + 3 menit = 5 menit.
Russell (1872 – 1970) berpandangan bahwa jeruk, sendok, dan waktu menit adalah contoh penentu kebenaran pernyataan esensial di atas. Pernyataan esensial E menjadi benar karena realitas jeruk, sendok, dan waktu menunjukkan benar. Realitas-realitas lain pun bisa menunjukkan kebenaran esensial ini.
Cara pandang seperti di atas menempatkan realitas jeruk lebih tinggi dari pernyataan esensial matematika. Realitas empiris, pada akhirnya, yang menentukan apakah pernyataan matematika bernilai benar atau salah. Orang pada umumnya, tentu, boleh berpandangan seperti itu. Tetapi, para peneliti perlu lebih jauh untuk mengkaji. Pandangan Russell pun berubah seiring waktu.
Pada gilirannya, Russell memberi kekuatan lebih besar kepada pernyataan esensial matematika. Maksudnya, 2 jeruk + 3 jeruk = 5 jeruk bernilai pasti benar, karena secara esensial terbukti harus benar 2 + 3 = 5. Jika hasilnya, dalam realitas, adalah 4 jeruk maka pasti ada yang menghilangkan 1 jeruknya. Dengan demikian, posisi ditukar. Kebenaran esensial matematika menjadi lebih kuat dari realitas nyata jeruk.
Para ilmuwan menerapkan cara berpikir seperti itu, kebenaran esensial matematis adalah lebih kuat. Sains berhasil merumuskan teori gravitasi, relativitas, quantum, sampai penerapan teknologi tinggi, dan lain-lain.
Lalu, pertanyaan berikutnya, “Bagaimana kita bisa menentukan kebenaran pernyataan esensial 2 + 3 = 5?”
Kita tidak bisa lagi menjawabnya karena terbukti di alam realitas semacam jeruk. Kita, pada momen ini, sudah membaliknya bahwa realitas jeruk menjadi benar karena ada esensi matematika. Jadi, kebenaran esensi matematika ditentukan oleh apa?
Russell menjawabnya, “Kebenaran esensial ditentukan oleh logika.” Jawaban yang masuk akal. Secara logika, kita sadar bahwa 2 + 3 = 5, memang, benar. Masalahnya, logika Aristoteles sampai logika Boolean saat itu, tidak mencukupi sebagai landasan berpikir matematis aritmetika.
Logika Aristoteles “hanya” membahas silogisme untuk mengambil kesimpulan partikular masuk dalam universal tertentu. Tidak ada proses matematika di dalamnya.
Frege (1848 – 1925), lebih awal dari Russell, menyadari kesulitan itu. Frege menyusun logika relasional yang didasarkan pada aksioma aritmetika. Russell menyambut hangat logika relasional. Semua kebenaran pernyataan esensial, dan realitas, bisa dibuktikan dengan logika relasional.
Sampai di sini, terbukti, matematika benar secara mutlak. Benarkah seperti itu?
Pada tahun 1900 (atau 1901), Russell menemukan cacat pada logika relasional dari Frege. Logika relasional akan mengarah pada kontradiksi yang tidak bisa ditangani. Kontradiksi ini, pada akhirnya, kita kenal sebagai paradoks Russell.
Dengan paradoks itu, kebenaran matematika tidak mutlak lagi. Atau, kita perlu sistem baru agar bisa menangani paradoks. Bagian berikutnya akan membahas ini sebagai matematika yang tidak konsisten.
Mari kita ringkas diskusi kita sampai di sini. Secara umum, kebenaran matematika berlaku mutlak benar untuk pernyataan esensial. Sementara untuk pernyataan realitas, matematika masih perlu banyak pertimbangan lain agar bisa dinyatakan sebagai benar.
2. Matematika Tidak Konsisten
Russell adalah pendukung utama logika relasional Frege. Di saat yang sama, Russell adalah orang pertama yang menemukan cacat dari logika relasional. Sebuah cacat yang parah yaitu paradoks Russell. Bagaimana pun, Frege dan Russell adalah ilmuwan. Mereka mengakui cacat itu, untuk kemudian, mencari solusinya.
Sepuluh tahun kemudian atau lebih, Russell menemukan solusi dari paradoks itu. Bersama mentornya, Alfred North Whitehead, Russell menulis buku Principia Mathematica yang memuat solusi atas paradoksnya. Lebih dari itu, Russell memiliki proyek besar untuk menunjukkan bahwa segala kebenaran, pada analisis akhir, adalah kebenaran logika.
Paradoks Russell adalah paradoks yang terjadi karena mengacu diri sendiri. Paradoks ini mirip dengan paradoks “Bohong” tetapi dinyatakan secara formal dalam pernyataan matematika.
B: “Saya berbohong.” P: “Pernyataan ini salah.” R: “H adalah himpunan semua himpunan yang tidak beranggotakan dirinya.”
Semua pernyataan di atas – B, P, dan R – adalah paradoks. Jika B BENAR maka saya bohong, akibatnya, pernyataan saya B adalah SALAH. Sebaliknya, jika B SALAH maka saya tidak bohong, sehingga, pernyataan B BENAR. Paradoks.
Pernyataan R adalah paradoks Russell, dengan menanyakan, apakah H adalah anggota H?
Jika H adalah anggota H maka H harus TIDAK menjadi anggota H. Jika H TIDAK beranggota H maka H harus menjadi anggota H. Paradoks.
Paradoks tukang cukur: Cuki adalah tukang cukur yang mencukur setiap orang dengan syarat hanya orang yang tidak mencukur rambutnya sendiri.
Apakah Cuki mencukur rambutnya sendiri?
Ya; Cuki mencukur rambutnya sendiri. Tetapi paradoks karena Cuki harusnya hanya mencukur orang yang tidak mencukur rambutnya sendiri.
Tidak; Cuki tidak mencukur rambutnya sendiri. Tetapi paradoks karena Cuki pasti mencukur rambut orang yang tidak mencukur rambutnya sendiri; termasuk Cuki.
Solusi paradoks Russell adalah dengan logika predikatif yaitu membatasi suatu pernyataan tidak boleh membahas dirinya sendiri. Contoh paradoks di atas adalah pernyataan yang membahas dirinya sendiri, disebut sebagai pernyataan impredikatif. Pernyataan impredikatif dilarang, dicegah, dalam logika predikatif. Hanya ada pernyataan predikatif. Dengan demikian tidak ada paradoks lagi. Dan, terbukti, logika predikatif aman dari paradoks.
Logika predikatif dari Russell berhasil menyelamatkan matematika, dan logika secara umum, dari paradoks. Benarkah solusi logika predikatif benar-benar tuntas? Tidak juga. Kita bisa menemukan bahwa matematika tidak konsisten.
Godel (1906 – 1978) tidak setuju dengan solusi logika predikatif. Pertama, larangan terhadap pernyataan impredikatif memotong banyak hal-hal penting dalam matematika. Pernyataan impredikatif, sudah terbukti, menjadi landasan kokoh untuk beragam teori matematika.
Kedua, logika predikatif mengantar logika matematika menjadi tidak konsisten atau tidak lengkap. Pembuktian bahwa sistem formal, termasuk logika predikatif, sebagai tidak konsisten atau tidak lengkap, kita kenal sebagai teorema Godel.
Keunggulan teorema Godel adalah, pertama, berlaku untuk semua sistem formal. Kedua, semua sistem formal bisa ditransformasikan ke kode bilangan besar hasil kali bilangan prima berpangkat. Ketiga, kode-kode (bilangan besar) ini berhasil membuktikan bahwa setiap sistem formal tidak konsisten atau tidak lengkap.
Dengan teorema Godel ini, proyek besar logika Russell runtuh berkeping-keping. Russell sendiri tidak bisa berbuat banyak melawan teorema Godel yang sudah terbukti. Wittgenstein (1889 – 1951), murid dari Russell, menolak teorema Godel. Wittgenstein mengkritik teorema Godel mengandung pernyataan impredikatif yang sudah diselesaikan oleh Russell. Tetapi kritik Wittgenstein ini salah sasaran. Teorema Godel tidak berhubungan langsung dengan predikatif-impredikatif. Teorema Godel terdiri dari kode-kode bilangan besar saja.
Setelah sistem logika, dan matematika, runtuh apa tanggung jawab Godel sebagai ahli matematika? Matematika terbukti tidak konsisten. Atau, matematika tidak bisa membuktikan bahwa dirinya konsisten.
Godel mengusulkan ZFC sebagai solusi. ZFC berhasil menyelesaikan paradoks Russell dan mengijinkan pernyataan impredikatif (dengan aksioma separasi). Dan saat ini, ZFC menjadi fondasi hampir seluruh matematika kontemporer. Tetapi, ZFC tidak mampu membuktikan diri sebagai konsisten. ZFC tidak berhasil mengatasi teorema Godel. Sederhananya, ZFC tidak konsisten. Begitu juga, matematika secara umum memang tidak konsisten.
Masalah matematika sebagai tidak konsisten terus menghantui para ahli matematika sampai akhir abad 20. Relevance Logic adalah salah satu solusi merangkul “ketidak-konsistenan” dari matematika dengan gagah berani. Inkonsistensi bukan harus dihindari. Tetapi harus kita hadapi.
Routley (1935 – 1996) menyusun fondasi untuk Relevance Logic (R#, Relevan Mathematics, Paraconsistent Mathematic). Routley adalah ahli matematika lahir di Selandia Baru dan menghabiskan masa tuanya sampai akhir hayat di Bali, Indonesia. Ide dasar dari R# adalah inkonsistensi tidak masalah sejauh tidak meledak. Dan persyaratan “relevance” memastikan inkonsistensi tidak meledak. Dengan demikian, inkonsistensi bisa kita terima. Tidak ada masalah dari teorema Godel lagi.
Resiko inkonsistensi adalah ECQ: ex contradictione Quodlibet – dari kontradiksi bisa apa saja. Jika kita boleh tidak konsisten maka kita bisa membuat pernyataan apa saja – trivial.
M: “Mayoritas rakyat ingin pemilu ditunda.” T: “Mayoritas rakyat TIDAK ingin pemilu ditunda.”
M berkontradiksi dengan T. Jika kontradiksi boleh maka pejabat boleh bilang M. Kemudian, pejabat itu mengatakan maksud dia adalah T. Kontradiksi maka apa pun boleh. Segalanya menjadi tidak ada makna. ECQ. Trivial. Resiko ini yang diamankan oleh R#.
B: “JIKA Biden adalah presiden Indonesia MAKA 2 + 1 = 3.”
Pernyataan B di atas bernilai benar menurut logika klasik atau logika standar. Karena 2 + 1 = 3 adalah BENAR, maka, apakah Biden adalah presiden Indonesia atau bukan, kesimpulan akhir tetap benar. R# menolak B. Karena Biden tidak relevan terhadap pernyataan 2 + 1 = 3.
Untuk bisa menarik kesimpulan dengan valid, menurut R#, perlu ada hubungan relevan antara syarat dan konsekuensi.
R: “JIKA x = 2 MAKA x + 1 = 3.”
Pernyataan R adalah valid. Syarat x = 2 ada hubungan relevan dengan konsekuensi x + 1 = 3. ECQ tidak berlaku dalam R#. Matematika berhasil aman dengan merangkul inkonsistensi, terbentuk, Paraconsistent Mathematics.
Dengan demikian, kontradiksi teorema Godel tidak perlu “meledak” ke bagian matematika yang lain. Matematika secara umum tetap konsisten berdasar R# dan bagian yang tidak konsisten sudah diamankan.
Apakah matematika kembali berhasil meraih kebenaran mutlak bersama R#? Tidak juga. Karena apa yang dimaksud dengan “relevan” bukanlah sesuatu yang mudah. R# hanya memastikan syarat perlu tetapi tidak menjelaskan syarat cukup untuk menjadi relevan. Sehingga, untuk menentukan sesuatu sebagai relevan akan melibatkan suatu interpretasi. Dan, seperti kita tahu, interpretasi adalah beragam. Konsekuensinya, matematika menjadi beragam pula. Kita akan membahas keragaman matematika pada bagian selanjutnya.
Mari kita ringkas ulang pembahasan kita sejauh ini. Matematika dari waktu ke waktu, senantiasa menghadapi kontradiksi diri atau inkonsistensi. Meski esensi matematika bernilai benar secara mutlak, tetapi, inkonsistensi selalu menghantui.
Logika relasional Frege melahirkan paradoks Russell. Logika predikatif Russell melahirkan pradoks teorema Godel – yang tidak bisa diatasi oleh sistem formal matematika. Logika relevan Routley menerima inkonsistensi Godel. Sehingga, terbentuk Paraconsistent Mathematic.
Jadi, inkonsistensi matematika, pada akhirnya diterima dengan lapang dada, termasuk oleh ZFC. Masalah tidak selesai dengan itu. Menerima inkonsistensi menuntut matematika melakukan “interpretasi” yang beragam terhadap relevansi. Tiba saatnya, kita membahas keragaman matematika.
3. Keragaman Matematika
Kita akan melihat lebih banyak lagi keragaman matematika pada bagian ini. Pertama, teori model menunjukkan keragaman matematika sebagai dampak dari keragaman “interpretasi.” Kedua, matematika intuistik berbeda dengan matematika standar karena, matematika intuistik, meyakini obyek matematika sebagai konstruksi intuisi manusia.
Ketiga, teori kategori berbeda lagi karena obyek-obyek matematika hanya bisa memiliki satu kategori saja. Berbeda dengan matematika standar yang, misalnya obyek bilangan 3 adalah, anggota dari beragam himpunan: himpunan bilangan ganjil, bilangan bulat, bilangan prima, dan lain-lain.
Keempat, matematika univalent memandang obyek matematika bukanlah bilangan tetapi “program” komputer. Dengan demikian, univalent memiliki pendekatan yang berbeda karena menerapkan program komputer untuk beragam keperluan matematika.
Kelima, matematika post-data memandang obyek matematika adalah big data yang tersebar luas di media digital. Awalnya, post-data memanfaatkan statistik, fuzzy logic, computing power, dan AI untuk analisa. Seiring waktu, post-data menghasilkan disiplin matematika yang unik.
3.1 Teori Model
Teori model merupakan versi matematika tingkat tinggi nan canggih. Sehingga, tidak mudah membahas teori model. Di sini, kita akan membahas teori model dengan pendekatan yang sangat disederhanakan. Seperti kita sebut di atas, teori model menunjukkan bahwa matematika adalah beragam, bahkan, ketika berada dalam satu versi yang sama.
A: “2 + 3 = 5” B: “6 – 2 = 4” C: … … …
Misal, kita punya banyak pernyataan A, B, C, … sampai ratusan atau lebih. Pernyataan-pernyataan ini bisa dalam bentuk bahasa formal (matematika) atau bahasa natural (bahasa manusia). Dari pernyataan-pernyataan ini, tersirat logika yang mendasarinya. Kita bisa menambahkan aksioma bila diperlukan.
Dari kumpulan pernyataan-pernytaan itu kita bisa membuat teori T. Teori T ini pasti bernilai benar untuk semua pernyataan yang ada. Teori T ini bisa kita sebut sebagai teori sintak. Bagaimana pun, teori T ini tidak memadai secara matematika. Karena teori T selalu benar untuk “masalah” yang ada dalam pernyataan-pernyataan. Tetapi teori T tidak bisa menyelesaikan “masalah” yang berbeda dengan pernyataan-pernyataan yang ada.
“2 – 3 = …?”
Karena, misal, teori T tidak mampu menjawab masalah “2 – 3 = ?” maka kita perlu membuat model M yang mampu menjawabnya. Model M ini mampu menjawab semua pertanyaan yang bisa dijawab oleh T dengan tepat sama. Dan, M mampu menjawab beragam pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh T.
Misal, kita berhasil membuat dua model: M1 dan M2.
M1 menjawab “2 – 3 = -1”. Karena M1 menginterpretasikan T sebagai operasi penjumlahan dan pengurangan pada himpunan bilangan bulat.
M2 menjawab “2 – 3 = 11”. Karena M2 menginterpretasikan T sebagai operasi penjumlahan dan pengurangan pada bilangan modulus 12 (seperti bilangan jam dinding). Jarum jam dinding yang menunjuk angka 2 kemudian diputar 3 langkah mundur maka akan menunjuk angka 11. Sehingga, solusi yang benar, “2 – 3 = 11.”
Model adalah interpretasi dari suatu teori. Kita bisa memperoleh banyak model yang sama-sama sah untuk satu teori yang sama. Dengan demikian, teori model menunjukkan bahwa matematika beragam, bahkan, ketika didasarkan pada teori yang sama.
Beberapa matematikawan mengembangkan proof-theory yang menghindari model. Proof-theory fokus hanya pada pernyataan dalam sistem yang ada. Kemudian mengembangkan struktur logika berdasar teori saja. Dengan demikian, proof-theory lebih kokoh dari teori model. Bagaimana pengembangannya? Bagaimana jangkauan penerapannya? Sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan kokoh. Untuk kepentingan kajian kita, sampai di sini, sudah terlihat ada keragaman yang nyata dalam matematika.
3.2 Matematika Intuistik
Kita hanya akan fokus kepada salah satu perbedaan matematika intuistik dengan matematika standar, matematika klasik. Matematika intuistik selaras dengan filosofi Immanuel Kant (1720 – 1804). Aritmetika adalah intuisi manusia terhadap gerak waktu. Sedangkan, geometri adalah intuisi manusia terhadap ekstensi ruang.
Brouwer (1881 – 1966) mengembangkan fondasi matematika intuistik, yang kemudian, dikembangkan lebih jauh oleh muridnya Heyting. Kelak, kita mengenal Heyting Aritmetic sebagai padanan Peano Aritmetic – di matematika standar.
Matematika intuistik menolak LEM: Law of Excluded the Middle. Sedangkan, matematika standar menerima LEM. Perbedaan aturan logika dan epistemologi ini mengakibatkan perbedaan beragam teorema.
A OR (-A) pasti bernilai benar menurut matematika klasik. Karena tidak ada nilai kebenaran di tengah-tengah antara A dengan (-A). Matematika intuistik (MI) menolak kepastian itu. MI baru mengakui kebenarannya jika kita bisa mengkonstruksi A, atau, mengkonstruksi (-A).
Kita ambil contoh tentang warna lampu lalu lintas di simpang jalan.
Merah OR (tidak Merah).
Matematika klasik, matematika standar, yakin pasti benar. Jika berwarna merah maka benar. Jika tidak merah, misal hijau atau kuning, maka tetap benar.
MI menolak. Karena bisa saja lampu rusak sehingga tidak menyala sama sekali. Atau, bahkan, lampu lalu lintas sudah hilang dicuri orang. MI baru bisa menerima kebenarannya, ketika, kita bisa mengkonstruksi pengetahuan bahwa lampu tersebut nyala berwarna merah (atau bukan merah yakni hijau atau kuning).
MI tampak lebih hati-hati mengambil kesimpulan dibanding matematika standar. Debat tentang bukti bahwa Tuhan ada, seperti diyakini umat beragama, versus bahwa Tuhan tidak ada bagi ateis, barangkali bisa jadi contoh.
Ada OR (tidak Ada).
Sesuai logika klasik, sudah jelas pernyataan di atas benar. Kaum ateis menuntut umat beragama untuk membuktikan bahwa Tuhan ada.
“Tuhan ada. Buktinya alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan.” “Tidak. Itu bukan bukti,” sanggah sang ateis.
“Tuhan ada di sini, di hati ini.” “Bukan. Itu bukan bukti,” sanggah ateis lagi.
Karena umat beragama tidak sanggup membuktikan adanya Tuhan maka, kesimpulannya terbukti, Tuhan tidak ada. Immanuel Kant menolak kesimpulan ini. MI juga menolak kesimpulan ini.
Tantangan bisa dibalik: kaum ateis disuruh membuktikan bahwa Tuhan tidak ada.
“Aku sudah keliling dunia, terbukti Tuhan tidak ada.” “Bukan, itu bukan bukti,” jawab orang beragama.
“Astronot terbang ke luar angkasa, terbukti Tuhan tidak ada.” “Bukan, itu bukan bukti,” sanggah orang beragama lagi.
Karena orang ateis tidak berhasil membuktikan bahwa Tuhan tidak ada maka, kesimpulannya terbukti, bahwa Tuhan ada. Immanuel Kant dan MI, sama-sama menolak kesimpulan itu.
Untuk bisa memastikan “Ada OR (tidak Ada)” bernilai benar kita perlu mengkonstruksi pengetahuan yang menunjukkan bahwa Tuhan ada, atau, mengkonstruksi pengetahuan yang menunjukkan bahwa Tuhan tidak ada. Tanpa kemampuan mengkonstruksi pengetahuan maka kita tidak bisa menyimpulkan apa pun.
Dengan logika yang berbeda seperti itu maka MI memang berbeda dengan matematika standar. Matematika memang beragam.
3.3 Teori Category
Eilenberg (1913 – 1998) dan Lane (1909 – 2005) menyusun teori kategori dengan mengambil “inspirasi” teori fungsi di matematika. Teori kategori mempelajari struktur abstrak matematika, dan lebih jauh, sistem dari struktur itu. Struktur kategori terdiri dari obyek dan mapping (morphism, functor, transformasi natural) yang menghubungkan obyek-obyek dengan aturan fungsi matematika.
Dengan demikian, teori kategori berbeda dengan matematika standar, matematika klasik. Matematika standar mempelajari angka-angka (dan simbol) dalam teori himpunan, sedangkan bagi kategori teori, angka-angka tersebut adalah sekedar obyek. Fokus teori kategori adalah struktur antara obyek-obyek itu yang terhubung melalui mapping. Obyeknya sendiri bisa angka atau lainnya. Misal, obyek kategori bisa saja adalah kategori itu sendiri, terbentuk kategori dari kategori.
Banyak inovasi menarik berkat logika teori kategori. Saat ini, logika kategori menjadi trend sebagai kajian tingkat tinggi paling diminati. (Dalam tulisan ini, saya sering menggunakan istilah functor karena lebih mirip dengan fungsi. Functor bisa saling menggantikan dengan morphisme atau mapping)
Mari kita coba dengan suatu contoh agar lebih jelas.
Apakah karir Anda akan jadi menteri, presiden, atau pengusaha? Teori categori menunjukkan struktur yang tepat untuk mendukung karir Anda. Mari kita coba dengan contoh.
Tempat Lahir = {Kudus, Lamongan, Magelang} Universitas = {UA, UB, UC} Karir = {Menteri, Presiden, Dewan, Bisnis}
Kita memiliki obyek-obyek dari kelas Tempat Lahir, Universitas, dan Karir. Kita bisa menambahkan kelas dan obyek lebih banyak lagi bila diperlukan. Dari obyek-obyek ini, kita bisa membuat relasi functor yang memenuhi sifat identitas, komposisi, dan asosiasi.
Kudus ==> UA ==> Dewan Lamongan ==> UA ==> Dewan Magelang ==> UC ==> Presiden
Obyek-obyek dan functor (dilambangkan panah) membentuk categori. Dari struktur categori di atas, sebagai contoh, kita bisa membaca: orang yang lahir di Kudus maka akan berkarir sebagai Dewan. Lebih dari itu, orang tersebut pasti kuliah di UA (Universitas Airlangga).
Demikian juga, orang yang lahir di Lamongan akan berkarir sebagai Dewan. Sedangkan, orang lahir di Magelang akan berkarir sebagai Presiden. Tentunya, dia kuliah di UC.
Struktur categori ini membangun logika kategori yang begitu kuat. Dengan struktur kategori, kita bisa membaca beragam cabang matematika yang obyeknya berbeda-beda membentuk struktur yang sama. Sehingga, cabang-cabang matematika itu membentuk logika kategori yang sama.
Dari beragam struktur kategori yang berbeda, kita bisa melihat kemiripan-kemiripan dan batas-batasnya. Dengan demikian, kita bisa membuat “peta” lengkap dari matematika yang mencerminkan sistem logika masing-masing.
Dalam contoh praktis, kita bisa memisalkan struktur politik di Indonesia ekivalen dengan struktur politik Malaysia. Sehingga, logika politik yang terjadi di Indonesia ekivalen dengan Malaysia. Meskipun obyek politiknya berbeda, orang-orang dan partainya berbeda, tetapi logika politik mereka sama saja, ekivalen. Dengan demikian, orang Indonesia bisa belajar dari orang Malaysia dan sebaliknya. Jika, misalnya, Brunei memiliki struktur politik yang beda maka kita tidak bisa membandingkan dengan Indonesia secara langsung.
Saat ini, teori kategori menjadi bidang kajian yang sangat aktif. Sehingga, kita berharap akan ada inovasi-inovasi keren dari logika kategori. Dua contoh paling menarik adalah teori topos dan teori type sebagai fondasi univalent.
Topos G adalah kategori dari kategori yang bersifat geometris. Di dalam topos G ini, berlaku aturan-aturan tertentu berdasar struktur geometrisnya. Kita bisa menyusun struktur logika formal L yang berlaku dalam G. Logika L ini bersifat intern dalam G. Logika L adalah formalisasi dari geometri G.
L <==> G
Logika L ini berbeda dengan logika matematika klasik. Karena, logika L disusun setelah terbentuk topos G. Logika L adalah interpretasi dari G. Kita, sebagai matematikawan, yang menyusun logika L berdasar topos G. Sedangkan logika matematika klasik sudah ada sejak awal bahkan sebelum teori matematika klasik dibangun. Logika klasik tidak melibatkan interpretasi dalam penyusunannya. Sementara, logika L dalam G melibatkan interpretasi.
Dengan demikan, teori kategori menambah banyak keragaman matematika yang berbeda dengan matematika standar. Berikutnya, kita akan membahas fondasi univalent.
3.4 Fondasi Univalent
Kalkulator bisa membantu kita menghitung cepat tentang angka-angka. Program komputer bisa membantu kita menyelesaikan persamaan aljabar. Tetapi, komputer tidak bisa membuktikan suatu teorema. Komputer juga tidak bisa menurunkan suatu teorema baru. Fondasi univalent memungkinkan komputer mampu membuktikan suatu teorema. Tentu saja, teorema matematika tingkat tinggi.
Lebih dari itu, fondasi univalent membantu para peneliti untuk menyusun bukti suatu teorema dengan lebih mudah. Bisa dibayangkan betapa beratnya, pembuktian suatu teorema matematika yang memerlukan waktu berbulan-bulan, ternyata ada kesalahan. Dengan fondasi univalent yang berupa program komputer, kita bisa menugaskan komputer untuk membuktikan kebenaran teorema matematika dimaksud.
Pada bagian ini, kita hanya akan menegaskan perbedaan fondasi univalent dengan matematika standar. Sehingga, menambah bukti bahwa matematika memang beragam.
Pertama, fondasi univalent mengandalkan komputer untuk menjalankan tugas-tugas pembuktian teorema. Sementara, matematika klasik mengandalkan kemampuan manusia.
Kedua, fondasi univalent mendasarkan pada teori type. Sementara, matematika klasik pada teori himpunan.
Ketiga, fondasi univalent hanya memerlukan “aturan inferensi” untuk mengembangkan definisi dan logika. Sedangkan, matematika klasik memerlukan “aturan inferensi” dan aksioma.
Keempat, fondasi univalent menolak LEM (law of excluded the middle) sebagaimana matematika intuistik. Sementara, matematika klasik menerapkan LEM. Meski demikian, fondasi univalent bisa membuktikan bahwa LEM berlaku dalam sistem tertentu.
Kelima, fondasi univalent memandang “2 + 3” adalah berbeda dengan “5” meskipun bisa membuktikan bahwa mereka adalah setara atau bernilai sama. Sementara, matematika klasik menganggap mereka tautologi. Yaitu “2 + 3” sama artinya dengan “5”.
Kiranya, dari uraian di atas, bisa kita simpulkan bahwa fondasi univalent memang berbeda dengan matematika klasik. Kita makin yakin bahwa matematika adalah beragam.
3.5 Teori Postdata
Matematika post-data memandang obyek matematika adalah big data yang tersebar luas di media digital. Awalnya, post-data memanfaatkan statistik, fuzzy logic, computing power, dan AI untuk analisa. Seiring waktu, post-data menghasilkan disiplin matematika yang unik.
4. Tanda Tanya Ontologi
Hampir semua pemikir setuju bahwa obyek matematika adalah obyek abstrak (abstrakta). Secara ontologis, kita boleh bertanya, “Apa sejatinya abstrakta itu?”
4.1 Realisme
Realisme menjawab abstrakta itu obyek yang ada secara mandiri dari pikiran manusia. Realisme ini sering kita kenal sebagai Platonis. Obyek matematika adalah form-form ideal dunia platonis.
Godel (1906 – 1978) adalah ahli matematika realis. Matematika yang tidak meyakini realitas obyek matematika, mereka, akan gagal mengembangkan sistem matematika yang konsisten. Paradoks Godel berhasil membuktikan tidak-konsisten dan tidak-lengkap dari setiap sistem matematika non-realis yaitu sistem aksiomatik atau sistem formal.
Tantangan berikutnya adalah mengembangkan sistem matematika berdasar pandangan realisme. Godel memilih ZFC. Meski ZFC tidak sempurna, tetapi, memadai sebagai sistem matematika realis.
4.2 Anti-Realisme
Anti-realisme menjawab bahwa abstrakta itu tidak ada. Obyek matematika itu tidak ada, tetapi, kita menganggapnya sebagai ada agar lebih mudah untuk membahasnya.
Benacerraf (1931 – ) mengembangkan matematika fiksional. Pertama, benar bahwa obyek matematika ada abstrakta. Kedua, karena itu kita bisa mengembangkan matematika berdasarkan obyek abstrakta. Ketiga, pada analisis akhir, abstrakta adalah tidak ada. Atau, abstrakta adalah fiksional.
4.3 Konstruktivisme
Konstruktivisme memandang abstrakta adalah hasil dari konstruksi intuisi manusia. Obyek matematika itu ada sebagai hasil ciptaan intuisi manusia.
4.4 Super-realisme
Super-realisme memandang abstrakta adalah justru yang paling nyata. Segala realitas yang ada adalah manifestasi dari obyek matematika.
Pythagoras dan Galileo adalah tokoh yang meyakini super-realisme matematika. Tegmark (1967 – ) meyakini super-realisme berdasar analisis fisika modern. Tegmark mengembangkan hipotesis MUH: Mathematic Universe Hypothesis. Berdasar MUH, alam materi adalah universe pada level dasar. Sementara, alam sejati atau level empat adalah alam matematika.
Badiou (1937 – ), dengan lebih tegas, menyatakan bahwa matematika adalah ontologi dan ontologi adalah matematika. Dengan demikian, matematika bukan hanya abstrakta saja, bukan hanya sifat dari alam materi, matematika adalah being qua being.
Teori himpunan, Cantor, adalah ontologi yang membahas being sebagai multiplisitas-tanpa-kesatuan. Hanya ada keragaman dan nothing. Keragaman adalah void yang merupakan nama dari being atau segala sesuatu. Kemudian, dengan himpunan, kita bisa membahas infinity (tak-terhingga) dengan leluasa.
Teori kategori, matematika modern, adalah logika alam raya. Khususnya, teori topos – bagian dari teori kategori – memberikan sistem logika yang jelas. Pertama, kita mengamati suatu obyek atau sistem. Kedua, berdasar teori topos kita membuat topologi dari sistem bersangkutan. Ketiga, dari topologi kita membuat logika yang tepat.
Teori kelas, atau kelas absolut, menjadi media mengkaji hubungan infinity dengan absolut yang imanen pada alam semesta ini. Teori himpunan memudahkan kita membahas infinity secara tak terbatas. Selanjutnya, kita perlu membahas Sang Absolut atau Tuhan – tetap dengan ontologi matematika.
Absolut adalah Kelas Absolut yang beranggotakan semua himpunan, termasuk semua himpunan infinity. Absolut sendiri bukan anggota dari himpunan apapun. Ada empat karakter utama dari Absolut.
Pertama, tak bisa diakses. Absolut tidak bisa diakses. Jika bisa diakses maka dia bukan Absolut. Segala yang bisa kita akses pasti tidak Absolut. Tidak bisa diakses menjadi syarat agar bisa disebut sebagai Absolut. Tetapi, kita bisa membahas Absolut dengan matematika, terutama, matematika infinity.
Kedua, tak bisa dibagi. Absolut adalah ketunggalan utuh yang tidak bisa dibagi. Misal, Absolut = A. Lalu kita bagi 2 menjadi masing-masing A/2. Tetapi, A/2 adalah Absolut juga, sebut sebagai Absolut-baru. Nyatanya, Absolut-baru ini identik dengan Absolut. Demikian juga, bila Absolut kita bagi dengan 3 atau 4 atau berapa pun hanya akan menghasilkan Absolut yang sama. Jadi, tetap hanya ada Absolut yang tidak bisa dibagi.
Ketiga, imanen. Absolut hadir di dunia ini dan saat ini secara imanen – meski tetap tak bisa diakses dan tidak bisa dibagi. Absolut meliputi segala infinity dan finity. Dengan demikian, Absolut hadir dalam infinity dan finity di dunia ini. Dalam bahasa matematika, Kelas Absolut beranggotakan semua himpunan. Atau, dengan kata lain, himpunan infinity dan finity “disusun dalam” kelas Absolut. Karena infinity dan finity adalah alam raya ini, maka, Absolut imanen dalam alam raya ini.
Keempat, meraih Absolut. Kita bisa mendekati Absolut, akankah berhasil? Manusia adalah finity atau finitude atau sesuatu yang terbatas. Suatu finity bisa terus bergerak mencapai infinity. Kita, manusia, bisa mencapai infinity. Demikian juga, tumbuhan, hewan, dan benda-benda lain bisa mencapai infinity. Langkah berikutnya, dari infinity menuju Absolut. Jadi, finity dan infinity bisa mendekati Absolut.
Ada dua cara mendekati Absolut, secara matematis, agar menjadi hampir-absolut. Anda bisa menjadi hampir-absolut.
(a) Meta-teori atau constructible
Setiap sistem matematika akan menghadapi paradoks. Kita bisa menyelesaikan paradoks dengan menambahkan teorema baru atau aksioma baru. Kemudian akan muncul paradoks baru dan diselesaikan dengan penambahan aksioma baru lagi. Secara bertahap, kita akan memperoleh sistem yang makin besar mendekati absolut, yaitu, hampir-absolut.
Paradoks-paradoks muncul sebagai konsekuensi dari teori. Maka, saya menyebutnya sebagai meta-teori. Arah paradoks bisa sebaliknya, yaitu mundur. Setiap teori membutuhkan argumen sebagai fondasi. Kemudian, argumen baru membutuhkan fondasi yang lebih baru lagi, tanpa henti.
Meta-teori bisa kita pandang sebagai constructible, bisa dikonstruksi, dari teori yang ada secara bertahap.
(b) Meta-perspektif atau unconstructible.
Setiap sistem matematika pasti menggunakan suatu perspektif tertentu. Mereka tidak bisa menggunakan perspektif dengan lengkap 100%. Setiap penambahan perspektif akan membutuhkan perspektif yang lebih tinggi untuk memadukan mereka. Sehingga, kita selalu berhadapan dengan paradoks perspektif yang tidak pernah lengkap. Di sisi lain, kita tidak bisa menyusun teori tanpa perspektif sama sekali. Saya menyebut jenis paradoks ini sebagai meta-perspektif.
Solusinya adalah dengan menambahkan perspektif baru, meski, tetap ada resiko paradoks. Tetapi, kadang saya menyebut meta-perspektif sebagai paradoks-anti atau anti-paradoks. Karena, paradoks baru bisa jadi tidak salah dan bisa jadi tidak benar. Justru ada gap yang memberi kebebasan untuk menerima perspektif baru atau menolaknya. Bagaimana kita menyikapi perspektif baru?
(i) Godel dengan constructible.
Ketika paradoks-anti muncul, semua teori yang ada tidak bisa memastikannya sebagai benar atau salah, sebut saja sebagai hipotesis. Berikutnya, kita mengkonstruksi teori yang lebih besar berdasar teori-teori yang ada. Konstruksi, yang baru, akan memastikan hipotesis sebagai benar konsisen atau salah. Godel menggunakan pendekatan konstruksi ini untuk membuktikan bahwa CH (continuum hypothesis) konsisten terhadap teori himpunan ZFC.
Pendekatan konstruksi ini bersifat linear, memperdalam atau mempertinggi suatu teori. Sistem secara umum akan tetap stabil dengan pendekatan konstruksi.
(ii) Cohen dengan unconstructable.
Pendekatan kedua, unconstructable, memang berbeda dengan sistem teori yang sudah ada. Ketika hipotesis dari paradoks-anti muncul, maka, kita akan menyusun model generik yang baru. Model generik ini tidak bisa dikonstruksi dari semua sisten teori yang sudah ada. Meskipun, model generik merupakan perluasan wajar dari sisem yang ada.
Pertama, kita akan membuat “relasi” dari model sistem yang ada (M). Dari “relasi” ini kita mengembangkan himpunan generik G. Kedua, kita membuat model ekstensi M(G) yang melibatkan hipotesis G dan sistem lama M. Ketiga, kita menentukan apakah M(G) konsisten dengan teori yang lama.
Sejarah mencatat, Cohen mengambil G adalah negasi CH atau (-CH). Hasilnya, ekstensi M(G) terbukti konsisten dengan teori himpunan ZFC. Kesimpulannya, CH adalah independent terhadap ZFC. Menariknya, kita bisa memaksa “forcing” G sebagai CH (afirmasi) dengan membuat “relasi” yang tepat. Dengan demikian, kita bisa memilih, freedom, antara negasi atau afirmasi.
Hampir Absolut
Meta-teori dan meta-perspektif, di atas, mengantar kita sampai kepada hampir-absolut. Meta-teori mengembangkan sistem menjadi lebih dalam dan lebih tinggi, bisa dikonstruksi secara linear. Sementara, meta-perspektif memperluas sistem dengan pendekatan unconstructable. Gabungan keduanya menjamin sistem untuk terus dinamis.
Kita bisa memilih meta-perspektif dengan alternatif yang lebih revolusioner. Yaitu, dengan mengganti perspektif atau menciptakan perspektif baru. Dalam contoh di atas, kita meluaskan sistem ZFC. Alternatifnya, kita bisa mengganti ZFC dengan New Foundation (NF) atau teori model atau univalent atau sesuatu yang baru.
Secara umum, status quo akan cenderung setuju dengan meta-teori karena bisa dikonstruksi dari sistem yang sudah ada. Tetapi, kadang, kita perlu untuk meluaskan perspektif atau bahkan mengganti dengan perspektif yang benar-benar baru. Badiou, yang saya nilai sebagai super-realis, lebih mendukung ke meta-perspektif dengan mengutamakan pendekatan “forcing” dari Cohen.
Badiou, awalnya, dia membahas matematika sebagai ontologi adalah untuk membatasi filsafat agar tidak membahas Tuhan yang Absolut. Perjalanan 40an tahun Badiou menekuni ontologi matematika, justru, mengantarkannya untuk membahas Tuhan Maha Absolut.
4.5 Solusi Ontologi
Jadi, apa kesimpulan akhir ontologi matematika? Apakah matematika itu nyata? Atau, hanya fiksi belaka?
Kita, sampai di sini, bisa membuat spektrum ontologi matematika. Dengan titik ekstrem matematika fiksional (0) dan matematika super-realisme (100).
Skala
Ontologi Matematika
0
Fiksionalisme
50
Konstruktivisme
60
Formalisme
80
Realisme
100
Super-Realisme
Masing-masing orang bisa memilih skala yang sesuai bagi dirinya dalam spektrum ontologi matematika. Kita masih bisa menambahkan pada spektrum, di atas, ontologi strukturalisme atau lainnya. Yang pasti, ontologi matematika menjadi salah satu jalan bagi kita yang terbatas, finity, bergerak menuju infinity, dan selanjutnya, menuju Absolut.
Sartre, dan para eksistensialis, meyakini bahwa pilihan kita yang menjadikan suatu eksistensi menjadi nyata. Jika Anda memilih konstruktivisme maka konstruktivisme menjadi nyata. Demikian juga, bila Anda memilih realisme. Tetapi, Chalmers melangkah lebih jauh. Jika alam raya ini hanya simulasi fiksional maka fiksi tersebut bernilai setara dengan alam raya ini. Apalagi, jika ternyata super-realisme.
5. Filosofi Matematika Sakina
Pada bagian akhir ini, saya mengusulkan pendekatan filosofi sakina untuk menjawab masalah-masalah fundamental matematika. Pertama, filosofi sakina mengakui adanya keragaman matematika. Kedua, masing-masing “versi” matematika memiliki peran khusus. Ketiga, di antara banyak keragaman matematika itu diharapkan mereka saling belajar. Keempat, sebagai umat manusia, kita memilih versi matematika mana paling tepat “diterapkan” pada situasi tertentu. Atau, kita meramu kombinasi beragam versi matematika untuk mendapatkan hasil terbaik. Kelima, bagaimana pun, matematika selalu dinamis – tidak ada titik henti.
Kita tidak bisa menghindar dengan mengatakan bahwa pernyataan matematika adalah pernyataan esensial ideal. Sehingga, kita berharap bisa mengatakan bahwa matematika terpisah dari realitas. Tidak bisa seperti itu. Meski pun, matematika berfokus kepada esensi, manusia berhadapan langsung dengan realitas. Karena itu, Filosofi Sakina menyikapi matematika dengan mempertimbangkan dinamika harmonis antara esensi dan realitas.
Mengakui Peran Keragaman
Pertama, filosofi sakina mengakui adanya keragaman matematika. Kedua, masing-masing “versi” matematika memiliki peran khusus.
Tidak ada cara meyakinkan untuk memastikan matematika versi mana paling baik di antara versi-versi yang ada. Matematika standar, realisme-platonis, paling bagus dalam mengembangkan pembuktian yang kokoh berdasar logikanya. Sementara, matematika intuitif, paling bagus untuk edukasi matematika dan pemahaman yang jelas terhadap matematika. Beda lagi, matematika Univalent paling bagus dengan menerapkan dan bantuan teknologi komputer terutama di masa kini dan masa depan.
Filosofi Sakina menyarankan kita agar mengakui keragaman dan peran khusus dari masing-masing versi matematika.
Saling Belajar
Ketiga, di antara banyak keragaman matematika itu diharapkan mereka saling belajar.
Matematika standar, barangkali, perlu belajar memanfaat media digital dari matematika Univalent. Matematika intuitif, barangkali, bisa belajar lebih “berani” mengambil resiko dengan mempertimbangkan LEM (Law of Excluded the Middle) dari matematika standar. Matematika Univalent bisa belajar dari matematika intuitif untuk meng-konstruksi lebih banyak obyek matematika.
Masing-masing versi matematika belajar dari versi matematika yang berbeda. Atau, bisa juga dengan sengaja memberikan ide ke versi lain untuk lebih berkembang.
Harmonis: Teoris-Praktis
Keempat, sebagai umat manusia, kita memilih versi matematika mana paling tepat “diterapkan” pada situasi tertentu. Atau, kita meramu kombinasi beragam versi matematika untuk mendapatkan hasil terbaik.
Ketika kita berhadapan dengan problem matematis yang berhubungan dengan komputer, barangkali, paling tepat kita memilih matematika Univalent. Ketika kita berhadapan dengan pembuktian problem yang kritis, barangkali, paling tepat kita memakai matematika intuitif. Sedangkan untuk menghadapi matematika abstrak yang rumit, barangkali, matematika standar adalah pilihan paling tepat.
Dalam kondisi khusus, barangkali, kita mempertimbangkan menerapkan berbagai macam versi matematika secara serentak, harmonis. Apalagi bila mempertimbangkan situasi praktis maka kita perlu memilih versi yang paling tepat guna.
Selalu Dinamis
Kelima, bagaimana pun, matematika selalu dinamis – tidak ada titik henti.
Teorema Godel menunjukkan dengan jelas bahwa setiap sistem formal akan berhadapan dengan kontradiksi. Maka diperlukan aksioma baru, untuk kemudian, berhadapan dengan kontradiksi lagi, dan seterusnya. Bahkan, ketika, Paraconsistent merangkul kontradiksi dengan baik, kita dihadapkan dengan interpretasi. Setiap saat, kita perlu memperbarui interpretasi. Dinamis tiada henti.
Di manakah batas intuisi manusia? Tidak ada batas. Maka matematika intuitif bisa terus bergerak dinamis. Berapakah batas kapasitas teknologi? Tidak tahu. Tidak ada tanda-tanda batas. Maka matematika Univalent bisa terus melaju. Demikian juga, setiap versi matematika selalu dinamis menghadapi tantangan esensi dan realitas semesta.
Filosofi Sakina menyadarkan kita. Jika matematika saja beragam dan dinamis maka bagaimana realitas kehidupan manusia? Realitas merupakan komposisi realitas materi yang mempesona, realitas mental yang selalu bergelora, realitas cinta yang selalu ada, dan masih lebih banyak lagi realitas lainnya. Manusia perlu menghormati keragaman, untuk kemudian, tumbuh bersama dinamis dan harmonis.
6. Diskusi
Tiba saatnya, kita diskusi lebih mendalam lagi.
6.1 Makna Realitas
Apa makna-matematika? Apa makna-realitas? Apa makna-eksistensi? Apa yang paling bermakna? Apa makna-dari-makna?
Setiap jawaban akan menghadapi pertanyaan lanjutan: apa maknanya itu? Atau, megapa begitu? Lalu?
Jadi, setiap jawaban akan memunculkan pertanyaan dan itu wajar saja. Dari mana kita bisa menjawabnya? Dari mana kita bisa mengajukan pertanyaan itu? Kita sudah ada saat ini, kemarin, dan semoga di hari esok. Kita ada bersama dunia sekitar; kita tidak sendirian. Semua yang ada, termasuk diri kita, biasa disebut sebagai wujud, eksistensi, being, sein, atau ada. Kita bisa menjawab pertanyaan apa makna-realitas dengan mengkaji wujud nyata yang mengajukan pertanyaan apa makna-realitas itu. Kita adalah manusia yang mengajukan pertanyaan itu. Jadi, kita mulai mengkaji dari manusia.
Manusia dalam hal ini sebagai wujud-nyata, being-konkret, being-there, dasein. Manusia bukan sekadar sebagai manusia biologis; bukan sekadar binatang berakal; bukan psikologi; bukan metafisika. Tetapi manusia sebagai wujud-nyata yang mengajukan pertanyaan apa makna-ada?
Barangkali sudah terkenal bahwa Heidegger (1889 – 1976) menjawab makna-ada adalah dasein, kemudian, ereignis (anugerah). Sementara, Badiou (lahir 1937) menjawab makna-ada adalah matematika; matematika adalah ontologi.
“Its status as an important work of philosophy comes from the fact that Badiou purports to extract a series of non-trivial ontological insights from the edifice of the mathematical theory of sets. Here, ontology is a field associated with philosophers such as Plato, Spinoza, Hegel, Heidegger, and Deleuze. Badiou often invokes set-theoretic results to criticise the views of these thinkers. The intensity with which Badiou reads these two traditions together is more or less unique to him.” (Philarchive)
“Kedudukan karya ini sebagai sebuah kontribusi penting dalam filsafat berasal dari klaim Badiou bahwa ia berhasil mengekstraksi serangkaian wawasan ontologis yang tidak sepele dari bangunan teori himpunan dalam matematika. Dalam konteks ini, ontologi dipahami sebagai bidang yang diasosiasikan dengan para filsuf seperti Plato, Spinoza, Hegel, Heidegger, dan Deleuze. Badiou kerap menggunakan hasil-hasil teori himpunan untuk mengkritik pandangan para pemikir tersebut. Intensitas Badiou dalam membaca dan mempertautkan kedua tradisi ini secara bersamaan merupakan sesuatu yang, kurang lebih, khas dan unik baginya.”
6.2 Argumen Tak Terbantahkan
Putnam dan Quine berargumen bahwa matematika tak terbantahkan untuk sains secara nyata.
“… the indispensability of mathematics to empirical science gives us good reason to believe in the existence of mathematical entities. According to this line of argument, reference to (or quantification over) mathematical entities such as sets, numbers, functions and such is indispensable to our best scientific theories, and so we ought to be committed to the existence of these mathematical entities. To do otherwise is to be guilty of what Putnam has called “intellectual dishonesty” (Putnam 1979b, p. 347).” (SEP).
“Keniscayaan matematika dalam ilmu pengetahuan empiris memberikan alasan yang kuat bagi kita untuk mempercayai eksistensi entitas-entitas matematis. Menurut argumen ini, referensi terhadap (atau kuantifikasi atas) entitas-entitas matematis seperti himpunan, bilangan, fungsi, dan sejenisnya merupakan sesuatu yang tak tergantikan dalam teori-teori ilmiah terbaik kita. Oleh karena itu, kita sepatutnya berkomitmen pada keberadaan entitas-entitas tersebut. Menolak komitmen semacam itu berarti bersalah atas apa yang disebut oleh Putnam sebagai ‘ketidakjujuran intelektual’ (Putnam 1979b, hlm. 347).”
6.3 Kulminasi Metafisika
Pippin (lahir 1948) mengakui bahwa rasionalitas berhasil mencapai kulminasi di metafisika Hegel.
“[O]n the main issue, as I just stated, I think Heidegger is right. Neither Kant nor Hegel is in a position to give a defensible, non-dogmatic, non-question-begging answer to the question of the Sinn des Seins, the meaning of being [. . . .] I think Heidegger is also right in charging that all enterprises in philosophy as such, including those in the twenty-first philosophy, still subscribe to the basic premise Heidegger has identified [. . . they] content themselves with isolated intellectual exercises without much sense of why any of it should matter. If pressed on the question of mattering, something like the assumption Heidegger has identified will emerge. (xi–xii)” (NDPR).
“Dalam pokok persoalan, seperti yang baru saja saya nyatakan, saya berpandangan bahwa Heidegger benar. Baik Kant maupun Hegel tidak berada dalam posisi yang memungkinkan mereka memberikan jawaban yang dapat dipertahankan, tidak dogmatis, dan tidak memuat petitio principii atas pertanyaan mengenai Sinn des Seins, makna dari keberadaan. Saya juga berpandangan bahwa Heidegger benar dalam menuduh bahwa seluruh proyek dalam filsafat sebagai suatu disiplin—termasuk filsafat abad ke-21—masih berpegang pada premis dasar yang telah diidentifikasi oleh Heidegger. Mereka merasa cukup dengan latihan-latihan intelektual yang terpisah-pisah tanpa pemahaman yang memadai mengenai mengapa semua itu penting. Ketika didesak untuk menjelaskan apa yang membuatnya penting, maka akan muncul asumsi dasar seperti yang telah diungkapkan oleh Heidegger.” (hlm. xi–xii)
Sementara, Heidegger mengingatkan akan risiko dari matematika yang berpikir secara hitung-hitungan.
“Calculative thinking . . . is unable to foresee that everything calculable by calculation [Berechenbare der Rechnung]– prior to the sum-totals and products that it produces by calculation in each case– is already a whole, a whole whose unity indeed belongs to the incalculable [Unberechenbaren] that withdraws itself and its uncanniness from the claws of calculation.” (GA9, 309/235)
“Pemikiran kalkulatif… tidak mampu melihat bahwa segala sesuatu yang dapat dikalkulasi oleh perhitungan (Berechenbare der Rechnung)—yakni sebelum munculnya totalitas dan hasil-hasil yang dihasilkan melalui perhitungan dalam setiap kasus—sudah merupakan suatu keseluruhan, suatu keseluruhan yang kesatuannya justru termasuk ke dalam yang tak terhitung (Unberechenbaren), yang menarik diri dan keasingannya dari cengkeraman perhitungan.” (GA9, hlm. 309/235)
Kontradiksi Sintesa Dialektis
Kita berada pada persimpangan matematika.
Matematika memiliki kekuatan dahsyat tak tertandingi. Dengan matematika, kita bisa membangun jembatan; membuat bom atom; dan mencetak uang lebih dari yang diinginkan. Matematika, secara positif, mengendalikan orang untuk melakukan sesuatu; matematika, secara negatif, mencegah terjadinya sesuatu. Matematika adalah kulminasi metafisika rasional dalam bentuk sains, teknologi, uang, mau pun politik.
Ketika matematika menjadi kulminasi maka apakah itu baik?
Tidak baik. Karena banyak hal yang tidak bisa dihitung; banyak kebaikan yang tidak matematis; banyak makna ketika ikhlas.
Matematika bukan utama? Bukan; atau, matematika bukan paling utama. Lalu apa? Yang paling utama adalah puisi. Matematika perlu kembali menjadi puisi. Manusia perlu berpikir lagi sebagai puisi.
Puisi adalah puisi. Puisi adalah empati; rasa hati; saling mengerti. Puisi memang kata-kata dengan jeda; terdiam di antara bunga-bunga bahasa. Puisi adalah anugerah; yang kita terima dan kita tebarkan.
Politik adalah yang paling berkuasa. Politik adalah yang paling haus harta. Politik adalah ujian manusia paling bijaksana. Politik adalah sebuah titik belaka. Masih ada ribuan titik lainnya. Masih ada ribuan garis lainnya. Masih ada ribuan ruang lainnya.
Politik ada di mana-mana. Dalam kehidupan pribadi, Anda berpolitik. Dalam kehidupan keluarga, Anda berpolitik. Dalam kehidupan sosial, Anda berpolitik. Dalam kehidupan politik, Anda bisa berpura-pura tidak berpolitik.
“Mengapa Anda tertarik berpolitik?” “Pertanyaan bisa dibalik, mengapa ada orang tidak tertarik politik?”
Semua sisi kehidupan kita dipenuhi politik. Tidak tertarik politik sama artinya tidak berminat hidup. Memang bentuk politik beragam. Ada politik praktis dengan berebut kursi jabatan politik. Ada juga politik adi luhur, politik tingkat tinggi.
1. Kompetisi Kekuasaan 2. Penerapan Kekuasaan 3. Politik Identitas 4. Solusi Filosofi Sakina 4.1 Tidak Trivial 4.2 Bukan Status Quo 4.3 Filosofi Sakina 5. Adi Luhur
Konsepsi paling dasar politik adalah kompetisi perebutan kekuasaan. Mereka yang menang akan menduduki jabatan presiden, gubernur, walikota, dewan, dan lain sebagainya. Mereka yang kalah tersisih menanggung kerugian banyak hal. Rakyat bersemangat mendukung calonnya. Sebagai mana rakyat mendukung tim sepak bola dalam final piala dunia. Politik lebih dari sekedar perebutan kekuasaan seperti itu.
Politik adalah sistem kekuasaan – formal atau pun tidak. Demokrasi konstitusional menjamin proses perebutan kekuasaan yang sah, aman, tanpa harus melalui pertumpahan darah. Mereka yang berhasil menduduki jabatan politik, kemudian, wajib bertanggung jawab untuk memanfaatkan kekuasaannya guna kebaikan seluruh rakyat.
Politik identitas, terutama atas nama agama, merupakan kekuatan paling ampuh untuk meggerakkan massa. Pro-kontra terhadap politik identitas ada di mana-mana. Sejauh tidak melanggar konstitusi, politik identitas masih bisa digunakan. Tetapi, resiko permusuhan mudah meledak akibat politik identitas. Semua pihak perlu bersikap bijak. Ada harga mahal, yang kadang, harus dibayar.
Masalah politik memang rumit. Tentu saja, solusinya juga rumit. Saya mencoba merumuskan solusi filosofi sakina yang berusaha menerima semua realitas politik, di saat yang sama, mengembangkan interaksi dinamis untuk melangkah lebih maju.
Jalur politik adi luhur, politik tingkat tinggi, perlu menjadi pilihan hampir bagi seluruh rakyat. Tidak harus semua rakyat bertarung memperebutkan kursi jabatan. Pun, tidak harus semua rakyat menjalankan tugas politik. Tetapi semua rakyat perlu peduli. Rakyat perlu memikirkan masa depan negeri ini, masa depan alam ini. Politik adi luhur mengundang seluruh pihak untuk berpartisipasi memikirkan kebaikan alam raya yang satu ini. Alam yang sama-sama kita huni.
1. Kompetisi Kekuasaan 2. Penerapan Kekuasaan 3. Politik Identitas 4. Solusi Filosofi Sakina 4.1 Tidak Trivial 4.2 Bukan Status Quo 4.3 Filosofi Sakina 5. Adi Luhur
Tentu saja, logika adalah yang paling logis. Logika adalah yang paling masuk akal. Tetapi, mengapa sering terjadi sebaliknya? Pernyataan logika justru tidak masuk akal. Pernyataan logika, kadang-kadang, terasa tidak logis. Padahal, logika adalah ilmu berpikir.
Logika manusia, umumnya, dipengaruhi oleh lingkungan. Kita mudah menerima sesuatu yang menjadi kebiasaan. Sementara sesuatu yang di luar kebiasaan, sering kita pandang sebagai tidak logis – tidak masuk logika. Padahal, bisa saja, sesuatu yang luar biasa tetap logis. Di sinilah, kita perlu mengkaji logika.
“Saya menempuh perjalanan dari Jakarta ke Surabaya dalam waktu 1 jam.” Pernyataan seperti itu masuk akal, logis. Karena saya melakukan perjalanan dengan naik pesawat.
Bayangkan, pernyataan di atas, dikatakan kepada penduduk yang hidup pada tahun 1525. Tentu saja menjadi tidak logis, tidak masuk akal. Tahun 1525, belum ada pesawat terbang. Bahkan, belum ada mobil. Untuk menempuh Jakarta ke Surabaya barangkali diperlukan waktu 10 hari atau lebih.
Tampak jelas perbedaan antara sesuatu yang “di luar kebiasaan” dengan sesuatu yang “tidak logis.”
1. Silogisme Aristoteles 1.1 Silogisme Partikular Universal 1.2 Analisis Apriori – Deduksi 1.3 Analisis Posteriori – Induksi 1.4 Silogisme Implikasi 2. Logika Booleandan Fuzzy 2.1 Simbol Matematis 2.2 Definisi Tabel Kebenaran 2.3 Logika Digital 2.4 Silogisme Modus Ponen 2.5 Logika Implikasi 2.6 Logika Fuzzy 2.7 Abduksi 3. Logika Relasi Frege 3.1 Tiga Prinsip Logika 3.2 Prinsip Kausalitas 3.3 Peano Aritmetika 3.4 Kehebatan Relasi 3.5 Skrip-Konsep 3.6 Sistem Formal 3.7 Paradox Russell 3.8 Paradox Godel 3.9 Paraconsistent 4. Logika Dialektika Hegel 4.1 Tesis – Antitesis – Sintesis 4.2 Being – Esensi – Idea 4.3 Dialektika Siklis 4.4 Fokus Silogisme 4.5 Interpretasi Spirit 4.6 Ringkasan 5. Logika Visi Iluminasi Suhrawardi 5.1 Deduksi Tidak Memadai 5.2 Induksi Tidak Mencukupi 5.3 Visi-Iluminasi 5.4 Kritik Suhrawardi 5.5 Ringkasan 6. Logika Destruksi Heidegger 6.1 Logika Plato – Aristo 6.2 Logika Cogito Descartes 6.3 Logika Sintesa Kant 6.4 Destruksi Metafisika 6.5 Question of Being 7. Logika Kategori Eilenberg-Lane 7.1 Obyek dan Relasi 7.2 Ragam Struktur Kategori 8. Logika Penuh – Seleksi Produksi 8.1 Rumpun Seleksi 8.2 Rumpun Produksi 8.3 Rumpun Siklis
Kita bisa menelusuri sejarah logika sampai ke Aristoteles. Silogisme, dari Aristoteles, adalah cara paling masuk akal untuk berpikir benar dalam menarik kesimpulan. Logika Aristoteles ini, kemudian, berkembang pesat menjadi logika Boolean (dan fuzzy) yang menjadi landasan teknologi digital saat ini. Kehebatan logika Boolean adalah kemampuannya untuk rekayasa. Efek sampingnya, adalah tumbuh subur hoax digital.
Frege menyusun logika relasional, menjelang abad 20, yang jauh lebih dahsyat dari logika Aristoteles. Russell menyambut hangat ide Frege dan mengembangkan lebih jauh menembus batas. Semua pengetahuan manusia, pada analisis akhir, bisa direduksi menjadi “logika”. Gerakan besar ini menghasilkan “logika positivisme” dan filsafat analytic. Pro kontra tumbuh subur terhadap positivisme.
Hegel, pada abad 19, mengembangkan logika dialektika yang berbeda dengan Aristoteles mau pun Frege di era berikutnya. Logika dialektika bukanlah metode berpikir yang benar (saja). Tetapi, logika dialektika adalah sistem metafisika lengkap. Logika adalah prinsip realitas seluruh alam semesta, termasuk prinsip pikiran dan prinsip alam dunia luar. Ditambah lagi dengan menerapkan prinsip kontradiksi maka logika dialektika Hegel makin sulit dipahami banyak orang.
Suhrawardi, pada abad 12, merombak total logika Aristoteles menjadi logika visi-iluminasi. Hanya dengan visi-iluminasi, logika memiliki landasan yang kuat. Tanpa visi-iluminasi, semua bangunan logika bagaikan bangunan rumah yang megah tanpa fondasi. Tertiup angin, runtuh berkeping-keping. Iqbal, pada abad 20, menyejajarkan kehebatan logika visi-iluminasi Suhrawardi setara dengan logika dialektika Hegel. Bisa kita duga, bagi banyak orang, tidak mudah untuk memahami logika visi-iluminasi.
Heidegger (1889 – 1976) melakukan destruksi logika sehingga logika runtuh menjadi horisontal, sedemikian hingga, kebenaran yang tersembunyi menjadi terungkap. Dari reruntuhan destruksi logika itu, kita membangun kembali sistem logika. Apakah bisa? Logika futuristik menjadi salah satu solusi yang prospek.
Eilenberg (1913 – 1998) dan Lane (1909 – 2005) menyusun logika kategori dengan mengambil “inspirasi” teori fungsi di matematika. Meski pun logika kategori ini adalah logika tingkat tinggi, menyelidiki struktur abstrak dan sistem dari struktur, kita bisa membahas prinsip-prinsipnya dengan sederhana. Logika kategori lebih ketat dari logika relasional (mau pun proposional) karena hanya mengijinkan relasi khusus yaitu relasi fungsi (functor, morphism, mapping) dengan komposisi asosiasi. Di saat yang sama, logika kategori mencakup logika relasi dan seluruh logika yang ada. Banyak inovasi menarik berkat logika kategori. Saat ini, logika kategori menjadi trend sebagai kajian tingkat tinggi paling diminati.
Di awal abad 21 ini, kita bisa mengembangkan logika-penuh dua arah: seleksi dan produksi. Logika-penuh merupakan pengembangan dari logika kategori. Logika-penuh hanya mengijinkan functor (morphism, mapping) surjective (full). Sementara, functor yang lain (injective dan bijective) perlu ditransformasikan menjadi functor surjective. (Functor identitas tetap dipertahankan).
Logika-penuh arah seleksi menyelidiki struktur abstrak seleksi, misal, bagaimana piala dunia babak awal diikuti seluruh negara, babak tengah tinggal 50%, dan babak final menghasilkan 1 juara unik. Sementara, logika-penuh arah produksi menyelidiki struktur abstrak produksi, misal, bagaimana produksi satu konten digital diakses 2 orang di hari pertama, 20 orang di hari kedua, dan 300 ribu orang di hari ketiga. Dengan demikian, logika penuh memberi tahu kita struktur apa yang menjamin memenangkan kompetisi – misal pemilu presiden – dan struktur apa yang menjamin suatu konten menjadi viral di media sosial.
1. Silogisme Aristoteles
Aristoteles (384 – 322 SM) adalah pemikir pertama, yang secara eksplisit, membahas logika. Tentu saja, pemikir sebelum era Aristoteles di berbagai tempat, juga mengembangkan sistem logika. Bagaimana pun, Aristoteles berhasil menyusun fondasi logika dengan kokoh.
Saya akan mengusulkan bentuk silogisme sederhana dan tunggal, sedemikian hingga, setiap orang mudah untuk menerapkannya. Silogisme tersebut adalah silogisme implikasi.
1.1 Silogisme Patikular Universal
Silogisme Aristoteles, secara prinsip, adalah memasukkan partikular ke universal.
A
Setiap kuda berkaki 4.
B
Poni adalah kuda.
C
Poni berkaki 4. (Benar dan sah)
“Poni” adalah partikular dimasukkan ke dalam universal “kuda.” Sehingga, kesimpulan menjadi sah bahwa Poni memiliki karakter sebagai kuda: Poni berkaki 4.
1.2 Analisis Apriori Deduksi
Contoh silogisme di atas adalah anilisis apriori yang terjamin nilai kebenarannya. Apriori dalam arti kita tidak perlu melakukan pengamatan tambahan untuk menjamin kebenaran kesimpulan (C). Dengan asumsi premis (A) dan (B) bernilai benar maka (C) pasti benar.
1.3 Analisis Posteriori Induksi
Analisis posteriori, tampak, lebih merepotkan karena kita harus melakukan pengamatan. Hasil pengamatan ini bisa saja afirmasi atau, bisa juga, menolak.
Misal “(B) Poni adalah kuda” apakah benar?
Kita perlu memahami apa yang dimaksud “Poni”. Barangkali “Poni” adalah nama dari seekor binatang. Kemudian, kita mengamati lagi apakah binatang yang dimaksud adalah kuda. Di sini, kita menghadapi tugas besar semantik dan interpretasi.
Pembedaan antara posteriori dengan apriori ini penting. Karena, sering terjadi salah pikir, falasi, suatu kasus posteriori dianggap sebagai apriori.
(K) Setiap orang Indonesia adalah ramah.
Peryataan (K) bersifat posteriori, di mana, kita perlu pengamatan untuk verifikasi kebenarannya. Barangkali, kita bisa mengambil contoh 100 orang diamati dan ternyata ramah. Kemudian, dengan generalisasi induksi, kita menyimpulkan (K) benar. Bagaimana pun, kebenaran induksi bersifat probabilistik.
Menjadi rumit ketika pernyataan (K) dianggap sebagai apriori. Yaitu, setiap ada orang Indonesia, kita mengira mereka selalu ramah. Tentu saja, bisa salah. Masih mending, pernyataan (K) berkonotasi positif. Konotasi negatif lebih riskan. Contoh,
(N) Selain madzhab kulo adalah sesat.
Bila (N) dianggap apriori maka bisa menimbulkan kekacauan dalam masyarakat. Perbedaan cara pandang madzhab akan menimbulkan saling curiga. Padahal, perbedaan cara pandang adalah wajar dalam setiap masyarakat. Seharusnya, (N) adalah posteriori yang perlu diuji dengan pengamatan dan, bahkan, hasilnya (N) bisa ditolak
1.4 Silogisme Implikasi
Perkembangan logika Boolean, yang awalnya Aristotelian, memudahkan kita untuk mempelajari logika. Maka, saya menyusun bentuk logika paling sederhana dan kita bisa menerapkan dengan cara seluas-luasnya.
(S) MAKA (H)
Contoh:
Jika persegi MAKA punya 4 sisi.
P adalah persegi. Kesimpulan: P punya 4 sisi. (Sah) Q tidak punya 4 sisi. Kesimpulan: Q bukan persegi. (Sah)
K punya 4 sisi. Kesimpulan K adalah persegi. (Tidak Sah. Karena bisa saja K adalah belah ketupat yang bukan persegi).
L bukan persegi. Kesimpulan: L tidak punya 4 sisi. (Tidak Sah. Karena bisa saja L adalah layang-layang yang bukan persegi).
Semua pernyataan logika bisa kita ubah ke bentuk implikasi. Sehingga, silogisme implikasi, nyaris, bisa digunakan untuk semua pernyataan logika. Ditambah, bentuk logika implikasi ini bersifat intuitif bagi manusia.
Mari kita coba analisis klaim (K),
(K) Jika dia presiden MAKA negara adil makmur.
Premis
Kesimpulan SAH
Syarat (S) BENAR
Hasil (H) BENAR
Hasil (H) SALAH
Syarat (S) SALAH
(A) Dia jadi presiden. Kesimpulan: negara adil makmur (Sah). Bukti bahwa dia jadi presiden bisa kita lihat dari hasil pemilu, misalnya. Bukti bahwa negara adil makmur bisa kita lihat dengan beragam indikator ekonomi, politik, dan budaya.
Problem terjadi ketika, ternyata, negara tidak adil makmur padahal dia jadi presiden. Karena proses menarik kesimpulan, silogisme, sudah sah maka kesalahan terletak pada klaim (K). Klaim dari premis (K) memang perlu diuji dengan beragam cara.
(B) Negara tidak adil makmur. Kesimpulan: (akibat dari) dia tidak jadi presiden (Sah). Apakah, dengan demikian, dia harus jadi presiden? Tidak juga!
Premis
Kesimpulan TIDAK SAH
Hasil (H) BENAR
Syarat (S) BENAR
Syarat (S) SALAH
Hasil (H) SALAH
(C) Negara adil makmur. Kesimpulan: dia jadi presiden (Tidak Sah). Karena “dia jadi presiden” bisa mengakibatkan “negara adil makmur.” Demikian juga “dia tidak jadi presiden” bisa mengakibatkan “negara adil makmur.” Misal, presiden yang lain justru lebih sukses menciptakan negara adil makmur.
Falasi tipe ini: (H) BENAR maka kesimpulan (S) BENAR atau SALAH sering menipu banyak orang. Dari hasil (H) yang BENAR, kita tidak bisa menyimpulkan apa pun tentang syarat (S). Maksudnya, (S) bisa BENAR atau, bisa saja, SALAH.
Jadi, tidak ada keharusan “dia jadi presiden” agar negara adil makmur. Tetapi ada kewajiban: jika “dia jadi presiden” maka wajib menjamin negara adil makmur.
(D) Dia tidak jadi presiden. Kesimpulan: negara tidak adil makmur (Tidak Sah). Karena, meski “dia tidak jadi presiden” tetap ada peluang “negara adil makmur” dengan presiden yang lain. Sehingga, tidak perlu khawatir seandainya dia tidak jadi presiden.
2. Logika Booleandan Fuzzy
Logika Aristoteles klasik, kemudian, berkembang pesat menjadi logika Boolean (dan fuzzy) yang menjadi landasan teknologi digital saat ini. Kehebatan logika Boolean adalah kemampuannya untuk rekayasa. Efek sampingnya, adalah tumbuh subur hoax digital.
2.1 Simbol Matematis
Boole (1815 – 1864) mengembangkan logika yang fokus kepada nilai kebenaran. Benar bernilai 1 dan salah bernilai 0. Hasil akhir dari seluruh logika adalah menetapkan apakah suatu sistem benilai 1 atau bernilai 0.
Pada gilirannya, proposisi atau sistem itu sendiri bisa dinyatakan dengan simbol biner 1 atau 0 itu sendiri. Sehingga, segala sesuatu hanya terdiri dari biner belaka. Reduksi menjadi representasi biner memiliki banyak keunggulan.
Pertama, simbol-simbol biner membuang problem semantik dan interpretasi. Sehingga, simbol-simbol biner dianggap jelas dengan sendirinya. Tata bahasa dan tata logika, semua, dalam bentuk biner juga.
Kedua, manipulasi logika yang canggih. Dengan simbol biner, kita bisa melambangkan suatu masalah kompleks dengan satu simbol saja. Kemudian, mengolahnya sesuai kebutuhan. Hasil akhirnya jelas, 1 atau 0 saja.
Ketiga, logika Boolean ini mudah diimplementasikan dalam bentuk teknologi digital. Misal 1 adalah ada arus listrik dan 0 adalah tidak ada arus, maka, sistem logika bisa berwujud sebagai mesin komputer, smartphone, dan sebagainya.
2.2 Definisi Tabel Kebenaran
Kita bisa melangkah lebih jauh dengan mendefinisikan operasi logika menggunakan simbol. Lagi, kita menyisihkan problem semantik dan interpretasi di sini.
Logika implikasi, P maka Q, bisa kita definisikan sebagai “Hanya bernilai SALAH ketika P BENAR dan Q SALAH.”
Tabel kebenaran menjadikan semuanya jelas.
P
Q
P ==> Q
1
1
1
1
0
0
0
1
1
0
0
1
Kita bisa membuat definisi operasi logika dalam jumlah yang sangat banyak. Meski demikian, pada akhirnya, kita akan mengerucut ke definisi-definisi yang intuitif misal tentang implikasi, konjungsi, disjungsi, negasi, biimplikasi, dan lain-lain.
2.3 Logika Digital
Sistem logika digital terus berkembang menjadi makin kompleks. Karnaugh-map adalah salah satu metode untuk menyusun sistem logika digital dalam bentuk paling optimal. Sejatinya, tersedia banyak pilihan sistem logika digital yang mewakili satu tujuan tertentu. K-map memastikan sistem digital yang dipilih adalah paling efisien.
2.4 Silogisme Modus Ponen
Silogisme modus ponen berkembang lebih leluasa. Dalam logika Aristotelian, silogisme terbatas memasukkan partikular ke universal. Dalam logika Boolean, kita bisa mengembangkan silogisme terhadap proposisi-proposisi yang saling tidak ada hubungan.
(A) Jika hujan maka minum kopi. (B) Jika minum kopi maka bahagia.
Kesimpulan:
(C) Jika hujan maka bahagia.
Tidak ada hubungan partikular-universal antara hujan dan bahagia. Tetapi, kita bisa mengembangkan silogisme. Dalam rekayasa digital, kita punya peluang kreasi yang sangat besar.
(A) Tombol kanan maka listrik nyala. (B) Listrik nyala maka pintu terbuka.
Kesimpulan:
(C) Tombol kanan maka pintu terbuka.
2.5 Logika Implikasi
Seperti sudah kita bahas di atas, logika implikasi menjadi paling fundamental dari seluruh sistem logika. Semua operasi logika bisa kita ubah ke bentuk implikasi. Kemudian, kita bisa menarik kesimpulan yang sah berdasar implikasi.
Bagaimana pun, kita perlu hati-hati untuk menarik kesimpulan dari implikasi. Ketika konsekuensi terpenuhi maka kita tidak sah, tidak valid, untuk menyimpulkan bahwa antesenden juga terpenuhi.
T: Teori E: Pengamatan empiris sesuai
Kita bisa mengasumsikan, mengharapkan, jika T maka E.
Seribu kali pengamatan yang membuktikan E sebagai benar, sama sekali, tidak berhasil membuktikan bahwa teori T juga benar. Sebaliknya yang terjadi. Hanya satu kali E terbukti gagal, maka, teori T terbukti gagal. Sehingga, peran implikasi adalah sebagai falsifikasi terhadap teori. Bukan verifikasi. Bagaimana pun, masih terus terjadi perdebatan untuk menyikapi falsifikasi ini. Kita perlu waspada secara logika.
2.6 Logika Fuzzy
Dalam realitas, pembedaan benar dengan salah, 1 dan 0, tidak selalu mudah. Misal, suhu 25 derajat celcius apakah termasuk panas? Barangkali, suhu udara di atas 35 derajat bisa disepakati sebagai panas. Sedangkan, suhu di bawah 20 derajat bisa disepakati sebagai tidak panas – misal dingin. Suhu di antara mereka bagaimana?
Logika Fuzzy memberi solusi dengan pendekatan probabilistik. Nilai kebenaran tidak harus biner 0 dan 1. Tetapi, ada gradasi di antaranya. Berbagai macam model gradasi bisa kita kembangkan.
Suhu (derajat celcius)
Nilai Kebenaran
di bawah 15
Dingin 100%
15 sampai 20
Dingin 80%, panas 20%
20 sampai 30
Dingin 20% panas 80%
di atas 30
Panas 100%
Dengan logika fuzzy, kita lebih terbuka dengan keragaman. Hal ini menjadikan kita lebih bebas mengembangkan kreativitas dan lebih lentur. Bagaimana pun hasil akhir dari fuzzy masih tetap bisa dikonversi menjadi biner.
2.7 Abduksi
Logika abduksi makin menarik di era yang dipenuhi keragaman seperti sekarang ini. Abduksi terbuka dengan menerima beragam argumen, kemudian, mengolahnya untuk menghasilkan kesimpulan yang terbaik.
Bentuk abduksi yang paling terbuka adalah menerima segala argumen: silogisme Aristotelian, logika Boolean, silogisme implikasi, logika fuzzy, dan lain-lain. Masing-masing argumen dianalisis, dibandingkan, dimodifikasi, bahkan dikombinasikan. Hasil akhir adalah kesimpulan abduksi terbuka.
Seringkali terjadi, dalam realitas, kita dihadapkan pada beragam pilihan logika dengan bobot yang sama, atau seimbang. Sehingga, metode apa pun yang kita pakai untuk menilai akan memberi hasil yang tidak eksak. Karena itu, abduksi-terbuka memberi solusi agar kita memilih solusi terbaik dengan tetap membuka masing-masing argumen yang berbeda itu. Agar bila kemudian hari, ada orang yang hendak melakukan analisis ulang, bisa melakukan analisis dengan argumen yang lengkap dan diharapkan mendapatkan hasil yang lebih baik.
3. Logika Relasi Frege
Frege menyusun logika relasional, menjelang abad 20, yang jauh lebih dahsyat dari logika Aristoteles. Russell menyambut hangat ide Frege dan mengembangkan lebih jauh menembus batas. Semua pengetahuan manusia, pada analisis akhir, bisa direduksi menjadi “logika”. Gerakan besar ini menghasilkan “logika positivisme” dan filsafat analytic. Pro kontra tumbuh subur terhadap positivisme.
3.1 Tiga Prinsip Logika
Frege, dan Russell, menguatkan tiga prinsip logika: identitas, non-kontradiksi, dan hukum-antara.
Prinsip identitas menyatakan bahwa segala sesuatu sama dengan dirinya sendiri. Atau, K = K.
Prinsip non-kontradiksi menyatakan bahwa segala sesuatu berlawanan, secara logis, dengan negasinya. Dinyatakan, K AND (-K) pasti bernilai SALAH. Tidak mungkin kontradiksi. Tidak mungkin K dan (-K) sama-sama bernilai benar.
Hukum-Antara menyatakan salah satu dari K OR (-K) pasti bernilai BENAR. Tidak mungkin ada alternatif ketiga antara afirmasi dengan negasinya.
Tiga prinsip logika di atas sudah terdokumentasi dengan baik sejak era Aristoteles. Tampaknya, semua pemikir setuju dengan tiga prinsip di atas. Baru, satu abad sebelum era Frege, Hegel memberi challenge serius terhadap prinsip di atas. Wajar, Frege dan Russell perlu menegaskan kembali tiga prinsip logika di atas.
Satu prinsip lagi yang diperlukan, yaitu, prinsip kausalitas: hukum sebab akibat.
3.2 Prinsip Kausalitas
Segala sesuatu perlu sebab. Prinsip kausalitas menyatakan agar terjadi sesuatu diperlukan sebab-sebab yang mencukupi. Sebaliknya juga berlaku, segala sebab menghasilkan akibat.
Tentu saja, prinsip kausalitas sudah berkembang sejak jaman kuno. Namun, sampai masa Frege, tidak ada formula yang memuaskan untuk prinsip kausalitas. Aristoteles menyatakan setiap gerakan membutuhkan penggerak. Penggerak itu sendiri membutuhkan penggerak prior, dan seterusnya sampai, membutuhkan penggerak pertama yang tidak butuh penggerak.
Ibnu Sina, dan Leibniz, mengembangkan ide yang mirip. Segala yang ada di alam raya ini bersifat kontingen, mungkin ada dan mungkin tidak ada. Untuk bisa menjadi ada, kontingen ini, membutuhkan sebab. Pada gilirannya, sebab itu sendiri membutuhkan sebab yang lebih prior, sampai akhirnya, ada sebab yang wajib eksis karena dirinya sendiri.
Frege mengembangkan formula kausalitas yang lebih jelas dan koheren. Frege mengarahkan kajian ke aritmetika (matematika). Mengapa “2 + 1” menghasilkan “3”? Karena, ada suatu proses yang menghasilkan angka “3” yaitu operasi penjumlahan “2 + 1”. Frege perlu formula yang tegas untuk prinsip kausalitas aritmetika ini. Saat itu, sudah berkembang Aritmetika Peano.
Alur pemikiran kita untuk membangun logika-relasi adalah sebagai berikut.
(1) Segala pengetahuan kita – sains, matematika, metafisika, dan sebagainya – bisa direduksi menjadi sistem logika.
(2) Sistem logika, pada gilirannya, bisa direduksi menjadi aritmetika.
(3) Aritmetika, yang merupakan sistem aksiomatik formal, mampu menjelaskan segala sesuatu – termasuk kausalitas – dengan konsisten dan independent dari intuisi manusia atau pengamat.
Sistem logika-relasi ini, jika berhasil, mampu menjelaskan segala fenomena dan realitas secara obyektif.
Berikutnya, kita akan membahas sistem aritmetika terpenting: Aritmetika Peano.
3.3 Peano Aritmetika
Peano (1858 – 1932) menyusun sistem aksioma aritmetika yang menjadi landasan dasar sistem aritmetika. Perluasan Aritmetika Peano ini membuka prospek untuk sistem logika baru yang lebih kokoh. Frege meng-elaborasi lebih jauh Aritmetika Peano menjadi sistem formal aksiomatik yang berlaku secara luas.
Secara sederhana, Peano menetapkan aksioma dalam jumlah yang sangat sedikit. Pertama, aksioma yang mengatakan ada sesuatu yaitu sebut saja angka “1”. Kita mudah memahami aksioma ini. Jelas di alam raya ini ada sesuatu: ada saya, ada batu, ada pikiran, dan lain-lain.
Kedua, aksioma yang menyatakan ada urutan. Setelah “1” ada “2” atau sebelum “2” ada “1”. Angka “0” adalah angka yang tidak punya pendahulu. Dalam Aritmetika Peano, kita tidak membahas bilangan negatif atau pecahan. Jika diperlukan membahas itu, negatif atau pecahan, kita bisa melakukan generalisasi atau analogi.
Hanya dengan dua aksioma-besar di atas Peano berhasil menyusun sistem aritmetika yang konsisten dan koheren. Versi asli Peano ada 9 aksioma. Saya menyederhanakan menjadi dua aksioma-besar agar lebih mudah untuk pembahasan.
3.4 Kehebatan Relasi
Agar lebih mudah memahami kehebatan logika-relasi, yang didasarkan pada aritmetika, kita akan membandingkan dengan logika jenis lain.
(1) Logika-universal Aristotelian hanya menganalisis suatu partikular masuk sebagai anggota dari universal. Misal, setiap persegi punya 4 sisi. Bangun A adalah persegi. Kesimpulan, A punya 4 sisi.
Sementara, logika-relasi mampu menjelaskan proses bagaimana bangun A berhasil memiliki 4 sisi.
(2) Logika-rekayasa dengan silogisme kreatif mampu mendesain kausalitas buatan. Jika tombol kanan maka listrik nyala. Jika listrik nyala maka pintu terbuka. Kesimpulannya, jika tombol kanan maka pintu terbuka.
Logika-rekayasa jelas sangat berguna untuk mengembangkan teknologi dan beragam kemajuan umat manusia. Tapi, logika-rekayasa tidak mampu menjelaskan hukum kausalitas. Karena kausalitas yang ada adalah hasil rekayasa belaka. Di sisi lain, logika-relasi mampu menjelaskan kausalitas tersebut secara obyektif.
(3) Interpretasi bahasa. Ketika logika-relasi berhasil menjelaskan seluruh fenomena secara obyektif, kemudian, muncul problem interpretasi bahasa. Peran subyek-pengamat sangat besar dalam interpretasi dan memaknai bahasa, sehingga, bersifat subyektif. Karena itu, kita perlu mengembangkan bahasa yang bersifat obyektif yaitu skrip-konsep.
3.5 Skrip-Konsep
Kita menggunakan bahasa sehari-hari yang memiliki makna denotasi dan konotasi. Makna konotasi, kental, bersifat subyektif. Makna denotasi dimaksudkan sebagai makna yang terkandung langsung dari bahasa tersebut. Kita berharap, makna denotasi bersifat obyektif. Bagaimana pun, makna obyektif tetap dipengaruhi oleh konteks pemakaian bahasa tersebut. Sehingga, tidak lagi terjamin obyektif dengan satu makna tertentu.
Sementara, pernyataan dalam matematika bisa bersifat obyektif.
3 + 2 = 5 atau x + y = 7.
Seandainya, ada pihak yang salah paham terhadap pernyataan matematika, maka, kita bisa melakukan klarifikasi dan dihasilkan makna obyektif tunggal.
Frege mengembangkan skrip-konsep untuk menjadi bahasa obyektif dengan makna tunggal. Tentu saja, kita akan lebih mudah mengembangkan skrip-konsep mulai dari matematika itu sendiri.
“n adalah himpunan bilangan ganjil antara 3 dan 7.”
Apakah 3 masuk dalam n atau tidak? Kata “antara” bisa bermakna batas 3 masuk sebagai solusi. Tapi, bisa juga 3 tidak masuk solusi. Lebih jelas dengan ungkapan matematika,
{ 3 < n < 7; n ganjil }
Dengan notasi lebih dari (<), jelas, bahwa 3 tidak termasuk solusi.
Skrip-konsep melangkah lebih jauh dengan membuat “skrip” atau simbol untuk berbagai macam kata.
“e” adalah “exist”
“A” adalah “All”
==> adalah “maka”
Dan, masih banyak lainnya.
Dengan makin banyaknya skrip, para ahli matematika berhasil menuliskan ide secara obyektif dan jelas. Lebih menarik lagi, skrip-konsep ini lebih singkat dan lebih jelas dari bahasa biasa. Dengan demikian, terbukti skrip-konsep berhasil menciptakan bahasa obyektif yang berbeda dengan bahasa sehari-hari.
Frege berharap, suatu saat di masa depan, akan tercipta skrip-konsep yang lengkap. Sehingga, kita bisa menulis dan membaca secara obyektif murni. Baik untuk kepentingan ilmiah atau pun lainnya. Akankah harapan Frege menjadi nyata? Kita perlu melihat sejarah dan situasi saat ini – setelah 120 tahun Frege mengharapkan itu.
3.6 Sistem Formal
Sistem yang didasarkan pada beberapa aksioma disebut sebagai sistem formal atau sistem aksiomatik. Sistem Aritmetika Peano adalah contoh sistem formal. Analisis Frege membuktikan bahwa Aritmetika Peano memberikan semua yang dibutuhkan sebagai pengetahuan obyektif. Semua prinsip umum logika bekerja dengan baik, hukum kausalitas berjalan dengan baik, dan yang sangat penting, dapat dikomunikasikan secara obyektif.
Langkah berikutnya, dengan memanfaatkan skrip-konsep, meluaskan sistem formal ke sistem yang lebih besar dari aritmetika. Secara umum, perluasan ke geometri dan aljabar bisa berjalan lancar. Untuk perluasan ke sistem lain, misal ke sistem sains atau bahasa, hanya perlu waktu saja.
Dengan demikian, semua sistem bisa kita pandang sebagai sistem formal yang obyektif. Sejatinya, bagi kita yang hidup satu abad setelah Frege, lebih mudah memahami eksistensi sistem formal. Teknologi digital bisa kita pandang sebagai sistem formal obyektif yang setiap hari menemani kita. Jadi, sistem formal benar-benar hadir dalam hidup kita.
Benarkah Frege berhasil dengan semua impiannya?
Bahkan, masih di tahun 1900an, buku karya Frege masih dalam proses penerbitan, Russell memberikan kritik yang sangat tajam. Kelak, kritik ini dikenal sebagai Paradox Russell yang sulit ditangani.
3.7 Paradox Russell
Frege menerima surat dari Russell yang berisi kritik tajam. Frege mengaku kritik Russell adalah valid. Dan, Frege tahu bahwa Russell ada di sisi yang sama dengannya. Kritik tersebut murni untuk kebaikan sistem formal itu sendiri. Beberapa belas tahun kemudian, Wittgenstein muda yang berbakat datang ke Frege untuk belajar logika. Frege menolak Wittgenstein dan menyarankannya untuk belajar ke Russell. Tampaknya, Frege sadar masa depan sains ada pada Russell.
Paradox Russell sudah sangat terkenal. Sistem formal yang berlaku prinsip identitas,
H = H
mengarah kepada kontradiksi diri atau paradox.
Misalkan, H = himpunan yang beranggotakan semua himpunan selain dirinya sendiri.
Apakah H beranggotakan H?
(1) Jika H anggota H maka H harus bukan anggota H.
(2) Jika H bukan anggota H maka H harus anggota H.
Paradox Russell ini valid. Tetapi, karena buku Frege sudah dalam proses percetakan, maka, tidak ada waktu untuk merevisinya. Lebih serius dari itu, 10 tahun berlalu, tetap belum ada solusi memuaskan. Tidak ditemukan cara untuk merevisinya.
Baru pada tahun 1910an, Russell bersama mentornya – Whitehead, menuliskan solusi resmi dalam maha karya “Principia Mathematica.” Solusi Russell fokus terhadap pernyataan predikatif.
Hanya pernyataan predikatif yang diijinkan dalam sistem formal. Sedangkan pernyataan impredikatif dilarang, yaitu, pernyataan yang membicarakan dirinya sendiri. Berikut ini adalah contoh pernyataan impredikatif.
(P): Pernyataan ini salah.
Karena (P) berbicara tentang (P) maka impredikatif dan dinyatakan sebagai tidak valid. Pernyataan sejenis ini, yang merujuk diri sendiri, adalah sumber paradox. Dengan menyingkirkan pernyataan impredikatif, sistem formal selamat dari paradox.
Solusi Russell seperti di atas, tampaknya, tidak terlalu lama bertahan. Pada tahun 1930an, muncul paradox baru yang lebih serius: paradox Godel.
3.8 Paradox Godel
Godel (1906 – 1978) masih sangat muda ketika merumuskan teorema Godel pada tahun 1930an. Teorema Godel, yang juga dikenal sebagai paradox Godel, mengatakan, “Setiap sistem formal tidak lengkap atau tidak konsisten.”
Singkatnya, meski sistem formal sudah mengikuti saran Russell untuk mencegah pernyataan impredikatif, tetap saja, sistem formal tidak konsisten. Yang menarik lagi, Godel berhasil mengubah sistem formal menjadi terdiri dari angka-angka besar yang merupakan hasil kali bilangan prima berpangkat. Segala sesuatu hanya terdiri dari angka-angka. Dan, angka-angka ini membuktikan bahwa sistem formal adalah tidak konsisten.
Beberapa tahun ke depan, paradox Godel ini sudah bertahan dalam satu abad. Dalam rentang satu abad ini, banyak kajian yang menguatkan validitas paradox Godel.
Dengan demikian, impian untuk mengembangkan sistem formal yang konsisten dan obyektif menemui jalan buntu karena sistem formal selalu tidak konsisten atau tidak lengkap. Untuk menjadi agar tetap konsisten, sistem formal perlu campur tangan subyektivitas. Demikian juga, untuk menjaga agar lengkap perlu subyek. Sementara, subyek itu sendiri tidak konsisten dan tidak lengkap pula.
Meski paradox Godel tidak bisa diatasi, kita bisa memberi solusi pada sistem formal itu sendiri. Salah satu solusi terpenting, muncul menjelang abad 21, berupa sistem paraconsistent.
3.9 Paraconsistent
Routley, atau Richard Sylvan, (1935 – 1996) adalah pemikir asal Australia yang menghabiskan masa dewasanya di Bali, Indonesia. Routley mengembangkan logika paraconsistent, yaitu, logika yang merangkul inkonsistensi – menerima karakter tidak konsisten. Dengan demikian, sistem formal tetap valid meski tidak konsisten karena ada paradox Godel.
Inkonsistensi, tidak konsisten, atau kontradiksi sudah menghantui para pemikir sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka menghindari kontradiksi. Karena ECQ: Ex Contradictione Quodlibet. Dari kontradiksi bisa apa saja. Jika kontradiksi dibolehkan, maka, pikiran apa saja bisa terjadi.
(A): Jokowi adalah presiden terbaik. (B): Jokowi bukan presiden terbaik.
(A) dan (B) saling kontradiksi. Jika kontradiksi dibolehkan maka orang bebas menyatakan (A) yang benar atau orang lain menyatakan bahwa (B) yang benar. Segalanya menjadi tidak ada makna jika boleh kontradiksi. Dan, paradox Godel menyatakan bahwa setiap sistem formal selalu mengandung kontradiksi.
Solusi dari paraconsistent adalah mengijinkan kontradiksi dengan syarat tidak “meledak.” Maksudnya, kontradiksi hanya terbatas pada kasus-kasus tertentu saja. Kasus-kasus umum tetap terjaga dari kontradiksi, tetap aman dan konsisten. Sedikit ilustrasi akan memudahkan pemahaman.
“Kelas yang terdiri dari 20 siswa menentukan pilihan sikap berdasar suara terbanyak – demokrasi. Ketika suara berimbang maka ketua kelas yang menentukan pilihan.”
Paraconsistent menunjukkan bahwa dalam banyak kasus akan konsisten bahwa suara terbanyak adalah pemenang. Tetapi, ketika suara imbang 10 vs 10 maka perlu tindakan inkonsisten, tidak konsisten, yaitu ketua kelas menentukan sikap. Karakter inkonsisten seperti ini bisa diterima karena jarang terjadi dan tidak “meledak.”
Bisa terjadi skenario yang lebih tidak konsisten lagi. Pada tahap pemilihan suara, misal, ketua kelas mendukung A. Karena posisi imbang 10 vs 10, kemudian, ketua kelas memutuskan untuk mendukung B. Manusia memang tidak konsisten. Bagaimana pun, sikap tidak konsisten dari ketua kelas perlu mendapat kritik yang memadai. Ketua kelas juga perlu bersikap terbuka terhadap kritik untuk mengembangkan sistem yang lebih baik.
Kasus nyata terjadi di PBB: Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam banyak kasus, sikap PBB ditentukan secara demokratis. Tetapi, dalam beberapa kasus penting ada anggota yang punya hak veto. Tentu saja, hak veto tidak konsisten. Hak veto hanya dimiliki oleh anggota khusus saja. Sehingga, konsep hak veto ini perlu dikritisi secara tajam. Misal dari 5 negara yang punya hak veto, 2 negara di antaranya perlu dimatikan sementara vetonya dalam satu tahun. Tahun berikutnya, berganti 2 negara lain yang dimatikan sementara vetonya, bergiliran. Sehingga, dalam satu waktu hanya ada 3 negara hak veto yang aktif. Dengan cara ini, PBB bisa mencegah penyalahgunaan hak veto untuk kepentingan sepihak negara tertentu.
Jadi, sampai di sini, apa kontribusi dari logika relasi?
Pertama, logika relasi gagal untuk menghadirkan logika dan pengetahuan yang murni obyektif. Sistem logika, atau sistem filsafat, yang lain sama saja. Mereka juga gagal menghadirkan pengetahuan yang murni obyektif. Bagaimana pun, logika-relasi berhasil mendorong penyelidikan yang kuat bobot obyektivitasnya, misal matematika, sains, filsafat analitik, dan lain-lain.
Kedua, logika-relasi berhasil mendorong sistem formal ke batas maksimal. Logika-relasi berhasil menunjukkan beragam paradox logika, di antaranya, paradox Russell dan paradox Godel. Paradox bukan karena logika berpikir yang salah. Tetapi, paradox ini memang karakter dari sistem formal itu sendiri. Tampaknya, sistem bukan formal berpotensi lebih banyak paradox lagi.
Ketiga, logika-relasi mendorong pengembangan sitem yang responsif terhadap paradox. Salah satunya, sistem paraconsistent adalah sistem formal yang menerima kontradiksi atau paradox dengan syarat tidak “meledak.” Dengan demikian, setiap sistem perlu terbuka dengan paradox dan bersikap kritis terhadap solusi terbaiknya.
4. Logika Dialektika Hegel
Hegel, pada abad 19, mengembangkan logika dialektika yang berbeda dengan Aristoteles mau pun Frege di era berikutnya. Logika dialektika bukanlah metode berpikir yang benar (saja). Tetapi, logika dialektika adalah sistem metafisika lengkap. Logika adalah prinsip realitas seluruh alam semesta, termasuk prinsip pikiran dan prinsip alam dunia luar. Ditambah lagi dengan menerapkan prinsip kontradiksi maka logika dialektika Hegel makin sulit dipahami banyak orang.
4.1 Tesis – Antitesis – Sintesis
Barangkali, Hegel paling terkenal dengan trilogi tesis-antitesis-sintesis. Trilogi ini cukup bagus menggambarkan logika dialektika Hegel. Meski demikian, logika Hegel jauh lebih luas dan lebih mendalam dari trilogi yang umumnya dipahami. (Sebelumnya, Kant dan Fichte sudah mengembangkan konsep trilogi ini lebih awal dari Hegel.)
Tesis: Ibu kota negara perlu segera dipindahkan. Antitesis: Ibu kota negara TIDAK perlu segera dipindahkan.
Sintesis: Ibu kota negera perlu dipindahkan pada waktu yang tepat, misal, mulai tahun 2025.
Setiap tesis akan menghasilkan kontradiksi, perlawanan, yaitu antitesis. Kemudian, mereka berdialektika menghasilkan sintesis yang merangkul tesis dan antitesis secara bersama dalam tingkat yang lebih tinggi. Suasana dialektika yang sehat mampu mendorong masyarakat untuk maju dengan adil makmur.
Kapan dialektika akan berhenti? Tidak pernah berhenti. Karena, dialektika akan berhenti ketika diraih “kebenaran mutlak”. Sementara, kita tidak akan berhasil mencapai kebenaran mutlak dalam realitas bermasyarakat.
Tesis: Tahun 2025 adalah saat yang tepat untuk mulai pindah ibukota. Antitesis: Tahun 2025 adalah saat yang TIDAK tepat untuk mulai pindah ibukota.
Apa sintesis terbaiknya? Tugas manusia untuk memikirkannya.
4.2 Being – Esensi – Idea
Berikutnya, kita akan membahas logika dialektika Hegel lebih mendalam. Pertama, logika obyektif yang melibatkan alam raya kecuali subyek atau kehidupan. Kedua, logika subyektif yang melibatkan subyek manusia dan seluruh alam raya. Manusia berpikir tentang seluruh alam raya sebagai obyek, termasuk pikirannya sendiri juga sebagai obyek.
Logika Obyektif
Being adalah seluruh realitas alam raya. Being-in-itself. Realitas yang nyata dalam dirinya sendiri. Bumi, matahari, batu, meja, dan lain-lain adalah being, realitas alam nyata.
Esensi adalah yang paling esensial dari realitas. Esensi batu adalah hakikat batu itu sendiri. Batu menegaskan dirinya adalah batu – melalui hukum alam misalnya. Batu berbeda dengan gunung, pasir atau lainnya. Tetapi esensi batu, sejatinya, tidak ada. Karena yang ada adalah realitas batu – being.
Esensi batu, melalui hukum alam, “menilai” being sebagai tidak-esensial. Hanya esensi batu yang esensial. Being-batu hanya ilusi semata. Dalam momen ini, status being diturunkan sekedar sebagai abstraksi yang ditempelkan kepada esensi. Terjadi kontradiksi being lawan esensi di alam raya. Proses dialektika.
Becoming, proses menjadi batu yang baru melalui dialektika. Esensi kembali menghadapi being realitas yang nyata. Kontradiksi disatukan oleh realitas yang lebih tinggi, sintesis, becoming batu yang baru. Batu yang baru itu, sejatinya, adalah being realitas yang nyata juga. Sehingga, proses dialektika terus berlanjut.
Logika obyektif dialektika ini tidak bertentangan dengan sains apa pun. Lebih tepatnya, dialektika membahas proses pada tataran berbeda dari sains empiris. Logika obyektif dialektika menjelaskan proses gerak realitas secara idealis. Sementara, sains menjelaskan gerak realitas pada tataran empiris.
Hegel hidup 100 tahun setelah masa Newton. Maka, kita bisa mengasumsikan bahwa Hegel sudah membaca mekanika Newton. Sehingga, wajar, jika Hegel tidak bertentangan dengan Newton.
Contoh, ketika batu didorong dengan gaya F maka batu akan bergerak dengan percepatan a sesuai mekanika Newton. Di mana dialektika nya?
Interpretasi proses dialektika: batu mendapat dorongan gaya F maka batu melawan dengan hukum kelembaman. Gaya F melawan balik, lagi, dengan “menyatakan” bahwa F akan menggerakkan batu. Begitu selanjutnya, kelembaman akan terus melawan F. Sampai akhirnya, becoming, apakah F lebih besar dari kelembaman gaya gesek statis. Jika F lebih besar maka batu berhasil bergerak dengan percepatan a.
Seandainya, hukum mekanika Newton direvisi maka, tetap saja, dialektika berlaku. Karena, dialektika bekerja pada tataran being-realitas di balik sains empiris. Dialektika mempersilakan sains empiris untuk terus berkembang.
Logika Subyektif
Logika subyektif lebih kompleks dari logika obyektif. Karena, logika subyektif melibatkan kehidupan, misal manusia sebagai subyek, dan alam raya obyektif sebagai obyek. Bagi manusia, bahkan dirinya sendiri juga termasuk sebagai obyek dari logikanya.
Silogisme, umumnya, dipandang sebagai logika obyektif. Tetapi, bagi Hegel, silogisme justru masuk logika subyektif rasional.
Tiga momen logika subyektif: subyektivitas, obyektivitas, idea.
Di dalam subyektivitas: ide (notion), judgement (penilaian), dan silogisme.
Pertama, subyek bebas menyatakan ide: saya adalah saya. Atau, saya adalah manusia. Tahap ini adalah kebebasan murni. Subyek bebas menentukan dirinya sebagai apa atau sebagai siapa. Hanya ada subyek.
Harimau bebas menyatakan diri bahwa saya adalah harimau – tentu dengan cara sesuai hukum alam. Pohon bebas menyatakan saya pohon begini atau begitu. Virus bebas menyatakan diri sebagai virus. Khusus bagi manusia, mereka benar-benar bebas menyatakan diri sebagai apa saja sesuai idenya sendiri.
Kedua, subyek melakukan judgement (penilaian). “Aku ‘merasa nyaman’ di air, ” menurut ikan. “Aku ‘senang’ dengan cahaya matahari,” menurut pohon. “Aku suka berpetualang,” kata manusia.
Dalam proses menilai, subyek mulai berkontradiksi dengan dunia luar. Aku berhadapan dengan bukan aku. Kebebasan berhadapan dengan keniscayaan. Sebagai manusia, kita bisa melakukan penilaian dalam derajat yang beragam. Kaki tertusuk duri maka terasa sakit. Penilaian intuitif sederhana langsung. Kita juga bisa menilai keindahan suatu lagu. Hati tersentuh dengan nada-nada yang merdu. Penilaian estetik tingkat tinggi.
Ketiga, subyek berpikir silogisme yang rasional. Kita, sebagai subyek, berpikir secara silogisme eksplisit atau implisit. Memilih satu tindakan akan menyebabkan hasil tertentu. Memilih tindakan berbeda bisa menyebabkan hasil yang berbeda.
Berbagai macam pemikiran rasional silogisme kita kembangkan dalam diri kita. Tentu saja, hanya manusia yang mampu merumuskan silogisme secara formal eksplisit. Sementara, binatang berpikir dengan cara yang lebih sederhana.
Bahkan kita, manusia, mampu berpikir dengan obyek silogisme berupa pikiran kita sendiri. Kita bisa berpikir tentang masa depan diri kita atau kenangan masa lalu kita. Kita bisa berandai-andai tentang suatu kehidupan.
Tiga proses di atas – ide, penilaian, silogisme – membentuk subyektivitas dalam logika subyektif. Selanjutnya, subyektivitas ini akan berhadapan dengan obyektivitas untuk proses dialektika.
Di dalam obyektivitas: mekanisme, kimiawi, teleologi.
Obyektivitas berdialektika dengan subyektivitas maka terbentuklah idea yang lebih tinggi.
Mekanisme adalah hukum obyektif yang mengatur being realitas alam raya. Hukum gravitasi, elektromagnetik, termodinamika, dan lain-lain. Hukum ini bekerja dari luar mengenai obyek-obyek yang ada di alam raya. Sains mengkaji hukum-hukum mekanisme yang mengatur alam raya ini.
Kimiawi adalah hukum yang mengatur proses-proses semacam reaksi kimia, misal reaksi hidrogen dan oksigen menghasilkan air. Hukum kimiawi adalah hukum yang tampak tersembunyi, di masa itu. Barangkali, fisika quantum dan medan gravitasi juga bisa kita masukkan ke hukum ini. Mekanisme cenderung bekerja dari “luar” obyek. Sementara, kimiawi cenderung bekerja dari “lebih dalam”. Sains bisa mengkaji hukum kimiawi.
Teleologi adalah obyek yang memiliki tujuan akhir, misal, berupa makhluk hidup. Dari makhluk hidup sel satu, tumbuhan, binatang, sampai manusia itu sendiri. Kehidupan mempunyai hukum dari dalam diri: “purposiveness” atau tujuan. Benda-benda tak hidup pun, dari prespektif tertentu, memiliki tujuan, misal, menambah entropi sesuai hukum termodinamika. Sains bisa mengkaji teleologi dengan konsekuensi lebih banyak melibatkan interpretasi dibanding dengan mekanisme.
Khusus bagi manusia, mampu merumuskan tujuannya dengan formal eksplisit. Dan, manusia sebagai obyek merangkap sebagai subyek sekaligus.
Kita perhatikan, secara ruang, mekanisme bekerja dari luar, kimiawi bekerja dari tengah, dan teleologi bekerja dari dalam obyek. Sedangkan, secara waktu, determinasi (kekuatan) makin membesar pada obyek, berurutan dari mekanisme, kimiawi, sampai teleologi.
Subyek berhadapan dengan obyek. Subyektivitas berdialektika dengan obyektivitas. Kontradiksi mendorong gerakan lebih maju menghasilkan sintesis – becoming. Hasil sintesis ini adalah idea (notion/konsep) yang merangkul harmonis subyektivitas dan obyektivitas.
Di dalam idea: kehidupan, kognisi, ide.
Kehidupan menampakkan diri dalam badan fisik yang terorganisir. Badan ini berhubungan dengan badan lain – mengkonsumsi makanan dan menghasilkan makanan untuk yang lain. Pada akhirnya, kehidupan bereproduksi menghasilkan kehidupan baru – generasi penerus.
Kognisi adalah kemampuan untuk “memahami” informasi dan mengolahnya. Subyek yang berdialektika dengan obyek “menyadari” beragam informasi yang lalu lalang. Untuk kemudian, berdasar kognisi ini menentukan respon yang tepat.
Ide adalah freedom, kebebasan sejati. Dengan ditopang oleh kehidupan yang dinamis dan kognisi terhadap informasi, ide menentukan sikap dengan kebebasannya. Bagi manusia, kebebasan ide ini dapat diungkapkan secara eksplisit formal atau pun implisit. Ide bergerak maju dengan menyatukan subyektivitas dan obyektivitas.
Ide itu sendiri adalah realitas nyata. Ide adalah being. Karena itu, proses dialektika berlangsung lagi, terus-menerus tanpa henti.
4.3 Dialektika Siklis
Kita bisa membayangkan dialektika ringkas dengan membayangkan putaran jarum jam dinding yang hanya terdiri dari 3 angka.
(1) Being (2) Esensi (3) Becoming
Tetapi (3) Becoming itu sendiri adalah derajat baru dari (1) Being. Sehingga, setelah jam (3) akan kembali ke jam (1). Begitu seterusnya siklus dialektika.
Logika obyektif: (1) Being: realitas alam nyata berdialektika dengan; (2) Esensi: karakter esensial yang mendorong; (3) Becoming: terbentuk realitas derajat baru being maka kembali (1).
Logika subyektif: (1) Being: realitas subyek yang punya ide, judgement, dan silogisme berdialektika dengan; (2) Esensi: karakter obyek yang bekerja secara mekanis, kimiawi, dan teleologis mendorong; (3) Becoming: terbentuk kehidupan kognitif merangkul subyek dan obyek dalam ide yang sejatinya adalah derajat baru dari being; kembali (1).
4.4 Fokus Silogisme
Mari kita lebih fokus tentang silogisme dalam sistem logika dialektika Hegel. Pertama, silogisme adalah logika subyektif. Kedua, silogisme hanya bagian kecil dari sistem logika – dan bisa jadi bukan yang utama. Ketiga, silogisme merupakan bagian dari siklus dialektika sehingga kesimpulan akhir ikut menjalani proses siklus.
Dengan tiga karakter di atas, silogisme dialektika berbeda jauh dengan silogisme logika klasik.
Silogisme subyektif. Silogisme bukan realitas dari obyek. Silogisme adalah realitas dari subyek. Meskipun, pada akhirnya, subyek dan obyek bersatu dalam idea. Subyek adalah obyek dan obyek adalah subyek. Identitas subyek dan obyek.
Mengapa silogisme valid? Karena, subyek memutuskan secara rasional bahwa silogisme itu valid. Seandainya, subyek memanfaatkan kebebasan idea untuk meragukan silogisme maka silogisme akan gagal mencapai kesimpulan akhir.
Mengapa kesimpulan valid? Karena premis valid. Mengapa premis valid? Karena berdasar judgement. Mengapa judgement valid? Dan seterusnya, idea bisa menanyakan “mengapa” tanpa henti. Akibatnya, silogisme gagal mencapai kesimpulan akhir yang valid.
Dalam logika subyektif, subyek berpikir rasional dan mengambil kesimpulan berdasar silogisme serta mencukupkan diri sampai premis tertentu saja. Kesimpulan akhir berhasil dicapai oleh subyek.
Silogisme bukan utama. Silogisme hanya merupakan bagian kecil dari sistem logika dialektika. Sementara bagi logika klasik, silogisme adalah bagian paling utama. Bahkan, dalam formula logika Boolean, kita bisa menganggap bahwa tugas logika adalah hanya silogisme. Yaitu silogisme untuk memastikan suatu proposisi bernilai BENAR atau SALAH.
Dalam logika dialektika, silogisme adalah 1 dari 3 dalam subyek. Dan, subyek sendiri adalah 1 dari 3 dalam logika subyektif. Sementara, dalam logika obyektif tidak diperlukan silogisme. Sehingga, porsi silogisme kurang dari 10% dari sistem logika.
Logika klasik menempatkan diri, tampak, lebih prior dari dari sistem – realitas. Sementara, logika Hegel menempatkan diri sebagai “cermin logis” dari suatu sistem – realitas. Sehingga, logika klasik bisa mendefinisikan suatu sistem logika tanpa obyek sistem realitas. Sementara, logika Hegel hanya bisa mendefinisikan sistem logika dengan “melihat” obyek sistem realitas. Ditambah lagi, logika Hegel bergerak dinamis siklis. Jika kita bermaksud mendesain sistem logika lebih awal dari sistem realitas, maka, itu adalah hipotesis atau rencana atau model.
Silogisme siklis. Karena dialektika bersifat siklis dan silogisme merupakan bagian dari dialektika maka silogisme juga bersifat siklis. Dalam logika klasik, silogisme bersifat linear. Bila sudah dicapai kesimpulan akhir maka kesimpulan tersebut sudah selesai.
Dialektika mengantar being-subyek ke derajat yang lebih tinggi. Maka silogisme, dalam dialektika Hegel, akan berproses lagi dalam derajat yang lebih tinggi mengikuti siklus realitas.
Apa yang dimaksud ‘being” oleh Hegel? Apa itu idea absolut? Apa itu spirit?
Bisa kita duga, interpretasi terhadap Hegel adalah beragam, berbeda-beda, dan bahkan, saling kontradiksi. Sehingga, interpretasi itu sendiri juga mengalami dialektika siklis, terus-menerus, tanpa henti. Di sini, kita akan membahas hanya tiga interpretasi saja: materialisme, pengetahuan, dan spirit.
Materialisme
Karl Marx (1818 – 1883) adalah tokoh utama Marxisme. Marx mengadopsi logika dialektika Hegel dengan memberi interpretasi tegas materialis. Maka terbentuklah dialektika materialis. Semua masalah, pada analisis akhir, adalah masalah materi terutama materi yang berkaitan dengan kebutuhan ekonomi.
Marx meramalkan bahwa masyarakat industri akan melahirkan kontradiksi diri untuk kemudian berdialektika. Masyarakat kapitalis melahirkan kaum elit kapitalis kaya raya, yang berkontradiksi dengan kaum buruh – yang miskin papa. Mereka berkontradiksi, berdialektika, untuk kemudian, melahirkan masyarakat baru yang adil dan bebas.
Kapitalis, terus-menerus, menghasilkan ketimpangan. Kapitalis menciptakan dominasi pihak kuat terhadap pihak lemah. Kapitalis banyak mengeksploitasi kecurangan. Kritik-kritik tajam terhadap kapitalisme terus subur sampai saat ini, khususnya, dari pendukung Marxisme atau variannya.
Tetapi apakah adil menafsirkan “idea” dari Hegel sebagai “materi”? Seperti kita tahu, Hegel sering menggunakan kata spirit dan Tuhan.
Lenin (1870 – 1924) memberi cara mudah membaca Hegel dengan pendekatan materialis. Jika Hegel menulis “spirit” maka maksudnya adalah “manusia” atau sesuatu yang berhubungan dengan manusia secara alamiah. Jika suatu paragraf memuat kata “Tuhan” maka lewati paragraf tersebut.
Memang cukup mengherankan bahwa Hegel ditafsirkan secara materialis. Nyatanya, manusia menemukan cara untuk melakukan itu. Manusia memang pandai menafsirkan segala sesuatu. Tentu saja, banyak pro-kontra di sana sini.
Zizek (1949 – ) meng-klaim bahwa Hegel lebih materialis dari Marx. Saya sulit memahami itu. Saya lebih mudah memahami bahwa Zizek lebih materialis dari Hegel atau, bahkan, dari Marx. Sementara, Hegel lebih kaya akan nuansa makna.
Spirit
Interpretasi paling jelas kepada Hegel adalah spiritualis. Ketika Hegel menyatakan spirit maka maksudnya memang spirit – ruh. Ketika Hegel menulis tentang Tuhan, memang maksud Hegel adalah Tuhan semesta alam.
Charles Taylor (1929 – ) menyatakan bahwa spirit yang mewarnai filsafat Hegel adalah kelanjutan spirit masa lalu dan berlanjut ke spirit di masa depan. Taylor menyadari bahwa pemikir kontemporer cenderung berpikir sekular dengan menyisihkan spirit di sudut gelap wacana. Tetapi, pandangan materialis seperti itu memang tidak memadai. Spirit muncul, lagi dan lagi, dalam kehidupan manusia. Kita, memang, harus menerima bahwa diri kita adalah spirit yang terus berproses untuk meraih spirit ideal. Begitulah idealisme Hegel.
Heidegger (1889 – 1976) meyakini bahwa yang dimaksud Hegel dengan spirit atau idea memang spirit metafisika – bukan sekedar sisi materialis dunia. Bahkan, spirit Hegel adalah spirit transenden.
Pengetahuan
Interpretasi paling moderat adalah pengetahuan. Ketika Hegel menyebut idea atau being maka yang dimaksud adalah pengetahuan.
Dengan interpretasi pengetahuan ini, maka kita memandang Hegel sebagai modifikasi dialektika Plato-Sokrates dan kelanjutan dari Kritik Pertama Kant mau pun Kritik Ketiga Kant.
Dialektika Socrates, sederhananya, menyatakan bahwa setiap pengetahuan kita adalah tesis. Maka akan mendorong hadirnya antitesis, untuk kemudian, berdialektika melahirkan sintesis. Gadamer (1900 – 2002) memandang penting proses dialektika seperti ini dalam hermeneutika.
Pippin (1948 – ) memahami Hegel sebagai kelanjutan dari Kritik Pertama Kant tentang akal murni. Kant berhasil menyatukan rasionalisme (Descartes, Spinoza, Leibniz) dengan empirisme (Hobbes, Locke, Hume). Pada bagian akhir, Kant mengakui berhadapan dengan beragam paradox (antinomi) yang tidak bisa diselesaikan. Dialektika Hegel mengatasi antinomi dari Kant ini. Pegetahuan yang terus berproses dialektika dinamis akan makin sempurna sampai akhirnya mencapai “Absolute Spirit”.
Karen Ng (di tahun 2020) memahami Hegel sebagai kelanjutan dari Kritik Ketiga Kant tentang “judgement”. “Form of life” yang memiliki “inner purposiveness” adalah fondasi dari semua pengetahuan manusia. Kant memahami “inner purposiveness” (tujuan terdalam) sebagai pengatur makhluk hidup (regulative). Sementara, Hegel menempatkan tujuan terdalam sebagai konstitutif – penyusun dari seluruh pengetahuan manusia.
Ringkasan Logika Hegel
Mari kita ringkas logika dialektika Hegel yang berbeda dengan logika klasik (logika standar).
Pertama, logika Hegel adalah dinamis sesuai realitas. Sementara, logika klasik berlaku apriori secara universal – metafisika.
Kedua, logika Hegel merupakan “cermin” atau interpretasi dari sistem realitas. Sedangkan, logika klasik adalah acuan bagi realitas. Realitas, seharusnya mengikuti logika klasik. Sebaliknya, sistem logika Hegel seharusnya mengikuti realitas.
Ketiga, logika Hegel adalah logika subyektif dalam arti memberi peran utama bagi subyek – di samping logika obyektif. Sementara, logika klasik adalah logika obyektif tanpa harus memperhatikan subyek. Dalam logika Hegel, subyek mempunyai tugas untuk memahami realitas dan memahami logika obyektif.
Berikutnya, kita akan membahas logika visi-iluminasi dari Suhrawardi yang ada beberapa kemiripan dengan logika Hegel.
5. Logika Visi Iluminasi Suhrawardi
Suhrawardi (1154 – 1191) mencermati bahwa proses berpikir logis secara deduksi dan induksi berkembang luas di mana-mana. Suhrawardi menemukan kelemahan silogisme deduksi terletak pada fondasinya. Bagaimana kita bisa berpikir logis jika fondasi logika rapuh?
Suhrawardi tidak hanya mengkritik fondasi logika klasik. Di saat yang sama, Suhrawardi memberi solusi dengan logika visi-iluminasi. Solusi ini tidak mudah. Karena setiap proposisi akan melibatkan abstraksi terhadap realitas, esensi dan eksistensi. Akibatnya, skeptisme Pyrrho (360 – 270 SM) tetap bisa diterapkan di sini. Bahasa “simbolis” akan menjadi solusi.
Di era kontemporer ini, kita menghadapi tantangan demokrasi. Apakah visi-iluminasi bisa sejalan dengan demokrasi? Tentu bisa. Bahkan, visi-iluminasi menjadikan demokrasi lebih sehat. Kesulitannya adalah, visi-iluminasi, menuntut kita untuk menjunjung tinggi etika dan memahami bahasa simbolis. Ketika masyarakat luas berhasil menjunjung etika dan memahami bahasa simbolis, maka, demokrasi adil makmur menjadi realita.
5.1 Deduksi Tidak Memadai
Paling mendasar adalah analisis terhadap fondasi silogisme deduksi.
A: “Setiap persegi memiliki 4 sisi sama panjang.” B: “Bangun P adalah persegi.” Kesimpulan, C: “Bangun P memiliki 4 sisi sama panjang.”
Kesimpulan C, di atas, adalah valid berdasar silogisme deduksi. Bagaimana kita bisa tahu premis A adalah benar? Tentu, kita tidak bisa mengamati semua persegi yang ada lalu mengukur bahwa 4 sisinya sama panjang. Yang bisa kita lakukan adalah merumuskan esensi dari persegi. Dan, sifat dari esensi persegi adalah memiliki 4 sisi sama panjang.
Sehingga, premis A hanya berlaku terhadap esensi persegi ideal. Sementara, terhadap realitas persegi di alam raya, kita tidak bisa menyimpulkan apa pun.
Bagaimana validitas premis B: “Bangun P adalah persegi”? Barangkali, kita bisa langsung mengamati bangun P, kemudian, menyimpulkan bahwa bangun P adalah persegi. Bagaimana pun, setiap pengamatan (dan pengukuran) melibatkan suatu derajat ketidak-pastian. Sehingga, premis B tidak dijamin pasti benar.
Kita bisa menjamin B benar jika yang kita maksud adalah esensi ideal bangun P. Sehingga, premis B (dan premis A) hanya dijamin bernilai benar jika yang dimaksud adalah esensi ideal saja. Akibatnya, keseluruhan bangunan silogisme deduksi hanya berlaku terhadap esensi ideal saja. Sementara, kita menghadapi tantangan dunia nyata yang dipenuhi realitas “tidak ideal”. Logika visi-iluminasi akan menjawab tantangan ini.
5.2 Induksi Tidak Mencukupi
Sejak awal, misal Aristoteles, sudah menyadari bahwa logika induksi tidak mencukupi. Kesimpulan dari logika induksi bersifat kontingen, kemungkinan, atau tidak pasti. Suhrawardi menyadari hal yang sama.
Kesimpulan di atas sah berdasar logika induksi. Dan, kita sadar bahwa kesimpulan di atas bersifat kontingen. Bila sesekali, makan jeruk terasa TIDAK nikmat, maka kita bisa maklum.
Masalah muncul, ketika, orang-orang menganggap kesimpulan induksi bernilai benar secara universal. Atau, ada tantangan baru, bisakah kita mengetahui kebenaran realitas praktis secara niscaya, benar secara pasti? Secara umum, jawaban dari tantangan baru itu adalah negatif, kita tidak bisa. Adakah peluang untuk mendapatkan jawaban posifif? Pertanyaan ini sulit dijawab.
5.3 Visi-Iluminasi
Logika visi-iluminasi menjalankan proyek besar: mengembangkan fondasi logika yang kokoh. Kita perlu cara berpikir baru yang beda dengan logika klasik. Karena, cara berpikir lama, sudah terbukti, menunjukkan fondasi logika sebagai tidak kokoh.
5.3.1 Cahaya Realitas
Realitas paling jelas adalah realitas cahaya. Segala realitas lain, selain cahaya, perlu cahaya agar menjadi jelas, menjadi bisa dipahami. Sementara, realitas cahaya sudah jelas dalam dirinya sendiri. Realitas cahaya tidak memerlukan realitas lain untuk menjelaskan cahaya.
Realitas cahaya tunggal yaitu cahaya itu sendiri. Tetapi, cahaya bisa tampil beragam. Cahaya bisa berbentuk lingkaran, persegi, dan bentuk kompleks lainnya. Ketika cahaya berbentuk lingkaran, maka, ukuran lingkaran bisa beragam besar dan kecilnya. Begitu juga, kekuatan intensitas cahaya lingkaran bisa beragam kuat dan lemahnya. Keragaman cahaya masih bisa kita buat lebih kompleks lagi dengan mengembangkan dimensi-dimensi lebih banyak.
Tentu saja, cahaya realitas bukan sekedar cahaya fisik seperti cahaya matahari. Cahaya realitas adalah bahasa simbol yang memudahkan kita untuk membahas logika visi iluminasi.
Dari mana cahaya realitas itu hadir? Ketika kita mengamati realitas yang beragam, maka, logis bagi kita menyusun prioritas realitas. Sebagian realitas ada sebagai sebab bagi yang lain – lebih prior. Sementara, sebagian realitas yang lain adalah akibat – lebih posterior. Dengan struktur logika prioritas maka kita akan sampai kepada cahaya paling utama. Sumber cahaya dari seluruh cahaya. Cahaya di atas cahaya. Cahaya-dari-Cahaya.
5.3.2 Abstraksi Esensi Eksistensi
Kita tidak bisa menghindar dari berpikir abstrak. Ketika kita berpikir tentang alam raya, maka, kita membuat abstraksi dari alam raya itu. Abstraksi dari dunia luar ini adalah esensi.
Ketika kita melihat meja berbentuk persegi, maka, bentuk persegi itu adalah esensi dari meja. Esensi tidak sama dengan realitas meja. Sedangkan, ketika kita berpikir bahwa meja itu “ada” di depan kita, maka, status “ada” ini adalah eksistensi abstraksi meja. Eksistensi tidak sama dengan realitas meja. Esensi meja bermacam-macam: bentuk persegi, terbuat dari kayu, bobot 5 kg, tinggi 70 cm, dan lain-lain. Sementara, eksistensi dari meja hanya satu: ada meja.
Realitas meja, oleh Suhrawardi dilambangkan sebagai cahaya-realitas-meja. Sadra (1465 – 1540) menyebut realitas meja dengan wujud-realitas-meja. Rumitnya, istilah “wujud” ini bisa bermakna ganda: wujud-realitas atau wujud-abstrak. Ketika wujud kita terjemahkan menjadi eksistensi, maka, tetap bisa bermakna ganda: eksistensi-realitas atau eksistensi-abstrak. Kita perlu cermat membedakan keduanya.
Heidegger (1889 – 1976) mengantisipasi kesulitan di atas dengan mengenalkan istilah “dasein” atau “being-there” untuk maksud cahaya realitas. Dasein berbeda dengan “sein” atau “being”. Karena sein masih bisa bermakna ganda: realitas atau abstraksi.
Dengan berbekal dasein, Heidegger meruntuhkan bangunan filsafat Barat yang dibangun sejak Plato – proyek destruksi metafisika. Heidegger menuduh filsafat hanya mengaku membahas “Being” tapi ternyata yang dibahas adalah “being”. Selalu ada “ontological difference” antara Being dan being.
Derrida, murid dari Heidegger, memperhalus proyek destruksi metafisika menjadi dekonstruksi metafisika. Derrida berhasil me-dekonstruksi metafisika. Tetapi, tidak ada yang berhasil menjembatani dasein (Being) dengan sein (being): “ontological difference.” Termasuk Derrida juga. Suhrawardi, sudah mencoba, membangun jembatan itu 8 abad lebih awal. Akankah Suhrawardi berhasil?
Dalam tulisan ini, kita akan lebih sering menggunakan istilah cahaya untuk melambangkan realitas.
5.3.3 Etika Sang Pencari
Kabar baiknya, semua orang bisa mengenali kebenaran esensi. Kabar berbeda, tidak semua orang mampu mengenali kebenaran realitas.
Untuk mengenali kebenaran esensi, seseorang hanya perlu belajar berpikir dengan logika yang benar. Sementara, untuk mengenali kebenaran realitas (cahaya) tidak cukup hanya menggunakan pikiran semata. Perlu usaha lebih besar, lebih dari sekedar berpikir semata, untuk kita agar bisa mengenali realitas kebenaran.
M : “Persegi yang panjang sisinya = 3 satuan maka luasnya = 3 x 3 = 9 satuan.”
Setiap orang yang belajar logika (matematika) akan mampu berhasil mengenali kebenaran pernyataan esensial M di atas. Orang yang belum mampu memahami, barangkali bisa belajar beberapa kali, kemudian, dia berhasil memahami kebenaran M.
V: “Investasi binary option adalah merugikan.”
Tidak mudah mengenali kebenaran V di atas. Apakah kita akan menilai V secara esensial? Esensi dari sudut mana? Ataukah kita akan menilainya secara realitas di alam raya? Siapa yang menilainya?
Secara esensi, V bernilai benar bahwa binary option adalah merugikan bagi mereka yang kalah. Sementara, bagi yang menang, binary option adalah menguntungkan, V bernilai salah. Secara total bagaimana? Zero sum game. Secara total adalah zero = nol. Jika ada yang menang 10 juta, maka, pasti ada yang kalah 10 juta juga. Tetapi, karena untuk menjalankan binary option perlu biaya operasional, biaya karyawan, dan lain-lain maka secara total jadi merugikan.
Secara realitas, kita perlu mengkaji lebih jauh lagi. Karena binary option ada di alam raya, maka, kita perlu mengkajinya dengan mempertimbangkan realitas alam raya. Lalu kita, sebagai pengkaji, apakah ada sikap awal pro-kontra terhadap binary option?
Etika sang pengkaji kebenaran, sang pencari kebenaran, menjadi penting ketika hendak mengkaji realitas. Kita perlu hati-hati dengan resiko bias dalam penilaian.
Jika seseorang mendapat keuntungan besar dari sistem binary option maka dia akan cenderung menyimpulkan bahwa binary option adalah menguntungkan. Meski zero sum game, bahkan ada biaya operasional, tetapi dampak binary option menjadikan perusahaan-perusahaan lebih cepat berkembang. Perusahaan pemula, start up, terpacu untuk melaju sukses. Penciptaan lapangan kerja makin luas. Pada gilirannya, binary option memajukan kesejahteraan manusia secara luas.
Ditambah lagi, gairah para pemain ketika memainkan binary option. Bikin hidup lebih hidup! Ketika menang, mereka gembira penuh gairah semangat. Ketika kalah, mereka mencari peluang menang pada kesempatan berikutnya. Tetap ada harapan besar untuk menang. Selalu ada harapan, gairah, dan semangat dalam alam raya ini.
Jika, di sisi lain, seseorang mengalami kerugian dari binary option maka dia akan menyimpulkan bahwa binary option adalah merugikan. Jelas, binary option merugikan pihak yang kalah. Ada yang rugi sampai 10 milyard rupiah. Bahkan, kabarnya, ada yang rugi sampai menembus 1 trilyun rupiah.
Kerugian besar seperti itu mengakibatkan beberapa orang mati mendadak akibat serangan jantung. Bahkan, ketika menang besar pun, bisa mati akibat serangan jantung mendadak. Ditambah lagi, ada beberapa kasus penipuan di sekitar binary option. Jadi, binary option benar-benar merugikan.
Adakah pengamat yang netral terhadap realitas? Yang benar adalah benar. Dan, yang salah adalah salah. Pengamat tanpa bias.
Pertama, pengamat esensial. Pengamat yang fokus kepada sisi esensi maka bisa menyatakan kebenaran obyektif tidak terpengaruh oleh subyek pengamat. Seperti kita bahas di atas, pengamatan ini hanya menyentuh esensi. Kita memerlukan pengamatan realitas.
Kedua, pengamat hukum positif. Di Indonesia, misalnya, kasus binary option tidak ada payung hukum. Maka binary option adalah ilegal, merugikan. Apalagi ada kasus penipuan. Sementara, di US misalnya, ada payung hukum untuk binary option. Sehingga binary option adalah legal, dan menguntungkan.
Dengan pertimbangan di atas, kebenaran hukum positif adalah kebenaran esensial – bukan kebenaran realitas.
Ketiga, pengamat beretika luhur. Pengamat yang menjunjung tinggi etika, mereka, berpotensi mampu mengenali kebenaran realitas. Pengamat yang bersih dari bias. Meski banyak kesulitan, mereka mampu menjalani proses logika visi-iluminasi.
5.3.3.1 Etika hidup sederhana
Hidup sederhana menjadi syarat dasar. Hanya orang yang mampu hidup sederhana, mereka, yang akan mampu mengenali kebenaran realitas. Meski pun, tidak semua orang yang sederhana akan mampu mengenali realitas.
Sederhana dalam hidup sehari-hari. Makan dan minum sekedarnya saja. Bahkan, makan hanya sedikit saja. Porsi makan di bawah kewajaran umum. Mereka rajin puasa. Puasa sejati untuk jiwa raga.
Sederhana dalam akumulasi kekayaan. Orang sederhana terbebas dari godaan kekayaan. Sehingga, dia bisa menilai realitas dengan adil dan benar. Sementara, orang yang mengumpulkan kekayaan beresiko bias dalam menilai realitas: ingin menambah kekayaan atau menghindari kerugiaan kekayaan.
Sederhana dalam jabatan politik. Kepentingan politik tentu bisa mengganggu kejujuran suatu penilaian realitas. Orang yang sederhana tidak tergoda dengan jabatan politik. Dia terlepas dari kepentingan politik sehingga mampu menilai realitas dengan tegas dan jelas.
Orang yang hidup sederhana bukannya tidak mampu bersaing politik, bukannya tidak mampu mengumpulkan kekayaan, bukannya tidak mampu berfoya-foya. Mereka mampu melakukan itu semua. Hanya saja, dengan penuh kesadaran, mereka memilih jalan hidup sederhana. Dengan hidup sederhana, mereka mampu menilai realitas tanpa bias, menilai realitas dengan jelas.
5.3.3.2 Etika logika profesional
Etika profesional menuntut kita mampu menguasai disiplin logika secara lengkap. Bukan karena logika klasik ada kelemahan, lalu, orang-orang boleh tidak menguasai logika klasik. Kita perlu menguasai logika klasik secara profesional karena logika klasik adalah pengantar untuk logika yang lebih tinggi. Pada gilirannya, kita tetap memanfaatkan logika klasik untuk berbagai keperluan.
5.3.3.3 Etika berpikir terbuka simbolis
Berpikir simbolis menjadi penting pada analisis akhir. Berpikir simbolis mengarah ke dua kutub. Pertama, kutub pasti, di mana, simbol-simbol menjadi bernilai pasti. Dalam matematika, kita menggunakan simbol angka yang bernilai pasti. Boole memanfaatkan simbol-simbol biner digital. Dan, Frege mengembangkan simbol “skrip konsep” yang diterapkan secara luas.
Versi kutub pasti ini, memandang simbol adalah yang paling utama. Kita menerapkan logika terhadap simbol-simbol. Tidak ada perbedaan pandangan terhadap logika simbol. Perbedaan muncul ketika kita membuat interpretasi terhadap simbol. Bagaimana pun, perbedaan itu sekedar interpretasi. Sementara, simbol sendiri tidak ada perbedaan.
Kedua, kutub kreatif, di mana, simbol mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran kreatif. Ada dua peran utama dari simbol pada kutub kreatif ini: simbol dari suatu realitas dan simbol pemicu realitas.
Cahaya realitas tidak bisa dirumuskan dan dibatasi dengan kata-kata. Realitas kebenaran lebih kuat dari semua kata-kata. Maka, cahaya realitas diungkapkan dalam bentuk simbol kata-kata. Sekali lagi, kata-kata berbeda dengan realitas. Kata-kata adalah simbol dari realitas.
Kata-kata simbolis ini penting untuk komunikasi kreatif.
Ketika kita menerima kata-kata simbolis maka simbol-simbol itu akan memicu realitas. Diri kita, jiwa kita, menciptakan realitas pengetahuan secara kreatif berdasar kata-kata simbolis.
Dengan kata lain, “kutub pasti” memandang simbol sebagai esensi. Sedangkan, “kutub kreatif” memandang simbol sebagai esensi untuk kemudian menghadirkan realitas. Dengan demikian, kita perlu berpikir terbuka simbolis.
5.3.4 Proses Visi-Iluminasi
Visi ada pada kemampuan subyek. Pertama, kita, manusia memiliki kemampuan untuk melihat. Kemampuan ini kita sebut sebagai visi. Tanpa kemampuan visi ini maka tidak akan terjadi penciptaan pengetahuan baru. Hanya dengan kemampuan visi, subyek akan mampu melihat obyek.
Iluminasi ada pada obyek. Kedua, obyek mampu memancarkan cahaya. Sehingga, cahaya obyek ini bisa dilihat oleh subyek. Obyek memancarkan cahaya bisa dari diri obyek itu sendiri atau dari sumber cahaya lain – misal dengan memantulkan cahaya atau dengan meneruskan cahaya.
Penciptaan pengetahuan terjadi langsung nir-waktu, nir-ruang. Ketiga, subyek yang ber-visi melihat obyek yang ber-iluminasi. Terciptalah pengetahuan baru oleh subyek tentang obyek. Tetapi, baik subyek mau pun obyek, keduanya, adalah cahaya. Penyatuan kedua cahaya ini membentuk cahaya baru yang lebih kuat. Cahaya subyek bersatu dengan cahaya obyek menjadi realitas cahaya baru. Subyek identik dengan obyek. Subyek mengetahui obyek dengan mengetahui dirinya sendiri.
Pengetahuan yang tercipta adalah pengetahuan langsung, knowledge by presence, ilmu huduri, cahaya-realitas. Atau, singkatnya kita sebut sebagai huduri.
Huduri bersifat sederhana, tunggal, dan pasti. Sehingga, huduri selalu bernilai benar. Tidak ada penyataan proposisional antara subyek dan predikat. Atau, tidak ada relasi antara subyek dan obyek. Akibatnya, huduri tidak mungkin salah. Hanya ada kemungkinan, huduri ada atau tiada. Ketika subyek berhasil menciptakan ilmu huduri maka tercipta huduri yang bernilai benar. Tetapi, jika subyek tidak berhasil menciptakan ilmu huduri maka tidak ada ilmu huduri sama sekali pada subyek bersangkutan di momen itu.
5.3.4.1 Pengetahuan Materi
Mari kita coba menerapkan logika visi-iluminasi untuk pengetahuan di dunia materi.
Pertama, subyek adalah kita, manusia, yang memiliki visi – kemampuan melihat dengan mata sehat. Kedua, obyek adalah meja yang ada di depan kita yang beriluminasi – memancarkan cahaya. Ketiga, penciptaan pengetahuan langsung (P): kita melihat meja.
Persyaratan untuk bisa tercipta pengetahuan P adalah subyek harus sehat. Obyek harus memancarkan cahaya untuk dilihat oleh subyek. Jika ada penghalang antara subyek dan obyek maka pengetahuan P tidak akan terbentuk. Barangkali, subyek justru melihat penghalang tersebut sehingga justru tercipta pengetahuan tentang penghalang.
Pengetahuan di dunia materi ini, meski bisa menggambarkan pengetahuan visi-iluminasi, tetapi, tidak terjadi kesatuan subyek dan obyek. Sehingga, pengetahuan materi bisa salah. Pengetahuan materi bersifat kontingen. Mungkin saja ada penghalang. Selanjutnya, di antara subyek dan penghalang itu, bisa ada penghalang baru dan begitu seterusnya tanpa henti. Karakter dari penghalang bisa saja transparan, hanya membelokkan cahaya, pembiasan cahaya.
Bagaimana pun, status pengetahuan materi tetap sah, sejauh kita meyakininya secara kontingen. Dengan demikian, pengetahuan ini menjadi wacana yang terus-menerus bisa direvisi untuk lebih sempurna.
Persayaratan lebih fundamental untuk tercipta pengetahuan (P: kita melihat meja) adalah adanya realitas sejati subyek dan obyek. Subyek sejati bukanlah mata yang sehat dan terhubung dengan sistem syaraf yang sehat. Subyek sejati adalah cahaya-jiwa-manusia yang mampu melihat karena terhubung dengan Cahaya-dari-Cahaya.
Begitu juga obyek sejati, bukanlah meja yang tersusun oleh kayu lengkap dengan struktur atomnya. Obyek sejati adalah cahaya-realitas-meja yang mampu memancarkan cahaya bersumber dari Cahaya-dari-Cahaya.
5.3.4.2 Pengetahuan Cahaya
Pada analisis akhir, setiap pengetahuan adalah pengetahuan tentang realitas-cahaya. Pada tahap ini, pengetahuan-cahaya selalu bernilai benar.
Subyek adalah realitas jiwa manusia yang merupakan cahaya bersumber dari Cahaya-dari-Cahaya. Subyek realitas jiwa ini memiliki kemampuan visi. Sedangkan, obyek adalah realitas cahaya-yang-lebih tinggi yang ber-iluminasi, bersumber dari Cahaya-dari-Cahaya. Subyek dan obyek bersatu menjadi satu kesatuan membentuk cahaya baru yang lebih kuat. Cahaya baru ini, hakikatnya, adalah subyek dengan derajat yang lebih tinggi. Maka selanjutnya akan terjadi proses visi-iluminasi tanpa henti.
Barangkali, kita bisa membayangkan proses siklis seperti jam yang terdiri dari 3 angka. Setelah angka 3 maka kembali ke angka 1. Dengan demikian, proses logika visi-iluminasi Suhrawardi terus bergulir.
(1) Visi – kemampuan melihat oleh subyek (2) Iluminasi – kemampuan bersinar pada obyek (3) Huduri – penciptaan pengetahuan dengan kesatuan subyek dan obyek; tetapi, huduri adalah subyek dengan derajat baru sehingga kembali ke visi (1) – iluminasi (2) dan seterusnya.
5.3.4.3 Benar Vs Salah
Berulang-ulang, kita sebutkan bahwa pengetahuan huduri bernilai selalu benar. Pertanyaan muncul: dari mana bisa muncul kesalahan atau, setidaknya, kontingensi?
“Salah mutlak” memang tidak ada. Karena yang mutlak ada hanya realitas-cahaya yang selalu benar. “Salah relatif” bisa saja terjadi karena tercipta struktur yang tidak adil atau struktur yang tidak apik akibat ulah subyek manusia.
Struktur Adil
Realitas-cahaya dalam dirinya sendiri selalu adil maka selalu benar. Realitas cahaya-jiwa-manusia juga selalu adil dalam dirinya sendiri. Tetapi, karena jiwa manusia memiliki kemampuan aktif dan mampu membentuk beragam struktur, maka, ada peluang muncul struktur yang tidak adil. Akibatnya, muncul peluang hadirnya kesalahan relatif.
Manusia selama berkomitmen di jalan yang adil maka dia tetap terjaga di jalan yang benar. Sementara, bagi mereka yang mengumbar nafsu serakah terjerumus dalam struktur tidak adil yang diciptakannya sendiri. Orang lain bisa menolong temannya yang terjerumus. Tetapi, peran utama tetap ada pada diri masing-masing untuk kembali ke struktur yang adil.
Struktur Apik
Struktur apik adalah struktur yang lebih baik dari struktur adil. Sikap dermawan dengan membantu orang yang lemah adalah contoh menciptakan realitas struktur apik. Seseorang yang mengorbankan harta miliknya demi kebaikan orang lain adalah sikap yang apik. Bagaimana pun, struktur apik mensyaratkan struktur yang adil.
Karakter dari cahaya jiwa manusia adalah bersinar menebarkan kebaikan. Sehingga wajar, bila banyak orang ingin berbuat baik. Memang itu karakter cahaya jiwa manusia. Apalagi, Cahaya-dari-Cahaya adalah sumber dari segala pancaran kebaikan.
Struktur Tidak Adil
Sumber beragam masalah dan kesalahan adalah struktur yang tidak adil. Tugas kita, sebagai manusia yang berjiwa cahaya, adalah mengenali struktur yang tidak adil, untuk kemudian, membenahinya menjadi adil. Karena realitas alam raya adalah kompleks maka tugas ini adalah tugas yang sama kompleksnya.
5.3.5 Tantangan Demokrasi
Kita mudah melihat bahwa logika visi-iluminasi, bisa dicurigai, bertentangan dengan demokrasi. Karena logika visi-iluminasi menghasilkan pengetahuan huduri yang bersifat selalu benar, maka, memunculkan sikap apriori, otoriter, dan bahkan fasis. Tentu, kecurigaan seperti itu tidak tepat, serta salah sasaran.
5.4 Kritik Suhrawardi
Kita akan mencermati kritik Suhrawardi terhadap logika filsafat klasik (Aristoteles) dengan tokoh besarnya Ibnu Sina. Kita juga perlu mempertimbangkan kritik Ghazali terhadap tema filsafat yang sama. Kemudian, di bagian ini, kita mengkaji kritik-kritik oleh generasi pasca-Suhrawardi terhadap logika visi-iluminasi itu sendiri. Dan yang paling menarik, masih di bagian ini, kita memperluas kritik filsafat (post)modern, abad 20 dan 21, terhadap logika visi-iluminasi.
5.4.1 Kritik Metafisika Ghazali
Al Ghazali (1058 – 1111) telah melancarkan kritik keras terhadap filsafat (dan logika) klasik, kira-kira satu abad lebih awal dari Suhrawardi. Serangan Ghazali ini mengarah kepada Ibnu Sina (tokoh Peripatetik Muslim) sampai ke Aristoteles.
Kritik Ghazali, singkatnya, dengan menggunakan logika klasik yang sama seperti para filosof, kita bisa meruntuhkan semua bangunan metafisika sistem filsafat. Semua teori filsafat, terbukti, tidak konsisten. Karena itu, kita perlu menolak semua teori filsafat – termasuk logika klasik. Meski Ibnu Rusyd (1126 – 1198) menyerang balik Ghazali dan membela logika klasik Ibnu Sina, tampaknya, serangan Ghazali tetap berdampak lebih signifikan.
Setelah bangunan filsafat klasik runtuh, tentu saja, Ghazali memberi jalan keluar. Sayangnya, solusi Ghazali ini bukan solusi filosofis. Ghazali menunjukkan jalan kebenaran yang lebih valid adalah jalan sufi – mistisisme Islam. Sementara, filsafat dibiarkan begitu saja tersisa puing-puing belaka.
Dalam kaca mata modern, kritik Ghazali ini mirip dengan proyek “destruksi metafisika” oleh Heidegger (1889 – 1976). Setelah Heidegger berhasil meruntuhkan metafisika, dia tidak berhasil membangun sistem baru yang sebanding. Meski pun, Heidegger mengembangkan ontologi-dasein, tampaknya, hal ini tidak setara dengan sistem metafisika.
Derrida (1930 – 2004), murid Heidegger, mengganti proyek destruksi menjadi “dekonstruksi-metafisika”. Menurut Derrida, proyek destruksi terlalu sulit karena ada tanggung jawab untuk membangun sistem yang baru setelah runtuhnya metafisika. Sementara, proyek dekonstruksi lebih ringan. Kita hanya perlu menemukan lubang-lubang dan cacat-cacat dari suatu sistem pemikiran, untuk kemudian, dikritik sampai hancur. Sedangkan konstruksi utama tetap dibiarkan seperti sedia kala.
Kritik keras Suhrawardi terhadap logika klasik (Aristetoles – Peripatetik), menurut saya, lebih mirip dengan proyek dekonstruksi dari pada destruksi.
5.4.2 Logika Peripatetik
Syihabuddin Suhrawardi (1154 – 1191) memberikan kritik tajam kepada logika Peripatetik. Dalam maha karyanya, Filsafat Iluminasi, Suhrawardi membagi dua bagian utama. Bagian pertama, membahas logika. Suhrawardi menunjukkan kelemahan fundamental dari logika klasik dari sisi “definisi-esensial” dan silogisme.
Definisi-esensial tidak pernah berhasil meraih pengetahuan baru. Sedangkan, semua bentuk silogisme bisa diubah menjadi bentuk silogisme niscaya, pasti. Tetapi, hasil dari silogisme tidak pernah bersifat niscaya. Dengan demikian, logika klasik runtuh di bagian fundamentalnya. Suhrawardi mengusulkan solusinya di bagian kedua.
Bagian kedua, Suhrawardi menjelaskan dengan detil ontologi-cahaya. Melalui logika visi-iluminasi, kita berhasil meraih pengetahuan baru yang bersifat niscaya benar. Untuk kemudian, kita bisa menyusun silogisme secara valid.
Benarkah, dengan logika visi-iluminasi, Suhrawardi berhasil menyusun ulang sistem logika yang solid?
5.4.3 Mir Damad dan Sadra
Generasi pasca-Suhrawardi memberikan beragam komentar dan kritik terhadap karya Suhrawardi. Secara umum, dari Shahrazuri (1288) sampai Mir Damad (1561 – 1631), kritik bersifat konstruktif. Shahrazuri memberikan berbagai macam penjelasan lebih detil tentang “definisi” versi logika visi-iluminasi. Mir Damad memberikan penjelasan bagaimana antara yang “tunggal” bisa meliputi yang “jamak” penuh keragaman.
Mulla Sadra (1571 – 1635) muda sepakat dengan gurunya, Mir Damad, sepenuhnya sejalan dengan Suhrawardi. Pada masa dewasa, Sadra berbeda pandangan secara filosofis dengan Suhrawardi. Bagi Sadra, eksistensi lebih utama dari esensi. Sementara bagi Suhrawardi, esensi lebih utama dari eksistensi. Meski demikian, dalam sistem logika, Sadra selaras dengan logika Suhrawardi.
Sadra menambahkan konsep ambiguitas-eksistensi atau tasykik-wujud. Sebagai realitas fundamental, wujud adalah tunggal dan, sekaligus, beragam. Identitas wujud adalah keragaman dan keragaman wujud adalah identik.
Inovasi lanjutan dari Sadra adalah gerak-substansial, harakah jauhariah. Di mana gerak, atau proses perubahan, terjadi pada sisi substansi bukan hanya pada aspek aksidental belaka. Bahkan gerak-aksidental, pada analisis akhir, adalah dampak dari gerak-substansial. Dengan konsep yang canggih dari Sadra ini, maka, logika visi-iluminasi makin kokoh penuh dinamika.
Sangat disayangkan, sistem filsafat yang canggih dari Suhrawardi dan Sadra ini hanya sedikit dikaji di Barat. Sehingga, kita belum bisa melihat dengan tegas bagaimana respon cendekiawan Barat. Di bagian berikut ini, saya akan mencoba menerapkan kritik pemikir Barat kepada sistem filsafat dan logika Suhrawardi, tentu, secara tidak langsung.
5.4.4 Kritik Karl Popper
Karl Popper (1902 – 1994) adalah filosof sains paling disegani di masanya – atau sepanjang masa. Popper menolak pendekatan “verifikasi” untuk sains dan menggantinya dengan “falsifikasi”. Ribuan atau jutaan verifikasi tidak pernah bisa menjamin validitas suatu teori sains. Sebaliknya, satu bukti negatif atau penyangkalan, sudah berhasil menggugurkan suatu teori sains – itulah falsifikasi.
Popper meluaskan kajian filosofisnya dari sains alam ke sains sosial dengan karyanya “Open Society”. Di sinilah kritik filosofis dari Popper berdampak sangat luas. Secara terang-terangan, Popper menyerang tiga tokoh besar dunia: Plato, Hegel, dan Marx. Sebuah serangan yang benar-benar membalikkan konsep filosofis mereka. Kritik terhadap Plato dan Hegel relevan dengan pembahasan kita yaitu kritik kepada Suhrawardi.
Yang mengherankan dari Popper adalah, meski analisis filosofisnya begitu tajam, tetapi hanya sedikit orang yang menyetujui atau melanjutkan pemikiran Popper. George Soros (lahir 1930), investor kelas dunia, adalah salah satu dari sedikit orang yang mendukung Popper. Soros mendirikan Open Society Foundation untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran Popper, khususnya, untuk mengembangkan masyarakat tebuka yang adil dan makmur.
5.4.5 Idealisme Plato
Ziai (1943 – 2011) menyebut Suhrawardi berhasil membangkitkan idealisme Plato melebihi filsafat Aristoteles. Suhrawardi sendiri menyebut bahwa filsafat iluminasi sejalan dengan filsafat Plato. Dengan demikian, kritik Popper kepada idealisme Plato bisa kita sejajarkan sebagai kritik kepada filsafat Suhrawardi.
Popper mengkritik keras tatanan sosial ideal yang dikembangkan Plato. Menurut Popper, pandangan Plato melestarikan kesenjangan sosial. Hanya orang-orang dari latar belakang keturunan yang baik yang berhak menduduki suatu jabatan. Plato tidak demokratis. Pemimpin ideal adalah philosopher-king (raja-filosof) yang serba tahu akan segala sesuatu.
Karena raja-filosof adalah yang paling berkuasa, dan di saat yang sama, orang yang paling paham segala hal maka dia memimpin secara otoriter. Lagi-lagi, Plato tidak demokratis. Plato adalah musuh dari masyarakat terbuka.
Apakah Suhrawardi juga musuh dari masyarakat terbuka, open society?
Pertama, Suhrawardi menyatakan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk visi, melihat kebenaran sejati. Meski, masing-masing orang kemampuan visi bisa saja berbeda-beda dipengaruhi oleh beragam kondisi.
Kedua, Suhrawardi memang membahas politik kekuasaan secara singkat di mukadimah Filsafat Iluminasi. Alam raya ini, menurut Suhrawardi, tidak pernah hampa dari ahli hikmah, filosof bijak. Dan, ahli hikmah berkuasa terhadap alam raya. Baik berkuasa secara politik atau non-politik. Dengan demikian, Suhrawardi tidak mensyaratkan ahli hikmah untuk menjadi raja atau penguasa.
Tetapi, catatan sejarah sungguh memilukan. Suhrawardi syahid melalui eksekusi di usia muda, sekitar 36 tahun, atas perintah sultan Saladin Al Ayubi. Penyebab perintah eksekusi ini masih menjadi misteri sampai saat ini. Saladin yang begitu besar kekuasaannya di dunia, termasuk penakluk perang salib, tidak sepantasnya menyibukkan diri terhadap seorang pemuda cerdas yang tinggal di kota kecil Allepo. Dugaan sementara mengarah bahwa Saladin tidak suka dengan philosopher-king dan Saladin menyangka bahwa Suhrawardi akan mempengaruhi Malik Zahir, gubernur Allepo, putra Saladin, untuk menjadi philosopher-king. Seperti kita sebut di atas, Suhrawardi tidak mengajarkan menjadi philosopher-king. Suhrawardi mengajak kita untuk menjadi ahli hikmah.
Kembali kepada Popper, apakah Suhrawardi adalah musuh dari open-society? Tidak. Suhrawardi bukan musuh. Suhrawardi justru membuka peluang bagi seluruh warga untuk menyempurnakan diri melalui visi-iluminasi.
Tetapi, apakah Plato memang musuh dari open-society? Tidak. Para pendukung Plato menolak tuduhan Popper. Philosopher-king tidak ada keharusan menjadi otoriter atau diktator. Justru, philosopher-king mensyaratkan sikap bijak bagi setiap raja.
5.4.6 Historisisme Hegel
Serangan tajam berikutnya, dari Popper, mengarah kepada Hegel. Bahkan, serangan ini bisa jadi serangan terbesar terhadap Hegel. Popper menuliskan sekitar 70 halaman khusus untuk mengkritisi Hegel. Sementara, kritik Popper kepada Marx tampak tidak terlalu keras.
Iqbal (1877 – 1938) menyatakan bahwa filsafat Hegel selaras dengan filsafat Suhrawardi. Maka, kritik kepada Hegel ini akan kita gunakan untuk kritik kepada Suhrawardi.
Menurut Popper, konsep dialektika Hegel mengarah kepada keniscayaan mutlak terhadap sejarah. Peradaban manusia akan berkembang secara pasti mengikuti pola tertentu. Pandangan seperti ini adalah historisisme. Popper menolak historisisme seperti itu. Historisisme adalah mustahil, menurut Popper.
Perkembangan sejarah manusia ditentukan, dipengaruhi, oleh perkembangan pengetahuan. Sementara, perkembangan pengetahuan sering terjadi lompatan-lompatan inovasi yang tidak linear. Kita tidak bisa memprediksi arah perkembangan pengetahuan – dan teknologi. Akibatnya, kita juga tidak bisa memprediksi arahnya sejarah. Jadi, historisisme adalah mustahil.
Bukan hanya historisisme itu mustahil, tetapi, dampak keyakinan terhadap historisisme adalah terbentuknya kekuatan totalitar, bahkan fasis. Perang Dunia I dan Dunia II merupakan efek mengerikan dari historisisme.
“Apakah logika visi-iluminasi Suhrawardi juga meyakini historisisme?”
Tidak. Logika visi-iluminasi tidak mengajarkan historisisme. Jadi, Suhrawardi aman dari kritik Popper dalam kasus ini. Suhrawardi menyadari ada kecenderungan umat manusia terjatuh dalam perangkap nafsu serakah. Suhrawardi mengajak umat manusia untuk “membersihkan” jiwa dengan visi iluminasi agar peradaban manusia terus berkembang. Bagaimana pun, usaha ini tidak terjamin untuk selalu berhasil. Sehingga, tidak ada aspek historisisme dalam ajaran Suhrawardi.
Tidak juga. Popper, tampaknya, menafsirkan beberapa tulisan Hegel sebagai historisisme. Dan analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa Hegel tidak meyakini historisisme. Lagi, kritik Popper salah sasaran dalam kasus ini. Bagaimana pun, kritik Popper terhadap historisisme dan totalitarianisme tetap sah secara substansi. Sehingga, kita perlu tetap waspada terhadap beragam resiko yang mungkin terjadi.
5.4.7 Ontologi Heidegger
Berikutnya, kita akan mempertimbangkan kritik Heidegger berupa destruksi metafisika. Heidegger meng-kritik filsafat Barat sejak Plato sampai Nietzsche terjebak dalam metafisika. Mereka, para filosof, mengaku membahas “being” tetapi malah melupakan “being.” Heidegger berniat menghancurkan metafisika dan menggantinya dengan ontologi, “Apa makna dari being?”
“Apakah logika visi-iluminasi juga melupakan ‘being’ seperti kritik Heidegger?”
Tidak. Visi-iluminasi tidak melupakan “being.” Visi-iluminasi justru mengajak kita untuk menemukan “being” yang otentik. Setiap saat, kita berhadapan dengan “being.” Tetapi, tidak ada kepastian bahwa kita dalam mode otentik. Visi-iluminasi menyediakan cara bagi kita untuk menjadi otentik.
5.4.8 Different Deleuze
Deleuze (1920 – 1995) memberi kritik keras kepada prioritas konsep-identitas. Deleuze membalik, dengan menyatakan, bahwa different adalah yang paling prioritas. Sementara, identitas terbentuk karena ada different.
Apakah visi-iluminasi tahan terhadap kritik diffferent dari Deleuze?
Positif. Visi-iluminasi aman dari kritik different. Di satu sisi, visi-iluminasi mengakui bahwa masing-masing manusia adalah unik dan berbeda. Di sisi lain, ungkapan teori visi-iluminasi dalam bentuk bahasa simbolis. Sehingga, membuka keragaman interpretasi makna.
5.4.9 Kritik Transendetal Searle
Searle (1932 – ) memberi kritik keras kepada banyak pemikir sebagai transendental. Termasuk, Heidegger adalah transendental. Heidegger menolak Searle. Heidegger menyatakan bahwa filsafatnya tidak transendental. Justru, proyek Heidegger adalah untuk meruntuhkan metafika transendental.
Bagaimana pun, Heidegger mengakui ada aspek transendental di alam raya ini. Dunia adalah transenden terhadap dasein (manusia ontologis). Demikian juga, dasein transenden terhadap dunia. Meski, dasein selalu berada dalam dunia, tetapi, dasein tidak bisa direduksi menjadi dunia mau pun sebaliknya.
Searle menawarkan solusi. Jika menolak untuk menjadi transenden maka Heidegger sebaiknya memilih filsafat yang berbasis empirisme atau sains.
Apakah visi-iluminasi aman dari kritik sebagai transenden dari Searle?
Sulit. Visi-iluminasi, tampaknya, sulit terhindar dari kritik transenden versi Searle ini. Visi-iluminasi mengakui realitas sains empiris. Tetapi, realitas otentik tidak terbatas hanya sains empiris. Visi-iluminasi sepakat dengan Heidegger, menolak dikategorikan sebagai transendental. Di saat yang sama, melangkah lebih jauh dari sekedar sains empiris.
5.5 Ringkasan Visi-Iluminasi
Setelah membahas panjang lebar tentang logika visi-iluminasi, mari kita ringkaskan poin-poin pentingnya terhadap logika.
Dinamika logika berlangsung setiap saat. Logika hanya bisa bernilai pasti-statis bila membatasi diri dalam aspek esensial. Sementara, dalam realita – fisik atau spiritual – logika senantiasa bergerak maju.
A. Pengetahuan Alam Raya
Alam raya adalah barza yang merupakan pertemuan dari cahaya dan void-gelap. Karena cahaya realitas selalu dinamis maka alam raya juga dinamis. Pengetahuan sains menjadi sah karena obyek sains adalah cahaya-realitas yang memancar (iluminasi). Kemudian, subyek pengamat mengkaji dengan kemampuan visi sehingga tercipta sains visi-iluminasi.
A.1 Sains alam dan sosial selalu dinamis
Visi-iluminasi menjamin bahwa realitas alam raya selalu dinamis. Sehingga, sains alam dan sosial juga perlu untuk bersifat dinamis. Sains perlu untuk selalu melakukan revisi agar menjadi sains yang lebih progresif. Khususnya sains sosial menjadi sangat dinamis karena manusia sebagai subyek, sekaligus, menjadi obyek. Dan, manusia adalah cahaya-realitas yang intensitasnya sangat kuat.
A.2 Matematika eksak esensial
Bagaimana pun, kita bisa membuat sains statis eksak dengan asumsi fokus terhadap pengetahuan esensi ideal semisal matematika. Konsep matematika menjadi statis karena kita “memaksa” konsep tidak berubah seiring ruang dan waktu. Sehingga, matematika sah secara ideal.
A.3 Kombinasi lanjutan sampai dunia digital
Yang menarik adalah pengetahuan matematika yang ideal bisa berkembang menjadi teknologi digital yang bersifat real. Dengan demikian, dunia digital memiliki sifat ideal dan dinamika. Dibanding alam real, dunia digital lebih ideal sesuai konsep esensial. Pada gilirannya, rekayasa digital justru yang mengarahkan perkembangan ilmu pengetahuan umat manusia.
B. Pengetahuan Realitas Sejati
Pengetahuan umat manusia perlu bergerak menuju pengetahuan realitas sejati. Realitas alam adalah barza yang merupakan pertemuan cahaya dan void. Bila tidak hati-hati, cahaya bisa terjebak dalam void. Pengetahuan manusia bisa otentik, dan, bisa juga tidak otentik. Tetapi, dengan disiplin, cahaya diri umat manusia memanfaatkan barza sebagai sarana untuk bergerak lebih sempurna.
B.1 Huduri
Secara prinsip, semua pengetahuan manusia adalah pengetahuan huduri yaitu bersatunya visi dan iluminasi menjadi realitas-cahaya dengan intensitas lebih kuat. Untuk itu, kita perlu mengkaji pengetahun sehari-hari lebih mendalam sehingga tercipta pengetahuan dengan kualitas sains. Selanjutnya, pengetahuan-pengetahuan tersebut perlu berkembang menjadi pengetahuan otentik dengan etika tinggi.
B.2 Dinamika Menyempurna
Pengetahuan huduri adalah realitas-cahaya. Sebagaimana gelombang cahaya yang bersifat dinamis, pengetahuan huduri juga dinamis. Pengetahuan saat ini ditarik oleh cahaya pengetahuan yang lebih kuat agar terangkat. Di saat yang sama, pengetahuan memiliki karakter untuk melompat lebih sempurna.
B.3 Demokrasi Huduri
Kabar baiknya, setiap manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu huduri. Setiap manusia mampu meraih pengetahuan sains sampai pengetahuan otentik. Di saat yang sama, setiap manusia memiliki bakat yang beragam. Sehingga, huduri juga beragam. Dengan demikian tercipta demokrasi huduri. Demokrasi membutuhkan huduri untuk menjamin proses dan hasil demokrasi berkualitas tinggi.
Demokrasi adalah respek antara semua pihak. Saintis mengembangkan sains perlu dihormati oleh banyak pihak. Saintis sendiri juga perlu menghormati pihak lain. Seniman mengembangkan seni. Filsuf mengembangkan filosofi. Agamawan mengembangkan agama. Praktisi mengembangkan praktek. Dan, masih banyak pihak lain. Semua pihak memiliki kedudukan sama-sama terhormat. Semua pihak berhak meraih ilmu huduri.
Pengalaman dan teori menunjukkan bahwa manusia memiliki bakat unik yang berbeda-beda. Seorang seniman bisa saja mencipta puisi, menyanyikan lagu, atau melukis dengan artistik. Sementara, saintis bisa jadi tidak memiliki bakat seni yang tinggi. Sehingga, saintis meski mempelajari teori seni tetap saja tidak mampu mencipta puisi. Saintis tidak mampu menyanyikan lagu dengan merdu. Demokrasi adalah menghormati beragam bakat yang berbeda dan bekerja sama untuk kebaikan umat dan semesta. Demokrasi otentik adalah demokrasi huduri.
6. Logika Destruksi Heidegger
Heidegger (1889 – 1976) adalah filsuf terbesar abad 20 menurut banyak perspektif. Pemikiran Heidegger terkenal kontroversial dan kriptik, sulit sekali dipahami. Heidegger sendiri sering menggunakan istilah yang “mengerikan” misal destruksi ontologi dan destruksi metafisika. Dalam kesempatan ini, kita akan mengkaji destruksi logika.
Destruksi memang bermakna dan bermaksud merobohkan struktur, sedemikian hingga, terungkap kebenaran-kebenaran yang tersembunyi atau yang disembunyikan oleh struktur tersebut. Destruksi adalah goyangan dahsyat yang meruntuhkan seluruh struktur sampai rata, horisontal, setara dalam posisi dan menjadi terbuka.
Destruksi bukan penolakan. Destruksi tidak menolak filsafat yang sudah ada, destruksi tidak menolak sains, destruksi tidak menolak agama, destruksi tidak menolak seni, bahkan, destruksi tidak menolak kehidupan praktis hari demi hari. Tidak ada penolakan dalam destruksi. Destruksi juga bukan kritik. Destruksi juga bukan koreksi. Sekali lagi, destruksi hanya sebuah goyangan besar yang meruntuhkan struktur untuk mengungkap kebenaran.
Destruksi logika adalah goyangan dahsyat terhadap struktur logika, sedemikian hingga, terungkap kebenaran-kebenaran yang tersembunyi. Untuk bisa destruksi, maka, kita perlu mengkaji histori dari logika.
6.1 Logika Plato – Aristo
Plato adalah filsuf terbesar sepanjang sejarah. Menurut Whitehead, sejarah filsafat Barat hanyalah catatan kaki dari filsafat Plato. Bahkan, Aristo menulis karya besar filosofis sebagai respon terhadap filsafat Plato. Aristo sendiri adalah murid terbaik dari Plato.
Heidegger, berulang kali, menyebut Aristo sebagai penemu logika. Meski, sejarah logika sudah diawali oleh Plato dengan merumuskan idea atau dunia bentuk, dunia universalia.
Logika Plato adalah logika cahaya. Pengetahuan kita tentang alam eksternal adalah sekedar bayangan dari realitas sejati yang ideal di alam idea. Ketika, misalnya, Anda sedang memandang cantiknya wanita di depan Anda, maka, itu hanya bayangan. Cantik sejati adalah cahaya idea yang ada di alam ideal. Begitu juga, ketika, kita melihat meja persegi maka persegi itu adalah bayangan dari cahaya persegi ideal di alam idea.
Logika-cahaya Plato ini memberi posisi tinggi kepada kemampuan pikiran manusia memproduksi, atau mengakses, cahaya idea di alam ideal. Wajar, Plato memberi posisi terhormat kepada matematika. Karena, matematika adalah pengetahuan cahaya ideal berupa geometri dan aritmetika, waktu itu.
Aristo melanjutkan logika-cahaya dari Plato menjadi lebih spesifik sebagai logika-bahasa. Dengan logika-bahasa dari Aristoteles inilah, kita berpikir logis. Logika Aristo ini nyaris sama dengan logika yang kita pelajari di abad 21 ini. Tentu, ada kemajuan di beberapa bagian. Karena itu, memang pantas, Aristo adalah penemu logika.
Apa hebatnya logika-bahasa?
Dengan logika-cahaya kita hanya bisa berpikir apakah meja persegi yang kita lihat di alam eksternal sama persis dengan meja persegi di alam ideal. Kesimpulannya, pasti tidak sama, tidak ideal. Paling, hanya bisa mendekati ideal.
Sementara, dengan logika-bahasa banyak aturan logika yang bisa kita kembangkan, misal, silogisme. Setiap persegi memiliki 4 sisi. Karena meja adalah persegi, kesimpulannya, meja tersebut memiliki 4 sisi.
Fokus Heidegger bukan kepada silogisme. Kontribusi utama logika-bahasa Aristo adalah pada term “adalah.”
Persegi “adalah” bangun dengan 4 sisi.
Apa makna “adalah”? Logika Plato fokus kepada esensi persegi. Sementara, logika Aristo bergeser lebih fokus ke eksistensi “adalah”. Fokus kepada makna-eksistensi, makna-adalah, makna-being ini yang, pada gilirannya, menjadi proyek destruksi logika. Kita akan bahas lebih detil di bagian bawah.
6.2 Logika Cogito Descartes
Descartes (1596 – 1650) adalah filsuf terbesar dari Prancis di era pencerahan, bahkan, sampai sekarang. Descartes terkenal dengan konsep cogito, “Aku berpikir maka aku ada.”
Konsep cogito adalah pernyataan sederhana. Bukan pernyataan kompleks berupa implikasi, meski, bentuknya memang implikasi. Dalam pernyataan “Aku berpikir” tentu sudah implisit “Aku ada.” Descartes memang melanjutkan kajian Aristo dengan fokus kepada eksistensi “Aku ada”. Tetapi, cogito bergerak lebih radikal dengan menggeser prioritas “ada” ke prioritas “aku”. Subyek “aku” adalah yang paling prioritas.
Logika-cahaya Plato yang fokus kepada esensi dan logika-bahasa Aristo yang fokus ke eksistensi bisa kita pandang sebagai logika obyektif. Sementara, logika cogito dari Descartes adalah logika subyektif karena memberi peran penting kepada subyek “aku.”
“Aku adalah aku.” Prinsip logika paling utama adalah prinsip identitas dan non-kontradiksi. Descartes membagi substansi menjadi dua kategori: substansi jiwa dan substansi materi. Kedua substansi tersebut saling bebas. Masing-masing taat terhadap prinsip identitas dan non-kontradiksi. Descartes, sebenarnya, menyebut ada substansi ketiga yaitu subtansi-mutlak adalah Tuhan.
Lalu, bagaimana antara jiwa dan materi bisa terhubung?
Pertanyaan hubungan jiwa dengan materi masih tetap menjadi tanda tanya besar sampai sekarang. Meski, Descartes meyakini tidak ada hubungan antara jiwa dan materi, pikiran kita tetap ingin tahu adanya relasi antara jiwa dan materi. Immanuel Kant memberi jawaban melalui sintesa.
6.3 Logika Sintesa Kant
Immanuel Kant (1720 – 1804) adalah filsuf terbesar Jerman dan sangat kreatif. Kant terkenal dengan maha karya trilogi Kritik. Sekaligus, Kritik Kant ini menandai fase baru filsafat Barat: filsafat pra-Kant dan pasca-Kant.
Kant menyadari bahwa subyek “Aku” perlu berinteraksi dengan dunia luar untuk mengembangkan pengetahuan yang sahih. Tentu saja subyek “Aku” bisa mengembangkan pengetahuan ideal semacam matematika tanpa harus berinteraksi dengan dunia luar secara langsung. Kebenaran matematika ditentukan dengan prinsip koherensi, identitas, non-kontradiksi, dan lain-lain. Pengetahuan matematika ini adalah pengetahuan analitik yang independent terhadap pengamatan empiris.
Sementara, pengetahuan sains perlu verifikasi dengan dunia luar – korespondensi. Karena itu, sains bergantung kepada realitas alam eksternal. Apakah mungkin kita memiliki pengetahuan sains secara pasti?
Pengetahuan matematika 2 + 1 = 3 selalu bernilai benar sebagai operasi bilangan bulat, kapan pun, dan di mana pun. Sementara, pengetahuan sains “tinggi pohon 3 meter” tidak bisa dijamin sebagai benar. Pertama, bisa saja tinggi pohon tidak 3 meter pada pengukuran yang lebih teliti. Kedua, lebih problematis, bagaimana kita bisa tahu bahwa, di alam ekternal, ada “tinggi pohon 3 meter”?
Pengetahuan empiris hanya bisa terbentuk melalui sintesa. Pengamatan empiris saja tidak bisa menghasilkan pengetahuan dengan kebenaran yang pasti. Data-data empiris tentang pohon itu diterima subyek melalui indera. Kemudian subyek, atau akal, menerapkan pengetahuan apriori, skema, terhadap data-data empiris. Sintesa ini menghasilkan pengetahuan sains empiris yang sah, misal, “tinggi pohon 3 meter.”
Bagaimana pun, Kant menyadari derajat pengetahuan sintesa empiris ini tidak sekuat pengetahuan ideal matematika. Kant membedakan dunia menjadi dua: noumena dan fenomena. Obyek alam eksternal sejati, thing-in-itself, tidak pernah bisa diketahui oleh manusia karena berada di dunia noumena. Sementara, pengetahuan kita tentang alam eksternal selalu terbatas hanya pada pengetahuan penampakan dunia fenomena.
Dengan demikian, Kant mendorong subyektivitas cogito Descartes ke titik terjauhnya: dunia noumena, thing-in-itself, yang tidak pernah bisa dijangkau pengetahuan manusia. Bagaimana pun, Kant berkontribusi besar dengan mengusulkan sitesa. Kant menggunakan argumen transendental untuk memastikan proses sitensa ini terjadi pada imajinasi transendental manusia.
6.4 Destruksi Metafisika
Dengan mencermati histori filsafat, termasuk histori logika di atas, kita bisa melakukan destruksi. Sekali lagi, destruksi bukan bermakna menolak. Tetapi, destruksi adalah meruntuhkan struktur logika, sedemikian hingga, kebenaran tersembunyi bisa terungkap. Destruksi cukup hanya dilakukan pada fondasi logika. Sementara, cabang-cabang detil dari logika bisa kita runut ke fondasinya, yaitu, destruksi metafisika.
Sejarah logika seharusnya mengkaji makna-being, makna-eksistensi, secara tuntas. Kajian makna-being adalah fondasi bagi kajian logika. Sayangnya, sejarah logika justru melupakan makna-being.
Plato, dengan logika-cahaya, sudah bagus membahas esensi. Aristo, dengan logika-bahasa, sudah bagus membahas eksistensi. Tetapi mereka lupa tidak membahas dengan tuntas apa makna-esensi, apa makna-eksistensi, apa makna-being. Sehingga, logika-bahasa dan logika-cahaya perlu destruksi sampai runtuh agar kita bisa mengungkap alternatif logika yang lebih sahih, lebih benar.
Logika cogito Descartes juga perlu destruksi. Mengapa subyek “Aku” memiliki keistimewaan sebagai penentu kebenaran logika? Logika-sintesa dari Kant juga perlu destruksi. Mengapa akal memiliki pengetahuan apriori, berupa skema, sehingga terjadi sintesa?
Kita bisa saja mengembangkan destruksi lebih detil. Kiranya cukup, sekedar menunjukkan beberapa contoh destruksi fondasi logika seperti di atas. Lalu, alternatif logika yang lebih bagus seperti apa? Setelah destruksi, logika runtuh menjadi horisontal. Sehingga, terbuka bagi kita untuk rekonstruksi sistem logika yang baru.
Alternatif logika yang lebih bagus adalah dekonstruksi – menurut Derrida (1930 – 2004). Tugas destruksi terlalu berat, maka, Derrida mengubahnya menjadi dekonstruksi. Dekonstruksi cukup menunjukkan adanya “lubang” di setiap sistem logika sehingga bisa di-destruksi. Tetapi, dekonstruksi tidak perlu meruntuhkan total bangunan logika yang lama. Biarkan logika lama itu rekonstruksi sistem logika baru yang lebih kokoh berdasar sistem logika lama dan pengalaman destruksi.
Mengikuti pendekatan dekonstruksi maka sistem logika Aristo, Descartes, Kant, dan lain-lain bisa dibangun ulang, rekonstuksi, dengan struktur yang mirip. Hanya saja, sistem yang baru ini lebih terbuka dengan beragam koreksi. Sehingga, sistem logika menjadi lebih dinamis.
Heidegger, tampaknya, menyadari memang tugas destruksi terlalu berat. Heidegger tidak menolak dekonstruksi Derrida. Barangkali, dekonstruksi memang alternatif terbaik. Bagaimana pun, Heidegger masih penasaran untuk bisa mengembangkan sistem logika dengan fondasi yang baru. Untuk itu, kita perlu membahas question-of-being.
6.5 Question of Being
Sejak penulisan “Being and Time”, tahun 1926, hingga 50 tahun kemudian, ketika Heidegger meninggal 1976, question-of-being tetap menjadi tema utama. Filsafat melupakan tugas paling penting, yaitu, keharusan membahas question-of-being.
Apa makna-being? Apa makna-ada? Apa makna-jadi-manusia?
Makna-being berbeda dengan being. Makna-being bukan a being, bukan beings, bukan entitas, dan bukan pula subyek “aku”. Kita tahu ada beragam being: meja, pohon, bumi, dan lain-lain. Tetapi, itu semua bukan makna-being.
Makna-being adalah dasein, being-there, yaitu being yang mempertanyakan beingnya sendiri.
Dasein
Kita perlu menyadari ada kesulitan logika di sini. Ketika, kita melihat ada meja di depan kita, bagaimana memastikannya? Untuk memastikannya, kita perlu meyakini ada subyek “aku” yang melihat meja. Tetapi, subyek “aku” sudah di-destruksi.
Alternatifnya adalah kita menerima bahwa meja itu ada secara obyektif tanpa perlu subyek. Meja itu ada apa adanya, just given. Bila tanpa subyek “aku” bagaimana bisa tahu ada meja seperti itu?
Memang benar, kita perlu menerima bahwa being memang sudah ada begitu adanya. Being adalah anugerah. Dari mana kita akan mengkaji being itu? Kita akan mulai dengan mengkaji being yang istemewa, yaitu, dasein. Dasein menjadi istemewa karena mempertanyakan being itu sendiri. Dan, kita, sebagai manusia, bisa bertanya tentang being manusia itu sendiri dan being lainnya. Kita adalah dasein.
Care sebagai being-in-the-world
Karakter fundamental dari dasein adalah care, peduli, sebagai being-in-the-world. Dasein tahu bahwa selalu berada dalam dunia. Tidak mungkin, dasein ada seorang diri, tanpa bumi, tanpa pohon, tanpa orang lain. Dengan peduli, dasein memahami dunia, dipengaruhi dan mempengaruhi dunia.
Bagaimana kita bisa membuktikan eksistensi dunia luar? Sudah terbukti. Dasein sudah terbukti selalu ada dalam dunia. Jadi, dunia sudah pasti ada. Pertanyaan “bagaimana membuktikan eksistensi dunia luar” datang terlambat karena sudah terjawab sebelum pertanyaan itu diajukan. Sehingga, pertanyaan yang lebih tepat adalah question-of-being, “Apa makna-being?”
Temporality
Peduli adalah temporalitas – horison waktu. Ketika dasein peduli, maka, dasein adalah temporalitas itu sendiri. Makna-being adalah temporalitas. Makna-being selalu bergerak, selalu berubah. Di dunia ini, temporalitas dasein terbatas dari lahir sampai mati. Dasein mencapai kesempurnaan eksistensi seutuhnya dengan mengalami mati.
Apakah ada kehidupan setelah mati? Dengan pendekatan temporalitas dasein di dunia, kita belum bisa memastikan apakah kehidupan setelah mati itu eksis atau tidak. Kita memerlukan pendekatan lanjutan untuk bisa menjawabnya. Tetapi, dengan bergerak menuju mati, maka, dasein menemukan makna-being secara otentik.
Logika Futuristik
Mari kita kembali fokus ke problem logika. Bagaimana solusi destruksi terhadap problem logika? Lebih tepatnya, bagaimana solusi destruksi terhadap problem fondasi logika?
Solusi logika destruksi adalah dengan konstruksi logika-futuristik, logika masa depan. Meski istilah yang lebih tepat adalah logika ekstatik, tetapi, istilah logika-futuristik memberi makna yang lebih kuat.
Setelah destruksi, semua being adalah setara, horisontal, secara logika. Dalam kesetaraan itu, dasein adalah being yang unik, yaitu, peduli sebagai being-in-the-world. Dari peduli, tersingkap dasein adalah temporalitas. Sehingga, logika harus menempatkan temporalitas sebagai fondasinya.
Tentu saja, logika Plato, Aristo, Descartes, dan Kant pasti mempertimbangkan temporalitas. Hanya saja, mereka membahas temporalitas hanya selayang pandang. Padahal, kita perlu membahas temporalitas sebagai fondasi logika sampai tuntas, andai bisa tuntas.
Logika pada umumnya menempatkan masa lalu (past) dan masa kini (present) sebagai fondasi. Sedangkan, masa depan (future) sebagai konsekuensi.
(M): 2 + 1 = 3
Pernyataan (M): 2 + 1 = 3 bernilai benar berdasar logika matematika masa lalu dan masa kini. Konsekuensinya, (M) akan tetap bernilai benar di masa depan (future). Atau, bahkan (M) bernilai benar secara abadi. Benarkah?
Ketika kita mengkaji matematika hanya bagian tertentu, tampaknya, matematika selalu benar mutlak. Tetapi, ketika kita mengkaji matematika sampai fondasi, terbukti, matematika itu paradoks. Teorema Godel berhasil membuktikan paradoks matematika, khususnya, sistem formal. Konsekuensinya, logika sains akan banyak paradoks juga.
Meta Teori dan Meta Perspektif
Fondasi logika yang berupa metafisika akan berhadapan dengan paradoks dan kontradiksi. Setiap teori, atau logika, perlu dasar yang berupa teori lagi, yaitu, meta-teori. Tetapi, meta-teori ini memerlukan dasar lagi, berupa teori, tanpa henti. Paradoks. Meta-teori ini berdasar temporalitas masa lalu.
Paradoks bisa diatasi dengan menambah perspektif yang lebih lengkap, yaitu, meta-perspektif. Pada gilirannya, penambahan meta-perspektif ini perlu perspektif baru lagi, tanpa henti. Paradoks ini muncul akibat dari fondasi temporalitas masa kini.
Solusi logika destruktif adalah logika futuristik.
Solusi Futuristik
Kebenaran logika didasarkan pada logika futuristik. Yaitu, kita menerima meta-teori dan meta-perspektif, untuk kemudian, menganalisis berdasar logika masa depan. Dengan logika futuristik, paradoks menjadi terselesaikan, paradoks menjadi tidak signifikan. Karena masa depan adalah posibilitas, freedom, dan komitmen.
Logika menjadi benar ketika membuka posibilitas baru yang lebih baik bagi manusia dan alam raya. Logika menjadi benar ketika bebas dan membebaskan. Dan, logika menjadi benar ketika mendorong dan menuntut komitmen.
Tetapi, bukankah posibilitas itu begitu luas? Benar. Tugas manusia cerdas untuk berpikir cerdas.
7. Logika Kategori Eilenberg-Lane
Eilenberg (1913 – 1998) dan Lane (1909 – 2005) menyusun logika kategori dengan mengambil “inspirasi” teori fungsi di matematika. Meski pun logika kategori ini adalah logika tingkat tinggi, menyelidiki struktur abstrak dan sistem dari struktur, kita bisa membahas prinsip-prinsipnya dengan sederhana. Logika kategori lebih ketat dari logika relasional (mau pun proposional) karena hanya mengijinkan relasi khusus yaitu relasi fungsi (functor, morphism, mapping) dengan komposisi asosiasi. Di saat yang sama, logika kategori mencakup logika relasi dan seluruh logika yang ada. Banyak inovasi menarik berkat logika kategori. Saat ini, logika kategori menjadi trend sebagai kajian tingkat tinggi paling diminati. (Dalam tulisan ini, saya sering menggunakan istilah functor karena lebih mirip dengan fungsi. Functor bisa saling menggantikan dengan morphisme atau mapping)
7.1 Obyek dan Relasi
Apakah karir Anda akan jadi menteri, presiden, atau pengusaha? Teori categori menunjukkan struktur yang tepat untuk mendukung karir Anda. Mari kita coba dengan contoh.
Tempat Lahir = {Kudus, Lamongan, Magelang} Universitas = {UA, UB, UC} Karir = {Menteri, Presiden, Dewan, Bisnis}
Kita memiliki obyek-obyek dari kelas Tempat Lahir, Universitas, dan Karir. Kita bisa menambahkan kelas dan obyek lebih banyak lagi bila diperlukan. Dari obyek-obyek ini, kita bisa membuat relasi functor yang memenuhi sifat identitas, komposisi, dan asosiasi.
Kudus ==> UA ==> Dewan Lamongan ==> UA ==> Dewan Magelang ==> UC ==> Presiden
Obyek-obyek dan functor (dilambangkan panah) membentuk categori. Dari struktur categori di atas, sebagai contoh, kita bisa membaca: orang yang lahir di Kudus maka akan berkarir sebagai Dewan. Lebih dari itu, orang tersebut pasti kuliah di UA (Universitas Airlangga).
Demikian juga, orang yang lahir di Lamongan akan berkarir sebagai Dewan. Sedangkan, orang lahir di Magelang akan berkarir sebagai Presiden. Tentunya, dia kuliah di UC.
Struktur categori ini membangun logika kategori yang begitu kuat. Dengan struktur kategori, kita bisa membaca beragam cabang matematika yang obyeknya berbeda-beda membentuk struktur yang sama. Sehingga, cabang-cabang matematika itu membentuk logika kategori yang sama.
7.2 Ragam Struktur Kategori
Dari beragam struktur kategori yang berbeda, kita bisa melihat kemiripan-kemiripan dan batas-batasnya. Dengan demikian, kita bisa membuat “peta” lengkap dari matematika yang mencerminkan sistem logika masing-masing.
Dalam contoh praktis, kita bisa memisalkan struktur politik di Indonesia ekivalen dengan struktur politik Malaysia. Sehingga, logika politik yang terjadi di Indonesia ekivalen dengan Malaysia. Meskipun obyek politiknya berbeda, orang-orang dan partainya berbeda, tetapi logika politik mereka sama saja, ekivalen. Dengan demikian, orang Indonesia bisa belajar dari orang Malaysia dan sebaliknya. Jika, misalnya, Brunei memiliki struktur politik yang beda maka kita tidak bisa membandingkan dengan Indonesia secara langsung.
Semua struktur kategori yang kita bahas di atas bisa dinyatakan dengan notasi matematika yang eksak. Sehingga, kita bisa menyusun logika kategori dengan pasti. Kita perhatikan, logika proposisi dan logika relasi tidak bisa melakukan ini. Sebaliknya, kita bisa “membaca” logika proposisi dan logika relasi dengan kaca mata logika kategori.
Saat ini, teori kategori menjadi bidang kajian yang sangat aktif. Sehingga, kita berharap akan ada inovasi-inovasi keren dari logika kategori.
8. Logika Penuh – Seleksi Produksi
Di awal abad 21 ini, kita bisa mengembangkan logika-penuh dua arah: seleksi dan produksi. Logika-penuh merupakan pengembangan dari logika kategori. Logika-penuh hanya mengijinkan functor (morphism, mapping) surjective (full). Sementara, functor yang lain (injective dan bijective) perlu ditransformasikan menjadi functor surjective. (Functor identitas tetap dipertahankan).
Logika-penuh arah seleksi menyelidiki struktur abstrak seleksi, misal, bagaimana piala dunia babak awal diikuti seluruh negara, babak tengah tinggal 50%, dan babak final menghasilkan 1 juara unik. Sementara, logika-penuh arah produksi menyelidiki struktur abstrak produksi, misal, bagaimana produksi satu konten digital diakses 2 orang di hari pertama, 20 orang di hari kedua, dan 300 ribu orang di hari ketiga. Dengan demikian, logika penuh memberi tahu kita struktur apa yang menjamin memenangkan kompetisi – misal pemilu presiden – dan struktur apa yang menjamin suatu konten menjadi viral di media sosial.
Kita bisa menyusun logika-penuh menjadi tiga rumpun: rumpun-seleksi, rumpun-produksi, rumpun-siklis.
8.1 Rumpun-Seleksi
Juara Kota = {Adi, Budi, Citra, Dita} Juara Provinsi = {Adi, Dita} Juara Nasional = {Dita}
Contoh di atas adalah rumpun-seleksi. Di mana functor yang berlaku adalah functor penuh, sehingga, obyek tingkat selanjutnya lebih sedikit dari yang semula. Struktur politik, pemerintahan mau pun lembaga swasta, dapat kita baca sebagai rumpun-seleksi.
Logika dari struktur rumpun-seleksi ini berlaku satu arah. Dari juara kota, kita bisa memastikan siapa juara nasional. Tetapi, tidak bisa sebaliknya. Dari juara nasional, misal Dita, kita tidak bisa memastikan siapa saja juara kota.
8.2 Rumpun-Produksi
Rumpun-produksi berlawanan dengan rumpun-seleksi. Di sini, kita menghadapi tantangan berat untuk menyusun “functor” jenis berbeda. Karena, intuisi kita sudah terbiasa dengan intuisi relasi fungsi, maka, rumpun-produksi seperti menentang intuisi itu.
Di setiap saat waktu, kita berada di suatu tempat. Bisa saja di waktu yang berbeda, kita tetap berada di tempat yang sama.
Intuisi sebaliknya, lebih sulit dipahami. Di setiap tempat, kita ada waktu. Di tempat yang berbeda, diri kita TIDAK bisa di waktu yang sama. Rumpun-produksi memerlukan intuisi yang sulit ini untuk membangun struktur logika matematika.
Untung saja, saat ini, media digital sudah berkembang pesat. Kita bisa mengarahkan intuisi kita ke media sosial. Banyak viewer, akumulatif, pada suatu konten digital bisa kita tulis sesusai logika-penuh.
Hari Pertama = {Adi} Hari Kedua = {Adi, Budi, Cita} Hari Ketiga = {Adi, Budi, Cita, Dita, Era}
Struktur rumpun-produksi di atas menunjukkan ada 5 viewer pada hari ketiga. Dari strukturnya, kita bisa menentukan bahwa Adi adalah influencer. Karena itu, kita bisa mem-prediksi pada hari ketujuh akan ada 7000 viewer.
Banyaknya viewer tidak ditentukan oleh obyeknya, misal Adi. Tetapi, ditentukan oleh struktur rumpun-produksi itu sendiri. Seandainya, Adi diganti oleh Bowo maka hasilnya akan sama saja. Meski, obyek-obyeknya bisa berbeda.
8.3 Rumpun-Siklis
Perpaduan rumpun-seleksi dengan rumpun-produksi menghasilkan rumpun siklis. Tantangan besar bagi matematikawan untuk mengidentifikasi struktur rumpun-siklis, untuk kemudian, mendesain rumpun siklis yang baru.
Untungnya, realitas alam raya justru menunjukkan adanya rumpun-siklis secara kosmologis.
Penrose (Lahir 1931) mengusulkan teori conformal cyclic cosmology (CCC). Di mana, big bang yang diikuti oleh kosmos yang mengembang adalah sekedar rumpun-produksi sejak 13,8 milyard tahun yang lalu. Kosmos akan mengembang sampai ukuran maksimal, untuk kemudian, berhenti lalu mengkerut ukuran mengecil. Di sini, dimulai proses rumpun-seleksi. Kosmos terus mengecil sampai remuk menjadi ukuran setitik dengan jari-jari 0. Kosmos musnah, untuk kemudian, terjadi big bang lagi dan begitu seterusnya.
Struktur apa yang menyebabkan CCC? Struktur apa yang menyebabkan rumpun-siklis? Atau, bagaimana struktur dari rumpun-siklis?
Mari kita coba dengan ilustrasi yang lebih dekat. Kita akan memproduksi “pengetahuan”.
Hari pertama = {pengetahuan} Hari kedua = {sains, sosial} Hari ketiga = {math, fisika, biologi, ekonomi, sejarah}
Struktur rumpun-produksi di atas bisa kita balik menjadi rumpun-seleksi dengan proses “membaca” dan “klasifikasi.”
Klasifikasi pertama = {math, fisika, biologi, ekonomi, sejarah} Klasifikasi kedua = {sains, sosial} Klasifikasi ketiga = {pengetahuan}
Lengkap sudah, contoh rumpun siklis di atas. Pertanyaan besar di hadapan kita: bagaimana struktur rumpun siklis?
Barangkali, kajian di masa depan akan berhasil menjawabnya. Di sini, kita menekankan kembali prinsip-prinsip logika-penuh.
1. Diberikan “obyek” dengan “functor surjective.” Atau, kita bisa mengkonstruksi mereka: obyek dan functor.
2. Functor (morphism, mapping) memenuhi: komposisi, asosiasi, dan identitas dipertahankan.
3. Kajian struktur logika-penuh secara teoritis dan praktis.
Penutup
Kita bisa meringkas logika sepanjang sejarah sebagai obyektif dan subyektif. Logika obyektif ada kecenderungan subversif dengan menganggap logika subyektif tidak terlalu signifikan. Sementara, logika subyektif cenderung bersifat problematis yaitu keduanya, obyektif dan subyektif, sama-sama memiliki problem yang perlu diatasi.
Logika obyektif terbukukan dengan baik sejak Aristoteles, Aljabar, Ibnu Sina, Averous, Descarters, Newton, Boole. Logika proposional adalah yang paling utama. Tugas logika adalah “memasukkan” suatu partikular ke dalam “universal” dengan tepat. Logika Boolean memberikan kekuatan tambahan berupa logika kreatif yang mengijinkan implikasi meski tidak ada relevansi.
Frege, didukung Russell, mempekaya logika obyektif dengan logika relasional. Logika dengan jelas berdiri di atas fondasi yang kokoh yaitu sistem formal. Tetapi, Godel berhasil membuktikan bahwa setiap sistem formal, termasuk logika, pasti tidak konsisten. Berbagai macam upaya mengatasi inkosistensi telah dikembangkan.
Paruh akhir abad 20, Eilenberg dan Lane mengembangkan logika kategori yang merupakan versi umum dari “fungsi” matematika. Logika kategori menunjukkan bahwa logika bersandar pada fondasi struktur. Sementara, obyek dan relasi, adalah penyusun dari struktur.
Awal abad 21, kita mengembangkan logika-penuh yang merupakan lanjutan dari logika kategori. Dengan logika penuh, kita merumuskan logika-seleksi dan logika-produksi.
Logika subyektif, dari arah berbeda, terus berkembang makin produktif. Suhrawardi adalah pemikir pertama yang merumuskan logika visi-iluminasi. Subyek, yang mempunyai visi, berhadapan dengan obyek, yang beriluminasi. Subyek dan obyek menyatu menjadi satu kesatuan.
Hegel mengembangkan logika dialektika yang berbeda. Logika adalah sistem metafisika. Being, sebagai tesis, berkontradiksi dengan esensi, sebagai antitesis. Kemudian, terjadi proses dialektika menyatunya kontradiksi dalam idea, sintesis. Bersatunya kontradiksi ini memang tetap problematis.
Logika destruksi dari Heidegger barangkali lebih dekat ke subyektif. Meski pun, tampaknya, Heidegger keberatan bila dimasukkan ke subyektif. Masuk obyektif juga bakal keberatan. Karakter destruksi, yang terus-menerus membuka posibilitas baru, bisa menjadi harapan untuk perbaikan dunia di masa depan.
Di era kontemporer ini, logika obyektif banyak berkembang seiring dengan filsafat analytic. Sementara, logika subyektif berkembang seiring dengan filsafat continental yang tetap problematis. Filsafat Timur yang kuat dengan filsafat moral tetap mengembangkan logika obyektif mau pun subyektif. Sehingga, bagaimana pun, problematis juga.
Barangkali filosofi sakina bisa menjadi solusi. Saya menuliskan filosofi sakina pada tulisan saya yang satunya.
Masalah terbesar umat manusia, saat ini, adalah manusia menjadi manusia satu dimensi.
Di era kontemporer ini, manusia hanya punya satu dimensi yaitu dimensi ekonomi. Bahkan lebih fokus hanya ke profit. Lebih jauh lagi fokus bergeser hanya ke pertumbuhan kekayaan – bagi segelintir orang. Dampak negatif dari manusia satu dimensi, bisa kita rasakan langsung: kesenjangan ekonomi, kebobrokan politik, perusakan lingkungan, krisis iklim, pandemi, sampai ancaman perang nuklir dan senjata pembunuh massal.
Secara pribadi, manusia satu dimensi hanya bisa menipu diri sendiri. Mereka berpikir dengan makin banyak kekayaan maka makin bahagia. Nyatanya, makin kaya justru makin hampa. Makin banyak fasilitas, hati makin panas. Makin banyak uang, jalan hidup makin bimbang.
Solusinya jelas: berubahlah. Jangan mau jadi manusia satu dimensi. Jadilah manusia dua dimensi. Untuk kemudian, terus bertumbuh menjadi lebih banyak dimensi penuh harmoni. Raihlah bahagia sejati. Hidupkan jiwa. Cahaya jiwa adalah cahaya sakina.
1. End of History 2. Dialektika Kontradiksi 3. Dialektika Keragaman 4. Dialektika Sakina 5. Cahaya Masyarakat Sakina 6. Kejahatan Selalu Ada 7. Semesta Sakina
Sokrates (470 – 399 SM) mengingatkan bahwa manusia punya banyak dimensi. Di antara dimensi-dimensi itu saling berdialog untuk tumbuh menjadi lebih baik. Proses dialog ini, kita kenal sebagai dialektika, berlangsung dengan saling tanya dan jawab secara terbuka.
Fukuyama (1952 – ) menyatakan bahwa kompetisi dunia kapitalis lawan dunia komunis sudah berakhir pada tahun 1990an ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet. Dunia menjadi tunggal, satu dimensi, yaitu dunia kapitalis. Sejarah telah mencapai ujung akhir.
Hegel (1770 – 1831) merumuskan dialektika kontradiksi yang memenuhi alam raya. Seharusnya, sejarah tidak akan pernah mencapai ujung akhir. Karena sepanjang sejarah, selalu ada kontradiksi dalam masyarakat sehingga masyarakat terus bergerak mengatasinya.
Marx (1818 – 1883) mengembangkan dialektika kontradiksi materialis. Kaum elit borjuis berkontradiksi dengan kaum bawah proletar, berdialektika, untuk kemudian, membentuk masyarakat yang adil. Kritik Marx kepada kapitalisme menunjukkan beragam cacat kapitalisme. Tetapi, masyarakat adil itu belum juga tiba. Seandainya, masyarakat adil memang terbentuk maka akan tetap ada kontradiksi.
Deleuze (1920 – 1995) merumuskan metafisika “different”: realitas dipenuhi oleh beragam perbedaan. Kita melihat perbedaan-perbedaan nyata di dunia aktual. Lebih dari itu, perbedaan juga terjadi pada dunia virtual. Kapitalisme tidak memerlukan perbedaan yang beragam itu. Kapitalisme memandang semua sama: sumber daya yang bisa dieksploitasi. Problem besar muncul ketika keragaman diberangus. Kita memerlukan solusi yang mengakui keragaman perbedaan.
Dialektika sakina adalah solusi yang mengakui keragaman. Keragaman adalah energi pendorong perubahan. Dialektika sakina membentuk keseimbangan dinamis dari berbagai unsur yang berbeda. Tidak ada formula tunggal untuk keseimbangan dinamis. Banyak struktur berbeda, di saat yang sama, struktur-struktur itu mencapai keseimbangan dinamis. Namun, banyak juga struktur lain yang tidak dinamis juga tidak seimbang.
Dalam proses dialektika sakina, secara personal, muncul rasa bahagia dalam diri setiap orang yang terlibat. Secara sosial politik, dialektika sakina mendorong terciptanya struktur politik dinamis yang menjamin masyarakat adil makmur. Pada bagian akhir tulisan, kita akan mengkaji lebih dalam tema ini dengan harapan terciptanya cahaya masyarakat sakina.
1. End of History
Fukuyama (1952 – ) menyatakan bahwa kompetisi dunia kapitalis lawan dunia komunis sudah berakhir pada tahun 1990an ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet. Dunia menjadi tunggal, satu dimensi, yaitu dunia kapitalis. Sejarah telah mencapai ujung akhir.
Dunia ketiga, pada abad 20, tidak diperhitungkan eksistensinya. Hanya ada dunia kesatu, negara kapitalis, melawan dunia kedua, yaitu negara komunis. Proses dialektika kapitalis versus komunis sudah berakhir menjelang abad 21. “End of History” dimenangkan oleh dunia kapitalis.
Vattimo (1936 – ) membaca “End of History” dengan pendekatan berbeda: pendekatan hermeneutika. Hadirnya media digital menyebabkan sejarah berakhir. Kita tidak punya lagi sejarah, dalam arti, tidak ada sejarah tunggal. Setiap negara, atau kelompok, bisa menciptakan narasi sejarah masing-masing. Termasuk sejarah dunia, masing-masing orang punya narasi yang berbeda.
Sayangnya, dunia digital, benar-benar, mengakhiri sejarah. Perusahaan-perusahaan besar mendiktekan narasi besar dengan menguasai media digital. Umat manusia tidak sadar, mereka dalam genggaman korporasi raksasa dunia. Hanya ada sejarah tunggal: sejarah korporasi besar.
Bagaimana pun, dalam diri manusia selalu ada yang tersisa: satu titik sumber cahaya. Meski pun sejarah berakhir, meskipun sejarah mengungkung manusia, titik cahaya itu tetap bersinar. Bahkan, sinarnya senantiasa mencari cara untuk keluar, memenuhi jagat raya. Tidak akan pernah ada akhir, selama ada manusia di sana.
Akhir dari sejarah, sejatinya, adalah awal dari sejarah yang berbeda. Siapa yang akan menulis sejarah baru? Siapa yang menciptakan sejarah baru? Siapa pelaku sejarah baru?
2. Dialektika Kontradiksi
Hegel (1770 – 1831) merumuskan dialektika kontradiksi yang memenuhi alam raya. Seharusnya, sejarah tidak akan pernah mencapai ujung akhir. Karena sepanjang sejarah, selalu ada kontradiksi dalam masyarakat sehingga masyarakat terus bergerak mengatasinya.
Hegel sendiri menyatakan bahwa dialektika akan berakhir manakala tercapai “Spirit Absolute”: di mana tidak ada kontradiksi lagi. Membaca “Spirit Absolute” ini, tentu saja, menimbulkan problem tersendiri. Wajar jika “Spirit Absolute” berkontradiksi dengan spirit-tidak-absolute maka terjadi proses dialektika, lagi. Dengan demikian, dialektika tidak pernah berakhir.
Secara definisi, “Spirit Absolute” adalah hilangnya segala kontradiksi. Justru definisi seperti itu yang mengundang kontradiksi. Bagaimana pun, konsep “Spirit Absolute” mempunyai daya pikatnya tersendiri. Kita jadi memiliki cita-cita jelas untuk meraih cita-cita absolute. Karl Marx mengembangkan konsep masyarakat komunis lebih lanjut.
Marx (1818 – 1883) mengembangkan dialektika kontradiksi materialis. Kaum elit borjuis berkontradiksi dengan kaum bawah proletar, berdialektika, untuk kemudian, membentuk masyarakat yang adil. Kritik Marx kepada kapitalisme menunjukkan beragam cacat kapitalisme. Tetapi, masyarakat adil itu, yang diprediksi Marx, belum juga tiba. Seandainya, masyarakat adil memang terbentuk maka akan tetap ada kontradiksi.
Marx percaya bahwa masyarakat adil itu akan terbentuk dan menjadi akhir dari dialektika materialisme. Sampai akhir abad 20, prediksi Marx tidak terbukti. Bahkan di awal abad 21 ini, tanda-tanda jalannya sejarah menyimpang dari prediksi Marx makin jelas. Kita lebih yakin bahwa masyarakat tidak akan berhenti, masyarakat terus berdialektika.
Bertrand Russell (1872 – 1970), sekitar peralihan ke abad 20, menolak konsep dialektika kontradiksi dari Hegel. Menurut Russell, sains tidak berkembang melalui kontradiksi-kontradiksi yang menyatu dalam dialektika. Sains justru berkembang melalui kajian detil terhadap obyek-obyek dengan batasan yang jelas, tanpa kontradiksi. Setiap penemuan sains akan menjadi pijakan untuk pengembangan sains berikutnya. Kelak, pendekatan Russell ini, sekaligus menolak Hegel, membentuk satu mazhab filsafat yang kokoh: filsafat analitik.
Karl Popper (1902 – 1994), pada pertengahan abad 20, menyerang keras dialektika Hegel, dan Marx, sebagai historisisme. Bagi Popper, historisisme adalah mustahil. Tidak mungkin, kita bisa meramalkan jalannya sejarah ke depan. Karena, kemajuan sejarah umat manusia dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan, dan teknologi. Sementara, perkembangan pengetahuan selalu menampilkan lompatan-lompatan tak terduga dalam bentuk penemuan-penemuan baru. Akibatnya, kita tidak pernah bisa memastikan arah sejarah manusia di masa depan.
Sebaliknya, historisisme justru menyakini jalannya sejarah, ke masa depan, sudah dipastikan melalui jalur tertentu.
Tugas manusia, menurut hitorisisme, sekedar mengikuti jalannya sejarah itu. Bila ada orang yang menyimpang dari jalannya sejarah maka mereka perlu diluruskan agar sesuai jalannya sejarah. Akibat dari historisisme ini adalah totaliterianisme. Dan, kita menyaksikan bencana kemanusia terbesar sepanjang sejarah: perang dunia I dan II. Popper dengan tegas menolak totaliterianisme dan historisisme. Popper mengusulkan terbentuknya “open society”, masyarakat terbuka.
Terbukti, konsep dialektika Hegel nyaris musnah pada akhir abad 19 dan sepanjang abad 20. Serangan Russell dan Popper, tampaknya, berpengaruh besar terhadap meredupnya Hegel. Di saat hampir bersamaan dengan Popper menulis kritik kepada Hegel, Russell menulis buku “Sejarah Filsafat Barat.” Di dalam bukunya, Russell menyerang terang-terangan kepada Hegel.
Kebangkitan
Kajian lebih mendalam menunjukkan bahwa serangan Russell dan Popper terhadap Hegel adalah salah sasaran. Mereka tidak mengkritik dialektika Hegel. Mereka, Russell dan Popper, hanya mengkritik interpretasi terhadap konsep Hegel. Bahkan, mereka salah paham terhadap Hegel.
Akhir abad 20, kita menyaksikan kebangkitan kembali dialektika Hegel. Bahkan awal abad 21 ini, ada yang menilai sebagai masa kegemilangan dialektika Hegel. Pada tahun 1980an, Pippin (lahir 1948 – ) menulis buku tentang dialektika Hegel dari sudut pandang anti-metafisika. Dengan cara ini, kita bisa membaca Hegel dengan intonasi wajar tanpa kecurigaan. Kita membaca Hegel secara rasional dan empiris sehingga sejalan dengan filsafat analitik – dan filsafat lain secara lebih luas.
Zizek (lahir 1949 – ), terang-terangan, menghidupkan kembali ajaran dialektika Hegel. Sikap ini menarik. Karena gerakan Marxisme, sampai saat ini, adalah kisah kegagalan perjuangan. Dengan kembali kepada Hegel setelah dari Marx, maka, terbuka posibilitas lebih besar. Secara intelektual, dialektika Hegel tampak lebih kokoh dari Marx. Tetapi, secara politis, pendekatan Marx barangkali mempunyai dampak lebih besar dan lebih revolusioner.
“Apa makna Spirit Absolute di saat ini?”
Bagaimana pun, kesan totaliter tetap kuat dalam kata “Spirit Absolute”. Pippin membaca spirit sebagai bukan sesuatu yang bersifat spiritual tetapi suatu pendekatan epistemologis. Spirit kita perlukan secara epistemologis untuk pijakan ontologi. Spirit adalah “dasar pengetahuan” yang dengannya, kita bisa mengembangkan pengetahuan lanjutan secara dialektis. Tanpa “dasar pengetahuan,” tanpa spirit, kita tidak bisa mengembangkan pengetahuan apa pun.
Dasar-pengetahuan ini terbatas, sehingga berkontradiksi dengan esensi alam raya. Karenanya terjadi dialektika merangkul dasar-pengetahuan dan esensi alam raya sehingga terbentuk pengetahuan baru. Selanjutnya, pengetahuan-baru ini berkontradiksi dengan esensi alam raya dan berdialektika lagi menghasilkan pengetahuan yang lebih baru lagi. Demikian seterusnya, proses dialektika tiada henti.
Tentu saja, kita bisa memikirkan pertumbuhan pengetahuan melalui dialektika bisa bersifat meluas dan mendalam. Meluas dalam arti cakupan pengetahuan makin luas dengan batas-batas yang melebar, misal teori relativitas dan sosiologi. Sedangkan, mendalam dalam arti tidak meluaskan batas tetapi makin mendalami suatu kajian tertentu, misal mekanika quantum dan psikologi.
Spirit Absolute bermakna pengetahuan yang tidak pernah berhenti, terus-menerus bergerak, secara absolute. Karena realitas alam raya selalu dinamis, termasuk manusia, maka kontradiksi selalu terjadi. Dengan demikian, dialektika secara absolute tidak akan pernah berhenti. Dialektika akan selalu terjadi.
Dalam analisis kita, dialektika Hegel ini memberi dorongan untuk mengembangkan dialektika Sakina yang lebih komprehensif. Dialektika Sakina mengakui keragaman alam raya, dan keragaman manusia, sehingga terjadi kontradiksi, meminjam istilah Hegel. Proses dialektika bertujuan untuk mencapai mode Sakina yang lebih tinggi ditandai dengan hadirnya karakter keseimbangan dinamis dan dinamika seimbang. Dari satu mode Sakina,senantiasa, bergerak maju ke mode Sakina yang baru, sering ditandai dengan hilangnya keseimbangan sementara.
Dialektika Hegel, minimal, mengingatkan kita ada dua sisi realitas yang saling berkontradiksi. Realitas tidak bisa direduksi menjadi realitas tunggal, misal, menjadi realitas ekonomi belaka. Demikian juga, realitas manusia tidak bisa dipandang sebagai realitas tunggal untuk memenuhi kebutuhan ekonomi saja. Realitas selalu jamak, beragam. Bagaimana pun, dalam keragaman realitas, kita tetap terhubung dalam kesatuan alam raya. Sehingga terjadi dinamika untuk meraih yang lebih baik bagi sesama. Dialektika Sakina.
3. Dialektika Keragaman
Deleuze (1920 – 1995) merumuskan metafisika “different”: realitas dipenuhi oleh beragam perbedaan. Kita melihat perbedaan-perbedaan nyata di dunia aktual. Lebih dari itu, perbedaan juga terjadi pada dunia virtual. Kapitalisme tidak memerlukan perbedaan yang beragam itu. Kapitalisme memandang semua sama: sumber daya yang bisa dieksploitasi. Problem besar muncul ketika keragaman diberangus. Kita memerlukan solusi yang mengakui keragaman perbedaan.
Heidegger (1889 – 1976) merumuskan ontological “different”: selalu ada perbedaan ontologis antara interpretasi dengan realitas dalam setiap klaim kebenaran. Apa pun klaim kebenaran yang kita buat maka tidak akan pernah sama persis dengan realitas ontologis. Selalu ada perbedaan di antara keduanya, interpretasi dan realitas, yang tak pernah bisa dihilangkan. Sebagus apa pun interpretasi yang kita buat maka itu adalah sekedar estimasi dari realitas. Masalah lebih serius muncul karena setiap pengetahuan manusia selalu melibatkan interpretasi, dan pengalaman, dalam satu dan lain cara.
Masih di akhir abad 20, Derrida dan Lyotard secara terpisah, juga merumuskan konsep “different” yang berbeda lagi. Sehingga, kita memiliki banyak konsep “different” yang berbeda-beda. Bagi kita di Indonesia, sudah terbiasa dengan istilah “bhineka” atau keragaman atau “different” itu sendiri. Realitas alam raya memang dipenuhi oleh aneka ragam perbedaan.
Deleuze menyatakan bahwa “different” lebih prior dari “identitas”. Cara pandang Deleuze ini berkebalikan dengan prinsip logika yang selama ini kita pegang sejak era Aristoteles. Prinsip identitas adalah yang paling utama, menurut Aristoteles. Kuda adalah kuda dan sapi adalah sapi. Karena ada identitas kuda adalah kuda maka, kemudian, kita bisa membedakan antara kuda dan sapi.
Konsep “different” menyatakan sebaliknya. Kuda berbeda dengan sapi. Kuda berbeda dengan kambing. Kuda berbeda dengan segala yang bukan kuda. Totalitas dari seluruh yang berbeda dengan kuda maka, kemudian, kita mengenali identitas kuda. Awalnya adalah “different”, kemudian, totalitas dari “different” membentuk suatu identitas.
Implikasi dari konsep “different” ini sangat besar. Membalik karakter mandiri identitas menjadi tergantung, atau dipengaruhi, oleh entitas selain dirinya.
Secara teoritis, dan filosofis, konsep “different” mempersulit kita dalam melakukan klaim kebenaran. Karena klaim kebenaran kita harus mempertimbangkan seluruh aspek yang berbeda dari “kebenaran kita” itu. Sementara, kita tidak akan pernah berhasil meraih totalitas dari seluruh keragaman perbedaan. Akibatnya, klaim kebenaran kita tidak pernah sempurna.
Untuk memperbaiki klaim “kebenaran kita” yang tidak sempurna ini maka kita perlu melakukan iterasi mempertimbangkan totalitas keragaman perbedaan. Iterasi tanpa henti ini bisa kita sebut sebagai dialektika keragaman atau dialektika “different”. Meski pun, barangkali, Deleuze tidak akan suka dengan istilah dialektika.
Secara ekonomi, kita tidak bisa lagi melakukan klaim bahwa bisnis kita menguntungkan berdasar analisis data internal kita. Untuk bisa melakukan klaim “kebenaran ekonomi kita” perlu mempertimbangkan totalitas perbedaan dari beragam pihak. Secara politik, demikian juga, kita tidak bisa lagi melakukan klaim kebenaran berdasar analisis internal. Dan, karena klaim ini tidak pernah sempurna maka kita perlu terbuka dengan proses dialektika keragaman bersama banyak pihak lain.
Dialektika keragaman ini lebih fleksibel dibanding dialektika kontradiksi. Karena, keragaman mencakup kontradiksi dan lebih banyak lagi jenis perbedaan lainnya. Selanjutnya, kita perlu membahas dialektika Sakina sebagai kelanjutan dari dialektika keragaman.
Realitas memang beragam. Realitas, sekali lagi, tidak bisa direduksi menjadi hanya satu dimensi, misal dimensi ekonomi belaka. Demikian juga, realitas kemanusiaan juga beragam sehingga tidak mungkin bisa direduksi menjadi hanya satu dimensi.
4. Dialektika Sakina
Sakina adalah rasa bahagia yang hadir dalam proses, dan sebagai hasil, mengatasi keragaman perbedaan. Hasil dari mengatasi keragaman adalah keragaman baru yang lebih matang. Sakina tidak menolak keragaman. Sakina mengatasi keragaman, untuk kemudian, berada dalam keragaman baru.
Dialektika sakina adalah solusi yang mengakui keragaman. Keragaman adalah energi pendorong perubahan. Dialektika sakina membentuk keseimbangan dinamis dari berbagai unsur yang berbeda. Tidak ada formula tunggal untuk keseimbangan dinamis. Banyak struktur berbeda, di saat yang sama, struktur-struktur itu mencapai keseimbangan dinamis. Namun, banyak juga struktur lain yang tidak dinamis juga tidak seimbang.
5. Cahaya Masyarakat Sakina
Dalam proses dialektika sakina, secara personal, muncul rasa bahagia dalam diri setiap orang yang terlibat. Secara sosial politik, dialektika sakina mendorong terciptanya struktur politik dinamis yang menjamin masyarakat adil makmur. Pada bagian akhir tulisan, kita akan mengkaji lebih dalam tema ini dengan harapan terciptanya cahaya masyarakat sakina.
6. Kejahatan Selalu Ada
Benarkah akan selalu ada kejahatan? Pernahkah, di masa-masa tertentu, bersih sama sekali dari kejahatan? Kita menduga akan selalu ada kejahatan selama ada anak manusia.
Kita perlu membedakan tiga istilah: jahat, salah, dan sulit. Kejahatan adalah paling parah.
Kesulitan adalah rintangan tertentu yang menghalangi tercapainya tujuan. Budi ingin masuk SMA setelah lulus SMP. Kesulitannya adalah banyak siswa SMP bersaing untuk masuk SMA pilihan yang sama. Kompetisi, atau persaingan, adalah kesulitan yang wajar. Kesulitan perlu diatasi.
Kesalahan adalah tidak tepat secara konsep, tempat, waktu, ukuran, aturan, atau lainnya. Aturan zonasi berubah menjadi radiusi berdasar jarak adalah contoh kesalahan konsep. Budi tidak bisa masuk SMA pilihan karena jarak rumahnya 1 km dari SMA pilihan; berdasar zonasi, terlalu jauh 1 km itu. Meski Budi rajin belajar tetap gagal. Zonasi adalah contoh kesalahan konsep; lebih salah lagi karena, akhirnya, Budi harus sekolah ke SMA swasta yang jaraknya lebih dari 5 km dan biaya mahal. Kesalahan perlu dikoreksi.
Kejahatan adalah secara sengaja merugikan pihak-pihak tertentu atau menguntungkan pihak sendiri atau sepihak. Aturan zonasi menguntungkan orang-orang yang rumahnya dekat SMA favorit; menguntungkan orang-orang yang mampu membayar KK (kartu keluarga) sehingga jarak dekat sekolah. Zonasi merugikan orang-orang yang tinggal di gunung, di kampung yang jauh dari sekolah favorit. Atau, merugikan orang yang jarak rumah meski dekat tapi disisihkan; misal rumah Budi jarak 1 km disisihkan karena ada KK yang jumlahnya banyak sekali dengan radius hanya 300an meter. Kejahatan perlu dicegah, dikoreksi, dan diatasi.
Bagaimana pun, kejahatan memicu terjadinya dialektika dengan kebaikan. Jadi, apakah kejahatan punya peran penting?
7. Semesta Sakina
Alam semesta ini terus berkembang dengan filosofi sakina.
Presiden Jokowi adalah presiden terbaik. Karena itu, semua program presiden adalah program terbaik. Pemindahan IKN (ibu kota negara) adalah program terbaik. Para ahli sudah mengkaji secara ilmiah, terbukti pemindahan IKN adalah program terbaik. Pembangunan kereta api cepat, pembangunan jalan tol, pembangunan bendungan, dan lain-lain, semuanya, adalah program terbaik.
Bagaimana jika masa jabatan 3 periode? Tentu saja itu yang terbaik. Jika jadi 3 periode maka itu adalah yang terbaik. Dan, jika tidak jadi 3 periode maka tetap yang terbaik.
Cara penilaian seperti itu adalah penilaian apriori.
Penilaian apriori juga bisa ke arah sebaliknya. Dia adalah presiden terburuk. Karena itu, program apa pun yang dilakukannya pasti buruk. Program IKN, kereta cepat, pembangunan tol, dan lain-lain semuanya adalah buruk. Banyak tersedia data, terutama berita, membuktikan itu.
Pro dan kontra, sama-sama, bersifat apriori. Bukankah apriori itu buruk? Apriori banyak bermanfaat dan banyak mudharat juga. Kita akan membahasnya di bawah ini.
1. Analisis Apriori Posteriori 2. Data Empiris 3. Konsep Ideal 4. Apriori vs Posteriori 5. Solusi Sakina
Aristoteles (386 – 322 SM) adalah pemikir awal yang memperhatikan pentingnya analisis apriori dan posteriori. Penilaian apriori menjamin logika silogisme menjadi benar. Sementara, jika tidak ada apriori maka logika silogisme tidak dijamin bernilai benar. Dengan kata lain, tanpa apriori, semua logika manusia adalah ragu-ragu.
1. Analisis Apriori Posteriori
Suhrawardi (1154 – 1191) meragukan validitas konsep apriori dari Aristoteles dan murid-muridnya. Konsep apriori yang dikembangkan sampai jaman itu tidak berhasil mengungkapkan pengetahuan sejati. Suhrawardi memberi solusi dengan epistemologi “ilmu hudhuri” atau “knowledge by presence.”
Immanuel Kant (1720 – 1804) berhasil menempatkan penilaian apriori dan posteriori dengan baik. Apriori berlaku dengan tepat untuk konsep-konsep ideal semisal matematika. Sedangkan, posteriori berlaku untuk kasus-kasus empiris semisal sains, kehidupan sosial, dan bisnis sehari-hari.
Apriori adalah penilaian yang sudah ditetapkan kebenarannya secara universal lebih awal dari pengamatan. Misal, “persegi adalah bangun datar yang memiliki empat sisi.” Lingkaran pasti bukan persegi karena tidak punya empat sisi. Segitiga pasti bukan persegi karena tidak memiliki empat sisi. Kita tidak harus mengamati lingkaran dan segitiga tersebut.
Posteriori adalah penilaian yang hanya bisa ditetapkan kebenarannya setelah ada pengamatan. “Milen, kemarin, ikut sholat Jumat,” adalah posteriori. Kita perlu melakukan pengamatan kepada Milen apakah dia ikut sholat Jumat. Setelah itu, kita baru bisa mengambil kesimpulan. (Bandingkan dengan lingkaran. Tanpa pengamatan, kita sudah tahu lingkaran pasti bukan persegi.)
Tantangan tetap ada di depan kita: semua analisis posteriori, pada langkah akhir, harus didasarkan pada analisis apriori. Di sinilah, tugas kita untuk menjaga dinamika antara apriori dan posteriori. Sehingga, terbentuk alunan serasi dalam hidup ini.
Tantangan kedua, lebih serius, adalah masalah praktis. Kapan kita harus menerapkan analisis apriori dan kapan kita harus menerapkan analisis posteriori. Seperti contoh di atas tentang presiden terbaik, atau sebaliknya, tidak tepat dengan menggunakan analisis apriori. Menentukan presiden terbaik seharusnya dengan menggunakan analisis posteriori. Demikian juga, penilaian program kerja presiden didasarkan pada analisis posteriori.
2. Data Empiris
Kehidupan sehari-hari, pengalaman empiris, menuntut kita untuk menerapkan analisis posteriori. Bagaimana pun, analisis posteriori terhadap data empiris selalu bersifat kontingen, hanya kemungkinan bukan kepastian.
P: “Pawang berhasil mengusir hujan.”
Pernyataan P di atas bisa benar. Meski benar, misalnya, tetap saja kontingen – tidak mutlak. Hasil pengamatan menunjukkan memang benar bahwa pawang berhasil mengusir hujan. Tetapi, pengamatan itu bisa saja salah mengamati. Di mana-mana, era media sosial, bisa terjadi setingan belaka.
S: “Soekarno adalah proklamator RI.”
Pernyataan S jelas benar tetapi kontingen. Catatan sejarah, cerita rakyat, dan bukti-bukti di museum mendukung bahwa S memang benar. Apakah S jadi benar 100%? Tetap kontingen, tidak bisa 100%. Tidak ada masalah dengan kontingen ini. Dalam hidup, kita sering menghadapi kontingensi ini.
Apakah air yang Anda minum 100% sehat? Tidak juga. Tetapi kita berani minum air itu dengan keyakinan yang memadai. Dan hidup kita sehat. Jika ada orang yang menunggu 100% air sehat maka dia tidak akan pernah menemukan itu. Bisa jadi, dia tidak akan pernah minum air sampai membahayakan kesehatannya.
Bahkan hukum sains, misal hukum kekekalan massa, juga bersifat kontingen. Massa, atau materi, tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan. Materi hanya bisa berubah bentuk. Es padat berubah jadi air cair, dan bisa berubah lagi jadi uap gas. Reaksi kimia bisa mengubah air menjadi hidrogen dan oksigen. Bagaimana pun, massa tetap sama. Materi hanya berubah bentuk.
Hukum sains kekekalan massa itu menjadi salah, ketika ditemukan, bahwa massa bisa hilang, musnah, berubah menjadi energi. Sehingga, perlu revisi menjadi hukum kekekalan massa-energi. Apakah, dengan demikian, hukum kekekalan massa-energi menjadi benar 100%? Tidak juga. Hukum sains tetap kontingen. Hanya saja, sampai saat ini, hukum sains tersebut masih benar.
Sekali lagi, tidak ada masalah dengan kontingensi. Alam raya empiris ini memang kontingen. Kita perlu bersikap bijak terhadap kontigensi. Kita perlu sikap terbuka, barangkali, pengetahuan kita salah. Barangkali pengetahuan orang lain lebih benar. Barangkali sudut pandang yang berbeda adalah lebih baik. Dan, tentu saja, barangkali pengetahuan kita memang lebih benar.
Hidup menjadi lebih bahagia dengan sikap berpikir terbuka.
3. Konsep Ideal
Kita memiliki konsep ideal dalam matematika dan moral yang benar secara universal – apriori. “Korupsi adalah kriminal,” merupakan penilaian apriori yang benar secara universal. Akibatnya, setiap tindakan korupsi perlu dihukum, atau dicegah.
Persoalan menjadi beda bila, “Mr Fulan melakukan korupsi.” Kali ini, penilaian terhadap Mr Fulan adalah partikular sehingga posteriori. Sehingga kita perlu mengamati bukti apakah Mr Fulan benar-benar melakukan korupsi. Jika terbukti, maka Mr Fulan layak dihukum. Jika tidak terbukti maka Mr Fulan bebas.
Tugas menghakimi adalah tugas kita sebagai manusia. Mau tidak mau, kita harus menghakimi banyak hal. Apakah Anda akan melanjutkan membaca tulisan ini? Anda adalah hakimnya dan harus menghakimi. Apakah Anda akan minum saat ini? Tugas Anda untuk menghakimi. Contoh “membaca” atau “minum” merupakan tugas hakim yang sederhana. Tugas yang lebih kompleks menuntut kita menghakimi sesuatu yang “partikular” masuk dalam kelompok “universal”.
“KC: Pengembangan kereta api cepat bermanfaat bagi rakyat.”
Apakah pernyataan KC di atas adalah benar? Kita dihadapkan pada penilaian partikular “P: Pengembangan kereta api cepat,” dan penilaian universal “M: Manfaat bagi rakyat.”
Setiap program pembangunan pemerintah harus masuk “M: bermanfaat bagi rakyat.” Penilaian apriori ini benar dan dapat diterima oleh semua rakyat dan semua politikus – bisa dicek ketika janji kampanye.
Tetapi, “P: Pengembangan kereta api cepat” adalah partikular. Ketika P dimasukkan ke M maka penilaian akhir kita adalah partikular atau posteriori. Pengujian empiris perlu dilakukan untuk “menghakimi.” Hasilnya, bisa saja benar (B) pengembangan kereta api cepat bermanfaat bagi rakyat. Bagaimana pun B ini tetap partikular. Sewaktu-waktu bisa berubah menjadi salah. Sehingga perlu konsistensi untuk menjaga selama perencanaan, pelaksanaan, dan pasca-pelaksanaan.
Bisa juga hasilnya salah (S), ternyata, pengembangan kereta api cepat TIDAK bermanfaat bagi rakyat. Tentu saja S ini, juga, bersifat partikular. Sehingga bisa dilakukan beragam langkah perbaikan agar bisa jadi bermanfaat bagi rakyat atau memperkecil kerugian rakyat.
4. Apriori vs Posteriori
Sampai di sini, kita bisa menyimpulkan dengan menjawab pertanyaan: mana yang kita pilih penilaian apriori atau posteriori?
4.1 Pilih Posteriori
Secara umum, kita perlu memilih analisis posteriori dengan kesimpulan akhir bersifat kontingen – bisa berubah. Kita tidak bisa sombong. Kita tidak bisa memaksa orang lain. Kita tidak bisa sewenang-wenang. Karena, penilaian kita adalah kontingen, bisa saja salah meski sudah hati-hati.
Sebaliknya, justru kita harus melakukan pengujian data – empiris mau pun rasional. Untuk konsisten, memperbaiki ilmu kita. Kita juga bersifat terbuka dengan beragam pandangan yang berbeda. Barangkali, kita perlu mencari titik temu untuk mencapai konsensus-konsensus.
Tapi, bukankah hidup dengan cara seperti itu menjadi goyah? Tidak stabil? Mudah tertiup angin?
4.2 Pilih Apriori
Pilihlah apriori secara universal. Perlu hati-hati terhadap kasus partikular.
K: “Komitmen mengantar orang jadi sukses.”
Penilaian apriori terhadap K adalah valid. Orang-orang perlu komitmen tinggi agar menjadi sukses. Dengan demikian, menjadi penuh semangat untuk berjuang.
Hanya manusia, satu-satunya makhluk di seluruh bumi, yang berkomunikasi melalui bahasa. Khususnya, bahasa tingkat tinggi. Dengan bahasa, manusia bisa bekerja sama menciptakan gedung pencakar langit, candi megah nan tinggi, sampai pesawat penjelajah angkasa luar.
Masih dengan bahasa, manusia bisa menciptakan puisi, novel, dan karya ilmiah. Dengan bahasa pula, kita mengungkapkan rasa cinta satu sama lain. Tetapi, tetap dengan bahasa, manusia bisa saling menyakiti. Manusia bisa menindas satu sama lain dengan menggunakan bahasa. Penipuan kelas kakap, termasuk korupsi, memanfaatkan bahasa juga.
Sejak jaman kuno, era Aristoteles-Plato-Sokrates dan sebelumnya, orang berpikir bahwa manusia yang menciptakan bahasa. Kita menyebut batu sebagai batu, pohon sebagai pohon, dan lain-lain sehingga terciptalah bahasa Indonesia. Sementara, orang Cina, Arab, Inggris, mereka menciptakan bahasa mereka sendiri.
Sekarang, justru terbalik. Bukan manusia menciptakan bahasa. Tetapi, bahasa menciptakan manusia. Memasuki abad 20, pemikiran “strukturalisme” menunjukkan bahwa bahasa mengikat manusia, menyusun manusia, dan menciptakan manusia.
1. Bahasa Sehari-hari 2. Bahasa Komputer 3. Bahasa Kreatif 4. Strukturalisme 5. Dekonstruksi Hermeneutika
Kita akan memulai diskusi dengan membahas “bahasa sehari-hari” atau “ordinary language philosophy” (OLP). Memang ada, bahasa, yang bukan bahasa sehari-hari? Tentu saja ada! Bahasa filosofis, misalnya, hanya bisa dipahami oleh para filosof. Bahkan, filosof pun, kadang kesulitan memahami bahasa filosofis dari madzhab yang berbeda. Filosof Timur bisa saja kesulitan memahami bahasa filosof Barat, dan sebaliknya. Sering terjadi, filosof analytic kesulitan memahami bahasa filosof continental – padahal sama-sama filosof Barat.
Wittgenstein (1889 – 1951) menengarai bahwa problem filsafat muncul karena kesalahan memahami bahasa belaka. Filosof sering memakai bahasa sehari-hari dalam konteks yang tidak sesuai. Akibatnya, sering terjadi salah paham terhadap filosofi. Solusinya sederhana, menurut Wittgenstein, kembalilah ke bahasa sehari-hari (OLP).
Bahasa komputer berbeda dengan bahasa sehari-hari. Bahasa komputer lebih tegas dan bermakna tunggal. Sehingga, bahasa komputer tidak memerlukan keragaman interpretasi konotasi makna. Dengan demikian, tidak ada salah paham dalam bahasa komputer. Tidak semanis itu bahasa komputer!? Nyatanya, bahasa komputer beragam juga. Bahasa C, misalnya, beda dengan Java. Kadang, ada bagian tertentu yang sama sekali tidak bisa dikomunikasikan.
OLP terbukti tidak memadai, dengan makin pentingya bahasa komputer. Ditambah lagi, kita tetap mengenal bahasa sastra yang berbeda dengan OLP. Seperti kita tahu, sastra mempunyai kekuatan yang sangat kreatif dalam bahasa. Kita akan lihat, OLP juga memiliki daya kreatif lebih besar dari yang umumnya dikira.
Awal abad 20 mulai muncul trend strukturalisme dalam bahasa dan matematika. Bahasa adalah problem dan kekuatan struktur. Kita hanya bisa memahami bahasa dalam konteks struktur – demikian juga matematika. Lebih dari itu, struktur bahasa menentukan struktur pikiran umat manusia. Sehingga, perilaku manusia dan peradaban ditentukan oleh struktur bahasa.
Tahun 1960an adalah puncak strukturalisme bahasa sekaligus titik keruntuhannya. Apa yang dibayangkan sebagai struktur, nyatanya, bersifat cair dan dinamis. Setiap struktur memiliki titik kelemahan. Derrida (1930 – 2004) berhasil mengembangkan konsep dekonstruksi yang mengungkap beragam “lubang” struktur. Dan, Gadamer (1900 – 2002) berhasil mengembangkan hermeneutik yang menunjukkan bahwa bahasa sangat dinamis. Jadi, ayo kita nikmati dinamika bahasa…!
1. Bahasa Sehari-hari
Kita merasa biasa-biasa saja menggunakan bahasa sehari-hari (OLP). Nyatanya, ketika kita mengkaji bahasa sehari-hari, banyak hal-hal di luar dugaan. Bagaimana seorang anak manusia bisa memahami bahasa? Berbagai macam teori dikembangkan, tak satu pun yang berhasil menjawab dengan memuaskan. Singkatnya, mustahil seorang anak bisa memahami bahasa, tapi, nyatanya setiap anak berhasil memahami bahasa.
Noam Chomsky (lahir 1928), barangkali, paling berhasil memberikan jawaban meyakinkan. Seorang anak mampu menguasai bahasa karena ada kemampuan bawaan (innate) pada manusia. Hanya manusia yang memiliki kemampuan bawaan seperti itu. Kita tidak bisa mengajari singa bahasa manusia karena singa tidak memiliki kemampuan bawaan. Kita juga tidak bisa mengajari komputer bahasa manusia karena kamputer tidak memiliki kemampuan bawaan. Bahkan, ketika komputer dilengkapi dengan “operating system” tetap saja komputer tidak bisa berbahasa manusia.
Tentu saja, kita masih boleh bertanya, “Bagaimana dan mengapa manusia bisa memiliki kemampuan bawaan dalam berbahasa?”
Chomsky menjawabnya bahwa kemampuan bawaan itu merupakan hasil perkembangan evolusi spesies manusia. Sayangnya, bukti-bukti empiris kajian evolusi tidak mendukung, belum mendukung, klaim ini. Sementara, kajian rasional masih membutuhkan penjelasan lebih mendalam. Evolusi seperti apa saja, secara rasional, yang dapat membentuk kemampuan bawaan tersebut.
Di sisi lain, ada yang menolak konsep kemampuan bawaan itu. Mereka mengatakan bahwa kemampuan berbahasa diperoleh dari hasil interaksi sosial, nurture. Memang lebih mudah bagi kita meyakini bahwa kemampuan bahasa adalah hasil kombinasi kemampuan bawaan dan interaksi sosial – nature plus nurture. Pertanyaannya, “Sejauh apa batas masing-masing nature dan nurture itu?”
Sementara, Chomsky dan teman-teman terus mengkaji batas-batas kemampuan bawaan sampai hari ini, di lain pihak, sejak pertengahan abad 20, OLP makin terus berkembang. OLP, ordinary language philosophy, secara prinsip mendasarkan kajiannya pada buku “Philosophy Investigation” karya Wittgenstein dewasa. Dan, secara implisit, menganut positivis-logis. Berikut ini, kita akan membahas beberapa konsep penting dari Wittgenstein dewasa.
1.1 Language Game
Bahasa hanya bisa dipahami dalam konteks yang tepat. Tanpa konteks, kita tidak bisa memahami bahasa. Wittgenstein menyebutnya sebagai language-game.
Kata “air” bisa bermakna memberi tahu informasi bahwa ada air. Bisa juga bermakna permintaan tolong untuk diambilkan air. Boleh jadi merupakan peringatan harus hati-hati dengan air. Komplotan penjahat bisa saja menggunakan air sebagai kode untuk melakukan serangan. Kata “air” hanya bisa dipahami sesuai konteks language-game.
Apakah dengan language-game menjadikan bahasa bersifat relatif? Relatif terhadap konteks, benar adanya. Tetapi, bukan relatif sebarang relatif. Justru, language-game memberi tahu kita cara memahami suatu bahasa dengan tepat. Bukan untuk mengaburkan bahasa.
Di era digital ini, kita sering mendengar hoax – berita bohong. Hoax, biasanya, mengandung informasi yang benar, mengandung bahasa dan kalimat yang benar. Tetapi, mereka menerapkan pada konteks yang berbeda, pada language-game yang berbeda. Hasilnya, memberikan makna yang berbeda dan terciptalah hoax berdasar informasi yang benar. Perubahan language-game ini, kita kenal sebagai “framing”.
Untuk melindungi diri dari hoax, salah satunya, dengan cara mewaspadai “framing.” Ujilah berbagai macam language-game yang mungkin.
1.2 Meaning as Use
Dari berbagai macam language-game yang beragam itu, bagaimana kita bisa mengambil satu makna tertentu?
Tidak bisa. Kita tidak bisa mengambil satu makna tertentu. Kita tidak bisa menyimpulkan suatu makna tertentu dari bahasa. Karena makna dari bahasa adalah tidak ada makna. Bahasa tidak punya makna. Kita hanya menggunakan bahasa. Wittgenstein menyebut penggunaan bahasa ini sebagai “meaning as use.”
Problem filosofis yang serius muncul pada tahap ini: gabungan language-game dan “meaning as use.” Cara pandang ini, menempatkan Wittgenstein sebagai anti-realis. Padahal, selama ini, Wittgenstein muda berpandangan realis sejalan dengan tradisi filsafat analytic.
Para realis menilai bahwa bahasa merujuk realitas tertentu. Kata “air” misalnya merujuk realitas air di alam nyata. Meski pun makna air beragam, tetapi, mereka tetap sama-sama masuk dalam kategori air. Demikian juga kata “pedih” merujuk kepada realitas tertentu yang diberi nama pedih. Meski jenis “pedih” adalah beragam, mereka semua tetap masuk dalam kategori pedih.
“Meaning as use” menolak pandangan realis seperti di atas. Bahasa hanya “bermakna” sesuai penggunaannya saja. Tidak ada realitas yang dirujuk oleh bahasa.
Bagaimana pun, kita masih bisa membaca Wittgenstein sebagai realis dengan menganggapnya sebagai dobel anti-realis.
“Meaning as use” adalah anti-realis pada tahap pertama. Tetapi, tahap kedua, karena “use” adalah realitas konkrit penggunaan bahasa maka “meaning as use” adalah realis. Jadi dobel anti-realis adalah anti-anti-realis yang sama artinya dengan realis.
1.3 Form of Life
Bagaimana kata “air” bisa merujuk ke realitas air?
Bagi bahasa sehari-hari (OLP), hal seperti itu sudah terjadi begitu saja secara alamiah. Lagi-lagi, kasus ini tidak semudah penampakannya. Bagi Wittgenstein, kita menggunakan kata “air” untuk merujuk air. Bukan karena ada suatu “rujukan” lalu kita memahami kata “air”. Tetapi, karena kita “menggunakan” kata “air” seperti itu maka kita memahaminya. Wittgenstein menyebut penggunaan kata dasar seperti itu sebagai “form of life.”
“Form of life” yang menolak rujukan terhadap realitas mengantarkan kita pada posisi anti-realis. Tahap selanjutnya, “form of life” mengakui realitas “penggunaan” bahasa maka kembali realis.
Apa sulitnya, bagi Wittgenstein untuk mengakui “realitas rujukan” yang sejalan dengan teori korespondensi? Apa lagi, Wittgenstein muda sudah mengakui “realitas rujukan” dalam bukunya Tractatus? Mengapa Wittgenstein dewasa harus merevisi Wittgenstein muda?
Teori korespondensi tidak bisa dipertahankan secara filosofis, demikian juga, “realitas rujukan”.
Pertama, bagaimana kita bisa menghubungkan kata “air” dengan realitas fisik “air”. Tidak mungkin. Kita tidak bisa membuat suatu hubungan nyata antara kata dengan realitas fisik. Kita hanya bisa membayangkan ada hubungan antara kata dan realitas fisik, tetapi, sejatinya tidak ada hubungan.
Kedua, kita bisa menghubungkan kata “air” dengan realitas fisik “air” menggunakan alam-imajinasi. Kata “air” berhubungan dengan imajinasi “air” dan, kemudian, imajinasi “air” berhubungan dengan realitas fisik “air”. Dengan demikian tercipta hubungan kata dengan realitas melalui jembatan imajinasi.
Pandangan seperti itu, ada penghubung tertentu antara kata dan realitas, bisa kita telusuri sepanjang sejarah filsafat. Plato mengembangkan teori form. Al Ghazali mengembangkan al-mitsal. Bahkan, Wittgenstein muda mengembangkan picture-theory.
Jika kata terhubung dengan imajinasi maka dengan cara apakah mereka terhubung? Misal mereka terhubung melalui A. Pertanyaan selanjutnya, dengan cara apakah A terhubung dengan kata? Misal terhubung melaui B. Maka pertanyaan bisa terus kita lanjutkan tanpa henti. Kesimpulannya, kita tidak bisa membangun hubungan antara kata dan realitas. Kita memahami kata karena penggunaannya – form of life.
Ketiga, ada realitas yang lebih fundamental dari realitas “kata” mau pun realitas “fisik”. Realitas fundamental ini yang menghubungkan kata dan realitas fisik. Ibnu Arabi menyebut realitas fundamental sebagai wujud, Sadra menyebutnya eksistensi, dan Heidegger menyebutnya being.
Russell, mentor dari Wittgenstein, berharap menemukan realitas fundamental seperti itu yang dia sebut sebagai “monisme neutral”. Sayangnya, Russell tidak mengkaji pemikiran Heidegger dengan serius. Seandainya dikaji, Russell bisa menemukan “monisme neutral” itu dari Heidegger. Sebaliknya, Heidegger juga tidak tampak serius mengkaji Russell. Padahal, mereka hidup sejaman sekitar 80 tahun.
Kata adalah mode-of-being (mode dari wujud). Begitu juga, realitas fisik adalah mode-of-being. Being bermanifestasi (disclosedness, tersingkap, opening, membuka diri) dalam mode kata. Demikian juga, realitas fisik adalah manifestasi dari being. Sehingga, kata dan realitas fisik adalah sama-sama mode-of-being. Mereka adalah satu kesatuan dalam rangkulan being.
Dengan cara pandang tersebut, kata dan realitas fisik terhubung melalui being. Tetapi, dalam kasus ini, kita sudah bergeser dari teori korespondensi ke teori “disclosedness of being” (ketersingkapan wujud). Sebuah pergeseran teori yang radikal.
Apakah maksud “form of life” dari Wittgenstein adalah ketersingkapan wujud?
Bisa jadi, jawabannya positif. Kita perlu mempertimbangkan bahwa Wittgenstein lahir di tahun yang sama dengan Heidegger, yaitu 1889. Mereka sama-sama menekuni filsafat. Dan, keduanya sama-sama mahir bahasa Jerman. Bahkan mereka menulis karya filosofisnya, sama-sama, dalam bahasa Jerman. Pada tahun 1930an, Wittgenstein mengaku bisa memahami konsep “nothingness” dari Heidegger yang dikritisi oleh Carnap. Wittgenstein bisa membaca debat itu langsung dalam edisi bahasa Jerman. Sementara, orang lain misal Russell, harus menunggu edisi terjemahan ke bahasa Inggris. Sehingga, kita bisa menduga maksud dari “form of life” adalah “disclosedness of being” atau ketersingkapan wujud.
1.4 Following TheRule
“Apakah seseorang bisa mengikuti suatu aturan?” “Tidak bisa!” jawab Wittgenstein.
Atau, bahkan selalu bisa mengikuti aturan. Karena aturan baru selalu bisa dibuat-buat.
Saul Kripke (lahir 1940) menulis buku khusus untuk membahas “mengikuti aturan” dan “bahasa privat”. Kripke memberi contoh tentang aturan matematika. Padahal, Wittgenstein sedang membahas aturan bahasa. Di sini, saya akan memberi contoh matematika, mirip Kripke meski beda.
“Berapakah nilai A dari barisan: 1, 2, 3, 4, A, … ?”
A = 5. Sudah jelas benar. Ya, itu jawaban yang benar mengikuti aturan yang dipikirkan orang pada umumnya. Tetapi jawaban yang lain juga benar karena bisa jadi aturan berbeda.
A = 6, adalah jawaban benar sesuai aturan berikut ini: (1, 2, 3, 4), (6, 7, 8. 9), (11, 12, 13, 14).
A = 50, adalah benar sesuai aturan: (1, 2, 3, 4), (50, 60, 70, 80).
Jawaban yang benar menurut suatu aturan bisa saja salah menurut aturan yang lain. Sebaliknya bisa juga terjadi. Bahkan, terhadap sesuatu yang belum ada aturan, kita bisa membuat suatu aturan tertentu. Untuk kemudian, berdasar aturan itu, kita menghakimi suatu kasus sebagai benar atau salah. Apakah aturan yang kita buat itu memang benar? Atau, aturan orang lain barangkali yang lebih benar? Atau bahkan, aturan yang benar tidak kita ketahui?
Jean-Luc Nancy (1940 – 2021) menyatakan bahwa tugas filosofi adalah menentukan penilaian di mana tidak ada aturan, tidak ada ukuran, tidak ada pembanding, dan tidak tersedia suatu kepastian. Mudah saja mengukur tinggi badan ketika sudah tersedia mistar pengukur. Mudah saja mengukur berat badan ketika sudah ada timbangan. Tugas kita, sebagai manusia, adalah menentukan ukuran ketika tidak tersedia ukuran.
“Apa itu aturan?” “Siapa yang menetapkan aturan?” “Mengapa dia berhak menetapkan aturan?” “Atas dasar apa, dia mendapat hak itu?” “Apakah kita harus mengikuti aturan itu?”
Lagi, problem mengikuti aturan dari Wittgenstein ini mengantar kita kepada problem filsafat yang lebih serius. Apakah dengan problem ini menjadikan Wittgenstein relativis dan anti-realis? Saya kira, Wittgenstein tetap realis dengan jalan dobel anti-realis, seperti sudah kita bahas di atas.
Saya justru tertarik debat Wittgenstein versus Godel. Saya kira problem “mengikuti aturan” ini adalah titik temu antara mereka. Wittgenstein meremehkan “teorema incompleteness Godel” karena paradoks semacam itu sudah dibahas oleh Russell pada tahun 1900an dan sudah tersedia solusinya melalui buku “Principia” karya Whitehead dan Russell. Masalah paradoks muncul akibat ada pernyataan yang merujuk ke diri sendiri, pernyataan impredikatif. Sehingga, Godel terlambat 30 tahun.
Wajar saja, Godel marah dengan pernyataan Wittgenstein. Godel menjawab dengan tidak kurang pedas. Wittgenstein ini bisa saja pura-pura tidak paham teorema Godel atau memang tidak mampu lagi memahami teorema Godel. Godel menegaskan, “Tidak ada pernyataan impredikatif sama sekali dalam teorema Godel.”
Secara prinsip, Wittgenstein setuju dengan teorema Godel. Menganggap teorema Godel sebagai akibat dari pernyataan impredikatif memang tidak tepat, seperti sudah dibantah oleh Godel. Tetapi, kita bisa mengatakan bahwa paradoks Godel adalah setara dengan paradoks “mengikuti aturan” Wittgenstein. Atau sebaliknya, paradoks “mengikuti aturan” Wittgenstein setara dengan paradoks Godel. Karena paradoks Godel lebih awal publikasi, yaitu tahun 1930an. Sementara, paradoks Wittgenstein terbit pada tahun 1950an setelah Wittgenstein wafat.
Paradoks Godel, sederhananya, menyatakan, “Setiap sistem formal, misal sistem matematika, pasti tidak lengkap atau tidak konsisten.”
Dalam sistem formal akan selalu ada pernyataan G yang terbukti sah, di saat yang sama, negasi pernyataan G, misal (-G), juga terbukti sah. Dengan demikian, sistem formal tersebut tidak lengkap karena tidak bisa memutuskan apakah G yang benar-benar terbukti sah atau (-G) yang terbukti sah. Karena dua pernyataan di atas, G dan (-G), saling kontradiksi maka salah satunya harus bernilai salah.
Kita umumnya, sebagai manusia, mengetahui bahwa G yang bernilai benar terbukti sah. Karena itu, kita bisa menambahkan aksioma baru pada sistem formal tersebut,
aksioma baru: G bernilai benar.
Dengan demikian paradoks Godel selesai. G bernilai benar dan (-G) bernilai salah. Tetapi, nyatanya tidak begitu, akan ada paradoks baru. Secara mekanis, akibat ada tambahan aksioma baru, kita bisa menemukan pernyataan H yang terbukti sah dan negasi pernyataan H, misal (-H), yang juga terbukti sah.
Dan, begitu seterusnya. Setiap paradoks bisa diselesaikan dengan menambah aksioma baru. Pada gilirannya, aksioma baru ini memunculkan paradoks baru lainnya. Jadi, teorema Godel memang paradoks.
Di sisi lain, paradoks Wittgenstein terjadi pada sistem bahasa. Seperti kita tahu, sistem bahasa lebih dinamis dan fleksibel dari sistem formal matematika. Karena itu, penambahan “rule” atau aturan atau aksioma pada sistem bahasa lebih mudah terjadi dalam interaksi sosial.
Paradoks Wittgenstein bisa kita nyatakan, “Sistem bahasa tidak lengkap atau tidak konsisten.”
Dalam sistem bahasa akan ada suatu kata yang bermakna K dan, di saat yang sama, bermakna negasi K, misal (-K). Sistem bahasa itu tidak bisa memutuskan apakah K yang terbukti sah atau (-K) yang terbukti sah. Jadi, sistem bahasa memang tidak lengkap atau tidak konsisten.
Tentu saja, kita bisa menambahkan “rule baru” yang menyatakan bahwa K adalah yang sah. Paradoks selesai untuk sementara. Pada gilirannya, akibat “rule baru” akan muncul kata baru yang bermakna L dan, di saat yang sama, bermakna negasi L, misal (-L). Begitu seterusnya, akan selalu muncul paradoks dalam bahasa.
Dengan demikian, mereka selaras. Sama-sama paradoks.
Barangkali, lebih menarik lagi, bila kita membahas paradoks “mengikuti aturan” dikaitkan dengan kebebasan (freedom). Baik freedom pada manusia atau freedom secara umum. Demikian juga, kita bisa mengaitkan paradoks “mengikuti aturan” dengan paradoks interpretasi hermeneutik, yang akan kita bahas di bagian bawah.
Rekomendasi akhir dari Wittgenstein sendiri juga paradoks. Dia menyarankan kita untuk kembali ke bahasa sehari-hari (OLP), ke bahasa biasa. Sementara, dia mengajukan konsep-konsep bahasa yang tidak biasa. Saya melihatnya, hal ini menunjukkan sikap realis Wittgenstein melalui jalur dobel anti-realis. Anti-anti-realis sama artinya dengan realis dalam tingkat yang lebih tinggi.
1.5 BahasaPrivate
Konsep bahasa private, barangkali, konsep paling sulit dipahami, khususnya pada tahap awal.
“Apakah bisa, seseorang menciptakan bahasa private, bahasa yang hanya dipahami oleh diri sendiri?” “Tidak bisa,” jawab Wittgenstein tegas.
Jika seseorang bertekad membuat bahasa private maka hasilnya tidak akan pernah menjadi bahasa. Setiap bahasa bersifat publik. Yang tidak publik, tidak akan menjadi bahasa. Seorang agen rahasia tidak akan pernah berhasil membuat bahasa rahasia dalam bentuk bahasa private. Diperlukan, minimal, dua orang agen rahasia untuk membuat bahasa rahasia, akibatnya, tidak lagi jadi bahasa private meski tetap rahasia.
“Apa sulitnya menciptakan bahasa private?”
Kita, atau seseorang, bisa membuat catatan rahasia tiap hari. Catatan ini, sengaja kita susun, terdiri dari kata-kata dan istilah-istilah yang kita ciptakan sendiri. Sehingga, hanya diri kita sendiri yang bisa memahami catatan rahasia tersebut. Setelah catatan itu terkumpul menjadi satu buah buku, bukankah itu adalah bahasa private? Tetapi, kita tidak akan berhasil membuat catatan seperti itu.
Kita coba dengan eksperimen pikiran: tikus dalam kotak.
Bayangkan ada 5 orang, masing-masing membawa kotak tertutup. Di antara mereka tidak ada yang bisa melihat isi kotak orang lain. Mereka hanya bisa melihat isi kotaknya sendiri. Masing-masing dari 5 orang itu menyebut bahwa isi kotak tersebut adalah tikus.
Apa maksud dari tikus itu?
Mungkin saja maksud tikus adalah benar-benar tikus, bisa saja kelinci, atau bahkan bisa kosong, kotak itu tidak ada isi apa pun. Selama, mereka hanya bicara pada diri sendiri maka “tikus” tidak bermakna apa pun atau bisa bermakna apa saja. Bila mereka saling komunikasi, secara publik, maka “tikus” menjadi bermakna. Ada konfirmasi, penolakan, dan koreksi dalam komunikasi.
Bukankah kita bisa konsisten mengatakan “tikus” bahwa yang dimaksud adalah kelinci? Setiap saya melihat kelinci dalam kotak maka saya mencatat dalam buku harian sebagai “tikus”. Dengan demikian, saya punya bahasa private berupa kata “tikus” dengan maksud adalah kelinci. Tidak bisa terjadi. Bahasa private semacam itu tidak akan tercipta.
Saya bisa mengenali bahwa “tikus” yang saya lihat hari ini sama persis dengan ingatan saya tentang “tikus” yang kemarin. Pengenalan saya hari ini bisa benar. Tetapi ingatan saya tentang hari kemarin bisa salah atau, hampir, pasti salah. Hanya komunikasi publik, penggunaan bersama, yang bisa melakukan koreksi terhadap kesalahan bahasa ini.
Saya sering menciptakan istilah-istilah baru dalam matematika: jurus bintang, kutabali, onde milenium, kurva gendut, segitiga ganjil, trik 7 detik, dan lain-lain. Istilah-istilah baru itu sering saya kumunikasikan melalui kelas belajar, training, workshop, youtube, dan sebagainya. Benar saja, istilah-istilah itu menjadi terkenal secara umum. Mereka menjadi bahasa publik, yang bermanfaat, bukan lagi bahasa private.
Yang menarik, ternyata, saya punya buku catatan yang berisi istilah-istilah tertentu dan belum sempat saya komunikasikan kepada banyak orang. Dan, saya sendiri lupa akan arti istilah-istilah yang saya ciptakan beberapa tahun lalu. Saya lupa akan maksud “bahasa private” yang saya buat sendiri. Beruntung, beberapa istilah itu saya tulis lengkap dengan penjelasannya. Sehingga saya bisa segera komunikasikan ke banyak orang, dan, menjadi bahasa publik yang bermakna. Saya gagal membuat “bahasa private” tetapi kita bisa berpartisipasi dalam bahasa publik.
“Apakah manusia yang menciptakan bahasa atau bahasa yang menciptakan manusia?”
1.6 Bahasa Praktis
Kajian di bidang bahasa telah menghasilkan banyak inovasi yang bermanfaat. Di bagian ini, kita akan membahas beberapa manfaat praktis dari bahasa.
2. Bahasa Komputer 3. Bahasa Kreatif 4. Strukturalisme 5. Dekonstruksi Hermeneutika
Wayang kulit perlu dimusnahkan. Mengapa? Karena budaya wayang bukanlah ajaran agama. Setiap yang bukan ajaran agama maka perlu dibuang. Orang yang berpikir dengan cara seperti itu adalah idealisme. Dia berpikir berdasar ideal-ideal yang diyakininya benar.
Wayang kulit adalah budaya bangsa yang perlu terus dirawat bahkan dikembangkan. Mengapa? Karena agama mengajarkan indahnya perbedaan, pentingnya kreativitas, dan lembutnya hati. Orang yang berpikir seperti itu, juga, berpikir idealis berdasar ideal-ideal yang diyakininya. Dalam tulisan ini, kita akan memandang idealisme sebagai cara berpikir ideal, global, dan universal. Sehingga, idealisme mirip dengan ideologi.
Sebaliknya, genealogi justru berpikir dari partikular-partikular yang unik. Mengapa wayang kulit perlu dimusnahkan? Karena ada orang yang bertanya tentang haram atau tidaknya wayang. Lalu, narasumber terdorong untuk memberi penilaian antara haram atau tidak. Melihat situasi yang ada, bagi narasumber, lebih menguntungkan menjawab bahwa wayang adalah haram. Sehingga, wayang perlu dimusnahkan.
Kita bisa mempertimbangkan genealogi yang berbeda. Narasumber melihat ada anak muda yang sangat pandai membuat cerita. Dengan media wayang, cerita anak muda itu makin menarik. Dan, dari cerita-cerita yang menarik itu menjadikan banyak generasi muda terinspirasi untuk berbuat kebajikan. Narasumber menyimpulkan, dari manfaat wayang itu, bahwa wayang sangat penting dan tidak haram. Karena itu wayang harus terus dikembangkan.
1. Idealisme dan Atom Kuno 2. Ideologi Kapitalis Komunis 3. Genealogi Problematis
Dari contoh wayang di atas, kita melihat bahwa seseorang bisa menerapkan cara pikir idealisme atau genealogi terhadap obyek yang sama. Bahkan, ketika kita sama-sama menerapkan idealisme, hasil penilaian bisa berbeda. Demikian juga, ketika kita sama-sama menerapkan genealogi, juga, hasilnya bisa berbeda-beda.
Muncul pertanyaan: kapan kita harus idealis dan kapan kita harus genealogis?
Secara umum, lebih banyak pemikir yang dominan idealis. Dan, hanya sedikit yang genealogis. Karena itu, wajar bagi kita, untuk menambah lebih banyak porsi genealogis dalam beragam kesempatan.
Di bagian awal tulisan ini, kita akan mencermati kecenderungan berpikir idealis ideologis sejak jaman kuno. Di masa itu juga, telah muncul cara berpikir “atom” yang bisa kita pandang sebagai cikal bakal dari genealogi. Kemudian, kita akan sedikit banyak mengkaji ideologi kapitalis versus komunis. Kita menemukan beragam kesulitan dalam ideologi mereka.
Pada bagian akhir, kita membahas lebih dalam tentang genealogi. Bermula dari genealogi Nietzsche yang subversif, lanjut genealogi Foucault yang problematis, sampai genealogi Sakina yang dinamis. Dengan sudut pandang genealogi ini, kita berharap berhasil menemukan kebenaran yang benar-benar dinamis.
1. Idealisme dan Atom Kuno 2. Ideologi Kapitalis Komunis 3. Genealogi Problematis
3.1 Genealogi Subversif
Nietzsche (1844 – 1900) adalah tokoh besar yang mengangkat genealogi menjadi tema penting dalam filsafat. Bagi Nietzsche sendiri, genealogi lebih dekat ke karakter subversif dari pada problematis. Maksudnya, satu metodologi genealogi bernilai benar, sementara, genealogi yang lain bernilai salah secara mutlak. Pendekatan seperti ini, tampaknya, selaras dengan gaya Nietzsche yang begitu kuat dalam tulisan-tulisannya.
Dalam mengkaji asal-usul, genealogi kejahatan atau evil, Nietzsche menyatakan bahwa awalnya hanya ada “baik” dan “buruk.” Tidak ada sesuatu yang bernilai “jahat.” Penilaian moral sesuatu sebagai “baik” atau “buruk” adalah wajar-wajar saja. Tetapi, orang-orang lemah tidak puas dengan kewajaran ini. Maka mereka, orang-orang lemah, menciptakan label “jahat” terhadap perilaku orang-orang kuat. Dengan demikian, orang-orang lemah bangga dengan membela diri bahwa dirinya adalah orang “baik”. Sedangkan, pihak lain adalah orang-orang “jahat”. Penilaian “jahat” seperti itu adalah penilaian hampa makna.
“Baik” adalah ketika Anda berhasil menambah kekuatan “will to power.” Ketika Anda berhasil menaklukkan segala rintangan. Ketika Anda mampu menanggung semua derita untuk kemudian bangkit meraih cita-cita. Ketika Anda berhasil mencapai puncak, kemudian, Anda menciptakan puncak baru yang lebih tinggi. “Baik” adalah ketika “will to power” mengantarkan Anda menjadi “super human.”
Fokus utama kita, di sini, adalah genealogi. Pertama, genealogi menjadi penting. Tidak cukup hanya mengandalkan ideologi. Kedua, genealogi mampu mengungkapkan kebenaran. Tidak seperti ideologi, yang justru, “membelokkan” kebenaran. Ketiga, genealogi bersifat subversif, di mana, nilai kebenaran suatu genealogi menggusur nilai kebenaran pandangan lain.
Foucault (1926 – 1984) mengembangkan pandangan Nietzshce. Dia merevisi karakter subversif dari genealogi menjadi problematis. Nilai kebenaran dari beragam genealogi adalah problematis. Maksudnya, di antara keragaman itu, kita menghadapi problem bagaimana menentukan yang paling benar. Pada analisis akhir, tidak ada cara pasti untuk menjamin bahwa satu genealogi adalah yang paling benar, sementara, menganggap genealogi yang lain sebagai salah. Genealogi memang problematis.
3.2 Genealogi Problematis
Genealogi memang problematis. Sementara, ideologi lebih kuat dengan keyakinannya. Di situlah, letak kelemahan ideologi. Mereka terlalu yakin dengan ideologinya. Sehingga, mereka menutup diri dari alternatif-alternatif yang lebih kreatif. Sementara genealogi, yang problematis, perlu menguji beragam alternatif sehingga menemukan pemikiran terbaik. Genealogi selalu dinamis. Sedangkan, ideologi adalah harga mati.