30 Renungan Takwa: Berprestasi Sepanjang Masa

Makna dari takwa adalah berprestasi. Bukan sebarang prestasi. Takwa adalah prestasi yang diraih sesuai tuntunan ilahi. Semakin Anda bertakwa maka Anda semakin berprestasi.

10 Fakta Unik Masjid Nabawi

Berikut ini adalah 30 Renungan – tulisan singkat – yang saya tuliskan harian, semoga mendapat pertolonganNya, selama Ramadhan 1442 H (2021 M).

Prolog

01. Puasa Agar Berprestasi
02. Gelap Semua
03. Tobat Positif
04. Tolong Menolong Takwa
05. Perilaku Terbaik
06. Akhir Takwa
07. Beda Takwa
08. Jangan Dusta
09. Balasan Kebaikan
10. Masyarakat Takwa Berprestasi
11. Hukum Takwa
12. Tangan-Tangan Takwa
13. Terbakar Amal
14. Persimpangan Takwa
15. Ekonomi Serakah
16. Orang-Orang Unggul
17. Takwa Berpasangan
18. Bakti Anak Ibu Bapak
19. Pernikahan Langit
20. Framing Ayat Suci
21. Kebaikan Berlimpah
22. Struktur Takwa
23. Prospek Sekularisasi
24. Gelombang Sekularisasi
25. Petaka Sekularisasi
26. Candu Agama Dogmatis
27. Takwa Ekonomi Manusia
28. Takwa Virtual Aktual
29. Takwa Manusia Bebas
30. Takwa Awal dan Akhir

Epilog

Hukum Takwa

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.” (QS 4 : 29)

Hukum untuk menjalankan takwa adalah wajib, khususnya, bagi orang-orang yang beriman. Dan lebih wajib lagi, ketika, bulan puasa. Ditegaskan, tujuan puasa adalah agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Yaitu, yang bermakna, agar kalian menjadi orang yang berprestasi sesuai tuntunan ilahi.

Hukum, peraturan dan undang-undang, yang seharusnya sebagai pegangan hidup bersama bermasyarakat, dari dulu, selalu bisa dipelintir untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu saja. Kita mengenal istilah mafia hukum, yang bisa mengatur hukum menjadi tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Peradaban manusia terancam hancur dengan adanya mafia hukum.

Definisi Ilmu Hukum | Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Provinsi  Kalimantan Barat

1. Taat Hukum
2. Mafia Hukum
3. Melanggar Hukum

Untuk meraih prestasi bersama, kita, memerlukan kepastian hukum. Yang menjamin setiap anggota masyarakat bisa bertakwa, berpartisipasi aktif, sesuai kapasitas masing-masing. Bagaimana pun, kekuatan hukum ada batasnya. Maka kita perlu, semangat dari segenap warga, menjalankan hukum yang dijiwai dengan takwa: menjalankan hukum yang senantiasa, penuh kesadaran, diawasi oleh Allah dan dipertanggung-jawabkan kepada Allah.

  1. Taat Hukum

Orang beriman yang takwa, tentu saja taat hukum. Lebih dari itu, orang takwa senantiasa memberi kontribusi lebih besar dari sekedar menjalani tugas. Kita, orang bertakwa, adalah wakil Tuhan di alam ini. Maka kita perlu mencari cara terbaik untuk mengelola alam semesta. Menjaga keseimbangan alam, kelestarian alam, di saat yang sama memanfaatkan alam agar produktif untuk kebaikan bersama.

Dalam menjalankan tugas sebagai wakil Allah, kita, sering berhadapan dengan orang lain, yang juga menjalankan peran sebagai wakil Allah. Ketika bisa kerja sama maka sinergi adalah pilihan terbaik di antara umat manusia. Di saat-saat tertentu, tidak ada titik temu, maka saling respek adalah yang paling penting. Masing-masing pihak, dengan caranya, berbakti berkontribusi untuk kemajuan negeri.

Ada kalanya juga terjadi perselisihan, meski masing-maing pihak sama-sama menjalankan tugas bertakwa, membangun negeri. Maka sistem hukum menjadi solusi agar masing-masing pihak tetap bisa berpartisipasi. Tersedia hukum dagang, hukum waris, hukum pidana, hukum digital, dan lain-lain. Selama setiap pihak taat kepada hukum maka segala perselisihan dapat diselesaikan dengan baik. Secara musyawarah atau pun pengadilan yang adil.

Dan kita tahu, di jaman digital sekarang ini, masalah hukum berdampak besar. Misalnya pencurian data pribadi, secara online, dapat membelokkan arah politik. Yang pada gilirannya bisa merugikan kepentingan umat. Maka orang-orang beriman perlu memahami secara benar hukum di dunia digital agar bisa mewarnai dunia digital dengan nilai-nilai positif.

2. Mafia Hukum

Pelaku pelanggaran hukum adalah suatu masalah. Tetapi mafia hukum lebih parah.

Pelanggar hukum dapat dihentikan dengan hukum. Sementara, mafia hukum tidak bisa dihentikan dengan hukum. Mereka, mafia hukum, justru memanfaatkan hukum untuk kepentingan sepihak. Setiap aturan hukum, ditafsirkan, menguntungkan para mafia hukum.

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS 2 : 188)

AlQuran memberi peringatan yang keras kepada mafia hukum seperti itu. Meski mafia hukum bisa lolos dari hukum dunia tetapi mereka tidak akan lolos dari hukum akhirat kelak – siksa yang amat pedih. Bahkan sewaktu-waktu, adzab bisa saja menimpa mafia hukum di dunia ini. Tak ada yang bisa menolong bila waktunya tiba.

Sewaktu kecil, saya mendapat kisah dari guru ngaji yang menyatakan bahwa mafia hukum adalah dosa terbesar. Karena mereka adalah orang cerdas yang seharusnya memanfaatkan hukum untuk kebaikan, justru, membelokkan hukum demi nafsu syahwat belaka.

“Ada sepasang suami istri yang kaya raya. Mereka tentu wajib membayar zakat dalam jumlah yang besar. Karena kekayaan itu milik Si Suami maka yang wajib membayar zakat adalah Suami. Syarat wajib membayar zakat, secara hukum, adalah sudah memiliki harta kekayaan tersebut dalam satu tahun. Menjelang waktu satu tahun tiba, Si Suami memberikan semua kekayaannya kepada Istri. Karena Istri baru memiliki kekayaan beberapa hari maka ia tidak wajib membayar zakat. Sebelas bulan berikutnya, Istri hampir tiba waktunya membayar zakat. Maka Istri itu menyerahkan semua kekayaannya kepada suami, sehingga tidak wajib bayar zakat. Dan begitu seterusnya, pasangan suami-istri itu tidak pernah membayar zakat. Dan tidak melanggar hukum yang berlaku.”

Mafia hukum sudah ada sejak jaman dulu dan sekarang makin canggih.

Solusi untuk mengalahkan mafia hukum adalah kita memerlukan ahli-ahli hukum yang berintegritas tinggi, beriman, dan bertakwa.

Misal, untuk contoh kasus suami-istri di atas, yang mengakali hukum untuk tidak membayar zakat, bisa dibuatkan hukum pajak atas hibah. Setiap suami menyerahkan hartanya ke istri, hibah, maka kena pajak. Begitu juga, ketika, istri hibah ke suami. Bagaimana pun, mafia hukum akan tetap bisa menemukan cara untuk mengakali hukum hibah yang baru.

3. Melanggar Hukum

Ada kalanya, tanpa sengaja seseorang melanggar hukum ringan. Atau bahkan dengan sengaja melanggar hukum ringan demi kebaikan yang lebih besar.

Ilustrasi yang menarik adalah kartu kuning dalam permainan sepak bola. Wasit memberikan kartu kuning kepada pemain yang melanggar hukum – aturan main sepak bola. Sering kali, pemain terbaik dunia terkena kartu kuning dalam usahanya untuk mencetak gol, mencetak kemenangan. Kartu kuning, akibat pelanggaran hukum, adalah resiko yang sepadan untuk mencetak gol. Pemain yang tidak mau kena kartu kuning maka bisa saja main aman di pinggir lapangan. Dia tidak pernah melanggar, pun tidak pernah mencetak gol. Sementara pemain dunia yang sukses, berulang kali, kena kartu kuning.

Orang beriman sering dihadapkan kepada persimpangan hukum dalam menjalankan takwa. Misal, orang beriman tidak boleh menyentuh kulit aurat lawan jenis.

Terjadi kebakaran rumah secara tiba-tiba. Penghuni rumah itu adalah seorang wanita muda yang sedang mandi, telanjang, terjebak di kamar mandi. Kondisi gawat. Seharusnya, wanita telanjang itu bisa melompat keluar untuk menyelamatkan diri. Tetapi dia panik, hanya bisa teriak histeris. Sementara api makin berkobar, berbahaya. Seorang lelaki, beriman, menerobos api masuk ke kamar mandi itu. Menggendong si wanita, membawa keluar untuk diselamatkan. Dan selamatlah nyawanya.

Dalam situasi seperti itu, lelaki beriman, telah melanggar aturan dengan menyentuh kulit aurat lawan jenis. Lelaki itu pantas kena kartu kuning. Tetapi lelaki itu sudah berhasil menyelamatkan nyawa seorang manusia, berhasil mencetak gol kemenangan.

Selalu ada persimpangan. Tugas bertakwa adalah, termasuk, berpikir memberikan kontribusi terbaik bagi sesama, ketika di persimpangan, ketika situasi kacau, ketika chaos.

Sehingga, umat manusia menjalani hukum bukan seperti robot, yang selalu taat. Bukan seperti komputer, yang selalu patuh terhadap programnya. Bukan pula seperti mafia, yang selalu membelokkan hukum. Tetapi, umat manusia menjalani hukum sebagai orang yang beriman. Yaitu, orang yang punya pilihan untuk taat atau membangkang. Dengan suka atau duka, orang beriman memilih taat kepada aturan ilahi.

Bagaimana menurut Anda?

Masyarakat Takwa Berprestasi

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka.” (QS 13 : 11)

Perintah berpuasa tidak ditujukan kepada seseorang yang beriman, tetapi ditujukan kepada semua orang beriman. Pun tujuan berpuasa adalah agar semua orang beriman menjadi orang-orang yang bertakwa. Berpuasa dimulai dari individu-individu untuk kemudian bersama-sama membangun masyarakat berprestasi.

Pengertian Masyarakat, Unsur, Ciri, Jenis, Syarat dan Bentuk

1. Teori Personal
2. Teori Sosial
3. Masyarakat Berprestasi

1. Teori Personal

Sebagaimana sering kita bahas bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Apalagi, masing-masing dari kita adalah khalifah (wakil) Allah di muka bumi. Hanya manusia, hanya kita, yang terpilih mewakili alam semesta dan mewakili Tuhan secara bersamaan.

Orang-orang yang beriman, mukmin, memiliki karakter unggul secara personal.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS 8 : 2)

Orang-orang beriman tersentuh hatinya ketika dibacakan ayat-ayat suci. Alam semesta adalah ayat-ayatNya. Maka orang-orang beriman selalu berusaha untuk bertakwa di mana pun berada, selalu ada ayatNya. Dia menebar kebaikan, menolong sesama, dan saling menasehati dalam kesabaran. Takwa mereka, prestasi mereka, berlandaskan dan bertujuan untuk mendapat ridha Allah. Ikhlas sepenuh hati.

Mereka adalah agen perubahan menuju masyarakat berprestasi. Mereka adalah individu-individu yang menerima, dengan lapang dada, kondisi lingkungan yang sulit. Mempelajari situasi, lalu berkontribusi sesuai kapasitasnya dalam bidang ekonomi, pendidikan, sosial, kesehatan, politik, dan sebagainya.

Di satu sisi, orang beriman adalah orang yang paling bertakwa, paling berprestasi dengan memberi kontribusi. Di sisi lain, orang beriman adalah orang-orang yang bertawakkal, berserah diri kepada Allah. Mereka yakin semua yang terjadi di alam semesta adalah yang terbaik sesuai skenario Allah. Maka tidak ada keluh kesah bagi orang beriman. Tidak ada nyinyir, tidak ada konspirasi, tidak ada kelicikan, pun tidak ada korupsi bagi orang beriman. Hanya ada takwa dan tawakkal.

2. Teori Sosial

Peran masyarakat sangat besar untuk membentuk karakter masing-masing individu. Barangkali masyhur, terkenal, di masyarakat kita, “Setiap bayi terlahir suci, orang tuanya yang menjadikan dia jadi Majusi atau lainnya.” Peran orang tua dan masyarakat luas sangat besar dalam pendidikan anak.

Dari sudut pandang teori sosial, kemajuan masyarakat dan individu lebih ditentukan oleh sistem sosial. Meski peran masing-masing individu ada, namun, peran terbesar ada pada sistem masyarakat. Maka, peran negara dan pemerintahan menjadi penting. Apalagi, saat ini, kita sedang berada di jaman digital dan pandemi. Kebijakan pemerintah yang tepat, benar-benar, diharapkan menjadi solusi terbaik.

Media online digital, media sosial, bergerak dari suatu inovasi tanpa regulasi. Maksudnya, keunggulan dari media sosial ada pada sifatnya yang bebas. Setiap orang bebas mengungkapkan opini dan pengalamannya melalui media sosial tanpa ada batasan yang ketat dari pemerintah. Seperti kita duga, kebebasan di media sosial melahirkan orang-orang sukses baru sekaligus ancaman terhadap hidup bermasyarakat.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah konten digital saat ini nyaris dipenuhi oleh konten pamer kekayaan, obrolan kepo, hiburan receh, dan lain-lainnya. Sementara konten yang bermuatan edukasi teramat sedikit. Lebih parah lagi, konten edukasi yang sedikit kuantitasnya itu, malah lebih sedikit lagi peminatnya. Situasi seperti ini tidak sehat secara sosial. Maka kita perlu ada suatu gerakan atau kebijakan dari yang berwenang agar konten-konten edukasi lebih terangkat sehingga membawa kemajuan bagi masyarakat luas.

3. Masyarakat Berprestasi

Sukses sebagai konten kreator dengan jutaan subscriber dan penghasilan ribuan dolar adalah tanda bahwa ia seorang yang berprestasi. Tetapi saya ragu apakah prestasi seperti itu juga termasuk dalam makna takwa? Sebagaimana sering saya sebutkan, makna takwa adalah berprestasi dengan mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya.

Meski berhasil menggaet jutaan subscriber, bila konten videonya tidak bermanfaat bagi masyarakat maka itu bukan takwa. Barangkali itu sukses dalam arti duniawi. Kita membutuhkan masyarakat yang berprestasi untuk duniawi dan ukhrowi (dunia akhirat). Dan, media digital bisa menjadi salah satu sarana untuk menciptakan masyarakat yang berprestasi.

Saya sendiri mengelola beberapa canel edukasi, yang saya harapkan bisa memberi manfaat bagi masyarakat luas. Beberapa teman pengelola canel edukasi sering menceritakan bahwa membuat konten edukasi sulit karena harus melakukan riset dulu agar kontennya bernilai benar. Meski sulit, penontonnya tetap sedikit. Berbeda dengan konten iseng-iseng yang bikinnya tanpa riset tapi yang nontonnya bisa jutaan orang.

Kita perlu inovasi untuk menemukan cara agar konten edukasi lebih berkembang di masyarakat yang pada gilirannya mendorong terciptanya masyarakat berprestasi. Saya menemukan cara membuat konten video edukasi yang mudah – tidak sulit lagi. Hanya dengan alat seadanya, handphone biasa, kita sudah bisa membuat konten edukasi yang berkualitas. Sedangkan cara agar video edukasi ditonton masyarakat secara luas dan banyak, ternyata memang sulit dilakukan. Meski pun ada beberapa cara yang bisa dicoba.

Beberapa hari lalu saya membuat video edukasi yang menjadi trending di youtube. Sudah ditonton ratusan ribu orang hanya dalam beberapa menit. Tentu itu luar biasa, surprise buat saya. Saat itu masyarakat sedang membutuhkan informasi bagaimana cara menentukan tanggal 1 Ramadhan. Maka saya membuat video edukasi cara menentukan 1 Ramadhan dengan metode hisab rukyat dan beberapa saran untuk menyikapinya dengan baik. Terbukti, video tersebut berhasil menjadi video trending di youtube.

Dengan semangat takwa, meraih prestasi, kita perlu terus saling bekerja sama memajukan negeri dan alam ini.

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS 76:9)

Kita lakukan semua dengan penuh ikhlas dan hanya mengharap ridho dariNya.

Bagaimana menurut Anda?

Balasan Kebaikan

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan.” (QS 55 : 60)

Guru ngaji saya menceritakan, “Itu adalah ayat yang paling indah.” Setiap ayat suci memang indah. Kita, sebagai manusia, mempunyai pengalaman masing-masing yang unik. Ada kalanya, ayat-ayat tertentu begitu mengena ke dalam hati seseorang. Ayat suci itu begitu istimewa menyentuh jiwa kita. Sehingga, saya setuju dengan guru saya. Ayat suci paling indah adalah, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan.”

Setiap kita berbuat kebaikan maka, pasti, mendapat kebaikan. Bahkan balasan kebaikan itu lebih besar dari kebaikan pertama yang kita perbuat. Karena kita mendapat balasan kebaikan, maka kita melakukan kebaikan lagi. Dan, pasti, kita mendapat balasan kebaikan lagi yang lebih besar. Dengan demikian, alam semesta ini bertabur, dipenuhi, kebaikan demi kebaikan.

Hidup yang bertabur kebaikan, tentu, menjadi indah. Bila demikian, mengapa ada orang yang berbuat jahat? Mengapa ada orang yang menderita? Mengapa ada orang yang tidak bahagia?

1. Prestasi Kebaikan
2. Memaknai Kebaikan
3. Pengorbanan Sedekah
4. Sedekah Kaya Miskin
5. Godaan Nafsu
6. Kebaikan Abadi

1. Prestasi Kebaikan

Tujuan kita berpuasa adalah untuk menjadi orang yang bertakwa, orang yang berprestasi. Salah satu wujud nyata dari takwa adalah amal kebaikan. Yang dijamin langsung oleh Allah dibalas dengan kebaikan lagi, yang lebih besar. Balasan ini langsung terjadi di dunia dan berlanjut di akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan.

“Barang siapa berbuat kebaikan maka untuk dirinya.”

Kebaikan, amal sholeh, bisa berupa kebaikan personal atau sosial. Kebaikan personal, jelas, untuk diri kita sendiri. Bahkan kebaikan sosial juga untuk diri kita sendiri, yang berdampak luas, menjadi kebaikan untuk orang lain.

Di bulan suci, misalnya, kita memperbanyak mengkaji kitab suci. Ini sejenis kebaikan personal. Berdampak baik kepada diri kita sendiri yang membaca AlQuran. Menariknya, membaca AlQuran, meski tidak paham bahasa Arab, tetap merupakan suatu kebaikan. Bahkan lantunan ayat suci ini membawa kebaikan kepada alam sekitarnya. Memperoleh percikan berkah kitab suci. Apalagi bila kita membaca kitab suci sambil mendalami maknanya, dalam bahasa Arab dan terjemahnya, maka itu menjadi kebaikan yang berlipat ganda.

Membayar zakat dan berbagi sedekah adalah kebaikan sosial. Kita perlu meningkatkan kepedulian sosial di bulan suci untuk dilanjutkan di bulan-bulan berikutnya. Berbagi sedekah, tampaknya, membuat harta kita berkurang. Berpindah menjadi milik orang lain, penerima sedekah. Sehingga, kebajikan sosial ini berdampak positif bagi orang lain dan menuntut pengorbanan dari diri kita.

Apa nilai kebaikan dari suatu pengorbanan?

Dari sudut pandang materi, tampaknya, pengorbanan itu merugikan diri kita sendiri. Bila kita kaji lebih jauh, kita akan memperoleh pemahaman lebih mendalam.

2. Memaknai Kebaikan

Kebaikan adalah bergerak menjadi lebih sempurna, menjadi lebih baik. Kita bisa memasangkan kebaikan dengan keadilan agar lebih terasa maknanya.

Keadilan: memberikan sesuai haknya.
Kebaikan: memberikan lebih dari haknya.

Contoh keadilan adalah Anda membeli minuman seharga 5 ribu rupiah, kemudian, Anda membayar sejumlah 5 ribu rupiah. Sesuai ukuran, sesuai kesepakatan, sesuai hak adalah keadilan. Tetapi, jika dengan ikhlas Anda membayar 7 ribu rupiah, lebih besar 2 ribu sebagai sedekah, maka Anda berbuat baik. Kebaikan adalah melanjutkan keadilan.

Lebih utama mana antara kebaikan dan keadilan?

Kebaikan, benar, kebaikan adalah lebih utama dalam kehidupan personal. Menariknya, dalam kehidupan sosial, justru, keadilan harus menjadi utama.

Kita mengenal BOS: bantuan operasional sekolah dan BLT: bantuan langsung tunai. Makna bantuan adalah kebaikan. Karena sekolah perlu dana operasional maka pemerintah berbuat baik dengan cara membantu sekolah. Bentuk bantuan itu adalah BOS: bantuan operasional sekolah.

Pihak sekolah, tenaga pendidik dan siswa, perlu berterima kasih atas bantuan BOS. Wajar, pihak sekolah berterima kasih kepada pihak yang telah berbuat baik.

BOS, dan BLT, adalah kebaikan. Apakah mereka, BOS dan BLT, juga adil? Apakah itu juga merupakan keadilan? Dalam kehidupan sosial, misal pemerintahan, aspek keadilan harus menjadi paling utama.

Apakah sekolah perlu bantuan BOS? Ataukah sekolah hanya butuh keadilan? Anggaran pendidikan yang adil maka, pasti, mencukupi untuk menyelenggarakan pendidikan yang merata berkualitas di seluruh Indonesia. Dengan demikian, sekolah tidak memerlukan bantuan. Sekolah berhak mendapatkan pendanaan. Dan, negara bertanggung jawab menyediakan dana tersebut.

Demikian juga BLT, bantuan langsung tunai, bisa kita analisis dari sisi kebaikan dan keadilan. BLT jelas merupakan kebaikan berupa bantuan. Apakah BLT juga adil? Apakah orang miskin perlu bantuan? Ataukah orang miskin, sejatinya, berhak mendapat pendanaan? Sementara, negara berkewajiban menjamin kehidupan yang layak bagi setiap warga?

Dengan semangat kebersamaan, pemerintah dan rakyat, menegakkan keadilan maka akan tercipta negara yang adil dan makmur. Keberhasilan menjadi negara adil makmur merupakan suatu bentuk kebaikan tertinggi.

Ketika fokus kepada kehidupan personal maka kita lebih mengutamakan kebaikan, dengan tetap menjalankan keadilan. Membantu tetangga yang membutuhkan uang untuk membeli makanan mereka, dengan cara memberi mereka uang misalnya, adalah contoh kebaikan personal Anda. Di saat yang sama, kebaikan personal, berdampak baik kepada tetangga Anda.

Secara personal matematis, ada dua dampak bagi Anda. Pertama, barangkali terjadi “pengurangan” terhadap uang milik Anda. Kedua, barangkali terjadi proses “pengorbanan” terhadap uang milik Anda. Secara hakikat, keduanya, sama-sama baik bagi Anda.

3. Pengorbanan Sedekah

Misalnya, Anda bersedekah uang 20 ribu rupiah kepada tetangga Anda sehingga mereka bisa membeli makanan. Sedekah adalah tindakan kebaikan.

Pertama, sering terjadi, adalah terjadinya “pengurangan” pada uang Anda. Semula ada uang 100 ribu di saku Anda. Kemudian, yang 20 ribu Anda berikan ke tetangga maka uang di saku berkurang, sisa 80 ribu. Dampak “pengurangan” ini membuat Anda hanya bisa membeli sesuatu seharga 80 ribu saja.

“Pengurangan” uang seperti itu hanya terjadi pada dunia fenomena, dunia penampakan, belaka. Sedangkan di dunia sejati, dunia noumena, yang terjadi adalah penambahan bagi diri Anda. Uang Anda, yang mula-mula, 100 ribu itu adalah modal seperti biasa saja, di dunia noumena. Sedangkan, uang 20 ribu yang Anda sedekahkan itu langsung dibalas kebaikan oleh Allah dengan kebaikan yang berlimpah.

“Tiada balasan kebaikan, kecuali kebaikan.”

Bukankah balasan itu menunggu waktu misal pekan depan? Hari ini, saya sedekah 20 ribu lalu, pekan depan, saya mendapat rejeki 500 ribu. Balasan itu berlipat puluhan kali lebih besar. Sehingga, orang-orang menjadi lebih semangat sedekah dengan jaminan balasan seperti itu.

Benar saja, balasan dapat uang 500 ribu adalah balasan yang berlipat. Perlu kita catat, balasan 500 ribu ini terjadi di dunia fenomena, dunia penampakan. Dunia fenomena bisa saja berbelok ke sana ke mari tanpa ada kepastian. Maksudnya, bisa saja balasan itu 500 ribu, bisa 700 ribu, atau bahkan 0 rupiah.

Tetapi, balasan kebaikan sejati, di dunia noumena, benar-benar terjadi ketika Anda berbuat kebaikan. Balasan ini berlipat kebaikan. Bila kita ikhlas maka makin besar berlipatnya kebaikan itu di dunia noumena. Yang menjadikan kebaikan itu berlipat bukan amal kita, bukan ikhlas kita, tetapi Allah yang berkehendak melipatgandakan kebaikan kemudian melimpahkan kepada orang-orang pilihan.

Kedua, terjadi “pengorbanan” terhadap uang Anda. Semula, memang Anda hanya punya uang 20 ribu rupiah untuk membeli buku tulis anak Anda. Karena tetangga membutuhkan maka Anda “mengorbankan” uang 20 ribu itu untuk sedekah ke tetangga. Anda berpikir bahwa masih ada waktu beberapa jam, Anda bisa berdagang atau bekerja sehingga menghasilkan uang 20 ribu guna membeli buku tulis untuk anak Anda.

“Pengorbanan” mempunyai nilai kebaikan lebih tinggi dari “pengurangan.” Pun, butuh perjuangan lebih berat bagi kita untuk “pengorbanan”.

Kebaikan “pengorbanan” Anda langsung mendapat balasan kebaikan yang berlipat di dunia sejati, dunia noumena. Sementara, di dunia fenomena bisa terjadi pembelokan dan bisa juga mendapat balasan berlipat dalam satu dan lain cara.

4. Sedekah Kaya Miskin

Orang miskin bisa berbuat kebaikan dengan banyak momen “pengorbanan”. Sementara, orang kaya bisa berbuat banyak kebaikan dengan hartanya kapan saja, tidak ada habis-habisnya, dengan banyak momen “pengurangan.”

Ketika orang miskin hanya punya uang 20 ribu rupiah lalu dia bersedakah 20 ribu rupiah maka terjadi kebaikan dengan momen “pengorbanan”. Sementara, orang yang lebih kaya misal punya uang 100 ribu, maka perlu sedekah 100 ribu untuk mendapatkan momen “pengorbanan.” Dan, lebih menantang bila ada orang super kaya dengan kekayaan 100 M maka perlu sedekah 100 M agar mendapat kebaikan dengan momen “pengorbanan.”

Baik orang miskin atau pun orang kaya, sama-sama, memiliki kesempatan untuk berbuat kebaikan. “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan…”

5. Godaan Nafsu

Jika setiap kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan berlimpah maka mengapa orang-orang tidak berbuat kebaikan saja?

Ya, seharusnya setiap orang yang berakal memilih berbuat kebaikan. Nyatanya, banyak orang yang tidak berbuat kebaikan. Sebagian di antaranya, ditangkap KPK, dijebloskan ke penjara. Apakah mereka tidak berakal? Tentu saja mereka berakal. Hanya saja, akalnya kalah oleh hawa nafsu mereka.

Ketika nafsu berkuasa maka dosa bergema di dunia fenomena. Kita bisa membedakan menjadi 3 jenis pembelokan nafsu. Pertama nafsu hitam adalah kekuatan manusia untuk menaklukkan dunia. Kita punya kekuatan untuk mencangkul, bertani, memotong pohon, dan lain-lain untuk menjaga kehidupan umat manusia. Kekuatan itu bisa dibelokkan manusia untuk merampok, membunuh, melukai orang, dan lain-lain menjadi nafsu hitam yang kejam.

Kedua, nafsu merah. Kita, umat manusia, mempunyai hasrat untuk menikmati makanan, menikmati hiburan, menikmati petualangan, dan lain-lain untuk menjalani hidup dengan bahagia. Ketika dibelokkan maka makanan berlebihan, hiburan melampaui batas, petualangan merusak lingkungan, dan lain-lain menjadi nafsu merah. Serakah, si nafsu merah, berlumur amarah yang tak ramah.

Ketiga, nafsu kuning. Kita punya akal. Bisa menyusun strategi, mengatasi beragam kesulitan, untuk mencapai tujuan kebaikan bersama. Nafsu kuning bisa membelokkan akal sedemikian hingga bisa untuk “mengakali” orang lain dan diri sendiri. Berdalih membantu rakyat kecil, ternyata hanya untuk meraup suara pemilu. Beramal ke rumah yatim piatu ternyata pencitraan untuk kampanye pilkada. Sadar bahwa diri sendiri sudah berdosa, malah berdalih, sewaktu-waktu bisa tobat. Uang korupsi bisa untuk sedekah sehingga suci.

Perpaduan nafsu hitam, merah, dan kuning mencengkeram umat manusia dalam gelimang dosa. Saatnya, kita untuk kembali bertobat. Tobat dengan sebenar-benarnya tobat. Berhenti dan menyesali kesalahan yang terjadi. Komitmen tidak mengulangi. Menebus dengan amal kebaikan di sana-sini. Mumpung masih ada waktu, mari kembali, meniti jalan ilahi.

6. Kebaikan Abadi

Kebaikan itu yang abadi. Sedangkan, nafsu serakah hanya bersifat sementara. Hancur berkeping-keping di dunia fenomena ketika tiba waktunya. Tetapi, kebaikan ada di sini, di dunia ini dan dunia nanti. Kebaikan yang abadi.

Tinggalkan godaan nafsu. Mari meniti jalan kebaikan abadi. Di dunia ini dan dunia nanti, di sini dan di mana-mana, di dunia virtual dan dunia aktual.

Kejahatan sirna, sejatinya, memang tiada. Hanya kebaikan yang ada untuk kita dan semesta.

Bagaimana menurut Anda?

Jangan Dusta

“… Dan saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS 103 : 3)

Tujuan orang berpuasa adalah agar bertakwa. Sering saya sebutkan, salah satu, makna takwa adalah berprestasi. Dengan cara yang spesial, prestasi takwa, yaitu dengan menjalani perintah Allah dan menjauhi seluruh laranganNya. Sehingga, prestasi orang yang bertakwa, senantiasa terhubung dengan Sang Khalik. Tidak pernah sombong ketika sukses besar karena, bagi orang yang takwa, sukses adalah anugerahNya. Pun tidak pernah berputus asa dalam segala kesulitan karena, bagi orang bertakwa, selalu ada rahmat Tuhan. Dan, orang bertakwa, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

1. Nasehat Vs Nyinyir
2. Nasehat Sederhana Mengena
3. Tetap Keras Kepala

Cara menjalankan puasa adalah urusan pribadi: tidak makan, tidak minum, dan tidak hubungan badan. Menjalani puasa adalah urusan pribadi seorang hamba dengan Tuhan. Bisa saja seseorang berdusta, mengaku puasa. Ketika ia di kamar, ia makan dan minum sampai kenyang. Di hadapan orang banyak ia seperti puasa: tidak makan, tidak minum. Tidak ada yang tahu bahwa ia berdusta, kecuali Tuhan Maha Tahu.

Sementara itu, dampak puasa harus bersifat nyata: menjadi orang yang bertakwa. Sukses mengukir prestasi personal dan sosial.

1. Nasehat Vs Nyinyir

Memberi nasehat, di jaman digital, tidak selalu mudah. Maksud yang baik, bisa saja, dianggap oleh pihak sebelah, sebagai nyinyir. Bisa terjadi juga, manusia di jaman digital, sengaja nyinyir karena orang di pihak lain tidak kenal kepada kita, secara langsung. Maka mereka berpikir bebas-bebas saja ngomong kasar, toh tidak pernah bertemu tatap muka dengan kita.

Sebagai orang yang berpuasa, kita, tentu perlu bersabar dengan semua ini.

Pengalaman saya menjadi youtuber yang sudah memiliki ratusan ribu subscriber, tentu saya, sering mendapat nyinyiran netizen. Bahkan kata-kata kasar. Barangkali sudah puluhan atau ratusan kali. Lagi-lagi kita perlu bersikap sabar dalam saling menasehati.

  1. Orang-orang mudah nyinyir melalui media sosial karena mereka tidak kenal secara langsung dengan saya. Mereka hanya kenal sekilas dari satu video saya di youtube. Konteks mereka menonton video pun bisa beda dengan konteks saya ketika membuat video. Maka, ketika mereka nyinyir ke saya, anggap saja mereka sedang memberi nasehat secara gratis, untuk saya.
  2. Sedangkan, orang-orang tidak nyinyir melalui media sosial ke saya ketika mereka sudah kenal saya secara pribadi, pernah tatap muka, atau pernah diskusi lebih mendalam. Misal, di media facebook, orang hampir tidak pernah nyinyir ke saya. Bila terjadi salah paham, dengan diskusi santai, di media sosial yang sama, biasanya bisa jadi beres semuanya.
  3. Sebagai pengguna media digital, media sosial, kita perlu menjaga diri untuk berkata dengan baik dan sopan.

2. Nasehat Sederhana Mengena

Dalam suatu riwayat, sering dikisahkan, ada seorang Badui menghadap Kanjeng Nabi. Orang Badui ini, sebut saja Fulan, ingin bertobat. Masalahnya, dosa Fulan ini terlalu banyak. Maka Fulan ingin mendapat nasehat langsung dari Kanjeng Nabi secara panjang lebar dan detil sebagai solusi yang tuntas. Dosa Fulan di antaranya: judi, ketagihan minuman keras, kecanduan obat terlarang, main perempuan, mencuri, membunuh, dan lain-lain.

Fulan menghadap Kanjeng Nabi mengaku insyaf dan minta nasehat. Kanjeng Nabi memberi nasehat, “Jangan berdusta.” Itu saja. Singkat.

“Hanya itu? Jangan berdusta saja?” pikir Fulan. Mudah sekali.

Tidak ada keharusan berhenti judi, tidak ada keharusan berhenti mabuk-mabukan. Cukup, jangan berdusta. Fulan kembali kepada kehidupannya. Dia ingin berjudi. Tapi terbesit pesan Nabi: jangan berdusta. Bagaimana jika saya nanti bertemu Nabi? Saya tidak boleh dusta. Malu bila ketahuan berjudi. Begitu juga ketika ia hendak main perempuan, Fulan ingat pesan Nabi, jangan berdusta. Akhirnya, Fulan benar-benar tidak pernah maksiat lagi karena selalu ingat pesan Nabi, jangan berdusta. Nasehat Nabi, yang singkat, begitu tepat sasaran.

3. Tetap Keras Kepala

Masalah sering muncul, ketika, yang diberi nasehat tetap keras kepala. Atau bahkan, mereka membalikkan nasehat itu, justru untuk menyerang sang pemberi nasehat.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu untuknya, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (QS 45 : 15)

  1. Tugas kita hanya memberi nasehat. Maka jadikan saling menasehati sebagai proses kita bertakwa. Jangan merusaknya dengan amarah yang mengikutinya. Kita perlu tetap bersabar dengannya.
  2. Jika orang itu berubah jadi baik maka memang baik. Jika orang itu tidak berubah maka dia bertanggung jawab atas konsekuensinya.
  3. Jika orang yang dinasehati itu tetap berbuat jahat, keras kepala, dan berdampak pidana maka biarkan proses hukum yang akan mengadilinya. Tugas kita, sekali lagi, adalah saling menasehati dengan penuh kesabaran.

Mari manfaakan bulan suci Ramadhan ini untuk meraih gelar manusia yang bertakwa.

Bagaimana menurut Anda?

Beda Takwa

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah berislam’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS 49:14)

Kita berada di jaman digital. Jaman yang pasti banyak perbedaan. Yang bersumber dari perbedaan lingkungan, ditambah lebih banyak lagi perbedaan persepsi, interpretasi, dan hikmah.

Apa Beda Rukun Iman dengan Rukun Islam? Ini Penjelasannya

1. Islam Identitas
2. Iman Mendalam
3. Realisasi Takwa
4. Tawakkal Rahasia Bahagia

Iman dan islam jelas dua kata yang berbeda. Apalagi kata takwa, lebih beda lagi. Jika kita renungkan lebih dalam maka akan kita temukan lebih beragam lagi perbedaan. Namun secara sekilas kadang-kadang kita bermaksud mengungkapkan suatu hal yang sama: orang islam adalah orang yang beriman dan orang yang beriman adalah orang yang bertakwa. Satu lagi, kita perlu mengkaji apa itu tawakkal, yang juga berbeda.

  1. Islam Identitas

Kita paling mudah mengenali identitas islam. Siapa saja yang mengaku islam maka bisa masuk islam. Untuk membuktikannya, bila masih ragu, tinggal baca saja syahadat. Beres. Benar-benar sudah islam.

Petugas KUA hanya boleh menikahkan sepasang kekasih yang sama-sama islam. Maka untuk memastikan itu semua, petugas KUA, biasanya, meminta calon mempelai membaca syahadat. Kemudian akad nikah dilangsungkan maka dijamin sah.

Secara legal, kita bisa membaca KTP seseorang. Bila tertulis beragama islam maka orang itu memang diakui sebagai orang islam. Semudah itu untuk menjadi islam. Memang mudah.

Tapi apakah makna islam memang hanya seperti itu? Barangkali kita bisa membedakan islam sebagai identitas, seperti di atas, dengan islam sejati. Dalam bahasa Arab, islam sejati sering diistilahkan dengan muslim. Namun dalam bahasa Indonesia, muslim juga diterjemahkan sebagai orang islam. Padahal lebih tepat sebagai orang islam sejati. Orang yang berislam secara sungguh-sungguh.

Gus Dur, mantan presiden RI, pernah mengatakan bahwa dirinya ingin jadi muslim, orang islam sejati. Dan berdoa agar dirinya termasuk sebagai orang islam sejati, muslim. Di sisi lain, yang sering terjadi adalah, banyak orang mengklaim bahwa dirinya adalah muslim sejati. Padahal, bisa jadi, mereka baru berislam semata.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS 3: 102)

Menjadi muslim adalah tujuan akhir, paling utama, dari setiap manusia.

2. Iman Mendalam

Iman merupakan keyakinan yang mengakar paling dalam dari diri seseorang. Maka kita tidak bisa melihat iman seseorang dari tampilan luarnya. Urusan iman lebih merupakan urusan sisi terdalam seorang manusia. Iman kepada Allah dan hari akhir adalah yang paling utama.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS 2 : 62)

Siapa saja yang beriman dan beramal sholeh maka Allah menjamin pahala baginya. Bahkan, AlQuran menyebut termasuk mereka yang Yahudi, Nasrani, atau Sabiin tetap mendapat pahala. Dan tidak ada rasa takut atau sedih bagi mereka.

AlQuran menggunakan diksi yang berbeda mengenai orang beriman. Seruan puasa adalah wajib bagi “orang yang beriman”, alladina aamanuu. Dengan tujuan puasa adalah untuk menjadi orang yang bertakwa. Sementara, di tempat lain, AlQuran menggunakan istilah mukmin, orang yang beriman sejati, dengan pujian tingkat tinggi.

“Sungguh beruntunglah orang-orang mukmin.” (QS 23 : 1)

Kemudian AlQuran menjelaskan orang mukmin adalah orang yang sholatnya khusuk, berinfak shodaqoh, memenuhi amanah, dan lainnya. Maka orang mukmin tersebut mendapat karunia surga firdaus.

Derajat mukmin, orang beriman sejati, tampak begitu tinggi. Sementara tingkat orang beriman, pada umumnya, adalah dasar untuk melakukan berbagai kebaikan lanjutan: amal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, berpuasa, bertakwa, dan sebagainya. Semoga kita termasuk orang-orang yang beriman dan mukmin sejati.

3. Realisasi Takwa

Takwa merupakan realisasi dari islam dan iman seseorang. Sehingga kita dapat melihat, merasa, mendengar dampak dari takwa seseorang. Berbagi rejeki adalah bentuk takwa. Menolong fakir miskin atau orang yang membutuhkan adalah bentuk takwa. Berbagi ilmu adalah takwa. Mengkaji kitab suci adalah takwa. Bahkan menyingkirkan duri yang ada di jalan adalah takwa.

Singkatnya, semua kebaikan, yang kasat mata atau dalam hati, terang-terangan atau sembunyi, adalah bentuk realisasi takwa sejauh diniatkan untuk kebaikan dan untuk mendapat ridha Allah.

Untuk bisa bertakwa kita perlu modal, strategi, dan kemampuan eksekusi. Maka saya sering memaknai takwa adalah mengukir prestasi. Sehingga semua pencapaian prestasi adalah bentuk takwa, sejauh diniatkan untuk kebaikan dan untuk mendapat ridha Allah.

Orang yang bertakwa selalu dinamis, optimis, dan kritis. Dia mencari-cari peluang apa saja yang bisa diperbaiki di dunia nyata, digital, atau pikiran. Dia mengeksplorasi peluang itu, menyusun strategi, membangun sinergi, melakukan eksekusi sampai meraih pretasi sukses. Orang yang bertakwa bertanggung jawab atas segala situasi. Dia adalah wakil Allah di bumi ini, khalifah Allah. Dia tidak pernah menyerah, selalu ada jalan keluar bagi mereka yang bertakwa dan mendapat rejeki dari arah yang tak disangka.

Takwa itu tidak pernah berhenti, selalu maju. Selesai dengan satu kegiatan takwa maka disusul dengan kegiatan takwa berikutnya. Tidak ada pengangguran bagi mereka yang bertakwa. Selalu ada peluang untuk berbuat kebaikan. “Maka ketika selesai dengan suatu urusan maka bersegeralah (ke urusan berikutnya). Dan kepada Tuhanmulah kamu beharap.”

Tampak berat sekali, tanggung jawab, menjadi orang bertakwa. Itu merupakan konsekuensi wajar manusia yang bersedia menerima amanah menjadi wakil Tuhan di muka bumi. Akan menjadi lebih berat lagi bila seseorang lupa bahwa dirinya adalah wakil Tuhan. Dia mengira bahwa semua tanggung jawab itu adalah tanggung jawab dirinya. Ketika sukses beresiko jadi sombong. Dan ketika gagal beresiko menjadi frustasi. Untuk menjadi takwa yang benar kita membutuhkan cahaya petunjuk dari Tuhan.

4. Tawakkal Rahasia Bahagia

AlQuran adalah petunjuk yang jelas bagi orang-orang yang bertakwa. Tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya.

”Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia memberi jalan keluar baginya; Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65: 2-3)

Tawakkal adalah proses kembali mewakilkan seluruh urusan kepada Allah, berserah diri kepada Allah semata. Tawakkal adalah kunci hidup bahagia. Allah menjamin mencukupi seluruh keperluan orang yang bertawakkal. Tawakkal adalah pasangan serasi dari takwa. Di mana takwa adalah menerima amanah sebagai wakil Allah di muka bumi dan menjalankan amanah sebaiknya-baiknya, meraih prestasi.

Tawakkal beda dengan takwa dan takwa beda dengan tawakkal. Tetapi keduanya perlu ada pada diri kita.

Kehidupan manusia menjadi rumit ketika menempatkan takwa dan tawakkal secara terbalik. Yang seharusnya bertakwa, meraih prestasi, dia malah bertawakkal, berserah diri. Tentu sulit meraih prestasi. Sementara yang seharusnya bertawakkal, berserah diri kepada Allah, malah dia keras kepala dengan nyinyir atau keluh kesah. Sulit mendapat hidup yang berkah.

Bertakwalah, raih prestasi, terhadap bidang-bidang yang kita punya kendali, punya pengaruh, dan punya kemampuan. Kembangkan terus kekuatan takwa. Sementara bertawakkallah, berserah diri kepada Allah, terhadap bidang-bidang yang kita tidak punya kendali. Biarkan Allah mengurus segalanya. Allah adalah pencipta dan pengelola alam semesta yang terbaik. Hidup jadi bahagia bertabur prestasi. Tawakkal dan takwa.

Bagaimana menurut Anda?

Akhir Takwa

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan(-Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS 9:109)

Dalam, catatan sejarah, di masa Nabi, pernah terjadi perobohan masjid. Tetapi tidak pernah ada perintah perobohan tempat ibadah agama lain. Bahkan perobohan masjid, atau runtuhnya bangunan itu, dinyatakan sampai roboh ke neraka jahanam. Sebuah pilihan diksi yang sangat keras.

Melintasi Jurang | ANTARA Foto

1. Awal dan Akhir
2. Pembangunan Konten Digital
3. Ditonton Banyak Dolar

Membangun masjid adalah suatu amal sholeh, kebaikan, yang dilandasi oleh takwa. Namun membangun masjid yang tujuannya memecah belah umat, justu, mendapat ancaman neraka jahanam. Dasar, atau tujuan, membangun masjid menjadi paling penting. Hal yang sama bisa kita tanyakan kepada diri sendiri, atau orang lain, apa tujuan Anda membuat konten digital? Jika yang bentuknya masjid saja bisa diancam dengan neraka jahanam maka bagaimana dengan konten digital yang merusak moral?

  1. Awal dan Akhir

Takwa mesti menjadi awal dan akhir tindakan kita. Dalam bekerja, dan berkarya, meraih prestasi, kita mengawalinya untuk takwa dan menuju kondisi akhir untuk bertakwa lagi.

Pernah ada cerita, sekelompok orang membangun masjid di perumahan. Tapi membangun masjid seperti itu bisa saja tidak dilandasi oleh takwa, sehingga diancam dengan neraka jahanam. Pak Fulan mengumpulkan dana yang besar untuk membangun masjid. Bahkan Fak Fulan juga merupakan donatur terbesar, menyumbang dalam jumlah ratusan juta. Mengapa kebaikan Pak Fulan ini tidak bernilai kebaikan?

Karena Pak Fulan adalah pengurus masjid lama di perumahan. Lantaran Pak Fulan tidak lagi terpilih menjadi ketua pengurus masjid lama maka Pak Fulan membangun masjid baru. Pembangunan ini bisa menyebabkan ancaman neraka. Seandainya, itu terjadi di jaman Nabi maka kita bisa langsung minta petunjuk kepada Kanjeng Nabi untuk menyikapi hal tersebut. Sekarang kita berada di jaman majemuk sehingga kita harus mengambil keputusan lebih hati-hati. Dan bertanggung jawab atas keputusan yang kita ambil. Tidak cukup sekedar klaim meniru Nabi.

  1. Pendekatan musyawarah kepada Pak Fulan agar ditemukan kata sepakat bersama-sama mengembangkan masjid yang lama, yang sudah ada. Kerukunan seluruh umat terjaga. Maka masjid baru tidak perlu dibangun. (Dana pembangunan bisa disalurkan ke kepentingan masyarakat yang lebih manfaat.)
  2. Jika Pak Fulan bersikeras membangun masjid baru maka perlu mendapat ijin berdasar hukum positif untuk membangun rumah ibadah. Semoga yang berwenang tidak memberikan ijin sehingga tidak mengakibatkan perpepecahan.
  3. Jika Pak Fulan dapat ijin dan berhasil membangun masjid baru maka perlu analisis lanjutan. Barangkali masjid baru itu bisa membawa manfaat positif bagi masyarakat. Bila demikian maka tidak masalah. Tapi bila masjid baru itu sering kosong, tidak bermanfaat, maka perlu musyawarah agar lebih bermanfaat. Misal masjid itu diubah menjadi perpustakaan atau tempat anak-anak belajar agama.

2. Pembangunan Konten Digital

Saya, paman apiq, sering mendapat pertanyaan bagaimana bisa konsisten mengembangkan konten digital lebih dari 13 tahun? Saya mengelola dua canel utama untuk kepentingan edukasi sejak 13 tahun lalu. Canel youtube saya adalah pamanapiq dan edujiwa. Masing-masing canel sudah berisi ribuan video edukasi dan terus bertambah.

Paling utama, saya membuat canel youtube adalah untuk berbagi ilmu, edukasi. Bagi saya, youtube sangat membantu untuk menyebarkan ilmu matematika ke seluruh penjuru. Dengan demikian, canel youtube membantu saya untuk meraih prestasi ikut mencerdaskan generasi. Maka tidak ada kesulitan berarti, bagi saya, untuk mengelola canel edukasi.

Saya sering memaknai salah satu makna utama dari takwa adalah berprestasi. Maka mengelola canel edukasi juga merupakan proses, suatu usaha, untuk bertakwa. Semoga memberi manfaat bagi sesama.

Berbeda halnya, jika tujuan seseorang membuat konten digital adalah untuk mendapatkan dolar. Bila berhasil meraih dolar maka dia semangat. Jika dolar kecil maka dia malas. Akhirnya dia gagal dalam mempertahankan konsistensi. Nyatanya, lebih banyak orang yang gagal meraih dolar di dunia digital dibanding yang sukses.

Saya sendiri sering memotivasi agar para pendidik, utamanya guru, membuat konten digital edukasi. Tujuannya adalah untuk berbagi ilmu. Bukan mengejar dolar. Biarkan konten digital menjadi jalan kita untuk bertakwa. Bila ada dolar anggap sebagai bonus saja.

” Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia memberi jalan keluar baginya; Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65: 2-3)

Fokus kita dalam memproduksi konten digital adalah untuk edukasi. Tentu saja kita perlu mempelajari beragam strategi agar konten edukasi lebih banyak ditonton orang. Memanfaatkan data analytic menjadi senjata utama. Beberapa kali, saya berhasil membuat konten edukasi yang trending di youtube. Saya memanfaatkan data analytic terutama yang menunjukkan video jenis-jenis apa saja yang paling dicari oleh banyak orang.

3. Ditonton Banyak Dolar

Logika sederhana, makin banyak ditonton orang videonya maka makin besar dolar yang dihasilkan. Tidak salah cara berpikir seperti itu. Youtube sendiri menyediakan informasi CPM dan RPM yang maksudnya adalah besarnya dolar yang diterima dalam setiap seribu tayangan. Maka bila ditonton jutaan orang, dolar juga makin besar.

Seorang youtuber menceritakan bahwa dia berjuang keras agar video-videonya ditonton orang banyak. Sehingga ketika Atta membuat video yang berisi pamer harta dengan tujuan agar ditonton banyak orang maka hal seperti itu bisa dipahami. Sementara pakar sosiologi, Ade Armando, mengkritik Atta dan kawan-kawan yang pamer harta melalui konten videonya. Tidak memberi dampak positif bagi masyarakat.

Seorang youtuber, menurut saya, memang punya dua tanggung jawab. Pertama, tanggung jawab internal di mana dia harus berusaha agar video banyak ditonton orang – sehingga juga berdampak ke dolar yang lebih besar. Kedua, tanggung jawab eksternal di mana konten video itu sendiri juga harus bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kedua tanggung jawab di atas, internal dan eksternal, bisa seiring sejalan. Apalagi bila tujuan kita membuat video adalah untuk bertakwa maka ” Dan (Allah) memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” Perlu kita ingat juga bahwa kita perlu mengembangkan sikap tawakkal. “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Semoga kita berhasil meraih prestasi dengan sukses dan bahagia.

Bagaimana menurut Anda?

Perilaku Terbaik

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS 33:21)

Akhlak berdampak nyata dalam kehidupan manusia. Ilmu bagai pohon dan akhlak adalah buahnya. Orang beriman adalah yang paling banyak memberi manfaat.

pengertian akhlak,Fungsi, Ruang Lingkup Ahklak dan Pembahasan

1. Teladan Akhlak
2. Akhlak Sosial
2.1 Ibadah Wajib
2.2 Ibadah Sunah
2.3 Keputusan Pribadi
3. Akhlak Digital
4. Perbedaan Digital
4.1 Perbedaan Ibadah
4.2 Perbedaan Strategi
4.3 Perbedaan yang Menganulir
4.4 Perbedan Kriminal

Orang yang berpuasa, terus-menerus, menempa diri untuk berakhlak mulia. Kata-katanya hanya yang baik-baik saja. Ketika amarah memancing, orang puasa mampu mengelolanya. Memaafkan orang yang salah, menolong yang lemah, menasehati yang serakah. Tidak hanya kata-kata, orang beriman memberi contoh nyata. Bulan Ramadhan, mari jadikan bulan suci sebagai bulan akhlak mulia.

1. Teladan Akhlak

Bahkan Nabi menegaskan diutus sengaja untuk menyempurnakan akhlak mulia. Sejatinya, umat manusia sudah punya akhlak yang baik. Tetapi akhlak yang baik ini bisa saja lambat laun tersingkir, tertutup oleh hawa nafsu. Maka Nabi hadir menerangi, untuk menyempurnakan akhlak mulia ini, menuju kebahagiaan hakiki dunia dan akhirat.

Akhlak Nabi yang mulia nan agung ini terekam sepenuhnya dalam AlQuran. Kita bisa mengkaji mendalam ayat-ayat suci AlQuran untuk mereguk hikmahnya yang tak bertepi. “Dia memberi hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Barang siapa mendapat hikmah maka sungguh itu adalah kebaikan yang agung. Dan tidak akan mampu memahami kecuali orang-orang yang cerdas.”

Mengambil hikmah dari AlQuran adalah pelajaran paling besar. Mengambil hikmah dari pengalaman Nabi adalah pelajaran yang mulia. Mengambil hikmah dari seluruh sisi kehidupan adalah pelajaran nyata.

Perlu kita catat, mengambil hikmah adalah tugas kita dalam proses bertakwa kepada Allah. Kita perlu memanfaatkan segala sumber daya: pikiran, rasa, intuisi, fisik, dan semua yang ada. Hikmah bukan sekedar klaim mengaku yang paling benar. Hikmah bukan sekedar klaim sesuai ayat AlQuran. Hikmah bukan sekedar klaim sesuai hadis Nabi. Hikmah adalah proses menerima dari Sang Pemberi.

Hikmah adalah milik orang beriman. Maka ambillah hikmah di mana pun berada.

2. Akhlak Sosial

Berawal dari akhlak personal yang mulia berdampak ke akhlak sosial yang nyata. Akhlak personal saling terkait dengan akhlak sosial. Kita memahami bagaimana cara menahan diri, menahan amarah, menahan nafsu, dan sebagainya dari guru kita, dari kehidupan sosial kita. Pada gilirannya, kita perlu menerapkan segala akhlak mulia ke bidang sosial secara luas.

Paling nyata adalah berbagi zakat dan sedekah.

Bolehkah pamer dalam bersedekah? Agar banyak orang lain terinsipirasi untuk ikut sedekah?

Kita sering membaca berita bahwa ada orang kaya yang membagi seribu bingkisan sedekah. Orang-orang, fakir-miskin, mengantri berkumpul di rumah orang kaya itu untuk mendapatkan bingkisan. Beberapa jam kemudian bingkisan mulai dibagikan. Meriah sekali.

Boleh kah pamer sedekah seperti itu? AlQuran sudah membahas pamer sedekah ini dengan lembut.

“Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS 2:271)

Seharusnya kita memamerkan ketakwaan dengan tujuan untuk memberi inspirasi agar lebih banyak orang ikut berbuat takwa. Perlu kita ingat bahwa hanya jenis takwa tertentu yang bisa dipertontonkan. Sementara sebagian besar takwa yang lain justru harus dirahasiakan. Perlu kehati-hatian untuk memilihnya.

Apa saja bentuk ketakwaan yang boleh dipamerkan? Saya merumuskan tiga kriteria berikut untuk jadi pertimbangan. Dan agar niat akhlak mulia, tetap, berbuah akhlak mulia juga.

2.1 Ibadah wajib. Kita boleh memamerkan ibadah wajib misal sholat Jumat. Atau membayar zakat fitrah. Justru karena wajib maka menunjukkan pelaksanaan kewajiban tersebut dapat menjadi reminder bagi orang lain.

2.2 Ibadah sunah sebaiknya disembunyikan. Anda rajin sholat malam? Akan lebih baik bila tidak dipamerkan. Rajin puasa Dawud? Bagus juga bila dirahasiakan. Apalagi ibadah sunah personal.

2.3 Keputusan pribadi. Pertimbangkan banyak hal termasuk keselamatan bersama. Pernah kejadian rumah orang kaya yang dikerumuni ratusan, bahkan ribuan orang, roboh pagarnya. Bahkan ketika orang-orang naik ke lantai atas, rumah itu roboh, memakan banyak korban.

Alternatifnya, dari pada mengumpulkan banyak orang maka kita bisa memilih mengantarkan bingkisan itu langsung ke rumah-rumah fakir-miskin yang berhak menerimanya. Tetapi, karena ini semua adalah keputusan pribadi kita, maka kita perlu berpikir terbuka untuk menerima beragam sudut pandang terbaik.

3. Akhlak digital

Pamer kebaikan di media digital menjadi lebih mudah lagi. Kita tinggal share saja maka konten digital kita langsung bisa diakses di seluruh dunia. Lebih parah lagi, kita tidak bisa mengendalikan penonton digital, subscriber atau follower kita. Akibatnya, apa pun yang kita share di media sosial bisa direspon bebas oleh masing-masing orang. Bahkan bebas di buat framing baru.

Konsekuensinya, kita perlu lebih hati-hati untuk share di media digital. Benar-benar bersihkan hati hanya berniat untuk kebaikan bersama. Dan pertimbangkan beragam kriteria di atas.

4. Perbedaan Digital

Tak bisa dihindari, terjadi banyak perbedaan. Apalagi di era digital maka perbedaan makin beragam, makin tajam. Kita perlu mengembangkan akhlak baru di jaman digital yang bisa kita sebut sebagai akhlak digital.

Masing-masing orang bisa memahami hikmah sesuatu, sesuai kemampuannya. Hikmah ini pun dipengaruhi oleh pengalaman dan interpretasi.

4.1 Perbedaan dalam aturan ibadah ritual maka sebaiknya saling menghormati. Misal ada yang sholat tarawih 11 rakaat dan lainnya 23 rakaat. Masing-masing memiliki dalil dan interpretasi.

4.2 Perbedaan strategi dalam kebaikan dan takwa bisa saling melengkapi. Ada pihak tertentu yang menyalurkan bantuan berupa makanan dan lainnya fasilitas kesehatan. Di antara pihak-pihak bisa mandiri atau sinergi.

4.3 Perbedaan yang menganulir. Kadang-kadang suatu pandangan menganulir pihak lain. Misal, ada yang meyakini bahwa bunga bank adalah riba. Maka haram. Sementara ada pihak yang menyatakan bunga bank bukan riba, maka halal. Pihak yang menyatakan riba bersifat menganulir pihak lain. Dalam kasus ini, semua pihak perlu saling respek. Terutama pihak yang menganulir perlu membatasi diri untuk tidak memaksa pihak lain – sejauh tidak kriminal.

4.4 Perbedaan kriminal. Tetap menjaga rasa hormat, perlu dilakukan mediasi bahkan pengadilan. Semua pihak perlu menghormati proses pengadilan.

Dan barangkali masih banyak perbedaan-perbedaan lain. Bahkan perbedaan ini pun terus bertumbuh kembang. Maka kita benar-benar perlu terus konsisten mengembangkan perilaku terbaik, akhlak terpuji.

Bagaimana menurut Anda?

Tolong Menolong Takwa

“Dan tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kepada Allah. Dan sesungguhnya Allah amat berat siksaNya.” (QS 5:2)

Tujuan berpuasa adalah mencapai derajat manusia bertakwa, manusia berprestasi. Dengan cara puasa, mengendalikan diri dari hal-hal yang halal, lebih-lebih dari hal-hal yang haram. Jauhi hal-hal haram dan segala yang dilarang oleh Allah. Ingatlah ancaman siksa yang amat pedih di akhirat, bahkan berdampak di dunia juga.

1. Prestasi Sosial
2. Takwa Digital
3. Organisasi Takwa
4. Pamer Takwa

1. Prestasi Sosial

Pada awalnya, puasanya adalah mengendalikan diri sendiri. Realitas, kita hidup secara sosial bersama yang lain. Maka puasa juga, harus, berdampak kepada kehidupan sosial. Orang bertakwa, orang berpuasa, besifat selektif dalam segala tindakannya. Di antara banyak pilihan kegiatan positif, kita hanya memilih beberapa saja di antara yang positif itu.

Menyantuni fakir-miskin adalah pilihan yang jelas untuk menjadi prioritas. Ketika kita lapar haus karena puasa, mudah bagi kita merasakan beratnya fakir-miskin menanggung lapar haus sepanjang waktu. Kita bisa berharap bahwa ketika maghrib tiba, lapar haus kita hilang dengan berbuka puasa. Tetapi kaum fakir-miskin tidak punya harapan pasti kapan ada makanan dan minuman untuk mereka. Datangilah fakir-miskin ulurkan kebaikan untuk mereka.

Takwa adalah berbuat baik untuk sesama, sesusai perintah Tuhan. Takwa adalah tanggung jawab kita sebagai khalifah, wakil Tuhan, di bumi ini. Itulah tujuan penciptaan manusia: menjadi wakil Tuhan. Fakir-miskin berdoa kepada Allah dengan lapar haus yang jujur. Kapan Allah mengabulkan doa mereka? Bukankah kita wakil Tuhan di bumi? Kabulkan doa mereka. Bantu mereka. Semoga kita berhasil menjadi wakilNya dalam mengabulkan sebagian doa fakir-miskin.

Akhir puasa Ramadhan ditandai dengan kewajiban membayar zakat fitrah. Sebuah kewajiban yang nyaris berlaku bagi semua umat manusia. Jika Anda punya kelebihan harta senilai 30 ribu rupiah maka wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk fakir-miskin atau yang berhak. Bahkan ketika Anda punya bayi yang baru berumur satu hari pun maka Anda wajib membayarkan zakat fitrahnya, demi kebaikan sosial masyarakat.

Zakat berfungsi ganda: membantu secara sosial dan mensucikan diri kita secara personal.

2. Takwa Digital

Di era digital kita benar-benar membutuhkan takwa digital. Pertama, kita perlu puasa digital. Membatasi konsumsi digital terhadap konten-konten yang halal. Meski halal, konten tersebut tidak berguna bagi Anda. Bahkan tidak berguna bagi masyarakat. Rugi waktu karena konsumsi konten digital sia-sia. Rugi kuota juga dan energi. Apalagi konten digital haram, jauhi sejauh-jauhnya.

Kedua, jangan tolong-menolong menyebarkan dosa digital. Konten hoax, fitnah, dan sia-sia, jangan ikut menyebarkannya. Jangan ikut share. Sama sekali jangan pernah share konten orang lain. Kecuali konten yang Anda yakin itu benar-benar penuh manfaat. Tidak banyak konten semacam ini.

Ketiga, ayo ikut menciptakan konten digital yang bermanfaat: edukatif dan mencerahkan. Hanya dengan handphone, Anda bisa membuat konten positif. Baik berupa tulisan, gambar, atau video. Kita tidak bisa hanya melarang orang mengakses konten negatif. Kita perlu menyediakan alternatif: konten digital positif.

Mari kita tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa.

3. Organisasi Takwa

Kegiatan takwa perlu terorganisir rapi – meski sebagian perlu tetap personal. Dengan organisasi, kita bisa mengerjakan hal-hal yang tidak mungkin bila dikerjakan seorang secara personal. Hasil kerja organisasi lebih besar dari hasil kerja masing-masing individu bila dijumlahkan. Organisasi adalah sebuah sinergi.

1 + 1 = 3 adalah sinergi. Bila 1 + 1 = 2, biasa saja, tidak perlu organisasi.

Kisah lama barangkali bisa jadi inspirasi.

Waktu itu Udin bermimpi diajak oleh malaikat jalan-jalan melihat-lihat surga dan neraka.

“Apakah kamu ingin melihat surga dulu atau neraka dulu?”
“Memang ada apa?” tanya Udin.
“Di surga sedang ada nikmat paling lezat. Sedangkan di neraka sedang ada siksa yang paling pedih.”

Udin berpikir sejenak, “Aku pilih melihat neraka dulu aja.”

Udin dibawa untuk melihat neraka. Siksa paling pedih di neraka adalah penduduk neraka disuruh istirahat berkumpul. Lalu disediakan makanan yang lezat dengan syarat makannya harus pakai sendok yang panjangnya dua meter. Hanya bisa dipegang ujungnya saja. Bila dipegang tengahnya maka akan terbakar. Setiap penghuni neraka akan mengambil makanan itu, lalu mengarahkan ke mulut, selalu jatuh makanannya karena sendok yang terlalu panjang. Penduduk neraka makin merasa tersiksa.

Berikutnya Udin dibawa untuk melihat surga yang sedang menikmati kenikmatan paling lezat.

Penduduk surga dikumpulkan. Lalu dihidangkan makanan yang lezat. Syarat untuk makan harus menggunakan sendok yang panjangnya dua meter. Hanya bisa dipegang ujung-ujungnya saja. Sama dengan penduduk neraka. Bila dipegang tengahnya juga terbakar.

Penduduk surga itu mengambil makanan dengan sendok panjang, lalu menyuapkan makanan ke temannya. Begitu juga temannya, mengambil makanan pakai sendok panjang lalu menyuapkan ke teman lainnya lagi. Apa yang jadi siksa pedih bagi penduduk neraka berubah menjadi nikmat paling lezat bagi penduduk surga. Kerja sama sinergi menjadikan segalanya penuh arti.

4. Pamer Takwa

Akhir-akhir ini kita disuguhi tontonan digital di mana para artis pamer kekayaan dan kemewahan. Sosiolog khawatir bahwa pamer kekayaan ini bisa menimbulkan iri dengki, kemarahan, dan kekecewaan di kalangan masyarakat luas. Di mana, saat ini, penduduk kesulitan mencari kerja sementara para selebritis pamer mudahnya hidup bergelimang harta.

Barangkali sosiolog itu benar. Dia memberi peringatan resiko yang bisa terjadi atas pameran kemewahan itu, sistem sosial yang tidak adil.

Seharusnya kita memamerkan ketakwaan dengan tujuan untuk memberi inspirasi agar lebih banyak orang ikut berbuat takwa. Perlu kita ingat bahwa hanya jenis takwa tertentu yang bisa dipertontonkan. Sementara sebagian besar takwa yang lain justru harus dirahasiakan. Perlu kehati-hatian untuk memilihnya.

“Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS 2:271)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu” (QS 49: 13).

Mari berlomba-lomba dan bekerja sama dalam takwa.

Bagaimana menurut Anda?

Tobat Positif

“Tiada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang dzalim.” (QS 21:87)

Manusia pasti pernah berdosa. Anda punya dosa. Saya juga punya dosa. Siapa pun orangnya, apalagi di jaman digital, pasti punya dosa. Bisa saja dosa itu disengaja. Bisa juga tanpa sengaja. Maka taubat adalah jalan terbaik. Taubat, tobat, adalah proses kembali kepada yang benar, kembali menuju Allah.

Renungan Tobat Ramadhan

1. Menghindari Halal
2. Tobat Digital
3. Drama Kosmis
4. Tobat Positif
5. Diskusi

Bulan Ramadhan adalah bulan suci, penuh ampunan. Saat yang tepat bagi kita untuk bertobat. Dan, setiap bulan adalah bulan suci, yang mengajak kita, untuk bertaubat.

1. Menghindari Halal

Puasa adalah menahan diri, dari hal-hal yang halal. Apalagi hal-hal haram, jauh-jauh buang saja mulai Ramadhan ini. Makan, minum, dan hubungan badan adalah perkara halal. Tetapi dilarang dilakukan selama puasa Ramadhan, dan puasa pada umumnya. Apalagi korupsi!? Haram dilakukan kapan pun. Maka benar-benar terlarang di bulan suci dan semoga terus bisa dijauhi selamanya.

Makan siang, di hari-hari biasa, adalah halal. Kita perlu membatasinya. Selama bulan puasa kita hanya makan sekedarnya di waktu berbuka, senja. Dan kemudian makan sekedarnya lagi di waktu sahur, jelang subuh. Perbedaan kuantitas makan jauh timpang, di antara hari-hari biasa, yang tiga kali dengan masing-masing porsi penuh. Sedangkan, ketika puasa, menjadi hanya dua kali dengan porsi sekedarnya saja.

Ibadah puasa ini, tampak sudah, mengantisipasi bahwa umat manusia pada suatu saat akan mengkonsumsi makanan – dan lain-lainnya – secara berlebihan. Saat ini, kita menghadapi lebih besar resiko penyakit gula, diabetes, dibanding masa beberapa abad lalu. Salah satu penyebabnya adalah pola makan yang lebih besar porsinya. Dengan berpuasa, kita diajak untuk kembali ke pola konsumsi yang seimbang.

Pola hidup seimbang, dan sederhana, menjaga hidup kita lebih sehat, jasmani dan ruhani. Di saat yang sama, kita menyiapkan sumber energi untuk generasi masa depan. Tidak semua energi habis dikonsumsi di masa kini. Yang lebih parah justru terjadinya perusakan lingkungan yang membahayakan generasi masa depan. Puasa mengajak kita membatasi diri demi diri sendiri, orang lain, dan generasi nanti.

Konsumsi digital sudah menjadi kepastian jaman ini. Apakah orang-orang melahap konsumsi digital dengan seimbang? Tampaknya sulit sekali mengatakan bahwa saat ini kita berada dalam ekosistem digital yang positif.

2. Tobat Digital

Puasa di era digital ini, selayaknya, juga perlu dimaknai sebagai puasa digital. Membatasi konsumsi digital yang tidak berguna. Menghindari share informasi yang hoax, fitnah, atau hasutan semata. Mulai memproduksi informasi-informasi yang bermanfaat penuh makna, hanya informasi yang bermanfaat saja.

Bisa kita ringkas, dosa digital yang sering terjadi dan perlu kita tobat di antaranya adalah:

1. Membaca atau melihat konten digital yang tidak layak.

2. Share atau ikut menyebarkan, bahkan membuat, konten negatif misal hoax atau fitnah.

3. Tidak memproduksi konten positif.

Bentuk tobat kita di antaranya:

1. Menghindari konten yang tidak layak.

2. Tidak share atau tidak berbagi konten sembarangan.

3. Membuat, atau memproduksi, konten positif.

Media digital bisa lebih berbahaya dari teknologi-teknologi lain karena kekuatan “enframing” yang dahsyat. Jika teknologi lain, umumnya, kita yang mengendalikan teknologi tersebut. Tetapi media digital, manusia yang dikendalikan oleh teknologi digital. Lebih parah lagi, teknologi digital mengendalikan manusia tidak hanya atas kekuatan teknologi itu sendiri. Tetapi di ujung sana, ada manusia lain yang mengendalikan teknologi digital untuk kemudian mengendalikan rakyat jelata. Manusia di ujung sana pun, pada akhirnya, juga dikendalikan oleh teknologi digital. Kekuatan “enframing” dari media digital memang mengerikan.

Dengan berpuasa, kita bisa tobat digital. Kembali menggunakan media digital dengan seimbang demi kebaikan bersama.

3. Drama Kosmis

Masalah dosa dan tobat, bisa kita baca, sudah terjadi sejak awal penciptaan manusia. Kitab suci menceritakan bahwa iblis berbuat dosa. Lalu Allah menegur. Bukannya iblis bertobat, justru membela diri dengan sombong, “Engkau ciptakan dia dari tanah, sedangkan aku dari api.” Iblis berbuat salah dilanjutkan dengan kesalahan berikutnya.

Sementara Nabi Adam dan Siti Hawa, kakek dan nenek moyang manusia, juga melakukan kesalahan. Namun segera bertobat. Bahkan sebelum ada teguran sama sekali. Kanjeng Nabi dan Bunda Hawa bertobat, “Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami. Dan seandainya Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, sungguh kami termasuk orang-orang yang merugi.” Tuhan menerima tobat Nabi Adam dan Siti Hawa. Kemudian mengutus beliau berdua untuk menjadi pemimpin di bumi ini.

Drama kosmis yang diabadikan dalam kitab suci ini bisa kita baca dengan beragam prespektif. Iblis salah karena menilai seseorang dari asal muasalnya. Dia merasa sombong, lebih tinggi, lantaran tercipta dari api. Tentu saja itu pandangan yang salah. Karena, dalam kondisi saat itu, sedang membahas keilmuan, sains, dengan menyebutkan “semua nama.”

Di sisi lain, Nabi Adam, manusia, mendapat banyak karunia bebas menikmati apa pun kecuali satu hal: dilarang mendekati pohon buah khuldi. Nyatanya, manusia tergelincir. Melanggar larangan yang hanya satu-satunya. Tetapi kita, saat ini, menghadapi banyak larangan: dilarang mencuri, dilarang korupsi, dilarang membunuh, dilarang berkerumun, dilarang hoax digital, dilarang menyebarkan kebencian, dan lain-lain. Sanggupkan manusia untuk tidak tergelincir?

Tobat adalah suatu keniscayaan, keharusan, kepastian.

4. Tobat Positif

Semua orang harus bertobat. Tobat adalah tindakan yang baik. Tobat adalah tindakan positif. Tobat sama sekali tidak bermakna negatif. Justru tidak mau bertobat adalah perilaku yang negatif.

Memang, tobat sering diasosiasikan dengan dosa. Sementara, dosa itu bermacam-macam: dosa yang disengaja dan tak disengaja. Dosa yang disengaja jelas harus bertobat. Apalagi pelaku sadar, dengan sengaja, berbuat dosa. Sedangkan dosa yang tak disengaja juga harus tobat. Hanya saja, karena tak sengaja, barangkali, pelaku tidak sadar bahwa ia sudah berbuat dosa.

Saya mencoba merumuskan dosa jenis ketiga: dosa potensial. Secara aktual tidak berdosa, tidak melanggar apa pun. Tetapi secara potensial dapat merugikan, pasti merugikan pihak lain. Maka dosa ini juga perlu tobat.

Misal Andi ikut lomba catur menang dan mendapat hadiah 200 juta rupiah. Bagi Andi, ini adalah suatu prestasi – dan memang prestasi. Tetapi Andi sudah melakukan dosa potensial. Meski Andi tidak melakukan kesalahan, tidak curang, dan tidak licik.

Lawan Andi di final adalah Budi. Karena Budi kalah maka Budi tidak mendapat hadiah 200 juta. Padahal Budi membutuhkan uang 200 juta itu untuk menebus rumah orang tuanya yang terbelit hutang. Akibat tidak tersedia uang hadiah 200 juta itu, orang tua Budi terusir dari rumahnya dan hidup terlunta-lunta tanpa kepastian tempat tinggal. Andi tidak melakukan dosa secara aktual, baik sengaja atau tidak. Tapi Andi sudah berdosa secara potensial. Seandainya Andi kalah, Budi menang, maka bisa menyelamatkan rumah orang tua Budi.

Dengan sudut pandang itu, maka setiap manusia pasti punya dosa. Tapi dosa potensial itu tidak bersifat negatif. Justru bersifat positif ketika seseorang meraih prestasi tertentu. Seorang pemuda yang memenangkan pilkada walikota maka ia berprestasi terpilih sebagai walikota. Di saat yang sama, ia menanggung beban dosa potensial lantaran sudah menyingkirkan calon walikota lainnya, yang mungkin sangat membutuhkan kursi walikota. Demikian juga seorang bapak yang terpilih sebagai presiden adalah suatu prestasi. Di saat yang sama, tentu banyak dosa potensial yang menyertai proses pemilihan presiden. Sekali lagi, prestasi itu sendiri adalah positif. Maka tobat atasnya, kembali kepada Tuhan karenanya, adalah positif.

Sehingga kita perlu sampai kepada tahap tobat positif. Tobat setiap saat.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Banyak hal yang bisa kita diskusikan. Apakah manusia sebaiknya fokus kepada hal positif? Misal prestasi, kemajuan, pembangunan, dan lain-lain. Atau, manusia perlu lebih fokus kepada hal negatif? Misal dosa, kejahatan, dan kebodohan. Dengan fokus kepada dosa, manusia jadi waspada menjaga diri dari dosa dan bertobat atas dosa.

Solusi awal adalah perlu fokus kepada hal yang positif bagi orang-orang yang lemah. Orang miskin perlu berusaha menjadi kaya; anak muda perlu belajar agar banyak ilmu; orang lemah perlu strategi agar penuh daya. Sementara, bagi mereka yang sudah kuat perlu fokus kepada hal negatif. Pejabat perlu banyak tobat; pengusaha perlu membersihkan diri; para bos perlu instropeksi.

Apa batasan sebagai orang kuat dan orang lemah? Bagaimana menurut Anda?