Takwa Berpasangan

“Dan dari segala sesuatu, Kami ciptakan berpasang-pasangan, agar kamu semua merenung.” (QS 51 : 49)

Udin, laki-laki biasa yang bertubuh pendek dan kulit gelap, duduk santai di teras rumah sore itu bersama istrinya, yang cantik sekali, kembang desa. Sambil menikmati suasana Bandung yang begitu indah, Udin memandangi istrinya berulang kali.

“Kenapa sih Mas, memandangi Neng seperti itu?” tanya sang istri.
“Mas ini sangat bahagia, punya istri Neng,” jawab Udin.
“Memang kenapa?”
“Neng dari hari ke hari kok makin cantik aja.”
“Kita berdua, nanti, juga masuk surga kok Mas.”
“Kok Neng yakin?”
“Ya, Mas masuk surga karena bersyukur dapat istri saya. Dan saya masuk surga karena bersabar dapat suami Mas.”

Pasangan Jiwa (Soulmate)

1. Sabar dan Syukur
2. Zuhud dan Fakir
3. Takwa dan Tawakkal
4. Fisikal dan Digital

Dialog antara suami dan istri menjadi penting. Dialog sesama anggota masyarakat juga penting. Apalagi, dialog antara penguasa dan rakyat adalah sangat penting. Dengan dialog, berpasang-pasangan, kita menuju hidup sakina.

1. Sabar dan Syukur

Alam semesta ini diciptakan Tuhan dalam bentuk berpasang-pasang. Ada laki dan perempuan. Ada siang dan malam. Ada besar dan kecil. Ada bahagia dan derita. Ada kaya dan miskin. Agar kita merenungi itu semua. Berpikir, berdzikir.

Imam Al Ghazali adalah tokoh besar yang berhasil merumuskan pasangan-pasangan karakter manusia dengan baik untuk mencapai kesempurnaan. Di era kontemporer ini, abad 20 dan abad 21, Derrida adalah tokoh paling semangat untuk menyadarkan kita bahwa realitas memang berpasang-pasangan. Derrida mengembangkan konsep dekonstruksi yang senantiasa menuntut kita untuk menghormati “yang lain.”

Berbicara tentang karakter manusia, sabar adalah karakter paling penting. Sabar adalah tetap konsisten, kuat, teguh dalam menjalani proses sampai mencapai tujuan. Tugas yang berat, dengan hasil yang hebat.

Meski kita tahu sabar adalah kunci sukses, itu semua hanya mudah diucapkan, sulit dijalankan. Karena kita hanya bertumpu kepada satu kaki: sabar saja. Kita perlu menemukan pasangan dari sabar yaitu syukur. Jika kita umpamakan sabar adalah kaki kanan maka syukur adalah kaki kirinya. Betapa indahnya kita bisa bertumpu dengan dua kaki. Berjalan lebih mudah dengan dua kaki. Bahkan kita bisa berlari dengan dua kaki.

Sabar terasa berat karena kita membayangkan cobaan demi cobaan yang selalu datang. Sekarang, di saat yang sama, bersyukurlah, betapa banyak karunia Allah yang sudah kita terima. Betapa indahnya kehidupan ini. Betapa besar pahala orang yang bersyukur dan bersabar.

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bersabar.”
“Sungguh bila kamu bersyukur, maka Kami tambahkan nikmat kepadamu.”

2. Zuhud dan Fakir

Zuhud sering dimaknai sebagai hidup sederhana, tidak tertarik kepada kenikmatan dunia. Tentu sulit sekali menjalani hidup di jaman ini bila harus bersikap zuhud. Konsumerisme terus dipromosikan. Kehidupan mewah penuh daya pesona. Hasrat untuk komsumsi tak pernah bisa berhenti. Makin banyak konsumsi, makin ketagihan untuk konsumsi lagi. Bahkan ada yang nekat sampai korupsi. Ya, Allah, lindungi kami.

Lagi-lagi, bersikap zuhud memang berat, bila kita hanya bertumpu kepada satu kaki. Kita perlu menemukan pasangannya yang tepat yaitu fakir, sebagai kaki kedua. Namun kita perlu, lebih dulu, mendefinisikan atau memaknai apa itu zuhud dan fakir.

Zuhud adalah sikap seseorang yang tidak terpikat oleh dunia. Dengan pengetian ini, sejatinya, zuhud tidak berhubungan dengan kaya-miskin. Orang yang kaya bisa zuhud asalkan dia tidak terpikat, tidak terikat, oleh kekayaannya itu. Sulit. Orang miskin bisa juga tidak zuhud bila dia terus-menerus mengejar harta, terpikat oleh harta. Sebaliknya, kaya atau miskin, sama-sama bisa zuhud asalkan mereka tidak terikat oleh harta sama sekali.

Fakir adalah sikap seseorang yang sangat membutuhkan. Umumnya, orang fakir adalah orang yang membutuhkan makanan, tempat tinggal layak, sarana kesehatan, dan bantuan pendidikan. Orang kaya raya yang merasa masih membutuhkan tambahan harta maka, sejatinya, dia adalah fakir. Sementara, orang miskin yang merasa cukup, tidak membutuhkan tambahan harta, dia malah tidak fakir terhadap harta.

Untuk menjalani hidup yang unggul kita perlu mengarahkan zuhud dan fakir dengan tepat. Zuhud kepada dunia. Kita sama sekali tidak terikat oleh dunia. Fakir kepada Allah semata. Kita hanya membutuhkan Allah saja. Jangan dibalik arahnya. Zuhud kepada Allah, tidak terikat kepada Allah, tentu salah. Fakir kepada dunia, merasa membutuhkan kepada dunia, tentu salah juga.

Mari kita mantapkan zuhud kepada dunia, tidak terikat kepada dunia. Dunia adalah sekedar fasilitas bagi kita untuk beramal sholeh. Dunia adalah fasilitas bagi kita untuk saling tolong-menolong. Jangan penuhi hati dengan dunia. Cukup tempatkan dunia seisinya di salah satu sudut hati saja. Gunakan dia ketika kita hendak membantu sesama.

Fakir kepada Allah, membutuhkan 100% Allah semata. Kita membutuhkan pertolongan Allah. Kita membutuhkan rahmat dan berkah dari Allah.

Zuhud adalah cahaya jiwa yang terus-menerus menyinari dunia; tidak terhalang oleh godaan harta; tidak terhalang oleh godaan jabatan; senantiasa berbagi kebaikan dengan menyinari semesta.

Fakir adalah cahaya jiwa yang terus-menerus membutuhkan sinaran Sang Maha Cahaya; tidak mengandalkan harta; tidak mengandalkan jabatan; senantiasa mengandalkan dan membutuhkan Sang Maha Cahaya semata.

3. Takwa dan Tawakkal

Takwa adalah proses kita, sebagai wakil Tuhan, mengelola alam semesta ini agar menjadi lebih baik. Tentu dengan menjaga dari beragam kerusakan dan menjalankan perintah Allah. Tugas yang sangat berat kan? Tentu, takwa adalah tugas kemanusiaan yang perlu kita jalankan dengan profesionalisme.

Tawakkal adalah sikap kita mempercayakan sepenuhnya kepada Allah, berserah diri. Allah Maha Kuasa. Allah Maha Berilmu. Allah Maha Bijaksana. Allah pasti memutuskan, mengatur, dan memberikan yang terbaik kepada seluruh alam semesta.

Pasangan yang sangat tepat: takwa dan tawakkal. Kepada alam semesta, kita memandangnya sebagai media untuk bertakwa. Kepada Allah, kita sepenuhnya berserah diri.

4. Fisikal dan Digital

Kita masuk ke era digital. Banyak orang terjebak dalam dunia digital. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam tiap hari menatap layar digital. Hidupnya terkungkung dalam matriks teknologi digital yang serba online. Di sisi lain, dunia digital sangat berguna untuk memajukan kemanusiaan. Kita bisa berdagang, bisnis, dan belajar di dunia digital. Kita butuh pengimbang dunia digital, yaitu dunia fisikal yang nyata ada di depan kita.

Kita perlu menjaga keseimbangan yang sehat dengan memanfaatkan dunia digital dan dunia fisikal dengan bijak.

Bagaimana menurut Anda?

Orang-Orang Unggul

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Orang-orang yang khusuk dalam sholatnya. Dan orang-orang yang menjauhi hal-hal tak berguna.” (QS 23 : 1-3)

Orang-orang unggul mendorong peradaban terus maju menjadi unggul. Orang-orang unggul adalah agen perubahan paling menentukan pergerakan sosial. Orang-orang unggul bisa di mana saja, muncul. Tak ada halangan alam, modal, atau kesempatan yang bisa menghentikan seseorang menjadi manusia unggul.

1. Tidak Lemah
2. Profesional
3. Fokus
4. Dunia Digital

Orang-orang yang beriman sejati, mukmin, adalah orang-orang yang unggul. Mereka adalah orang paling sukses. Mereka, di antaranya, memiliki karakter khusuk dalam sholat, menjauhi hal-hal tak berguna, memberi zakat, menjaga syahwat, menjaga amanah dan janji, dan menjaga sholatnya.

  1. Tidak Lemah

Orang beriman, mukmin, selalu kuat, tidak pernah lemah. Mereka memijakkan kaki di bumi dan berpegang teguh kepada langit, iman yang kuat, yakin, kepada Allah, hari akhir, rosul, dan kepada keghaiban.

Dalam keseharian, orang biasa bisa jatuh menjadi lemah. Tidak semangat berusaha karena tidak ada modal. Tidak bisa bekerja karena tidak ada lowongan pekerjaan. Tidak bisa berkarya karena tidak cukup pendidikan. Tidak bisa bisnis online karena tidak tersedia kuota. Tidak bisa berbuat positif karena selalu ada alasan untuk jatuh lemah ke sisi negatif.

Allah menegaskan dalam AlQuran,

“Janganlah kamu lemah, janganlah bersedih, karena kamu adalah orang yang unggul, jika kamu beriman sejati.” (QS 3 : 139)

Jika kita benar-benar beriman, sejati, maka kita adalah orang-orang yang unggul. Tidak perlu lemah, tidak perlu bersedih. Segala kesulitan membuka pintu-pintu kemudahan yang lebih tinggi. Puasa adalah sebuah proses untuk meningkatkan derajat orang beriman, pada kondisi awal, menjadi orang beriman sejati yang unggul. Dengan cara melatih diri menjaga dari hal-hal yang halal, makan dan minum, dan pasti menjauhi hal-hal yang haram. Kemudian, membuktikan diri menjadi orang yang bertakwa, orang yang berprestasi.

2. Profesional

Siapakah contoh orang beriman yang paling unggul?

Banyak. Kita akan mengambil salah satu contoh orang beriman paling unggul dan profesional. Orang ini, kisahnya, diabadikan secara khusus dalam AlQuran. Bahkan Allah menyatakan, “Ini adalah kisah paling indah!” Yaitu mega kisah Nabi Yusuf a.s.

Barangkali kita sudah tahu bahwa Nabi Yusuf adalah seorang Nabi yang memiliki kelebihan yaitu mampu menafsirkan makna mimpi dengan tepat. Bukan sekedar makna, tetapi Nabi Yusuf mampu menjalankan pesan mimpi itu dengan profesional.

Ketika Raja Mesir mendapat mimpi yang aneh, tidak ada seorang ahli tafsir mimpi yang mampu menjelaskan maknanya. Hanya Nabi Yusuf yang mampu menafsirkan mimpi raja yang begitu penuh makna.

“Dalam 7 tahun ke depan, Mesir akan berlimpah panen raya. Disusul 7 tahun kemudian, Mesir akan mengalami paceklik panjang.”

Apa respon terhadap tafsir mimpi itu? Banyak orang tidak percaya. Lagi pula, saat ini, Mesir sedang kaya. Dan 7 tahun kemudian, Mesir makin kaya. Mengapa harus percaya akan ada paceklik?

Saran Nabi Yusuf kepada Raja jelas, “Berhemat dan menabung di masa 7 tahun panen raya untuk jaga-jaga menghadapi 7 tahun berikutnya yang paceklik itu.”

Apa respon menteri ekonomi dan menteri keuangan Mesir waktu itu?

Jika kita membaca dengan teori ekonomi saat ini, justru masyarakat perlu mendorong ekonomi lebih maju dengan meningkatkan belanja, meningkatkan konsumsi. Konsumsi yang terus meningkat akan menaikkan pertumbuhan ekonomi. Teori ekonomi sejenis ini dipegang oleh banyak ekonom saat ini. Maka saran “berhemat” akan ditolak. Mengurangi konsumsi justru menjadikan ekonomi lesu.

Untungnya, Raja Mesir lebih percaya kepada Nabi Yusuf. Raja Mesir telah mengambil keputusan tepat. Raja Mesir menolak usulan dari para Menteri dan pembesar istana yang bersikukuh untuk tetap hidup mewah, meningkatkan konsumsi, demi memajukan ekonomi. Lebih dari itu, Raja Mesir mengangkat Nabi Yusuf sebagai ketua pelaksana, dengan tugas, untuk menyelamatkan mengamankan Mesir dari paceklik. Barangkali, Nabi Yusuf mendapat jabatan setara dengan perdana menteri atau menteri.

Beberapa tugas berat menanti Nabi Yusuf. Dan terbukti, Nabi Yusuf adalah orang beriman paling unggul dan profesional.

  1. Kampanye, komunikasi untuk meyakinkan bahwa akan terjadi panen raya yang disusul paceklik. Nabi Yusuf memiliki tim khusus untuk ini. Barangkali belum ada buzzer waktu itu. Dengan strategi yang tepat, Nabi Yusuf memperoleh banyak dukungan, dan tentu banyak juga pihak oposisi.
  2. Memastikan rakyat, khususnya petani, berhemat di masa panen 7 tahun, dan menyetorkan sebagian besar panennya untuk dikelola negara. Lagi-lagi bukan tugas yang mudah meminta rakyat untuk hidup sederhana padahal sedang kaya-raya. (Sulit sekali membayangkan bisa hidup sederhana di jaman sekarang ini. Justru yang terjadi banyak pamer kemewahan). Nabi Yusuf, bersama tim, berhasil menjalankan tugas ini dengan profesional. Tentu saja ada pembangkang di sana-sini.
  3. Menyimpan hasil panen agar awet sampai 7 tahun atau lebih. Sains dan teknologi perlu dikembangkan dengan teliti. Belum ada teknologi yang mampu menyimpan hasil panen sampai 7 tahun waktu itu. Apalagi dalam jumlah besar, se-negara Mesir. Nabi Yusuf berhasil dengan profesional. Luar biasa! Padahal ada upaya sabotase dari para pembangkang.
  4. Mengeluarkan hasil panen yang disimpan dengan konsep FIFO (first in first out). Hasil panen pada tahun ke 1 harus dikeluarkan pada tahun ke 8 untuk dikonsumsi. Bila salah urutan, misal dikonsumsi pada tahun ke 14 maka makanan tersebut sudah busuk. Nabi Yusuf berhasil membuat manajemen yang tepat, secara profesional.
  5. Distribusi di masa paceklik yang adil merata. Tidak mudah. Pejabat dan orang kaya menuntut agar mereka dapat bagian lebih besar dari rakyat miskin. Karena orang kaya juga menyetor bahan makanan yang lebih besar pada masa panen raya dibanding orang miskin yang kadang tidak bisa menyetor sama sekali. Tidak bisa. Di masa paceklik masing-masing orang hanya dapat jatah makanan untuk sekedar bertahan hidup. Tidak ada kemewahan. Tidak ada pemborosan. Betapa sulitnya tugas ini. Nabi Yusuf berhasil secara profesional.

Sejatinya, masih banyak contoh betapa profesionalnya Nabi Yusuf sebagai seorang beriman yang unggul. Beberapa contoh di atas, kiranya cukup, menunjukkan bahwa orang-orang beriman menjadi unggul dengan sikapnya yang profesional. Bagaimana dengan orang-orang beriman di masa kini?

3. Fokus

Sebagai perdana menteri, Nabi Yusuf adalah orang paling sukses di Mesir. Nabi Yusuf adalah kepercayaan utama dari sang Raja. Meski demikian, Nabi Yusuf tetap fokus menangani masalah paceklik di Mesir. Pada tahun ke 8 atau ke 9 sudah tampak jelas strategi Nabi Yusuf berjalan dengan baik. Di tahun itu, harusnya Nabi Yusuf bisa mudik dulu untuk menemui sang Ayah, Nabi Yakub, yang berduka berpuluh-puluh tahun berpisah dengan putra tercinta. Bahkan dikabarkan putranya sudah meninggal dunia. Nabi Yusuf juga memendam rindu yang begitu mendalam kepada Ayahanda.

Nabi Yusuf tetap fokus, menolak untuk mudik. Dan menolak untuk mengirim utusan, guna menjemput Ayahanda di kampung, agar memboyong Ayahanda ke istana Mesir.

4. Dunia Digital

Saat ini, kita berada di dunia digital. Apakah orang-orang beriman sudah unggul di dunia digital?

Orang-orang beriman pasti unggul selama mereka beriman dengan benar. Mari tingkatkan keimanan, ketakwaan, dan keislaman kita.

Bagaimana menurut Anda?

Ekonomi Serakah

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya setan dan setan itu ingkar kepada Tuhannya.” (QS 17:27)

Pandemi telah meluluh-lantakkan ekonomi nasional, bahkan ekonomi dunia. Solusi untuk memperbaiki ekonomi belum ditemukan sampai saat ini. Lebih sulit lagi, umat manusia belum menemukan solusi untuk pandemi. Sehingga harapan perbaikan ekonomi, tampak, sulit digapai.

1. Ekonomi Konsumsi
2. Mubazir
3. Mikro Global
4. Jalan Takwa

Saya sendirinya merumuskan solusinya adalah puasa: manusia mengendalikan diri, untuk kemudian menjadi orang bertakwa meraih prestasi.

BI Revisi Keatas Pertumbuhan Ekonomi Global di 2020 jadi -3,8% |  Infobanknews

1. Ekonomi Konsumsi

Bu Menteri, beberapa hari lalu, menyerukan agar masyarakat lebih banyak berbelanja. Masyarakat perlu meningkatkan konsumsi. Pada gilirannya, konsumsi yang tinggi akan menggerakkan roda ekonomi nasional. Di sisi lain, pertanyaan dari rakyat, “Untuk belanja pakai uang apa?” Pertanyaan sederhana, sulit jawabannya! Jika rakyat kecil tidak punya uang untuk belanja, maka, bagaimana bisa meningkatkan belanja.

Tetapi, saya kira, Bu Menteri benar dengan sarannya. Teori ekonomi saat ini, diukur pertumbuhannya, berdasar tingkat konsumsi. Makin besar konsumsi maka makin sehat ekonomi nasional suatu negara. Lagi pula, lebih mudah mengukur nilai konsumsi, dibanding mengukur nilai produksi, misalnya.

Sementara itu, pertanyaan wong cilik yang menyatakan tidak bisa belanja karena tidak punya uang juga benar adanya. Pemerintah sudah mencoba bagi-bagi uang berupa bantuan langsung tunai dan sebagainya. Tentu saja, hanya sebagian kecil wong cilik yang menerima bantuan ini. Akibatnya, tidak cukup untuk menggerakkan roda ekonomi.

Sulit bagi saya, pada awalnya, memahami bagaimana konsumsi menjadi andalan untuk meningkatkan ekonomi nasional. Dari kecil kita menerima ajaran, “Hemat pangkal kaya.” Sebaliknya berlaku, “Boros pangkal miskin.” Bagaimana pun, ekonom aliran Keynesian mempercayai peningkatan konsumsi adalah solusi ekonomi makro. Saya, akhirnya, bisa memahami argumen Keynesian, yang sudah berhasil menyelamatkan ekonomi Barat sejak krisis ekonomi 1930an. Dan berhasil memantapkan dominasi ekonomi Barat atas ekonomi dunia sampai akhir-akhir ini. Apakah itu semua kabar baik?

2. Mubazir

Meningkatkan konsumsi, tentu saja, mudah terjebak kepada perilaku mubazir, boros. Konsumsi makanan berlebih, konsumsi kuota terlalu banyak, konsumsi energi tingkat tinggi, dan lain sebagainya.

Lagi pula, kitab suci mengecam perilaku boros sebagai saudaranya setan yang ingkar kepada Tuhan. Kecaman yang sangat keras kepada pihak-pihak mubazir.

“Bermegah-megahan telah membuat kalian lalai. Hingga kalian masuk liang kubur.”

Dampak susulan dari boros, berlebihan, lebih parah lagi: lalai. Manusia lalai, terlena, dengan kenikmatan dunia. Lupa bahwa dunia ini hanya sementara. Ada kehidupan yang lebih hakiki. “Dan sungguh akhirat itu lebih baik bagimu dari yang awal (dunia).”

Resiko-resiko, selanjutnya, hidup hedonis: mengejar kenikmatan nafsu badani. Tidak sensitif terhadap penderitaan rakyat kecil. Korupsi, demi kenikmatan duniawi, terjadi di kalangan pejabat-konglomerat. Bahkan, korupsi, sampai menular ke petugas KPK segala. Ada kasus pencurian emas, barang bukti, sampai suap dari pejabat terkait.

Kita perlu kembali kepada puasa: menahan diri dari hal-hal yang halal. Makan, minum, dan berbagai hal yang halal dijauhi oleh orang yang berpuasa. Apalagi hal-hal haram maka pasti dijauhi lebih tegas lagi. Sikap mengendalikan diri ini bertujuan untuk membangun hidup bersama yang bermartabat, membangun masyarakat yang bertakwa, masyarakat yang meraih prestasi. Hidup jauh dari serakah, hidup penuh berkah.

3. Mikro Global

Teori ekonomi Keynesian, yang mengutamakan konsumsi atau agregat permintaan, sudah mendapat kritik sejak awal. Salah satunya dari para pendukung “Real Business Cycle”. Di mana, ekonomi perlu mempertimbangkan kasus real dari perputaran suatu usaha.

Pada akhirnya berkembang teori ekonomi “dynamic stochastic general equilibrium” yang mempertimbangkan segala aspek ekonomi. Termasuk di dalamnya mempertimbangkan kepentingan bisnis real, tingkat konsumsi, bahkan menggunakan model dinamis serta pendekatan stokastik. Juga mengkaji hubungan ekonomi mikro dengan makro. Intinya, ini adalah model ekonomi paling lengkap nan canggih. Kita bisa mengembangkan model dinamis-stokastik ini dengan bantuan komputer – dan matematika.

Semua berharap, teori ekonomi dinamis yang canggih ini akan bisa menyelesaikan masalah. Nyatanya tidak begitu. Banyak kegagalan di sana-sini. Salah satunya, pendekatan ini terlalu “kaku” karena menggunakan komputer dan matematika. Maka para ekonom lebih suka menggunakan pendekatan “spekulatif” para pakar ekonomi. Di sisi yang paling sulit, bagi teori dinamis, adalah tidak mampu memprediksi perilaku manusia. Secara teori, kita memprediksi bahwa manusia akan memilih profit yang lebih besar. Nyatanya, manusia kadang meninggalkan profit demi suatu kenikmatan. Manusiawi kan? Benar-benar sulit diprediksi.

4. Jalan Takwa

Solusi takwa, kembali, menjadi harapan kita bersama. Puasa mengendalikan diri dari hal-hal yang halal, sudah pasti menjauhi yang haram, apalagi korupsi. Fokus memberi kontribusi, mengukir prestasi, itulah makna takwa sejati. Kita memulai dari masing-masing pribadi, lanjut saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, kemudian menyusun, atau memperbaiki, struktur sosial yang adil dan transparan.

Update 23 Februari 2023, Presiden Jokowi menyarankan agar rakyat lebih banyak belanja demi mendongkrak ekonomi nasional. Lebih seringlah ke restoran, nonton konser musik, dan jalan-jalan. Jangan biarkan uang mengendap di rekening. Belanjakan sebanyak-banyaknya.

Takwa Belanja

Menariknya, kitab suci menyerukan agar umat beriman lebih banyak membelanjakan hartanya di jalan takwa. Bagaimana caranya?

Perbanyaklah belanja untuk dibagikan kepada fakir miskin. Atau, bagikan uang Anda kepada fakir miskin agar fakir miskin membelanjakan uang itu sesuai kebutuhan mereka. Jangan biarkan uang Anda mengendap di rekening. Gunakan cara-cara bermartabat dalam berbagi.

Secara pribadi, kurangi konsumsi Anda. Kurangi belanja untuk keperluan pribadi. Tetapi, perbanyak belanja untuk keperluan rakyat. Biarkan uang Anda bermanfaat bagi rakyat kecil. Biarkan uang Anda sebagai penolong rakyat di dunia dan akhirat.

Bagaimana menurut Anda?

Persimpangan Takwa

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 29 : 45)

Takwa memang ada di persimpangan. Titik temu. Sholat, salah satu bentuk takwa, adalah titik temu alam semesta dan Sang Pencipta. Petemuan horisontal dengan vertikal. Ada dalam diri manusia.

Di Persimpangan Jalan ~ Sebuah Tulisan

1. Mencegah Mungkar
2. Sekular Vs Takwa
3. Puasa Tawakkal

Seorang manusia, dan komunitas, menghadap kepada Sang Khalik. Menengadahkan tangan dan hati ke atas, vertikal. Kita, seharian, mengitari bumi, pengembaraan horisontal, sejenak, terbang ke langit. Melapor dan mengadu. Mohon bimbingan dan pertolongan.

1. Mencegah Mungkar

Pasti. Sholat itu mencegah dari tindakan keji dan mungkar. Sholat yang benar. Bila tidak begitu, artinya ada yang salah dalam sholat orang tersebut.

Kita, manusia, adalah mahkluk yang unik, paling sempurna. Manusia tercipta dari tanah – semua unsur horisontal. Di saat yang sama, manusia menerima tiupan Ruh Allah – unsur vertikal. Dalam sholat, kita kembali mempertemukan horisontal dan vertikal itu dalam satu titik temu: jiwa manusia.

Manusia jatuh bangun mengukir prestasi dengan takwa. Berbagai kesulitan terus kita tembus. Demi membangun bumi ini. Kesulitan ekonomi kita cari solusi. Kesenjangan sosial kita rumuskan. Lalu kita pecahkan. Ketimpangan politik, ketidakadilan, penindasan, kita perangi dengan membangun sistem yang adil. Kebodohan kita terangi dengan sistem pendidikan yang mencerdaskan otak dan hati nurani. Sungguh besar tugas untuk bertakwa ini.

Tugas bertakwa makin kompleks dengan datangnya era digital serba online. Teknologi canggih ini berpeluang untuk meningkatkan keadilan. Nyatanya, hanya segelintir orang meraup berjuta keuntungan dari medsos. Sementara berjuta orang lainnya hanya jadi penonton. Penonton yang mebayar mahal dengan waktu dan kuotanya – serta hidupnya. Orang bertakwa bertugas mengarahkan kembali dunia digital ke jalan yang lurus. Bukan tugas yang mulus. Tapi harus.

Dalam menjalani tugas yang berat itu, manusia mendapat jalan kekuatan khusus dari Allah yaitu sholat. Manusia menghadap Allah dalam sholat. Melaporkan semua tugas menjalankan takwa yang begitu besar – alam semesta horisontal. Dengan menegaskan kembali komitmen vertikal, mengabdi kepada Allah.

“Kepada Mu kami mengabdi dan kepada Mu kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS 1 : 4-5)

Selama umat manusia menjalani sholat dengan baik maka mendapat bimbingan langsung dari Allah, lengkap dengan pertolonganNya. Dalam mengejar prestasi, manusia mengalami beragam cobaan. Serakah, jalan pintas, main belakang dan lainnya. Semua godaan bisa mengarah ke tindakan keji dan mungkar. Dengan sholat, maka perjuangan umat manusia terjaga dari perbuatan keji dan mungkar.

Kita mengawali sholat dengan mengakui keagungan Allah, Allah Maha Besar, memperkuat komitmen vertikal. Dan mengakhiri sholat dengan salam, menebarkan damai keselamatan ke seluruh pelosok alam semesta, komitmen horisontal yang dijiwai komitmen vertikal.

2. Sekular Vs Takwa

Dunia Barat mengalami kemajuan pesat – ekonomi, politik, sains teknologi – dengan program sekularisasi. Salah satu bentuknya adalah memisahkan klaim ajaran agama dari kepentingan umum. Beberapa negara lain, di berbagai belahan dunia, mencoba untuk menerapkan program sekularisasi. Tampaknya, tidak ada program sekularisasi yang berhasil di negara-negara Islam. Konsep dasar Islam adalah bertakwa – dan tawakkal. Program kemajuan peradaban manusia yang dijiwai nilai-nilai luhur spiritual.

Di Indonesia, ide sekularisasi pernah hangat pada tahun 1970an dan memunculkan polemik yang memanas. Cak Nur sendiri mengkaji bahwa ide sekularisasi di Indonesia terlalu mahal ongkos sosialnya. Sebaiknya kita tidak mengembangkan program sekularisasi di Indonesia.

Saya sendiri mengajukan program Indonesia Bertakwa. Indonesia berkomitmen mengejar prestasi dalam arti luas. Bertanggung jawab sesama umat manusia. Semua program takwa bisa dipertanggung-jawabkan dengan komunikasi rasional. Semua klaim takwa bisa kita diskusikan dengan cakrawala kemanusiaan yang beragam. Takwa mengajarkan umat manusia untuk menegakkan keadilan, menghormati perbedaan, dan menjadikan perdamaian bagi seluruh umat manusia.

3. Puasa Tawakkal

Guru ngaji saya menceritakan perbedaan takwa dan tawakkal. Takwa adalah program transformasi eksternal. Program mengolah seluruh alam semesta menjadi lebih baik demi kebaikan seluruh umat manusia dan alam semesta. Kita menjalani takwa dengan menjalani peran sebagai wakil Tuhan dalam mengelola alam. Semua ini tanggung jawab manusia, hakikat kemanusiaan.

Sementara tawakkal, masih menurut guru ngaji, adalah program menggarap sisi dalam, sisi diri internal kemanusiaan. Banyak rahasia diri dan Tuhan dalam petualangan tawakkal, berserah diri kepada Allah. Semua kebaikan, semua prestasi adalah milik Allah semata.

Kita perlu menerapkan konsep takwa dan tawakkal dengan tepat. Takwa adalah tanggung jawab kemanusiaan. Sementara tawakkal adalah rahasia bersama Tuhan.

Puasa adalah jalan bagi orang beriman untuk meningkatkan takwa dalam situasi yang sangat mendukung untuk tawakkal.

Bagaimana menurut Anda?

Terbakar Amal

Q.S 24:39
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَّوَجَدَ اللّٰهَ عِنْدَهٗ فَوَفّٰىهُ حِسَابَهٗ ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ۙ

“Dan orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila (air) itu didatangi tidak ada apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Puasa adalah proses mengendalikan diri agar bisa menjadi orang yang bertakwa, orang yang berprestasi. Kebalikannya bisa terjadi. Orang-orang mengira sudah melakukan kebaikan, ternyata itu adalah tipuan, itu adalah fatamorgana. Amalnya terbakar. Hangus. Tanpa sisa.

1. Ikhlas Ridha Allah
2. Berkata Kasar
3. Dengki
4. Kendali Takwa

Iri dengki dan berkata kotor dapat menghanguskan segala amal. Niat seseorang juga sangat menentukan. Apakah niat ikhlas untuk bertakwa? Atau hanya mencari muka?

  1. Ikhlas Ridha Allah

Segala amal bergantung pada niatnya. Hanya diri kita sendiri, dan Allah, yang tahu pasti akan niat hati. Niat ikhlas untuk mencari ridha Allah semata mengantarkan orang-orang beriman berperilaku takwa sejati, meraih prestasi penuh arti.

Ketika kita akan bertindak, misal membuat konten digital, maka niatkan itu semua untuk mendapat ridha Allah. Dengan harapan konten digital itu bermanfaat bagi seluruh umat. Berbagi ilmu melalui media sosial. Pendidikan Indonesia menjadi lebih maju. Anak-anak menjadi lebih semangat penuh motivasi belajar online dan offline.

Bila ada komen negatif, nyinyir kepada konten kita maka itu menjadi masukan bagi kita. Tujuan kita bukan mencari pujian, bukan mencari komen dukungan, bukan mencari like yang banyak. Tujuan kita adalah berbagi ilmu, demi meraih ridha Allah. Saya, paman apiq, sudah menerima ratusan atau ribuan komen negatif. Anggap saja itu sebagai masukan, gratis, untuk memperbaiki diri. Apalagi komen positif dan doa-doa yang baik juga berlimpah dari netizen.

2. Berkata Kasar

Disebutkan dalam berbagai riwayat ada orang yang berpuasa namun tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja. Salah satu penyebabnya adalah mereka masih berkata kasar, kotor, atau menyakiti orang lain. Di era digital ini, mudah sekali untuk berkata kasar. Komen kasar dapat dilakukan oleh setiap orang. Bahkan dengan menggunakan nama akun palsu, mereka mengumbar kata-kata kotor, merasa aman tidak ada yang tahu. Sayang sekali itu semua menghapus kebaikan amal puasa. Tebakar tanpa sisa.

Inti ibadah puasa adalah mengendalikan diri dari hal-hal yang halal, apalagi haram. Makan, minum, hubungan badan adalah hal-hal yang halal. Orang puasa tidak melakukan hal-hal halal itu dari pagi sampai maghrib. Maka kata-kata kasar, yang hukumnya haram, harus lebih jauh ditinggalkan oleh orang-orang yang berpuasa. Selanjutnya orang-orang berpuasa fokus kepada bertakwa, meraih prestasi, dengan memberi kontribusi. Termasuk kontribusi positif melalui media digital. Tentu kita bisa.

Sedekah, berbagi makanan atau uang, adalah sebentuk tindakan takwa yang berdampak sosial positif. Tapi bila diikuti dengan kata kasar, atau mengungkit-ungkitnya, atau pamer, pahala sedekah itu bisa pudar tanpa sisa. Bagai fatamorgana yang menipu orang kehausan.

3. Dengki

Iri dengki, hasad, merupakan penyakit hati yang berbahaya. Menghancurkan kemanusiaan. Kita perlu berlindung dari bahaya iri dengki.

“Dan dari keburukan orang-orang dengki ketika mendengki.”

Pertama, iri dengki bisa mencelakai orang lain sebagai korbannya. Karena iri bisa berlanjut kepada tindakan menyebarkan keburukan orang lain, fitnah, dan lain-lain. Tentu saja hal ini merugikan orang lain. Bahkan dalam kehidupan politik, iri dengki, bisa berbentuk menjatuhkan jabatan politik pihak lain dangan beragam cara, termasuk dengan cara-cara yang keji. Padahal mereka yang berperilaku iri dengki, tetapi masyarakat yang menanggung rugi. Semoga kita terlindung dari orang-orang dengki.

Kedua, iri dengki menghancurkan pelakunya itu sendiri. Orang yang iri hanya fokus untuk memusuhi orang lain. Tidak ada pikiran darinya untuk mendorong kemajuan bersama. Orang yang iri, demi mencapai nafsu amarahnya, bisa melampaui batas dengan melanggar beragam aturan hukum. Pada gilirannya, resiko pidana bisa menimpa dirinya.

4. Kendali Takwa

Takwa menjadi solusi dengan cara mengendalikan diri, dengan latihan puasa. Dengan kesungguhan hati menjalankan puasa, memperbanyak amal kebajikan, memperbanyak mengkaji kitab suci, dan menghiasi dengan amalan-amalan hati semoga kita menjadi orang-orang yang bertakwa.

Bagaimana menurut Anda?

Tangan-Tangan Takwa

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS 2 : 3)

Sebagai orang beriman kita dituntut untuk berbagi sebagian dari rejeki yang Allah berikan kepada kita. Karena kita di era digital, maka berbagi rejeki digital sama pentingnya, bahkan bisa lebih penting.

1. Tangan Di Atas: Strategi Terbaik
2. Sedekah Digital
3. Pengemis dan Pengamen: Masalah Mudah
4. Kesenjangan Ekonomi: Masalah Susah

Untuk bisa berbagi, pertama, kita harus berjuang dengan jalan takwa agar Allah melimpahkan rejeki kepada kita. Allah sudah berjanji dalam AlQuran bahwa Allah memberikan jalan keluar dan rejeki dari arah yang tak disangka-sangka bagi orang yang bertakwa.

Kedua, kita berbagi rejeki itu, yang merupakan karunia Allah, dengan jalan takwa pula. Dengan strategi dan proses terbaik. Membaca situasi lingkungan sekitar, memutuskan apa yang paling dibutuhkan masyarakat, dan menyalurkan dengan proses yang aman.

1. Tangan di Atas: Strategi Terbaik

Barangkali kita sudah akrab dengan ungkapan bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Hal ini benar secara jasmani dan ruhani. Orang-orang yang bersemangat memberi, tangan di atas, selalu punya terobosan untuk mencari rejeki. Pikirannya luas, wawasannya makin luas, dan kreatif. Secara jasmani, semangat memberi ini, menghasilkan energi yang begitu kuat bagi kita untuk terus maju.

Posisi tangan di atas lebih banyak manfaatnya bagi kita. Tangan di atas adalah strategi terbaik bagi kita, mau pun, bagi masyarakat luas.

Maka kita perlu mengajak agar lebih banyak orang memposisikan diri sebagai pemberi, tangan di atas. Masyarakat kita menjadi lebih bahagia dengan tangan di atas. Masyarakat juga lebih produktif dengan tangan di atas. Lebih banyak menciptakan lapangan kerja. Dimulai dengan mencipta lapangan kerja untuk diri dan orang terdekat dan terus berkembang.

Tetapi, tangan di bawah tidak lebih buruk.

Barangkali, ada yang mengira bahwa tangan di bawah itu lebih buruk. Tidak. Tidak ada penilaian semacam itu. Kita tidak punya hak menilai orang lain, yang tangannya di bawah, yang menerima uluran tangan adalah tidak lebih buruk. Mereka justru telah berjasa kepada kita, memberi kesempatan bagi kita untuk berperan sebagai orang dengan tangan di atas. Saling membantu sesama teman, saudara, atau kenalan adalah hal yang baik.

Saya pernah bertanya kepada guru ngaji, “Apakah sebaiknya kita memberi sedekah kepada pengemis?”

“Tergantung, pengemis itu datang ke kita lebih dari arah kiri atau kanan?”
“Kalau arah kanan?”
“Berilah dia sedekah. Karena dia mengingatkanmu bahwa rejeki Allah itu amat luas.”
“Kalau dari arah kiri?”
“Berilah dia sedekah. Karena dia mengingatkanmu bahwa ampunan Allah itu luas.”

2. Sedekah Digital

Ada dua sedekah digital yang perlu kita bahas di sini. Pertama adalah pengumpulan dan penyaluran dana secara digital. Yang kedua adalah sedekah yang merupakan konten digital.

Pengumpulan dana melalui media digital memang cepat, mudah, dan murah. Tetapi resiko penipuan bisa terjadi melalui media digital.

  1. Percayalah hanya kepada pihak, panitia, yang Anda sudah pernah bertemu di alam nyata. Hati-hati dengan pihak yang hanya kenal di media sosial belaka.
  2. Pertimbangkan apakah uang sedekah Anda akan disalurkan ke fakir miskin atau digunakan oleh panitia untuk membayar iklan di media sosial? Membayar selebriti digital, youtuber, selebgram, influencer, atau lainnya?
  3. Jika Anda jadi panitia pengumpul sedekah melalui media digital sebaiknya fokus ke calon donatur yang sudah saling kenal di dunia nyata. Hindari menggunakan iklan digital untuk pengumpulan dana. Banyak resiko penyalahgunaan atau penipuan.

Sedangkan sedekah digital yang berupa konten digital adalah tanggung jawab sosial kita sebagai warga dunia digital.

Pernah saya ceritakan bahwa sedekah konten digital yang berupa konten edukatif memang sulit tapi harus dilakukan. Para youtuber besar di Indonesia, dan dunia, perlu komitmen satu kali atau beberapa kali memproduksi konten edukasi untuk penggemar mereka. Kita bisa membayangkan betapa besar manfaatnya bila youtuber dengan subscriber 20 juta orang berbagi konten edukasi. Kita juga memimpikan trending media sosial beberapa kali didominasi oleh konten-konten edukasi. Berapa besar dampak positifnya?

Mari manfaatkan media digital untuk kemajuan bersama!

3. Pengemis dan Pengamen: Masalah Mudah

Pemerintah beberapa kali meluncurkan program untuk memberantas pengemis. Tampaknya, lebih banyak gagalnya dari berhasilnya. Kita benar-benar perlu menemukan strategi untuk menyelesaikan masalah pengemis dan pengamen ini. Salah satunya, pemerintah perlu mengajak dengan baik keterlibatan aktif segenap warga. Tidak cukup hanya melarang warga bersedekah kepada pengemis.

Dengan asumsi bahwa banyak warga yang ingin bersedekah kepada fakir miskin, pengemis, dan pengamen maka program yang baik dari pemerintah pasti akan didukung oleh warga.

4. Kesenjangan Ekonomi: Masalah Susah

Masalah besar bagi negara berkembang adalah kesenjangan ekonomi, termasuk di Indonesia. Lebih-lebih pada kondisi pandemi maka kesenjangan makin melebar, makin bahaya. Sebenarnya, di negara maju juga terjadi kesenjangan ekonomi. Tetapi karena pendapatan orang termiskin di negara maju adalah relatif besar maka kesenjangan ini, dampaknya, tidak separah di negara miskin.

Kemiskinan bisa disebabkan oleh faktor personal, orangnya memang malas, tetapi lebih banyak karena faktor struktural, sistem ekonomi yang tidak adil, terjadi korupsi oleh pejabat dan konglomerat.

Solusi untuk mengatasi kesenjangan ekonomi ini sudah saya bahas di beberapa tulisan saya terdahulu. Di antaranya: meningkatkan kualitas pendidikan dan pemerataan ke seluruh penjuru, penyediaan beasiswa untuk seluruh siswa, penyediaan fasilitas kesehatan, dukungan kepada sektor riil, pembersihan mafia pengadilan, pembersihan korupsi, dan lain-lain.

Dari beragam masalah di atas, tangan di atas, sebagai pemberi adalah salah satu solusi yang bisa kita kembangkan untuk memajukan kehidupan bersama sebagai wujud takwa kita.

Bagaimana menurut Anda?

30 Renungan Takwa: Berprestasi Sepanjang Masa

Makna dari takwa adalah berprestasi. Bukan sebarang prestasi. Takwa adalah prestasi yang diraih sesuai tuntunan ilahi. Semakin Anda bertakwa maka Anda semakin berprestasi.

10 Fakta Unik Masjid Nabawi

Berikut ini adalah 30 Renungan – tulisan singkat – yang saya tuliskan harian, semoga mendapat pertolonganNya, selama Ramadhan 1442 H (2021 M).

Prolog

01. Puasa Agar Berprestasi
02. Gelap Semua
03. Tobat Positif
04. Tolong Menolong Takwa
05. Perilaku Terbaik
06. Akhir Takwa
07. Beda Takwa
08. Jangan Dusta
09. Balasan Kebaikan
10. Masyarakat Takwa Berprestasi
11. Hukum Takwa
12. Tangan-Tangan Takwa
13. Terbakar Amal
14. Persimpangan Takwa
15. Ekonomi Serakah
16. Orang-Orang Unggul
17. Takwa Berpasangan
18. Bakti Anak Ibu Bapak
19. Pernikahan Langit
20. Framing Ayat Suci
21. Kebaikan Berlimpah
22. Struktur Takwa
23. Prospek Sekularisasi
24. Gelombang Sekularisasi
25. Petaka Sekularisasi
26. Candu Agama Dogmatis
27. Takwa Ekonomi Manusia
28. Takwa Virtual Aktual
29. Takwa Manusia Bebas
30. Takwa Awal dan Akhir

Epilog

Hukum Takwa

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.” (QS 4 : 29)

Hukum untuk menjalankan takwa adalah wajib, khususnya, bagi orang-orang yang beriman. Dan lebih wajib lagi, ketika, bulan puasa. Ditegaskan, tujuan puasa adalah agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Yaitu, yang bermakna, agar kalian menjadi orang yang berprestasi sesuai tuntunan ilahi.

Hukum, peraturan dan undang-undang, yang seharusnya sebagai pegangan hidup bersama bermasyarakat, dari dulu, selalu bisa dipelintir untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu saja. Kita mengenal istilah mafia hukum, yang bisa mengatur hukum menjadi tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Peradaban manusia terancam hancur dengan adanya mafia hukum.

Definisi Ilmu Hukum | Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Provinsi  Kalimantan Barat

1. Taat Hukum
2. Mafia Hukum
3. Melanggar Hukum

Untuk meraih prestasi bersama, kita, memerlukan kepastian hukum. Yang menjamin setiap anggota masyarakat bisa bertakwa, berpartisipasi aktif, sesuai kapasitas masing-masing. Bagaimana pun, kekuatan hukum ada batasnya. Maka kita perlu, semangat dari segenap warga, menjalankan hukum yang dijiwai dengan takwa: menjalankan hukum yang senantiasa, penuh kesadaran, diawasi oleh Allah dan dipertanggung-jawabkan kepada Allah.

  1. Taat Hukum

Orang beriman yang takwa, tentu saja taat hukum. Lebih dari itu, orang takwa senantiasa memberi kontribusi lebih besar dari sekedar menjalani tugas. Kita, orang bertakwa, adalah wakil Tuhan di alam ini. Maka kita perlu mencari cara terbaik untuk mengelola alam semesta. Menjaga keseimbangan alam, kelestarian alam, di saat yang sama memanfaatkan alam agar produktif untuk kebaikan bersama.

Dalam menjalankan tugas sebagai wakil Allah, kita, sering berhadapan dengan orang lain, yang juga menjalankan peran sebagai wakil Allah. Ketika bisa kerja sama maka sinergi adalah pilihan terbaik di antara umat manusia. Di saat-saat tertentu, tidak ada titik temu, maka saling respek adalah yang paling penting. Masing-masing pihak, dengan caranya, berbakti berkontribusi untuk kemajuan negeri.

Ada kalanya juga terjadi perselisihan, meski masing-maing pihak sama-sama menjalankan tugas bertakwa, membangun negeri. Maka sistem hukum menjadi solusi agar masing-masing pihak tetap bisa berpartisipasi. Tersedia hukum dagang, hukum waris, hukum pidana, hukum digital, dan lain-lain. Selama setiap pihak taat kepada hukum maka segala perselisihan dapat diselesaikan dengan baik. Secara musyawarah atau pun pengadilan yang adil.

Dan kita tahu, di jaman digital sekarang ini, masalah hukum berdampak besar. Misalnya pencurian data pribadi, secara online, dapat membelokkan arah politik. Yang pada gilirannya bisa merugikan kepentingan umat. Maka orang-orang beriman perlu memahami secara benar hukum di dunia digital agar bisa mewarnai dunia digital dengan nilai-nilai positif.

2. Mafia Hukum

Pelaku pelanggaran hukum adalah suatu masalah. Tetapi mafia hukum lebih parah.

Pelanggar hukum dapat dihentikan dengan hukum. Sementara, mafia hukum tidak bisa dihentikan dengan hukum. Mereka, mafia hukum, justru memanfaatkan hukum untuk kepentingan sepihak. Setiap aturan hukum, ditafsirkan, menguntungkan para mafia hukum.

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS 2 : 188)

AlQuran memberi peringatan yang keras kepada mafia hukum seperti itu. Meski mafia hukum bisa lolos dari hukum dunia tetapi mereka tidak akan lolos dari hukum akhirat kelak – siksa yang amat pedih. Bahkan sewaktu-waktu, adzab bisa saja menimpa mafia hukum di dunia ini. Tak ada yang bisa menolong bila waktunya tiba.

Sewaktu kecil, saya mendapat kisah dari guru ngaji yang menyatakan bahwa mafia hukum adalah dosa terbesar. Karena mereka adalah orang cerdas yang seharusnya memanfaatkan hukum untuk kebaikan, justru, membelokkan hukum demi nafsu syahwat belaka.

“Ada sepasang suami istri yang kaya raya. Mereka tentu wajib membayar zakat dalam jumlah yang besar. Karena kekayaan itu milik Si Suami maka yang wajib membayar zakat adalah Suami. Syarat wajib membayar zakat, secara hukum, adalah sudah memiliki harta kekayaan tersebut dalam satu tahun. Menjelang waktu satu tahun tiba, Si Suami memberikan semua kekayaannya kepada Istri. Karena Istri baru memiliki kekayaan beberapa hari maka ia tidak wajib membayar zakat. Sebelas bulan berikutnya, Istri hampir tiba waktunya membayar zakat. Maka Istri itu menyerahkan semua kekayaannya kepada suami, sehingga tidak wajib bayar zakat. Dan begitu seterusnya, pasangan suami-istri itu tidak pernah membayar zakat. Dan tidak melanggar hukum yang berlaku.”

Mafia hukum sudah ada sejak jaman dulu dan sekarang makin canggih.

Solusi untuk mengalahkan mafia hukum adalah kita memerlukan ahli-ahli hukum yang berintegritas tinggi, beriman, dan bertakwa.

Misal, untuk contoh kasus suami-istri di atas, yang mengakali hukum untuk tidak membayar zakat, bisa dibuatkan hukum pajak atas hibah. Setiap suami menyerahkan hartanya ke istri, hibah, maka kena pajak. Begitu juga, ketika, istri hibah ke suami. Bagaimana pun, mafia hukum akan tetap bisa menemukan cara untuk mengakali hukum hibah yang baru.

3. Melanggar Hukum

Ada kalanya, tanpa sengaja seseorang melanggar hukum ringan. Atau bahkan dengan sengaja melanggar hukum ringan demi kebaikan yang lebih besar.

Ilustrasi yang menarik adalah kartu kuning dalam permainan sepak bola. Wasit memberikan kartu kuning kepada pemain yang melanggar hukum – aturan main sepak bola. Sering kali, pemain terbaik dunia terkena kartu kuning dalam usahanya untuk mencetak gol, mencetak kemenangan. Kartu kuning, akibat pelanggaran hukum, adalah resiko yang sepadan untuk mencetak gol. Pemain yang tidak mau kena kartu kuning maka bisa saja main aman di pinggir lapangan. Dia tidak pernah melanggar, pun tidak pernah mencetak gol. Sementara pemain dunia yang sukses, berulang kali, kena kartu kuning.

Orang beriman sering dihadapkan kepada persimpangan hukum dalam menjalankan takwa. Misal, orang beriman tidak boleh menyentuh kulit aurat lawan jenis.

Terjadi kebakaran rumah secara tiba-tiba. Penghuni rumah itu adalah seorang wanita muda yang sedang mandi, telanjang, terjebak di kamar mandi. Kondisi gawat. Seharusnya, wanita telanjang itu bisa melompat keluar untuk menyelamatkan diri. Tetapi dia panik, hanya bisa teriak histeris. Sementara api makin berkobar, berbahaya. Seorang lelaki, beriman, menerobos api masuk ke kamar mandi itu. Menggendong si wanita, membawa keluar untuk diselamatkan. Dan selamatlah nyawanya.

Dalam situasi seperti itu, lelaki beriman, telah melanggar aturan dengan menyentuh kulit aurat lawan jenis. Lelaki itu pantas kena kartu kuning. Tetapi lelaki itu sudah berhasil menyelamatkan nyawa seorang manusia, berhasil mencetak gol kemenangan.

Selalu ada persimpangan. Tugas bertakwa adalah, termasuk, berpikir memberikan kontribusi terbaik bagi sesama, ketika di persimpangan, ketika situasi kacau, ketika chaos.

Sehingga, umat manusia menjalani hukum bukan seperti robot, yang selalu taat. Bukan seperti komputer, yang selalu patuh terhadap programnya. Bukan pula seperti mafia, yang selalu membelokkan hukum. Tetapi, umat manusia menjalani hukum sebagai orang yang beriman. Yaitu, orang yang punya pilihan untuk taat atau membangkang. Dengan suka atau duka, orang beriman memilih taat kepada aturan ilahi.

Bagaimana menurut Anda?

Masyarakat Takwa Berprestasi

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka.” (QS 13 : 11)

Perintah berpuasa tidak ditujukan kepada seseorang yang beriman, tetapi ditujukan kepada semua orang beriman. Pun tujuan berpuasa adalah agar semua orang beriman menjadi orang-orang yang bertakwa. Berpuasa dimulai dari individu-individu untuk kemudian bersama-sama membangun masyarakat berprestasi.

Pengertian Masyarakat, Unsur, Ciri, Jenis, Syarat dan Bentuk

1. Teori Personal
2. Teori Sosial
3. Masyarakat Berprestasi

1. Teori Personal

Sebagaimana sering kita bahas bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Apalagi, masing-masing dari kita adalah khalifah (wakil) Allah di muka bumi. Hanya manusia, hanya kita, yang terpilih mewakili alam semesta dan mewakili Tuhan secara bersamaan.

Orang-orang yang beriman, mukmin, memiliki karakter unggul secara personal.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS 8 : 2)

Orang-orang beriman tersentuh hatinya ketika dibacakan ayat-ayat suci. Alam semesta adalah ayat-ayatNya. Maka orang-orang beriman selalu berusaha untuk bertakwa di mana pun berada, selalu ada ayatNya. Dia menebar kebaikan, menolong sesama, dan saling menasehati dalam kesabaran. Takwa mereka, prestasi mereka, berlandaskan dan bertujuan untuk mendapat ridha Allah. Ikhlas sepenuh hati.

Mereka adalah agen perubahan menuju masyarakat berprestasi. Mereka adalah individu-individu yang menerima, dengan lapang dada, kondisi lingkungan yang sulit. Mempelajari situasi, lalu berkontribusi sesuai kapasitasnya dalam bidang ekonomi, pendidikan, sosial, kesehatan, politik, dan sebagainya.

Di satu sisi, orang beriman adalah orang yang paling bertakwa, paling berprestasi dengan memberi kontribusi. Di sisi lain, orang beriman adalah orang-orang yang bertawakkal, berserah diri kepada Allah. Mereka yakin semua yang terjadi di alam semesta adalah yang terbaik sesuai skenario Allah. Maka tidak ada keluh kesah bagi orang beriman. Tidak ada nyinyir, tidak ada konspirasi, tidak ada kelicikan, pun tidak ada korupsi bagi orang beriman. Hanya ada takwa dan tawakkal.

2. Teori Sosial

Peran masyarakat sangat besar untuk membentuk karakter masing-masing individu. Barangkali masyhur, terkenal, di masyarakat kita, “Setiap bayi terlahir suci, orang tuanya yang menjadikan dia jadi Majusi atau lainnya.” Peran orang tua dan masyarakat luas sangat besar dalam pendidikan anak.

Dari sudut pandang teori sosial, kemajuan masyarakat dan individu lebih ditentukan oleh sistem sosial. Meski peran masing-masing individu ada, namun, peran terbesar ada pada sistem masyarakat. Maka, peran negara dan pemerintahan menjadi penting. Apalagi, saat ini, kita sedang berada di jaman digital dan pandemi. Kebijakan pemerintah yang tepat, benar-benar, diharapkan menjadi solusi terbaik.

Media online digital, media sosial, bergerak dari suatu inovasi tanpa regulasi. Maksudnya, keunggulan dari media sosial ada pada sifatnya yang bebas. Setiap orang bebas mengungkapkan opini dan pengalamannya melalui media sosial tanpa ada batasan yang ketat dari pemerintah. Seperti kita duga, kebebasan di media sosial melahirkan orang-orang sukses baru sekaligus ancaman terhadap hidup bermasyarakat.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah konten digital saat ini nyaris dipenuhi oleh konten pamer kekayaan, obrolan kepo, hiburan receh, dan lain-lainnya. Sementara konten yang bermuatan edukasi teramat sedikit. Lebih parah lagi, konten edukasi yang sedikit kuantitasnya itu, malah lebih sedikit lagi peminatnya. Situasi seperti ini tidak sehat secara sosial. Maka kita perlu ada suatu gerakan atau kebijakan dari yang berwenang agar konten-konten edukasi lebih terangkat sehingga membawa kemajuan bagi masyarakat luas.

3. Masyarakat Berprestasi

Sukses sebagai konten kreator dengan jutaan subscriber dan penghasilan ribuan dolar adalah tanda bahwa ia seorang yang berprestasi. Tetapi saya ragu apakah prestasi seperti itu juga termasuk dalam makna takwa? Sebagaimana sering saya sebutkan, makna takwa adalah berprestasi dengan mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya.

Meski berhasil menggaet jutaan subscriber, bila konten videonya tidak bermanfaat bagi masyarakat maka itu bukan takwa. Barangkali itu sukses dalam arti duniawi. Kita membutuhkan masyarakat yang berprestasi untuk duniawi dan ukhrowi (dunia akhirat). Dan, media digital bisa menjadi salah satu sarana untuk menciptakan masyarakat yang berprestasi.

Saya sendiri mengelola beberapa canel edukasi, yang saya harapkan bisa memberi manfaat bagi masyarakat luas. Beberapa teman pengelola canel edukasi sering menceritakan bahwa membuat konten edukasi sulit karena harus melakukan riset dulu agar kontennya bernilai benar. Meski sulit, penontonnya tetap sedikit. Berbeda dengan konten iseng-iseng yang bikinnya tanpa riset tapi yang nontonnya bisa jutaan orang.

Kita perlu inovasi untuk menemukan cara agar konten edukasi lebih berkembang di masyarakat yang pada gilirannya mendorong terciptanya masyarakat berprestasi. Saya menemukan cara membuat konten video edukasi yang mudah – tidak sulit lagi. Hanya dengan alat seadanya, handphone biasa, kita sudah bisa membuat konten edukasi yang berkualitas. Sedangkan cara agar video edukasi ditonton masyarakat secara luas dan banyak, ternyata memang sulit dilakukan. Meski pun ada beberapa cara yang bisa dicoba.

Beberapa hari lalu saya membuat video edukasi yang menjadi trending di youtube. Sudah ditonton ratusan ribu orang hanya dalam beberapa menit. Tentu itu luar biasa, surprise buat saya. Saat itu masyarakat sedang membutuhkan informasi bagaimana cara menentukan tanggal 1 Ramadhan. Maka saya membuat video edukasi cara menentukan 1 Ramadhan dengan metode hisab rukyat dan beberapa saran untuk menyikapinya dengan baik. Terbukti, video tersebut berhasil menjadi video trending di youtube.

Dengan semangat takwa, meraih prestasi, kita perlu terus saling bekerja sama memajukan negeri dan alam ini.

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS 76:9)

Kita lakukan semua dengan penuh ikhlas dan hanya mengharap ridho dariNya.

Bagaimana menurut Anda?

Balasan Kebaikan

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan.” (QS 55 : 60)

Guru ngaji saya menceritakan, “Itu adalah ayat yang paling indah.” Setiap ayat suci memang indah. Kita, sebagai manusia, mempunyai pengalaman masing-masing yang unik. Ada kalanya, ayat-ayat tertentu begitu mengena ke dalam hati seseorang. Ayat suci itu begitu istimewa menyentuh jiwa kita. Sehingga, saya setuju dengan guru saya. Ayat suci paling indah adalah, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan.”

Setiap kita berbuat kebaikan maka, pasti, mendapat kebaikan. Bahkan balasan kebaikan itu lebih besar dari kebaikan pertama yang kita perbuat. Karena kita mendapat balasan kebaikan, maka kita melakukan kebaikan lagi. Dan, pasti, kita mendapat balasan kebaikan lagi yang lebih besar. Dengan demikian, alam semesta ini bertabur, dipenuhi, kebaikan demi kebaikan.

Hidup yang bertabur kebaikan, tentu, menjadi indah. Bila demikian, mengapa ada orang yang berbuat jahat? Mengapa ada orang yang menderita? Mengapa ada orang yang tidak bahagia?

1. Prestasi Kebaikan
2. Memaknai Kebaikan
3. Pengorbanan Sedekah
4. Sedekah Kaya Miskin
5. Godaan Nafsu
6. Kebaikan Abadi

Kita akan membahas secara bertahap.

1. Prestasi Kebaikan

Tujuan kita berpuasa adalah untuk menjadi orang yang bertakwa, orang yang berprestasi. Salah satu wujud nyata dari takwa adalah amal kebaikan. Yang dijamin langsung oleh Allah dibalas dengan kebaikan lagi, yang lebih besar. Balasan ini langsung terjadi di dunia dan berlanjut di akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan.

“Barang siapa berbuat kebaikan maka untuk dirinya.”

Kebaikan, amal sholeh, bisa berupa kebaikan personal atau sosial. Kebaikan personal, jelas, untuk diri kita sendiri. Bahkan kebaikan sosial juga untuk diri kita sendiri, yang berdampak luas, menjadi kebaikan untuk orang lain.

Di bulan suci, misalnya, kita memperbanyak mengkaji kitab suci. Ini sejenis kebaikan personal. Berdampak baik kepada diri kita sendiri yang membaca AlQuran. Menariknya, membaca AlQuran, meski tidak paham bahasa Arab, tetap merupakan suatu kebaikan. Bahkan lantunan ayat suci ini membawa kebaikan kepada alam sekitarnya. Memperoleh percikan berkah kitab suci. Apalagi bila kita membaca kitab suci sambil mendalami maknanya, dalam bahasa Arab dan terjemahnya, maka itu menjadi kebaikan yang berlipat ganda.

Membayar zakat dan berbagi sedekah adalah kebaikan sosial. Kita perlu meningkatkan kepedulian sosial di bulan suci untuk dilanjutkan di bulan-bulan berikutnya. Berbagi sedekah, tampaknya, membuat harta kita berkurang. Berpindah menjadi milik orang lain, penerima sedekah. Sehingga, kebajikan sosial ini berdampak positif bagi orang lain dan menuntut pengorbanan dari diri kita.

Apa nilai kebaikan dari suatu pengorbanan?

Dari sudut pandang materi, tampaknya, pengorbanan itu merugikan diri kita sendiri. Bila kita kaji lebih jauh, kita akan memperoleh pemahaman lebih mendalam.

2. Memaknai Kebaikan

Kebaikan adalah bergerak menjadi lebih sempurna, menjadi lebih baik. Kita bisa memasangkan kebaikan dengan keadilan agar lebih terasa maknanya.

Keadilan: memberikan sesuai haknya.
Kebaikan: memberikan lebih dari haknya.

Contoh keadilan adalah Anda membeli minuman seharga 5 ribu rupiah, kemudian, Anda membayar sejumlah 5 ribu rupiah. Sesuai ukuran, sesuai kesepakatan, sesuai hak adalah keadilan. Tetapi, jika dengan ikhlas Anda membayar 7 ribu rupiah, lebih besar 2 ribu sebagai sedekah, maka Anda berbuat baik. Kebaikan adalah melanjutkan keadilan.

Lebih utama mana antara kebaikan dan keadilan?

Kebaikan, benar, kebaikan adalah lebih utama dalam kehidupan personal. Menariknya, dalam kehidupan sosial, justru, keadilan harus menjadi utama.

Kita mengenal BOS: bantuan operasional sekolah dan BLT: bantuan langsung tunai. Makna bantuan adalah kebaikan. Karena sekolah perlu dana operasional maka pemerintah berbuat baik dengan cara membantu sekolah. Bentuk bantuan itu adalah BOS: bantuan operasional sekolah.

Pihak sekolah, tenaga pendidik dan siswa, perlu berterima kasih atas bantuan BOS. Wajar, pihak sekolah berterima kasih kepada pihak yang telah berbuat baik.

BOS, dan BLT, adalah kebaikan. Apakah mereka, BOS dan BLT, juga adil? Apakah itu juga merupakan keadilan? Dalam kehidupan sosial, misal pemerintahan, aspek keadilan harus menjadi paling utama.

Apakah sekolah perlu bantuan BOS? Ataukah sekolah hanya butuh keadilan? Anggaran pendidikan yang adil maka, pasti, mencukupi untuk menyelenggarakan pendidikan yang merata berkualitas di seluruh Indonesia. Dengan demikian, sekolah tidak memerlukan bantuan. Sekolah berhak mendapatkan pendanaan. Dan, negara bertanggung jawab menyediakan dana tersebut.

Demikian juga BLT, bantuan langsung tunai, bisa kita analisis dari sisi kebaikan dan keadilan. BLT jelas merupakan kebaikan berupa bantuan. Apakah BLT juga adil? Apakah orang miskin perlu bantuan? Ataukah orang miskin, sejatinya, berhak mendapat pendanaan? Sementara, negara berkewajiban menjamin kehidupan yang layak bagi setiap warga?

Dengan semangat kebersamaan, pemerintah dan rakyat, menegakkan keadilan maka akan tercipta negara yang adil dan makmur. Keberhasilan menjadi negara adil makmur merupakan suatu bentuk kebaikan tertinggi.

Ketika fokus kepada kehidupan personal maka kita lebih mengutamakan kebaikan, dengan tetap menjalankan keadilan. Membantu tetangga yang membutuhkan uang untuk membeli makanan mereka, dengan cara memberi mereka uang misalnya, adalah contoh kebaikan personal Anda. Di saat yang sama, kebaikan personal, berdampak baik kepada tetangga Anda.

Secara personal matematis, ada dua dampak bagi Anda. Pertama, barangkali terjadi “pengurangan” terhadap uang milik Anda. Kedua, barangkali terjadi proses “pengorbanan” terhadap uang milik Anda. Secara hakikat, keduanya, sama-sama baik bagi Anda.

3. Pengorbanan Sedekah

Misalnya, Anda bersedekah uang 20 ribu rupiah kepada tetangga Anda sehingga mereka bisa membeli makanan. Sedekah adalah tindakan kebaikan.

Pertama, sering terjadi, adalah terjadinya “pengurangan” pada uang Anda. Semula ada uang 100 ribu di saku Anda. Kemudian, yang 20 ribu Anda berikan ke tetangga maka uang di saku berkurang, sisa 80 ribu. Dampak “pengurangan” ini membuat Anda hanya bisa membeli sesuatu seharga 80 ribu saja.

“Pengurangan” uang seperti itu hanya terjadi pada dunia fenomena, dunia penampakan, belaka. Sedangkan di dunia sejati, dunia noumena, yang terjadi adalah penambahan bagi diri Anda. Uang Anda, yang mula-mula, 100 ribu itu adalah modal seperti biasa saja, di dunia noumena. Sedangkan, uang 20 ribu yang Anda sedekahkan itu langsung dibalas kebaikan oleh Allah dengan kebaikan yang berlimpah.

“Tiada balasan kebaikan, kecuali kebaikan.”

Bukankah balasan itu menunggu waktu misal pekan depan? Hari ini, saya sedekah 20 ribu lalu, pekan depan, saya mendapat rejeki 500 ribu. Balasan itu berlipat puluhan kali lebih besar. Sehingga, orang-orang menjadi lebih semangat sedekah dengan jaminan balasan seperti itu.

Benar saja, balasan dapat uang 500 ribu adalah balasan yang berlipat. Perlu kita catat, balasan 500 ribu ini terjadi di dunia fenomena, dunia penampakan. Dunia fenomena bisa saja berbelok ke sana ke mari tanpa ada kepastian. Maksudnya, bisa saja balasan itu 500 ribu, bisa 700 ribu, atau bahkan 0 rupiah.

Tetapi, balasan kebaikan sejati, di dunia noumena, benar-benar terjadi ketika Anda berbuat kebaikan. Balasan ini berlipat kebaikan. Bila kita ikhlas maka makin besar berlipatnya kebaikan itu di dunia noumena. Yang menjadikan kebaikan itu berlipat bukan amal kita, bukan ikhlas kita, tetapi Allah yang berkehendak melipatgandakan kebaikan kemudian melimpahkan kepada orang-orang pilihan.

Kedua, terjadi “pengorbanan” terhadap uang Anda. Semula, memang Anda hanya punya uang 20 ribu rupiah untuk membeli buku tulis anak Anda. Karena tetangga membutuhkan maka Anda “mengorbankan” uang 20 ribu itu untuk sedekah ke tetangga. Anda berpikir bahwa masih ada waktu beberapa jam, Anda bisa berdagang atau bekerja sehingga menghasilkan uang 20 ribu guna membeli buku tulis untuk anak Anda.

“Pengorbanan” mempunyai nilai kebaikan lebih tinggi dari “pengurangan.” Pun, butuh perjuangan lebih berat bagi kita untuk “pengorbanan”.

Kebaikan “pengorbanan” Anda langsung mendapat balasan kebaikan yang berlipat di dunia sejati, dunia noumena. Sementara, di dunia fenomena bisa terjadi pembelokan dan bisa juga mendapat balasan berlipat dalam satu dan lain cara.

4. Sedekah Kaya Miskin

Orang miskin bisa berbuat kebaikan dengan banyak momen “pengorbanan”. Sementara, orang kaya bisa berbuat banyak kebaikan dengan hartanya kapan saja, tidak ada habis-habisnya, dengan banyak momen “pengurangan.”

Ketika orang miskin hanya punya uang 20 ribu rupiah lalu dia bersedakah 20 ribu rupiah maka terjadi kebaikan dengan momen “pengorbanan”. Sementara, orang yang lebih kaya misal punya uang 100 ribu, maka perlu sedekah 100 ribu untuk mendapatkan momen “pengorbanan.” Dan, lebih menantang bila ada orang super kaya dengan kekayaan 100 M maka perlu sedekah 100 M agar mendapat kebaikan dengan momen “pengorbanan.”

Baik orang miskin atau pun orang kaya, sama-sama, memiliki kesempatan untuk berbuat kebaikan. “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan…”

5. Godaan Nafsu

Jika setiap kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan berlimpah maka mengapa orang-orang tidak berbuat kebaikan saja?

Ya, seharusnya setiap orang yang berakal memilih berbuat kebaikan. Nyatanya, banyak orang yang tidak berbuat kebaikan. Sebagian di antaranya, ditangkap KPK, dijebloskan ke penjara. Apakah mereka tidak berakal? Tentu saja mereka berakal. Hanya saja, akalnya kalah oleh hawa nafsu mereka.

Ketika nafsu berkuasa maka dosa bergema di dunia fenomena. Kita bisa membedakan menjadi 3 jenis pembelokan nafsu. Pertama nafsu hitam adalah kekuatan manusia untuk menaklukkan dunia. Kita punya kekuatan untuk mencangkul, bertani, memotong pohon, dan lain-lain untuk menjaga kehidupan umat manusia. Kekuatan itu bisa dibelokkan manusia untuk merampok, membunuh, melukai orang, dan lain-lain menjadi nafsu hitam yang kejam.

Kedua, nafsu merah. Kita, umat manusia, mempunyai hasrat untuk menikmati makanan, menikmati hiburan, menikmati petualangan, dan lain-lain untuk menjalani hidup dengan bahagia. Ketika dibelokkan maka makanan berlebihan, hiburan melampaui batas, petualangan merusak lingkungan, dan lain-lain menjadi nafsu merah. Serakah, si nafsu merah, berlumur amarah yang tak ramah.

Ketiga, nafsu kuning. Kita punya akal. Bisa menyusun strategi, mengatasi beragam kesulitan, untuk mencapai tujuan kebaikan bersama. Nafsu kuning bisa membelokkan akal sedemikian hingga bisa untuk “mengakali” orang lain dan diri sendiri. Berdalih membantu rakyat kecil, ternyata hanya untuk meraup suara pemilu. Beramal ke rumah yatim piatu ternyata pencitraan untuk kampanye pilkada. Sadar bahwa diri sendiri sudah berdosa, malah berdalih, sewaktu-waktu bisa tobat. Uang korupsi bisa untuk sedekah sehingga suci.

Perpaduan nafsu hitam, merah, dan kuning mencengkeram umat manusia dalam gelimang dosa. Saatnya, kita untuk kembali bertobat. Tobat dengan sebenar-benarnya tobat. Berhenti dan menyesali kesalahan yang terjadi. Komitmen tidak mengulangi. Menebus dengan amal kebaikan di sana-sini. Mumpung masih ada waktu, mari kembali, meniti jalan ilahi.

6. Kebaikan Abadi

Kebaikan itu yang abadi. Sedangkan, nafsu serakah hanya bersifat sementara. Hancur berkeping-keping di dunia fenomena ketika tiba waktunya. Tetapi, kebaikan ada di sini, di dunia ini dan dunia nanti. Kebaikan yang abadi.

Tinggalkan godaan nafsu. Mari meniti jalan kebaikan abadi. Di dunia ini dan dunia nanti, di sini dan di mana-mana, di dunia virtual dan dunia aktual.

Kejahatan sirna, sejatinya, memang tiada. Hanya kebaikan yang ada untuk kita dan semesta.

Bagaimana menurut Anda?