Bimbel APIQ – Kursus Matematika

Banyak orang sulit belajar matematika. Bagaimana dengan Anda, anak Anda?

Kabar gembira, sekarang, siapa saja bisa belajar matematika dengan mudah. Dan, bahagia! Trik matematika APIQ 7 detik makin asyik. Anda bisa bergabung dengan bimbel APIQ di Bandung dan di kota-kota di wilayah Anda.

Paman APIQ siap membantu belajar matematika dengan cara mudah melalui beragam media sosial: youtube, tiktok, facebook, ig, wa, telegram, dan lain-lain.

Sukses selalu untuk kita semua…!
http://www.yotube.com/pamanapiq

Lima Wacana Teori Quantum

Peraih nobel fisika tahun 2022 ini adalah tiga orang hebat yang meneliti teori quantum. Sekaligus, teori quantum ini membuktikan bahwa Einstein salah. Bagaimana Einstein bisa salah? Bukankah Einstein adalah orang paling jenius? Seberapa sulitkah teori quantum?

Saya akan membahas teori quantum ini dalam lima wacana. Einstein berada dalam wacana pertama yaitu kepastian. Bohr melangkah ke wacana kedua yaitu kebebasan. Dan, peraih Nobel 2022 mengkaji wacana ketiga yaitu rangkulan. Anda bisa bergerak lebih jauh dengan masuk wacana keempat yaitu rekayasa dan, lanjut, masuk wacana lima yaitu aktualisasi quantum.

Nobel Fisika; Sumber tempo.co

Einstein pernah mengatakan, “Tuhan tidak sedang bermain dadu.” Kritik yang tajam terhadap quantum. Karena, teori quantum bersifat tidak pasti. Seakan-akan, kita sedang main dadu. Teori quantum mengatakan kita bisa mendapat angka 1 atau 2 atau 3, 4, 5, atau 6. Tidak pasti. Menurut Einstein, jika kita punya ilmu yang sempurna maka, pasti, kita tahu angka yang akan kita peroleh dari setiap lemparan dadu.

Apakah Einstein benar? Terbukti, Einstein salah. Dengan makin lengkapnya ilmu, maka kita tetap tidak bisa melihat masa depan. Meski, hanya masa depan lemparan dadu. Tentu saja, benar dan salah yang kita maksud di sini adalah secara ilmiah. Yaitu, benar dan salah yang bisa direvisi seiring perkembangan sains.

1. Wacana Kepastian Quantum
2. Wacana Kebebasan Quantum
2.1 Model Ontic
2.2 Model Epistemik
2.3 Pasti atau Bebas
3. Wacana Rangkulan Quantum
3.1 Fenomena Pernikahan Mars
3.2 Noumena Pernikahan Mars
3.3 Realitas
4. Wacana Rekayasa Quantum
4.1 Epistemologi Ontologi
4.2 Bagaimana Rasanya Jadi Kelelawar
4.3 Naturalisme
4.4 Obyektivitas
4.5 Rekayasa
5. Wacana Aktualisasi Quantum
5.1 Quantum Electrodynamic
5.2 Relativitas Umum
5.3 Aktualisasi Manusia
5.4 Aktualisasi Semesta
5.5 Makna Eksistensi
6. Ringkasan Analisis

Mari kita mulai wisata dari wahana pertama, eh, wacana pertama.

1. Wacana Kepastian Quantum

Niels Bohr adalah orang pertama yang memberi solusi quantum kepada teori atom. Einstein setuju saja dengan solusi quantum Bohr ini. Mereka kompak pada wacana pertama ini, wacana kepastian. Tetapi, mereka berbeda tajam di wacana kedua, wacana kebebasan.

Rutherford, mendahului Bohr dan Einstein, berhasil menunjukkan bahwa atom tersusun oleh inti yang bermuatan positif dan dikelilingi oleh elektron-elektron bermuatan negatif yang terus bergerak mengitari inti. Inti atom, misalkan, mirip bumi. Dan elektron, misalkan, mirip rembulan yang terus mengitari bumi. Karena gaya tarik inti yang positif terhadap elektron negatif yang sangat kuat, maka, dalam sekejap elektron akan jatuh menempel ke inti. Atom jadi runtuh. Tetapi, realitasnya, atom tidak runtuh kan?

Bohr memberi solusi pasti: elektron tidak runtuh karena stabil mengitari inti. Elektron menjadi stabil, tanpa kehilangan energi, ketika lintasannya sesuai kelipatan bilangan utama.

Mengapa begitu? Karena harus begitu, secara apriori. Argumen apriori dari Bohr berhasil menyelesaikan banyak masalah. Dan, berhasil membuka jalan perkembangan teori quantum lebih pesat. Secara filosofis, argumen apriori seperti itu dikenal sebagai argumen transendental yang dikembangkan Immanuel Kant satu abad menjelang masa Bohr.

Louis de Broglie menguatkan teori atom Bohr dengan formula gelombang. Elektron mengitari inti atom pasti stabil ketika keliling lintasannya merupakan kelipatan sempurna dari panjang gelombang. Sampai di sini, wacana quantum berhasil menjadi wacana ilmu pasti. Mirip dengan fisika Newton dan matematika yang masuk kategori sebagai ilmu pasti. Tetapi, wacana quantum tidak mau berhenti. Justru bergerak menuju wacana kebebasan yang penuh tanda tanya.

2. Wacana Kebebasan Quantum

Kucing Schrodinger adalah kucing quantum. Kucing yang berada dalam kotak dengan kondisi setengah hidup dan setengah mati. Bagi wacana kepastian, kucing Schrodinger pasti sudah mati atau pasti masih hidup. Bagi wacana kebebasan quantum, kucing itu tidak-pasti hidup atau mati. Atau, kucing itu, sejatinya, belum ada. Kucing itu menjadi ada karena ada pengamat. Dan, kucing itu sendiri bebas mau hidup atau mau mati. Tidak ada pengaruh dari luar yang bisa memastikan kucing itu hidup atau mati.

Kucing Schrodinger, awalnya, adalah eksperimen pikiran untuk menunjukkan bahwa interpretasi teori quantum salah atau tidak masuk akal. Pada akhirnya, kucing Schrodinger justru mejadi ilustrasi paling jelas tentang realitas quantum yang indeterministik, atau bebas, atau wacana kebebasan.

Schrodinger berhasil menyusun formula quantum paling penting berupa fungsi gelombang. Kelak, dikenal sebagai gelombang quantum atau gelombang Schrodinger. Gelombang Schrodinger ini mirip dengan fungsi posisi pada fisika klasik Newton. Hanya saja, bagi Newton sudah jelas fungsi posisi menyatakan posisi dari suatu obyek fisika. Tetapi, fungsi gelombang Schrodinger menyatakan apa?

Gelombang Schrodinger memang menyatakan posisi tetapi tidak secara langsung. Sederhananya, kuadrat dari gelombang Schrodinger menyatakan probabilitas ditemukannya partikel quantum di posisi dan di waktu tertentu. Karena obyek kajian quantum adalah sub-atomik, misal elektron atau foton, probabilitas bermakna probabilitas eksistensi. Probabilitas 50% ditemukan elektron bermakna bahwa elektron bisa eksis dengan peluang 50% dan peluang tidak eksis juga 50%.

Ilustrasi kucing Schrodinger sebagai kucing quantum dengan probabilitas 50% bermakna bahwa kucing itu eksis 50%. Apa interpretasinya?

2.1 Model Ontic

Bohr meyakini gelombang Schrodinger adalah model ontic dari realitas quantum. Kelak, interpretasi Bohr, dan Heisenberg, dikenal sebagai interpretasi Copenhagen.

Kucing tersebut 50% eksis dan 50% tidak eksis di dalam kotak. Jadi, kucing itu berimbang antara ada dan tiada. Apa yang bisa memastikan agar kucing itu menjadi ada atau tiada? Apa yang menjadikan kondisi berimbang itu runtuh? Teori gelombang Schrodinger tidak bisa menjawab ini. Teori quantum hanya bisa menyatakan bahwa kondisi tersebut berimbang. Teori quantum adalah indeterministik. Kucing quantum berada dalam wacana kebebasan.

Tidak masuk akal. Mana mungkin kucing dalam kondisi ada dan tiada!?

Pengamatan, atau suatu gangguan, bisa meruntuhkan keseimbangan. Misal, kucing menjadi ada dalam kotak karena kotak dibuka oleh pengamat. Tetapi, pengamat tidak bisa memastikan arah runtuh itu akan ke arah ada atau tiada. Dalam dirinya sendiri, kucing bebas untuk menjadi ada atau tiada.

2.2 Model Epistemik

Einstein meyakini gelombang Schrodinger adalah model epistemik. Einstein menolak interpretasi Copenhagen. Schrodinger sendiri menolak Copenhagen. Schrodinger sepakat dengan Einstein.

Teori quantum adalah formula epistemik. Teori quantum menyatakan pengetahuan kita yang bersifat probabilistik, misal 50%. Sementara, realitasnya sendiri sudah bersifat pasti. Misal, kucing itu sudah pasti ada dalam kotak tetapi pengetahuan kita hanya 50% untuk meyakininya.

Jadi, bagi Einstein dan Schrodinger, kucing itu sudah pasti – misal pasti ada dalam kotak. Kucing itu berada dalam wacana kepastian. Tetapi, pengetahuan kita berdasar teori quantum tidak-lengkap. Sehingga, kita tidak bisa mengetahui eksistensi kucing itu dengan pasti. Jika kita bisa melengkapi teori quantum maka kita akan memperoleh pengetahuan yang lengkap dan bersifat pasti.

2.3 Pasti atau Bebas

Bohr atau Einstein yang benar? Realitas sudah pasti atau belum? Pengetahuan kita, memang, tidak sempurna. Tetapi, pengetahuan kita memadai untuk memastikan eksistensi suatu realitas tertentu. Wacana kepastian atau kebebasan?

Intuisi kita cenderung mendukung Einstein – realitas sudah pasti ada kucing atau tidak. Tetapi, eksperimen sains fisika menunjukkan bahwa interpretasi Bohr yang benar. Einstein salah. Wacana kepastian salah, dalam kasus ini. Dan, wacana kebebasan yang benar. Jadi, di dalam kotak itu, berimbang antara ada kucing dan tiada kucing. Kucing Schrodinger bebas untuk menjadi ada atau tiada.

3. Wacana Rangkulan Quantum

Hadiah Nobel fisika 2022 dimenangkan oleh periset tentang kajian quantum-entanglement atau wacana rangkulan quantum. Foton, fenomena sub-atomik, berperilaku saling merangkul, entanglement. Foton A menghadap ke kanan, misal, selalu merangkul foton B yang menghadap ke kiri. Jika A dekat dengan B, maka, ketika kita melihat A sedang menghadap ke kanan, pasti, B menghadap ke kiri.

Selanjutnya, kita memisahkan A dengan membawanya ke Mars dan B ke Venus. Saat dipisahkan, baik A dan B, belum menghadap ke kanan atau ke kiri. Tiba di Mars, kita amati A menghadap ke kanan, saat itu juga, B menghadap ke kiri di Venus. Bagaimana A bisa mengirim informasi ke B secara spontan? Karena A merangkul B secara quantum. Quantum entanglement. Meski A bebas ke kanan atau ke kiri, begitu juga B sama-sama bebas. Ketika A menghadap ke kanan, spontan, B menghadap ke kiri.

Ilustrasi pernikahan Mars dan Venus barangkali bisa lebih menjelaskan rangkulan quantum. Marjo adalah lelaki ganteng di Mars dan Veni adalah gadis cantik di Venus. Marjo berikrar, di Mars, “Aku menikahimu!” Saat itu, Marjo berubah status menjadi suami di Mars, saat yang sama, Veni berubah status menjadi istri di Venus. Perubahan status itu terjadi secara spontan. Lebih cepat dari kecepatan cahaya!? Melanggar postulat relativitas khusus dari Einstein?

Bagaimana bisa ketika Marjo berubah status jadi suami, spontan, Veni berubah status jadi istri? Karena Marjo merangkul Veni secara quantum. Meski mereka terpisah jarak ribuan kilometer antara Mars dan Venus, rangkulan quantum ini tetap terjadi secara spontan.

Tentu saja Einstein tidak mau terima ada kejadian spontan seperti itu. Bohr membantah Einstein. Kata Bohr, “Begitulah realitas quantum.”

3.1 Fenomena Pernikahan Mars

Mari kita cermati ilustrasi pernikahan Mars secara fenomena dan noumena, mengikuti berpikir filosofis model Kant.

Fenomena adalah dunia penampakan yang kita amati sehari-hari. Proses pernikahan, misal, kita perjelas dengan melibatkan Marjo di Mars, wali di Mars, Veni di Venus, dan pengamat ada di berbagai tempat.

Kejadian di Mars disiarkan secara live-streaming online.

Wali, “Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Veni, putriku.”

Beberapa detik kemudian,

Marjo, “Saya terima nikahnya.”

Marjo berubah status menjadi suami. Beberapa milidetik kemudian, pengamat, termasuk kita, mengetahui perubahan status Marjo. Veni, di Venus, adalah pengamat seperti kita. Veni, kemudian, menyadari bahwa dirinya berubah status menjadi seorang istri.

Semua proses fenomena di atas memerlukan waktu untuk adanya perubahan. Kecepatan perubahan tidak bisa melebihi kecepatan cahaya. Kecepatan siaran live streaming dari Mars mencapai Venus juga tidak bisa melebihi kecepatan cahaya. Perlu waktu orde mili-detik atau mikrodetik, barangkali.

Einstein setuju dengan fenomena seperti itu. Bohr barangkali bisa setuju tapi tidak seperti itu. Einstein dan Bohr beda pendapat lagi di sini. Bagi Bohr, perubahan status menjadi istri adalah noumena.

3.2 Noumena Pernikahan Mars

Perubahan noumena bisa terjadi spontan tanpa perlu waktu karena berada dalam rangkulan quantum, atau quantum-entanglement.

Bagi Bohr, ketika Marjo berikrar, “Saya terima nikahnya,” maka Marjo berubah status menjadi suami, dan spontan secara noumena, Veni jadi istri.

Tidak diperlukan jeda waktu antara Marjo jadi suami dan Veni jadi istri. Jelas juga, tidak mungkin Marjo jadi suami jika tidak ada istri yaitu Veni. Suami dan istri adalah suatu relasi rangkulan quantum. Begitu suami eksis, maka di saat yang sama, istri juga eksis.

Einstein bisa memahami penjelasan noumena yang masuk akal seperti itu. Einstein mengajukan pertanyaan,

“Ketika kita mengkaji quantum, apakah sedang mengkaji fenomena empiris fisika atau noumena teoritis?”

3.3 Realitas

Pertanyaan Einstein menyadarkan kita untuk kembali memikirkan hakikat dari realitas. Tentu saja, sains fisika mengkaji realitas secara teoritis dan empiris.

Realitas empiris adalah realitas yang sehari-hari kita amati. Misal, air dengan volume 2 liter. Fisika Newton dengan bagus membahas realitas empiris ini, secara matematis. Kita bisa menyebut sebagai dunia fenomena.

Realitas abstrak adalah realitas yang terbebas dari ruang dan waktu. Misal, 2 + 1 = 3 dalam operasi bilangan bulat. Kapan pun dan di mana pun bernilai benar 2 + 1 = 3. Seorang anak kecil, barangkali butuh waktu berproses memahami 2 + 1 = 3. Tetapi, sejatinya, realitas abstrak itu terbebas dari ruang dan waktu. Kita bisa menyebutnya sebagai dunia noumena.

Realitas tak-teramati atau unobservable. Misal, atom dan elektron adalah tak teramati. Tetapi, efeknya kita rasakan secara empiris. Kita minum air menjadi terasa segar dan nikmat. Air adalah atom hidrogen dan oksigen, membentuk senyawa, yang tersusun oleh inti dan elektron.

Tidak ada orang yang pernah melihat elektron. Einstein, Bohr, dan para peraih Nobel juga tidak bisa melihat elektron. Meski tak-teramati wujud fisik elektron, efek dari elektron teramati dengan jelas sehingga kita bisa membuat model matematisnya. Para ilmuwan sepakat dengan model matematis yang koheren. Sejauh, model matematis itu berada dalam wacana kepastian quantum. Tanda tanya menjadi bertebaran ketika model matematis masuk wacana kebebasan dan rangkulan quantum.

Kita bisa berharap bahwa akan banyak pertanyaan-pertanyaan fundamental yang muncul dari kajian quantum. Apakah Einstein dan Bohr akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental tersebut? Saya yakin, mereka akan ragu-ragu.

Einstein tampak lebih nyaman dengan wacana kepastian. Einstein menyatakan bahwa teori quantum sebagai tidak-lengkap. Masih ada yang tersembunyi yaitu hidden-variable. Jika hidden-variable ini ditemukan maka teori quantum menjadi lengkap dan sesuai wacana kepastian.

Bohr, di sisi lain, lebih tertarik kepada wacana kebebasan atau indeterministik. Pengetahuan kita terhadap obyek sub-atomik tidak pernah bersifat pasti. Karena, karakter realitas quantum memang tidak deterministik. Sejauh ini, teori quantum lebih banyak mendukung pandangan Bohr.

Secara ringkas, Einstein ingin mengarahkan kajian quantum fokus ke realitas empiris atau fenomena. Jika masuk ke domain noumena maka perlu ke wacana kepastian. Tetapi, Bohr lebih terbuka. Jika masuk domain noumena, quantum boleh masuk ke wacana kebebasan.

Agar makin lengkap, mari kita lanjut ke wacana rekayasa dan aktualisasi.

4. Wacana Rekayasa Quantum

Rekayasa menjadi kajian utama umat manusia, engineering. Tetapi, wacana rekayasa quantum bergerak lebih jauh. Meski Anda bukan seorang tukang-insinyur, sejatinya, Anda me-rekayasa banyak hal.

Wajar, ketika ingin berteduh maka kita membangun rumah. Manusia me-rekayasa alam menjadi rumah sesuai kebutuhan manusia. Tetapi, kebutuhan akan rumah itu diakibatkan oleh alam yang panas terik dan hujan deras. Jadi, kebutuhan manusia direkayasa oleh alam. Pihak siapa yang memulai rekayasa semua itu?

Kita tahu bahwa alam dan kebutuhan manusia saling berinteraksi. Di saat yang sama, kita, sebagai manusia, mampu bersikap spontan dengan mengambil keputusan bebas. Saya memutuskan untuk tidak membangun rumah, misalnya, cukup dengan menyewa saja.

Bagaimana keputusan bebas seperti itu bisa terjadi? Apakah benar-benar bebas? Apakah kajian quantum yang mendalam akan berhasil mengungkap misteri itu?

4.1 Epistemologi Ontologi

Ketidak-pastian Heisenberg memastikan bahwa kita tidak akan mampu mengetahui fenomena dengan akurat 100%. Selalu, ada ketidak-pastian dalam pengamatan. Setiap pengamatan ikut me-rekayasa obyek pengamatan itu sendiri. Epistemologi berpengaruh kepada ontologi.

Sementara, kuncing Schrodinger nenunjukkan bahwa realitas obyektif itu “belum” ada ketika tidak ada pengamatan. Kucing itu menjadi ada hidup, atau menjadi mati, setelah ada pengamatan. Secara ontologis, realitas itu belum eksis jika tanpa pengamat. Tindakan kita mengamati menjadi proses rekayasa sehingga tercipta realitas kucing hidup misalnya.

Bisakah terjadi sebaliknya? Maksudnya, karena ada kucing maka saya menjadi ada sebagai pengamat? Tentu saja, itu yang terjadi. Kita menjadi eksis sebagai pengamat karena ada kucing yang diamati.

Tetapi, selama ini, kita berasumsi bahwa kita sudah benar-benar ada sebelum ada kucing itu. Meski itu benar, itu adalah suatu pembahasan yang berbeda. Diri kita memang sudah ada tetapi belum eksis sebagai pengamat-kucing. Pertanyaan bisa berlanjut, mengapa kita jadi ada di dunia ini?

Kita menjadi ada karena ada ibu yang melahirkan diri kita. Tetapi dari mana ibu bisa ada? Ibu ada karena melahirkan diri kita sebagai anaknya. Tanpa melahirkan anak, barangkali, beliau adalah seorang istri, bukan seorang ibu. Lengkap sudah, kita berada dalam rangkulan alam raya. Kita berada dalam rangkulan quantum lengkap dengan tanda tanya epistemologi dan ontologi. Selanjutnya, kita cermati proses rekayasa quantum.

4.2 Bagaimana Rasanya Jadi Kelelawar

Nagel mengajukan pertanyaan, “Bagaimana rasanya jadi kelelawar?”

Kita tahu, kelelawar tidak memiliki mata, sebagaimana mata manusia. Sehingga, kelelawar tidak menikmati hijaunya hutan, birunya langit, atau pun, gelapnya malam. Kelelawar memiliki detektor gelombang suara, ultrasonik, untuk menentukan lokasi, jarak, dan obyek. Jadi, kelelawar memandang dunia dengan cara yang berbeda dengan manusia. Bagaimana rasanya?

Obyek yang sama, misal buah jambu, akan dipersepsi berbeda oleh kelelawar dan manusia. Bagaimana dengan obyek sub-atomik, misalnya elektron? Bagaimana kelelawar memandang elektron? Buah jambu tersusun oleh hidrokarbon yang di dalamnya ada inti atom dan elektron. Jadi, kelelawar berinteraksi dengan elektron juga sebagai mana manusia. Apakah kelelawar menganggap elektron bermuatan negatif seperti kita?

4.3 Naturalisme

Kita memaknai jambu sebagai buah segar dari sudut pandang diri kita sebagai manusia. Kelelawar memaknai jambu secara berbeda sesuai persepsi ultrasoniknya. Kita berasumsi bahwa posisi bisa ditukar. Maksudnya, jika kita sebagai kelelawar maka kita akan memaknai jambu sesuai persepsi ultrasonik. Sementara, jika kelelawar itu berubah jadi manusia maka dia akan memaknai jambu dari perspektif manusia. Jambu itu sendiri, sebagai jambu apa adanya, adalah realitas obyektif.

Benarkah demikian? Benar. Jambu adalah obyektif. Pandangan seperti ini kita kenal sebagai naturalisme. Atau lebih sempit, kita sebut sebagai bald-naturalism. Bagaimana pun, masih banyak tanda tanya dalam bald-naturalism.

Manusia berbeda dengan kelelawar dalam beberapa aspek ketika merespon buah jambu. Pertama, manusia memberi nama obyek tersebut sebagai jambu. Sementara, kelelawar tidak tampak memberi nama terhadap obyek. Dengan menisbatkan nama kepada obyek, manusia merespon jambu dengan kekayaan bekal. Jambu adalah buah yang segar, nikmat, dan menyehatkan. Kita bisa menjual jambu tersebut untuk meraih laba kemudian uangnya bisa untuk bersenang-senang. Manusia melakukan interpretasi jauh, bahkan sangat jauh, dari realitas jambu yang ada di depannya.

Kedua, manusia bisa melakukan interpretasi terhadap jambu secara ilmiah. Kita bisa meneliti budidaya jambu atau rekayasa genetika terhadap jambu. Dan tentu saja, kita bisa mengkaji jambu sampai kepada struktur sub-atomik dengan sudut pandang quantum. Kita bisa melakukan interpretasi quantum.

Ketiga, dari beragam interpretasi, manusia memberi respon lanjutan. Seperti kita sebut di awal, manusia merespon kajian quantum-entanglement dengan hadiah Nobel fisika di 2022. Respon ini disambut balik oleh para peneliti dengan lebih semangat mengkaji rangkulan-quantum. Termasuk, saya menulis wacana quantum di sini. Kejadian seperti ini adalah rekayasa oleh manusia. Hanya jenis interpretasi tertentu yang mendapat respon lanjutan secara memadai.

Manusia memaknai alam dan sekaligus me-rekayasa alam. Sehingga, konsep nature tidak hanya berupa nature obyektif yang selama ini dibatasi oleh bald-naturalism. Kita perlu menambahkan dengan konsep nature-kedua: interpretasi dan rekayasa. Kita perlu bergeser dari bald-naturalism ke wide-naturalism.

4.4 Obyektivitas

Einstein menolak deskripsi QM tentang quantum-entanglement. Einstein terbukti salah. Yang benar adalah kita perlu menerima deskripsi QM tentang quantum-entanglement atau rangkulan-quantum. Tetapi, apakah, dengan demikian, teori rangkulan-quantum adalah obyektif? Benar. Obyektif.

Tentu saja, makna dari benar dan obyektif adalah sebagaimana konsep wide-naturalism. Sementara, di sisi lain, bila seseorang berkeras ingin tetap hanya dalam domain bald-naturalism, tampaknya, dia perlu meluaskan beragam perspektif.

Ketika naturalisme terbuka terhadap interpretasi dan rekayasa, maka, kriteria apa yang bisa kita pakai untuk menentukan sesuatu sebagai baik atau buruk, bahkan benar atau salah? Pertanyaan ini bersifat normatif. Naturalisme mampu menjawabnya dengan baik. Kita akan membahasnya di bagian wacana aktualisasi. Sekaligus, kita akan mengkaji ulang konsep obyektivitas. Berikut ini, kita akan membahas lebih fokus, untuk sementara, ke rekayasa quantum itu sendiri.

4.5 Rekayasa

Kita bisa membagi rekayasa quantum menjadi tiga tingkat. Pertama, rekayasa awal yaitu terjadi ketika kita mulai berinteraksi dengan alam, kemudian, memberi interpretasi dan rekayasa terhadap alam. Rekayasa awal ini menghasilkan sistem bahasa sampai sains yang mengantarkan manusia pada kajian teori quantum.

Kedua, rekayasa sosial di mana topik-topik kajian tertentu mendapat respon sosial. Respon bisa berupa apresiasi sederhana, penghargaan, sampai pendanaan. Dengan rekayasa sosial, dukungan masyarakat, maka teori quantum makin berkembang.

Ketiga, rekayasa teknologi sampai eksploitasi tingkat tinggi. Dengan sengaja, sekelompok peneliti mengembangkan rekayasa berbasis pada teori quantum. Saat ini, mulai berkembang quantum-information dan quantum-computing. Sementara, penerapan rekayasa quantum tersebut terbuka secara luas.

Quantum Information

Quantum-information adalah teori informasi yang didasarkan pada state-quantum. Secara prinsip, quantum-informasi adalah padanan dari teori informasi digital. Sehingga, segala yang terbukti valid dalam teori informasi digital memiliki padanan di quantum-information.

Quantum bit, disingkat qubit, adalah padanan dari bit. Gerbang-quantum adalah padanan dari gerbang logika. Kita bisa melakukan “manipulasi” qubit layaknya manipulasi bit digital. Secara umum, keunggulan qubit adalah lebih efisien. Sehingga, cukup menarik untuk pertimbangan komersial.

Bagaimana pun, tetap ada perbedaan unik yang hanya ada pada qubit. Terdapat lima teorema yang menjadi batasan qubit, sekaligus, bisa menjadi keunggulan.

(1) no-teleportation theorem, which states that a qubit cannot be (wholly) converted into classical bits; that is, it cannot be fully “read”.

Tanpa-teleportasi menjadi keunggulan bila kita bermaksud menjaga informasi agar tidak dibaca oleh sebarang orang. Tetapi, menjadi kendala bila kita bermaksud informasi tersebut untuk dibaca publik

(2) no-cloning theorem, which prevents an arbitrary qubit from being copied.

Tanpa-kloning menjadi keunggulan bila kita bermaksud menjaga informasi agar tidak digandakan. Menjadi kendala bila kita bermaksud menyebar informasi agar viral.

(3) no-deleting theorem, which prevents an arbitrary qubit from being deleted.

Tanpa-delete menguntungkan bila kita bermaksud “mengabadikan” informasi. Lagi-lagi menjadi kendala bila kita bermaksud mengoreksi informasi.

(4) no-broadcast theorem, which prevents an arbitrary qubit from being delivered to multiple recipients, although it can be transported from place to place (e.g. via quantum teleportation).

Tanpa-broadcast, lagi-lagi menjadi keunggulan bila kita bermaksud mengamankan informasi dan bisa sebaliknya.

(5) no-hiding theorem, which demonstrates the conservation of quantum information.

Tanpa-sembunyi menjadi keunggulan bila hendak mengabadikan informasi dan bisa sebaliknya.

Quantum Computing

Quantum computing lebih efisien dari komputasi digital biasa karena quantum computing mengandalkan qubit dan lebih cepat karena “komunikasi” rangkulan-quantum terjadi secara spontan. Tidak ada jeda waktu sama sekali dalam proses komunikasi. Saat ini, quantum computing masih dalam tahap riset, belum komersial secara umum. Riset quantum computing menjadi bidang kajian yang sangat aktif.

Apakah tidak ada resiko quantum computing karena teori quantum belum benar-benar matang?

Tidak ada resiko signifikan secara teknologi. Tentu saja, secara moral, banyak resiko yang perlu dikaji.

Quantum computing mengandalkan teori-teori quantum yang sudah teruji saja, lengkap dengan margin errornya. Sementara, teori quantum yang masih bersifat spekulatif tidak harus diimplementasikan dalam bentuk teknologi.

Terbuka peluang bagi peneliti yang berani ambil resiko untuk menerapkan teori quantum spekulatif ke teknologi. Menariknya, kajian teori quantum spekulatif memerlukan teknologi pengukuran yang canggih, yang belum ada saat ini. Jadi, perkembangan teori quantum bergantung kepada perkembangan teknologi, di saat yang sama, perkembangan teknologi bergantung kepada perkembangan teori quantum. Lagi-lagi, terjadi rangkulan-quantum.

5. Wacana Aktualisasi Quantum

Jadi, apa sejatinya realitas quantum itu? Realitas quantum adalah aktualisasi.

Manusia mengaktualisasi kapasitas konseptualnya berupa realitas obyektif. Alam raya mengaktualisasi berupa realitas obyektif. Kita bisa memperluas ke domain teologi. Tuhan mengaktualisasi maka tercipta seluruh realitas yang ada.

Realitas quantum adalah aktualisasi dari manusia dan alam raya.

5.1 Quantum Electrodynamic

Dirac (1902 – 1984) mengembangkan konsep quantum electrodynamic (QED) berdasar formula matematika yang indah. Foton “melompat” dari tiada menjadi ada. Foton bisa “melompat” dari medan hampa menjadi eksistensi suatu foton. Formula matematika yang indah dari QED ini menandai lahirnya teori quantum baru yaitu quantum field theory (QFT).

Bagaimana foton bisa “melompat”? Bagaimana foton bisa “mengaktualisasi” diri dari hampa?

Pertama, teori quantum berkembang secara terpisah dari relativitas. Sehingga, quantum tidak mempertimbangkan, saat itu, bahwa kecepatan maksimal adalah c yaitu kecepatan cahaya di ruang hampa. QFT mencoba menerapkan relativitas terhadap teori quantum.

Kedua, QFT mengambil posisi medan (elektromagnetik) sebagai fundamental kajian. QFT mengkaji medan secara quantum dan relativitas.

Ketiga, gelombang elektromagnetik bisa menjalar melalui ruang hampa. Maka, QFT mengkaji ruang hampa. Secara formula matematika, tidak mungkin untuk menciptakan ruang hampa. Karena, dalam ruang hampa selalu ada riak kecil, osilasi, yang mendekati nol tetapi tidak nol.

Riak kecil itu akan tetap menjadikan ruang hampa tampak seperti ruang hampa. Tetapi, bila ada sedikit “gangguan internal” maka riak kecil itu bisa berubah menjadi lompatan yang menghasilkan foton. Dengan demikian, terciptalah foton dari ruang hampa. Foton mengaktualisasikan diri dalam ruang hampa. Lahirlah, secara teoritis kemudian praktis, QED yang merupakan generasi pertama dari QFT.

Bagaimana dengan proton dan neutron, apakah bisa tercipta “melompat” dari ruang hampa seperti foton? Jawaban singkatnya: bisa. Meski kita memerlukan teori yang lebih canggih dengan melibatkan quark dan boson.

Bagaimana dengan manusia, meja, atau benda-benda berukuran besar, apakah bisa tercipta “melompat” dari ruang hampa?

Tidak bisa. Dari ruang hampa, tidak bisa tiba-tiba tercipta “melompat” seorang manusia seperti Anda. Manusia hanya bisa “melompat” dari rahim ibunya.

Tentu saja, kita bisa menganalisis bahwa badan manusia terdiri dari elektron, proton, neutron, dan partikel elementer lainnya. Elektron pada badan manusia itu bisa saja tercipta “melompat” dari ruang hampa. Jadi, badan manusia bisa saja tercipta “melompat” dari ruang hampa. Bagaimana dengan pikiran manusia?

QFT sukses pada akhir 1920an, 1930an, dan 1940an. Bahkan, Feyman (1918 – 1988) melengkapi dengan jalur integral quantum yang intuitif – di samping formula matematika yang cantik. Tetapi, 1950 – 1960an, QFT ditinggalkan banyak orang lantaran QFT tidak berhasil menjelaskan interaksi gaya nuklir lemah dan nuklir kuat.

Setelah 1960 dan 1970, berkembang QCD (quantum chromodynamic) yang berhasil menjelaskan fenomena nuklir-lemah dan nuklir-kuat, salah satunya oleh Abdus Salam. QFT bangkit lagi dilengkapi dengan QCD dan QED. Bahkan, QFT berhasil memprediksi, secara matematis, eksistensi Higgs-Boson pada tahun 1964. Pada tahun 2012, baru terbukti benar eksistensi Higgs-Boson secara empiris. Beberapa orang menyebut Higgs-Boson adalah partikel-Tuhan. Higgs-Boson adalah yang bertanggung jawab “terciptanya” massa materi. Higgs-Boson adalah yang memberi massa dari “sesuatu” yang semula tidak punya massa.

Dengan sukses besar itu, QFT dikenal sebagai model-standar. Tetapi, QFT lebih luas dari model-standar. Masih ada model-model lain misal teori String dan Loop Quantum Gravity (LQG). Bagaimana pun, QFT memiliki masalah besar: QFT tidak melibatkan gaya gravitasi. Atau, dengan kata lain, QFT tidak mampu menjelaskan gravitasi. Saatnya, kita menengok Einstein: relativitas-umum.

5.2 Relativitas Umum

Einstein merumuskan relativitas-umum pada tahun 1915 sebagai penengah, secara kronologis, quantum-lama dan quantum-baru. Teori quantum-lama hadir 1900 oleh teori quanta dari Planck. Teori quantum-baru hadir 1927 oleh teori ketidak-pastian Heisenberg. Bagaimana pun, relativitas-umum tetap terpisah dari teori quantum.

Relativitas-umum menyatakan bahwa massa bersatu-padu dengan ruang waktu. Massa-materi yang besar mampu membelokkan ruang-waktu. Gerhana matahari 1919 terbukti menguatkan prediksi relativitas-umum yaitu massa matahari yang besar mampu membelokkan ruang sehingga membelokkan cahaya yang melintas di dekatnya.

Jadi, bagaimana alam semesta ini bisa menjadi aktual menurut relativitas-umum?

Alam semesta ini menjadi aktual melalui peristiwa big bang yang sangat terkenal itu. Sebelum big bang, massa alam semesta yang sangat besar itu berkumpul di “satu titik” yang sangat rapat, sampai tidak ada ruang dan tidak ada waktu, semua terikat erat di “satu titik” itu. Kemudian terjadi ledakan besar: big bang. Tercipta materi yang mengembang, ruang, dan waktu. Proses berikutnya, terjadi evolusi alam raya sampai hadir makhluk hidup di bumi dan sampai pada Anda membaca tulisan ini.

Banyak orang merasa puas dengan penjelasan ilmiah teori relativitas-umum seperti di atas. Tetapi, Einstein sendiri masih tidak puas. Di satu sisi, masih banyak fenomena yang tidak bisa dijelaskan. Di sisi lain, solusi relativitas-umum menimbulkan banyak problem baru misal lorong waktu.

Pertanyaan lebih fundamental: mana yang lebih basit, lebih mendasar, materi atau ruang atau waktu?

Jawaban Einstein adalah medan. Materi, ruang, dan waktu adalah aktualisasi dari medan.

Medan apa yang paling fundamental: elektromagnetik, nuklir-lemah, nuklir-kuat, atau gravitasi?

Jawaban Einstein adalah tidak menjawab. Einstein tidak memilih salah satu dari teori medan yang tersedia. Tetapi, di salah satu tulisannya, Einstein menyebut medan paling basit adalah gravitasi. Saya mencermati tulisan Einstein itu, dia menggunakan istilah “gravitasi” berbeda dengan umumnya. Gravitasi paling basit ini mengaktualisasi menjadi elektromagnetik, nuklir-lemah, nuklir-kuat, dan gravitasi.

Secara lebih luas, gravitasi basit ini juga yang aktual menjadi kehidupan, pikiran, dan rasa pada seluruh makhluk hidup termasuk manusia. Gravitasi basit adalah dasar dari segalanya. Sampai akhir hayatnya, Einstein berjuang untuk menyempurnakan persamaan medan yang menggambarkan gravitasi basit ini. Einstein wafat dalam proses perjuangan ini pada tahun 1955.

Loop Quantum Gravity

Generasi berikutnya mencoba melanjutkan misi Einstein. Relativitas-umum sulit menemukan solusi persamaan medan karena tidak memasukkan teori quantum. Dengan kata lain, medan gravitasi selama ini adalah medan kontinyu. Dengan mengubah medan kontinyu menjadi medan diskrit, dengan quantifikasi, kita berharap bisa memperoleh solusi umum sekaligus menyatukan relativitas dan quantum: loop quantum gravity (LQG).

LQG membuat quantifikasi dengan cara “memotong” medan kontinyu menjadi loop-loop yang kecil. Loop kecil ini diharapkan berperilaku sebagai quanta sesuai teori quantum. Sehingga, jika berhasil, LQG berhasil menjelaskan teori quantum secara mikrokospik dan berhasil menjelaskan kosmologi secara makroskopik.

Tantangan besar masih ada di depan kita. Pertama, mencari solusi persamaan medan yang asli, kontinyu, saja kita belum berhasil sampai saat ini. Ditambah harus memenuhi kriteria loop maka menjadi lebih sulit lagi secara matematis. Barangkali di masa depan, akan diperoleh solusi di luar dugaan. Kedua, secara empiris sulit mendeteksi signifikansi gravitasi pada skala mikroskopik. Dengan dipotong-potong menjadi loop, tampaknya, lebih sulit lagi untuk menjadi signifikan.

Teori String

Kita bisa mengembangkan alternaif solusi dengan arah berbeda. Mengembangkan teori quantum agar mencakup teori gravitasi relativitas-umum. Kita mengenalnya sebagai teori String.

String adalah partikel dimensi satu yang lebih elementer dari partikel elementer. String-string ini, dipostulatkan, kemudian, adalah yang aktual menjadi partikel elementer elektron, quark, mau pun boson. Demikian juga, string-string ini yang aktual menjadi graviton yaitu partikel pembawa gaya gravitasi. Ide yang sangat menarik! Teori String, jika berhasil, menyatukan teori quantum dengan relativitas umum.

Tantangan, seperti biasa, ada di depan kita. Pertama, dengan obyek partikel elementer yang standar saja kita mengalami kesulitan menangani beragam paradoks quantum. Apalagi dengan string, yang lebih elementer dari partikel, maka kita akan mengalami paradoks yang lebih sulit lagi. Kedua, secara empiris, kita sulit mendeteksi graviton. Apalagi mendeteksi string yang lebih kecil dari graviton. Ketiga, beberapa solusi teori String berhasil dikonstruksi. Solusi ini menuntut eksistensi ruang-waktu yang lebih besar dari 4 dimensi, misal 11 dimensi. Tentu, tidak mudah memahami ruang-waktu dalam 11 dimensi. Keempat, seandainya ditemukan solusi teori String, bagaimana dengan asal-mula ruang waktu? Maksudnya, string diasumsikan berada dalam ruang-waktu, maka, bagaimana pun, ruang-waktu lebih fundamental dari string itu sendiri.

Tidak masalah dengan adanya tantangan bagi teori String mau pun LQG. Memang demikianlah adanya. Filsafat dan sains selalu berhadapan dengan masalah demi masalah. Justru, itulah yang mendorong pertumbuhan. Hanya saja, dari uraian di atas, kita melihat beda sudut pandang antara Einstein dengan LQG dan String. Einstein mencoba mengkaji medan basit. Sementara, LQG dan String mengkaji medan gravitasi mirip dengan gravitasi Newton.

Demikian juga, kita bisa kembali mencermati Dirac. Dengan berani, Dirac merumuskan formula matematika mendeskripsikan bagaimana foton tercipta “melompat” dari ruang hampa menjadi aktual. Karakter “lompatan” ontologi aktual ini sulit kita temukan dalam kajian-kajian generasi berikutnya. Jadi, kita masih akan melanjutkan penyelidikan: apa itu aktualisasi quantum?

5.3 Aktualisasi Manusia

Manusia mengaktualisasi diri di alam ini. Manusia menjadi aktual dengan kesadaran sebagai subyek lengkap dengan badan dan beragam fakultas. Secara biologis, manusia hadir dari orang tuanya, dari ayah dan ibunya. Tetapi, bagaimana manusia pertama menjadi aktual?

Kita bisa mengikuti teori evolusi untuk sampai pada kesimpulan hadirnya manusia pertama. Bagaimana pun, teori evolusi masih banyak pro dan kontra. Di saat yang sama, antara fakta ilmiah dan interpretasi ilmiah berjalin kelindan dalam teori evolusi. Sehingga, bagi kepentingan kita di sini, kecil harapan kita mendapat solusi dari teori evolusi. Biarlah teori evolusi masih terus evolusi.

Alternatifnya, kita bisa mengkaji fenomena yang ada di depan kita. Bagaimana manusia bisa aktual menjadi janin bayi yang semula sel telor dan sel sperma? Bagaimana manusia bisa aktual sebagai manusia dengan kesadaran subyektif sebagai manusia dewasa?

Kita bisa bertanya sedikit mundur, “Bagaimana ibu bisa memproduksi sel telor dan bapak memproduksi sel sperma?” Karena sel telor mau pun sel sperma adalah materi fisikal, tentu, melibatkan teori quantum dalam proses fisika tersebut. Sejauh ini, saya belum menemukan kajian ilmiah tentang proses quantum yang terlibat.

Mari melangkah maju. Anggap sudah tersedia sel telor dan sel sperma, kemudian, menyatu sampai mengaktualisasi janin bayi, proses quantum apa yang terlibat di sini? Proses pembuahan bayi tabung barangkali bisa menjadi kajian di sini.

Bunge (1919 – 2020) berpikir kita perlu bergeser dari mekanik ke sistemik. Karakter janin yang hidup perlu makan dan bisa tumbuh adalah karakter sistem janin. Tidak bisa dijelaskan dari karakter mekanik sel telor dan sperma – sebagai komponen dari sistem.

Karakter yang muncul dari sistem janin disebut sebagai emergent. Sifat emergent muncul begitu saja dari sistem. Emergent merupakan aktualisasi dari komponen-komponennya. Dengan kata lain, komponen lebih fundamental. Jika kita proyeksikan ke aspek quantum telor dan sperma, mereka, adalah fundamental. Sementara, aspek quantum janin hanya akibat saja. Meski demikian, karakter emergent dari janin lebih kompleks dari komponen-komponennya. Bagaimana yang lebih kompleks bisa “emerge” muncul dari komponen sederhana?

Rovelli (1956 – ) berpikir dari arah berlawanan. Realitas fisika, khususnya quantum, adalah relasional. Maksudnya, sel telor tidak bermakna apa pun tanpa relasi dengan sel sperma. Sel telor punya arti karena ada sel sperma. Bahkan mereka, sel telor dan sperma, punya arti karena ada ibu dan bapak. Lebih jauh lagi, mereka baru ada makna karena mereka berada dalam relasi dengan dunia.

Elektron yang bermuatan negatif hanya ada makna ketika punya relasi dengan proton yang bermuatan positif. Elektron, hanya dalam dirinya sendiri, tidak memiliki makna. Muatan negatif elektron tidak ada artinya tanpa perbandingan dengan muatan positif dan netral. Dengan kata lain, ketika elektron bermuatan negatif, elektron sudah memiliki informasi bahwa ada partikel lain yang bermuatan positif atau netral. Mereka adalah informasi atau pengetahuan relasional. Realitas quantum adalah realitas relasional, RQM, Relational Quantum Mechanic.

Mari kita cermati kembali aktualisasi manusia. Sekarang, kita tinjau dari relasional. Sel telor dan sperma itu aktual karena ada relasi dengan ibu dan bapak. Ibu dan bapak juga terikat dengan relasi cinta. Pada gilirannya, ibu dan bapak bisa aktual karena ada nenek dan kakek, dan seterusnya. Semua relasi di atas, juga terhubung dengan alam raya. Maksudnya, nenek, kakek, ibu, dan bapak hanya bisa aktual karena memiliki relasi dengan alam raya. Dengan demikian, janin bayi adalah aktualisasi dari realitas relasi seluruh alam raya.

Sampai di sini, kita bisa membandingkan proses aktualisasi manusia dari perspektif emergent dengan relasional. Emergent memandang bahwa manusia adalah aktualisasi dari partikel-partikel quantum, sedemikian hingga, muncul “emerge” kehidupan yang cerdas. Sedangkan, relasional memandang bahwa manusia adalah aktualisasi dari relasi-relasi realitas yang saling terhubung. Bahkan, partikel-partikel quantum itu sendiri merupakan aktualisasi dari relasi-relasi realitas. Dua pandangan ini masih terus berkembang.

5.4 Aktualisasi Semesta

Bagaimana alam semesta ini bisa menjadi aktual?

Sejak Einstein merumuskan relativitas umum, pada awal abad 20, mulai berkembang teori kosmologi berupa Big Bang. Sebelum Big Bang, tidak ada apa pun. Bahkan, tidak ada ruang pun, tidak ada waktu. Hanya ada hampa, yaitu, ketiadaan. Tetapi, hampa ini bukan hampa biasa melainkan hampa quantum. Meski hampa, sejatinya sedang hamil besar mengandung realitas quantum. Sedikit ada “percikan” hampa maka hampa itu meledak dan terjadilah proses Big Bang sampai tercipta alam raya, dan akhirnya, Anda membaca tulisan ini.

Jadi, dari perspektif teori Big Bang, alam semesta adalah aktualisasi dari Big Bang. Sementara, Big Bang itu sendiri aktualisasi dari hampa quantum. Lalu, hampa quantum aktualisasi dari apa? Hampa quantum adalah hampa itu sendiri. Orang boleh saja puas dengan jawaban hampa ini. Orang lain, boleh juga mengajukan pertanyaan lagi dan berpikir lagi.

Teori Big Bang tidak terlalu melibatkan teori quantum. Meski, hampa adalah hampa quantum, tetapi, prinsip-prinsip quantum tidak dielaborasi lebih dalam. Mari, sekarang, kita mempertimbangkan teori quantum lebih dalam terutama tetapan Planck yang menyatakan ada batasan terkecil – tidak mungkin ada ukuran panjang atau masa tepat sama dengan nol.

Saat ini, observasi ilmiah menunjukkan bahwa alam semesta sedang bergerak mengembang. Karena itu, bila waktu bergerak mundur maka alam bergerak mengempis sampai suatu saat ukurannya nol, yaitu, ketika Big Bang. Bagaimana jika kita bergerak ke masa depan? Logika-futuristik?

Ke masa depan, alam terus mengembang. Akibatnya, alam makin encer, konsentrasi makin rendah, massa jenis makin kecil. Benda padat menjadi lembek, mencair. Benda cair makin ringan, menguap. Dan, uap itu sendiri makin mengembang, makin ringan. Atom-atom akan terbelah berkeping-keping karena terus-menerus alam mengembang. Tetapi, tetapan Planck memastikan ada ukuran terkecil materi yang tidak bisa sama dengan nol. Dari observasi tampak seperti nol tetapi tidak nol. Ketika ukuran materi ini sampai pada ukuran terkecil, alam tidak bisa lagi mengembang. “Usaha” alam untuk mengembang itu justru mendapat reaksi balik dari seluruh materi terkecil mengakibatkan alam berbalik mengkerut, mengecil.

Gerak alam, justru, mengecil sejak saat itu. Bebarapa materi bergabung. Gas-gas menjadi cair. Cairan menjadi padat. Alam terus-menerus mengkerut makin padat. Massa jenis makin rapat. Sampai akhirnya, ukuran semesta mendekati nol. Tetapi, tidak pernah sama dengan nol sesuai tetapan Planck. Alam semesta terus menekan untuk mengkerut, mengecil, tetapi, ukuran alam tidak bisa lagi mengecil. Ukuran alam yang minimal ini, super kecil ini, justru melawan balik, maka, terjadi ledakan Big Bang. Alam mulai bergerak mengembang lagi. Demikian seterusnya. Alam mengembang dan mengecil. Alam tidak pernah hampa, tetapi, alam selalu ada, selalu eksis.

Dengan mempertimbangkan teori quantum, tetapan Planck, alam semesta tidak pernah nol. Alam semesta tidak pernah hampa. Jadi, alam semesta bukan aktualisasi dari hampa. Alam semesta adalah aktualisasi dari ada, aktualisasi dari realitas quantum, aktualisasi dari eksistensi.

5.5 Makna Eksistensi

Pembahasan kita tentang aktualisasi membawa kita untuk mendiskusikan analisis eksistensial dan esensial.

Dari perspektif eksistensial, alam raya sudah eksis apa adanya sebagai suatu anugerah. Bahkan, anugerah eksistesial yang luar biasa. Alam raya adalah anugerah bagi umat manusia. Dan, manusia adalah anugerah bagi alam raya. Tugas kita selanjutnya adalah memaknai seluruh anugerah ini. Apa makna seluruh yang ada? Apa makna-eksistensi?

Dari perspektif esensial, kita perlu menyingkap esensi yang tersembunyi dalam seluruh realitas alam raya ini. Realitas esensial paling jelas dan tegas adalah formula matematika. Matematika dapat mengungkapkan segala sesuatu dengan jelas, presisi, obyektif, dan tanpa keraguan. Salah satu buah perkembangan matematika kontemporer adalah teori quantum yang sedang kita bahas dalam lima wacana kali ini.

Analisis esensial, misal sains matematika, memang bersifat reduktif. Bagi perspektif eksistensial, sains matematika, termasuk teori quantum, adalah mode pengetahuan yang tidak otentik. Sementara, mode pengetahuan yang otentik adalah pengetahuan tentang makna-eksistensi. Makna hidup sebagai manusia. Makna kita berkerja. Makna kita berjuang. Makna kita berkorban. Makna kita menuju mati dengan sempurna. Sains menjadi otentik jika kita mengkajinya dalam kerangka makna-eksistensi. Apa makna sains bagi kemanusiaan?

Sebaliknya, dari perspektif esensial, makna-eksistensi hanya bersifat subyektif. Makna hidup adalah subyektif. Makna kerja adalah subyektif. Makna apa pun adalah subyektif. Setiap orang bebas memberi makna terhadap semua yang ada sesuai subyektivitas masing-masing. Sehingga, yang paling penting bukanlah pengetahuan subyektif. Yang paling penting adalah pengetahuan obyektif, yaitu, pengetahuan esensial semisal sains matematika. Ketika kita hendak mengkaji subyektivitas, misal emosi cinta, maka, kita perlu mengkajinya secara obyektif.

Wacana quantum lebih tepat kita kaji secara eksistensial atau esensial?

Secara umum, wacana quantum dikaji secara esensial karena quantum memang bagian dari sains. Seperti kita bahas di atas, kajian esensial ini mengantar kita kepada paradoks quantum yang tidak bisa diselesaikan, misal, quantum entanglement (QE). Karena itu, kita perlu melirik ke kajian eksistensial. Lebih tepatnya, kita perlu membuat jembatan yang menghubungkan kajian esensial dengan kajian eksistensial dalam teori quantum. Bagaimana pun, jembatan ini harus berupa kajian esensial. Sementara, kajian eksistensial hanya sebagai sumber inspirasi.

Kita bisa menyelesaikan paradoks QE, misalnya, dengan analisis eksistensial. Seluruh realitas adalah satu-kesatuan eksistensial. Mereka berbeda-beda hanya karena perbedaan gradasi dan modulasi eksistensi. Karena eksistensi adalah kesatuan, maka, partikel quantum yang terpisah jarak beberapa jam cahaya tetap bisa “berkomunikasi” secara spontan. Dengan demikian, QE adalah fenomena yang wajar secara eksistensial. Paradoks QE selesai. Bagaimana jembatan antara eksistensial dan esensial?

Interpretasi relasional (RQM), barangkali, bisa menjadi jembatan yang bersifat esensial. Awalnya, kita bisa memandang RQM sebagai revisi terhadap teori yang ada. Elektron, misal, bermuatan negatif karena punya relasi terhadap proton yang bermuatan positif. Dalam dirinya sendiri, muatan negatif itu tidak bermakna esensial mau pun eksistensial. Akhirnya, dengan apa kita mendeskripsikan seluruh relasi terhadap elektron? Deskripsi terhadap elektron tetap berupa quanta (paket quantum). Berbeda dengan fungsi gelombang Schrodinger, yang berasumsi sudah lengkap dalam dirinya, quanta adalah probabilitas dari seluruh relasi yang mungkin dan signifikan. Quanta ini, pada gilirannya, bergabung dengan jaringan quanta lain disebut sebagai loop, selanjutnya, spin network.

Mari kita coba menerapkan RQM pada QE. Ketika pasangan elektron QE dipisahkan, masing-masing dari mereka, adalah spin network. Mereka bukan sekedar fungsi-gelombang, tetapi, spin network yang terus-menerus terlibat dalam relasi. Ketika seorang pengamat, Ali, melihat salah satu elektron maka tercipta relasi baru dalam spin network baru. Misal, Ali melihat spin up maka Ali bisa menyimpulkan, saat itu juga, bahwa elektron di tempat jauh, yang dibawa Budi pasti spin down. Kemudian, Ali berkomunikasi dengan Budi, maka tercipta relasi baru lagi. Bisa jadi, sebelum komunikasi, Budi sudah melihat elektron di tempatnya spin down. Atau, setelah komunikasi, baru, Budi melihat elektron spin down.

Paradoks QE (dan EPR) terselesaikan dengan memandang kejadian QE adalah relasi terhadap relasi. Proses ini tidak perlu hidden-variable dan tidak perlu melanggar kecepatan cahaya sebagai maksimum. Bagi pendukung RQM, masalah sudah terselesaikan. Bagi pihak lain, masih memperdebatkan itu dan belum bisa menerima klaim RQM.

Dari sudut pandang kita, RQM menawarkan solusi yang menarik sebagai jembatan analisis esensial dan eksistensial.

6. Ringkasan Analisis

Dari lima wacana quantum, dua yang awal, kepastian dan kebebasan adalah yang tampak paling kontradiksi. Jika quantum bersifat “pasti” maka tidak “bebas”. Demikian juga, sebaliknya. Apakah ada peluang untuk menggabungkan keduanya? Pasti dan bebas? Tentu ada.

Sementara, tiga wacana lainnya – rangkulan, rekayasa, dan aktualisasi – tampak lebih fleksibel bisa bersanding dengan wacana kepastian mau pun wacana kebebasan. Bahkan, bisa bersanding seluruh wacana.

Logika klasik memang menghadapi paradoks quantum. Kita perlu formula logika yang lebih komprehensif. Logika-futuristik adalah solusi yang saya usulkan. Saya telah membahas logika-futuristik di bagian lain.

Wacana quantum ini mengantar kita kepada analisis eksistensial dan esensial. Sains, sejak awal, merupakan kajian esensial. Kajian esensial terancam resiko mandeg dan kaku. Karenanya, sains perlu menatap kajian eksistensial sebagai sumber inspirasi. Tugas sains adalah membangun jembatan kajian esensial dengan kajian eksistensial dari perspektif esensial. Dengan demikian, kajian sains akan terus dinamis melangkah maju. Kajian sains, sejatinya, adalah kajian futuristik yang selaras dengan logika-futuristik.

Mind and World: Aktualisme Obyektif

Pemikir besar dunia, seorang profesor filsafat, salah memahami buku filsafat. Bagaimana bisa?

Charles Taylor (1931 – ) salah memahami “Mind and World” karya McDowell. Robert Pippin (1948 – ) dan Hilary Putnam (1926 – 2016) juga salah paham. Jika orang-orang hebat seperti itu saja salah paham, maka, siapa yang akan bisa memahami buku McDowell?

McDowell tidak hanya menyalahkan para seniornya. Di saat yang sama, McDowell mengoreksi dengan menjelaskan maksud bukunya. Kemudian, saya mencoba membaca buku McDowell itu. Dan, saya memang sulit untuk memahaminya. Tampaknya, saya juga salah paham.

1. Aktualisme Obyektif
2. Koreksi McDowell
3. Ringkasan
P. Penutup

P1. Ontologi
P2. Epistemologi
P3. Aksiologi

Pertama, kita akan membahas aktualisme obyektif secara singkat. Kedua, kita mempertimbangkan koreksi-koreksi McDowell terhadap para pembacanya. Ketiga, kita mempertimbangkan pengantar dari McDowell pada buku edisi revisi. Kemudian, kita akan mengambil kesimpulan dengan menegaskan konsep aktualisme obyektif.

1. Aktualisme Obyektif

Dari McDowell, saya terpikir untuk membuat formula aktualisme-obyektif. Yaitu, kita meyakini, dan membuktikan, bahwa “world” adalah obyektif. Di saat yang sama, “world” adalah aktualisasi dari kekuatan “mind”. Dunia obyektif adalah aktualisasi dari kekuatan pikiran.

Bukan idealisme pikiran. Banyak orang mengira bahwa idealisme ekstrem adalah idealisme-Berkeley yang menyatakan bahwa dunia eksternal hanyalah pikiran manusia. Semua realitas yang ada adalah pikiran manusia. Aktualisme obyektif bukan idealisme.

Bukan naturalisme. Khususnya, bukan bald-naturalism. Naturalisme meyakini bahwa sains empiris mampu, dengan tuntas, mengungkap seluruh realitas alam raya. Memang, sains adalah prosedur terbaik untuk mengungkap realitas alam raya. Tetapi, sains bukan satunya-satunya yang terbaik. Aktualisme obyektif bukanlah naturalisme yang seperti itu.

Aktualisme-obyektif adalah pikiran, jiwa manusia, mengaktualisasikan kemampuannya dengan mengungkap dunia obyektif.

2. Koreksi McDowell

Kita akan mulai dengan membaca koreksi McDowell kepada para pembacanya. Hasil bacaan dan respon McDowell dibukukan berjudul “Reading McDowell

Prasangka Tuntas

“He tells us that his central concern is not that of reconciling nature as a realm of law with an unbounded space of reasons, but to dissolve the prejudice of assuming that the realm of law exhausts the concept of nature, in which case there then is no difficulty concerning how spontaneity can be sui generis while also being natural (Response to R.Goldstein, 269).”

Masalah utama kita bukan menyatukan akal yang bebas-spontan dengan alam yang taat-hukum. Tetapi, adalah meruntuhkan prasangka yang mengira bahwa hukum alam adalah konsep yang tuntas mengenai alam. Akibatnya, mereka mengira segala sesuatu adalah determinisme sesuai hukum alam. Akal yang bebas tidak punya tempat di alam seperti itu. Prasangka seperti itu perlu diruntuhkan.

Akal yang bebas adalah anggota alam raya ini. Akal adalah anggota unik, sui generis, dari alam raya.

Aktulaisasi Kapasitas Konseptual

“Elsewhere, he says that it is not that passively perceived impressions become experiences of the objective world by being taken as such by our cognitive faculty, but that actualizations of conceptual capacities in receptivity already can reveal the objective world—not turned into objective experience via some cognitive action of being so taken (Response to Friedman, 272-273).”

Masalahnya bukan persepsi pasif yang mengenali dunia eksternal secara obyektif. Tetapi, adalah aktualisasi kapasitas konseptual ke persepsi receptif sudah mampu mengungkapkan dunia obyektif.

Pikiran manusia, jiwa manusia, memiliki kapasitas konseptual. Kemudian mengaktualisasi ke persepsi reseptif. Aktualisasi inilah yang “menerangi” dunia obyektif. Tema ini akan kita kembangkan menjadi ide dasar aktualisme-obyektif.

Dialog Sosial

“Further, it is not that the individualized perceiver’s grasp of reality is an alternative to Hegelian talk of wide ranging social bases for normativity, but there is a reciprocity and interdependence of these two dimensions. Answerability to the world and answerability to each other stand or fall together (Response to Pippin, 275).” 

Lebih lanjut, bukannya pemahaman individu menjadi alternatif dialektika Hegel. Tetapi, terjadi proses dialog timbal balik antara individu dengan lingkungan sosial dan alam raya. Individu tidak bisa berkembang hanya dengan dirinya sendiri. Setiap individu, termasuk diri kita, perlu dialog aktif secara sosial dan dialog dengan alam raya.

Aproksimasi

Also, it is not that Sellars has no place for non-judgmental justifiers, but that his “sense impressions” fail on this count, not his notion of experience which closely approximates McDowell’s (Response to Brandom, 279).”

Bukanya tidak ada tempat bagi penilai non-judgmental. Tetapi, impresi-indera gagal menjalankan tugasnya.

Impresi-indera tidak mampu menjelaskan bagaimana impresi tersebut hadir ke subyek pikiran. Dengan aproksimasi yang lebih detil, impresi-indera tetap tidak akan berhasil. Kita perlu melihat dari perspektif berbeda: aktualisme-obyektif.

Inside/Outside

“We learn that the picture to be exorcized is not an inside/outside picture wherein the epistemological problem concerns how knowledge of the outside realm is possible if it requires, impossibly, that events of the boundary conform to laws of causality while also manifesting allegiance to rational norms, but rather the unintelligible picture of a supposedly externally caused unconceptualized experience imposing objective constraints on the space of reasons, where the problem is one concerning the possibility of empirical content in general (Response to Taylor, 281-282).”

Citra yang hendak disingkirkan bukan citra inside/outside, yang gagal secara epistemologis. Tetapi, asumsi eksistensi non-konseptual eksternal yang menerobos “space of reason” atau ruang-akal secara obyektif. Sehingga, perhatian kita adalah posibilitas konten empiris secara umum.

Untuk bisa menembus ruang-akal maka suatu eksistensi obyektif harus bersifat konseptual. Karena itu, konten pengalaman empiris adalah konseptual, yaitu, aktualisasi kapasitas konseptual dari akal.

Percaya Ilusi

“Again, it is not that a person who perceives, say, that it is raining, thereby believes/judges so, but as McDowell states, “Certainly, one will not say that one sees that p unless one accepts that p. But one can see that p without being willing to say one does”—e.g., one may have not trusted one’s vision in the original setting but nevertheless come to recognize that one did see that p (Response to Stroud, 277).”

Bukan karena kita mengatakan “sedang turun hujan” maka kita percaya “sedang turun hujan.” Tentu saja, kita tidak akan mengatakan sesuatu jika tidak menerima sesuatu itu. Masalahnya, adalah kita bisa melihat sesuatu padahal, kita tidak ingin begitu.

Mengapa ilusi itu muncul? Mengapa mimpi itu datang? Padahal, kita tidak mengharapkannya. Sekali waktu, kita sengaja menatap kebun teh nan hijau. Dan, citra kebun teh nan hijau itu hadir di pikiran kita. Apa yang membedakan ilusi dengan persepsi nyata tentang kebun teh nan hijau? Sangat berbeda!

Basis Rasional

Further, the problem of traditional empiricism is not that it construes the world’s impact on mind in merely causal terms, leaving no room for warrant, but that it desires experience to provide rational basis for belief and falls into the Myth of the Given which precludes satisfaction of the desideratum. That is the hitch (Response to McCulloch, 284). 

Masalah empirisme tradisional bukannya menganggap dampak alam ke pikiran sekedar kausal, tetapi harapan bahwa pengalaman memberi basis rasional untuk keyakinan. Terpaksa, mereka jatuh ke mitos “given.”

Pengalaman, yang diasumsikan sebagai dampak kausalitas alam, tidak akan memadai sebagai basis rasional. Karena, sejatinya, pengalaman adalah aktualisasi obyektif. Sehingga, kita perlu bergerak menyelidiki sumber aktualisasi itu sendiri.

Gap Obyektif

“Moreover, it is not that there is a gap or further step required between experience and the objectively given, but rather, that experience reveals or embodies facts as such (Response to Wright, 289).”

Bukan karena ada gap antara pengalaman dengan realitas obyektif sehingga perlu dijembatani. Tetapi, pengalaman itu sendiri, sudah mampu, mengungkap fakta obyektif sebagai aktualisasi.

Sains Khusus

“Further, it is not that subsuming mental occurrences in a functionalist way under the non-strict laws of the special sciences would contrast relevantly with physicalist reductions under strict laws—in neither case would we have a sui generis space of reasons—and hence, this is not a “third option” but only a species of bald naturalism (Response to Putnam, 292-293).” 

Bukan masalah memasukkan sikap mental dalam kajian sains dengan hukum-tidak-ketat, yaitu sains khusus, kontras terhadap sains dengan hukum-ketat. Karena, yang demikian tidak akan menempatkan akal sebagai sui generis yang unik. Pendekatan seperti itu akan mengantarkan ke jenis bald-naturalism yang baru.

Lagi, akal adalah sui generis yang unik sebagai anggota alam raya ini. Modifikasi terhadap hukum sains tidak akan berhasil “merangkul” akal yang bebas ini. Kita memang perlu perspektif baru: aktualisme obyektif.

Bukan Teori

“He also reminds us that it not that the seductive picture to be dislodged is a false theory to be replaced by a true one, but that the unwanted picture results from non-rational influences (superstition? confusion?), not a theory at all, and reminding ourselves of what is obvious and already in place is not promoting a revisionary view, but a remedy for a philosophical affliction (Response to Lamore, 204).”

Bukan bermaksud mengganti teori-lama yang salah dengan teori-baru yang benar. Dan, tidak bermaksud untuk mengajukan revisi sudut pandang, tetapi, suatu jalan keluar bagi kebuntuan filosofis.

Aktualisasi obyektif hanyalah jalan keluar yang kita butuhkan sebagai fondasi filosofis. Akal-bebas berdampingan di alam raya bersama realitas obyektif yang taat-hukum.

Tumpukan Bahasa

“Further, it is not that McDowell no longer accepts Dummett’s thesis that philosophy of language is foundational for philosophy, but that McDowell also accepts the Gadamerian insight regarding the role of language as a repository of tradition (Response to Bubner, 296-297).”

Lebih jauh, bukannya menolak pentingnya filosofi bahasa, tetapi bahasa juga berperan menyimpan tumpukan tradisi.

Yang menarik dari bahasa adalah mampu menyimpan tumpukan tradisi dan histori dengan tanpa batas ruang dan tanpa batas waktu. Dengan demikian, akal bebas berkreasi di rumah bahasa. Pikiran bebas beraktualisasi obyektif melalui sarana bahasa.

Hanya Konseptualisasi

“Next, it is not that bald naturalism is the opposite pole to coherentism—that is the locus of the Myth of the Given. Nor is bald naturalism (the alternative to rampant Platonism) equivalent to scientism; but given the latter, then bald naturalism contends that only the conceptualization of things as natural has a shot at truth (Response to J. Bernstein, 297).”

Bukan masalah bald-naturalism adalah lawan koherentisme, atau alternatif dari Platonisme. Bukan pula ekivalen dengan saintisme. Tetapi, bald-naturalism menganggap hanya konseptualisasi-sesuatu yang memiliki peluang bernilai benar.

Karena akal-bebas bukan sesuatu yang bisa dikonseptualisasi maka akal-bebas tidak bisa bernilai benar, menurut naturalisme. Kita kehilangan akal-bebas. Kita memerlukan aktualisme obyektif untuk bisa kembali bersama akal-bebas.

Renungan Moral

“Finally, in response to Honneth (301-302), it is not that a neo-Aristotelian invocation of second nature implies that unreflective perception is sufficient to resolve cases of doubt or moral conflict, but that ethical reflection based on deliberation and practical reason leading to the recognition of moral principles is a natural extension of McDowell’s conception of experience as responsiveness to the space of reasons.”

Bukan persepsi tanpa-refleksi akan mampu menyelesaikan dilema moral. Tetapi, refleksi yang didasarkan pada niat dan akal praktis mengantarkan kita mengenal prinsip-prinsip moral sebagai perluasan pengalaman responsif di ruang-akal.

Sistem moral bukan suatu tambahan dari realitas obyektif. Justru, sistem moral adalah hasil renungan tingkat tinggi dari akal-bebas. Meski, sistem moral bernilai lebih tinggi, tidak berarti realitas obyektif sains menjadi luntur. Realitas sains tetap memiliki nilai sama penting dengan sebelumnya – bahkan makin bernilai dengan selaras bersama moral.

Koreksi McDowell, di atas, menjadi bekal untuk mengembangkan lebih jauh konsep aktualisme obyektif. Selanjutnya, kita akan mencermati ringkasan ide dari McDowell secara urut.

3. Ringkasan

Dalam edisi revisi, McDowell menambahkan introduksi untuk memudahkan beberapa pembaca. Di bagian ini, kita mendiskusikan introduksi yang berperan sebagai ringkasan itu. 

3.1 Spirit Diagnosa

Kajian kita hanya beraroma spirit diagnosa. Yaitu, kita hanya mendiagnosa apa yang terjadi. Kemudian, diagnosa yang tepat akan menunjukkan arah solusi yang tepat.

3.2 Empirisme Minimal

Solusi dari problem hubungan “mind” dan “world” adalah empirisme minimal. Pengalaman pikiran kita di dunia empiris adalah bersifat “tribunal,” yaitu, memberi keputusan. Ketika kita melihat pohon maka pengalaman kita itu memutuskan bahwa itu adalah pohon. Karakter tribunal, memberi keputusan, ini berlaku untuk pengalaman sadar mau pun pengalaman persepsi reseptif.

3.3 Hubungan Empirisme dan Pikiran

Empirisme adalah epistemologi. Sementara, problem hubungan pikiran dan dunia adalah problem ontologi. Solusi empirisme ini kita ambil dengan pertimbangan pikiran beraktualisasi obyektif melalui pengalaman empiris. Dari epistemologi menuju ontologi.

3.4 Mitos Given

Kerumitan muncul akibat mitos “given,” yaitu, prasangka yang meyakini bahwa alam raya sudah begitu adanya. Ketika kita mengalami melihat pohon maka sudah begitu adanya pohon. Tidak diperlukan lagi peran subyek kulo untuk menentukan status ontologi pohon. Akibatnya, kita tidak membutuhkan subyek dan akal-bebas sesuai prasangka ini. Realitas pohon adalah given.

3.5 Frame of Mind

Di sisi lain, ada pandangan frame-of-mind atau kerangka pikiran. Hanya pikiran yang mampu menentukan apakah yang kita lihat adalah pohon atau hanya halusinasi. Hanya pikiran yang mampu menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Hanya pikiran yang mampu menentukan kausalitas, hubungan sebab-akibat.

Terjadi dikotomi, perlawanan, antara mitos-given dengan frame-of-mind. Tetapi, keduanya gagal memberi solusi yang kita harapkan.

3.6 Menolak Empirisme

Solusi pertama adalah menolak empirisme, karena given tidak menambah informasi apa pun bagi kita. Empirisme tidak menjadikan kita lebih cerdas karena hanya memberi informasi apa adanya. Kita perlu mengembangkan kecerdasan dalam kerangka pikiran. Data empiris hanya data mentah, untuk kemudian, pikiran kita yang mengolahnya menjadi berguna.

3.7 Menolak Dikotomi

Solusi kedua adalah menolak dikotomi antara empirisme dan pikiran. Empirisme adalah mengkaji nature. Sementara, pikiran adalah bagian dari nature. Sehingga, pikiran bisa dikaji secara empiris. Dengan kata lain, kajian empiris terhadap nature adalah kajian yang lengkap dan tuntas.

Meski tampak menolak dikotomi, pendekatan naturalisme seperti itu, sejatinya, meruntuhkan pikiran ke dalam naturalisme. Pikiran yang merupakan akal-bebas menjadi tidak bebas lagi karena dikenakan hukum sebab-akibat empiris, misalnya. Pendekatan naturalisme ini kita sebut sebagai bald-naturalism yang perlu ditolak.

3.8 Nature Kedua

Bald-naturalism dan frame-of-mind gagal memberi solusi yang kita harapkan. Selanjutnya, kita mengkaji ulang solusi yang sudah kita singgung di awal: empirisme-minimal. Setiap pengalaman kita adalah tribunal. Lebih jauh, pengalaman empiris adalah aktualisasi kapasitas konseptual pikiran secara obyektif.

Pikiran, akal-bebas, adalah aggota unik dari alam ini. Unik karena akal-bebas bersifat spontan tidak terikat oleh hukum alam. Sementara, anggota alam yang lain selalu taat kepada hukum alam ini.

Bagaimana pikiran bisa menjadi anggota alam yang unik, sui generis?

Mudah saja. Karena ada alam kedua – second nature. Sejak jaman dahulu kala, kita mengenal alam kedua semisal budaya, bahasa, teknologi, dan lain-lain. Akal-bebas adalah sui generis dalam alam kita, tepatnya alam kedua.

Akal-bebas, dengan kapasitas konseptualnya, mengaktualisasi secara obyektif di alam faktual ini. Saya menyebutnya sebagai aktualisme obyektif.

3.9 Bald Naturalism

Kita bisa membahas lebih jauh bald-naturalism yang memang makin berkembang di era kontemporer ini. Kabar baiknya, bald-naturalism itu tidak salah. Demikian juga, frame-of-mind tidak salah. Mereka hanya tidak sanggup memberi solusi yang diharapkan.

3.10 Moral Akal Responsif

Masalah moral melanda dunia. Apa solusinya?

Moral dan sains sama-sama obyektif di alam ini. Mereka sama-sama aktualisasi dari akal-bebas. Sehingga, kita perlu mengkaji ontologi moral dengan lebih serius. Meski posisi moral sangat kuat, tidak berarti sains menjadi lemah. Sains justru dibutuhkan, dalam kadar tertentu, untuk aktualisasi moral.

Renungan mendalam terhadap realitas menghadirkan rasa tanggung jawab pada akal-bebas. Moral adalah respon dari akal-bebas. Sehingga, solusi dari masalah moral membutuhkan peran penting dari akal-bebas.

P. Penutup

Aktualisme obyektif, seharusnya, berupa kajian ontologis. Tetapi, terasa begitu kuat muatan epistemologisnya. Sehingga, kita bisa menggunakan istilah aktualisasi obyektif. Secara ontologis, saya merumuskan topologi wujud. Sedangkan secara aksiologi, saya membahas filosofi cinta, filosofi EPIC, dan filosofi Terasa.

P1. Ontologi: Topologi Wujud

Realitas paling fundamental adalah wujud atau being. Tetapi, kita bisa mengajukan pertanyaan, “Apa makna wujud?”

Setiap jawaban ontologis akan memicu pertanyaan lagi, tanpa henti, “Apa maknanya itu? Apa makna being?”

Wujud adalah peduli sebagai being-in-the-world. Wujud bersifat tunggal tetapi, di saat yang sama, wujud adalah beragam – gradasi secara intesitas dan variasi. Wujud terus-menerus dinamis bergerak. Pembahasan lebih lengkap saya tuliskan di Topologi Wujud Nothing.

P2. Epistemologi: Aktualisasi Obyektif

Aktualisasi obyektif berhasil menyelesaikan kesulitan filosofis membangun hubungan antara pikiran akal-bebas dengan alam raya taat-hukum. Atau, lebih tepatnya, sekedar berhasil menyingkirkan kesulitan filosofis.

Setiap pengetahuan adalah pengetahuan aktual. Pengetahuan adalah aktualisasi obyektif dari akal-bebas. Dengan demikian, akal-bebas hadir obyektif bersama obyek-obyek lain di alam raya ini. Bagaimana pun, akal-bebas adalah anggota alam yang unik yaitu bersifat spontan terbebas dari ikatan hukum alam.

Dari sisi alam raya, obyek hadir dalam akal-bebas sebagai aktualisasi pikiran. Alam raya berinteraksi dengan akal-bebas. Baik obyek alam atau akal-bebas adalah beragam. Sehingga, interaksi antara mereka membentuk alam alamiah dan alam budaya lebih dinamis.

Pengetahuan aktual adalah aktualisasi. Pengetahuan aktual bukan idealisme dan bukan naturalisme. Tetapi, idealisme dan naturalisme menemukan saluran untuk aktualisasi sebagai ilmu aktual.

Dari sisi histori, kita bisa menerjemahkan ilmu huduri sebagai ilmu aktual dan knowledge-by-presence sebagai knowledge-by-actualization. Ilmu aktual berkembang melalui aktualisasi obyektif.

P3. Aksiologi: Filosofi Cinta

Etika, atau filosofi moral, mendapat posisi yang kuat dalam aktualisasi obyektif. Dalam refleksi yang mendalam, akal-bebas peduli bahwa dirinya bertanggung jawab akan eksistensi dirinya dan alam raya. Karena itu, etika adalah respon yang tepat dari setiap akal-bebas.

Bagaimana pun, etika sebagai pengetahuan tetap berupa ilmu aktual. Sehingga, etika adalah aktualisasi obyektif dari akal-bebas itu sendiri. Dengan demikian, etika setara dengan pengetahuan lain semisal matematika, bahasa, dan sains. Bahkan, dalam kadar tertentu, etika menjadi lebih utama.

Saya menulis tema aksiologi ini dalam pembahasan filosofi cinta, filosofi EPIC, dan filosofi Terasa. Lebih lengkap silakan merujuk ke tautan filosofi cinta.


Epilog

Ide-ide terus bersemi tiap pagi. Merekah siang hari. Jingga ketika senja. Malam makin mendalam.

Idesofi ide-ide filosofi. Ide-ide lebih banyak lagi.

1. Putnam, Badiou, dan Armahedi: Simpul Filosofi
2. Aktualisme Obyektif
3. Cahaya Cinta dalam Lima Wacana
4. Critical Philosophy: Berpikir Kritis Produktif
5. Teori Quantum Lima Wacana

6. Filosofi Visi Iluminasi – Hikmah Alishraq
7. Filsafat Islam: Tikungan Inovasi Quantum
8. Hermeneutics Philosophy
9. Quantum Entanglement
10. Quantum Quotient

11. Krisis Sains Metafisika
12. Ontologi Matematika Fiksional
13. Problem Filsafat Sains
14. Matematika Itu Paradoks
15. Badefisika: Metafisika sampai Fisika

16. Waktu (Tidak) Bisa Mundur
17. Waktu dan Ruang Hanya Angan
18. Apa Waktu Sejati
19. Berpikir Terbuka: Hidup Bahagia Logika Cinta
20. Logika Futuristik

21. Logika Era Digital
22. Falasi Logika
23. Agama atau Tuhan
24. Kebenaran Sejati Ada di Sini
25. Hirarki Kebenaran

26. Teorema Godel Era Digital
27. Paradox Godel Vs Emak-Emak
28. Hisab Rukyat Haraki
29. Dogma-Dogma Sains
30. Sains Tingkat Tiga

31. Bukti Nyata Tuhan ADA
32. Calon Presiden Indonesia
33. Kapital Jiwa
34. Waktu: Persegi Dinamis
35. Demi Waktu: Misteri Keberuntungan Manusia

36. Siklus Pemimpin: Leadership – Leaderless – Leaderness
37. Kenali Waktu
38. Galileo Aljabar
39. Apa Keunikan Manusia
40. Jalur Lotere Masuk Universitas

41. Digital Ethics
42. Sains Rekayasa Realitas
43. Menghitung Level Pseudosains
44. Tantangan Filsafat Sains 21
45. Eko Cinta Dwi

46. Filsafat Sains dalam Histori
47. Siapa Main Dadu Tuhan
48. Dekonstruksi Fenomenologi Derrida
49. Psikologi Agama Era Sekular
50. Filsafat Probabilitas Statistik

51. Framework Ontologi Wolu
52. Komputer Kuantum Futuristik
53. Tugas Negara Tidak Tuntas
54. Pemimpin Revolusi
55. Pemenang Debat Capres

56. Problem Deduksi vs Problem Induksi
57. Kesadaran Makna Sejarah
58. Spekulasi: Keunggulan dan Kerugian
59. Mudik ke Udik Futuristik
60. Pendidikan Nasional Masih Relevan?

61. Biopolitik: Hidup Mati karena Politik
62. Makan Siang Gratis Plus
63. Biaya Kuliah Naik Tinggi
64. Umpan UKT Tinggi Jokowi
65. Nexus: Buku Baru Harari 2024

66. Anda Mau 1000 Dolar?
67. Putri Tidur Jago Matematika
68. Dasar Error
69. Monster Sukses
70. Tempat Ludah Orang Kaya

71. Uang Segunung untuk Apa
72. Terpeleset ke Masa Depan
73. Kesalahan Fatal Paling Bahagia
74. Aku Berpikir maka Saya Ada
7.5 Arah Kiblat: Mudah sampai Sulit

Catatan Ringan Meringankan

1. Barang Termahal Sedunia
2. Bahagia Hidup Mengalir Bagai Air
3. Bawa Kebaikan ke Manusia
4. Tetap Bahagia Meski Utang
5. Anugerah Semua

6. Takwa Futuristik
7. Man + Math + Meaning
8. Revisi Kecerdasan Quantum
9. Menulis Buku Kehidupan
10. Peraga Matematika Gembira

Putnam, Badiou, dan Armahedi: Simpul Filosofi

Apakah seluruh ilmu pengetahuan bisa disatukan? Atau, justru harus dibeda-bedakan agar tercipta spesialis? Atau, harus kedua-duanya sebagai spesialis dan generalis?

Pada tulisan ini, kita akan mencermati pengetauan secara filosofis. Sebuah cara yang mencoba mempertimbangkan seluruh sudut pandang – berpikir spekulatif.

Saya akan mengambil tiga tokoh pemikir yang menjadi tumpuan analisis kita: Putnam, Badiou, dan Armahedi. Kemudian, saya akan lebih fokus kepada pemikiran Putnam (1926 – 2016). Sementara, pemikiran Badiou (1937 – ) dan Armahedi (1943 – ) sebagai konteks serta pembanding.

1. Konteks
2. Math
3. Sains
4. Ontologi
5. Etika

Pertama, kita akan mengkaji konteks pemikiran saat ini. Pemikiran filosofis analitis berkembang mendominasi dunia yang berbahasa Inggris – sebagian sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sementara, pemikiran filosofis yang lebih spekulatif berkembang sebagai filosofi kontinental yang, umumnya, bersumber dari negara berbahasa Jerman dan Prancis. Putnam mewakili tradisi filosofi analitis, Badiou mewakili tradisi filosofi kontinental, dan Armahedi mewakili filosofi timur serta Indonesia.

Kedua, kita akan membahas filosofi math. Bagi Putnam, kebenaran matematika adalah kebenaran paling kuat karena merupakan kebenaran-konseptual. Saya sering menyebut matematika sebagai kebenaran sistem aksiomatik. Bahkan, kebenaran matematika tetap terjamin kuat meski obyek matematika masih dipertanyakan apakah nyata, real, atau hanya fiksional. Selanjutnya, Putnam membuktikan bahwa obyek matematika adalah nyata dengan argumen tak-tergantikan (QPIA).

Ketiga, barangkali paling menarik, kita membahas sains lengkap dengan bayangannya yaitu pseudo-sains atau sains-palsu. Debat filosofis realisme/anti-realisme tetap mewarnai filosofi sains – barangkali sampai kapan pun. Putnam mendukung realisme sains dengan eksperimen pikiran “Brain in a Vat” yang dia kuatkan dengan eksternalisme bahasa “Twin Earth.” Meski sains bersifat obyektif, terdapat banyak teori untuk mendekati realitas yang sama validnya. Sains-palsu merupakan eksploitasi sains-buruk atau sains-eror dengan melanggar etika.

Keempat, membahas ontologi. Putnam mengusulkan perlunya “meluaskan” ontologi filosofi analitis sehingga berkontribusi secara sosial budaya yang lebih luas. Konsep internalism-realism menjamin pembahasan ontologi tetap fokus. Tidak melompat tinggi sebagai inflatory. Dan tidak reduksionis atau eliminatif sebagai deflatory. Saya menyebut pembahasan ontologi yang fokus ini sebagai noflatory. Di saat yang sama, Putnam menjaga pluralisme ontologi. Lebih rumit lagi, secara ontologis, ketika pikiran manusia mampu merekayasa alam semesta secara aktif. Kita, misalnya, menyaksikan perkembangan media sosial digital yang bertabur rekayasa.

Kelima, terakhir, kita membahas etika. Putnam menyatakan, “Etika tanpa ontologi.” Sebuah klaim yang sangat kuat. Saya memahami tanpa-ontologi adalah tanpa-ontologi eksternal. Sehingga, ontologi dari etika adalah kajian etika secara internal. Dan, nilai kebenaran etika sama kuatnya dengan kebenaran matematika karena sama-sama kebenaran-konseptual. Bagaimana pun, Putnam tetap konsisten dengan pluralisme termasuk dalam etika. Putnam menegaskan kembali karakter obyektif dari etika – meski dengan atau tanpa obyek.

1. Konteks

Apakah kita membutuhkan pemikir spesialis atau generalis? Sekilas, Putnam menyatakan bahwa pemikir spesialis tidak memadai untuk perkembangan sosial budaya umat manusia. Sehingga, kita membutuhkan pemikir generalis. Berapa proporsi generalis terhadap spesialis? Bagaimana dengan kedalaman pemikiran? Bagaimana dengan tantangan masa depan, misal, ledakan media sosial digital?

Kita akan mencoba membahasnya secara kontekstual di bagian ini.

Kita awali dengan mengkaji konteks pemikiran saat ini. Pemikiran filosofis analitis berkembang mendominasi dunia yang berbahasa Inggris – sebagian sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sementara, pemikiran filosofis yang lebih spekulatif berkembang sebagai filosofi kontinental yang, umumnya, bersumber dari negara berbahasa Jerman dan Prancis. Putnam mewakili tradisi filosofi analitis, Badiou mewakili tradisi filosofi kontinental, dan Armahedi mewakili filosofi timur serta Indonesia.

Badiou

Badiou meluaskan matematika sebagai ontologi atau filosofi. Matematika adalah ontologi dan ontologi adalah matematika. Dulu, sebelum abad 19, matematika belum berkembang. Sehingga, pembahasan ontologi menggunakan bahasa sehari-hari. Tentu saja, bahasa sehari-hari tidak memadai untuk membahas ontologi. Saat ini, matematika sudah berkembang pesat. Khususnya teori himpunan Cantor memudahkan kita membahas infinity tanpa batas sampai ke Absolut. Dengan demikian, matematika adalah ontologi itu sendiri.

Matematika, atau filosofi, adalah kajian tentang truth, atau kebenaran, secara ontologis. Hanya filosofi yang mengkaji truth sebagai truth itu sendiri. Sedangkan, bidang-bidang lain mengkaji truth sebagai prosedur truth. Badiou meng-klaim ada empat prosedur truth: sains, seni, cinta, dan politik. Banyak pihak mengusulkan agar Badiou memasukkan agama sebagai salah satu prosedur truth. Sejauh ini, Badiou masih bersikukuh hanya ada empat prosedur truth di atas.

Masing-masing prosedur truth memiliki prosedur yang mandiri. Meski demikian, di antara prosedur truth yang berbeda bisa saja saling berbaur. Realitas justru sebagai perpaduan dari beragam prosedur truth, termasuk, perpaduan dengan filosofi.

Armahedi

Integralisme adalah formulasi filosofis yang memandang realitas sebagai satu kesatuan, membentuk hirarki, dan bersumber kepada Sang Absolut atau Tuhan. Dengan integralisme, Armahedi yakin bahwa umat manusia akan mampu menemukan solusi yang dibutuhkan untuk menghadapi hiruk-pikuk dunia akhir-akhir ini.

Dunia Barat memisahkan sains dengan agama berdampak kepada sains yang kehilangan nilai-nilai universal sehingga mengancam alam semesta dan manusia. Sementara, dunia Timur menempatkan sains tunduk terhadap kekuatan politis atau agama. Sehingga, sains terpuruk. Sains tidak mampu melejit dengan kekuatan penuh.

Integralisme terjadi pada aspek vertikal dan horisontal. Dari aspek vertikal, realitas terdiri dari alam materi, alam kehidupan, psikologis, kalbu, dan spiritual. Sementara, dari aspek horisontal, realitas terdiri dari partikel-partikel, membentuk manusia, meluas ke alam raya, dan menggapai Sang Absolut. Integralisme ini mendorong realitas untuk bergerak dinamis secara terus menerus.

Dengan integralisme, kita berharap mampu untuk terus tumbuh berkembang secara dinamis.

Analytic – Continental

Secara garis besar, madzhab filsafat terbagi menjadi dua: analytic dan continental. Analytic mendominasi kajian filsafat sekitar 70% dan continental 30% – berdasar bidang kajian riset doktoral filsafat. Sementara, dalam tradisi analytic mulai muncul spesialisasi baru yaitu filsafat sains, sekitar 10%.

Putnam menempatkan kajian filosofi dalam tradisi analytic dan filsafat sains. Bagaimana pun, filosofi Putnam tetap berinteraksi dengan continental. Mereka saling mempengaruhi. Dari perspektif analytic, Putnam berusaha meluaskan ontologi agar filosofi lebih berpengaruh besar terhadap sosial budaya. Sehingga, beberapa pemikir menempatkan Putnam sebagai post-analytic.

Putnam lahir 1926 ketika analytic mulai terbentuk dengan kokoh. Awal abad 20, Russell bersama Frege dan Moore memantapkan logika dasar filosofi analytic. Kemudian, 1920an, Wittgenstein menerbitkan Tractatus yang melengkapi analytic dengan kajian bahasa secara logis.

Lebih lanjut, 1930-an, berkembang aliran positivisme-logika yang dipelopori oleh Carnap – dan Lingkaran Wina. Positivisme hanya mengakui kebenaran empiris dan analisis aksiomatik. Positivisme menolak metafisika – dan lebih banyak fenomena lainnya. Russell dan Wittgenstein tampak tidak sepakat dengan positivisme.

Dari sisi continental berkembang pemikiran yang segar: fenomenologi dan eksistensialisme. Russell dan Moore sudah mengkritik habis idealisme dialektika dari Hegel. Tetapi, eksistensialisme, yang muncul pada 1927 dengan terbitnya Being and Time karya Heidegger, aman dari kritik Russell. Continental terus berkembang dan berpuncak, salah satunya, pada dekonstruksi Derrida sejak tahun 1970an.

Putnam muda mengawali karir filosofisnya dengan pengaruh besar positivisme. Putnam, dan kawan-kawan, membuktikan bahwa tidak ada solusi umum untuk persamaan matematika Diophantine. Dalam philosophy-of-mind, Putnam merumuskan fungsionalisme yang menyatakan bahwa pikiran manusia adalah suatu “fungsi” layaknya komputer – ada perangkat keras dan perangkat lunak. Kelak, Putnam menolak konsep fungsionalisme ini.

Eksperimen pikiran “Twin Earth” dan “Brain in a Vat” menguatkan komitmen realisme dan eksternalisme bahasa. Bersama Quine, Putnam merumuskan indispensable-argument menguatkan realisme matematika. Bertahap, Putnam mejaga jarak terhadap positivisme dan lebih terbuka terhadap metafisika.

Pada masa dewasa, akhir abad 20, Putnam lebih intensif membahas pragmatisme. Meski kritis terhadap pragmatis, Putnam lebih banyak menerima konsep-konsep penting pragmatisme. Kita perlu membedakan pragmatis dengan praktis. Pragmatisme meyakini bahwa pengetahuan berkembang dengan menyempurnakan nilai pragmatis yang bersifat praktis dan intelektual. Bukan sekedar praktis saja. Putnam makin mantap dengan konsep realisme-internalisme-pluralisme. Pada abad 21, Putnam lebih fokus membahas etika dan agama.

2. Math

Kita akan membahas filosofi math. Bagi Putnam, kebenaran matematika adalah kebenaran paling kuat karena merupakan kebenaran-konseptual. Saya sering menyebut matematika sebagai kebenaran sistem aksiomatik. Bahkan, kebenaran matematika tetap terjamin kuat meski obyek matematika masih dipertanyakan apakah nyata, real, atau hanya fiksional. Selanjutnya, Putnam membuktikan bahwa obyek matematika adalah nyata dengan argumen tak-tergantikan (IAQP).

2.1 Persamaan Diophantine

Solusi Abad ini

Teori Fermat

Apigoras Diophantine

Masalah Kuno

2.2 Benar-Konseptual

Analitik Sintetik

Sistem Aksiomatik

Sistem Empiris

2.3 Realisme Matematika

3. Sains

Kita membahas sains lengkap dengan bayangannya yaitu pseudo-sains atau sains-palsu. Debat filosofis realisme/anti-realisme tetap mewarnai filosofi sains – barangkali sampai kapan pun. Putnam mendukung realisme sains dengan eksperimen pikiran “Brain in a Vat” yang dia kuatkan dengan eksternalisme bahasa “Twin Earth.” Meski sains bersifat obyektif, terdapat banya teori untuk mendekati realitas yang sama validnya. Sains-palsu merupakan eksploitasi sains-buruk atau sains-eror dengan melanggar etika.

3.1 Twin Earth

Eksperimen pikiran Twin Earth menjadi menarik karena mudah bagi kita untuk membayangkannya. Bagi Putnam, Twin Earth berhasil membuktikan karakter eksternalisme bahasa. Yaitu, makna bahasa merujuk ke realitas luar dari bahasa itu sendiri. Realitas luar, yang menjadi rujukan bahasa, misal pohon dan air, adalah benar-benar nyata. Dengan demikian, Putnam komitmen terhadap realisme.

Argumen Twin Earth bisa kita ringkas sebagai berikut.

(a) Bayangkan ada bumi-kembar, yaitu, sama persis dengan bumi ini kecuali kandungan kimia dari airnya. Di bumi kita ini, air adalah H2O. Sedangkan, di bumi-kembar, air adalah XYZ. Tetapi, semua penampakan air adalah sama di bumi ini dan bumi-kembar.

(b) Budi berkata tentang air di bumi ini. Maksud Budi adalah H2O. Di bumi-kembar, Budi-kembar berkata tentang air. Kita tahu, maksud Budi-kembar adalah XYZ. Sehingga, kata air merujuk ke sesuatu yang berbeda. Kepada sesuatu yang eksternal dari bahasa. Bukan hanya makna-makna internal dalam bahasa.

(c) Kita bisa menyimpulkan bahwa makna dari bahasa adalah merujuk ke alam eksternal. Putnam menyebut karakter rujukan ke eksternal ini sebagai eksternalisme bahasa. Tentu saja, sebagian makna bahasa merujuk ke bahasa itu sendiri.

Argumen Twin Earth berdampak ganda. Pertama, membuktikan bahwa makna bahasa adalah eksternal. Kedua, membuktikan realisme yaitu eksistensi dunia luar berupa air, pohon, gedung, dan lain-lain adalah nyata.

Tetapi, mengapa repot-repot membuktikan rujukan alam eksternal? Bukankah ketika kita bicara air memang maksudnya air di alam eksternal yang sudah jelas? Bukankah, jika bicara air tetapi tidak ada air di alam eksternal justru itu adalah bohong? Bukankah politikus yang hanya janji-janji tanpa bukti adalah pembohong?

Benar. Dalam kehidupan sehari-hari, kita meyakini realisme-naif. Yaitu suatu keyakinan bahwa alam eksternal ada secara nyata dan jelas dengan sendirinya. Hanya saja, dalam kajian filosofis, realisme-naif mudah untuk diragukan. Sehingga, pemikir-pemikir serius perlu mengembangkan realisme filosofis yang kokoh. Atau, beberapa pemikir justru bisa memilih bersikap anti-realisme.

Pertanyaan kepada Putnam masih bisa berlanjut. Jika kata-air merujuk ke air-eksternal bagaimana kata-air bisa membangun relasi dengan alam air-eksternal tersebut?

Korespondensi

Tidak bisa. Bahasa tidak bisa membangun relasi, atau hubungan, dengan alam eksternal. Makna air adalah konsep-air yang sudah kita kenali secara bahasa. Sedangkan, konsep-air itu sendiri maknanya merujuk ke konsep-air yang lebih awal lagi. Demikian seterusnya, makna merujuk ke makna sebelumnya tanpa henti.

Asumsikan pada suatu titik kita bisa membangun relasi antara kata-air dan air-eksternal. Dengan cara apa relasi itu terbentuk? Relasi terbentuk, misalnya, oleh imajinasi kita. Kata terhubung ke imajinasi dan imajinasi terhubungan ke alam eksternal. Dengan demikian tercipta relasi sesuai teori korespondensi.

Dengan apa kata terhubung dengan imajinasi? Misal, terhubung oleh A. Lalu, dengan apa A terhubung dengan kata? Misal dengan B. Dan seterusnya tanpa henti. Kita gagal membangun teori korespondensi.

Putnam dengan cerdik menggunakan istilah merujuk ke alam eksternal – referensi bukan relasi. Makna kata merujuk ke alam eksternal bukan menciptakan relasi dengan alam eksternal. Dengan demikian, Putnam mengembangkan teori semantik eksternalisme bukan korespondensi.

Tampaknya, Putnam sudah menyadari konsep makna dari Wittgenstein bahwa “meaning as use.” Makna adalah “penggunaan.”

Meaning as Use

Kita memahami makna kata air karena menggunakan kata tersebut dalam konteks tertentu. Secara umum, Wittgenstein mengembangkan teori “language game.” Kata dan bahasa hanya bisa dipahami sesuai konteks dan penggunaan aturannya.

Putnam melangkah lebih jauh, melalui argumen Twin Earth menyatakan, penggunaan aturan itu adalah merujuk ke alam eksternal.

Tetapi, apakah alam eksternal itu ada? Lagi, secara naluriah kita meyakini bahwa alam eksternal memang ada, yaitu, realisme naif. Putnam mengembangkan eksperimen pikiran “Brain in a Vat” untuk menjawab skeptisme terhadap realitas.

3.2 Brain in a Vat

Descartes (1596 – 1650) mengawali karir filosofis dengan sikap skeptis. Setelah meragukan segala sesuatu, Descartes yakin bahwa dirinya sedang berpikir ragu. Keraguanku adalah nyata. Pikiranku adalah nyata. Aku berpikir maka aku ada. Cogito ergo sum.

Selanjutnya, Descartes berusaha membuktikan eksistensi alam eksternal. Dia yakin bahwa alam eksternal memang nyata. Tetapi, bisa saja, ada setan cerdas yang membohongi manusia. Alam eksternal hanya ilusi. Setiap kita akan membuktikan eksistensi alam eksternal maka bukti itu sendiri adalah ilusi. Semua yang kita pikirkan adalah ilusi.

“Brain in a Vat” (BIV) adalah bentuk radikal dari skeptisme Descartes. Proses BIV adalah sebagai berikut.

(a) Bayangkan diri kita memiliki pengalaman akan dunia eksternal yang berpusat di otak kita (brain).

(b) Otak ini kemudian kita pindahkan ke dalam wadah, sedemikian hingga, otak tetap berfungsi sebagai mana mestinya dan hidup dengan wajar.

(c) Otak dalam wadah atau BIV itu kita hubungkan dengan komputer super canggih. Komputer ini memberi pengalam kepada BIV bahwa dirinya adalah manusia lengkap. BIV makan, minum, dan berinteraksi sosial layaknya manusia lengkap. Tetapi, itu semua hanya ilusi yang diciptakan oleh simulasi komputer super canggih.

Pertanyaannya, “Apakah BIV tahu bahwa dirinya adalah BIV?”

Pernyataan “Kita adalah BIV” pasti bernilai salah. Karena akan memunculkan paradoks. Kita bukan BIV.

(A) Asumsikan “Kita adalah BIV” bernilai benar.
(B) Tetapi “Kita adalah BIV” adalah realitas, bukan simulasi.
(C) Jadi “Kita adalah BIV” adalah salah.

Di sini, kita menerapkan prinsip eksternalisme bahasa dari Putnam. “Kita” merujuk ke kita-eksternal. BIV merujuk ke BIV-eksternal. Karena merujuk ke alam eksternal, yaitu, realitas maka bukan simulasi. Jadi, “Kita adalah BIV” bernilai salah. “Kita hidup di dunia simulasi” adalah salah. Yang benar, kita hidup di dunia nyata, real. Kita perlu komitmen kepada prinsip realisme ini.

Bagaimana kata “kita” bisa merujuk ke realitas “kita” di alam eksternal? Kita akan menjawabnya di bagian ontologi, di bawah.

3.3 Quantum

Teori quantum, atau mekanika quantum, berkembang pesat di abad 20. Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda, quantum akan berhenti berkembang. Justru, setiap perkembangan teori quantum menimbulkan pertanyaan lebih jauh lagi.

Putnam berada pada situasi quantum yang problematis. Kita bisa menduga bahwa Putnam akan memilih pendekatan realisme untuk solusi quantum. Kucing Schrodinger memberi gambaran jelas tentang krisis realisme quantum. Schrodinger, waktu itu, menulis surat kepada Einstein untuk menjelaskan anehnya teori quantum, atau tidak masuk akalnya teori quantum. Isi surat, yang kelak dikenal sebagai Kucing Schrodinger, justru menunjukkan keunggulan teori quantum.

Seekor kucing berada di ruang tertutup yang di sampingnya ada bahan radioaktif. Dalam 5 menit ke depan, radioaktif akan meluruh dengan peluang 50% sesuai teori quantum. Jika radioaktif meluruh maka akan mengaktifkan racun dalam ruangan dan mengakibatkan kucing mati.

Pertanyaannya: setelah 5 menit, apakah kucing hidup atau mati?

Berdasar fisika klasik, kucing itu sudah mati atau mungkin masih hidup. Karena probabilitas 50% maka peluangnya berimbang. Tetapi, kondisi kucing sudah pasti, misal sudah mati. Ketika kita membuka ruang, atau kotak, kita menjadi tahu bahwa kucing sudah mati.

Teori quantum menjawab berbeda. Kucing itu setengah hidup dan setengah mati selama tidak ada pengamat yang membuka kotak ruangan. Ketika ada pengamat membuka kotak, baru saat itu, kucing mati, misalnya.

Sehingga, berdasar quantum, realisme itu belum tercipta kecuali ada pengamat. Putnam tetap menegaskan komitmen realisme di teori quantum. Dia memilih interpretasi quantum berupa runtuh-spontan.

(a) Ketika radioaktif meluruh dengan peluang 50%, maka, perlu hadirnya “pengamat” untuk jadi meluruh atau tidak.

(b) Jika radioaktif itu berada dalam ruang isolasi tanpa “pengamat” sama sekali, maka, benar berimbang: runtuh dan tidak runtuh.

(c) Tetapi, di dalam ruang terdapat kucing, racun, dinding, dan lain-lain yang berperan sebagai “pengamat.” Sehingga, radioaktif meluruh secara spontan. Atau, alternatifnya tidak meluruh. Tanpa harus menunggu “pengamat” tambahan misal manusia.

(d) Karena di alam ini terdapat jutaan partikel yang bisa berperan sebagai “pengamat” maka proses runtuhnya quantum terjadi secara spontan.

(e) Akibatnya, nasib kucing Schrodinger selaras dengan teori probabilitas klasik.

Sampai saat ini, interpretasi terhadap teori quantum masih terus berkembang. Belum ada titik pasti. Dengan memilih interpretasi runtuh-spontan, Putnam berhasil mempertahankan komitmen realismenya, di saat yang sama, menerima validitas teori quantum.

3.4 Naturalisme Liberal

Putnam menggambarkan konsep pemikirannya sebagai, paling dekat, naturalisme liberal. Beberapa pengamat menilai Putnam sebagai pragmatis atau post-analitis. Dari beragam perspektif, pandangan ini sah-sah saja. Karena, Putnam sering mengacu ke konsep pragmatisme mau pun analitis.

Realisme meyakini bahwa obyek sains adalah real, nyata. Putnam menambahkan karakter nyata dan obyektif. Meski demikian, pengetahuan kita tentang obyek sains bisa tidak sempurna. Sehingga, terbuka peluang untuk mengkaji sains dari beragam perspektif. Liberal, dalam arti, kita memiliki kebebasan untuk mengkaji sains atau mengkaji obyek secara umum misal etika. Tidak ada aturan baku yang menjamin satu metode lebih baik dari metode yang lain. Beragam metode itu perlu untuk saling bersaing. Meski sains bersifat obyektif, di saat yang sama, juga dinamis.

Mana sains yang lebih benar? Apa kriteria dari buruknya sains? Apa yang menentukan sehingga ada pseudo-sains atau sains-palsu?

Klaim kebenaran sains bersifat internal atau internalisme. Tetapi, sains tetap memiliki karakter eksternalisme.

Klaim kebenaran bersifat internal, dalam arti, klaim tersebut diuji secara internal oleh sains itu sendiri. Misal kebenaran sains fisika ditentukan oleh sains fisika itu sendiri secara internal. Sains biologi tidak berhak menghakimi sains fisika. Meski bisa saja terjadi kolaborasi antara fisika dan biologi.

Karakter eksternalisme sains menguji efektivitas sains. Fisika bisa menghitung kekuatan bambu untuk menahan suatu beban. Tetapi, jika bambu itu berada di atas tanah dan masih bertumbuh maka fisika perlu mempertimbangkan sains biologi untuk menyelidiki pengaruh pertumbuhan bambu. Bagaimana pun, kajian sains fisika akan tetap dominan secara internal. Dampak sains terhadap semesta juga bersifat eksternal. Penemuan mesin uap bisa valid secara internal, tetapi, dampak eksternal semacam pencemaran lingkungan perlu menjadi kajian.

Pragmatisme

Sains yang baik adalah sains yang bertumbuh sesuai kebutuhan pragmatisme yaitu bertumbuh secara intelektual dan praktikal. Sains bertumbuh secara intelektual misal melalui kajian teoritis. Sedangkan, sains bertumbuh secara praktikal dengan lebih praktis menyelesaikan masalah alam semesta.

Putnam terbuka dengan ragam pengembangan sains. Metode induksi, falsifikasi, paradigmatik, dan lain-lain perlu diuji secara teliti dari sisi internal. Sains yang buruk adalah sains yang tidak memenuhi standar internalnya sendiri. Sains juga bisa menjadi buruk karena pertimbangan eksternal.

3.5 Pseudo-Sains

Pseudo-sains adalah sains buruk, atau sains salah, yang dieksploitasi dengan melanggar etika. Pseudo-sains adalah sains-palsu.

Sejatinya, tidak ada masalah dengan sains buruk. Karena sains-buruk bisa diperbaiki dengan beberapa metode improvement. Atau, jika benar-benar tidak bisa diperbaiki maka ditinggalkan. Begitu juga dengan sains-salah bisa dilakukan beberapa koreksi yang diperlukan.

Tetapi sains-palsu adalah berbeda karena melibatkan eksploitasi yang melanggar etika. Sebelum membahas sains-palsu, mari kita bahas beberapa resiko pengembangan sains.

Induksi adalah metode pengembangan sains yang tampak alamiah. Kita mengamati beberapa fenomena sains terbatas, untuk kemudian, menarik kesimpulan sains yang bersifat umum, universal. Resiko induksi adalah klaim kebenaran yang berlebihan. Karena, kebenaran sains induksi selalu bersifat probabilistik.

Sains sosial di suatu tempat menyimpulkan bahwa kapitalisme adalah sistem terbaik untuk mengembangkan ekonomi. Kemudian, orang-orang menerapkan kapitalisme secara global. Tentu saja gagal. Karena, kapitalisme bisa berhasil hanya pada situasi tertentu saja.

Falsifikasi adalah mengembangkan sains dengan menolak hipotesis yang salah. Verifikasi seribu kali tidak akan berhasil mengkonfirmasi kebenaran hipotesis. Tetapi, falsifikasi satu kali saja sudah cukup untuk menolak suatu hipotesis.

Keunggulan falsifikasi adalah kita bersikap lebih waspada. Untuk beberapa produk dengan kualitas tinggi bisa mempertimbangkan falsifikasi. Kelemahan falsifikasi adalah kadang terlalu ketat. Bisnis internet adalah bisnis dengan prospek bagus. Eksperimen menjelang akhir abad 20 justru menunjukkan buruknya bisnis internet. Maka hipotesis bahwa bisnis internet adalah prospek bisa ditolak. Tetapi, kita tahu memasuki abad 21, bisnis internet prospek lagi. Ditambah lagi, beberapa proposisi sains tidak bisa difalsifikasi empiris.

Paradigmatik adalah mengembangkan sains dengan sistem tertentu. Jaman kuno, para astronom mengembangkan sains dengan paradigma geosentris – bumi sebagai pusat dan matahari mengitari bumi. Berbagai macam teori dikembangkan berdasar geosentris. Tetapi, di jaman ini, astronom mengembangkan sains berdasar paradigma heliosentris – matahari sebagai pusat. Terjadi perubahan besar-besaran, revolusi, dari geosentris ke heliosentris yang berdampak besar kepada teori sains.

Awal era industri berkembang paradigma produser-sentris, di mana, pabrik-pabrik mem-produksi beragam barang untuk kemudian dipasarkan. Teori sains yang berkembang adalah bagaimana cara produksi paling efisien. Saat ini, berkembang paradigma pelanggan-sentris, di mana, produsen hanya memproduksi produk-produk yang dibutuhkan oleh pelanggan. Teori sains yang berkembang adalah bagaimana mengenali perilaku konsumen.

Keunggulan sains paradigmatik adalah memberikan keleluasaan kepada saintis untuk beragam kajian dalam paradigma yang jelas. Di saat yang sama, memberi peluang revolusi sains dengan mengubah sistem paradigma. Kelemahannya adalah sains menjadi relatif terhadap paradigma dan subyektif tergantung konteks para saintis. Padahal, sains tetap obyektif meski pluralis.

Sains-palsu

Berikut ini, kita akan fokus kepada empat kriteria untuk menilai bahwa suatu sains adalah palsu. Sebagai ilustrasi, kita akan mengambil kasus Theranos, yaitu, perusahaan yang memproduksi alat kesehatan. Dengan alat tersebut, seseorang bisa melakukan tes darah yang mudah dan cepat guna mengetahui kondisi kesehatan badannya. Theranos berdiri pada tahun 2003 dan menjadi perusahan bernilai 10 milyar dolar hanya dalam waktu 10 tahun – perhatikan, bukan 10 juta dolar tapi 10 milyar.

Non-sains. Pertama, predikat sains-palsu atau pseudo-sains hanya bisa dialamatkan kepada sains itu sendiri atau bidang yang mengaku saintifik. Non-sains tidak bisa menjadi sains-palsu. Seni tidak bisa dinilai sebagai sains-palsu. Karena, seni memiliki kriteria konsep internal yang berbeda dengan sains. Olahraga, hobi, agama, permainan, dan lain-lain adalah non-sains. Sehingga, mereka aman dari predikat sains-palsu. Tentu saja, kita bisa mengkaji seni atau olahraga secara saintifik. Dengan demikian, ada resiko terjebak ke sains-palsu.

Theranos meng-klaim menerapkan metode sains untuk tes darah. Karena itu, Theranos tepat menjadi kajian apakah termasuk sains-palsu.

Tidak obyektif. Sains-palsu bersifat tidak obyektif. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menguji kebenarannya. Pihak luar tidak bisa, atau sulit sekali, untuk melakukan pengujian.

Theranos menyembunyikan hasil kajian perusahaannya sehingga tidak obyektif. Pihak luar tidak bisa mengkajinya atau sulit untuk mengkajinya. Pihak luar hanya bisa mempertanyakan validitas dari kajian Theranos. Kelak, Theranos gagal menunjukkan validitas dan obyektivitas kajian tes darahnya.

Buruk atau salah. Sains buruk atau sains salah adalah kajian sains yang tidak memenuhi standar kriteria internal mereka sendiri. Sehingga, hasil kajian tersebut hanya layak sebagai bahan kajian bukan untuk keperluan komersial.

Tes darah Theranos termasuk sains-buruk atau sains-salah. Dengan kualitas yang rendah, Theranos tidak layak mengkomersilkan produknya.

Eksploitasi melanggar etika menjadi penentu utama sebagai sains-palsu. Sains yang tidak obyektif dan sains buruk, sejatinya, tidak menjadi masalah. Sejauh, kita menempatkan sains buruk pada posisinya. Tetapi, mengeksploitasi sains-buruk memang menggiurkan dengan imbalan materi yang besar.

Theranos sadar bahwa kajian mereka adalah sains-buruk. Kemudian, Theranos justru mengeksploitasi untuk mengeruk keuntungan komersial. Teknologi Theranos murah dan praktis. Sehingga, masyarakat luas membeli produk Theranos – termasuk di pasar saham. Tetapi, karena memang berdasar sains-buruk maka produk Theranos adalah sains-palsu.

Karena etika menjadi paling penting, lalu, bagaimana cara kita menentukan bahwa sesuatu melanggar etika atau tidak? Kita membahasnya di bagian bawah. Yang jelas, klaim kebenaran etika sama kuat dengan klaim kebenaran matematika. Etika dan matematika adalah, sama-sama, kebenaran konseptual.

4. Ontologi

Putnam mengusulkan perlunya “meluaskan” ontologi filosofi analitis sehingga berkontribusi secara sosial budaya yang lebih luas. Konsep internalism-realism menjamin pembahasan ontologi tetap fokus. Tidak melompat tinggi sebagai inflatory. Dan tidak reduksionis atau eliminatif sebagai deflatory. Saya menyebut pembahasan ontologi yang fokus ini sebagai noflatory. Di saat yang sama, Putnam menjaga pluralisme ontologi. Lebih rumit lagi, secara ontologis, ketika pikiran manusia mampu merekayasa alam semesta secara aktif. Kita, misalnya, menyaksikan perkembangan media sosial digital yang bertabur rekayasa.

4.1 Inflatory – Deflatory

4.2 Noflatory

4.3 Pluralisme Pragmatisme

4.4 Rekayasa Ontologi

5. Etika

Putnam menyatakan, “Etika tanpa ontologi.” Sebuah klaim yang sangat kuat. Saya memahami tanpa-ontologi adalah tanpa-ontologi eksternal. Sehingga, ontologi dari etika adalah kajian etika secara internal. Dan, nilai kebenaran etika sama kuatnya dengan kebenaran matematika karena sama-sama kebenaran-konseptual. Bagaimana pun, Putnam tetap konsisten dengan pluralisme termasuk dalam etika. Putnam menegaskan kembali karakter obyektif dari etika – meski dengan atau tanpa obyek.

5.1 Obyektif tanpa Obyek

5.2 Runtuhnya Fakta dan Nilai

5.3 Kompetisi Noflatory

Penutup

Apakah kita butuh pemikir generalis? Benar. Kita butuh pemikir generalis. Kita membutuhkan pemikir generalis yang menyapa tema-tema penting filosofis. Bahkan, setiap orang perlu menjadi pemikir generalis. Setiap orang perlu berpikir untuk bersikap terhadap paham realisme, kemudian, bersikap pluralis. Tentu saja, orang bisa saja bersikap dogmatis secara internalism. Kita bisa saling memahami di antara keragaman pemahaman dan mengembangkan sikap saling hormat.

Berpikir generalis hanya terbatas kepada bidang-bidang penting dan membatasi diri dalam detilasi. Karena, masing-masing orang perlu menjadi spesialis di bidang masing-masing sehingga bisa saling memberi kontribusi nyata.

Putnam, berdasar kajian kita di atas, adalah contoh unik seorang spesialis yang berhasil menerobos menjadi generalis. Sejak awal, Putnam sudah sukses sebagai spesialis matematika dan logika. Dia melangkah lebih jauh dengan mengembangkan ontologi menggapai etika dan agama. Dengan demikian, spesialis memberi dampak besar terhadap sosial budaya.

Saat ini, kita yakin perlu menambah jumlah generalis di antara para spesialis. Berapa proporsi yang tepat, kita belum bisa memastikan. Kita masih memerlukan kajian yang lebih mendalam untuk itu.

Simpul Filosofi

Secara filosofi, kita menemukan simpul-simpul keselarasan antara analitic, continental, dan timur. Putnam meluaskan ontologi analitic sampai masuk ke etika. Sementara, Badiou menetapkan matematika sebagai ontologi bagi continental. Dan, Armahedi mengintegrasikan analytic, continental, dan tradisi kearifan timur.

Kita berharap simpul-simpul filosofi memberi kebaikan bagi seluruh semesta raya.

Meta Filosofi Indonesia

Meta Filosofi adalah cara memahami filsafat dari sudut pandang yang luas. Sehingga, dengan meta filosofi, kita bisa memahami struktur filsafat dengan lebih jelas. Bagai mata elang, yang terbang tinggi, bisa mengamati seluruh wilayah yang luas dengan jelas. Demikian juga, Einstein mengembangkan konsep relativitas. Einstein bagai terbang tinggi ke langit. Kemudian, mengamati bumi, bulan, matahari, galaksi dan seluruh semesta raya. Akhirnya, Einstein menemukan teori relativitas khusus dan umum. Semesta alam raya, yang begitu luas, seluruhnya, berada dalam kajian teori relativitas.

Saya menyebut cara pandang seperti Einstein, yang luas, adalah cara pandang elang-gravitasi. Sementara, cara pandang teori mekanika quantum adalah cara pandang semut-quantum. Di mana, semut-quantum justru mengamati fenomena partikel-partikel sangat kecil. Sejumlah elektron, misalnya, diisolasi dalam ruang penelitian tertutup. Dengan situasi yang terbatas seperti itu, semut-quantum mengamati perilaku elektron secara mendalam. Dan, kita menyaksikan perkembangkan hebat teori quantum.

Kita membutuhkan keduanya: elang-gravitasi dan semut-quantum. Nyatanya, sampai saat ini, elang-gravitasi tidak mampu mencermati fenomena quantum. Demikian juga, semut-quantum tidak mampu mencermati fenomena gravitasi.

Di bidang filosofi, kita memerlukan kajian meta filosofi yang mirip dengan elang gravitasi. Kemudian, bagi yang berminat bisa mendalami masing-masing filosofi dengan pendekatan semut-quantum. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas meta filosofi dari sudut pandang Indonesia.

1. Analytic
2. Continental
3. Timur
4. Indonesia
5. Living Philospher

Secara umum, filosofi terbagi menjadi dua: analytic dan continental. Saya menambahkan filosofi Timur dan Indonesia. Sebagai bonus, saya mengambil beberapa contoh living-philosopher yaitu filsuf yang masih hidup sampai saat ini. Untuk memahami itu semua, kita perlu terbang tinggi. Membuka mata dan hati. Berpikir terbuka terhadap semua yang ada.

1. Analytic

Tradisi filosofi analytic merupakan tradisi filsafat yang sangat kaya. Ide-ide segar berkembang dengan subur dalam tradisi analytic. Berkembang pada masa peralihan ke abad 20, dipelopori oleh Russell bersama muridnya, Wittgenstein, dan kolega Moore. Russell menolak metafisika Hegel dan merangkul logika Frege.

Wittgenstein-muda melengkapi dengan logika bahasa atomis yang mengukuhkan nilai kebenaran proposisi secara atomis – layaknya sistem periodik atom sains kimia. Selanjutnya, Wittgenstein-dewasa mengembangkan Investigation yang tidak berhasil memberi solusi kepada masalah filosofi. Tetapi, justru menjadikan satu masalah filosofi berbuah lebih banyak masalah lagi.

Ketegangan Wittgenstein-muda lawan Wittgenstein-dewasa, justru, menjadikan filsafat analytic lebih produktif.

Logical positivism, atau positivism, merupakan perkembangan kontroversial dari filosofi analytic. Positivism hanya menerima dua macam kebenaran yang masuk akal: verifikasi empiris dan aksiomatis. Dengan pembatasan itu, positivism menolak metafisika dan secara langsung, atau tidak, menolak seni, menolak rasa, menolak agama, dan lain-lain. Russell dan Wittgenstian menolak positivism. Meski demikian, positivism berkembang pesat sejak 1920an.

Popper (1902 – 1994) menolak positivism dengan pandangan kritis. Verifikasi empiris tidak mungkin bisa mengkonfirmasi kebenaran suatu teori. Verifikasi empiris hanya bisa menolak teori. Dengan kata lain, pengujian empiris adalah untuk falsifikasi bukan untuk konfirmasi terhadap suatu teori. Seribu kali konfirmasi empiris tidak menjadikan teori menjadi valid. Tetapi, satu kali penolakan empiris sudah cukup untuk menolak sebuah teori. Falsifikasi Popper dikenal sebagai realism rasional kritis.

Dari filosofi Bahasa berkembang ordinary-language-philosophy (OLP), yang mengkaji penggunaan Bahasa sehari-sehari secara filosofis. Dari sudut praktis, OLP memberi manfaat besar. OLP mengkaji Bahasa termasuk konteks penggunaan bahasa. Sehingga, kita bisa memahami makna Bahasa dengan tepat. Lebih jauh lagi, OLP mengkaji bagaimana Bahasa mempengaruhi perilaku personal dan social.

Dua trend di atas – positivism dan OLP – sudah cukup menggusur peran metafisika di tradisi filsafat analytic. Padahal pelopor analytic – Russell, Moore, dan Wittgenstein – bersikap terbuka terhadap metafisika dan kajian filsafat secara lebih luas.

Paruh kedua abad 20, terjadi kebangkitan kembali filsafat analytic yang lebih terbuka terhadap metafisika. Di antaranya metafisika saintifik, normative praktis, dan histori filosofi.

Quine (1908 – 2000) adalah ahli matematika dan filsuf yang mendukung untuk menghidupkan kembali metafisika. Sains dan matematika membutuhkan metafisika. Quine mengkritisi pembedaan pengetahuan analitis dan sintesis dari Kant. Menurut Quine, kita tidak bisa membedakan dengan tegas antara analitis dan sintesis pada pemikiran yang mendalam. Akibatnya, klaim kebenaran apriori perlu dipertimbangkan ulang. Ditambah lagi, dalam kajian sains modern, kita menemukan beragam fenomena yang tidak bisa dipastikan dengan tegas “underdetermined,” misal, mekanika quantum. Jadi, kita perlu bersikap terbuka terhadap keragaman perspektif. Bagaimana pun, Quine mengusulkan agar metafisika tetap sejalan dengan sains. Atau, bahkan sains sebagai fondasi dari penyelidikan metafisika. Pemikiran semacam ini mirip dengan pemikiran Russel.

Rawls (1921 – 2002) adalah filsuf social yang luar biasa dahsyat ide-idenya. Rawls berhasil menguatkan konsep keadilan yang semula normative menjadi praktis. Keadilan menjadi mudah dipahami, bahkan, mudah diukur. Dengan demikian, masyarakat atau Negara, bisa menerapkan teori keadilan untuk kemudian mengukur hasilnya. Rawls merumuskan keadilan berdasarkan prinsip persamaan dan perbedaan. Prinsip persamaan menyatakan bahwa setiap orang adalah sama dalam kebebasan, berkreasi, bekerja, berpendapat, berpolitik, dan lain-lain. Prinsip perbedaan menyatakan bahwa perbedaan hanya sah, ketika, perbedaan itu memberi keuntungan bagi pihak yang lemah.

Sementara, perkembangan histori filosofi makin menyemarakkan lebih banyak ide. Kuhn (1922 – 1996) adalah filsuf yang berhasil menggulirkan revolusi sains. Sains berubah secara revolusioner bukan gradual. Perubahan sains adalah melalui pergantian paradigm sains lama dengan paradigm baru. Misal, paradigm sains mekanika Newton diganti dengan mekanika quantum atau mekanika relativistic. Pada gilirannya, paradigm itu sendiri berubah karena histori. Sehingga, untuk bisa memahami sains, maka, kita perlu memahami histori. Akibatnya, klaim sains tidak bersifat mutlak obyektif. Klaim sains didasarkan pada histori.

Lakatos (1922 – 1974) melangkah lebih jauh dari Kuhn. Ketika, Kuhn menyatakan kita perlu histori untuk memahami sains, maka, apa yang diperlukan untuk memahami histori? Untuk memahami histori, menurut Lakatos, kita perlu sains. Sehingga, histori dan sains saling berdialektika. Feyerabend (1924 – 1994) mengkaji lebih jauh lagi. Ketika, asumsikan, sudah tersedia pengetahuan tentang sains dan histori, maka, bagaimana kita menentukan hubungan antara mereka? Tidak ada cara pasti untuk menetapkan hubungan antara sains dan histori. Bagaimana pun, menurut Feyerabend, kita membutuhkan keduanya: sains dan histori. Feyerabend mengusulkan bahwa kajian apa saja berhak untuk dikembangkan, freedom, dan bertujuan proliferasi pengetahuan – perkembangan pengetahuan.   

Survey statistic menjadi salah satu sumber inspirasi filosofi. Untuk melengkapi intuisi para pengkaji, kita bisa melaksanakan survey kepada kalangan umum dan khusus. Misal, bagaimana analisis kita tentang penggunaan AI untuk mengambil keputusan kebijakan public? Tentu, kita, dan para pengkaji, bisa melakukan analisis. Di saat yang sama, kita bisa melakukan survey public untuk kasus yang sama. Dengan demikian, kita memiliki perspektif yang lebih luas. Dengan berkembangnya media digital, maka, survey statistic menjadi makin mudah.

2. Continental

Filsafat Continental mengkaji filsafat secara luas, mendalam, dan sulit masuk akal. Continental membahas realitas tidak seperti apa adanya. Awalnya, Continental memang membahas realitas apa adanya. Lanjut, ada apanya. Dan, tanpa akhir, ada apa saja?

Husserl tampak menerima pembagian dunia oleh Kant: fenomena dan noumena. Kemudian, Husserl fokus kepada fenomenologi, yaitu, memahami segala sesuatu apa adanya sesuai yang hadir dalam kesadaran manusia. Heidegger melanjutkan dengan fenomenologi-eksistensial sehingga berkembang eksistensialisme oleh Sartre dan dekonstruksi oleh Derrida.

Orang yang akrab dengan analytic bisa kesulitan untuk memahami continental karena memang jauh berbeda. Sebaliknya, orang yang akrab dengan continental bisa sulit memahami analytic karena analytic cenderung lebih spesifik.

3. Timur

Filsafat Timur memiliki sejarah panjang dan kaya akan kreativitas. Pada kesempatan ini, saya hanya akan membahas beberapa pemikiran tokoh besar dari Timur Tengah. Suhrawardi berhasil merumuskan ulang logika menjadi satu bentuk silogisme paling sederhana. Kemudian, Suhrawardi mengembangkan ontologi-cahaya sebagai pengetahuan sejati, otentik.

Ibnu Arabi, sejaman dengan Suhrawardi tetapi tampaknya tidak saling terhubung, mengembangkan konsep kesatuan paling canggih dengan berpuncak ke insan-kamil, manusia sempurna. Manusia adalah ruh bagi alam semesta. Dan, alam semesta adalah badan bagi manusia. Insan-kamil adalah wujud sempurna yang merangkul segala yang ada.

Sadra merumuskan prioritas-wujud yang dinamis berupa gerak-substansial. Sadra berhasil membuat sintesa kreatif dari semua ajaran filosofis yang berkembang sampai saat itu. Pada abad 20, Iqbal mengkaji metafisika Persia dengan dukungan Universitas di Jerman. Dengan demikian, Iqbal berhasil memotrel filsafat Timur dan filsafat Barat secara serentak. Untuk kemudian, Iqbal mengembangkan filsafat proses yang penuh dinamika.

4. Indonesia

Indonesia kaya akan karya filsafat. Karena, saya tinggal di Indonesia, maka, mengkaji filsafat Indonesia menjadi spesial. Di sini, saya hanya akan mengambil sebagian saja yang paling penting. Sunan Kalijaga adalah tokoh penting yang mengajarkan filsafat hidup melalui budaya.

Armahedi mengembangkan filsafat Integralisme yang berusaha menyatukan unsur-unsur penting filsafat, sains, seni, agama, moral, dan lain-lain. Yasraf mengembangkan konsep “Dunia yang Dilipat” sebagai metafor realitas digital yang tumpang tindih tanpa batas-batas. Sementara, Bambang menilai problem utama postmodern adalah dalam bahasa yang menyimpan ketegangan makna denotasi dengan metafora.


5. Living Philospher

Filsafat terus berkembang sampai saat ini. Kita akan mengkaji beberapa pemikiran living-philosopher sebagai contoh filsafat kontemporer.

Kita akan mengkaji pemikiran living-philosopher dari analytic, continental, dan Indonesia.

Nussbaum (1947 – ) menekankan pentingnya sistem pendidikan untuk membentuk manusia sebagai warga semesta yang peduli terhadap sesama dan semesta. Filosofinya mengingatkan bahwa manusia bukan hanya sebagai faktor produksi. Manusia bukan hanya untuk mencari uang. Manusia bukan hanya makhluk ekonomi. Tetapi, manusia memiliki emosi yang lebih penting dari sekedar urusan ekonomi. Pendidikan dari tingkat awal sampai sarjana perlu mendidik generasi penerus untuk cerdas emosi.

Appiah (1954 – ) menekankan dengan kuat bahwa manusia adalah warga semesta. Kita wajib membantu tetangga sebagai mana membantu anggota keluarga. Lebih jauh, semua manusia adalah saudara kita. Bahkan, alam raya juga saudara kita. Persaudaraan kita dengan seluruh manusia dan alam raya melebihi batasan-batasan negara, ideologi, agama, politik, suku, dan apa pun. Appiah mengembangkan konsep kosmopolitan: kita adalah warga semesta.

Badiou (1937 – ) meyakini bahwa filosofi adalah kosong, yaitu, kebenaran sejati apa adanya. Karena itu, filosofi perlu diisi dengan prosedur kebenaran: sains, seni, cinta, dan politik. Badiou mengklaim bahwa matematika adalah ontologi dan ontologi adalah matematika. Karena itu, paling tepat, kita mempelajari filosofi melalui matematika. Bagaimana pun, filosofi saja tidak cukup. Kita perlu melangkah lebih jauh dengan sains sampai politik, semua, dengan bimbingan filosofi (matematika).

Vattimo (1936 – ) terkenal dengan konsep weak-thought dan hermeneutika postmodern. Weak-thought atau pikiran-lemah adalah kesadaran bahwa semua pemikiran adalah lemah. Termasuk pemikiran kita adalah lemah. Karena itu, kita perlu bersikap terbuka untuk saling menguatkan pemikiran. Bagaimana pun, pemikiran yang sudah diperkuat itu masih tetap lemah. Sehingga, harus tetap terbuka dengan penguatan ide-ide baru. Weak-thought adalah etika berpikir terbuka terhadap perkembangan hermeneutika.

Bambang Sugiharto (1956 – ) pencetus ide postmodern sebagai tensi antara kepastian definisi dan metafora. Setiap proposisi, setiap bahasa, bisa dimaknai sebagai definisi formal yang pasti dan, di saat yang sama, bisa dimaknai sebagai metafora yang kaya akan makna. Menjaga dan menghormati tensi antara definisi dan metafora adalah tugas kita di era postmodern ini.

Yasraf (1956 – ) terkenal dengan konsep dunia-yang-dilipat, yang, penuh sesak atas segalanya. Era digital sebagai satu bukti kuat eksistensi dunia-yang-dilipat. Seluruh dunia ada dalam lipatan handphone kita. Tugas umat manusia adalah menafsirkan gegap gempita, gelap suram dan cemerlangnya, dunia-yang-dilipat. Media digital adalah peluang untuk kemajuan umat manusia, di saat yang sama, adalah penjara gelap yang menyuburkan birahi serakah manusia.

Dimitri Mahayana (1967 – ) sudah mengantisipasi perlunya “Menjemput Masa Depan” sejak akhir abad 20. Masa depan era digital sudah hadir di depan kita. Umat manusia, siap atau tidak, harus siap menjemput masa depan itu. Pemikiran filosofisnya terbentang dari era pre-Socrates sampai kontemporer semisal filsafat sains. Perspektif filosofisnya meluas dari Timur sampai Barat.

Budi Sulistyo (1975 – ) mengelaborasi lebih jauh konsep falsifikasi ke bidang kriptografi quantum. Konsep pemikirannya memadukan quantum mechanic, philosophy of mind, near death experience, AI, dan kebijakan Timur mendorong munculnya ide-ide segar filosofis. Paradoks teori quantum menjadi salah satu kajian paling menarik untuk terus dielaborasi.

Armahedi Mahzar (1942 – ) mengantisipasi kemajuan peradaban masa depan, dengan maha karya, integralisme. Berangkat dari analisis filsafat sains, strukturalisme, sampai post-strukturalisme, Armahedi melihat proyek dekonstruksi sebagai tidak memadai. Solusi yang lebih tepat adalah rekonstruksi peradaban dengan kerangka integralisme yang menyatukan perkembangan horisontal dan vertikal. Konsep filosofi Ibnu Arabi, Ghazali, sampai Iqbal mewarnai integralisme.

Catatan Analisis Penutup

Analisis singkat tentang meta filosofi, di atas, menunjukkan bahwa kita perlu berpikir-terbuka. Filosofi terus berkembang meluas dan makin dalam. Tradisi analytic berkembang seiring dengan perkembangan sains. Sementara, tradisi continental terus berkembang dengan pemikiran besar spekulatif. Filosofi Timur terus berkembang seiring dengan etika. Dan, filosofi Indonesia berkembang ke seluruh wacana.

Lebih jauh lagi, filosofi terus berkembang sampai sekarang dengan eksistensi living-philosopher di berbagai tradisi. Sehingga, filosofi selalu punya masa depan. Kita memerlukan berpikir dengan kerangka logika-futuristik. Masa depan penuh tantangan dan harapan. Masa depan penuh misteri.

Tentu saja, seseorang bebas untuk menghindari berpikir-terbuka dengan cara berpikir tertutup. Dia yakin dengan kebenaran hakiki, yang dia miliki, mencakup seluruh kebenaran yang ada – di seluruh semesta, dari masa lalu sampai masa depan. Semua orang harus ikut dirinya agar memperoleh kebenaran. Tidak ada lagi misteri masa depan. Tidak ada lagi tanda tanya. Semua sudah pasti, sesuai dengan yang dia yakini.

Bagaimana pun, masa depan selalu datang menghampiri kita. Future membentangkan waktu sebagai bentangan future-past-present: masa depan, masa lalu, dan masa kini menjadi masa saja.

Berpikir-terbuka mengajak kita menerima misteri. Selalu ada tanda tanya. Selalu ada pesona. Selalu ada tawa. Selalu ada masa depan. Bagaimana masa depan Anda?

Akhir Sains, Agama, dan Filosofi

Akhirnya, segala sesuatu harus sampai pada akhir. Dari satu sisi, akhir adalah benar-benar akhir. Dari sisi lain, akhir adalah awal yang baru.

Akhir dari sains sudah tampak jelas. Akhir dari agama juga jelas. Akhir dari filosofi sama jelasnya. Akhir dari segalanya adalah ajakan untuk berpikir terbuka. Dengan demikian, setiap akhir adalah awal yang baru, pemikiran yang baru. Meski saya memilih kata “berpikir terbuka,” maksudnya, lebih luas dari sekedar berpikir biasa. Berpikir terbuka adalah menjadi diri yang terbuka, hati yang terbuka, dan menjadi realitas yang terbuka.

1. Akhir Sains
1.1 Histori
1.2 Debat
1.3 Konsep
1.4 Fisika
1.5 Matematika

2. Akhir Agama
2.1 Ritual Formal
2.2 Ruh Cinta
2.3 Pembebasan

3. Akhir Filosofi
3.1 Metafisika
3.2 Destruksi
3.3 Keterbukaan

1. Akhir Sains

Sains berkembang sejak awal perkembangan peradaban manusia. Tetapi, sains modern bisa kita lacak berawal dari teori Newton yang menerapkan matematika untuk kajian empiris, sekitar 5 abad yang lalu. Dengan pendekatan matematika ideal, sains berkembang pesat sampai melahirkan teknologi digital. Apakah itu kabar baik bagi peradaban? Tentu saja, banyak perdebatan.

Di masa kini, sains fisika mencapai titik kematangan sebagai interpretasi terhadap fenomena. Kita mengenal interpretasi teori quantum, interpretasi relativitas umum, interpretasi theory-of-everything. Dari bidang matematika, kita sudah berjalan dari sistem formal aksiomatik sampai realisme matematika. Di ujung akhir, muncul challenge dari matematika fiksional: apakah obyek matematika itu benar-benar ada? Obyek matematika, misal bilangan prima, adalah abstrakta yang bersifat fiksional. Tentu saja, banyak ahli yang tidak setuju. Dan, berkembanglah pluralisme dalam matematika.

1.1 Histori

Catatan sejarah menunjukkan bahwa sains sudah berkembang sejak ribuan tahun yang lalu. Kita mengenal Mesir Kuno, Cina Kuno, Yunani Kuno, dan sebagainya. Thales (sekitar abad 7 SM) adalah ilmuwan kuno yang teorinya bisa kita pelajari sampai sekarang, misal teori perbandingan segitiga. Thales memerintahkan murid-muridnya untuk belajar ke Mesir karena di Mesir sudah berkembang sains yang lebih maju.

Khawarizmi (780 – 850) mengembangkan teori aljabar yang metodis sebagai inovasi besar bidang matematika. Selanjutnya, matematika makin berkembang pesat hampir ke seluruh penjuru. Newton (1643 – 1727) adalah ilmuwan paling sukses menerapkan teori matematika ke sains empiris. Sains modern makin kokoh dengan pendekatan matematis. Pada gilirannya, sains mendorong lahirnya teknologi, termasuk, teknologi digital yang mewabah di dunia saat ini.

Sukses sains empiris fisika dalam menerapkan matematika memicu sains di bidang lain menerapkan metode yang sama. Keunggulan sains empiris matematis adalah, pertama, bersifat jelas. Karena proposisi dalam bentuk formula matematika maka setiap ilmuwan dapat memahami dengan jelas dan tegas. Kedua, bersifat kokoh. Karena kebenaran matematika bersifat aksiomatik yang kokoh maka sains mengikuti keunggulan aksiomatik yang sama. Ketiga, mudah direkayasa. Lagi, karena berupa formula matematika, ilmuwan mudah mereka-yasa formula. Ilmuwan tidak harus berhubungan dengan obyek empiris konkret. Cukup mengkaji formula matematika saja – dalam banyak kasus. Lebih-lebih dengan berkembangnya simulasi komputer, maka, rekayasa makin digdaya.

Nasib Manusia

Kehebatan sains modern begitu mempesona, sekaligus, sangat berbahaya. Bagaimana nasib manusia jika semua bisa direkayasa? Bagaimana masa depan alam raya?

Laplace (1749 – 1827) saintis Newtonian pernah mengatakan, “Jika kita mendapat informasi yang lengkap maka kita bisa memastikan nasib masa depan alam semesta.” Dengan berbekal analisis model matematika yang canggih, kita bisa memastikan kapan terjadi gerhana, kapan terjadi musim hujan, dan seberapa deras hujan itu sampai lengkap dengan dampaknya. Dengan demikian, nasib alam raya dapat dipastikan dengan pendekatan sains. Optimisme semacam itu, tampak, masuk akal. Benarkah?

Immanuel Kant (1720 – 1804) mengantisipasi salah arah perkembangan sains dan filsafat melaui trilogi kritik. Kant berhasil menunjukkan cakupan sains, filsafat, dan teologi dengan batas-batas yang jelas. Dengan kritik, Kant menunjukkan secara sistematis keungulan sains empiris dan, sekaligus, kelemahannya. Kelemahan utama sains empiris adalah tidak pernah berhasil melakukan klaim kebenaran universal. Klaim empiris selalu bersifat partikular, terbatas. Dengan demikian, optimisme Laplace sudah melampaui batas kemampuan sains.

Popper (1902 – 1994) meyakini bahwa kita tidak akan pernah mampu meramalkan sejarah masa depan. Mengapa? Perkembangan peradaban dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan manusia. Sementara, pengembangan pengetahuan manusia sering memunculkan inovasi tanpa henti. Berbagai macam inovasi sains tak terprediksi sebelumnya. Akibatnya, kita juga tidak akan pernah berhasil memprediksi masa depan umat manusia serta alam raya. Popper mengembangkan metode falsifikasi: konjektur dan refutasi. Teori sains adalah sebuah hipotesa atau konjektur, untuk kemudian, bisa ditolak (refutasi) oleh eksperimen. Selanjutnya, teori bisa dikoreksi atau diganti dengan yang lebih bagus. Teori tidak pernah berhasil diverifikasi oleh eksperimen. Hanya bisa difalsifikasi. Sains mengalami perkembangan dengan falsifikasi.

Poincare (1854 – 1912) berhasil menunjukkan bahwa teori sains, semisal teori Newton, adalah interpretasi dari fakta. Bukan fakta itu sendiri. Quine (1908 – 2000) melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa kita tidak bisa membedakan dengan pasti antara fakta dengan konvensi. Karena itu, setiap teori sains terbuka terhadap revisi. Einstein (1879 – 1955) berhasil menyusun teori fisika yang berbeda dengan, dan merevisi, teori Newton. Dengan demikian, Einstein berhasil mengkonstruksi interpretasi sains yang lebih baik dari Newton. Bagaimana pun, dalam penerapan sains sampai saat ini, teori Newton lebih praktis dan sudah mencukupi. Jadi, lebih bagus mana interpretasi Newton atau Einstein?

Nasib masa depan manusia masih penuh tanda tanya.

Paradigma Sains

Thomas Kuhn (1922 – 1996) mengguncang dunia sains dengan megumumkan bahwa kebenaran sains tergantung kepada paradigma. Sehingga, klaim kebenaran sains bisa saja relatif terhadap paradigma dan konteks yang ada. Di satu sisi, penyataan tentang peran paradigma dalam sains bagai kritik tajam kepada sains. Di sisi lain, dengan mencermati paradigma, sains justru mampu melompat tinggi dalam inovasi.

Kuhn menyarankan agar kita mempelajari histori untuk bisa memahami sains dengan baik. Dari histori, kita bisa memetakan beragam paradigma yang berkembang di masyarakat serta konteks yang ada. Selanjutnya, kita bisa memastikan klaim sains di masyarakat yang bersangkutan. Dengan demikian, sains membutuhkan histori. Sains tidak bisa lepas dari histori.

Imre Lakatos (1922 – 1974) menyambut ide Kuhn bahwa sains memerlukan histori. Lakatos, yang akrab dengan dialektika Hegel, melihat dari arah sebaliknya. Bukan hanya sains yang membutuhkan histori. Tetapi, histori juga membutuhkan sains. Sehingga, sains dan histori secara terus-menerus berdialektika. Lakatos mengusulkan “program riset” sebagai solusi. Program riset yang progresif diterima, untuk kemudian, terus dikembangkan. Sementara, program riset yang merosot perlu ditinggalkan, untuk kemudian, diganti dengan yang lebih progresif.

Feyerabend (1924 – 1994) melanjutkan dialektika Lakatos. Ketika sains dan histori saling mempengaruhi, maka, bagaimana kita menetapkan klaim validitas sains? Apakah dari sains, kemudian, kita bisa memahami histori? Atau, sebaliknya, dari histori, kemudian kita bisa memahami sains? Dari beragam kriteria yang ada, Feyerabend menyimpulkan bahwa tidak ada prosedur universal untuk klaim kebenaran sains mau pun histori. Feyerabend mengusulkan solusi “freedom”. Semua pihak bebas untuk melakukan kajian, untuk kemudian, hasil kajian terbaik berhak terus berkembang. Pendekatan bebas seperti ini sering dikenal sebagai sains anarkis.

Pada masa tuanya, Kuhn mengembangkan penjelasan lebih detil tentang revolusi sains. Dari perspektif histori, perkembangan sains bersifat revolusi, yaitu, melompat dari satu paradigma ke paradigma lain. Sementara, dari perspektif saintis bersangkutan, perkembangan sains bersifat evolusi tahap demi tahap dalam kerangka paradigma tertentu. Karena perjalanan histori beragam sesuai keragaman konteks dan sikap manusia, maka, perkembangan evolusi sains juga beragam ke berbagai arah.

Barangkali, kita bisa bergerak ke perkembangan teori matematika yang lebih murni. Dengan harapan, kita akan berhasil menemukan kriteria universal untuk klaim kebenaran sains. Di bagian bawah, kita akan membahas secara khusus tentang filosofi matematika. Di bagian ini, cukuplah kiranya kita membahas singkat saja.

Frege (1848 – 1925), Hilbert (1862 – 1943), dan Russell (1872 – 1970) adalah beberapa nama besar yang mengembangkan filosofi matematika sampai level tertinggi di masanya. Matematika adalah sistem aksiomatik sederhana yang nilai kebenarannya bersifat universal; terbebas dari data empiris, terbebas dari histori, dan terbebas dari sains. Kemudian, sistem aksiomatik ini diterapkan ke sains secara luas. Sehingga, diharapkan, sains memiliki klaim kebenaran yang bersifat universal sebagai mana matematika.

Tidak perlu waktu lama, bahkan Russell sendiri, menemukan paradoks pada sistem formal aksiomatik itu. Meski, kemudian, Russell berhasil menemukan solusi untuk paradoks itu. Tetapi, paradoks terbesar dirumuskan oleh Godel (1906 – 1978), kelak, dikenal sebagai paradoks Godel. Sampai sekarang, paradoks Godel terbukti valid. Maksudnya, setiap sistem formal, pasti, memiliki paradoks yang menjadikannya tidak lengkap.

Para ilmuwan menyikapi paradoks Godel dengan beragam. Pada akhirnya, matematika sampai kepada sistem matematika yang plural. Tidak ada sistem matematika yang bisa mengklaim kebenaran tunggal secara universal. Beragam sistem matematika yang berbeda-beda, bisa, saling melengkapi.

Ontologi

Ontologi mengkaji being-qua-being atau apa sejatinya yang ada. Pertanyaan ontologis sudah menjadi kajian utama sejak awal sejarah. Misal, kita mengenal ada 4 unsur utama pembentuk alam raya: air, api, tanah, dan udara. Ditambah satu lagi unsur yang lebih lembut yaitu ether.

Demokritus (460 – 370 SM) adalah pemikir pertama yang mengenalkan konsep atom. Seluruh alam semesta terdiri dari partikel-patikel terkecil berupa atom. Russell memuji teori atom dari Demokritus ini sebagai teori paling ilmiah pada jamannya – dua ribu tahun yang lampau. Kelak, benar saja, teori atom ini berkembang secara ilmiah.

Di era modern, kita mengenal teori atom Dalton, Rutherford, Bohr, dan, tentu saja, teori mekanika quantum. Jadi, benarkah alam raya ini memang tersusun oleh atom-atom?

Di abad 21 ini, seharusnya, kita bisa menjawab dengan tegas. Memang benar, secara makrokospis, alam raya ini terdiri dari partikel-partikel kecil berupa atom. Kita memiliki sistem periodik unsur-unsur kimia yang diupdate setiap saat. Tetapi, secara mikrokospis, mekanika quantum meragukan pandangan realisme ilmiah semacam itu.

Di satu sisi, mekanika quantum berhasil mengkaji realitas partikel paling tersembunyi, partikel subatomik. Di sisi lain, mekanika quantum hanya berhasil sebagai interpretasi terhadap realitas. Mekanika quantum bukan realitas itu sendiri tetapi interpretasi terhadap realitas. Dan, salah satu interpretasi terkuat adalah pandangan yang menyatakan tidak ada realisme ilmiah pada tataran mikrokospis. Maksudnya, tidak ada realitas obyektif di dunia luar sana. Realitas obyektif itu baru tercipta ketika ada pengaruh dari pengamat subyektif.

Secara ontologis, kita bisa mengkaji realitas dari arah yang berbeda.

Parmenides (515 – 460 SM) meyakini hanya ada satu realitas tunggal yaitu being atau wujud. Selain being adalah tidak ada atau nothing. Karena nothing adalah tidak ada maka kita tidak bisa membahas nothing. Kita hanya bisa membahas being semata. Kelak, pandangan Parmenides ini memicu beragam kajian yang panjang.

Ibn Arabi (1165 – 1240) dan Sadra (1570 – 1640) mengembangkan teori being atau teori wujud secara sistematis dan dinamis. Realitas yang ada adalah wujud saja. Di satu sisi, wujud adalah tunggal. Di saat yang sama, wujud adalah beragam, berbeda-beda secara gradasi intensitas. Wujud, secara terus-menerus, bergerak dinamis menuju wujud yang lebih sempurna. Dengan demikian, kajian sains apa pun, selama berhubungan dengan realitas, maka akan selalu mengalami perubahan secara dinamis.

Heidegger (1889 – 1976), justru, mengajukan pertanyaan lebih mendasar, “Apa makna being?”

Ada pohon, ada elektron, ada sains, ada teknologi, dan ada Tuhan. Tetapi, apa makna-ada itu sendiri? Apa makna-being? Apa makna-wujud?

Kita meyakini makna-ada sudah jelas di mana saja, terbukti dengan sendirinya, dan tidak bisa didefinisikan. Tetapi, apakah keyakinan seperti itu menjadikan makna-ada lebih jelas? Heidegger mengajukan pertanyaan ontologis ini sejak tahun 1926 ketika menulis buku Being and Time. Dan, mendedikasikan seluruh sisa hidupnya, selama 50 tahun sampai 1976, untuk menjawab pertanyaan makna-ada. Jawaban Heidegger, makna-ada adalah bersifat temporal dan historal.

Karena sains adalah being, sains adalah ada, maka sains bersifat temporal. Maksudnya, sains akan selalu berubah seiring waktu. Sains akan senantiasa mengalami revisi setiap hari. Sains juga bersifat historal, yaitu, sains diciptakan oleh sejarah dan menciptakan sejarah. Dan, yang sangat penting, karakter fundamental dari being adalah care atau peduli. Sikap peduli adalah yang menjadikan being berkualitas tinggi – termasuk kualitas sains.

Derrida (1930 – 2004) menyambut baik kajian ontologis yang mempertanyakan makna-ada. Untuk mengungkapkan makna-ada lebih jelas, Derrida mengembangkan program dekonstruksi – yang merupakan saduran dari kata destruksi Heidegger.

Dekonstruksi adalah “operasi” mengungkapkan being yang tersembunyi agar menjadi lebih jelas. Awalnya adalah benih. Kemudian, tumbuh akar, batang, dan daun. Akhirnya, menjadi pohon yang rindang dan berbuah. Itu adalah contoh dekonstruksi pada benih. Sehingga menjadi jelas ada akar, batang, dan daun. Tetapi, benih dan pohon adalah realitas fisik yang bersifat terpisah-pisah.

Kita bisa mengambil contoh pengetahuan geometri. Awalnya geometri. Kemudian, ada bidang datar. Lalu, ada segitiga siku-siku. Berlaku teorema Pythagoras. Dan, formula teorema segitiga ganjil. Dalam contoh dekonstruksi geometri ini terjadi “pengungkapan” being menjadi lebih jelas. Being yang lebih matang, yang lebih akhir, adalah lebih konkret dan, di saat yang sama, meliputi being yang lebih general.

Pergerakan dekonstruksi adalah dari general menuju konkret atau dari genus menuju diferensia.

Teorema Pythagoras adalah lebih konkret dari geometri. Sehingga, Pythagoras meliputi geometri. Analisisnya bisa sebagai berikut. Pythagoras meliputi segitiga siku-siku. Maksudnya, Pythagoras berlaku pada segitiga siku-siku. Sehingga, Pythagoras meniscayakan “ada” segitiga siku-siku. Selanjutnya, segitiga siku-siku meniscayakan bangun datar dan geometri. Dengan demikian, Pythagoras meliputi seluruh genus yang lebih general – dari segitiga sampai geometri.

Selanjutnya, saya mengembangkan formula segitiga ganjil yang berlaku pada teorema Pythagoras. Dengan analisis yang sama, kita bisa menyatakan bahwa formula segitiga ganjil meliputi seluruh genus yang lebih general – Phytagoras, bangun datar, sampai geometri.

Dalam ranah sains, dan teknologi, operasi dekonstruksi adalah suatu keharusan. Maksudnya, sains niscaya bergerak dari genus yang general menuju diferensia yang konkret.

Dinamika

Kiranya, sampai di sini, cukup valid, kita menyatakan bahwa sains dan teknologi senantiasa berubah secara dinamis. Apakah perubahan ini ke arah yang lebih baik? Atau, tidak bisa dipastikan?

Arah dinamika sains bisa dipastikan ke arah yang lebih sempurna dan lebih konkret. Tetapi, tidak bisa dipastikan sebagai lebih baik. Kadang lebih baik, dan tidak jarang, lebih buruk. Ledakan bom nuklir, mesin pembunuh massal, penipuan bisnis digital, dan lain-lain adalah contoh perkembangan yang tidak baik. Sementara, secara umum, perkembangan sains dan teknologi bisa memperbaiki kehidupan umat manusia. Belajar dari sejarah menjadi pilihan utama.

1.2 Debat

Sampai saat ini, debat sains dan filsafat masih terus berlangsung. Khsusunya, dari sisi filsafat, perdebatan merupakan suatu keharusan. Di bagian ini, kita akan mengkaji beberapa perdebatan berhubungan dengan empirisme, eksplanasi, realisme, dan value.

Empirisme

Sains modern tampak identik dengan empirisme. Atau, empirisme menjadi paling utama di antara pandangan non-empirisme. Tentu saja, dengan mudah kita mengamati bahwa empirisme terlalu ketat membatasi wilayah. Sains dan filsafat lebih luas dari empirisme. Realitas lebih dari sekedar fakta empiris.

Eksplanasi

Realisme

Value

1.3 Konsep

Kausalitas

Idealisasi

Probabilitas

Pseudosains

Unifikasi

1.4 Fisika

Newton

Einstein

Quantum

1.5 Matematika

Teori Himpunan

Teori Kategori

Matematika Plural

2. Akhir Agama
2.1 Ritual Formal
2.2 Ruh Cinta
2.3 Pembebasan

3. Akhir Filosofi

Wong Jawani: 5 Kunci Menjadi Manusia Sejarah

Kita mengenal banyak orang-orang hebat mengukir sejarah. Hart menulis buku tentang 100 tokoh yang paling berpengaruh sepanjang sejarah, waktu itu, sampai abad 20.

Nabi Muhammad adalah tokoh paling berpengaruh di sepanjang sejarah. Nabi membimbing umat manusia menelusuri jalan cahaya terang benderang. Berikutnya, Isaac Newton menerangi sains dunia dengan pendekatan formula matematis. Dengan cara ini, kekuatan sains makin kokoh. Dan, Nabi Isa membimbing jutaan sampai milyaran umat manusia mendalami kehidupan spiritual. Masih banyak contoh-contoh manusia hebat lainnya.

Mereka manusia sejarah. Mereka mengukir sejarah. Sejatinya, Anda juga manusia sejarah. Anda bisa mengukir sejarah. Anda pasti mengukir sejarah. Kita, memang manusia bersejarah.

Pertanyaannya: apa sejarah yang akan Anda ukir?

Tulisan ini akan membahas manusia sejarah. Saya memilih istilah “wong jawani” atau “jawani” untuk menggambarkan manusia sejarah yang mampu memilih dengan bebas arah sejarah yang hendak dia tulis. Sementara, orang pada umumnya, akan tetap mengukir sejarah – baik dengan pilihan bebas atau tidak.

1. Luma dan Tata
2. Dinamika
3. Salah dan Koreksi
4. Waktu Sejarah
5. Sejarah Baru

Secara istilah, wong jawani berasal dari bahasa Jawa. Wong adalah manusia. Lebih tepatnya, wong adalah manusia ontologis yang berpadanan dengan “dasein” dari Heidegger. Sedangkan, jawani adalah peduli secara otentik atau peduli sejati. Sehingga gabungan wong jawani bermakna dasein otentik. Jika dasein adalah genus dan jawani adalah diferensia, maka, jawani adalah diferensia akhir atau diferensia real sesuai konsep Mulla Sadra. Akibatnya, term jawani sudah meliputi makna wong itu sendiri dengan basit.

1. Luma dan Tata

Kunci ke-1 adalah kita perlu mengalami sebagai “luma.” Yaitu, diri kita adalah anugerah yang luar biasa besar, berlimpah. Alam sekitar kita begitu luas tanpa batas. Orang-orang di sekitar kita adalah manusia-manusia pilihan untuk bersama-sama tumbuh kembang melampaui segala rintangan. Kita adalah luma yang terus-menerus mendobrak semua realitas.

Di saat yang sama, kita adalah “tata.” Kita menjadi realita karena ter-tata. Badan kita tertata dengan baik. Mata, telinga, paru-paru, jantung, dan seluruh organ tubuh kita tertata dengan baik. Alam semesta – matahari, bumi, bulan, dan seluruh galaksi – tertata dengan rapi berputar setiap hari. Semua menjadi nyata karena tertata.

Diri kita adalah luma dan tata. Dan, demikian juga alam raya.

Luma dan tata, kita singkat sebagai tataluma, selalu menjadi realita. Pilihan ada di tangan kita. Apakah menjadi tataluma sekedarnya saja? Yaitu tataluma rajawa, tidak otentik. Atau, Anda memilih tataluma jawani? Yaitu tataluma otentik.

2. Dinamika

Kunci ke-2 adalah dinamika. Segala sesuatu bergerak. Jiwa kita selalu berubah. Semuanya bergerak penuh dinamika. Tidak ada yang tidak bergerak di alam raya ini.

Bahkan, gerak dinamika ini bukan hanya gerak permukaan aksidental. Gerak dinamika ini adalah gerakan substansial – gerak hakiki. Karena itu, wong jawani selalu bergerak secara hakiki. Gerak jasmani dan ruhani.

Gerak hakiki adalah gerak perubahan menuju yang lebih sempurna. Sejatinya, semua gerak selalu menuju lebih sempurna. Tetapi, kadang ada gerak ke arah yang salah, atau pada ukuran yang salah. Pada kunci ke-2 ini, kita akan mengkaji gerak sejati. Kunci ke-1, luma dan tata, adalah landasan untuk menjadi jawani. Sedangkan kunci ke-2 adalah proses wong jawani untuk mengukir, dan diukir oleh, sejarah.

3. Salah dan Koreksi

Wong jawani mengakui dirinya bersalah – baik secara teori mau pun praktis. Karenanya, jawani melanjutkan dengan tindakan koreksi. Orang yang merasa tidak pernah bersalah, justru, dia tidak jawani. Akibatnya, dia tidak perlu melakukan koreksi diri. Kunci ke-3 untuk menjadi jawani adalah menyadari salah diri, untuk kemudian, melakukan koreksi.

4. Waktu Sejarah

Waktu adalah segalanya. Kunci ke-4 adalah waktu sejarah. Secara umum, waktu, kita pahami sebagai sesuatu yang temporal. Yaitu, ada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan demikian, ada perubahan di setiap saat. Pun, kita bisa mengukur suatu waktu yang dibutuhkan.

Selanjutnya, kita bisa mengukur waktu untuk terus-menerus ditambahkan. Misal, 1 jam ditambah menjadi 2 jam. Atau, 3 tahun ditambah menjadi 4 tahun. Dengan demikian kita memiliki durasi waktu. Uniknya, setiap durasi adalah berbeda.

Totalitas waktu temporal dan durasi membentuk waktu historal atau waktu sejarah. Wong jawani memanfaatkan dengan baik sifat waktu sejarah yang unik akumulatif ini. Jawani secara dinamis menyongsong masa-depan dengan mewarisi masa-lalu dan menggerakkan masa kini. Pada waktunya, jawani adalah sejarah itu sendiri.

5. Sejarah Baru

Setiap sejarah adalah sejarah baru. Meski, orang mengatakan bahwa sejarah selalu berulang, tetapi, jawani mengulang sejarah dengan gagah berani menjadi sejarah yang diperbarui. Kunci ke-5 adalah sejarah baru.

Berikut beberapa catatan penting.

Lompat ke 2 halaman terakhir.

RUU Sisdiknas 2022: Kritik Transenden

Kabar baik! RUU Sisdiknas meningkatkan kesejahteraan para guru. Menambah semangat baru untuk memajukan pendidikan nasional.

Tentu saja, kita ingin memajukan pendidikan nasional. Salah satu faktor penting adalah meningkatkan kesejahteraan guru dan semua insan pendidikan. Tetapi, perlu hati-hati karena proses pendidikan bukanlah tempat yang tepat untuk mencari keuntungan uang, kesejahteraan, atau kekuasaan. Sebaliknya, sistem pendidikan adalah wahana untuk pengabdian.

Saya akan menulis hanya satu kritik saja terhadap RUU Sisdiknas, pada kesempatan ini.

“Penilaian guru, siswa, dan sistem pendidikan perlu bersifat transenden.”

1. Nilai Siswa Transenden

Penilaian raport siswa atau nilai ujian kelulusan siswa perlu bersifat transenden. Maksudnya, transenden adalah penilaian ini mandiri dari siswa, guru, atau sekolah bersangkutan.

Di RUU Sisdiknas 2022, penilaian tidak bersifat transenden.

Dengan contoh, barangkali akan lebih mudah memahami. Sejak masa lalu, nilai siswa ditentukan oleh guru. Misal nilai matematika siswa ditentukan oleh guru matematika bersangkutan. Penilaian seperti ini tidak transenden.

Siswa bisa mempengaruhi guru untuk menaikkan nilai, misalnya, dengan memberi hadiah kepada guru. Orang tua siswa juga bisa memberi fasilitas khusus kepada guru sehingga guru cenderung bersikap lebih baik dalam menilai siswa bersangkutan. Atau, guru itu sendiri memang “senang” terhadap siswa sehingga obral nilai.

Dalam arah negatif bisa saja terjadi. Guru “marah” kepada siswa sehingga memberi nilai buruk kepada siswa bersangkutan.

Usulan solusi: menciptakan sistem transenden untuk penilaian siswa. Misal, penilaian siswa ditentukan oleh fakultas pendidikan matematika dari universitas terdekat. Sistem ini bersifat transenden dalam arti siswa, guru, orang tua, kepala sekolah, dan lain-lain tidak bisa mencampuri urusan penilaian.

Dengan sistem transenden seperti di atas, maka, siswa dan guru adalah satu tim untuk mencapai tujuan bersama: meraih kualitas pendidikan terbaik. Salah satunya adalah meraih nilai terbaik. Meski, kita tahu, makna pendidikan lebih luas dari sekedar nilai.

Dengan sistem transenden, guru tidak bisa mengancam siswa dengan ancaman nilai yang buruk bila tidak nurut ke guru. Sebaliknya, guru juga tidak bisa dikendalikan oleh siswa dan orang tua.

Kita semua adalah satu tim untuk menciptakan pendidikan dengan kualitas tertinggi. Guru, siswa, orang tua, dan masyarakat luas bersatu padu untuk maju.

Tentu saja, guru tetap berhak membuat nilai raport sebagai laporan. Nilai raport adalah catatan dari guru untuk menunjukkan kemajuan proses belajar siswa. Dengan raport, semua pihak bisa berkomunikasi. Bagian mana saja, kualitas pendidikan yang perlu ditingkatkan. Nilai raport bukan suatu prestasi, juga, bukan suatu hukuman bagi siswa.

2. Karir dan Tunjangan Guru Transenden

Kita perlu menciptakan sistem transenden untuk menilai guru yang berdampak kepada karir dan tunjangan kesejahteraan.

Dengan sistem transenden, guru hanya fokus untuk meningkatkan kualitas pengabdiannya kepada siswa dan masyarakat. Guru tidak perlu “tersenyum” ke sana ke mari agar karir cemerlang. Dengan kualitas pengabdian yang tinggi, guru terjamin makin sukses.

Tentu saja, siswa dan masyarakat luas bisa memberi masukan kepada guru melalui “kotak saran digital”. Lagi, saran semacam itu adalah media komunikasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Bukan ancaman dan bukan penilaian.

3. Penilaian Kualitas Sekolah Transenden

Sejatinya, saat ini, penilaian kualitas sekolah sudah bersifat transenden dari sekolah. Tetapi, tidak transenden terhadap universitas tertentu. Sehingga, kita perlu solusi sistem transenden lagi.

Dampaknya, saat ini, terbentuk citra sekolah favorit. Bukan sekedar citra, tetapi benar-benar nyata favorit. Sehingga, sekolah favorit ini menyalahi tujuan pemerataan kualitas pendidikan.

Ambil contoh, SMA 3 Bandung adalah favorit karena tiap tahun puluhan siswa atau ratusan siswa diterima masuk ITB tanpa tes. Sementara, SMA lain yang berjarak hanya sekitar 50 km dari SMA 3 adalah tidak favorit karena tidak ada siswa yang bisa diterima di ITB melalui jalur tanpa tes.

Penilaian kualitas sekolah ini sudah transenden terhadap SMA tapi tidak transenden terhadap ITB atau beberapa universitas. Dampak susulannya, bisa memperparah proses penerimaan mahasiswa baru melalui jalur mandiri – di samping terjadi ketimpangan sekolah favorit seperti di atas. Seperti kita tahu, ada rektor universitas di Sumatera yang ditangkap KPK akibat kasus korupsi.

Kita perlu membangun sistem penilaian yang transenden. Orang bisa menilai sistem transenden sebagai sistem penilaian yang bersifat obyektif, jujur, dan adil. Ditambah lagi, sistem penilaian transenden bersifat transparan bagi publik, karena pendidikan memang kepentingan publik, maka makin besar peluang kualitas pendidikan nasional melompat tinggi.

Semoga Presiden, Menteri, para pejabat, dan masyarakat luas bisa saling membantu untuk memajukan pendidikan nasional.

Bagaimana menurut Anda?

Worksheet Lembar Kerja APIQ (Level C)

Salam